• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Manajemen Risiko

1. Pengertian Manajemen Risiko

Manajemen merupakan suatu proses untuk mengolah input yang dimiliki oleh masyarakat Muslim dalam sebuah manajemen, sehingga akhirnya menghasilkan output. Menggunakan segala kekuatan, pengalaman, kompetensi dan kemampuan lainnya untuk mengolah input.1

Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian serta penggunaan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.2

Menurut kamus, risk adalah peluang (kemungkinan) terjadinya bencana atau kerugian. Oleh karena itu, risk dari sudut pandang bank didefinisikan sebagai peluang dari kemungkinan terjadinya situasi yang memburuk (bad outcome).3

Risiko merupakan bahaya, risiko adalah ancaman atau perlindungan suatu tindakan atau kejadian yang menimbulkan dampak yang berlawanan dengan tujuan yang ingin dicapai. Kata kuncinya adalah

“tujuan” dan “dampak/sisi yang berlawanan”. Penjelasannya adalah sebagai berikut, guna mempertahankan eksistensi kehidupan, maka diperlukan suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan, diperlukan tindakan atau aktivitas. Aktivitas memiliki risiko jika dampaknya berlawanan.

1Ismanto Kuat, Implementasi TQM dalam Lembaga Keuangan Syari’ah (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2009), 250.

2Kuncoro Mudrajat dan Suhardjono, Manajemen Perbankan (Yogyakarta: BPFE, 2002), 99.

3Ali,Masyhud, Manajemen Risiko (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 3.

(2)

Sebaliknya, aktivitas memberikan peluang untuk memperoleh hasil yang diinginkan.4

Risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain

“kemungkinan” itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian.

Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang menyebabkan tumbuhnya risiko. Dan jika kita kaji lebih lanjut “kondisi yang tidak pasti” itu timbul karena berbagai sebab, antara lain:

a) Jarak waktu dimulai perencanaan atas kegiatan sampai kegiatan itu berakhir. Makin panjang jarak waktu makin besar ketidakpastiannya.

b) Keterbatasan tersedianya informasi yang diperlukan.

c) Keterbatasan pengetahuan / keterampilan / teknik mengambil keputusan.5

Menurut PBI No. 13/25/PBI/2011 tentang penerapan manajemen risiko bagi BUS dan UUS. Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa tertentu. Sementara itu, risiko kerugian adalah kerugian yang terjadi sebagai konsekuensi langsung atau tidak langsung dari kejadian risiko. Kerugian itu bisa berbentuk finansial atau non- finansial.6

Widagdo Sukarman mendefinisikan manajemen risiko sebagai keseluruhan sistem pengelolaan dan pengendalian risiko yang dihadapi oleh bank yang terdiri dari seperangkat alat, teknik, proses manajemen (termasuk kewenangan dan sistem dan prosedur operasional) dan organisasi yang ditujukan untuk memelihara tingkat profitabilitas dan tingkat kesehatan bank yang telah ditetapkan dalam Corporate Plan atau

4Ferry N. Idroes, Manajemen Risiko Perbankan (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2011), 4.

5Herman Darmawan, Manajemen Risiko (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), 21.

6Bambang Riyanto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syariah di indonesia (Jakarta:

Salemba Empat, 2013), 30.

(3)

rencana startegis bank lainnya sesuai dengan tingkat kesehatan bank yang berlaku.7

William T.Thornhil mendefinisikan manajemen risiko sebagai sebuah disiplin pengelolaan yang tujuannya adalah untuk memproteksi asset dan laba sebuah organisasi dengan mengurangi potensi kerugian sebelum hal tersebut terjadi, dan pembiayaan melalui asuransi atau cara lain atas kemungkinan rugi besar karena bencana alam, keteledoran manusia, atau karena keputusan pengadilan. Dalam prakteknya, proses ini mencakup langkah-langkah logis seperti pengidentifikasian risiko, pengukuran dan penilaian atas ancaman (exposures) yang telah diidentifikasi, pengendalian ancaman tersebut melalui eliminasi atau pengurangan; dan pembiayaan ancaman yang tersisa agar apabila kerugian tetap terjadi, organisasi dapat terus menjalankan usahanya tanpa terganggu stabilitas keuangannya.8

Meskipun unsur pokok dari manajemen risiko meliputi identifikasi, mengukur, memonitor, dan mengelola berbagai risiko, namun semua ini tidak akan dapat diimplementasikan tanpa disertai dengan proses dan sistem yang jelas. Keseluruhan proses manajemen risiko ini harus meliputi seluruh departemen atau divisi kerja dalam lembaga sehingga tercipta budaya manajemen risiko. Perlu dicatat bahwa proses manajemen risiko dalam sebuah lembaga keuangan akan sangat bergantung pada karakteristik aktivitas, ukuran, dan kompleksitas lembaga. Sistem manajemen risiko yang diuraikan di sisi dapat dijadikan sebagai standar yang bisa dianut oleh bank. Sistem manajemen risiko yang komprehensif harus mencakup tiga komponen berikut.

1) Membangun lingkungan manajemen risiko yang tepat serta kebijakan dan prosedur yang sehat.

7Robert Tampubolon, Risk Management (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2004), 33.

8 Robert Tampubolon, Risk Management, 34.

(4)

Pada tahap ini berhubungan dengan keseluruhan tujuan dan strategi bank terhadap risiko dan kebijakan-kebijakan manajemen terhadapnya. Dewan direksi harus bertanggung jawab untuk menjelaskan keseluruhan tujuan, kebijakan, dan strategi manajemen risiko dalam sebuah lembaga keuangan. Keseluruhan tujuan manajemen risiko harus dikomunikasikan pada seluruh bagian perusahaan. Disamping itu, dewan direksi pun harus meyakinkan bahwa pihak manajemen telah mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengidentifikasi, mengukur, memonitor, dan mengontrol risiko-risiko ini. Dewan direksi harus mendapatkan informasi dan meninjau ulang status risiko bank melalui laporan secara periodik.

Senior manajemen bertanggung jawab untuk mengimplementasikan hal-hal yang telah ditetapkan oleh dewan direksi. Lebih lanjut, manajemen juga harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang akan dipakai oleh lembaga dalam rangka mengelola risiko.

Kebijakan dan prosedur tersebut meliputi proses review manajemen risiko, batas toleransi risiko yang tepat, sistem pengukuran risiko yang memadai, sistem pelaporan yang komprehensif, dan sistem kontrol internal yang efektif. Bank harus menentukan dengan jelas siapa saja individu atau komite yang harus bertanggung jawab dalam manajemen risiko, sekaligus mengidentifikasikan garis wewenang dan tanggung jawabnya. Disamping itu, perlu diyakinkan bahwa telah terdapat pemisahan tugas dalam pengukuran risiko, monitoring, dan fungsi kontrol.

2) Menciptakan proses pengukuran, mitigasi, dan monitoring yang tepat.

Bank harus memiliki sistem manajemen informasi untuk mengukur, memonitor, mengontrol, dan melaporkan berbagai eksposur risiko.

Langkah-langkah yang perlu diambil untuk tujuan pengukuran dan monitoring adalah pembuatan standar bagi pengkategorian dan review risiko, penilaian secara konsisten dan rating eksposur risiko.

(5)

Standarisasi risiko dan laporan audit juga penting bagi perusahaan.

Tindakan yang perlu diambil dalam hal ini adalah menciptakan standar menginventaris risiko berdasarkan aset, serta membuat laporan manajemen risiko dan laporan audit secara berkala. Bank juga dapat menggunakan pihak eksternal untuk menilai risiko, dengan memakai rating kredit atau kriteria penilaian risiko oleh pengawas seperti CAMELS.

Risiko yang ditanggung bank harus dimonitor dan dikelola secara efisien. Bank harus melakukan pengujian (stress testing) agar mengetahui pengaruh dari potensi perubahan di masa mendatang terhadap portofolio. Hal-hal yang perlu diuji oleh bank di antaranya adalah pengaruh keterpurukan industri atau perekonomian dan kejadian-kejadian yang dapat memicu risiko pasar berdasarkan angka kegagalan (on default rate) dan kondisi likuiditas bank.

Pengujian harus di desain untuk mengidentifikasi kondisi di mana posisi bank berada dalam bahaya dan dalam kondisi tertentu, memberikan respons. Bank harus memiliki rencana kontingensi yang dapat diterapkan dalam berbagai skenario.

3) Kontrol internal yang cukup.

Bank harus mempunyai kontrol internal untuk memastikan bahwa semua kebijakan telah terlaksana. Sebuah sistem kontrol internal yang efektif mencakup proses identifikasi dan evaluasi berbagai jenis risiko yang cukup dan terdapat sistem informasi yang memadai untuk mendukungnya. Sistem harus menciptakan kebijakan dan prosedur, dan kepatuhannya harus di review secara terus menerus. Di antarannya dengan melakukan audit internal secara periodik dan membuat laporan dan penilaian yang independen untuk mengidentifikasi area-area yang menjadi titik kelemahan. Bagian terpenting dari kontrol internal adalah meyakinkan bahwa tugas

(6)

untuk mengukur, memonitor, dan mengontrol risiko telah dibuat secara terpisah. 9

2. Jenis-Jenis Risiko Bank Syari’ah

Berdasarkan peratuan Bank Indonesia No.13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko untuk Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, terdapat 10 macam jenis risiko, yaitu:

a. Risiko Kredit, adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati.

b. Risiko Pasar, adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif akibat perubahan harga pasar, antara lain risiko berupa perubahan nilai dari aset yang dapat diperdagangkan atau disewakan.

c. Risiko Likuiditas, adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa menggangu aktivitas dan kondisi keuangan bank.

d. Risiko Operasional, adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan system dan/atau adanya kejadian- kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank.

e. Risiko Hukum, adalah risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.

f. Risiko Reputasi, adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank.

g. Risiko Stratejik, adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

9Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, Manajemen risiko: Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 17-20.

(7)

h. Risiko Kepatuhan, adalah risiko akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku serta prinsip syariah.

i. Risiko imbal hasil (Rate of Return Risk), adalah risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan bank kepada nasabah, karena terjadi perubahan tingkat imbal hasil yang diterima bank dari penyaluran dana, yang dapat mempengaruhi prilaku nasabah dana pihak ketiga bank.

j. Risiko investasi (Equity Investment Risk), adalah risiko akibat ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan bagi hasil berbasis profit and loss sharing.10

B. Manajemen Risiko Pembiayaan 1. Pembiayaan

Pengertian pembiayaan menurut Undang-Undang Perbankan No.

10 Tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank (lembaga keuangan) dengan pihak lain yang mewajibkan yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan bagi hasil.11

Produk yang ditawarkan bank syariah dalam penyaluran dana terbagi kedalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu :

a. Pembiayaan dengan prinsip jual beli

Pembiayaan dengan prinsip jual beli ditujukan untuk memiliki barang. Produk yang menggunakan prinsip jual beli seperti murabahah, salam,dan istishna’.

b. Pembiayaan dengan prinsip sewa

10www.bi.go.id/id/peraturan/perbankan/Pages/pbi_132311.aspx diakses 17 November 2015 pkl. 09.02 WIB.

11Rachmat Firdaus, Manajemen Perkreditan Bank Umum (Bandung: Alfabeta, 2003), 3.

(8)

Prinsip sewa ditujukan untuk mendapatkan jasa. Produk yang menggunakan prinsip sewa, yaitu ijarah dan IMBT.

c. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil

Prinsip bagi hasil digunakan untuk usaha kerja sama yang ditujukan guna mendapatkan barang dan jasa sekaligus. Produk seperti ini yaitu, musyarakah dan mudharabah.

d. Pembiayaan dengan akad pelengkap

Pembiayaan dengan akad pelengkap ditujukan untuk memperlancar pembiayaan dengan menggunakan tiga prinsip di atas. Akad pelengkap yang digunakan seperti, hiwalah, rahn, qardh, wakalah, dan kafalah.

Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak- pihak yang merupakan defisit unit. Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagi menjadi dua hal berikut.

1) Pembiayaan produktif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan, maupun investasi.

2) Pembiayaan konsumtif, yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan. 12

2. Risiko dalam Pembiayaan Syariah

Risiko pembiayaan sering dikaitkan dengan risiko gagal bayar.

Risiko ini mengacu pada potensi kerugian yang dihadapi perusahaan atau bank ketika pembiayaan yang diberikan kepada nasabah macet. Dimana nasabah tidak mampu memenuhi kewajiban mengembalikan modal yang diberikan oleh bank. Selain pengembalian modal, risiko ini juga

12Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), 160

(9)

mencakup ketidak mampuan nasabah menyerahkan porsi keuntungan yang seharusnya diperoleh oleh perusahaan atau bank yang telah disepakati diawal. Konsekuensi penggunaan definisi ini adalah risiko pembiayaan hanya berlaku untuk akad berbasis utang, seperti qardhul hasan, jual beli muajjal dan jual beli salam. Nasabah melakukan pembiayaan menggunakan skema akad-akad tersebut, diwajibkan untuk membayar kembali kepada bank sesuai termin yang telah disepakati.

Kegagalan nasabah melunasi kewajibannya dianggap sebagai kondisi gagal bayar, yaitu gagal dalam membayar cicilan pokok maupun porsi keuntungan.13

Berikut akan dibahas beberapa risiko yang ada dalam pembiayaan syariah.

a. Pembiayaan murabahah

Murabahah merupakan akad yang paling dominan digunakan dalam lembaga keuangan syariah. Jika akad telah terstandarisasi maka karakteristik risikonya dapat diibaratkan dengan pembiayaan berbasis bunga. Karena memiliki persamaan karakteristik risiko dengan akad berbasis bunga, murabahah telah disetujui untuk diterima sebagai model pembiayaan di beberapa sistem regulasi di sejumlah negara. Namun demikian terdapat beberapa jenis akad yang tidak disetujui oleh para ulama fiqh. Terlebih lagi, beberapa jenis kontrak yang saat ini berlaku, dari sudut pandang fiqh, masih belum seragam. Perbedaan sudut pandang ini dapat memicu risiko pihak ketiga (counterparty risk) sebagai hasil dari tidak efektifnya sistem peradilan.14

Persoalan pada pembiayaan murabahah ini dapat muncul karena beberapa ulama lain menganggap bahwa janji tersebut tidak

13Imam Wahyudi Dkk, Manajemen Risiko Bank Islam, (Jakarta: Salemba Empat, 2013), 90.

14Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, Manajemen risiko: Lembaga Keuangan Syariah, 54.

(10)

mengikat satu pihak saja, meskipun nasabah telah memesan sesuatu dan membayar imbalan atas komitmen tersebut, bisa saja nasabah membatalkan akad. Persoalan lain dari akad jual beli murabahah ini adalah terlambatnya pembayaran oleh pihak ketiga, sedangkan pihak bank tidak dapat menuntut kompensasi apa pun atas keterlambatan tersebut. Gagal bayar yang tidak sesuai dengan waktu yang telah disepakati dapat merugikan pihak bank.

b. Pembiayaan salam

Paling tidak, terdapat dua counterparty risk dalam akad salam. Berikut penjelasannya.

1) Counterparty risk dapat muncul dari kegagalan supply pada waktu yang telah disepakati, atau kegagalan supply pada kualitas dan kuantitas yang sama dengan kesepakatan. Ketika salam adalah akad untuk pembiayaan sektor pertanian, counterparty risk mungkin terjadi kaarena faktor-faktor yang berada di luar kualitas kredit nasabah secara normal. Misalnya, kualitas kredit nasabah mungkin sangat bagus, namun supply barang mungkin saja tidak sesuai dengan waktu yang disepakati karena terjadi bencana alam. Ketika sektor pertanian menghadapi risiko katastropik (catastrophic risk), counterparty risk akan semakin besar lagi dibandingkan dengan akad salam yang normal.

2) Akad salam bisa dilakukan melalui pertukaran resmi (di suatu tempat tertentu, misalnya pasar) dan bisa dilakukan tanpa tempat yang khusus. Akad ini harus tertulis bagi kedua belah pihak.

Dengan demikian, akad salam diakhiri dengan pengiriman secara fisik dan kepemilikan komoditi. Komoditi ini tentunya memerlukan inventori, yang mengharuskan bank untuk menanggung biaya penyimpanan dan harga risiko lainnya, di

(11)

mana biaya dan harga tersebut merupakan suatu yang unik bagi bank syariah.15

c. Pembiayaan istishna’

Pembiayaan istishna’ yang disalurkan mengahadapkan bank pada counterparty risk yang spesifik, di antaranya:

1) Counterparty risk yang dihadapi bank syariah dalam pembiayaan istishna’ muncul dari sisi supplier, sebagaimana yang terjadi pada akad salam. Terdapat risiko kegagalan yang terkait dengan kualitas dan waktu pengiriman. Namun demikian, objek dari istishna’ lebih mendapatkan kontrol dari pihak ketiga dan kurang dihadapkan pada bencana alam jika dibandingkan dengan akad salam. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa counterparty risk dari subkontraktor istishna’ meskipun besar, namun tetap lebih rendah jika dibandingkan dengan akad salam.

2) Resiko gagal bayar (default risk) pada sisi pembeli adalah bersifat alamiah, atau sering disebut sebagai kegagalan untuk membayar secara penuh dan tepat waktu.

3) Meskipun akad istishna’ lebih bersifat opsional dan tidak terikat dengan ketentuan fiqh, namun counterparty risk bisa muncul ketika supplier bermaksud membatalkan kontrak.

4) Sama halnya dengan akad murabahah, dalam akad istishna’

nasabah pun dapat membatalkan kontrak dan gagal menunda waktu pengiriman sehingga bank harus menanggung risiko tambahan. Risiko-risiko ini ada karena ketika bank syariah masuk ke dalam akad istishna’, akan selalu melibatkan peran para pengembang, kontraktor, perusahaan manufaktur, dan supplier . selama bank syariah tidak memiliki spesialisasi dalam hal ini maka akan selalu tergantung pada subkontraktor. 16

15Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, Manajemen risiko: Lembaga Keuangan Syariah, 55-56.

16Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, Manajemen risiko: Lembaga Keuangan Syariah, 56-57.

(12)

d. Pembiayaan mudharabah dan musyarakah

Sejumlah ekonom, menyatakan alasan mengapa bank tidak memilih model pembiayaan ini adalah, karena di samping tidak menguntungkan dari sisi diversifikasi portofolio, risiko yang harus ditanggung pun lebih tinggi. Terlebih lagi, penggunaan model pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada kedua sisi balance sheet bank, lebih lanjut akan memicu ketidakstabilan sistemik (systemic instability), dan penurunan pada sisi aset akan dapat ditutup dengan penyerapan penurunan pada sisi liabilitas. Selain itu, juga di argumentasikan bahwa akad berbasis insentif dianggap lebih dapat mereduksi pengaruh dari moral hazard dan adverse selection.

Optimalisasi portofolio kredit bukan berarti mengoptimalkan portofolio kredit dan ekuitas. Terlebih lagi, ketika bank syariah menggunakan current account (giro) pada sisi liabilitas dalam jumlah besar, kejatuhan pada sisi aset tidak dapat diserap oleh rekening ini pada sisi liabilitas. Dengan demikian, penggunaan model pembiayaan mudharabah dan musyarakah yang lebih besar pada sisi aset akan mengakibatkan ketidakstabilan sistemik pada saat giro dipergunakan dalam jumlah besar oleh bank syariah.17

Pembiayaan mudharabah dan musyarakah sangat tinggi risikonya karena tidak adanya ketentuan jaminan, adanya risiko moral hazard, adverse selection (penyalahgunaan fasilitas kredit oleh nasabah) dan terbatasnya teknik dan kompetensi bank untuk menilai proyek.

3. Analisis Pembiayaan

Analisis pembiayaan merupakan suatu proses yang dilakukan oleh bank syariah dalam menilai suatu permohonan yang diajukan oleh

17Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, Manajemen risiko: Lembaga Keuangan Syariah, 58.

(13)

calon nasabah apakah layak atau tidak untuk diberikan pembiayaan.

Analisis pembiayaan dilakukan untuk mencegah terjadinya risiko pembiayaan yang dilakukan oleh nasabah. Analisis yang baik akan menghasilkan keputusan yang tepat.

Terdapat beberapa prinsip sebelum memutuskan permohonan pembiayaan yang diajukan oleh calon nasabah antara lain dikenal dengan prinsip 5C. Penerapan prinsip dasar dalam pemberian pembiayaan serta analisis yang mendalam terhadap calon nasabah, perlu dilakukan oleh bank syariah agar bank tidak salah memilih dalam menyalurkan dananya sehingga dana yang disalurkan kepada nasabah dapat terbayar kembali sesuai dengan jangka waktu yang diperjanjikan. Berikut pembahasan mengenai analisis 5C:

a. Character

Menggambarkan watak dan kepribadian calon nasabah. Bank perlu melakukan analisis terhadap karakter calon nasabah dengan tujuan untuk mengetahui bahwa calon nasabah mempunyai keinginan untuk memenuhi kewajiban membayar kembali pembiayaan yang telah diterima hingga lunas. Bank ingin meyakini willingness to repay dari calon nasabah, yaitu keyakinan bank terhadap kemauan calon nasabah mau memenuhi kewajibannya sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan. Bank ingin mengetahui bahwa calon nasabah mempunyai karakter yang baik, jujur, dan mempunyai komitmen terhadap pembayaran kembali pembiayaannya.

Cara yang perlu dilakukan oleh bank untuk mengetahui character calon nasabah antara lain:

1) BI Checking

Bank dapat melakukan penelitian dengan melakukan BI Checking, yaitu melakukan penelitian terhadap calon nasabah dengan melihat data nasabah melalui komputer yang online

(14)

dengan Bank Indonesia. BI Checking dapat digunakan oleh bank untuk mengetahui dengan jelas calon nasabahnya, baik kualitas pembiayaan calon nasabah bila telah menjadi debitur bank lain.

2) Informasi dari Pihak Lain

Dalam hal calon nasabah masih belum memiliki pinjaman di bank lain, maka cara yang efektif ditempuh yaitu dengan meneliti calon nasabah melalui pihak-pihak lain yang mengenal dengan baik calon nasabah. Misalnya mencari informasi tentang karakter calon nasabah melalui tetangga, teman kerja, atasan langsung, dan rekan usahanya. Informasi dari pihak lain tentang calon nasabah, akan lebih meyakinkan bagi bank untuk mengetahui character calon nasabah. Character merupakan faktor yang sangat penting dalam evaluasi calon nasabah.

b. Capacity

Analisis terhadap capacity ini ditujukan untuk mengetahui kemampuan keuangan calon nasabah dalam memenuhi kewajibannya sesuai jangka waktu pembiayaan. Kemampuan keuangan calon nasabah sangat penting karena merupakan sumber utama pembayaran. Semakin baik kemampuan keuangan calon nasabah, maka akan semakin baik kemungkinan kualitas pembiayaan, artinya dapat dipastikan bahwa pembiayaan yang diberikan bank syariah dapat dibayar sesuai dengan jangka waktu yang diperjanjikan.

Beberapa cara yang dapat ditempuh dalam mengetahui kemampuan keuangan calon nasabah antara lain:

1) Melihat laporan keuangan

Dalam laporan keuangan calon nasabah, maka akan dapat diketahui sumber dananya, dengan melihat laporan arus kas. Di

(15)

dalam laporan arus kas secara keseluruhan dapat diketahui kondisi keuangan secara tunai dari calon nasabah, dengan membandingkan antara sumber dana yang diperoleh dan penggunaan dana.

2) Memeriksa slip gaji rekening tabungan

Cara lain yang dapat ditempuh oleh bank syariah, bila calon nasabah pegawai, maka bank dapat meminta fotokopi slip gaji tiga bulan terakhir dan didukung oleh rekening tabungan sekurang-kurangnya untuk tiga bulan terakhir. Dari data slip gaji dan fotokopi rekening tabungan tiga bulan terakhir, maka akan dapat dianalisis tentang sumber dana dan penggunaan dana calon nasabah. Data keuangan digunakan sebagai asumsi dasar tentang kondisi keuangan calon nasabah setelah mendapat pembiayaan dari bank syariah.

3) Survei ke lokasi usaha calon nasabah

Survei ini diperlukan untuk mengetahui usaha calon nasabah dengan melakukan pengamatan secara langsung.

c. Capital

Capital atau modal yang perlu disertakan dalam objek pembiayaan perlu dilakukan analisis yang lebih mendalam. Modal merupakan jumlah modal yang dimiliki oleh calon nasabah yang akan disertakan dalam proyek yang akan dibiayai. Semakin besar modal yang dimiliki dan disertakan oleh calon nasabah dalam objek pembiayaan akan semakin meyakinkan bagi bank akan keseriusan calon nasabah dalam mengajukan pembiayaan dan pembayaran kembali.

Cara yang dapat ditempuh oleh bank untuk mengetahui capital antara lain :

(16)

1) Laporan keuangan calon nasabah

Dalam hal calon nasabah adalah perusahaan, maka struktur modal ini penting utnuk menilai tingkat debt to equity ratio.

Perusahaan dianggap kuat dalam menghadapi berbagai macam risiko apabila jumlah modal sendiri yang dimilki cukup besar.

Analisis rasio keuangan dapat dilakukan oleh bank untuk dapat mengetahui modal perusahaan. Analisis rasio keuangan ini dilakukan apabila calon nasabah merupakan perusahaan.

2) Uang muka

Uang muka yang dibayarkan dalam memperoleh pembiayaan.

Dalam hal calon nasabah adalah perorangan, dan tujuan penggunaannya jelas, misallnya pembiayaan untuk pembelian rumah, maka analisis capital dapat diartikan sebagai jumlah uang muka yang dibayarkan oleh calon nasabah kepada pengembang atau uang muka yang telah disiapkan. Semakin besar uang muka yang dibayarkan oleh calon nasabah untuk membeli rumah, semakin meyakinkan bagi bank bahwa pembiayaan yang akan disalurkan kemungkinan akan lancar.

d. Collateral

Merupakan agunan yang diberikan oleh calon nasabah atas pembiayaan yang diajukan. Agunan merupakan sumber pembayaran kedua. Dalam hal nasabah tidak dapat membayar angsurannya, maka bank syariah dapat melakukan penjualan terhadap agunan. Hasil penjualan agunan digunakan sebagai sumber pembayaran kedua untuk melunasi pembiayaannya.

Bank tidak akan memberikan pembiayaan yang melebihi dari nilai agunan, kecuali untuk pembiayaan tertentu yang dijamin pembayarannya oleh pihak tertentu. Dalam analisis agunan, faktor

(17)

yang sangat penting dan harus diperhatikan adalah purnajual dari agunan yang diserahkan kepada bank. Bank syariah perlu mengetahui minat pasar terhadap agunan yang diserahkan oleh calon nasabah. Bila agunan merupakan barang yang diminati oleh banyak orang (marketable), maka bank yakin bahwa agunan yang diserahkan calon nasabah mudah diperjualbelikan. Pembiayaan yang ditutup oleh agunan yang purnajualnya bagus, risikonya rendah.

Secara perinci pertimbangan atas collateral dikenal dengan MAST:

1) Marketability

Agunan yang diterima oleh bank haruslah agunan yang mudah diperjualbelikan dengan harga yang menarik dan meningkat dari waktu ke waktu.

2) Ascertainability of value

Agunan yang diterima memiliki standar harga yang lebih pasti.

3) Stability of value

Agunan yang diserahkan bank memiliki harga yang stabil, sehingga ketika agunan dijual, maka hasil penjualan bisa meng- cover kewajiban debitur.

4) Transferability

Agunan yang diserahkan bank mudah dipindahtangankan dan mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya.

e. Condition of Economy

Merupakan analisis terhadap kondisi perekonomian. Bank perlu melakukan analisis dampak kondisi ekonomi terhadap usaha calon nasabah di masa yang akan datang, untuk mengetahui pengaruh kondisi ekonomi terhadap usaha calon nasabah.

Beberapa analisis terkait dengan condition of economy antara lain:

(18)

1) Kebijakan pemerintah. Perubahan kebijakan pemerintah digunakan sebagai pertimbangan bagi bank untuk melakukan analisis condition of economy.

2) Bank syariah tidak terlalu fokus terhadap analisis condition of economy pada pembiayaan konsumsi. Bank akan mengkaitkan antara tempat kerja calon nasabah dan kondisi ekonomi saat ini dan saat mendatang, sehingga dapat diestimasikan tentang kondisi perusahaan di mana calon nasabah bekerja.

Kelangsungan hidup perusahaan dan pekerjaan calon nasabah menjadi bahan pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan pembiayaan. 18

Dalam prinsip 5C, setiap permohonan pembiayaan, telah dianalisis secara mendalam sehingga hasil analisis sudah cukup memadai. Dalam analisis 5C yang dilakukan secara terpadu, maka dapat digunakan sebagai dasar untuk memutuskan permohonan pembiayaan.

Analisis 5C, perlu dilakukan secara keseluruhan. Namun demikian, dalam praktiknya, bank syariah akan memfokuskan terhadap beberapa prinsip antara lain character, capacity, dan collateral. Ketiga prinsip dasar pemberian pembiayaan ini dianggap sebagai faktor penting yang tidak dapat ditinggalkan sebelum mengambil keputusan.19

Dalam realisasi suatu pembiayaan secara inherent terdapat risiko yang melekat, yakni pembiayaan bermasalah hingga kondisi terburuknya menjadi macet. Guna menghindari risiko demikian, kiranya dalam setiap pengambilan keputusan suatu permohonan pembiayaan, baik di Kantor Pusat maupun Kantor-kantor Cabang/Cabang Pembantu, dapat dihasilkan keputusan yang “Obyektif”. Keputusan hanya dapat diperoleh

18Ismail, Perbankan Syariah (Jakarta: Kencana, 2011), 120-126.

19Ismail, Perbankan Syariah, 126.

(19)

jika prosesnya melibatkan suatu tim pemutus (Komite Pembiayaan), berapapun besar plafon/Limit pembiayaan yang dinilai / diputus.20

C. Mekanisme Pembiayaan Murabahah 1. Murabahah dalam Wacana Fiqh

Murabahah adalah istilah dalam Fikih Islam yang berarti suatu bentuk jual beli tertentu ketika penjual menyatakan biaya perolehan barang, meliputi harga barang dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk memperoleh barang tersebut, dan tingkat keuntungan (margin) yang diinginkan.21

Murabahah merupakan suatu perjanjian jual beli dalam Islam untuk pembiayaan modal kerja dan pembiayaan perdagangan para nasabahnya. Jenis jual beli murabahah adalah yang paling populer di perbankan syariah.

Dasar hukum murabahah dalam Al-Qur’an terdapat dalam QS.

an-Nisa’ ayat 29.































... 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu...”.22

Berdasarkan hadis Nabi riwayat Tirmidzi:

20Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Yogyakarta: EKONISIA, 2005), 204- 205.

21Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, 81-82.

22Al-Qur’anul Karim, Mushaf Sahmalnour, 83.

(20)

Dari Abu Sai’d Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya jual-beli itu harus dilakukan suka sama suka.” (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).

Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang biaya apa saja yang dapat dibebankan kepada harga jual barang tersebut. Berikut pendapat para ulama, yaitu:

a. Ulama mazhab Maliki membolehkan biaya-biaya yang langsung terkait dengan transaksi jual beli itu dan biaya-biaya yang tidak langsung terkait dengan transaksi tersebut, namun memberikan nilai tambah pada barang itu.

b. Ulama mazhab Syafi’i membolehkan membebankan biaya-biaya yang secara umum timbul dalam suatu transaksi jual beli kecuali biaya tenaga kerjanya sendiri karena komponen ini termasuk dalam keuntungannya. Begitu pula biaya-biaya yang tidak menambah nilai barang tidak boleh dimasukkan sebagai komponen biaya.

c. Ulama mazhab Hanafi membolehkan membebankan biaya-biaya yang secara umum timbul dalam suatu transaksi jual beli, namun mereka tidak membolehkan biaya-biaya yang memang semestinya dikerjakan oleh si penjual.

d. Ulama mazhab Hanbali berpendapat bahwa semua biaya langsung maupun tidak langsung dapat dibebankan pada harga jual selama biaya-biaya itu harus dibayarkan kepada pihak ketiga dan akan menambah nilai barang yang dijual.23

Jadi, semua mazhab diatas membolehkan pembebanan biaya langsung yang harus dibayarkan kepada pihak ketiga. Dan sepakat tidak membolehkan pembebanan biaya langsung yang berkaitan dengan pekerjaan yang memang semestinya dilakukan penjual maupun baiya langsung yang berkaitan dengan hal-hal yang berguna. Semua mazhab diatas, membolehkan pembebanan biaya tidak langsung yang dibayarkan

23Adiwarman Karim, Bank Islam : analisis fiqih dan keuangan, 114.

(21)

kepada pihak ketiga dan pekerjaan itu harus dilakukan oleh pihak ketiga.

Tapi bila pekerjaan itu harus dilakukan oleh si penjual, mazhab Maliki tidak membolehkan pembebanannya, sedangkan ketiga mazhab lainnya membolehkan.

Para ulama awal seperti Malik dan Syafi’i yang secara khusus menyatakan bahwa penjualan murabahah berlaku, tidak menyebutkan referensi dari hadits yang jelas. Al-Kaff, kritikus kontemporer terhadap murabahah, menyimpulkan bahwa murabahah merupakan “salah satu penjualan yang tidak dikenal sepanjang masa Nabi atau sahabatnya”.

Menurutnya, ulama yang mahsyur mulai mengungkapkan pandangan mereka mengenai murabahah pada perempat pertama abad kedua Hijriyah, atau lebih. Karena nampaknya tidak ada acuan langsung kepadanya dalam Qur’an atau dalam hadits yang diterima umum, para ahli hukum harus membenarkan murabahah berdasarkan landasan lain.

Malik mendukung validitasnya dengan acuan pada praktek orang-orang Madinah: “Ada konsensus pendapat di sini (di Madinah) mengenai hukum orang yang membeli baju di sebuah kota, dan mengambilnya ke kota lain untuk menjualnya berdasarkan suatu kesepakatan berdasarkan keuntungan.24

Syafi’i, tanpa bermaksud untuk membela pandangannya oleh teks syariah, mengatakan: “Jika seseorang menunjukkan komoditas kepada seseorang dan mengatakan, “kamu beli untukku, aku akan memberimu keuntungan begini, begini,” kemudian orang itu membelinya, maka transaksi itu sah”. Ulama Hanafi, Marghinani, membenarkannya berdasarkan “kondisi penting bagi validitas penjualan di dalamnya, dan juga karena manusia sangat membutuhkannya. Ulama Syafi’i, Nawawi,

24Abdullah Saeed, Bank Islam dan Bunga, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), 137-138.

(22)

secara sederhana mengemukakan bahwa: Penjualan Murabahah sah menurut hukum tanpa bantahan.25

2. Murabahah dalam Sistem Perbankan Islam

Beberapa alasan diberikan popularitas murabahah dalam pelaksanaan investasi perbankan Islam: murabahah adalah mekanisme penanaman modal jangka pendek, dan dibandingkan dengan pembagian untung rugi / bagi hasil (PLS); mark up dalam murabahah dapat ditetapkan dengan cara yang menjamin bahwa bank mampu mengembalikan dibandingkan dengan bank-bank yang berbasis bunga di mana bank-bank Islam sangat kompetitif; murabahah menghindari ketidakpastian yang dilekatkan dengan perolehan usaha berdasarkan sistem PLS; dan murabahah tidak mengijinkan bank Islam untuk turut campur dalam manajemen bisnis karena bank bukanlah partner dengan klien tetapi hubungan mereka sebagai gantinya, berdasarkan murabahah,

adalah hubungan seorang pemberi pembiayaan dengan calon nasabah.26 Rukun dari akad murabahah yang harus dipenuhi dalam transaksi ada beberapa, yaitu:

a. Pelaku akad, yaitu ba’i (penjual) adalah pihak yang memiliki barang untuk dijual, dan musytari (pembeli) adalah pihak yang memerlukan dan akan membeli barang;

b. Objek akad, yaitu mabi’ (barang dagangan) dan tsaman (harga); dan c. Shigat, yaitu Ijab dan Qabul. 27

Adapun syarat Bai’ al-Murabahah adalah sebagai berikut.

a. Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah.

25Abdullah Saeed, Bank Islam dan Bunga, 138.

26Abdullah Saeed, Bank Islam dan Bunga, 140.

27Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Kuangan Syariah (Jakarta : Sinar Grafika), 111.

(23)

b. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan.

c. Kontrak harus bebas dari riba.

d. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian.

e. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.

Secara prinsip, jika syarat dalam (a), (d), atau (e) tidak dipenuhi, pembeli memiliki pilihan:

a. Melanjutkan pembelian seperti apa adanya,

b. Kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan atas barang yang dijual,

c. Membatalkan kontrak.28

Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dapat menggunakan murabahah dalam bentuk pembiayaan dengan mengadopsi prosedur

sebagai berikut.

1) Nasabah dan LKS menandatangani perjanjian umum ketika LKS berjanji untuk menjual dan nasabah berjanji untuk membeli komoditas/barang tertentu dari waktu ke waktu pada tingkat margin tertentu yang ditambahkan dari biaya perolehan barang. Perjanjian ini dapat menetapkan batas waktu fasilitas pembiayaan ini.

2) Ketika komoditas tertentu dibutuhkan oleh nasabah, LKS menunjuk nasabah sebagai agennya untuk membeli komoditas dimaksud atas nama LKS, dan perjanjian keagenan ditandatangani kedua belah pihak.

3) Nasabah membeli komoditas/barang atas nama LKS dan mengambil alih penguasaan barang sebagai agen LKS.

28Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik, 102.

(24)

4) Nasabah menginformasikan kepada LKS bahwa dia telah membeli komoditas/barang atas nama LKS, dan pada saat yang sama menyampaikan penawaran untuk membeli barang tersebut dari LKS.

5) LKS menerima penawaran tersebut dan proses jual beli selesai ketika kepemilikan dan risiko komoditas/barang telah beralih ke tangan nasabah.

Tahapan-tahapan diatas dilakukan untuk memperoleh murabahah yang sesuai syariah.29

Jika LKS membeli komoditas/barang langsung dari supplier, maka perjanjian keagenan tidak diperlukan. Dan pada tahap ketiga LKS akan membeli barang langsung dari supplier dan pada tahap keempat nasabah menyampaikan penawaran untuk membeli komoditas/barang tersebut.

D. Tinjauan Syari’ah tentang Pembiayaan Bermasalah 1. Pembiayaan Bermasalah (NPF)

Pembiayaan bermasalah tersebut, dari segi produktivitasnya (performance-nya) yaitu dalam kaitannya dengan kemampuannya menghasilkan pendapatan bagi bank, sudah berkurang /menurun dan bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Bahkan dari segi bank, sudah tentu mengurangi pendapatan, memperbesar biaya pencadangan, yaitu PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif), sedangkan dari segi nasional, mengurangi kontribusinya terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.30

Berdasarkan ketentuan Pasal 9 PBI No. 8/21/PBI/2006 tentang kualitas Aktiva Bank umum yang melaksanakan kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah sebagaimana dengan PBI No. 9/9/PBI/2007

29Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, 86-87.

30Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah, (Jakarta : Sinar Grafika, 2012), 66.

(25)

dan No. 10/24/PBI/2008. Kualitas pembiayaan dinilai berdasarkan aspek- aspek :

a) Prospek Usaha

b) Kinerja (performance) nasabah; dan

c) Kemampuan membayar / kemampuan menyerahkan barang pesanan Atas dasar penilaian aspek-aspek tersebut kualitas pembiayaan ditetapkan menjadi lima golongan yaitu lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet.

Dalam praktik perbankan kualitas pembiayaan untuk golongan lancar disebut golongan I (satu), untuk golongan dalam perhatian khusus disebut golongan II (dua), untuk golongan kurang lancar disebut golongan III (tiga), untuk golongan diragukan disebut golongan IV (empat) dan untuk golongan macet disebut golongan V (lima).31

Selanjutnya untuk menetapkan golongan kualitas pembiayaan, pada masing-masing komponen ditetapkan kriteria/kriteria tertentu untuk masing-masing kelompok produk pembiayaan.

a) Lancar

Apabila pembayaran angsuran tepat waktu, tidak ada tunggakan, sesuai dengan persyaratan akad, selalu menyampaikan laporan keuangan secara teratur dan akurat, serta dokumentasi perjanjian piutang lengkap dan pengikatan agunan lengkap.

b) Dalam Perhatian Khusus

Apabila terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan atau margin sampai 90 (sembilan puluh) hari, selalu menyampaikan laporan keuangan keuangan secara teratur dan akurat, dokumentasi perjanjian piutang lengkap dan pengikatan agunan kuat, serta

31 Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah, 66-67.

(26)

pelanggaran terhadap persyaratan perjanjian piutang yang tidak prinsipil.

c) Kurang Lancar

Apabila terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan margin yang telah melewati 90 (sembilan puluh) hari sampai dengan 180 (seratus delapan puluh) hari, penyampaian laporan keuangan tidak teratur dan meragukan, dokumentasi perjanjian piutang kurang lengkap dan pengikatan agunan kuat, tetjadi pelanggaran terhadap persyaratan pokok perjanjian piutang, dan berupaya melakukan perpanjangan piutang untuk menyembunyikan kesulitan keuangan.

d) Diragukan

Apabila terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan atau margin yang telah melewati 180 (seratus delapan puluh) hari, sampai dengan 270 (dua ratus tujuh puluh) hari. Nasabah tidak menyampaikan informasi keuangan atau tidak dapat dipercaya, dokumentasi perjanjian piutang tidak lengkap dan pengikatan agunan lemah serta terjadi pelanggaran yang prinsipil terhadap persyaratan pokok perjanjian piutang.

e) Macet

Apabila terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan atau margin yang telah melewati 270 (dua ratus tujuh puluh) hari, dan dokumentasi perjanjian piutang dan atau pengikatan agunan tidak ada.32

Adapun rumus untuk menghitung risiko pembiayaan bermasalah yaitu sebagai berikut :

NPF =

32 Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah, 69-71.

(27)

Keterangan :

KL = Kurang lancar D = Diragukan M = Macet

Pembiayaan yang dilakukan oleh bank kepada nasabahnya dapat menimbulkan pembiayaan bermasalah. Pembiayaan bermasalah atau sering disebut NPF (non performing financing) ini dimana pembayaran terjadi kurang lancar, diragukan, sampai dengan terjadi pembayaran yang macet.

Pembiayaan dapat dikatakan macet bilamana debitur sudah tidak mampu membayar nisbah bagi hasil dan melunasi kreditnya. Dan debitur menyatakan diri bangkrut dan tidak mampu untuk mengembalikan kredit/

pembiayaan yang mereka terima.33

Pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) dapat disebabkan oleh faktor intern bank. Secara umum pembiayaan bermasalah disebabkan oleh faktor-faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor intern adalah faktor yang ada didalam perusahaan sendiri, dan faktor utama yang paling dominan adalah faktor manajerial. Timbulnya kesulitan-kesulitan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh faktor manajerial dapat dilihat dari beberapa hal, seperti kelemahan dalam kebijakan pembelian dan penjualan, lemahnya pengawasan biaya dan pengeluaran, kebijakan piutang yang kurang tepat, penempatan yang berlebihan pada aktiva tetap, dan permodalan yang tidak cukup. Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berada diluar kekuasaan manajemen perusahaan, seperti bencana alam, peperangan, perubahan dalam kondisi

33 Siswanto Sutejo, Strategi Managemen Kredit Bank Umum Konsep Teknik dan Kasus (Jakarta : Dammar Mulya, 2000), 140.

(28)

perekonomian dan perdagangan, perubahan-perubahan teknologi, dan lain-lain.

Untuk menentukan langkah-langkah yang perlu diambil dalam menghadapi pembiayaan bermasalah terlebih dahulu perlu diteliti sebab- sebab terjadinya pembiayaan bermasalah. Apabila pembiayaan bermasalah disebabkan disebabkan oleh faktor eksternal seperti bencana alam, bank tidak perlu lagi melakukan analisis lebih lanjut. Yang perlu adalah bagaimana membantu nasabah untuk segera memperoleh penggantian dari perusahaan asuransi. Yang perlu diteliti adalah faktor internal, yaitu yang terjadi karena sebab-sebab manajerial. Apabila bank telah melakukan pengawasan secara seksama dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, lalu timbul pembiayaan bermasalah, sedikit banyak terkait pula dengan kelemahan pengawasan itu sendiri. Kecuali apabila aktivitas pengawasan teah dilaksanakan dengan baik, masih juga terjadi kesulitan keuangan, perlu diteliti sebab-sebab pembiayaan bermasalah secara lebih mendalam. Mungkin kesulitan itu disengaja oleh manajemen perusahaan, yang berarti pengusaha telah melakukan hal-hal yang tidak jujur. Misalnya dengan sengaja pengusaha mengalihkan pengguna dana yang tersedia untuk keperluan kegiatan usaha lain diluar proyek pembiayaan yang disepakati.34

Penyitaan jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah sudah benar-benar tidak punya itikad baik atau sudah tidak mampu lagi untuk membayar semua utang-utangnya.35

Pembiayaan bermasalah tentunya akan membawa akibat bagi bank syariah, yaitu:36

a) Kolektabilitas dan penyisihan penghapusan aktiva semakin meningkat.

34Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah, 72-74.

35Kasmir, Manajemen Perbankan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 120.

36Engkos Sardah, BMT dan Bank Islam (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), 42.

(29)

b) Kerugian semakin besar atau laba yang diperoleh menjadi menurun.

c) Modal semakin menurun akibatnya hilang kesempatan usaha.

d) Tingkat kesehatan bank semakin menurun.

e) Menurunnya reputasi bank yang berakibat investor lain tidak berminat menanamkan modalnya.

f) Dari aspek moral bank tidak bertindak hati-hati (bertindak dhalim) sehingga bank tidak dapat memberikan porsi bagi hasil pada nasabah.

g) Meningkatnya biaya operasional untuk penagihan.

h) Jika kesulitan bank dapat membahayakan sistem perbankan maka ijin usaha bank dapat dicabut.

2. Pengendalian Pembiayaan Bermasalah

Pengendalian intern yang diciptakan dalam suatu perusahaan harus mempunyai beberapa tujuan yaitu :37

a) Menjaga keamanan harta milik perusahaan.

b) Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi.

c) Memajukan efisiensi operasi perusahaan.

d) Membantu menjaga kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan lebih dahulu untuk dipatuhi.

Dalam melakukan pengawasan, komponen pengendalian interen adalah sebagai berikut:38

a) Lingkungan pengendalian (Control Enironment)

Lingkungan pengendalian adalah tindakan, kebijakan, dan prosedur yang merefleksikan seluruh sikap top manajemen, dewan komisaris, dan pemilik entitas tentang pentingnyapengendalian dalam suatu entitas, yang mencakup :

37Hadiwijaya, dkk, Analisis Kredit (Bandung: Pioner, 2003), 32.

38 Ferry Idroes, Manajemen Risiko Perbankan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), 46

(30)

1) Integritas dan nilai etika (integrity and ethical values) 2) Komitmen terhadap kompetisi (comitment to competence) 3) Partisipasi dewan komisaris atau komite audit (board of

directors or audit commite participation)

4) Filosofi dan gaya operasi manajemen (management’s philosophy and operating style)

5) Struktur organisasi (organizational structure)

6) Pemberian otoritas dan tanggung jawab (assignment of authority and practices)

b) Penaksiran Risiko (Risk Assesment)

Penaksiran risiko dalam sistem pengendalian intern adalah usaha manajemen untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang relevan dalam menyiapkan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

c) Aktivitas Pengendalian (Control Activities)

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibangun oleh manajemen untuk mencapai tujuan laporan keuangan yang obyektif. Aktivitas pengendalian dapat digolongkan dalam pemisahan tugas yang memadai, otoritas yang tepat atas transaksi dan aktivitas, pendokumentasian dan pencatatan yang cukup, pengawasan aset antara catatan dan fisik, serta pemeriksaan independen atas kinerja.

Prosedur pengendalian ditetapkan untuk menstandarisasi proses kerja sehingga menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan mencegah atau mendeteksi terjadinya ketidakberesan dan kesalahan.

Prosedur pengendalian meliputi hal-hal sebagai berikut:

1) Personil yang kompeten, mutasi tugas dan cuti wajib.

2) Pelimpahan tanggung jawab.

3) Pemisahan tanggung jawab untuk kegiatan terkait.

(31)

4) Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan operasional.

d) Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)

Informasi dan komunikasi dalam pengendalian intern adalah metode yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, mengklasifikasi, mencatat dan melaporkan semua transaksi entitas, serta untuk memelihara akuntabilitas yang berhubungan dengan aset.

Transaksi-transaksi harus memuaskan dalam hal eksistensi, kelengkapan, ketepatan, klasifikasi, tepat waktu, serta dalam posting dan mengikhtisarkan.

e) Pemantauan (Monitoring)

Pemantauan kegiatan pengendalian intern secara periodik harus dipantau oleh manajemen. Pemantauan meliputi penilaian atas kualitas kinerja pengendalian intern untuk menentukan apakah operasi pengendalian memerlukan modifikasi atau perbaikan.

3. Prinsip Penyelesaian Utang-Piutang

Dalam proses penyelesaian utang-piutang, ada beberapa alternatif yang ditawarkan sebagai berikut:

a. Melakukan restrukturisasi terhadap utang yang ada antara lain dengan penjadwalan, perpanjangan jangka waktu, dan hapus buku atau hapus tagih sebagian atau seluruh utang gharimin (orang yang berutang).

b. Bagi yang berutang dan kemudian pada saat yang sama mempunyai tagihan/piutang pada pihak lain, maka orang yang berutang tersebut dapat melakukan pembayaran utang dengan mengalihkan beban utang yang ditanggungnya kepada orang yang berpiutang kepadanya.

c. Utang seseorang dapat dialihkan melalui garansi/jaminan pembayaran utang oleh orang lain. Penanggungan atau garansi pembayaran utang oleh orang lain tersebut dapat timbul karena rasa

(32)

kesetiakawanan, atau adanya hubungan antara penanggung dan tertanggung sehingga kedua belah pihak mengatur penanggungan itu. Penanggungan ini dapat berupa perorangan (kafalah binnafsi) maupun badan (kafalah bilhukmiyyah).

d. Bagi yang berutang, sedangkan harta atau aset yang dimilikinya habis dan tidak mampu membayar utang-utangnya, dia dapat dinyatakan sebagai orang yang bangkrut (muflis) oleh hakim.

Menjatuhkan hukuman terhadap orang yang tidak mampu membayar utang, dinamakan dengan al-Taflis (pailit/pernyataan bangkrut). Bagi yang dinyatakan pailit (taflis) oleh hakim, maka orang tersebut tidak dapat melakukan tindakan hukum terhadap sisa harta yang dimilikinya. Dan harta tersebut dialokasikan untuk pembayaran utang yang menjadi tanggungannya.

e. Al-Hajr (Pengampuan). Yaitu larangan bagi seseorang untuk melaksanakan akad dan bertindak hukum terhadap hartanya. Dalam hal ini, hakim memutuskan untuk menahan harta seseorang untuk keperluan pembayaran utangnya. Hal ini mirip dengan ketentuan pailit dalam hukum perdata.

f. Penerapan hukum Ta’zir bagi debitur. Bagi debitur yang sengaja tidak mau menyelesaikan utangnya, padahal dia mampu, salah satunya bisa diterapkan hukuman ta’zir berupa eksekusi jaminan termasuk sandera badan.39

39 Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah, 78-81.

(33)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulan bahwa penelitian ini terdapat hubungan signfikan antara konsep diri dan dukungan sosial terhadap

Faktor-faktor yang mempengaruhi ancaman pendatang baru antara lain proses industri tidak dilindungi pemerintah atau paten, pembeli memiliki loyalitas yang rendah,

Alternatif Flow Jika Pemilik mengakses laporan grafik dan data yang dihasilkan oleh query rekap data penjualan kosong maka akan memunculkan pesan bahwa data tidak ada

Batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Interim yang berakhir per 30 September 2020 yang tidak diaudit dan tidak ditelaah secara terbatas oleh Akuntan Publik setelah

Semakin baik dan tinggi profesionalisme pengelola website terhadap layanan yang diberikan maka konsumen atau pengunjung semakain yakin dan percaya untuk mengambil keputusan

Pada penelitian ini dilakukan proses optimasi kondisi kristalisasi pelarut suhu rendah untuk mendapatkan fraksi kaya tokotrienol dengan kadar tokotrienol optimum. Faktor yang

Perempuan sangat terkekang dalam adat budaya Jawa yang harus di anut, dari.. situ adat budaya Jawa memunculkan sedemikian kuat sebuah

Kabupaten Kendal, sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan lebih fokus pada pandangan masyarakat terhadap caleg perempuan dalam pemilu legislatif tahun 2019