• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL STINDO PROFESIONAL Volume IV Nomor 5 Juli 2018 I S S N :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL STINDO PROFESIONAL Volume IV Nomor 5 Juli 2018 I S S N :"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

140 PERANAN ANGGARAN TERHADAP PENCAPAIAN INDIKATOR

KINERJA UTAMA PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA MEDAN Oleh :

Novita Fransisca ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan pada Dinas Perhubungan Kota Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah anggaran telah berperan dalam pencapaian Indikator Kinerja Utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan mengunakan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Pada tahun 2015-2017 jika dilihat berdasarkan sisi anggaran Dinas Perhubungan Kota Medan telah merealisasikan seluruh anggaran yang ada sesuai dengan program/kegiatan yang telah ditentukan, kecuali pada program-program yang dirasionalisasi.

Adapun masalah yang diangkat adalah apakah Anggaran telah berperan terhadap Pencapaian Indikator Kinerja Utama Pada Dinas Perhubungan Kota Medan. Maka penulis menarik hipotesa bahwa “Anggaran belum berperan dalam Pencapaian Indikator Kinerja Utama Pada Dinas Perhubungan Kota Medan”.Dalam menganalisis dapat penulis menggunakan analisis deskriptif dan analisis komparatif.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa dari tahun 2015-2017 memiliki beberapa Rencana Strategis serta Indikator Kinerja Utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan, secara keseluruhan belum memenuhi target yang ditetapkan di karenakan adanya rasioanalisasi anggaran serta kendala-kendala dalam mencapai target yang sudah ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa penganggaran belum berperan dalam proses pencapaian target Indikator Kinerja Utama Pada Dinas Perhubungan Kota Medan.

Kata Kunci : Anggaran, Indikator Kinerja Utama

PENDAHULUAN Latar Belakang

Pada dasarnya anggaran kinerja merupakan suatu sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang beorientasi pada pencapaian hasil atau kerja. Kinerja tersebut harus mencerminkan efesiensi dan efektivitas pelayanan publik. Hal ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat daerah untuk menyelenggrakan otonomi secara luas, nyata dan bertanggung jawab dan otonomi daerah

harus dipahami sebagai hak atau kewenangan masyarakat daerah untuk mengelola dan mengatur urusannya sendiri.

Anggaran bukan hanya menjadi sebuah rencana keuangan yang dikelompokkan dalam tujuan, biaya dan pendapatan untuk pusat pertanggung jawaban suatu organisasi, tapi juga sebagai alat untuk pengendalian, koordinasi, komunikasi, evaluasi kerja, serta motivasi.

(2)

141 Penggunaan anggaran merupakan konsep

yang sering dipergunakan untuk melihat kinerja organisasi publik. Anggaran yang disusun harus dengan pendekatan kinerja.

Penyusunan anggran bertujuan untuk dapat meningkatkan efisiensi pengalokasian sumber daya dan evektivitas penggunaannya sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah sehingga dengan adanya anggaran berbasis kinerja tersebut diharapkan anggaran dapat digunakan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan dapat mendukung peningkatan tranparansi dan akuntabilitas manajemen sector publik. Selain itu anggaran berbasis kinerja memfokuskan pemanfaatan anggaran untuk perbaikan kinerja organisasi yang berpedoman pada prinsip value for money.

Kinerja yang dicapai oleh suatu organisasi pada dasarnya adalah prestasi para anggota organisasi itu sendiri, mulai dari tingkat atas sampai pada tingkat bawah. Konsep kinerja pemerintah daerah sendiri muncul ketika institusi pemerintah mulai mencoba mengenalkan konsep baru dalam pengelolaan urusan publik menjadi good governance.

Organisasi yang berhasil merupakan organisasi yang memiliki visi dan misi yang jelas serta terukur. Artinya bahwa visi dan misi tidak akan bermakna ketika tidak teraktualisasikan dalam kinerja organisasi dalam kerangka menciptakan good governance.Oleh karena itu kinerja merupakan ultimate goals dalam setiap organisasi publik. Visi dan misi itu sendiri mencerminkan komitmen organisasi secara teori dan diharapkan mampu

diwujudkan dengan kinerja organisasi yang baik.Berdasarkan Peraturan Mentri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dinyatakan bahwa setiap Instansi Pemerintah wajib menyampaikan LAKIP dan Dokumen Perjanjian Kinerja kepada Presiden Republik Indonesia, Penetapan Indikator Kinerja Utama di lingkungan Instansi Pemerintah, perlu disusun Indikator Kinerja Utama (key performance indicator) dalam rangka pengukuran dan peningkatan kinerja serta untuk lebih meningkatkan akuntabilitas kinerjanya.Pengukuran Kinerja Dinas Perhubungan Kota Medan adalah terhadap rencana Program/kegiatan yang dianggarkan dan dilaksanakan selama satu periode.

Realisasi anggaran merupakan suatu hasil dari rencana program/kegiatan keuangan yang berisi tentang perkiraan-perkiraan belanja dan sumbr pendapatan yang diusulkan selama satu periode. Oleh sebab itu, realisasi anggaran dapat dijadikan sebagai tolak ukur kinerja dari pencapaian hasil selama satu periode.

Dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan satuan kerja daerah (SKPD) Dinas Perhubungan Kota Medan jangka menengah ditetapkan sasaran-sasaran pembangunan dan indikator kinerja sebagai tolak ukur pencapaiannya. Visi Dinas Perhubungan Kota Medan adalah “Terwujudnya Pelayanan dan Penyelenggaraan Transportasi Angkutan Jalan Yang Maju dalam Upaya Mensejahterakan Masyarakat Kota Medan”. Oleh sebab itu program dan kegiatan yang realistis dalam kurun waktu 1 s/d 5 tahun. Melalui visi, misi

(3)

142 dan strategi ini, diharapkan instansi

pemerintah dapat menyelaraskan potensi, peluang dan kendala yang dihadapi.

Selanjutnya perencanaan strategi dibarengi dengan pengukuran, penilaian dan evaluasi kinerja serta pelaporan akuntabilitas kinerja sebagai tolak ukur suatu sistem akuntabilitas instansi pemerintah.

Dalam penelitian ini, tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan masalah yang akan dianalisis antara lain:

1. Untuk membandingkan antara teori yang ada dengan praktek yang dihubungkan dengan teori-teori yang selama ini penulis terima dalam perkuliahan sebagai bahan perbandingan dalam bidang akuntansi.

2. Untuk mengetahui peranan penyusunan anggaran dalam pencapaian indikator kinerja utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan.

3. Untuk dapat digunakan sebagai bahan perbandingan bagi penulis selanjutnya yang ingin melakukan penelitian sejenis dimasa yang akan datang.

STUDI KEPUSTASKAAN

Pengertian Dan Fungsi Anggaran

MenurutGunawan Adisaputro (2007:3)

“Anggaran adalah suatu pendekatan formal dan sistematis dari pada pelaksanaan tanggung jawab manajemen di dalam perencanaan, koordinasi, dan pengawasan.”

Menurut Mardiasmo (2005:69) mengemukakan pengertian “Anggaran merupakan sebagai pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran financial, dan penganggaran merupakan proses atau metode untuk mempersiapkan suatu anggaran.”

Menurut RA Supriyono (2007:3) “Anggaran adalah suatu rencana terinci yang dinyatakan secara formal dalam ukuran kuantitatif, biasanya dinyatakan dalam satuan uang, untuk perolehan dan pengunaan sumber-sumber suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun.”

Penganggaran (budgeting) merupakan aktifitas mengalokasikan sumberdaya keuangan yang terbatas untuk pembiayaan belanja organisasi yang cenderung tidak terbatas. Anggaran ini memiliki fungsi diantaranya sebagai pedoman dalam mengelola sebuah instansi ataupun lembaga negara dalam periode tertentu, sebagai alat pengawasan dan pengendalian masyarakat terhadap kebijakan yang telah dipilih oleh pemerintah dan instansinya sebagai alat pengawasan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam melaksanakan kebijakan yang telah dipilih.

Beberapa fungsi anggaran menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007:5) dalam proses manajemen adalah sebagai berikut : 1. Di bidang Planning.

a. Membantu manajemen meneliti dan mempelajari segala masalah yang berkaitan dengan aktivitas yang akan dilaksanakan.

b. Membantu mengarahkan seluruh sumber daya yang ada

diperusahaan dalam

menentukan arah atau aktivitas yang paling menguntungkan.

c. Membantu arah atau menunjang kebijaksanaan perusahaan

d. Membantu manajemen memilih tujuan perusahaan

e. Membantu menstabilkan kesempatan kerja yang tersedia f. Membantu pemakaian alat-alat

fisik secara lebih efektif.

(4)

143 2. Di bidang Coordinating.

a. Membantu mengkoordinir factor sumber daya manusia dengan perusahaan.

b. Membantu menilai kesesuaian antara rencana aktivitas perusahan dengan keadaan lingkungan usaha yang dihadapi.

c. Membantu menempatkan pemakaian modal pada saluran- saluran yang menguntungkan sesuai seimbang dengan program perusahaan.

d. Membantu mengetahui kelemahan dalam organisasi 3. Di bidang Controlling.

a. Membantu mengawasi kegiatan dan pengeluaran.

b. Membantu mencegah pemborosan.

c. Membantu menetapkan standar baru.

Penyusunan Anggaran

Penyusunan rancangan anggaran yang dilaksanakan oleh tim anggaran eksekutif bersama-sama unit organisasi perangkat daerah atau unit kerja. Secara umum dapat diterangkan bahwa anggaran daerah disusun berdasarkan rencana kerja daerah yang telah disusun baik rencana kerja jangka panjang (RPJP), rencana kerja jangka menengah (RPJM), dan rencana kerja pembangunan daerah (RKPD). Pada tingkat SKPD, anggaran juga disusun berdasarkan rencana jangka menengah SKPD yang sering disebut dengan renstra SKPD. Renstra SKPD dan RKPD menjadi acuan bagi SKPD untuk menyusun rencana kerja (renja) SKPD. Renstra SKPD disusun dengan cara rapat para anggota SKPD serta mengaju kepada RPJP dan RPJM baik nasional maupun daerah. Satuan kerja perangkat daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah

perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran.

Penyusunan anggaran ini dimana individu terlibat dalam penyusunan target anggaran.

Proses penyusunan anggaran atau disebut penganggaran merupakan kegiatan yang penting sekaligus kompleks, sebab anggaran mempunyai kemungkinan berdampak disfungsional terhadap perilaku anggota organisasi.

Menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007:6) bahwa tujuan penyusunan anggaran adalah :

a. Untuk menyatakan harapan/

sasaran perusahaan secara jelas dan formal, sehingga bisa menghindari kerancuan dan memberikan arah terhadap apa yang hendak dicapai manajemen.

b. Untuk mengkomunikasikan harapan manajemen kepada pihak-pihak terkait sehingga anggaran dimengerti, didukung, dan dilaksanakan.

c. Untuk menyediakn rencana rinci mengenai aktivitas dengan maksud mengurangi ketidakpastian dan memberikan pengarahan yang jelas bagi individu dan kelompok dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.

d. Untuk mengkoordinasikan cara/metode yang akan ditempuh dalam rangka memaksimalkan sumber daya.

e. Untuk menyediakan alat pengukur dan mengendalikan kinerja individu dan kelompok, serta menyediakan informasi yang mendasari perlu tindaknya tindakan koreksi.

Pengertian Kinerja.

(5)

144 Kinerja merupakan istilah yang berasal dari

kata Job Performance atau Actual Performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang).” “Defenisi Kinerja yang dikemukakan Bambang Kusriyanto (2014:9) adalah Perbandingan hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu (Lazimnya per jam).”

Kinerja (performance) pada lembaga pemerintah menjadi isu dunia saat ini, terutama di negara-negara berkembang. Hal tersebut terjadi antara lain sebagai konsekuensi tuntutan masyarakat terhadap kebutuhan akan pelayanan prima atau pelayanann yang bermutu tinggi. Mutu yang tinggi dalam pelayanan tidak terpisahkan dari standar, karena kinerja diukur berdasarkan standar. Melalui manajemen kinerja, diharapkan dapat menunjukkan kontribusi professionalnya seorang pegawai secara nyata dalam meningkatkan mutu pelayanan, yang berdampak terhadap pelayanan prima pada organisasi tempat bekerja, dan dampak akhir bermuara pada kesehatan organisasi dan kesejahteraan masyarakat.

Kata kinerja (performance) dalam konteks tugas, sama dengan prestasi kerja. Kinerja menekankan pada apa yang dihasilkan dari fungsi-fungsi suatu pekerjaan atau yang keluar (out-come). Bila disimak lebih lanjut dari apa yang terjadi dalam sebuah pekerjaan dan jabatan adalah suatu proses yang mengolah input menjadi output (hasil kerja). Penggunaan indikator kunci untuk mengukur hasil kinerja individu, bersumber dari fungsi-fungsi yang diterjemahkan dalam kegiatan/tindakan dengan landasan standar yang jelas dan tertulis. Mengingat kinerja mengandung komponen kompetensi dan produktifitas hasil, maka hasil kinerja sangat tergantung pada tingkat kemampuan individu dalam pencapaiannya. Hasil kinerja

seseorang/organisasi akan mencerminkan prestasi kerja dari seseorang atau organisasi tersebut.

Mengacu pada era globalisasi yang menuntut keunggulan bersaing dari setiap organisasi, pesaingan global telah meningkatkan standar kinerja dalam berbagai dimensi, meliputi kualitas, biaya dan operasional yang lancar.

Penting pula pengembangan lanjut dari organisasi dan para pegawainya. Dengan menerima tantangan yang ditimbulkan dari standar yang makin meningkat ini, organisasi yang efektif bersedia melakukan hal-hal penting untuk dapat bertahan dan meningkatkan kemampuan strategis.

Dari penjelasan tentang kinerja diatas dapat penulis simpulkan bahwa kinerja adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh seseorang dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya.

Kinerja dikatakan baik dan memuaskan apabila tujuan yang dicapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kinerja pegawai merupakan penilaian yang paling dilakukan secara sistematis untuk mengetahui hasil pekerjaan karyawan. Jadi, nilai kerja karyawan atau pegawai harus lebih besar dari prestasi kerja yang diperhatikan instansi supaya instansi mendapatkan nilai positif dari program kerja pegawai tersebut.

Penganggaran Berbasis Kinerja

Anggaran kinerja merupakan sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja. Kinerja tersebut mencerminkan efesiensi, efektivitas pelayanan kepada publik yang berorientasi kepada kepentingan publik.

Artinya peran instansi pemerintah sudah tidak lagi merupakan alat kepentingan pemerintah pusat tetapi untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan daerah.

(6)

145

“Penganggaran sebagai alat penilaian kinerja merupakan suatu ukuran yang bisa menjadi patokan apakah suatu bagian atau unit kerja telah memenuhi target, baik berupa terlaksananya aktivitas maupun terpenuhninya efesiensi biaya.” (Bastian, 2006:70)

Anggaran kinerja adalah perencanaan kinerja tahunan secara terintegrasi yang menunjukan hubungan antara tingkat pendanaan program dan hasil yang diinginkan dari program tersebut. Anggaran dengan pendekatan kinerja merupakan suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. Anggaran kinerja yang efektif lebih dari sebuah objek anggaran program atau organisasi dengan outcome yang telah diantisipasi. Hal ini akan menjelaskan hubungan biaya dengan hasil (result). Ini merupakan kunci dalam penanganan program secara efektif. Sebagai variasi antara perencanaan dan kejadian sebenarnya, manajer dapat menentukan input-input resource dan bagaimana input- input tersebut berhubungan dengan outcome untuk menentukan efetivitas dan efesiensi program.

Program pada anggaran berbasis kinerja didefinisikan sebagai instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang akan dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Aktivitas tersebut disusun sebagai cara untuk mencapai kinerja tahunan. Dengan kata lain, integrasi dari rencana kerja tahunan yang merupakan rencana operasional dari perencanaan strategic dan anggaran tahunan yang merupakan rencana operasional dari

perencanaan strategik dan anggaran tahunan merupakan komponen dalam penggaran berbasis kinerja.

Penggaran berbasis kinerja merupakan metode penggaran bagi manajemen untuk mengaitkan setiap pendanaan yang dituangkan dalam kegiatan-kegiatan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dari keluaran tersebut.

Peranan Anggaran dalam Pencapaian Kinerja Semakin kompleksnya masalah yang dihadapi instansi pemerintah saat ini, menuntut banyak kegiatan yang harus dilakukan untuk memenuhi tuntutan masyarakat tersebut.

Pelaksanaan kegiatan hendaknya dilakukan melalui perencanaan yang cermat. Anggaran adalah salah satu dari berbagai rencana yang disusun serta berperan penting karena anggaran dapat membantu dalam hal perencanaan, pengkoordinasian dan pengawasan guna mencapai tujuan/ target kinerja sebuah instansi.

Secara luas anggaran dapat berfungsi sebagai alat pengendalian mencakup pengarahan/

pengaturan orang-orang dalam organisasi.

Oleh karenanya proses penyusunan anggaran atau disebut penganggaran merupakan kegiatan yang penting sekaligus kompleks, sebab anggaran mempunyai kemungkinan berdampak disfungsional terhadap peningkatan kinerja sebuah instansi dalam pencapaian target Indikator Kinerja Utama (IKU), baik instansi pemerintah maupun swasta.

Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang telah dibangun dalam rangka upaya mewujudkan good governance dan sekaligus result oriented government, perlu terus dikembangkan dan informasi kinerjanya

(7)

146 diintegrasikan ke dalam sistem penganggaran

dan pelaporan sesuai dengan amanat UU No.

17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara serta berbagai peraturan perundangan dibawahnya. Dengan demikian, ke depan anggaran negara baik pusat maupun daerah menjadi anggaran berbasis kinerja, yaitu anggaran yang dihitung dan disusun berdasarkan perencanaan kinerja, atau dengan kata lain dihitung dan disusun berdasarkan kebutuhan untuk menghasilkan output dan outcome yang diinginkan masyarakat. Dengan anggaran berbasis kinerja ini akan dapat dilakukan penelusuran alokasi anggaran ke kinerja yang direncanakan dan pada setiap akhir tahun anggaran juga dapat dilakukan penelusuran realisasi anggaran dengan capaian kinerjanya. Hal ini akan mempermudahkan evaluasi untuk mengetahui cost efficiency dan cost effectiveness anggaran instansi bersangkutan, sekaligus memudahkan pencegahan dan deteksi kebocoran anggaran.

Kebijakan penyusunan Indikator Kinerja Utama (IKU) di lingkungan instansi pemerintah pada dasarnya terintegrasi dengan berbagai dokumen dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), yang meliputi dokumen Rencana Strategis, Rencana Kinerja Tahunan, Penetapan Kinerja, Pengukuran Kinerja dan Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam LAKIP indikator kinerja merupakan salah satu sub sistem yang tidak terpisah dalam rangka meningkatkan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

Menurut Dirjen Anggaran Depkeu (www.depkeu.ac.id) “Indikator Kinerja Utama adalah ukuran kuantitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan.”

Oleh karena itu, indikator kinerja Utama harus

merupakan suatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja baik dalam tahapan perencanaan, tahap pelaksanaan maupun tahap setelah kegiatan selesai dan bermanfaat (berfungsi).

Dalam rangka meningkatkan kinerja, salah satu aspek penting adalah masalah pengelolaan keuangan atau anggaran. Dalam pengelolaan anggaran perlu di pegang prinsip Value for Money, artinya pengelolaan anggaran yang baik harus memenuhi ukuran ekonomi, efektif dan efisien. Untuk membiayai seluruh pelayanan publik tersebut pemerintah memanfaatkan uang rakyat (public money) yang diterima melalui pajak dan retribusi serta penerimaan lainnya sehingga dalam pemanfaatnnya pertimbangan value for money sangat diperlukan.

Proses penyusunan anggaran suatu organisasi merupakan kegiatan yang sangat penting dan kompleks, karena anggara mempunyai kemungkinan dampak fungsional dan disfungsional terhadap sikap dan perilaku anggota organisasi. Dampak fungsional dan disfungsional ditunjunkkan dengan berfungsi atau tidaknya anggaran sebagai alat pengendalian yang baik untuk memotivasi para anggota organisasi untuk meningkatkan prestasi kerjanya.

Peningkatan kinerja timbul atas adanya kebebasan berkreasi pada tiap individu yang kemudian pemimpin beperan dalam suatu iklim yang memungkinkan para anggota berpartisipasi penuh atas pengambilan keputusan. Pelibatan anggota organisasi dalam merancang peraturan organisasi dapat mempengaruhi diri mereka. Dalam rangka mewujudkan kinerja instansi pemerintah secara menyeluruh, dibutuhkan peran manajerial pimpinan khususnya pengelola

(8)

147 keuangan/ anggaran yang ada disebuah

instansi pemerintah.

Hipotesis

Hipotesis mengarahkan proses penelitian sehingga tujuan penelitian menjadi jelas, dan penelitian dapat dilaksanakan secara efektif dan efisiensi. Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah “ Penyusunan Anggaran belum berperan dalam pencapaian Indikator Kinerja Utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan”.

METODE PENELITIAN Jenis dan Sumber Data

Dalam penggalian data dan informasi, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, presepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Jenis penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskripsi, yaitu penelitian hanya menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, situasi atau berbagai variabel.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis data sekunder. Peneliti menggunakan data sekunder karena data yang diperoleh langsung dari sumbernya dan dicatat langsung oleh peneliti. sumber data sekunder penelitian ini diperoleh dari dokumentasi.

Metode Pengumpulan Data

Dalam rangka pengumpulan data dan keterangan yang diperlukan untuk penyusunan penelitian ini, penulis memakai 2 metode yaitu :

1. Penelitian Keperpustakaan (Library Research)

Studi keperpustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, karangan ilmiah, literature-literatur, majalah-majalah, catatan-catatan dan laporan-laporan untuk membantu di dalam menyelesaikan dan juga untuk melengkapi data yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.

2. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan adalah penelitian yang di

dapat langsung dari objek yang diteliti yaitu Dinas Perhubungan Kota Medan.

Adapun teknik pengumpulan data adalah :

a. Wawancara, yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka kepada informan atau pihak yang berhubungan dan memiliki relevansi terhadap masalah yang berhubungan dengan penelitian.

b. Dokumentasi, yaitu suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan penelitian ini.

Metode Analisi Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 cara yaitu :

Metode Analisis Deskriptif

Analisa data deskriptif adalah cara analisa dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul, mencari bukti data, merumuskan dan mentafsirkan data yang diperoleh, disusun dan dianalisa.

Metode Komparatif

Analisa komparatif merupakan penelitian yang bersifat membandingkan, penelitian yang mengacu pada membandingkan antara

(9)

148 rencana kinerja (performance plan) yang

diinginkkan dengan realisasi kinerja (performance result) yang akan dicapai dalam satu periode.

PEMBAHASAN

Anggaran dan Realisasi SKPD Dinas Perhubungan Kota Medan.

Dalam mengadakan program, peran pemerintah secara aktif sangatlah penting.

Untuk dapat mencapai tujuan dengan baik dan cepat, kebijaksanaan program itu harus dituangkan dalam suatu rencana yang menyeluruh dan mencakup segala bidang kehidupan.

Adapun manfaat dari perencanaan itu sendiri adalah membantu proses management pengelolaan anggaran dalam hubungannya dengan pemanfaatanya untuk kepentingan pembangunan bidang perhubungan.

Indikator kinerja utama sebagai ukuran keberhasilan dari tujuan dan sasaran strategis Dinas Perhubungan Kota Medan beserta target dan capaian realisasi dirinci pada penjelawsan berikut:

Dinas Perhubungan Kota Medan pada Tahun Anggaran 2015 melaksanakan 5 program yang meliputi 22 kegiatan dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 2.091.353.566. Dan pada Tahun Anggaran 2014 melaksanakan 5 program yang meliputi 23 kegiatan dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 2.230.724.232. Tahun Anggaran 2015 melaksanakan 7 program yang meliputi 25 kegiatan dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 4.962.303.693. Dengan data di atas tersebut secara umum evaluasi kinerja Dinas Perhubungan Kota Medan dinilai lebih baik, tapi tidak terlepas dari berbagai permasalahan dan kendala yang ada. Adapun permaslahan tersebut antara lain berupa minimnya anggaran yang dialokasikan pemerintah Kota Medan kepada Dinas Perhubungan. Hal ini

menyebabkan tingkat capaian kinerja menjadi sangat kecil dan banyak program dari Dinas Perhubungan terpaksa tidak dilaksanakan.

Pada tahun anggaran 2017 dari 5 program yang meliputi 22 kegiatan dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 2.091.353.566 dan Jumlah Realisasi Anggaran Kegiatan Tahun 2017 yaitu Rp 1.978.651.851 setelah dilakukan evaluasi dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut :

a. Program pelayanan Administrasi Perkantoran dengan kegiatannya dapat direalisasikan dibawah 100%

kecuali kegiatan penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor dan penyediaan jasa pendukung administrasi / teknis perkantoran dengan realisasi 100%

b. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur dengan kegiatannya dapat direalisasikan masing-masing 90,12% dan 91,32%

c. Program peningkatan disiplin aparatur dengan kegiatannya dapat direalisasikan 97,83%

d. Program peningkatan pelayanan angkutan dengan kegiatannya dapat direalisaikan masing-masing 96,01%, 95,52%, 96,87%, dan 96,86%.

e. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas dengan kegiatannya dapat direalisasikan masing-masing 98,81%, 91,49%, 90,01% dan 41,47%.

Pada Tahun Anggaran 2014 dari 5 program yang meliputi 23 kegiatan dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 2.230.724.232 dan Jumlah Realisai Anggaran kegiatan tahun 2014 yaitu Rp 2.052.806.429 setelah dilakukan evaluasi dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut :

(10)

149 a. Program pelayanan administrasi

perkantoran dengan kegiatannya dapat direalisasikan dibawah 100%

kecuali kegiatan penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan komponen instalasi listrik / penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor serta penyediaan jasa tenaga pendukung administrasi / teknis perkantoran dengan realisasi 100%

b. Program peningkatan saran dan prasarana aparatur dengan kegiatannya dapat direalisasikan masing-masing 89,76%, 0%, 98,30%

dan 80,19%

c. Program peningkatan disiplin aparatur dengan kegiatannya dapat direalisasikan 99,33%

d. Program peningkatan pelayanan angkutan dengan kegiatannya dapat direalisasikan masing-masing 95,75%, 99,30%, dan 99,62%

e. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas dengan kegiatannya dapat direalisasikan masing-masing 91,88%, 98,21%, 98,46% dan 0%.

Pada Tahun Anggaran 2015 dari 7 program yang meliputi 25 kegiatan dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 4.962.303.693. Jumlah Realisasi Anggaran kegiatan tahun 2015 yaitu Rp 3.672.762.582. dilakukan evaluasi sebagai berikut :

a. Program pelayanan administrasi perkantoran dengan kegiatan dapat direalisasikan dibawah 100% kecuali kegatan penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyedia komponen instalasi listrik /

penerang bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor serta penyediaan jasa tenaga pendukung administrasi / teknis perkantoran dengan realisasi 82,33%

b. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur dengan kegiatannya dapat direalisasikan masing-masing 89,80%, 71,89%, 47,39%

c. Proogram peningkatan disiplin aparatur dengan kegiatannya dapat direalisasikan 98,73%

d. Program peningkatan pelayanan angkutan dengan kegiatannya dapat direalisaikan masing-masing 52,16%, 99,38%, 0%, 97,41%

e. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas dengan kegiatannya dapat direalisasikan masing-masing 29,87%, 93,27%, 94,30%, 4,22%

Jika dari aspek target kinerja program / kegiatan sebagaimana telah diuraikan secara umum pada bagian satu diatas, Dinas Perhubungan Kota Medan masih berada pada kategori sedang, maka dari aspek finansial pelaksanaan kegiatan dari tahun 2015-2017 juga menempati kategori kurang. Hal ini dikarenakan dari beberapa kegiatan dan program dapat dilaksanakan dengan baik sesuai rencana walaupun tidak seluruh anggaran digunakan. Disamping itu hal ini dilakukan untuk upaya efisiensi belanja.

Mengacu pada hasil pengukuran di atas terlihat bahwa indikator kinerja utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan dibawah target yang ditetapkan. Dapat disimpulkan bahwa terdapat kesesuaian antara IKU dengan rencana strategis khususnya pada program yang telah dianalisis, namun jika kita kaji lebih

(11)

150 dalam kinerja Dinas Perhubungan Kota

Medan, kegagalan pencapaian target dikarenakan rasionalisasi anggaran pada program-program atau kegiatan yang justru pada program yang menjadi Indikator Kinerja Utama, terutama pada bagian peningkatan pencapaian target kinerja.

Dari sisi anggaran, Dinas Perhubungan Kota Medan telah merealisasikan seluruh anggran yang ada sesuai dengan progam yag telah ditentukan, kecuali pada program yang dirasionalisasikan. Dalam hal ini, program yang mengalami rasionalisasi justru merupakan program yang memiliki dampak langsung terhadap pencapaian target Indikator Kinerja Utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian pada Dinas Perhubungan Kota Medan, terdapat beberapa hambatan dan kendala yang ada dalam pencpaian target yang telah ditetapkan antara lain :

1. Faktor-faktor Sumber Daya Manusia.

Kemampuan Sumber Daya Manusia dalam perencanaan anggaran sangat menentukan dalam keberhasilan untuk mencapai sasaran dan target yang akan dicapai.

2. Minimnya anggaran yang dialokasikan pemerintah Kota Medan kepada Dinas Perhubungan Kota Medan. Hal ini menyebabkan tingkat capaian kinerja menjadi sangat kecil dan banyak program dari Dinas Perhubungan Kota Medan terpaksa tidak dilaksanakan. Dengan cara mengusulkan kegiatan dengan sumber dana diluar APBD Kabupaten atau menambah jumlah anggaran Dinas Perhubungan Kabupatn Karo agar program yang belum dilaksanakan dapat terlaksana. Walaupun tidak seluruh anggaran digunakan disamping itu

hal ini dilakukan untuk upaya efsiensi belanja.

3. Monitoring dan evaluasi terhadap pencapaian target sasaran strategis belum dilaksanakan secara optimal.

Berdasarkan data, terdapat beberapa program yang mengalami realisasi anggaran. Realisasi anggaran merupakan pengurangan atau pemotongan anggaran pada program dari kegiataan sesuai dengan keputusan Bupati Kota Medan. Keputusan merealisasikan anggaran dilakukan karena berbagai kebijakan strategis Pemerintah Kota Medan adalam rangka memenuhi kebutuhan pembangunan, pemerintahan, dan kemasyarakata. Kebijakan realisasi anggaran pada kegiatan SKPD Dinas Perhubungan Kota Medan dilakukan dengan tujuan agar bisa membantu mengatasi defisit anggaran pada Pemerintah Kota Medan.

Pencapaian Realisasi Anggaran

Salah satu bentuk upaya nyata untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dan realisasi dan penggunaan anggaran serta dalam rangka mewujudkan good governance adalah adanya kewajiban penyampaian Laporan Pertanggung Jawaban penggunaan anggaran guna memenuhi target kinerja yang telah ditetapkan harus memenuhi prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikuti Standar Akuntansi Pemerintahan yang diterima secara umum.

Dalam menyusun Indikator Kinerja Utama, Dinas Perhubungan Kota Medan masih cenderung seperti pengukuran kinerja yang klasik yaitu lebih condong ke output dibanding dengan outcome dan menitik beratkan pada penggunaan anggaran. Indikator Kinerja menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Indikator Kinerja dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai atau mengukur

(12)

151 kinerja organisasi atau unit kerja yang

bersangkutan dalam mencapai tujuan dan sasaran. Tanpa Indikator Kinerja akan sulit melakukan penilaian kinerja, karena indikator tersebut merupakan faktor-faktor utama keberhasilan organisasi dan kunci dari indikator kinerja.

Dalam hal pengukuran Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Perhubungan Kota Medan adalah terhadap program atau kegiatan yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2015-2017, beberapa sasaran dalam RENSTRA dipilih dan ditetapkan sebagai IKU Dinas Perhubungan Kota Medan berdasarkan pertimbangan bahwa indikator-indikator utama yang mampu mencerminkan kinerja sekurang-kurangnya merupakn indikator hasil (outcome).

Penetapan indikator kinerja yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu kegiatan yang telah ditetapkan. Indikator kinerja kegiatan meliputi indikator masukan (input), keluaran (outputs), hasil (outcomes), manfaat (benefits) dan dampak (impacts).

Indikator-indikator tersebut dapat berupa dana, sumber daya manusia, laporan, buku dan indikator lainnya. Penetapan indikator kinerja ini diikuti dengan penetapan besaran indikator kinerja untuk masing-masing jenis indikator yang telah ditetapkan.

Dalam menilai pencapaian target kinerja, Dinas Perhubungan Kota Medan tidak bisa melepaskan dengan menilai kinerja kegiatan, program, kebijakan, sasaran dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sehingga untuk mendapatkan penilaian yang komprehensif, maka penilaian tersebut dilakukan pada pelaku organisasi dan program yang dilaksanakan.

Peranan Anggaran Dalam Pencapaian Indikator Kinerja Utama Pada Dinas Perhubungan Kota Medan.

Peranan anggaran dalam pencapaian indikator kinerja utama dengan menyatakan dalam nilai uang besarnya input yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas yang direncanakan dalam periode anggaran. Sementara peranan anggaran dalam pengendalian dapat dicapai dengan mempersiapkan anggaran dengan cara yang dapat menunjukkan input dan sumber daya yang telah dialokasikan kepada individu atau instansi sehingga memungkinkan mereka untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka.

Anggaran yang ditetapkan merupakan pegangan dalam pelaksanaan kegiatan pada SKPD Dinas Perhubungan Kota Medan sehingga tercapainya anggaran berarti tercapaianya target kinerja. Maka dari itu anggaran harus berkualitas dan realistis dan adanya pengendalian yang efektif sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

Peranan anggaran terhadap pencapaian kinerja SKPD Dinas Perhubungan Kota Medan yang terukur melalui tahapan siklus anggaran sesuai dengan prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan daerah yaitu dimulai dari perencanaan aggaran, realisasi anggaran, pelaporan/pertanggung jawaban, dan evaluasi kinerja sehingga akan tercipta akuntabilitas kinerja SKPD Dinas Perhubungan Kota Medan yang lebih baik.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan komparatif dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima.

Anggaran tidak searah dengan pencapaian indikator kinerja utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan. Semakin tinggi partisipasi penyusunan anggaran maka tidak terlalu berpengaruh terhadap indkataor

(13)

152 kinerja utama pada SKPD Dinas Perhubungan

Kota Medan.

Namun keikutsertaan berbagai pihak, baik atasan maupun bawahan dalam penyusunan anggaran dapat mendorong moral kerja yang tinggi. Dimana para pegawai akan berusaha menciptakan anggaran yang sesuai dengan standar atau kondisi yang diinginkan dimasa depan sehingga kinerja suatu organisasi dapat ditingkatkan.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa anggaran yang sudah direalisasikan belum dapat mencapai target Indikator Kinerja Utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan.

Realisasi anggran yang terjadi di Dinas Perhubungan Kota Medan tidak semua sesuai dengan target yang telah ditentukan sehingga sebagian program tidak terlaksana atau kegiatan justru merupakan program yang memiliki dampak langsung terhadap pencapaian target Indikator Kinerja Utama pada Dinas Perhubungan Kota Medan

Keikutsertaan berbagai pihak, baik atasan maupun bawahan dalam penyusunan anggaran dapat mendorong moral kerja yang tinggi. Dimana para pegawai akan berusaha menciptakan anggaran yang sesuai dengan standar atau kondisi yang diinginkan dimasa depan sehingga kinerja suatu organisasi dapat ditingkatkan.

Saran

Dibutuhkan komitmen seluruh jajaran SKPD dilingkungan Dinas Perhubungan Kota Medan.

Dalam pencapaian target kinerja sesuai anggaran serta realisasinya diharapkan pimpinan SKPD pada Dinas Perhubungan Kota Medan untuk lebih memfokuskan perhatiannya pada pelaksanaan program yang menjadi target Indikator Kinerja Utama.

Dinas Perhubungan Kota Medan harus senantiasa berupaya dan bekerja lebih keras lagi dalam penyusunan anggaran, serta menyempurnakan kebijakan yang ada untuk lebih mengoptimalkan pencapaian IKU yang telah ditetapkan, sehingga diharapkan di masa yang akan datang mendapatkan hasil yang optimal dan sesuai dengan sasaran/target yang ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Prabu Mangkunegara, 2014, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia, Penerbit Refika Aditama.

Adisaputro Gunawan, 2007, Penyusunan Anggaran Perusahaan, Yogyakarta: Graha ilmu Bastian, Indra,2006, Akuntansi Sektor Publik:

Suatu Pengantar, Penerbit Salemba Empat, Jakarta

Dinas Perhubungan, 2017Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Kota Medan.

Gomes Cardosa Faustino, 2014, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia, Penerbit Refika Aditama.

(14)

153 Kusriyanto Bambang, 2014, Evaluasi Kinerja

Sumber Daya Manusia, Penerbit Refika Aditama.

Mardiasmo, Akuntansi Sektor Publik, 2010, Yogyakarta, BPFE UGM

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Integrasi Sistem Perencanaan, Keuangan, Akuntansi dan Akuntabilitas Kinerja Peraturan Daerah Kabupatn Karo Nomor 18 Tahun 2008 tentang Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Pemerintah Kota Medan.

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 29 Tahun 2010, tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama, 2017

P.Robbin Stephen, 2006, Auit Kinerja pada Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat

Rahayu Sri, Haruman Tendi, 2007, Penyusunan Anggaran Perusahaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Administrasi, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Supriyono RA,2007, Penyusunan Anggaran Perusahaan, Yogyakarta: Graha ilmu.

Referensi

Dokumen terkait

19 Peta berikut menunjukkan negeri-negeri Melayu yang dikuasai oleh British pada abad ke-19?. Mengapakah negeri-negeri tersebut dikuasai

Tabel 3 menunjukkan bahwa konsumsi pakan ternak sapi dan kerbau baik berupa bahan kering maupun bahan organik tidak berbeda nyata diantara kedua jenis ransum walaupun jenis

Predictors: (Constant), Status Perusahaan, Kepemilikan Manajemen, LN_Ukuran Perusahaan, Net Profit Margin, Dewan Komisaris, Debt to Equity Ratio. Dependent Variable:

Perusahaan melakukan penjualan pulp, kertas budaya dan kertas industri di dalam negeri ke pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar AS$ 289.169.824 atau sebesar

Walaupun demikian, dapat dilihat dari grafik-grafik yang ada bahwa penggunaan casing C-75 ini tidak memotong kurva beban sehingga dapat disimpulkan bahwa rangkaian

1) Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi,

Prestasi guru yang terjadi di sekolahan biasanya ditunjukkan dengan mutu kerja (ketrampilan dalam melakukan pekerjaan) yaitu terpenuhinya target mengajar yang sesuai dengan

Regresi polinomial lokal derajat 1 (lokal linier) adalah model terbaik dibandingkan dengan regresi polinomial lokal yang lain dalam memodelkan jumlah kasus baru