• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROBLEM ILLEGAL FISHING DI LAUT HALMAHERA. 2.1 Permasalahan Illegal Fishing di Laut Halmahera

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II PROBLEM ILLEGAL FISHING DI LAUT HALMAHERA. 2.1 Permasalahan Illegal Fishing di Laut Halmahera"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

26 BAB II

PROBLEM ILLEGAL FISHING DI LAUT HALMAHERA

2.1 Permasalahan Illegal Fishing di Laut Halmahera 2.1.1 Faktor Sejarah

Illegal fishing yang terjadi di perairan Indonesia tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat nelayan baik sejarah, sosial dan budaya. Illegal fishing yang terjadi di Maluku Utara tidak terlepas dari faktor sejarah peradaban kerajaan di Maluku utara yang memiliki batas wilayah yang mencakup hingga ke wilayah Filipina sehingga membentuk persamaan sosial dan budaya masyarakat di wilayah tersebut.

Faktor sejarah memiliki peran yang sangat dominan terhadap kebiasaan masyarakat nelayan karena pada massa kerajaan Moloku Kie Raha aktivitas perjalanan telah dilakukan sehingga masyarakat lokal Maluku utara dan filipina telah mengetahui dan memahami kondisi laut Halmahera dan sumber daya ikan tuna yang dimiliki oleh wilayah provinsi Maluku Utara.

Sekalipun telah terjadi batas wilayah kedaulatan Negara masing-masing yakni antara Indonesia dan Filipina, nelayan Filipina masih tetap melakukan

(2)

27 penangkapan ikan di wilayah perairan Indonesia khususnya di perairan Halmahera.

a. Sejarah

Kondisi illegal fishing yang terjadi di laut Halmahera tidak terlepas dari sejarah kelam kerajaan Moloku Kie Raha (Maluku Utara) yang merupakan salah satu kerajaan yang membawahi 4 (empat) kerajaan yaitu kerajaan Ternate, Tiodore, Jailolo dan Bacan. Empat kerajaan di atas merupakan kerajaan islam yang ada di nusantara bagian timur yang memiliki ekspansi hingga ke Sulawesi, NTT, Maluku dan Papua serta Filipina dan Afrika Selatan. Selain ekspansi penyebaran islam terdapat pula ekspansi ekonomi seperti perdagangan rempah- rempah (Pala, Cengkeh dan Kopra) yang menjadi komoditas utama kerajaan Molulu Kie Raha.

Perdagangan yang dilakukan oleh kerajaan Moluku Kie Raha hingga menembus pasar internasional sehingga beberapa Negara Eropa seperti Portugis dan Spanyol datang untuk menjajah Nusantara (untuk mengambil dan menguasai rempah-rempah). Seperti pada tahun 1580 dimana Portugis dan Spanyol melakukan operasi di wilayah Moloku Kei Raha lewat pemerintahan Gubernur Jenderal Spanyol di Filipina1.

1 M. Adnan Amal, Kumpulan Rempah-rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, cetakan pertama 2010, Jakarta, Pt Gramedia, Hal 85

(3)

28 Selain penjajahan yang dilakukan oleh Portugis dan Spanyol pada abad ke 19 mulai maraknya perampokan di laut Nusantara, hal serupa pun terjadi di laut Halmahera oleh masyakat pribumi yakni Galela-Loloda, Weda-Patani- Maba yang menyerang pasukan Belanda di Laut Halmahera. Perampokan yang dilakukan oleh pribumi semakin meluas hingga ke wilayah Papua dan Sulawesi sehingga melibatkan kelompok dari Filipina Selatan untuk bekerja sama melakukan penyerangan di samudera Pasifik.

Terlepas dari dinamika penyerangan kepada sekutu, pada pertengahan abad ke 16 dimasa kejayaan kerajaan Moloko Kie Raha (abad ke 13-17) telah terjadi pemetaan wilayah oleh 4 (empat) kerajaan tersebut yang meliputi Maluku, Halmahera, Papua (Raja Ampat), Flores, Timor, Sulawesi Tengah (Banggai), Selatan (Selayar), Utara (Gorontalo) dan Filipina Selatan2. Kekuasaan Kerajaan Moloku Kie Raha telah membawahi dua Negara yakni Timur Leste dan Filipina apabila disesuaikan dengan pembagian Negara merdeka saat ini.

Filipina terdapat salah satu suku muslim yakni suku Moro yang hidupnya nomaden atau sering berpindah, suku tersebut sebagian besar adalah pelaut atau nelayan yang tersebar diberbagai tempat seperti Kalimantan,

2 M. Junaidi, Sejarah Konflik Dan Perdamaian Di Maluku Utara (Refleksi Terhadap Sejarah Moloku

Kie Raha), ISSN 1411- 3341 yang diakases dalam

https://media.neliti.com/media/publications/28561-ID-sejarah-konflik-dan-perdamaian-di- maluku-utara-refleksi-terhadap-sejarah-moloku.pdf

(4)

29 Sulawesi, Sumatera dan Maluku Utara. Seperti dalam sejarah kerajaan Nusantara khususnya di Maluku Utara terdapat salah satu Kerajaan yakni Kerajaan Moro yang terletak di Morotai (Maluku Utara), Kerajaan Moro merupakan salah satu kerajaan kecil yang eksis pada abad ke 16 dimana kerajaan tersebut dijadikan sebagai budak oleh Kerajaan Ternate yang sering merampas hasil pertanian dan perkebunan mereka bahkan pemukimannya sering dibakar oleh pasukan dari Kerajaan Ternate.

Sampai saat ini belum ada referensi yang mampu menjelaskan antara Kerajaan Moro di Morotai dengan suku Moro di Filipina secara ilmiah, akan tetapi dalam sejarah Kerajaan Moloku Kie Raha telah menjelaskan bahwa selain terdapat empat Kerajan besar (Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan) terdapat beberapa kerajaan kecil seperti Kerajaan Loloda dan Kerajaan Moro namun tidak banyak diceritakan atau dituliskan dalam sejarah.

Seperti yang jelaskan bahwa tidak bias menarik hubungan antar Kerajaan Moro di Morotai dan bangsa Moro di Filipina, namun terdapat beberapa kejadian yang menjadi pendukung sementara seperti pada masa Kerajaan Moro dibawa kendali Kerajaan Ternate dan Spanyol menguasai Filipina. Kerajaan Ternate telah berhasil menguasai Kerajaan Moro yang awalnya dikuasai oleh Kerajaan Jailolo lewat pimpinan perang Katarabumi yang melakukan penjajahan di wilayah Kerajaan Moro yang saat itu dipimpin oleh Raja Tioliza pada kisaran tahun 1540-1547, salah satu motivasi untuk menjajah Kerajaan Moro adalah hasil perkebunan dan pertanian yang saat itu

(5)

30 menjadikan Kerajaan Moro sebagai suplayer terbesar beras, sagu, ikan, daging ke beberapa wilayah Kerajaan seperti Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.

Spanyol mulai berdatangan ke Filipina pada tahun 1521 hingga 1576 yang ditandai dengan keberhasilan propaganda Spanyol kepada masyarakat pribumi khususnya pada penyebaran agama Kristen di Filipina. Kisaran tahun 1576 Spanyol melakukan penyebaran agama diwilayah Filipina bagian Utara dan dengan mudah Spanyol berhasil menaklukkan wilayah Utara Filipina, sedangkan pada wilayah Selatan Filipina Spanyol mendapat tantangan yang begitu besar akibatnya Spanyol harus bertempur dengan bangsa Moro di Selatan Filipina. Pertempuran antara pasukan Spanyol dengan bangsa Moro di wilayah Selatan Filipina ini berkisar selama kurang lebih 2 tahun tanpa bantuan dari pihak lain.

Sementara di Maluku Utara, setelah runtuhnya Kerajaan Moro dengan jumlah penduduknya mencapai 20.000 jiwa dan masuk sebagai kategori penduduk terbanyak diantara beberapa kerajaan dibawah Moloku Kie Raha.

Tahun-tahun menjelang keruntuhan Kerajaan Moro penduduknya banyak yang melarikan diri di beberapa wilayah (tidak dijalankan dengan detail penyebaran penduduknya), namun sebagai kecil penduduk Kerajaan Moro melarikan diri di pulau Halmahera, namun sayangnya keberadaan mereka diketahui oleh kerajaan Ternate dan Tidore sehingga akhirnya mereka dijadikan budak oleh Kerajaan Ternate dan Tidore. Maka sampai saat ini masih menjadi pertanyaan besar bagi peneliti dan pengamat sejarah Maluku Utara khususnya untuk

(6)

31 menjawab dimana keberadaan dan titik penyebaran penduduk Kerajaan Moro tersebut.

Seperti yang digambarkan sebelumnya bahwa pasukan Spanyol mendapat perlawanan dari bangsa Moro di Filipina Selatan dalam penyebaran agama yang dilakukannya, salah satu pasukan yang membantu bangsa Moro adalah pasukan dari Kerajaan Ternate karena wilayah Selatan Filipina tersebut masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Ternate.

Gambaran umum Kerajaan Moro secara mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan nelayan, dari latar belakang geografis Kerajaan Moro yang berada di kepulauan Morotai tepatnya berhadapan langsung dengan samudera Pasifik menjadikan masyarakat Kerajaan Moro hidup nomaden atau tidak menetap pada satu wilayah sehingga eksistensi Kerajaan tersebut tidak dapat dipertahankan ditambahkan lagi Kerajaan Moro sering mendapat penyerangan dari Kerajaan Ternate serta Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda pada masa kolonialisme.

Ekspansi Kerajaan Ternate yang berhasil menguasai Kerajaan Moro hingga ke Filipina bagian selatan, maka untuk menjaga wilayah kerajaan para Kolano atau Kapita (Tentara/Pasuka) Kerajaan selalu melakukan aktivitas pelayaran ke wilayah kekuasaanya, begitupun sebaliknya kepada masyarakat di beberapa wilayah yang telah dikuasai oleh Kerajaan Ternate akan melakukan aktivitas serupa untuk menjalankan tugas dari Kerajaan.

(7)

32 Aktivitas perjalanan yang dilakukan sudah dimulai pada abad ke 13-20 dengan menempuh jalur laut sebagai alternatif, maka secara tidak langsung masyarakat di beberapa wilayah seperti Timur Leste dan Filipina telah mengetahui dan menguasai kondisi perairan Nusantara khususnya di wilayah Maluku Utara karena aktivitas perjalanan ini bukan hanya dilakukan satu atau dua kali akan tetapi selama kurang lebih 17 abad lamanya.

Seperti pembahasan sebelumnya bahwa Pemerintah Daerah kesulitan untuk mendeteksi keberadaan para nelayan Filipina akibat kondisi laut Halmahera yang terdapat dua musim dan pemberian informasi oleh kelompok nelayan lokal kepada nelayan Filipina dan ditambahkan lagi sejarah panjang masyarakat Filipina yang sering melintasi perairan tersebut, maka jelas kiranya persoalan illegal fishing yang terjadi di laut Halmahera bukan hanya pada aspek kelalaian pengawasan Pemerintah dan Masyarakat akan tetapi terdapat aspek historis sebagai pendukung adanya illegal fishing oleh nelayan Filipina di laut Halmahera.

Salah satu kelemahan Pemerintah Daerah adalah tidak menjadikan kekuatan sejarah Moloku Kie Raha sebagai soft diplomacy untuk menyelesaikan kasus illegal fishing dengan nelayan Filipina. Meskipun telah terdapat batas Negara antara Indonesia dan Filipina namun nilai sejarah masih menjadi instrument yang kuat untuk menyelesaikan konflik diantara kedua Negara tersebut karena berangkat dari tipologi masyarakat Maluku Utara yang sangat menjunjung tinggi Kerajaan (Kesultanan dengan nilai-nilai mistisnya)

(8)

33 dan kesamaan perilaku antar masyarakat pesisir baik Maluku Utara atau Filipina.

Hubungan antar nelayan Filipina dengan nelayan lokal Maluku Utara yang saat ini terbangun bukan menjadi interaksi baru antar keduanya, akan tetapi berangkat dari sejarah, para nelayan ini hanya meneruskan hubungan yang sudah ada jauh sebelumnya. Hubungan tersebut dimanfaatkan oleh keduanya sehinga menjadi hubungan keuntungan, bagi nelayan Filipina dapat melakukan aktivitas penangkapan ikan di perairan Halmahera dan nelayan lokal lebih dipermudahkan untuk mendapat ikan hasil dari tangkapan nelayan Filipina yang diberikan (ikan tuna yang berukuran dibawa 3Kg).

b. Sosial

Kehidupan masyarakat Maluku Utara tidak berbeda jauh dengan masyarakat pesisir di beberapa Daerah seperti Maluku, NTT, NTB dan Daerah pesisir lainnya. Secara tipologi masyarakat pesisir pada umumnya mereka hidup secara nomaden atau sering berpindah tempat dan tidak menetap dikarenakan faktor lingkungan dan ekonomi yang menjadi alasan utamanya.

Hal serupa terjadi pada masyarakat Maluku Utara yang pada keseluruhannya merupakan masyarakat pesisir karena hampir 90% pemukiman warga berada diwilayah pesisir.3

3 Septiani Kusherawati. Implementasi Kemitraan dalam Pemolisian Komunitas untuk Pencegahan Praktik Destructive Fishing (Studi Kasus Perairan Laut Maluku Utara). Volume 12 Nomor 1, Mei 2016.

Jurnal Kriminologi Indonesia. Hal 41

(9)

34 Kondisi sosial dapat dikaji dalam berbagai aspek seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi. Akan tetapi yang menjadi fokus adalah melihat kondisi sosial masyarakat nelayan pada taraf kesejahteraannya yang menggunakan instrumen illegal fishing sebagai objek dan perbandingan. Secara umum masyarakat Maluku Utara terbagi atas dua kelompok yakni kelompok nelayan dan petani namun setelah pada pemekaran Daerah Provinsi Maluku Utara dengan Maluku pada oktober 1999 masyarakat Maluku Utara banyak yang mengisi kekosongan struktur pemerintahan baik di tingkat Provinsi maupun Daerah. Namun yang mengisi struktur pemerintahan itu adalah mereka yang berlatar belakang pendidikan SLTP/SMEA dan beberapa profesi seperti DII, DII dan S1.

Meskipun beberapa telah berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) / Aparatur Sipil Negara (ASN) namun tidak bias terlepas dari profesi sebagai petani atau nelayan namun yang membedakan adalah mereka tidak seperti petani dan nelayan pada profesi utamanya, kelompok PNS/ASN ini hanya mengisi kekosongan. Tipologi ini menjadi pembeda antara masyarakat pesisir di Maluku Utara dan masyarakat pesisir di beberapa Daerah lainnya.4

4 Pusat Perencanaan Tenaga Kerja. Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi Maluku Utara Tahun 2012-

2016. Yang Diakses Dalam

ttps://Www.Google.Com/Url?Sa=T&Rct=J&Q=&Esrc=S&Source=Web&Cd=3&Cad=Rja&Uact=8&

Ved=2ahukewirxyHh7dkahuia3ikhzaacegqfjacegqiahac&Url=Http%3a%2f%2fperpustakaan.Bappena s.Go.Id%2flontar%2ffile%3ffile%3ddigital%2f165511-%5b_Konten_%5d-

Konten%2520d1636.Pdf&Usg=Aovvaw0hys0kdqygnunm5fnulpp5

(10)

35 Masyarakat nelayan Maluku Utara tidak terlepas dari gaya penangkapan ikan yang diwariskan oleh leluhur seperti syukuran pelayaran perdana perahu mancing, pembuatan Rompon (gara-gara) untuk memancing ikan berkumpul dan mudah ditangkap serta kepercayaan mistis lainnya yang tidak bias dilepas oleh masyarakat sesuai dengan sejarah masyarakat Maluku Utara tidak bias lepas dari faktor sejarah kerajaan yang kaya dengan nilai mistis.

Terdapat beberapa kesamaan antara nelayan lokal Maluku Utara dan Filipina yakni pengadaan rompon (gara-gara) yang diletakkan dilaut lepas untuk memancing ikan tuna berkumpul sehingga dengan muda ditangkap oleh nelayan tersebut.5 Namun yang dapat dibedakan antara kedua alat atau instrumen tersebut adalah nelayan local masih menggunakan bahan yang tidak muda tenggelam seperti gabus, drum atau jerigen dan ditambahkan dengan dedaunan seperti daun sagu atau kelapa dibawa pelampung tersebut, sementara nelayan Filipina telah menggunakan alat yang modern seperti pembuatan pelampung dari besi yang berukuran 4/5x1 meter dan tidak disertakan dedaunan, akan tetapi menggunakan jaring dibawa pelampung tersebut dengan tujuan bukan sebagai penangkap ikan tetapi untuk menyatukan sampah atau kotoran lainnya yang hanyut mengikuti arus laut.

5 M Razi Rahman. Kapal pengawas perikanan KKP tertibkan rumpon ilegal Filipina. Yang diakses dalam https://www.antaranews.com/berita/811343/kapal-pengawas-perikanan-kkp-tertibkan- rumpon-ilegal-filipina. Pada Minggu, 17 Maret 2019 17:15 WIB

(11)

36 C. Budaya

Aktivitas illegal fishing yang terjadi di Laut Halmahera tidak terlepas dari faktor budaya. Pada dasarnya terdapat kesamaan beberapa buaya khususnya masyarakat pesisir Maluku Utara dan masyarakat pesisir Filipina terutama pada cara penangkapan ikan secara tradisional, beberapa kesamaan budaya tersebut dapat dilihat dari kesamaan desain perahu yang digunakan oleh nelayan Filipina dan Maluku Utara yang sering digunakan dari yang berukuran kecil hingga sedang, diantaranya:

Gambar 2.2 Kapal Nelayan Filipina

(12)

37 Gambar 2.3 Kapal Nelayan Maluku Utara

Kedua kapal tersebut merupakan perbandingan kapal nelayan antara Filipina dan Maluku Utara-Indonesia yang sering digunakan, secara desain terdapat kesamaan diantara keduanya sehingga nelayan Filipina sering menggunakan bendera Republik Indonesia pada kapal yang digunakanya.

Selain dari dua jenis kapal tersebut terdapat kesamaan pula pada kapal kedua nelayan tersebut yang berukuran kecil.

(13)

38 Gambar 2.4 Perahu Nelayan Indonesia6

6 Foto dokumentasi pada Oktober 2018 di pelabuhan ikan Bastiong Ternate Maluku Utara

(14)

39 Gambar 2.5 Perahu Nelayan Filipina

Diantara kedua perahu nelayan Filipina dan Indonesia yang berukuran kecil tersebut sering kali tidak dapat dibedakan karena desain perahu ini tidak memiliki perbedaan diantaranya. Perahu yang berukuran kecil ini biasanya di angkut oleh kapal induk nelayan Filipina dan dilepas pada titik tertentu untuk melakukan penangkapan ikan atau memantau ikan tuna yang jauh dari jangkauan kapal induk. Kesamaan desain kapal tersebut tidak terlepas dari faktor sejarah seperti yang telah disinggung pada pembahasan sebelumnya.

Kisaran tahun 1534 dimasa kepemimpinan Sultan Khairun (Kerajaan Ternate) jauh sebelum Portugis dan Spanyol di usir oleh Sultal Babullah pada tahun kisaran tahun 1583 yang telah menguasai wilayah Filipina bagian selatan dan Kerajaan Moro. Sultan Khairun sering melakukan kerja sama dengan pihak Portugis yang mendapat ancaman dari kerajaan Tidore yang tidak menerima

(15)

40 kedatangan para Portugis di wilayah Moloku Kie Raha, namun tidak semua masyarakat Moro dikuasai oleh Kesultanan Ternate akan tetapi terdapat beberapa kelompok dari masyarakat tersebut yang berada dibawa kendali Kerajaan Tidore. Kedua kerajaan tersebut sering memberikan bantuan kepada suku Moro berupa kora-kora (kapal) yang dijadikan sebagai alat transportasi oleh masyarakat Filipina dan Moro di laut pasifik untuk menjalakan tugas di Filipina dan beberapa wilayah lainya seperti Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Timor Leste dan Australia.7

Selain kesamaan jenis kapal tersebut terdapat kesamaan lain oleh nelayan Maluku Utara dan Filipina yaitu mengkonsumsi ikan secara mentah (Gohu), mengkonsumsi ikan secara mentah ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat nelayan akan tetapi dikonsumsi oleh masyarakat Maluku Utara secara keseluruhan sampai dijadikannya sebagai kuliner khas Maluku Utara.

Begitu juga dengan masyarakat Filipina Selatan yang mengkonsumsi hal serupa.8

7 M. Adnan Amal. 2010. Tahun-Tahun yang Terlupakan Babullah Datu Syah Menamatkan Kehadiran Portugis di Maluku. Edisi I. Jakarta. Gramedia, Hal. 1

8 Bodan Winarno.Rujak Ikan Segar Khas Ternate yang Segar Menggoyang Lidah. Yang diakses dalam https://food.detik.com/info-kuliner/d-3879067/rujak-ikan-segar-khas-ternate-yang-segar- menggoyang-lidah pada 22 Feb 2018 06:53 WIB

(16)

41 2.1.2 Aktivitas IUU Fishing Trans Nasional

Illegal fishing yang terjadi di Indonesia bukan menjadi hal yang baru dirasakan oleh masyarakat Indonesia akan tetapi aktivitas illegal fishing ini telah terjadi pada masa pemerintah sebelum-sebelumnya yakni pada periode presiden Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono dan bahkan pada masa presiden Joko Widodo.

Pemerintah Indonesia memiliki tekad untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai poros maritim dunia pada periode Jokowi yang didukung dengan berbagai kebijakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, beberapa kebijakan itu menjadi perhatian dunia seperti penenggelaman kapal pencuri ikan dan kebijakan revolusi sistem pengelolaan sumber daya laut yang dimiliki oleh Negara Indonesia.

Aktivitas illegal fishing yang terjadi d perairan Indonesia tidak terlepas dari sumber daya yang dimiliki serta lemahnya pengawasan oleh pemerintah baik nasional maupun daerah yang tidak maksimal. Illegal fishing yang terjadi di Provinsi Maluku Utara tidak terlepas dari kondisi geografis dan geologi serta infrastruktur pengawasan pemerintah daerah.

Letak geografis Provinsi Maluku Utara yang berbatas langsung dengan Filipina di samudera Pasifik tepatnya di Pulau Morotai. Samudera Pasifik menjadi salah satu pintu masuk oleh nelayan asing seperti Thailand, Vietnam,

(17)

42 Filipina, dan Malaysia yang menuju ke perairan Indonesia bagian Tengah dan Timur, bertepatan dengan potensi ikan tuna yang terletak di Samudera Pasifik menjadi pemicu munculnya aktivitas illegal fishing oleh nelayan asing yang melanggar batas wilayahnya atau menangkap ikan di perairan Indonesia dan atau nelayan lokal yang melakukan penangkapan ikan diwilayah tersebut dengan penggunaan alat tangkap terlarang.9

Umumnya illegal fishing yang terjadi diperairan Indonesia terdapat pada beberapa titik yakni Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Halmahera Utara dan Papua.10 Namun terdapat dua titik wilayah yang menjadi sarang illegal fishing yaitu Halmahera Utara (Maluku Utara) dan Papua, hal ini dilatar belakangi oleh ketersediaan sumber daya alam (ikan Tuna) dan sistem pengawasan Daerah yang tidak efektif dan efisien.11 Sumber daya yang dimiliki oleh Maluku Utara menjadikannya sebagai sarang penangkapan ikan secara illegal12 hal ini ditandai dengan ditemuinya para nelayan asing khususnya Filipina di wilayah tersebut.

9 Simela Victor Muhamad. Illegal Fishing Di Perairan Indonesia: Permasalahan Dan Upaya Penanganannya Secara Bilateral Di Kawasan. Politica. Vol. 3, No. 1, Mei 2012. Hal 61

10 Bob Ivan. Illegal Fishing di Kawasan Perairan Kepulauan Bangka Belitung (Studi Kasus Penangkapan Ikan Tanpa Dokumen yang Sesuai). Jurnal Kriminologi Indonesia. Volume 10 Nomer 2, November 2014. Hal 42

11 Bakri Rudiansyah. Role In Handling Of Administrative Activity Unauthorized Fishing In The Waters Of Raja Ampat. Jurnal Politik. Vol. 11 No. 02. 2015. Hal 1719

12 Hafit Yudi Suprono, Maluku Utara Jadi Sasaran Pencurian Ikan Oleh Nelayan Asing, yang diakses dalam https://www.wartaekonomi.co.id/read141809/maluku-utara-jadi-sasaran-pencurian- ikan-oleh-nelayan-asing.html pada 21 Mei 2017, 10;35 WIB

(18)

43 Aktivitas illegal fishing yang terjadi di Kabupaten Halmahera Tengah terdapat pada beberapa titik yaitu laut Kecamatan Patani Barat, laut Kecamatan Patani Timur, laut Kecamatan Patani Utara dan Laut Pulau Gebe. Akan tetapi diantara beberapa titik diatas tidak didatangi oleh nelayan pada waktu yang bersamaan karena Maluku Utara atau laut Halmahera terdapat dua musim yakni musim selatan dan utara, apabila aktivitas penangkapan ikan pada musim selatan maka nelayan lokal maupun asing melakukan penangkapan ikan di wilayah laut Patani Timur, Patani Utara dan Pulau Gebe bagian Utara sedangkan pada musim utara maka aktivitas penangkapan ikan akan difokuskan di bagian laut Patani Barat dan laut Pulau Gebe yang berbatasan langsung dengan Maluku dan Australia.

Berikut adalah gambaran kondisi geografis antar Maluku Utara dan Filipina serta beberapa Negara lainnya yang sering melakukan penangkapan ikan di wilayah Maluku Utara. Pada peta berikut ini menjelaskan bahwa kondisi Samudera Pasifik sebagai laut lepas yang menjadi akses masuk bagi nelayan Filipina perairan Maluku Utara.

(19)

44 Gambar 2.1 Target Ilegal Fishing di Perairan Maluku Utara13

Masuknya nelayan Filipina ke perairan Indonesia melalui samudera Pasifik seperti yang disampaikan diatas, selanjutnya beberapa wilayah seperti Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Papua Barat menjadi target oleh nelayan

13 Ir. H. M. NATSIR THAIB. Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber daya Alam Indonesia Sektor Kelautan Progress Implementasi 4 Fokus Area Rencana Aksi. Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara. Gorontalo, 9 Mey 2015 yang diakses dalam https://acch.kpk.go.id/images/ragam/gn- sda/gorontalo/09-PAPARAN-MALUKU-UTARA.pdf

(20)

45 Filipina tersebut. Nelayan Filipina tidak akan melakukan penangkapan ikan di wilayah Sumatera Utara, Kalimantan, Pulau Jawa atau Maluku karena jangkauan dan akses apabila sewaktu-waktu mendapat ancaman dari Pemerintah Indonesia atas keberadaannya di perairan Negara Indonesia. Oleh sebab itu Maluku Utara atau laut Halmahera yang menjadi sasaran bagi nelayan Filipina dalam aktivitas penangkapannya, hal ini dilatar belakangi apabila terdapat ancaman dari Pemerintah Indonesia maka nelayan Filipina lebih mudah melakukan perpindahan posisi ke laut lepas atau wilayah kedaulatanya.

14

2.2 Kondisi Ikan di Laut Halmahera

Maluku Utara yang merupakan wilayah kepulauan menjadikan wilayah ini memiliki potensi ikan tuna yang melimpah, hal ini dilatar belakangi oleh kondisi geografis yang berdekatan langsung dengan samudera Pasifik, sementara secara geologi Maluku Utara terjadi dari tubrukan lempeng yang mengakibatkan adanya tumpukan karang diatas permukaan laut.15

Kondisi geografis wilayah Maluku Utara terdapat beberapa wilayah yang menjadi laut dalam sehingga membentuk lorong yang menghubungkan antara Maluku

14 Yanti Amelia Lewerissa. Hubungan Illegal Fishing dengan Masuknya Imigran Gelap Sebagai Bentuk Kejahatan Lintas Negara. Volume 4 Nomor 1 Tahun 2018. Hal 53

15 Nebuchadnezzar Akbar dkk. Filogenetik ikan tuna (Thunnus spp.) di Perairan Maluku Utara, Indonesia. Volume 18 Nomor 1, Februari 2018, Jakarta, The Indonesian Ichthyological Society, Hal 2

(21)

46 Utara dan Maluku di laut Seram dan Banda.16 Penangkapan ikan tuna juga disesuaikan dengan musim yang terjadi di wilayah tersebut yakni pada musim timur, selatan dan utara.

Jenis ikan tuna juga di klasifikasi dalam dua bagian yang disesuaikan dengan tempat yang didiami yakni ikan tuna yang berukuran kecil seperti Jenis ikan tuna kecil meliputi: ikan cakalang (katsuwonus pelamis) dan jenis ikan tongkol yang terdiri dari atas euthynnus affinis dan Auxis thazard dan ikan tuna besar madidihang (Thnunnus albacores), tuna mata besar (Thunnus obesus), albacore (Thunnus alalunga) tuna sirip biru selatan (Thunnus maccoyii) tuna ekor panjang (Thunnus tonggol).17

Selain kondisi geografis yang digambarkan sebelumnya diatas, proses berkembang biak ikan tuna di perairan Maluku Utara adalah hasil dari upwelling dan arlindo. Upwelling dalah perubahan air laut yang panas menjadi dingin yang bergerak secara horizontal ke permukaan laut sementara arlindo adalah arus lintas laut yang bergerak membentuk zonal-zonal gelombang, selain itu adanya fitoplankton yang mejadi sumber makan bagi ikan tuna pada tahan perkembangbiakannya. Fitoplankton adalah organ yang menjadi autotroph18 yang menjadi produsen.19

16 Ibid. Hal 2

17 Ibid. Hal 1

18 Autotroph merupakan organisme yang dapat mengubah bahan anorganik menjadi organik yang dapat membuat makanan sendiri

19 Ibid. hal 2

(22)

47 Maluku Utara mengenal dua musim yakni musim timur dan musim selatan, musim timur datang dari perairan Papua dan Samudera Pasifik, sementara musim selatan dari perairan Sulawesi, Lombok dan Jawa. Maluku Utara yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik menjadikanya sebagai daerah penghasil tuna terbanyak dikarenakan proses perkembangbiakan ikan tuna rata-rata pada kedalaman laut yakni di Samudera Pasifik sehingga mengikuti arus laut hingga ke laut Sulawesi dan Papua, selanjutnya masuk ke perairan Maluku Utara untuk menuju pada laut dalam yakni di laut Banda.

Populasi ikan tuna yang semakin bergerak masuk ke perairan Indonesia dari samudera pasifik dipengaruhi oleh kondisi oseanografis. Oseanografis sendiri adalah proses pertukaran gen antar populasi ikan tuna yang memiliki jarak geografis atau habitat20. Faktor lain masuknya ikan tuna ke laut Halmahera juga dipengaruhi oleh arus yang terbentuk dari tiupan angina sehingga organisme kecil terbawa arus

2.3 Respon Pemerintah atas Aktivitas Illegal Fishing

Indonesia sebagai Negara kepulauan atau Negara maritim dengan sumber daya laut yang melimpah terutama sumber daya ikan tuna yang dimilikinya, hasil ikan tuna yang dimiliki oleh Indonesia bukan hanya pada satu Daerah, akan tetapi hampir sebagian besar Daerah memiliki sumber daya ikan tuna yang terhitung dari Sabang sampai Maraoke.

20 Ibit. hal 8

(23)

48 Menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara maritim dengan sumber daya yang dimiliki membutuhkan perhatian penuh oleh pemerintah Negara untuk menjaga kedaulatan sumber daya tersebut. Terhitung dari masa pemerintahan Orde Lama atau paska Indonesia merdeka hingga masa pemerintahan Presiden Jokowi.

Berikut adalah gambaran umum kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Indonesia sebelum periode Presiden Joko Widodo yakni pada tahun 1945-2014.

Kebijakan tersebut antara lain;

Table 2.1 kebijakan pemerintah dari masa ke masa

No Pemerintahan Kebijakan Tahun Ket

1. Soekarno Deklarasi Djuanda 1957 Indonesia

mendeklarasikan negaranya sebagai Negara maritim

Undang-Undang No 4/PRP/Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia

1960 Wilayah Indonesia yang sebelumnya hanya mencapai 3 mil dari garis

(24)

49 pantai kini

mencapai 12 mil 2. Soeharto Keputusan Presiden No.

77 Tahun 1996 tentang Dewan Kelautan Nasional

1996 Dibantuknya Dewan Kelautan Nasional

3. B. J. Habibie Gerakan pembangunan (Gerbang)

1998 Deklarasi

Bunaken sebagai awal perhatian terhadap wilayah laut Indonesia 4. Abdurrahman

Wahid

Keputusan Presiden No 161 Tahun 1999 tentang Dewan Maritim

Indonesia

1999 Membentuk kembali Dewan Maritim

Indonesia Keputusan Presiden No.

355/M Tahun 1999 tantang Dewan Eksplorasi Laut

1999 Pembentukan Dewan

Eksplorasi Laut

5. Megawati Soekarno Putri

Sistem cabotage 2001 Pembangunan industry

(25)

50 kemaritiman nasional

Sunda kelapa 2001 Slogan untuk

menumbuhkan pengeloaan sumber daya laut lewat peringatan Hari Nusantara tahun 2001 di pelabuhan Sunda Pertemuan nasional 2004 merumuskan visi

dan misi

Indonesia

sebagai Negara maritim melalui sudut pandang politik

6. Susilo Bambang Yudhoyono

Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2005 tentang

2005 Kedaulatan territorial laut

(26)

51 Pemberdayaan Industri

Pelayaran Nasional

menjadi prioritas awal periode.

Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005- 2025

2007 Industri pelayaran

nasional adalah untuk

mendorong penjaga wilayah territorial laut.

KEPRES No. 21 Tahun 2007 tentang Dewan Kelautan Indonesia

2007 Sebagai upaya untuk tetap menjaga sumber

daya laut

indonesia UU No 45 Tahun 2009

tentang Perikanan Sebagai Landasan Pengelolaan Laut

2009 Rujukan kebijakan pengelolaan sumber daya laut

Berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Indonesia dari tahun ke tahun atau tepatnya pada tahun 1945 sampai 2014 merupakan kekuatan bagi

(27)

52 pemerintahan Jokowi dalam menjalankan misinya untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai poros maritim dunia. Maka yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini adalah melihat kebijakan pemerintahan Jokowi dan implementasinya.

Berbagai kebijakan dan keputusan yang diambil selama periode Jokowi pada tahun 2014-2018, namun yang menjadi fokus adalah kebijakan terhadap kelautan dan perikanan baik kebijakan Presiden maupun kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan.

Berikut adalah gambaran umum kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Jokowi.

Table 2.2 kebijakan pemerintah Joko Widodo

Pemerintahan Kebijakan Tahun Ket

Joko Widodo PERMEN No 56/PERMEN- KP/2014 tentang

pemberhentian sementara Perizinan Usaha Perikanan Tangkap

2014 Mengatur kembali sistem pengelolaan sumber daya laut terutama hasil ikan tuna PERMEN No 57/PERMEN-

KP/2014 tentang Usaha Perikanan Tangkap

2014 memberhentikan segala aktivitas pembongkaran ikan di laut lepas untuk

(28)

53 sementara

waktu.

PERMEN No 58/PERMEN- KP/2014 tentang Disiplin Pegawai Aparatur Sipil Negara Di Lingkungan KKP

2014 meninjau kembali banyak terdapat

nakhoda dan anak buah kapal yang berstatus warga Negara asing

PERPRES No 115 Tahun 2015 tentang membentuk satuan tugas (Satgas)

2015 Pemberantasan illegal fishing maka

dibentuklah satuan tugas yang terdiri dari beberapa

lembaga kenegaraan.

(29)

54 Setiap masa kepemimpinan memiliki dinamika tersendiri dalam pengelolaan sumber daya khususnya perikanan, berikut adalah dinamika yang terjadi pada pemerintahan sebelum periode Jokowi atau periode Presiden Soeharto sampai Susilo Bambang Yudhoyono.

a. Soekarno

Paska deklarasi kemerdekaan Negara Indonesia atau pada masa Presiden Soekarno isu Negara maritime sudah menjadi isu nasional dengan semangat nasionalisme yang dibangun saat itu. Isu nasionalisme bukan hanya mencakup pada ideologi akan tetapi semangat pembangun juga mejadi perhatian utama.

Menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara maritim yang diakui oleh dunia internasional merupakan tugas besar dimasa pemerintahan Soekarno, maka pada tahun 1957 tepat pada tanggal 13 desember Indonesia mendeklarasikan negaranya sebagai Negara maritim yang ditandai dengan Deklarasi Djuanda.21 Wilayah Indonesia yang sebelumnya hanya mencapai 3 mil dari garis pantai kini mencapai 12 mil dari hasil deklarasi tersebut, untuk memperkuat hasil deklarasi tersebut, maka didukung oleh Undang-Undang No 4/PRP/Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia,22 selanjutnya pada tahun 1982 lewat Konvensi Hukum Laut PBB (United Nations Convention On The Law

21 Caroline Paskarina, Wacana Negara Maritim Dan Reimajinasi Nasionalisme Indonesia, Vol. 1, No.

1, Maret 2016, Bandung. Jurnal Ilmiah Departemen Ilmu Politik. Hal 4

22https://pustakahpi.kemlu.go.id/dir_dok/UU%20No%204%20Prp%201960.pdf

(30)

55 of The Sea/UNCLOS) secara sah hasil deklarasi Juanda diterima oleh dunia internasional dan ditambahkan adanya Zona Ekonomi Ekslusif sejauh 200 mil dengan dasar ratifikasi Undang-Undang No 17 tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention On The Law Of The Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut).23

Kendati Presiden Soekarno dengan semangat nasionalisme untuk membentuk karakter dan menjaga Negara dari antisipasi serangan Belanda, maka wilayah laut tidak masif dalam pengawasan dan pengelolaannya. Konsep yang telah ditawarkan oleh Perdana Menteri Republik Indonesia Djuanda seakan sampai pada batas wilayah.

Paska deklarasi Djuanda seharusnya Negara mulai melakukan pengawasan terhadap wilayah territorialnya. Aktivitas illegal fishing masih terjadi di wilayah Indonesia terutama di laut Arafuru dan perairan Sulawesi Utara24. Jalur lindas damai yang seharusnya menjadi satu-satunya jalur transportasi laut dimanfaatkan oleh nelayan asing untuk melakukan penangkapan ikan di wilayah perairan atau territorial Indonesia dengan berbagai modus yang dilakukan salah satunya adalah menyewa nelayan lokal serta pemasangan bendera Indonesia25.

23https://pih.kemlu.go.id/files/UU_NO_17_TH_1985.pdf

24 Pingkan Jeand’arc Angie Doodoh. Tinjauan Yuridis Mengenai Penegakan Hukumatas Hak Lintas Damai Untuk Kapal Asing Di Laut Indonesia. Vol. VI. No. 9. Nov 2018. Lex Et Societatis. Hal 71

25 Ibid. Hal 71

(31)

56 b. Soeharto

Memasuki pemerintahan selanjutnya paska orde lama yakni orde baru dibawa kendali Presiden Soeharto yang dihadapkan dengan kondisi perekonomian Negara yang semakin memburuk, alhasil pemerintah indonesia mulai membuka investasi untuk pembangunan Negara dan memperbaiki system perekonomian Negara.

Langkah yang diambil oleh pemerintah Indonesia adalah menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara yang mandiri secara ekonomi. Secara latar belakang geografis Negara Indonesia lebih didominasi oleh wilayah laut ketimbang daratan, untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara agraris mulai ditanamkan secara dini dan mulai didoktrin sebagai sebuah bangunan ideologi.26

Hadirnya program swasembada untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara penghasil padi untuk di ekspor ke pasar internasional semakin digenjot oleh Pemerintah Indonesia pada masa orde baru, faktor yang paling mendasar adalah melihat sejarah kelam dimana Indonesia dijajah atas sumber daya alam yaitu rempah-rempah.27

26 Lailatusysyukriah. Indonesia Dan Konsepsi Negara Agraris. Vol. 2, No.1, Januari - Juni 2015. Jurnal Seuneubok Lada. Hal 3

27 Lisa Novia Handani, Wasino, Abdul Muntholib. Dinamika Produksi Beras dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan Masyarakat di Kabupaten Grobogan Tahun 1984-1998. Vol. 6, No. 1, 2017. Journal of Indonesian History. Hal 48

(32)

57 Keinginan besar untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara yang kuat secara ekonomi atau menjadikan Indonesia sebagai Negara agraris, kondisi wilayah kelautan mulai disentuh pada akhir periode atau tepatnya pada tahun 1996 dimana Pemerintah Indonesia mulai membangun misi kemaritiman yang ditandai dengan dibentuknya Dewan Kelautan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 77 Tahun 1996.28

Terdapat penggabungan antar perikanan kelautan dan pertanian pada masa pemerintahan Orde Baru tepatnya Departemen Pertanian sehingga kebijakan yang diambil khususnya kelautan dan perikanan hanya pada tataran keputusan Presiden dan Menteri.29 Selama 32 tahun Pemerintahan Orde Baru tidak terdapat satu portfolio kementerian yang berhubungan dengan Kelautan dan Perikanan.30

Kondisi laut Indonesia jauh dari perhatian Pemerintah pada masa Orde Baru sehingga wilayah pulau-pulau terluar tidak diberikan perhatian penuh.

Sementara untuk angkatan bersenjata khususnya TNI ditarik kewilayah

28http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/arsip/ln/1996/kp77-1996.pdf

29 Tim P3MN. Dokumen Analisis Kebijakanpengelolaan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Niasprovinsi Sumatera Utara. Hal 13. Yang diakses dalam http://www.wetlands.or.id/PDF/aceh_Final_Dokumen%20Nias%20_Bahasa_Version.pdf

30 Dr. Marsetio. Archipelago Leadership. Cetakan Pertama Maret 2018. Bogor. Universitas Pertahanan.

Hal 90

(33)

58 perkotaan yang awalnya berada pada wilayah perbatasan, hal ini dikarenakan sebagai salah satu cara Presiden Soeharto untuk menjaga kekuasaannya.31

Meskipun telah dibentuk Dewan Kelautan Nasional tersebut, namun kondisi internal Negara terutama kondisi perekonomian semakin memburuk dan tidak dapat diselamatkan, alhasil pada dua tahun kemudian Presiden Soeharto turun dari jabatannya yang diwarnai dengan gerakan protes oleh sejumlah kelompok baik mahasiswa maupun masyarakat sipil.

c. B. J. Habibie

Setelah Presiden Soeharto dilengserkan dari jabatannya pada 12 mei 1998 maka Wakil Presiden saat itu yakni B. J. Habibie menggantikan posisi Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia selanjutnya. Meskipun B. J.

Habibie hanya memimpin selama satu tahun sebelum digantikan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada 1999 kondisi perairan Indonesia mulai ditatah kembal.

Kepemimpinan B. J. Habibie mengangkat Panglima TNI dari Kepala Staf Angkatan Laut sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Indonesia untuk menjaga kedaulatan dan sumber daya laut yang selama ini kurang diberikan perhatian.32

31 Poltak Partogi Nainggolan. Kebijakan Poros Maritim Dunia Joko Widodo Dan Implikasi Internasionalnya (Maritime Axis Policy And Its International Implications). Vol. 6 No. 2 Agustus 2015.

Politica. Hal 168

32 Ibid. Hal 168

(34)

59 Sebelum menjadi wakil presiden B. J. Habibie pernah menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi dan menginisiasikan Konvensi Benua Maritim Indonesia dengan tujuan mengaktualisasi wawasan nusantara mewujudkan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak Bangsa Indonesia dalam satu sistem serta meningkatkan peranan maritim dan kekayaan sumber laut.33 Melalui pengalaman ini Presiden B. J. Habibie ingin merealisasikan dalam pengawalan dan pengawasan demi keberlangsungan perekonomian Negara.

Awal kepemimpinan atau pada tahun 1998, B. J. Habibi merencanakan Gerakan Pembangunan (Gerbang) Mina Bahari atau yang dikenal dengan Deklarasi Bunaken sebagai tindak lanjut dari The Ocean Charter. Deklarasi ini dengan misi untuk mengajak kepada semua masyarakat pesisir terutama untuk memandang laut sebagai identitas sehingga adanya pemanfaatan dam pengelolaan yang berdampak pada perekonomian Daerah terutama masyarakat.34

d. Abdurrahman Wahid

Memasuki masa reformasi, kondisi perekonomian mulai ditata kembali, terutama pada sector kelautan. Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memunculkan kembali konsep kemaritiman yang pernah dicita-citakan oleh

33 Muzani, Asma Irma Setianingsih, Warnadi. Konsep Benua Maritim Indonesia Sebagai AktualisasiWawasan KebangsaanNusantara. Vol. 1, No. 1 2017, Medan, Hal 227

34 Miftahul Falah. Deklarasi Djoeanda dan Senyapnya Peringatan Hari Nusantara Ke-13. Diakses dalam https://republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/12/17/mf4vnd-deklarasi- djoeanda-dan-senyapnya-peringatan-hari-nusantara-ke13, pada Senin 17 Des 2012, 11:29 WIB

(35)

60 Soeharto untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara maritime dunia.

Semangat itu bukan hanya sebagai identitas Negara kepulauan akan tetapi menjaga dan mengelola segala sumber daya laut untuk dijadikan sebagai pendapatan Negara yang mandiri.

Periode Gus Dur yakni pada tahun 1999. Gus Dur membentuk kembali Dewan Maritim Indonesia melalui Keputusan Presiden No 161 Tahun 1999.35 Dari sinilah kondisi kelautan Negara Indonesia mulai diperhatikan dan pemerintah terlihat serius untuk membangkitkan Indonesia sebagai Negara maritime dunia.

Selain keputusan Presiden No 161 diatas pada tanggal 26 desember 1999 lahir lagi Keputusan Presiden No. 355/M Tahun 1999 tentang Pembentukan Dewan Eksplorasi Laut,36 inilah cikal bakal Kementerian Kelautan dan Perikanan yang saat ini kita ketahui. Dan Eksplorasi Laut ini dengan misi terbesar adalah menciptakan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan terutama.

Misi untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia bukan gagasan presiden Jokowi akan tetapi jauh sebelum itu atau tepatnya pada pemerintahan Gus Dur, dimana pemerintah Indonesia lewat KEPRES No. 55 Tahun 1999 yang memulai kerja sama dengan Jerman dibidang pelayaran,

35https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/58826/keppres-no-161-tahun-1999

36https://kkp.go.id/djpt/bbpi/page/1007-sejarah

(36)

61 selain itu untuk menjaga kedaulatan dan ketegasan untuk mengelola wilayah laut Presiden mengeluarkan Keputusan No. 52 tahun 1999 tentang tanggungjawab perdata untuk kerusakan akibat Pencemaran Minyak.37

Misi besar yang dibawah oleh Gus Dur adalah dibawa Departemen Kelautan dan Perikanan adalah pengelolaan kekayaan laut dan perikanan secara lestari serta menjaga kesatuan dan kesejahteraan bangsa.38 Selanjutnya misi besar ini dijabarkan dalam beberapa bagian yang diantaranya: Kesejahteraan yaitu meningkatkan kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya, Pertumbuhan yaitu meningkatkan peran sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, Kelestarian yaitu memelihara daya dukung dan meningkatkan kualitas lingkungan sumber daya kelautan dan perikanan.39

Sayangnya masa kepemimpinan Gus Dur tidak bertahan lama, yakni pada tanggal 23 Juni 2001 Gus Dur dilengserkan dari jabatannya yang digantikan oleh wakilnya yakni Megawati Soekarno Putri. Misi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara maritime mulai terbengkalai akibat

37https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/58376/keppres-no-55-tahun-1999

38 Bowo Pribadi, Konsep Kemaritiman Gus Dur dan Pesan untuk Rokhmin Dahuri, yang diakses dalam https://nasional.republika.co.id/berita/pwvan2320/konsep-kemaritiman-gus-dur-dan-pesan- untuk-rokhmin-dahuri, pada Selasa 27 Aug 2019, 06:30 WIB

39 Dr. Marsetio. Archipelago Leadership. Cetakan Pertama Maret 2018. Bogor. Universitas Pertahanan.

Hal 101

(37)

62 kondisi internal politik Negara yang saat itu mengalami berbagai konflik di daerah-daerah dengan isu kemerdekaan daerah.

e. Megawati Soekarno Putri

Melanjuti kepemimpinan Gus Dur, Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden selanjutnya juga memiliki perhatian pada pembangunan kawasan laut meskipun kondisi negara saat itu terdapat berbagai tantangan secara internal yakni dengan kerusuhan dan isu kemerdekaan daerah.

Slogan yang mulai menggema sebagai semangat menumbuhkan jiwa nasionalisme melalui pengelolaan sumber daya laut pertama kali di ungkapkan lewat peringatan Hari Nusantara tahun 2001 di pelabuhan Sunda, seruan itu adalah Sunda Kelapa. Slogan ini adalah untuk mengajak seluruh masyarakat dalam hal membangun kembali semangat kemaritiman dengan beberapa karakter atau cara yakni membangun kembali wawasan bahari, menegakkan kedaulatan secara nyata di laut, mengembangkan industri maritim, mengembangkan wilayah pesisir, laut dan pulau kecil dan mengembangkan sistem hukum nasional di bidang maritim.40

Presiden Megawati juga menerapkan sistem cabotage sebagai dasar pembangunan industry kemaritiman nasional.41 Cabotage adalah hak yang

40 Ibid. Hal 104

41 Ibid. Hal 105

(38)

63 diberikan kepada suatu Negara secara leluasa untuk mengatur atau mengelola pengangkutan antar pelabuhan yang menggunakan bendera Negara setempat.42

Puncak Pemerintahan Megawati atas keseriusan terhadap kemaritiman adalah dilaksanakan temu nasional untuk merumuskan visi dan misi Indonesia sebagai Negara maritim melalui sudut pandang politik, pertemuan ini dilaksanakan pada 18 februari 2004 di Jakarta, pertemuan ini dihadiri oleh politisi yang akan duduk dilembaga legislatif nantinya43 menghasilkan beberapa poin tujuan yakni

1.

Membangun konsensus nasional menuju Indonesia sebagai negara maritim di dunia yang kuat dan tangguh.

2.

Melihat sejauh mana platform program dari Partal Politik peserta Pemilu 2004 dalam bidang kemaritiman.

3.

Mengubah pola pikir dan pola tindak pemerintah dari paradigma darat menjadi paradigma laut, yang akhirnya berdampak pada perubahan watak masyarakat Indonesia.

4.

Mencari masukan untuk bahan penyempurnaan RUU Kelautan yang sedang proses penyelesaian.

42 Graciella Eunike Sumenda, Keberadaan Asas Cabotage Terhadap Perusahaan Angkutan Laut Dalam Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran.Vol. V, No. 7, Sep, 2017, Lex et Societatis, Hal 157

43 Dr. Marsetio. Archipelago Leadership. Cetakan Pertama Maret 2018. Bogor. Universitas Pertahanan.

Hal 106

(39)

64

5.

Mensosialisasikan program kerja Dewan Maritim Indonesia f. Susilo Bambang Yudhoyono

Periode selanjutnya diambil alih oleh pemimpin yang berlatar belakang militer yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada awal periode kondisi laut Indonesia atau misi pemerintahan sebelumnya yang ingin menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara maritim dunia sedikit mengalami kemunduran. Akan tetapi SBY memasukkan pembangunan sektor kelautan dalam Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025.44

Awal tahun 2005 Presiden SBY menginstruksikan untuk pemberdayaan industry pelayaran nasional sebagaimana dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional.45 Industri pelayaran nasional tersebut sebagai upaya untuk mendorong infrastruktur menjaga kedaulatan Negara terutama di wilayah territorial laut.

Sebagaimana upaya untuk tetap menjaga sumber daya laut yang dimiliki, Pemerintah membentuk kembali Dewan Kelautan Indonesia pada tahun 2007 melalui KEPRES No. 21 Tahun 2007.46 Terbentuknya Dewan

44https://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2015/02/uu-no-17-th-2007.pdf

45https://www.hukumonline.com/pusatdata/download/lt5c0e4afee7334/node/20462

46 Yustinus Paat. Pembangunan Kemaritiman Indonesia Pasang Surut, Jokowi-JK Diminta Fokus.

Diakses dalam https://www.beritasatu.com/nasional/230350/pembangunan-kemaritiman-indonesia- pasang-surut-jokowijk-diminta-fokus. Pada Rabu, 3 Desember 2014. 23:06 WIB

(40)

65 tersebut dengan tujuan segala sumber daya yang terdapat di wilayah territorial Indonesia dapat dimanfaatkan secara baik dan dipergunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya Presiden SBY menggelar pertemuan skala dunia yang dikenal dengan nama Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference - WOC) dengan tujuan untuk melakukan pertemuan masyarakat dunia secara politik dan memberikan masukan-masukan kepada dunia internasional dalam proses perundingan dan perubahan iklim yang dihadapi.47

Menindak lanjuti pembangunan jangka panjang yang dicanangkan sebelumnya, perintah ingin menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara yang kuat dan mandiri sehingga dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2009- 2014.48

Selama 1 dekade atau 10 tahun SBY berkuasa atas kendali kebijakan nasional. Kondisi laut Indonesia yang mulai dibangun baik infrastruktur dan suprastruktur di wilayah pulau luar, akan tetapi pengawasan dan control sumber daya laut masih relatif kecil. Perairan Indonesia masih banyak terdapat nelayan asing yang melakukan aktivitas penangkapan ikan di wilayah kedaulatan Negara Indonesia.

47 Erwin Prima, FMIPA UI Gelar Konferensi Internasional Sains dan Geografi. Yang diakses dalam https://tekno.tempo.co/read/1240104/fmipa-ui-gelar-konferensi-internasional-sains-dan- geografi. Pada Minggu, 25 Agustus 2019 20:57 WI

48 Dr. Marsetio. Archipelago Leadership. Cetakan Pertama Maret 2018. Bogor. Universitas Pertahanan.

Hal 112

(41)

66 g. Joko Widodo

Isu maritim mulai dimunculkan kembali oleh Pemerintahan selanjutnya yakni Presiden Jokowi dengan misi menjadikan Negara Indonesia sebagai poros maritim dunia. Komitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim, Presiden Jokowi mencanangkan lima pilar yakni Budaya Maritim, Sumber Daya Laut, Infrastruktur dan Konektivitas Maritim, Diplomasi Maritim, dan Pertahanan Maritim.49

Pada tanggal 26 Oktober 2014 saat dilantiknya pejabat Negara eselon II, nama Susi Pudjiastuti muncul sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan50. Pemerintah Indonesia mulai terlihat fokus pengelolaan wilayah lautnya, hal ini ditandai dengan kebijakan yang diambil oleh Menteri KKP tersebut yakni melakukan tinjauan ulang sistem perizinan tangkap dan sistem bongkar muat ikan di tengah laut serta memberikan sangsi kepada nelayan yang menangkap ikan dengan alat tangkap terlarang dan menenggelamkan kapan nelayan asing yang melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia.

Diantaranya beberapa kebijakan tersebut adalah, pertama Pada tahun 2014 Menteri Kelautan dan Perikanan meninjau kembali perizinan usaha

49 Ismail Fahmi, Poros Maritim: Jokowi Tetapkan 5 Pilar Andalan. Yang diakses dalam https://finansial.bisnis.com/read/20141113/9/272659/poros-maritim-jokowi-tetapkan-5-pilar- andalan, pada 13 November 2014, 15:30 WIB

50Sabrina Asril. Presiden Lantik 34 Menteri. Diakses pada https://nasional.kompas.com/read/2014/10/27/12191671/Presiden.Lantik.34.Menteri. Pada 27/10/2014, 12:19 WIB

(42)

67 tangkap di laut Indonesia baik oleh nelayan Indonesia maupun nelayan asing.

Seperti yang tertera dalam PERMEN No 56/PERMEN-KP/2014 tentang pemberhentian sementara Perizinan Usaha Perikanan Tangkap.51 Kebijakan tersebut adalah untuk mengatur kembali segala jenis usaha tangkap yang ada di Negara Indonesia karena Menteri Kelautan dan Perikanan menilai system pengelolaan sumber daya laut terutama hasil ikan tuna harus di kelola kembali.52

Kedua, PERMEN No 57/PERMEN-KP/2014 tentang Usaha Perikanan Tangkap,53 dalam peraturan ini Menteri Kelautan dan Perikanan mencoba untuk memberhentikan segala aktivitas pembongkaran ikan di laut lepas.

Ketiga PERMEN No 58/PERMEN-KP/2014 tentang Disiplin Pegawai Aparatur Sipil Negara Di Lingkungan KKP,54 kebijakan ini untuk meninjau kembali banyak terdapat nakhoda dan anak buah kapal yang berstatus warga Negara asing. Keempat adalah kebijakan mengatur instrumen tangkap yang digunakan yakni Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) serta

51 http://jdih.kkp.go.id/peraturan/56-permen-kp-2014-ttg-moratorium-perizinan-usaha- perikanan-tangkap-di.wppnri.pdf

52 Egy herdian, 5 Kebijakan Menteri Perikanan Yang Berdampak Besar, yang diakses dalam https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/12/08/5-kebijakan-menteri-perikanan-yang- berdampak-besar. pada 08 Desember 2017. 13.54 WIB

53http://jdih.kkp.go.id/peraturan/57-permen-kp-2014-ttg-perubahan-kedua-atas-per-30-men- 2012.pdf

54http://jdih.kkp.go.id/peraturan/58-permen-kp-2014-ttg-disiplin-pegawai-aparatur-sipil- negara.pdf

(43)

68 pengeboman ikan, penangkapan menggunakan listrik dan penghancuran terumbu karang, kebijakan tersebut dimuat dalam peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 2 tahun 2015.

2.4 Kebijakan Pengaturan dan Pengawasan 2.4.1 Tingkat Nasional

Menjaga kedaulatan territorial laut Indonesia merupakan hal yang harus diseriusi oleh Pemerintah Republik Indonesia karena pada prinsipnya laut Indonesia merupakan wilayah terbesar yang dimiliki oleh Negara ketimbang daratan. Melihat aktivitas illegal fishing yang terjadi di peraira Indonesia yang semakin meningkat dari tahun-tahun sebelumnya karena dampak Pemerintah Indonesia pada periode sebelumnya kurang masif dalam fungsi pengawasanya.

Tabel 3.1 Data tangkap kapal tahun 2010-2015.55

55 Diding Sutardi, Tak Ada Tempat Bagi Perampok Ikan Mina Bahari, KKP, Edisi 1 April-Juni 2015, Hal 15 yang diakses dalam Https://Kkp.Go.Id/Wp-Content/Uploads/2016/07/Mina-Bahari-Edisi- 1.Pdf.

(44)

69 Pada tahun 2010-2014 dan maret 20015 masih terdapat jumlah kapal asing yang melakukan aktivitas penangkapan ikan di laut Indonesia baik nelayan Indonesia maupun nelayan asing yang menggunakan alat tangkap terlarang sebagaimana sudah disebutkan pada bab sebelumnya yakni pukat harimau, pengeboman ikan dan lainnya.

Potensi ikan tuna yang dimiliki pada tahun 2009-2013 tidak mencapai pendapatan Negara sebesar 300 milyar, sementara potensi ikan tuna yang dimiliki Indonesia dalam pertahun mencapai 25 triliun, sementara Negara dalam pertahun menghabiskan 18 trilun untuk pemberdayaan dan pengelolaan ikan di laut Indonesia.56 Secara tidak langsung Negara Indonesia mengalami kerugian yang cukup signifikan dalam pengelolaan sumber daya laut yang dimiliki, seharusnya potensi yang dimiliki digunakan untuk menyejahterakan masyakat terutama masyarakat pesisir.

Beberapa langka yang diambil oleh Pemerintah yakni adanya moratorium perizinan kepada kapal nelayan yang berada diantara 30 Gross Ton (GT) sebagai upaya untuk menekan angka kerugian yang terjadi.57 Terhitung

56 Estu Suryowati . Menteri Susi: Kerugian Akibat Illegal Fishing Capai Rp 3.000 Triliun. Kompas.com.

Diakses dalam

https://ekonomi.kompas.com/read/2015/06/23/123334126/Menteri.Susi.Kerugian.Akibat.Ille gal.Fishing.Capai.Rp.3.000.Triliun. Pada 23/06/2015, 12:33 WIB

57 Ary Wahyono. Moratorium Perikanan Tangkap dan Pengaruhnya Pada Nelayan Kecil (Small Scale Fishery). Diakses dalam http://ipsk.lipi.go.id/index.php/kolom-peneliti/kolom-kemasyarakatan-

(45)

70 sampai tahun 2015 terdapat 5.329 kapal besar yang berada di atas 30 GT dan didominasi oleh kapal yang berbendera asing.58 Sementara untuk transaksi kepada Negara kapal-kapal tersebut hanya membayar 90 juta melalui retribusi perizinan pertahun sedangkan dalam sekali n kapal-kapal tersebut bisa mencapai hasil hingga 2000 ton.

Sampai pada tahun 2015, terdapat sedikit 207 kapal yang telah dibekukan oleh Pemerintah Indonesia melalui KKP.59 KKP juga melibatkan masyarakat dalam pengawasan yakni adanya sistem logbook sehingga masyarakat bebas mengakses data-data dari KKP serta adanya transparansi kebijakan dan tindakan dari KKP.60

Menjaga territorial laut Indonesia Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan kerja samaa lintas Kementerian yang diantaranya; Badan Keamanan Laut, TNI Angkatan Laut, Kementerian Keuangan (Ditjen Bea Cukai),

dan-kebudayaan/606-moratorium-perikanan-tangkap-dan-pengaruhnya-pada-nelayan-kecil- small-scale-fishery. Pada 03 Oktober 2017

58 Diding Sutardi. Audit Izin Kapal. Mina Bahari. Edisi 1 Tahun 2015. Hal 20. Yang Diakses Dalam Https://Kkp.Go.Id/Wp-Content/Uploads/2016/07/Mina-Bahari-Edisi-1.Pdf.

59 Rr Laeny Sulistyawati. Baru Jabat Menteri KKP, Susi Bekukan Izin 207 Kapal Penangkap Ikan.

Diakses Dalam Https://Republika.Co.Id/Berita/Ekonomi/Makro/14/11/02/Neeiuf-Baru-Jabat- Menteri-Kkp-Susi-Bekukan-Izin-207-Kapal-Penangkap-Ikan. Pada 02 Nov 2014 14:44 WIB

60 Maskur Tamanyira. Log Book Perikanan: Menyensus Laut Kita. Yang diakses dalam https://www.wwf.or.id/?23481/Log-Book-. Pada 03 November 2011

(46)

71 Kementerian Hukum dan HAM serta Pemerintah Daerah dan masyarakat pesisir.61

a. Memberantas Illegal Fishing di perairan Indonesia

Langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk memberantas pelaku tindak penangkapan ikan secara illegal di laut Indonesia adalah menenggelamkan kapal yang kedapatan melakukan tindakan illegal tersebut.

Salah satu kebijakan yang berdampak besar adalah penenggelaman kapal asing yang melakukan penangkapan ikan di laut Indonesia tanpa izin yang jelas atau secara illegal, kebijakan penenggelaman itu memiliki dasar hukum yang jelas yakni UU No 45 Tahun 2009 tentang Perikanan Sebagai Landasan Pengelolaan Laut,62 terutama dalam pasal 69 ayat 4 dimana adanya kebijakan khusus yang akan melakukan penyelidikan dan mengawasi kepada kapal ikan yang ada di wilayah territorial Negara Indonesia.

Berangkat dari landasan teori yang diangkat yakni kedaulatan territorial, Negara Indonesia memiliki hak penuh atas mengatur dan mengelola wilayah territorialnya. Penenggelaman kapal asing yang melakukan aktivitas penangkapan ikan ini adalah bentuk tindakan serius oleh Pemerintah Negara Indonesia dalam menjaga kedaulatan negaranya.

61 Diding Sutardi, Tak Ada Tempat Bagi Perampok Ikan Mina Bahari, KKP, Edisi 1 April-Juni 2015, Hal 15 yang diakses dalam Https://Kkp.Go.Id/Wp-Content/Uploads/2016/07/Mina-Bahari-Edisi- 1.Pdf.

62http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2009_45.pdf

(47)

72 Seperti yang kita ketahu bersama bahwa adanya kebijakan penenggelaman kapal asing ini menjadi perhatian oleh seluruh masyarakat pesisir dan Negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Negara tetangga lainnya yang sering melalukan penangkapan ikan di laut Indonesia.63 Beberapa wilayah kawasan laut seperti laut Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan Papua kini menjadi ladang ikan tuna di Indonesia. Sehingga Pemerintah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah untuk melakukan pengawasan dan kontrol terhadap wilayah-wilayah diatas. Pemerintah Daerah memiliki peran penting dalam hal ini sehingga harus adanya senergitas dalam pengambilan kebijakan dan upaya melaksanakan pengawasan dalam program Dinas Perikanan dan Kelautan di tiap-tiap Daerah yang memiliki wilayah laut.64

Memberantas illegal fishing, Pemerintah tidak hanya bersama badan dalam negeri, akan tetapi bekerja sama dengan Negara luar seperti Rusia, Australia untuk memberantas kapal asing yang sering melakukan penangkapan

63 Wij/Hen. Efek Penenggelaman Kapal Asing, 2 Negara Ini Beri Peringatan Ke Nelayannya. Yang Diakses Dalam Https://Finance.Detik.Com/Berita-Ekonomi-Bisnis/D-2771409/Efek- Penenggelaman-Kapal-Asing-2-Negara-Ini-Beri-Peringatan-Ke-Nelayannya. Pada 08 Des 2014 21:39 Wib

64 Noverius Laoli. KKP Desak Pemda Bantu Berantas Illegal Fishing. Yang Diakses Dalam Https://Nasional.Kontan.Co.Id/News/Kkp-Desak-Pemda-Bantu-Berantas-Illegal-Fishing. Pada 18 Februari 2015 / 12:10 WIB

(48)

73 ikan di wilayah laut Indonesia.65 Beberapa Negara yang dilibatkan dalam kerja sama tidak secara langsung akan mengambil tindakan akan tetapi ada kepentingan dibalik kerja sama tersebut yakni investasi di sektor perikanan maupun infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan Pemerintah Indonesia diwilayah laut yakni untuk memberantas kapal pencuri ikan.

Memberantas illegal fishing bukan hanya menjadi fokus KKP akan tetapi Presiden Republik Indonesia juga turut memberikan keseriusan dalam menjaga wilayah territorial wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, keputusan khusus yang diambil oleh Presiden adalah PERPRES No 115 Tahun 2015 tentang membentuk satuan tugas (Satgas) Pemberantas Tindak Penangkapan Ikan Secara Illegal.66 Satuan tugas ini dipimpin atau diketuai oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan bertanggung jawab melaporkan setiap perkembangan pengawasan kepada Presiden Republik Indonesia, dimana tugasnya adalah mendapatkan langsung arahan dari Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Koordinator Kemaritiman, Panglima TNI, Kapolri, dan Jaksa Agung. Sementara dalam

65 DTK/MD. RI – Rusia Sepakati Kerja samaa Berantas Illegal Fishing. Diakses dalam https://news.kkp.go.id/index.php/ri-rusia-sepakati-kerja-sama-berantas-illegal-fishing/. Pada May 19, 2016

66https://kkp.go.id/wp-content/uploads/2016/10/PERPRES_NO_115_2015.pdf

(49)

74 operasinya akan disesuaikan dengan data yang diberikan oleh Badan Intelijen Negara Indonesia.67

b. Rancangan Program nasional

Rancangan program nasional yang diambil oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak terlepas dari visi dan misi Presiden dan lembaga Kelautan dan Perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki visi dan misi yang menjadi acuan program yaitu;

Visi; Mewujudkan Sektor Kelautan dan Perikanan Indonesia yang Mandiri, Maju, Kuat dan Berbasis Kepentingan Nasional’

Misi

1. Kedaulatan (Sovereignty), yakni mewujudkan pembangunan kelautan dan perikanan yang berdaulat, guna menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya kelautan dan perikanan, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

2. Keberlanjutan (Sustainability), yakni mewujudkan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

3. Kesejahteraan (Prosperity), yakni mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, maju, mandiri, serta berkepribadian dalam kebudayaan.68

67 Jhon Mayer H. Siahaan, Strategi Penanganan Illegal, Unregulated And Unreported Fishing (Iuu- Fishing) Di Perairan Provinsi Riautahun 2014-2016, Volume 4 No. 1 Februari2017. Hal 9

68https://kkp.go.id/page/7-visi-dan-misi

Gambar

Gambar 2.2 Kapal Nelayan Filipina
6  Foto dokumentasi pada Oktober 2018 di pelabuhan ikan Bastiong Ternate Maluku Utara
Table 2.1 kebijakan pemerintah dari masa ke masa
Table 2.2 kebijakan pemerintah Joko Widodo
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa apakah terdapat pengaruh penerapan sistem administrasi perpajakan modern yang meliputi modernisasi struktur organisasi,

Sirup, rebus air, gula pasir, daun pandan dan pewarna merah cabai di atas api kecil sampai mendidih dan kental.. Tata

Menurut Ida Astarina dalam jurnalnya yang berjudul “Pembuatan Sistem Penjualan Online Pada Toko PN Musik Sukoharjo” pada tahun 2012, menguraikan Dalam dunia bisnis media

Metode dan tahapan pengujian antara lain uji komposisi kimia spesimen logam yang akan dilakukan uji korosi, uji komposisi nira tebu, dan pengujian korosi spesimen

Dalam hal ini sesak nafas dapat berupa : exertional dyspnea dimana sesak muncul jika pasien beraktifitas, orthopnea dimana sesak yang muncul berkurang dengan mengambil posisi

Lipida merupakan senyawa organik yang terdapat pada tumbuhan, hewan atau manusia yang tidak dapat larut dalam air, namun dapat terlarut dalam pelarut organik non-polar

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel pengabdian pada profesi, keyakinan terhadap peraturan profesi, kemandirian, dan hubungan dengan sesama

Namun disamping kepatuhan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang kepatuhan sendiri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya