60 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Perlindungan Hukum Terhadap Pemenang Lelang Atas Risalah Lelang yang Dibatalkan Pengadilan
Hukum di suatu negara memiliki peran yang signifikan guna mengatur warga negara. Selain itu keberadaan hukum juga memiliki tujuan untuk memberikan perlindungan bagi seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan Pasal 1 Angka 11 Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dijelaskan pengertian Kredit: “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam- meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.
Mengingat pentingnya kedudukan dana perkreditan tersebut dalam proses pembangunan sudah semestinya jika pemberi dan penerima kredit serta pihak lain yang terkait mendapat perlindungan melalui suatu lembaga hak jaminan yang kuat dan yang dapat pula memberikan kepastian hukum bagi pihak yang berkepentingan, perlindungan hukum bagi kreditur dalam perjanjian kredit dengan hak tanggungan terdapat dalam Pasal 1, Pasal 7, dan Pasal 10 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. Dalam sektor simpan pinjam yang seyogyanya dilakukan oleh Bank, negara memberikan perlindungan hukum dengan adanya Undang-undang Hak Tanggungan yang memberi perlindungan bagi kreditur dan debitur dalam perjanjian kredit.
Perjanjian kredit ini sesuai yang diatur dalam undang-undang Hak Tanggungan diikuti dengan adanya jaminan. Perjanjian kredit dituangkan dalam bentuk tertulis, yaitu berupa akta di bawah tangan maupun akta autentik, tetapi yang lebih menjamin hak kreditur dalam memperoleh Kembali
61
piutangnua Ketika debitur wanprestasi adalah pada perjanjian kredit dengan akta autentik.
Akta autentik memiliki kelebihan yakni dibuat oleh para pihak di hadapan pejabat yang berwenang, yaitu notaris melalui proses pengikatan perjanjian kredit dengan jaminan pemberian Hak Tanggungan terlebih dahulu, kemudian dibuatkan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang memuat janji-janji guna menjamin hak kreditur dalam memperoleh pelunasan piutangnya dan membatasi kewenangan debitur, dan dilakukan tahap berikutnya, yaitu proses pembebanan Hak Tanggungan melalui tahap pendaftaran Hak Tanggungan pada Kantor Pertanahan dan sebagai bukti adanya Hak Tanggungan maka diterbitkannya Sertifikat Hak Tanggungan dimana sertifikat ini menjadi landasan atau dasar pelaksanaan eksekusi apabila debitur mengingkari untuk melunasi hutangnya di kemudian hari. Dalam Pasal 1, Pasal 20 ayat (1) serta Pasal 7 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) Nomor 4 tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan yaitu memberikan kedudukan yang diutamakan atau mendahului kepada pemegangnya atau hak preference, dan hak tanggungan mengikuti obyek yang dijaminkan dalam tangan siapapun obyek itu berada.
Kreditur pemegang Hak Tanggungan mempunyai kedudukan kreditur preference, sehingga apabila debitur mempunyai hutang pada pihak ketiga maka kreditur sebagai pemegang hak tanggungan mempunyai hak preferensi yaitu hak untuk didahulukan dalam pelunasan piutang dalam hasil lelang lebih dahulu daripada kreditur lain.
Perjanjian hutang piutang memiliki pengertian yang sama dengan perjanjian pinjam meminjam yang telah diatur dan ditentukan dalam KUHPerdata. Dalam pasal 1754 KUHPerdata menyatakan bahwa “perjanjian pinjam meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama
62
pula.” Yang membedakannya adalah objek perjanjian hutang piutang biasanya berupa uang dengan nominal tertentu, yang mana uang tersebut harus dikembalikan dalam jangka waktu dan nominal tertentu sesuai dengan kesepakatan. Dalam pelaksanaan perjanjian hutang piutang, acapkali kreditur meminta sebuah benda yang dijadikan jaminan pelunasan hutang yang dilakukan oleh debitur.
Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. berisi tentang jika debitur melakukan tindakan wanprestasi atau cidera janji dalam hal ini tidak membayar angsuran bulanan, maka pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui kegiatan lelang umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut.
Pasal ini memberikan kreditur hak eksklusif untuk kemudian terlebih dahulu dilunasi hutang-hutangnya karena adanya Hak Tanggungan. Selain itu, undang-undang ini juga melindungi debitur dimana adanya ketentuan penjualan objek tanggungan melalui lelang, sehingga mencegah berbagai macam kemungkinan yang merugikan debitur.
Lelang atau Penjualan dimuka umum adalah suatu penjualan barang yang dilakukan didepan khalayak ramai dimana harga barang-barang yang ditawarkan kepada pembeli setiap saat semakin meningkat.1 Pengertian lelang (penjualan dimuka umum) diatur dalam Pasal 1 Vendu Reglement S.1908 No.189, bahwa lelang adalah penjualan barang-barang yang dilakukan di depan umum dengan harga penawaran yang meningkat atau menurun atau dengan pemasukan harga dalam sampul tertutup, atau kepada orang-orang yang diundang atau sebelumnya diberitahukan mengenai lelang atau penjualan itu, atau diijinkan untuk ikut serta, dan diberikan kesempatan untuk menawar harga dalam sampul tertutup.2 Pengertian lelang secara umum adalah penjualan di muka umum yang dipimpin oleh pejabat lelang dengan penawaran harga secara terbuka atau lisan, tertutup atau secara tertulis.
1 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta, 2011, hlm. 239
2 Salbiah, Materi Pokok Pengetahuan Lelang, Pusat Pendidikan dan Palatihan Perpajakan, Jakarta.
2004, hlm. 2-3.
63
Rahmat Soemitro di dalam bukunya, yang dikutip dari Polderman menyatakan bahwa penjualan umum adalah alat untuk mengadakan perjanjian atau persetujuan yang paling menguntungkan untuk si penjual dengan cara menghimpun para peminat.3 Polderman selanjutnya mengatakan bahwa yang merupakan syarat utama adalah menghimpun para peminat untuk mengadakan perjanjian jual beli yang paling menguntungkan si penjual.
Menurut Kepmenkeu nomor 304/KMK.01/2002 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang Pasal 1 ayat (1) menyebutkan: “Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum baik secara langsung maupun melalui media elektronik dengan cara penawaran harga secara lisan dan/ atau tertulis yang didahului dengan usaha mengumpulkan peminat”. Artinya, saat ini Lelang dapat dilakukan dengan menggunakan media elektronik melalui internet atau Lelang Online.
Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan pengumuman lelang.4 Maka dengan demikian, syarat dari penjualan umum secara garis besar adalah hanya ada dua, yaitu: Pengumpulan para peminat dan Adanya kesempatan yang diberikan untuk mengajukan penawaran yang bersaing seluas-luasnya. Dalam penyelenggaraan lelang, tidak hanya diatur mengenai prosedur penyelenggaraan lelang eksekusi melainkan diatur pula prosedur pembelian objek lelang eksekusi yang dilakukan oleh peserta lelang dan pemenang/ pembeli lelang. Pasal 77 Nomor 27/PMK.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang memberikan batasan bagi siapa saja yang dilarang menjadi peserta lelang.
Pihak-pihak yang dilarang menjadi peserta lelang adalah Pejabat Lelang dan keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas dan ke bawah derajat pertama, suami atau istri serta saudara sekandung Pejabat Lelang, Pejabat
3 Rahmat Soemitro, Peraturan dan Instruksi Lelang, PT. Eresco, Bandung, 1987, hlm.106
64
Penjual, Pemandu Lelang, Hakim, Jaksa, Panitera, Juru Sita, Pengacara atau Advokat, Notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah, Penilai, Pegawai DJKN, Pegawai Balai Lelang dan Pegawai Kantor Pejabat Lelang Kelas II, yang terkait langsung dengan proses lelang.
Khusus, pelaksanaan lelang eksekusi, pihak tereksekusi / debitur / tergugat / terpidana yang terkait dengan lelang dilarang menjadi peserta lelang. Untuk dapat ikut dalam pelaksanaan lelang, peserta lelang diharuskan menyetorkan atau menyerahkan jaminan penawaran lelang disertai dengan menunjukan Nomor Pokok Wajib Pajak. Besaran jaminan penawaran lelang ditentukan oleh Penjual dan disetorkan melalui rekening KPKNL. Pada saat pelaksanaan lelang diselenggarakan sesuai tempat dan waktu pelaksanaan, maka peserta lelang harus melakukan penawaran paling sedikit sama dengan nilai limit. Penawaran dapat dilakukan dengan menghadiri secara langsung ataupun melalui kuasa, atau penawaran dilakukan dengan melalui surat elektronik (email) atau melalui surat tromol pos atau melalui internet tanpa menghadiri secara langsung sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 64 angka (4) Nomor 27/PMK.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang.
Penawaran yang telah disampaikan tidak boleh diubah atau dibatalkan oleh Peserta Lelang. Setelah penawaran selesai maka Pejabat Lelang akan menentukan peserta lelang yang menjadi pembeli/ pemenang lelang yang nantinya akan dituangkan dalam Risalah Lelang dan untuk benda tidak bergerak, Risalah Lelang turut ditandatangani oleh pembeli/ pemenang lelang.
Setelah pelaksanaan lelang selesai diselenggarakan maka pembeli/ pemenang lelang diwajibkan untuk melakukan pelunasan harga lelang dan bea lelang paling lambat lima hari kerja setelah pelaksanaan lelang yang dilakukan melalui rekening KPKNL. Pembayaran yang tidak dilakukan dalam jangka waktu tersebut, maka pengesahannya sebagai pembeli/ pemenang akan dibatalkan oleh Pejabat Lelang dengan membuat pernyataan pembatalan.
Pada praktiknya, lelang eksekusi yang didasarkan pada Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) tidak selalu berjalan dengan lancar. Pihak ketiga acapkali melakukan gugatan karena memiliki kepentingan
65
terhadap objek gugatan yang dilelang. Gugatan tersebut mencakup Risalah Lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang. Risalah lelang sebagai suatu akta otentik, merupakan suatu bukti yang mengikat dalam arti apa yang ditulis didalamnya harus dipercaya hakim dan harus dianggap benar dan tidak memerlukan penambahan pembuktian.5 Seluruh klausul Risalah Lelang berasal dari kantor lelang. Berita acara lelang merupakan landasan otentifikasi penjualan lelang. Berita acara lelang mencatat segala peristiwa yang terjadi pada penjualan lelang.6
Risalah lelang sebagai suatu akta otentik, merupakan suatu bukti yang mengikat dalam arti apa yang ditulis didalamnya harus dipercaya hakim dan harus dianggap benar dan tidak memerlukan penambahan pembuktian.
Seluruh klausul Risalah Lelang berasal dari kantor lelang. Berita acara lelang merupakan landasan otentifikasi penjualan lelang. Berita acara lelang mencatat segala peristiwa yang terjadi pada penjualan lelang.7 Dilihat dari fungsinya, risalah lelang adalah bukti otentik atas apa yang tertera dalam risalah lelang tersebut. Namun seringkali risalah lelang dibatalkan dan dianggap tidak pernah ada. Pengadilan merupakan salah satu pihak yang dapat membatalkan risalah lelang. Pembatalan risalah lelang ini tentu merugikan pemenang lelang yang seharusnya mendapat manfaat atau keuntungan dari objek lelang yang tekah dimenangkan.
Pemenang lelang dalam PMK Nomor 27/PMK.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang adalah pembeli dapat berupa orang atau badan hukum atau badan usaha yang mengajukan /penawaran tertinggi dan disahkan sebagai pemenang lelang oleh Pejabat Lelang.8 Sebagai Pemenang Lelang maka sudah seharusnya mendapatkan perlindungan terhadap hak kepemilikan atas objek lelang. Namun seringkali Pemenang Lelang justru menjadi pihak
5 Purnama Tioria Sianturi, “Perlindungan Hukum terhadap Pembeli Barang Jaminan tidak Bergerak melalui Lelang”, Penerbit Mandar Maju, Bandung, 2008, hlm. 433
6 M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, Gramedia, Jakarta, 1994, hlm. 187
7 Ibid
8 Pasal 1 angka 52 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 27/PMK.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang.
66
tergugat dalam sebuah gugatan lelang. Bahkan Risalah Lelang yang menjadi dasar dirinya sebagai Pemenang Lelang, dibatalkan oleh putusan pengadilan sehingga Pemenang Lelang mengalami kerugian. Dalam hal ini, guna melindungi pemenang lelang dari gugatan pihak ketiga dan pembatalan risalah lelang yang telah dimenangkan dan berujung pada kerugian pada pihak pemenang lelang, maka perlindungan hukum terhadap pemenang lelang dibutuhkan.
Putusan Pengadilan Negeri Jambi Nomor 31/Pdt.G/2015/PN.Jmb disebutkan bahwa tergugat II dalam hal ini pemenang lelang telah menyampaikan gugatan rekonpensi sehingga secara formal telah memenuhi syarat secara hukum, sehingga apa yang telah dipertimbangkan dalam pokok perkara menjadi bagian dari pertimbangan ini diantara pertimbangan tersebut adalah:
a. Bahwa Majelis Hakim tidak melihat adanya kesalahan secara hukum tergugat II dalam pelelangan object sengketa Hak Tanggungan Nomor 2516 atas Sertifikat Hak Milik Nomor 2630 a.n. Misdiati.
b. Bahwa secara hukum tergugat II adalah pembeli yang beritikat baik dan harus dilindungi.
Namun karena secara hukum apa yang digugat secara rekonpensi oleh Tergugat II tersebut bukanlah karena kesalahan yang ada pada pengugat, maka secara hukum acara, gugatan lebih tepat dilakukan secara tersendiri terpisah dari perkara ini, oleh karenanya itu gugatan rekonpensi tergugat II dinyatakan harus ditolak.
Menilik pada putusan di atas, maka keputusan untuk mengajukan gugatan rekonpensi kepada pengugat adalah tindakan yang kurang tepat karena pada kasus tersebut, pengugat dan tergugat II merupakan pihak yang dirugikan atas keputusan pemegang Hak Tanggungan dalam hal ini Tergugat I dalam memutuskan nilai limit untuk obyek tanggungan yang terlalu rendah sehingga merugikan penggugat.
67
Sebagai pemenang lelang, tergugat II juga mengalami kerugian materiil karena telah secara sah mengikuti proses lelang, dan ditetapkan sebagai pemenang lelang dalam risalah lelang namun pemenangannya harus dibatalkan oleh pengadilan karena adanya gugatan atas nilai limit yang terlalu rendah. Dalam kasus ini tergugat II atau pemenang lelang dappat mengajukan gugatan kepada pemegang hak tanggungan dalam hal ini kreditur, karena atas keputusannya memberikan nilai limit yang terlalu rendah dari seharusnya, pemenang lelang harus menanggung kerugian atas batalnya risalah lelang yang prosesnya telah dia ikuti sesuai aturan yang telak ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
B. Pembatalan Risalah Lelang oleh Pengadilan
Risalah lelang yang sudah diputuskan seyogyanya memiliki kekuatan hukum untuk kemudian dapat digunakan di kemudian hari. Namun, dewasa ini terdapat beberapa keadaan yang dapat membatalkan Risalah Lelang. Risalah Lelang dapat dibatalkan oleh pengadilan jika ditemukan unsur perbuatan melanggar hukum. Pada Putusan Pengadilan Negeri Jambi Nomor 31/Pdt.G/2015/PN.Jmb ditemukan unsur-unsur perbuatan melanggar hukum.
Kronologi putusan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Keadaan bermula ketika Misdiati yang bertindak sebagai debitur dan Bank Mega yang bertindak sebagai kreditur melakukan perjanjian kredit dengan jaminan tanah dan bangunan milik Misdiati. Namun pada suatu masa, Misdiati melakukan tindakan wanprestasi dengan tidak membayar angsuran yang semestinya Ia lakukan.
b. Bank Mega selaku kreditur kemudian berdasarkan Hak Tanggungan mendaftarkan lelang atas tanah Misdiati kepada KPKNL untuk kemudian dilakukan lelang atas tanah Misdiati.
c. Proses lelang kemudian dilakukan dan dimenangkan oleh Amrizal dengan obyek lelang berhasil terjual senilai Rp 191.500.000,00 di atas limit yang diajukan oleh Bank Mega senilai Rp 190.000.000,00.
68
d. Nilai jual senilai Rp 191.500.000,00 dianggap Misdiati sebagai nilai yang jauh di bawah limit karena berdasarkan peraturan yang berlaku, yakni Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106 tahun 2013, nilai limit yang ditetapkan adalah Rp 300.000.000,00. Namun Bank Mega dan KPKNL hanya menetapkan nilai limit senilai Rp 190.000.000,00. Dimana seharusnya nilai jual obyek lelang pada saat itu seharusnya Rp 500.000.000,00.
e. Ketidaksesuaian nilai jual yang ditentukan oleh Bank Mega dan KPKNL inilah kemudian yang menjadi dasar Misdiati dalam mengajukan gugatan atas Risalah Lelang yang telah dilakukan.
Atas gugatan yang dilayangkan oleh Misdiati, maka Putusan Pengadilan Negeri Jambi Nomor 31/Pdt.G/2015/PN.Jmb adalah sebagai berikut:
a. Mengabulkan gugatan penggugat atas nama Misdiati sebagian.
b. Menyatakan tindakan Tergugat I (dalam hal ini Bank Mega) dalam menetapkan Limit Lelang atas Hak Tanggungan No. 2516 dan tindakan tergugat III (KPKNL) tidak menrapkan aturan lelang dengan baik atas Hak Tanggungan tersebut, merupakan perbuatan hukum.
c. Menyatakan lelang Hak Tanggungan No. 2516 atas Sertifikat Hak Milik No. 2630 batal demi hukum.
d. Menolak gugatan penggugat selebihnya.
Dari Putusan Pengadilan Negeri Jambi Nomor 31/Pdt.G/2015/PN.Jmb di atas, maka diketahui bahwa lelang Hak Tanggungan No. 2516 atas Sertifikat Hak Milik No. 2630 batal demi hukum, sehingga pemenangan lelang atas nama Amrizal otomatis batal demi hukum. Untuk mengajukan pembatalan lelang harus merujuk kepada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 27/PMK.06/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang. Pembatalan lelang yang akan dilaksanakan hanya dapat dibatalkan dengan permintaan penjual atau berdasarkan penetapan atau putusan dari lembaga peradilan.
69
Lebih lanjut, Pasal 30 PMK Nomor 27/PMK.06/2016 tersebut menerangkan bahwa pembatalan lelang sebelum pelaksanaan lelang dilakukan oleh Pejabat Lelang dalam hal:
a. SKT / SKPT untuk pelaksanaan lelang barang berupa tanah atau tanah dan bangunan belum ada;
b. Barang yang akan dilelang dalam status sita pidana atau blokir pidana dari instansi penyidik atau penuntut umum, khusus Lelang Eksekusi;
c. Terdapat gugatan atas rencana pelaksanaan Lelang Eksekusi Pasal 6 UUHT dari pihak lain selain debitor/tereksekusi, suami atau istri debitor/tereksekusi yang terkait dengan kepemilikan objek lelang;
d. Barang yang akan dilelang dalam status sita jaminan atau sita eksekusi atau sita pidana, khusus Lelang Noneksekusi;
e. Tidak memenuhi Legalitas Formal Subjek dan Objek Lelang;
f. Penjual tidak dapat memperlihatkan atau menyerahkan asli dokumen kepemilikan Barang kepada Pejabat Lelang;
g. Pengumuman Lelang yang dilaksanakan Penjual tidak sesuai peraturan perundang-undangan;
h. Keadaan memaksa (force majeur) atau kahar;
i. Terjadi gangguan teknis yang tidak bisa ditanggulangi pada pelaksanaan lelang tanpa kehadiran peserta;
j. Nilai Limit yang dicantumkan dalam Pengumuman Lelang tidak sesuai dengan surat penetapan Nilai Limit yang dibuat oleh Penjual; atau
k. Penjual tidak menguasai secara fisik barang bergerak yang dilelang.
Untuk menjaga kepastian hukum pelaksanaan lelang maka pembatalan lelang setelah lelang dimulai hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Lelang dalam hal:
a. keadaan memaksa (force majeur) atau kahar;
70
b. terjadi gangguan teknis yang tidak bisa ditanggulangi pada pelaksanaan lelang tanpa kehadiran peserta.
Pelelangan relatif tidak menguntungkan debitur karena lelang lebih mengutamakan pelunasan piutang kreditur tanpa memikirkan nilai jual barang yang dilelang dimana kebanyakan harga lelang jauh dibawah harga pasar.
Disamping itu, debitur cenderung tidak mengetahui berapa harga jual barang, jika harga jual melebihi hutang debitur seharusnya kelebihan tersebut dikembalikan kepada debitur. Hal ini sering menimbulkan sengketa lelang yang berakibat menyulitkan pemenang lelang dalam menguasai barang yang telah dilunasinya.
Pemenang lelang yang sudah memperoleh risalah lelang mempunyai hak untuk mendaftarkan hak tanahnya pada Kantor Pertanahan dalam rangka balik nama dari pemilik lama ke pemilik baru. Dengan kata lain hak milik beralih sepenuhnya kepada pemenang lelang jika setelah pemenang lelang telah memenuhi seluruh syarat lelang, terutama pelunasan pembayaran harga, yang dibuktikan dengan “tanda pelunasan”, dan atas pemenuhan syarat-syarat lelang, Pejabat lelang menerbitkan Risalah Lelang yang diberikan kepada pembeli oleh juru lelang.
Secara hukum pemenang lelang telah mempunyai kepastian hukum atas barang lelang yang dibelinya. Apabila terdapat gugatan oleh pihak ketiga ke Pengadilan Negeri atas barang tersebut, sebenarnya tidak mempengaruhi keabsahan kepemilikan barang tersebut karena hal ini didasari suatu pertimbangan bahwa dengan dijualnya barang melalui lelang berarti bahwa Kantor Lelang selaku penerima kuasa telah menjamin bahwa barang yang dilelang adalah telah jelas diketahui pemiliknya serta dan telah memenuhi syarat-syarat pendaftaran lelang sebab sebelum permohonan lelang dikabulkan oleh pejabat lelang, pejabat lelang wajib memverifikasi dokumen- dokumen yang diajukan oleh penjual/ pemilik obyek lelang.
Adapun ketentuan dalam PMK Nomor 93/PMK.06/2010 yaitu Pasal 3, yang menyatakan bahwa: “Lelang yang telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku tidak dapat dibatalkan.”
71
Dewasa ini, dengan berkembangnya berbagai kasus yang terjadi di masyarakat, acapkali terjadi gugatan yang dilayangkan oleh pihak yang merasa dirugikan atas terjadinya lelang, yakni pihak debitur. Dalam kasus yang terjadi pada terbitnya Putusan Pengadilan Negeri Jambi Nomor 31/Pdt.G/2015/PN.Jmb, pengugat adalah Misdiati yang dalam kasus ini adalah debitur wanprestasi. Dalam undang-undang Hak Tanggungan pada awal bab ini telah disebutkan, bahwa kreditur berhak untuk melakukan lelang, jika pada suatu ketika ditemukan bahwa debitur wanprestasi atau tidak melakukan angsuran bulanan atau kewajibannya sebagai debitur.
Putusan Pengadilan Negeri Jambi Nomor 31/Pdt.G/2015/PN.Jmb, diketahui bahwa awal mula permasalahan ini adalah Misdiati selaku debitur cedera janji, sehingga kreditur memutuskan untuk melakukan lelang atas tanah yang digunakan debitur sebagai jaminan pinjaman. Namun, dalam pelaksanaannya dan dalam risalah lelang yang diputuskan, nilai lelang yang dihasilkan jauh dibawah nilai jaminan yang sebenarnya sehingga debitur mengalami kerugian. Merasa telah dirugikan oleh proses lelang yang dilakukan oleh kreditur, debitur kemudian mengajukan gugatan kepada pengadilan atas lelang yang telah selesai dilakukan.
Pengadilan di sini bukanlah diartikan semata-mata sebagai badan untuk mengadili, melainkan sebagai pengertian yang abstrak yaitu hal memberikan keadilan artinya peradilan adalah segala sesuatu yang bertalian dengan tugas hakim dalam memutus perkara, baik perkara perdata maupun perkara pidana, untuk mempertahankan atau menjamin ditaatinya hukum materiil.9
Menilik pada lelang yang telah dilakukan, terdapat perbuatan melanggar hukum atau dalam hal ini tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Hak Tanggungan, sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak dimana dalam kasus ini adalah pihak debitur. Dalam kasus demikian, berdasarkan pada Putusan Pengadilan Negeri Jambi Nomor
9 Sudikno Mertokusumo, Sejarah Peradilan dan Perundang-undangan di Indonesia sejak 1942 dan Apakah Kemanfaatan bagi Kita Bangsa Indonesia, Disertasi, Liberty. Yogyakarta, 1983, hlm.
179
72
31/Pdt.G/2015/PN.Jmb tanggal 19 November 2015, lelang dapat dibatalkan karena nilai limit yang telah ditetapkan sangat rendah sehingga memberikan kerugian pada debitur. Dalam hal ini pengadilan memutuskan bahwa pihak penggugat memenangkan gugatan atas tergugat I, tergugat II, dan tergugat III, karena ditemukan adanya unsur-unsur perbuatan melanggar hukum, yaitu terkait dengan harga yang terbentuk dari lelang terlalu rendah atau di bawah pasaran.
Dengan adanya putusan ini, risalah lelang yang telah ditetapkan batal dan barang kembali kepada sisi semula / dalam kepemilikan penggugat / debitur sehingga otomatis hak pembeli atau pemenang lelang berakhir.
Adanya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 27 tahun 2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang yang mengatur mengenai nilai limit adalah upaya pemerintah untuk meminimalisir jumlah gugatan yang masuk ke pengadilan terkait lelang.
C. Pembahasan
Pada dasarnya persoalan perlindungan hukum ditinjau dari sumbernya dapat dibedakan menjadi dua macam yakni perlindungan hukum eksternal dan perlindungan hukum internal.10 Hakekat perlindungan hukum internal, pada dasarnya perlindungan hukum yang dikemas sendiri oleh para pihak pada saat membuat perjanjian, di mana pada waktu mengemas klausula-klausula kontrak, kedua belah pihak menginginkan agar kepentingannya terakomodir atas dasar kata sepakat. Demikian juga segala jenis resiko diusahakan dapat ditangkal lewat pemberkasan klausula-klausula yang dikemas atas dasar sepakat pula, sehingga dengan klausula itu para pihak akan memperoleh perlindungan hukum berimbang atas persetujuan mereka bersama. Perihal perlindungan hukum internal seperti itu baru dapat diwujudkan oleh para pihak, manakala kedudukan hukum mereka relatif sederajad dalam arti para pihak mempunyai bargaining power yang relatif berimbang, sehingga atas
10 Moch. Isnaeni, Pengantar Hukum Jaminan Kebendaan, PT. Revka Petra Media, Surabaya, 2016 hlm. 159
73
dasar asas kebebasan berkontrak masing-masing rekan seperjanjian itu mempunyai keleluasaan untuk menyatakan kehendak sesuai kepentingannya.
Pola ini dijadikan landasan pada waktu para pihak merakit klausula-klausula perjanjian yang sedang digarapnya, sehingga perlindungan hukum dari masing-masing pihak dapat terwujud secara lugas atas inisiatif mereka.11
Perlindungan hukum eksternal yang dibuat oleh penguasa lewat regulasi bagi kepentingan pihak yang lemah, “sesuai hakekat aturan perundangan yang tidak boleh berat sebelah dan bersifat memihak, secara proporsional juga wajib diberikan perlindungan hukum yang seimbang sedini mungkin kepada pihak lainnya.”12 Sebab mungkin saja pada awal dibuatnya perjanjian, ada suatu pihak yang relatif lebih kuat dari pihak mitranya, tetapi dalam pelaksanaan perjanjian pihak yang semula kuat itu, terjerumus justru menjadi pihak yang teraniaya, yakni misalnya saat debitor wanprestasi, maka kreditor selayaknya perlu perlindungan hukum juga.
Risalah lelang merupakan berita acara pelaksanaan lelang yang memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna dan menjamin kepastian hukum terhadap hak sempurna yang melekat pada pemenang lelang. Risalah lelang merupakan bukti bahwa telah terjadinya perjanjian jual-beli yang telah disepakati antara penjual barang dengan pemenang lelang. Perjanjian jual-beli merupakan salah satu bentuk dari perjanjian bernama, karena perjanjian jual- beli merupakan salah satu bentuk perjanjian yang telah diatur di dalam KUHPerdata.
Menilik pada kronologi terbitnya Putusan Pengadilan Negeri Jambi Nomor 31/Pdt.G/2015/PN.Jmb, sama halnya dengan Misdiati selaku penggugat, Amrizal sebagai tergugat II sekaligus sebagai pemenang lelang menanggung kerugian, waktu, tenaga, dan dana dalam mengikuti lelang serta proses balik nama atas tanah dan pajak yang telah diterbitkan risalah lelangnya. Dengan dibatalkannya risalah lelang yang telah terbit dengan
11 Ibid hlm. 160
12 Moch. Isnaeni, Pengantar Hukum Jaminan Kebendaan, PT. Revka Petra Media, Surabaya, 2016 hlm. 163
74
demikian Amrizal sebagai pemilik atas obyek lelang yang dimenangkannya menjadi batal juga.
Pada kasus yang terjadi pada Amrizal ini, sebagai pemenang lelang seharusnya mendapat perlindungan hukum dalam arti jika terjadi kasus pada risalah lelang yang telah diterbitkan dimana ada kesalahan dari pihak-pihak lain dan berujung pada dibatalkannya risalah lelang demi hukum oleh pengadilan, sebagai pemenang lelang atau pembeli yang memiliki ikhtikad baik seharusnya mendapatkan ganti rugi atas kerugian-kerugian yang terjadi selama pelaksanaan lelang.
Ketentuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 27 tahun 2016 tentang petunjuk pelaksanaan lelang Pasal 30 bahwa pembatalan lelang sebelum pelaksanaan lelang dilakukan oleh Pejabat Lelang terkait syarat-syarat administratif sebelum pelaksanaan lelang dimulai. Untuk menjaga kepastian hukum pelaksanaan lelang maka pembatalan lelang setelah lelang dimulai hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Lelang dalam hal:
1. Keadaan memaksa (force majeur) atau kahar;
2. Terjadi gangguan teknis yang tidak bisa ditanggulangi pada pelaksanaan lelang tanpa kehadiran peserta;
Menurut Hans Kelsen, hukum adalah sebuah system norma. Norma adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau das sollen, dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang harus dilakukan.
Norma – norma adalah produk dan aksi manusia yang deliberatif. Aturan aturan itu menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan tindakan terhadap individu. Adanya aturan itu dan pelaksanaan aturan tersebut menimbulkan kepastian hukum.13
Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara tegas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu – raguan dan logis. Jelas dalam artian ia menjadi suatu sistem norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan dan menimbulkan konflik norma. Kepastian hukum menunjuk kepada
13 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta : Kencana, 2008, hlm.158
75
pemberlakuan hukum yang jelas, tetap, konsisten dan konsekuen yang pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan – keadaan yang sifatnya subjektif. Kepastian dan keadilan bukanlah sekedar tuntunan moral, melainkan secara faktual mencirikan hukum. Suatu hukum yang tidak pasti dan tidak mau adil bukan sekedar hukum yang buruk.
Kepastian hukum sangatlah diperlukan dan diprioritaskan sebagai upaya pencegahan akan timbulkan masalah atau konflik antara Kreditur, Pemenang Lelang dan Debitur yang dapat menyebabkan kerugian kedua belah pihak.
Berikut ini beberapa dasar hukum yang dapat dijadikan sebagai perlindungan bagi pemenang lelang atas risalah lelang yang dibatalkan pengadilan.
a. Pasal 1365 KUHPerdata
Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), berbunyi: “Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.” Dari bunyi Pasal tersebut, maka dapat ditarik unsur-unsur PMH sebagai berikut:
1) ada perbuatan melawan hukum;
Perbuatan melawan hukum pada kasus ini, yakni pelelangan yang dilakukan Bank Mega bertentangan dengan peraturan yang berlaku pada saat itu terkait nilai limit yang ditetapkan berdasar Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106 tahun 2013 adalah sebesar Rp 300.000.000,00, namun Bank Mega dan KPKNL hanya menetapkan nilai limit senilai Rp 190.000.000,00.
2) ada kesalahan;
Adanya kesalahan dari pelaku, dimana adanya kesengajaan karena meskipun telah mengetahui minimal nilai limit yang telah ditentukan oleh Peraturan Menteri, namun secara sengaja menetapkan nilai limit yang sangat rendah.
76
3) ada hubungan sebab akibat antara kerugian dan perbuatan;
Adanya hubungan kausal dimana perbuatan Bank Mega dan KPKNL yang menjual objek lelang di bawah nilai limit merugikan Misdiati, dimana Ia berhak menerima sisa dari pelunasan hutang ke Bank Mega dari penjualan obyek jaminan secara lelang. Keadaan ini juga menimbulkan kerugian pada Amrizal karena demikian ketika risalah lelang dibatalkan maka kemenangan Amrizal atas obyek lelang pun batal secara hukum.
4) ada kerugian.
Adanya kerugian bagi korban. Tindakan Bank Mega dan KPKNL menimbulkan kerugian baik pada Misdiati sebagai debitor maupun Amrizal sebagai pemenang obyek lelang.
b. Pasal 1457 KUHPerdata
Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu barang, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. Dengan adanya kesepakatan jual beli dalam pelelangan secara umum. Bahwa pemenang lelang adalah pembeli, terkait dengan ketentuan jual beli berdasarkan KUHPerdata, maka pemenang lelang yang merupakan sebagai pembeli memiliki hak untuk menuntut ganti kerugian kepada penjual atau pemohon lelang.
c. Pasal 1473 KUHPerdata
Penjual wajib menyatakan dengan jelas, untuk apa ia mengikatkan dirinya, janji yang tidak jelas dan dapat diartikan dalam berbagai pengertian, harus ditafsirkan untuk kerugiannya.
d. Pasal 1474 KUHPerdata
Penjual mempunyai dua kewajiban utama, yaitu menyerahkan barangnya dan menanggungnya. Pada pelaksanaan lelang pada dasarnya sama halnya dengan jual beli secara umum.
Bahwa penyerahan barang diserahkan kepada pembeli dalam hal ini
77
adalah pemenang lelang. Setelah dilakukannya pembayaran oleh pemenang lelang dan dibuktikan tanda lunas serta telah ditandatanganinya risalah lelang sama halnya dengan akta jual beli yang merupakan akta otentik karena dibuat dihadapan pejabat yang berwenang dan telah memenuhi unsur jual beli di dalam Pasal 1457 KUHPerdata.
e. Pasal 1479 KUHPerdata
Menyatakan tentang kewajiban penangunggan penjual lelang bahwa penanggungan yang menjadi kewajiban penjual terhadap pembeli adalah untuk menjamin dua hal, yaitu ;
a. Penguasaan barang yang dijual itu secara aman dan tentram;
b. Tidak adanya cacat yang tersembunyi pada barang tersebut, atau yang sedemikian rupa sehingga menimbulkan alasan untuk pembatalan itu.
Diatur lebih lanjut didalam ketentuan Pasal 1480 KUHPerdata Jika penyerahan tidak dapat dilaksanakan karena kelalaian penjual, maka pembeli dapat menuntut pembatalan pembelian menurut ketentuan-ketentuan Pasal 1266 dan 1267.
f. Pasal 1266 KUHPerdata
Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan yang timbal balik, andaikata salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal demikian, persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan ke pengadilan.
Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak terpenuhinya kewajiban dinyatakan di dalam persetujuan. Jika syarat batal mengenai tidak terpenuhinya kewajiban dinyatakan dalam persetujuan, maka Hakim dengan melihat keadaan, atas permintaan tergugat, leluasa memberikan suatu jangka waktu untuk memenuhi kewajiban, tetapi jangka waktu itu tidak boleh lebih dari satu bulan.
78 g. Pasal 1267 KUHPerdata
Pihak yang terhadapnya perikatan tidak terpenuhi, dapat memilih; memaksa pihak yang lain untuk memenuhi persetujuan, jika hal itu masih dapat dilakukan, atau menuntut pembatalan persetujuan, dengan penggantian biaya, kerugian, dan bunga.
Maka, berdasarkan ketentuan tersebut diatas, bahwa semestinya kreditur selaku penjual terhadap obyek yang dilelang bertanggungjawab kepada pembeli dalam hal ini pemenang lelang guna untuk mengganti kerugian atas hak-haknya yang telah dibelinya secara sah. Bahwa disini pemenang lelang telah mengikuti prosedur pelaksanaan lelang dari mulai penawaran dan pembelian lelang tersebut dengan iktikad baik dalam proses jual beli dengan kreditur selaku penjual lelang melalui KPKNL yang dilakukan pelelangan secara umum. Disini pemenang lelang adalah pembeli yang mana dirugikan karena tidak mendapatkan haknya untuk dapat menguasai objek lelang yang telah dibeli dan dilunasinya dibuktikan dengan telah terbitnya Risalah lelang.
Pemenang lelang dilihat dari segi manapun memiliki hak untuk mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan.