• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Sistem Point of Sales berbasis Web (Studi Kasus: Sedudam Cafe)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengembangan Sistem Point of Sales berbasis Web (Studi Kasus: Sedudam Cafe)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas Ilmu Komputer

Universitas Brawijaya 4047

Pengembangan Sistem Point of Sales berbasis Web (Studi Kasus: Sedudam Cafe)

Hafiz Maulana1, Denny Sagita Rusdianto2, Komang Candra Brata3 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

Abstrak

Café saat ini tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga memainkan peran penting dalam aspek politik, budaya dan sosial dalam kehidupan sehari hari bagi turis dan penduduk kota. Pada Kota Malang jumlah café yang terdata pada BP2D terdapat 144 café, salah satunya yakni Cafe Sedudam yang terletak pada daerah Soekarno Hatta. Sedudam Café menggunakan aplikasi kasir bernama SPOTS untuk membantu transaksi penjualan yang hanya dapat melakukan transaksi kasir pada umumnya seperti transaksi jual menu dan cetak struk pembelanjaan. SPOTS memiliki permasalahan dalam hal untuk menghitung keuangan yaitu seperti menghitung profit dan permasalahan tracking stok bahan baku.

Berdasarkan permasalahan tersebut, ada solusi yang dapat digunakan yaitu Sistem Point of Sales (POS) berbasis web. Pada Sistem POS terdapat fitur-fitur yang terdapat pada sistem tersebut, yaitu fitur penjualan, inventaris, tracking stok bahan baku dan modul pelaporan. Pada penelitian ini menggunakan metode waterfall untuk pengembangkan sistemnya. Terdapat 48 kebutuhan fungsional dan 1 kebutuhan non fungsional pada pengembangan ini. Pengujian fungsional yang dipakai pada pengembangan ini yakni pengujian validasi dan pengujian unit yang menghasilkan 100% valid. Untuk pengujian non fungsional menggunakan compatibility testing yang menghasilkan sistem dapat berjalan beberapa browser yakni firefox dan chrome. Pengembangan ini diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan pada café Sedudam.

Kata kunci: cafe, point of sale, tracking stok bahan baku Abstract

The café nowadays not only provides food, but also plays an important role in the political, cultural and social aspects of daily life for tourists and the citizens itself. The number of cafes in Malang which recorded by BP2D is 144 cafes, one of them is Sedudam Cafe which is located in the Soekarno-Hatta area. Sedudam Café uses a cashier application called SPOTS to assist sales transactions which can only carry out cashier transactions in general, such as menu selling and receipt printing transactions.

SPOTS has problems in terms of financial calculation, such as calculating profit and tracking raw material stock problems. Based on these problems, there is a solution that can be used, which is the web-based Point of Sales (POS) system. In the POS System, there are features found in the system, which are the features of sales, inventory, raw material stock tracking and reporting modules. In this study, the waterfall method is used for system development. There are 48 functional requirements and 1 non- functional requirement in this development. Functional testing used in this development is validation testing and unit testing which produces 100% valid. Non-functional testing uses compatibility testing which results in the system running multiple browsers, they are Firefox and Chrome. This development is expected to be able to help solve the problems in Sedudam Café.

Keywords: cafe, point of sale, tracking raw material stock

1. PENDAHULUAN

Café saat ini tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga memainkan peran penting dalam aspek politik, budaya dan social dalam

kehidupan sehari hari bagi turis dan penduduk kota (Warner, et al., 2012). Pada Kota Malang jumlah café yang terdata pada BP2D terdapat 144 café, pertumbuhan bisnis dibidang food and bavarage khusus nya café sangat berkembang 2-

(2)

3 tahun belakangan ini (Thoriq, 2019). Pada daerah Soekarno Hatta banyak café coffe yang baru merintis, salah satunya Café Sedudam Café merupakan salah satu coffeeshop di Kota Malang yang berdiri di tahun 2019 pada bulan maret. Café ini didirikan oleh Sena Rizki dan 5 temannya, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Kota Malang.

Pada saat ini, Sedudam Café menggunakan aplikasi kasir bernama SPOTS untuk membantu transaksi penjualan. Dengan menggunakan aplikasi kasir bernama SPOTS ini yang hanya dapat melakukan transaksi kasir pada umumnya seperti transaksi jual menu dan cetak struk pembelanjaan, terdapat permasalahan dalam hal untuk menghitung keuangan yaitu seperti menghitung profit harian dan omset harian atau bahkan bulanan. Permasalahan tersebut dapat berdampak pada kelalaian dalam hal menghitung laporan keuangan sehingga informasi yang di dapat tidak optimal dari data penjualan tiap waktunya.

Pada Café Sedudam tidak hanya permasalahan pencatatan keuangan saja yang bermasalah, melainkan adapun permasalahan dalam hal pengecekan stok seluruh bahan baku yang tersedia pada café tersebut. Permasalahan ini bisa timbul kapanpun dikarenakan kurangnya pencatatan dan pemeriksaan berkala dalam hal stok bahan baku itu sendiri. Pada permasalahan pengecekan stok bahan baku yakni berdampak pada hasil penjulan harian, dimana toko Sedudam pernah mengalami kerugian tidak tercapainya target harian café Sedudam sendiri, target harian Sedudam yakni 50cup sehari dan pada saat itu hanya terjual setengahnya saja dari target harian (Triyudanto, 2019). Dalam Bisnis Food and Beverage, sebuah café membutuhkan sebuah sistem yang mendukung agar bisnis tersebut berjalan lancar, tidak hanya sekedar Cash Register dan penyimpanan uang. (Gillum

& Rob, 2011).

Pada permasalahan yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul pada café Sedudam, seperti masalah menghitung keuangan, kelalaian dalam menghitung laporan keuangan, dan masalah pengecekan stok bahan baku. Berdasarkan masalah-masalah tersebut, ada solusi yang dapat digunakan yaitu Sistem Point of Sales (POS). Pada Sistem Point of Sales terdapat fitur-fitur yang terdapat pada sistem tersebut, yaitu fitur penjualan, inventaris, tracking stok bahan baku dan modul pelaporan.

Hal yang diharapkan setelah adanya sistem ini

yaitu dapat mempermudah dalam hal transaksi penjualan dan mempermudah pengecekan stok secara berkala, dimana saat stok menipis akan muncul notif pada sistem yang akan dikembangkan.

2. DASAR TEORI 2.1 Café Sedudam

Café Sedudam Merupakan Salah Satu Café yang bergerak dalam penjualan menu perkopian, Café ini memiliki Slogan “Caffeine With Logic”. Café ini berlokasi pada Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia dan didirikan pada tahun 2019. Café ini menawarkan beberapa menu kopi yang berbeda dari café lainnya yakni menu ice bon-bon dan andoffee. Pada tahun 2019 yakni tahun dimana café Sedudam dalam proses pengembangan café, dimana pada tahun itu banyak sekali cafe yang sudah berdiri dan mempunyai pelanggan masing-masing. Tetapi pada saat awal pembukaan café Sedudam hingga berjalannya waktu tetap memiliki pelanggan setia dikarenakan ciri khas menu pada café Sedudam dan memiliki tempat yang tenang, Alasan itulah yang menjadikan para pembeli ingin berkunjung pada café Sedudam (Triyudanto, 2019).

2.2 Point Of Sales

Point of sales (POS) mempunyai arti yang sederhana yaitu perangkat lunak yang berfungsi dalam hal pencatatan transaksi jual beli pada suatu bisnis atau perusahaan (Wong, 2010).

Sebelum adanya sistem point of sale kebanyakan orang mempunyai bisnis menggunakan mesin Cash Register dan menggunakan pencatatan manual menggunakan nota kertas. Sistem point of sale ini sudah berkembang pesat, banyak sekali aplikasi yang sudah terkenal pada saat ini yaitu Pawoon, Moka dan masih banyak lainnya.

Penggunaan sistem point of sale pada jaman sekarang tidak hanya menjadi tempat pencatatan transaksi jual beli secara otomatis, banyak hal yang bisa di manfaatkan menggunakan sistem POS, sebagai contoh melakukan pembukuan dan melakukan tracking stok bahan baku.

Sistem POS bertujuan untuk membuat kita menjadi cashless dalam hal berbelanja atau bisa diartikan transaksi tanpa memerlukan uang tunai atau cash. Tetapi sistem POS memerlukan perangkat yang dapat menunjang agar berjalan dengan baik, seperti card readers, server, touch screen, scan barcode dan peralatan elektronik

(3)

penunjang lainnya (Stein, 2005).

2.3 Metode Waterfall

Metode Waterfall merupakan meodel tradisional dari SDLC (Software Development Lifecycle). Pada model waterfall mendefinisikan beberapa tugas dasar secara berurutan, yakni requirement, dsign, implementation, verification dan maintenance (Barjtya, et al., 2015).

Pada model waterfall ini memiliki persyaratan dimana setiap fase atau step harus selesai terlebih dahulu sebelum masuk ke fase selanjutnya, setelah fase sebelumnya selesai maka baru fase berikutnya boleh dilakukan atau dilaksanakan dan tidak ada pilihan untuk kembali ke fase sebelumnya (Barjtya, et al., 2015). Pada metode waterfall memiliki keuntungan dan kerugian yakni :

1. Mudah dimengerti

2. Tahapan telah ditentukan dengan baik 3. Kita tidak bisa balik ke fase sebelumnya

4. Keterlibatan klien sedikit

Gambar 1 Waterfall Model

Sumber : (Sommerville, 2011)

3. METODOLOGI PENELITIAN

Terdapat enam tahapan metodologi yang nantinya digunakan pada penelitian, tahap tersebut dapat dilihat pada gambar 2.

Metodologi yang dipakai untuk mengerjakan penelitian meliputi studi literatur, analisis lebutuhan, perancangan sitem, implementasi sistem, pengujian sistem, mengambil kesimpulan dan saran, hingga selesai. Penelitian ini menggunakan SDLC model waterfall dan pendekaran berorientasi objek.

Gambar 2 Metodologi Penelitian

Dalam fase studi literatur, mengetahui dan mengamati landasan teori yang digunakan demi membantu mengembangkan sistem point of sales dan mendukung goals tujuan penelitian.

Dalam menganalisis kebutuhan, komunikasi dilaksanakan dengan mengeksplorasi apa yang dibutuhkan orang yng diwawancarai pada studi kasus. Pada tahap analisis kebutuhan terdapat proses untuk melaksanakannya yakni elisitasi kebutuhan, cara yang digunakan yaitu dengan wawancara langsung kepada pemilik café yang bernama Sena dan observasi. Setelah mendapatkan kebutuhan nantinya digabarkan dalam bentuk use case diagram dan use case scenario. Selanjutnya yaitu tahap perancangan Sistem.

Pada tahap perancangan sistem, aplikasi yang akan dirancang sesuai dengan kebutuhan yang sudah digali sebelumnya. Hasil dari tahap sebelumnya yaitu mendapatkan kebutuhan, ada kebutuhan yang harus ada dalam sistem yakni transkasi, tracking stok bahan baku, laporan penjualan dan mengatur komposisi menu.

Setelah mendapatkan kebutuhan apa saja yang diberikan oleh user, kebutuhan tersebut akan di terjemahkan kedalam UML. Setelah semua tahap perancangan dilakukan maka hasil dari tahap perancangan nanti digunakan untuk tahap implentasi sistem.

Pada tahap implementasi, peneliti akan mengimplementasikan fungsi-fungsi yang telah di dapat pada tahap analsisi kebutuhan menjadi program berbasis website. Pada penelitian ini bahasa PHP, HTML dan javascript digunakan untuk membantu proses implementasi sistem,

(4)

selain itu basis data MySql dan framework Codeigniter juga digunakan untuk menbantu tahap implementasi sistem. Setelah tahap implementasi sistem akan dilakukan pengujian.

Pada tahap pengujian memiliki tujuan untuk memastikan atau mengevaluasi apakah program telah sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan sudah sesuai alur dari program tersebut. Pada tahap pengujian ini, peneliti menggunakan 3 tahap pengujian. Pertama pengujian white box menggunakan metode basis path testing dimana berfungsi untuk memastikan kompleksitas logika. Selanjutnya pengujian black box menggunakan pengujian validasi yang bertujuan untuk meyakinkan apakah persyaratan dalam fungsional telah terpenuhi dalam sistem. Dan terakhir pengujian compatibility yang memiliki tujuan untuk menemukan kesalahan yang terdapat pada saat eksekusi yang di telusuri dari perbedaan konfigurasi.

Pada tahap akhir yakni pengambilan kesimpulan dan saran. Kesimpulan didapatkan setelah semua tahap selesai dilakukan.

Kemudian tujuan membuat saran yaitu untuk membantu pengembangan sistem ini yang akan dilakukan oleh peneliti selanjutnya.

4. ANALISIS KEBUTUHAN 4.1 Gambaran Umum Sistem

Sistem POS Sedudam café adalah sistem yang didalam nya berisi kasir, transaksi penjualan dan tracking stok bahan baku. Sistem ini dikembangkan berbasis web. Sistem point of sales berfungsi untuk membantu proses transaksi penjualan, pengolahan data keuangan, selain itu sistem ini dapat melakukan pengelolaan bahan baku. Pada saat stok bahan baku ingin habis atau menipis nantinya akan muncul stok notifikasi bahan yang akan habis. Fitur yang di sediakan pada sistem ini antara lain kasir, dapat melakukan proses transakasi penjualan menu apa yang di pilih oleh pembeli. Selain itu adapun fitur lain seperti data reporting, yang dapat melihat data reporting yaitu admin, data yang terdapat di reporting yaitu laporan penjualan dan laporan pendapatan.

4.2 Elisitasi Kebutuhan

Teknik yang digunakan pada tahap elisitasi kebutuhan pada café Sedudam ini menggunakan 2 teknik, yaitu wawancara dan observasi.

Wawancara dilakukan terhadap salah satu pemilik café Sedudam yaitu Sena Rizki, serta

beberapa pemilik lainnya yang akan terkait pada sistem yang dibuat. Tujuan dari wawancara yaitu untuk memahami permasalahan apa yang terjadi, pihak yang terlibat dalam sistem, proses bisnis yang terjadi dalam proses transaksi café Sedudam dan fitur apa saja yang diperlukan pada sistem ini. Selanjutnya pada proses observasi dilakukan pengamatan dan mengumpulkan data- data yang berhubungan untuk melakukan penelitian. . Pada tahap elisitasi kebutuhan didapatkan proses bisnis dari proses transaksi café Sedudam.

4.3 Identifikasi Aktor

Identifikasi aktor menjelaskan aktor yang terlibat pada sistem point of sales sedudam café.

pada sistem ini terdapat 3 aktor yakni admin, kasir, dan user. Untuk lebih detail peranan aktor dalam sistem dijelaskan pada table 1.

Tabel 1 Identifikasi Aktor

Aktor Hasil Penelitian

User Aktor yang hanya bisa mengakses web, belum terdaftar pada sistem dan hanya bisa melakukan login Admin Aktor yang mempunyai peran

khusus pada sistem ini. Yakni mengelola bahan baku, komposisi menu, keuangan dan pengguna.

admin juga dapat melakukan transaksi jual beli.

Kasir Aktor ini dapat melakukan proses transasksi layaknya kasir pada umumnya dan dapat memantau bahan baku, komposisi menu, keuntungan dan laporan penjualan.

4.4 Spesifikasi Kebutuhan

Hasil dari analisis yang sudah dilaksanakan, terdapat 48 kebutuhan fungsional dan 1 kebutuhan non-fungsional yakni compatibility. 48 kebutuhan fungsional itu harus ada pada sistem, yang berguna untuk membantu pengguna menjalankan sistem tersebut. Dan kebutuhan non-fungsional yaitu untuk menunjang sistem dapat berjalan dengan baik di berbagai platform.

4.5 Pemodelan Kebutuhan

Pada permodelan kebutuhan ini sistem digambarkan dalam bentuk diagram-diagram.

Pemodelan pada penelitian ini dijelaskan dalam bentuk use case diagram yang menjelaskan fungsi pada masing masing aktor didalamnya.

Dan pada use case scenario menjelaskan lebih

(5)

detail seperti apa jalannya fungsi yang dilakukan oleh para aktor. Pada gambar 3 menjabarkan use case diagram.

Gambar 3 Use Case Diagram

5. PERANCANGAN SISTEM

Pada tahap perancangan point of sales dan tracking stok pada café sedudam menggunakan pemodelan analisis berorientasi objek Unified Modeling Language (UML). Terdapat beberapa tahap perancangan yakni perancangan arsitektur sistem, perancangan sequence diagram, peracangan Phisical data model (PDM), perancangan komponen serta perancangan antarmuka.

5.1 Perancangan Arsitektur Sistem

Pada gambar 4 digambarkan arsitektur sistem one-tier yang terdiri dari client tier, busness logic serta database tier. Sistem menggunakan arsitektur Model-View-Controller yang terhubung dengan database MYSQL. Pada

komponen client tier terdapat kelas kelas view sebagai antarmuka sistem. Pada komponen busness logic terdapat kelas-kelas controller sebagai penghubung antara antarmuka dengan database. Pada database tier terdapat kelas kelas model yang tehubung dengan database MySQL melalui XAMPP sebagau penghubgung sistem dengan database untuk mendapatkan data.

Gambar 4 Arsitektur Sistem

5.2 Perancangan Sequence Diagram

Sequence diagram merupakan jenis diagram interaksi. Bertujuan untuk menenjukan interaksi yang terdisi dari seperangkat objek dan hubungannya, termasuk didalamnya terdapat pesan yang dikirim antar mereka (Booch, et al., 1998). Terdapat 3 squence diagram yang digambarkan sebagai contoh pada penelitian ini yakni sequence diagram menambah transaksi, edit bahan baku dan, tambah pengguna.

5.3 Perancangan Class Diagram

Class Diagram menunjukkan sekumpulan kelas, antarmuka serta ikatannya. Class Diagram adalah diagram yang paling umum ditemukan dalam pemodelan sistem. Tujuan menggunakan Class Diagram yaitu untuk menggambarkan tampilan desain statis suatu sistem. Pada sistem point of sales café sedudam ini memiliki 8 kelas controller dan 11 kelas model.

5.4 Perancangan Basis Data

Pada perancangan basis data dalam penelitian digambarkan menggunakan Conceptual Data Model. Dan penelitian ini memiliki 10 entitas yakni notifikasi, bahan baku, toko, cookie, login, komposisi, user,

(6)

penjualan, token dan barang.

5.5 Perancangan Antarmuka

Pada perancangan antarmuka menggambarkan seperti apa tampilan dari sistem yang akan dibuat. Sebagai contoh terdapat perancangan antarmuka halaman data bahan baku yang ada pada gambar 5.

Gambar 5 Perancangan Antarmuka Halaman Data Bahan Baku

6. IMPLEMENTASI

Hasil dari rekayasa kebutuhan dan tahap perancagan akan digunakan untuk implementasi.

Dalam pengimplementasian mengandung kode program yang didasarkan pada perancangan algoritme. Kemudian implementasi basis data yang di dasarkan pada perancangan data. Selain itu, juga mengandung hasil implementasi antarmuka pengguna yang sudah didefinisikan di tahap perancangan layout. Tahap implementasi pada penelitian ini akan dipaparkan terkait spesifikasi sistem, implementasi kode program, implementasi basi data dan implementasi antarmuka. Pada gambar 6 yaitu sample implementasi antarmuka pada halaman data bahan baku.

Gambar 6 implementasi antarmuka pada halaman data bahan baku

7. PENGUJIAN DAN ANALISIS

Pada tahap pengujian memiliki tujuan untuk memastikan atau mengevaluasi apakah program telah sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan sudah sesuai alur dari program tersebut. Pada tahap pengujian ini, peneliti menggunakan 3 tahap pengujian. Pertama pengujian white box menggunakan metode pengujian unit dimana berfungsi untuk memastikan kompleksitas logika. Pengujian unit memiliki tujuan untuk mengecek kode program yang sudah buat terdapat kesalahan atau tidak.

Method yang akan diuji yaitu ada 3. Selanjutnya pengujian black box menggunakan pengujian validasi yang bertujuan untuk meyakinkan apakah persyaratan dalam fungsional telah terpenuhi dalam sistem. pengujian validasi dipakai dalam proses validasi pada lis kebutuhan kepada implementasi sistem yang dibuat.

Pengujian ini akan diuji menggunakan input yang diberikan kepada suatu fungsi dimana masukan tersebut akan memberikan hasil output.

Hasil output yang tepat menandakan pengujian tersebut dikatakan valid. Pengujian yang dilakukan terhadap kebutuhan-kebutuhan pada aplikasi point of sales pada café sedudam.

Dan terakhir pengujian compatibility yang memiliki tujuan untuk menemukan kesalahan yang terdapat pada saat eksekusi yang di telusuri dari perbedaan konfigurasi. Pengujian compatibility digunakan sebagai tolak ukur kompatibilitas sistem yang dikembangkan apakah dapat digunakan di lingkungan yang berbeda. Pengujian dilakukan dengan menggunakan alat uji yaitu sortsite. Kakas bantu sortsite melakukan pengujian compatibility dengan memeriksa HTML, CSS, JavaScript dan image format. Tujuan dari pengujian ini untuk mengetahui apakah HTML, CSS, JavaScript dan image sudah bekerja pada browser.

8. KESIMPULAN DAN SARAN

Diperoleh 48 fungsional dan satu kebutuhan non-fungsional dalam sistem point of sale pada sedudam cafe dari hasil tahap analisis kebutuhan. Selanjutnya hasil analisis kebutuhan dimodelkan dengan use case diagram yang memperoleh 48 use case, dimana akan dijabarkan pada use case scenario.

Diperoleh perancangan sequence diagram, perancangan class diagram, perancangan data, perancangan komponen serta perancangan antarmuka dari hasil tahap perancangan.

Rancangan data direperesentasikan dengan

(7)

conceptual data model (CDM) dan physical data model (PDM) yang meliputi 10 entitas yaitu bahan_baku, barang, cookie, komposisi, login, notifikasi, penjualan, token, toko dan user dimana entitas-entitas tersebut mempunyai hubungan. Perancangan komponen didapatkan algoritme yang digunakan dalam mengimplementasikan kode program. Pada perancangan antarmuka didapatkan 3 contoh gambaran rancangan interface aplikasi point of sale.

Pada tahap implementasi menghasilkan spesifikasi sistem, implementasi kode program serta implementasi antarmuka. Spesifikasi sistem terdapat penjabaran terkait software dan hardware yang digunakan. Untuk tahap implementasi basis data terdapat perintah SQL yang digunakan dalam pembuatan database.

Untuk tahap implementasi antarmuka menghasilkan antarmuka yang dibuat berdasarkan rancangan.

Pada penelitian 3 pengujian yang dipakai yakni untuk pengujian balckbox menggunakan dengan validasi testing yang menghasilkan 100% valid pada 48 kebutuhan dan alternative flows-nya. Selanjutnya metode white box testing yang dilakukan dengan unit testing memiliki hasil valid di seluruh kasus uji. Untuk menguji kebutuhan non fungsional menggunakan compatibility testing mendapatkan hasil 1 mayor isusues pada browser internet explorer.

Pada penelitian yang telah dilaksanakan yaitu membangun sistem point of sales pada café sedudam berbasis web, sistem ini memiliki keterbatasan yakni tidak memiliki histori stok bahan baku dan tidak dapat membayar menggunakan e-money yang sudah menjadi metode pembayaran sering digunakan. Pada penelitian ini memiliki saran yang berfungsi pada pengembangan ini yakni dapat diperbaiki dalam hal pembayaran yakni dapat menggunakan motode cashless, selanjutnya yakni adanya histori restok bahan baku dan dapat dikembangkan pada platform mobile agar memudahkan penggunaan sistem. Dengan adanya histori stok bahan baku dan metode cashless. Kedepannya akan mempermudah dalam hal inventaris bahan baku dan metode pembayaran yang tidak mengharuskan pembeli membawa uang cash..

9. DAFTAR PUSTAKA

Barjtya, S., Sharma, A. & Rani, U., 2015. A detailed study of Software Development

Life Cycle (SDLC) Models. International Journal Of Engineering And Computer Science, July, VI(7), pp. 22097-22100.

Booch, G., Jacobson, I. & Rumbaugh, J., 1998.

Unified Modeling Language User Guide.

1st ed. s.l.:Addison Wesley.

Gillum, A. & Rob, M. A., 2011. IT PROJECT MANAGEMENT: CLASS PROJECT OF A POINT OF SALE (POS) SYSTEM

IMPLEMENTATION IN A

RESTAURANT. Volume XII, pp. 67-73.

Sommerville, I., 2011. SOFTWARE ENGINRERING. 9TH ed. s.l.:Addison- Wesley.

Stein, K., 2005. Point-of-Sale Systems for Foodservice. CV(12), pp. 1861-1863.

Thoriq, I., 2019. Kumparan.com. [Online]

Available at:

https://kumparan.com/tugumalang/kafe- di-malang-yang-tumbuh-dan-tumbang- 1551768038570428054

[Accessed 19 Desember 2019].

Triyudanto, S. R., 2019. Wawancara Terkait Hal Cafe Sedudam [Interview] (31 October 2019).

Warner, J., Tablot, D. & Bennison, G., 2012. The cafe as affective community space:

Reconceptualizing care and emotional labour in everyday life. pp. 305-324.

Wong, H., 2010. Membangun Aplikasi Point of Sale dengan VB 6.0, MySQL, dan PHP.

s.l.:Elex Media Komputindo.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah Mengetahui karakteristik curah hujan, suhu dan kelembaban udara lokasi terjadinya kebakaran hutan serta volume dan

Gambar 2.8. Perangkap dengan plambing.. Pipa  –    pipa yang berfungsi sebagai pipa pembuangan harus memiliki ukuran pipa yang sama atau lebih besar dengan ukuran lubang

1.. Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap ruang lingkup paket yang akan dikembangkan. Untuk itu dilakukan penelitian pendahuluan dengan melakukan wawancara

Selain Gujarati (2003), Cheng Hsiao (2003) juga mengemukakan beberapa keuntungan dari penggunaan data panel, yaitu: 1) memberikan jumlah observasi yang lebih banyak dari

Disamping analisis optmalisasi tepung singkong yang bernutri dengan pemodelan: high nutrition modified cassava flour , (HNMCF) melalui uji analisis laboratorium sebagai

Berdasarkan hal-hal di atas maka permasalahan yang ingin diteliti terkait dengan buah sukun adalah Apakah perbedaan tingkat umur panen dan masa simpan buah sukun

Perlu dikemukakan, bahwa kebijaksanaan seperti yang dituangkan dalam Penetapan Presiden ini, mempunyai sifat sementara, sampai pada pernilaian keadaan bahwa

Dalam hal terdapat perbedaan data antara Petikan DIPA dengan database RKA-K/L-DIPA Kementerian Keuangan maka yang berlaku adalah data yang terdapat di dalam database