• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskusi Kelompok Terarah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Diskusi Kelompok Terarah"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

“Kajian Nilai Budaya Yogyakarta di Perguruan Tinggi”

PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SEKRETARIAT DAERAH

Kepatihan, Danurejan Yogyakarta 56213, Telp.562811, 561515, Fax. 588613 Website :jogjaprov.go.id Email : [email protected] Kode Pos 55213

Diskusi Kelompok Terarah

Selasa, 14 Juli 2020

(2)

Latar Belakang

“...Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan

bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab...”

- UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional -

(3)

Latar Belakang

Tata Nilai Budaya Yogyakarta adalah tata nilai budaya Jawa yang memiliki

kekhasan semangat pengaktualisasiannya berupa pengerahan segenap sumber daya (golong gilig) secara terpadu (sawiji) dalam kegigihan dan kerja keras yang dinamis (greget), disertai dengan kepercayaan diri dalam bertindak (sengguh), dan tidak akan mundur dalam menghadapi segala resiko apapun (ora mingkuh).

Tata nilai budaya Yogyakarta : (1) nilai religio-spiritual, (2) nilai moral, (3)

nilai kemasyarakatan, (4) nilai adat dan tradisi, (5) nilai pendidikan dan

pengetahuan, (6) nilai teknologi, (7) nilai penataan ruang dan arsitektur, (8)

nilai mata pencaharian, (9) nilai kesenian, (10) nilai bahasa, (11) nilai benda

cagar budaya dan kawasan cagar budaya, (12) nilai kepemimpinan dan

pemerintahan, (13) nilai kejuangan dan kebangsaan, dan (14) nilai semangat

khas keyogyakartaan.

(4)

Analisis SWOT

KEKUATAN KELEMAHAN

Keanekaragaman Kearifan Lokal;

Sejarah, Warisan Budaya, Cagar Budaya dan Museum; Kesenian; Adat dan

Tradisi; Tingkatan Tutur Bahasa; dan Religi

Kurangnya sosialisasi dan diseminasi keanekaragaman budaya kepada seluruh lapisan masyarakat

Dinamika Interaksi Nilai Budaya DIY, Nasional, dan Global

Kurangnya atensi masyarakat terhadap dinamika kemudayaan di daerah ini

Pengalaman Sejarah Hidup dalam Pluralitas Masyarakat

Kurangnya sosialisasi tentang sejarah Yogyakarta bagi masyarakat pendatang

Kekayaan Hidup dalam Pluralitas Institusi Sosial, dan

Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pluralitas institusi sosial di Yogyakarta

Pengalaman Hidup dalam Pluralitas Pola Adaptasi

Kurangnya bekal dari daerah asal tentang pola adaptasi dengan masyarakat lokal

KESEMPATAN/PELUANG ANCAMAN

Keistimewaan Kebudayaan yang bersumber dari: Kasultanan dan Kadipaten; dan luar Kasultanan dan Kadipaten

Banyaknya warisan budaya, cagar budaya, museum, sanggar seni, dan padepokan telah mendorong terciptanya atmosfer kehalusan budi di masyarakat DIY

Kewibawaan “Budaya Panutan”

Kasultanan dan Kadipaten masih sangat dihormati oleh masyarakat DIY

Kebebasan media massa yang cenderung disalahgunakan dalam segala aspek kehidupan

Toleransi masyarakat DIY terhadap perbedaan (suku, agama, ras, dan antar golongan) tinggi

Tekanan nilai-nilai kapitalisme global terhadap nilai- nilai tradisional (arsitektur, media massa, kesenian, busana, kuliner, sastra, gaya hidup)

Kohesi sosial masyarakat DIY yang masih tinggi

Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian nilai sejarah, warisan budaya, cagar budaya dan museum.

Masih terpeliharanya tradisi di dalam masyarakat

Perbedaan persepsi tentang adat dan tradisi bagi masyarakat lokal maupun pendatang

Masih dijunjung tingginya nilai-nilai kekeluargaan

Kemajuan teknologi, khususnya penggunaan alat komunikasi (seluler) dapat merenggangkan nilai kekeluargaan

Sebagai Kota Pelajar memberikan pengalaman kepada masyarakat DIY hidup di dalam keberagaman

Keberagaman masyarakat di Yogyakarta belum dipahami segenap lapisan masyaralat, khususnya pelajar.

Antropologi

(5)

Analisis SWOT

Hukum

Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)

• Keberadaan Kraton Yogyakarta dan Pakualaman sebagai pelestari budaya lokal

• Keberadaan UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang melandasi keistimewaan dalam urusan kebudayaan

• Keberadaan Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta

• Keberadaan Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2013 tentang Kewenangan Dalam Urusan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2015

• Keberadaan Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan Dan Pengembangan Kebudayaan

• budaya lokal DIY itu sangat beragam sehingga perlu ditegaskan apakah/manakah yang termasuk dalam cakupan budaya lokal DIY

Kesempatan (Opportunities) Ancaman (Threats)

• Belum adanya peraturan, baik Perda maupun Pergub yang secara khusus mengatur tentang penguatan budaya lokal DIY di Perguruan Tinggi

• Adanya dukungan dari Kraton kasultanan dan Kraton Pakualaman untuk menyebarluaskan/

memperkenalkan nilai budaya lokal terhadap pendatang di DIY

• Mahasiswa-mahasiswa yang studi di DIY berasal dari berbagai daerah yang belum mengetahui atau memahami budaya lokal DIY

• Budaya asing yang lebih kuat pengaruhnya terhadap orang muda/mahasiswa

(6)

Analisis SWOT

Pendidikan

Kelebihan Kekurangan

Strength

a) Predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota budaya dapat menguatkan kredibilitas DIY untuk menerapkan tata nilai budaya kepada sivitas akademika.

b) PT telah memiliki kesadaran untuk melaksanakan penguatan tata nilai budaya.

c) Bidang pendidikan sangat erat dengan kebudayaan, dalam proses pendidikan tidak akan lepas dari nilai budaya. Artinya, penguatan tata nilai budaya dapat sekaligus dilakukan dalam proses pendidikan.

Weakness

a) Belum secara sistematis dalam penguatan tata nilai budaya DIY di PT.

b) Belum ada pedoman spesifik mengenai penguatan tata nilai budaya DIY di PT.

c) Pemahaman mengenai tata nilai budaya DIY yang masih kurang.

d) Kerja sama antara tiga pilar pendidikan belum maksimal dalam penguatan tata nilai budaya.

Opportunities

a) Kemajuan IPTEK dapat membantu proses pendidikan dalam menguatkan tata nilai budaya.

b) Adanya beberapa regulasi mengenai pendidikan karakter maupun pendidikan berbasis budaya.

Threats

a) Persaingan kualitas pendidikan secara global, mendorong PT melakukan internasionalisasi.

Apabila tidak berhati-hati akar budaya lokal akan lepas, menggiring aktualisasi sivitas akademika PT lebih mengejar dunia internasional.

b) Keberagaman latar belakang dan

budaya masyarakat yang ada di DIY.

(7)

Analisis SWOT

Sosial

a. Kekuatan/Potensi

1) Modal kultural yang kuat dan terus dihidupi oleh segenap lapisan warga sebagai bagian dari visi pembangunan di DIY

2) Pelajar-mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara yang menjadi miniatur Indonesia sekaligus laboratorium pengembangan nilai-nilai budaya yang majemuk dan multikultur, pada saat bersamaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika menjadi semangat nasionalisme.

3) Salad bowl dan melting pot sebagai pilihan metode yang fleksibel dalam pengembangan budaya sekaligus pintu masuk memperkenalkan nilai budaya Yogyakarta.

4) Banyaknya lembaga pendidikan/perguruan tinggi di wilayah Yogyakarta selain menjadi daya tarik sekaligus locus pengembangan nilai budaya dan pendidikan karakter sesuai karakteristik PT masing-masing.

5) Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi menjadi daya dorong bagi tumbuhnya budaya konstruktif.

6) Budaya literasi akan mendorong tumbuhnya budaya konstruktif lainnya.

7) Masih kuatnya praktek tolong menolong, saling membantu terhadap warga masyarakat yang sedang menghadapi masalah dan mengalami keterbatasan

a. Kelemahan

1) Pelajar-mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara dengan latar belakang sosio-kultur, agama-kayakinan, adat-istiadat, ekonomi yang beragam berpotensi menimbulkan benturan dan konflik.

2) Di sisi lain tanpa adanya pemahaman yang tepat, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi bisa menjadi daya hambat bagi pengembangan nilai budaya.

3) Belum terumuskannya metode-kurikulum kajian Nilai Budaya Yogyakarta disandingkan dengan pendidikan karakter di PT yang sesuai dengan kekhasannya masing-masing.

4) Keterbatasan SDA, ruang publik-sosialisasi di wilayah Yogyakarta serta peningkatan pencemaran tanah-air- udara menjadi kendala mewujdukan Manusia Jogja yang memiliki hidup biologis yang mulia dengan didukung oleh kualitas dan kuantitas asupan makanan yang baik, memiliki tingkat kesehatan yang baik, tingkat relasi sosial yang memadai, dan hidup dalam kualitas lingkungan fisik yang baik.

5) Terjadinya drain brain keluar DIY akibat belum tercukupinya layanan pendidikan tinggi yang terjangkau oleh penduduk asli DIY

(8)

Analisis SWOT

Sosial

a. Tantangan

1) Kuatnya arus budaya pragmatis dan individualistis merupakan ancaman yang mengikis nilai budaya adiluhung dalam pengembangan modal sosial dan modal budaya dalam penanganan berbagai permasalahan. Masih belum terwujudnya budaya hidup bersih-sehat, budaya disiplin antri, budaya patuh-taat hukum, budaya penghormatan pada sesama manusia akibat keterbatasan SDA maupun sikap pragmatisme.

2) Menumbuhkembangkan salad bowl maupun melting pott dalam akulturasi-asimilasi budaya bagi setiap Manusia Jogja.

3) Menumbuhkan pemahaman dan budaya literasi

4) Menumbuhkan nasionalisme di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, serta dunia yang terhubung tanpa batas.

5) Mewujudkan Manusia Jogja yang pluralis dan multikultur.

a. Peluang

1) Pelajar-mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara dengan latar belakang sosio-kultur, agama-kayakinan, adat-istiadat, ekonomi yang beragam membuka peluang bagi terciptanya ruang dialog multiarah.

2) Akulturasi-asimilasi dalam salad bowl maupun melting pot sebagai ruang interaksi-sosialisasi bagi terwujudnya masyarakat madani (civil society) yang menghargai keberagaman, multikultur, persamaan hak-kewajiban,

3) Keterbatasan SDA, ruang publik-sosialisasi, menjadi peluang terbukanya kreativitas dalam meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

4) Mewujudkan Manusia Jogja yang berbudaya hidup bersih-sehat, budaya disiplin antri, budaya patuh-taat hukum, budaya penghormatan pada sesama manusia melalui kajian nilai budaya Yogyakarta dan pendidikan karakter di perguruan tinggi di wilayah Yogyakarta sesuai kekhasan masing-masing.

(9)

Bidang Antropologi

Isu strategis Kajian Nilai Budaya

Yogyakarta dan Pendidikan Karakter di Peguruan Tinggi di DIY

• Permasalahan inti dari Kebudayaan belum mendapat perhatian yang memadai;

• Posisi kebudayaan dalam lembaga pemerintah belum menemukan format yang tepat,

• Belum ditemukan format yang tepat sebagai pedoman gerakan masyarakat.

• Kebudayaan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat

• Pembangunan kebudayaan harus tertanam dalam semua tujuan pembangunan berkelanjutan (main streaming).

• Program pendidikan formal belum menempatkan bidang kebudayaan.

• Pendidikan karakter melalui jalur pendidikan formal dan informal belum

menemukan formulasi.

(10)

Bidang Hukum

Isu strategis Kajian Nilai Budaya

Yogyakarta dan Pendidikan Karakter di Peguruan Tinggi di DIY

• Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang memiliki sistem dan kelembagaan politik dan hukum yang mantap, terjamin hak-haknya, terjamin keamanan dan ketenteramannya, juga merupakan masyarakat yang peran sertanya dalam pembangunan di segala bidang nyata dan efektif.

Bidang Kebudayaan

Puncak budaya nasional adalah berasal dari budaya daerah yang

telah ada dan tetap lestari.

(11)

Bidang Pendidikan

Isu strategis Kajian Nilai Budaya

Yogyakarta dan Pendidikan Karakter di Peguruan Tinggi di DIY

• Sivitas akademika di PT memiliki beragam latar belakang dan budaya.

• Tiga pilar pendidikan yang memiliki peran penting dalam proses pendidikan yaitu keluarga, sekolah (kampus), dan masyarakat.

• Terkait dengan karakter dan tata nilai budaya yang ingin dikuatkan

belum dikenal apalagi dipahami oleh ketiga pilar tersebut.

(12)

Bidang Pendidikan

Isu strategis Kajian Nilai Budaya

Yogyakarta dan Pendidikan Karakter di Peguruan Tinggi di DIY

• Pelajar-mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara dengan latar belakang sosio-kultur, agama- kayakinan, adat-istiadat, ekonomi yang beragam.

• Akulturasi-asimilasi dalam salad bowl maupun melting pott

• Keterbatasan SDA, ruang publik-sosialisasi, serta peningkatan pencemaran tanah-air-udara.

• Budaya literasi.

• Nasionalisme.

• Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi.

• Budaya hidup bersih-sehat, budaya disiplin antri, budaya patuh-taat

hukum, budaya penghormatan pada sesama manusia.

(13)

ARAH KEBIJAKAN DAN

STRATEGI PEMBANGUNAN Bidang Antropologi

ARAH KEBIJAKAN STRATEGIS PENCAPAIAN

1. Mewujudkan Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan yang berbasis pada pelestarian aset sejarah, asal usul, dan destinasi budaya demi peningkatan kualitas hidup-penghidupan warga.

2. Meninghkatkan kuantitas dan kualitas layanan dan tatakelola infrastruktur publik sebagai arena apresiasi pelaku budaya dalam rangka pelindungan, pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya tangible dan intangible.

a. Peninglatan kapasitas SDM dan pengembangan tata kelola kebudayaan;

b. Peningkatan fasilitas-fasilitas infrastruktur kebudayaan yang dapat mendukung pelindungan, pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya tangible dan intangible;

c. Pengembangan terpadu dan berkelanjutan

potensi wilayah konservasi budaya dan

lumbung budaya dengan memperkuat

lembaga-lembaga konservasi dan

pengembangan cagar budaya di kawasan

cagar budaya, saujana (lanskap) budaya,

desa, dan kelurahan.

(14)

ARAH KEBIJAKAN DAN

STRATEGI PEMBANGUNAN Bidang Hukum

• Melakukan inventarisasi dan mengkaji produk-produk hukum daerah yang substansinya mengatur mengenai keterkaitan dunia pendidikan dengan budaya lokal;

• Menentukan jenis produk hukum daerah yang dapat dibuat untuk mewadahi upaya penguatan budaya lokal DIY di Perguruan Tinggi; dan

• Menentukan substansi/isi dari produk hukum daerah yang akan disusun

sebagai landasan untuk melakukan kegiatan upaya penguatan budaya lokal

DIY di Perguruan Tinggi.

(15)

ARAH KEBIJAKAN DAN

STRATEGI PEMBANGUNAN Bidang Kebudayaan

• Pengembangan konsep pendidikan seni yang berbasis pada kemajemukan seni dan budaya Indonesia.

• Pengembangan strategi, metode, materi, dan media pembelajaran seni budaya pada pembelajaran berbasis kurikulum 2013.

• Pengembangan konsep strategi, teknik, metode, dan media dalam transformasi sosial melalui seni dan budaya Indonesia.

• Kurikulum era disrupsi (era revolusi industry 4.0).

• Perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan agar budaya Indonesia dapat tumbuh tangguh.

• Pelaksanaan nilai-nilai pemajuan kebudayaan berdasarkan Undang-

Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

(16)

ARAH KEBIJAKAN DAN

STRATEGI PEMBANGUNAN Bidang Pendidikan

Strategi Penjelasan

Strategi pembelajaran berbasis teman sebaya

Pembelajaran berbasis teman sebaya merupakan salah satu cara efektif dalam mengembangkan karakter pada siswa (mahasiswa). Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan ialah peer tutoring, buddying, homerooms/advisories.

Pelayanan kepada orang lain Pelayanan kepada orang lain merupakan bentuk aksi moral (moral actions). Strategi ini dapat membantu pembelajar untuk membentuk kebiasaan baru. Aktivitas yang dapat dilakukan adalah pelayanan kepada komunitas (community service) yang berorientasi terhadap pemenuhan kebutuhan orang lain/masyarakat luas.

Role-model / mentoring Tokoh yang dijadikan role-model tidak selamanya adalah pahlawan. Tokoh yang dapat diangkat sebagai role-model adalah individu, biasanya orang dewasa atau siswa yang lebih tua, yang mencerminkan karakter-karakter yang diharapkan.

School-wide Character Focus Tujuan pendidikan karakter perlu diterjemahkan secara luas dalam visi dan misi sekolah (kampus), serta dalam penerapan praktis dan pedagogis sehari-hari.

Keterlibatan keluarga atau komunitas

Memberikan kesempatan bagi keluarga, khususnya orang tua, untuk terlibat secara aktif dan suportif terhadap penerapan pendidikan karakter.

Penguatan pedagogis /Pedagogy Empowerment

Penguatan pedagogis terwujud dalam pendidikan yang konstruktif (membangun) dan demokrasi dalam pendidikan (memberdayakan siswa/mahasiswa). Contohnya pembelajaran yang autoritatif yakni menciptakan iklim sekolah yang suportif, memberdayakan, dan saling mengasihi satu dengan yang lain.

Mengajar tentang Karakter Sekolah (kampus) menjelaskan secara eksplisit konsep karakter yang berusaha dibangun.

(17)

ARAH KEBIJAKAN DAN

STRATEGI PEMBANGUNAN Bidang Sosial

• Cluster Tata Nilai Religio-Spiritual, Tata Nilai Moral, Tata Nilai Benda Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya, Tata Nilai Penataan Ruang dan Arsitektur. Kebijakan yang perlu ditempuh untuk mendukung pencapaian sasaran keempat tata nilai tersebut diantaranya: mapping, sosialisasi, edukasi untuk menumbuhkan semangat saling silang pengetahuan budaya.

• Cluster Tata Nilai Pendidikan dan Pengetahuan, Tata Nilai Teknologi, Tata Nilai Mata Pencaharian. Kebijakan yang perlu ditempuh untuk mendukung pencapaian sasaran ketiga tata nilai tersebut diantaranya: sosialisasi, edukasi untuk menumbuhkan silang pengetahuan dan peningkatan budaya literasi.

• Cluster Tata Nilai Kesenian, Tata Nilai Bahasa, Tata Nilai Adat dan Tradisi,. Kebijakan yang perlu ditempuh untuk mendukung pencapaian sasaran ketiga tata nilai tersebut diantaranya: edukasi dan diseminasi untuk menumbuhkan semangat diplomasi saling silang budaya dengan semangat akulturasi-asimilasi dalam salad bowl maupun melting pot

• Cluster Tata Nilai Kepemimpinan dan Pemerintahan, Tata Nilai Kejuangan dan Kebangsaan, Tata Nilai Semangat

Keyogyakartaan, Tata Nilai Kemasyarakatan. Kebijakan yang perlu ditempuh untuk mendukung pencapaian sasaran

keempat tata nilai tersebut diantaranya: edukasi-advokasi untuk meningkatkan budaya literasi, budaya hidup bersih-sehat,

budaya disiplin antri, budaya patuh-taat hukum, budaya penghormatan pada sesama manusia, optimasi pemanfaatan

keterbatasan SDA, ruang publik-sosialisasi, serta peningkatan pencemaran tanah-air-udara.

(18)

Rekomendasi dan Masukan masing-masing bidang

Bidang Antropologi Kebudayaan

Pembentukan gugus tugas (task force) yang dapat menyiapkan kurikulum pelatihan atau kursus singkat di Perguruan Tinggi Penentuan kelompok sasaran (target group) Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta

Bidang Pendidikan

• Kebijakan mengenai penguatan fungsi pendidikan yang memiliki muatan kebudayaan;

• Fokus kebijakan di bidang pendidikan memayungi seluruh proses pendidikan (input, proses, dan output)

• Kebijakan pengembangan nilai budaya di bidang pendidikan seharusnya selaras dan berkelanjutan di seluruh jalur dan jenjang pendidikan.

Bidang Hukum

• Produk hukum dalam bentuk Peraturan Gubernur

• Pembentukan kelembagaan tertentu yang diberi tanggung jawab untuk menjalankan kegiatan tersebut.

Bidang Kesenian/Seni Budaya

Membangun sinergi dan integrasi inter-antar bidang seni-budaya dengan bidang lainnya.

Bidang Sosiologi

Optimalisasi arah kebijakan Tata Nilai Budaya Yogyakarta dan Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi dengan memperhatikan pemadupadanan dan penyanding-sinergian antara Tata Nilai Budaya Yogyakarta dengan Pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di Daerah berdasarkan Sistem Pendidikan Nasional dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya untuk

menghasilkan kurikulum yang sesuai kekhasan masing-masing perguruan tinggi untuk turut mendorong Pembangunan Nasional.

01

02

03

04

05

(19)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Dari tabel 4.34 didapatkan waktu non proses pada perijinan prinsip dan lokasi

Irisan membujur sel ß pankreas tikus dengan pewarnaan aldehyde fuchsin dan perbesaran 400x (A) Kelompok kontrol negatif dan (B) Kelompok kontrol positif. sel

[r]

Kematangan emosi adalah suatu keadaan untuk menjalani kehidupan secara damai dalam situasi yang tidak dapat diubah, tetapi dengan keberanian individu mampu. mengubah

dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah terlatih dan tersertifikasi. d) Untuk pelaksanaan pencatatan hasil pelaksanaan posbindu diperlukan kartu menuju sehat.. Faktor

Kepala SKPD Provinsi melakukan pemantauan pelaksanaan dekonsentrasi yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya, 4. Kepala

Pelaksana posbindu masih belum sesuai dengan SPO (Standart Prosedur Operasional) Posbindu PTM, karena masih dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Padang Bulan

Keadaan formasi tanah di Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur secara garis besar Pulau Flores dan sekitarnya mempunyai ntanah yang mediteran dengan bentuk wilayah Volkan, Tanah di