JURNAL: Pendidikan Islam
Volume 1, Nomor 1, Juni 2021, Hal. xx-xx
PEMERATAAN PENDIDIKAN MELALUI PROGRAM BANUH, BASA, TABA, OLEH PONDOK PESANTREN AL-ISLAH
BONDOWOSO
Fatahillah arrozi1
1STIT Al-Ishlah Bondowoso, Jl Jember No 17-19 Dadapan Grujugan Bondowoso e-mail: [email protected]
ABSTRACT
The purpose of this study was to find out how the concept of educational equity was applied through the Banuh, Basa, Taba program by the Al-Ishlah Bondowoso Islamic Boarding School.
We use a qualitative research approach with a case study design as a method in this research, where the research is the Al-Ishlah Dadapan Islamic Boarding School Bondowoso, kyai and asatidz and students we determine as the subject of this research, the data collected in the form of words and writings and pictures, the researcher acts as an instrument, to collect data we conduct in-depth interviews accompanied by observations, after the raw data is collected, it will be reduced, presented, and then drawn conclusions.From the results of this study, it can be concluded that for equal distribution of education to the entire economic status of the community, an independent program is needed from each educational institution. Such as the concept of cross-breeding the cost of education through the Banuh, Basa, and Taba programs.
In addition, additional business units are needed to support the existing education financing. As applied by Al-Ishlah Islamic Boarding School with the concept of economic protection.
Keywords: education equity, Islamic boarding school
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konsep pemerataan pendidikan diterapkan melalui program Banuh, Basa, Taba oleh Pondok Pesantren Al- Ishlah Bondowoso. Pendekatan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus kami gunakan sebagai metode dalam penelitian ini, tempat penelitiannya adalah Pondok Pesantren Al-Ishlah Dadapan Bondowoso , kyai dan asatidz serta santri kami tentukan sebagai subjek penelitian ini, data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan tulisan serta gambar,peneliti berperan sebagai instrumen, untuk mengumpulkan data kami lakukan wawancara secara mendalam yang disertai dengan observasi, setelah data mentah terkumpul, selajutnya akan direduksi, disajikan, dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa untuk pemerataan pendidikan terhadap seluruh status ekonomi masyarakat diperlukan program mandiri dari setiap lembaga pendidikan. Seperti konsep kawin silang biaya pendidikan melalui program Banuh, Basa, dan Taba. Selain itu juga diperlukan unit usaha tambahan untuk menyokong pembiayaan pendidikan yang ada. Seperti yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Al-Ishlah dengan konsep ekonomi proteksinya.
KataKunci:pemerataan pendidikan, pondok pesantren
PENDAHULUAN
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, Hal. xx-xx 2 Berdasarkan data yang disajikan oleh U.S News & World mengenai peringkat sistem pendidikan terbaik yang ada di seluruh dunia, Negara yang bertengger di lima besar adalah, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, dan Perancis (Nur, 2021). Malaysia berada di peringkat ke-38 dan Thailand berada di peringkat ke-46. Lalu dimanakah letak peringkat Negara Indonesia di Tahun 2021 ini?. Ternyata dari laporan tersebut Indonesia berada di peringkat ke-55 dari 73 negara yang diranking. Tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat sejarah Malaysia pernah mendatangkan banyak tenaga guru dari Indonesia untuk meningkatkan sumber daya manusia tenaga pendidiknya (LINDRA, 2019), sedangkan sekarang peringkat Malaysia di kancah internasional jauh di atas Indonesia. Ada apakah dengan dunia pendidikan di Indonesia, tentu saja ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua sebagai komponen bangsa merdeka ini untuk terus memajukan dunia pendidikan di Negara ini. Tentu saja dengan kapasitasnya masing-masing.
Efek pandemi covid-19 belakangan ini, juga menjadi salah satu faktor menurunnya produktifitas segala aktivitas sosial masyarakat (Nasution et al., 2020). Para entrepreneur menurun efektifitas perekonomiannya, bahkan di tahun 2020 hingga 2021 tercatat banyak perusahaan dan mega retail seperti Giant dan Matahari Departement Store yang gulung tikar dan beralih ke mini retail dan online shop (Sari, 2020). Hal ini karena dengan adanya kebijakan-kebijakan yang membatasi akses masyarakat untuk keluar rumah, sehingga masyarakat lebih cenderung untuk berbelanja kebutuhan mereka secara online (Nurhayati, 2017; Sazali & Rozi, 2020).
Dalam dunia pendidikan ternyata permasalahannya lebih komplek lagi. Pandemic covid menghadirkan status sosial ekonomi baru dalam masyarakat . Maraknya kasus-kasus PHK karena runtuhnya stabilitas perekonomian indonesia menambah daftar panjang masyarakat dengan ekonomi lemah (Muslim, 2020; Taniady et al., 2020). Tentu saja hal ini juga akan berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Kondisi ini disinyalir akan menambah kasus anak-anak putus sekolah karena kendala ekonomi (Aristin, 2015; Wassahua & Wassahua, 2016).
Lalu apakah pemerintah diam dan tanpa solusi? Tentu saja tidak. Pemerintah menggelontorkan Program Indonesia Pintar dengan tujuan untuk meringankan beban orang tua untuk keberlangsungan pendidikan generasi penerus bangsa (Kristen et al., 2019; Rohaeni & Saryono, 2018). Apakah program ini efektif? Tentu saja perlu penelitian lebih mendalam mengenai keefektifannya. Tapi kenyataan di lapangan berbicara lain, banyak penyelewengan pemanfaatan dana tersebut oleh penerima bantuan sendiri yang seharusnya untuk meringankan beban biaya pendidikan.
Selain itu banyak ditemukan masalah pada akurasi penerimanya, banyak oknum yang seharusnya tidak berhak, tapi malah menikmati bantuan ini, sedangkan masyarakat yang seharusnya mendapat bantuan malah terlewatkan (Cahyaningsih, 2018).
Melihat carut marut dalam dunia pendidikan ini, maka seharusnya ada solusi yang efektif untuk masalah pemerataan pendidikan tersebut. Ada sebuah lembaga pendidikan islam yang ternyata
punya konsep untuk mengatasi masalah tersebut, dan program ini terbukti sudah berjalan bertahun- tahun sejak berdirinya lembaga hingga saat ini sudah berganti estafet kepemimpinannya.
Lembaga tersebut adalah Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso dengan program Bayar p Penuh (Banuh), Bayar sebisa-bisa (Basa), dan Tanpa Bayar (Taba) (Arrozi, 2011). Disaat pondok pesantren lain berlomba-lomba menawarkan program pembelajaran khusus seperti program tahfidzul qur’an, pondok berbasis IT, dan program-program menarik lainnya yang disertai dengan naiknya biaya pendidikan, justru Pondok Pesantren Al-Ishlah menawarkan program yang unik yaitu Banuh, Basa, Taba. Sehingga menjadi ketertarikan tersendiri bagi peneliti untuk mengetahui bagaimana konsep pemerataan pendidikan diterapkan melalui program Banuh, Basa, Taba oleh Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso?
METODE
Pendekatan penelitian kualitatif (Dr. Wahidmurni, 2017; Lexi & M.A., 2010; Somantri, 2005) dengan desain studi kasus (Prihatsanti et al., 2018; Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, 2017) kami gunakan sebagai metode dalam penelitian ini, tempat penelitiannya adalah Pondok Pesantren Al- Ishlah Dadapan Bondowoso , kyai dan asatidz serta santri kami tentukan sebagai subjek penelitian ini, data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan tulisan serta gambar,peneliti berperan sebagai instrumen, untuk mengumpulkan data kami lakukan wawancara secara mendalam yang disertai dengan observasi, setelah data mentah terkumpul, selajutnya akan direduksi, disajikan, dan kemudian ditarik kesimpulannya (Hartono, n.d.; Rijali, 2019).
Persamaan Kesempatan dan Keadilan dalam Memperoleh Pendidikan
Seperti sudah dibahas sebelumnya, kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung pada standart kemajuan pendidikannya. Indonesia sebagai sebuah Negara berkembang punya masalah yang sama dengan Negara-negara berkembang lainnya terutama pada masalah pemerataan pendidikan. Sebuah masalah klasik yang perlu dipikirkan bersama untuk mendapatkan solusinya.
Dua aspek yang menjadi konsentrasi utama dalam kasus pemerataan ini adalah persamaan kesempatan dan keadilan bagi segenap komponen bangsa ini dalam memperoleh pendidikan yang berkualitas (Hakim, 2016; Rohaeni & Saryono, 2018). Persamaan kesempatan artinya semua anak bangsa yang masuk ke dalam usia sekolah harus punya kesempatan yang sama untuk mengenyam bangku sekolah. Tidak diperkenankan ada kebijakan-kebijkan tertentu yang membatasai ruang gerak mereka, dan lebih tidak diperkenankan lagi kita segenap komponen bangsa ini acuh tak acuh terhadap tertutupnya kesempatan mereka.
Batasan-batasan yang selama ini menjadi penghalang persamaan kesempatan tersebut dipengaruhi banyak hal, seperti Tempat tinggal (Safarah & Wibowo, 2019), sarana prasarana (S.
Rahayu, 2019), keterbatasan fisik, dan status ekonomi dalam masyarakat (W. Rahayu, 2011). Tempat tinggal rupanya menjadi penghalang utama dalam masalah ini. Mau tidak mau masyarakat yang tinggal di pedalaman tentunya tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan yang tinggal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, Hal. xx-xx 4 di tempat-tempat yang mudah diakses. Pembelajaran via online-pun terkadang juga tidak maksimal karena terkendala dengan lemahnya daya jangkau jaringan operator. Sarana prasarana juga merupakan penghalang klasik dari pemerataan pendidikan, selalu saja menurunnya kualitas pendidikan menjadikan tidak lengkapnya sarana dan prasarana sebagai kambing hitam.
Selanjutnya keterbatasan fisik juga bisa menjadi penghalang bagi persamaan kesempatan untuk memperoleh keadilan. Sejauh ini pemerintah tidak tinggal diam dengan permasalahan ini, sudah banyak sekolah-sekolah khusus difabel yang didirikan oleh pemerintah. Terkadang dalam banyak kasus yang menjadi penghalang bagi mereka para difabel untuk mengenyam bangku sekolah adalah pihak orang tua sendiri, dimana mereka merasa malu jika anak-anaknya harus bersekolah di sekolah luar biasa. Padahal bisa jadi dengan disekolahkan di sekolah khusus difabel, dengan pendidik, kurikulum, dan sarana prasarana yang dirancang khusus, bakat terpendam mereka akan tereksplor.
Masalah yang terakhir adalah status ekonomi. masalah yang sebenarnya mudah diselesaikan andai saja setiap lembaga pendidikan yang ada tidak berorientasi sepenuhnya terhadap komersialisme pendidikan. Yang terjadi saat ini adalah, sekolah dengan program-program unggulan juga otomatis akan lebih unggul pembebanan biaya pendidikannya terhadap siswa daripada sekolah biasa. Dalam kasus ini siswa tidak mendapat persamaan pendidikan bisa dikarenakan beberapa hal.
Pertama, sekolah tempat siswa mengenyam pendidikan mempunyai tenaga pendidik yang tidak kreatif dan inisiatif, sehingga lembaganya tidak punya program yang bisa diunggulkan. Kedua, mahalnya biaya pendidikan di sekolah dengan program unggulan, menurut hemat kami kasus ini termasuk dalam komersialisai pendidikan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Solusi Pondok Pesantren Al-Ishlah untuk Hambatan Tempat Tinggal serta Sarana dan Prasarana
Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso berdiri megah dengan area pendidikan yang luas di Desa Grujugan Kecamatan Dadapan Kabupaten Bondowoso. Santri yang belajar di pondok ini berasal dari hampir seluruh pelosok negeri. Sebut saja sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali bahkan papua adalah asal tempat tinggal para santri. Para santri tersebut diasramakan di dalam pondok dengan sarana prasarana yang lengkap dan memadai. Mulai dari gedung sekolah, masjid, kamar, dapur umum, kantin,koperasi, sarana olahraga, dan lain sebagainya.
Solusi mudah dari hampir semua pondok pesantren untuk pemerataan pendidikan yang terkendala oleh tempat tinggal serta sarana dan prasarana. Mengumpulkan para siswa dari berbagai tempat yang mungkin sulit untuk diakses di satu tempat dengan sarana dan prasarna yang menunjang, memudahkan kepada tenaga pendidik untuk mengaplikasikan pendidikan karena mudah dikontrol dan dilakukan pengawasan. Proses belajar mengajar juga otomatis akan terukur dan terarah dengan akses yang mudah ini.
Kelebihan lainnya dari penerapan sistem asrama adalah ruang belajar yang steril, sebab di dalam pondok diberlakukan berbagai aturan yang mengikat bagi seluruh santri dengan tujuan agar santri lebih fokus dalam belajar, serta menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pendisiplinan dan hukuman bagi pelanggarnya. Sebut saja, santri dilarang untuk membawa handphone ke dalam pondok. Akhirnya framing dan propaganda negatif dari media social seperti youtube, facebook, instagram, tiktok, dan banyak platform lainnya tidak akan mengganggu konsentrasi santri, dalam proses pendidikan.
Bahkan dalam banyak penelitian, sistem asrama di pondok pesantren menjadi solusi bagi pembelajaran online selama pandemi yang dianggap tidak efektif. Disaat lembaga pendidikan non pesantren mengadakan pembelajaran jarak jauh atau online, pondok pesantren tetap memberlakukan pembelajaran tatap muka. Apakah tidak melanggar Prokes? Tidak. Karena pondok pesantren mengisolasi diri dari kehidupan masyarakat di luar sistem, sehingga punya kemungkinan yang sangat kecil untuk terjadinya proses penyebaran virus.
Banuh, Basa, Taba, sebagai Solusi Pemerataan Pendidikan
Ternyata permasalahan status ekonomi yang menjadi momok bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak usia sekolah, juga bisa dijawab oleh Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso.
Melalui satu program yang sudah berjalan sejak kepemimpinan Almarhum Kyai Ma’shum yang disebut dengan istilah Banuh, Basa, Taba.
Banuh singkatan dari bayar penuh. Santri yang tergolong dalam program ini harus membayar penuh semua biaya pendidikan yang disyaratkan. Mulai dari biaya SPP hingga biaya makan para santri. Dari hasil pengamatan peneliti biaya pendidikan di Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso termasuk ringan, yaitu sebesar Rp.700.000,- sudah termasuk biaya SPP dan Makan santri.
Basa sendiri merupakan singkatan dari bayar sebisa-bisa. Artinya ketika santri mendaftarkan diri sebagai santri baru di Pondok Pesantren Al-Ishlah maka akan dibuat satu kesepakatan berapa kemampuan santri untuk beban biaya pendidikannya. Pihak pengelola pondok ternyata memberikan standart biaya minimum yaitu sebesar Rp. 250.000,-.
Selanjutnya yang terakhir adalah Taba, yang merupakan singkatan dari tanpa bayar.
Kelompok ini berasal dari keluarga kurang mampu yang juga ingin merasakan atmosfer pendidikan di pondok pesantren. Sehingga pondok memberi program beasiswa pendidikan mulai dari menggratiskan biaya SPP dan Uang Makan.
Program ini adalah program kawin silang, dimana konsep saling membantu sangat ditekankan. Anak-anak yang membayar secara penuh biaya pendidikannya membantu teman- temannya yang tidak mampu di golongan Basa dan Taba. Lalu apakah program ini berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan?, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Disaat golongan santri dari Basa dan Taba lebih banyak maka akan memjadi beban tersendiri bagi pondok, sehingga konsep kawin silang ini hanya akan efektif dengan melakukan pembatasan pada golongan tertentu. Tetapi
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, Hal. xx-xx 6 tentu saja ini akan melanggar prinsip pemerataan pendidikan yang menjadi tujuan utama dari dicetuskannya program ini.
Lalu apakah solusinya?, kembali lagi yang akan mejadi solusi adalah kemandirian ekonomi.
Dengan kondisi ini maka pondok harus punya pendapatan lain untuk menyokong kekurangan dana dan biaya pendidikan (Azizah, 2016; Oktafia & Haryanto, 2018).
Ekonomi Proteksi sebagai Solusi
Dalam hukum ekonomi, manusia adalah target pasar, ketika seseorang mampu menyediakan kebutuhan orang lain dan dikomersilkan, maka terjadilah proses jual beli dengan target profitnya.
Pondok Pesantren Al-Ishlah pada dasarnya tidak hanya menjadi pengelola pendidikan untuk santri saja, yang untuk selanjutnya disebut dengan KMI (Kuliyyatul Muallimin Al-Islamiyah). Tetapi juga menjadi penyelenggara pendidikan untuk program Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar Plus (SD Plus), SMP, dan perguruan tinggi. Sehingga pondok diakses oleh banyak orang termasuk wali murid yang mengantar dan menjemput putera puterinya. Berkumpulnya banyak orang di satu tempat ini akan menjadi peluang pasar tersendiri. Disaat santri yang dilarang untuk keluar pondok, ditambah dengan murid dan orang tua dari TK,SD, SMP yang berlalu lalang di dalam pondok disediakan seluruh kebutuhannya maka muncullah konse ekonomi proteksi .
Peluang ini rupanya mudah dibaca oleh pengelola Pondok Pesantren Al-Ishlah, akhirnya di dalam pondok dibangunlah mini market, cafeteria, stationary (alat tulis kantor) sebagai unit usaha pondok yang dapat menyokong beban biaya pendidikan santri dari golongan tidak mampu. Selain itu, juga masih ada usaha peternakan lele dan kambing yang dikelola oleh guru-guru pengabdian dan mahasiswa. Di luar are pondok juga dibangun restoran ikan, toko bangunan, dan toko baju
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa untuk pemerataan pendidikan terhadap seluruh status ekonomi masyarakat diperlukan program mandiri dari setiap lembaga pendidikan. Seperti konsep kawin silang biaya pendidikan melalui program Banuh, Basa, dan Taba.
Selain itu juga diperlukan unit usaha tambahan untuk menyokong pembiayaan pendidikan yang ada.
Seperti yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Al-Ishlah dengan konsep ekonomi proteksinya.
Disarankan kepada lembaga-lembaga lain untuk sekiranya bisa meniru konsep pemerataan pendidikan yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Al-Ishlah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aristin, N. F. (2015). Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Anak Putus Sekolah Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Bondowoso. Jurnal Pendidikan Geografi, 20(1), 30–36. https://doi.org/10.17977/um017v20i12015p030
Arrozi, F. (2011). Manajemen pembiayaan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu di Pondok Pesantren Al-Ishlah Dadapan Bondowoso / Fatahillah Arrozi.
Azizah. (2016). azizah. Altijari, 2(1), 77–96. https://doi.org/10.21093
Cahyaningsih, R. I. (2018). PENDISTRIBUSIAN KARTU INDONESIA PINTAR (KIP).
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 4(1), 147–162.
https://doi.org/10.36989/DIDAKTIK.V4I1.70
Dr. Wahidmurni, M. P. (2017). Pemaparan Metode Penelitian Kualitatif. Repository Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 1–16.
Hakim, L. (2016). Pemerataan Akses Pendidikan Bagi Rakyat Sesuai Dengan Amanat Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. EduTech: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(1). https://doi.org/10.30596/EDUTECH.V2I1.575
Hartono, J. (n.d.). Metoda Pengumpulan dan Teknik Analisis Data - Google Buku. Retrieved November 19, 2021, from
https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=ATgEEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA6&dq=t eknik+analisis+data+kualitatif&ots=ziYe-he1Tg&sig=adxJPxfn-
GsZ9TinykXTm88b2uI&redir_esc=y#v=onepage&q=teknik analisis data kualitatif&f=false Kristen, U., Wacana, S., Binti, W., Sekolah, Y., Agama, T., Negeri, K., Raya, P., Ismanto, B.,
Univeristas, W., & Wacana, K. S. (2019). Evaluasi Program Indonesia Pintar dalam Peningkatan Akses Pendidikan di Sekolah Menengah Pertama. Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan, 6(1), 44–53. https://doi.org/10.24246/J.JK.2019.V6.I1.P44-53
Lexi, J., & M.A., M. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. In Metodologi Penelitian Kualitatif.
In Rake Sarasin. https://scholar.google.com/citations?user=O-B3eJYAAAAJ&hl=en LINDRA, C. N. (2019). ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PERBANKAN SYARIAH DI
INDONESIA DAN BAHRAIN DITINJAU DARI MAQASHID SHARIAH INDEX.
http://repository.usbypkp.ac.id/686/
Muslim, M. (2020). PHK PADA MASA PANDEMI COVID-19 | ESENSI: Jurnal Manajemen Bisnis. ESENSI: Jurnal Manajemen Bisnis, 23(3). https://ibn.e-
journal.id/index.php/ESENSI/article/view/218
Nasution, D. A. D., Erlina, E., & Muda, I. (2020). Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Perekonomian Indonesia. Jurnal Benefita, 5(2), 212–224.
https://doi.org/10.22216/JBE.V5I2.5313
Nur. (2021). 5 Negara ASEAN dengan Sistem Pendidikan Terbaik Tahun 2021 - Pendidikan | RRI Takengon |. Rri.Co.Id. https://rri.co.id/takengon/aktual/pendidikan/1144444/5-negara-asean- dengan-sistem-pendidikan-terbaik-tahun-
2021?utm_source=news_populer_widget&utm_medium=internal_link&utm_campaign=Gene ral Campaign
Nurhayati, N. (2017). BELANJA “ONLINE” SEBAGAI CARA BELANJA DI KALANGAN MAHASISWA (Studi Kajian Budaya Di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh).
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, Hal. xx-xx 8 Aceh Anthropological Journal, 1(1), 1. https://doi.org/10.29103/aaj.v1i2.1140
Oktafia, R., & Haryanto, B. (2018). PENGELOLAAN KEUANGAN UNIT USAHA : STRATEGI PENGEMBANGAN KAPASITAS PONDOK PESANTREN. Al-Uqud : Journal of Islamic Economics, 2(2), 141–151. https://doi.org/10.26740/AL-UQUD.V2N2.P141-151
Prihatsanti, U., Suryanto, S., & Hendriani, W. (2018). Menggunakan Studi Kasus sebagai Metode Ilmiah dalam Psikologi. Buletin Psikologi, 26(2), 126–136.
https://doi.org/10.22146/BULETINPSIKOLOGI.38895
Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M. S. (2017). Desain Penelitian Studi Kasus. 1–15.
Rahayu, S. (2019). MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN.
https://doi.org/10.31227/osf.io/76wb8
Rahayu, W. (2011). Analisis Intensitas Pendidikan oleh Orang Tua dalam Kegiatan Belajar Anak, Status Sosial Ekonomi Orang Tua terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Siswa.
Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran (JPP), 18(1), 65–71.
http://journal.um.ac.id/index.php/pendidikan-dan-pembelajaran/article/view/2759
Rijali, A. (2019). ANALISIS DATA KUALITATIF. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, 17(33), 81.
https://doi.org/10.18592/alhadharah.v17i33.2374
Rohaeni, N. E., & Saryono, O. (2018). Implementasi Kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) Melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) dalam Upaya Pemerataan Pendidikan. Indonesian Journal of Education Management & Administration Review, 2(1), 193–204.
https://doi.org/10.4321/IJEMAR.V2I1.1824
Safarah, A. A., & Wibowo, U. B. (2019). PROGRAM ZONASI DI SEKOLAH DASAR
SEBAGAI UPAYA PEMERATAAN KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA. Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, 21(2), 206–213.
https://doi.org/10.24252/LP.2018V21N2I6
Sari, W. (2020). Analisis perbandingan kinerja keuangan PT Matahari Putra Prima Tbk dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. http://repository.ubb.ac.id/id/eprint/3344
Sazali, H., & Rozi, F. (2020). Belanja Online dan Jebakan Budaya Hidup Digital pada Masyarakat Milenial. JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study (E- Journal), 6(2), 85–95. https://doi.org/10.31289/SIMBOLLIKA.V6I2.3556
Somantri, G. R. (2005). Memahami Metode Kualitatif. Makara Human Behavior Studies in Asia, 9(2), 57–65. https://doi.org/10.7454/mssh.v9i2.122
Taniady, V., Riwayanti, N. W., Anggraeni, R. P., Alveyn, A., Ananda, S., Disemadi, H. S., &
Huku, F. (2020). PHK DAN PANDEMI COVID-19: SUATU TINJAUAN HUKUM BERDASARKAN UNDANG-UNDANG TENTANG KETENAGAKERJAAN DI INDONESIA. Jurnal Yustisiabel, 4(2), 97–117.
https://doi.org/10.32529/YUSTISIABEL.V4I2.701
Wassahua, S., & Wassahua, S. (2016). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH DI KAMPUNG WARA NEGERI HATIVE KECIL KOTA AMBON.
Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(2), 204–224.
https://doi.org/10.33477/alt.v1i2.199