26 DOSEN-DOSEN UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN
Tahun: 2022 ISBN: 978-623-7583-79-0
Homepage:
https://ojs.uniska-bjm.ac.id/index.php/PPKMDU
PARTISIPASI ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK DI ERA DIGITAL DI KELURAN KEBUN BUNGA
Agustina Rahmia, Rasunaa, Sabariaha
aUNISKA Muhammad Arsyad Al Banjari , Indonesia [email protected]
ABSTRAK
Era digital saat ini telah menyentuh kesemua aspek, salah satunya dunia pendidikan. Anak sebagai objek pendidikan, membutuhkan berbagai peran yang mendukung pendidikan dan perkembangnnya, baik dari guru, lingkungan maupun orangtua. Peranan dan partisipasi orangtua sangat dibutuhkan anak dalam proses pendidikan guna menunjang perkembangan dan pendidikannya sesuai tujuan pendidikan yang diharapkan/ diamanatkan Undang- Undang.
Untuk dapat tercapainya tujuan tersebut maka dilakukan sosialisasi mengenai: 1) pentingnya peran dan pendampingan orangtua dalam pendidikan anak demi optimalnya tumbuh kembang anak, dan 2) cara pendampingan orangtua untuk meminimalisir dampak buruk penggunaan hp/
gadget sebagai media pembelajaran. Sasaran khalayak pada sosialisasi ini adalah ibu PKK pokja 2 di kelurahan kebun bunga, warga anggota dasawisma RT/ RW sekaligus orangtua yang memiliki anak usia dini, karena latarbelakang orangtua yang didominasi bekerja.
Metode yang digunakan dalam bentuk ceramah dan tanya jawab, demonstrasi dan diskusi yang dilaksanakan di aula Kelurahan Kebun Bunga. Namun, untuk memastikan materi sosialisasi ini dapat ditangkap dengan baik maka dilakukan pre test pada awal pertemuan kemudian diakhiri dengan post test. Adapun, hasil yang didapat pada pelaksanaan yaitu ibu PPK pokja 2 warga anggota dasawisma RT/ RW memiliki informasi dan menambah kesadaran dalam partisipasi dan pendampingan orangtua kepada anak.
Kata kunci: partisipasi orangtua, pendidikan anak, era digital
ABSTRACT
The current digital era has touched all aspects, one of which is the world of education.
Children as objects of education, need various roles that support education and development, both from teachers, the environment and parents. The role and participation of parents is very much needed by children in the educational process in order to support their development and education according to the educational goals that are expected/mandated by law.
To be able to achieve these goals, socialization was carried out regarding: 1) the importance of the role and assistance of parents in children's education for optimal child development, and 2) how to assist parents to minimize the adverse effects of using cellphones/gadgets as learning media. The target audience for this socialization were PKK pokja 2 women in the garden flower village, members of the RT/RW dasawisma members as well as parents who have early childhood, due to their predominantly working parental background.
27 The method used is in the form of lectures and questions and answers, demonstrations and discussions held in the hall of the Kebun Bunga Village. However, to ensure that this socialization material can be captured properly, a pre-test is carried out at the beginning of the meeting and then ends with a post-test. Meanwhile, the results obtained in the implementation are that the PPK pokja 2 members of the RT/RW dasawisma members have information and increase awareness in parental participation and assistance to children.
Keywords: parental participation, children's education, digital era
PENDAHULUAN
Kemajuan dan perkembangan teknologi dan informasi yang cepat tak dapat dipungkiri memberikan dampak terhadap kehidupan bermasyarakat, termasuk anak.
Pendidikan anak di era digital saat ini yang akrab dengan dunia digitalisasi, baik sebagai sarana media pendidikan maupun pemberian informasi mengharuskan orangtua memberikan peranan aktif agar sasaran pendidikan dapat terwujud dengan baik.
Pendidikan anak ini telah diamanatkan pada Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Adapun, peran orangtua dalam pendidikan anak di amanatkan pada Undang- Undang Pasal 26 ayat 1 huruf (a) UU No. 35 Tahun 2014, yaitu orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak. Partisipasi orangtua dalam memberikan pendidikan dan nilai-nilai melalui pendampingan dan pengarahan untuk terwujudnya pendidikan yang diharapkan sangatlah penting. Orangtua juga diharapkan melakukan penyesuaian dalam mendidik anak di lingkup keluarga di era digital.
Era digital yang ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, berupa: media televisi terlebih lagi ponsel pintar yang digunakan semua kalangan usia termasuk dalam kehidupan anak membuat anak tidak terlepas dari telepon pintar dengan berbagai macam permainan di aplikasi game, sehingga keseharian anak dihabiskan dengan barang-barang teknologi (Santosa, 2015).
Andriyani (2018) menyatakan berdasarkan data statistik pengguna internet di Indonesia, rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan waktu mengakses informasi selama 5,5 jam perhari. Sementara penggunaan internet melalui smartphone atau telepon genggam sekitar 2,5 jam perhari.
Kurnia (2017), menyataan disinilah peran orang tua yang diharapkan memberikan peran lebih kepada anak karena anak membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang tua agar dapat menggunakan media digital dengan bijaksana. Orang tua perlu memahami nilai, fungsi dan penerapan dunia digital yang lekat dengan kehidupan kita saat ini. Ada tiga nilai penting digitali, yaitu:
membentuk kreatiftas, kolaborasi dan berpikir kritis. Setiawan (2017) juga menambahkan terdapat dampak postif teknologi di era digital, yaitu; a). Informasi yang dibutuhkan lebih cepat dan mudah dalam mengaksesnya; b).
Kemudahan dalam bekerja karena di dukung oleh teknologi digital; c). Sumber pengetahuan masyarakat semakin meningkat, karena kehadiran media dalam digital; d). Kualitas sumber daya manusia semakin meningkat, karena bisa belajar dari teknologi digital; e).
Kualitas pendidikan semakin meningkat karena adanya kehadiran sumber belajar, seperti “perpustakaan online, media pembelajaran online, diskusi online”; f).
Munculnya bisnis toko on-line, yang mana masyarakat bisa saja pesan melalui online, tanpa lagi perlu keluar rumah untuk membeli barang-barang yang diperlukan.
Penggunaan media digital dan teknologi internet yang memberikan dampak positif juga memberikan dampak negatif pada anak jika dilakukan secara berlebihan pada diri anak, yaitu: a) perilaku anak semakin tidak sabar, meyukai hal yang praktis dan enggan berlama-lama berkutat memecahkan masalah;
b) membuat kebingungan dalam proses
28 pencarian identitas diri maupun identitas
seksual seorang anak; c) menurunnya ketahanan mental dan konsentrasi anak saat membaca suatu informasi; d) anak kurang memiliki produktivitas kerja; e) komunikasi dan interaksi yang berlebihan dan tidak terkontrol di media sosial sehingga membahayakan zona privasi; f) bertambahnya risiko obesitas, gangguan perkembangan otot saat usia pra sekolah dan gangguan stress; g) membuat anak tidak dapat membedakan stimulasi dunia maya dan realitas; h) menyebabkan seorang anak kurang pada kemampuan sosial dalam dunia nyata, yang berdampak pada rendahnya kemampuan inteligensi emosi (emotional quotient); dan i) berpeluang untuk melakukan kecurangan dalam bidang akademik.
Toffler (1980) menambahkan dampak teknologi dapat mengakibatkan “our technological powers increase, but the side effects and potential hazards also escalate”.
Orangtua untuk mengantisipasi dampak teknologi digital dapat melakukan Parenting Immun Selfer agar dapat melakukan pendamping anak disaat anak memainkan teknologi. Tujuan Parenting Immun Selfer agar anak-anak tidak kecanduan dengan barang-barang teknologi (Setiawan, 2017).
Hurlock, untuk mengantisipasi anak- anak di zaman era digital sekarang, yang paling berkesan adalah pola asuh. Sistem pola asuh ini juga, menampilkan teladan yang baik oleh orangtua kepada anaknya (Tridonanto, 2014).
Herlina (2018) Digital Parenting : Mendidik Anak di Era Digital mengemukakan bahwa orang tua perlu menerapkan strategi berikut ini untuk mendidik dan mendampingi anak supaya tetap bisa menguasai teknologi digital tanpa terpengaruh dampak negatifnya, yakni:
Pertama, orang tua membuat kesepakatan dengan anak tentang penggunaan dan waktu agar anak tumbuh tanggung jawab dan kesadaran
Kedua, orang tua menjalin komunikasi dengan pihak sekolah dan lingkungan (masyarakat). Hal ini bertujuan supaya sikap, perilaku, dan tindakan anak tetap terkontrol dengan baik
Ketiga, orang tua perlu memantau, mendampingi dan mengarahkan aktivitas anak dalam mengakses atau menggunakan media sosial supaya memanfaatkan media tersebut secara positif.
Keempat, orang tua menunjukkan konsistensi dan teladan yang baik dan positif bagi anak dalam penggunaan gadget.
Hayyumas (2016) menambahkan orangtua yang hidup di zaman era digital ini, selain harus menguasai teknologi di zaman sekarang, tetapi mempunyai pengetahuan- pengetahuan terhadap perkembangan anaknya.
Fraenkel (1977) menyatakan tingkat perkembangan anak terdiri dari Pra konvensional, konvensional dan pasca konvensional.
Pada tingkat Pra konvensional, dengan umur anak 4-10 tahun, maka anak masih mematuhi ucapan orangtuanya. Anak pada tahap ini, maka tipe pola asuh orangtua adalah sinkronisasi antara otoriter, demokratis dan permisif. Anak pada tingkat konvensional dengan umur 10-13 memerlukan teladan dari orangtuanya.
Orangtua yang tidak mengetahui perkembangan anaknya, maka kepribadian anak ikut juga tidak diketahui, sehingga orangtua tidak pernah tepat untuk memperlakukan maupun mendidik anaknya, disinilah dibutuhkan pola asuh yang tepat (Murdoko, 2017)
Pola asuh menurut Singgih D Gunarsa, pola asuh sebagai gambaran nyata dipakai orang tua untuk mengasuh (merawat, menjaga, mendidik) anak. Chabib Thoha menambahkan pola asuh adalah salah satu cara yang terbaik sebagai tanggung jawab orang tua ke anak. Sam Vaknin menyatakan pola asuh adalah sebagai “parenting is interaction betwee parent’s and children during their care” (Tridonanto, 2014).
Teori pola asuh yang dikembangkan oleh Diana Baumrind. Zaini (2019) menyatakan pola asuh yang dikembangkan Diana Baumrind dalam empat kategori pola asuh orang tua terhadap anak di keluarga, yakni orang tua authoritarian (otoriter); orang tua permissive (permisif); orang tua uninvolved; dan orang tua authoritative
Bowman (2010), menguatkan bahwa anak-anak yang memperoleh pendidikan yang
29 terencana dengan baik dan berkualitas di
dalam keluarga cenderung untuk belajar lebih banyak dan lebih siap untuk menguasai permintaan atau tuntutan yang kompleks dari sekolah formal.
Dari paparan diatas lah, kami memandang pentingnya kegiatan pengabdian masyarakat berkaitan dengan partisipasi orangtua terhadap pendidikan anak di era digital dilakukan. Kami mengangkat tema sosialisasi partisipasi orangtua terhadap pendidikan anak di era digital kelurahan kebun bunga merupakan hal yang penting dilaksanakan pada masyarakat mengingat temuan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menemukan bahwa 98% anak-anak dan remaja mengenal internet dan 79,5% diantranya adalah pengguna aktif. Oleh sebab itu, pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat berkaitan dengan partisipasi orangtua terhadap pendidikan anak di era digital dianggap penting.
METODE
Metode yang digunakan terhadap solusi yang ditawarkan berbentuk sosialisasi penyuluhan dengan tema yang diangkat Partisipasi Orangtua Terhadap Pendidikan Anak di Era Digital. Kegiatan ini dilakukan satu hari dengan memaparkan dua materi, yaitu: 1) pentingnya peran dan pendampingan orangtua dalam pendidikan anak demi optimalnya tumbuh kembang anak, dan 2) cara sukses pendampingan orangtua untuk meminimalisir dampak buruk penggunaan hp/
gadget sebagai media pembelajaran. Dua materi ini telah mencangkup pula pesan tentang Seri Pendidikan Orang Tua: Mendidik Anak di Era Digital, Cet. I (2016) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Metode dalam sosialisasi ini dengan model tatap muka. Adapun rangkaian acara diawali dengan pembukaan (sebagai MC adalah mitra) dan kata sambutan dari ketua PKK dan ketua tim pengabdian kepada masyarakat. Dilanjutkan dengan inti kegiatan ini yang dilakukan dengan metode berupa pemastian informasi awal dan apersepsi untuk mengetahui sejauh mana pemahaman
masyarakat selama ini tentang perlunya pendampingan dan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak dengan penggunaan media HP/ gadget, diawali dengan melakukan pre- test kemudian dilakukan penyampaian materi dengan metode ceramah, demostrasi dan diskusi, serta diakhiri dengan post-test dilanjutkan doa dan penutup. Pada akhir acara bagi penggerak PKK dan perwakilan masyarakat yang hadir yang mampu menyerap penyampaian dengan baik diberikan apresiasi berupa reward khusus sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan dan kemauan belajar untuk melakukan pendampingan dan partisipasi orangtua kepada pendidikan anak di era digital ini
Langkah-langkah yang dilakukan pada sosialisasi, yaitu:
a. Persiapan, dengan menyediakan materi berupa Power point dan video contoh demontrasi.
b. Apersepsi, dengan melakukan pengantar untuk menggali informasi awal dengan pre-test dan memberikan motivasi tentang pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak
c. Presentasi, dengan menyajikan materi yaitu: 1) pentingnya peran dan pendampingan orangtua dalam pendidikan anak demi optimalnya tumbuh kembang anak, dan 2) cara sukses pendampingan orangtua untuk meminimalisir dampak buruk penggunaan hp/ gadget sebagai media pembelajaran. Kemudian menampilkan video dan contoh demonstasi oleh mahasiswa bagaimana pendampingan orangtua dalam pembelajaran dengan media HP/ gadget
d. Resitasi, dengan melakukan penguatan, pengulangan dan memberikan point-point penting tentang sajian yang disampaikan agar melekat dan mudah diingat oleh para peserta, dilakukan diskusi, kemudian test akhir
e. Apresiasi, dengan memberikan reward terhadap peserta yang mampu menyerap materi dengan baik, sebagai bentuk apresiasi karena telah berupaya dalam memahami materi dan mencoba meaplikasikan materi yang didapat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
30 Kegiatan Sosialisasi Partisipasi
Orangtua terhadap Pendidikan Anak di Era Digital di Kelurahan Kebun Bunga telah dilakukan pada 9 Mei 2022. Adapun peserta yang hadir yaitu sebanyak 20 orang.
Kegiatan sosialisasi ini berisi penguatan kembali kepada ibu – ibu di Kelurahan Kebun Bunga tentang pentingnya peran dan pendampingan orang tua terhadap pendidikan anak. Pentingnya peran orangtua ini memiliki dampak yang amat besar, sebagaimana yang disampaikan oleh Henderson (2002), yaitu: a) orangtua dan lingkungan keluarga sebagai tempat belajar anak yang pertama dan utama, b) Keterlibatan orang tua dalam pendidikan formal anak akan meningkatkan prestasi sekolah anak, dan c) lebih efekif dalam memberikan pendidikan kepada anak.
Partisipasi orangtua dalam pendidikan anak ini diartikan sebagai keikutsertaan orangtua dalam pendidikan dan perkembangan anak di setiap jenjang pendidikan dan sejak lahir sampai memasuki masa dewasa, mengingat bahwa orang tua merupakan pengaruh utama dalam kehidupan anak (Brown, 2002)
Mulyasa (2003) menegaskan, bentuk partisipasi orang tua dalam membentuk lingkungan belajar bagi anak di rumah, yaitu:
a) Menciptakan budaya belajar di rumah, b) Memprioritaskan tugas yang terkait secara langsung dengan pembelajaran di sekolah, c) Mendorong anak untuk aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi sekolah, d) Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan gagasan, ide, dan berbagai aktivitas yang menunjang kegiatan belajar, e) Menciptakan situasi yang demokratis (tukar pendapat dan pikiran) sebagai sarana belajar dan membelajarkan di rumah, f) Memahami dan adanya konektivitas antara orangtua dan sekolah dalam mengembangkan potensi anaknya, g) Menyediakan sarana belajar yang memadai, sesuai dengan kemampuan orang tua dan kebutuhan sekolah
Sosialisasi ini menjadi penting karena masih kurangnya edukasi dan kesadaran orang tua dalam mendidik anak.
Jailani (2009) menjabarkan banyak faktor yang menyebabkan orang tua belum optimal dalam mendidik anak-anaknya di rumah: 1)
Kurangnya pengetahuan para orang tua terhadap peran dan fungsi serta tanggung jawab para orang tua dalam pendidikan anak- anak. 2) Lemahnya peran sosial budaya masyarakat dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan keluarga. 3) Kuatnya desakan dan tarikan pergulatan ekonomi para orang tua dalam memenuhi tuntutan dan kebutuhan keluarga. 4) Kemajuan arus teknologi informasi yang mengglobal turut pula mempengaruhi cara berfikir dan bertindak para orang tua.
Kegiatan dibuka oleh lurah dan ketua PKK kelurahan Kebun Bunga. Kegiatan kemudian diawali dengan pretest dilanjutkan dengan penyampaian sosialisasi pada tema yang diangkat kemudian demonstrasi dan diskusi.
Sosialisasi ini menyampaikan materi tentang:
1. Pentingnya peran dan pendampingan orangtua dalam pendidikan anak demi optimalnya tumbuh kembang anak
2. Cara sukses pendampingan orangtua untuk meminimalisir dampak buruk penggunaan hp/
gadget sebagai media pembelajaran.
Dua materi mencangkup pesan pada Seri Pendidikan Orang Tua: Mendidik Anak di Era Digital, Cet. I (Juli 2016:14-17) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Selanjutnya, diakhir sosialisasi dilakukan post test untuk memastikan pemahaman peserta dan melakukan penyerahan merchandise kepada ketua PKK dan reward bagi peserta yang aktif
Dua bulan setelah sosialisasi tim pengabdian masyarakat berkunjung kembali ke penggerak PKK Kelurahan Kebun Bunga untuk meninjau kembali hasil dari sosialisasi.
Hasil dari perbincangan tersebut memperlihatkan bahwa adanya perubahan pola pikir Ibu PKK Kelurahan Kebun Bunga bahwa peran orangtua dalam mendidik anak sangat penting. Orangtua sudah mulai memahami bagaimana mengelola dan mengarahkan penggunaan gadget oleh anak agar digunakan dengan baik.
Sebelum sosialisasi dan sesudah sosialisasi dilakukan pengukuran untuk mengetahui ketercapaian kegiatan. Utami (2013) menyatakan terdapat lima indikator
31 untuk mengukur peran orangtua dalam
pendidikan anak, yaitu a) peran orang tua sebagai pendidik, b) peran orang tua sebagai pelindung, c) peran orang tua sebagai pengarah, d) peran orang tua sebagai penasehat, e) peran orang tua sebagai penanggung jawab.
Persentase peran orangtua dalam pendidikan anak pada indikator tersebut saat sebelum sosialisasi, yaitu: a) peran orang tua sebagai pendidik 58%, b) peran orang tua sebagai pelindung 45%, c) peran orang tua sebagai pengarah 30%, d) peran orang tua sebagai penasehat 38%, e) peran orang tua sebagai penanggung jawab 60%. Dapat dilihat dari Grafik 1.
Persentase di atas mengalami perubahan setelah dilakukannya sosialisasi, yaitu: a) peran orang tua sebagai pendidik 80%, b) peran orang tua sebagai pelindung 78%, c) peran orang tua sebagai pengarah 83%, d) peran orang tua sebagai penasehat 75%, e) peran orang tua sebagai penanggung jawab 88%. Berikut Grafik 2 perubahan persentase setelah sosialisasi di PKK Kelurahan Kebun Bunga.
Hasil persentase diketahui terjadi perubahan pola pikir terhadap partsipasi orangtua terhadap pendidikan anak baik dalam pendidik, pelindung, pegarah, penasihat dan penanggung jawab. Selain itu, orangtua juga semakin teredukasi dengan menyesuaikan cara mendidik anak di era digitalisasi ini dengan lebih terbuka atau lebih bisa diterima anak dengan pola asuh yang arif, positif, efektif, konstruktif dan transformatif yang akan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak kearah yang lebih baik dan positif.
Patmonodewo (2003) menyatakan hal ini selaras dengan beberapa hasil penelitian yang menunjukkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan akan berhubungan dengan prestasi anak, perilaku anak, budaya, usia, dan kualitas sekolah. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Direktorat Pembinaan dan Pendidikan Keluarga (2016) mengemukaka n bahwa banyak penelitian yang menunjukkan keterlibatan orang tua mampu mendukung prestasi akademik, meningkatkan kehadiran, kesadaran terhadap kehidupan yang sehat, dan meningkatkan perilaku positif.
New Zealand Council for Educational Research (Bull, et. al. 2008) menambahkan dengan menyatakan, “The research literature is unequivocal in showing that parental involment makes a significant difference to educational achievement”. Walberg menyatakan hasil penelitian selama lebih dari
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
pendidik pelindung pengarah penasihat penanggung jawab
Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak
Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak
65%
70%
75%
80%
85%
90%
pendidik pelindung pengarah penasihat penanggung jawab
Pendampingan Orangtua dalam Pendidikan Anak
Pendampin gan Orangtua dalam Pendidikan Anak
32 tiga dekade terakhir peran keluarga dalam
pendidikan anaknya itu berhubungan erat dengan atau berdampak kuat terhadap keberhasilan belajar anak (Hale, 2003)
Hasil penelitian Mahfudzah (2015) menunjukkan, adanya perhatian dan partisipasi orang tua dalam mendidik, mengajar serta membimbing siswa dalam peningkatan belajar siswa itu sendiri. Gudlaug (2010), menunjukkan pula dalam penelitiannya bahwa terdapat dampak postif dari partisipasi orangtua secara penuh terhadap pendidikan anak akan berdampak positif pada prestasi siswa di sekolah.
Paparan hasil temuan dan penelitian diatas menunjukkan partisipasi orang tua secara penuh dalam pendidikan anak akan memberikan dampak besar, baik motivasi dan semangat positif yang akan mensukseskan proses pendidikan anak. Tarsilla dan Lydiah (2014) menegaskan partisipasi orang tua akan membantu guru lebih bertanggung jawab dalam proses pendidikan anak dan hubungan orang tua dengan anaknya menjadi lebih dekat dan harmonis.
Dari penjelasan diatas, sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dan mengedukasi orangtua bagaimana memberikan pendidikan terbaik (efektif dan postif) pada anak di era digital sesuai zaman globalisasi saat ini.
Kehadiran ibu PKK kelurahan Kebun Bunga pada kegiatan sosialisasi yang dilakukan juga menunjukkan masih adanya kepedulian orangtua untuk mendampingi pendidikan anak. Selain itu, banyaknya pertanyaan yang masuk saat kegiatan menunjukkan anusiasme orangtua dalam menerapkan pola asuh yang tepat pada anak di era digital
SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil sosialisasi peran pendampingan orangtua terhadap pendidikan anak, maka dapat disimpulkan terdapat peningkatan, sebagai berikut, yaitu: 1) terdapat antusiame orangtua dalam kegiatan yang ditandai dengan berbagai pertanyaan serta pelaksanaan kegiatan berjalan lancar, 2) hasil pemahaman orang tua berdasarkan kuesioner yang diberikan menunjukkan kategori baik a)
peran orang tua sebagai pendidik 80%, b) peran orang tua sebagai pelindung 78%, c) peran orang tua sebagai pengarah 83%, d) peran orang tua sebagai penasehat 75%, e) peran orang tua sebagai penanggung jawab 88%
33 DAFTAR PUSTAKA
Academic Achievement in Public Secondary School: A Case of Kieni-West Sub Country, Nyeri Wunty Kenya.
International Journal of Education and Research. 2(11) 411-424
Andriyani, I. N. 2018. Pendidikan Anak dalam Keluarga Di Era Digital.
FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume 7, Nomor 1, Juli 2018; p-ISSN 2442 - 2401; e-ISSN 2477-5622.
Bowman, N. A. (2010). The development of psychological well-being among forst year college students. Journal of college student development, 51, 180.
Brown, P.J. 2002. Parental Involvement.
Education Policy Brief. Vol. 10, March: 1-5.
Bull, A. Brooking, K., dan Campbell, R. 2008.
Successful Home-School Partnerships:
Report to The Ministry of Education.
New Zealand
Depdiknas .2003. Undang-undang RI No.20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.
2016. Petunjuk Teknis Kemitraan Sekolah Dasar dengan Keluarga dan Masyarakat. Jakarta: Kemendiknas Fraenkel, J. R. 1977. How to teach about
values: An analytic approach. New Jersey: Prentice-Hall Englewood Cliffs, New Jersey.
Gudlaug, E. 2010. Effect of Parental Invovement in Education. Thesis:
University of Iceland
Hale, L.M. 2003. Student Perception of Parental Involvement and Grade 5 Reading and Math Achievement.
Dissertation. Baylor University
Hayyumas, M. 2016. Pola Interaksi Hubungan Orang Tua Dengan Anak di Era Digital (Studi Deskriptif Kualitatif Pola Interaksi Hubungan Orang Tua dengan Anak di Era Digital
Henderson, A.T. and Mapp, K.L. 2002. A New Wave of Evidence: The Impact of School, Family, and Community Connections on Student Achievement.
Austin: Southwest Educational Development Laboratory.
Herlina, D. 2018. Digital Parenting : Mendidik Anak di Era Digital.
Yogyakarta : Samudra Biru.
Kohlberg, L. 1978. Revisions in the theory and practice of moral development. New directions for child and adolescent development, 1978(2), 83–87.
Kurnia. 2017. Literasi Digital Keluarga, Teori dan Praktik Pendampingan Orangtua terhadap Anak dalam Berinternet.
Yogyakarta : Center For Digital Society (CfDS).
Mahfudzah. 2015. Hubungan Antara Perhatian Orang Tua Dan Prestasi Belajar Siswa SDN 3 Tolihe Kecamatan Baito Kabupaten Konawe Selatan. Sulawesi Selatan: IAIN Kendari.
Mujiburrahman. 2013. Bercermin Ke Barat:
Pendidikan Islam Antara Ajaran dan Kenyataan (Cetakan Pertama).
Banjarmasin: Jendela
Mulyasa. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Murdoko, E. W. H. 2017. Parenting With Leadership Peran Orangtua Dalam Mengoptimalkan Dan Memberdayakan Potensi Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Patmonodewo, S. 2003. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: PT Asdi Mahasatya
Santosa, E. T. 2015. Raising Children In Digital Era. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Setiawan, R. 2017. Kebebasan Ekspresi Individual dalam Pembangunan Manusia Era Digital. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP 1 (2), 2017
Patmonodewo, S. 2003. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarsilla, K. dan Lydiah, N. 2014. Parental Involvement in Their Children
Toffler, A. 1980. The third wave. New York:
William Morrow and Company. New York City: William Morrow and Company, INC.
Tridonanto, A. 2014. Mengembangkan pola asuh demokratis. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Zaini, Muhammad dan Soenarto. 2019.
Persepsi Orangtua Terhadap Hadirnya
34 Era Teknologi Digital di Kalangan
Anak Usian Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 3, No. 1 2019 (224-233).
Utami, S.D. 2013. Peranan Orang Tua Dalam Mendidik Anak. Jurnal Ilmiah Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.
FIP: Universitas Negeri Semarang.