• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENAKAR ILLEGAL FISHING DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA (ZEEI) Oleh: Rochman Nurhakim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENAKAR ILLEGAL FISHING DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA (ZEEI) Oleh: Rochman Nurhakim"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1 MENAKAR ILLEGAL FISHING

DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA (ZEEI) Oleh:

Rochman Nurhakim

Direktorat Penanganan Pelanggaran, Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

Abstrak

Besarnya potensi sumberdaya perikanan tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) merupakan daya tarik tarik bagi kapal asing dari berbagai negara, khususnya negara yang memiliki atau berbatasan laut dengan Indoneisa untuk melakukan penangkapan ikan secara illegal (illegal fishing). Bagi Indonesia, illegal fishing khususnya yang dilakukan oleh kapal ikan asing disamping menimbulkan kerugian negara juga telah mengancam kedaulatan. Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) adalah bagian dari WPP NRI yang kerap kali menjadi wilayah rawan illegal fishing. Pemahaman tentang definisi, konsepsi dan pengaturan penangkapan ikan di ZEEI sangat penting untuk dipahami. Pemetaan atas kegiatan illegal fishing di ZEEI yang dilakukan melalui pengolahan data hasil operasi kapal pengawas perikanan dalam periode waktu 5 (lima) tahun dapat menakar seberapa besar intensitas illegal fishing dari tahun ke tahun. Selanjutnya berdasarkan hasil penguraian data dan fakta serta analisis dapat diberikan alternative rekomendasi untuk perbaikan kebijakan dan kegiatan pemberantasan illegal fishing.

Kata Kunci: Illegal Fishing, Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia.

A. Pendahuluan 1. Latar Belakang

Potensi sumber daya ikan, sumber daya ikan laut Indonesia meliputi 37%

dari spesies ikan di dunia, dan beberapa jenis ikan memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti Tuna, Udang, Lobster, Ikan Karang, berbagai jenis ikan hias, kekerangan, dan Rumput Laut. Potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 12,54 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Hal ini secara detail dijabarkan di dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 50/KEPMEN-KP/2017 tentang Estimasi Potensi, Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

(2)

2 Pemerintah Indonesia telah menetapkan 11 Wilayah Pengelolaan Pereikanan (WPP-NRI) dalam pengelolaan perikanan tangkapnya, dan telah menetapkan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) sebesar 10,03 juta ton per tahun atau sekitar 80% dari potensi lestari. Sampai saat ini (tahun 2021) potensi tersebut baru dimanfaatkan sebesar 6,98 juta atau baru 69,59% dari JTB.1 Fakta ini menunjukkan masih terbukanya peluang pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan Indonesia.

Potensi sumberdaya perikanan tangkap yang besar tersebut telah menjadi daya tarik bagi kapal asing dari berbagai negara, khususnya negara yang memiliki atau berbatasan laut dengan Indoneisa untuk melakukan penangkapan ikan secara illegal (illegal fishing) di ZEE Indonesia yang berbatasan dengan negaranya. Kegiatan illegal fishing yang dilakukan oleh Kapal Ikan Asing (KIA) secara nasional mengancam kedaulatan wilayah perbatasan Indonesia, selain itu pula keberadaan KIA secara ilegal dapat merugikan Indonesia secara ekonomi karena sumber pendapatan negara atau devisa dari sumberdaya perikanan tangkap yang hilang akibat pencurian oleh KIA ilegal. FOA, 1999 telah melakukan estimasi, kegiatan illegal fishing akan menyebabkan kehilangan akibat ikan yang dicuri dan dibuang (discarded) sebesar 25% dari stok sumber daya ikan.

Berdasarkan angka asumsi tersebut, maka setiap tahunnya Indonesia akan mengalami kehilangan ekonomi sebesar 30 trilyun rupiah setiap tahunnya. Angka tersebut diperoleh dengan asumsi tangkapan lestari maksimun (maximum sustainable yield / MSY) Indonesia sebesar 6,4 juta ton/tahun, dikalikan dengan 25% stok ikan yang hilang dikalikan dengan harga ikan minimum di pasaran internasional sebesar 2$. Praktik Illegal fishing juga memberikan dampak sosial yang besar, meningkatknya potensi konflik akibat semakin meningkatnya persaingan daerah penangkapan ikan terjadi di beberapa wilayah. Selain itu sebagai dampak

1 Kementerian Kelautan dan Perikanan, “Bahan Paparan : Kebjakan Pembangunan Kelautan dan Perikanan”Tahun 2021”, (Jakarta: Keenterian Kelautan dan Perikanan, 2021)

(3)

3 menurunnya stok ikan juga mengakibatkan semakin meningkatnya jumlah pengangguran dari sektor perikanan akibat beberapa perusahaan harus mengurangi jumlah awak kapal perikanannya. 2

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat tema tulisan “Menakar Illegal fishing di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia”.

Tulisan ini secara garis besar mendeskripsikan tentang pengaturan internasional dan nasional mengenai penegakan hukum di ZEE Indonesia, kondisi dan fakta illegal fishing di ZEE Indonesia, Penegakan Hukum Di ZEEI, serta memberikan rekomendasi atas penegakan hukum yang dilakukan pemerintah Indonesia terkait dengan illegal fishing di ZEE Indonesia.

2. Permasalahan

Merujuk kepada uraian pada latar belakang, beberapa rumusan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan nasional dan internasional mengenai penegakan hukum di ZEE Indonesia;

2. Bagaimana intensitas Illegal Fishing yang terjadi di ZEE Indonesia;

3. Bagaimana upaya penegakan hukum yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menanggulangi Illegal Fishing;

B. METODE PENELITIAN

1. Sumber Data

Data-data dalam penulisan diperoleh dari berbagai sumber yang relevan dan memiliki validitas yang dapat dipertangungjawabkan, diantaranya literatur ilmiah, data yang bersumber dari kegiatan pengawasan oleh

2 Abdur Abdul Qodir Jaelani dan Udiyo Basuki, “Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing: Upaya Mencegah dan Memberantas Illegal Fishing dalam Membangun Poros Maritim Indonesia”, Jurnal Supremasi Hukum, vol. 3, no. 1, (2014):92.

(4)

4 Ditjen PSKP (Direktorat Pengawasan Sumberdaya Perikanan, Direktorat Pemantauan dan Operasi Armada, Direktorat Penanganan Pelanggaran dan UPT Pengawasan SDKP).

2. Metode Pengumpulan Data dan Analisis

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Studi pustaka, yaitu dengan mengumpulkan data teoritis yang bersumber dari literatur-literatur yang telah dipublikasikan dan sumber lain yang relevan. Adapun metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menguraikan dan memberikan gambaran suatu bahasan materi secara sistematis, faktual dan akurat yang didasarkan pada data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan (jelas sumbernya).

C. Pembahasan

1. Definisi Illegal Fishing dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia a. Illegal Fishing

Pengertian illegal fishing merujuk kepada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.50/MEN/2012. Illegal fishing didefinisikan sebagai:

1) Kegiatan perikanan oleh orang atau kapal asing di perairan yang menjadi yurisdiksi suatu negara, tanpa izin dari negara tersebut, atau bertentangan dengan hukum dan peraturan perundang- undangan;

2) Kegiatan perikanan yang dilakukan oleh kapal yang mengibarkan bendera suatu negara yang menjadi anggota dari satu organisasi pengelolaan perikanan regional, akan tetapi dilakukan melalui cara yang bertentangan dengan pengaturan mengenai pengelolaan dan konservasi sumber daya yang diadopsi oleh organisasi tersebut, dimana ketentuan tersebut mengikat bagi negara-negara yang menjadi anggotanya, ataupun bertentangan dengan hukum internasional lainnya yang relevan;

3) Kegiatan perikanan yang bertentangan dengan hukum nasional atau kewajiban internasional, termasuk juga kewajiban negaranegara anggota organisasi pengelolaan perikanan regional terhadap organisasi tersebut.

(5)

5 Melihat definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa definisi illegal fishing yang dimaktubkan dalam keputusan Menteri tersebut merujuk kepada definisi illegal fishing yang di tetapkan oleh International Plan of Action (IPOA) – Illegal Unreported, Unregulated (IUU) Fishing yang diprakarsai oleh FAO dalam konteks Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF), sebagai berikut :

Illegal fishing are defining as: 3

1) conducted by national or foreign vessels in waters under the jurisdiction of a State, without the permission of that State, or in contravention of its laws and regulations;

2) conducted by vessels flying the flag of States that are parties to a relevant regional fisheries management organisation but operate in contravention of the conservation and management measures adopted by that organisation and by which the States are bound, or relevant provisions of the applicable international law; or

3) in violation of national laws or international obligations, including those undertaken by cooperating States to a relevant regional fisheries management organization.

Catatan: salah satu atau seluruh kriteria diatas ditemukan, maka kegiatan penangkapan ikan dapat dikategorikan sebagai illegal fishing.

b. Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE)

Konsep Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) berdasarkan pada Hukum Laut Internasional 1982, dikenal dengan sebutan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Pengaturan mengenai ZEE ini dibahas dalam 21 Pasal (Pasal 55-57). Pasal 55 UNCLOS 1982 menjelaskan :

Article 55 Specific legal regime of the exclusive economic zone

“The exclusive economic zone is an area beyond and adjacent to the territorial sea, subject to the specific legal regime established in this Part, under which the rights and jurisdiction of the coastal State and the rights and freedoms of other States are governed by the relevant provisions of this Convention”.

3 Food Agriculture Organisation (FAO), “Internasional Plan of Action to Prevent, Deter and Eliminate Illegal, Unreported and Unregulated Fishing” (Roma: FAO, 2001).

(6)

6 Dari teks di atas, dapat dimaknai bahwa ZEE adalah perairan (laut) yang terletak di luar dan berbatasan dengan laut teritorial, tunduk pada rezim hukum khusus (special legal regime) yang ditetapkan berdasarkan hak-hak dan yurisdiksi negara pantai, hak-hak, serta kebebasan-kebebasan negara lain. Selanjutnya mengenai area ZEE diatur oleh UNCLOS pada Pasal 57 sebagai berikut:

Article 57 Breadth of the exclusive economic zone

The exclusive economic zone shall not extend beyond 200 nautical miles from the baselines from which the breadth of the territorial sea is measured.

Selanjutnya secara spesifik kebangsaan, Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, pada Pasal 1 menjelaskan definisi Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) sebagai berikut :

“Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, yang selanjutnya disebut ZEEI, adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut teritorial Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undangundang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya, dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut yang diukur dari garis pangkal laut teritorial Indonesia”

2. Konsepsi Zona Ekonomi Ekslusif Menurut UNCLOS 1982

UNCLOS 1982 telah mengatur secara lengkap tentang zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang mempunyai sifat specific legal regime, seperti yang terdapat dalam Pasal 55-57. Pasal 55 Konvensi berbunyi sebagai berikut:

Zona ekonomi eksklusif adalah suatu daerah di luar dan berdampingan dengan laut teritorial, yang tunduk pada rezim hukum khusus berdasarkan hak-hak dan yurisdiksi Negara pantai dan hak-hak serta kebebasan- kebebasan Negara lain. Zona Ekonomi Eksklusif adalah daerah di luar dan berdampingan dengan laut territorial yang tunduk pada rejim hukum khusus di mana terdapat hak-hak dan jurisdiksi negara pantai, hak dan

(7)

7 kebebasan negara lain yang diatur oleh konvensi. Ilustrasi mengenai ZEE menurut UNCLOS dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pembagian Zona Maritim Menurut UNCLOS

Pada gambar 1 dapat dilihat bahwa UNCLOS membagi zona laut menjadi Perairan Kepulauan (Archipelagic Waters), Laut Territorial (Territorial Waters), Zona Tambahan (Contiguous Zone) Zona Ekonomi Ekslusif (Exclusive Economic Zone) dan Laut Lepas (High Seas). ZEE adalah wilayah yang berada hingga 200 NM dari garis laut territorial.

Pasal 56 UNCLOS 1982 menyebutkan bahwa zona ekonomi eksklusif yang dimiliki negara pantai mempunyai hak-hak berdaulat untuk eksplorasi, ekspoitasi, konservasi dan pengelolaan sumber daya alam, baik hayati maupun non-hayati dan perairan di atas dasar laut dan dari dasar laut serta tanah di bawahnya. Lebih lanjut disebutkan bahwa Lebar zona ekonomi eksklusif bagi setiap negara pantai adalah 200 mill sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 57 Konvensi yang berbunyi: Zona ekonomi eksklusif tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur. Selanjutnya pada Pasal 58 Ayat (1) UNCLOS 1982 menjelaskan kebebasan untuk berlayar di zona ekonomi ekslusif ,

(8)

8 dan terbang di atasnya serta memasang kabel dan saluran pipa bawah laut.

Terkait dengan kebebasan berlayar di zona ekonomi ekslusif, UNCLOS 1982, memberikan kewenangan umum kepada negara pantai untuk membuat peraturan perundangan yang terkait dengan kebebasan pelayaran. Pemberian kewenangan tersebut mengandung makna bahwa kebebasan pelayaran internasional harus dilakukan oleh negara lain dengan memperhatikan hak-hak dan kepentingan negara pantai atas zona ekslusifnya. Hal ini juga mengandung makna bahwa pelaksanaan kebebessan berlayar harus memperhatikan dan mengindahkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan zona ekonomi ekslusif yang dibuat negara pantai.4

Selanjutnya, berkaitan dengan pengaturan tentang zona ekonomi eksklusif dalam UNCLOS 1982, dapat diidentifikasi beberapa prinsip mendasar sebagai berikut :

1. Zona ekonomi eksklusif adalah suatu daerah di luar dan berdampingan dengan laut teritorial, yang tunduk pada rezim hukum khusus yang ditetapkan berdasarkan hak-hak dan yurisdiksi Negara pantai dan hak- hak serta kebebasan-kebebasan Negara lain. 5

2. Hak-hak berdaulat untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan alam, baik hayati maupun non-hayati, dari perairan di atas dasar laut dan dari dasar laut dan tanah di bawahnya dan berkenaan dengan kegiatan lain untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi ekonomi zona tersebut, seperti produksi energi dari air, arus dan angin. 6

3. Zona ekonomi eksklusif tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur. 7

4. Yurisdiksi sebagaimana ditentukan dalam ketentuan yang relevan berkenaan dengan: pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi

4 DidikM. Sodik, Hukum Laut Internasional dan Pengaturannya di Indoneisa, PT Refika Aditama, Bandung 2014, hlm . 132

5 Pasal 54 UNCLOS

6 Pasl 56 Ayat 1 (a) UNCLOS

7 Pasal 57 UNCLOS

(9)

9 dan bangunan; riset ilmiah kelautan; perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. 8

5. Dalam Pelaksanaan hak-hak dan pemenuhan kewajiban dalam zona ekonomi ekslusif, negara pantai harus memperhatikan hak-hak dan kewajiban negara lain dan harus bertindak dengan cara yang sesuai dengan ketentuan ketentuan Konvensi Hukum Laut Internasional. 9

3. Ketentuan Terkait Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia

a. Ketentuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1983 dan Undnag-Undang No. 17 Tahun 1985

Indonesia membuat Zona Ekonomi Eksklusifnya berdasarkan Undang- Undang No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Beberapa pengaturan yang tercantum dalam undang-undang tersebut adalah sebagai berikut:

1) Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. 10

2) Apabila Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif negara-negara yang pantainya saling berhadapan atau berdampingan dengan Indonesia, maka batas zona ekonomi eksklusif antara Indonesia dan negara tersebut ditetapkan dengan persetujuan antara Republik Indonesia dan negara yang bersangkutan. 11

3) Selama persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) belum ada dan tidak terdapat keadaan-keadaan khusus yang perlu dipertimbangkan, maka batas zona ekonomi eksklusif antara Indonesia dan negara tersebut adalah garis tengah atau garis sama jarak antara garis-garis pangkal laut wilayah Indonesia atau titik-titik terluar Indonesia dan garis-garis pangkal laut wilayah atau titik-titik terluar negara tersebut, kecuali jika dengan negara tersebut telah tercapai persetujuan tentang pengaturan sementara yang berkaitan dengan batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia termaksud. 12

8 Pasal 56 Ayat 1 (b) UNCLOS

9 Pasal 56 Ayat 2 UNCLOS

10 Pasal 2, Undang-Undang Np. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

11 Pasal 3 paragraf (1) Undang-Undang Np. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

12 Pasal 3 paragraf (2) Undang-Undang No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia

(10)

10 Pada praktiknya, Indonesia mengikuti pengaturan-pengaturan dalam UNCLOS 1982 dengan meratifikasi UNCLOS 1982, melalui diterbitkannya Undang-undang No. 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on The Law of The Sea. Hak hak juridiksi dan kewajiban Indonesia pada konvensi ini di atur dalam Pasal 56 yang berbunyi sebagai berikut:

1) Dalam zona ekonomi eksklusif, Negara pantai mempunyai:

a) Hak-hak berdaulat untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan alam, baik hayati maupun non-hayati, dari perairan di atas dasar laut dan dari dasar laut dan tanah di bawahnya dan berkenaan dengan kegiatan lain untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi ekonomi zona tersebut, seperti produksi energi dari air, arus dan angin;

b) Yurisdiksi sebagaimana ditentukan dalam ketentuan yang relevan Konvensi ini berkenaan dengan pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi dan bangunan; riset ilmiah kelautan danperlindungan dan pelestarian lingkungan laut;

c) Hak dan kewajiban lain sebagaimana ditentukan dalam Konvensi ini.

2) Dalam melaksanakan hak-hak dan memenuhi kewajibannya berdasarkan Konvensi ini dalam zona ekonomi eksklusif, Negara Pantai harus memperhatikan sebagaimana mestinya hak-hak dan kewajiban Negara lain dan harus bertindak dengan suatu cara sesuai dengan ketentuan Konvensi ini.

Pada zona ekonomi ekslusif, sebagai negara pantai, Indonesia memiliki hak berdaulat untuk tujuan eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan mengelola sumber daya alam baik hayati maupuin nonhayati di perairannya, dasar laut dan tanah di bawahnya serta untuk keperluan ekonomi di zona tersebut seperti produksi energi dari air, arus dan angin. Adapun jurisdiksi Indonesia di zona itu adalah jurisdiksi membuat dan menggunakan pulau buatan, instalasi dan bangunan, riset ilmiah kelautan, perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Pelaksanaan hak berdaulat dan jurisdiksi tersebut diharuskan memperhatian hak dan kewajiban negara lain sebagaimana diatur dalam Pasal 58 UNCLOS 1982, yang

(11)

11 menyebutkan bahwa dalam mealksanakn hak-hak dan kewajibannya berdasarkan Konvensi (UNCLOS 1982) di zona ekonomi ekslusif, negara harus memperhatikan hak-hak dan kewajiban negara pantai dan harus mentaati peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh negara pantai sesuai dengan ketentuan konvensi, dan peraturan hukum internasional lainnya sepanjang ketetntuan tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan.

Semua negara yang merupakan negara pantai dn non pantai mempunyai hak kebebasan pelayaran dan penerbangan, kebebasan memasang kabel dan pipa bawah laut. Pelaksanaan atas hak-hak dan kebebasan negara lain tersebut harus menghormati peraturan perundangan Indonesia sebagai negara pantai yang memiliki zona ekonomi ekslusif.

b. Ketentuan dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 dan Undang-undang No. 45 Tahun 2009

Indonesia telah mengadopsi ketentuan dalam UNCLOS tersebut kedalam Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan maupun dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, diantaranya:

1) Pasal 27 Undang-undang No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Ayat (2) menyebutkan setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang digunakan untuk melakukan penangkapan ikan di ZEEI wajib memiliki SIPI. Ayat (3) menyebutkan setiap orang yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera Indonesia di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia atau

(12)

12 mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing di ZEEI wajib membawa SIPI asli.

2) Pasal 29 Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Dalam ketentuan Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan telah disebutkan bahwa orang atau badan hukum asing itu dapat masuk ke wilayah ZEE Indonesia untuk melakukan usaha penangkapan ikan berdasarkan persetujuan internasional atau ketentuan hukum internasional yang berlaku.

3) Pasal 35 Undang-undang No. 45 Tahun 2009 tentang peruahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Ayat (2) menyebutkan bahwa kapal perikanan berbendera asing yang melakukan penangkapan ikan di ZEEI wajib menggunakan anak buah kapal berkewarganegaraan Indonesia paling sedikit 70% (tujuh puluh persen) dari jumlah anak buah kapal. Ayat (3) Pelanggaran terhadap ketentuan penggunaan anak buah kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan, pembekuan izin, atau pencabutan izin. Ayat (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Menteri.

4) Pasal 38 Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Pada ayat (2) disebutkan bahwa setiap kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penaggkapan ikan dengan 1 (satu) jenis alat penangkapan ikan tertentu pada bagian tertentu di ZEEI dilarang membawa alata penangkapanan ikan lainnya.

5) Pasal 73 Undang-undang No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, yang mengatur kewenangan pengawasan di ZEEI. Ayat (2) mennyebutkan bahwa selain penyidik TNI AL, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan berwenang melakukan penyidikan terhadap tindak pidana di bidang perikanan yang terjadi di ZEEI.

(13)

13 6) Pasal 93 Undang-undang No. 45 Tahun 2009 tentang peruahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Ayat (2) Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing melakukan penangkapan ikan di ZEEI yang tidak memiliki SIPI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah). Ayat (4) Setiap orang yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing di ZEEI, yang tidak membawa SIPI asli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).

7) Pasal 97 Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Pada ayat (2) disebutkan bahwa Nakhoda yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan dengan 1 (satu) jenis alat penangkapan ikan tertentu pada bagian tertentu di ZEEI yang membawa alat penangkapan ikan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (2), dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Selanjutnya pada ayat (3) Nakhoda yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan, yang tidak menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka selama berada di luar daerah penangkapan ikan yang diizinkan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (3), dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

8) Pasal 102 UU Perikanan mengatur mengenai tidak berlakunya pidana penjara di wilayah ZEEI kecuali telah ada perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara yang bersangkutan.

(14)

14 4. Illegal Fishing Di ZEE Indonesia

a. Pelaku dan Modus Illegal Fishing

Pemetaaan atas modus operandi IUU Fishing dilakukan dengan pendekatan identifikasi pelaku yang dilakukan melalui pengamatan data pemantauan pergerakan kapal oleh Vessel Monitoring System, dan koordinat lokasi tangkapan kapal pengawas perikanan selam kurun waktu tahun (2016-2020). Pemetaaan identifikasi pelaku tesebut tentunya tidak lepas dari pemetaan WPP-NRI yang kenjadi lokus illegal fishing dengan memilah WPP-RI yang didalamnya terdapat ZEEI.

Berikut adalah pembagian WPP-NRI yang disajikan dalam bentuk ilustrasi.

Gambar 2. Wilayah Pengeloaan Perikanan Negara Republik Indonesia Keterangan:

- WPP-NRI 571 : Perairan Selat Malaka dan Laut Andaman;

- WPP-NRI 572 : Perairan Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan Selat Sunda

- WPP-NRI 573 : Perairan Samudera Hindia sebelah selatan Jawa hingga sebelah selatan Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor bagian barat.

- WPP-NRI 711 : perairan Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut China Selatan - WPP-NRI 712 : perairan Laut Jawa

- WPP-NRI 713 : perairan Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores, dan Laut Bali - WPP-NRI 714 : Teluk Tolo dan Laut Banda

- WPP-NRI 715 : Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau;

- WPP-NRI 716 : perairan Laut Sulawesi dan sebelah utara Pulau Halmahera - WPP-NRI 717 : meliputi perairan Teluk Cenderawasih dan Samudera Pasifik - WPP-NRI 718 : perairan Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor bagian Timur

(15)

15 WPP-RI meliputi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia.

Berdasarkan hasil pemetaan, beberapa ZEE Indonesia yang rawan illegal fishing terkonsentrasi pada 3 WPP-NRI, yaitu WPP-NRI 517, WPP-NRI 711, dan WPP-NRI 716. Adapun dilihat dari perspekif operasional penangkapan ikan, pelaku illegal fishing di ZEE Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Kapal Ikan Asing (KIA) dan Kapal Ikan Indonesia (KII). Rawannya wilayah wilayah tersebut dari pencurain ikan berkaitan dengan letak geografis yang berbatasan dengan negara tetangga yaitu Malaysia (WPP 517), Vietnam (WPP711) dan Filipina (WPP 716).

Berdasarkan pengolahan data oleh penulis, dari hasil pengawasan dan operasi kapal pengawas di ZEEI (WPP 517, WPP 711, dan WPP 716) yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP periode tahun 2016 s/d 2020, diperoleh rekapitulasi modus illegal fishing sebagai berikut:

1) Melakukan kegiatan penangkapan ikan tanpa dilengkapi dokumen yang sah (umumnya dilakukan oleh KIA).

2) Melakukan kegiatan penangkapan ikan tanpa dilengkapi dokumen yang sah dan menggunakan alat tangkap yang dilarang (dilakukan oleh KIA).

3) Mengoperasikan alat penangkapan ikan yang merusak (umumnya dilakukan oleh KIA maupun KII).

4) Mengibarkan bendera Indonesia di atas kapal dengan tujuan mengelabui aparat penegak hukum (umumnya dilakukan oleh KIA).

5) Tidak memasang alat pemantau kapal perikanan seperti Vessel Monitoring System (VMS) (umumnya dilakukan oleh KII).

6) Tidak memasang Automatic Identification System (AIS) agar tidak terpantau oleh teknologi pemantauan. (umumnya dilakukan oleh KIA).

(16)

16 7) Melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap terlarang Tanpa dokumen (SIUP, SIPI, SLO dan SPB (dilakukan oleh KII).

8) Melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap terlarang tidak sesuai SIPI (umumnya dilakukan oleh KII).

9) Melakukan kegiatan penangkapan ikan tanpa dokumen (SIUP/SIPI/SIKPI) yang sah dari Pemerintah Indonesia dan Alkap Terlarang (umumnya dilakukan oleh KIA)

10) Melakukan pengangkutan ikan tanpa dokumen yang sah (khusus kapal pengangkut)

11) Berlabuh jangkar di perairan ZEEI, tanpa bendera, dan tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah dari Pemerintah Indonesia (umumnya dilakukan oleh KIA).

12) Menggunakan ABK asing yang tidak sesuai dengan ketentuan, Crew list tidak sesuai (umumnya dilakukan oleh KIA dan KII).

b. Faktor Pendorong Illegal Fishing

Faktor -faktor yang menyebabkan terjadinya illegal fishing di perairan Indonesia tidak terlepas dari lingkungan strategis global terutama kondisi perikanan di negara tetangga yang memiliki perbatasan laut dengan Indonesia, dan sistem pengelolaan perikanan di Indonesia itu sendiri. Secara garis besar faktor penyebab tersebut dapat dikategorikan menjadi 9 (sembilan) faktor, sebagaimana diuraikan di bawah ini:

Pertama, Kebutuhan ikan dunia (demand) meningkat, disisi lain pasokan ikan dunia menurun, terjadi over demand terutama jenis ikan dari laut seperti Tuna. Hal ini mendorong armada perikanan negara lain masuk ke perairan Indonesia.

Kedua, Disparitas (perbedaan) harga ikan segar utuh (whole fish) di negara lain dibandingkan di Indonesia cukup tinggi sehingga membuat masih adanya surplus pendapatan. Hal ini menarik dan mendorong

(17)

17 untuk mendapatkan keuntungan melalui kegiatan penangkapan secara illegal.13

Ketiga, Fishing ground di negara-negara tetangga disinyalir sudah mulai berkurang mendekati habis, sementara di Indonesia masih menjanjikan, padahal mereka harus mempertahankan pasokan ikan untuk konsumsi mereka dan harus mempertahankan produksi pengolahan di negara tersebut tetap bertahan14. Hal ini terjadi pada negara Filipina dengan pusat pengoahan ikan yang berpusat di General Santos.

Keempat, Luasnya wilayah laut yang menjadi yurisdiksi Indonesia dan kenyataan masih sangat terbukanya ZEE Indonesia yang berbatasan dengan laut lepas (High Seas) telah menjadi magnet penarik masuknya kapal-kapal ikan asing maupun local untuk melakukan illegal fishing.

Kelima, Keterbatasan sarana dan prasarana pengawasan serta SDM pengawasan khususnya dari sisi kuantitas, jika dibandingkan dengan luas wilayah laut dan banyaknya objek pengawasan yang harus diawasi.

Keenam, Persepsi dan koordinasi antar aparat penegak hukum dalam pengawasan dan penanganan perkara tindak pidana perikanan walaupun sudah cukup solid dengan dibentuknya SATGAS 115, namun penggunaan sumberdaya bersama antar instansi masih belum berjalan optimal.

Ketujuh, Konsep pengawasan terpadu melalui konsep Integrated Surveillance System (ISS) yang dikembangkan KKP belum berjalan optimal hingga saat ini. Khususnya terkait dengan pemanfaatan moda pengawasan secara bersama antar Lembaga/instansi terkait. 15

13 Dahuri, 2012 “Petunjuk Teknis Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Perikanan”.

14 Dahuri, 2012 “Petunjuk Teknis Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Perikanan”.

15 Direktorat Pemantauan dan Operasi Armada “Bahan Paparan Hasil Kegiatan tahun 2020 dan Rencana Kegiatan Strategis Tahun 2021, Bandung 2021

(18)

18 Kedelapan, kosongnya sebahagian wilayah laut dari kegiatan penangkapan ikan oleh kapal ikan Indonesia. Hal ini terjadi karena kapal ikan Indonesia pada umumnya tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk melaut lebih jauh dan mind set nelayan Indonesia pada umumnya di beberapa daerah yang lebih menyukai oneday fishing.

Kesembilan. khusus kegiatan illegal fishing yang dilakukan oleh KII, lebih banyak didorong oleh faktor ekononomi, dimana usaha perikanan ingin memperoleh keuntungan yang besar, Sedangkan untuk nelayan kecil penangkapan illegal selain didorong oleh faktor ekonomi, juga disebabkan oleh rendahnya pemahaman dan kesedaran akan kelestarian lingkungan dan sumber daya ikan.

c. Intensitas Illegal Fishing di ZEE Indonesia

Selama kurun waktu tahun 2016 s/d 2020, Hasil operasi kapal Pengawas Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Cq. Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan telah berhasil menangkap 384 Kapal ikan yang melakukan illegal fishing di ZEE indonesia di 3 WPP Tersebut.

Tabel 1. Hasil Operasi Kapal Pengawas Perikanan KKP di WPP 571, WPP 711 dan WPP 716 Periode Tahun 2016 s/d 2020

WPP-NRI TAHUN

JUMLAH 2016 2017 2018 2019 2020

571

17 (16 KIA;

1 KII)

8 (KIA)

8 (KIA)

19 (KIA)

15

(KIA) 67

711 92

(KIA)

73 (65 KIA;

6 Eks Asing;

2 KII)

28 (KIA)

25 (KIA)

23

(KIA) 241

716

30 (25 KIA;

5 KII)

7 (KIA)

6 (KIA)

23 (15 KIA;

8 KII)

10

(KIA) 76

JUMLAH TOTAL 384

Sumber: Direktorat Penanganan Pelanggaran. Data olahan penulis 2021

(19)

19 Data pada Tabel 1 memberikan gambaran intensitas illegal fishing di ZEE Indonesia. WPP-NRI 711 Laut Natuna merupakan WPP yang paling rawan illegal fishing. Hal ini dapat dilihat dari paling tingginya jumlah kapal ikan yang melakukan llegal fishing dan ditangkap selama 5 tahun terakhir dibandingkan WPP lainnya, yaitu sebanyak 241 kapal.

Dapat dicermati pula bahwa mayoritas pelaku illegal fishing adalah Kapal Ikan Asing yang berasal dari Vietnam, yaitu sebanyak 209 kapal (rata-rata 85 GT), kapal ikan asal Malaysia 29 Kapal (rata-rata 60 GT), kapal ikan Thailand sebanyak 1 kapal, dan 2 unit kapal ikan Indonesia yang melakukan illegal fishing.

Jenis alat tangkap yang umum digunakan oleh kapal ikan illegal asal Vietnam adalah purse seine, trawl, pancing cumi, pancing rawai, gillnet dan handline. Pada tabel juga dapat dilihat adanya penurunan jumlah kapal ikan yang ditangkap pada tahun 2020 dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya, namun angka tersebut tidak mencerminkan penurunan illegal fishing, dan hanya mengindikasaikan menurunnya jumlah kapal yang berhasil ditangkap.

Selanjutnya, WPP 716 Laut Sulawesi adalah WPP kedua yang memiliki tingkat kerawanan illegal fishing didasarkan atas jumlah kapal illegal yang ditangkap selama kurun waktu 2016-2020 (19,79%). Kegiatan illegal fishing pada WPP ini umumnya dilakukan oleh KIA yang berasal dari Filipina dengan karakteristik kapal yang unik dengan kisaran ukurat rata-rata 2 GT. Kapal-kapal berukuran kecil tersebut adalah merupakan armada semut yang melakukan penangkapan ikan untuk kemudian dikumpulkan pada kapa pengunpul di tengah laut.

Adapun tingkat kerawanan terendah adalah pada WPP 571 Selat Malaka (17,45%). Illegal fishing didominasi oleh KIA yang berasal dari Malaysia dengan ukuran kapal berkisar antara 18,76 GT – 91,04 GT dengan rata rata berat kapal 60 GT. Umumnya kapal ikan illegal

(20)

20 Malaysia mengoperasikan alat angkap trawl. Khusus pada tahun 2019 di WPP 571 Kapal Pengawas Perikanan berhasil menangkap 1 KIA asal Panama (MV Nika) berukuran 750 GT.

Intensitas illegal fishing sebagaimana diuraikan di atas, menunjukkan bahwa illegal fishing masih marak terjadi di ZEE Indonesia. Fakta ini tentunya tidak dapat terbantahkan, terlebih data dan fakta tersebut hanya memperhitungkan berdasarkan jumlah kapal illegal yang tetangkap bukan berdasarkan banyaknya kapal yang beroperasi di ZEE Indonesia sesungguhnya. Untuk dapat lebih mengetahui intensitas kapal illegal yang beroperasi di ZEEI tentunya dibutuhkan pendekatan lain dengan memanfaatkan alat pemantau berbasis satelit baik VMS, maupun AIS untuk memantau kegiatan penangkapan ikan dalam periode waktu tertentu.

Pusat Riset Kelautan-BRSDM KKP bekerja sama dengan Infrastructure Development of Space and Oceanography (INDESO) Bali telah pada tahun 2016 (Mei – Desember 2016), telah melakukan pengumpulan data dan analisa data dengan menggunakan citra data satelit Radarsat-2 yang di overlay dengan data VMS selama kurun waktu 7 (tujuh) bulan dari bulan Mei s/d Desember 2016. Kajian tersebut menggunakan analisis spasial dan temporal untuk menghitung jumlah kapal ikan ilegal yang terekam dalam citra satelit radar untuk mengetahui sebaran kapal ikan illegal di WPP711. Hasil penelitian didapatkan bahwa total dugaan kapal ikan illegal yang terdeteksi dalam kurun waktu pemantauan dibulan Mei-Desember 2016 berjumlah 280 unit kapal16. Berdasarkan hasil penelitin ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah kapal ikan illegal yang terdapat di ZEEI jauh lebih banyak dibandingkan jumlah kapal illegal yang dapat ditangkap kapal pengawas Ditjen PSDKP. Berdasarkan fakta ini,

16 Pusat Riset Kelautan-BRSDM KP “Analisis Kerugian Negara Akibat Illegal Fishing di Zona Ekonomi Eksklusif Perairan Natuna, 2018”.

(21)

21 aktivitas illegal fishing di wilayah ZEEI ternyata terus terjadi dan masih marak.

D. Penutup

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkna bahwa ZEE Indonesia khususnya di WPP-NRI 571, WPP-NRI 711, dan WPP-NRI 716 masih marak terjadi illegal fishing, khususnya yang dilakukan oleh Kapal Ikan Asing. Oleh karena itu sudah sepatutnya Pemerintah Indonesia meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan illegal fishing.

Upaya yang dapat Pemerintah Indonesia dalam upaya tersebut, diantaranya:

1) Meningkatkan kerjasama internasional (regional dan bilateral) terkait pencegahan illegal fishing. Hal ini diperlukan untuk menjalin komitmen bersama dengan negara negara negara lain, terutama negara yang memiliki perbatasan di 3 WPP lokus illegal fishing.

2) Meningkatkan kegiatan operasi pengawasan di ZEEI dengan mengoperasikan kapal pengawas perikanan secara mandiri dan dengan kerjasama operasi (coordinated Patrol) dengan negara yang berbatasan ZEE.

3) Meningkatkan sistem monitoring, controlling and surveillance (MCS) yang di overlay dengan data pemantauan lainnya yang compatible (seperti AIS), agar dapat mengidentifikasi perkembangan kegiatan illegal fishing di ZEEI.

4) Menyusun strategi pengawasan spesifik per WPP yang didasarkan atas data dan informasi yang akurat.

(22)

22 DAFTAR PUSTAKA

Convention on the Law of the Sea, 10 Desember 1982, 1833 UNTS 397.

Enacted as: entered into force as the “United Nations Convention on the Law of the Sea”

Dendi Mahabror dan Jejen Hidayat, “Analisis Kerugian Ekonomi Akibat Illegal Fishing di Zona Ekonomi Eksklusif Perairan Natuna”. Pusat Riset

Kelautan-BRSDM KP, Jakarta, Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV 2018.

Direktorat Penanganan Pelanggaran, “Buku Rekapitulasi Data Tindak Pidana Kelautan dan Perikanan Tahun 2016-2020

Food Agriculture Organisation (FAO), “FAO Technical Guidelines for Responsible Fisheries - Fishing Operations - 1 Suppl. 1 – 1, Vessel Monitoring Systems”, (Roma: FAO, 1999).

Food Agriculture Organisation (FAO), “Internasional Plan of Action to Prevent, Deter and Eliminate Illegal, Unreported and Unregulated Fishing” (Roma:

FAO, 2001).

Jaelani, Abdul Qodir dan Udiyo Basuki, “Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing: Upaya Mencegah dan Memberantas Illegal Fishing dalam Membangun Poros Maritim Indonesia”, Jurnal Supremasi Hukum, vol. 3, no. 1, (2014)

Kementerian Kelautan dan Perikanan, “Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.50/Men/2012 Tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan Dan Penanggulangan Illegal, Unreported, And Unregulated Fishing Tahun 2012-2016”, (Jakarta:

Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2012).

Kementerian Kelautan dan Perikanan, “Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.50/Men/2017 tentang Estimasi Potensi, Jumlah tangkapan yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. (Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2017).

(23)

23 Kementerian Kelautan dan Perikanan, “Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.57/Men/2020 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/Permen-KP/2020 tentang Rencana Strategis Kementerian kelautan dan Perikanan Tahun 2020-2024. (Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2017).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1983 Tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesi

Undang-undang Nomor. 31 tahun 2021 tentang Perikanan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Bagaimanakah upaya negara Indonesia dalam menangani masalah illegal fishing di zona ekonomi eksklusif

Untuk itu, pemerintah Indonesia menerapkan sistem pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan melalui konsep MCS ( monitoring, controlling dan surveilance ). Namun

Berdasarkan isi dari Pasal 13 Undang- Undang Nomor 5 tentang ZEE Indonesia terkait dengan kasus kapal Kway Fey 10078, penegakan hukum terhadap kapal Kway Fey 10078 yang

Korporasi asing sebagai pelaku tindak pidana illegal fishing belum diatur dalam Undang-Undang perikanan di Indonesia, dalam hal kapal asing melakukan pencurian ikan di

Dalam penyelesaian hukum terhadap kapal ikan asing yang melakukan tindak pidana perikanan di ZEE Indonesia untuk menghindari terjadinya protes, gugatan hukum dan/atau

Berdasarkan, letaknya yang strategis yang terletak di Laut China Selatan, berbatasan langsung dengan beberapa negara asing, dan potensi perikanan di wilayah

Merujuk pendapat Aji Soelarso, bahwa pengelolaan perikanan (fisheries management) merupkan hal yang kompleks, tetapi bukan berarti menjadi suatu hal yang tidak