JURNAL ILMIAH
PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENGEDARAN UANG PALSU
(STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 654/PID.B/2019/PN.MTR)
DISUSUN OLEH :
SANTUN MULIANI D1A017290
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM 2021
PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENGEDARAN UANG PALSU
(Studi Kasus Putusan Nomor 654/Pid.B/2019/PN.Mtr) SANTUN MULIANI
D1A017290
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Bagaimana Penerapan Pidana dan Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu, dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual dan pendekatan kasus.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Dijatuhi pidana penjara selama 1 tahun 3 bulan dan pidana denda sebanyak Rp 20.000.000, yang mana putusan tersebut terlalu ringan dan tidak sesuai dengan tuntutan hakim. 2) Dasar pertimbangan hakim dalam putusan ini menggunakan pertimbangan yuridis yang meliputi pertimbangan unsur-unsur pasal yang di langgar yaitu pasal 36 ayat (1) Jo pasal 55 KUHP dan pasal 36 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang, memeriksa keterangan saksi-saksi, saksi ahli, terdakwa dan pertimbangan non yuridis yaitu dengan memperhatikan keadaan meringankan dan keadaan yang memberatkan.
Kata Kunci :Pemidanaan, Sanksi, Pengedaran, Uang Palsu.
THE CRIMINAL PUNISHMENT TO THE PERPETRATORS OF THE CRIME IN CIRCULATING COUNTERFEIT MONEY
(Study in Court decision Number 654/Pid.B/2019/PN.Mtr) ABSTRACT
This research has purpose to find out how the criminal law implementation and the judge legal consideration when giving criminal punishment to the perpetrators of the crime in circulating counterfeit money in.
The reseach method on this study uses normative-legal research, which using the statute approach, the conceptual approach, and the statute approach. The result of this study showed : 1) the perpetrator got the criminal punishment to imprisonment for 1 year 3 months and a fine of Rp. 20,000,000), this punishment is too light and not accordance with the charge. 2) the legal judge’s legal consideration is using juridical reasoning that consist in article 36 paragrafh (1) Jo Article 55 KUHP (Indonesia Crimina Code), article 36 paragrafh (3) Act Number 7 of 2011 concerning Currency, analyzing witness testimony, expert witness, the accused, and non-juridical consideration that by seeing the mitigating circumstances and aggravating circumstances.
Keywords: Criminal Punishment, Sanction, Circulation, Counterfeit Money
I. PENDAHULUAN
Negara Indonesia adalah negara hukum, begitulah bunyi pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang dimaksud dengan Negara hukum adalah Negara yang didalamnya terdapat berbagai aspek peraturan-peraturan yang bersifat memaksa yang mempunyai sanksi tegas apabila dilanggar.
Maka, arti Indonesia sebagai negara hukum adalah segala aspek kehidupan diwilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus didasarkan pada hukum dan segala produk perundang-undangan serta turunannya yang berlaku diwilayah NKRI.
Semakin lama semakin banyak kejahatan yang meresahkan masyarakat, khususnya kejahatan pemalsuan seperti pemalsuan uang.pengertian uang menurut Adami Chazawi dalam bukunya :
Uang merupakan suatu benda yang wujudnya sedemikian rupa yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah dan berlaku pada saat peredarannya.Sah dalam artian yang menurut peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang.Lembaga yang berwenang itu adalah negara atau badan yang ditnjuk oleh negara seperti bank.1
Menurut Bank Indonesia, rasio temuan uang rupiah palsu pada tahun lalu mengalami perbaikan sejak tahun 2013.Pada tahun 2013, rasio peredaran uang rupiah palsu tercatat 11 lembar per satu juta lembar.Sementara pada tahun 2014 sempat menurun menjadi 9 lembar per satu juta lembar. Lebih lanjut pada tahun 2015 temuan uang palsu meningkat pesat menjadi 21 lembar per satu juta lembar dan kembali menurun pada tahun 2016 yang sebesar 13 lembar per satu juta lembar. Temuan uang rupiah palsu kembali menurun ditahun 2017 yang tercatat 9 lembar uang rupiah, dan kembali
1 Adami Chazawi, Kejahatan Mengenai Pemalsuan, Jakarta: PT gravindo.
meningkat di tahun 2018 yang sebesar 12 lembar per satu juta lembar kemudian pada tahun 2019 mengalami penurunan yang tercatat hanya 8 lembar per satu juta lembar.2
Pada tahun 2020 kejahatan ini mengalami penurunan, hal ini diungkap oleh Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Marlison Hakim mengatakan : “Ada penurunan uang palsu yang ditemukan Bank Indonesia, jika dibanding periode 2019 uang palsu turun 5% dengan rasio 5 lembar dari 1 juta lembar uang rupiah asli, Hal itu juga terjadi ditengah pesatnya penggunaan digital untuk pembayaran”.3
Penelitian ini akan difokuskan pada putusan nomor 654/Pid.B/2019/PN.Mtr dengan nama terkdakwa Lalu Suyantoni alias Toni pada hari dan tanggal yang sudah tidak dapat diingat lagi sekitar bulan Juli tahun 2019 sekira pukul yang sudah tidak dapat dingat lagi atau setidak- tidaknya pada waktu lain dibuli Juli tahun 2019 bertempat dirumah terdakwa di Dusun Nangka Lombok Desa Gumantar Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara atau setidak-tidaknya pada tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Mataram “mengedarkan dan membelanjakan yang diketahinya merupakan uang rupiah palsu sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 ayat (3) UU NO 7 Tahun 2011 yang berbunyi
2https://amp.kontan.co.id/news/bi-sebut-peredaran-uang-palsu-turun-pada-2019diakses pada tanggal 15-04-2021
3https://bisnis.tempo.co/read/1452465/bank-indonesia-peredaran-uang-palsu-turun-5- persen-pada-2020 diakses pada tanggal 15-04-2021.
“setiap orang yang menegdarkan dan/atau membelanjakan rupiah yang diketahnya merupakan rupiah palsu”
Jenis penelitian adalah penelitian hukum normatif, dengan menggunakan pendekatan kasus yaitu Putusan Nomor 654/Pid.B/2019/PN.MTR, Pendekatan perundang-undangan yaitu dengan menelaah Undang-undang No 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang, dan pendekatan konseptual. Jenis dan sumber data yang digunakan yaitu Bahan Hukum primer, yang terdiri dari Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang, KUHP, Putusan Hakim yang telah berkekuatan hukum tetap, dan bahan hukum sekunder yaitu yang terdiri dari skripsi-skripsi yang serupa, jurnal, artikel dan internet. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu studi kepustakaan dengan menelaah dan memahami undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang, KUHP, dan putuan hakim nomor 654/Pid.B/2019/PN.Mtr. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian hukum normative adalah dengan analisis/penafsiran hukum, argumentasi hukum dari bahan hukum baik Undang-Undang No 7 tahun 2011 tentang mata uang ataupun putusan nomor 654/Pid.B/2019/PN.MTR.
II. PEMBAHASAN
Penerapan Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu Dalam Putusan Nomor 654/Pid.B/2019/PN.Mtr.
Pembahasan kali ini penyusun memfokuskan mengenai Pemidaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pengedaran Uang Rupiah dengan melakukan studi putusan Nomor 654/Pid.B/2019/PN.Mtr.
Pada tanggal yang tidak dapat diingat lagi sekitar bulan Juni 2019 di Dusun nagka Lombok desa gumantar kecamatan kayangan kabupaten Lombok utara mencetak uang palsu dengan kertas HVS menggunakan Scanner Print dengan fotokopi warna akan tetapi hasil yang dicetak tidak
mirip dengan uang asli sehingga terdakwa menyuruh saksi Lalu Muhamad Zaini untuk mengajari cara mencetak yang benar kemudian terdakwa dan saksi sama-sama mencetak uang palsu. Kemudian pada tanggal 03 bulan Agustus tahun 2019 sekitar pukul 21:00 WITA bertempat dipinggir jalan Dusun karang lande desa kayangan kecamatan kayangan kabupaten Lombok utara terdakwa membelanjakan uang palsu tersebut yang digunakannya untuk berbelanja di berbagai tempat.
Atas perbuatannya terdakwa didakwa dengan dakwaan kumulatif yaitu dakwaan yang masing-masing berdiri sendiri dan harus dibuktikan satu persatu.Dengan dakwaan pertama melanggar pasal 36 ayat (1) Jo pasal 55 KUHP dan dakwaan kedua melanggar pasal 36 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang. Dengan dakwaan tersebut jaksa
penuntut umum menuntut agar terdakwa dihukum dengan pidana penjara 2 tahun 3 bulan dan pidana denda sebesar Rp20.000.000.000,00 (dua puluh juta rupiah). Putusan yang dijatuhkan oleh hakim adalah pidana penjara selama 1 tahun 3 bulan dan pidana denda sebesar Rp20.000.000.000,00.
Pada dasarnya penyusun setuju dengan putusan hakim bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana
“mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan turut serta melakukan memalsu rupiah dan mengedarkan uang rupiah palsu” yang berarti terdakwa telah melanggar pasal 36 ayat (1) Undang-undang nomor 7 tahun 2011 Jo pasal 55 KUHP dan pasal 36 ayat (3) Undang-undang nomor 7 tahun 2011 Tentang Mata Uang, yang mana ancaman pidana penjara maksimal 15 (lima belas tahun). Namun Dalam hal pemberian hukuman penyusun tidak sependapat dengan hakim, seharusnya hakim memberikan pidana dengan memperhatikan Tujuan hukum yaitu kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan yaitu penjatuhan pidana yang dapat memberikan efek jera sekaligus keadilan bagi korban yang dirugikan dalam pidana serta daya tangkal bagi pelaku lainnya didalam masyarakat supaya tidak melakukan perbuatan yang sama dengan terdakwa. Penyusun tidak melihat adanya putusan hakim yang mengedepankan tujuan hukum tersebut dalam kasus ini.Jika dibandingkan dengan perbuatan terdakwa yang meresahkan masyarakat dan menimbulkan kerugian materil penjatuhan hukuman yang ringan tidak memberikan keadilan bagi korban.
Dalam penerapannya, sanksi pidana yang ringan membuat pemidanaan itu menjadi tidak efektif dan tidak membuat pelaku jera.Lain dari pada itu, pidana bukan semata mata ditujukan pada pelaku kejatahan melainkan juga untuk mempengaruhi warga masyarakat agar mematuhi norma-norma masyarakat dan tidak melakukan kejahatan. Kenyataan yang dapat penyusun lihat dalam penerapan sanksi pidana dalam tindak pidana memalsu dan mengedarkan uang rupiah palsu dari putusan ini hakim tidak berpatokan pada tuntutan jaksa penuntut umum karena dalam tuntutan jaksa penuntut umum dengan putusan hakim tidak sama.
Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu Studi Putusan Nomor 654/Pid.B/2019/PN.MTR.
Pertimbangan Yuridis
Pertimbangan yang bersifat yuridis adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yuridis yang terungkap dalam persidangan dan oleh undang-undang ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat dalam putuusan. Pertimbangan yang bersifat yuridis diantaranya yaitu:
Dakwaan Jaksa penuntut Umum, dalam dakwaan jaksa penuntut umum majelis hakim mempertimbangkan unsur-unsur yang terdapat dalam pasal-pasal yang dilanggar oleh terdakwa. Yang mana unsur-unsurnya adalah sebagai berikut:
Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 Jo pasal 55 KUHP.
a) Unsur setiap orang b) Unsur memalsu rupiah
c) Unsur mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan.
Bahwa oleh karena semua unsur pasal 36 ayat (1) nomor 7 tahun 2011 Jo pasal 55 KUHP telah terpenuhi maka terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti seecara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan kesatu.
Pasal 36 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 Tentang Mata Uang.
a. Unsur setiap orang
b. Unsur yang mengedarkan dan atau membelanjakan yang diketahuinya merupakan rupiah palsu
Berdasarkan pada seluruh uraian pertimbangan tersebut, maka perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur dari pasal 36 ayat (1) Nomor 7 tahun 2011 Jo pasal 55 KUHP dan pasla 36 ayat (3) Nomor 7 tahun 2011 sebagaimana yang didakwakan penutut umum dalam dakwaannya.
Keterangan saksi-saksi
Untuk membuktian dakwaannya penuntut umum telah mengajukan saksi-saksi sebagai berikut: Fadli Ramdani, Inip Haryanti, Iganasius Hesis Buana, Samsudin, Lalu Muhamad Zaini.
Atas keterangan yang diberikan oleh saksi-saksi di persidangan terdakwa tidak membantah dan membenarkan karena terdakwa berada di tempat kejadian.
Keterangan ahli
Dalam proses pembuktian penuntut umum telah mengajukan satu saksi ahli sebagai berikut : Budi Suryawan, pada pokoknya menerangkan sebagai berikut: Bahwa benar barang bukti yang diajukan yang menyerupai mata uang rupiah tersebut adalah uang tidak asli sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti pembayaran yang sah.
Keterangan Terdakwa
Dalam persidangan terdakwa telah memberikan keterangan yang pada pokoknya sebagai berikut : Bahwa terdakwa membuat uang rupiah palsu menggunakan printer yang ada scannernya, Bahwa cara membuat uang rupiah palsu tersebut dengan cara memasukkan uang asli sebanyak satu lembar kemudian meletakkan dimesin printer dibagian untuk fotocopy setelah itu uang pada salah satu bagian keluarlah hasil yang pertama lalu hasil fotocopyan tersebut di masukan kembali dengan posisi terbalik lalu dicetak kembali dengan mesin printer sehingga membentuk seperti uang asli, Bahwa terdakwa mulai mencetak uang rupiah palsu pada bulan juli 2019 setelah beberapa hari terdakwa pulang dari Malaysia lalu awalnya mencetak uang rupiah palsu tersebut sendiri namun hasilnya tiidak bagus lalu adik terdakwa Lalu Muhammad Zaini yang mengajari untuk memebuat uang rupiah palsu supaya hasilnya bagus dengan cara menggunakan isolasi bening supaya uangnya tidak bergeser dan tidak terangkat dan hasilnya bisa menyerupai hasil yang diinginkan, bahwa terdakwa membenarkan dan tidak membantah
keterangan yang diberikan oleh saksi-saksi, bahwa terdakwa berterus terang mengakui perbuatannya, bahwa terdakwa sudah mencetak uang rupiah palsu tersebut sebesar 2.300.000, bahwa terdakwa sudah mengedarkan uang rupiah palsu sebesar Rp. 1.500.000 tersebut di berbagai tempat untuk digunakan berelanja kehidupan sehari-hari.
Pertimbangan Non yuridis
Menimbang, bahwa dalam persidangan, majelis hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat mengahapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, menimbang, bahwa oleh karena terdakwa mampu bertanggungjawab maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana, menimbang, bahwa pemidanaan merupakan ultimum remedium atau penyelesaian terakhir atas suatu masalah, maka dalam menentukan pemidanaan menurut Memorie van Toelichtingharusdiperhatikan obyek dari tindak pidana yang diilakukan, sehingga pemidanaan tidak hanya menimbukan perasaan tidak nyaman terhadap pelaku, tetapi juga merupakan treatment komprehensif yang melihat aspek pembinaan bagi terdakwa sendiri
untuk dapat sadar dan tidak akan mengulangi perbuatanya kembali dan juga harus melihat implikasi social kemasyarakatan dalam kerangka tujuan pemidanaan yang preventif, edukatif, dan korektif sehingga mampu memenuhi rasa keadilan masyarakat, menimbang, bahwa sesuai dengan politik hukum pidana maka tujuan pemidanaan harus diarahkan kepada perlindungan masyarakat dari kejahatan (social defence) serta keseimbangan
dan keselarasan hidup dimasyarakat dengan memperhatikan kepentingan- kepentingan masyarakat, Negara, korban dan pelaku atas dasar tujuan tersebut maka pemidanaan hars mengandung unsur-unsur yang bersifat kemanusiaan dalam arti bahwa pemidaan tersebut menjunjung tinggi harkat dan martabat seseoarng, Edukatifdalam arti bahwa pemidanaan mampu membuat orang sadar sepenuhnya atas perbuatan yang dilakukan dan menyebabkan ia mempunyai sikap jiwa yang positif dan kontruktifbagi usaha penanggulangan kejahatan, keadilan dalam arti bahwa pemidanaan tersebut dirasaka adil baik oleh terhukum maupun oleh korban ataupun masyarakt, menimbang, bahwa dari sisi kaadilan jika majelis hakim menjatuhkan hukuman mempertimbangkan agar terdakwa setidaknya masih ada terbuka kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya selain itu agar
Keadaan yang memberatkan : Perbuatan terdakwa telah meresahkan masyarakat, Perbuatan terdakwa merendahkan kehormatan Rupiah sebagai symbol Negara.
Keadaan yang meringankan : Selama persidangan berlangsung terdakwa bersikap sopam, Terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya.
Dalam hal ini terdakwa telah melanggar pasal 36 ayat (1) Jo pasal 55 KUHP dan pasal 36 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.
Setelah memperhatikan pertimbangan yuridis dan non yuridis serta fakta- fakat yang terungkap dipersidangan guna mempertimbangkan berat
ringannya pidana yang akan dijatuhkan kepada terdakwa, hakim memutuskan menjatuhkan pidana penjara kepada tetrdakwa selama 1 tahun 3 bulan dengan denda sebesar Rp 20.000.000 (dua puluh juta rupiah), lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum.
Menurut penyusun penjatuhan pidana oleh hakim dirasa kurang efisien dalam memberikan efek jera dikarekan perbuatan terdakwa merupakan perbuatan pidana yang cukup meresahkan bagi kehidupan masyarakat dan juga terdakwa merupakan orang yang paham akan teknologi ,bukan tidak mungkin jika terdakwa akan mengulangi kembali perbuatannya bahkan masyarakat umum juga tidak merasa takut dengan ancaman yang ringan tersebut karena pada dasarnya Tindak Pidana memalsu dan mengedarkan uang rupiah palsu ini tidak bisa dianggap remeh karena bagaimanapun itu akan menimbulkan keriguan materil dikehidupan masyarakat.
Penyusun melihat bahwa Majelis Hakim lebih melihat pertimbangan non yuridis yang meringankan terdakwa yang mana terdakwa telah mengakui perbuatannya serta terdakwa telah menyesal melakukan tindak pidana sedangkan perbuatan terdakwa yang meresahkan bagi masyarakat dan jumlah uang yang dipalsukan dan diedarkan kurang diperhatikan padahal bagi korban yang memiliki tingakt ekonomi menengah kebawah uang yang dipalsukan cukup banyak dan menurut penyusun hakim juga tidak memperhatikan pelanggaran pasal 55 KUHP yang dilakukan oleh terdakwa.
III. PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan penulis pada bab-bab terdahulu, maka penulis mengambil kesimpulan yaitu penerapan pidana terhadap pelaku tindak pidana pengedaran uang palsu dalam perkara putusan No.
654/Pid.B/2019/PN.MTR tidak sesuai dengan Tuntutan Jaksa Penuntut umum yang mengendaki agar hakim memutus pidana penjara selama 2 (dua) tahun 3 (tiga) bulan sedangkan putusan hakim hanya 1 (satu) tahun 3 (tiga)bulan.
Walaupun secara normative tidak terdapat permasaahan namun menurut penyusun masih ringan dan belum mampu memberikan efek jera terhadap terdakwa dan belum mampu membuat masyarakat memiliki rasa takut untuk melakukan tindak pidana yang serupa. Dengan begitu tidak menutup kemungkinan akan adanya kejahatan yang sama terulang kembali.
Pertimbangan hakim terhadap pelaku dalam perkara tindak pidana pengedaran uang palsu Putusan Nomor 654/Pid.B/2019/PN.MTR yaitu pertimbangan yuridis pelaku telah memenuhi semua unsur-unsur pasal yang ada didalam pasal 36 ayat (1) Jo pasal 55 KUHP dan pasal 36 ayat (3) undang- undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang dan pertimbagan non-yuridis adalah hal yang memberatkan yaitu perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan merendahkan kehormatan rupiah sebagai symbol Negara dan hal yang meringankan terhadap terdakwa adalah terdakwa bersikap sopan selama persidangan berlangsung, terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya dan terdakwa belum pernah dihukum.
Saran
Pada akhir penyusunan skripsi ini berdasarkan hasil penelitian dan analisis serta studi kepustakaan yang digunakan, maka penyusun menyampaikan saran yaitu penuntut umum maupun hakim dalam menerapkan sanksi pidana hendaknya didalam menutut atau mengadili harus memperhatikan tujuan hukum yaitu kemanfaatan. Hal ini penting bagi terdakwa dan masyarakat, agar terdakwa tidak mengulangi kembali perbuatannya dan bisa mempengaruhi masyarakat untuk mematuhi norma- norma dan tidak melakukan tindak pidana yagng sama. Dengan begitu bisa menimbulkan efek jera terhadap pelaku dan bahkan dapat dihindari oleh masyarakat.
Pada pertimbangannya hakim lebih memperhatikan pertimbangan yang bersifat non yuridis yaitu keadaan yang meringankan bahwa terdakwa telah mengakui perbutannya serta terdakwa menyesal melakukan tindak pidana tersebut. Seharusnya hakim harus seimbang dalam mempertimbangkan pertimbangan yuridis dan non yuridis agar menghasilkan putusan yang adil baik untuk terdakwa sendiri maupun untuk masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Adami Chazawi, “Kejahatan Mengenai Pemalsuan”, Jakarta: PT gravindo.
---, 1986, “Sistem Pidana dan Pemidanaan”, Rineka Cipta.
Andi Hamzah, 1994, “Asas-Asas Hukum Pidana”, Rineka Cipta.
E Utrecht, 1958, “Hukum Pidana”, Jakarta: Universitas Jakarta.
HB Sutopo, 2006, “Metodelogi Penelitian Hukum”, Surakarta: PT.Grasindo.
Moeljatno, 2015, “Asas-Asas Hukum Pidana”, Jakarta: Rineka Cipta.
Muladi Arief, 1992, “ Teori dan Kebijakan Pidana”, Bandung.
P.A.F.Lamintang, 1984, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung: Sinar Baru.
Soejono Soekanto, 1981, “Pengantar Penelitian Hukum”, Jakarta: UI Press Tongat, 2012, “Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif
Pembaharuan”.
Zainal Asikin dan Amiruddin, 2006, “Pengantar Metode Penelitian Hukum”, Jakarta.
LAIN-LAIN
https://amp.kontan.co.id/news/bi-sebut-peredaran-uang-palsu-turun-pada- 2019diakses pada tanggal 15-04-2021
https://bisnis.tempo.co/read/1452465/bank-indonesia-peredaran-uang- palsu-turun-5-persen-pada-2020 diakses pada tanggal 15-04-2021.