• Tidak ada hasil yang ditemukan

Novel Sebagai Karya Sastra Bermutu Tinggi

Dalam dokumen Hj. ODI TUHFAH ZAINUDDIN NIM: (Halaman 38-42)

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

5. Novel Sebagai Karya Sastra Bermutu Tinggi

Karya sastra novel dapat berfungsi sebagai media alternatif yang dapat menghubungkan kehidupan manusia masa lampau, masa kini, masa yang akan datang, juga dapat berfungsi sebagai bahan informasi masa lalu yang berguna dalam upaya merancang peradaban manusia ke arah kehidupan yang lebih baik dan bergairah di masa depan.

Dalam tulisan Rapi Tang (2007:4) Wellek dan Warren mengemukakan bahwa dalam aliran kritik Hegel dan Taine, kebesaran sejarah dan sosial karya sastra adalah “dokumen karena merupakan monumen”

(“document because they are monument”).

Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa.

Sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia. Sastra mencerminkan hidup dan mengekspresikan hidup karena pengarang tidak bisa tidak mengekspresikan pengalaman dan pandangannya tentang hidup, meskipun kehidupan dan zaman yang diekspresikan tidak secara konkrit atau menyeluruh.

Sastra pada hakikatnya berkaitan dengan berbagai cabang ilmu.

Hakikat sastra ini dapat kita jelaskan dari sudut pengarang, pembaca, atau dari sudut karya sastra itu sendiri. Seorang sastrawan yang akan mencipta sastra sangatlah dituntut memiliki kompetensi bahasa. Hal Inilah yang memungkinkan ide, gagasan, atau perasaan yang akan diungkapkan

dapat disampaikan. Kompetensi dimaksud bukan hanya sekadar mengetahui kaidah-kaidah yang berlaku atau memahami sistem yang ada pada suatu bahasa. Sastrawan dituntut lebih dari itu. Sastrawan sangat dituntut mampu mengolah bahasa yang akan digunakannya itu secara kreatif sehingga menimbulkan daya pesona bagi pembacanya. Selain itu, ide atau gagasan dan juga perasaan yang akan diungkapkan itu merupakan pengalaman batin sastrawan yang telah melalui proses yang melibatkan berbagai pengetahuan yang dimiliki dan menghendaki pula wawasan yang luas.

Atas dasar kenyataan sastra seperti itu, Tomars dalam tulisan Tang (2007:5) mengatakan lembaga estetik adalah lembaga sosial dari satu tipe tertentu, dan sangat erat dengan tipe-tipe lainnya (“Esthetic institutions are not based upon social institutions they are not one type and intimately interconnected with those other”).

Relevansi karya sastra dengan berbagai aspek kemanusiaan atau kemasyarakatan, memberi peranan yang cukup penting sebagai suatu lembaga atau institusi yang dapat dijadikan acuan dalam memahami gejala sosial yang pernah dan atau sedang berkembang pada suatu etnis atau suatu bangsa.

Diperguruan Tinggi, pembelajaran sastra tidak terlepas dari kegiatan pendidikan. Pembelajaran lebih menekankan pada usaha perpindahan atau pengawasan pengetahuan, kecakapan dan pembinaan keterampilan kepada mahasiswa serta dapat mengetahui lingkungan

kebudayaan. Sedangkan pendidikan lebih menekankan usaha pembentukan nilai-nilai hidup, sikap norma-norma, dan pribadi mahasiswa. Setiap perilaku tersebut tidak terlepas dari usaha pembentukan pribadi individu. Pembelajaran sastra bertujuan untuk membina apresiasi sastra, mahasiswa dapat lebih kreatif, yaitu membina agar memiliki kesanggupan untuk memahami, menikmati dan menghargai suatu karya sastra. Pembinaan apresiasi sastra dan pembelajaran sastra melalui usaha mendekatkan kepada sastra yakni, menumbuhkan rasa peka, dan rasa cinta kepada sastra dan menumbuhkan minat baca mahasiswa terhadap karya sastra. Dengan usaha ini diharapkan pembelajaran sastra dapat membantu menumbuhkan aspek kejiwaan, sehingga terbentuk suatu pertumbuhan pribadi yang utuh.

Pentingnya membedakan makna pengajaran dan pembelajaran dalam sastra. Jika pengajaran lebih mengacu pada 'instruksi' tunggal dari guru ke murid, pembelajaran mengandung muatan yang lebih luas. Dari aspek strategi, pembelajaran memungkinkan mahasiswa menuntut apa yang mereka inginkan, sehingga model strategi mengajar yang dipakai juga seyogyanya membuka peluang tumbuhnya kreativitas pada mahasiswa.

Hal tersebut dapat dilaksanakan bila diawali dari pengertian apresiasi yang mencakup kegiatan psikologi seperti pemahaman, peningkatan dan penilaian. Kegiatan pemahaman menuntut kemampuan

mahasiswa berpikir secara kritis dan logis; kegiatan peningkatan akan menimbulkan rasa peka dari berbagai segi emosi mahasiswa sedangkan kegiatan penilaian akan menumbuhkan daya imajinatif dan sifat kreatif mahasiswa termasuk kemampuan memberikan penafsiran dan interpretasi.

Pembaca memiliki kebebasan memberikan makna atau arti sebuah karya sastra. Setiap orang (pembaca) dapat memberikan makna, arti, dan respon terhadap karya sastra yang dibaca atau dinikmatinya. Makna dan arti karya itu dikaitkan dengan pengalaman batin pembaca, pengalaman hidup pembaca, dari situlah makna dibangun. Dengan demikian terjadilah keberanekaragaman makna dari setiap karya sastra. Teori ini dipopulerkan di Indonesia oleh Prof. Umar Yunus. Melihat pentingnya novel sebagai bagian dari mode dunia untuk merefleksi keseluruhan pola hidup manusia maka novel dapat dipandang sebagai karya yang bermutu tinggi.

Novel sebagai sebuah karya sastra menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model. Kehidupan yang ideal, dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsik seperti plot atau alur, penokohan, latar, dan sudut pandang yang imajinatif. Walaupun bersifat noneksistensial (dengan sengaja dikreasikan oleh pengarang) namun dibuat mirip, diimitasikan, dan dianalogikan dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa sehingga tampak sungguh-sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995 : 4).

Menurut Sumardjo (1994: 30), novel dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Novel Pop (Populer)

Novel populer adalah novel yang hanya mengambil tema-tema yang sedang trend atau sedang populer walaupun itu bersifat fiktif, dibuat dan mengesampingkan isi pesan yang dimuat dalam novel tersebut. Penulis hanya memikirkan bagaimana novel tersebut laku keras atau banyak disukai oleh para pembaca, karena novel ini dibuat hanya untuk nilai konsumtif dan bersifat komersial.

b. Novel Serius

Novel serius mengangkat tema-tema universal yang sedang dihadapi oleh masyarakat dengan harapan mampu mengubah atau memberikan kontribusi pada masyarakat atau pembaca agar mau mengikuti apa yang diinginkan oleh penulis. Novel ini lebih mengutamakan isi pesan daripada sekadar hayalan-hayalan fiktif yang banyak disukai masyarakat atau pembaca saat ini.

Dalam dokumen Hj. ODI TUHFAH ZAINUDDIN NIM: (Halaman 38-42)

Dokumen terkait