• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. Kajian Pustaka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II. Kajian Pustaka"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

Kajian Pustaka A. Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian ini penulis memaparkan delapan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti tentang Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Tahun 2015-2019. Adapun penelitian terdahulu yang membahas tentang Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah Pada Bank Umum Syariah di Indonesia adalah:

1. Penelitian Ma’rifatul Jannah (2018) dalam skripsi dengan judul Faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan Murabahah pada Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2011-2016. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi berganda, uji asumsi klasik, uji t, uji f. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji f variabel FDR, NPF, ROA, Inflasi, dan SBIS berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada perbankan syariah di Indonesia. Untuk uji t variabel FDR, NPF, dan SBIS berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan murabahah. Sedangkan ROA dan Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pembiayaan murabahah pada perbankan syariah di Indonesia. Berdasarkan hasil uji determinasi besarnya nilai Adjusted R Square adalah 0,573, hal ini berarti 57,3%

variasi pembiayaan murabahah dapat dijelaskan oleh variasi lima variabel yang berpengaruh terhadap pembiayaan

(2)

murabahah. Sedangkan sisanya 42,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model persamaan regresi.1

Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang diangkat pada tema ini, terpenting dari variabel dan pokok masalah yang sama-sama diteliti yaitu apakah variabel Financing to Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah atau tidak. Perbedaan antara kedua penelitian adalah, penelitian Ma’rifatul Jannah meneliti Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2011-2016. Sedangkan pada penelitian ini meneliti laporan keuangan triwulan 4 Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan kriteria nilai Return On Assets (ROA) tertinggi periode Januari 2015-September

2019.

2. Penelitian Tribudi Utami (2016) dalam skripsi dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi pembiayaan Murabahah pada Bank Syariah di Indonesia Periode 2012.05- 2015.04. Metode analisis data yang digunakan adalah uji t, uji f, model penyesuaian parsial pada signifikansi ( sebesar 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari uji t secara parsial DPK dan FDR memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan Murabahah, NPF memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap pembiayaan Murabahah.

Sedangkan Inflasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan Murabahah pada Bank Syariah di Indonesia. Dan dari hasil uji f secara simultan menunjukkan

1 Ma’rifatul Jannah,”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah Pada Perbankan Syariah Di Indonesia Periode 2011-2016(Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Lampung 2018)

(3)

bahwa DPK, FDR, Inflasi dan NPF secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan Murabahah.2

Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang diangkat pada tema ini, terpenting dari variabel dan pokok masalah yang sama-sama diteliti yaitu apakah variabel Financing to Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah atau tidak.

Perbedaan antara kedua penelitian adalah, penelitian Tribudi Utami meneliti Bank Syariah di Indonesia Periode 2012.05- 2015.04. Sedangkan pada penelitian ini meneliti laporan keuangan triwulan 4 Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan kriteria nilai Return On Assets (ROA) tertinggi periode Januari 2015-September 2019.

3. Penelitian Widya Karunia Azka, Hardiwinoto, R.Ery Wibowo (2018) dalam jurnal dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi pembiayaan Murabahah pada Perbankan Syariah di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel DPK berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan Murabahah dengan nilai t hitung sebesar 12,771 dan signifikan sebesar 0,000. Variabel margin Murabahah juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pembiayaan Murabahah dengan t hitung sebesar 3,443 dengan signifikan sebesar 0,001. Sedangkan Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pembiayaan Murabahah dengan nilai t hitung sebesar -3,300 dan signifikan 0,002. Untuk variabel

2 Tribudi Utami,”Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah Pada Bank Syariah Di Indonesia Periode 2012.05-2015.04”(Publikasi Ilmiah Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta 2016)

(4)

NPF dan CAR tidak berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah dengan masing-masing t hitung NPF sebesar 1,924 dengan signifikan 0,058 dan t hitung CAR sebesar 0,076 dengan signifikan 0,940. Kelima variabel ini mempunyai nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05 sehingga berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah.3

Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang diangkat pada tema ini, terpenting dari variabel dan pokok masalah yang sama-sama diteliti yaitu apakah variable Non Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah atau tidak. Perbedaan antara kedua penelitian adalah, penelitian Widya Karunia Azka, Hardiwinoto, R.Ery Wibowo meneliti Perbankan Syariah di Indonesia. Sedangkan pada penelitian ini meneliti laporan keuangan triwulan 4 Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan kriteria nilai Return On Assets (ROA) tertinggi periode Januari 2015-September 2019.

4. Penelitian Adzimatinur F, Hartoyo S, Wiliasih R dalam jurnal dengan judul Faktor-Faktor yang mempengaruhi besaran Pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah Vector Error Correction Model (VECM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, tingkat bagi hasil, DPK, FDR, memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan, sedangkan NPF memberikan pengaruh yang signifikan negatif ROA dan BOPO tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan. Guncangan

3 Widya Karunia Azka, Hardiwinoto, R.Ery Wibowo,”Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah pada Perbankan Syariah di Indonesia”(Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Unimus (Vol.1,2018) di Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang 2018)

(5)

yang terjadi pada pembiayaan, NPF dan ROA direspon positif oleh pembiayaan dan akan stabil dalam jangka panjang.4

Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang diangkat pada tema ini, terpenting dari variabel dan pokok masalah yang sama-sama diteliti yaitu apakah variable Financing to Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah atau tidak. Perbedaan antara kedua penelitian adalah, penelitian Adzimatinur F, Hartoyo S, Wiliasih R meneliti Perbankan Syariah di Indonesia. Sedangkan pada penelitian ini meneliti laporan keuangan triwulan 4 Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan kriteria nilai Return On Assets (ROA) tertinggi periode Januari 2015-September 2019.

5. Penelitian Dwi Nurapriyani (2009) dalam skripsi dengan judul Faktor-Faktor yang mempengaruhi pembiayaan Murabahah di Bank Syariah Mandiri Periode Tahun 2004-2007. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linier berganda. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa NPF, SWBI, Suku bunga konvensional dan DPK berpengaruh secara signifikan terhadap pembiayaan Murabahah pada Bank Syariah Mandiri, dan variabel DPK terbukti sebagai variabel yang dominan berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah.5

Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang diangkat pada tema ini, terpenting dari variabel dan pokok

4 Adzimatinur F, Hartoyo S, Wiliasih R,”Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Besaran Pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia”(Jurnal Departemen Ilmu Ekonomi IPB).

5 Dwi Nurapriyani,”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah di Bank Syariah Mandiri Periode Tahun 2004-2007”(Skripsi Sarjana Muamalah Program Keuangan Islam (KUI) Fakultas Syariah Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta 2009)

(6)

masalah yang sama-sama diteliti yaitu apakah variable Non Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah atau tidak. Perbedaan antara kedua penelitian adalah, penelitian Dwi Nurapriyani meneliti di Bank Syariah Mandiri Periode Tahun 2004-2007. Sedangkan pada penelitian ini meneliti laporan keuangan triwulan 4 Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan kriteria nilai Return On Assets (ROA) tertinggi periode Januari 2015-September 2019.

6. Penelitian Herni Ali, Miftahurrohman (2016) dalam jurnal dengan judul Determinan yang mempengaruhi pembiayaan Murabahah pada Perbankan Syariah di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DPK, ROA, Inflasi, dan PDB berpengaruh positif terhadap pembiayaan Murabahah. Sedangkan CAR dan tingkat suku bunga kredit berpengaruh negatif terhadap pembiayaan Murabahah.

Kemudian NPF dan BOPO tidak berpengaruh terhadap jumlah pembiayaan Murabahah.6

Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang diangkat pada tema ini, terpenting dari variabel dan pokok masalah yang sama-sama diteliti yaitu apakah variable Return On Assets (ROA), Non Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah atau tidak.

Perbedaan antara kedua penelitian adalah, penelitian Herni Ali, Miftahurrohman meneliti di Perbankan Syariah di Indonesia.

Sedangkan pada penelitian ini meneliti laporan keuangan triwulan 4 Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan

6 Herni Ali, Miftahurrohman,”Determinan Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah Pada Perbankan Syariah di Indonesia”(Jurnal Bisnis dan Manajemen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Trisakti, Vol. 6 (1), April 2016)

(7)

kriteria nilai Return On Assets (ROA) tertinggi periode Januari 2015-September 2019.

7. Penelitian Farida Kurniawati (2018) dalam skripsi dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi pembiayaan Murabahah pada Perbankan Syariah di Indonesia Tahun 2012- 2017. Metode analisis data yang digunakan adalah uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda, uji koefisiensi determinasi, uji f, uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel DPK, NPF, dan BOPO positif signifikan terhadap pembiayaan Murabahah. Sedangkan FDR menunjukkan pengaruh positif tidak signifikan. Kemampuan prediksi dari keempat variabel tersebut terhadap pembiayaan adalah 56,8% sebagaimana ditunjukkan oleh besarnya adjusted . Sisanya 43,2% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian ini.7

Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang diangkat pada tema ini, terpenting dari variabel dan pokok masalah yang sama-sama diteliti yaitu apakah variable Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah atau tidak.

Perbedaan antara kedua penelitian adalah, penelitian Farida Kurniawati meneliti di Perbankan Syariah di Indonesia Tahun 2012-2017. Sedangkan pada penelitian ini meneliti laporan keuangan triwulan 4 Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan kriteria nilai Return On Assets (ROA) tertinggi periode Januari 2015-September 2019.

7 Farida Kurniawati,”Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah Pada Perbankan Syariah di Indonesia Tahun 2012-2017”( Skripsi Sarjana Akuntansi Manajerial Politehnik Negeri Samarinda, 2018)

(8)

8. Penelitian Winda Anggraeni (2017) dalam skripsi dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi pembiayaan Murabahah dan penanganan permasalahannya. Metode analisis data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di periode 2011-2016 pembiayaan Murabahah mencapai Rp.

69.696.629.231 dengan pembiayaan bermasalah Rp.

896.532.221. jumlah ini masih dapat dikatakan normal karena belum mencapai 5%. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan Murabahah di Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Teluk Betung Bandar Lampung adalah DPK, NPF dan Margin. Sedangkan kebijakan penanganan pembiayaan bermasalah yang diambil oleh Bank Syari’ah Mandiri telah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dan telah sesuai dengan prinsip syari’ah. Hal ini terlihat dari bagaimana Bank Syari’ah Mandiri dalam penyelesaian pembiayaan bermasalah, yaitu dengan mengutamakan prinsip kekeluargaan atau system musyawarah, serta menggunakan pendekatan Religius pada nasabah pembiayaan bermasalah dengan menempatkan tangung jawab atau kewajibannya.8

Pada penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang diangkat pada tema ini, terpenting dari variabel dan pokok masalah yang sama-sama diteliti yaitu apakah variable Non Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap pembiayaan Murabahah atau tidak. Perbedaan antara kedua penelitian adalah, penelitian Winda Anggraeni meneliti di Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Teluk Betung Bandar Lampung. Sedangkan pada penelitian ini meneliti laporan keuangan triwulan 4 Bank Umum

8 Windra Anggraeni,”Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah dan Penanganan Permasalahannya”( Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan, Lampung 2017)

(9)

Syariah (BUS) di Indonesia dengan kriteria nilai Return On Assets (ROA) tertinggi periode Januari 2015-September 2019.

Berdasarkan penelitian terdahulu di atas, terdapat beberapa hal yang membedakan penelitian yang berjudul ANALISIS FAKTOR-

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBIAYAAN

MURABAHAH PADA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA TAHUN 2015-2019, ini dengan penelitian tersebut. Dalam penelitian ini objek penelitian adalah Bank Umum Syariah (BUS) yang terdaftar di Bank Indonesia tahun 2015-2019. Sehingga apakah di dalam Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), Return On Assets (ROA) mempunyai pengaruh terhadap Pembiayaan Murabahah pada Bank Umum Syariah yang terdaftar di Bank Indonesia dalam penelitian ini.

B. Kerangka Teoritis Masalah Penelitian 1. Perbankan Syariah

a. Definisi Bank dan Perbankan Syariah

Bank Syariah adalah suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara bagi pihak yang mempunyai kelebihan modal dengan pihak yang memiliki kekurangan modal untuk kegiatan usaha dan lainnya sesuai dengan hukum Islam. Penjelasan lebih singkat mengenai bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak bergantung kepada bunga.

Dalam konteks hukum positif di Indonesia, Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Bank Syariah yaitu bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah, dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

(10)

Adapun yang dimaksud dengan Perbankan Syariah menurut Pasal 1 angka 1 UU No.21 Tahun 2008 adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.9

b. Prinsip Perbankan Syariah

Ada empat prinsip utama dalam syariah yang senantiasa mendasari jaringan kerja perbankan dengan sistem syariah, yakni:

1. Perbankan non riba,

2. Keridhaan pihak-pihak dalam berkontrak, 3. Perniagaan halal,

4. Pengurusan dana yang amanah, jujur, dan bertangung jawab.10 c. Akad Bank Syariah di Indonesia

Akad yang diterapkan oleh Perbankan Syariah di Indonesia adalah akad yang telah melalui kesepakatan dan persetujuan para ulama. Dimana hal tersebut sesuai dengan ketentuan hukum syariah berdasarkan Al- Qur’an dan Hadits. Antara lain sebagai berikut:11

1. Pendanaan: Wadiah,Mudharabah

2. Pembiayaan: Murabahah, Mudharabah, Musyarakah, Salam, Istishna, Rahn, Hawalah

3. Jasa Perbankan: Kafalah, Wakalah, Mudharabah Muqayyadah 4. Instrumen Keuangan Syariah: Wadiah, Mudharabah.

9Ibid, hal.7

10Trisadini P.Usanti, Abd.Shomad, Transaksi Bank Syariah (Jakarta:PT.Bumi Aksara, 2013), hal.3.

11Ascarya, Akad & Produk Bank Syariah (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada, 2011), hal.209.

(11)

d. Dasar Hukum Perbankan Syariah di Indonesia

Adapun dasar pijakan keluarnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah meliputi beberapa peraturan perundang- undangan yang telah ada sebelumnya, yaitu:12

1. Pasal 20 jo.Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3472), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor 3790);

3. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756).

2. Pembiayaan Murabahah

a. Pengertian Pembiayaan Murabahah

Murabahah merupakan salah satu istilah yang terdapat di dalam Fikih Islam yakni suatu bentuk jual beli tertentu saat penjual menyatakan biaya perolehan barang, meliputi harga barang dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk memperoleh barang tersebut, dan tingkat keuntungan (margin) yang diinginkan.

Pembayaran bisa dilakukan secara tunai atau secara kredit tergantung berdasarkan ketentuan yang telah disepakati bersama.13

Dalam pembiayaan murabahah ini, nasabah membutuhkan pembiayaan dari pihak bank. Hal ini dikarenakan pihak bank

12Neneng Nurhasanah, Panji Adam, Hukum Perbankan Syariah (Jakarta:Sinar Grafika, 2017), hal.9.

13Ascarya, Akad & Produk Bank Syariah (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2011), hal.81-83.

(12)

merupakan pemilik dana. Nasabah mengajukan pembiayaan kepada pihak bank. Setelah pihak bank melakukan beberapa evaluasi, kemudian pihak bank berhak menentukan apakah nasabah tersebut layak atau tidak untuk menerima pembiayaan. Selanjutnya jika pihak nasabah telah memenuhi kriteria dari pihak bank maka keduanya akan melakukan akad atau kesepakatan.

(13)

b. Skema Akad Murabahah Gambar 2.1

Alur Transaksi Murabahah (dengan Pesanan) 1.Negosiasi

6. Bayar 5.kirim dokumen 3.Beli barang

4.kirim barang Gambar 1: Skema Al-Murabahah

(Rizal Yaya,2014)

Bank Syariah (penjual)

Nasabah (Pembeli) 2. Akad

Murabahah

PEMASOK

(14)

c. Jenis Murabahah

Bentuk-bentuk akad murabahah antara lain:14 1) Murabahah Sederhana

Murabahah sederhana adalah bentuk akad murabahah ketika penjual (Ba’i) memasarkan barangnya kepada pembeli (musytari) dengan harga sesuai harga perolehan ditambah margin keuntungan yang diinginkan.

2) Murabahah kepada Pemesan

Bentuk murabahah ini melibatkan tiga pihak, yaitu pemesan, pembeli dan penjual. Bentuk murabahah ini juga melibatkan pembeli sebagai perantara karena keahliannya atau karena kebutuhan pemesan atau pembiayaan. Bentuk murabahah inilah yang diterapkan perbankan syariah dalam pembiayaan.

d. Landasan Syariah Akad Murabahah

Secara umum, landasan dasar syariah akad murabahah adalah sebagai berikut.15

1) Al-Qur’an

Firman Allah SWT, antara lain:

“...Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari

14Ascarya, Akad & Produk Bank Syariah (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2011), hal.89-90.

15Rizal Yahya, Aji Erlangga Martawireja, Ahim Abdurahim, Akuntansi Perbankan Syariah, (Jakarta:Salemba Empat,2014), hal.158.

(15)

Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah.

Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya...” (QS.Al-Baqarah ayat 275)

2) Al-Hadits

Dari Shuaib Ar Rumi R.A. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan yaitu jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah) dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah.”

e. Rukun Murabahah

Faktor-faktor yang harus ada (rukun) dalam akad murabahah adalah:16

1) Transaktor

Transaktor dalam transaksi murabahah terdiri atas pembeli (yaitu nasabah yang memerlukan barang) dan penjual (yaitu bank syariah). Dalam fikih muamalah, transaktor disyaratkan memiliki kompetensi berupa akal baligh dan kemampuan memilih yang optimal. Terkait dengan jual beli, Dewan Syariah Nasional (DSN) membolehkan bank meminta nasabah untuk membayar uang muka (urbun) saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. Pada umumnya, nilai uang muka yang diterapkan adalah 30% dari harga perolehan. Adanya uang muka juga dimaksudkan untuk mengantisipasi kerugian bank akibat pembatalan nasabah membeli barang yang sudah dipesan dan diperoleh bank. Adapun jika uang muka tidak mencukupi untuk menutupi kerugian Bank, DSN membolehkan bank meminta sisa kerugiannya kepada nasabah.

16Ibid, hal.159-162.

(16)

Fatwa DSN MUI tentang murabahah membolehkan bank syariah meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat disimpan oleh bank. Berdasarkan fatwa DSN Nomor 17, nasabah tidak dibenarkan menunda-nunda pembayaran. Atas pertimbangan ini, DSN MUI membolehkan bank syariah menerapkan sanksi berupa denda sejumlah uang tertentu kepada nasabah yang menunda-nunda menunaikan kewajibannya padahal memiliki kemampuan untuk melunasi kewajibannya. Nasabah yang tidak tahu atau belum mampu membayar karena kondisi force majeur tidak boleh dikenai sanksi. Bagi bank syariah, dana denda yang diterima harus diperuntukkan sebagai dana sosial (Fatwa DSN Nomor 17 Tahun 2000).

2) Objek Murabahah

Rukun objek akad transaksi murabahah meliputi barang dan harga barang yang diperjualbelikan. Dalam praktik perbankan, umumnya barang yang dipesan nasabah bersifat mengikat untuk dibeli oleh nasabah. Bank menjual barang dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Fatwa DSN Nomor 4 mensyaratkan bank memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah, berikut biaya yang diperlukan. Selanjutnya, nasabah membayar harga barang tersebut berdasarkan jangka waktu dan metode pembayaran yang telah disepakati.

Sesuai dengan Fatwa DSN Nomor 17 Tahun 2000, bank syariah diperbolehkan mengenakan denda pada nasabah yang sengaja menunda-nunda pembayaran kewajibannya. Dalam praktik, terdapat beragam kebijakan penentuan besaran denda.

Kendati demikian, dalam praktiknya bank syariah sangat hati-hati menerapkan ketentuan denda. Sejauh ini, bank lebih mengedepankan pendekatan persuasif dengan mengingatkan nasabah untuk memenuhi kewajibannya. Dalam situasi nasabah

(17)

dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan utangnya, bank menunda tagihan pembiayaan sampai menjadi sanggup kembali.

3) Ijab dan Kabul

Ijab dan kabul adalah pernyataan kehendak para pihak yang bertransaksi, baik secara lisan, tertulis, atau secara diam-diam.

Antara lain sebagai berikut.

1. Nama notaris serta informasi tentang waktu dan tempat penandatanganan akad.

2. Identitas pihak pertama, dalam hal ini pihak yang mewakili bank syariah (biasanya kepala cabang).

3. Identitas pihak kedua, dalam hal ini nasabah yang akan membeli barang dengan didampingi oleh suami/istri yang bersangkutan sebagai ahli waris.

4. Bentuk akad beserta penjelasan akad. Beberapa hal yang dijelaskan terkait akad murabahah adalah definisi perjanjian pembiayaan murabahah, syariah, barang, pemasok, pembiayaan dan lainnya.

5. Kesepakatan-kesepakatan yang disepakati, meliputi kesepakatan tentang fasilitas pembiayaan dan penggunaannya, pembayaran dan jangka waktu, jaminan dan lainnya.

f. Ketentuan Hukum Pembiayaan Murabahah

Tata cara Pelaporan Hasil Pengawasan bagi Dewan Pengawas Syariah berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/19/DPBs Tahun 2006 tentang Pedoman Pengawasan Syariah sebagai berikut.17

1) Memastikan barang yang diperjualbelikan halal dan tidak dilarang oleh syariah Islam.

17Ibid, hal.162.

(18)

2) Memastikan bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga jual senilai harga beli ditambah keuntungan.

Dalam hal nasabah membiayai sebagian dari harga barang tersebut, maka akan mengurangi tagihan bank kepada nasabah.

3) Meneliti apakah akad wakalah telah dibuat oleh bank secara terpisah dari akad murabahah, apabila bank hendak mewakilkan terhadap nasabah untuk membeli barang tersebut dari pihak ketiga. Akad jual beli murabahah harus dilaksanakan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank yang dibuktikan dengan kuitansi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

4) Meneliti pembiayaan berdasarkan akad murabahah dilakukan setelah adanya permohonan nasabah dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset terhadap bank.

3. Pengertian Non Performing Financing (NPF)

Menurut Kamus Bank Indonesia, Non Performing Loan (NPL) atau Non Performing Financing (NPF) adalah kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklasifikasi kurang lancar, diragukan dan macet.

Termin NPL diperuntukkan bagi bank umum, sedangkan NPF untuk bank syariah.18 Penelitian yang dilakukan oleh Agista (2015) memperlihatkan bahwa NPF tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan. Namun, hasil yang berbeda ditunjukkan dalam penelitian Mufqi Firaldi (2012) dimana NPF berpengaruh positif dan signifikan terhadap total pembiayaan.19

Non Performing Financing (NPF) atau pembiayaan bermasalah

digunakan untuk mengukur bagaimana kemampuan manajemen bank

18https://justinaelvharahap.wordpress.com, Diakses Pada Tanggal 30 Januari 2018 Pukul 04.45 WIB

19Nahrawi, Amirah Ahmad. (2017). Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Assets (ROA) dan Non Performing Financing (NPF) Terhadap Pembiayaan Murabahah BNI Syariah.

Perisai Vol 1 (2), April 2017, 59-98.

(19)

dalam mengelola kredit bermasalah.20 NPF menggambarkan resiko kredit.

Semakin kecil NPF, maka semakin kecil pula resiko kredit yang dimiliki oleh suatu bank. Berlaku juga untuk sebaliknya. Setiap pembiayaan yang dicairkan oleh pihak bank kepada nasabah, semua pasti memiliki segala bentuk konsekuensi yang mau tidak mau akan tetap ada.

NPF atau pembiayaan bermasalah merupakan salah satu indikator kunci untuk menentukan atau menilai suatu kinerja bank. Pembiayaan yang dikategorikan bermasalah jika angsuran pokok atau bunganya belum dibayarkan setelah lewat 90 hari setelah jatuh tempo. NPF merupakan suatu pembiayaan dimana pembayaran macet atau secara tepat waktu sangat diragukan.21

Ada beberapa faktor penyebab pembiayaan bermasalah sebagai berikut.22

1) Faktor Intern (berasal dari pihak bank).

a) Kurang baiknya pemahaman atas bisnis nasabah.

b) Perhitungan modal kerja tidak didasarkan kepada bisnis usaha nasabah.

c) Aspek jaminan tidak diperhitungkan aspek marketable.

2) Faktor Ekstern (berasal dari pihak luar).

a) Karakter nasabah tidak amanah (tidak jujur dalam memberikan informasi dan laporan tentang kegiatannya).

20Almilia L. S, Winny Herdiningtyas, Analisis Rasio CAMEL Terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah Pada Lembaga Perbankan Periode 2000-2002(Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.

7 No.2 Nopember 2005) Hal. 89

21Anisily kurlillah, Konsep Simsarah Dalam Ekonomi Islam.http://caknenang.blogspot.co.id Di unduh pada 21 April 2020 Pukul 15.30 WIB

22Trisadini P.Usanti, Abd.Shomad, Transaksi Bank Syariah (Jakarta:PT.Bumi Aksara, 2013), hal.102- 103.

(20)

b) Kemampuan pengelolaan nasabah tidak memadai sehingga kalah dalam persaingan usaha.

c) Terjadi bencana alam.

Secara matematis maka rasio Non Performing Financing (NPF) dapat dirumuskan sebagai berikut:

(

)

4. Pengertian Financing to Deposit Ratio (FDR)

Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan perbandingan jumlah pembiayaan kredit yang diberikan dengan simpanan masyarakat. Dalam perbankan syariah Loan to Deposit Ratio (LDR) disebut dengan Financing to Deposit Ratio (FDR).sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, bank yang dianggap sehat apabila FDR-nya antara 85%-110%.23

Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah rasio perbandingan antara jumlah pembiayaan dengan jumlah dana masyarakat atau dana pihak ketiga dan modal sendiri yang digunakan. Dalam perbankan syariah disebut dengan Financing to Deposit Ratio (FDR). Sedangkan dalam perbankan konvensional istilah ini disebut dengan Loan to Deposit Ratio (LDR).

Sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia, bank yang sehat apabila FDR nya antara 85%-110%. Semakin besar dana yang disalurkan kepada pihak ketiga, maka semakin besar pula keuntungan yang didapat. Meskipun begitu langkah tersebut mengandung resiko yang besar berupa resiko kredit.24 Bilamana dilakukan akan membahayakan bagi kelangsungan hidup bank syariah, yang pada

23https://perpuskampus.com/financing-to-deposit-ratio-fdr/, Diakses Pada Tanggal 24 April 2018 Pukul 09.42

24Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan (Jakarta:Ghalia Indonesia,2009), hal.116.

(21)

akhirnya akan membahayakan nasabah investor dan dana simpananan para nasabah penyimpan.25

Adapun Rumus Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah sebagai berikut:

FDR:

5. Pengertian Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) adalah hasil perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan total aset yang dimilikinya. ROA adalah salah satu jenis rasio profitabilitas, yang dalam pengukurannya digunakan untuk menilai seberapa baik kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari pemanfaatan aset yang dimilikinya. Dengan kata lain, semakin baik nilai ROA suatu perusahaan, semakin baik pula kinerjanya dalam menghasilkan laba bersih. Laba bersih yang dimaksud di sini adalah laba setelah pajak atau di dalam laporan keuangan sering juga disebut sebagai laba tahun berjalan. Sedangkan total aset yang dimaksud di sini adalah semua harta yang dimiliki perusahaan, baik yang berasal dari modal sendiri maupun dari modal eksternal perusahaan, seperti utang.

Secara umum ada beberapa fungsi ROA yang sangat penting untuk dipahami, yaitu sebagai berikut.

1. Secara prinsip, ROA memiliki kegunaan atau berfungsi untuk menganalisis efisiensi penggunaan modal dari perusahaan, baik untuk efisiensi produksi maupun penjualan.

2. ROA dapat dipakai untuk mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas divisi manajemen perusahaan. Dengan demikian, maka akan terlihat divisi mana yang mampu memberikan tingkat return paling tinggi. Ini adalah bagian penting dan tentu saja bisa menjadi bahan evaluasi bagi manajemen perusahaan.

25Trisadini P.Usanti, Abd.Shomad, Transaksi Bank Syariah (Jakarta:PT.Bumi Aksara, 2013), hal.66.

(22)

3. ROA berfungsi sebagai salah satu indikator dalam pengambilan keputusan investasi bagi investor. Perusahaan dengan nilai rasio ROA yang besar pasti akan lebih menarik bagi investor sehingga investor mau untuk menanamkan modalnya di perusahaan.26

Rumus ROA adalah sebagai berikut.27 ROA=

x 100%

Klasifikasi tingkat Return On Assets (ROA) menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.14/18/PBI/2012 adalah sebagai berikut.

Tabel 2.1

Klasifikasi Tingkat ROA menurut BI

Tingkat ROA Predikat

Diatas 1,22% Sehat

0,99%-1,22% Cukup Sehat

0,77%-0,99% Kurang Sehat

Dibawah 0,77% Tidak Sehat

C. Kerangka Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, dalam melakukan penelitian mengenai Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Tahun 2015-2019. Hal ini dapat dilihat dari kerangka pikir yakni sebagai berikut:

26 https://www.edusaham.com, Diakses Pada Tanggal 10 Agustus 2020 Pukul 09.45 WIB

27 Rohana Oktavia,”Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Pendapatan Pembiayaan Mudharabah Terhadap Return On Assets (ROA) Studi Pada Bank Umum Syariah yang terdaftar di Bank Indonesia,(Skripsi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Malang 2017)

(23)

Gambar 2.2

Kerangka Penelitian

1. Pengaruh Non Performing Financing (NPF) terhadap Pembiayaan Murabahah

Profil yang ada dalam resiko pembiayaan murabahah didalam suatu bank dapat dilihat dari resiko pembiayaan bermasalah Non Performing Financing (NPF). Semakin tinggi Non Performing Financing (NPF) maka semakin tinggi pula resiko yang dihadapi bank tersebut. Rasio Non Performing Financing (NPF) pada bank yang tinggi dapat mengakibatkan fungsi intermediasi bank tidak bekerja secara optimal karena mengurangi atau menurunkan perputaran dana bank, sehingga memperkecil kesempatan bank dalam mendapatkan pendapatan dan itupun Non Performing

Financing (NPF) (X1)

Financing to Deposit Ratio (FDR) (X2)

Pembiayaan Murabahah (Y)

Return On Assets (ROA) (X3)

(24)

mempengaruhi serta berdampak menurunnya penyaluran pembiayaan murabahah kepada masyarakat.28

2. Pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Pembiayaan Murabahah

Financing to Deposit Ratio (FDR) secara sederhana merupakan rasio yang mengukur seberapa besar presentase dari aset yang dimiliki oleh bank syariah yang digunakan untuk penyaluran dana melalui pembiayaan. Rasio ini mampu menunjukkan kemampuan perbankan menghubungkan deposan dengan debitur, sehingga semakin tinggi nilai FDR maka akan menyebabkan nilai pembiayaan menjadi naik, begitupun sebaliknya jika FDR mengalami penurunan maka pembiayaan yang akan disalurkan juga akan mengalami penurunan.

Sehingga dapat disimpulkan dalam melakukan pembiayaan murabahah bank syariah harus memperhatikan nilai FDR.29

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan suatu penjabaran sementara tentang perilaku, fenomena, atau keadaan tertentu baik yang sudah terjadi atau yang akan terjadi.30 Atau hipotesis merupakan dugaan sementara atau kesimpulan sementara yang diambil untuk menjawab permasalahan yang ada dalam suatu penelitian yang sebenarnya harus diuji terlebih dahulu. Pada penelitian terlebih dahulu menurut penelitian Ma’rifatul Jannah, menunjukkan bahwa pada uji f variabel Financing to Deposit ratio (FDR) dan Non Performing Financing (NPF), Return On Assets (ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan murabahah. Sedangkan menurut penelitian Tribudi Utami, menunjukkan bahwa hasil uji f secara simultan Financing to Deposit

28 Farida Kurniawati, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Murabahah Pada Perbankan Syariah di Indonesia Tahun 2012-2017”(Skripsi Sarjana Akuntansi Manajerial Politehnik Negeri Samarinda, Samarinda 2018),34

29 Ibid.

30Mudrajad Kuncoro, Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi Bagaimana Meneliti dan Menulis Tesis?, (Jogjakarta:Erlangga,2013), hal.59.

(25)

Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan Murabahah. Sedangkan hasil penelitian Farida Kurniawati, menunjukkan bahwa Non Performing Financing (NPF) berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan murabahah, Financing to Deposit ratio (FDR) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan murabahah. Berkaitan dengan penelitian terdahulu di atas, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut:

= Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), dan Return On Assets (ROA) berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap pembiayaan Murabahah.

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak: Berdasarkan pengamatan peneliti di PAUD Kuntum Mekar, ditemukan beberapa gejala atau fenomena pada anak yang berkaitan dengan perkembangan motorik kasar

Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih atas segenap rahmat dan petunjukNya sehingga tugas akhir dengan judul Studi Pengaruh

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi pewacanaan terhadap pemberitaan seputar kasus teroris pada portal berita online tribunnews.com dan detik.com yang

Dapatan ini bertentangan dengan kajian oleh Saemah dan Seri Bunian Mokhtar (2012) yang mengkaji pertalian antara iklim pembelajaran dengan kemahiran generik dan mendapati

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penerapan hukum pidana dalam tindak pidana ujaran kebencian di media sosial menggunakan peraturan perundang-undangan yang

Adapun tujuan diklat fungsional auditor dan teknis keterampilan dilaksanakan untuk meningkatkan profesionalisme pelaksanaan tugas pengawasan atas penyelenggaraan tugas

Sedangkan untuk kendala lainnya adalah ketersediaan bahan baku kedelai, ketersediaan gula kelapa, ketersediaan jam kerja mesin, ketersediaan modal, dan permintaan

Berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran menerapkan strategi pembelajaran mathematical investigation dari 18 orang