RENCANA DISEMINASI HASIL PENGKAJIAN
PRODUKSI BENIH SEBAR PADI
Dr. Amin Nur, SP, M.Si
BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN GORONTALO BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN
TEKNOLOGI PERTANIAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN
2021
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul RDHP : Produksi benih sebra padi
2. Unit Kerja : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo
3. Alamat Unit Kerja : Jl. Kopi No. 270 Kec. Tilong Kabila Kab.
Bone Bolango Prop. Gorontalo 4. Sumber Dana : DIPA BPTP Gorontalo TA. 2013 5. Status Kegiatan (L/B) : Lanjutan
6. Penanggung Jawab
a. Nama : Dr. Amin Nur, SP, M.Si b. Pangkat/Golongan : Pembina /IV a
c. Jabatan : Peneliti Madya
7. Lokasi : Provinsi Gorontalo
8. Agroekosistem : Lahan Sawah 9. Jangka Waktu : 1 Tahun 10. Tahun Selesai : 2021
11. Output Tahunan : 5 Ton Benih Padi
12. Output Akhir : Tersebarnya varietas baru padi
13. Biaya : Rp. 55.000.000,- (Lima puluh lima juta Rupiah)
Koordinator Program, Penanggung Jawab,
Dr. Andi Yulyani Fadwiwati, SPt, MSi
NIP...19700703 200212 2 001 Dr.Amin Nur, SP, M.Si
NIP. 19760817 200112 1 001 ...
Mengetahui :
Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian,
Kepala Balai
Dr. Ir. M.Taufiq Ratule,M.Si
NIP. 19680918 199303 1 002 Dr.Amin Nur, SP, M.Si NIP. 19760817 200112 1 001
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Benih merupakan salah satu input produksi yang mempunyai konstribusi signifikan terhadap tingkat produktivitas. Dalam suatu sistem produksi pertanian diperlukan adanya ketersediaan benih dengan varietas yang berdaya hasil tinggi dan mutu yang baik. Daya hasil yang tinggi serta mutu yang terjamin pada umumnya terdapat pada varietas unggul. Keunggulan genetik dari satu varietas unggul hasil perakitan genetik yang dilakukan oleh para pemulia akan dapat dirasakan manfaatnya apabila tersedia benih bermutu dalam jumlah yang cukup untuk ditanam oleh petani. Produksi benih bersertifikat dapat dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara maupun oleh pihak swasta.
Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) telah menghasilkan banyak benih padii varietas unggul baru. Varietas-varietas yang telah dilepas tersebut masing-masing mempunyai karakter spesifik yang diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pengguna, namun varietas-varietas tersebut masih belum banyak dikenal oleh petani, karena di lapangan yang banyak digunakan oleh petani adalah benih yang diproduksi oleh swasta. Hal ini terjadi karena sosialisasi ke petani di tingkat daerah terutama pada sentra-sentra produksi tanaman pangan masih terbatas sehingga varietas tersebut kurang berkembang.
Faktor lain yang menyebabkan varietas unggul baru (VUB) lambat berkembang, diantaranya keunggulan varietas tersebut tidak sebanding dengan varietas yang telah ada, industri benih belum berminat mengembangkan varietas termaksud dan atau masih terbatasnya penyediaan benih sumber untuk upaya perbanyakan benih secara komersial.
Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) dibentuk dalam rangka melaksanakan salah satu fokus program aksi perbenihan lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian), disamping fokus pemantapan produksi benih sumber dan pemantapan UPBS lingkup Puslitbang komoditas. UPBS
lingkup BBP2TP merupakan salah satu kelembagaan internal di BPTP yang dibentuk dalam rangka mengakomodasikan perubahan lingkungan strategis perbenihan dan mengantisipasi kebutuhan benih sumber dari varietas unggul baru (VUB) komoditas strategis hasil penelitian Badan Litbang Pertanian di wilayah kerjanya.
Kebutuhan benih padi sawah, potensial di Propinsi gorontalo adalah 1.571.760 kg, sedangkan kebutuhan aktualnya adalah 943.056 kg. Produksi benih padi sawah yang ditangkarkan Propinsi Gorontalo tahun 2010 yang lolos uji sertifiasi adalah 352.080 kg. Masih kekurangan benih aktual sebanyak 580.976 kg (Sija, 2010).
BPTP Gorontalo pada tahun 2013 mentargetkan sebanyak 25 ton Kg benih padi.
Dalam upaya mendukung percepatan, penyebaran dan adopsi varietas unggul baru, Badan Litbang Pertanian melalui BPTP berperan penting dalam penyediaan benih sumber. BPTP Gorontalo melalui UPBS diharapkan berperan dalam percepatan penyebaran varietas unggul baru melalui produksi benih sumber, sehingga diharapkan mampu mendukung penyediaan benih bermutu di Propinsi Gorontalo.
Tujuan
Tujuan Tahunan
Untuk memperoleh dan mengembangkan benih bermutu varietas unggul baru padi Inpari dengan kapasitas produksi 15 ton yang spesifik lokasi dan produktivitas tinggi.
Tujuan Jangka Panjang
Mempercepat pengembangan varietas unggul baru, meningkatkan produksi, mutu dan distribusi benih sumber agar selalu terjamin ketersediannya sesuai dengan kebutuhan pengguna
Keluaran
Keluaran Tahunan
Diperolehnya 15 Ton benih varietas unggul Padi produk Badan Litbang Pertanian yang spesifik lokasi dan berproduksi tinggi dengan mutu fisik, fisiologi, genetik dan saniter yang terjamin
Keluaran Jangka Panjang
Berkembangnya penggunaan varietas unggul baruyang sesuai dengan preferensi petani serta tersedianya benih sumber bermutu secara tepat guna mendukung upaya penyediaan benih bermutu bagi petani.
Perkiraan Dampak Dan Manfaaat Dampak
- Dihasilkannya benih sumber dan benih sebar varietas unggul padi - Percepatan penyebaran dan adopsi VUB padi
- Dapat terpecahkan masalah ketidakseimbangan penyediaan benih sumber padi bermutu sepanjang waktu, musim, dan lokasi
Manfaat
- Meningkatnya produktivitas dan produksi padi sebagai dampak dari penyebaran dan pengembangan VUB padi
- Terjaminnya kesinambungan distribusi benih padi yang diawali dari ketersediaan benih sumber
- Terjaminnya ketersediaan benih sumber dan benih sebar varietas unggul padi
TINJAUAN PUSTAKA
Kerangka Teoritis
Program peningkatan ketahanan pangan dan agroindustri memerlukan dukungan subsistem sarana produksi diantaranya benih. Berbagai sebab belum digunakan varietas unggul lain antara lain kurangnya informasi keberadaan varietas unggul dengan berbagai sifat keunggulannya serta ketersediaaan benih terbatas.
Untuk mendorong penyebaran benih varietas unggul diperlukan pengenalan varietas melalui sosialisasi varietas dan teknik produksi benih kepada penangkar di daerah sentra produksi (Marwoto, et al. 2006). Dengan strategi tersebut diharapkan akan terjadi percepatan waktu dalam adopsi teknologi produksi benih berbasis komunitas.
Ketersediaan varietas unggul baru berdaya hasil tinggi yang telah dirilis di Departemen Pertanian sangat banyak, namun sosialisasi ke tingkat daerah terutama pada sentra-sentra produksi tanaman pangan masih terbatas sehingga varietas tersebut kurang berkembang. Demikian halnya keberadaan Balai Benih Induk (BBI) selaku penyedia benih sumber di tingkat provinsi, masih terbatas sehingga perlu dukungan nyata dari pihak terkait, termasuk BPTP untuk membantu penyiapan benih sumber terutama benih dasar. Kegiatan ini bertujuan untuk memproduksi atau memperbanyak benih sumber bermutu padi dan jagung kelas FS (Foundation Seed) dalam rangka mendukung ketersediaan benih bermutu tanaman pangan (Nappu, dkk, 2007)
Di Indonesia dikenal 4 kelas benih padi, yaitu benih penjenis (BS : Breeder Seed), benih dasar (FS ; Foundation Seed), benih pokok (SS : Stock Seed) dan benih sebar (ES : Extension Seed). Mekanisme pengendalian mutu benihsecara formal sebenarnya dapat dilakukan melaui sertifikasi benih (Deptan, 2002,2006) maupun melalui sistem Standarisasi Nasional (Deptan, 2006). Pengendalian mutu benih secara formal pada sebagian besar produsen benihdi Indonesia dilakukan melalui sertifikasi benih dibawah pengawasan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih yang ada di tiap-tiap propinsi, sedangkan beberapa producen benih, khususnya produsen benih penjenis dan beberapa produsen benih swasta memerapkan sistem
manajemen mutu berbasis ISO 9001 : 2001 untuk pengendalian mutu benihnya (Wahyuni, Ruskandar dan Mulsanti, 2008).
Secara nasional, benih bersertifikat baru dapat memasok sekitar 40% dari kebutuhan benih total, artinya sekitar 60% lahan pertanaman padi di Indonesia masih menggunakan benih yang tidak bersertifikat yang pada umumnya merupakan benih produksi sendiri atau hasil pertukaran dengan petani lainnya ( Ruskandar, Wahyuni, Mulya dan Rustiati, 2008).
Banyak faktor yang menyebabkan varietas unggul baru (VUB) lambat berkembang, diantaranya keunggulan varietas tersebut tidak sebanding dengan varietas yang telah ada, industri benih belum berminat mengembangkan varietas termaksud dan atau masih terbatasnya penyediaan benih sumber untuk upaya perbanyakan benih secara komersial (Samaullah, 2008)
Kesalahan dalam memprediksi varietas yang akan banyak diminta oleh petani dapat mengakibatkan beni yang diproduksi lambat untuk diserap oleh pasar, bahkan sampai pada jatuh masa kadaluarsa benih belum habis dan penangkar mengajukan uji ulang atau kadang-kadang benih digiling menjadi gabah komsumsi. Hal yang sama juga dialami oleh pedagang benih, kadang-kadang permintaaan suatu varietas sangat banyak dan tidak tersedia di producen benih, namun kadang-kadang pedagang membeli benih yang banyak diminta petani di musim sebelumnya dalam jumlah besar tetapi kemudian minat petani berubah dan berakibat sampai akhir masa tanam stok benih masih banyak (Wahyuni, Ruskandar dan Mulsanti, 2008).
Jaminan ketersediaan benih di di tingkat petani dimulai dari penyediaan benih dasar, benih pokok dan benih sebar yang saling mendukung. Penangkaran benih padi di Propinsi Gorontalo tahun 2010 terdiri dari 1.4 Ha untuk produksi benih dasar, 124.65 ha untuk produksi benih pokok, dan 263.6 ha untuk produksi benih sebar. Benih dasar hanya diproduksi di Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango (binaan BPTP), sedangkan benih pokok dan benih sebar diproduksi pada semua kabupaten/kota di Propinsi Gorontalo. Calon benih yang dihasilkan adalah benih dasar sebanyak 3.7 ton, benih pokok sebanyak 354.125 ton, dan benih sebar sebanyak 744.78 ton. Tidak semua calon benih tersertifikasi, hanya 2.2 ton benih dasar, 124.1 ton benih pokok dan 352.08 ton benih sebar yang telah disertifikasi.
Benih layak yang tidak tersertifikasi dikonsumsi/masuk ke penggilingan terdiri dari 1.5 tob benih dasar, 95.8 ton benih pokok dan 232.27 ton benih sebar (Syafruddin et al. 2010).
Produksi benih pada musim tanam I 2011 (Maret s/d Juni 2011) dilaksanakan di Kebun BPTP seluas ± 1.5 Ha, untuk varietas Inpari 4 Kelas benih FS, Inpari 10 Kelas Benih SS dan Inpari 13 Kelas benih FS. Untuk pengembangan benih ke petani penangkar dilaksanakan di Desa Lamahu, Kabupaten Bone Bolango seluas 1.5 Ha varietas inpari 10 dan inpari 13. Produksi benih varietas Inpari 4 kelas benih SS 750 Kg, Inpari 10 kelas benih ES 1.875 Kg dan Inpari 13 kelas benih SS 700 Kg. Hasil dari produksi benih ini selanjutnya didistribusikan untuk keperluan pendampingan pelaksanaan program SL-PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) Padi Sawah yaitu Display VUB di 6 Kabuapten/Kota Provinsi Gorontalo. Selain itu didistribusikan juga ke petani penangkar dan ke PT Sang Hyang Seri (SHS). Pada musim II 2011 (September s/d Desember 2011), produksi benih dilanjutkan di lahan BPTP seluas 2 ha. Varietas yang diproduksi adalah Inpari 3, Inpari 4, Inpari 10 dan Inpari 13 masing-masing kelas benih FS (Benih Dasar) dan SS (Benih Pokok).
Produksi Inpari 3 kelas benih SS 1.350 Kg, Inpari 4 kelas benih SS 825 Kg, Inpari 10 kelas benih SS 1.000 Kg dan kelas benih ES 875 kg, benih Inpari 13 kelas benih SS 1.085 Kg dan kelas benih ES 400 (Sumarno, et al. 2011).
Produksi benih padi UPBS BPTP Gorontalo pada tahun 2012 mencapai 49.891 Kg, varietas Inpari 3, Inpari 4, Inpari 7, Inpari 10 dan Inpari 13. Hasil dari produksi UPBS ini digunakan untuk pendampingan SLPTT, display VUB serta didistribusikan ke petani penangkar untuk dikembangkan maupun untuk dikonsumsi (Ahmad, at al.
2012).
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Kegiatan produksi benih padi kelas ES akan dilaksanakan di kabupaten Bone Bolango, pada Bulan Februari hingga November 2021.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah benih Padi Inpari 41, Inpari 42, Inpari 41, Inpari Nutrizinc, Jeliteng, Pamelen, Cakrabuana, Paketih dan Situ patenggang kelas benih BS, FS dan SS, pupuk NPK, pestisida, pestisida dan fungisida, tali tanam, ATK.
Metode Pelaksanaan Kegiatan Produksi Benih Padi
Penanaman
Pengolahan tanah dilakukan dengan pengolahan tanah sempurna. Bibit umur 21 hari ditanam sebanyak 2 bibit/lubang menggunakan cara tanam jajar legowo 2: 1 dengan jarak tanam (25 cm x 12,5 cm) x 50 cm.
Pengendalian hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan lingkungan sekitar dan memonitoring serangan hama sejak dini serta aplikasi pestisida termasuk pemasangan umpan beracun untuk hama tikus jika diperlukan.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu pada umur 21 hari setelah tanam (HST) dan 50 HST.
Pemupukan
Pemupukan organik 2 t/ha dan pemupukan N berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD) pada saat anakan aktif (28-28 HST) sedangkan pemupukan P dan K dilakukan berdasarkan hasil PUTS.
Pemberian air
Pemberian air dilakukan dengan pengairan berselang (intermittent irrigation) Pemberian dilakukan selang 3 hari sampai fase anakan maksimal dan pada fase pembentukan malai dan pengisian biji.
Rouging/Seleksi
Rouging dilakukan untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang benihnya diproduksi.
Dilakukan pada stadia vegetatif awal (35-45 HST), stadia vegetatif akhir/anakan maksimum (50-60 HST), stadia generatif awal (85-90 HST) dan stadia generatif akhir/masak ( 100-115 HST).
Panen dan Prosesing
Panen dilakukan tepat waktu pada saat sebagian besar gabah (90-95%) telah bernas dan berwarna kuning dengan cara memotong batang padi 30-49 cm di atas permukaan tanah dengan sabit gerigi. Dua baris tanaman yang paling pinggir sebaiknya dipanen terpisah dan gabah dari tanaman tersebut tidak digunakan sebagai calon benih. Perontokan dilakukan segera setelah padi dipotong
Setelah perontokan, proses selanjutnya adalah pengeringan untuk menurunkan kadar air benih. Pembersihan benih, pemilahan (grading) dan perlakuan benih (jika diperlukan) untuk memisahkan benih dari kotoran juga untuk membuang benih hampa. Pengemasan selain mempermudah penyaluran, juga bertujuan untuk melindungi benih selama penyimpanan, terutama dalam mempertahankan mutu benih dan menghindari serangan hama dan penyakit.
Pengemasan dilakukan setelah contoh benih dinyatakan lulus oleh BPSB melalui uji laboratorium. Benih yang telah dikemas sebelum disalurkan harus disimpan dengan untuk mempertahankan mutu benih.
ANALISIS RISIKO
Daftar Risiko
No. RISIKO PENYEBAB DAMPAK
1.
2.
3.
Harga benih murah
Distribusi pupuk tidak lancer Serangan Hama dan Penyakit
Tidak adanya penetapan harga dari pemerintah propinsi
Pemupukan tidak berimbang
Tidak menerapkan Prinsip PHT dengan tepat
Kurangnya minat petani untuk menangkar
Penurunan produksi
Penurunan produksi
Daftar Penanganan Risiko
No. RISIKO PENYEBAB PENANGANAN RISIKO
1.
2.
3.
Harga benih murah
Distribusi pupuk tidak lancer Serangan Hama dan Penyakit
Tidak adanya penetapan harga dari pemerintah propinsi
Pemupukan tidak berimbang
Tidak menerapkan Prinsip PHT dengan tepat
Koordinasi dengan Instansi terkait
Koordinasi dengan instansi terkait
Menerapkan prinsip PHT
JADWAL KERJA
Kegiatan Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Persiapan
- Studi Pustaka - Pembuatan/Penyempurnaan Proposal Persiapan Lahan
Penanaman
Pemupukan
Rouging
Pengendalian OPT
Panen
Pasca Panen
Penulisan Laporan Akhir
Pembiayaan
A Benih Sebar Padi - 5 ton 55.000.000
521211 Belanja Bahan 2.750.000
(050-Gorontalo) -
- 2 Bahan Pendukung Kegiatan [* x *] 1 Kali 2.750.000 2.750.000 521219 Belanja Barang Non Operasional Lainnya 22.000.000
(050-Gorontalo) -
- 1 Upah harian lepas [* x *] 200 OH 80.000 16.000.000 - 2 Biaya Sertifikasi benih [* x *] 1 Kali 2.000.000 2.000.000 - 3 Belanja pengiriman benih [* x *] 1 Kali 2.000.000 2.000.000 - 4 Biaya operasional pengawas benih
[* x *] 10 OK 200.000 2.000.000
521811 Belanja Barang Persediaan Barang Konsumsi 25.000.000
(050-Gorontalo) -
- 2 Biaya pembelian bahan utama
kegiatan [* x *] 2 Kali 12.500.000 25.000.000
524111 Belanja Perjalanan Dinas Biasa 5.250.000
(050-Gorontalo) -
- 2 perjalanan daerah dalam rangka
pelaksanaan kegiatan [* x *] 15 OH 350.000 5.250.000
Personalia
No Nama Disiplin
Ilmu
Jabatan dalam
Kegiatan Uraian Tugas
Alokasi Waktu (jam/mgg
) 1. Dr. Aisyah
Ahmad, S.TP, MP
Ilmu dan Tekn Benih
Anggota Membantu kegiatan mulai dari perencanaan dan
pelaporan 15
2. Dr. Ir. Amin
Nur, SP, M.Si Pemuliaan
tanaman Penanggungj
awab Mengkoordinir kegiatan mulai dari perencanaan
hingga pelaporan 10
3. Dr. Andi Yulyani Fadwiwati,SPt, Msi
Ekonomi
Pertanian Anggota Membantu kegiatan mulai dari perencanaan dan
pelaporan 10
4. Nanang Buri,
SP, MSi Budidaya
Tanaman Anggota Membantu kegiatan mulai dari perencanaan dan
pelaporan 10
5. Rosdiana, SP Budidaya
Tanaman Anggota Membantu kegiatan
administrasi dan pelaporan 5 6. Ammini Amrina
Saragih,SP,MSi Budidaya
tanaman Anggota Membantu kegiatan
perencanaan dan pelaporan 5 7. Wasirin,SP Teknologi Anggota Membantu kegiatan
pelaksanaan dilapangan 15 7. Andri Kiayi, SP Teknisi Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan dilapangan 10 8. Fitriyani Deti,
SP Teknisi Anggota Membantu sertifikasi benih 10
9. Bambang Hermato
Teknisi Anggota Membantu pelaksanaan
dilapangan dan diseminasi 10 10. Syafiq
Kurniawan Kuku Teknisi Anggota Membantu pelaksanaan
dilapangan dan diseminasi 10
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah Ahmad, M. Asaad, Zulkifli M, Risman D, Wasirin. Pengembangan Unit Pengelola Benih Sumber. Laporan akhir 2012. BPTP Gorontalo
Badan Litbang Pertanian, 2007. Pedoman Umum Produksi Benih Sumber Padi. Departemen Pertanian.
Badan Litbang Pertanian, 2007. Pedoman Umum Produksi Benih Sumber Kedelai. Departemen Pertanian.
Jaka Sumarno, Mantau, Z; Asaad,M.H, Ahmad,A; Antu,M.Y; Wasirin. Penangkaran Benih Padi Varietas Unggul Baru Padi. Laporan Akhir 2011. BPTP Gorontalo.
Marwoto, D. Harnowo, MM. Adhie, M. Anwari, J. Purnomo, Riwanodja dan Subandi.
2006. Panduan Teknis Produksi Benih Kedelai, Kacang Tanah dan Kacang Hijau. Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-Umbian Malang.
Nappu, Basir., dkk. 2007. Perbanyakan Benih Sumber Varietas Unggul Baru (VUB) Tanaman Pangan Mendukung Pengembangan Benih Bermutu. Hasil Kajian BPTP Sulsel - Litkaji TA.
Patta Sija. 2011. Pengkajian Sistem Penyediaan (> 90%) Kebutuhan Benih Unggul Bermutu (Padi, Jagung, Kedelai) Yang Lebih Murah (> 20%) Secara Berkelanjutan Untuk Mendukung Program Strategis Peningkatan Produksi Padi (> 100/0), Jagung (> 20%) Dan Kedelai (> 20%) Di Wilayah Gorontalo. www.ristek.go.id
Ruskandar, A., Wahyuni, S., Mulya, S.H., Rustiati, T. Respon Petani di Pulau Jawa Terhadap Benih Bersertifikat. Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN. Buku 2 Hal 881.
Samaullah, M.Y. Pengembangan Varietas Unggul dan Komersialisasi Benih Sumber Padi. Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN.
Buku 2 Hal 869.
Syafruddin, Patta Sija, Jaka Sumarno, Nova M. Muhammaad, M.Yusuf Antu. 2010.
Analisis Sistem Perbenihan Di Propinsi Gorontalo. Prosiding Seminar Nasional Pengkajian dan Diseminasi Inovasi Pertanian Mendukung Program Strategis Kementrian Pertanian. Cisarua, 9-11 Desember 2010.
Wahyuni, S., Ruskandar, A., Mulsanti I.W. Peran Produsen Benih dalam Diseminasi Varietas Unggul Padi di Jawa Barat . Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN. Buku 2 Hal 889.