• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL. Oleh SRI RUMADA SIHITE / M.Kn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL. Oleh SRI RUMADA SIHITE / M.Kn"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

HAK ASASI MANUSIA NOMOR 17 TAHUN 2018 TENTANG PENDAFTARAN PERSEKUTUAN KOMANDITER, PERSEKUTUAN

FIRMA, DAN PERSEKUTUAN PERDATA(Studi di Kota Medan)

JURNAL

Oleh

SRI RUMADA SIHITE 177011044 / M.Kn

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

ANALISIS YURIDIS ATAS IMPLEMENTASI PENDAFTARAN PERSEKUTUAN KOMANDITER (COMMANDITAIRE VENNOTSCHAP)

SECARA ONLINE MENURUT PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA NOMOR 17 TAHUN 2018 TENTANG PENDAFTARAN PERSEKUTUAN KOMANDITER, PERSEKUTUAN

FIRMA, DAN PERSEKUTUAN PERDATA (Studi di Kota Medan) SRI RUMADA SIHITE

ABSTRACT

The issuance of PP (Government Regulation) No. 24/2018 on Electronic Integrated Business Permit is based on the Decree of the Minister of Law and Human Rights No. 17/2018 on Registration of Limited Partnership, Firm Partnership, and Partnership which is aimed to develop administrative order. The research problems are how about the consideration of the Minister of Law and the Decree of the Minister of Law and Human Rights No. 17/2018 on Registration of Limited Partnership, Firm Partnership, and Partnership Human Rights in issuing the Decree No. 172018 on Registration of Limited Partnership, Firm Partnership, and Partnership, how about the role of a Notary in the process of registration, and how about its implementation. The research used juridical normative and empirical approach, and its nature was descriptive analytic. The data were analyzed qualitatively by analyzing legal provisions and using deductive method: from general to specific.

Keywords: Implementation, Business Administrative System, Online Single Submission System.

I. PENDAHULUAN

Badan usaha bukan badan hukum merupakan badan usaha swasta yang didirikan dan dimiliki oleh beberapa orang pengusaha secara bekerja sama.

Bentuk badan usaha dalam bidang perekonomian, yaitu bidang perindustrian, perdagangan, dan perjasaan. Perusahaan persekutuan dapat mempunyi bentuk hukum firma dan Persekutuan Komanditer (CV). Bentuk-bentuk usaha/perusahaan (business organization) yang dapat dijumpai di indonesia sekarang ini demikian beragam jumlahnya. Sebagian besar dari bentuk-bentuk badan usaha tersebut masih merupakan peninggalan di masa lalu (pemerintah Belanda). Namun diantaranya sudah ada yang telah diganti dengan sebutan dalam bahasa indonesia, tetapi kebanyakan masih tetap mempergunakan nama aslinya.

Nama-nama yang masih tetap dipergunakan dan belum diubah pemakaiannya

(3)

misalnya, Burgelijik Maatschap/Maatschap, Vennotschap (CV). Selain itu, ada pula yang sudah diindonesiakan seperti Perseroan Terbatas atau PT, yang sebenarnya berasal dari Naamloze Vennootschap (NV) Disini kata Vennoschap diartikan menjadi kata perseroan, sehingga dengan demikian dapat dijumpai sebutan Perseroan Firma, Perseroan Komanditer dan Perseroan Terbatas.1

Bersamaan dengan itu, ada juga yang mengggunakan kata perseroan dalam arti luas, yaitu sebagai sebutan perusahaan pada umumnya. Badan usaha berbadan hukum terdiri atas perusahaan swasta yang didirikan dan dimiliki oleh beberapa orang pengusaha secara kerja sama dan perusahaan negara yang didirikan dan dimiliki oleh negara. Badan usaha ini mempunyai bentuk hukum Perseroan Terbatas (PT) dan Koperasi yang dimiliki oleh pengusaha swasta, sedangkan Perusahaan Umum (PERUM) dan Perusahaan Perseroan (Persero) yang dimiliki oleh negara.2

Perbedaan yang sangat mencolok antara bentuk usaha yang berbadan hukum dan bentuk usaha yang tidak berbadan hukum, dapat diketahui dari prosedur pendirian badan usaha tersebut. Untuk mendirikan suatu badan hukum, mutlak diperlukan pengesahaan dari pemerintah, misalnya dalam hal mendirikan PT, mutlak diperlukan akta pendirian dan anggaran dasarnya oleh pemerintah (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia). Sementara bentuk usaha yang tidak berbadan hukum, syarat adanya pengesahaan akta pendirian oleh pemerintah tidak perlukan. Misalnya untuk mendirikan persekutuan komanditer walaupun didirikan dalam sebuah akta notaris, didaftarkan di Kapaniteraan Pengadilan Negeri.

Namun sejak dikeluarkannya peraturan menteri hukum dan hak asasi manusia nomor 17 tahun 2018 tentang pendaftaran persekutuan komanditer, persekutuan firma, persekutuan perdata dilakukan persekutuan komanditer dilakukan secara online melalui sistem single submission. Sebagai salah satu badan usaha yang eksistensinya diperhitungkan sampai hari ini pemerintah perlu mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang dapat di pakai pihak yang

1 Mustafa A.Siregar, Kapita Selekta Penghetahuan Hukum Dagang, Jakarta,Ind Hill Co, 1990, h.11.

2 CST.Kansil, Pokok-Pokok Penghetahuan Hukum Dagang Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 1992, h. 17.

(4)

berkepentingan guna menjamin kepastian baik bagi pendiri persekutuan komanditer atapun orang yang akan melakukan perbuatan hukum setelah berdirinya persekutuan komanditer. Sebelum memahami lebih lanjut apa yang akan dibahas oleh penulis dalam penelitiannya ada baiknya penulis menjelaskan pengertian persekutuan komanditer.

Bentuk persekutuan komanditer (CV= Comanditare Venootschap atau Patnershp with sleeping Patners) tidak diatur secara tersendiri dalam Kitab Hukum Dagang melainkan gabungkan bersama dengan peraturan-peraturan mengenai Perseroan Firma. Perseroan Komanditer adalah suatu persekutuan firma yang mempunyai satu atau beberapa orang sekutu komanditer. Yang dimaksud sekutu komanditer adalah sekutu yang hanya menyerahkan uang, barang atau tenaga pemasukan (inberg) terhadap persekutuan, sedangkan ia tidak turut di dalam pengurusan atau pengesahan di dalam persekutuan. Pengaturan tentang persekutuan komanditer sendiri diatur dalam pasal Kitab Hukum Dagang (KUHD) Pasal 19, 20, 21.

Dalam persekutuan komanditer ada pembedaan antara sekutu komanditer sekutu diam; mitra pasif; sleeping patners dan sekutu komplementer (sekutu kerja;mitra aktif; mitra biasa; pengurus; working patners). Adanya pembedaan sekutu-sekutu itu membawa konsekuensi pada pembedaan tanggung jawab yang dimiliki oleh masing-masing sekutu,adalah;3

1). Sekutu Komanditer adalah sekutu yang tidak bertanggung jawab pada pengurusan persekutuan, sekutu ini hanya menempatkan modal (uang atau barang) pada persekutuan dan mempunyai hak mengambil bagian dalam aset persekutuan bila ada untung sebesar nilai kontribusinya. Dengan juga, dia akan menanggung kerugian sebesar nilai kontribusinya.

2). Sekutu Komplementer adalah sekutu pengurus yang bertanggung jawab atas jalannya persekutuan, bahkan pertanggungjawabannya sampai kepada harta pribadinya.

Ad.1). Sekutu Komanditer

3 Muhammad Butharry, Dinamika dan implementasi hukum organisasi hukum perusahaan dalam sistem hukum di Indonesia, Jurnal.2015.

(5)

Status dari sekutu komanditer ini dapat disamakan dengan seseorang yang menitipkan modalnya pada perusahaan yang hanya menantikan hasil keuntungan dari uang, sedang dalam pengurusan perusahaan ia tidak diikutsertakan. Baik sekutu komplementer sama-sama memberi pemasukannya yang dapat berwujud uang, barang atau tenaga (fisik atau pikiran) atas dasar pembiayaan bersama, artinya dalam pertanggungjawabannya adalah terbatas pada jumlah inberg yang dimasukannya dalam persekutuan, sedangkan jawabannya adalah secara untuk keseluruannya. Hanya sekutu pengurus (komplementer) yang dapat melakukan tindakan, tidak sekedar terhadap jalannya CV tetapi juga melakukan perbuatan/

hubungan hukum atas nama CV dengan pihak ketiga. Seorang sekutu komanditer yang memasukan uangnya dalam persekutuan bermaksud untuk mendapatkan keuntungan. Sebaliknya jika perseroan menderita kerugian, maka sekutu komanditer juga ikut memikulnya, akan tetapi tidak boleh melebihi pemasukannya. Undang-undang dan akta pendirian persekutuan komanditer dalam hal-hal tertentu dapat mengadakan ketentuan-ketentuan yang mengatur hak-hak intern daripada sekutu komanditer, seperti halnya sejauh mana para sekutu komanditer dapat melihat pembukuan berkaitan dengan kepentingannya.4 Ad.2). Sekutu Komplementer

Hanya sekutu pengurus (komplementer) yang dapat melakukan tindakan, tidak sekedar melakukan pengurusan terhadap jalanya persekutuan komanditer tetapi juga melakukan perbuatan/hubungan hukum atas nama persekutuan komanditer dengan pihak ketiga. Status dari sekutu komanditer ini dapat disamakan dengan seseorang yang menitipkan modalnya pada perusahaan yang hanya menantikan hasil keuntungan dari uang, sedang dalam pengurusan perusahaan ia tidak di ikutserkan. Baik sekutu komplementer sama-sama memberi pemasukannya yang dapat berwujud uang, barang atau tenaga (fisik atau pikiran) atas dasar pembiayaan bersama, artinya dalam pertanggungjawabannya adalah terbatas pada jumlah inberg yang dimasukannya dalam persekutuan, sedangkan jawabannya adalah secara untuk keseluruannya.

Bermula dari pendaftran yang dilakukan secara manual dimana pemohon melakukan pendaftaran di pengadilan negeri. Seiring dengan berkembangnya ilmu

4 Soekardono, Hukum Dagang Indonesia, Jakarta, Rajawali Pers Jakarta, 1991, h. 102.

(6)

teknologi dan komunikasi dan telah ditetapkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik yang mana dalam ketentuan tersebut dibenarkan adanya alat bukti yang dicetak melalui teknologi serta menimbang setelah dikeluarkan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik membuktikan adanya perhatian pemerintah terhadap usaha perseorangan maupun non perseorangan. Dalam pasal 5 ditentukan dua jenis berusaha yaitu izin usaha dan izin komersial atau operasional. Dimana pemohon yang mendaftarkan bisa yang memiliki usaha perseorangan atau non perseorangan.

Di Indonesia dikenal usaha perusahaan perseorangan, perusahaan perseorangan adalah badan usaha kepemilikannya dimiliki oleh satu orang.

Individu dapat membuat badan usaha perseorangan tanpa izin dan tata cara tententu. Semua orang bebas membuat bisnis personal tanpa adanya batasan untuk mendirikannya. Pada umumnya perusahaan perseorangan bermodal kecil, terbatasnya jenis serta jumlah produksi, memiliki tenaga kerja/buruh yang sedikit dan penggunaan alat produksi teknologi sederhana. Contoh perusahaan perorangan adalah usaha kecil atau UKM (Usaha Kecil Menengah) seperti bengkel, binatu (laundry), salon kecantikan, rumah makan, persewaan komputer dan internet, toko kelontong, tukang bakso keliling, dan pedagang asongan.5 Usaha non perorangan adalah badan usaha yang dimiliki dua orang atau lebih.

Dalam Pasal 6 Peraturan Menteri Nomor 24 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegritas Secara Elektronik dimaksudkan usaha non perseorangan yaitu:

a. perseroan terbatas;

b. perusahaan umum;

c. perusahaan umum daerah;

d. badan hukum lainnya yang dimiliki oleh negara;

e. badan layanan umum;

f. lembaga penyiaran;

g. badan usaha yang didirikan oleh yayasan;

5 Ridwan Khairandy, Penghantar Hukum Dagang, Yogyakarta, FH UII Press, 2006, h. 27.

(7)

h. koperasi;

i. persekutuan komanditer (commanditaire uennootschap);

j. persekutuan firma (uenootschap onderfirmal; dan k. persekutuan perdata.

Dikeluarkannya peraturan menteri nomor 24 tahun 2018 tentang pelayanan perizinan berusaha teintegritasi secara elektronik adalah ketentuan untuk membentuk negara Indonesia sebagai negara yang memiliki kepastian hukum.

Dan pada setelah dikeluarkannya peraturan peraturan menteri nomor 24 tahun 2018 tentang pelayanan perizinan berusaha teintegritasi, pemerintah masih mendukung para pelaku usaha di indonesia khususnya badan usaha tidak berbadan hukum agar terciptanya kepastian hukum khususnya dalam persekutuan komanditer, persekutuan firma, persekutuan perdata maka dari itu dikeluarkannya peraturan menteri nomor 17 tahun 2018 tentang pendaftaran persekutuan komanditer, persekutuan firma, dan persekutuan perdata.

Dalam Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, dan Persekutuan Perdata menunjuk notaris sebagai kuasa dalam hal mendaftarkan Persekutuan Komanditer dalam sistem administasi badan usaha yang mana pendaftaran yang dilakukan secara online. Di mana dalam hal ini dapat diperhatikan implementasi pendaftaran persekutuan komanditer menurut penerapan Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Perdata, Persekutuan Perdata masih mengalami kendala dalam penerapannya.

Ditinjau dari dasar hukum Pendaftaran Persekutuan Komanditer dilapangan ditemukan adanya dua pandangan yang berbeda setelah dikeluarkannya Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata yang mana ada yang mengatakan bahwa dengan dikeluarkannya peraturan ini berlaku asas lex specialis derogat lex generalis yang mana artinya undang-undang yang bersifat khusus mengesampingkan undang-undang yang bersifat umum. Serta ada

(8)

pandangan yang lain yang menyatakan bahwa dalam tidak dicantumkan ketentuan lain yang tertulis dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

Hal ini tentu menimbulkan beberapa pendapat yang berbeda-beda di kalangan notaris di kota Medan. Sebagaimana kita ketahui dalam Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata dalam Pasal 1 ayat (6) disebutkan

“pemohon bersama-bersama atau para sekutu yang akan mendaftarkan Persekutuan Perdata, Firma, Dan Persekutuan Perdata yang memberikan kuasa kepada Notaris untuk mengajukan permohonan melalui sistem administrasi badan usaha.”

Serta timbulnya asumsi dikalangan masyarakat khususnya pelaku usaha yang tidak menghetahui peranan notaris dalam mendaftarkan persekutuan komanditer dan juga menghetahui peranan notaris yang hanya boleh mendaftarkan persekutuan komanditer dalam sistem admistrasi badan usaha. Dan pertanyaan pertimbangan apa dan kewenangan apa yang dimiliki Kementrian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata.

Sebagaimana telah diuraikan diatas, maka berdasarkan latar belakang tersebut di atas yang menjadi alasan untuk memilih judul “Analisis yuridis atas implementasi pendaftaran persekutuan komanditer (Commanditer Venochapt) secara online menurut peraturan menteri hukum dan hak asasi manusia nomor 17 tahun 2018 tentang pendaftaran persekutuan komanditer, persekutuan firma, dan persekutuan perdata (Studi diKota Medan).”

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pertimbangan kementrian hukum dan hak asasi manusia mengeluarkan permenkumham nomor 17 tahun 2018?

2. Bagaimana peran notaris dalam pendaftaran persekutuan komanditer (CV) secara online?

3. Bagaimana implementasi pendaftaran persekutuan komanditer menurut peraturan menteri hukum dan hak asasi manusia nomor 17 tahun 2018 tentang

(9)

pendaftaran persekutuan komanditer, persekutuan firma, persekutuan komanditer di kota Medan?

II METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini penulis memakai dua jenis penelitian hukum yaitu:

penelitian hukum normatif dan penelitian hukum empiris (sosiologis). Dijelaskan bahwa jenis penelitian ini memakai penelitian hukum normatif adalah karena penulis melakukan penelitian terhadap asas-asas hukum, penelitian terhadap sistematika hukum, penelitian terhadap taraf sinkronisasi hukum.6 Kedua;

Penelitian hukum sosiologis atau empiris, yang mencakup, penelitian terhadap indentifikasi hukum (tidak tertulis) dan penelitian terhadap efektivitas hukum.

Dilihat dari segi sifatnya, penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis, Bersifat deskriptif maksudnya penelitian ini diharapkan untuk memperoleh gambaran secara rinci dari sistematis tentang permasalahan yang diteliti. Analitis dimasukan berdasarkan gambaran fakta yang diperoleh secara cermat bagaimana menjawab permasalahan.

III. HASIL PENELITIAN

Sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Hukum dan Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, dan Persekutuan Perdata mewajibkan persekutuan Komanditer didaftarkan dalam sistem administrasi badan usaha yang sebelumnya dilakukan pendaftaran di Pengadilan Negeri di mana Persekutuan Komanditer didirikan. Sebelum dilakukan pendaftaran persekutuan komanditer, pemohon diwajibkan melakukan pemesanan nama dalam sistem administrasi badan usaha. Namun, persekutuan komaditer yang sebelum keluarnya peraturan menteri ini dan masih mendaftarkan persekutuan komanditernya melalui pengadilan negeri setempat diharuskan untuk mendaftar kembali pada sistem administrasi badan usaha. Apabila terdapat kesamaan nama persekutuan komanditer yang telah didaftarkan sebelumnya di sistem administrasi badan usaha secara online tersebut, maka persekutuan

6 Mukti Fajar dan Yulianto Achamad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010, h.134.

(10)

komanditer yang belum mendaftar secara online tersebut harus mengganti namanya. Di sini terdapat ketidakadilan yang terjadi.

Ketidakadilan bagi pengguna nama persekutuan yang telah didaftarkan sebelum peraturan ini dikeluarkan dan diharuskan untuk diganti apabila ada kesamaan dengan persekutuan lain yang telah ada setelahnya, dapat mengalami kerugian besar karena nama persekutuan perdata yang dipakai telah dikenal luas oleh para konsumennya. Ketidakadilan bagi pengguna persekutuan yang menjadikan tidak ada keadilan yang didapati tentang berlaku atau tidak surat izin usaha perdagangan (SIUP) serta pendaftaran yang telah dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri yang belum didaftarkan dalam sistem administrasi badan usaha.

Menurut Notaris Herawaty Harun, Dalam hal tidak ada kepastian hukum yang dapat menyebabkan ketidakadilan.7 Di ketentuan lain dilihat keadilan bagi masyarakat yang tidak mempunyai akses internet yang tetap dapat mendaftarkan persekutuan komanditer secara manual. Akan tetatapi, ketentuan dalam peraturan menteri nomor 17 tahun 2018 tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata ini tidak menjamin kepastian pemesanan nama yang dapat dipesan lebih cepat bagi masyarakat yang dapat melakukan pemesan nama di wilayah yang memiliki akses internet. Hal ini menyebabkan tidak terjadi kemanfaatan hukum yang efisien yang dijadikan pedoman bagi masyarakat yang ingin mendaftarkan persekutuan komanditer.

Kepastian hukum juga dilihatnya setelah berlakunya Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata. Menurut Indra Sakti Tarigan, terdapat dualisme hukum setelah dikeluarkannya peraturan menteri nomor 17 tahun 2018.

Dikeluarkannya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Perskutuan Firma, dan Persekutuan Perdata menimbulkan dua sudut pandang yang berbeda dikalangan Notaris. Dimana ada Notaris yang berpendapat dengan adanya Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, dan Persekutuan Perdata

7 Hasil Wawancara Notaris Herawaty Harun, berkedudukan di Medan, 14 Maret 2019.

(11)

mengeliminasi Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan adanya dualisme hukum dalam pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Komanditer.

Dengan mengkaji latar belakang serta sumber kedua hukum ini tentu pikiran kita akan dapat mengklasifikasi bahwa di sana ada dua macam hukum yang berbeda, dan tidak saling melingkupi, karenanya dengan menaati salah satunya kita tidak dapat dinyatakan telah melaksanakan keduanya, dan dengan melaksanakan keduanya di sana ada dualisme hukum dimana terdapat dua hal yang berbeda oleh seorang subjek hukum pada satu kesempatan. Dengan mempertajam pandangan ini akan lebih mengkontraskan kehadiran dualisme hukum.

Berlakunya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 tahun 2018 mengandung dualisme hukum. Pada Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, dan Persekutuan Perdata tidak dicantumkannya bahwa dengan dikeluarkannya peraturan ini mencabut ketentuan yang berlaku pada pasal 23 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Hal ini tidak sesuai dengan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan “Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang sama dengan materi muatan Undang-Undang.”

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang diadaptasi dari Wetboek van Kopphandel yang kemudian menjadi salah satu sumber dari hukum dagang Indonesia tidak dituliskan ketentuan lain yang diatur dalam peraturan perundang- undangan lainnya selain yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Sebagai salah satu sumber hukum yang tertulis yang mana memiliki kelebihan yang diharapkan ketentuan telah mudah dipahami dan untuk keperluan pengembangan peraturan hukum atau perundang-undangan, untuk membuat yang baru.

(12)

Jika melihat ketentuan dan pengertian para ahli, salah satunya menurut Soehino, materi muatan undang-undang terdapat 4 (empat) hal yang menjadi materi muatan suatu undang-undang,yaitu:8

1. Materi muatan yang menurut Undang-Undang Dasar 1945 harus diatur dengan Undang-undang.

2. Materi yang menurut Ketetapan MPR yang memuat garis-garis besar dalam bidang legislatif harus dilaksanakan dengan Undang-Undang.

3. Materi yang menurut ketentuan Undang-Undang Pokok harus dilaksanakan dengan Undang-Undang.

4. Materi lain yang mengikat umum, seperti pembebanan kepada penduduk, yang mengurangi kebebasan warga negara, yang memuat keharusan larangan.

Dalam ketentuan diatas telah diuraikan bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Dagang harus menuliskan secara jelas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang tentang peraturan lebih lanjut tentang pendaftaran persekutuan diatur dalam undang-undang dan adanya peraturan pelaksananya. Jika kita ingin merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Dagang tidak dicantumkan ketentuan lain melakukan pendaftaran persekutuan komanditer selain di Pengadilan Negeri.

Dimana dilakukannya pembaharuan yang diharapkan dapat berfungsi untuk mengganti peraturan perundang-undangan masa Belanda dan peraturan perundang-undangan nasional yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan baru. Pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah nomor 17 tahun 2018 tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Persekutuan Perdata karena dibutuhkan peraturan yang mengatur lebih lanjut dan dinyatakan secara tegas dalam peraturan pemrintah. Dimana dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang- undang sebagaimana mestinya.” Dalam hal ini belum adanya Undang-Undang yang mengatur secara khusus mengenai Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Komanditer. Hal ini sesuai dengan materai muatan peraturan pemerintah pengganti undang-undang dijelaskan dalam Pasal 11 Undang-Undang

8

(13)

Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Perundang-Undangan bahwa

“Materai muatan peraturan pemerintah pengganti undang-undang sama dengan materi muatan undang-undang.”

Materi muatan Peraturan Pemerintah dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Perundang-Undangan adalah materi untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya. Dalam penjelasan disebutkan bahwa yang dimaksud menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya adalah penetapan pemerintah untuk melaksanakan perintah undang- undang sepanjang diperlukan dengan tidak menyimpang dari materi ya ng diatur dalam undang-undang yang bersangkutan.

Menurut Hamid bahwa suatu peraturan pemerintah tidak boleh ditetapkan tanpa sebelumnya ada undang-undang yang mengatur mengenai materai tersebut. Suatu peraturan pemerintah tidak dapat mengubah materai yang ada dalam undang- undang yang dijalankannya, tidak menambah, tidak mengurangi dan tidak menyisipi suatu kentuan serta tidak memodifikasi materi dan pengertian yang telah ada dalam undang-undang yang menjadi induknya.

Jika jika merujuk hierarki perundang-undangan di Indonesia hierarki atau tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia merujuk ke Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan terdiri atas:

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

d. Peraturan Pemerintah;

e. Peraturan Presiden;

f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Merujuk kepada hierarki atau tata urut Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Dagang memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma. Hukum di Indonesia

(14)

memang menganut asas lex specialis derogat lex generalis yang mana artinya undang-undang yang bersifat khusus mengesampingkan undang-undang yang bersifat umum. Akan tetapi jika kita mengesampingkan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan memberlakukan Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata kita harus melihat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Dagang setelah diundangkan Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata tetapi jika kita merujuk pada peraturan tersebut tidak dituliskan.

Dalam ketentuan-ketentuan yang diuraikan diatas diharapkan pemerintah dalam pembentukan perundangan melakukan harmonisasi peaturan perundang- undangan yang berlaku dkalangan masyarakat. Pengharmonisasian sendiri adalah upaya untuk menyelaraskan, menyesuaikan, memantapkan dan membulatkan konsepsi suatu rancangan peraturan perundang-undangan dengan peraturan perundang-undangan lain, baik yang lebih tinggi, sederajat, maupun yang lebih rendah, dan hal-hal lain selain peraturan perundang-undangan, sehingga tersusunsecara sistematis, tidak saling bertentangan atau tumpang tindih.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Faktor yang menyebabkan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia:

a. Dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 tentang pelayanan berizinan berusaha berintegeritas secara elektronik yang mana peraturan ini mengatur perizinan berusaha terintegritasi secara elektronik atau online single submission yang selanjutnya disingkat OSS adalah perizinan berusaha yang diterbitkan oleh lembaga OSS untuk dan atas nama Menteri, pimpinan lembaga, Gubernur, atau Bupati/Wali kota kepada Pelaku Usaha melalui sistem elektronik yang terintegrasi. Yang mana selanjutnya diperlukan adanya peraturan yang mengatur pendaftaran persekutuan komanditer, persekutuan

(15)

firma, dan persekutuan perdata maka dikeluarkannya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2018;

b. Diperlukan kepastian hukum bagi pengguna persekutuan komanditer;

c. Perlunya efisiensi di era globalisasi saat ini agar dapat melakukan percepatan dalam melakukan pendaftaran persekutuan komanditer.

2.Di dalam penelitian lapangan yang dilakukan oleh penulis telah diterapkan Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata di seluruh kantor notaris kota Medan dimana peranan Notaris dalam mendaftarkan persekutuan komanditer adalah;

a. Membuat akta pendirian, akta perubahan anggaran dasar, dan melakukan pendaftaran persekutuan komanditer dalam sistem single submission.

b. Meminta pemohon mendaftarkan izin usaha dalam single sistem submission.

c. Mendaftarkan Persekutuan Komanditer dalam Sistem Administrasi Badan Usaha.

3. Implementasi dalam Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2018 tentang Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata telah menciptakan tidak efisiennya hukum tentang pendaftaran Persekutuan Komanditer. Dalam hal ini telah menyebabkan disharmonisasi peraturan serta berdampak pada kepastian hukum antara surat izin usaha perdagangan (SIUP) dengan Nomor Izin Berusaha (NIB) dimana setelah dikeluarkannya Peraturan ini mewajibkan pemesanan nama yang menyebabkan tidak diperbolehkan adanya nama yang sama. Hal ini menyebabkan ketidakadilan bagi persekutuan yang telah memiliki surat izin perdagangan (SIUP) yang telah dikeluarkan peraturan ini mewajibkan melakukan tertib administrasi pendaftaran Persekutuan Komanditer dalam sistem administrasi badan usaha.

B. Saran

1. Kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia agar segera melakukan melakukan sosialisasi di kalangan Notaris terkait sistem berbasis elektronik

(16)

2. Kepada Notaris, hendaknya perlu meningkatkan kualitas ilmu penghetahuan dalam ilmu teknologi dan komunikasi. Diharapkan penghetahuan yang didapat untuk menunjang dan membantu dalam meningkatkan peran notaris sebagai pejabat negara dalam membuat akta autentik yang dibuatnya.

3. Kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat agar segera mengamandemen Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata.

DAFTAR PUSTAKA

Abullah, Amalia, Loly. 2002. Cyber Notary dalam perspektif administrasi hukum umum. Jakarta: Alumni.

Achmad, Yulianto dan Fajar Mukti. 2010. Dualisme Penelitian Hukum Normatif&Empiris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Adjie, Habib.2008. Hukum Notaris Indonesia. Bandung: Refika Aditama.

---. 2009. Merajut Pemikiran dalam dunia Notaris dan PPAT.

Bandung: Refika Aditama.

---. 2009. Sanksi Perdata dan Administratif terhadap notaris sebagai pejabat publik. Bandung: Refika Aditma.

Andasasmita. 2002. Notaris Selayang Pandang, Jakarta: Alumni.

Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Nomor 30 tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.

Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2018 Tentang Sistem Berbasis Elektronik.

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Persekutuan Perdata.

Referensi

Dokumen terkait

tentang Hak Tanggungan dan Pasal 124 ayat (2) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan

Sebagai suatu asosiasi dari beberapa sekutu ( individu ) maka persekutuan tidak dapat dipisahkan dengan kesepakatan atau perjanjian, yaitu perjanjian untuk

Dalam hal persekutuan bubar, harta yang tersisa setelah dibayar lunas utang persekutuan, dibagi diantara para sekutu sebanding dengan pemasukan masing-masing sekutu

juga dikenal dengan nama digital forensik, adalah salah satu cabang ilmu forensik yang berkaitan dengan bukti legal yang ditemui pada komputer dan media

dipakai untuk perlengkapan adat seperti upacara perkawinan, upacara kelahiran, kematian, dan upacara adat lainnya. Namun, pada saat sekarang kain batik besurek ini

Tetapi pada tahun 2018, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia menetapkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2018

Cara pengenalan ini dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk bermain tentang profesi ataupun mengajak anak untuk berkunjung ke tempat yang bertemakan profesi

Sebelum dilakukan revisi, produk dinilai sudah baik sesuai penilaian validator untuk membantu mahasiswa menumbuhkan prestasi belajar dan sikap ilmiah terutama berkaitan dengan