• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian Terhadap Novel Hafalan Shalat Delisa

Dalam dokumen Hj. ODI TUHFAH ZAINUDDIN NIM: (Halaman 195-200)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian Terhadap Novel Hafalan Shalat Delisa

Dalam novel Hafalan Shalat Delisa, peneliti menganalisis penggunaan gaya bahasa kiasan (majas). Adapun majas yang ditemukan dalam novel ini adalah sebagai berikut.

a. Majas Perbandingan

Data-data yang mengandung majas perbandingan dalam novel Hafalan Shalat Delisa, antara lain:

Data 1

Data *Cut Aisyah dan Cut Zahra meski kembar benar-benar bertabiat bagai bumi-langit. Yang satu jahilnya minta ampun (Aisyah), yang satu kalem bin pendiamnya minta ampun (Zahra). Tetapi mereka anak-anak yang baik dan penurut. Anak-anak yang cerdas. (TL: 11)

Penggunaan majas simile pada data (1) ditandai dengan kata bagai yang digunakan secara eksplisit untuk menyamakan perbedaan tabiat antara Cut Aisyah dan Cut Zahra dengan bumi dan langit. Diksi yang dipilih menggambarkan perbedaan tabiat yang sangat jauh (bertolak-belakang) sesuai dengan jarak bumi dan langit. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurgiyantoro (2007: 298) bahwa simile menyaran pada adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit, dengan menggunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keeksplisitan seperti: seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip, dan sebagainya.

Data 2

*Delisa sudah mencengkeram baju Ummi. Wajahnya yang lucu sungguh menggemaskan. Rambut ikalnya yang pirang bergerak-gerak.

Mata hijaunya menyala. (TL: 16)

Penggunaan diksi rambut ikalnya yang pirang bergerak-gerak menandakan majas personifikasi (gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda mati atau barang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan). Pada data (2) rambut digambarkan dapat bergerak

selayaknya manusia yang memiliki otot sebagai alat gerak aktif dan rangka sebagai alat gerak pasif yang membentuk sistem gerak. Rambut tidak dapat bergerak karena tidak memiliki sistem gerak namun pada data rambut tokoh Delisa bergerak-gerak karena Delisa bergerak sehingga rambutnya ikut bergerak bukan karena rambut mampu bergerak sendiri.

Data 3

“Janganlah Koh. Saya jadi tidak enak hati.... Dulu waktu Fatimah beli Koh Acan juga hanya mau dibayar separuh, waktu Zahra dan Aisyah beli juga.... Kali ini biarlah Delisa bayar penuh....” (TL: 20)

Penggunaan ungkapan tidak enak hati yang bermakna segan dan tidak mau memberatkan menandakan majas alusio. Tidak enak hati secara leksikal berarti hati yang tidak enak (berhubungan dengan rasa makanan) padahal data tidak berhubungan dengan makanan tetapi perasaan. Tokoh saya tidak mau memberatkan atau merepotkan tokoh yang dipanggil dengan sebutan Koh.

Data 4

Ummi sebaliknya memaksa menyerahkan uang penuh. Koh Acan sebaliknya memaksa mengembalikan separuhnya. Dan Delisa dengan sukarela, dengan tampang menggemaskan ringan-tangan mengulurkan tangan, menerima separuh uang itu dari Koh Acan. (TL:

21)

Majas alusio pada data (4) ditandai dengan ungkapan uang penuh.

Penggunaan ungkapan uang penuh berarti utuh tanpa potongan harga (diskon) untuk menggambarkan sejumlah uang yang diserahkan tokoh Ummi kepada tokoh Koh Acan. Selain itu, ungkapan ringan tangan yang bermakna tanpa disuruh dan sukarela (tidak malu-malu) untuk menggambarkan respons tokok Delisa terhadap uang potongan yang

diberikan tokoh Koh Acan. Secara leksikal ringan tangan bermakna tangan dengan bobot tidak berat (enteng untuk diangkat).

Data 5

Kecemburuan itu bagai api yang membakar semak kering. Cepat sekali menyala. Melalap apa saja di sekitarnya. Dan itulah yang terjadi sesiang, sesore, dan semalaman saat Delisa dan Ummi sudah pulang dari pasar Lhok Nga. (TL: 23)

Data (5) menggunakan majas simile dengan penanda yang terdapat di kalimat pertama yaitu kata tugas bagai. Kata tugas bagai digunakan untuk membandingkan kecemburuan (perasaan sirik atau iri hati) dengan api yang membakar semak kering (api yang melalap apa saja di sekitarnya dengan cepat) yang bermakna bahwa rasa iri hati cepat sekali timbul oleh hal-hal kecil dan berefek pada apa saja di sekitarnya termasuk keluarga dekat.

Data 6

Delisa mendekat, juga bingung. Tetapi sungguh hati Delisa bagai mutiara; seperti terlahir seperti itu. Delisa memegang tangan kakaknya dengan lembut. (TL: 32)

Penggunaan majas simile pada data (6) ditandai dengan kata tugas bagai yang membandingkan hati tokoh Delisa dengan mutiara. Hati tokoh Delisa dipandang sama dengan mutiara yang murni, berkilau, mulia, dan jernih. Hati bagai mutiara berarti hati yang sangat baik dan mulia.

Penggunaan kata tugas bagai secara eksplisit pada data (6) sesuai dengan pendapat Nurgiyantoro (2007: 298) tentang majas simile bahwa simile menyaran pada adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit, dengan menggunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda

keeksplisitan seperti: seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip, dan sebagainya.

Data 7

Buru-buru menuju meja belajarnya. Meninggalkan isi lemari yang sudah jungkir balik. (TL: 35)

Data (7) membandingkan isi lemari dengan suatu kegiatan yang lazimnya dilakukan oleh manusia atau pemanusiaan benda mati (jungkir balik). Kegiatan jungkir balik berarti berjempalitan. Namun, pada data (7) diksi tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi isi lemari yang berantakan setelah diacak-acak untuk mencari sesuatu barang atau benda. Penggambaran yang dilakukan penulis pada data (7) sesuai dengan karakteristik majas personifikasi yang dikemukakan oleh Keraf dalam Siswantoro (2010: 15) bahwa majas personifikasi adalah gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda mati atau barang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan.

Data 8

Burung camar melenguh berpekikan beterbangan di kejauhan. Suara ombak memecah bibir pantai menambah suasana menyenangkan itu.

(TL: 44)

Majas personifikasi pada data (8) ditandai dengan penggunaan kata berpekikan (bermakna saling berteriak atau bersorak) oleh burung camar yang berarti memanusiakan burung camar sebab hanya manusia yang lazimnya bisa berteriak atau bersorak-sorak. Penanda lain penggunaan majas personifikasi adalah diksi suara ombak memecah bibir pantai.

Kegiatan memecah biasa dilakukan oleh manusia dengan sengaja tetapi

pada data (8) dilakukan oleh ombak (suara ombak) dengan maksud meriuhkan suasana pantai yang berarti memanusiakan ombak. Selain itu, diksi bibir pantai yang berarti tepi pantai yang berbatasan langsung dengan laut. Tepi pantai dijelaskan dengan menggunakan kata bibir layaknya bagian tubuh manusia di bagian mulut. Data (8) memanusiakan benda mati atau yang bukan manusia dengan mendeskripsikannya mampu melakukan kegiatan, aktivitas, atau memiliki ciri layaknya manusia.

Data 9

Matahari bergerak menghujam bumi semakin rendah. Jingga memenuhi langit. Indah. Angin bertiup lebih lembut. (TL: 46)

Data (9) menggunakan majas personifikasi dengan penanda diksi matahari bergerak (lazimnya, yang bisa bergerak atau berpindah tempat adalah manusia). Matahari bergerak pada kalimat pertama berarti matahari berputar pada porosnya dan bersiap tenggelam atau terbenam di ufuk Barat penanda waktu menjelang magrib. Penanda lain adalah diksi angin bertiup lebih lembut. Angin diibaratkan memiliki sifat manusia yang lembut (halus budi dan bahasa) padahal yang dimaksud pada data (9) yaitu angin bertiup sepoi-sepoi (tidak kencang).

Data 10

Aisyah hampir menangis mendengar penjelasan Pak Guru Jamal.

Tertunduk di atas meja. Menutup wajahnya dengan tas. Ia memang sering jahil kepada Delisa, tetapi hatinya juga bagai mutiara. (TL: 50) Penggunaan diksi bagai mutiara di akhir kalimat pada data (10) menandakan kehadiran majas simile. Hati tokoh Aisyah ibaratkan sebagai

Dalam dokumen Hj. ODI TUHFAH ZAINUDDIN NIM: (Halaman 195-200)

Dokumen terkait