• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PEMAHAMAN PROYEK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II PEMAHAMAN PROYEK"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PEMAHAMAN PROYEK

2.1 Pengertian Proyek

Lifestyle Center adalah suatu sentra perbelanjaan yang mempunyai induk ataupun beberapa departement store terbesar menjadi daya tarik tersendiri, dimana adanya retail-retail mini serta tempat makan yang mengarah pada tipologi bangunan, misalnya toko yang menunjuk ke koridor primer mall atau pedestrian sebagai unsur primer menurut sebuah sentra perbelanjaan (mall), menggunakan fungsi menjadi aliran &

menjadi ruang komunal bagi terselenggaranya hubungan antar pengunjung & pedagang (Maitland,1987).

Arti arsitektural lifestyle center atau mall adalah ruang hidup dengan pusat perbelanjaan yang terdiri dari kompleks pertokoan tempat berlangsungnya kegiatan jual beli dan pertukaran barang dan jasa, serta juga sebagai tempat berkumpul dan berekreasi.

Esensi dari "Lifestyle Center" bukan lagi toko yang penuh dengan barang dagangan seperti pasar, tetapi toko yang mengutamakan suasana santai dan kenyamanan berbelanja. Produk yang dijual di mall bukanlah produk standar, tetapi produk berkualitas tinggi yang merupakan pembeli yang menyukai desain, tren, dan merek. Hal ini membuat harga barang-barang di mall relatif mahal.

1.2 Tipologi Proyek

2.2.1 Skala Pelayanan Pusat Perbelanjaan

Marlina (2008) menjelaskan jika berdasar cakupan pelayanannya, yang berkaitan dengan luas wilayah, mall dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori yakni:

1. Regional Shopping Centre (Pusat Perbelanjaan Regional) dengan luas area antara 2.870 - 92.900 m2 dengan skala pelayanan antara 150.000 - 400.000 penduduk.

2. Community Shopping Centre (Pusat Perbelanjaan Distrik) dengan luas area antara 9.290 - 23.225 m2 dengan jangkauan pelayanan antara 40.000 - 150.000 penduduk.

(2)

3. Neigbourhood Shopping Centre (Pusat Perbelanjaan Lokal) dengan luas area antara 2.720 - 9.290 m2. Jangkauan pelayanan antara 5.000 – 40.000 sebagian atau seluruh penduduk.

2.2.2 Klasifikasi Pusat Perbelanjaan Berdasarkan Sistem Transaksi

Berdasar sistem transaksi, pusat perbelanjaan dikelompokkan menjadi 2, yakni;

1. Toko Grosir, ialah sebuah toko yang berjualan produk dengan ukuran besar.

Umumnya penyimpanan barang-barangnya di gudang, tetapi barang-barang toko grosir hanyalah sebuah contoh. Etalase toko grosir biasanya menempati ruang yang relatif kecil karena jumlah penjualan yang besar.

2. Toko Eceran, ialah suatu usaha yang berjualan barang dagangan dalam ukuran kecil ataupun sebagai barang dagangan tunggal. Toko jenis ini menarikjumlah pembeli lebih banyak dikarenakan varian produk yang mereka tawarkan. Area etalase produk membutuhkan ruang yang relatif besar untuk menampung berbagai produk. Gudang membutuhkan ruang yang berdimensi cukup kecil. Tempat untuk membongkar barang bukanlah tempat yang penting.

2.2.3 Klasifikasi Pusat Perbelanjaan Berdasarkan Lokasi

1. Pasar, adalah kumpulan fasilitas pertokoan sederhana seperti warung makan, toko, kios, dll pada suatu area tertentu dari suatu daerah. Jenis fasilitas perbelanjaan ini dapat berupa denah terbuka atau bangunan yang biasanya berada di dekat kawasan pemukiman.

2. Shopping Street, adalah kumpulan fasilitas pertokoan yang terdiri atas deretan toko serta kios yang menghadap ke jalanan. Tipe perbelanjaan ini berkembang di daerah-daerah yang menarik banyak wisatawan

3. Shopping Center, adalah sekelompok fasilitas perbelanjaan (toko beserta kios) dibawah satu atap. Di pusat perbelanjaan, komoditas yang diperdagangkan sebagian besar merupakan kebutuhan sekunder dan tersier, namun jenis pasarnya didominasi oleh kebutuhan primer dari komoditas yang diperdagangkan.

4. Shopping Center secara khusus, ada berbagai pola visual maupun sirkulasi ditujukan untuk pengunjung yang berjalan-jalan, meliputi skala besar dan kompleks serta skala manusia..

(3)

3 2.3 Bentuk Pusat Perbelanjaan

Pendapat dari Maithland dalam Yempormase (2013) menyatakan jika ada tiga (3) jenisshopping secara umum berdasar untung serta ruginya yakni:

2.3.1 Open Mall

Mall tanpa pelingkup. Keuntungan yang dapat dirasakan merupakan kesan yang luas dan rencana teknis yang cukup sederhana sehingga murah dalam pembiayaan.

Hambatan iklim dan cuaca (climatic control) (berdampak terhadap kenyamanan) dan kesan pewadahannya kurang yang menjadi kerugiannya

2.3.2 Enclosed Mall

Mall yang berpelingkup. Kenyamanan (climatic control) merupakan keuntungannya, sedangkan biayanya yang mahal serta kesan ruang kurang jelas menjadi kerugiannya.

2.3.3 Integrated Mall

Penggabungan pusat perbelanjaan bersifat terbuka dan tertutup. Hal ini diaplikasikan pada mall tertutup dengan konsep akhir mall terbuk. Konsep demikian adalah salah satu solusi dari climatic control.

2.4 Tipologi Tenant

Hubungan dengan generator mall, Darlow (1972) menjelaskan sejumlah pola yang dipergunakan dalam menata mall yakni:

Gambar 2.1 Pola Peletakan Generator Mall Sumber : Darlow (1972 :16)

(4)

“M” disimbolkan sebagai magnet ataupun generator mall. Berdasar sumber dapat berupa anchor tenant dari berbagai brand terkenal. Disebabkan brand yang sudah populer dapat menarik banyak pengunjung serta sering kali dijadikan pusat perhatian jika dibandingkan retail yang lainnya. Oleh karena itu pemberian ruang yang lebih besar sebagai anchor tenant, diperuntukkan brand tersebut .

2.4.1 Dimensi

Terjemahan dari Beddington (1982:16) menyatakan bahwa ukuran panjang mal tidak boleh terlalu panjang, dikarena dapat membuat lelah pengunjung. Panjang ideal zona pejalan kaki adalah 200-250 meter. Setelahnya diharuskan terdapat suatu ruang untuk beristirahat dan pause point dan suatu focal poin yang menarik agar pengunjung tidak merasa bosan.

2.4.2 Penataan Retail

Dengan acuan sumber-sumber diatas, jika tata ruang mal hanya memiliki satu koridor, diharapkan semua retail dapat dilalui pengunjung sehingga semua retail mempunyai nilai komersial yang sama. Berdasar Pickard (2002) kompleksitas kegiatan yang terjadi pada suatu retail dijelaskan yakni:

Gambar 2.2 Pola aktivitas dalam sebuah retail Sumber : Pickard (2002)

Dari gambar di atas dapat ditarik simpulan jika area pameran atau showroom merupakan fokus yang menarik konsumen dan menuntut akses barang dan kontrol yang tidak mengganggu aktivitas utama. Menurut Beddington (1982), saat ini

(5)

5

terdapat beberapa jenis detail shop front atau fasad depan toko.

Gambar 2.3 Contoh Bentuk Shop Front Sumber : Beddingtin (1982)

2.5 Pola Pusat Perbelanjaan

Maithland dalam Bhumi (2012) menjelaskan Pola mal bersifat linier. Penempatan mall yang paling umum adalah satu koridor mal dengan standar lebar koridor 8-16m2.

Pintu masuk harus dapat diakses dari segala arah untuk memudahkan akses pengunjung. San Interior (2014) berpendapat ada tiga pola penataan retail pada pusat perbelanjaan sebagai berikut:

2.5.1 Sistem Banyak Koridor

Pemanfaatkan ruang sebanyak mungkin agar dapat menaruh barang sehingga tidak ada ruang yang terbuang merupakan bentuk dari sistem koridor.

(6)

Gambar 2.4 Sistem retail dengan banyak koridor Sumber: San Interior (2014)

2.5.2 Sistem Plaza

Pemanfaatan ruang kosong (void) pada sistem plaza sebagai ruang bagi pengunjung untuk melihat semua barang yang diperjual belikan.

Gambar 2.5 Sistem retail plaza

Sumber : San Interior (2014). Diakses pada 1 November 2016

2.5.3 Sistem Mall

Penggunaan pedestrian pada sistem mal dimana disisinya berderet retail tempat berjualan barang. Sehingga, pola mal mempunyai visual ruang yang lebih baik serta menghindarkan kesan padat barang yang sering membuat bosan konsumen.

Gambar 2.6 Sistem mall

Sumber: San Interior (2014) Diakses pada 1 November 2016

(7)

7 2.6 Tujuan dan Sasaran

2.6.1 Tujuan

1. Menetapkan fungsi dan fasilitas perancangan Lifestyle Centre

2. Menerapkan prinsip Arsitektur Bioklimatik pada perencanan rancangan Lifestyle Centre.

3. Menerapkan konsep pada perencanan rancangan Lifestyle Centre dengan penerapan prinsip Arsitektur Bioklimatik.

4. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebuah area Lifestyle Centre harus mewadahi tidak hanya kegiatan berbelanja, namun juga mewadahi kegiatan berkumpul dan berwisata.

2.6.2 Sasaran

Susunan pada usulan tahapan pokok proses perencanaan bangunan Lifestyle Centre dengan menekankan pada rancangan Bioklimatik arsitektur melalui beberapa bidang perancangan dan alur pikir dari proses penyusunan landasan program perencanaan beserta perancangan arsitektur dari hasil desain.

2.7 Studi Preseden

Gambar 2.7 Preseden Fasad Bangunan Sumber : Data Pribadi

(8)

2.7.1 Cihampelas Walk

Gambar 2.8 Bangunan di Ciwalk, Bandung Sumber : Google.com

Cihampelas Walk ialah sebuah pusat perbelanjaan yang letaknya di koridor Jalan Cihampelas di Bandung, Jawa Barat. Pusat perbelanjaan di koridor Jalan Chihamperas, didirikan tahun 2002 dan dibuka sekitar tahun 2003. CiWalk dicannagkan menjadi pusat perbelanjaan terbuka pertama di Bandung dengan konsep memaksimalkan ruang pejalan kaki.

CiWalk menjadi ikon Koridor Jalan Cihampela karena ruang terbuka yang cukup luas di sekitarnya. Alhasil, fungsi mall Chihamperas Walk, yakni fungsi mall dan hotel menjadi multifungsi. Gedung utama yang merupakan fungsi utama kawasan telah kehilangan orientasi dan eksistensinya.

Berdekatan dengan Pusat Perbelanjaan Cihampelas walk, yang memiliki area pemukiman dan pertokoan di sekitar Jalan Cihampelas walk. Karena fungsi serta letak dari fungsi yang pisah dengan lainnya tersebut membuat linked yang menghubungkan fungsi tersebut dalam bentuk akses, taman, dan ruang terbuka.

Pentingnya arsitektur dalam mendesain kawasan Cihampelas Walk, baik secara fungsional ataupun visual.

Bagaimana fungsi tersebut ditautkan dengan yang lain dimana pada akhirnya ada keterkaitan / hubungan antar fitur tersebut berdampak signifikan terhadap rasa nyaman pengunjung dan juga dijadikan salah satu parameter pengunjung untuk mengunjungi Cihampelas Walk. Mall tersebut berkonsep beda dibanding mall Bandung lainnya, oleh karena itu Cihampelas Walk mempunyai daya tarik sendiri bagi pengunjung. Kemenarikannya terletak pada keterkaitan antar ruang

(9)

9

Chihampelas Walk berupa taman, ruang hijau terbuka, dan pengembangan yang di desain menarik.

Massa bangunan yang berbentuk dinamis tidak monoton dengan mempertimbangkan letak eksisting pohon. Area luar dirancang seperti plaza dan taman. Konsep bangunan yang komersial yang menyatu dengan alam. Sehingga pengunjung merasa nyaman saat berada di area sirkulasi dan ritel karena mengdapatkan udara alami dari luar. Banyaknya vegetasi di area sekitar bangun sebagai kenyamanan visual. Vegetasi juga dirancang sebagai pemisah antara ruang sirkulasi dan retail.

Gambar 2.9 Koridor pada Bangunan Ciwalk, Bandung Sumber : Google.com

Area sirkulasi berkonsep street shop terinspirasi dari street shop braga daerah Bandung. Area sirkulasi dibagi menjadi 3 jalur, 2 area terbuka dan 1 berada di dalam bangunan. Koridor komersial dibuat terbuka dengan kanopi di sisi kanan dan kiri dengan retail yang saling berhadapan. Area sirukulasi luar berfungsi sebagai retail food and beverages. Area sirkulasi dalam difungsikan sebagai gaya hidup lain seperti hiburan,fashion dan kebugaran. Ciwalk adalah pusat perbelanjaan di koridor Jalan Cihampelas, didirikan tahun 2002 dan dibuka sekitar tahun 2003.

B

C

D A : Mall

B : Gedung Bioskop

A C : Gedung Parkir

E D : Koridor

(10)

E : Gedung Entertainment F : Gedung Entertaiment G

F

anak ± anak G : Plaza Mall H

H : Bangunan Foodcourt I : Gedung Hotel Sensa

I

Gambar 2.10 Koridor pada Bangunan Ciwalk, Bandung Sumber : Google.com

CiWalk direncanakan menjadi pusat perbelanjaan terbuka pertama di Bandung dengan konsep memaksimalkan ruang pejalan kaki. Hal ini karena CiWalk banyak memberikan kontribusi terhadap ruang di sekitarnya dan CiWalk telah menjadi ikon Koridor Jalan Cihampelas. Cihampelas Walk Belanja serba guna. Dengan kata lain, ini adalah fungsi dari pusat perbelanjaan atau hotel.

Dengan menambahkan fitur ini, sisa area CiWalk yang semula digunakan sebagai ruang terbuka akan digunakan untuk fitur hotel tambahan dan harus disesuaikan dengan perluasan ini. Plaza yang semula merupakan ruang orientasi bangunan utama, sangat terpengaruh dan menempati sebagian besar bangunan hotel. Toko utama yang merupakan fungsi utama kawasan telah kehilangan arah dan keberadaannya.

2.7.1.1 Analisis Sirkulasi (Parkir, Pedestrian, dan Kendaraan)

Berdasar sirkulasi, dapat dilihat bahwa perkembangan sirkulasi di kawasan CiWalk terdiri dari dua jalur, satu untuk kendaraan dan satu untuk pejalan kaki. Dimana pada mempelihatkan foto tersebut berupa akses pejalan kaki berwarna orange. Untuk akses kendaraan dari pintu masuk, turun dan pergi ke tempat parkir di belakang. Pejalan kaki bisa berjalan dari depan jalan masuk ke mall melintasi penyeberangan pejalan kaki yang ada di kawasan CiWalk, pedestrian disini sangat panjang dan sangat terkoneksi sehingga pejalan kaki bisa dengan mudah berjalan kaki dari food court ke

(11)

11

mall dan dari mall ke tempat hiburan distrik dan koridor di kedua sisi gedung mal.

Gambar 2.11 Analisis Area Parkir Sumber : Google.com

Gambar 2.12 Analisis Sirkulasi Pedestrian Bagian Luar Pejalan Kaki Pada Foodcourt Sumber : Google.com

2.7.1.2 Analisis Ruang Terbuka (Plaza, Koridor Samping, dan Koridor Depan)

Pada kawasan CiWalk, ruang terbuka merupakan salah satu konsep yang digunakan dalam perencanaan pusat perbelanjaan. Banyak ruang terbuka di kawasan CiWalk berada di depan, di tengah (plaza) dan juga di belakang pusat perbelanjaan, ruang terbuka yang paling sering dikunjungi dan sering dikunjungi oleh acara adalah ruang terbuka.

Gambar 2.13 Analisis Ruang Terbuka Dan Plaza Sumber : Google.com

(12)

2.7.1.3 Analisis Linkage Struktural (Food court Depan, dan Koridor)

Bentuk Kolektif Arus sirkulasi ini menghubungkan struktur alun-alun dan koridor Timur juga membentuk arus sirkulasi yang menetralisir dua kawasan yaitu gedung hiburan dan koridor food court Timur, dan selalu mengutamakan suatu kawasan di kawasan Ciwalk. Gedung hiburan di sisi timur berbentuk setengah lingkaran dan menyatu linier dengan fungsi ritel yang terletak di area koridor mal perbelanjaan ciwalk . Mal untuk lobi fungsi penumpang dapat menghubungkan pengunjung dari dalam mal ke lobi luar, lalu dari plaza ke lorong, dan dari lorong ke depan atau area pelatihan..

Gambar 2.14 Analisis Alur Sirkulasi Linkage Struktural Foodcourt Depan Dan Koridor Sisi Barat Sumber : Google.com

Gambar 2.15 Analisis Linkage Sebagai Bentuk Kolektif Sumber : Google.com

2.7.1.4 Analisis Linkage Visual (Garis, Sisi, Koridor, dan Sumbu)

(13)

13

Alur koridor CiWalk sebagai koridor visual menunjukkan bahwa di kawasan CiWalk terdapat dua koridor visual, benda-benda diletakkan di sisi kanan dan kiri bangunan pusat perbelanjaan, untuk fungsi koridor adalah ujung. Pusat perbelanjaan. interior pusat perbelanjaan ke area lobi luar, lalu dari alun-alun ke lorong dan dari lorong ke area depan atau pintu masuk.

Pedestrian road sebagai visual line menunjukkan visual road di kawasan CiWalk yakni pedestrian di depan jalan masuk mall CiWalk, untuk difungsikan pedestrian dapat menjembatani pengunjung dari luar ke alun- alun, kemudian dari pedestrian dan plaza ke koridor, dan dari koridor atau plaza bisa langsung masuk ke area mall CiWalk.

Gambar 2.16 Analisis Alur Sirkulasi Linkage Visual Garis, Sisi, Koridor.

Sumber : Google.com

Alur koridor CiWalk sebagai koridor visual menunjukkan adanya dua koridor visual di kawasan CiWalk, objek terletak di kanan dan kiri gedung mall, dengan fungsi koridor untuk menjembatani pengunjung dari dalam mall dengan area luar. lorong, lalu dari plaza ke lorong dan dari lorong ke area di depan lorong atau pintu masuk.

Gambar 2.17 Analisis Alur Koridor Ciwalk Sebagai Visual Koridor

(14)

Sumber : Google.com

Pedestrian Road sebagai Visual Line menunjukkan visual line di kawasan CiWalk, khususnya penyeberangan pejalan kaki di depan jalan masuk pusat perbelanjaan CiWalk, untuk fungsi pejalan kaki, dengan berjalan kaki dapat menghubungkan pengunjung dari luar ke plaza, kemudian dari pejalan kaki dan plaza ke koridor, dan dari koridor atau plaza bisa langsung masuk ke area pusat perbelanjaan CiWalk.

Gambar 2.18 Analisis Alur Pejalan Kaki Sebagai Visual Garis Sumber : Google.com

Ruang terbuka Cihampelas Walk Area adalah konsep utama, dan ruang terbuka adalah daya tarik lainnya. Ruang terbuka di Cihampelas Walk Area dibentuk oleh massa bangunan dan menciptakan ruang terbuka yang juga berfungsi sebagai penghubung antar massa. Zona pejalan kaki di kawasan Cihampelas Walk terletak di setiap jalur pejalan kaki. Ini adalah fasilitas yang membantu pejalan kaki yang dikenal menggunakan konsep berjalan dari konsep Cihampelas Walk..

2.7.2 The New Ballito

Gambar 2.19 Bangunan di The New Ballito

(15)

15

Sumber : Googlee.com

Terletak di Ballito, kota liburan pesisir utama KwaZulu-Natal, L Ballito adalah kota liburan yang terletak di KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Ballito terletak sekitar 40 kilometer (25 mil) di utara Durban. Ini merupakan bagian dari Kota Lokal KwaDukuza, dan Kota Distrik iLembe. Lumba-lumba biasa ditemukan di bentangan garis pantai Pantai Utara ini, oleh karena itu dijuluki Pantai Lumba- lumba. Lifestyle Center menyediakan pengalaman berbelanja yang nyaman, mudah dan otentik, baik bagi penduduk maupun wisatawan.

Co-pemilik Bruce dan Paul Rencken adalah pengusaha dengan keberanian yang diperlukan dan sentuhan kegilaan yang diperlukan untuk membuat sesuatu dari ketiadaan. 15 tahun yang lalu, situs Lifestyle Centre adalah ladang tebu. Bruce dan Paul mendapatkan dana dan penyewa untuk proyek ambisius ini. Lifestyle Centre dimulai sebagai pusat kenyamanan lingkungan, dan selama 13 tahun, secara harfiah dan kiasan, pusat Ballito. Lanskap ritel Ballito berubah pada tahun 2017 dengan peluncuran mal regional seluas 80.000 m2 tepat di seberang Lifestyle Centre.

Gambar 2.20 Area Perbelanjaan

Sumbe r: https://www.ballitolifestylecentre.co.za/new-ballito-lifestyle-centre-takes-shape/

Lifestyle Centre dikenal dan disukai karena sentuhan pribadinya, sajian makanan dan santapan mewah keluarga yang luar biasa, dan desain cantik yang memadukan indoor dan outdoor dengan cara yang benar-benar menghidupkan perasaan berbelanja "jalanan". Ini adalah tempat di mana tren internasional dan cita rasa lokal berpadu sempurna. Tempat di mana Anda bisa merasa seperti di rumah sendiri, santai, nyaman, dan menjadi diri sendiri. Ini menangkap esensi dari menjalani hidup dengan cara Ballito.

(16)

Gambar 2.21 Retail The New Ballito

Sumber: https://www.ballitolifestylecentre.co.za/new-ballito-lifestyle-centre-takes-shape/

Lifestyle Centre adalah pengalaman berbelanja yang mencakup semua hal baik tentang kehidupan, dengan cara Ballito. Pusat perbelanjaan bergaya alfresco yang kasual menawarkan parkir yang luas, gratis, dan aman (baik terbuka maupun tertutup) dan berbagai toko berkualitas untuk memenuhi semua kebutuhan makanan, keluarga, dan gaya Anda.

Gambar 2.22 Area Parkir Ballito

Sumber :https://www.ballitolifestylecentre.co.za/new-ballito-lifestyle-centre-takes-shape/

Parkir gratis tanpa batas tersedia di Lifestyle Center. Ada 450 tempat parkir terbuka dan 350 tempat parkir tertutup, dapat diakses melalui dua pintu masuk terpisah. Semua area parkir dipantau 24 jam sehari oleh petugas keamanan Enforce dibantu oleh pengawasan CCTV.

2.7.3 Beachwalk Kuta,Bali

(17)

17

Gambar 2.23 Bangunan Beachwalk, Kuta Bali Sumber : Google.com

Gambar 2.24 Denah Siteplan Beachwalk,Kuta Bali

Sumber : Google.com

Beachwalk adalah pusat perbelanjaan yang terkenal di tepi pantai kuta.

Beachwalk dirancang oleh biro konsultan arsitek PT.Envirotect Indonesia tahun 2012. Luas Beachwalk 3,7 hektar dan hanya berjarak sekitar 250 meter saja dari Pantai Kuta. Beachwalk dirancang dengan konsep terbuka dan menenangkan yang menampilkan pengalaman berbeda lewat gaya hidup di bali dalam sebuah pusat perbelanjaan. Beachwalk disatukan dengan fasilitas hotel Harris Resort Kuta Beach dan Hotel Sheraton Bali Kuta Resort.

Gambar 2.24 Fasad Beachwalk,Kuta Bali

(18)

Sumber : Google.com

Envirotect merancang bentuk Beachwalk dari bentuk kontur sawah terasering kawasan pinggir kota bali. Bentuk massa bangunannya yang dinamis digunakan untuk menunjukan identitas bali dengan kekayaan alamnya. Beachwalk membentuk suasana bali dengan berkonsep terbuka untuk area sirkulasi dan ritel alfresco, menggunakan elemen vegetasi dan air, menggunakan alang alang sebagai penutup atap dan material alami untuk elemen langit - langit dan lantai.

Gambar 2.25 Retail Beachwalk, Kuta Bali Sumber : Google.com

Gambar 2.6 Koridor Bangunan Beachwalk, Bali Sumber : Google.com

Beachwalk juga menyediakan plaza untuk pertunjukan dan acara. Orientasi bangunan menghadap kearah pantai terutama pada ritel alfresco. Beachwalk merancang plaza terbuka dan papan ikonik yang menghadap ke arah pantai kuta sebagai akses masuk utama. Plaza tersebut terintegrasi terbuka terhadap jalur pedestrian di sisi jalan raya dan terdapat museum batik sebagai daya tarik wisatawan local.

(19)

19

Gambar 2.27 Koridor Banguna Beachwalk, Bali Sumber : Google.com

Konsep fasad bangunan secara umum adalah mengikuti grand desainnya menggunakan pendekatan arsitektutr Bioklimatik, yaitu menempatkan kaca temper sebagai penutup utama pada beberapa area tertentu. Sebagai bahan inspirasi desain, diperoleh beberapa data fasad beberapa bangunan yang sudah ada.

Berikut adalah beberapa preseden desain dalam olahan fasad yang penulis gunakan pada project “ Lifestyle Centre ”.

2.8 Area Rekreasi

Area rekreasi pada tapak Lifestyle Centre ini mengadaptasi wisata air, wisata botani dan wisata entertain. Wisata air focus pada penggunaan danau sebagai lokasi wisata selain sebagai area retensi pengendalian banjir pada tapak. Wisata botani fokus pada nilai edukasi bagi pengunjung terhadap jenis-jenis vegetasi yang ada dan manfaatnya bagi lingkungan. Wisata entertain dalam bentuk amphitheater dengan undak mengikuti kontur yang ada.

Preseden desain yan digunakan pada ketiga area ini cukup beragam,yakni berasal dari dalam maupun luar negeri. Berikut penjelasannya:

1. Preseden desain wisata air = Taman Sribaduga, Purwakarta.

2. Preseden desain wisata botani = Singapore Botanical Garden 3. Preseden desain wisata entertain = Amphiteater Ottawa Park.

(20)

Gambar 2.28 Preseden Desain area Rekreasi Sumber : Google.com

Selain itu, berdasarkan analisa tapak, dipilihlah ketiga area rekreasi ini sebagai respon terhadap keadaan eksisting. Lahan yang berkontur dapat dimanfaatkan sebagai area rekreasi yang secara tidak langsung memenuhi kualifikasi tapak sebagai sebuah Lifestyle Center. Dimana tidak hanya konsep modern pada bangunan, konsep ramah lingkungan juga diterapkan pada perancangannya.

2.9 Kesimpulan Studi Tipologi dan Preseden

Berdasarkan penjelasan diatas disimpulkan jika bentuk yang paling sesuai atas solusi ruang pusat perbelanjaan yakni semi terbuka. Hal ini dikarenakan dapat menciptakan ruang yang lebih nyaman serta dinamis diantara ruang dalam maupun luar. Tetapi akan membutuhkan luasan tapak yang lebih besar dari pada mall berkonsep tertutup.

Dengan menggunakan Pola Sistem Mall pada peletakkan retail - retail di dalam bangunan menggunakan pedestrian yang disisinya. Oleh karena itu, pola mall yang demikian mempunyai visual ruang yang lebih baik serta terhindar dari kesan padat.

(21)

21

Gambar 2.29 Sistem Mall

Sumber: San Interior (2014). Diakses pada 1 November 2016

Kesimpulan yang di dapat dari preseden bangunan Ciwalk, Beachwalk dan the New Ballito dapat diambil kesimpulan untuk perencanaan pembangunan proyek Lifestyle Center yaitu dalam pemanfaatan potensi ruang luar dengan merancang area hijau yang dapat memberi keuntungan dan mendukung penerapan konsep bangunan dengan banyaknya bukaan alami sehingga menciptakan bangunan yang ramah lingjungan.

Pendekatan Arsitektur Bioklimatik merupakan konsep yang tepat dalam pemilihan desain bangunan dengan latar belakang hemat energi, sistem struktur terbuka serta area koridor.

(22)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Mukarovsky (dalam Teeuw, 1984:186) karya sastra tidak dapat dipahami dan diteliti lepas dari konteks sosial lain; dengan kata lain kode sastra

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas, maka penulis merasa tertarik untuk membahas masalah pelaksanaan sewa tanah apakah telah terlaksana sesuai dengan

Grafik hubungan antara tegangan terhadap suhu untuk lapisan tipis Cu 1 /Ni 1 /Cu 2 /Ni 2 pada pelapisan dengan variasi. tegangan

Estimasi biaya pekerjaan penutup lantai dan dinding serta pemasangan paving block di lapangan yang dihitung menggunakan metode SNI hanya untuk pekerjaan yang

Hasil yang diperoleh dari hasil uji tersebut adalah enam variabel dinyatakan berpengaruh signifikan terhadap keputusan mobilitas non permanen dengan alpha 5%, yaitu

Namun perlu adanya analisis tambahan terhadap regangan yang terjadi pada pipeline selama proses laying sehingga kegagalan pada pipeline seperti concrete crushing

Merupakan kaum minoritas, tapi tumbuh dan berkembang secara pesat, namun tentu masih di bawah satu persen dari semua anak-anak Muslim yang bersekolah di sekolah Islam,

Agar pembahasan yang dilakukan lebih terarah dan tidak menyimpang dengan masalah yang ada, maka perlu melakukan pembatasan ruang lingkup pembahasan laporan akhir ini,