• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN JAMUR ENTOMOPATOGEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KAJIAN JAMUR ENTOMOPATOGEN"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN JAMUR ENTOMOPATOGEN Metarhizium anisopliae SEBAGAI ENDOFIT TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L) DAN PENGARUHNYA TERHADAP SERANGGA PEMAKAN DAUN Phyllotreta striolata

(Coleoptera : Chrysomelidae)

Oleh:

HENI AMBARYANTI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN

MALANG

2017

(2)

KAJIAN JAMUR ENTOMOPATOGEN Metarhizium anisopliae SEBAGAI ENDOFIT TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L) DAN PENGARUHNYA TERHADAP SERANGGA PEMAKAN DAUN Phyllotreta striolata

(Coleoptera : Chrysomelidae)

OLEH

HENI AMBARYANTI 135040201111063

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI MINAT HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Strata Satu (S-1)

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN MALANG

2017

(3)

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa segala pernyataan dalam skripsi ini merupakan hasil penelitian saya sendiri, dengan bimbingan komisi dosen pembimbing.

Skripsi ini tidak pernah diajukan untuk memperoleh gelar di perguruan tinggi manapun dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang ditunjukan rujukannya dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Malang,

Heni Ambaryanti

(4)
(5)
(6)

Skripsi ini aku persembahkan untuk Kedua orang tuaku tercinta, dan

kakak ku tersayang...

(7)

i RINGKASAN

Heni Ambaryanti (135040201111063) Kajian Jamur Entomopatogen Metarhizium anisopliae Sebagai Endofit Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L) dan Pengaruhnya Terhadap Serangga Pemakan Daun Phyllotreta striolata (Coleoptera : Chrysomelidae).

Pakcoy (Brassica rapa L) adalah tanaman jenis sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae, tanaman ini salah satu sayuran daun yang banyak diusahakan oleh petani dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Dalam upaya peningkatan produksi pakcoy terdapat beberapa kendala salah satunya yaitu adanya gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Phyllotretastriolata F. (Coleoptera: Chrysomelidae)merupakan hama penting pada tanaman pakcoy. Kerusakan akibat P. striolata pada tanamaan pakcoy mencapai 73,75%. Hama P. striolata menyerang pada saat tanaman masih muda, hal ini jika tidak diikuti dengan pertumbuhan tanaman yang cepat maka pertumbuhan tanaman akan terhambat dan dapat menyebabkan turunya kualitas maupun kuantitas produksi dari tanaman pakcoy. M. anisopliae telah dilaporkan mampu menurunkan tingkat intensitas kerusakan akibat Phyllotreta spp akan tetapi tidak diikuti adanya infeksi pada hama Phyllotreta spp, M. anisopliae juga telah dilaporkan memiliki aktivitas endofit dan memacu pertumbuhan pada tanaman tomat. Sehingga perlu di lakukan penelitian berlanjut untuk mengetahui potensi M. anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy dan pengaruhnya terhadap P. striolata

Penelitian dilakukan Kampung Organik Brenjonk, Desa Penanggungan Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama Dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Penelitian dilaksanakan bulan Maret – Juni 2017. Penelitian dilakukan 2 tahap, yaitu pada tahap pertama melakukan Uji metode Inisiasi jamur Metharizium anisopliae pada tanaman pakcoy dengan 4 perlakuan, dan 6 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah kontrol, perendaman benih dengan suspensi M. anisopliae, penyiraman tanah dengan M. anisopliae, dan Kombinasi. Pada tahap kedua penelitian dilakukan untuk uji pengaruh M. anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy terhadap intensitas serangan hama P. striolata. dilakukan dengan 2 Perlakuan dan 16 ulangan.

Adapun perlakuan yang digunakan yaitu kontrol dan tanaman pakcoy yang diinisiasi M. aniopliae.

Jamur entomopatogen M. anisopliae berpotensi sebagai jamur endofit pada tanaman pakcoy. Perlakuan kombinasi merupakan perlakuan terbaik dalam mempercepat waktu induksi jamur kedalam jaringan tanaman pakcoy, meningkatkan persentase jumlah koloni jamur pada jaringan tanaman pakcoy dan pertumbuhan diameter awal koloni Jamur M. anisopliae yang diisolasi dari akar dan daun tanaman pakcoy umur 14, 21, dan 28 HSS. Aktifitas endofit jamur M. anisopliae pada tanaman pakcoy mampu meningkatkan tinggi tanaman pakcoy dan menekan intensitas kerusakan tanaman sebesar 27,68% yang diakibatkan oleh P. striolata tetapi tidak menyebabkan infeksi pada hama P.

striolata hingga 2 minggu pengamatan.

(8)

ii SUMMARY

Heni Ambaryanti (135040201111063) Study of Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae As Endophyte In Pakcoy (Brassica rapa L) and Their Effects on Leaf Insect Eaters Phyllotreta striolata (Coleoptera : Chrysomelidae).

Pakcoy (Brassica rapa L) is a kind of vegetable in Brassicaceae family, this plant is one of leaf vegetables which is cultivated by farmers and has high economic value. There are several problems to increase the production of pakcoy, one of them is the disturbance by plant pest organism. Phyllotreta striolata F. (Coleoptera: Chrysomelidae) is an important pest in pakcoy plant. The damage caused by P. striolata on pakcoy plant reached 73.75%. P. striolata can cause substantial damage to host plants by eating up the leaves, especially in early stages of development, if not followed by rapid growth of the plants, plant growth will be hampered and can lead to the fall of the quality and quantity of pakcoy production. M. anisopliae has been reported to reduce the level of intensity of the damage caused by Phyllotreta spp but not followed by an infection of the pests Phyllotreta spp, M. anisopliae also been reported to have endophytic activity and stimulate growth in tomato plants. So it is necessary to do continuous research to know the potential of M anisopliae as plant endofit pakcoy. So the need to do research continues to determine the potential of M anisopliae pakcoy plant endophyte and its effect on P. striolata

The research was conducted in Brenjonk Organic Community, Penanggungan village, Trawas district, Mojokerto and plant disease laboratory, Department of Plant Pest and Disease, Faculty of Agriculture, University of Brawijaya, Malang. The research was conducted on March until June 2017. The research was divided into two stages. The first stage was test of initiation of Metharizium anisopliae fungus with 4 treatments and 6 replications. The treatments used were control, seeds treatment with suspension M. anisopliae, watering with M. anisopliae, and combination of both. The second stage of the study was conducted to test the effect of M. anisopliae as the endophyte of the pakcoy againts the intensity of P. striolata with 2 treatments and 16 replications.

The treatment used were control and pakcoy which was initiated with M.

aniopliae.

The entomopathogenic fungus M. anisopliae had potency as endophytic fungus for pakcoy. Combination of treatment was the best treatment to accelerate induction time of fungus into the tissue of plant, to increase the percentage of the number of fungal colonies on the tissue of pakcoy and the growth diameter of colony M. anisopliae fungi which was isolated from roots and leaves of pakcoy plants in aged 14, 21, and 28 days after seedlings. The endophytic activity of M.

anisopliae fungi on the pakcoy could increase the height of the plant and decrease the intensity of plant damage until of 27.68% that caused by P. striolata but did not cause infection to P. striolata up to 2 weeks of observation.

(9)

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan kekuatan, petunjuk dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian, yang berjudul “Kajian Jamur Entomopatogen Metarhizium anisopliae Sebagai Endofit Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L) dan Pengaruhnya Terhadap Serangga Pemakan Daun Phyllotreta striolata (Coleoptera : Chrysomelidae) ”

Pada kesempatan ini, ucapan banyak trimakasih penulis sampaikan kepada:

1. Dr.Ir. Toto Himawan.,SU selaku dosen pembimbing utama dan Tita Widjayanti, SP.,M.Si. selaku dosen pembimbing, yang telah sabar memberikan bimbingan dan pengarahan, kepada penulis dalam menyusun serta menyelesaikan skripsi ini,

2. Dr.Ir. Ludji Pantja Astuti, MS. Selaku Ketua Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

3. Ketua dan staf Komunitas organik Brenjonk, Bapak Slamet, Mas Hari, Mbak Sumilah dan Mbak Rini yang telah membantu dan memfasilitasi penulis dalam menjalankan kegiatan penelitian ini hingga selesai.

4. Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, yang telah memberikan beasiswa Bidik Misi kepada penulis selama menjadi mahasiswa.

5. Kedua orang tua Bapak Hardjo W, dan Ibu Suyati dan kakak tercinta Asih Puryanti yang selalu memberikan dukungan dan doa.

6. Ana Waumrina, Roaita Mustika, dan Agus Vinasari sebagai sahabat yang selalu memberi dukungan.

Penulis berharap semogga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak yang memerlukan, serta memberikan informasi kepada pembaca.

Malang, Agustus 2017

Penulis

(10)

iv

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Nganjuk tanggal 15 Juni 1994 sebagai putri kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Alm. Hardjo Wibowo dan Ibu Suyati.

Penulis menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Sambirejo 2, Tanjunganom, Nganjuk. 2001-2007, kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 3 Tanjunganom pada tahun 2007-2010. Pada tahun 2010 hingga 2013 penulis menempuh pendidikan menengah atas di SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Pada tahun 2013 penulis terdaftar sebagai mahasiswa strata satu di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Program studi Agroekoteknologi melalui jalur SNMPTN. Pada tahun 2015 penulis terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.

Selama menjadi mahasiswa Penulis pernah terdaftar sebagai anggota UKM UNITANTRI UB dan pernah mengikuti kepanitian FRESH 2015 sebagai panitia devisi Danus dan sponsorship.

(11)

v DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... i

SUMMARY ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian... 2

1.4. Hipotesis ... 3

1.5. Manfaat ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L) ... 4

2.2 Phyllotreta striolata . ... 4

2.3 Jamur Entomopatogen. ... 7

2.4 Metarhizium anisopliae ... 8

2.5 Jamur Endofit.. ... 9

2.6 Jamur Entomopatogen Sebagai Jamur Endofit.. ... 10

III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian... 11

3.2 Alat dan Bahan ... 11

3.3 Persiapan Penelitian ... 11

3.4 Pelaksanaan Penelitian... 13

3.5 Variabel Pengamatan ... 16

3.6 Analisis Data ... 18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 19

4.2 Pembahasan ... 28

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 32

5.2 Saran ... 32

DAFTAR PUSTAKA ... 33

LAMPIRAN ... 37

(12)

vi

DAFTAR GAMBAR Nomor

Teks

Halaman

1. Morfologi Phyllotreta striolata ... 5

2. Kerusakan tanaman akibat Phyllotreta striolata , ... 6

3. Jamur M anisopliae ... 7

4. Denah perlakuan uji metode inisiasi M. anisopliae pada tanaman pakcoy ... 13

5. Denah uji pengaruh M. anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy terhadap intensitas serangan hama P. striolata ... 14

6. Makroskopis Jamur M. anisopliae ... 19

7. Mikroskopis Jamur M. anisopliae ... 19

8. Persentase jumlah koloni M. anisopliae yang muncul pada media PDA yang diisolasi dari bagian daun pakcoy berdasar metode inisiasi pada tiap umur tanaman ... 22

9. Persentase jumlah koloni M. anisopliae yang muncul pada media PDA yang diisolasi dari bagian akar pakcoy berdasar metode inisiasi pada tiap umur tanaman ... 22

10. Persentase jumlah koloni jamur M anisopliae yang muncul berdasarkan Bagian tanaman yang diisolasi ... 23

11. Intensitas Kerusakan akibat P. striolata pada tanaman pakcoy ... 29

Lampiran 1. Persiapan media tanam ... 41

2. Lahan penelitian ... 41

3. Metode inisias M. anisopliae... 42

4. Isolasi M. anisopliae dari bagian daun dan akar tanaman pakcoy ... 42

5. Hasil isolasi bagian tanaman pakcoy umur 14 HSS, 1 hari setelah muncul koloni M. anisopliae ... 42

6. Hasil isolasi bagian tanaman pakcoy umur 21 HSS, 1 hari setelah muncul koloni M. anisopliae ... 43

7. Hasil isolasi bagian tanaman pakcoy umur 28 HSS, 1 hari setelah muncul koloni M. anisopliae ... 43

8. Hasil isolasi bagian tanaman pakcoy umur 14HSS, 7 hari setelah muncul koloni M. anisopliae ... 43

9. Hasil isolasi bagian tanaman pakcoy umur 21HSS, 7 hari setelah muncul koloni M. anisopliae ... 44

10. Hasil isolasi bagian tanaman pakcoy umur 28 HSS, 7 hari setelah muncul koloni M. anisopliae ... 44

11. Rata-rata tinggi tanaman pakcoy umur 14HSS ... 45

12. Rata-rata tinggi tanaman pakcoy umur 21HSS ... 45

13. Rata-rata tinggi tanaman pakcoy umur 28HSS ... 45

(13)

vii

DAFTAR TABEL Nomor

Teks

Halaman 1. Perlakuan Uji Metode Inisiasi Metarhizium anisopliae pada

Tanaman Pakcoy ... 13

2. Perlakuan Uji pengaruh M anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy terhadap intensitas serangan hama P. striolata ... 13

3. Hasil Identifikasi M. anisopliae dari bagian tanaman pakcoy ... 20

4. Waktu munculnya koloni dari bagian daun yang telah di isolasi ... 21

5. Waktu munculnya koloni dari bagian daun yang telah di isolasi ... 21

6. Rata-rata diameter koloni M. anisopliae yang diisolasi dari daun pakcoy ... 24

7. Rata-rata diameter koloni M. anisopliae yang diisolasi dari akar pakcoy ... 24

8. Rerata tinggi tanaman pakcoy ... 26

9. Intensitas kerusakan tanaman pakcoy akibat P striolata ... 27

Lampiran 1. Analisis ragam rata-rata tinggi tanaman umur 14 HSS ... 37

2. Analisis ragam rata-rata tinggi tanaman umur 21 HSS ... 37

3. Analisis ragam rata-rata tinggi tanaman umur 28 HSS ... 37

4. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 14HSS, pengamatan hari ke 1 ... 37

5. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 14HSS, pengamatan hari ke 4 ... 37

6. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 14HSS, pengamatan hari ke 7 ... 37

7. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 21HSS, pengamatan hari ke 1 ... 38

8. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 21HSS, pengamatan hari ke 4 ... 38

9. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 21HSS, pengamatan hari ke 7 ... 38

10. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 28HSS, pengamatan hari ke 1 ... 38

11. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 28HSS, pengamatan hari ke 4 ... 38

12. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat daun pakcoy umur 21HSS, pengamatan hari ke 7 ... 39

13. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat akar pakcoy umur 21HSS, pengamatan hari ke 1 ... 39

14. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat akar pakcoy umur 21HSS, pengamatan hari ke 4 ... 39

15. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat akar pakcoy umur 21HSS, pengamatan hari ke 7 ... 39

(14)

viii

16. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat akar

pakcoy umur 28HSS, pengamatan hari ke 1 ... 39 17. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat akar

pakcoy umur 28HSS, pengamatan hari ke ... 40 18. Analisis ragam diameter koloni jamur M anisoplie dari isolat akar

pakcoy umur 28HSS, pengamatan hari ke 7 ... 40 19. Hasil Analisis Uji T (α=0,05) rerata intensitas kerusakan

tanaman pakcoy akibat P striolata ... 40

(15)

1 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pakcoy (Brassica rapa L) adalah tanaman jenis sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae, tanaman ini salah satu sayuran daun yang banyak diusahakan oleh petani dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Masa panen yang singkat dan pasar yang terbuka luas merupakan daya tarik untuk mengusahakan pakcoy. Pada umumnya masyarakat banyak yang menyukai pakcoy karena rasanya yang segar dan banyaknya kandungan vitamin A, E, dan K untuk kesehatan. Sementara itu, vitamin K berkhasiat untuk membantu proses pembekuan darah dan vitamin E yang baik untuk kesehatan kulit (Prastio, 2015).

Dalam upaya peningkatan produksi pakcoy terdapat beberapa kendala salah satunya yaitu adanya gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Salah satu hama penting yang menyerang tanaman pakcoy adalah Phyllotreta striolata F. (Coleoptera: Chrysomelidae). P. striolata menyerang bagian daun tanaman pakcoy, sehingga mengakibatkan daun berlubang.

Hama P. striolata merusak tanaman pakcoy mulai dari persemaian atau sebelum tanam hingga tanaman berumur 1-7 minggu. Serangan P. striolata akan menurun saat menjelang panen dan kerusakan yang diakibatkan P. striolata pada tanamaan pakcoy mencapai 73,75% (Jayanti et al., 2013). Hama P.

striolata menyukai tanaman yang lebih muda hal ini jika tidak diikuti dengan pertumbuhan tanaman yang cepat maka, pertumbuhan tanaman akan terhambat dan dapat menyebabkan turunya kualitas maupun kuantitas produksi dari tanaman pakcoy.

Upaya pengendalian P. striolata pada umumnya petani masih mengandalkan penggunaan insektisida sintetis, hal ini jika dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan dampak yang negatif terhadap lingkungan dan kesehatan, dan sering kali justru menimbulkan ledakan hama. Untuk mengatasi permasalah tersebut maka perlu dilakukan pengendalian hama dan penggunaan zat pengatur tumbuh yang ramah lingkungan dan efektif digunakan oleh petani, salah satunya dengan menggunakan agens hayati jamur Metarhizium anisopliae, jamur ini merupakan jamur entomopatogen yang telah dikenal sebagai patogen pada berbagai jenis serangga dan dapat di produksi secara komersil sebagai bioinsektisisida.

Pada penelitian Hiola (2015) aplikasi M. anisopliae mampu menurunkan tingkat intensitas kerusakan akibat Phyllotreta spp pada tanaman caisim akan

(16)

2 tetapi tidak diikuti adanya infeksi pada hama Phyllotreta spp. Hal ini diduga karena adanya residu oleh jamur M. anisopliae yang ditinggalkan pada tanaman caisim, residu yang ditinggalkan oleh jamur pada tanaman dapat berupa hasil dari metabolit sekunder, yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan OPT. Batta (2012) melaporkan bahwa jamur M. anisopliae mampu menjadi endofit tanaman Brassica napus dan menujukan pengaruhnya terhadap mortalitas larva Plutella xylostella, Elena et al (2011) melaporkan bahwa M.

anisopliae memiliki aktivitas endofit dan memacu pertumbuhan tanaman tomat, akan tetapi pengaruh aktivitas endofit terhdap serangga belum ditunjukan pada penelitian tersebut.

Berdasarkan permasalah diatas maka perlu dilakukan penelitian berlanjut tentang potensi jamur entomopatogen M. anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan intensitas kerusakan tanaman pakcoy akibat P. striolata. Metode inisiasi jamur pada tanaman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan jamur dalam jaringan tanaman, sehingga sebelum dilakukan pengujian pengaruh inisiasi jamur M. anisopliae pada tanaman pakcoy, terhadap serangan hama P. striolata.

Maka perlu memastikan metode inisiasi yang terbaik digunakan untuk meningkatkan keberadaan jamur M. anisopliae pada jarigan tanaman pakcoy.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini yaitu:

1. Apakah jamur M. anisopliae memiliki aktifitas endofit terhadap tanaman pakcoy?

2. Apakah metode inisiasi M. anisopliae pada tanaman pakcoy dapat mempegaruhi keberadaan jamur pada jaringan akar dan daun tanaman pakcoy ?

3. Apakah jamur M. anisopliae memiliki kemampuan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman pakcoy?

4. Apakah aktifitas endofit jamur M. anisopliae dapat mempengaruhi intensitas kerusakan tanaman pakcoy oleh P. striolata?

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dalam penelitian ini yaitu:

1. Mengetahui potensi M. anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy

(17)

3 2. Mengetahui metode inisiasi jamur M. anisopliae pada tanaman pakcoy

yang terbaik

3. Mengetahui pengaruh aktifitas endofit jamur M. anisopliae terhadap pertumbuhan tanaman pakcoy

4. Mengetahui pengaruh aktifitas endofit jamur M. anisopliae terhadap Intensitas kerusakan tanaman pakcoy oleh P. striolata.

1.4 Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu:

1. Jamur M. anisopliae memiliki aktifitas endofit terhadap tanaman pakcoy.

2. Metode kombinasi inisiasi melalui perendaman benih dan penyiraman tanah menggunakan suspensi M. anisopliae 1x108 konidia/ml pada tanaman pakcoy mampu meningkatkan keberadaan jamur M. anisopliae dalam jaringan akar, dan daun tanaman pakcoy.

3. Jamur M. anisopliae yang diinisiasi pada tanaman pakcoy dapat meningkatkan rerata tinggi tanaman pakcoy.

4. Tanaman pakcoy yang terendofit jamur M. anisopliae dapat menekan intensitas kerusakan hama P. striolata.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diberikan dari penelitian ini yaitu untuk memberikan informasi mengenai aktifitas endofit jamur M. anisopliae pada tanaman pakcoy dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman dan intensitas kerusakan tanaman pakcoy yang diakibatkan oleh hama P. striolata.

(18)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L)

Klasifikasi tanaman pakcoy menurut USDA (2017) sebagai berikut: Kingdom:

Plantae; Subkingdom: Tracheobionta; Superdivisi: Spermatophyta; Divisi:

Magnoliophyta ; Kelas: Magnoliopsida; Subkelas: Dilleniidae; Ordo: Capparales;

Famili: Brassicaceae; Genus: Brassica L.; Spesies: Brassica rapa L

Tanaman pakcoy merupakan salah satu sayuran penting di Asia, atau khususnya di China. Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan.

Tangkai daun, berwarna putih atau hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 15–30 cm (Cahyono, 2003).

Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 mdpl. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 mdpl. Tanaman pakcoy dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.

Tanaman pakcoy tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun (Sutirman, 2011). Pakcoy dapat dipanen sekitar umur 3-5 minggu setelah tanam, namun untuk mendapatkan hasil panen yang optimum dapat dipanen setelah berumur 30-45 hari setelah tanam.

2.2 Phyllotreta striolata

2.2.1 Klasifikasi Phyllotreta striolata

Klasifikasi Phyllotreta striolata menurut Myers et al.,( 2017) adalah sebagai berikut: Kingdom: Animalia, Divisi: Arthropoda, Kelas: Insecta, Ordo:Coleoptera, Famili: Chrysomelidae, Genus : Phyllotreta, Spesies:

Phyllotreta striolata.

2.2.2 Morfologi Phyllotreta striolata

Morfologi telur P. striolata, telur berwarna kuning, lonjong, dan dengan panjang telur sekitar 0,38-0,46 mm, lebar 0,18-0,25 mm, dan disimpan secara tunggal atau berkelompok berdekatan dengan akar tanaman inang. Morfologi

(19)

5 larva P. striolata, larva berukuran kecil kira-kira 3 mm, berwarna putih , ramping, seperti cacing silinder, memiliki kaki kecil dan kepala coklat. Morfologi pupa P.

striolata, pupa memiliki ukuran hampir sama dengan imago, berwarna putih, dan bermata hitam, tubuh bebas (Exarate) (Knodel dan Olson, 2002).

Morfologi imago P. striolata yaitu caput spesies ini berwarna hitam kecoklatan dan vertex halus atau sedikit agak kasar. Karakter spesifik antena dari spesies ini adalah pada antena dekat kepala sampai ujung antena bersegmen, 3 segmen 1-2-3 terdekat dari kepala bewarna coklat terang, sedangkan segmen ke 4 sampai ke 11 memiliki warna gelap. Toraks spesies ini memiliki toraks yang berwarna hitam kecoklatan dengan sedikit lubang-lubang kasar. Karakter sayap pada spesies ini adalah berwarna kecoklatan dan terdapat garis kuning memanjang sepanjang elytra. Tungkai spesies ini tidak memiliki karakteristik khas, di mana secara keseluruhan berwarna kecokelatan, dengan femur berwarna coklat gelap dan tibia berwarna coklat muda. Abdomen spesies ini memiliki warna hitam kecoklatan dan berbentuk sedikit cekung (Dinarwika et al., 2014).

Gambar 1. Morfologi Phyllotreta striolata, (a) Telur, (b) Larva, (c) Pupa (d) Imago Sumber : (Knodel dan Olson, 2002 dan Dinarwika et al.,2014)

2.2.3 Biologi Phyllotreta striolata

Imago P. striolata betina dapat menghasilkan telur hingga 25 telur di dalam tanah. Imago bersifat terus aktif sampai mati. Larva menetas dari telur sekitar 12 hari dan menghisap makanan pada akar tanaman sekunder, namun kerugian hasil dapat mencapai 5%. Larva melewati tiga instar dan menyelesaikan fase hidupnya selama 25 sampai 34 hari dengan membentuk puparium kecil pada tanah. Tahap pupa berlangsung sekitar 7 sampai 9 hari. Imago muncul dari puparium dan memakan bagian epidermis dri daun-daun hijau, polong, dan gulma (Knodel dan Olson, 2002).

(a) (b) (c) (d)

(20)

6

2.2.4 Kisaran inang dan gejala serangan Phyllotreta striolata

Hama P. striolata secara umum disebut Flea bettles, dan di Indonesia dikenal dengan nama kutu anjing, hama ini memiliki inang yang sempit dalam famili Cruciferae. Famili tanaman lain yang menjadi inang adalah famili caper (Capparidaceae), famili nasturtium (Tropaeolaceae) dan famili marshflower (Limnanthaceae). Hama ini menyukai tanaman menghasilkan minyak mustard (allyl isothiocynate), yang merupakan feromon agregasi yang dikenal oleh kumbang crucifer. Inang disukai sebagian pada genus Brassica (Cruciferae).

Inang alternatif dari hama ini adalah kembang kol, kale, kubis dan lobak (Knodel dan Olson, 2002).

Gejala serangan dapat dilihat pada daun berlubang-lubang kecil (perforasi).

Serangan berat kadang-kadang terjadi pada keadaan suhu yang tinggi. Biasanya hama P. striolata merusak tanaman, mulai di persemaian sebelum tanam sampai tanaman berumur 1–7 minggu, bila tanaman sudah tua (menjelang panen) serangan P. striolata relatif rendah (Jayanti et al., 2013). Mayoori dan Mikunthan (2009), melaporkan bahwa kerusakan yang diakibatkan oleh P. striolata pada tanaman kanola dapat mencapai 52,6%, radis 62,5%, dan pada tanaman sawi dapat mencapai 60,7%. Brown et al (2004) melaporkan bahwa kehilangan hasil akibat serangan P. striolata pada tanaman kubis dapat mencapai 20–50%, bahkan 100% bila serangan terjadi pada saat tanaman masih muda. Pakcoy merupakan tanaman inang yang paling disukai oleh P. striolata dan dapat menyebabkan kerusakan sampai dengan 73,75% dibandingkan sawi putih dengan kerusakan mencapai 13,75% dan kubis bunga sebesar 10,75% (Jayanti et al., 2013).

Gambar 2. Kerusakan tanaman akibat Phyllotreta striolata , (a) Tanaman sebelum terserang (b) Sesudah terjadi serangan Sumber: (Knode dan Olson,2002)

(a) (b)

(21)

7

2.3 Jamur Entomopatogen

Entomopatogen adalah suatu istilah yang diberikan kepada satu jenis atau satu kelompok mikroorganisme yang keberadaannya dialam menjadi patogen terhadap jenis-jenis serangga. Jamur entomopatogen dapat diartikan sebagai jamur yang mampu menyebabkan sakit. Jamur entomopatogen sebagian besar berasal dari kelas Deuteromycetes seperti dari genus Beauveria, Metarhizium, Paecilomyces dan Nomuraea (Wahyudi, 2008).

Jamur entomopatogen terdiri atas jamur pembunuh langsung maupun parasit sejati. Jamur pembunuh langsung merupakan jamur yang secara langsung membunuh serangga pada fase larva melalui aktivitas enzimatis.

Sedangkan jamur parasit sejati merupakan jamur yang hidup bersama dengan serangga inang dewasa dan menimbulkan gejala penyakit sebelum menyebabkan kematian pada serangga (Smith et al., 1981). Jamur entomopatogen memiliki sifat spesifik terhadap target tertentu dengan efek samping dan resiko yang sangat rendah terhadap organisme non target atau serangga yang bermanfaat (Roberts & Humber, 1981).

Jamur entomopatogen memiliki siklus hidup yang seiring dengan fase hidup serangga target. Jamur entomopatogen bisa dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu jamur yang menyerang menggunakan racun untuk melumpuhkan pertahanan alami tubuh serangga dan jamur yang cenderung menyerang serangga dengan sedikit atau tanpa racun (Shahid et al., 2012).

Kematian serangga sasaran oleh jamur entomopatogen sangat dipengaruhi oleh jumlah konidia yang diinokulasikan, keadaan suhu dan kelembaban lingkungan yang sesuai untuk pertumbuahan jamur. Toksin yang dihasilkan oleh jamur entomopatogen memegang peranan penting yang dapat membunuh inang dengan cara merusak struktur organik, sehingga terjadi dehidrasi dalam sel, menyebabkan tidak terjadinya regenerasi jaringan ( Gillespie, 1988).

Gambar 3. Jamur M anisopliae a) Makroskopis b) Mikroskopis Sumber: (Syahnen, 2015)

a b

(22)

8

2.4 Metarhizium anisopliae

Klasifikasi jamur M. anisopliae menurut Alexopoulus et al.,(1996) adalah sebagai berikut : Kingdom : Mycetes ; Divisi : Amastigomycotina, Kelas : Deuteromycetes, Ordo : Moniliales, Famili : Moniliaceae; Genus : Metarhizium, Spesies : M. anisopliae.

Jamur M. anisopliae ini biasanya disebut Green Muscardine Fugus dan tersebar di seluruh dunia. Jamur ini pertama kali digunakan untuk mengendalikan hama kumbang kelapa lebih dari 85 tahun yang lalu, dan sejak itu digunakan dibeberapa Negara termasuk Indonesia (Tanada dan Kaya, 1993). Di indonesia M. anisopliae telah lama digunakan sebagai agen hayati dan dapat menginfeksi beberapa jenis serangga dari kelompok ordo Orthoptera, Coleoptera, Hemiptera, Lepidoptera dan Hymenoptera (Lee dan Hou, 2003).

Temperatur optimum untuk pertumbuhan M. anisopliae berkisar 22 - 27o C, konidia akan membentuk kecambah pada kelembapan di atas 90% namun akan berkecambah dengan baik dan patogenisitasnya meningkat bila kelembaban udara sangat tinggi hingga 100% (Prayogo et al., 2005). Pada awal pertumbuhan, koloni jamur berwarna putih, kemudian berubah menjadi hijau gelap dengan bertambahnya umur koloni. Miselium berdiameter 1,98- 2,97 μm, kemudian tersusun dengan tegak, berlapis dan bercorak yang dipenuhi dengan konidia bersel satu berwarna hialin, berbentuk bulat silinder dengan ukuran 9 μm (Prayogo et al., 2005).

Dalam Prayogo et al (2005) mekanisme infeksi M. anisopliae dapat terjadi melalui 4 tahap yaitu : 1. Inokulasi, yaitu kontak antara propagul jamur dengan tubuh serangga. Propagul jamur M. anisopliae berupa konidia karena merupakan jamur yang berkembang biak secara tidak sempurna. 2. Penempelan dan perkecambahan propagul jamur pada integumen serangga. Pada tahap ini, cendawan dapat memanfaatkan senyawa-senyawa yang terdapat pada integumen. Penetrasi dan invasi, dalam melakukan penetrasi menembus integumen, jamur membentuk tabung kecambah. Penembusan dilakukan secara mekanis atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim dan toksin. 4. Destruksi pada titik penetrasi dan terbentuknya blastospora yang kemudian beredar ke dalam hemolimfa dan membentuk hifa sekunder untuk menyerang jaringan lainnya.

Jamur M. anisopliae menghasilkan endotoksin yang mematikan yaitu destruxins yang menyebabkan kelumpuhan dan kematian pada serangga antara tiga dan empat belas hari setelah infeksi, tergantung dari jenis dan ukuran.

(23)

9 Senyawa destruxin A, B, C, D, E dan demethyl destruxintin yang dipertimbangkan sebagai bahan insektisida generasi baru. Efek destruxin berpengaruh pada organel target yaitu mitokondria, retikulum endoplasma dan membran nukleus yang menyebabkan parasitis sel dan kelainan fungsi terhadap lambung tengah, tubulus malphigi, hemocit dan jaringan otot (Widiyanti dan Muyadihardja, 2004).

Pada stadium awal infeksi oleh jamur, gejala yang terlihat hanya tampak beberapa titik nekrotik pada lokasi penetrasi hifa. Pada fase selanjutnya, larva menunjukkan gejala terserang infeksi. Gejala tersebut antara lain larva menjadi gelisah, kurang aktif, aktivitas makan menurun dan kehilangan kemampuan koordinasi. Di lapangan, serangga yang telah terinfeksi seringkali bergerak ke tempat yang lebih tinggi menjauhi permukaan tanah. Perilaku seperti ini diduga untuk melindungi kelompoknya agar tidak terserang jamur. Larva dari lepidoptera yang terinfeksi oleh jamur menjadi lunak karena mengandung air dan memiliki integumen yang rapuh (Tanada dan Kaya, 1993). Pada infeksi yang lebih lanjut, hifa jamur akan muncul pada integumen serangga atau pada permukaan kulit serangga.

2.5 Jamur Endofit

Jamur endofit merupakan jamur yang hidup di dalam jaringan tanaman, bersimbiosis mutualisme sehingga tidak menyebabkan gejala penyakit pada inangnya (Faeth & Fagan 2002). Jamur endofit umumnya bersimbiosis mutualisme dengan tanaman inangnya, jamur ini memberi manfaat kepada tanaman inang antara lain berupa peningkatan laju pertumbuhan, ketahanan terhadap serangan hama, penyakit dan kekeringan (Ilyas, 2006).

Mekanisme endofit dalam melindungi tanaman terhadap serangan serangga ataupun patogen meliputi: (1) penghambatan pertumbuhan patogen secara langsung melalui senyawa antibiotik dan enzim litik yang dihasilkan; (2) Penghambatan secara tidak langsung melalui perangsangan endofit terhadap tanaman dalam pembentukan metabolit sekunder seperti asam salisilat, asam jasmonat, dan etilene yang berfungsi dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen atau yang berfungsi sebagai antimikroba seperti fitoaleksin; (3) perangsangan pertumbuhan tanaman sehingga lebih tahan terhadap serangan patogen; (4) kolonisasi jaringan tanaman sehingga patogen sulit penetrasi; dan (5) hiperparasit (Gao et al. 2010).

(24)

10

2.6 Jamur Entomopatogen Sebagai Jamur Endofit

Telah banyak penelitian yang melaporkan tentang potensi jamur entomopatogen sebagai jamur endofit. Penelitian yang dilakukan oleh Vega (2008) menunjukan bahwa spesies jamur entomopatogen tertentu memiliki potensi untuk melakukan interaksi dengan tanaman, sebagai jamur endofit atau sebagai jamur antagonis terhadap penyakit tanaman, tanpa menimbulkan efek negatif, bahkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Jamur entomopatogen yang bersifat endofit tersebut telah terbukti mampu melindungi tanaman dari patogen tanaman (Zabalgogeazcoa, 2008) dan dari serangan hama (Quesada-Moraga et al., 2009). Elena et al (2011) melaporkan bahwa M.

anisopliae memiliki aktivitas endofit dan mendorong pertumbuhan tanaman tomat. Selain itu, M. anisopliae sebagai jamur clavicipitaceous memiliki kemampuan untuk tetap sebagai endofit, membentuk koloni dan meningkatkan pertumbuhan tanaman (Rodriguez, 2009). Penelitian Batta (2013) juga membuktikan bahwa jamur M. anisopliae mampu mengendofit tanaman kanola (B.napus) dan dapat menyebabkan mortalitas larva P. xylostella hingga 63,3%.

Terdapat beberapa metode untuk menginisiasikan jamur M. anisopliae kedalam tanaman inang, diantaranya adalah perlakuan perendaman benih, pembasahan tanah, penyemprotan daun ataupun kombinasi ketiganya. Setiap Metode menunjukan hasil yang berbeda tergantung pada jenis tanaman inangnya. Penelitian yang dilakukan oleh Dutta et al. (2015) pada tanaman tomat menunjukan bahwa perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas endofit pada tanaman tomat, yaitu diperoleh pada metode inisiasi jamur M. anisopliae yang telah dikombinasikan dari metode perendaman benih 5ml/kg benih + substrat 5ml/kg substrat + penyemprotan daun 5ml / L air dengan presentase dari daun (55,55%), tunas (77,77%), akar (33,33%) dan rizosfer (106,66 cfu / g tanah).

(25)

11

III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sayur Organik Kampung Organik Brenjonk Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto serta Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama Dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Penelitian dilaksanakan bulan Maret 2017 – Juni 2017.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Alat

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aspirator, autoclave, Laminar air flow cabinet (LAFC), mikroskop, kompor, cawan Petri diameter 9 cm, botol schott, panci, kaca preparat, bunsen, termometer, timbangan digital, polibag, mika, kasa, toples, cutter, kamera, alat tulis.

3.2.2 Bahan

Bahan - bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu benih pakcoy varietas Tosakan, kompos, tanah, pasir, kentang, dextrose, agar, klorampenikol, aquades, alkohol 70%, NaOCl, spirtus, plastik wrapping, imago P. striolata, isolat cair M. anisopliae dengan kerapatan 1x108 konidia/ml yang diperoleh dari hasil koleksi Laboratorium Hama dan Penyakit, Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

3.3 Persiapan Penelitian 3.3.1 Persiapan Media Tanam

Tanah yang digunakan berasal dari lahan pekarangan yang tidak terkontaminasi pestisida. Media tanam disiapkan dengan komposisi kompos, tanah dan pasir dengan perbandingan 2:2:1 yang kemudian dicampur dan diayak agar didapatkan campuran kompos dan tanah yang lembut.·Sterilisasi tanah dilakukan dengan memasukan media tanam kedalam karung dan selanjutnya dikukus menggunakan dandang dengan suhu 100°C, selama ± 45 menit (Trenggana, 2012).

(26)

12

3.3.2 Pembuatan Media Potato Dextrose Agar (PDA)

Media PDA digunakan sebagai media isolasi jamur M. anisopliae yang terdapat pada jaringan tanaman. Media PDA dibuat dengan cara merebus 250gr kentang yang telah dipotong dan aquades 1 liter hingga mendidih. Setelah mendidih, kentang kemudian disaring dan diambil sarinya. Dekstrosa 20 gram, dan agar 20 gram ditambahkan pada sari kentang 1 liter. Setelah itu media PDA yang telah jadi dimasukan kedalam botol media dan ditambahkan klorampenikol 500 miligram/liter untuk mencegah terjadinya kontaminasi kemudian diaduk rata dan di tutup rapat untuk disterilkan menggunakan autoklaf dengan suhu 121oC tekanan 1 atm selama 30 menit.

3.3.3 Penyediaan Jamur Metarhizium anisopliae

Jamur Metarhizium anisopliae diperoleh dari koleksi laboratorium Hama dan Penyakit, Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, diisolasi dari larva Lepidiota stigma. M. anisopliae yang digunakan berbentuk isolat cair murni dengan kerapatan 1 x 108 konidia/ml.

3.3.4 Penyediaan Serangga uji Phyllotreta striolata

Imago P. striolata yang digunakan dikoleksi dari lahan pertanian dikawasan Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Koleksi dewasa P. striolata dilakukan menggunakan aspirator dan selanjutnya imago P. striolata yang diperoleh dikumpulkan pada sangkar kasa yang didalamnya diberikan daun pakcoy segar untuk pakan.

Morfologi imago P. striolata diidentifikasi berdasarkan hasil penelitian Dinarwika et al (2014) sebagai berikut: caput berwarna hitam kecoklatan dan vertex halus atau sedikit agak kasar. Karakter spesifik antena dari spesies ini adalah pada antena dekat kepala sampai ujung antena bersegmen, 3 segmen 1- 2-3 terdekat dari kepala bewarna coklat terang, sedangkan segmen ke 4 sampai ke 11 memiliki warna gelap. Toraks spesies ini memiliki toraks yang berwarna hitam kecoklatan dengan sedikit lubang-lubang kasar. Karakter sayap pada spesies ini adalah berwarna kecoklatan dan terdapat garis kuning memanjang sepanjang elytra. Tungkai spesies ini tidak memiliki karakteristik khas, di mana secara keseluruhan berwarna kecokelatan, dengan femur berwarna coklat gelap dan tibia berwarna coklat muda, abdomen spesies ini memiliki warna hitam kecoklatan dan berbentuk sedikit cekung.

(27)

13

3.4 Pelaksanaan Penelitian 3.4.1 Perlakuan Penelitian

Penelitian dilakukan 2 tahap, yaitu pada tahap pertama melakukan uji metode Inisiasi jamur M. anisopliae pada tanaman pakcoy dengan 4 perlakuan 6 ulangan sehingga tanaman yang digunakan sebanyak 24 polibag.

Tabel 1. Perlakuan Uji Metode Inisiasi M. anisopliae Pada Tanaman Pakcoy Perlakuan

P0 Perendaman benih dan penyiraman tanah dengan aquades

P1 Perendaman benih dalam isolat cair jamur M. anisopliae 1 x 108 Konidia / ml

P2 Penyiraman tanah dengan isolat cair jamur M. anisopliae 1 x 108 Konidia / ml

P3 Perendaman Benih mengunakan isolat cair jamur M. anisopliae 1 x 108 konidia / ml + Penyiraman tanah mengunakan isolat cair jamur M.

anisopliae 1 x 108 konidia / ml

Pada tahap kedua penelitian dilakukan untuk menguji pengaruh M.

anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy terhadap intensitas serangan hama P. striolata. dilakukan dengan 2 perlakuan dan 16 ulangan sehingga didapatkan 32 polibag.

Tabel 2. Uji pengaruh M anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy terhadap intensitas serangan hama P. striolata

Perlakuan

A Infestasi hama P. striolata pada tanaman pakcoy tanpa inisiai jamur M.

anisopliae (Kontrol)

B Infestasi hama P. striolata pada tanaman pakcoy yang di inisiasi jamur M. Anisopliae

3.4.2 Denah Perlakuan

1. Denah perlakuan uji metode inisiasi M. anisopliae pada tanaman pakcoy

Gambar 4: Denah perlakuan uji metode inisiasi M. anisopliae pada tanaman pakcoy;

(U) ulangan (P0) kontrol dengan aquades, (P1) Perendaman benih dengan M. anisopliae 10 ml/ kg benih pakcoy, (P2) Penyiraman tanah dengan M.

anisopliae 10 ml/ kg Tanah, (P3) Perendaman benih 10 ml/kg benih + Pembasahan tanah 10 ml/kg tanah.

P3U1 P2 U3 P3 U5 P0 U1 P2U4 P1U1

P2U6 P1 U4 P3 U4 P3U6 P3U3 P0 U5

P0 U6 P2 U5 P2U2 P2U1 P1U3 P0 U4

P3 U2 P1 U6 P1U2 P0U2 P1U5 P0 U3

(28)

14 2. Denah perlakuan uji pengaruh M. anisopliae sebagai endofit tanaman

pakcoy terhadap intensitas serangan hama P. striolata

Gambar 5: Denah uji pengaruh M. anisopliae sebagai endofit tanaman pakcoy terhadap intensitas serangan hama P. striolata ; (U) ulangan, (A) Infestasi hama P.

striolata pada tanaman pakcoy tanpa endofit jamur M. anisopliae (Kontrol), (B) Infestasi hama P striolata pada tanaman pakcoy terendofit jamur M.

anisopliae.

3.4.3 Uji Viabilitas

Jamur M. anisopliae yang telah diperoleh perlu dilakukan pengujian viabilitas sebelum digunakan sehingga dapat mengetahui kualitas dari jamur yang akan digunakan. Viabilitas menunjukan tingkat pertumbuhan konidia.

Semakin tinggi viabilitas jamur entomopatogen maka semakin efektif dalam mengendalikan hama. Viabilitas spora sangat dipengaruhi umur biakan, faktor lingkungan (kandungan air, suhu, cahaya matahari, dan lain-lain) dan kesuburan media biakan. Viabilitas spora digolongkan baik bila > 85 – 100%, sedang > 70- 85% dan kurang < 55 – 70 % (Ramli, 2004).

Uji Viabilitas konidia ditentukan dengan cara suspensi jamur M. anisopliae diteteskan pada kaca preparat dan ditutup dengan gelas penutup, kemudian langsung dilakukan pengamatan dengan menghitung jumlah konidia yang berkecambah dan tidak berkecambah pada bidang pandang dibawah mikroskop dengan perbesaran 400 kali, konidia yang berkecambah dan tidak berkecambah dihitung dengan menggunakan rumus Gabriel dan Riyanto (1989) sebagai berikut :

Keterangan :

V = Persentase konidia yang berkecambah g = Jumlah konidia yang berkecambah u = Jumlah konidia yang tidak berkecambah

A U9 B U13

A U7 B U5 A U4 B U9 A U3 A U11

A U8 A U15 B U6 B U8 B U11 B U3 A U10 A U12

B U1 A U1 B U12 B U4 B U10 B U7 A U2 B U15

B U2 A U13 A U6 A U14 B U14

B U16

A U5 A U16

(29)

15

3.4.4 Penanaman Pakcoy

Benih pakcoy ditanam pada polibag dengan media tanam yang telah disiapkan. Penanaman dilakukan pada polibag dengan ukuran 1 kg. Setiap polibag di isi dengan 1 benih pakcoy. Pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman dan pemeliharaan gulma.

3.4.5 Inisiasi M. anisopliae pada Tanaman Pakcoy

Konidia M. anisopliae yang digunakan memiliki viabilitas > 80% dan kerapatan 1 x 108 konidia/ml, inisiasi M. anisopliae dilakukan dengan 3 metode yaitu: 1) Perendaman benih Pakcoy, 2) Penyiraman tanah dan, 3). Kombinasi perendaman benih dan penyiraman tanah

Metode perendaman benih dilaksanakan dengan cara merendam benih menggunakan jamur M. anisopliae dengan kerapatan 1x108 konidia/ml, perendaman dilakukan dengan dosis 10ml/kg benih pakcoy selama 24 jam pada cawan petri di dalam LAFC. Sebelum ditanam benih yang telah direndam diletakan dikertas saring untuk di kering anginkan di dalam LAFC,

Metode penyiraman tanah dilaksanakan dengan merendam benih pakcoy menggunakan aquades terlebih dahulu setelah tanaman berumur 7 hari setelah semai dilakukan penyiraman tanah menggunakan jamur M. anisopliae dengan kerapatan 1x108 Konidia/ml, penyiraman tanah dilakukan dengan dosis 10ml/kg tanah.

Kombinasi metode perendaman dan pembasahan tanah dilakukan dengan perendaman benih terlebih dahulu dalam suspensi M. anisopliae dengan kerapatan 1x108 Konidia/ml, perendaman dilakukan dengan dosis 10ml/kg benih pakcoy selama 24 jam pada cawan petri di dalam LAFC, kemudian saat tanaman telah berumur 7 hari setelah semai dilakukan penyiraman tanah menggunakan jamur M. anisopliae dengan kerapatan 1x108 Konidia/ml, dengan dosis 10ml/kg tanah.

Hasil metode inisiasi yang terbaik akan digunakan untuk metode inisiasi pada tahap penelitian yang kedua yaitu uji pengaruh tanaman pakcoy terendofit jamur M. anisopliae terhadap intensitas kerusakan tanaman pakcoy akibat P.

striolata.

(30)

16

3.4.6 Evaluasi Keberhasilan M. anisopliae Sebagai Endofit Tanaman Pakcoy Evaluasi dilakukan pada umur tanaman 14, 21, dan 28 HSS. Evaluasi dilakukan dengan cara isolasi pada bagiandaun dan akar tanaman pakcoy.

Pakcoy dicabut secara hati-hati untuk diambil sampel pada bagian daun dan akar, kemudian daun dan akar dipotong 1cm untuk di isolasi. Setiap sempel di sterilkan di dalam LAFC selama 2 menit dalam NaOCL 0,5%, 2 menit dalam alkohol 70%, dan dibilas 3 kali menggunakan aquades setril, kemudian dikering anginkan di kertas saring. Aquades bilasan ketiga disebar ke media PDA sebagai kontrol sterilisasi permukaan. Kemudian, tepi luar sampel dipotong dan dibuang, untuk memastikan jamur endofit yang diperoleh bukan berasal dari permukaan tanaman di inkubasi pada suhu 28oc selama 5-7 hari. Kemudian diamati secara mikroskopis sesuai dengan morfologi jamur Metarizium anissopliae.

3.4.7 Investasi Hama Phyllotreta striolata

Investasi hama P. striolta dilakukan ketika tanaman berumur 28 HSS dengan masing masing tanaman di infestasikan 10 hama P. Striolata sehingga dibutuhkan 320 hama P. striolata. Sebelum infestasi hama, dilakukan penyungkupan dengan mika dan kasa terlebih dahulu pada tanaman.

3.5 Variabel Pengamatan 3.5.1 Waktu Munculnya Koloni Metarhizium anisopliae

Pengamatan dilakukan setiap hari setelah dilakukan isolasi hingga munculnya koloni M. anisopliae pertama kali. Koloni M. anisopliae pada awal pertumbuhan koloni jamur ini berwarna putih, kemudian akan berubah menjadi warna hijau gelap saat konidia matang dan dilanjutkan dengan pembentukan spora. (Tanada dan Kaya,1993).

3.5.2 Persentase Jumlah Koloni Metarhizium anisopliae

Isolasi dilakukan pada tanaman pakcoy umur 14,21,28 HSS, pengamatan dilakukan setiap hari selama 7 hari setelah isolasi. Setiap koloni jamur M.

anisopliae yang muncul pada bagian tanaman dicatat dan dihitung persentasenya tiap perlakuan dengan rumus :

(31)

17

3.5.3 Diameter Koloni Jamur M.anisopliae

Pengamatan dan pengukuran diameter dilakukan pada 1, 4 dan, 7 hari setelah munculnya koloni. Pengukuran diameter menggunakan kertas millimeter block yang cara perhitungannya dengan membuat garis vertikal dan horizontal yang titik potong kedua garisnya tepat di tengah koloni jamur. Cara pengukuran pada cawan petri berdasarkan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

D = diameter jamur M. anisopliae

d1 = diameter vertikal koloni jamur M. anisopliae d2 = diameter horizontal koloni jamur M. anisopliae

3.5.4 Tinggi Tanaman

Diukur dari pangkal batang hingga titik tumbuh tertinggi, pengamatan dilakukan ketika 14, 21 dan 28 HSS

3.5.5 Intensitas Kerusakan Tanaman Akibat Hama P striolata

Intensitas kerusakan diamati pada saat tanaman berumur 29 HSS atau satu hari setelah investasi hama P. striolata pada tanaman berumur 28 HSS.

Besarnya intensitas serangan P. striolata dapat dihitung dengan Rumus menurut Natawigena (1994) sebagai berikut:

Keterangan :

P = Intensitas serangan

n = Jumlah strata daun dari tiap katagori serangan V = Nilai skala dari tiap katagori serangan

Z = Nilai skala dari katagori serangan tertinggi N = Jumlah daun yang diamati

Persentase nilai skala dan kategori serangan Phyllotreta spp terbagi menjadi 5 kategori berdasarkan besarnya intensitas kerusakan (OEPP/EPPO, 2002).

1. = 0% Tidak ada kerusakan 2. = 2% luas daun yang dimakan 3. = 3%-10% luas daun yang dimakan

(32)

18 4. = 11%- 25% luas daun yang dimakan

5. = >25% luas daun yang dimakan

Dalam perhitungan tingkat intensitas serangan juga diperoleh data tingkat penekanan kerusakan (TP) yang dihitung menggunakan rumus :

3.6 Analisis Data

Data pertumbuhan diameter koloni jamur M. anisopliae, dan Tinggi tanaman pakcoy dianalisis menggunakan uji F (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95 α , 5) b h s j b dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 95%. Data intensitas kerusakan tanaman pakcoy akibat P striolata dianalisis menggunakan uji t dengan tingkat kesalahan 0,05 %. Serta persentase jumlah koloni jamur M. anisopliae dan waktu kemunculan jamur M. anisopliae dianalisis menggunakan analisis deskriprif.

(33)

19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1 Identifikasi Jamur M. anisopliae sebagai Endofit Tanaman Pakcoy

Berdasarkan hasil identifikasi makroskopis yaitu pada awal pertumbuhan koloni jamur berwarna putih dan dengan bertambahnya umur koloni berubah warna menjadi hijau gelap dengan bentuk koloni membulat tidak beraturan (Tabel 3), karakteristik ini sesuai dengan pernyataan Prayogo et al (2005) M.

anisopliae pada awal pertumbuhan, koloni jamur bewarna putih, kemudian berubah menjadi hijau gelap dengan bertambahnya umur koloni.

Berdasarkan hasil identifikasi ciri-ciri mikroskopis yaitu hifa berwarna hialin dan bersekat, konidiofor tegak dan bercabang, konidia hialin dan berbentuk silinder (Tabel 3), karakteristik ini sesuai dengan hasil identifikasi Watanabe (2002) yang menyatakan bahwa konidiofor jamur M. anisopliae tersusun tegak, berlapis, dan bercabang yang dipenuhi dengan konidia, sedangkan bentuk dari konidia jamur bersel satu berwarna hialin, dan berbentuk bulat silinder. Dari kesesuaian karakter makroskopis dan mikroskopis maka dapat dikonfirmasi bahwa isolat yang ditemukan adalah M. anisopliae.

Gambar 6. Makroskopis Jamur M. anisopliae ; a) Hasil isolasi jamur M. anisopliae dari daun tanaman pakcoy, b) Hasil isolasi jamur M. anisopliae dari akar tanaman pakcoy

Gambar 7. Mikroskopis Jamur M. anisopliae

a b

(34)

20 Tabel 3. Hasil Identifikasi M. anisopliae dari bagian tanaman pakcoy

Umur

Tanaman Isolat Makroskopis Mikroskopis

Warna Pola Hifa konidiofor Konidia

14HSS

Daun Hijau gelap

Membulat Tidak beraturan

Hialin, bersekat

Bersusun tegak, dan bercabang

Hialin berbentuk silinder atau lonjong, konidia

bergerombol pada konidiofor

Akar Hijau gelap

Membulat Tidak beraturan

Hialin, bersekat

Bersusun tegak, dan bercabang

Hialin silinder atau lonjong,

konidia bergerombol pada konidiofor

21HSS

Daun Hijau gelap

Membulat Tidak beraturan

Hialin, bersekat

Bersusun tegak, dan bercabang

Berwarna Hialin,berbentuk

silinder atau lonjong. konidia

bergerombol pada konidiofor

Akar Hijau gelap

Membulat Tidak beraturan

Hialin, bersekat

Bersusun tegak, dan bercabang

Berwarna Hialin,berbentuk

silinder atau lonjong. konidia

bergerombol pada konidiofor.

28HSS

Daun Hijau gelap

Membulat Tidak beraturan

Hialin, bersekat

Bersusun tegak, dan bercabang

Berwarna Hialin,berbentuk

silinder atau lonjong. konidia

bergerombol pada konidiofor.

Akar Hijau gelap

Membulat Tidak beraturan

Hialin, bersekat

Bersusun tegak, dan bercabang

Berwarna Hialin,berbentuk

silinder atau lonjong. konidia

bergerombol pada konidiofor.

Keterangan: HSS: Hari Setelah Semai

4.1.2 Pengaruh Metode Inisiasi Jamur M. anisopliae terhadap Waktu Munculnya Koloni pada Media PDA

Data hasil pengaruh metode Inisiasi jamur M. anisopliae terhadap waktu munculnya koloni pada media PDA. Diperoleh dengan cara mencatat waktu munculnya koloni M. anisopliae pertama kali setelah dilakukan isolasi dari bagian daun dan akar tanaman pakcoy. Data waktu munculnya koloni M. anisopliae disajikan pada tabel 4 dan 5.

(35)

21 Tabel 4. Waktu munculnya koloni dari bagian daun yang telah di isolasi

Keterangan : (√) Koloni M. anisopliae muncul pada media PDA. (-) Koloni M. anisopliae tidak muncul pada media PDA. HSS: Hari Setelah Semai. HSI : Hari Setelah Isolasi

Tabel 5. Waktu munculnya koloni dari bagian akar yang telah di isolasi

Keterangan : (√) Koloni M. anisopliae muncul pada media PDA. (-) Koloni M. anisopliae tidak muncul pada media PDA. HSS: Hari Setelah Semai. HSI : Hari Setelah Isolasi

Berdasarkan hasil pengamatan pada bagian daun dan akar yang telah diisolasi dari tanaman pakcoy umur 14 HSS (Tabel 4 dan 5) menunjukan waktu kemunculan koloni jamur M. anisopliae pada semua perlakuan menunjukan kemunculan pada 3 HSI, Pada umur tanaman 21 HSS kemunculan koloni M.

anisopliae yang telah diisolasi dari bagian daun dan akar tanaman pakcoy menunjukan kemunculan jamur lebih cepat yaitu pada 2 HSI pada perlakuan rendam benih dan kombinasi, sedangkan pada perlakuan penyiraman tanah kemunculan jamur M. anisopliae dari bagian tanaman pakcoy yang telah diisolasi tetap yaitu pada 3 HSI.

Kemunculan koloni jamur M. anisopliae dari daun dan akar tanaman pakcoy umur 28 HSS menunjukan kemunculan yang lebih seragam pada semua perlakuan yaitu pada 2 HSI. Secara keseluruhan waktu kemunculan jamur pada jaringan tanaman yang telah diisolasi, menunjukan masa inkubasi jamur kedalam jaringan tanaman, walaupun masa inkubasi yang diperlukan M. anisopliae untuk menyebar kedalam jaringan tanaman belum diketahui secara pasti dan jelas.

Pada hasil pengamatan menunjukan pada umur tanaman 14 HSS waktu kemunculan koloni pada 3 HSI sehingga dapat dikatakan bahwa pada 17 HSS,

Perlakuan Daun pakcoy 14HSS

Daun pakcoy 21HSS

Daun pakcoy 28HSS Waktu Muncul

(HSI)

Waktu Muncul (HSI)

Waktu Muncul (HSI)

2 3 4 2 3 4 2 3 4

Perendaman Benih -

Penyiraman Tanah - -

Kombinasi -

Perlakuan

Akar pakcoy 14HSS

Akar pakcoy 21HSS

Akar pakcoy 28HSS Waktu Muncul

(HSI)

Waktu Muncul (HSI)

Waktu Muncul (HSI)

2 3 4 2 3 4 2 3 4

Perendaman Benih -

Penyiraman Tanah - -

Kombinasi -

(36)

22 jamur M. anisopliae yang diinisiasi M. anisopliae pada tanaman pakcoy sudah mampu menyebar keseluruh bagian tanaman, dan perlakuan terbaik adalah pada perlakuan kombinasi yang menunjukan kemunculan jamur lebih seragam dibandingkan dengan perlakuan tunggal rendam benih dan penyiraman tanah dengan suspensi M. anisopliae.

4.1.3 Pengaruh Metode Inisiasi Jamur M. anisopliae pada Tanaman Pakcoy Terhadap Jumlah Koloni Jamur M. anisopliae yang Muncul pada Media PDA

Data persentase kemunculan koloni jamur M. anisopliae pada media PDA berdasarkan metode inisiasi M. anisopliae pada umur tanaman 14, 21, 28 HSS, disajikan pada gambar 8 dan 9.

Gambar 8. Persentase jumlah koloni M. anisopliae yang muncul pada media PDA yang diisolasi dari bagian daun pakcoy berdasar metode inisiasi pada tiap umur tanaman

Gambar 9. Persentase jumlah koloni M. anisopliae yang muncul pada media PDA yang diisolasi dari bagian akar pakcoy berdasar metode inisiasi pada tiap umur tanaman

Berdasarkan metode inisiasi endofit pada tanaman pakcoy baik pada bagian daun dan akar menunjukan hasil, persentase jumlah koloni M. anisopliae terbanyak terdapat pada metode inisiasi kombinasi, dibandingkan perlakuan tunggal perendaman benih dalam M. anisopliae dan penyiraman tanah dengan M. anisopliae. Pada perlakuan kontrol tidak ditemukan adanya koloni M.

41

69 58

30

66

50 50

86 94

0 20 40 60 80 100

14 HSS 21 HSS 28 HSS

Persentase Jumlah Koloni M. anisopliae (%)

Umur Tanaman

Rendam Benih Pembasahan Tanah Kombinasi

22

52 52

16

52

38 25

72

86

0 20 40 60 80 100

14 HSS 21 HSS 28 HSS

Persentase Jumlah Koloni M. anisopliae (%)

Umur Tanaman

Rendam Benih Pembasahan Tanah Kombinasi

Referensi

Dokumen terkait

Keterangan dalam Pasal 263 ayat 1 KUHAP menyatakan bahwa “ terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas

Dari hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa nilai kekuatan tarik, modulus elastisitas, kekuatan dan modulus bending terbesar dimiliki oleh bahan komposit

Berdasarkan analisis dan uraian pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan mengenai Eksistensi Pura Agung Kentel Gumi di Desa Pakraman Tusan Kecamatan Banjarangkan

Tumor ganas liang telinga yang masih terbatas pada bagian membrane (1/3 luar) memerlukan eksisi luas jaringan lunak diikuti dengan tandur kulit.Tumor  ganas yang mengenai bagian

Sampai dengan 31 Desember 2009, jumlah total saham Telkom yang telah dibeli kembali sebanyak 490.574.500 lembar Saham Biasa setara dengan 2,43% dari Saham Biasa

Berdasarkan latar belakang diatas agar pemanfaatan e- learning untuk proses pembelajaran dapat berjalan maka diimplemetasikan e-learning menggunakan LMS pada program

Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh garam ammonium terhadap keasaman zeolit alam sangat besar sehingga dapat digunakan sebagai katalis asam dalam reaksi perengkahan

Berangkat dari fenomena tersebut, menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih intensif tentang pembelajaran fiqih di lembaga pendidikan formal yang berbasis Pondok Pesantren