FIGURE OF SPEECH IN NOVEL REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU AND HAFALAN SHALAT DELISA WRITTEN BY
TERE LIYE A Study Stylistics
TESIS
Hj. ODI TUHFAH ZAINUDDIN NIM: 04.08.880.2013
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
i
Kemarin menjadi pelajaran Hari ini pengalaman Besok memperbaiki langkah
Inilah keadaan dunia Kita hidup dan belajar
Manjadda Wajadda
Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil
i
MAJAS DALAM NOVEL REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU DAN HAFALAN SHALAT DELISA KARYA
TERE LIYE Sebuah Kajian Stilistika
Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Magister
Program Studi
Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun dan Diajukan oleh
Hj. ODI TUHFAH ZAINUDDIN NIM: 04.08.880.2013
Kepada
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
TAHUN 2015
i
MAJAS DALAM NOVEL REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU DAN HAFALAN SHALAT DELISA KARYA
TERE LIYE
Sebuah Kajian Stilistika
Hj. ODI TUHFAH ZAINUDDIN NIM: 04.08.880.2013
Telah diuji dan dipertahankan pada Ujian Tutup hari Minggu tanggal 31 Mei 2015 dan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Magister dengan beberapa perbaikan.
1. Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum. (………...) (Pembimbing I)
2. Dr. Andi Sukri Samsuri, M. Hum. (………) (Pembimbing II)
3. Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd. (………) (Penguji I)
4. Dr. Siti Aida Azis, M.Pd . (………. ..) (Penguji II)
Makassar, 3 Juni 2015 Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar,
Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd.
NBM. 988463
i
Berdasarkan Hasil Ujian Tesis Program Magister:
N a m a : Hj. Odi Tuhfah Zainuddin Nomor Induk : 04.08.880.2013
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Tesis : Majas dalam Novel Rembulan Tenggelam Diwajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere liye: Sebuah Kajian Stilistika
Oleh Tim Penguji harus dilakukan perbaikan. Perbaikan tersebut dilakukan dan telah disetujui oleh Tim Penguji.
No .
Nama Tim Penguji Jabatan Disetujui Tanggal
Tanda Tangan
1. Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd. Ketua
2. Dr. Siti Aida Azis, M.Pd. Sekretaris
3. Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum. Anggota
4. Dr. Andi Sukri Samsuri, M.Hum. Anggota
Makassar, 3 Juni 2015
Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar,
Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd.
NBM. 988463
i
Dengan penuh kesadaran, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Hj. Odi Tuhfah Zainuddin NIM : 04.08.880.2013
Prog. Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Tesis : Majas dalam Novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere liye: Sebuah Kajian Stilistika
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang penulis buat adalah benar karya sendiri.Jika di kemudian hari terbukti bahwa tesis ini merupakan duplikat atau plagiat, maka saya bersedia dituntut secara hukum.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Makassar, 3 Juni 2015 Yang Berjanji,
Hj. Odi Tuhfah Zainuddin
i
Judul Tesis : Majas dalam Novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere liye: Sebuah Kajian Stilistika Nama : Hj. Odi Tuhfah Zainuddin
NIM : 04.08.880.2013
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program : Pascasarjana
Makassar, 3 Juni 2015
Diketahui oleh
Pembimbing I,
Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum.
Pembimbing II,
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.
Mengetahui Direktur Program Pascasarjana
Unismuh Makassar
Prof. Dr. H. M. Ide Said. D.M., M.Pd.
NBM. 988463
Ketua Program Studi
Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Dr. Abdul Rahman Rahim, M.Hum.
i
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah ke hadirat Allah Swt., karena rahmat dan taufik-Nyalah penulis telah dapat menyusun tesis ini.
Berhasilnya disusun Tesis ini, tidak terlepas dari bantuan serta bimbingan dari Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum. dan Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., masing- masing sebagai pembimbing I dan II yang telah memberikan pengarahan, petunjuk serta bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan proposal tesis. Atas bantuan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, semoga bantuan tersebut mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah Swt. Selanjutnya, ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia serta para karyawan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis juga sampaikan kepada ayahanda Prof. Dr. H. Zainuddin Bolong, M.A. atas segala motivasi, arahan, dan saran yang diberikan kepada penulis.
Suami tercinta, Syafriuddin Syarif, serta Ayah dan Ibu mertua H.
Syarifuddin Abdullah dan saudara-saudaraku yang tercinta, Noval Zainuddin, Mufidah Zainuddin, Wardah Zainuddin, Rahmadani Zainuddin, Pascal Zainuddin penulis ucapkan terima kasih atas segala dorongan dan doanya kepada penulis. Terkhusus kepada anak-anakku yang telah banyak
i
pascasarjana. Selanjutnya penulis mengucapkan rasa terima kasih-pula kepada teman-teman yang senantiasa memberikan dorongan motivasi kepada penulis sehingga penulis selalu termotivasi dalam menjalankan kegiatan akademik mulai dari perkuliahan sampai tahap penulisan tesis ini.
Semoga Allah Swt, senantiasa meridhai dan menilai semua usaha yang kita lakukan. Amin.
Makassar, Juni 2015
Penulis
i
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... iv
DAFTAR ISI ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Kajian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
A. Kajian Pustaka ... 9
1. Stilistika ... 9
2. Majas dan Gaya Bahasa ... 13
3. Diksi dan Gaya Bahasa ... 19
4. Pengertian Novel ... 20
5. Novel sebagai Karya Sasatra Bermutu Tinggi ... 24
6. Fakta Kemanusiaan ... 28
7. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat ... 30
i
Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere liye ... 35
C. Kerangka Pikir ... 36
BAB III METODE PENELITIAN ... 40
A. Metode dan Desain Penelitian ... 40
B. Definisi Istilah ... 41
C. Data dan Sumber Data ... 43
D. Teknik Pengumpulan Data ... 43
E. Teknik Analisis Data ... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46
A. Hasil Penelitian... 46
B. Hasil Penelitian Hafalan Shalat Delisa ... 182
C. Pembahasan ... 258
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 265
A. Simpulan ... 265
B. Saran ... 267
DAFTAR PUSTAKA ... 269
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 272
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 273
i
Hj. Odi Tuhfah Zainuddin 2015. Majas dalam Novel Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere liye (sebuah kajian stilistika) dibimbing oleh: Abd. Rahman Rahim, dan Andi Sukri Syamsuri.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan penggunaan majas perbandingan, pertentangan, penegasan, dan majas sindiran dalam novel Rembulan Tenggelam Diwajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere liye. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif maksudnya penelitian ini hanya menggunakan satu metode yakni unsur stilistika yang terkandung dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye dengan orientasi kajian pada aspek majas atau gaya bahasa terhadap kedua novel tersebut. Hal ini didasarkan pada judul penelitian, kajian Stilistika dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye. Hasil pengkajian yang diperoleh dalam penelitian ini adalah majas yang dominan ditemukan dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye adalah majas penegasan jenis repetisi karena majas ini yang paling banyak mewarnai novel, yaitu berjumlah sembilan puluh empat buah dari 139 data majas penegasan. Novel Tere Liye dominan mengunakan majas repetisi dalam novel bertujuan untuk menegaskan dan memperindah ungkapan yang ingin disampaikan dalam novel dalam bentuk perulangan, sehingga pembaca ikut merasakan emosi yang terdapat dalam novel tersebut. Sedangkan novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye berdasarkan hasil analisis data, jenis majas dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye dapat disimpulkan berjumlah enam belas jenis dari 136 data yang dianalisis. Adapun jenis majas yang ditemukan adalah sebagai berikut. Majas perbandingan di tiga puluh tujuh data terdiri dari lima jenis majas yaitu majas alusio, simile, antonomasia, personifikasi, dan sinestesia.
Majas penegasan di delapan puluh dua data yang terbagi dalam delapan jenis majas yaitu pleonasme, repetisi, pararima, tautologi, retoris, elipsis, asindenton, dan polisindenton. Majas pertentangan di tujuh belas data yang terdiri dari tiga jenis majas yaitu hiperbola, antitesis, dan kontradiksi interminus. Majas sindiran tidak ditemukan pada novel. Majas yang dominan ditemukan dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye adalah majas penegasan jenis repetisi karena majas ini yang paling banyak mewarnai novel, yaitu berjumlah enam puluh satu buah data dari delapan puluh dua data majas penegasan.
i
Hj. ODI TUHFAH ZAINUDDIN, 2015. Figure of Speech in Novel
“Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa Written by Tere Liye” (a Study Stylistics), Supervised by Abd. Rahman Rahim and Andi Sukri Syamsuri.
The aimed of this study was to describe the use of a comparison figure of speech, opposition, confirmation, and the figure of speech satire in the novel “Rembulan Tenggelam Diwajahmu dan Hafalan Shalat Delisa” written by Tere Liye. The method used in this research was descriptive method of qualitative research means using only one method that sylistic elements contained in the novel “Rembulan Tenggelam Diwajahmu dan Hafalan Shalat Delisa” written by Tere Liye with the orientation of the study on a figure of speech or style aspects of both the novel. It was based on the title of the study, the study stylistic in “Rembulan Tenggelam Diwajahmu dan Hafalan Shalat Delisa” written by Tere Liye. The assessment results obtained in this study was the dominant figure of speech found in the novel “Rembulan Tenggelam Diwajahmu dan Hafalan Shalat Delisa” written by Tere Liye; was a figure of speech affirmation kind of repetition because this figure of speech which was the most widely coloring novel, which amounted to ninety-four of the 139 figure of speech affirmation of data. Novel Tere Liye dominant figure of speech using repetition in the novel aims to emphasize and embellish expression to be conveyed in the novel in the form of the loop, so the reader to feel the emotion contained in the novel “Hafalan Shalat Delisa Tere liye based on the analysis of data, the type of figure of speech in the novel
“Hafalan Shalat Delisa” written by Tere Liye, could be concluded amount to sixteen kinds of data to be analyzed 136. The type of figure of speech that are found are as follows. Figure comparison in thirty- seven data consists of five types of figure of speech that figure of speech allusion, simile, antonomasia, personification, and synesthesia. Figure of assertion in eighty-two the data were divided into eight kinds of figure of speech that is redundancy, repetition, pararima, tautology, rhetorical, ellipsis, asyndeton, and polisidenton. Figure of contention in seventeen data consisted of three types of figure of speech that is hyperbole, antithesis, and contradictions in teminus. Figure of satire was not found in novel “Hafalan Shalat Delisa” written by Tere Liye; was a figure of speech affirmation kind of repetition because this figure of speech which was the most widely coloring novel, which amounted to sixty-one pieces of data from eighty-two the data affirmation figure of speech.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra merupakan hasil produksi seorang pengarang tidak dapat dipisahkan dari dunia sosial. Kehadiran sastra di tengah peradaban manusia tidak dapat ditolak, bahkan kehadiran tersebut diterima sebagai salah satu realitas sosial budaya. Dalam sastra, pengarang mengekspresikan piranti imajinasinya dan pengalaman batinnya. Seorang pengarang mengekspresikan pesannya dengan menggunakan bahasa sebagai media utamanya untuk mendukung terbangunnya komunikasi antara pembaca dan pengarang. Sebagai produk sosial yang dicipta oleh seorang pengarang melalui sarana bahasa, karya sastra tampaknya menyimpan nilai estetika dengan penggunaan bahasa yang khas oleh pengarangnya.
Bahasa yang digunakan oleh seorang pengarang dalam sastranya adalah bahasa yang mampu mewakilkan keseluruhan aspek imajinasinya dan pengalaman batinnya (Aziz 2011:53). Sebagai produk yang dilahirkan dengan sajian bahasa yang khas oleh pengarangnya, sastra memiliki genre yang berbeda dengan karya tulis semacam deskripsi ilmiah ataupun karangan eksposisi. Sastra yang dihasilkan pengarang tentu tidak dapat dipisahkan dengan aspek penggunaan varian bahasa atau gaya bahasa yang mampu memberi efek kepada khalayak pembacanya. Selain itu, bahasa yang
1
digunakan pengarang merupakan bahasa secara umum dapat diartikan sebagai bahasa yang dapat mewakilkan lapisan makna atas pembacanya.
Menurut Bakker (2012:14), bahwa sastra agar bisa dipahami sepenuhnya, karya-karya sastra harus disisipkan kembali ke dalam sistem relasi-relasi sosial yang menopangnya. Yang seperti ini tidak serta-merta berarti penolakan terhadap ciri-ciri estetis atau formal, melainkan lebih merupakan sebuah analisis yang didasarkan pada posisi ciri-ciri itu terkait semesta kemungkinan tempat mereka berada. Di dalam semesta kepercayaan inilah harus dipertimbangkan “bukan hanya produksi material tetapi juga produksi simbolis sebuah karya, yaitu produksi nilai sebuah karya atau, yang agak mirip, kepercayaan pada nilai karya”. Ini mencakup pemahaman terhadap fungsi-fungsi mediator artistik (penerbit, kritikus, agen, marchand, akademisi, dan lain sebagainya) sebagai produsen makna dan nilai karya. Maka alih-alih sekadar tempat mewujudnya kreativitas individual (seperti pemahaman romantik) atau ‘ke-sastra-an’ (literariness) (seperti yang dikatakan kaum formalis), setiap karya adalah ekspresi arena secara keseluruhan. Di dalam kerangka pikir inilah analisis internal semata-mata tidaklah cukup dan menjadi terlalu reduktif. Apa yang dikatakan oleh Boerdieu, merupakan asumsi yang dapat menguatkan pembaca bahwa sastra dikemas dan ditulis oleh seorang pengarang dengan menggunakan bahasa yang mampu menonjolkan kekhasan tersendiri bagi pembacanya
demi melahirkan nialai estetik yang mampu memberi efek kepada pembaca dan pengkajinya.
Selain sebagai wujud estetika, sastra juga merupakan lahan yang mampu memberi banyak manfaat bagi pembacanya. Selain nilai kepuasan yang dimaksudkan sebagai buah efek estetisnya juga dapat dijadikan sebagai bahan refleksi untuk memandang duni pembaca dan dunia pengarang atas kondisi sosial yang melingkunginya. Sastra juga diharapkan dapat memberi kepuasan estetik dan kepuasaan intelektual bagi pembaca.
Seringkali karya sastra itu tidak mampu dinikmati dan dipahami sepenuhnya oleh sebagian besar anggota masyarakat, dalam hubungan tersebut perlu adanya penelaahan dan penelitian sastra. Apabila dihubungkan dengan kajian stilistika, karya sastra tentu memiliki hubungan yang sangat erat, oleh karena karya sasatra diciptakan pengarangnya tak terlepas dari unsure estetika. Unsure estetika tentu didukung oleh aspek style atau gaya.
Aspek stilistika dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa Karya Tere Liye merupakan gambaran terhadap realitas sosial teks sastra yang berhubungan dengan relasi sosial kemasyarakatan dengan sajian bahasa yang bernuansa estetik. Sehubungan dengan pandanga tersebut peneliti bermaksud mengadakan pengkajian terhadap novel Tere Liye yang berjudul Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa dengan menggunakan pendekatan stilistika.
Pendekatan stilistika dipandang sebagai sebuah pendekatan yang mampu
memberi ruang analisis bagi peneliti dengan melihat unsur gaya bahasa dalam karya sastra yang dimaksudkan. Hal itu sejalan denga uraian pada bagian awal pendahuluan dalam karya tulis ini bahwa, sebagai produk yang dilahirkan dengan sajian bahasa yang khas oleh pengarangnya, sastra memiliki genre yang berbeda dengan karya tulis semacam deskripsi ilmiah ataupun karangan eksposisi. Untuk itu, peneliti memandang memiliki relevansi kajian stilistika dengan sajian bahasa yang digunakan oleh pengarang melalui unsur gaya bahasa dalam navel Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa yang ditulis oleh Tere Liye.
Karya sastra merupakan sebuah stuktur yang kompleks. Karena itu, untuk memahami karya sastra maka harus dianalisis, namun sebuah analisis yang tidak tepat hanya akan mengahasilkan kumpulan data yang tak saling berhubungan atau kabur dalam interpretasi. Pada tataran struktur, bagian- bagian yang mencerminkan unsur sebuah karya bukanlah masala yang hakiki, melainkan yang esensial ada pada kemampuan setiap bagian tersebut berhubungan secara fungsional. Sehubungan dengan hal di atas, bahwa dalam analisis cerita, haruslah dapat dipahami sebagai bagian dari keseluruhan. Tiap unsur dalam situasi tertentu tidak memunyai arti dengan sendirinya, melainkan ditentukan oleh hubungannya dengan unsur lainnya yang terlibat dalam situasi itu. Makna penuh suatu satuan dapat dipahami jika teritegrasi ke dalam struktur secara keseluruhan dalam satuan itu. Artinya
untuk pembacaan terhadap teks sastra maka haruslah jelas pisau analisis yang digunakan oleh seorang pengkaji sastra.
Novel Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye disajikan dengan menggunakan bahasa yang mampu memberi efek yang sangat tinggi bagi pembacanya. Selain itu, novel tersebut tentu syarat dengan sajian gaya bahasa yang digunakan oleh pengarangnya demi mewakilkan makna dalam karyanya tersebut. Hal itulah yang menjadi daya tarik bagi peneneliti untuk mengkaji novel tersebut.
Dalam pengkajian ini, intensitas karya sastra baik ciri khas, kepribadian, cita-cita, dan juga norma-norma tetap dalam bingkai pengarang.
Artinya, peneliti hanya akan menganalis novel Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye dengan menggunakan prespektif stilistika. Hal yang menjadi unsur stilistika dalam kajian sastra adalah salah satunya unsur bangunan gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam sastranya. Pendekatan stilistika menganut paham bahwa unsur pokok sastra adalah bahasa. Bahasa yang digunakan dalam karya sastra itu mempunyai kaitan pula dengan sastrawan. Selanjutnya untuk mendukung pengkajian terhadap novel Rembulan Tenggelam Diwajahmu karya Tere Liye maka peneliti memandang perlua adanya pengkajian yang relevan dengan kajian ini.
Penelitian terdahulu dilakukan oleh Darmawati tahun 2010 dengan judul Gaya Bahasa pada Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El
Shirazy. Hasil penelitian Darmawati tahun 2010 menunjukkan bahwa kelompok gaya bahasa perbandingan meliputi gaya bahasa perumpamaan/simile, metafora, personifikasi, alegori. Penggunaan gaya bahasa pertentangan meliputi gaya bahasa hiperbola (yang paling sering digunakan), litote, ironi, satire, paradoks, klimaks, antiklimaks, dan sarkasme.
Kelompok gaya bahasa pertautan meliputi gaya bahasa metonimia, sinekdoke, erotis, paralelisme, gradasi, asindeton dan polisendeton.
Penggunaan kelompok gaya bahasa perulangan meliputi gaya bahasa aliterasi, asonansi, anafora, simploke, apanaplepsis, anadiplosis, kontradiksio in terminis.
Penelitian lain yang relevan dengan pengkajian ini adalah Sumarling 2004 yang mengakaji Kelong Passingaian tu Lembang. Sumarling mengkajia dengan aspek semiotika atau unsur simbol bahasa terhdap kelong tersebut.
Melihat kajian-kajian tersebut peneliti memandang bahwa, sastra memiliki ruang yang dapat dianalisis sebagai salah satu langkah untuk mengungkap hal yang relevan dengan pengkajain aspek kebahasaan. Dengan demikian peneliti bermaksud mengadakan pengkajain terhadap novel Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye dengan menggunakan pendekatan stilistika.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam pengkajian ini, dirumuskan sebagai berikut;
1. Bagaimanakah penggunaan majas perbandingan yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye?
2. Bagaimanakah penggunaan majas model penegasan yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye?
3. Bagaimanakah penggunaan majas model pertentangan yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye?
4. Bagaimanakah penggunaan majas sindiran yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye?
C. Tujuan Kajian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan penggunaan majas model perbandingan yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
2. Mendeskripsikan penggunaan majas model penegasan yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
3. Mendeskripsikan penggunaan majas model pertentangan yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye.
4. Mendeskripsikan penggunaan majas sindiran yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil pengkajian yang diperoleh berdasarkan tujuan penulisan ini, maka diharapkan dapat bermanfaat secara teoretis dan praktis.
1. Manfaat Teoretis
a. Sebagai rujukan atau referensi kepada pembaca di dalam menggunakan kajian stilistika terhadap karya sastra.
b. Dijadikan sebagai bahan perbandingan di dalam mengkaji persoalan-persoalan karya sastra.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan kontribusi pengembangan khasanah ilmu pengetahuan, pada umumnya dan kajian sastra pada khususnya.
b. Membantu pembaca memahami aspek stilistika yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
c. Membantu pembaca atau penikmat sastra dalam memahami nilai- nilai yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
Untuk mendukung sebuah analisis dalam pengkajian pustaka maka, diperlukan kajian pustaka yang memiliki relevansi demi menopang tercapainya analisis yang kompleks.
1. Stilistika Bahasa
Pradopo (2000: 264) mengartikan stilistika sebagai ilmu yang mempelajari gaya bahasa. Penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra dilakukan dengan berbagai cara agar dapat menyumbangkan nilai kepuitisan atau estetis karya sastra, bahkan sering kali nilai seni suatu karya sastra ditentukan oleh gaya bahasanya.
Menurut Noor (2005: 118) bahwa stilistika berasal dari kata style yang artinya gaya. Style atau gaya adalah cara khas yang dipakai seseorang untuk mengungkapkan diri. Cara pengungkapan tersebut dapat meliputi setiap aspek bahasa (kata-kata, kiasan-kiasan, susunan kalimat, nada, dan sebagainya).
Stilistika membicarakan bagaimana memahami dan mengkaji sastra dari segi penggunaan bahasa pengarang. Atmazaki (1993: 152) mengemukakan bahwa stilistika sebenarnya merupakan salah satu
10
pendekatan dalam kritik sastra, yaitu kritik sastra yang menggunakan linguistik sebagai dasar kajian. Kajian stilistika berkaitan dengan bagaimana kata-kata yang digunakan pengarang dapat menimbulkan efek dan makna tertentu.
Pengertian stilistika juga dipaparkan oleh Sudjiman, stilistika adalah ilmu yang digunakan untuk mengkaji cara sastrawan memanipulasi, dengan arti memanfaatkan unsur dan kaidah yang terdapat dalam bahasa dan efek apa yang ditimbulkan oleh pengarang itu (1993: 3). Stilistika bisa diartikan sebagai gaya bahasa yang digunakan pengarang sebagai upaya menimbulkan efek dan makna tertentu bagi pembaca.
Pendekatan stilistika di dalam sastra bertolak dari pandangan bahwa isi pokok karya sastra itu ada dua, yang pertama adalah bahasa dan kedua adalah isi yang berupa tema, pemikiran, dan falsafah. Pendekatan stilistika menganut paham bahwa unsur pokok sastra adalah bahasa. Pendekatan stilistika memberikan perhatian utama terhadap tampilan bahasa di dalam karya sastra. Hal-hal yang terkait, yaitu:
1. Bentuk dan variasi kalimat, klausa, frase, kata, bunyi, dan majas.
2. Bentuk-bentuk penyimpangan dari struktur bahasa natural.
3. Manipulasi bunyi, kata, ungkapan, frase, kalimat, dan wacana dalam penciptaan gaya.
4. Pilihan kata yang tepat.
5. Pencampuran berbagai gaya dalam suatu karya sastra.
6. Analisis pemakaian kata dalam kalimat, kalimat dalam paragraf, dan paragraf dalam wacana.
7. Pemakaian dialek daerah atau ragam bahasa nonformal.
8. Aspek makna.
Kaitannya dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk menghindari kritik sastra yang bersifat impresionisdan subyektif. Melalui kajian stilistika ini, diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria obyektifitas dan keilmiahan. Pada kritik sastra, prosedur analisis yang digunakan dalam kajian stilistika, diantaranya: analisis aspek dalam gaya bahasa, analisis aspek-aspek kebahasaan, serta analisis gagasan makna yang dipaparkan dalam karya sastra.
Hal-hal yang dianalisis dengan pendekatan stilistika, antara lain:
1. Analisis aspek bunyi dan fonem, hal tersebut biasa dilakukan terhadap puisi yang banyak memanfaatkan bunyi-bunyi untuk mencapai keindahannya, serta dalam fiksi yang menggunakan permainan bunyi.
2. Analisis pilihan kata. Pilihan kata yang tepat dengan pemakaian yang tepat memberi pengaruh yang besar terhadap penciptaan gaya dan keindahan gaya.
3. Analisis aspek kalimat. Dalam kaitan dengan kalimat, yang harus diperhatikan adalah penggunaan berbagai variasi kalimat dengan
menyesuaikannya dengan suasana dan kondisi peristiwa. Begitu pula dengan aspek deviasi atau penyimpangan di dalamnya.
4. Analisis aspek wacana. Sebelum menganalisis dari aspek wacana, perlu pemisahan antara wacana fiksi, wacana puisi, serta wacana drama. Sebab, ketiganya mempunyai struktur fisik yang berbeda.
5. Aspek semantik. Aspek semantik juga perlu dianalisis menggunakan pendekatan stilistika, sebab terkadang penggunaan bahasa di dalam karya sastra sukar dipahami atau ditangkap maknanya.
6. Analisis unsur dramatisasi bahasa. Bahasa yang didramatisasi biasa disebut bahasa figuratif, bahasa kias, atau majas.
7. Gaya personal pengarang atau penyair. Pengarang atau penyair merupakan pelaku utama terciptanya sebuah karya sastra. Apapun yang tampak dalam sebuah karya sastra, baik bentuk maupun isi, adalah buah tangan sastrawan. Bila sebuah karya sastra dinilai baik atau buruk, maka penilaian itu akan membias pada penulisnya.
Sudjiman (1993) mengemukakan bahwa titik berat pengkajian stilistika terletak pada peggunaan bahasa dan gaya bahasa suatu wacana dengan tujuan utama untuk meneliti efek estetik bahasa.
Gaya bahasa mencakup pilihan kata/leksikal, struktur kalimat, pola irama, kias dan matra. Untuk menentukan gaya khas penulis, seorang
pengkaji atau peneliti perlu membaca dan menelaah penggunaan bahasa dalam berbagai karya tulis.
Dengan kata lain, hal-hal yang dianalisis menggunakan pendekatan stilistika dapat bersifat fonologis (pola bunyi bahasa, mantra, rima), sintaksis (tipe struktur kalimat), leksikal (diksi, frekuensi penggunaan kelas kata tertentu), atau retoris (majas, citraan). Dari keseluruhan aspek kajian stilistika di atas, mapa penulis memandang bahwa kajian stilistika merupakan kajian kebahasaan yang harsu didukung oleh kedalaman pemahaman terhadap aspek kebahasaan. Untuk itu demi menghindari kekeliruan dalam analisis terhadap novel Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye dengan menggunakan pendekatan stilistika maka peneliti ahanya mengkaji dua aspek yaitu: Bagaimanakah unsur pilihan kata (diksi) yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye dan Bagaimanakah unsur kalimat (sintaksis) dalam novel Rembulan Tenggela di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
2. Majas dan Gaya Bahasa
Berbicara tentang majas dan gaya bahasa, para pakar bahasa memberikan batasan bahwa majas dan gaya bahasa merupakan kata yang bersinonim (Halima 2012:82). Menurut Ide Said 2006:54, bahwa majas adalah kata kiasan yang digunakan oleh seorang pengguna bahasa dalam
menyampaikan pesannya kepada pembaca baik itu secara lisan maupun tulisan. Selanjutnya gaya bahasa adalah bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek (Minderop, 2005: 51).
Dengan gaya bahasa, seorang penyair dapat memperkaya makna sehingga ia dapat menggapai pesan yang diinginkan secara lebih intensif hanya dengan sedikit kata. Keraf (2009: 117) mengungkapkan bahwa berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Artinya, gaya bahasa mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi tertentu.
Menurut Siswantoro (2010: 115), gaya bahasa (figure of speech) adalah suatu gerak membelok dari bentuk ekspresi sehari-hari atau aliran ide-ide yang biasa untuk menghasilkan suatu efek yang luar biasa. Dengan demikian gaya adalah kualitas bahasa yang merupakan ekspresi langsung pikiran dan perasaan. Tanpa adanya proses hubungan yang harmonis antara kedua gejala tersebut, maka gaya bahasa tidak ada. Dalam aktivitas kreatif komunikasi antara pikiraan dan perasaan diproduksi secara terus-menerus sejak awal hingga akhir cerita, sehingga keseluruhan karya dapat dianggap sebagai memiliki gaya bahasa.
Aminuddin (2008) menegaskan bahwa gaya merupakan perwujudan penggunaan bahasa seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya.
Penggunaan gaya bahasa menjadikan karangan lebih segar dan berkesan sehinga menarik minat pembaca. Gaya bahasa merupakan ekspresi yang personal. Artinya, gaya bahasa dipandang sebagai ekspresi pribadi penulis dalam menuangkan masalah-masalah yang diangkat dalam karangannya.
Berdasarkan kaitan kata dengan objek, gaya dibagi menjadi gaya konseptual dan gaya indrawi, ringkas atau bertele-tele, merendahkan atau melebih-lebihkan, jelas atau kabur, tenang atau menggebu-gebu, tinggi atau rendah, sederhana atau berbunga-bunga. Berdasarkan hubungan antarkata, gaya bisa diklasifikasikan menjadi gaya tegang atau lepas, plastik atau musikal, halus atau kasar, tidak berwarna atau berwarna-warni. Berdasarkan kaitan kata dengan sistem total bahasa, gaya bisa dibagi menjadi gaya lisan atau tulisan, klise atau unik. Berdasarkan hubungan kata dengan pengarangnya, ada gaya yang objektif dan subjektif. Klasifikasi menurut Wellek dan Austin (2014: 205) ini dapat diterapkan ke bermacam-macam ujaran linguistik, tetapi bahan yang paling banyak dipakai adalah karya sastra untuk tujuan analisis gaya sastra.
Fungsi gaya bahasa dalam karya sastra yang dikemukakan oleh Al- Ma’ruf (2009: 15) adalah (1) meninggikan selera, artinya dapat meningkatkan minat pembaca atau pendengar untuk mengikuti apa yang disampaikan pengarang atau pembicara; (2) mempengaruhi atau meyakinkan pembaca atau pendengar, artinya dapat membuat pembaca semakin yakin dan mantap terhadap apa yang disampaikan pengarang atau pembicara; (3) menciptakan keadaan perasaan hati tertentu, artinya dapat membawa pembaca hanyut dalam suasana hati tertentu, seperti kesan baik atau buruk, perasaan senang atau tidak senang, benci, dan sebagainya setelah menangkap apa yang dikemukakan pengarang; dan (4) memperkuat efek terhadap gagasan, yakni dapat membuat pembaca terkesan oleh gagasan yang disampaikan pengarang dalam karyanya.
Pembagian unsur gaya bahasa yang dilakukan dengan menghubungkan antara pembagian unsur menurut Abrams dan Leech &
Short (dalam Nurgiyantoro, 2007: 290-310) adalah sebagai berikut.
a. Unsur Leksikal
Unsur leksikal sama pengertiannya dengan diksi, yaitu segala yang mengacu pada pengertian penggunaan jenis kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang. Untuk keperluan analisis leksikal sebuah karya fiksi dapat dilakukan berdasarkan tinjauan secara umum dan jenis kata, yang keduanya saling melengkapi.
b. Unsur Gramatikal
Unsur gramatikal menyaran pada pengertian struktur kalimat. Kegiatan analisis kalimat, di samping berdasarkan bentuk-bentuk penyimpangan di atas, juga dapat dilakukan terhadap hal-hal atau dengan cara-cara berikut, baik hanya diambil sebagian maupun seluruhnya, bahkan jika dipandang perlu dapat ditambah dengan unsur lain, (1) kompleksitas kalimat, (2) jenis kalimat, dan (3) jenis klausa dan frase.
c. Retorika
Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis yang dapat diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa. Retorika berkaitan dengan pendayagunaan semua unsur bahasa, baik yang menyangkut masalah pilihan kata dan ungkapan, struktur kalimat, segmentasi, penyusunan dan penggunaan bahasa kias, pemanfaatan bentuk citraan, dan lain-lain yang semuanya disesuaikan dengan situasi dan tujuan penuturan.
Menurut Pradopo (2007: 271) untuk dapat menangkap makna karya sastra secara keseluruhan, lebih dahulu diterangkan gaya bahasa dalam wujud kalimat atau sintaksisnya, kemudian diikuti analisis gaya kata, dan yang terakhir analisis gaya bunyi. Dalam gaya kalimat, sajak memerlukan kepadatan dan ekspresivitas karena sajak itu hanya mengemukakan inti masalah atau inti pengalaman. Gaya dalam wujud kalimat tampak dalam
baris-baris atau kalimat-kalimat yang terdapat dalam jenis gaya bahasa berikut.
a. Simile
Menurut Nurgiyantoro (2007: 298), Simile menyaran pada adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit, dengan menggunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keeksplisitan seperti: seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip, dan sebagainya.
b. Metafora
Gaya perbandingan yang bersifat tidak langsung dan implisit.
Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugestif, tidak ada kata-kata penunjuk perbandingan eksplisit sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua (Nurgiyantoro, 2007:299).
c. Personifikasi
Gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda mati atau barang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan (Keraf dalam Siswantoro, 2010: 15)
d. Hiperbola
Nurgiyantoro (2007: 300) menuturkan bahwa hiperbola merupakan suatu cara penuturan yang bertujuan menekankan maksud dengan sengaja melebih-lebihkannya. Tujuan dari majas hiperbola adalah untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang yang membaca kalimat tersebut.
e. Pleonasme
Gaya dengan acuan yang menggunakan kata-kata lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan (Keraf, 2009:133). Bila kata yang berlebihan itu dihilangkan, artinya atau maknanya tetap utuh.
f. Metonimi
Sebuah gaya yang menunjukkan adanya pertautan atau pertalian yang dekat (Nurgiyantoro, 2007: 299-300).
g. Sinekdoke
Sinekdoke menurut Nurgiyantoro (2007: 300) adalah gaya yang tergolong gaya pertautan, mempergunakan sebagian untuk menyatakan keseluruhannya (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totem pro parte).
h. Paradoks
Gaya paradoks menurut Nurgiyantoro (2007: 300) adalah cara penekanan penuturan yang sengaja menampilkan unsur pertentangan di dalamnya.
3. Diksi atau Pilihan Kata
Penulis atau pengarang pasti berhadapan dengan masalah pemilihan kata. Pemilihan kata menurut Alek dan Achmad (2010: 232-234) dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, memilih kata baik secara
denotasi yang bermakna arti harfiah atau sebenarnya maupun konotasi yang bersifat pribadi dan bergantung pada pengalaman orang seorang dengan kata atau dengan barang atau gagasan yang diacu oleh kata itu. Kedua, memilih kata di antara kata konkret dan kata abstrak. Kata konkret mengacu ke barang yang spesifik di dalam pengalaman kita, kata konkret dapat efektif dalam karangan pengisahan (narasi) dan deskripsi karena merangsang pancaindra. Kata abstrak merujuk sifat, ke nisbah, dan gagasan. Kata abstrak sering dipakai untuk mengungkapkan gagasan yang rumit. Kata abstrak mampu menjelaskan perbedaan yang halus di antara gagasan yang bersifat teknis dan khusus. Ketiga, pemilihan kata dilakukan di antara kata umum dan kata khusus. Kata umum dipakai untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum sedangkan kata khusus digunakan untuk seluk beluk atau perincian dari kata umum.
Diksi atau pilihan kata menurut Halimah (2013: 70) adalah pemilihan kata-kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi merujuk pada gaya ekspresi penulis atau pembicara.
Widyamartaya (1990 :45) menjelaskan bahwa diksi atau pilihan kata adalah kemampuan seseorang membedakan secara tepat nuansa -nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikannya, dan kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca. Diksi
atau pilihan kata selalu mengandung ketepatan makna dan kesesuaian situasi dan nilai rasa yang ada pada pembaca atau pendengar.
Pendapat lain dikemukakan oleh Keraf (2006: 24) yang menurunkan tiga kesimpulan utama mengenai diksi, antara lain sebagai berikut.
a. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat.
b. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai atau cocok dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
c. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan dan pemakaian kata oleh pengarang dengan mempertimbangkan aspek makna kata yaitu makna denotatif dan makna konotatif sebab sebuah kata dapat menimbulkan berbagai pengertian.
Halimah (2013: 73) menjelaskan bahwa diksi berfungsi (1) melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal; (2) membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca; (3) menciptakan komunikasi yang baik dan benar; (4) menciptakan suasana yang tepat; (5)
mencegah perbedaan penafsiran; (6) mencegah salah pemahaman; dan (7) mengefektifkan pencapaian target komunikasi.
4. Pengertian Novel
Novel berasal dari bahasa Italia “novella” (yang dalam bahasa Jerman:
novella). Secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Istilah novella atau novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah novelette yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Abrams, dalam Nurgiyantoro, 2007: 9).
Sumardjo dan Saini (1994: 29) memaparkan bahwa novel merupakan salah satu karya sastra imajinatif yang merupakan hasil dari pemikiran rekaan manusia. Jenis fiksi ini memuat cerita yang kompleks mengenai kehidupan seseorang maupun masyarakat.
Novel menurut Stanton (2007: 90) mampu menghadirkan perkembangan satu karakter, situasi sosial yang rumit, hubungan yang melibatkan banyak atau sedikit karakter, dan berbagai peristiwa rumit yang terjadi beberapa waktu silam secara lebih mendetail. Dengan demikian dalam novel, pelukisan tentang perkembangan watak tokoh digambarkan secara lebih lengkap. Novel menawarkan sebuah dunia, dunia imajinatif, yang
menampilkan rangkaian cerita kehidupan seseorang yang dilengkapi dengan peristiwa, permasalahan, dan penonjolan watak setiap tokohnya.
Cerita rekaan atau novel adalah salah satu genre sastra yang dibangun oleh beberapa unsur. Waluyo (2005: 136) menyatakan bahwa cerita rekaan (dalam hal ini novel) adalah wacana yang dibangun oleh beberapa unsur. Unsur-unsur itu membangun suatu kesatuan, kebulatan, dan regulasi diri atau membangun sebuah struktur. Struktur dalam novel merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur- unsurnya terjadi hubungan timbal balik, saling menentukan untuk membangun kesatuan makna. Unsur-unsur itu bersifat fungsional, artinya dicipta pengarang untuk mendukung maksud secara keseluruhan dan maknanya ditentukan oleh keseluruhan cerita itu. Secara garis besar, unsur novel tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan atau sistem organisasi karya sastra. Atau secara lebih khusus, sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya.
5. Novel Sebagai Karya Sastra Bermutu Tinggi
Karya sastra novel dapat berfungsi sebagai media alternatif yang dapat menghubungkan kehidupan manusia masa lampau, masa kini, masa yang akan datang, juga dapat berfungsi sebagai bahan informasi masa lalu yang berguna dalam upaya merancang peradaban manusia ke arah kehidupan yang lebih baik dan bergairah di masa depan.
Dalam tulisan Rapi Tang (2007:4) Wellek dan Warren mengemukakan bahwa dalam aliran kritik Hegel dan Taine, kebesaran sejarah dan sosial karya sastra adalah “dokumen karena merupakan monumen”
(“document because they are monument”).
Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa.
Sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia. Sastra mencerminkan hidup dan mengekspresikan hidup karena pengarang tidak bisa tidak mengekspresikan pengalaman dan pandangannya tentang hidup, meskipun kehidupan dan zaman yang diekspresikan tidak secara konkrit atau menyeluruh.
Sastra pada hakikatnya berkaitan dengan berbagai cabang ilmu.
Hakikat sastra ini dapat kita jelaskan dari sudut pengarang, pembaca, atau dari sudut karya sastra itu sendiri. Seorang sastrawan yang akan mencipta sastra sangatlah dituntut memiliki kompetensi bahasa. Hal Inilah yang memungkinkan ide, gagasan, atau perasaan yang akan diungkapkan
dapat disampaikan. Kompetensi dimaksud bukan hanya sekadar mengetahui kaidah-kaidah yang berlaku atau memahami sistem yang ada pada suatu bahasa. Sastrawan dituntut lebih dari itu. Sastrawan sangat dituntut mampu mengolah bahasa yang akan digunakannya itu secara kreatif sehingga menimbulkan daya pesona bagi pembacanya. Selain itu, ide atau gagasan dan juga perasaan yang akan diungkapkan itu merupakan pengalaman batin sastrawan yang telah melalui proses yang melibatkan berbagai pengetahuan yang dimiliki dan menghendaki pula wawasan yang luas.
Atas dasar kenyataan sastra seperti itu, Tomars dalam tulisan Tang (2007:5) mengatakan lembaga estetik adalah lembaga sosial dari satu tipe tertentu, dan sangat erat dengan tipe-tipe lainnya (“Esthetic institutions are not based upon social institutions they are not one type and intimately interconnected with those other”).
Relevansi karya sastra dengan berbagai aspek kemanusiaan atau kemasyarakatan, memberi peranan yang cukup penting sebagai suatu lembaga atau institusi yang dapat dijadikan acuan dalam memahami gejala sosial yang pernah dan atau sedang berkembang pada suatu etnis atau suatu bangsa.
Diperguruan Tinggi, pembelajaran sastra tidak terlepas dari kegiatan pendidikan. Pembelajaran lebih menekankan pada usaha perpindahan atau pengawasan pengetahuan, kecakapan dan pembinaan keterampilan kepada mahasiswa serta dapat mengetahui lingkungan
kebudayaan. Sedangkan pendidikan lebih menekankan usaha pembentukan nilai-nilai hidup, sikap norma-norma, dan pribadi mahasiswa. Setiap perilaku tersebut tidak terlepas dari usaha pembentukan pribadi individu. Pembelajaran sastra bertujuan untuk membina apresiasi sastra, mahasiswa dapat lebih kreatif, yaitu membina agar memiliki kesanggupan untuk memahami, menikmati dan menghargai suatu karya sastra. Pembinaan apresiasi sastra dan pembelajaran sastra melalui usaha mendekatkan kepada sastra yakni, menumbuhkan rasa peka, dan rasa cinta kepada sastra dan menumbuhkan minat baca mahasiswa terhadap karya sastra. Dengan usaha ini diharapkan pembelajaran sastra dapat membantu menumbuhkan aspek kejiwaan, sehingga terbentuk suatu pertumbuhan pribadi yang utuh.
Pentingnya membedakan makna pengajaran dan pembelajaran dalam sastra. Jika pengajaran lebih mengacu pada 'instruksi' tunggal dari guru ke murid, pembelajaran mengandung muatan yang lebih luas. Dari aspek strategi, pembelajaran memungkinkan mahasiswa menuntut apa yang mereka inginkan, sehingga model strategi mengajar yang dipakai juga seyogyanya membuka peluang tumbuhnya kreativitas pada mahasiswa.
Hal tersebut dapat dilaksanakan bila diawali dari pengertian apresiasi yang mencakup kegiatan psikologi seperti pemahaman, peningkatan dan penilaian. Kegiatan pemahaman menuntut kemampuan
mahasiswa berpikir secara kritis dan logis; kegiatan peningkatan akan menimbulkan rasa peka dari berbagai segi emosi mahasiswa sedangkan kegiatan penilaian akan menumbuhkan daya imajinatif dan sifat kreatif mahasiswa termasuk kemampuan memberikan penafsiran dan interpretasi.
Pembaca memiliki kebebasan memberikan makna atau arti sebuah karya sastra. Setiap orang (pembaca) dapat memberikan makna, arti, dan respon terhadap karya sastra yang dibaca atau dinikmatinya. Makna dan arti karya itu dikaitkan dengan pengalaman batin pembaca, pengalaman hidup pembaca, dari situlah makna dibangun. Dengan demikian terjadilah keberanekaragaman makna dari setiap karya sastra. Teori ini dipopulerkan di Indonesia oleh Prof. Umar Yunus. Melihat pentingnya novel sebagai bagian dari mode dunia untuk merefleksi keseluruhan pola hidup manusia maka novel dapat dipandang sebagai karya yang bermutu tinggi.
Novel sebagai sebuah karya sastra menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model. Kehidupan yang ideal, dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsik seperti plot atau alur, penokohan, latar, dan sudut pandang yang imajinatif. Walaupun bersifat noneksistensial (dengan sengaja dikreasikan oleh pengarang) namun dibuat mirip, diimitasikan, dan dianalogikan dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa sehingga tampak sungguh-sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995 : 4).
Menurut Sumardjo (1994: 30), novel dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Novel Pop (Populer)
Novel populer adalah novel yang hanya mengambil tema-tema yang sedang trend atau sedang populer walaupun itu bersifat fiktif, dibuat dan mengesampingkan isi pesan yang dimuat dalam novel tersebut. Penulis hanya memikirkan bagaimana novel tersebut laku keras atau banyak disukai oleh para pembaca, karena novel ini dibuat hanya untuk nilai konsumtif dan bersifat komersial.
b. Novel Serius
Novel serius mengangkat tema-tema universal yang sedang dihadapi oleh masyarakat dengan harapan mampu mengubah atau memberikan kontribusi pada masyarakat atau pembaca agar mau mengikuti apa yang diinginkan oleh penulis. Novel ini lebih mengutamakan isi pesan daripada sekadar hayalan-hayalan fiktif yang banyak disukai masyarakat atau pembaca saat ini.
6. Fakta Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktivitas atau perilaku manusia baik yang ferbal maupun yang fisik, yang berusaha dipamahi oleh ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas
politik tertentu, maupun kreasi cultural seperti filsafat, seni rupa, seni musik, seni patung, dan seni sastra. Dalam wujudnya yang bermacam-macam, fakta-fakta kemanusiaan itu pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta yang kedua mempunyai peranan dalam sejarah sedangkan fakta yang pertama tidak memiliki hal tersebut. Fakta yang pertama hanya merupakan hasil dari perilaku libidirial seperti mimpi, tingkah laku orang gila, dan sebagainya yang berbeda dengan fakta yang pertama.
Goldmann dalam (Faruk 1994) menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang berarti. Yang dimaksudkannya adalah fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai fakta-fakta kemanusiaan harus memperhatikan struktur dan artinya. Fakta-fakta kemanusiaan dapat dikatakan memiliki arti karena merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual (Faruk, 1999). Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungan dengan dunia di sekitarnya.
Dengan meminjam teori psikologi Piaget, Goldmann menganggap bahwa kecenderungan di atas merupakan perilaku yang alamiah pada manusia secara umum. Menurut Piaget (Faruk, 1994), manusia dan lingkungan sekitarnya selalu berada dalam proses strukturasi timbal balik yang saling bertentangan, tetapi sekaligus mengisi. Kedua proses itu adalah
proses asimilasi dan proses akomodasi. Disatu pihak manusia selalu berusaha mengasimilasikan lingkungan sekitarnya ke dalam skema pikiran dan tindakannya, tetapi dilain pihak, usahanya itu tidak selalu berhasil karena berhadapan terhadap dengan rintangan-rintangan di antaranya:
a. Kenyataan bahwa sektor-sektor kehidupan tertentu tidak menyadarkan dirinya pada integrasi dalam struktur yang dielaborasikan.
b. Kenyataan bahwa semakin lama penstrukturan dunia eksternal itu semakin sukar dan bahkan semakin tidak mungkin dilakukan.
Kenyataan bahwa individu-individu dalam kelompok, yang bertanggung jawab atas lahirnya proses keseimbangan, telah mentransformasikan lingkungan sosial dan fisiknya sehingga terjadi proses yang mengganggu keseimbangan dalam proses strukturasi itu.
Dalam proses strukturasi dan akomodasi yang terus-menerus itulah suatu karya sastra sebagai fakta kemanusiaan, sebgai hasil aktivitas kultural manusia, memperoleh artinya. Proses tersebut sekaligus merupakan genesis dari struktur karya sastra.
7. Sastra Sebagai Cerminan Masyarakat
Pandangan bahwa setiap karya sastra itu mencerminkan masyarakat dan zamannya pada umumnya dianut oleh kritikus akademik (Soekito, 1990:1). Pandangan ini semata-mata sering muncul dalam penelitian berupa skripsi, tesis, disertasi, dan sejumlah penelitian kecil. Penelitian tersebut
berusaha mengungkapkan karya sastra tertentu, terutama novel karya penulis terkenal, untuk melihat refleksi masyarakat di dalamnya. Bahkan, kadang-kadang ada yang mencoba merelevansikan dengan zaman yang sedang berjalan. Mungkin, hasil penelitian tersebut telah menumpuk demikian banyak di rak perpustakaan.
Secara umum hubungan sosiologi dan sastra sangat erat, oleh karena sosiologi melingkungi karya sastra diciptakan. Hubungan keduanya, sebenarnya yang menjadi obsesi penelitian sosiologi sastra. Penelitian hendaknya mampu menarik kejelasan hubungan keduanya dan kaitan ini, ada beberapa strategi yang patut ditempuh, yaitu mencoba mendekati karya sastra dari struktur dalam: rima, metafora, irama, lukisan, watak dan sebagainya dihubungkan dengan masyarakat.
Itulah sebabnya, secara esensial sosiologi sastra meneliti tentang: (a) studi ilmiah manusia dan masyarakat secara obyektif, (b) studi lembaga- lembaga sosial lewat sastra dan sebaliknya, (c) studi proses sosial, yaitu sebagaimana masyarakat bekerja, bagaimana masyarakat mungkin, dan sebagaimana mereka melangsungkan hidupnya. Studi macam itu secara ringkas merupakan penghayatan teks sastra terhadap stuktur sosial. Aspek- aspek sosiologis yang terpantul dalam karya sastra tersebut, selanjutnya dihubungkan dengan beberapa hal, yaitu: (a) konsep stabilitas sosial, (b) konsep kesinambungan masyarakat yang berbeda, (c) bagaimana seorang individu menerima individu lain dalam kolektifnya, (d) bagaimana proses
masyarakat dapat berubah secara bertingkat, (e) bagaimana perubahan besar masyarakat, misalkan dari feodalisme dan kapitalisme.
Hal semacam itu akan menjadi tumpuan penelitian sosiologi sastra.
Hubungan timbal balik antara unsur-unsur sosial di atas akan besar pengaruhnya dalam kondisi sastra. Berbagai aspek tersebut, sesungguhnya masih dapat di perluas lagi menjadi berbagai refleksi sosial sastra, antara lain: (a) dunia sosial manusia dan seluk-beluknya, (b) penyusuaian diri individu pada dunia lain, (c) bagaimana cita-cita untuk mengubah dunia sosialnya, (d) dan hubungan sastra dan politik, (e) konflik-konflik dan ketegangan dalam masyarakat. Dari paparan demikian, berarti hubungan sosiologi dan sastra bukanlah hal yang dicari-cari. Keduanya akan saling melengkapi hidup manusia.
Pandangan yang amat populer dalam studi sosiologi sastra adalah tafsir cermin. Melalui tafsir ini, karya sastra dimungkinkan menjadi cermin pada zamannya. Louis de Bonald (dalam Faruk, 1994) adalah filsuf Perancis yang banyak memperdebatkan istilah cermin setelah membaca karya sastra nasional. Berbeda dengan Stendal (dalam Faruk, 1994) yang secara yakin mengemukakan bahwa karya sastra sebenarnya merupakan cermin perjalanan “jalan raya” dan “biru langit” hidup manusia, meskipun kadang- kadang harus mencerminkan “lumpur dalam kubangan”. Maksudnya, karya sastra kadang-kadang mengekspresikan kebaikan dan keburukan hidup manusia. Atas dasar itu, maka konsep cermin harus digunakan secara ekstra
hati-hati dalam penelitian sosiologi sastra. Oleh karena itu, kadang-kadang penulis besar memang sering mengungkapkan dunia sosial secara tidak sederhana.
Konteks sastra sebagai cermin, menurut Vicomte de Donald (Yudiono, 2008; 5) hanya merefleksikan pada saat tertentu. Istilah cermin ini akan merujuk pada berbagai perubahan masyarakat. Dalam pandangan Lowenthal Laurenson dan Swingewood (dalam Faruk, 1994:16-17) sastra sebagai cermin nilai dan perasaan, akan merujuk pada tingkatan perubahan yang terjadi dalam menstuktur sosial. Perubahan dan cara individu bersosialisasi biasanya akan menjadi sorotan pengarang yang tercermin lewat teks. Cermin tersebut menurut Stendal dapat berupa pantulan langsung segala aktivitas kehidupan sosial. Maksudnya, pengarang secara rill memantulkan keadaan masyarakat lewat karyanya, tanpa terlalu banyak diimajinasikan.
Karya sastra yang cenderung memantulkan keadaan masyarakat, mau tidak mau akan menjadi saksi zaman. Dalam kaitan ini, sebenarnya pengarang ingin berupaya untuk mendokumentasikan zaman dan sekaligus sebagai alat komumkasi antara pengarang dan pembacanya. Pengarang sebagai seorang zender (pengirim pesan) akan menyampaikan berita zaman lewat cermin dalam teks kepada ontvenger (penerima pesan). Artinya bahwa karya sastra sekaligus sebagai alat komunikasi yang jitu. Hal ini diakui oleh
Bert van Heste bahwa karya sastra merupakan alat komunikasi kelompok dan juga individu.
B. Nilai Pendidikan Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye
Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye disajikan dengan pesan yang syarat dengan nilai pendidikan.
Novel tersebut berusaha memberi paham pada pembaca betapa pentingnnya peran pendidikan dalam kehidupan. Novel yang ditulis oleh Tere Liye dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye memberikan paham kepada pembaca bahawa betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia. Pendidikan harus dimulai pada usia dimana seseorang mengenal lingkungannya dan dalam kehidupan masyarakat dimana ia melangsungkan kehidupan.
Nilai pendidkan juga digambarkan dalam novel ini bagaimana seseorang berjuang dalam hidupnya, bagaimana mempertahankan hidup dalam lingkungan sosial yang baik demi terciptanya masyarakat yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam novel ini Tere Liye juga berusaha mengekspos pentingnya membangun silaturrahmi, kerjasama, dan mengenal diri di dalam keragaman yang terdapat dalam masyarakat. Selain itu novel ini juga syarat dengan pesan agamais yang menyuarakan pentingnya berakhlak mulia, membina karakter serta saling menghargai diantara sesama manusia.
C. Kerangka Pikir
Sastra melarupakan hasil produksi seorang pengarang tidak dapat dipisahkan dari dunia sosial. Kehadiran sastra di tengah peradaban manusia tidak dapat ditolak, bahkan kehadiran tersebut diterima sebagai salah satu realitas sosial budaya. Dalam sastra, pengarang mengekspresikan peranti imajinasinya dan pengalaman batinnya. Seorang pengarang mengekspresikan pesannya dengan menggunakan bahasa sebagai media utamanya untuk mendukung terbangunnya komunikasi antara pembaca dan pengarang. Dalam kajian ini, penulis mengkaji dengan fokus utamanya adalah aspek stilistika bahasa yang terdapat dalam novel Rembulan Tenggelam Di wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa Karya Tere Liye.
Dalam kerangka pemikiran ini, penulis menentukan fokus kajian pada aspek majas yang difokuskan pada majas perbandingan, pertautan, pengulangan dan pertentangan. Peneliti memandang bahwa bangunan bahasa yang digunakan oleh seorang pengarang didukung oleh aspek bahasa yang tentu saja sajian kalimat dan pilihan kata sebagai salah satu bagian yang sangat menentukan karya seorang pengarang. Novel sebagai karya yang bermutu tinggi dengan bangunan estetika bahasanya, dipandang sebagai fokus kajian yang memberi ruang untuk dipahami sarana kebahasaan yang digunakan pengarang dalam karangannya. Melihat kecendrungan sajian bahasa yang digunakan pengarang dalam karyanya
maka, pastilah sastra dikemas dengan gaya bahasa yang mampu menyejukkan pembaca. Untuk itu, penulis memandang bahwa, pendekan stilistika dipandang sebagai sebuah pendekatan yang mampu membongkar aspek kebahasaan yang terbangun dalam karaya sastra seperti novel.
Adapun metode penelitian yang digunakan dalam mengkaji novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye adalah pengkajian karya sastra melalui stilistika yang akan melihat karya sastra berdasarkan; aspek kebahsaannya dengan melihat manfaatnya bahwa manfaat stalistika yang sepenuhnya bersifat estetis, membatasi lingkup bidang ini khusus untuk studi karya sastra dan kelompok karya yang di uraikan fungsi dan makna estetisnya baru jika tujuan estetis ini menjadi inti permasalahan.
Stilistika merupakan bagian ilmu sastra, dan akan menjadi bagian penting, karna hanya metode stilistikalah yang dapat menggambarkan cirri- ciri khusus karya sastra. Ada dua kemungkinan pendekatan stalistika semacam itu, yang pertama di mulai dengan analisis sistematis tentang sistem linguistik karya sastra, di lanjutkan dengan interpretasi tentang ciri- cirinya di lihat dari tujuan estetis karya tersebut sebagai”makna total” di sini gaya akan muncul sebagai sistem linguistik yang khas dari karya atau sekolompok karya. Pendekatan yang kedua yang bertentangan dengan yang pertama mempelajari sejumlah cirri khas perbedaan system satu dengan system-sistem yang lain.di sini, metodenya adalah mengontrasan. Kita mengamati deviasi dan distorsi terhadap pemakaian bahasa yang normal dan
berusaha menemukan tujuan estetisnya dalam bahasa untuk komunikasi biasa, perhatian tidak di arahkan pada bunyi atau kata, atau susunan kata (di dalam bahasa inggris, susunan kata di mulai dari pelaku,n di ikuti oleh tindakan) atau struktur kalimat (enumerative, koordinat). Langkah pertama yang lazim di ambil dalam analisis stalistika adalah mengamati deviasi- deviasi seperti penggunaan majas atau gaya bahasa.
BAGAN KERANGKA PIKIR
Karya Sastra
Novel Rembulan Tenggelam Diwajahmu dan Hafalan Shalat Delisa
Stilistika
Majas Penegasan
Analisis
Temuan
Majas Pertentangan Majas
Perbandingan
Majas Sindiran
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif maksudnya penelitian ini hanya menggunakan satu metode yakni unsur stilistika yang terkandung dalam novel “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” karya Tere Liye. Hal ini didasarkan pada judul penelitian, kajian Stilistika dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian pada hakikatnya merupakan strategi yang mengatur ruang atau teks penelitian agar memperoleh data maupun kesimpulan penelitian. Menurut jenisnya, penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Oleh karena itu, dalam penyusunan desain harus dirancang berdasarkan pada prinsip metode deskriptif kualitatif, yang mengumpulkan, mengolah, mereduksi, menganalisis dan menyajikan data secara objektif atau sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan untuk memperoleh data.
Untuk itu, peneliti menawarkan desain penelitian sebagai berikut:
40
Pertama, penelitian sastra itu dapat kita ikuti sendiri. Mula-mula sastra diteliti strukturnya untuk membuktikan jaringan bagian-bagian sehingga terjadi keseluruhan yang padu dan holistik.
Kedua, penghubungan dengan unsur kebahasaan. Unsur-unsur kesatuan karya sastra dihubungkan dengan aspek stilistka.
Selajutnya, untuk mencapai solusi atau kesimpulan dengan jalan melihat premis-premis yang sifatnya spesifik untuk selanjutnya mencari premis general.
B. Definisi Istilah
Definisi istilah pada hakikatnya merupakan pendefinisian metode dalam bentuk yang dapat diukur, agar lebih lugas dan tidak menimbulkan bias atau membingungkan. Aspek stilistika dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye merupakan gambaran terhadap realitas sosial teks sastra yang berhubungan dengan relasi sosial kemasyarakatan dengan sajian bahasa yang bernuansa estetik.
Adapun istilah-istilah yang perlu dibatasi, sebagai berikut :
1. Stilistika kesusastraan merupakan sebuah metode analisis karya sastra yang mengkaji berbagai bentuk dan tanda-tanda kebahasaan yang digunakan sperti yang terlihat pada struktur laihirnya. Metode analisis ini menjadi penting, karena dapat memberikan informasi