• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEHARMONISAN PASANGAN NIKAH DINI DIKALANGAN MASYARAKAT PESANTREN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEHARMONISAN PASANGAN NIKAH DINI DIKALANGAN MASYARAKAT PESANTREN"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

MASYARAKAT PESANTREN

(STUDI KASUS DI PESANTREN DARUL ISTIQAMAH MACCOPA MAROS)

The Harmony of Early Marriage Couple among Islamic School Community (A Case Study in Darul Istiqamah Islamic School in Maros)

ST.WIJDANAH RAM

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2013

(2)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah segala puji milik Allah SWT yang senantiasa

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sekalian. Maka tiadalah kata yang pantas penulis haturkan melaikan rasa hormat dan rendah diri sehingga dalam penyusunan tesis ini dapat terselesaikan. Begitu pula shalawat dan salam yang tiada henti-hentinya penulis khidmatkan kepada keharibaan junjungan Rasulullah Muhammad SAW, selaku manusia sempurna yang patut dijadikan suri tauladan bagi seluruh umat manusia.

Penulis menyadari adanya berbagai kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam penulisan tesis ini, hal tersebut tidak terlepas dari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh penulis. Oleh karena itu, penulis senantiasa membuka diri menerima koreksi, kritik maupun saran yang bersifat konstruktif dari berbagai pihak, sebagai upaya penyempurnaan tulisan ini.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis menghadapi berbagai hambatan dan rintangan, namun semuanya dapat diatasi berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya penulis haturkan kepada :

1. Dr. Saifullah Cangara, M.Si, selaku Ketua Program Studi Sosiologi FISIP Unhas sekaligus sebagai penguji dan dosen.

2. Prof. Dr. Maria E. Pandu, MA selaku pembimbing I dan Prof. Dr. Basyir Syam, M,Si Sselaku pembimbing II, yang telah membimbing dan mengarahkan penulis sejak penyusunan proposal hingga penulisan akhir magister.

(3)

3. Prof. Dr. Tahir Kasnawi, Dr. H.M. Darwis, DPS, MA, sebagai penguji dan dosen

4. Para Dosen FISIP UNHAS, khususnya program studi sosiologi yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya selama menempuh pendidikan di bangku perkuliahan.

5. Kepada keluarga besar Pesantren Darul Istiqamah Maccopa yang telah banyak membantu dan mmemberi izin kepada penulis untuk melakukan penelitian ini.

6. Para Karyawan-karyawati Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unhas, yang telah membantu dari segala bentuk administrasi hingga akhir penyelesaian tesis ini.

7. Seluruh rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi Program Studi Sosiologi, khususnya angkatan 2011 yang telah memberikan semangat dan berbagi keceriaan maupun kebersamaan baik suka maupun duka dalam proses dinamika kemahasiswaan.

8. Teristimewa kepada kedua orang tua tercinta dan tersayang, Ayahanda

DR. Aminuddin Ram, M.Ed dan Ibunda Waspadani Sahabuddin atas segala limpahan kasih sayang, jerih payah, kesabaran, ketabahan dan pengorbanan serta doa yang tiada henti-hentinya demi keberhasilan penulis. Penulis mempersembahkan sembah sujud yang tulus dan ikhlas sebagai tanda bakti dan terima kasih atas perjuangan dan kepercayaannya yang terus mengalir tiada henti.

9. Suami, anak, dan semua Adik-adik tercinta, terima kasih atas doa, bantuan, semangat, dan pengertiannya selama ini.

(4)

10. Semua keluarga yang telah memberikan motivasi, perhatian, kasih sayang dan bantuan baik moril dan materil.

11. Dan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan tesis ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Demikianlah, tegur sapa untuk semua khalayak, semoga segala bantuan yang diterima dari berbagai pihak di atas mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT .

Penulis, masih menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Walaupun demikian, semoga hasil-hasil yang tertuang dalam tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, serta diterima sebagai sumbangan pikiran pengembangan karya ilmiah.

Makassar, Juli 2013

Penulis

(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN HALAMAN SAMPUL DALAM

HALAMAN PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING HALAMAN PERSETUJUAN KOMISI PENGUJI DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian ……… 1

B. Rumusan Masalah ………..…….……. 8

C. Tujuan Penelitian ……….. 8

D. Manfaat Penelitian ……….… 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pernikahan Menurut Perspektif Agama Islam ……….. 10

a. Teori pertukaran ………. 14

b. Teori Roda Cinta ……… 15

c. Teori AGIL ………... 16

d. Teori Interaksi simbolik ………. 17

B. Kelompok Sosial Di Pesantren ……… 18

a. Teori tentang Gemeinschaft ……….…….. 19

b. Teori tentang Gesselchaft ……….….. 20

(6)

C. Posisi dan peran Gender ………. 23

a. Teori Nature ……… 24

b. Teori Nurture ……….. 25

D. Analisis Gender Menurut Perspektif Agama ………. 28

E. Hak-Hak Suami Dan Istri Dalam Agama Islam………. 32

F. Agama Dan Masyarakat……….………. 34

G. Tipe Keluarga Berhasil……….………. 38

1. Keluarga Ideal……….……….……… 38

2. Keluarga Sehat……….……….…… 40

H. Skema Konseptual ……….…... 44

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ………..………… 45

B. Lokasi Penelitian ……….…….. 46

C. Informan………...…… 46 D. Jenis dan Sumber Data ……….……… 47

E. Metode Pengumpulan Data ………. 48

F. Teknik Analisis Data……….. 49

G. Konsep Operasional ………. 50

BAB IV PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Hasil Penelitian……….……… 52

1. Keadaan Geografis……….……….… 51

2. Pemerintahan……….……….………. 53

(7)

3. Agama……….……….………53

B. Proses Penelitian……….……….………...54

C. Kendala Dan Proses Kontak Dengan Informan……… 55

D. Deskripsi hasil Observasi dan Wawancara 1. Kasus Pertama (Ust. Bahar) ……….……… 61

2. Kasus Kedua (Ibu Tifah) ……….……… 64

3. Kasus Ketiga (Ibu Rani) ……….……… 67

4. Kasus Keempat (Ibu Aminah) ……….………. 70

5. Kasus Kelima (Ibu Aisyah) ……….……… 72

6. Kasus Keenam (Ibu Zahra) ……….……… 75

E. Pembahasan Hasil Wawancara……….……… 81

F. Matriks Ringkasan Keharmonisan Pasangan Nikah Dini………… 100

G. .Analisis Hasil Wawancara Keharmonisan Pasangan Nikah Dini A. Faktor Pernikahan Usia Dini di pesantren Darul Istiqamah….. 102

a. Pemahaman Dan Kepatuhan Agama………... 102

b. Pemilihan Jodoh Oleh Kiyai ………104

c. Permintaan Orang Tua………..105

d. Budaya Pesantren………..106

B. Tipe-Tipe Masyarakat Dan Agama………107

C. Sosialisasi Internalisasi Pernikahan Usia Dini……….110

D. Keharmonisan Pasangan Nikah Dini………113

a. Pemahaman Dan Kepatuhan Agama……….…111

b. Hubungan Kekerabatan……… 115

(8)

c. Cinta………. 116

E. Posisi Perempuan Nikah Dini………...120

a. Pembagian Kerja……….122

b. Pengambilan Keputusan………...124

BAB V Penutup a. Kesimpulan……….126

b. Saran ………....…………...129

DAFTAR PUSTAKA ……….. 130

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Oleh karena itu, manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan berinteraksi, berkomunikasi, menyampaikan kehendak, mengungkapkan perasaan, dan gagasan atau ide yang dimilikinya. Sejalan dengan itu, Henslin (2006:118) menguraikan kebutuhan dan fungsi keluarga sebagai lembaga yang berkenaan dengan (1) Produksi ekonomi, (2) Sosialisasi anak, (3) Perawatan orang sakit dan usia lanjut, (4) Rekreasi, (5) Pengendalian seks dan (6) Reproduksi.

Kehidupan manusia ditandai dengan pergaulan antar sesama manusia, misalnya dalam lembaga keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, tempat kerja, organisasi sosial, dan sebagainya. Lembaga pernikahan merupakan suatu bukti bahwa manusia tak dapat hidup sendiri. Pernikahan ditandai dengan adannya ikatan lahir bathin seorang laki-laki dan perempuan, yang pada umumnya berasal dari keluarga dan lingkungan yang berbeda, kemudian mengikatkan diri untuk mencapai tujuan keluarga yang kekal dan bahagia. Ikatan lahir ialah ikatan yang tampak sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada, sedangkan ikatan

(10)

ikatan psikologis, yang ditandai dengan saling mencintai, berbagi perasaan dankebahagiaan.

Bagi manusia pernikahan merupakan hal yang penting, karena dengan sebuah pernikahan seseorang akan memperoleh keseimbangan hidup, baik secara biologis, psikologis maupun secara sosial. Dengan melangsungkan pernikahan seseorang berkemungkinan memenuhi kebutuhan biologisnya. Ia bisa memperoleh keturunan dengan pasangan hidupnya. Sementara itu secara mental atau rohani mereka yang telah menikah lebih bisa mengendalikan emosinya dan mengendalikan nafsu libidonya. Sejalan dengan hal tersebut John Scott (2011:128) mengemukakan bahwa pernikahan adalah bentuk persekutuan seksual yang terinternalisasi (2011:148). Pernikahan juga dipandang sebagai suatu penggabungan antara dua garis keluarga. Henslin, James M (2006:128).

Sebagai suatu institusi, pernikahan merupakan penyatuan dua insan yang dibuat di depan umum dan keluarga mereka untuk mengukuhkan hubungan antara keluarga dasar pasangan tersebut dengan anak cucunya kelak. Sebuah persekutuan merupakan suatu pernikahan apabila penyatuan tersebut diketahui oleh pihak ketiga. Pada masyarakat modern, pengakuan pihak ketiga disediakan oleh catatan sipil negara.

Untuk mencapai tujuan pernikahan, yaitu terwujudnya keluarga bahagia dan sejahtera, atau menurut agama Islam keluarga sakinah, diperlukan persyaratan khusus bagi mempelai laki-laki dan perempuan

(11)

yang kelak akan menjadi pemeran utama dalam mengayuh bahtera rumah tangga. Persyaratan khusus itu ialah kedewasaan fisik, kematangan berfikir dan keseimbangan emosi.

Mengenai faktor usia, undang undang tentang perkawinan tahun 1974 pasal 7 ayat 1 menyebutkan : Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun, karena pada usia itu sudah dianggap siap dari sisi fisik, psikis, dan mental, akan tetapi dapat diberikan pertimbangan khusus apabila terjadi penyimpangan, sebagaimana bunyi ayat selanjutnya yakni pasal 7 ayat 2 : Dalam hal penyimpangan dalam ayat (1) pasal ini dapat minta dispensasi kepada Pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak laki-laki atau pihak perempuan.

Berdasarkan undang-undang perkawinan tahun 1974 pasal 7 ayat 1 tersebut dapat diketahui bahwa pria yang menikah akan tetapi belum mencapai usia 19 tahun, dan wanita yang menikah tetapi belum mencapai usia 16 tahun dapat dikategorikan sebagai pernikahan usia dini.

Pernikahan usia dini merupakan institusi untuk mengikat dua insan lawan jenis yang masih remaja dalam satu ikatan keluarga. Pada umumnya penyebab terjadinya pernikahan usia dini di dalam masyarakat, antara lain karena sistem nilai dan adat yang masih dipegang oleh masyarakat. Sebagian orang tua merasa malu jika anak mereka menjadi perawan tua. Di samping itu, pernikahan usia

(12)

dini banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran orang tua menyangkut kemungkinan akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya seks bebas, kehamilan di luar nikah, dan hal negatif lainnya. Seiring dengan itu, kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak orang tua yang tidak menyadari arti dan tujuan pernikahan tersebut (Hildayanti, 2010).

Di samping masalah faktor sosial budaya, sebagian pernikahan usia dini juga disebabkan oleh tuntutan ekonomi keluarga dan masih terbatasnya pengetahuan masyarakat awam mengenai makna dan isi undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, yang menyebutkan arti perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Israwati, 2009).

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pernikahan usia dini mengundang resiko bagi kesehatan ibu dan anak, serta berkemungkinan menyebabkan timbulnya penyakit kanker serviks, karena pada wanita yang berusia muda terdapat kecenderungan untuk mudah mengalami perubahan aptikal. Masalah lain adalah kondisi fisik wanita yang kawin pada usia muda (pada umumnya mereka yang berumur di bawah 17-18 tahun belum dapat dikatakan maksimal. Dengan kata lain, mereka belum mencapai perkembangan fisik yang mantap (Normawati, 2011).

(13)

Bila seorang wanita pada usia ini bahkan lebih muda daripada itu menikah, lalu menjadi hamil, dikhawatirkan akan menyebabkan melemahnya kondisi fisik ibu. Sehingga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan janin dalam rahimnya. Keberadaan anemia, kurangnya kalsium dan zat-zat lain dalam darah akan memberikan efek yang kurang menguntungkan bagi perkembangan janin. Janin tidak sempat berkembang dengan optimal, sehingga bisa menimbulkan kematian.

Selain resiko kesehatan, resiko kejiwaan juga rentan dialami.

Karena setelah menikah akan terjadi masa peralihan dalam kehidupan seseorang (krisis normatif) dan dapat memicu stres. Hal tersebut muncul apabila pasangan suami atau istri belum mempersiapkan mental untuk bertanggung jawab, baik yang menyangkut pemberian nafkah, pendidikan anak, maupun yang terkait dengan perlindungan, serta pergaulan yang baik.

Pernikahan usia dini berbanding lurus dengan tingginya angka perceraian. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda, dan cara berfikir yang belum matang, kurang mampu untuk bersosialisasi dan adaptasi, dan hubungan yang kurang harmonis antara orang tua atau mertua, memungkinkan banyaknya pertengkaran, percekcokan bentrokan antara suami-istri hingga berujung pada perceraian (Eviharisa, Dela. 2008).

(14)

Di dalam sebuah rumah tangga pertengkaran atau bentrokan merupakan hal yang biasa, namun apabila berkelanjutan, keadaan seperti itu bisa berujung pada perceraian. Pada umumnya masalah perceraian disebabkan masing-masing sudah tidak lagi memegang amanah sebagai istri atau suami. Istri sudah tidak menghargai suami sebagai kepala rumah-tangga, sebaliknya suami tidak lagi menghargai istri sebagai ratu rumah tangga. Apabila mereka mempertahankan ego masing-masing, maka akan muncul masalah dalam rumah tangga. Akibatnya terjadilah perceraian.

Perceraian akan berpengaruh terhadap para mertua kedua belah pihak, karena apabila perkawinan anak-anaknya itu mengalami kegagalan, maka mereka akan merasa sedih dan kecewa atas keadaan rumah tangga anak-anaknya. Selain itu perceraian akan mengakibatkan bertambahnya biaya hidup mereka, dan yang paling parah lagi akan memutuskan tali kekeluargaan di antara kedua belah-pihak (Masnun:

2012)

Menyadari dampak pernikahan usia dini tersebut, pemerintah terdorong untuk menyosialisasikan untuk menunda pernikahan sampai usia matang, agar Indonesia dapat mengurangi atau bahkan menghapuskan pernikahan usia dini dan kelahiran pada usia muda. Hal ini untuk menunjang program nasional keluarga berencana. Selain untuk mengurangi kepadatan penduduk, pemerintah juga memusatkan perhatian pada remaja agar dapat lebih mengembangkan diri melanjutkan

(15)

pendidikan yang lebih tinggi dan mengejar berprestasi, sehingga bisa meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang memberikan jaminan kesejahteraan dan perlindungan yang lebih baik.

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia.

Keberadaan pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk ke negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan. Pesantren merupakan sekolah islam berasrama yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-Quran dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa Arab. Dalam perkembangannya lembaga pesantren semakin memperlebar wilayah garapannya, yang tidak hanya mengakselerasikan mobilitas vertical (dengan penjelasan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial). Dengan kata lain, pesantren tidak bisa lagi dikatakan sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang terus merespon carut marut persoalan sosial.

Seperti halnya dengan pesantren Darul Istiqamah Maros Sulawesi Selatan. Pesantren ini selain berfokus pada bidang dakwah dan pendidikan, juga dikenal dengan pernikahan islaminya, salah satu contoh yakni menyegerakan pernikahan, walaupun menurut undang- undang anak atau calon pengantin dianggap belum cukup umur untuk membina rumah tangga.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melihat sejauh mana pemahaman dan pandangan masyarakat yang menyatakan bahwa

(16)

pernikahan usia dini cenderung mengalami konflik yang berkepanjangan hingga berujung pada perceraian, dengan melihat fenomena pernikahan usia dini yang terjadi di pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros.

B. Rumusan Masalah

Sehubungan dengan fenomena yang digambarkan di atas terdapat tiga masalah yang akan dibahas dengan menggunakan pendekatan sosiologis, yaitu:

1. Faktor yang melatarbelakangi pernikahan usia dini di pesantren Darul Istiqamah Maros.

2. Faktor yang menyebabkan kelanggengan hubungan pelaku pernikahan usia dini di pesantren Darul Istiqamah Maros.

3. Bagaimana posisi perempuan setelah menikah dini di pesantren Darul Istiqamah Maros.

C. Tujuan penelitian

Mengacu pada rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor yang melatarbelakangi pernikahan usia dini di pesantren Darul Istiqamah Maros.

2. Mengidentifikasi dan menganalisis kelanggengan hubungan pelaku pernikahan usia dini di pesantren Darul Istiqamah Maros.

(17)

3. Mengidentifikasikan dan menganalisis posisi perempuan setelah menikah usia dini di pesantren Darul Istiqamah Maros.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan menambah khazanah ilmu pengetahuan dan kepustakaan tentang pernikahan usia dini.

b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penelitian-penelitian yang berspektif gender atau feminism.

c. Penelitian ini dapat memberikan konstribusi pada pengembangan pemikiran ilmiah tentang peran keluarga dan gender dalam struktur sosial.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada remaja, orangtua, dan masyarakat agar bisa memandang pernikahan dini secara lebih holistik.

b. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukan bagi pemerintah agar di satu sisi dapat mengantisipasi dampak negatif pernikahan usia dini dan di sisi lain dapat meningkatkan nuansa positif pernikahan dini itu sendiri. Upaya seperti ini dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan berkala di sekolah dan organisasi siswa.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pernikahan Ditinjau dari Perspektif Agama Islam

Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqih berbahasa Arab disebut dengan dua kata, yaitu nikah dan zawaj. Kata nikah berarti

“bergabung, “hubungan kelamin” dan juga berarti “akad”. Selanjutnya kalangan ulama syafi’iyah merumuskan bahwa pernikahan adalah akad atau perjanjian yang mengandung maksud membolehkan hubungan kelamin. Sementara itu, ulama hanafiyah mengatakan bahwa pernikahan adalah pemberian hak kepada seorang laki-laki menikmati kesenangan dengan seorang perempuan secara sengaja (Syarifuddin, Amir 2009:36).

Pengertian tersebut berdasarkan pemahaman ahli hukum klasik bahwa perempuan digambarkan sebagai makhluk seksual dan bukan sebagai makhluk sosial. (Hayat, 2005:240)

Dalam istilah yang berbeda, Pernikahan berarti akad atau ikatan yang terjalin di antara dua insan berlainan kelamin. Akad atau ikatan pernikahan adalah sebuah komitmen bersama yang harus senantiasa dijaga. Karena itu, ada hubungan timbal balik sebagai konsekuensi logis sebuah pernikahan. Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah sebuah ikatan yang sakral dan agung antara dua subkultur manusia, laki-laki dan

(19)

perempuan. Bahkan Allah SWT menyebutkan bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian yang teguh. (QS. An-Nisa 21)

Pernikahan merupakan sarana pembentukan keluarga, tempat penyemaian generasi unggulan. Generasi yang kelak akan menjadi agent of social change (agen perubahan sosial) menuju ke tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Maka dari itu, Islam membuka pintu pernikahan seluas-luasnya dan menutup pintu zina serapat-rapatnya. Hal senada dikemukakan oleh Syarifuddin Amir (2009:12). Pernikahan harus digalakkan, bukan dihalang- halangi. Para pemuda dan pemudi harus didorong untuk menempuh gerbang pernikahan supaya mereka tidak terjerumus ke dalam kenistaaan yang dilarang agama. Sehubungan dengan itu, andaikata pintu pernikahan dipersempit, dikhawatirkan semakin marak kehamilan di luar nikah, aborsi, anak-anak tanpa ayah yang jelas, sodomi, perkosaan dll.

Lebih dari itu, gadis-gadis yang dipingit dalam rumah dapat terkontaminasi oleh kecenderungan seksual yang menguasainya, sehingga kecenderungan tersebut berkemungkinan memaksa mereka untuk menyia-nyiakan kegadisannya (Karim, 2007:104) Rasulullah SAW juga bersabda: “Wahai kawula muda, siapa pun di antara kalian yang sudah mampu menikah, hendaklah menikah. Sebab, pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan.” (HR. Muslim)

Kitab-kitab fiqh memperbolehkan perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masih kecil, kitab syarh fath al-Qadri (ibnu al-

(20)

Humam,274-186). Kebolehan tersebut didasari alasan karena tidak ada ayat Al-quran yang secara jelas dan terarah menyebutkan batas usia perkawinan. Tidak ada pula hadits nabi yang secara jelas dan terarah menyebutkan batas usia. Bahkan nabi sendiri mengawini Siti Aisyah pada umur 6 tahun dan menggaulinya setelah umur 9 tahun (Syarifuddin, 2009:

66).

Sebagian ulama berpendapat bahwa salah satu persyaratan pernikahan adalah meminta persetujuan kepada kedua belah pihak untuk melangsungkan pernikahan. Persetujuan dan kerelaan ini tidak akan timbul dari seorang yang masih kecil, hal itu mengandung arti bahwa pasangan yang diminta persetujuan itu haruslah sudah dewasa. Adapun batasan dewasa dapat berbeda antara laki-laki dan perempuan, dan dapat pula berbeda karena perbedaan lingkungan, budaya, tingkat kecerdasan suatu komunitas atau disebabkan oleh faktor lainnya. Untuk menentukannya diserahkan kepada pembuat undang-undang di lingkungan masing-masing (2009 : 61). Dari petikan di atas, penulis ingin menandaskan bahwa tafsir, interpretasi terhadap ajaran agama sangat dipengaruhi oleh kaca mata pandang yang digunakan oleh penafsirnya, yang sering kali berkaitan dengan aspek kultural dan ideologi.

Sesungguhnya pernikahan tidak sekedar memadukan dua orang manusia berbeda jenis kelamin. Ada banyak hikmah yang terkandung dalam pernikahan yaitu:

(21)

a. Melestarikan spesies manusia melalui proses reproduksi yang elegan.

b. Menyalurkan hasrat libido kepada lawan jenis secara halal sehingga kehormatan manusia terjaga dengan baik.

c. Mengatur hubungan antar laki-laki dan wanita sesuai dengan prinsip- prinsip syariah sehingga terjalin kerjasama yang produktif dalam sebuah payung bernama keluarga.

d. Bahu membahu mendidik anak-anak sehingga terbentuklah generasi pelanjut yang lebih baik.

Selain itu, masih ada lagi hikmah pernikahan lainnya seperti yang di kemukakan oleh pakar psikologi Al Farisi (2008:15), bahwa usia orang yang telah menikah akan lebih panjang dari yang belum menikah, Lembaga permasyarakatan lebih banyak dihuni orang yang membujang ketimbang orang yang telah menikah, dan banyak kasus bunuh diri yang terjadi dilakukan oleh orang yang belum menikah.

Selepas mengikrarkan akad nikah, suami dan istri memasuki institusi baru yang bernama keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam suatu tatanan masyarakat. Jadi, sebuah keluarga paling tidak terdiri atas seorang laki-laki dan seorang perempuan yang terikat dalam suatu ikatan sakral yang disebut pernikahan (Collin, 1987:175).

Al-Qur’an menyebut pernikahan sebagai perjanjian yang berat atau,

"mistaqan ghalizhan", artinya perjanjian kokoh atau agung yang diikat dengan sumpah. Oleh karena itu pernikahan harus dijaga dengan baik,

(22)

karena apabila pernikahan terputus maka bubarlah sebuah institusi keluarga yang dibangun bersusah payah, Setiap pasangan suami istri hendaknya senantiasa melakukan praktik komunikasi yang bersifat resiprokal, senantiasa saling menasihati, saling mengingatkan, saling menegur, saling menjaga dan saling menyayangi. Selain itu, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Hak dan kewajiban tersebut diuraikan secara jelas dalam teori pertukaran.

Teori ini mengemukakan bentuk-bentuk perilaku sosial antara lain:

1) Proporsi keberhasilan, yaitu semakin sering suatu tindakan mendapat respon yang positif dari orang lain semakin sering pula tindakan itu dilakukan; 2) Proporsi stimulus; 3) Proporsi nilai; 4) Proporsi kejenuhan- kerugian, yaitu semakin sering suatu ganjaran diterima semakin menjadi kurang bermakna ganjaran itu; 5) Proporsi persetujuan-perlawanan (Ritzer, 2009:45).

Teori pertukaran (saling menguntungkan) yang dikembangkan oleh George Simmel terjadi akibat adanya ikatan sosial. Teori ini mengemukakan adanya faktor kepentingan yang sangat kuat yang menyatukan manusia dengan manusia lain untuk memperoleh rasa puas.

Apabila seseorang istri berbuat sesuatu terhadap suaminya, maka sang istri mengharapkan balasan sebagai pengakuan dari tindakannya dan akan sangat kecewa apabila tidak tampak tanda tanda penghargaan tersebut. Rasa puas begitu penting dalam ikatan-ikatan sosial terlebih pada interaksi yang mengandung cinta seperti pernikahan, Seorang

(23)

sosiolog Amerika Serikat kemudian mengembangkan teori pertukaran sosial, dengan teori roda cinta. Menurut Ira Reiss, Cinta adalah lingkaran yang selalu berputar yang dimulai dengan adanya jalinan interaksi antar dua orang, hubungan ini kemudian berubah menjadi keterbukaan. Akhirnya menjadi saling ketergantungan satu sama lain.

Dalam hubungan cinta selalu dibutuhkan kesediaan yang besar untuk saling terbuka. Keterbukaan ini merupakan “imbalan” dalam proses pertukaran sosial yang terjadi. Mencintai seseorang berarti orang itu menerima apa adanya atas segala kelebihan dan kekurangan pasangannya sekalipun rahasia-rahasia terungkap, dengan demikian ada kepercayaan penuh untuk menumpahkan keresahan dan menyatakan perasaan yang terdalam.

Rasa cinta dapat diukur ketika pasangan rela memberi dan menerima, misalkan suami memberi semua penghasilan yang diperoleh kepada istri untuk dikelolah dengan baik, akan tetapi istri pun harus dengan rela pula untuk melayani segala kebutuhan sang suami, hal tersebut tidak lepas dari kewajiban suami untuk memberikan nafkah dan penghidupan yang layak kepada istri, begitu pula sebaliknya merupakan kewajiban seorang istri untuk memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya.

Selain hak dan kewajiban antara suami dan istri yang dipertukarkan, jalinan pernikahan seharusnya memiliki orientasi dan tujuan yang disepakati antara kedua belah pihak, karena seringkali perdebatan-

(24)

perdebatan kecil menjadi besar apabila suami dan istri mempertahankan ego masing- masing dan melupakan niat, dan tujuan pernikahan tersebut.

Selain tujuan dan orientasi pernikahan yang harus di pahami oleh suami dan istri adalah komunikasi antar keduanya harus tetap terjaga, karena prinsip komunikasi meletakkan penghormatan, perhatian, respon, dan kemesraan dalam hal mengunggkapkan pesan atau sebaliknya menangkap pesan, apabila penghormatan dan perhatian hilang , maka konflik akan mudah terjadi. Pola interaksi juga menjadi penunjang hubungan baik antara suami istri, kualitas interaksi antara keluarga suami dan keluarga istri dapat memperpanjang usia pernikahan.

Berkaitan dengan pola di atas teori AGIL dari Talcott Parson dianggap sesuai untuk menganalisis persyaratan–persyaratan fungsional dalam kelangsungan hidup pelaku pernikahan usia dini di Pesantren Darul Istiqamah, sebagai kerangka dalam sistem sosial untuk mencapai keteraturan dan tetap bertahan.

1. Adaptation (adaptasi): adaptasi merujuk pada keharusan sistem sosial untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhannya. Baik suami maupun istri harus mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan tempat mereka tinggal (antara tetangga, keluarga dan kerabat suami ataupun istri).

(25)

2. Goal attainment (pencapaian tujuan): pasangan suami istri harus mendefinisikan tujuan mereka menikah dan saling bekerja sama dalam mencapai tujuan pernikahan itu.

3. Integration (integrasi): Integrasi berhubungan dengan interelasi antara suami, istri, dan keluaraga kedua belah pihak, agar berfungsi dengan efektif hendaknya ada tingkat solidaritas dan kerelaaan untuk bekerjasama yang senantiasa dikembangkan dan dipertahankan.

4. Latency, pattern maintenance (latensi atau pemelihara pola) dalam penikahan seringkali suami ataupun istri merasa letih dan jenuh, karena itu pasangan suami istri perlu berjaga-jaga bilamana pernikahan menjadi kacau balau. Untuk menjaga hal tersebut perlu dikembangkan mekanisme tertentu untuk memulihkan dorongan emosional dan memperbaharui komitmen demi mencapai tujuan pernikahan tersebut misalnya berekreasi bersama (Ritzer, 2011:121)

Di samping itu menurut Hebert Blumer (Margaret M. Poloma, 2010:27) tindakan-tindakan yang mampu membentuk struktur atau lembaga seperti halnya pernikahan hanya mungkin disebabkan oleh interaksi simbolis, yang menyampaikan makna menggunakan isyarat dan bahasa. Interaksionisme simbolik menunjukkan sifat khas dari interaksi antar manusia. Kekhasannya, adalah bahwa manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya sekedar reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain, tetapi

(26)

didasarkan atas “makna” yang diberikan terhadap tindakan orang lain itu.

Interaksi antar individu, diatur oleh penggunaan simbol-simbol, interpretasi atau dengan saling berusaha untuk saling memahami maksud dari tindakan masing-masing. Sehingga dalam proses interaksi manusia itu bukan suatu proses saat adanya stimulis secara otomatis dan langsung menimbulkan tanggapan atau respon. (Ritzer, 2009: 52)

B. KELOMPOK SOSIAL DI PESANTREN

Kelompok sosial atau social group adalah himpunan atau kesatuan manusia yang terdiri dari dua atau lebih individu yang hidup bersama saling berhubungan, saling mempengaruhi dengan suatu kesadaraan untuk saling tolong menolong. Setiap himpunan manusia belum tentu dapat disebut sebagai kelompok sosial. Himpunan manusia yang dapat disebut kelompok sosial ialah yang telah memenuhi beberapa persyaratan tertentu, yaitu:

1. Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.

2. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya, dalam kelompok itu.

3. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan

(27)

yang sama, ideology yang sama, dan lain sebagainya. Mempunyai musuh yang sama dapat pula menjadi faktor pengikat/pemersatu.

4. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola prilaku. (Soerjono Soekanto, 1982: 111)

Emile Durkheim melihat pengelompokan manusia dari segi organisatorik fungsional. Bentuk mekanik merupakan bentuk yang naluriah ditentukan oleh pengaruh awal kehidupan manusia yaitu, ditentukan oleh ikatan geografik, biogenetik, dan keturunan lebih lanjut.

Ikatan pengelompokan bentuk ini hanya mencapai taraf solidaritas mekanik. Berbeda halnya dengan ikatan pengelompokan bentuk kedua, yaitu bentuk organisatorik fungsional yang merupakan hasil dari kesadaran manusia, hasil dari keinginan rasional. Dalam bentuk pertama ditemukan integrasi normatif (berdasarkan ikatan norma) dalam bentuk kedua terbentuk integrasi yang merupakan hasil disiplin, peraturan- peraturan resmi bahkan undang-undang. Ferdinand Toennies menyebutkan bentuk pertama Geminschaft dan bentuk kedua Gesellscaft.

(Wulansari,2009:45).

Teori tentang Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alami serta kekal. Dasar dari hubungan adalah cinta dan rasa kesatuan batin yang kodrati ditemukan pada kehidupan keluarga, suku, dan kelompok kekerabatan, rukun tetangga dan sebagainya. Kelompok gemeinschaft ini dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengan paguyuban.

(28)

Sedangkan Gesselchaft adalah suatu kelompok pergaulan hidup yang terbentuk disebabkan oleh kehendak atau keinginan dari anggota kelompok sendiri atau pimpinan anggota kelompok untuk mencapai tujuan tertentu seperti perkumpulan, perusahaan/badan hukum, partai politik, yayasan, lembaga pendidikan dan sebagainya. Umumnya ikatan antar- anggotanya relatif tidak seintim seperti pada gemeinschaft dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengan patembayan. Orang menjadi anggota suatu gesselschaft karena dia mempunyai kepentingan-kepentingan secara rasional; dengan demikian kepentingan-kepentingan individual berada di atas kepentingan bersama. Suatu gemeinschaft memilki ciri-ciri pokok yaitu:

a. Intimate, artinya hubungan menyeluruh yang mesra sekali.

b. Private, artinya hubungan bersifat pribadi yaitu khusus untuk beberapa orang saja.

c. Exklusive, artinya bahwa hubungan tersebut hanyalah untuk kita saja dan tidak untuk orang lain di luar kita.(Wulansari,2009:63)

Kelompok sosial dapat berakhir apabila interaksi mental di antara anggota-anggota kelompok sosial tersebut terhenti. interaksi yang demikian dapat terjadi karena semakin besarnya perbedaan daripada persamaan tujuan dan kepentingan anggota-anggota kelompok sosial.

Demikian pula sebaliknya, bahwa kelompok sosial dapat terus berlangsung apabila terdapat ikatan tujuan dan kepentingan yang lebih besar daripada perbedaan yang terjadi di antara anggota kelompok sosial.

(29)

Interaksi mental bukan berarti anggota kelompok hidup selalu dalam keseragaman pendapat atau penyesuaian di antara mereka, tetapi yang pokok adalah antara ketidaksepahaman dengan persamaan pendapat di antara mereka masih terdapat adanya keseimbangan.

Harold Lasswell (1969) menyebutkan bahwa unsur-unsur integritas anggota kelompok terhadap kelompoknya dapat diukur menurut derajat keterlibatannya dalam kelompok melalui perasaannya terhadap kelompoknya. Dalam suatu organisasi dengan kesadaran kelompoknya yang tinggi terdapat perasaan kerjasama, berpikir dan rasa kebersamaan di antara masing-masing anggota kelompoknya.

Perasaan akan persatuan di antara masing-masing anggota kelompok timbul apabila anggota kelompok masing-masing mempunyai pandangan yang sama tentang masa depan bersama, tujuan dan kepentingan bersama. Oleh karena itu, dasar pembentukan kelompok tersebut didasarkan pada adanya keyakinan bersama, harapan bersama, tujuan yang sama dihayati masing-masing dari anggota kelompok tersebut serta adanya ideologi bersama yang mengikat semua anggota kelompok.

Karena itu pula, akhirnya, masing-masing akan sadar untuk turut berpartisipasi dalam mencapai harapan bersama dalam kelompok.

Seperti halnya dengan pesantren. Pesantren merupakan kelompok sosial yang memiliki tradisi yang kuat dalam menyosialisasikan nilai-nilai dan menurunkan pemikiran pendahulunya dari generasi ke generasi. Para pemimpin pesantren merupakan tokoh utama dalam proses tersebut.

(30)

Para kiyai melakukan transmisi secara monolog mengingat posisi tradisional kiyai sebagai pemegang otoritas keagamaan. Oleh karena itu, transmisi keilmuan yang berlangsung di pesantren lebih bersifat dogmatis dan ideologis.

Sejak semula, pesantren telah menjadi pusat pembelajaran dan dakwah. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren memiliki peranan yang sangat kuat dan penting dalam sejarah pendidikan.

Bahkan sebelum sistem pendidikan modern dikenalkan oleh Belanda, pesantren adalah satu-satunya sistem pendidikan yang ada di Indonesia.

Pesantren juga memainkan peran tidak tergantikan dalam penyebaran Islam di Indonesia. Pesantren menyediakan media sosialisasi formal di mana keyakinan, norma, dan nilai-nilai Islam ditransmisikan serta ditanamkan melalui berbagai aktifitas pengajaran. Dengan kata lain, pesantren berfungsi pula sebagai pengembang ajaran Islam dan pemelihara ortodoksi.

Akibat kuatnya ortodoksi, ideologisasi, dan dogmatisme dalam tubuh pesantren, ajaran agama menjadi sangat normatif, simbolik dan kurang responsif terhadap perkembangan masyarakat di luarnya.

Perkembangan wacana keagamaan kontemporer belum mendapat respon secara produktif, bahkan komunitas pesantren kerap kali dicurigai sebagai agen yang melemahkan ajaran islam. Salah satu bentuk ideologisasi ajaran agama dalam pesantren adalah berkembangnya fundamentalisme agama yang bersifat lunak, seperti menolak karya-karya yang berada di

(31)

luar komunitasnya. Kecenderungan seperti ini kiranya akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama hingga pesantren bersedia membuka diri terhadap wacana baru tentang pluralisme, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup (Marhumah, 2010:1).

C. Posisi dan Peran Gender

Konsep penting yang perlu dipahami dalam rangka membahas masalah kaum perempuan adalah membedakan antara konsep seks dan konsep gender. Pemahaman dan pembedaan terhadap kedua konsep tersebut sangat diperlukan dalam melakukan analisis posisi dan peran perempuan.

Pengungkapan masalah kaum perempuan dengan menggunakan analisis gender sering menghadapi perlawanan dan penolakan oleh mereka yang melakukan kritik terhadap sistem sosial yang dominan seperti kapitalisme, Untuk itu perlu diidentifikasikan timbulnya perlawanan tersebut. Pertama, karena mempertanyakan status kaum perempuan pada dasarnya adalah mempersoalkan sistem dan struktur yang telah mapan, bahkan mempertanyakan posisi kaum perempuan pada dasarnya berarti menggoncang struktur dan sistem status quo ketidakadilan tertua dalam masyarakat. Kedua, banyak terjadi kesalahpahaman tentang mengapa masalah kaum perempuan harus dipertanyakan. Kesulitan lain, dengan mendiskusikan soal gender berarti membahas hubungan kekuasaan yang sifatnya sangat pribadi, yakni menyangkut dan melibatkan individu kita

(32)

masing-masing serta menggugat privilege yang kita miliki dan sedang kita nikmati selama ini. Oleh karena itu, pemahaman atas konsep gender sesungguhnya merupakan isu mendasar dalam rangka menjelaskan masalah hubungan antara kaum perempuan dan laki-laki, atau masalah hubungan kemanusiaan kita.

Persoalan lain, kata gender merupakan kata dan konsep asing sehingga usaha menguraikan konsep gender dalam konteks Indonesia sangatlah rumit dilakukan. Kata gender dipinjam dari bahasa Inggris.

Kalau dilihat dalam kamus, tidak secara jelas dibedakan pengertian kata sex dan gender. Sementara itu, belum ada uraian yang mampu menjelaskan secara singkat dan jelas mengenai konsep gender dan mengapa konsep tersebut penting guna memahami sistem ketidakadilan sosial (Fakih, 1996:7).

Secara garis besar, teori-teori gender dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok pertama.

1. Teori nature

Teori nature menyatakan bahwa perbedaan peran laki-laki dan perempuan di tentukan oleh faktor biologis. Anatomi laki-laki dan perempuan, dengan sederet perbedaannya dengan perempuan, menjadi faktor utama dalam penentuan peran sosial kedua jenis kelamin tersebut.

Laki-laki menjalankan peran-peran utama dalam masyarakat karena secara umum dianggap lebih potensial dan lebih produktif. (Marhumah, 2011:5)

(33)

Secara badaniah, wanita berbeda dengan laki-laki. Wanita mempunyai buah dada yang lebih besar. Suara wanita lebih halus, wanita melahirkan anak, dan sebagainya, kata orang, wanita juga berbeda secara psikologis. Laki-laki lebih rasional, lebih aktif, lebih agresif, wanita sebaliknya lebih emosional, lebih pasif, lebih submisif. (Budiman, 1981:1).

Di sisi lain, organ reproduksi perempuan beserta fungsi yang diasosiasikan kepadanya, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui, dianggap membatasi ruang dan gerak perempuan. Batasan ini tidak berlaku bagi laki-laki. Perbedaan inilah yang melahirkan pemisahan fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan.

2. Teori nurture

Teori nurture lebih melihat bahwa perbedaan karakter dan peran sosial antara laki-laki dan perempuan lebih ditentukan oleh faktor sosial budaya. Perspektif ini menyimpulkan bahwa pembagian kerja antara laki- laki dan perempuan dalam masyarakat tidak ditentukan oleh faktor biologis, tetapi dikonstruksikan oleh budaya, yakni relasi kuasa (power relation) yang secara turun-menurun dipertahankan oleh laki-laki. Bahwa perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan, sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, dan perkasa.

Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia jenis laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang.

Oleh karena itu terbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, di antaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat,

(34)

bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara. Melalui proses panjang sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan. Dinyatakan bahwa yang bersifat biologis yang tidak dapat diubah lagi, sehingga perbedaan- perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan.

Sebaliknya, melalui dialektika, konstruksi sosial gender yang tersosialisasikan secara evolusional dan perlahan–lahan mempengaruhi jenis biologis masing-masing jenis kelamin. Misalnya, karena konstruksi sosial gender, kaum laki-laki harus bersifat kuat dan agresif maka kaum laki-laki kemudian terlatih dan tersosialisasi serta termotivasi untuk menjadi atau menuju ke sifat gender yang ditentukan oleh suatu masyarakat, yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar. Sebaliknya, karena kaum perempuan harus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut tidak saja berpengaruh kepada perkembangan emosi dan fisik serta ideology kaum perempuan, tetapi juga mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya.

Karena proses sosialisasi dan konstruksi berlangsung secara mapan dan lama, akhirnya menjadi sulit dibedakan apakah sifat-sifat gender itu, seperti kaum perempuan lemah lembut dan kaum laki-laki kuat perkasa, dikonstruksi atau dibentuk oleh masyarakat atau kodrat biologis yang ditetapkan oleh Tuhan. Namun, dengan menggunakan pedoman bahwa setiap sifat biasanya melekat pada jenis kelamin tertentu dan

(35)

sepanjang sifat-sifat tersebut bisa dipertukarkan, maka sifat tersebut adalah konstruksi masyarakat, dan sama sekali bukanlah kodrat. (Fakih, 1996: 10)

Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun, yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut, selanjutnya Mill menyatakan bahwa sifat-sifat wanita mencakup suatu kekurangmampuan untuk berfikir abstrak dibandingkan dengan laki-laki (Ollenburger, 1996: 23). Untuk memahami bagaimana perbedaan gender menyebabkan ketidakadilan gender dapat dilihat melalui pelbagai manifestasi ketidakadilan yang nyata. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan, yakni:

a. marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi,

b. subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, c. streotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja lebih

panjang dan lebih banyak, serta sosialisasi ideologi dan peran gender.

Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisahkan karena saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis.

Tidak ada satupun manifestasi ketidakadilan gender yang lebih penting, lebih essensial dari yang lain. Misalnya, marginalisasi ekonomi kaum

(36)

perempuan justru terjadi karena streotipe tertentu atas kaum perempuan dan itu menyumbang kepada subordinasi, kekerasan kepada kaum perempuan, yang akhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan, ideology dan visi kaum perempuan sendiri. Dengan demikian, kita tidak bisa menyatakan bahwa marginalisasi kaum perempuan adalah menentukan dan terpenting dari yang lain dan oleh karena itu perlu mendapat perhatian lebih. Atau sebaliknya, bahwa kekerasan fisik (violence) adalah masalah paling mendasar yang harus dipecahkan terlebih dahulu (Fakih, 1996:13).

D. Analisis Gender Menurut Perspektif Agama

Gerakan feminisme telah banyak menyumbangkan inspirasi pemikiran, bahkan pemahaman terhadap terciptanya dunia yang lebih baik dan lebih adil. Gerakan feminisme tidak hanya mempengaruhi lembaga-lembaga birokrasi pembangunan, teori-teori baru ilmu sosial dan penelitian sosial, bahkan juga mempengaruhi pandangan berbagai agama, paling tidak memaksa kaum agamawan untuk melihat, mengevaluasi kembali tafsiran terhadap posisi perempuan yang selama ini ada.

Al-Quran sebagai rujukan prinsip masyarakat Islam, pada dasarnya mengakui bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama.

Keduanya diciptakan dari satu nafs (living entity), di mana yang satu tidak memiliki keunggulan terhadap yang lain. Bahkan Al-Qur’an tidak

(37)

menjelaskan secara tegas bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam AS sehingga kedudukan dan statusnya lebih rendah. Atas dasar itu, prinsip Al-Qur’an terhadap lelaki dan perempuan adalah sama, di mana hak istri diakui sederajat dengan suami. Dengan kata lain, laki-laki memiliki hak dan kewajiban terhadap perempuan dan sebaliknya perempuan juga memiliki hak dan kewajiban terhadap laki-laki apalagi jika dikaitkan dengan konteks masyrakat pra Islam yang ditransformasikannya.

(Fakih,1996:130)

Dengan hak dan kewajiban yang sesuai dengan posisi dan porsinya, maka akan terlihat bahwa satu sama lain mempunyai fungsi saling tergantung. Dalam hal ini terlihat, bahwa antara suami dan istri adalah merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dan sangat tepat bila dikatakan di antara mereka secara potensial merupakan Courterpart (Hemas, 1992: 37)

Sebagaimana firman Allah dalam surah An-nisa ayat 32

“Persamaan kedudukan laki-laki dan perempuan selain dalam hal pengambilan keputusan, juga dalam hak ekonomi, yakni untuk memiliki harta kekayaan dan tidaklah suami ataupun bapaknya boleh mencampuri harta.”

Tafsir keagamaan tetap memegang peran penting dalam melegitimasi dominasi atas kaum permpuan. Persoalannya di sini adalah, mengapa Al-Qur’an seolah-olah menempatkan kedudukan laki-laki di atas perempuan. Ali Enginer (1992) mengusulkan dalam memahami ayat yang berbunyi “ laki-laki adalah pengelola atas perempuan” hendaknya

(38)

dipahami sebagai deskripsi keadaan struktur dan norma sosial masyarakat pada saat itu, dan bukan suatu norma ajaran. Ayat tersebut menjelaskan bahwa saat itu laki-laki adalah manager rumah tangga, dan bukan pernyataan kaum laki-laki harus menguasai, memimpin.

Bahkan seorang Perempuan dapat menjadi kepala negara, pemimpin lembaga atau kepala rumah tangga, karena kalau kita telaah melalui Al-Quran, tidak ada alasan yang tegas untuk melarang perempuan memiliki posisi seperti itu, dengan peristiwa perang Unta di mana Aisyah istri Nabi memimpin Komando Perang, (Fakih, 1996;134)

Islam amat menganjurkan penegakan prinsip keadilan. Al-Qur’an sebagai kitab suci banyak mengandung prinsip-prinsip dasar atau pedoman moral tentang keadilan tersebut.

Bila kita menekuni berbagai persoalan menyangkut gender, kita akan menemukan berbagai tafsir yang dianggap strategis dan perlu mendapat perhatian dalam melakukan kajian. Pertama menyangkut subordinasi kaum perempuan akibat penafsiran yang meletakkan kaum perempuan dalam kedudukan dan martabat yang tidak subordinatif terhadap kaum laki-laki.Semangat hubungan laki-dan perempuan dalam Islam bersifat adil. Oleh karena itu, subordinadsi kaum perempuan merupakan suatu keyakinan yang berkembang di masyarakat yang tidak sesuai atau bertentangan dengan semangat keadilan, seperti firman Allah dalam Al-Quran surah al-Hujurat ayat 14 yang berbunyi: “Sesungguhnya telah aku ciptakan laki-laki dan perempuan berbangsa dan bersuku-suku

(39)

agar kalian lebih saling mengenal, Sesungguhnya yang mulia di antara kalian adalah yang paling takwa.” Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tafsiran agama Islam amat menekankan ketakwaan dan tidak membedakan antara lelaki dan perempuan dalam meraih ketakwaan itu sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang, yang terlepas dari jenis kelamin yang dimilikinya.

Hal tersebut berhubungan dengan teori konvensiol fungsionalisme yang dikembangkan oleh Rober merton dan Talcott parson yang menyatakan bahwa masyaratkat adalah suatu sistem yang terdiri atas bagian dan saling berkaitan (agama, pendidikan, struktur politik sampai keluarga) dan masing-masing bagian secara terus menerus mencari keseimbangan (equilibrium) dan harmoni, dapat menjelaskan posisi tentang kaum perempuan dan pola yang nonnormatif dianggap akan melahirkan gejolak.

Ketika teori ini digunakan dalam membahas keluarga dan gender.

Maka yang terlihat adalah bagaimana keluarga sebagai suatu institusi memberikan sumbangannya terhadap seluruh fungsi dari anggota- anggota keluarga. Model ini melihat adanya pembagian tugas antara laki- laki dan perempuan atau antara suami dan istri di mana laki-laki sebagai suami menjadi kepala rumah tangga bertugas di luar rumah dan mencari nafkah, sedangkan perempuan sebagai istri bertugas mengurus rumah tangga dan melakukan sosialisasi terhadap anak-anaknya serta memberikan dukungan moral dan emosional kepada suami.

(40)

Jadi, dapat terlihat ada pemisahan peranan antara laki-laki dan perempuan, selain itu dari sudut harapan- harapan kebudayaan, laki-laki lebih diarahkan pada hal-hal untuk mencapai prestasi, keahlian sedangkan, perempuan lebih mengarah pada hal-hal yang menimbulkan kehangatan, pemenuhan emosi dan perasaan.

E. HAK-HAK SUAMI DAN ISTRI DALAM AGAMA ISLAM

Ada beberapa hal yang wajib dipelajari oleh seorang wanita. Di antaranya:

1. Mengenal Allah swt, dengan keesaan-Nya dan sifat-sifatNya, serta membenarkan Rasul-Nya

2. Mengetahui segala yang disukai dan dibenci oleh Allah

3. Mengetahui tata cara shalat, bersuci, berpuasa, haji dan zakat apabila anda memiliki harta.

4. Memahami tata cara berinteraksi dengan suami, serta hal-hal yang disukai dan dibencinya

5. Memahami kiat-kiat mendidik anak dengan benar.

Hendaknya para suami menyadari bahwa pernikahan mereka membawa konsekuensi memikul tugas yang agung dan besar, menyamai tugas para nabi. Mereka pun dimintai pertanggungjawaban tentang sejauh mana mereka telah mengajak istri-istri mereka dan anak-anak mereka kepada agama Allah, syariat-Nya, sejauh mana mereka telah mendidik mereka atas syariat itu, menjadikan amal perbuatan mereka sesuai

(41)

dengan perintah Allah, akhlak mereka dan kepribadian mereka mencontoh seperti yang dimiliki oleh Rasulullah saw. (Al Uwway, 2002:84)

Dan hendaknya pula para istri merenungi bagaimana Islam telah melindungi mereka, memerintahkan kepada kaum lelaki agar berbuat kebajikan kepada mereka, melarang kaum lelaki mengambil hak-hak mereka dengan larangan yang keras, peringatan dan ancaman yang menyebabkan suami harus berfikir seribu kali sebelum tangan dipergunakan untuk mengambil sedirham dari mahar (maskawin) istrinya.

Penyebab timbulnya permasalahan keluarga sangatlah banyak, di antaranya:

1. Perbedaan agama,

2. Perbedaan standar akhlak, misalnya pasangan yang baik agamanya dengan yang fasik

3. Perbedaan wawasan yang sangat mencolok, khususnya bila istri memiliki wawasan yang lebih luas dari suami

4. Perbedaan kebiasaan sosial, misalnya orang kota dan orang desa, atau sebaliknya.

5. Tingkat keserasian yang terlalu jauh antara suami dalam hal rupa, tinggi badan, pendidikan, wawasan dan status sosial

6. Tumpang tindih tugas dan tanggung jawab, misalnya, istri yang bekerja dan menafkahi keluarga, sementara suami menganggur di rumah.

(42)

7. Kurang menghargai kondisi pasangan, misalnya suami pulang kerja dalam kondisi letih dan ingin istirahat, sementara istri juga capek setelah mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak, dan bosan berada di rumah. Apabila suami istri ini tidak memperoleh jalan tengah untuk bisa keluar dari permasalahan ini, boleh jadi akan timbul banyak masalah antara mereka berdua.

8. Perbedaan watak yang cukup mencolok. Misalnya, suami dermawan sementara istri pelit, yang satu ekstrovert sementara yang lain introvert, yang satu banyak bicara dan yang lain pendiam, serta yang satu suka membaca sedang yang lain tidak. (Shahi,2007:329)

F. AGAMA DAN MASYARAKAT

Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:

Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada keraguan lagi

Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.

Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan-Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan antarumat beragama sesuai dengan ajaran agama

Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan yang dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.

Umat beragama, yakni penganut masing-masing agama

(43)

Agama adalah salah satu bentuk konstruksi sosial. Tuhan, ritual, nilai, hierarki keyakinan-keyakinan, dan perilaku religious, menurut sosiologi adalah untuk memperoleh kekuatan kreatif atau menjadi subjek dari kekuatan lain yang lebih hebat dalam dunia sosial. Agama menyatukan anggota suatu masyarakat melalui deskripsi simbolik umum mengenai kedudukan mereka dalam kosmis, sejarah, dan tujuan mereka dalam keteraturan segala sesuatu. Agama juga mensakralkan kekuatan atau hubungan-hubungan yang terbangun dalam suku.oleh karena itu, agama merupakan sumber keteraturan sosial dan moral, mengikat anggota masyarakat ke dalam suatu proyek sosial dan bersama, sekumpulan nilai, dan tujuan sosial bersama.(Berger, 1990 :275).

Agama juga sebagai candu, membius rakyat dalam suasana ketertindasan mereka, menjanjikan pahala di kehidupan akhirat, atau memberikan jalan keluar ritual agar mencapai kegembiraan yang luar biasa sebagai kompensasi atas status mereka yang rendah dan penindasan yang mereka alami.(London: Marmillan, 1987).(Berger,1990:

278).

Taylor dan spencer menganggap agama sebagai suatu hasil pemikiran manusia dan hasratnya untuk mengetahui. Ini adalah bagian, dan bukan hakikat, dari kebenaran itu. Durkheim, dan belakangan Freud, mengemukakan landasan-landasan agama yang bersifat naluriah dan emosional. Meskipun perasaan dan emosi merupakan aspek-aspek tingkah laku keagamaan, namun agama itu sendiri tidak dapat dianggap

(44)

sebagai “sesuatu yang semata-mata“ didorong kelahirannya oleh kegembiraan kelompok khalayak ramai (seperti sering disebut-sebut Durkheim). (1990:7)

Agama senantiasa dipakai untuk menanamkan keyakinan baru ke dalam hati sanubari terhadap alam gaib dan surga-surga telah didirikan di alam tersebut. Namun demikian agama juga berfungsi melepaskan belenggu-belenggu adat atau kepercayaan manusia yang sudah usang.

Ide tentang Tuhan telah membantu memberi semangat sehari-hari, menerima nasibnya yang tidak baik, atau bahkan “berusaha mengatasi masalah kesukaran-kesukaran yang banyak dan berusaha mengakhirinya.

(Elizabeth, 1990:4) Adapun sumbangan agama terhadap pemeliharaan masyarakat.

Pertama, agama telah membantu mendorong terciptanya persetujuan mengenai sifat dan isi kewajiban-kewajiban sosial tersebut dengan memberikan nilai-nilai yang berfungsi menyalurkan sikap-sikap para anggota masyarakat dan menetapkan isi kewajiban-kewajiban sosial mereka. Dalam peranan ini agama telah membantu menciptakan sistem- sistem nilai sosial yang terpadu dan utuh.

Kedua, terdapat alasan-alasan yang kuat untuk mempercayai bahwa agama juga telah memainkan peranan vital dalam memberikan kekuatan memaksa yang mendukung dan memperkuat adat-istiadat . dalam hubungan ini patut diketahui bahwa sikap mengangungkan dan rasa hormat, terutama yang berkaitan dengan adat-istiadat (moral) yang

(45)

berlaku, berhubungan erat dengan perasaan-perasaan kagum, ditimbulkan oleh yang sacral itu sendiri. (Elizabeth, 1990: 36)

Agama dan pengintegrasian nilai-nilai

Apabila masyarakat diharapkan tetap stabil, dan tingkah laku sosial masyarakat bisa tertib dan baik, maka tingkah laku yang baik harus ditata dan dipolakan sesuia dengan prinsip-prinsip tertentu yang relatif diterima dan disepakati bersama . prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan-tujuan atau merupakan sasaran utama tingkah laku sosial manusia. Tujuan- tujuan semacam itu pada umumnya disebut sebagai nilai-nilai. Pada saat nilai-nilai suatu masyarakat dapat diintegrasikan dalam suatu tatanan atau sistem yang berarti, pada saat itulah anggota-anggota masyarakat dapat bersatu menuju kesatu arah dalam tingkah laku mereka( suatu keadaan yang mungkin tidak pernah tercapai secara sempurna. (Elizabeth, 1990:38)

Namun, penyesuaian terhadap norma-norma sosial itu ternyata lebih besar kemungkinannya apabila norma-norma itu ditunjang oleh ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang berat Ganjaran- ganjaran dan hukuman-hukuman atau sanksi sanksi sosial tersebut, sampai taraf tertentu memang diakui dalam semua kebanyakan orang hanya norma sosial, walaupun kebanyaberikan orang hanya kerena diberikan ganjaran secara psikologis, mau menyesuaikan diri dengan norma-norma itu, atau karena pernah menerima hukuman dalam arti informal dan sanksi hukum berupa cemoohan dari teman-teman mereka. Akan tetapi jika norma-

(46)

norma itu terdapat dalam rangka acuan bersifat sacral, maka norma- norma tersebut dikukuhkan pula dengan sanksi-sanksi yang sacral; dan dalam hampir semua masyarakat sanksi-sanksi tersebut mempunyai kekuatan memaksa yang istimewa, karena, tidak hanya menyangkut ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat duniawi dan manusiawi tetapi juga ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat supra manusiawi dan ukhrawi (Elizabeth,1990: 40).

G. TIPE KELUARGA BERHASIL

1. Keluarga ideal

Dengan mempelajari perceraian dan penganiayaan keluarga, terkadang dengan mudah masyarakat menyimpulkan bahwa pernikahan jarang berhasil. Namun ini keliru karena Henslin (2006:143) membantah anggapan tersebut. Mendukung bantahannya ini, Henslin mengutip pandangan Cherlin dan Fusrtenberg (1988), Whyte (1992), bahwa sekitar dua dari tiga orang menikah di Amerika merasa sangat bahagia dari pernikahan mereka. Sejalan dengan ini, Henslin juga mengutip hasil penelitian Jeannette dan Robert Lauer (1992) yang telah melakukan wawancara terhadap 351 pasangan yang telah menikah selama lima belas tahun atau lebih. Ternyata, dari hasil penelitian Jeannette dan Robert Lauer tersebut ditemukan bahwa terdapat 51 pasangan mengaku tidak bahagia tapi mereka tidak bercerai dengan alasan agama dan tradisi keluarga atau demi anak-anak. Selebihnya adalah pasangan yang

(47)

bahagia. Ada beberapa alasan mengapa 300 pasangan merasa bahagia adalah:

1. Menganggap pasangan mereka sebagai teman terbaik mereka.

2. Menyukai diri sang pasangan.

3. Menganggap pernikahan sebagai komitmen seumur hidup.

4. Percaya bahwa pernikahan bersifat suci.

5. Sepangan dengan pasangan dalam hal sasaran dan tujuan.

6. Percaya bahwa pasangan mereka telah tumbuh menjadi seorang yang semakin menarik seiring dengan waktu.

7. Sangat menginginkan agar hubungan mereka langgeng.

8. Tertawa bersama.

Sementara itu, hasil penelitian Sosiolog Nicholas Stinnet (1992) yang meneliti 660 keluarga di seluruh Amerika, ia menemukan bahwa keluarga bahagia cenderung:

1. Menghabiskan banyak waktu bersama.

2. Mampu memuji dengan cepat.

3. Bertekad meningkatkan kesejahteraan satu sama lain.

4. Menghabiskan banyak waktu berbincang-bincang dan mendengarkan satu sama lain.

5. Religius.

6. Menghadapi krisis dengan cara yang positif.

(48)

Sosiolog lain telah menemukan bahwa semakin baik hubungan pasangan dengan para mertua, semakin bahagia pernikahannya (Henslin, 2006:143).

2. Keluarga sehat

Selain keluarga bahagia yang ideal sebagaimana dibahas dalam pembahasan di atas, juga dikenal istilah keluarga sehat. Isitilah ini datang dari Fred P. Piercy, seorang sosiolog dari Purdue University. Piercy (1989:

1-7) yang juga pernah melakukan studi terhadap keluarga di Indonesia mengemukakan beberapa elemen keluarga sehat, yaitu:

a. Affective status (status kebersamaan)

Setiap keluarga sehat senantiasa dalam keadaan hangat, menyenangkan dan saling menjaga ketentraman. Anggota-anggota keluarga berusaha untuk saling mengerti. Sehingga, siapapun akan merasa nyaman menjadi anggota keluarga ini.

b. Communication (komunikasi)

Anggota keluarga saling berkomunkasi secara spontan dan natural, dan saling memperjelas komunikasi satu sama lain. dalam hal ini, masing- masing anggota keluarga saling memberi kesempatan untuk mendengarkan dan didengarkan.

c. Boundaries (keterikatan)

Setiap anggota keluarga merasakan bahwa mereka saling berhubungan satu dengan lainnya. Mereka memahami dan menghargai identitas masing-masing anggota keluarga sebagai bahagian dari tradisi.

(49)

Masing-masing anggota keluarga merasa nyaman dengan keberadaan keluarga itu, demikian pula halnya dengan anggota-anggota keluarga lainnya sebagai unit keluarga memiliki perasaan yang sama. Pengertian ini juga bermakna bahwa peran dan posisi orang tua ditempatkan sebagaimana mestinya, demikian pula orang tua dan anak-anak saling memahami dan menghormati peran masing-masing.

d. Alliances (aliansi)

Aliansi merupakan hubungan antara anggota-anggota keluarga.

Ayah dan ibu pada keluarga sehat di Barat senantiasa dalam suasana hangat, supportif, bersifat mengasihi dan mampu bekerja bersama dengan baik. Mereka juga saling melakukan pengasuhan dan keduanya menikmati hal tersebut. Orang tua dalam keluarga ini sangat memperdulikan pengasuhan dan tumbuh kembang anak-anak mereka.

e. Adaptability and stability (adaptabilitas dan stabilitas)

Tantangan suatu keluarga adalah memenuhi anggota keluarga satu dengan lainnya menurut kebutuhan khusus mereka masing-masing.

Dalam hal ini setiap anggota keluarga mampu melakukan adaptasi terhadap anggota lainnya. Sementara stabilitas bermakna bahwa keluarga adalah kelompok yang terus berkembang dan maju sehingga setiap anggota keluarga berkomitmen untuk berkembang dan maju bersama.

(50)

f. Family competence (kompetensi keluarga)

Keluarga sehat memiliki kompetensi keluarga berupa kemampuan untuk memelihara, mendidik dan mensosialisasikan anggota-anggota keluarga.

g. Cohesion (kohesi atau keberpaduan)

Pengertian ini agak mirip dengan kondisi kebersamaan atas dasar kasih sayang. Inilah yang menjadi tingkat di mana keluarga merasa saling dekat satu dengan lainnya dalam kondisi yang wajar. Bahwa kedekatan dan kejauhan anggota keluarga yang berlebihan dinilai tidak baik. Jika seorang istri atau anak-anak melarang ayah mereka pergi bekerja karena alasan kejauhan maka hal ini juga tidak benar. Atau dalam kondisi lain, anak-anak tidak pernah meninggalkan rumah karena alasan kedekatan.

Artinya, setiap anggota keluarga harus memahami batas-batas kewajaran yang dekat dan jauh dari keluarga.

3. Keluarga demokratis

Giddens (2000: 102-111) menegaskan bahwa keluarga tidak mungkin lagi kembali pada pola keluarga tradisonal karena keluarga juga mengalami perubahan-perubahan. Kondisi kekinian menunjukkan bahwa ada ketidakberesan dalam perkawinan, keluarga dan pengasuhan anak.

Karena itu dibutuhkan kondisi keluarga yang ideal. Bagi Giddens, hanya ada satu kisah keluarga yang pantas untuk zaman sekarang ini, yaitu keluarga demokratis.

(51)

Keluarga harus terdemokratisasi melalui proses-proses seperti yang berlangsung dalam demokrasi publik. Pendemokrasian seperti itu menunjukkan bagaimana keluarga mengkombinasikan pilihan individu dan solidaritas sosial. Kriterianya amat mirip. Demokrasi dalam ruang publik melibatkan kesamaan formal, hak-hak individual, diskusi publik dengan berbagai isu tanpa kekerasan, dan otoritas bukan dilahirkan dari tradisi.

Keluarga demokratis juga memiliki ciri-ciri tersebut.

Karena itu, demokrasi dalam keluarga mengimplikasikan kesetaraan, saling menghormati, otonomi, pengambilan keputusan melalui komunikasi dan kekebasan dari kekerasan. (Simmau, 2012)

Referensi

Dokumen terkait

Jadi yang dimaksud dengan pembaharuan akad nikah masyarakat muslim berdasarkan Petungan Jawa adalah sebuah tradisi masyarakat yang dilakukan antara pasangan suami