• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal DISPROTEK Vol. 12 No. 2 (2021) PROTOTIPE PERANCANGAN ULANG RAK PENDINGIN ROTI DENGAN MENGGUNAKAN METODE VEREIN DEUTCHER INGENIEURE 2222

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal DISPROTEK Vol. 12 No. 2 (2021) PROTOTIPE PERANCANGAN ULANG RAK PENDINGIN ROTI DENGAN MENGGUNAKAN METODE VEREIN DEUTCHER INGENIEURE 2222"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PROTOTIPE PERANCANGAN ULANG RAK PENDINGIN ROTI DENGAN MENGGUNAKAN METODE VEREIN DEUTCHER INGENIEURE 2222

Michelle Febri1, Ferida Yuamita2

Program Studi Teknik Industri Universitas Teknologi Yogyakarta [email protected] [email protected]

ABSTRACT

MSME AAA Bakery is a home industry produces white bread. This MSME produces every day to fulfil customer demand. However, there is waste in the production activities of MSME AAA Bakery, namely in the form of a relatively longer cooling time, cooling time for fresh bread between 120 minutes to 180 minutes, while at MSME AAA Bakery the cooling time for bread is 231 minutes on average. This is due to the initial rack design that hinders the cooling process. The purpose of this study was to minimize the cooling time of the bread with a prototype of a bread cooling rack redesign. The method used is Verein Deutcher Ingenieuer 2222, because it can provide a solution to the problem of long bread cooling time by redesigning the bread cooling rack. So that the relatively long cooling time of bread can be minimized and there is no long waiting time for bread production activities at MSME AAA Bakery. The results of the redesigned prototype of the bread cooling rack showed that there was a differences in the cooling time of the bread. In the experiment with the redesigned shelf prototype, the cooling time of the bread was around 90 minutes.

Keywords: Time wastage, Verein Deutcher Ingenieure 2222, Shelf Design ABSTRAK

UMKM AAA Bakery adalah home Industry yang memproduksi roti tawar. UMKM ini berproduksi setiap hari untuk memenuhi permintaan pelanggan. Namun terdapat pemborosan dalam kegiatan produksi UMKM AAA Bakery yaitu berupa waktu pendinginan yang relatif lebih lama, waktu pendinginan untuk roti tawar antara 120 menit hingga 180 menit, sedangkan pada UMKM AAA Bakery waktu pendinginan roti adalah 231 menit. rata-rata. Hal ini disebabkan desain rak awal yang menghambat proses pendinginan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meminimalkan waktu pendinginan roti dengan prototipe desain ulang rak pendingin roti. Metode yang digunakan adalah Verein Deutcher Ingenieuer 2222, karena dapat memberikan solusi untuk masalah lama waktu pendinginan roti dengan mendesain ulang rak pendingin roti. Sehingga waktu pendinginan roti yang relatif lama dapat diminimalisir dan tidak ada waktu tunggu yang lama untuk kegiatan produksi roti di UMKM AAA Bakery. Hasil perancangan ulang prototipe rak pendingin roti menunjukkan bahwa terdapat perbedaan waktu pendinginan roti. Pada percobaan prototipe rak yang didesain ulang, waktu pendinginan roti sekitar 90 menit.

Kata kunci: Pemborosan waktu, Verein Deutcher Ingenieure 2222, Perancangan Rak

PENDAHULUAN

Produsen harus memenuhi permintaan pasar atau konsumen dengan cara mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi. Kegiatan pemenuhan permintaan pasar dapat diartikan sebagai proses manufaktur atau proses produksi. Sebuah proses produksi oleh produsen melibatkan input dan output, input yang dimaksudkan berupa material, mesin serta peralatan lainnya, manusia atau pekerja,

energi serta informasi. Input yang telah disebutkan saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga dapat menghasilkan output yang telah ditentukan oleh perusahaan. Akan tetapi proses produksi yang telah direncanakan tidak selalu sesuai dengan penerapannya, karena dalam proses produksi selalu ada hal yang menyebabkan kendala, keterlambatan ataupun pemborosan atau waste yang tidak diinginkan.

(2)

UMKM AAA Bakery yang merupakan usaha home industri atau UMKM memproduksi roti tawar. UMKM ini melakukan produksi setiap hari untuk memenuhi permintaan pelanggan terhadap roti tawar.

Output yang dihasilkan yaitu berupa produk roti tawar dengan beberapa varian yaitu roti tawar, roti tawar brownies, dan roti tawar bluder. Dalam sehari UMKM AAA Bakery dapat memproduksi roti tawar sebanyak kurang lebih 400 bungkus. Namun dalam kegiatan produksi roti tawar tersebut terdapat pemborosan (waste).

Pemborosan (waste) pada proses produksi roti tawar di UMKM AAA Bakery berupa waktu pendinginan roti yang relatif lebih lama yaitu 219 menit hingga 244 menit.

Pada proses pendinginan roti tersebut memakan waktu yang cukup lama sehingga dapat mengganggu proses selanjutnya dan menyebabkan adanya waktu menganggur karyawan, sebab sebelum roti dikemas harus dipastikan terlebih dahulu roti sudah dingin, apabila tidak maka roti tersebut akan cepat berjamur.

Rata-rata waktu pedinginan roti tawar yaitu 120 menit hingga 180 menit, sedangkan pada UMKM AAA Bakery waktu pendinginan roti memakan waktu yang cukup lebih lama yaitu pada rak yang terdapat kipas waktu pendinginan roti hingga 219 dan pada rak yang tidak terdapat kipas waktu pendinginan roti hingga 244 menit, ini berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada UMKM AAA Bakery.

Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab waktu pendinginan roti pada UMKM AAA Bakery menjadi sedikit lebih lama yaitu rak pendingin roti tidak memiliki sirkulasi udara yang baik sebab ada rak yang tidak diberi kipas. Selain itu rak yang terdapat pada UMKM tersebut memiliki ukuran dan kapasitas tampung roti yang berbeda. Terdapat pula rak yang bermaterial besi dan diberi alas rang plastik sehingga panas dari roti dihantarkan kembali oleh rangka besi dan rang plastik.

Pemborosan ialah kegiatan yang terdapat pada proses produksi atau proses manufaktur yang tidak memberikan nilah tambah sama sekali pada proses perubahan input menjadi output bahkan dapat merugikan proses produksi itu sendiri. Pemborosan

diidentifikasi menjadi 2 jenis, yaitu pemborosan yang tidak memberikan nilai tambah sama sekali namun tidak dapat dihindari dalam proses produksi dikarenakan ada hal yang menjadi alasan pemborosan tersebut terjadi ialah jenis yang pertama, kemudian jenis kedua yaitu pemborosan tersebut tidak memberi nilai tambah sama sekali dan merugikan proses produksi sehingga perlu diatasi secepatnya.

Adanya pemborosan waktu pada proses pendinginan yang telah teridentifikasi sebelumnya sehingga solusi permasalahan lamanya waktu pendinginan roti yaitu perlu dilakukan perbaikan pada proses pendinginan roti tersebut dengan perancangan ulang rak pendinginan roti menggunakan pendekatan Verein Deutcher Ingenieure (VDI) 2222. Pada proses perancangan ulang rak pendingin roti langkah awal yang dilakukan yaitu membuat prototipe. Jika percobaan prototipe berhasil maka dapat dipertimbangkan untuk membuat rak usulan dengan ukuran yang sesuai dan kapasistas yang sama dengan rak terdahulu di UMKM AAA Bakery.

Perlunya perancangan ulang rak pendingin karena pada UMKM AAA Bakery rak pendingin roti hanya ada 2 rak saja yang memiliki kipas, rak yang lainnya tidak diberi kipas pendingin dan roti hanya di diamkan hingga dingin dengan sendirinya. Waktu pendinginan roti yang relatif lebih lama pada produksi roti tawar pada UMKM AAA Bakery berdampak pada bertambahnya waktu produksi sehingga perlu dilakukan perancangan ulang pada rak pendinginan roti.

TINJAUAN PUSTAKA

Pemborosan dapat digambarkan sebagai segala aktifitas manusia yang menyerap sumber daya dalam jumlah tertentu tetapi tidak menghasilkan nilai tambah, seperti kesalahan yang membutuhkan pembetulan, hasil produksi yang tidak diinginkan oleh pengguna, proses atau pengolahan yang tidak perlu, pergerakan tenaga kerja yang tidak berguna dan menunggu hasil akhir dari kegiatan-kegiatan sebelumnya (Formoso, 2002).

Definisi perancangan (design) merupakan suatu kegiatan atau rekayasa rancangan yang dimulai dari ide-ide inovasi

(3)

desain, atau kemampuan untuk menghasilkan karya dan cipta yang benar-benar dapat menjabarkan permintaan pasar karena adanya penelitian dan pengembangan teknologi.

Perancangan konseptual merupakan fase yang paling kreatif, dimana produk dirancang secara garis besar untuk memenuhi fungsi yang dimaksud. Tujuannya agar beroperasi secara memuaskan melebihi masa kegunaan yang diharapkan serta memnuhi kebutuhan konsumen (Schey, 2009).

Fase design konseptual didahului oleh keputusan. Tujuan dari keputusan ini adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berdasarkan daftar persyaratan yang telah disepakati selama tugas klarifikasi (Pahl, dan Beitz, 2007).

Proses pengembangan produk terdiri dari enam tahap. Proses ini diawali dengan suatu fase perencanaan, yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan pengembangan teknologi dan penelitian tingkat lanjut. Output fase perencanaan adalah pernyataan misi proyek, yang merupakan input yang dibutuhkan untuk. memulai tahap pengembangan konsep dan merupakan suatu petunjuk untuk pelaksanaan pengembangan (Yola, 2012).

Pengembangan produk terdiri dari enam tahap. Enam fase dalam proses pengembangan secara umum adalah antara lain sebagai berikut (Ulrich dan Eppinger, 2001):

1. Pencarian Gagasan

Kegiatan perencanaan sering dirujuk sebagai zerofase karena kegiatan ini mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk aktual.

2. Pengembangan Konsep

Konsep adalah uraian dari bentuk, fungsi, dan tampilan suatu produk dan biasanya dibarengi dengan sekumpulan spesifikasi, analisa produk pesaing.

3. Perancangan Tingkatan Sistem

Mencakup definisi arsitektur produk dan uraian produk menjadi sub sistem serta komponen-komponen.

4. Perancangan Detail

Mencakup spesifikasi lengkap dari bentuk, material, dan toleransi dari seluruh

komponen pada produk dan identifikasi komponen yang dibeli dari pemasok.

5. Pengujian Dan Perbaikan

Fase ini melibatkan konstruksi dan evaluasi dari bermacam-macam versi produksi awal produk.

6. Produksi Awal

Fase produksi awal adalah produk dibuat dengan menggunakan sistem produksi yang sesungguhnya. Tujuan dari produksi awal ini adalah untuk melatih tenaga kerja dalam memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada proses produksi sesungguhnya.

Verein Deutcher Inginieuer 2222 merupakan metode perancangan sistematik terhadap desain untuk merumuskan dan mengarahkan berbagai macam metode desain yang makin berkembang akibat kegiatan riset. Metode Verein Deutcher Inginieuer 2222 merupakan metode perancangan yang dibuat oleh Persatuan Insinyur Jerman (Verein Deutsche Inginieuer) yang dijabarkan oleh Gerhard Pahl dan Wolfgang Beitz. Metode tersebut disebut juga

“Pendekatan Sistematik Terhadap Desain Untuk Sistem Teknik dan Produk Teknik”

(Systematic Approach to The Design of Technical System And Product).

Fase design konseptual didahului oleh keputusan. Tujuan dari keputusan ini adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berdasarkan daftar persyaratan yang telah disepakati selama tugas klarifikasi (Pah dan Beitz, 2007).

Perancangan dengan menggunakan metode VDI 2222 merupakan slah satu metode untuk menyelesaikan permasalahan dan mengoptimalkan penggunaan material, teknologi dan keadaan ekonomi. Ide dan pengetahuan merupakan dasar dari perancangan produk guna memenuhi permintaan konsumen dan demi keuntungan semua pihak. Tahapan-tahap perancangan yang dilakukan metode VDI 2222 (Novirani, 2017):

1. Analisis

Analisis merupakan tahapan pertama yang dilakukan dalam perancangan untuk mengidentifikasi suatu masalah.

2. Membuat konsep

(4)

Hasil dari tahap analisis merupakan input dari tahap berikutnya, yaitu tahap perancangan konsep produk. Spesifikasi perancangan berisi syarat-syarat teknis yang disusun dari daftar keinginan penggunaan yang dapat diukur.

3. Merancang

Merancang merupakan tahap menggambarkan wujud produk yang didapat dari hasil penilaian konsep merancang. Konstruksi renacangan ini merupaka pilihan optimal setalah melalui tahapan penilaian teknis ekonomis.

4. Penyelesaian

Penyelesaian merupakan tahapan terakhir dari setiap tahapan perancangan. Hasil dari tahap merancang merupakan inputan unuk melakukan penyelesaian.

Tujuan dari metode Verein Deutcher Inginieuer 2222 yaitu untuk memudahkan perancang dalam merumuskan dan mengarahkan berbagai varian desain yang ada karena dalam metode tersebut ide-ide yang ada disusun secara efisien dan sistematis

Langkah kerja dalam metodde Verein Deutcher Inginieuer 2222 dikelompokkan dalam 4 fase yaitu antara lain sebagai berikut:

1. Penjabaran Tugas

Meliputi pengumpulan informasi mengenai permasalahan dan kendala-kendala yang dihadapi kemudian disusun menyusun sebuah daftar persyaratan mengenai rancangan yang akan dibuat.

2. Penentuan Konsep Rancangan

Meliputi informasi struktur-struktur fungsi pencarian, prinsip-prinsip pemecahan

masalah yang cocok dan

mengkombinasikan menjadi konsep varian.

3. Perancangan Wujud

Pada perancangan wujud dimulai dengan menguraikan rancangan dalam modul- modul yang diikuti oleh desain awal dan desain jadi.

4. Perancangan Rinci

Tahapan ini merupakan proses perancangan dalam bentuk gambar yang tersusun dan gambar detail termasuk daftar komponen, spesifikasi bahan, toleransi dan lainnya.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengolaahn data dengan hasil prototipe rancangan ulang rak pendingin roti

(5)

dan uji coba rak. Berikut merupakan gambar hasil dari prototipe perancangan ulang rak pendingin roti:

Gambar 2 Prototipe Rak Pendingin Usulan

Kipas akan bekerja apabila dihubungkan dengan energi listrik, ketika rak ingin di fungsikan maka stekker yang terdapat pada rak harus disambungkan dengan stop kontak agar kipas pada rak dapat menyala.

Proses kerja alat yaitu kipas exhaust yang terdapat pada rak memilki fungsi yang berbeda, kipas yang berada di bagian atas berfungsi untuk mendinginkan roti, dan kipas yang berada dibawah berfungsi untuk menghisap udara panas yang terdapat pada roti maupun udara panas yang terdapat pada sekitar rak.

Sistem kerja kipas tersebut akan mempertahankan sirkulasi udara pada rak tetap terjaga karena tidak ada udara panas yang tertinggal didalam rak, sehingga roti menjadi lebih cepat dingin dan proses pendinginan roti lebih menghemat waktu.

Pendinginan roti akan lebih merata karena adanya celah yang menjadikan tidak ada sekat pembatas antara rak bagian atas dan rak bagian bawah. Sedangkan kipas yang terdapat pada bagian bawah rak merupakan kipas exhaust yang berfungsi untuk menghisap dan membuang udara panas yang terdapat pada rak, sehingga udara panas yang ada pada saat roti didinginkan akan dihisap keluar.

Percobaan alat dengan roti tawar yang diletakkan pada prototipe rak, berikut merupakan gambar dari percobaan alat:

Gambar 3 Uji Coba Alat

Hasil dari percobaan yang dilakukan terdapat perbedaan yang cukup signifikan.

Perbedaan tersebut yaitu waktu pendinginan yang cukup jauh berbeda. Perbedaan waktu pendinginan antara rak yang lama dengan rak yang baru dalam mendinginkan roti tersebut yaitu sangat jauh berbeda. Pendinginan roti dengan menggunakan rak yang lama memiliki waktu pendinginan roti 219 menit hingga 244 menit, namun pada percobaan dengan prototipe rak yang telah dirancang ulang waktu pendinginan roti berkisar 90 menit.

SIMPULAN

Dari Hasil analisis dan pembahasan terkait dengan penelitian didapatkan kesimpulan antara lain sebagai berikut:

1. Prototipe perancangan ulang rak pendingin roti guna meminimalisir waktu pendinginan roti dengan menggunakan Verein Deutcher Ingenieure 2222 memberikan konsep baru yaitu rak dibuat bersusun yang memiliki ukuran tinggi rak yaitu 92,75 cm, alas rak berukuran 30 cm x 30 cm, dengan penambahan kipas exhaust pada bagian atas dan bawah rak. Penambahan kipas dapat menjaga sirkulasi udara didalam rak tetap terjaga juga meminimalisr waktu pendinginan karena roti menjadi lebih cepat dingin.

2. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan untuk rak yang terdapat pada UMKM AAA Bakery dan prototipe rak yang telah dirancang ulang. Pendinginan roti dengan menggunakan rak yang lama memiliki waktu pendinginan roti yaitu 219

(6)

percobaan dengan prototipe rak yang telah dirancang ulang waktu pendinginan roti berkisar 90 menit. Rata-rata selisih waktu dari penggunaan kedua rak pendingin roti yaitu 141 menit. Ini menjadikan prototipe rak yang telah dirancang ulang lebih efektif dari segi waktu pendinginan roti dibandingkan rak lama.

.

DAFTAR PUSTAKA

Formoso, C.T., L.Soibelman, C.D.Cesare, dan E.L. Isatto. 2002. “Material Waste in Building Industry: Main Causes and Prevention”, Journal of Construction Engineering and Management, vol. 128, no. 4

Novirani, D., Adianto, H., & Januar, E, R., 2017, “Alternatif Rancangan Alat Panggang Kue Balok Ramah Lingkungan Menggunakan Liquefied Petroleum Gas (LPG)”, Jurnal Rekasayasa Hijau, vol. 1, no. 3, Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung Pahl, G., & Beitz, W, “Engineering Design A

Systematic Aprroach Third Edition.

Berlin: Springer” 2007.

Schey, J., A., Proses Manufaktur, Andi, Yogyakarta, 2009

Ulrich,K.T., and Eppinger, D. E, 2001,

“Perancangan dan Pengembangan Produk. Jakarta”, Salemba Teknik Yola, M, 2012, “Perancangan dan

Pengembangan Produk Teori dan Aplikasi” Pekanbaru: Daulat Riau.

.

Gambar

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian
Gambar 2 Prototipe Rak Pendingin Usulan

Referensi

Dokumen terkait

Dari analisis ekonomi teknik dengan menggunakan metode Nilai Sekarang Bersih (NPV), Nilai Tahunan Bersih (NAUV), dan Internal Rate of Return (IRR), maka dapat

Kejadian ADRs terkait gastrointestinal dengan menggunakan Naranjo scale pada penggunaan aminofilin dari 7 sampel penelitian mengalami ADRs mual sebanyak 1 sampel

koping orangtua anak tunagrahita usia sekolah (6-12 tahun) di Yayasan Dharma Asih Sekolah Luar Biasa (SLB) Hasil analisis hubungan antara pekerjaan dengan koping

PROGRAM PENGEMBANGAN KELOMPOK PERIKANAN TANGKAP PADA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN ENDE. TAHUN

1. Banyak potensi di Sub Rayon 08 SMA Lampung Timur yang pada saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, namun dengan model pembelajaran bebas mampu

Penelitian yang akan dilakukan lebih menekankan kepada status hukum dan kepemilikan atas tanah turakia di bekas Kesultanan Buton, yang berlokasi di Buton, Sulawesi

Uji efek antiinflamasi dari ekstrak biji lamtoro ( Leucaena glauca Benth) pada tikus putih jantan dengan parameter serum CRP dan pengukuran volume edema.

Melihat hal tersebut, di dalam competitiveness dan fear of failure, motivasi berprestasi merupakan sebuah variabel intervening atau variabel yang secara teoritis