Vol. 4, No. 2, Desember,2022
PENGARUH PENDIDIKAN AKIDAH AKHLAK TERHADAP PERILAKU SOSIAL
Imas Kurniasih1*, Rifqi Rohmatulloh2, Ibnu Imam Al Ayyubi3
123Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Falah, Bandung Barat, Indonesia
* [email protected] Abstrak
Di tingkat madrasah pelajaran akidah akhlak meliputi nilai-nilai akidah dan akhlak. Perilaku dapat dikatakan korelatif dengan tujuan Pendidikan. Pendidikan budi pekerti dan akhlak merupakan jiwa dan tujuan Pendidikan islam itu sendiri, tujuan utama Pendidikan agama islam identik dengan tujuan hidup setiap muslim. Penelitian ini berupaya untuk mengetahui pengaruh antara Pendidikan akidah akhlak dengan perilaku sosial siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, wawancara, penyebaran angket, dan kepustakaan, dengan metode eksplanasi, analisis data kualitatif dan kuantitatif yang diolah secara statistik dengan product moment juga hasil presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator dari Pendidikan akidah dan akhlak dengan perilaku sosial secara presentase menunjukkan hasil yang positif, lalu dengan uji t didapat bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara Pendidikan akidah akhlak dengan perilaku sosial. Hal tersebut dapat dikarenakan adanya keteladanan dan bimbingan yang diberikan kepada siswa untuk memiliki akhlak yang baik, tentunya hal ini didapatkan dari para pendidik, orang tua dan lingkungan yang baik. Maka dapat dinyatakan bahwa Pendidikan akidah akhlak yang diterapkan mempengaruhi sedikit banyak perilaku sosial siswa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kata kunci : Akidah, Akhlak, dan Perilaku Sosial Abstract
At the madrasah level, the subject of aqidah morals includes the values of aqidah and morals.
Behavior can be said to be correlative with educational goals. Education of character and morals is the soul and goal of Islamic education, the main goal of Islamic religious education is synonymous with the life goals of every Muslim. This study seeks to determine the influence between Aqidah Akhlak Education and students' social behavior. Data collection was carried out through observation, interviews, questionnaires, and literature, using explanatory methods, qualitative and quantitative data analysis which were processed statistically with product moment as well as percentage results. The results showed that the indicators of aqeedah and moral education with social behavior as a percentage showed positive results, then with the t test it was found that there was a significant influence between aqidah moral education and social behavior.
This can be due to the exemplary and guidance given to students to have good morals, of course this is obtained from educators, parents and a good environment. So, it can be stated that the Aqidah Akhlak Education that is applied influences more or less the social behavior of students in living their daily lives.
Keywords: Faith, Morals, and Social Behavior
I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kebutuhan pada diri setiap manusia yang dimulai sejak lahir hingga ujung maut menjemput, manusia sendiri tidak akan pernah dapat menjadi manusia yang berkepribadian luhur tanpa melalui proses pendidikan. Pendidikan dapat dikatakan sama dengan hidup, dengan segala situasi yang mempengaruhi pertumbuhan manusia itu sendiri (Ainissyifa, 2017). Pendidikan membentuk manusia dari yang tidak mengetahui menjadi mengetahui. Selain itu pendidikan merupakan kebutuhan masyarakat dan hak semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan, sesuai yang tertuang pada Undan-undang Dasar tahun 1945 Pasal 31 ayat 1. Dalam perkembangannya pengertian pendidikan selalu mengalami perubahan menuju kesempurnaan. Awalnya istilah pendidikan berarti mebimbing atau menolong dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa supaya ia menjadi pribadi yang lebih baik (Halik, 2020). Pendidikan sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia khususnya bagi siswa yang berada dalam masa pertumbuhan dengan arus globalisasi yang memungkinkan dapat terintervensi dengan perilakunya di lingkungan sekitar.
Islam sendiri sangat memperhatikan pembinaan perilaku, baik dari segi materi hingga implementasi outputnya.
Di MTs Arrukhshatul ‘Ulum pendidikakn akidah akhlak tercantum dalam materi pelajaran yang meliputi nilai-nilai akidah dan akhlak, yakni nilai keislaman yang bersifat primordial. Pendidikan akhlak merupakan salah satu aspek yang sangat krusial di dalam kehidupan, dengan Pendidikan siswa selain diorientasikan untuk meningkatkan kognitifnya, namun bila idak dilandasi dengan akhlak yang baik, maka siswa tidak akan mencerminkan kepribadian yang baik pula (Siddik, 2022). Hakikatnya manusia harus memiliki akhlak yang mencerminkan nilai pribadi dan harga dirinya, bila sebaliknya maka akakn hilang harga dirinya dihadapan Allah Swt dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pentingnya penguasaan materi Pendidikan akidah akhlak dalam membentuk kepribadian anak, dengan demikian keluarga dan sekolah sangat berperan guna memberikan pengajaran materi akidah akhlak dalam berperilku mulai sejak dini sehingga perilaku siswa dapat terpupuk dalam kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. akidah akhlak terlihat sangat abstrak bagi yang awam mengetahuinya, supaya dapat diterima dengan baik oleh siswa dengan
segala keterbatasannya maka diperlukan perlakuan khusus untuk menunjang kemampuannya dalam menerima materi pelajaran akidah dan akhlak. MTs Arrukhshatul ‘Ulum merupakan lembaga pendidikan formal yang mendapat kepercayaan dari masyarakat kendati demikian bukan berarti tidak menemui permasalahan yang berarti, salah satu bentuk permasalahan yang mendasarnya adalah masih ditemui siswa yang berakkhlak kurang sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam, sepertii berpakaian tidak sesuai aturan hingga berbicara yang kurang pantas.
Perilaku dapat dikatakan korelatif dengan tujuan pendidikan, pendidikan budi pekerti dan akhlak merupakan jiwa dan tujuan pendidikan islam, tujuan utama pendidikan agama islam identik dengan tujuan hidup setiap muslim, yaitu menjadi hamba Allah yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk agama islam. Untuk mewujudkan tujuan tersebut harus ditunjang dengan berbagai faktor internal maupun eksternal seperti pendidik dan sarana prasarana yang relevan.
II. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan adalah metode eksplanasi dengan menggunakan dua variabel, yakni variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas sendiri disini pendidikan akidah akhlak dan variabel terikatnya adalah perilaku siswa di MTs Arrukhhshatul ‘Ulum. Metode eksplanasi menjelaskan hubungan kausalitas antara variabel bebas dan variabel terikat melalui pengujian hipotesis atau yang dinamakan sebagai eksplanatory research. Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang menurut Margono (2007) merupakan proses menemukan pengetahuan menggunakan data berupa angka sebagai alat untuk menemukan kesimpulan yang ingin kita ketahui. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah field research yang bertujuan untuk mendapatkan data faktual yang ada di lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan diantaranya observasi dan angket.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Akidah berarti kepercayaan hati atau keyakinan, dan menurut Ginanjar &
Kurniawati (2017) sesuatu yang dibenarkan oleh seseorang untuk dijadikan sebuah landasan agama, dimana akidah sendiri secara bahasa berasal dari kata aqoda, y’qidu,
Manusia dengan Manusia
Manusia dengan Lingkungannya Manusia
dengan Allah
dan aqdan. Secara etimologi, akhlak berarti jamak dari kata khuluq yang berarti perangai, dan berasal dari bahasa Arab. Pendidikan akhlak menjadi dasar pendidikan bagi seorang muslim dan akidah yang benar terhadap alam juga kehidupan. Oleh karenanya, berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik, dan lurus, juga sebaliknya dengan akidah yang salah implikatif dengan akhlak yang tidak benar (Bafadhol, 2017). Akidah yang benar berlandaskan dengan tegak agama dan diterimanya suatu amal, seperti yang tertuang di dalam Al-Quran, Allah berfirman: “…
barang siapa mengharap pertemuan dengan tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhannya” (Q.S. Al-Kahfi: 110). Selain itu Allah juga telah memberikan penjelasan bahwa akhlak Rasulullah Saw sangat layak untuk dijadikan sebagai suri tauladan yang baik, melalui Firmannya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah” (Q.S. Al-Ahzab: 21). Akhlak sendiri memiliki empat kategori yakni perbuatan baik dan buruk, kesanggupan untuk melakukannya mengetahuinya, dan sikap mental untuk melakukan yang baik atau yang buruk (Ardani, 2005). Ruang lingkup Pendidikan akidah akhlak meliputi:
Gambar 1. Hubungan Akidah Akhlak
Setiap perilaku memiliki wujud atau bentuk tertentu dalam beragama, dengan komunikasi verbal pada kehidupan sehari-hari perilaku senantiasa mengontrol aktivitas kehidupan dalam arti melakukan tindakan baik atau tindakan buruk itu sendiri. Perilaku mempunyai arti yang sangat luas, tidak hanya dengan gerak motorik,
melainkan setiap tindakan, perbuatan, sikap kita yang termanifestasi hayati secara hidup, dengan kata lain indikator yang menyatakan bahwa individu manusia itu hidup (Syah, 2004). Menurut Pieter & Lubis (2010) perilaku merupakan proses mental dari aksi dan reaksi seseorang yang tampak secara ekplisit maupun implisit. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan perilaku merupakan segala kegiatan manusia yang tersirat, disadari maupun tidak, termasuk didalamnya berbicara, berjalan, cara manusia melakukan sesuatu dengan aksi-reaksi yang ada baik yang datang dari luar dirinya maupun dari dalam dirinya.
Manusia sudah membawa bakatnya sejak lahir, dalam perkembangannya yang menentukan selanjutnya adalah pendidikan dan lingkungannya (Badwi, 2018). Dalam hal ini manusia mampu mewujudkan potensi terbaiknya sebagai aktualisasai dan relevansinya dengan ajaran islam yang dianutnya. Islam mengakui adanya pembawaan dan mengakui pentingnya pendidikan. Terdapat berbagai perspektif mengenai faktor yang mempengaruhi perilaku manusia untuk menentukan faktor yang lebih dominan dalam pembentukan perilaku manusia, teori besar yang memaparkan hal ini diantaranya teori nativisme, empirisme, dan konvergensi (Musdalifah, 2019; Triyandini dkk, 2023). Dimana menurut Suswandari (2018) pandangan nativisme merupakan perilaku manusia yang telah ditentukan sejak lahir dan tidak akan terintervensi oleh faktor eksternal seperti pendidikan dan lingkungan, sedangkan paham Empirisme berlawanan yakni perilaku manusia terbentuk oleh faktor eksternal yang dalam hal ini adalah lingkungan, karena secara dominan manusia memerlukan interaksi sosial yang bersosialisasi dengan masyarakat luar (Lestari, 2017). Namun menurut Bakhri (2016) teori konvergensi justru mengintegrasi keduanya, paham ini menyatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh sifat pembawaan yakni sejak lahir dan terasimilasi dengan faktor eksternalnya. Dengan kata lain faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia bersifat probabilistik tergantung dari perspektif yang dianutnya.
Temuan Penelitian
Dimulai dengan ketepatan pendidik hadir tepat waktu dengan angket yang disebar didapat jawaban bahwa ketepatan pendidik datang tepat waktu sebelum jam pelajaran dimulai 49% menjawab sangat setuju, 32% menjawab setuju, 19% menjawab tidak setuju, dan 0% menjawab sangat tidak setuju, hal ini dilakukan apersepsi untuk
49%
32%
19%
Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju
memberikan semacam literasi bahwa pendidik datang tepat waktu sebelum pelajaran dimulai, maka indikasinya untuk memperhatikakn kedisiplinan dalam waktu memngajar yang dimaksudkan siswa dapat lebih menghargai waktu.
Gambar 2. Ketepatan Pendidik Datang Tepat Waktu
Hasil angket yang telah disebarkan kepada siswa berkenaan dengan Pendidikan akidah akhlak, selanjutnya ditabulasi dengan persentase guna memudahkan pengolahan dan penafsiran data, dengan keterangan Sangat Baik (SB), Baik (B), Tidak Baik (TB), Sangat Tidak Baik (STB).
Tabel 1. Hasil Angket Pendidikan Akidah Akhlak
Indikator Jawaban (%)
SB B TB STB Kedisiplinan Belajar 56 33 11 0
Kesesuaian Materi 66 30 4 0
Apersepsi 68 20 12 0
Penjelasan Materi 64 28 8 0
Penggunaan Buku Pegangan 60 27 13 0 Penggunaan Media
Pembelajaran 44 39 17 0
Melakukan Evaluasi 69 28 3 0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 Kedisiplinan Belajar
Kesesuaian Materi Apersepsi Penjelasan Materi Penggunaan Buku Pegangan Penggunaan Media Pembelajaran Melakukan Evaluasi
STB TB B SB
Berdasarkan Tabel 1 didapat pernyataan dengan indikator kedisiplinan belajar siswa 56 % sangat baik, 33% baik, dan 11% tidak baik, indikator kesesuaian materi yang diajarkan dengan buku pegangan siswa 66% sangat baik, 30% baik, dan 4% tidak baik, indikator apersepsi siswa dimana materi sebelumnya di recall untuk menunjang materi selanjutnya yang akan dipaparkakn 68% sangat baik, 20% baik, dan 12% tidak baik, indikator penjelasan materi akan pemahaman siswa 64% sangat baik, 28% baik, dan 8% tidak baik, indikator akan kesesuaian penggunaan buku pegangan siswa dengan materi yang diajarkan 60% sangat baik, 27% baik, dan 13% tidak baik, indikator penggunaan media pembelajaran menyatakan 44% sangat baik, 39% baik, dan 17%
tidak baik, terakhir indikator dalam melakukan evaluasi Bersama akan materi yang telah diajarkan 69% sangat baik, 28% baik, dan 3% tidak baik. Dari keseluruhan angket dengan 7 indikator di atas 0% siswa menyatakan bahwa sangat tidak baik.
Gambar 3. Hasil Angket Pendidikan Akidah Akhlak
Hasil angket yang telah disebarkan kepada siswa berkenaan dengan perilaku sosial, selanjutnya ditabulasi dengan persentase guna memudahkan pengolahan dan penafsiran data, dengan keterangan Sangat Sering (SSr), Sering (Sr), Jarang (Jr), Sangat Jarang (SJr).
Tabel 2. Hasil Angket Perilaku Sosial
Indikator Jawaban (%)
0 10 20 30 40 50 60 70 Memberikan Salam pada Guru/Orang Tua
Mencium Tangan Guru/Orang Tua Memperhatikan Pelajaran Mengerjakan Tugas Sekolah Membantu Pekerjaan Rumah Membantu Teman yang Kesulitan Tidak Mencontek saat Ujian
SSr Sr Jr SJr Memberikan Salam pada Guru/Orang
Tua 58 34 8 0
Mencium Tangan Guru/Orang Tua 64 33 3 0
Memperhatikan Pelajaran 66 24 7 3
Mengerjakan Tugas Sekolah 60 36 4 0
Membantu Pekerjaan Rumah 61 30 9 0
Membantu Teman yang Kesulitan 42 43 15 0 Tidak Mencontek saat Ujian 57 41 2 0
Berdasarkan Tabel 2 didapat pernyataan dengan indikator memberikakn salam pada guru maupun orang tua 58% sangat sering, 34% sering, dan 8% jarang, indikator mencium tangan kepada guru maupun oran tua 64% sangat sering, 33% sering, dan 3%
jarang, indikator memperhatikan pelajaran yang dipaparkan di depan kelas 66% sangat sering, 24% sering, 7% jarang, dan 3% sangat jarang, indikator mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh guru 60% sangat sering, 36% sering, dan 4% jarang, indikator membantu pekerjaan rumah bila orang tua sedang sibuk atau berada di luar rumah 61% sangat sering, 30% sering, dan 9% jarang, indikator membantu teman yang sedang kesulitan 42% sangat sering, 43% sering dan 15% jarang, lalu yang terakhir indikator tidak mencontek saat ujian siswa menyatakan 57% sangat sering, 41% sering, dan 2% jarang. Dari keseluruhan angket dengan 6 indikator di atas 0% siswa menyatakan bahwa sangat jarang
Gambar 4. Hasil Angket Perilaku Sosial
Dari data diatas juga diperoleh perhitungan bahawa hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara Pendidikan akidah akhlak dengan perilaku sosial. Apabila pembelajaran Pendidikan akidah akhlak disandingkan dengan perilaku sosial maka tidak menjadi suatu permasalahan yang berarti dan dapat mencegah degradasi moral terjadi khususnya secara lebih makro.
IV. KESIMPULAN
Adanya korelasi yang berarti antara Pendidikan akidah akhlak dengan perilaku sosial siswa di MTs Arrukhshatul ‘Ulum. Adanya pengaruh yang signifikan antara Pendidikan akidah akhlak dengan perilaku sosial ini dibuktikan dengan uji
dan dengan angket yang diberikan dominan responden menyatakan hasil yang positif. Hal tersebut dapat dikarenakan adanya keteladanan dan bimbingan yang diberikan kepada siswa untuk memiliki akhlak yang baik, tentunya hal ini didapatkan dari para pendidik, orang tua dan lingkungan yang baik. Maka dapat dinyatakan bahwa Pendidikan akidah akhlak yang diterapkan mempengaruhi sedikit banyak perilaku sosial siswa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
V. DAFTARPUSTAKA
Ainissyifa, H. (2017). Pendidikan karakter dalam perspektif pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan UNIGA, 8(1), 1-26.
Ardani, M. (2005). Akhlak Tasawuf. Jakarta: CV. Karya Mulia.
Badwi, A. (2018). Pengaruh bakat dalam pencapaian prestasi belajar. Ash-Shahabah:
Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 4(2), 204-208.
Bafadhol, I. (2017). Pendidikan akhlak dalam perspektif islam. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 6(02), 19.
Bakhri, S. (2016). Teori Fitrah Anak Dalam Islam dan Relevansinya dengan Teori Konvergensi dalam Aliran Pendidikan (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).
Ginanjar, M. H., & Kurniawati, N. (2017). Pembelajaran Akidah Akhlak Dan Korelasinya Dengan Peningkatan Akhlak Al-Karimah Peserta Didik. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 6(02), 25.
Halik, A. (2020). Ilmu pendidikan islam: perspektif ontologi, epistemologi, aksiologi. Istiqra: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, 7(2).
Lestari, A. (2017). Pandangan Islam tentang faktor pembawaan dan lingkungan dalam pembentukan manusia (kajian ilmu pendidikan Islam). Jurnal Pendidikan UNIGA, 5(1), 1-13.
Margono. (2007). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Musdalifah, M. (2019). Peserta Didik Dalam Pandangan Nativisme, Empirisme, Dan Konvergensi. Idaarah: Jurnal Manajemen Pendidikan, 2(2), 243-251.
Pieter, H. Z. & Lubis, N. L. (2010). Psikologi untuk Kebidadanan. Jakarta: Kencana Prenata Media Group.
Siddik, H. (2022). Konsep Dasar Pendidikan Islam. Al-Riwayah: Jurnal Kependidikan, 14(1), 35-51.
Suswandari, M. (2018). Selayang pandang implikasi aliran pendidikan klasik. Jurnal Komunikasi Pendidikan, 1(1), 33-44.
Syah, M. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Triyandini, T., Sanaya, N. N. A., & Anggarini, R. Y. (2023). Teori Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi dalam Pendidikan. FKIP e-Proceeding, 151-157.