BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Mengenai Perlindungan Hukum a. Pengertian Perlindungan Hukum
Secara bahasa, kata perlindungan dalam bahas Inggris disebut dengan protection. Istilah perlindungan dapat disamakan dengan istilah proteksi, yang artinya adalah proses atau perbuatan memperlindungi, sedangkan menurut Black’s Law Dictionary, protection adalah the act of protecting (Bryan A.
Garner, 2009 : 1343). Bentuk perlindungan hukum menurut R. La Porta dalam Journal of Financial Economics adalah bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh suatu negara memiliki dua sifat, yaitu bersifat pencegahan dan bersifat hukuman (Rafael La Porta, 1999).
Perlindungan hukum adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban, perlindungan hukum korban kejahatan sebagai bagian dari perlindungan masyarakat, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti melalui pemberian restitusi, kompensasi, pelayanan medis, dan bantuan hukum (Soerjono Soekanto, 1984 : 133).
Pengertian di atas mengundang beberapa ahli untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai pengertian dari perlindungan hukum diantaranya (Moh.
Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, 1988 : 98) :
1) Menurut Satjipto Raharjo mendefinisikan Perlindungan Hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.
2) Menurut Philipus M. Hadjon berpendapat bahwa Perlindungan Hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan. commit to user
3) Menurut CST Kansil Perlindungan Hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.
4) Menurut Philipus M. Hadjon Perlindungan Hukum adalah Sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak tersebut.
b. Macam-macam Perlindungan Hukum
Menurut Philipus M. Hadjon, terdapat 2 (dua) macam perlindungan hukum, yaitu (Ketut Dezy Ari Utami, 2014 : 297):
1) Perlindungan Hukum Preventif
Perlindungan hukum yang bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu sengketa. Perlindungan hukum jenis ini misalnya sebelum Pemerintah menetapkan suatu aturan atau keputusan, rakyat dapat mengajukan keberatan, atau dimintai pendapatnya mengenai rencana keputusan tersebut.
2) Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum yang dilakukan dengan cara menerapkan sanksi terhadap pelaku agar dapat memulihkan hukum kepada keadaan sebenarnya. Perlindungan jenis ini biasanya dilakukan di Pengadilan.
Kaitannya dengan perlindungan hukum represif bertujuan untuk memberikan keadilan dalam proses persidangan apabila terjadi sengketa hak atas tanah.
c. Unsur Perlindungan Hukum
Wahyu Sasongko mendefinisikan perlindungan hukum sebagai suatu tindakan perlindungan atau tindakan melindungi pihak-pihak tertentu yang ditujukan untuk pihak tertentu dengan menggunakan cara-cara tertentu. Dari definisi itu, maka ada tiga unsur dalam perlindungan hukum, yaitu (M. Natsir Asnawi, 2017 : 60):
1) Unsur tindakan melindungi;
2) Unsur pihak yang melindungi;
3) Unsur cara atau mekanisme melindungi.
d. Cara Perlindungan Hukum
commit to user
Perlindungan Hukum dapat diartikan perlindungan oleh hukum atau perlindungan dengan menggunakan pranata dan sarana hukum. Ada beberapa cara perlindungan secara hukum, antara lain sebagai berikut (Wahyu Sasongko, 2007 : 31) :
1) Membuat peraturan (by giving regulation), yang bertujuan untuk : a) Memberikan hak dan kewajiban;
b) Menjamin hak-hak para subjek hukum.
2) Menegakkan peraturan (by the law enforcement) melalui :
a) Hukum Administrasi Negara yang berfungsi untuk mencegah (preventive) terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen dengan perizinan dan pengawasan;
b) Hukum Pidana yang berfungsi untuk menanggulangi (repressive) setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dengan cara mengenakan sanksi hukum berupa sanksi pidana dan hukuman;
c) Hukum Perdata yang berfungsi untuk memulihkan hak (currative, recovery) dengan membayar kompensasi atau ganti kerugian.
2. Tinjauan Mengenai Teori Keadilan a. Pengertian Keadilan
Keadilan berasal dari kata “adil” dari bahasa Arab al-adl, yang berarti lurus dalam jiwa, tidak dikalahkan oleh hawa napsu, berhukum dengan kebenaran, tidak zalim, seimbang, setara dan sebagainya. Dalam bahasa Inggris, istilah keadilan, disebutkan dengan berbagai ketentuan, seperti, justice yang dapat dikatakan sebagai keadilan, kepantasan, ketepatan dan peradilan, fairness dapat dikatakan sebagai keadilan, kejujuran, kewajaran, equaty dapat dikatakan sebagai keadilan, kewajaran dan hak menurut keadilan dan impartiality dapat dikatakan sebagai keadilan, sifat tidak memihak, sikap jujur, sikap adil, kejujuran dan sikap netral. Dalam bahasa Indonesia, keadilan adalah sifat tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran, sepatutnya dan tidak sewenang-wenang. Secara etimologis, keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang (Sulhani Hermawan, 2012 : 491).
Keadilan menurut Thomas W Simon dalam Sulhani Hermawan, menyatakan bahwa para pembuat teori mendefinisikan keadilan (justice) dalam istilah yang berbeda-beda. Kelompok libertarian, mendefinisikan dengan istilah
commit to user
kebebasan (liberty), kelompok sosialis mendefinisikan dengan istilah kesetaraan, kelompok liberal mendefinisikan dengan gabungan istilah kebebasan dan kesetaraan, sedangkan kaum communitarian melihat keadilan dengan istilah commod good (kebaikan umum) (Sulhani Hermawan, 2012 : 490).
Aristoteles dalam tulisannya Retorica membedakan keadilan dalam dua macam yaitu keadilan distributif (juditia distributiva) sebagai keadilan yang memberikan kepada setiap orang didasarkan atas jasa-jasanya atau pembagian menurut hak masing-masing. Sedangkan keadilan komulatif (justitia cummulativa) sebagai keadilan yang diterima oleh masing-masing anggota tanpa memperdulikan jasa masing-masing. Dari cakupan keadilan tersebut, dapat dikategorikan sebagai keadilan hukum dan keadilan kesetaraan.
Aristoteles membuat pembedaan penting antara kesamaan numerik dan kesamaan proporsional. Kesamaan numerik mempersamakan setiap manusia sebagai satu unit. Inilah yang sekarang biasa dipahami tentang kesamaan atau persamaan di depan hukum. Kesamaan proporsional atau kesetaraan memberi tiap orang apa yang menjadi haknya sesuai dengan kemampuan, prestasi, dan sebagainya. Tidak semua yang adil menurut hukum adalah setara dan tidak semua ketidak-setaraan tidak adil menurut hukum. Makna keadilan sebagai kesetaraan menurut Aristoteles dipertegas dan dikembangkan oleh Cicero, yaitu keadilan itu satu, mengikat semua masyarakat dan bertumpu diatas satu sumber, yaitu akal budi yang benar. Pengesampingan nilai keadilan demi kepastian hukum merupakan suatu ironi. Cicero, pernah berucap “Summum Ius Summa Iniuria” (hukum tertinggi adalah ketidakadilan tertinggi) (Purwanto, 2017 : 7- 8).
Keadilan sebagai kesetaraan diulas oleh Thomas Aquinas, yang membedakan keadilan dalam dua kelompok yaitu keadilan umum (justitia generalis) dan keadilan khusus (justitia specialis). Keadilan umum adalah keadilan menurut kehendak undang-undang yang harus ditunaikan demi kepentingan umum, sedangkan keadilan khusus adalah keadilan atas dasar kesamaan atau proporsional. Keadilan khusus kemudian dijabarkan dalam tiga bentuk, yaitu (Purwanto : 8):
1) Keadilan distributif (justitia distributiva) adalah keadilan yang secara proporsional yang diterapkan dalam lapangan hukum publik secara umum;
commit to user
2) Keadilan komutatif (justitia commutativa) adalah keadilan dengan mempersamakan antara prestasi dengan kontraprestasi;
3) Keadilan vindikatif (justitia vindicativa) adalah keadilan dalam hal menjatuhkan hukuman atau ganti kerugian dalam tindak pidana. Seseorang akan dianggap adil apabila dipidana badan atau denda sesuai dengan besarnya hukuman yang telah ditentukan atas tindak pidana yang dilakukannya.
b. Macam-macam Keadilan
Menurut Suteki dalam Purwanto, perbedaan antara keadilan individu dan keadilan sosial sebagai berikut (Purwanto, 2017 : 9):
1) Keadilan individual adalah keadilan mikro, yaitu suatu keadilan yang pelaksanaannya tergantung pada kehendak pribadi. Bentuk yang dituntutpun jelas, “perlakukanlah setiap orang secara adil”. Jika yang dibicarakan adalah keadilan sebagai fenomena sosiologis, maka keadilan itu sudah tidak lagi bersifat individual, melainkan sosial bahkan struktural.
2) Keadilan Sosial atau keadilan makro adalah keadilan yang pelaksanaannya tidak lagi tergantung pada kehendak pribadi, atau pada kebaikan-kebaikan individu yang bersikap adil, tetapi sudah bersifat struktural.
3. Tinjauan Mengenai Teori Kepastian Hukum a. Pengertian Kepastian Hukum
Secara gramatikal kepastian berasal dari kata pasti yang artinya sudah tetap, mesti dan tentu. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian kepastian yaitu perihal (keadaan) pasti (sudah tetap), ketentuan, ketetapan sedangkan pengertian hukum adalah perangkat hukum suatu negara yang mampu menjamin hak dan kewajiban setiap warga negara, jadi kepastian hukum adalah ketentuan atau ketetapan yang dibuat oleh perangkat hukum suatu negara yang mampu memberikan jaminan atas hak dan kewajiban setiap warga negara (R. Tony Prayogo, 2016 : 194).
b. Pengertian Kepastian Hukum Menurut Para Ahli
Berikut beberapa ahli hukum memberikan pendapatnya terhadap apa yang dimaksud kepastian hukum. Menurut Gustav Radbruch, hukum yang baik harus dapat mengandung pengertian bahwa hukum dapat membawa suatu kepastian hukum, keadilan hukum maupun kemanfaatan hukum (Kania Dewi Andhika Putri, 2018 : 148). Untuk kepastian hukum itu sendiri dimaknai dengan
commit to user
kondisi dimana hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati (R.
Tony Prayogo. 2016. “Penerapan Asas Kepastian Hukum Dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Hak Uji Materiil Dan Dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 Tentang Pedoman Beracara Dalam Pengujian Undang-Undang”. Jurnal Legislasi Indonesia. Vol 13. No. 2. Jakarta: Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM. Hal 192).
Menurut Van Apeldoorn, kepastian hukum dapat juga berarti hal yang dapat ditentukan oleh hukum dalam hal-hal yang konkret. Kepastian hukum adalah jaminan bahwa hukum dijalankan, bahwa yang berhak menurut hukum dapat memperoleh haknya dan bahwa putusan dapat dilaksanakan. Kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiable terhadap tindakan sewenang- wenang yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas, tetap dan konsisten dimana pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya subjektif. Menurut pendapat Lawrence M. Wriedman, bahwa untuk mewujudkan “kepastian hukum” paling tidak haruslah didukung oleh unsur-unsur sebagai berikut, yaitu substansi hukum, aparatur hukum, dan budaya hukum (R. Tony Prayogo, 2016 : 194).
Sudikno Mertokusumo menyatakan bahwa kepastian hukum merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum, yaitu merupakan yustiabel terhadap tindakan sewenang-wenang yang berarti seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Menurut Maria S.W. Sumardjono bahwa tentang konsep kepastian hukum, yaitu secara normatif, kepastian hukum itu memerlukan tersedianya perangkat peraturan perundang-undangan yang secara operasionalmaupun mendukung pelaksanaannya. Secara empiris, keberadaan peraturan perundang- undangan itu perlu dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen oleh sumber daya manusia pendukungnya (R. Tony Prayogo, 2016 : 194).
4. Tinjauan Mengenai Perjanjian a. Pengertian Perjanjian
Istilah perjanjian merupakan terjemahan dari kata overeenkomst (belanda) atau contract (inggris), ada dua macam teori yang membahas tentang
commit to user
pengertian perjanjian, yaitu teori lama dan teori baru. Menurut teori lama, yang disebut perjanjian adalah perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Lalu, menurut teori baru yang dikemukakan oleh Van Dunne, yang diartikan dengan perjanjian adalah antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum (Salim H.S., 2011 : 161). Menurut R. Subekti yang dimaksud dengan perjanjian adalah suatu peristiwa dimana sesorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji melakukan sesuatu hal (Subekti, 1990 : 1). Hukum Perjanjian menganut sistem terbuka, artinya hukum perjanjian memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja, asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan.
(Alfiansyah dkk, 2015 : 6)
Perjanjian dalam KUH Perdata dapat ditemukan dalam Pasal 1313 KUH Perdata menyatakan suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Dapat diketahui bahwa suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Dari peristiwa tersebut timbul suatu hubungan terhadap satu orang atau lebih. Pasal 1313 KUH Perdata, antara dua orang atau lebih yang dinamakan perikatan. Dengan demikian perjanjian merupakan sumber terpenting yang melahirkan perikatan. Selain dari perjanjian, perikatan juga dilahirkan dari undang-undang (Pasal 1233 KUH Perdata) yang berbunyi tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang-undang.
Tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu (Pasal 1234 KUH Perdata) (R. Soeroso, 2011 : 3). Perjanjian adalah salah satu sumber perikatan, disamping sumber- sumber lain. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena dua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Dapat dikatakan bahwa dua perikatan (perjanjian dan persetujuan) itu adalah sama artinya atau persetujuan tertulis (Subekti, 1990 : 1).
Suatu perjanjian harus dianggap lahir pada waktu tercapainya suatu kesepakatan antara kedua belah pihak. Orang yang hendak membuat perjanjian harus menyatakan kehendaknya dan kesediaannya untuk mengikatkan dirinya.
Pernyataan kedua belah pihak bertemu dan sepakat (Subekti, 1990 : 136). commit to user
Perikatan yang lahir dari perjanjian, memang dikehendaki oleh dua orang atau dua pihak yang membuat suatu perjanjian, sedangkan perikatan yang lahir dari undang-undang diadakan oleh undang-undang di luar kemauan para pihak yang bersangkutan. Apabila dua orang mengadakan suatu perjanjian maka mereka bermaksud agar antara mereka berlaku suatu perikatan hukum.
Sungguh-sungguh mereka itu terikat satu sama lain karena janji yang telah mereka berikan. Tali perikatan ini barulah putus kalau janji itu sudah dipenuhi (Subekti, 1990 : 3).
b. Syarat Sah Perjanjian
Suatu perjanjian haruslah memenuhi syarat-syarat sah perjanjian, berdasarkan pasal 1320 KUH Perdata suatu perjanjian adalah sah apabila memenuhi persyaratan, yaitu :
1) Adanya kesepakatan
Menurut Pasal 1321 mengatakan bahwa tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan. Kekhilafan diatur dalam Pasal 1322 yang mengatakan bahwa kekhilafan tidak mengakibatkan batalnya suatu perjanjian selain apabila kekhilafan itu terjadi mengenai hakikat barang yang menjadi pokok perjanjian. Paksaan diatur dalam Pasal 1324 yang mengatakan bahwa paksaan telah terjadi, apabila perbuatan itu sedemikian rupa hingga dapat menakutkan seseorang yang berpikiran sehat, dan apabila perbuatan itu dapat menimbulkan ketakutan pada orang tersebut bahwa dirinya atau kekayaannya terancam dengan suatu kerugian yang terang dan nyata. Penipuan diatur dalam Pasal 1328 yang mengatakan bahwa penipuan merupakan suatu alasan untuk pembatalan perjanjian, apabila tipu muslihat, yang dipakai oleh salah satu pihak, adalah sedemikian rupa hingga terang dan nyata bahwa pihak yang lain tidak telah membuat perikatan itu jika tidak dilakukan tipu muslihat.
Kesepakatan adalah persesuaian kehendak antara satu orang atau lebih dengan pihak lain (Salim H.S., 2011 : 162). Para pihak yang membuat perjanjian telah sepakat atau ada persesuaian kemauan atau saling menyetujui kehendak masing-masing, yang dilahirkan oleh para pihak dengan tidak ada paksaan, kekeliruan dan penipuan (H. Riduan Syahrani, 2006 : 205).
commit to user
2) Cakap
Cakap (bekwaan) merupakan syarat umum untuk dapat melakukan perbuatan hukum secara sah yaitu harus sudah dewasa seperti yang tercantum dalam Pasal 1329 yang mengatakan bahwa setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-undang tidak dinyatakan cakap.
Adapun orang-orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian dalam Pasal 1330 KUH Perdata disebutkan sebagai berikut :
a) Orang-orang yang belum dewasa;
b) Orang yang ditaruh dibawah pengampuan.
Pasal 330 KUH Perdata menyatakan bahwa cakap harus sehat akal pikiran dan tidak dilarang oleh suatu peraturan perundang- undangan untuk melakukan sesuatu perbuatan tertentu. Cakap juga tercantum dalam Pasal 433 KUH Perdata yang mengatakan bahwa setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan dungu, sakit otak, atau mata gelap harus ditaruh di bawah pengampuan, pun jika ia kadang-kadang cakap mempergunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga ditaruh di bawah pengampuan karena keborosannya.
3) Adanya Objek perjanjian
Objek perjanjian adalah prestasi (pokok perjanjian). Prestasi adalah kewajiban debitur dan hak kreditur. Prestasi harus dapat ditentukan, artinya di dalam mengadakan perjanjian, isi perjanjian harus dipastikan, dalam arti dapat ditentukan secara cukup (Firman Floranta Adonara, 2014 : 85). Objek perjanjian tercantum dalam Pasal 1332, Pasal 1333, Pasal 1334 KUH Perdata. Menurut Pasal 1332 KUH Perdata, hanya barang-barang yang dapat diperdagangkan saja dapat menjadi pokok suatu perjanjian. Menurut Pasal 1333 KUH Perdata yang dinyatakan Suatu perjanjian harus mempunyai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya.
Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung. Menurut Pasal 1334 KUH Perdata, barang-barang yang baru akan ada dikemudian hari dapat menjadi pokok suatu perjanjian. Tetapi tidaklah diperkenankan untuk melepaskan suatu warisan yang belum terbuka, atau pun untuk meminta diperjanjikan suatu sesuatu hal mengenai warisan itu, sekalipun dengan
commit to user
sepakatnya orang yang nantinya akan meninggalkan warisan yang menjadi pokok perjanjian itu, dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan Pasal 169, 176, dan 178 KUH Perdata. Dengan hal itu bahwa warisan yang terbuka dapat menjadi pokok suatu perjanjian.
4) Suatu sebab yang halal
Suatu sebab yang halal merupakan syarat yang keempat untuk sahnya perjanjian. Mengenai syarat ini Pasal 1335 KUH Perdata menyatakan bahwa suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan. Akhirnya, Pasal 1337 KUH Perdata menentukan bahwa sesuatu sebab dalam perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum (H. Riduan Syahrani, 2006 : 211-212).
Dua syarat yang pertama, dinamakan syarat-syarat subjektif, karena mengenai orang-orangnya atau subjeknya yang mengadakan perjanjian.
Sedangkan dua syarat terakhir dinamakan syarat-syarat obyektif karena mengenai perjanjiannya sendiri atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu (Subekti, 1990 : 17).
Adapun dari keempat syarat dapat dibagi menjadi 2 macam syarat yaitu syarat subyektif dan syarat obyektif yang antara lain adalah (M. Zen Abdullah, 2010 : 21-22) :
a) Syarat Subyektif
Syarat subyektif terdiri dari 2 hal yaitu :
(1) kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
(2) kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
Apabila syarat subyektif ini tidak terpenuhi maka berakibat perjanjian tersebut dapat dibatalkan, artinya selama tidak ada pihak yang berkeberatan terhadap berlakunya perjanjian tersebut maka perjanjian tersebut tetap berlaku dan sebaliknya apabila ada pihak yang berkeberatan terhadap perjanjian tersebut maka pihak yang bersangkutan dapat mengajukan pembatalan terhadap perjanjian tersebut, dengan kata lain syarat subyektif ini menyangkut dengan kondisi pribadi para pihak yang mengadakan perjanjian. Dinamakan syarat subyektif dikarenakan syarat yang harus dipenuhi ini melekat pada subyek dari perjanjian yaitu para pihak yang membuat suatu perjanjian tersebut, sebagai contoh syarat sepakat yaitu
commit to user
syarat yang melekat pada para pihak yang membuat suatu perjanjian atau subyek dari suatu perjanjian, begitu pula dengan syarat kecakapan untuk membuat suatu perikatan yakni syarat yang melekat pada para subyek perjanjian.
b) Syarat obyektif
Syarat obyektif terdiri dari 2 hal yaitu : (1) suatu pokok persoalan tertentu;
(2) suatu sebab yang tidak terlarang.
Apabila Syarat obyektif ini tidak terpenuhi maka akibatnya perjanjian tersebut batal demi hukum artinya perjanjian tersebut dianggap tidak pernah ada berdasar putusan pengadilan (Pasal 1266 KUH Perdata), dengan kata lain syarat ini menyangkut dengan isi dan materi dari perjanjian tersebut.
Dinamakan syarat obyektif karena syarat ini melekat pada obyek dari suatu perjanjian tersebut, bukan pada subyek perjanjian, atau dengan kata lain hal-hal atau barang yang diperjanjikanlah yang menjadi syarat obyektif ini yang harus sesuai atau tidak dilarang oleh Undang-Undang.
c. Asas-asas Perjanjian
Berdasarkan teori, di dalam suatu hukum kontrak terdapat 5 (lima) asas yang dikenal menurut ilmu hukum perdata., yaitu (M. Muhtarom, 2014 : 50-53) :
1) Asas Kepribadian (Personality)
Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan/atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUH Perdata.
Pasal 1315 KUH Perdata menegaskan: “Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri.” Inti ketentuan ini sudah jelas bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian, orang tersebut harus untuk kepentingan dirinya sendiri.
Pasal 1340 KUH Perdata berbunyi: “Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya.” Hal ini mengandung maksud bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya.
Namun demikian, ketentuan itu terdapat pengecualiannya sebagaimana dalam Pasal 1317 KUH Perdata yang menyatakan: “Dapat
commit to user
pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu.” Pasal ini mengkonstruksikan bahwa seseorang dapat mengadakan perjanjian/ kontrak untuk kepentingan pihak ketiga, dengan adanya suatu syarat yang ditentukan.
2) Asas Konsesualisme (concencualism)
Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 Ayat (1) KUH Perdata. Pada pasal tersebut ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kata kesepakatan antara kedua belah pihak.
Asas ini merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, melainkan cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan adalah persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak.
3) Asas kebebasan berkontrak (freedom of contract)
Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”
Asas ini merupakan suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk:
a) membuat atau tidak membuat perjanjian;
b) mengadakan perjanjian dengan siapa pun;
c) menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, serta;
d) menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan.
4) Asas Kepastian Hukum (pacta sunt servanda)
Asas kepastian hukum atau disebut juga dengan asas pacta sunt servanda merupakan asas yang berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang. Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata yang menentukan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
commit to user
5) Asas Itikad Baik (good faith)
Asas itikad baik tercantum dalam Pasal 1338 Ayat (3) KUH Perdata yang berbunyi: “Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Asas ini merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh maupun kemauan baik dari para pihak. Asas itikad baik terbagi menjadi dua macam, yakni itikad baik nisbi dan itikad baik mutlak. Pada itikad yang pertama, seseorang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada itikad yang kedua, penilaian terletak pada akal sehat dan keadilan serta dibuat ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif. Lalu, asas itikad baik juga tercantum dalam Pasal 1965 KUH Perdata yang mengatakan itikad baik selamanya harus dianggap ada, sedangkan siapa yang menunjuk kepada suatu itikad buruk diwajibkan membuktikannya.
d. Unsur-unsur Perjanjian
Unsur adalah bagian terkecil dari suatu benda yang tidak dapat dibagi- bagi lagi, sehingga di dalam suatu perjanjian juga terdapat unsur-unsur yang terdiri dari, sebagai berikut (Firman Floranta Adonara, 2014 : 111) :
1) Unsur Essentialia
Merupakan bagian pokok dalam suatu perjanjian. Oleh karena itu, harus mutlak adanya, sebab apabila perjanjian tidak memiliki bagian pokok, perjanjian tersebut tidak memenuhi syarat. Misalnya, dalam perjanjian jual beli, bagian pokoknya harus ada harga barang yang diperjualbelikan.
2) Unsur Naturalia
Merupakan bagian yang oleh undang-undang ditentukan sebagai peraturan yang bersifat mengatur. Misalnya, dalam jual beli, unsur naturalianya terletak pada kewajiban penjual untuk menjamin adanya cacat tersembunyi.
3) Unsur Accidentalia
Merupakan bagian tambahan dalam perjanjian. Tambahan tersebut dinyatakan atau ditetapkan sebagai peraturan yang mengikat para pihak atau sebagai undang-undang yang harus dilaksanakan. Misalnya, perjanjian jual beli mobil, bukan hanya ada mesin dan karoserinya, melainkan ditambahkan harus ada AC, tape, dan variasinya.
commit to user
e. Tahap-tahap Pembuatan Perjanjian
Berdasarkan teori baru, perjanjian tidak hanya dilihat semata-mata tetapi harus ditinjau pembuatan sebelumnya atau yang mendahulunya. Terdapat tiga tahap dalam pembuatan perjanjian, yaitu (Salim H.S., 2005 : 16) :
1) Tahap pra-contractual, yaitu adanya penawaran dan penerimaan;
2) Tahap contractual, yaitu adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak;
3) Tahap post-contractual, yaitu pelaksanaan perjanjian.
5. Tinjauan Mengenai Jual Beli a. Pengertian Jual Beli
Menurut Abdulkadir Muhammad, perjanjian jual beli adalah perjanjian dengan mana penjual memindahkan atau setuju memindahkan hak milik atas barang kepada pembeli sebagai imbalan sejumlah uang yang disebut harga (Abdulkadir Muhammad, 2010 : 243). Menurut Salim H.S., S.H., M.S., Perjanjian jual beli adalah Suatu Perjanjian yang dibuat antara pihak penjual dan pihak pembeli (Salim H.S., 2003 : 49). Di dalam perjanjian itu pihak penjual berkewajiban untuk menyerahkan objek jual beli kepada pembeli dan berhak menerima harga dan pembeli berkewajiban untuk membayar harga dan berhak menerima objek tersebut. Unsur yang terkandung dalam definisi tersebut adalah :
1) Adanya subjek hukum, yaitu penjual dan pembeli;
2) Adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang barang dan harga;
3) Adanya hak dan kewajiban yang timbul antara pihak penjual dan pembeli.
b. Pengertian Jual Beli Menurut KUH Perdata
Perjanjian jual beli diatur dalam pasal 1457-1540 KUH Perdata.
Menurut pasal 1457 KUH Perdata, jual beli adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan hak atas suatu barang dan pihak lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Dengan demikian dalam jual beli tanah dianggap terjadi walaupun tanah belum diserahkan atau harganya belum dibayar karena adanya kesepakatan bersama dalam hal jual beli tanah. Dalam jual beli tanah hak pihak penjual sudah beralih ke pihak pembeli, namun untuk pemindahan hak itu masih diperlukan suatu perbuatan hukum lain berupa penyerahan. Penyerahan hak itu dalam istilah hukumnya biasa disebut Juridische levering (penyerahan menurut hukum) yang
commit to user
harus dilakukan dengan akta dibuat oleh Pejabat Balik Nama berdasarkan ordonansi Balik Nama Stbid No. 27 Tahun 1834 (Cici Fajar Novita, 2014 : 3).
Pengertian yang diberikan pasal 1457 KUH Perdata, persetujuan jual beli sekaligus membebankan dua kewajiban yaitu (M. Yahya Harahap, 1986 : 181) :
1) Kewajiban pihak penjual menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli;
2) Kewajiban pihak pembeli membayar harga barang yang dibeli kepada penjual.
c. Jual Beli Menurut Hukum Adat
Pasal 5 UUPA terdapat pernyataan bahwa hukum tanah nasional kita adalah hukum adat, berarti kita menggunakan konsepsi, asas-asas, lembaga hukum dan sistem hukum adat. Hukum Adat yang dimaksud tentunya hukum adat yang telah di-saneer yang dihilangkan cacat-cacatnya/disempurnakan. Jadi, pengertian jual beli tanah menurut hukum tanah nasional kita adalah pengertian jual beli tanah menurut hukum adat (Adrian Sutedi, 2009 : 71).
Jual beli menurut hukum adat menurut Wiryono Projodikoro adalah bukan hanya persetujuan belaka antara kedua belah pihak melainkan merupakan suatu penyerahan hak atas barang atau benda dengan syarat membayar harga.
Pada waktu diadakan persetujuan diantara kedua belah pihak biasanya menurut hukum adat diberikannya panjar oleh pembeli kepada penjual dan ini dimaksudkan supaya ada kekuatan antara kedua belah pihak (Wiryono Projodikoro, 2000 : 73).
Menurut hukum adat, jual beli tanah adalah suatu perbuatan pemindahan hak atas tanah yang bersifat tunai, nyata, dan terang. Yang dimaksud “tunai”
adalah penyerahan hak oleh penjual dilakukan bersamaan dengan pembayaran oleh pembeli dan seketika itu juga hak sudah beralih. Harga yang dibayarkan itu tidak harus lunas, selisih harga dianggap sebagai hutang pembeli kepada penjual yang termasuk lingkup hutang piutang. Bersifat “riil” berarti kehendak yang diucapkan harus diikuti perbuatan nyata, misalnya dengan telah diterimanya uang oleh penjual, dan dibuatnya perjanjian di hadapan kepala desa. Bersifat
“terang” jika dilakukan di hadapan kepala desa untuk memastikan bahwa perbuatan itu tidak melanggar ketentuan hukum yang berlaku (Leny Kurniawati, 2018 : 4). Oleh karena itu, maka tunai mungkin berarti harga tanah dibayar secara kontan, atau baru dibayar sebagian (tunai dianggap tunai). Dalam hal
commit to user
pembeli tidak membayar sisanya, maka penjual tidak dapat menuntut atas dasar terjadinya jual beli tanah, akan tetapi atas dasar hukum utang piutang (Soerjono Soekanto, 1983 : 211).
Menurut pengertian jual beli tanah menurut hukum adat adalah suatu perbuatan hukum, yang mana pihak penjual menyerahkan tanah yang dijualnya kepada pembeli untuk selama-lamanya, pada waktu pembeli membayar harga (walaupun baru sebagian) tanah tersebut kepada penjual. Sejak itu hak atas tanah telah beralih dari penjual kepada pembeli (Boedi Harsono, 1997 : 30).
Jual beli tanah menurut hukum adat adalah perbuatan hukum dimana pihak penjual menyerahkan tanahnya kepada pembeli untuk selama-lamanya pada saat pembeli membayar harga tanah tersebut kepada penjual (walaupun separuh dari harga yang telah ditentukan). Jual beli menurut hukum adat dilakukan dimuka kepala adat yang bertindak sebagai saksi dan menjamin jual beli sah (Bachtiar Effendi, 1982 : 30).
Menurut Van Dijk yang diterjemahkan oleh A. Soehadi, jual beli tanah menurut hukum adat adalah perpindahan tanah untuk selama-lamanya dengan menerima sejumlah uang yang dibayar secara tunai atau kontan oleh pembeli dan pembeli memperoleh hak milik penuh atas tanah tersebut. Pembayaran secara tunai dan kontan ini dilakukan di hadapan kepala desa sebagai saksi atas sahnya transaksi jual beli tersebut (A. Soehadi, 1979 : 66).
Disimpulkan pembeli telah mendapat hak milik atas tanah, sejak saat, terjadi jual beli. Jadi jual beli menurut hukum adat adalah suatu perbuatan pemindahan hak antara penjual kepada pembeli. Dalam hal jual beli yang pembayarannya belum lunas (baru dibayar sebagian), sisa harganya itu merupakan hutang pembeli kepada penjual, jika pembeli tidak membayamya, penjual dapat menuntut berdasarkan hutang piutang dan tidak mempengaruhi jual beli yang dianggap telah selesai itu, maka biasa dikatakan bahwa jual beli menurut hukum adat itu bersifat "tunai" (kontan), "nyata" (konkrit), dan
“terang”.
d. Jual Beli Menurut UUPA
UUPA menyebutkan istilah jual beli hanya disebutkan dalam Pasal 26 yaitu yang menyangkut jual beli hak milik atas tanah. Dalam pasal-pasal lainnya, tidak ada kata yang menyebutkan jual beli, tetapi disebutkan sebagai dialihkan. Pengertian dialihkan menunjukkan suatu perbuatan hukum yang
commit to user
disengaja untuk memindahkan hak atas tanah kepada pihak lain melalui jual beli, hibah, tukar-menukar dan hibah wasiat. Jadi, meskipun dalam pasal hanya disebutkan dialihkan, termasuk salah satunya adalah perbuatan hukum pemindahan hak atas tanah karena jual beli.
Apa yang dimaksud jual beli itu sendiri oleh UUPA tidak diterangkan secara jelas, akan tetapi mengingat dalam Pasal 5 UUPA disebutkan bahwa Hukum Tanah Nasional kita adalah Hukum Adat, berarti kita menggunakan konsepsi, asas-asas, lembaga hukum, dan sistem Hukum Adat. Maka pengertian jual beli tanah menurut Hukum Tanah Nasional adalah pengertian jual beli tanah menurut Hukum Adat.
6. Tinjauan Mengenai Tanah a. Pengertian Tanah
Tanah dalam terminologi asing disebut dengan Land, Soil (Inggris), Adama (Semit) dan dalam beberapa terminologi daerah disebut dengan Siti, Bumi, Lemah (Jawa); Pelemahan (Bali), Taneuh, leumah (Sunda); Petak, Bumi (Dayak); Rai (Tetum). Perbedaan istilah terjadi bukan sekedar karena adanya perbedaan bahasa, namun lebih dari itu karena perbedaan pemaknaan tanah oleh manusia yang menguasai atau menggunakannya (Julius Sembiring, 2011 : 3).
Tanah yang dulu dipandang dari sudut sosial, yang tercakup dalam lingkup hukum adat, hak ulayat dan fungsi sosial, kini mulai dilihat dari sudut ekonomi, sehingga tepat apabila Perserikatan Bangsa-Bangsa mensinyalir bahwa saat ini masalah pertanahan tidak lagi menyangkut isu kemasyarakatan tetapi telah berkembang menjadi isu ekonomi (Muhammad Yamin dan Rahim Lubis, 2004 : 26).
Dalam hukum tanah kata sebutan “tanah” dipakai dalam arti yuridis, sebagai suatu pengertian yang telah diberikan batasan resmi oleh Pasal 4 UUPA, UUPA menyatakan bahwa atas dasar hak menguasai Negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 UUPA ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum. Ayat (1) menyebutkan bahwa tanah dalam pengertian yuridis adalah permukaan bumi, sedangkan hak atas tanah adalah hak atas sebagian tertentu permukaan bumi, yang terbatas.
commit to user
Tanah diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang dengan hak-hak yang disediakan oleh UUPA, adalah digunakan atau dimanfaatkan. Diberikan dan dipunyainya tanah dengan hak-hak tersebut tidak akan bermakna, jika penggunaannya terbatas hanya pada tanah sebagai permukaan bumi saja. Untuk keperluan apapun tidak bisa tidak, pasti diperlukan juga penggunaan sebagian tubuh bumi yang ada di bawahnya dan air serta ruang yang ada diatasnya. Oleh karena itu didalam Ayat (2) dinyatakan, bahwa hak-hak atas tanah bukan hanya memberikan wewenang untuk mempergunakan sebagian tertentu permukaan bumi yang bersangkutan, yang disebut “tanah” akan tetapi juga tubuh bumi yang ada dibawahnya dan air serta ruang yang ada diatasnya (Budi Harsono, 1971 : 152).
Tanah sebagaimana yang diatur dalam PP No. 24 Tahun 1997 adalah meliputi bagian permukaan bumi yang merupakan satuan bidang yang terbatas dan merupakan objek dari pendaftaran tanah, yang dimaksud dengan tanah dalam tulisan ini adalah permukaan bumi yang terbatas dan merupakan objek pendaftaran tanah yang mana tujuan akhir dari pendaftaran tanah tersebut adalah untuk mendapatkan kepastian hukum dengan diterbitkannya sertifikat hak atas tanah (Muchtar Wahid, 2008 : 145).
Berdasarkan faktanya, yaitu bahwa tanah merupakan tempat tinggal persekutuan atau masyarakat hukum adat, tanah sebagai tempat kehidupan dan penghidupan, tanah juga sebagai tempat penguburan anggota warga persekutuan, tanah juga sebagai tempat perlindungan (Rofi Wahanisa, 2010 : 1- 2).
b. Hak Atas Tanah
1) Pengertian Hak Atas Tanah
Hak tanah merupakan hak penguasaan atas tanah yang berisikan serangkaian wewenang, kewajiban dan/atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang menjadi haknya. Sesuatu yang boleh, wajib atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriteria atau tolak ukur di antara hak-hak penguasaan atas tanah yang diatur dalam hukum tanah (Budi Harsono, 2003 : 24).
Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang yang mempunyai hak untuk mempergunakan atau mengambil
commit to user
manfaat atas tanah tersebut. Hak atas tanah berbeda dengan hak penggunaan atas tanah (Sri Sayekti, 2000).
Hak atas tanah dalam hukum tanah nasional adalah hak-hak yang masing-masing berisikan kewenangan, tugas kewajiban dan/atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu dengan bidang tanah yang dihaki. Apa yang boleh, wajib, atau dilarang untuk diperbuat itulah yang membedakan hak atas tanah yang satu dengan yang lainnya (Didik Wihardi et al, 2010 : 884-885).
2) Macam-Macam Hak Atas Tanah
Dengan adanya hak menguasai dari Negara sebagaimana tertuang dalam Pasal 2 Ayat (1) UUPA, yaitu atas dasar ketentuan Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 dan hal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan yang tertinggi dikuasai oleh Negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh masyarakat.
Atas dasar ketentuan tersebut, Negara berwenang untuk menentukan hak-hak atas tanah yang dimiliki oleh dan atau diberikan kepada perseorangan badan hukum yang memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Kewenangan tersebut diatur dalam Pasal 4 Ayat (1) dan Ayat (2) UUPA, yaitu dalam Ayat (1) atas dasar hak menguasai dari Negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri maupun bersama dengan orang lain serta badan-badan hukum. Sedangkan dalam Ayat (2) hak-hak atas tanah yang dimaksud dalam Ayat (1) Pasal ini memberi wewenang untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan demikian pula tubuh bumi dan air serta ruang yang ada diatasnya sekedar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu, dalam batas-batas menurut undang-undang ini dan peraturan-peraturan hukum lain yang lebih tinggi.
Berdasarkan Pasal tersebut, maka Negara menentukan hak-hak atas tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Ayat (1) UUPA, yaitu :
commit to user
a) Hak Milik;
b) Hak Guna Usaha;
c) Hak Guna Bangunan;
d) Hak Pakai;
e) Hak Sewa;
f) Hak Membuka Tanah;
g) Hak Memungut Hasil Hutan.
Macam-macam hak atas tanah dimuat dalam pasal 16 Jo 53 UUPA, yang dikelompokkan menjadi 3 macam yaitu (hasyimsoska.blogspot.com diakses 27 Agustus 2019):
a) Hak Atas Tanah yang Bersifat Tetap
Hak-hak atas tanah ini akan tetap ada selama UUPA masih berlaku atau belum dicabut dengan undang-undang yang baru. Contoh:
HM. HGU, HGB, HP, Hak Sewa untuk Bangunan dan Hak Memungut Hasil Hutan.
b) Hak Atas Tanah yang Akan Ditetapkan Undang-Undang
Hak atas tanah yang akan lahir kemudian, yang akan ditetapkan dengan undang-undang.
c) Hak Atas Tanah yang Bersifat Sementara
Hak atas tanah ini sifatnya sementara, dalam waktu yang singkat akan dihapus dikarenakan mengandung sifat-sifat pemerasan, feodal dan bertentangan dengan jiwa UUPA. Contoh: Hak Gadai, Hak Usaha Bagi Hasil, Hak Menumpang, dan hak sewa tanah pertanian.
3) Hak Milik
Pengertian Hak Milik atas tanah diatur dalam Pasal 20 UUPA, yang menentukan bahwa (Benedicta Putri Dumatubun, 2016 : 2-3) : a) Hak milik adalah hak turun-temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat
dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6;
b) Hak milik dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain.
Pada Ayat (1) tertulis bahwa hak milik adalah hak turun-temurun yang maksudnya adalah hak milik dapat diwariskan oleh pemegang hak kepada ahli warisnya. Selanjutnya disebutkan bahwa hak milik adalah hak terkuat dan terpenuhi, maksud dari kata-kata tersebut menunjukkan
commit to user
bahwa diantara hak-hak atas tanah, hak milik adalah hak yang paling kuat dan paling penuh dan bukan berarti hak tersebut bersifat mutlak, tidak terbatas dan tidak dapat diganggu gugat. Hak milik sebagai hak yang terkuat dibandingkan dengan hak atas tanah lainnya berarti hak milik tidak mudah dihapus dan lebih mudah dipertahankan terhadap gangguan dari pihak lain (Adrian Sutedi, 2010 : 60).
Pada Ayat (2) tertulis bahwa hak milik dapat beralih dan dialihkan yang maksudnya adalah menurut Boedi Harsono, bentuk peralihan hak atas tanah dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: Pertama, Beralih. Beralih menunjuk pada berpindahnya hak atas tanah kepada pihak lain karena pemegang haknya meninggal dunia. Peralihan hak atas tanah ini terjadi karena hukum, artinya dengan meninggalnya pemegang hak atas tanah, maka ahli warisnya memperoleh tanah tersebut; Kedua, Dialihkan.
Dialihkan menunjuk pada berpindahnya hak atas tanah kepada pihak lain karena perbuatan hukum yang sengaja dilakukan dengan tujuan agar pihak lain tersebut memperoleh hak itu. Adapun perbuatan hukum itu bisa berupa jual-beli, tukar-menukar, hibah, atau hibah wasiat atau pemberian dengan wasiat (Urip Santoso. 2012 : 64).
Ruang lingkup yang lebih sempit, ada 2 bentuk peralihan hak milik atas tanah: Pertama, Beralih. Yaitu berpindahnya hak milik atas tanah dari pemiliknya kepada pihak lain karena suatu peristiwa hukum.
Dengan meninggalnya pemilik tanah, maka hak milik atas tanahnya secara hukum berpindah kepada ahli warisnya yaitu sepanjang ahli warisnya memenuhi syarat sebagai subyek hak milik. Berpindahnya hak milik atas tanah dari pemiliknya kepada pihak lain melalui proses pewarisan; Kedua, Dialihkan atau pemindahan hak. Dialihkannya atau pemindahan hak artinya berpindahnya hak milik atas tanah dari pemiliknya kepada pihak lain dikarenakan adanya suatu perbuatan hukum, contoh: jual-beli, tukar-menukar, hibah, pemasukan dalam modal perusahaan, serta lelang (Urip Santoso. 2012 : 64).
Hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu benda dengan leluasa dan untuk berniat bebas terhadap kebendaan itu, dengan kedaulatan sepenuhnya asal tidak bertentangan dengan undang- undang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh suatu kekuasaan yang
commit to user
berhak menetapkannya, dan tidak mengganggu hak-hak orang lain (Soedharyo Soimin 2004 : 1).
K. Wantjtik Saleh menambahkan, yang dimaksud dengan
“beralih” adalah suatu ”peralihan hak” yang dikarenakan seseorang yang mempunyai salah satu hak meninggal dunia maka haknya itu dengan sendirinya menjadi hak ahli warisnya. Dengan kata lain bahwa “peralihan hak” itu terjadi dengan tidak sengaja dengan suatu perbuatan melainkan
“karena hukum”. Sedangkan sebaliknya, yakni “dialihkan” ada“peralihan hak” yang dilakukan dengan sengaja supaya hak tersebut terlepas dari pemegangnya yang semula dan menjadi hak pihak lain. Dengan kata lain bahwa “peralihan hak” itu terjadi dengan melalui suatu “perbuatan hukum” tertentu, berupa (Ardiansyah Zulhadji. 2016 : 34) :
a) Jual-beli;
b) Tukar-menukar;
c) Hibah;
d) Hibah-wasiat (legaat).
4) Subyek Hak Milik
Subyek hak milik atas tanah diatur dalam Pasal 21 UUPA yang menentukan bahwa (Aditya Christy Anggara. 2013 : 5-6) :
a) Hanya warga Negara Indonesia yang dapat mempunyai hak milik;
b) Oleh pemerintah ditetapkan badan-badan hukum yang dapat mempunyai hak milik dan syarat-syaratnya;
c) Orang asing yang sesudah berlakunya undang-undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa waktu atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warga negara Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya undang-undang ini kehilangan kewarganegara-annya, wajib melepaskan hak itu di dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilang kewarganegaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu tidak dilepaskan maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada negara dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung;
d) Selama seseorang disamping kewarganegaraan Indonesianya mempunyai kewarganegaraan asing maka ia tidak dapat mempunyai
commit to user
tanah dengan hak milik dan baginya berlaku ketentuan dalam Ayat (3) pasal ini.
Pada dasarnya hak milik atas tanah hanya dapat dimiliki oleh warga negara Indonesia tunggal dan tidak dapat dimiliki oleh warga negara asing dan badan hukum, baik yang didirikan di Indonesia maupun yang didirikan di luar negeri dengan pengecualian badan-badan hukum tertentu yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963.
Ini berarti selain warga negara Indonesia tunggal dan badan-badan yang ditunjuk dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963 tidak ada pihak lain yang dapat menjadi pemegang hak milik atas tanah di Indonesia.
5) Terjadinya Hak Milik
Terjadinya hak milik atas tanah diatur di dalam Pasal 22 UUPA yang isinya sebagai berikut :
a) Terjadinya hak milik menurut hukum adat diatur dengan Peraturan Pemerintah;
b) Selain menurut cara sebagai yang dimaksud dalam Ayat (1) Pasal ini, hak milik terjadi karena :
(1) Penetapan pemerintah, menurut cara dan syarat-syarat yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
(2) Ketentuan Undang-Undang.
Menurut pandangan Edy Ruchyat dalam bukunya yang berjudul Politik Pertanahan Nasional Sampai Orde Reformasi, Hak milik dapat terjadi karena (Edy Ruchyat, 1999 : 47-51) :
a) Menurut Hukum Adat
Menurut Pasal 22 UUPA, hak milik menurut hukum adat harus diatur dengan peraturan pemerintah supaya tidak terjadi hal- hal yang merugikan kepentingan umum dan Negara. Terjadinya hak atas tanah menurut hukum adat lazimnya bersumber pada pembukuan hutan yang merupakan bagian tanah ulayat suatu masyarakat hukum adat.
b) Penetapan Pemerintah
Hak milik yang terjadi karena penetapan pemerintah diberikan oleh instansi yang berwenang menurut cara dan syarat-
commit to user
syarat yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Tanah yang diberikan dengan hak milik itupun dapat diberikan sebagai perubahan daripada yang sudah dipunyai oleh pemohon, misalnya hak guna bangunan, hak guna usaha, atau hak pakai, hak milik ini merupakan pemberian hak baru.
c) Pemberian Hak Milik Atas Negara
Hak milik tersebut diberikan atas permohonan yang bersangkutan. Permohonan untuk mendapatkan hak milik itu diajukan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang dengan perantara Bupati, Walikota, Kepala Daerah ke Kepala Kantor Agraria Daerah yang bersangkutan. Oleh instansi yang berwenang hak milik yang dimohon itu diberikan dengan menerbitkan suatu surat keputusan pemberian hak milik.
d) Pemberian Hak Milik Perubahan Hak
Pihak yang mempunyai tanah dengan hak guna usaha, hak guna bangunan atau hak pakai, jika menghendaki dan memenuhi syarat-syarat dapat menunjukkan permintaan kepada instansi yang berwenang, agar haknya itu diubah menjadi hak milik, pemohon lebih dahulu harus melepaskan haknya hingga tanahnya menjadi tanah Negara sesudah itu dimohon (kembali) dengan hak milik.
Hak milik atas tanah juga dapat terjadi melalui 2 (dua) cara, yaitu (Sudargo Gautama, 1973 : 96) :
a) Secara Originair
Terjadinya hak milik atas tanah untuk pertama kalinya menurut hukum adat, penetapan pemerintah, dan karena undang- undang
b) Secara derivatif
Suatu subjek hukum memperoleh tanah dari subjek hukum lain yang semula sudah berstatus tanah hak milik dengan cara jual- beli, tukar-menukar, hibah, atau pewarisan.
c. Jenis Tanah
Jenis tanah dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu (Apit Rina Palupi, 2017 : 26-31):
1) Tanah Yang Bersertifikat commit to user
Tanah yang sudah bersertifikat artinya sudah mempunyai alat bukti kepemilikan hak atas tanah yang kuat yaitu sertifikat tanah. Pemilik akan memperoleh perlindungan hukum yang lebih kuat sebab sertifikat menjamin kepastian hukum kepemilikan hak atas tanah yaitu kepastian tentang data fisik yang meliputi: letak, batas, luas dan ada/tidak bangunan di atasnya, serta kepastian data yuridis yang meliputi status tanah, siapa pemiliknya dan ada/tidak beban-beban di atas tanah tersebut.
2) Tanah Yang Tidak Bersertifikat
Tanah menurut bukti kepemilikanya dibedakan menjadi dua yaitu tanah yang sudah bersertifikat dan yang belum bersertifikat. Tanah yang belum bersertifikat adalah tanah bekas hak milik (adat) yang belum mempunyai sertifikat tanah. Terdapat beberapa macam tanah yang belum bersertifikat, salah satunya yaitu Letter C.
d. Pendaftaran Tanah
Menurut AP Parlindungan, Pendаftаrаn berаsаl dаri kаtа Cаdаster (bаhаsа Belаndа Kаdаster) yаitu istilаh untuk rekаmаn (record), menunjukаn tentаng luаs, nilаi, dаn kepemilikаn аtаu lаin-lаin аlаs hаk terhаdаp suаtu bidаng tаnаh. selаin itu pendаftаrаn berаsаl dаri bаhаsа Lаtin Cаpilаstrum yаng berаrti suаtu register аtаu unit yаng diperbuаt untuk pаjаk tаnаh Romаwi. Dаlаm аrtiаn yаng tegаs Cаdаster аdаlаh rekаmаn dаripаdа lаhаn-lаhаn, nilаi dаripаdа tаnаh dan pemegаng hаknyа dаn untuk kepentingаn hukum lаinnyа (record) (Caesar Noor Ivan, 2018 : 26). Record yang dimaksud merupakan rekaman dari lahan- lahan, nilai dari tanah dan pemegang haknya dan untuk kepentingan perpajakan (A.P. Parlindungan, 1998 : 18).
Menurut PP No 24 tahun 1997 Pasal 1 Ayat (1) mendefinisikan pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus-menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis dalam bentuk peta dan daftar-daftar mengenai bidang-bidang tanah dan satuan rumah susun, termasuk surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak- hak tertentu yang membebaninya.
Pengetian pendaftaran tanah di atas sejalan dengan definisi pendaftaran tanah yang diberikan oleh Boedi Harsono, pendaftaran tanah adalah serangkaian
commit to user
kegiatan yang dilakukan oleh Negara atau Pemerintah secara terus-menerus dan teratur berupa keterangan atau data tertentu yang ada di wilayah-wilayah tertentu, pengolahan, penyimpanan dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan termasuk penerbitan tanda bukti dan pemeliharaannya (Budi Harsono, 1994 : 72).
Bachtiar Effendi menyatakan bahwa pendaftaran tanah merupakan recht cadaster yang bertujuan memberikan kepastian hak, yakni untuk memungkinkan orang-orang yang mempunyai tanah dengan mudah membuktikan bahwa dialah yang berhak atas sebidang tanah, apa hak yang dipunyainya, letak dan luas tanah. Serta memungkinkan kepada siapapun guna mengetahui hal-hal yang ia ketahui berkenaan dengan sebidang tanah, misalnya calon pembeli, calon kreditur, dan sebagainya (Ulfia Hasanah, 2012 : 12).
Pengertian lain dari pendaftaran tanah (Cadaster) adalah berasal dari Rudolf Hemanses, seorang mantan Kepala Jawatan Pendaftaran Tanah dan Menteri Agraria mencoba merumuskan pengertian pendaftaran tanah. Menurut beliau pendaftaran tanah adalah pendaftaran tanah atau pembukuan bidang- bidang tanah dalam daftar-daftar, berdasarkan pengukuran dan pemetaan yang seksama dari bidang-bidang itu (Ali Achmad Ghomzah, 2004 : 1).
e. Tujuan Pendaftaran Tanah
Tujuan pendaftaran tanah merupakan sarana penting mewujudkan kepastian hukum, penyelenggaraan pendaftaran tanah dalam masyarakat modern merupakan tugas Negara yang dilaksanakan oleh Pemerintah bagi kepentingan rakyat dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan (Budi Harsono, 2007 : 72).
Tujuan diadakannya pendaftaran tanah adalah sesuai apa yang sudah ditetapkan dalam Pasal 19 UUPA yaitu bahwa pendaftaran tanah merupakan tugas pemerintah yang diselenggarakan dalam rangka menjamin kepastian hukum di bidang pertanahan (recht cadaster atau legal cadaster). Jaminan kepastian hukum yang hendak diwujudkan dalam pendaftaran tanah ini, meliputi kepastian status hak yang didaftarkan, kepastian subjek hak, dan kepastian objek hak (Yulyanti M. Rampengan, 2016 : 174).
Sejalan dengan UUPA tentang tujuan pendaftaran tanah, PP Nomor 24 Tahun 1997 dalam Pasal 3 dijabarkan lebih luas yaitu :
commit to user
1) Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan;
2) Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar, untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.
3) Terselenggaranya tertib administrasi pertanahan, terselenggaranya pendaftaran tanah secara baik merupakan dasar dari perwujudan tertib administrasi tersebut setiap bidang tanah dan satuan rumah susun, termasuk peralihan dan hapusnya.
f. Jenis Pendaftaran Tanah
Pendaftaran tanah untuk pertama kali dilaksanakan melalui 2 (dua) jenis pendaftaran yaitu pendaftaran tanah sistematik dan pendaftaran tanah sporadik.
Pendaftaran tanah sistematik dilakukan secara serentak dengan prakarsa Pemerintah, dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional (selanjutnya disebut BPN), untuk mendaftarkan bidang tanah yang belum bersertifikat berdasarkan pada suatu rencana kerja jangka panjang dan tahunan serta dilaksanakan di wilayah-wilayah yang ditetapkan oleh Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN sedangkan pendaftaran tanah sporadik dilakukan atas prakarsa pemilik bidang tanah yang belum terdaftar (Harris Yonatan Parmahan Sibuea, 2011 : 289-290).
Sedangkan menurut Masudi, Pendaftaran secara sistematik, yaitu kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan serentak meliputi semua obyek pendafataran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah desa/ kelurahan. Pendaftaran secara sporadik yaitu kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau massal (Masudi, 2017 : 238).
g. Obyek Pendaftaran Tanah
Obyek Pendaftaran Tanah berdasarkan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 meliputi (Benedicta Putri Dumatubu, 2016 : 1-12) : commit to user
1) Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai;
2) Tanah Hak Pengelolaan;
3) Tanah Wakaf;
4) Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun;
5) Hak Tanggungan;
6) Tanah Negara.
h. Asas Pendaftaran Tanah
Adapun asas-asas dalam pendaftaran tanah, yaitu (Bambang Sugianto, 2017 : 2527-6654) :
1) Torrens System, (Sederhana, efesiensi dan murah);
2) Asas negatif, (Sertifikat bisa dibatalkan melalui Pengadilan);
3) Asas publisitas, (dapat meminta informasi masalah pertanahan); 4) Asas spesialitas, (jelas kedudukan dan lokasi dari tanah);
5) Kepastian Hukum, (adanya perlindungan hak milik terhadap masyarakat);
6) Pemastian Lembaga (hanya satu lembaga pendaftaran tanah ATR/BPN).
i. Sistem Pendaftaran Tanah
Dalam sistem pendaftaran tanah, dikenal 2 (dua) sistem yaitu Sistem positif dan Sistem Negatif. Dalam sistem positif proses pendaftaran tanah dilakukan dengan sangat teliti, cermat dengan menggunakan alat yang canggih seperti foto udara khususnya jika dilakukan konversi atau dilakukan pemecahan hak atas tanah yaitu suatu kegiatan dalam proses pendaftaran tanah yang memerlukan adanya pengukuran langsung atas data fisik tanah untuk menentukan batas-batas atas bidang tanah. Terhadap konversi yaitu bagi tanah- tanah adat atau tanah yang belum terdaftar jika melalui pendaftaran tanah secara sistematik maka akan melalui tahapan dari desa ke desa secara lengkap sehingga peluang untuk terjadinya kesalahan sangat kecil.
Dalam sistem positif ini, apa yang tercantum dalam buku pendaftaran tanah dan surat tanda bukti hak yang dikeluarkan merupakan alat pembuktian yang mutlak (satu-satunya alat bukti). Terhadap pihak ketiga yang beritikad baik yang bertindak atas dasar bukti tersebut mendapat perlindungan yang mutlak, meskipun dikemudian hari ternyata ada keterangan-keterangan yang tercantum didalamnya tidak benar dan kepada pihak yang dirugikan akan mendapat kompensasi dalam bentuk lain.
commit to user
Dalam sistem negatif proses pendaftaran tanah dilakukan dengan teliti dan cermat walaupun tidak secermat dan seteliti pada sistem positif, artinya pihak pelaksana pendaftaran tetap bersikap aktif dengan cara meneliti data-data yang masuk dan terhadap pelaksanaan konversi tetap dilakukan pengukuran untuk mendapatkan kepastian tentang data fisik tanah.
Dalam sistem negatif ini, surat tanda bukti hak yang dikeluarkan merupakan alat pembuktian yang kuat sehingga kalau ada kesalahan akan dilakukan pembetulan (C.H. Anggia D.K.W., 2003 : 272-273).
7. Tinjauan Mengenai Letter C a. Pengertian Letter C
Letter C merupakan tanda bukti berupa salinan catatan yang dari Kantor Desa atau Kelurahan. Dalam masyarakat masih banyak yang belum mengerti apa yang dimaksud dengan Letter C, karena didalam literatur ataupun perundang-undangan mengenai pertanahan sangat jarang dibahas atau dikemukakan. Kurang atau minimnya bukti kepemilikan atas tanah menjadi salah satu penyebab dari minimnya proses pendaftaran hak atas tanah. Untuk proses pembuatan sertifikat maka mereka harus memiliki surat-surat kelengkapan untuk tanah yang mereka miliki (Ita Sri Rahayu, 2016 : 23).
Letter C merupakan tanda bukti pembayaran pajak tanah terhadap tanah milik adat. Diterbitkannya Letter C adalah untuk keperluan pemungutan pajak tanah dan pajak tersebut dikenakan pada pemilik atas nama tanah tersebut, sehingga muncul asumsi masyarakat yang menganggap Letter C tersebut adalah sebagai bukti kepemilikan hak atas tanah (Adrian Sutedi, 2007 : 39).
Letter C adalah salah satu tanah hak milik yang belum terdaftar atau belum bersertifikat. Tanah hak milik yang bertanda bukti selain sertifikat disebut tanah yasan atau tanah bekas milik adat (Urip Santoso, 2012). Sesuai dengan UUPA Pasal II Ayat (1) tentang ketentuan-ketentuan konversi yang mengatakan bahwa hak-hak atas tanah yang memberi wewenang sebagaimana atau mirip dengan hak yang dimaksud dalam Pasal 20 Ayat (1) seperti yang disebut dengan nama sebagai di bawah, yang ada pada mulai berlakunya undang-undang ini, yaitu: hak agrarisch eigendom, milik, yasan, andarbeni, hak atas druwe, hak atas druwe desa, pesini, grant Sultan, landerijenbezitrecht, altijddurende erfpacht, hak usaha atas bekas tanah partikelir dan hak-hak lain dengan nama apapun juga yang akan ditegaskan lebih lanjut oleh Menteri
commit to user
Agraria, sejak mulai berlakunya undang-undang ini menjadi hak milik tersebut dalam Pasal 20 Ayat (1), kecuali jika yang mempunyainya tidak memenuhi syarat sebagai yang tersebut dalam Pasal 21. Dengan demikian, Letter C tunduk pada hukum adat menurut UUPA.
b. Isi Letter C
Letter C Desa adalah buku tanah yang memuat data-data kepemilikan tanah yang berisi (Tedjo Asmo Sugeng, 2017 : 1670-1671) :
1) Nama pemilik;
2) Nomor urut pemilik;
3) Nomor bagian persil;
4) Kelas desa;
5) Hal-hal menurut pajak bumi yang terdiri atas : a) Luas tanah hektar (ha) dan are (da);
b) Nilai pajak R (rupiah) dan sen (s).
6) Sebab dan hal perubahan;
7) Mengenai kepala desa yakni tanda tangan dan stempel.
Nama : Pemilik lama / baru Nomor Urut Pemilik :
Tabel 1. Isi Letter C
Nama Desa, Tgl, ...
Mengetahui, Kepala Desa / Kelurahan
Ttd
Nama Kepala Desa Nomor dan
bagian persil
Kelas Desa
Menurut Daerah
Perijinan Pajak Bumi Sebab dan perubahan Luas Tanah Pajak
Ha Da R S
commit to user
Di dalam keterangan ataupun contoh diatas terdapat kata “Persil” dan kelas desa, yaitu :
1) Persil adalah suatu letak tanah dalam pembagiannya atau disebut juga (Blok).
Contoh : Tanah dengan luas 1 hektar, atau tanah itu dibagi dengan berbagai bagian yang pemiliknya berbeda, luas tanahnya berbeda.
Persil 1 Persil 4 Persil 2
Persil 5 Persil 6 Persil 7 Persil 3
Tabel 2. Contoh Pembagian Letak Tanah
2) Kelas Desa adalah suatu kelas tanah biasanya dipergunakan untuk membedakan antara darat dan tanah sawah atau diantara tanah yang produktif dan non produktif ini terjadi pada saat klasiran beberapa tahun dulu. Contoh : a) Kelas d. I. d. II
Adalah kelas ini digunakan untuk perumahan b) Kelas S.I, S.II
Adalah kelas ini digunakan untuk sawah dan pertanian.
c. Fungsi Letter C
Berikut ini disebutkan 3 fungsi Letter C, yaitu (Christianawati, S.H., 2003 : 27) :
1) Letter C Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Pengkonversian Tanah Milik Adat
Pengkonversian tanah milik adat dapat dilihat dari sudut alat bukti dapat dipisahkan dua macam bekas tanah milik adat yaitu :
a) Bekas tanah milik adat yang dianggap sudah mempunyai bukti tertulis, Petuk pajak dan sebagainya;
b) Bekas tanah milik adat yang belum atau tidak dilengkapi dengan alat bukti tertulis.
Penjelasan di atas disebutkan untuk pengkonversian tanah milik adat memerlukan alat bukti, dua macam salah satunya Petuk pajak atau bisa dikatakan Letter C.
2) Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Hak Milik Atas Tanah commit to user
Untuk Memperoleh hak milik atas tanah, pemilik tanah harus melalui beberapa prosedur, salah satu prosedur yang harus ditempuh untuk permohonan hak milik itu adalah para pemohon memberi keterangan mengenai :
a) Identitas pemohon;
b) Tentang tanahnya;
Mengenai tanahnya ada lima syarat, syarat yang kedua adalah :
Status tanah, sebutkan sertifikat akte pejabat baik nama atau Surat Keterangan Pendaftaran Tanah, Petuk Pajak Hasil Bumi/Verponding Indonesia atau tanda bukti hak yang lainnya yang menunjukkan status tanahnya sebelum menjadi tanah negara. (G. Kartasaputra dkk, 1985 : 19)
c) Lain-lain.
(1) Sekiranya pemohon dan atau keluarga pemohon telah memiliki tanah-tanah tertentu, hendaknya dijelaskan pula tanah-tanah yang telah dimilikinya itu, termasuk tanah yang dipunyai oleh istri/suami serta anak-anak yang masih menjadi tanggungannya, antara lain tentang status hukumnya, letak dan tanda-tanda buktinya.
(2) Bila ada keterangan lainnya dan keterangan tersebut diperkirakan akan diperlukan, maka sebaiknya dilampirkan pula.
Dengan keterangan di atas maka surat-surat (girik/Petuk D/Letter C dsb) juga merupakan syarat yang harus ada dalam surat permohonan hak milik.
commit to user
B. Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penjelasan Kerangka Pemikiran :
Berbagai macam status tanah pun beragam di Indonesia. Tanah yang dimaksud adalah tanah Letter C yang diperoleh dari pemberian warisan terdahulu atau yang masih memiliki surat kepemilikan lama. Tanah dalam arti hukum memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena dapat menentukan keberadaan dan kelangsungan hubungan dan perbuatan hukum, baik dari segi individu maupun dampak bagi orang lain.
Ketergantungan tersebut berdampak pada kebutuhan masyarakat yang mau tak mau membutuhkan akan tanah, yang dapat digunakan untuk berbagai macam kegunaan entah itu untuk hunian, pertanian, maupun investasi jangka panjang. commit to user
Hubungan dan perbuatan hukum yang dimaksud adalah dilakukannya jual beli tanah yang berstatus Letter C. Tingginya minat masyarakat akan tanah berdampak pada masyarakat yang memiliki tanah khususnya yang mempunyai Letter C ingin menjual tanah tersebut.
Adanya UUPA yang mengatur atas tanah membuat tidak berlakunya Letter C sebagai hak milik dengan diakuinya sertifikat sebagai kepemilikan hak atas tanah maka relevansi Letter C sebagai kepemilikan hak atas tanah tidak dapat diakui. Oleh karena itu, Penulis tertarik untuk mengkaji perlindungan hukum Letter C jika terjadi peralihan hak milik dan bagaimana keabsahan Letter C jika terjadi jual beli tanah.
commit to user