PROVINS! JAWA TIMUR
PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 78TAHUN 2021
TENTANG
PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PERJALANAN DINAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR
Menimbang
Mengingat
TAHUN ANGGARAN 2022
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR,
a. bahwa dalam rangka pelaksanaan perjalanan dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar, diperlukan adanya dukungan pendanaan dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan dan tujuan perjalanan dinas;
b. bahwa demi ketertiban dan akuntabilitas pelaksanaan perjalanan dinas sebagaimana dimaksud dalam huruf a, diperlukan pengaturan mengenai pelaksanaan dan pertanggungjawaban perjalanan dinas;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Perjalanan Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar Tahun Anggaran 2022;
1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 41) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1965 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotapraja Surabaya dan Daerah Tingkat II Surabaya dengan mengubah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur dan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Jogyakarta (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2730);
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara {Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang
Undang Nomor 12 Tahun 2011 ten tang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 183, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6398);
7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Pasal 176 Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 201 7 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6057);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6322);
10. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2020 tentang Standar Harga Satuan Regional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 57);
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 120 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 157);
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2016 tentang Pedoman Perjalanan Dinas Luar Negeri bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 811);
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 1781);
14. Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2008 Nomor 3/A);
Menetapkan
15. Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2016 Nomor 10/D, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Blitar Nomor 17);
16. Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 2 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2021-2026 (Lembaran Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2021 Nomor 4/E, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Blitar Nomor 10);
17. Peraturan Bupati Blitar Nomor 69 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Uraian Togas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (Berita Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2016 Nomor 69 /D) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bupati Blitar Nomor 84 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Bupati Nomor 69 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (Berita Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2021 Nomor 84/D);
MEMUTUSKAN
PERATURAN BUPATI TENTANG PELAKSANAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PERJALANAN DINAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR TAHUN ANGGARAN 2022.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan
1. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Blitar.
2. Bupati/Wakil Bupati adalah Bupati/Wakil Bupati Blitar.
3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Blitar.
4. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja di lingkungan Pemerintah Daerah.
5. Pegawai Tidak Tetap dengan Perjanjian Kerja yang selanjutnya disingkat PTT-PK adalah pegawai yang diangkat untuk jangka waktu tertentu guna melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan yang bersifat teknis profesional dan administrasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan organisasi serta pegawai di luar Pemerintah Daerah yang ditugaskan dalam pelaksanaan kegiatan daerah.
6. Masyarakat adalah perorangan/pribadi warga Daerah yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan perjalanan dinas.
7. Perjalanan Dinas adalah perjalanan yang dilaksanakan oleh Bupati/Wakil Bupati, pimpinan dan anggota DPRD, Pegawai ASN, PTT-PK, dan Masyarakat ke luar tempat kedudukan dalam atau luar wilayah Daerah ke tempat yang dituju untuk kepentingan Pemerintah Daerah dan kembali ke tempat kedudukan semula.
8. Perjalanan Dinas Dalam Negeri adalah Perjalanan Dinas yang dilaksanakan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
9. Perjalanan Dinas Luar Negeri adalah Perjalanan Dinas keluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
10. Perjalanan Dinas Biasa adalah Perjalanan Dinas yang melewati batas wilayah Daerah dan perjalanan dinas pindah bagi pejabat daerah, Pegawai ASN, pegawai tidak tetap dan pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
11. Perjalanan Dinas Tetap adalah Perjalanan Dinas yang dilaksanakan pejabat yang mempunyai tugas dan fungsi secara langsung dalam pelayanan masyarakat, seperti : penyuluh, juru penerang, penyuluh agama, dan pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
12. Perjalanan Dinas Dalam Kota adalah Perjalanan Dinas yang dilaksanakan di dalam wilayah Daerah.
13. Perjalanan Dinas Paket Pertemuan Dalam Kota adalah Perjalanan Dinas dalam rangka rapat, seminar, dan sejenisnya yang dilaksanakan di dalam wilayah Daerah dan dibiayai seluruhnya oleh Pemerintah Daerah.
14. Perjalanan Dinas Paket Pertemuan Luar Kota adalah Perjalanan Dinas dalam rangka rapat, seminar, dan seJen1snya yang dilaksanakan di luar wilayah Daerah dan dibiayai seluruhnya oleh Pemerintah Daerah.
15. Tempat Kedudukan adalah lokasi kantor satuan kerja perangkat daerah/unit satuan kerja perangkat daerah.
16. Tempat Tujuan adalah tempat yang menjadi tujuan Perjalanan Dinas.
1 7. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Blitar.
18. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Daerah
anggaran/ pengguna barang.
selaku pengguna
19. Unit Kerja SKPD adalah unit pelaksana teknis dinas/unit pelayanan SKPD di lingkungan Pemerintah Daerah.
20. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat PA adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya.
21. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat KPA adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan se bagian kewenangan PA dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD.
22. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPA-SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan dan belanja yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh PA.
23. Surat Perintah Perjalanan Dinas yang selanjutnya disingkat SPPD adalah dokumen yang ditandatangani oleh PA/KPA dalam rangka pelaksanaan Perjalanan Dinas.
24. Pelaksana Perjalanan Dinas adalah Bupati/Wakil Bupati, pimpinan dan anggota DPRD, Pegawai ASN, PTT-PK dan Masyarakat yang melaksanakan Perjalanan Dinas.
25. Lumpsum adalah suatu jumlah uang yang telah dihitung terlebih dahulu (pre-calculated amount) dan dibayarkan sekaligus.
26. Biaya Riil adalah biaya yang dikeluarkan sesuai dengan bukti pengeluaran yang sah.
27. Perhitungan Rampung adalah perhitungan biaya Perjalanan Dinas yang dihitung sesuai kebutuhan riil berdasarkan ketentuan yang berlaku.
28. Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat UP adalah uang muka kerja dalam jumlah tertentu yang diberikan kepada bendahara pengeluaran untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari SKPD, yang tidak mungkin dilakukan melalui mekanisme pembayaran langsung.
BAB II
RUANG LINGKUP PERJALANAN DINAS Pasal 2
Peraturan Bupati ini mengatur mengenai pelaksanaan dan pertanggungjawaban Perjalanan Dinas Bupati/Wakil Bupati, pimpinan dan anggota DPRD, Pegawai ASN, PTT-PK dan Masyarakat yang dibebankan pada APBD.
BAB III
PRINSIP PERJALANAN DINAS Pasal 3
Perjalanan Dinas dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip sebagai berikut:
a. selektif, yaitu hanya untuk kepentingan yang sangat tinggi dan prioritas serta berkaitan dengan penyelenggaraan Pemerintah Daerah;
b. efisien, yaitu penggunaan anggaran Perjalanan Dinas dilakukan secara hemat dan didasarkan pada kebutuhan nyata;
c. efektif, yaitu pelaksanaan Perjalanan Dinas disesuaikan dengan pencapaian kinerja SKPD; dan
d. akuntabel, yaitu pertanggungjawaban pelaksanaan Perjalanan Dinas dilakukan sesuai dengan pembebanan biaya Perjalanan Dinas.
Pasal 4
(1) Perjalanan Dinas digolongkan menjadi : a. Perjalanan Dinas Dalam Negeri; dan b. Perjalanan Dinas Luar Negeri.
(2) Perjalanan Dinas Dalam Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri dari :
a. Perjalanan Dinas Biasa;
b. Perjalanan Dinas Tetap;
c. Perjalanan Dinas Dalam Kota;
d. Perjalanan Dinas Paket Pertemuan Dalam Kota; dan e. Perjalanan Dinas Paket Pertemuan Luar Kota.
(3) Perjalanan Dinas Biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dilaksanakan paling lama :
a. 3 (tiga) hari, dengan angkutan udara; atau b. 5 (lima) hari, dengan angkutan darat/laut.
(4) Dalam hal Perjalanan Dinas Biasa melebihi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pelaksana Perjalanan Dinas harus melampirkan jadwal kegiatan/undangan/bukti lain yang sah.
(5) Perjalanan Dinas Paket Pertemuan Dalam Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dibiayai seluruhnya oleh Pemerintah Daerah, yang meliputi:
a. biaya transportasi peserta, panitia/moderator, dan/ atau narasumber baik yang berasal dari Pemerintah Daerah maupun dari luar Pemerintah Daerah;
b. biaya paket pertemuan fullboard/ residence);
(halfday/ fullday/
c. uang saku peserta, panitia/moderator, dan/atau narasumber baik yang berasal dari Pemerintah Daerah maupun dari luar Pemerintah Daerah; dan
d. uang harian dan/ atau biaya pengmapan peserta, panitia/moderator, dan/atau narasumber yang mengalami kesulitan transportasi.
(6) Perjalanan Dinas Paket Pertemuan Luar Kata sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e dibiayai seluruhnya oleh Pemerintah Daerah, yang meliputi:
a. biaya transportasi peserta, dan/ atau narasumber baik
panitia/ moderator, yang berasal dari Pemerintah Daerah maupun dari luar Pemerintah Daerah;
b. biaya paket pertemuan
( half day/ fullday/ fullboard/ residence);
c. uang saku peserta, panitia/moderator dan/atau narasumber baik yang berasal dari Pemerintah Daerah maupun dari luar Pemerintah Daerah; dan
d. uang harian dan/atau biaya pengmapan peserta, panitia/moderator, dan/ atau narasumber yang mengalami kesulitan transportasi.
(7) Pelaksanaan Perjalanan Dinas Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berpedoman pada peraturan Menteri yang mengatur tentang Perjalanan Dinas Luar Negeri.
Pasal 5
( 1) Perjalanan Dinas dilakukan dalam rangka :
a. pelaksanaan tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan;
b. mengikuti rapat, semmar, workshop, bimbingan teknis, sosialisasi, kursus dan sejenisnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. menempuh ujian dinas/ujian jabatan;
d. memperoleh pengobatan berdasarkan surat keterangan dokter karena mendapat cedera pada waktu/karena melakukan tugas; dan/atau
e. mengikuti pendidikan tugas belajar setara Diploma/S1/S2/S3, hanya untuk 1 (satu) kali keberangkatan.
(2) Bupati/Wakil Bupati, p1mp1nan clan anggota DPRD, Pegawai ASN, PTI:'-PK clan Masyarakat yang melakukan Perjalanan Dinas dilarang menerima biaya Perjalanan Dinas rangkap yaitu 2 (dua) kali atau lebih untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan dalam waktu yang sama.
Pasal 6
(1) Perjalanan Dinas dilakukan sesuai perintah pejabat yang berwenang clan tertuang dalam surat perintah tugas.
(2) Surat perintah tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) clitanclatangani oleh :
a. di lingkungan Sekretariat Daerah :
1. Bupati, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Bupati clan Wakil Bupati;
2. Bupati, untuk Perjalanan Dinas yang clilakukan Sekretaris Daerah, apabila Bupati berhalangan surat perintah tugas ditandatangani Wakil Bupati;
3. Sekretaris Daerah, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon II clan Staf Ahli, apabila Sekretaris Daerah berhalangan surat perintah tugas clitandatangani Asisten Administrasi Umum;
4. Asisten Administrasi Umum, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon III, apabila Asisten Administrasi Umum berhalangan surat perintah tugas clitanclatangani Asisten yang lain;
clan
5. Kepala Bagian, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon IV clan pegawai lainnya, apabila Kepala Bagian berhalangan surat perintah tugas ditandatangani Pejabat Eselon IV yang membidangi ketatausahaan.
b. Ketua DPRD, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan oleh pimpinan clan anggota DPRD, apabila Ketua DPRD berhalangan surat perintah tugas ditandatangani salah satu Wakil Ketua DPRD.
c. di lingkungan Sekretariat DPRD
1. Sekretaris Daerah, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Sekretaris DPRD, apabila Sekretaris Daerah berhalangan surat perintah tugas ditandatangani Asisten Administrasi Umum;
2. Sekretaris DPRD, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon III dan Eselon IV, apabila Sekretaris DPRD berhalangan surat perintah tugas ditandatangani Pejabat Eselon III yang membidangi kerumahtanggaan; dan
3. Pejabat Eselon III, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan pegawai lainnya.
d. di lingkungan dinas/badan/rumah sakit/Inspektorat:
1. Sekretaris Daerah, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon II, apabila Sekretaris Daerah berhalangan surat perintah tugas ditandatangani Asisten Administrasi Umum;
2. Direktur Rumah Sakit/Inspektur, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon Illa, apabila Direktur Rumah Sakit/Inspektur berhalangan surat perintah tugas ditandatangani Wakil Direktur / Sekretaris;
3. Direktur Rumah Saki t/ Inspektur / Kepala Badan/Dinas, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon III, apabila Direktur Rumah Sakit/Inspektur/Kepala Badan/Dinas berhalangan surat perintah tugas ditandatangani Wakil Direktur / Sekretaris / Pejabat Eselon III lainnya; dan
4. Kepala Bidang masing-masing, untuk Perjalanan
Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon IV dan
Pegawai lainnya, apabila Kepala Bidang berhalangan
surat perintah tugas ditandatangani
Sekretaris/Pejabat Eselon III lainnya.
e. di lingkungan Kecamatan:
1. Asisten Administrasi dan Umum, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon Illa, apabila Asisten Administrasi Umum berhalangan surat perintah tugas ditandatangani asisten yang lain;
dan
2. Camat, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon III, Pejabat Eselon IV dan Pegawai lainnya, apabila Camat berhalangan surat perintah tugas ditandatangani Sekretaris Kecamatan.
f. di lingkungan Kel urahan :
1. Camat masing-masing, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon IVa, apabila berhalangan ditandatangani Sekretaris Kecamatan;
dan
2. Lurah, untuk Perjalanan Dinas yang dilakukan Pejabat Eselon IVb dan Pegawai lainnya, apabila Lurah berhalangan surat perintah
ditandatangani Sekretaris Kelurahan.
tugas
(3) Pejabat penerbit surat perintah tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat memerintahkan pihak lain di luar pimpinan dan anggota DPRD, Pegawai ASN, dan/atau PTT-PK untuk melakukan Perjalanan Dinas.
(4) Surat perintah tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit mencantumkan:
a. pem beri tugas;
b. pelaksana tugas;
c. waktu pelaksanaan tugas;
d. tempat pelaksanaan tugas; dan e. maksud pelaksanaan tugas.
Pasal 7
(1) Dalam penerbitan SPPD, PA/KPA berwenang menetapkan tingkat biaya Perjalanan Dinas dan alat transportasi yang digunakan untuk melaksanakan Perjalanan Dinas yang bersangkutan dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan Perjalanan Dinas.
(2) Contoh format SPPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
BABV
BIAYA PERJALANAN DINAS Pasal8
Biaya Perjalanan Dinas dibebankan pada DPA-SKPD penerbit SPPD.
Pasal 9
(1) Biaya Perjalanan Dinas terdiri atas komponen sebagai berikut:
a. uang harian;
b. biaya transportasi;
c. biaya penginapan;
d. uang representasi; dan/ atau e. sewa kendaraan.
(2) Uang harian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas :
a. uang makan; dan b. uang saku.
(3) Biaya transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas
a. Perjalanan Dinas Dalam Kota, berupa biaya transportasi dari tempat kedudukan sampai tempat tujuan dan kembali ke tempat kedudukan; dan
b. Perjalanan Dinas Biasa:
1. biaya tiket, airport tax, taksi/ angkutan dari tempat kedudukan sampai tempat tujuan keberangkatan dan sebaliknya; dan
2. retribusi yang dipungut di terminal bus/ stasiun/bandara/ pelabuhan keberangkatan dan kepulangan.
(4) Biaya penginapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan biaya yang diperlukan untuk menginap:
a. di hotel; atau
b. di tempat menginap lainnya.
(5) Dalam hal Pelaksana Perjalanan Dinas tidak menggunakan biaya penginapan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), berlaku ketentuan:
a. Pelaksana Perjalanan Dinas diberikan biaya pengmapan sebesar 30% (tiga puluh persen) berdasarkan:
1. tarif hotel yang penyelenggara; atau
ditunjuk oleh panitia
2. tarif hotel di tempat tujuan sesuai Peraturan Bupati yang mengatur tentang standar biaya;
dengan melampirkan surat pernyataan yang 1smya menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak menginap di hotel atau tempat menginap lainnya; dan b. biaya penginapan sebagaimana dimaksud pada huruf
a dibayarkan secara Lumpsum.
(6) Uang representasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat diberikan kepada Bupati/Wakil Bupati, pimpinan dan anggota DPRD serta Pejabat Eselon II.
(7) Untuk keperluan pelaksanaan tugas di tempat tujuan, sewa kendaraan se bagaimana dimaksud pada ayat ( 1) huruf e dapat diberikan kepada :
a. Bupati/Wakil Bupati; dan/atau
b. pelaksana SPPD secara bersama-sama atau rombongan dengan jumlah paling sedikit 3 (tiga) orang.
(8) Sewa kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) sudah termasuk biaya untuk pengemudi, bahan bakar minyak, dan pajak sesuai ketentuan yang berlaku.
(9) Apabila Pelaksana Perjalanan Dinas menggunakan mobil pribadi atau dinas, dapat diberikan biaya bahan bakar minyak sebagai pengganti biaya transportasi.
(10) Komponen biaya Perjalanan Dinas dicantumkan pada rincian biaya Perjalanan Dinas dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(11) Satuan biaya untuk komponen Perjalanan Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupati mengenai standar harga satuan.
Pasal 10
(1) Biaya Perjalanan Dinas diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. uang harian dibayarkan secara Lumpsum sesuai standar biaya yang ditetapkan oleh Bupati serta dibayarkan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) hari;
b. biaya transportasi pegawai dibayarkan sesuai dengan Biaya Riil berdasarkan fasilitas transportasi sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Bupati ini;
c. biaya pengmapan dibayarkan sesuai dengan Biaya Riil;
d. uang representasi dibayarkan secara Lumpsum sesuai standar biaya yang ditetapkan oleh Bupati; dan
e. sewa kendaraan dibayarkan sesuai dengan Biaya Riil dan berpedoman pada standar biaya yang ditetapkan oleh Bupati.
(2) Dalam hal Perjalanan Dinas Bupati/Wakil Bupati mengikutsertakan suami/istri, diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
a. suami/istri Bupati/Wakil Bupati diberikan uang harian sesuai dengan standar biaya yang telah ditetapkan;
b. untuk pertanggungjawabannya harus dibuktikan dengan undangan yang menyebutkan harus hadir bersama istri/ suami atau pernyataan pelaksana perjalanan dinas; dan
c. segala bukti atas penggunaan biaya transportasi dan biaya akomodasi merupakan kelengkapan surat pertanggungjawaban.
(3) Besaran biaya Perjalanan Dinas suami/istri Bupati/Wakil Bupati disetarakan dengan pejabat Eselon III dan dibebankan pada DPA-SKPD penerbit SPPD.
(4) Biaya Perjalanan Dinas istri Sekretaris Daerah yang
berkaitan dengan kegiatan organisasi Dharma Wanita
dianggarkan pada Bagian Umum Sekretariat Daerah
Kabupaten Blitar dan besarannya disetarakan dengan
pejabat Eselon III.
(5) Staf yang mendampingi suami/istri Bupati/Wakil Bupati dan istri Sekretaris Daerah diberikan Perjalanan Dinas sesuai ketentuan yang berlaku dan dibebankan pada DPA-SKPD penerbit SPPD.
Pasal 11
(1) Biaya Perjalanan Dinas Biasa untuk mengikuti rapat, semmar, dan sejenisnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a, dapat ditanggung oleh penyelenggara.
(2) Panitia penyelenggara menyampaikan pemberitahuan mengenai pembebanan biaya Perjalanan Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam surat/
undangan mengikuti rapat, seminar, dan sejenisnya.
(3) Dalam hal Perjalanan Dinas untuk mengikuti kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditanggung atau tidak memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh penyelenggara, maka biaya Perjalanan Dinas dibebankan pada DPA-SKPD penerbit SPPD.
(4) Apabila menghadiri kegiatan pendidikan dan pelatihan/kursus yang akomodasi dan konsumsi ditanggung oleh penyelenggara, Pelaksana Perjalanan Dinas mendapatkan uang harian rapat, dan uang harian Perjalanan Dinas pada saat berangkat dan pulang, sesuai dengan standar biaya yang telah ditetapkan.
(5) Dalam rangka menghadiri suatu kegiatan rapat, seminar, dan kegiatan lainnya, Pelaksana Perjalanan Dinas dapat menginap pada hotel/tempat penginapan yang sama dengan tempat penyelenggaraan kegiatan tersebut.
(6) Dalam hal tarif pengmapan pada hotel/tempat penginapan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) lebih tinggi dari standar biaya hotel/tempat penginapan sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati, maka Pelaksana Perjalanan Dinas menggunakan fasilitas kamar dengan tarif terendah pada hotel/ tempat penginapan dimaksud.
(7) Apabila fasilitas kamar sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak tersedia, dapat menggunakan fasilitas kamar yang lebih tinggi dengan menyertakan surat keterangan dari pihak hotel/tempat penginapan yang menerangkan bahwa pada saat penyelenggaraan kegiatan tersebut tidak tersedia fasilitas dengan tarif terendah.
(8) Contoh format surat keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
Pasal 12
(1) Dalam hal Perjalanan Dinas dilakukan secara bersama
sama, pendamping Bupati/Wakil Bupati/ Pimpinan DPRD / Sekretaris Daerah/ Pejabat Struktural lainnya dapat menginap pada hotel/penginapan yang sama dengan melampirkan surat tugas dan pelaksanaannya menggunakan fasilitas kamar sesua1 standar biaya dan/ a tau biaya terendah pada hotel/ pengmapan dimaksud.
(2) Dalam hal fasilitas kamar dengan biaya terendah pada hotel/ penginapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sudah tidak tersedia, pendamping dapat menggunakan fasilitas kamar di atasnya dengan menyertakan surat keterangan dari pihak hotel/penginapan.
(3) Contoh format surat keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
Pasal 13
(1) Dalam hal jumlah hari Perjalanan Dinas melebihi jumlah hari yang ditetapkan dalam SPPD dan tidak disebabkan oleh kesalahan/kelalaian Pelaksana Perjalanan Dinas, dapat diberikan tambahan uang harian, biaya penginapan, uang representasi, dan sewa kendaraan.
(2) Tambahan uang harian, biaya penginapan, uang representasi, dan sewa kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dimintakan pada PA/KPA untuk mendapat persetujuan dengan melampirkan dokumen berupa:
a. surat keterangan syah bandar / kepala
kesalahan / kelalaian bandara/perusahaan transportasi lainnya; dan/ a tau
dari Jasa
b. surat keterangan perpanjangan tugas dari pemberi tugas dengan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(3) Berdasarkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2), PA/KPA membebankan biaya tambahan uang harian, biaya penginapan, uang representasi, dan sewa kendaraan pada DPA-SKPD yang bersangkutan.
(4) Dalam hal hari Perjalanan Dinas kurang dari jumlah hari yang ditetapkan dalam SPPD, Pelaksana Perjalanan Dinas harus mengembalikan kelebihan uang harian, biaya penginapan, uang representasi, dan sewa kendaraan yang telah diterimanya kepada PA/KPA.
BAB VI
PELAKSANAAN DAN PROSEDUR PEMBAYARAN BIAYA PERJALANAN DINAS
Pasal 14
(1) Biaya Perjalanan Dinas dibayarkan dalam batas pagu anggaran yang tersedia dalam DPA-SKPD yang bersangku tan.
(2) Biaya Perjalanan Dinas kepada Pelaksana Perjalanan Dinas dibayarkan paling cepat 3 (tiga) hari kerja sebelum Perjalanan Dinas dilaksanakan.
(3) Dalam hal Perjalanan Dinas harus segera dilaksanakan, biaya Perjalanan Dinas dapat dibayarkan setelah Perjalanan Dinas selesai.
(4) Pada akhir tahun anggaran, ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat melebihi 3 (tiga) hari kerja menyesuaikan dengan ketentuan yang mengatur mengenai penggunaan anggaran pada akhir tahun anggaran.
Pasal 15
(1) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas dilakukan melalui mekanisme UP.
(2) Pembayaran biaya Perjalanan Dinas dengan mekanisme UP dilakukan dengan memberikan uang muka kepada Pelaksana Perjalanan Dinas oleh bendahara pengeluaran.
(3) Dalam hal biaya Perjalanan Dinas yang dibayarkan kepada Pelaksana Perjalanan Dinas melebihi biaya
Perjalanan Dinas yang seharusnya
dipertanggungjawabkan, kelebihan biaya Perjalanan Dinas tersebut harus dikembalikan ke bendahara pengeluaran untuk disetor kembali ke kas daerah.
(4) Pemberian uang muka sebagaimana dimaksud pada ayat (2), berdasarkan persetujuan pemberian uang muka dari PA/KPA dengan melampirkan dokumen sebagai berikut : a. fotokopi surat perintah tugas;
b. fotokopi SPPD (lembar 1);
c. kwitansi tanda terima uang muka; dan d. rincian perkiraan biaya Perjalanan Dinas.
Pasal 16
(1) Dalam hal terjadi pembatalan pelaksanaan Perjalanan Dinas, biaya pembatalan dapat dibebankan pada DPA
SKPD yang bersangkutan.
(2) Dokumen yang harus dilampirkan dalam rangka pembebanan biaya pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. surat pernyataan pembatalan tugas Perjalanan Dinas oleh pejabat yang berwenang menerbitkan surat perintah tugas, yang dibuat sesua1 format se bagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini;
b. surat pernyataan pembebanan biaya pembatalan Perjalanan Dinas sesuai format sebagaimana tecantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini; dan
c. pernyataan/tanda bukti besaran pengembalian biaya transportasi dan/ atau biaya pengmapan dari perusahaan jasa transportasi dan/ atau penginapan yang disahkan PA/KPA.
(3) Biaya pembatalan yang dapat dibebankan pada DPA
SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
( 1)
a. biaya pembatalan tiket transportasi atau biaya penginapan atau pengeluaran riil lainnya; atau
b. sebagian atau seluruh biaya tiket transportasi atau biaya penginapan yang tidak dapat dikembalikan.
BAB VII
PERTANGGUNGJAWABAN BIAYA PERJALANAN DINAS Pasal 17
Pelaksana Perjalanan Dinas mempertanggungjawabkan laporan hasil pelaksanaan Perjalanan Dinas kepada pemberi tugas dan biaya Perjalanan Dinas kepada PA/KPA paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah Perjalanan Dinas dilaksanakan.
(2) Pertanggungjawaban biaya Perjalanan Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan melampirkan dokumen berupa:
a. surat perintah tugas yang sah dari pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2);
b. SPPD (lembar 1) yang telah ditandatangani oleh PA/KPA dan pejabat di tempat pelaksanaan Perjalanan Dinas dan pihak terkait yang menjadi tempat tujuan Perjalanan Dinas (lembar 2);
c. tiket pesawat, boarding pass, airport tax, retribusi, dan bukti pembayaran moda transportasi lainnya;
d. bukti pembayaran yang sah untuk sewa kendaraan berupa kwitansi atau bukti pembayaran lainnya yang dikeluarkan oleh badan usaha yang bergerak di bidang jasa penyewaan kendaraan;
e. bukti pembayaran hotel atau tempat pengmapan lainnya;
f. surat keterangan dari hotel atau tempat menginap bagi Pelaksana Perjalanan Dinas jika fasilitas kamar dengan tarif terendah pada hotel atau tempat penginapan sudah tidak tersedia dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini; dan
g. laporan hasil Perjalanan Dinas kepada PA/KPA.
(3) Apabila bukti pengeluaran transportasi dan/ atau penginapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, huruf d, dan huruf e tidak diperoleh maka Pelaksana Perjalanan Dinas melampirkan daftar pengeluaran riil dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
Pasal 18
(1) PA/KPA melakukan perhitungan rampung seluruh bukti pengeluaran biaya Perjalanan Dinas dan disampaikan kepada bendahara pengeluaran.
(2) PA/KPA berwenang untuk menilai kesesuaian clan kewajaran atas biaya yang tercantum dalam daftar pengeluaran riil.
(3) PA/KPA mengesahkan bukti pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dan menyampaikan kepada bendahara pengeluaran sebagai pertanggungjawaban.
BAB VIII
PENGENDALIANI NTERNAL Pasal 19
PA/KPA menyelenggarakan pengendalian internal terhadap pelaksanaan Perjalanan Dinas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP Pasal 20
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2022.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Blitar.
Diundangkan di Blitar
pada tanggal 20 Desember 2C?l
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BLITAR,
IZUL MAROM
Ditetapkan di Blitar
2C Desember 2021 BUPATI BLITAR,
RINI SYARIFAH
BERITA DAERAH KABUPATEN BLITAR TAHUN 2021 NOMOR : Sc / E pada tanggal
ttd
ttd