BAB III STUDI KASUS :
KLIA ‐ Stasiun Sentral ‐ Petronas ‐ Sistem Jaringan ERL & LRT ‐ Puterajaya, Kuala Lumpur, Malaysia (Membangun Citra Kota Melalui Linkage)
Gambar 1. Peta jaringan transportasi yang menghubungkan kawasan-kawasan penting di Malaysia
KLI PuteraJa
KL
Malaysia menjadi salah satu negeri yang memiliki daya tarik tersendiri, sebagai tempat bekerja, ratusan ribu penduduk Indonesia membanting tulang di sana, sebagai negara tujuan wisata, ratusan ribu pula masyarakat penjuru dunia mendatanginya. Malaysia telah menjelma menjadi salah satu kota asia modern, bahkan dengan brand image “Malaysia:
Truly Asia”‐nya, citra Malaysia sebagai tempat yang paling tepat untuk melihat, merasakan dan mengalami kebudayaan dan alam asia dipasarkan.
Dengan modernitas dan brand image‐nya, Malaysia berhasil menjadi salah satu negara favorit sebagai tujuan wisata. Seperti yang diutarakan Lynch (1960), citra sebuah lingkungan adalah hasil dari proses dua arah antara pengamat dan lingkungannya, dimana lingkungan menawarkan kekhasan dan keramahannya, sementara pengamat memilih,
mengorganisasikan dan memaknai apa yang ia lihat. Untuk itu sebuah obyek harus memiliki tiga komponen yaitu identitas, struktur dan makna (Lynch, 1960). Berikut akan diuraikan empat obyek yang dianggap memiliki tiga komponen pencitraan tersebut di Malaysia, yaitu diantaranya adalah jalur KLIA‐Stasiun Sentral‐Petronas‐dan Sistem jaringan ERL‐LRT.
3.1 Kuala Lumpur International Airport (KLIA) ‐ the gate
Inilah pintu masuk Malaysia. Kuala Lumpur International Airport (KLIA), dibangun di atas lahan seluas ±25.000 ha di Sepang, berada pada posisi sangat strategis dimana ia dikelilingi oleh empat kota utama di Malaysia yaitu Kuala Lumpur, Shah Alam, Seremban and Malaka.
KLIA boleh jadi merupakan salah satu bandara terbaik yang dimiliki oleh kawasan Asia Pasifik. Dengan perencanaan dan desain yang menggabungkan kehijauan alam dan keragaman Malaysia dengan teknologi mutakhir yang mampu memaksimalkan keamanan, kenyamanan dan kesempurnaan pelayanan, KLIA menjadi titik awal pencitraan Malaysia.
Kisho Kurokawa, arsitek terkenal Jepang yang mendesain bandara ini mengetengahkan tema
“airport in the forest, forest in the airport (bandara dalam hutan, hutan dalam bandara)”
untuk mencapai citra tersebut.
Dengan hutan tropis yang mengelilingi bandara, KLIA muncul sebagai simbol modernitas di tengah hijaunya alam Malaysia. Tema ini terus diimplementasikan dengan menanami puluhan jenis tanaman di sekelilingi fasilitas bandara serta dengan menciptakan arboretum hutan hujan di bagian inti terminal internasional KLIA.
KLIA menjadi salah satu obyek yang membawa posisi Malaysia sejajar dengan negara‐negara maju lainnya dengan menjadikan semua yang terkait dengan KLIA sebagai yang terbaik, misalnya lahan ±25,000 ha tempat KLIA berdiri adalah salah satu lahan konstruksi dan lahan bandara terbesar di dunia, 4,5 tahun merupakan proses pembangunan bandara tercepat yang pernah dilakukan, memiliki menara pengawas tertinggi di dunia (120m), sistem bagasi terpanjang, ruang tunggu penumpang terbesar dengan arus penumpang bandara sebesar 25 juta orang setahun. Sejak dioperasikan penuh pada 29 Juni 1998, KLIA menjadi gerbang pertama yang sangat penting dalam mewujudkan citra Malaysia.
3.2. Stasiun Sentral ‐ the hub of modern transit
Stasiun Sentral yang berdiri di atas lahan seluas ±30278m², merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki oleh komplek KL Sentral. Stasiun Sentral sendiri didesain oleh GDP Architects Sdn Bhd untuk melanjutkan peran KLIA dalam sistem linkage citra Malaysia. Stasiun Sentral yang mulai beroperasi titik untuk
16 April 2001, menjadi penting menunjukkan modernitas sistem transportasi Malaysia. Stasiun sentral KL
dikenal juga
City Airport Station” karena calon penumpang pesawat terbang, stasiun sentral merupakan bagian awal dari sistem pelayanan penerbangan yang nyaman, dimana juga berfungsi sebagai KL CAT (City Air Terminal yang memberi kesempatan penumpang melakukan
Gambar 2. Suasana interior terminal utama KLI Airport)
A (Kuala Lumpur International
sebagai “Virtual
bagi
stasiun
)
Gambar 3. Suasana interior stasiun sentral (KL sentral)
check‐in untuk penerbangan dan bagasi
ne
Stasiun KLIA
tumpang
CAT, Stasiun, dan ruang‐ruang publik yang tidak terpisahkan secara visual namun dengan sehingga mereka dapat lebih menikmati perjalanan sebelum pe rbangan dengan memanfaatkan fasilitas‐failitas yang ada baik di KL Sentral maupun KLIA.
Perancangan Sentral, seperti halnya , menggabungkan identitas Malaysia (karakter dan keunikan pola dan motif budaya) dengan teknologi, melalui proses penataan fungsi ruang yang abstrak, tindih dan saling berhubungan namun tetap menghargai individualitas masing‐masingnya. Ini tercermin melalui fungsi‐fungsi komersial,
teritori dan karakter masing‐masing fungsi yang tegas. Sebagai kelanjutan dari KLIA maka beberapa elemen desain bandara juga diintegrasikan ke dalam desain keseluruhan stasiun, seperti konsep desain “Airport in the Forest and Forest in the Airport” yang kembali diterapkan melalui unsur‐unsur tanaman di luar dan dalam stasiun. Stasiun Sentral merupakan titik pertemuan antara Express Rail Link (ERL) yang menghubungkan KL Sentral‐
KLIA dan Commuter Rail Service (CRS)/KTM komuter yang menghubungkan Port Klang‐
Sentul dan Seremban‐Rawang; serta LRT (light rail transit) dan KL Monorail yang menuju tasiun‐stasiun di seluruh penjuru kota.
.3. Petronas Twin Tower ‐ the heart
r dewan juri ketika menganugerahkan Aga Khan Award 2004 kepada Petronas Twin Tower.
a k
e n l
s 3
Posisi nya dalam skema perjalanan kunjungan ke Malaysia memang bukan yang pertama, namun Petronas Twin Tower tetap menjadi elemen pencitraan yang paling penting bagi Malaysia. Status nya sebagai salah satu bangunan tertinggi di dunia mengangkat citra Malaysia sebagai negara dengan penerapan teknologi yang maju. “Bangunan ini telah menjadi ikon yang mengekspresikan kebudayaan masyarakat kontemporer Malaysia dan membangun di Negara yang kaya tradisi untuk membentuk sebuah kota dunia”, demikian komenta
Menara Petronas adalah bagian utama dari daya tarik kompleks Kuala Lumpur City Centre (KLCC) yang berada tepat dijantung kawasan komersial kota Kuala Lumpur.
Menar ini memili i tinggi 452 meter dengan jumlah lantai 88. Cesar Pelli, sang arsitek, memadukan identitas Malaysia dan modernitas melalui pola‐pola yang dikenal dalam kebudayaan Islam (sebagai agama mayoritas) d ngan struktur, teknik, da materia yang digunakan. Denah masing‐masing menara yang berbentuk bintang segi delapan diambil dari pola budaya Islam. Kita juga dapat melihat penggunaan
Gambar 4. Petronas twin towers pada malam
pola‐pola geometris kebudayaan Malaysia pada ornamen arsitektur dan dekorasi. Iklim tropis Malaysia disiasati dengan teritisan yang mengurangi panas matahari yang masuk.
Petronas Twin Towers, seperti yang dituliskan oleh Pelli (2001), bukan saja tinggi dalam dimensi fisiknya, tapi merupakan puncak dari hasrat kita untuk menghubungkan bumi dan surga melalui arsitektur. Bagi Malaysia, Menara ini menegaskan posisi negara dalam ekonomi dunia, dan menunjukkan citra Malaysia sebagai negara yang berhasil memadukan budaya timur dan barat, dan menjadi gerbang bertemunya kedua budaya.
3.4. Sistem Express Rail Link (ERL) dan Light Rail Transit ( LRT) ‐ the linkage
Citra Malaysia bukan saja didapatkan dari apa yang ditampilkan oleh KLIA, Stasiun Sentral dan Petronas Twin Tower, tetapi juga pada linkage visual yang diciptakan ketiganya melalui
Sistem transportai yang ada. Linkage visual menjadi sangat penting untuk mengikat dan menyatukan citra yang telah terbangun, karena seperti yang dikatakan Bacon (1978), obyek‐
obyek pencitraan kota harus mampu menghubungkan dua atau lebih fragmen kota dalam satu kesatuan visual, serta menyatukan daerah kota dalam berbagai skala.
Gambar 5. Suasana interior salah satu platform ELR Ga bm ar 6. Peta situasi KLIA-ekspress dan fasilitas pendukung
Sistem transportasi yang baik, seperti yang dituliskan Tsukio (1997), memberikan keberlanjutan makna transportasi antara kedua tempat dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang dekat, bukan dalam ruang tapi dalam waktu, dan seperti yang diterapkan di Malaysia, jarak KLIA‐Stasiun Sentral sejauh 57 km dapat ditempuh hanya lebih kurang 28 menit dengan Express Rail Link (ERL) dan jarak Stasiun Sentral‐KLCC (Petronas Twin Tower) sejauh kira‐kira 15 km dengan menggunakan Light Rail Transit (LRT) Kelana Jaya‐Terminal Putra dapat ditempuh hanya dalam 30 menit saja (tanpa terjebak kemacetan kota Kuala Lumpur), sehingga bagi penumpang transit pesawat terbang dengan waktu lebih kurang dua jam mereka sudah dapat menikmati Malaysia dan kembali lagi ke KLIA untuk melanjutkan perjalanan.
Selain ERL dan LRT, wilayah‐wilayah di kota Kuala Lumpur dan Malaysia juga terhubungkan oleh jaringan KTM komuter dan KL Monorail, sehingga kedekatan yang dihasilkan oleh Sistem ERL dan LRT ini semakin mampu membangun dan memperkuat citra Malaysia sebagai Negara dengan identitas timur dan modernitas barat, melalui sistem transportasi yang nyaman dan aman.
3.5. Kompleks Pemerintahan Puterajaya ‐ the district
Kompleks Pemerintahan Puterajaya adalah sebuah kawasan kantor pemerintah yang berhasil menghadirkan citra kawasan yang mampu mengharmonisasikan keindahan alam dengan kemegahan bangunan, pengolahan detil‐detil elemen lansekap, dan jembatan‐
jembatan modern, yang seluruhnya dirancang dan dibangun oleh tenaga ahli dalam negeri.
Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa Malaysia.
Gambar 7. Peta situasi kawasan pemerintahan Puterajaya, terlihat adanya danau dan jaringan jalan yang dirancang dengan pola-pola unik
BAB IV
KESIMPULAN & EVALUASI
Hubungan timbal balik manusia dengan lingkungan perkotaan merupakan proses dua arah yang konstruktif, didukung baik oleh cirisifat yang dapat memberikan image (citra) lingkungan, maupun oleh ciri‐sifat kegiatan dan kejiwaan manusia. Salah satu upaya untuk mencoba memahami citra lingkungan perkotaan dapat dilakukan dengan cara mengetahui peta mental manusia sebagai pengamat.
Peta mental mempersoalkan cara pengamat memperoleh, mengorganisasi, menyimpan, dan mengingat kembali informasi tentang lokasi, jarak dan susunan dalam lingkungan kota.
Citra terhadap suatu kota berkaitan erat dengan tiga komponen, yaitu: identitas dari beberapa obyek/elemen dalam suatu kota yang berkarakter dan khas sebagai jatidiri yang dapat membedakan dengan kota lainnya; struktur, yaitu mencakup pola hubungan antara obyek/elemen dengan obyek/elemen lain dalam ruang kota yang dapat dipahami dan dikenali oleh pengamat, struktur berkaitan dengan fungsi kota tempat obyek/elemen tersebut berada; makna merupakan pemahaman arti oleh pengamat terhadap dua komponen (identitas dan struktur kota) melalui dimensi: simbolik , fungsional, emosional, historik , budaya, politik. Penelitian tentang citra kota menjadi sangat penting untuk mengetahui apakah produk rancangan suatu kota berhasil/tidak berhasil dipahami oleh masyarakat luas sebagai pengamat.