1
KEYAKINAN CINTA MENGATASI RINTANGAN DAN IDEAL: KAITAN DENGAN CINTA DAN HARAPAN PADA HUBUNGAN ROMANTIS DI
DEWASA AWAL
Elia Angela, Olivia Hadiwirawan
[email protected]; [email protected] Universitas Kristen Krida Wacana, Indonesia
ABSTRAK
Kepuasan hubungan individu ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya yaitu keyakinan romantis. Keyakinan romantis merupakan serangkaian keyakinan yang terdiri atas ekspektasi dan harapan individu terhadap hubungan romantis itu sendiri.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan antara keyakinan romantis dengan kepuasan hubungan pada sampel dewasa awal yang sedang berpacaran.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 152 mahasiswa dengan rentang usia antara 18-25 tahun dan sedang menjalani hubungan romantis minimal selama enam bulan. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan dua alat ukur yaitu Romantic Beliefs Scale dan Relationship Assessment Scale. Secara garis besar, hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat korelasi positif antara keyakinan romantis terhadap kepuasan hubungan romantis pada dewasa awal yang sedang berpacaran. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa dimensi keyakinan cinta mengatasi rintangan, dan ideal berkorelasi positif terhadap dimensi cinta dan harapan pada kepuasan hubungan romantis. Implikasi dan saran untuk penelitian selanjutnya dibahas lebih lanjut.
Kata kunci: keyakinan romantis, kepuasan hubungan, dewasa awal, berpacaran
ABSTRACT
One of the many characteristics of a good romantic relationship can be seen by how satisfied a person is with his/her current romantic relationship. An individual's relationship satisfaction is determined by many factors, one of which is by romantic beliefs. Romantic beliefs are a set of beliefs that consist of individual expectations and hopes about the romantic relationship itself. This study aims to found the correlations between romantic beliefs and relationship satisfaction in a sample of dating emerging adulthood. This study uses a quantitative correlation method. Participants in this study were 152 undergraduates with age ranging between 18-25 years old and were undergoing romantic relationships for a minimum of six months. This study uses 'romantic beliefs scale' and 'relationship assessment scale' as data collection tools. In outline, the results of this research conducted that there is a positive correlation
2
between romantic beliefs and romantic relationship satisfaction. This study also found that 'love finds a way', and 'idealization', n has a positive correlation with love and hope on romantic relationship satisfaction. Implications and suggestions for future research are discussed.
Keywords: romantic beliefs, relationship satisfaction, emerging adulthood, dating
PENDAHULUAN
Cinta merupakan salah satu aspek penting yang tidak akan lepas dari hidup manusia. Salah satu kelompok usia yang juga tidak akan lepas dari masalah percintaan adalah kelompok usia dewasa awal (emerging adulthood). Nelson dan Barry (2005) mengemukakan bahwa hubungan romantis yang terjadi pada tahap ini umumnya sudah berjalan lebih lama (tidak bersifat tentative) dan sudah berada pada tahap dimana individu mulai mencari pasangan hidup. Ketika memutuskan untuk berkomitmen menjalin suatu hubungan romantis, setiap individu tentunya ingin mencapai kualitas hubungan percintaan yang baik. Pernyataan tersebut didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Gala dan Kapadia (2013), bahwa hubungan romantis yang dialami dewasa awal berdampak terhadap perkembangan emosi positif berupa meningkatnya rasa bahagia serta meningkatnya kualitas hidup yang pengaruhnya bisa dirasakan bahkan hingga ke tahap perkembangan selanjutnya.
Lippman dkk. (2014) juga mengemukakan bahwa hubungan romantis yang intim dan berkualitas mampu meningkatkan kesehatan mental dan kebahagiaan individu. Oleh karena itu, penting bagi dewasa awal untuk mencapai kualitas hubungan romantis yang baik.
Salah satu ciri kualitas hubungan romantis yang baik ditentukan juga oleh seberapa puas individu terhadap hubungan romantisnya, atau yang dikenal dengan istilah relationship satisfaction. Relationship satisfaction atau kepuasan hubungan sendiri dapat diartikan sebagai rasa senang dan puas yang dialami individu saat tujuan, keinginan, maupun harapan yang ingin dicapai dalam hubungan romantisnya
3
terpenuhi (Ursila, 2012). Hendrick (dalam Ursila, 2012) mengemukakan terdapat tiga dimensi yang dapat mengukur kepuasan dalam hubungan romantis, yaitu cinta, masalah dan harapan. Cinta merupakan komponen paling utama dalam menjalani suatu hubungan romantis. Bagaimana individu mengekspresikan cintanya dapat memengaruhi kepuasan individu akan hubungan romantis yang dijalaninya. Ketika memutuskan untuk menjalin suatu hubungan romantis, masalah merupakan hal alamiah yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Masalah yang terjadi dalam hubungan romantis dapat menghancurkan atau bahkan dapat menguatkan hubungan romantis, semua tergantung bagaimana cara individu mengatasi dan memandang permasalahan itu sendiri (William, Sawyer & Wahlstrom, 2006). Harapan yang dimaksud di sini merupakan keinginan maupun tujuan yang ingin dicapai individu dalam menjalani hubungan romantisnya. Individu dikatakan akan merasa puas dan bahagia dalam menjalani hubungan romantisnya apabila harapan, keinginan, serta tujuannya terkait hubungan romantis tersebut tercapai (Taylor, Peplau, & Sears, 2006).
Agar dapat lebih memahami dan mengetahui bagaimana kondisi riil di lapangan terkait hubungan romantis pada dewasa awal, peneliti melakukan wawancara singkat terhadap sepuluh orang partisipan dari rentang usia 18-25 tahun, dengan status sedang berpacaran maupun sudah pernah berpacaran. Wawancara ini bertujuan untuk mencari tahu apa tujuan berpacaran menurut dewasa awal; serta keyakinan atau harapan apa yang mendasari dewasa awal sehingga akhirnya memutuskan untuk berkomitmen menjalani perilaku berpacaran itu sendiri.
Berdasarkan hasil wawancara singkat dengan sepuluh orang partisipan ini, peneliti menemukan sebanyak lima orang partisipan menganggap tujuan berpacaran adalah untuk menemukan pasangan sehidup semati; empat orang partispan menganggap tujuan berpacaran adalah agar kelak mampu membentuk keluarga yang sempurna/bahagia; dan satu orang partisipan menganggap tujuan berpacaran agar bisa saling melengkapi, menghargai, dan menguatkan satu sama lain. Meskipun
4
demikian, peneliti menemukan ada juga partisipan yang beranggapan tidak percaya dengan anggapan pasangan sehidup semati/sekali seumur hidup. Selain itu, peneliti juga menemukan ada beberapa partisipan yang tidak meyakini apa yang dikatakan sebagai cinta pada pandangan pertama, dan ada juga yang menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang ‘sakral’ atau dalam artian sebaiknya hanya dilakukan sekali seumur hidup.
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa setiap individu sebenarnya memiliki pandangan, tujuan, keyakinan, maupun ekspektasi masing-masing mengenai bagaimana idealnya suatu hubungan romantis. Dengan kata lain, setiap individu memiliki keyakinan mengenai apa yang seharusnya dicapai atau dilakukan dalam hubungan romantis dan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Misalkan, ada individu yang berpandangan bahwa hendaknya pasangan untuk sekali seumur hidup, dan ada juga yang berpandangan bahwa pasangan hendaknya mampu saling melengkapi dan saling membahagiakan. Adapun keyakinan dan harapan mengenai bagaimana idealnya suatu hubungan romantis seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya merupakan apa yang dikenal dengan istilah keyakinan romantis atau romantic beliefs.
Keyakinan dalam kaitannya dengan hubungan romantis merupakan serangkaian asumsi, harapan, serta ekspektasi individu mengenai apa yang dianggap relevan dan menguntungkan bagi hubungan romantisnya (Knee & Bush, 2008).
Keyakinan romantis dalam hubungan romantis cenderung mengarahkan persepsi individu terkait situasi hubungan romantis yang akan maupun yang sedang dialami individu (Pradhana & Wisnuwardhani, 2014). Sebagai contoh, individu yang meyakini
‘love at first sight’ atau keyakinan cinta pada pandangan pertama, mungkin menganggap bahwa kesan pertama merupakan hal yang penting untuk menentukan apakah akan melanjutkan suatu hubungan atau tidak. Jika pada kesan pertama saja individu sudah merasa kurang cocok, maka besar kemungkinan hubungan romantis tidak akan berlanjut ke tahap yang lebih jauh atau serius.
5
Menurut Sprecher dan Metts (1989), terdapat empat dimensi dalam keyakinan romantis (romantic beliefs), yaitu cinta pada pandangan pertama (love at first sight), ideal (idealization), cinta akan mengatasi rintangan (love finds a way), dan satu- satunya (the one and only). Cinta pada pandangan pertama merupakan keyakinan bahwa individu bisa mengalami jatuh cinta pada orang lain yang baru pertama kali ditemuinya. Ideal merupakan keyakinan bahwa cinta sejati akan berjalan sempurna;
dalam artian pasangan yang dicintai akan sesuai dengan harapan dan hubungan romantis yang akan dijalani akan berjalan sempurna. Cinta akan mengatasi rintangan merupakan keyakinan bahwa cinta sejati bisa menghadapi semua tantangan atau masalah yang berpotensi merusak hubungan. Satu-satunya merupakan keyakinan bahwa hanya ada satu cinta sejati untuk setiap individu.
Lippman dkk. (2014) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang juga ikut berpengaruh terhadap kepuasan hubungan romantis individu adalah keyakinan yang terdiri atas ekspektasi dan harapan individu terhadap hubungan romantis itu sendiri.
Pada penelitian yang dilakukan sebelumnya ditemukan bahwa keyakinan romantis yang dimiliki individu berhubungan terhadap tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi pada sampel penelitian individu yang sudah menikah atau memiliki pasangan (Murray, Holmes, & Griffin, 1996; Baldwin dalam Rowland, 2006). Hasil penelitian tersebut didukung juga dengan temuan Sprecher (1999) yang menemukan hasil bahwa keyakinan romantis berkorelasi secara positif dengan meningkatnya rasa cinta, kepuasan, serta keinginan individu untuk berkomitmen dalam hubungan romantis yang dijalaninya. Shimkoski dkk. (2017) juga menemukan bahwa selain dapat menentukan pandangan individu terkait bagaimana hubungan romantis yang berhasil atau memuaskan, keyakinan romantis juga dapat memengaruhi sikap dan cara pandang individu, khususnya pada individu pada tahap usia dewasa muda, dalam proses menjalani hubungan romantis. Knee dan Bush (2008) mengemukakan bahwa keyakinan romantis individu kemungkinan berperan dalam memfasilitasi perkembangan hubungan romantis ke arah yang lebih positif, atau dalam kata lain
6
adanya keyakinan romantis kemungkinan membuat individu memandang hubungan romantisnya sebagai sesuatu yang lebih favorable dan lebih optimis dalam menjalani hubungan romantisnya. Meskipun demikian, Sprecher dan Metts (1999) menemukan bahwa keyakinan romantis tidak begitu berpengaruh terhadap kelanggengan dan jangka waktu hubungan romantis.
Pada penelitian ini, peneliti tertarik meneliti bagaimana hubungan keyakinan romantis terhadap kepuasan hubungan romantis pada individu yang sedang berpacaran dengan fokus individu pada tahap usia dewasa awal. Terdapat beberapa alasan yang menjadi perhatian peneliti dalam memilih topik tersebut. Pertama, Dweck (dalam Pomerantz & Coven, 2002) mengemukakan bahwa setiap individu memiliki personal beliefs masing-masing yang berbeda satu sama lain, termasuk personal beliefs mengenai hubungan romantis. Bagaimana individu bertindak sedikit banyak dipengaruhi juga oleh personal beliefs individu tersebut (Kumar, 2018; Breines, 2015).
Menurut peneliti, dalam hal meneliti tentang kepuasan hubungan romantis individu tidak cukup jika hanya dilihat dari sisi perilakunya saja tetapi juga harus dilihat dari sisi kognitifnya juga. Dengan kata lain perlu diteliti bagaimana keyakinan romantis, sebagai salah satu bagian dari sistem kognitif yang dimiliki individu memiliki peranan pada penilaian individu terhadap kepuasan hubungan romantisnya. Kedua, hubungan romantis atau berpacaran merupakan salah satu hal penting dalam tahap eksplorasi cinta pada tahap usia dewasa awal. Papazova dan Garvanova (2019) mengungkapkan bahwa perilaku pacaran dan keyakinan romantis ikut berpengaruh terhadap perkembangan identitas psikososial dan keintiman individu pada tahap usia dewasa awal. Pradhana dan Wisnuwardhani (2014) juga mengemukakan bahwa romantic beliefs dapat menjadi prediksi dan memengaruhi perkembangan hubungan romantis, atau dalam kata lain romantic beliefs menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara pandang dan perilaku individu dalam hal menjalani hubungan romantisnya.
7
Selama proses kaji literatur, peneliti menemukan penelitian yang mengkaji tentang keyakinan romantis maupun kepuasan hubungan romantis banyak berfokus pada individu yang sudah menikah, terutama pada konteks di Indonesia (Dewi, 2019;
Fakhri, 2020). Stephanou (2012) juga mengemukakan bahwa pengetahuan tentang hubungan romantis yang baik merupakan hal yang sangat penting bagi kalangan dewasa awal, dikarenakan individu pada tahap usia ini memiliki pengalaman yang minim dalam membentuk maupun mempertahankan hubungan romantis. Selain itu, hubungan romantis yang dialami pada tahap usia dewasa awal juga berkontribusi tidak hanya pada perkembangan psikososial, tetapi juga pada perkembangan keintiman (intimacy) dan well-being individu (Barber & Eccles, 2003).
Berdasarkan penjabaran di atas, peneliti tertarik meneliti tentang bagaimana hubungan keyakinan romantis terhadap kepuasan hubungan pada dewasa awal yang sedang menjalani proses berpacaran. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ha: Terdapat hubungan yang signifikan antara keyakinan romantis (romantic beliefs) terhadap kepuasan hubungan romantis (relationship satisfaction) pada dewasa awal yang sedang berpacaran
Ho: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keyakinan romantis (romantic beliefs) terhadap kepuasan hubungan romantis (relationship satisfaction) pada dewasa awal yang sedang berpacaran
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan partisipan menggunakan metode purposive sampling. Teknik tersebut digunakan karena membutuhkan sampel yang spesifik. Partisipan yang memenuhi kriteria adalah berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, berusia antara 18-25 tahun, dan sedang menjalin hubungan romantis (berpacaran) minimal 6 bulan. Hal ini dilakukan atas pertimbangan hasil penelitian yang dilakukan Sacher dan Fine (1996), yang menemukan bahwa hubungan romantis dikatakan akan lebih serius dan intim
8
setelah melewati usia minimal selama enam bulan. Selain itu karena penelitian ini meneliti tentang hubungan romantis (berpacaran), maka partisipan penelitian adalah individu yang sedang berpacaran. Penelitian terdahulu menemukan beberapa faktor yang memengaruhi kepuasan hubungan (Prager, 1995; Sacher & Fine, 1996). Oleh sebab itu, penelitian juga menambahkan beberapa data demografis yang berkaitan dengan hubungan romantis, seperti lama berpacaran, frekuensi pertemuan serta sedang menjalani hubungan jarak jauh atau dekat. Rangkuman data partisipan dalam terlihat pada tabel di bawah ini,
Tabel 1
Data Demografis Partisipan Penelitian
Faktor Kelompok Jumlah
Jenis Kelamin Laki-laki 38
Perempuan 114
Usia 18-20 91
21-22 49
23-25 12
Lama Berpacaran 6-12 bulan 68
13-18 bulan 24
19-24 bulan 18
25-30 bulan 11
31-36 bulan 7
>36 bulan 24
Frekuensi Pertemuan Jarang 55
Sering 74
Cukup 23
Jarak dengan Pasangan Jauh 54
Dekat 98
Data keyakinan romantis didapatkan melalui Romantic Belief Scale (Sprecher
& Metts, 1989). Sedangkan, data tentang kepuasaan hubungan diperoleh melalui Relationship Assessment Scale (Hendrick, 1988). Pemilihan alat ukur ini dilakukan dengan pertimbangan kedua skala tersebut telah banyak digunakan dalam penelitian- penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, alat ukur
9
keyakinan romantis sudah terbukti reliabilitasnya dengan nilai Alpha Cronbach sebesar 0,81- 0,88 (Sprecher & Metts, 1989; Hefner & Wilson, 2013; Driesmans dkk., 2016; Vannier & O’Sullivan, 2016; Shimkoski dkk., 2017; Papazova & Garvanova, 2019). Reliabilitas alat ukur kepuasan hubungan juga memiliki rentang nilai Alpha Cronbach sebesar 0,74-0,94 pada penelitian-penelitian sebelumnya (Ursila, 2012;
Rohmann, Führer & Bierhoff, 2016; Maroufizadeh dkk., 2018).
Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas konstruk yang dihitung dengan corrected total item correlation pada SPSS 24.0. Sedangkan, untuk uji reliabilitas metode internal consistency reliability yang dihitung dengan Alpha Cronbach pada SPSS 24.0. Pada skala keyakinan romantis, terdapat dua butir pernyataan yang dibuang (nomor 1 dan 10) karena memiliki nilai koefisien validitas
<0,30. Pada skala kepuasan hubungan, tidak ada aitem yang dibuang. Tabel 1 menunjukkan rangkuman hasil uji validitas dan reliabilitas kedua alat ukur.
Tabel 2
Rangkuman Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
Alat Ukur Jumlah Aitem Validitas Reliabilitas Romantic Beliefs Scale (RBS) 13 0,411 - 0,709 0,86 Relationship Assessment Scale (RAS) 7 0,437 - 0,760 0,841
Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 24. Uji normalitas data dilakukan menggunakan metode statistik Kolmogorov-Smirnov. Selain itu, peneliti juga melakukan uji korelasi pada masing-masing dimensi dari kedua variabel keyakinan romantis dan kepuasan hubungan. Sebagai analisis lanjutan, peneliti melakukan uji beda T-test untuk dua kelompok dan One Way Anova untuk lebih dari dua kelompok. Analisis tersebut digunakan untuk melihat perbedaan antar kelompok partisipan berdasarkan data keyakinan romantis dan kepuasan hubungan.
10
HASIL
Hasil uji normalitas pada sebaran data keyakinan romantis dan kepuasan hubungan menunjukkan distribusi normal (p=0,083 dan p=0,071 secara berurutan).
Data keyakinan romantis dalam penelitian ini masuk ke dalam kategori sedang (M=58,17, SD= 8,935). Demikian halnya dengan data kepuasan hubungan yang juga tergolong ke dalam kategori sedang (M=31,61, SD=4,392). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara keyakinan romantis dengan kepuasan hubungan, dimana Ha diterima dan Ho ditolak (r=0.256, p=0,001). Kekuatan hubungan kedua variabel juga dapat dilihat dari nilai korelasi antara dimensi-dimensi pada keyakinan romantis dengan dimensi-dimensi pada kepuasan hubungan romantis yang dijabarkan dalam tabel berikut.
Tabel 3
Korelasi Dimensi-dimensi Keyakinan Romantis dan Kepuasan Hubungan
Keyakinan Romantis Kepuasan Hubungan
Cinta Masalah Harapan
Cinta pada pandangan pertama r -.005 -.116 .249
sig. .956 .156 .002
Cinta mengatasi rintangan r .217 -.058 .222
sig. .007 .481 .006
Ideal r .343 .096 .379
sig. .000 .237 .000
Satu-satunya r .165 -.026 .255
sig. .042 .753 .002
Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa dimensi keyakinan cinta pada pandangan pertama memiliki korelasi dengan harapan. Selain itu, dimensi keyakinan cinta akan mengatasi rintangan berkorelasi dengan dimensi cinta dan harapan.
Dimensi keyakinan ideal memiliki korelasi yang sangat signifikan dengan dimensi cinta dan harapan. Pada dimensi terakhir, yaitu keyakinan satu-satunya berkorelasi dengan dimensi harapan. Tabel 4 menunjukkan analisis lanjutan yang membandingkan
11
variabel keyakinan romantis dan kepuasan hubungan pada masing-masing kelompok berdasarkan data demografis. Dari tabel, dapat terlihat bahwa keyakinan romantis memiliki perbedaan rerata skor yang signifikan berdasarkan kelompok frekuensi pertemuan. Kemudian, pada kepuasan hubungan perbedaan rerata skor signifikan terjadi pada kelompok usia dan lama berpacaran.
Tabel 4
Perbandingan Keyakinan Romantis dan Kepuasan Hubungan partisipan berdasarkan data demografis
Faktor Kelompok Keyakinan Romantis Kepuasan Hubungan Mean Signifikansi Mean Signifikansi Jenis Kelamin Laki-laki 58,84 t = 0,533 30,53 t = -1,772
Perempuan 57,95 p = 0,595 31,97 p = 0,078
Usia 18-20 57,92 F = 0,905 31,04 F = 6,541
21-22 57,82 p = 0,407 33,27 p = 0,002
23-25 61,5 29,17
Lama Berpacaran 6-12 bulan 58,4 F = 1,826 31,31 F = 2,690 13-18 bulan 60,29 p = 0,111 32,75 p = 0,023
19-24 bulan 52,67 28,83
25-30 bulan 57,82 31,36
31-36 bulan 60,29 33,29
>36 bulan 59,08 33,04
Frekuensi Jarang 57,84 F = 3,556 31,24 F = 2,737
Pertemuan Sering 59,68 p = 0,031 32,26 p = 0,068
Cukup 54,13 30,09
Jarak dengan Jauh 56,78 t = 1,432 31,11 t = 1,044
Pasangan Dekat 58,94 p = 0,154 31,89 p = 0,298
DISKUSI
Hasil penelitian ini menunjukkan saat variabel keyakinan romantis mengalami peningkatan atau penurunan maka akan diikuti juga dengan peningkatan atau
12
penurunan pada variabel kepuasan hubungan romantis pada dewasa awal yang sedang berpacaran. Vannier dan O’Sullivan (2016) menemukan bahwa keyakinan romantis memicu harapan terkait pengalaman romantis pada dewasa awal yang kemudian akan menentukan tingkat kepuasan dalam menjalin hubungan dengan pasangan. Lopez, Viejo, dan Ruiz (2019) juga menemukan bahwa pada usia dewasa awal, keyakinan romantis dalam hubungan romantis sedikit banyak ikut memengaruhi kepuasan hubungan romantis individu. Temuan ini dapat dipengaruhi oleh persepsi dewasa awal terkait hubungan romantis. Semakin dewasa awal memiliki keinginan membangun hubungan romantis, maka akan diikuti dengan perasaan bahagia dengan pengalaman romantis yang dialaminya, merasa puas dalam menjalani hubungan romantis serta dorongan untuk berpacaran dan menikah pada individu yang masih lajang (Watkins & Beckmeyer, 2019). Temuan pada hubungan romantis dewasa awal selaras dengan temuan pada pasangan yang telah menikah. Penelitian Fakhri dkk.
(2020) menemukan hubungan antara keyakinan romantis dengan kualitas hubungan pernikahan pada individu di Makasar. Dewi (2019) menemukan adanya korelasi antara harapan pernikahan dengan kepuasan pernikahan pada individu yang menikah di usia remaja akhir. Demikian juga dengan temuan Casad, Salazar dan Macina (2014) yang menunjukkan bahwa gambaran ideal individu tentang pernikahan berkorelasi dengan tingkat kepuasaan dan kepercayaan terhadap pernikahan yang tinggi. Keselarasan temuan antara korelasi keyakinan romantis pada dewasa awal dengan harapan atau keyakinan pernikahan pada pasangan yang telah menikah terhadap kepuasan dalam menjalin hubungan dapat ditelaah lebih lanjut dalam studi longitudinal.
Penelitian ini menemukan bahwa terdapat korelasi positif antara keyakinan cinta pada pandangan pertama dengan dimensi harapan pada kepuasan hubungan romantis. Adanya keyakinan cinta pada pandangan pertama menunjukkan harapan individu berupa bisa menemukan cinta sejatinya bahkan saat pertemuan pertama (Sprecher & Metts, 1999). Harapan tersebut dapat muncul karena paparan media terkait keyakinan romantis yang akan dialami ketika seseorang menjalin hubungan
13
dengan pasangan. Hefner dan Wilson (2013) melakukan konten analisis terkait tema atau gambaran ideal pada film komedi romantis selama 10 tahun terakhir dan menemukan tema cinta pada pandangan pertama muncul sebesar 7%. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa individu yang menonton film komedi romantis juga akan memiliki keyakinan romantis. Dengan demikian, semakin individu memiliki keyakinan cinta pada pandangan pertama maka akan memunculkan harapan yang ingin dicapainya dalam hubungan (Ursila, 2012).
Korelasi berikutnya yang menunjukkan hasil signifikan adalah korelasi antara keyakinan cinta mengatasi rintangan dengan dimensi cinta dan harapan pada kepuasan hubungan. Zagefka dkk. (2021) meneliti tentang pengalaman individu yang mengalami disfungsi dalam keluarga terhadap keyakinan bahwa cinta dapat bertahan.
Hasil temuan menemukan bahwa individu yang tidak memiliki keyakinan menemukan cinta yang dapat bertahan akan tidak berkeinginan untuk meraih tujuan tersebut dalam menjalin hubungan. Pada akhirnya, keyakinan tersebut akan berdampak pada kepuasan hubungan yang rendah. Individu yang meyakini bahwa cinta dapat mengatasi masalah yang muncul maka akan lebih memandang permasalahan yang terjadi dalam hubungannya secara lebih positif maupun lebih optimis (Knee & Bush, 2008). Ketika individu berhasil menemukan jalan keluar untuk permasalahannya serta mampu mengatasi masalah yang muncul dalam hubungan romantis, hal ini yang kemudian dapat menyebabkan meningkatnya rasa cinta, komitmen, maupun kepuasan individu terhadap hubungan romantisnya (Ursila, 2012). Keyakinan cinta dapat mengatasi rintangan dapat diperkuat melalui pesan implisit yang terkandung pada film romantis. Hefner dan Wilson (2013) menemukan tema yang paling banyak muncul dalam genre film komedi romantis adalah cinta yang mengatasi segalanya (65%). Selaras dengan temuan Kretz (2019), prediktor yang kuat tentang keyakinan cinta mengatasi segalanya serta kepuasan hubungan adalah tontonan serial drama TV dan film romantis. Penelitian Galloway dkk. (2015) pada dewasa muda yang memilih menonton film drama dan film komedi romantis menunjukkan korelasi yang
14
positif dan signifikan dengan gambaran ideal bahwa cinta mengatasi segalanya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa individu yang meyakini bahwa cinta dapat mengatasi segalanya akan menaruh harapan pada kekuatan cinta dan semua permasalahan dalam hubungan akan dapat teratasi (Hefner, dkk., 2017).
Keyakinan ideal merupakan keyakinan akan menemukan pasangan yang
‘ideal’ atau yang sesuai dengan keinginan atau harapan individu, sehingga hubungan romantisnya seolah-olah berjalan ‘sempurna’ (Sprecher & Metts, 1989). Temuan dalam penelitian ini menunjukkan korelasi antara keyakinan ideal dengan dimensi cinta dan harapan pada kepuasan hubungan romantis. Keyakinan ideal yang dimiliki oleh individu akan menunjukkan tingkat keyakinan individu terhadap hubungan romantis yang sedang dijalankannya. Dost dan Aras (2021) menemukan bahwa individu yang memiliki keyakinan bahwa pasangan saling memenuhi kebutuhan satu sama lain, melakukan segala hal bersama-sama, terbuka dan jujur menunjukkan korelasi terhadap kepuasan hubungan. Hal tersebut dapat dimungkinkan karena keyakinan-keyakinan tersebut akan menggambarkan pasangan memberikan dukungan sosial dalam menjalani hubungan romantis. Lebih lanjut, Vannier dan O’Sullivan (2016) melihat bahwa keyakinan tentang pasangan yang sempurna dalam hubungan akan memunculkan harapan romantis ketika menjalani hubungan. Semakin harapan romantis tersebut tidak terpenuhi maka individu akan merasakan hubungan yang tidak ideal serta ketidakpuasan. Pradhana dan Wisnuwardhani (2014) mengemukakan bahwa keyakinan akan hubungan romantis dan pasangan yang ideal akan mendorong individu untuk berkomitmen dalam suatu hubungan romantis. Oleh sebab itu, semakin individu memiliki keyakinan ideal maka rasa cinta dan harapan akan semakin berkembang ketika menjalani hubungan.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat korelasi keyakinan satu- satunya terhadap dimensi cinta dan harapan pada kepuasan hubungan romantis.
Keyakinan satu-satunya merupakan keyakinan dan harapan individu bahwa hanya ada satu cinta sejati untuk setiap orang. Hendrick (1988) mengemukakan bahwa cinta
15
dalam kaitannya dengan kepuasan hubungan romantis berkaitan dengan sejauh mana individu mencintai pasangannya. Saat individu mencintai pasangannya dan merasa puas dengan hubungan romantisnya, maka individu akan meyakini bahwa pasangan adalah cinta sejatinya. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keyakinan satu-satunya atau cinta sejati banyak diserap oleh individu dari media massa, terutama film dan televisi. Penelitian Kertz (2019) menunjukkan bahwa tontonan opera sabun memiliki korelasi dengan kepuasan hubungan karena menguatkan keyakinan penonton tentang soul mates. Keyakinan terkait satu-satunya juga ditemukan merupakan tema yang muncul sebesar 15% dalam film komedi romantis selama 10 tahun terakhir (Hefner & Wilson, 2013). Demikian halnya dengan eksperimen yang dilakukan pada perempuan remaja yang memiliki tingkat parasosial hubungan tinggi dengan idola menunjukkan tingkat keyakinan cinta sejati untuk selamanya setelah menonton film romantis (Driesmans, Vanderbosch & Eggermint, 2016).
Hal yang menarik dalam temuan penelitian ini adalah tidak adanya korelasi antara semua keyakinan romantis dengan dimensi masalah pada kepuasan hubungan. Masalah dalam kaitannya dengan kepuasan hubungan romantis lebih terkait dengan bagaimana cara individu mengatasi setiap masalah yang muncul dalam hubungan romantisnya (Ursila, 2012). Masalah yang muncul bisa berdampak positif (menguatkan hubungan) ataupun negatif (menghancurkan hubungan), tergantung bagaimana persepsi individu dalam melihat masalah. Penelitian Zagefka dan Bahul (2020) menemukan bahwa ketidaksetujuan terhadap perbedaan pendapat dalam hubungan menjadi prediktor dalam kepuasan hubungan. Individu yang menghindari perbedaan pendapat dengan pasangan merasa lebih puas dalam hubungannya.
Temuan ini menunjukkan bahwa semakin individu memiliki keyakinan terkait hubungan yang ideal maka individu akan cenderung memberikan penilaian yang baik terkait hubungan romantis yang sedang dijalaninya. Ruiz-Palomino dkk. (2021) mengemukakan bahwa pada usia dewasa awal, mitos terkait cinta seperti cinta
16
mengatasi segalanya, cinta merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan, keberadaan cinta sejati serta cemburu merupakan bukti cinta justru membuat persepsi terhadap kekerasan dalam hubungan berkurang. Lebih lanjut, penelitian tersebut menemukan bahwa keyakinan cinta memiliki kekuatan, pentingnya cinta serta cemburu bentuk cinta memiliki korelasi dengan persepsi terhadap perilaku kekerasan yang rendah. Keyakinan romantis juga ditemukan berkorelasi dengan penilaian tentang pentingnya memiliki hubungan romantis. Penilaian yang sangat tinggi akan pentingnya berada dalam hubungan romantis ditemukan berkorelasi dengan perilaku kontrol dan obsesi pasangan. Dengan kata lain ideologi tentang romantisme hubungan akan membuat individu menilai perilaku kontrol dan obsesi dari pasangan sebagai tindakan romantis yang berpotensi memunculkan kekerasan dalam hubungan (Papp dkk., 2017). Oleh sebab itu, penelitian lanjutan perlu menelaah lebih mendalam antara kaitan keyakinan romantis dengan kekerasan dalam hubungan.
Analisis lanjutan dalam penelitian ini menemukan perbedaan keyakinan romantis pada dewasa awal ditinjau dari frekuensi pertemuan. Temuan ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang justru menunjukkan tidak adanya perbedaan keyakinan romantis bila ditinjau dari frekuensi pertemuan (Casad, Salazar
& Macina, 2014; Vannier & O’Sullivan, 2016). Peneliti berasumsi frekuensi pertemuan akan menguatkan keyakinan romantis. Hal ini dikarenakan rasa bahagia cenderung dikatakan dapat muncul apabila individu sering menghabiskan waktu lebih banyak dengan pasangannya (Ursila, 2012). Walau demikian, rentang pengukuran frekuensi pertemuan dalam penelitian ini masih bersifat subjektif karena belum ada jumlah yang jelas membedakan antara kategori sering, cukup maupun jarang. Pada kepuasan hubungan romantis ditemukan perbedaan usia dan lama berpacaran. Sacher dan Fine (1996) juga menemukan bahwa lama waktu suatu hubungan romantis berkaitan erat dengan komitmen masing-masing individu dalam hal menjalani hubungan romantisnya, dan secara tidak langsung komitmen mengarah pada kepuasan hubungan romantis individu. Semakin individu merasa puas akan hubungannya, maka
17
kemungkinan besar bagi individu tersebut untuk terus berkomitmen dalam menjalani hubungannya.
Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan, seperti pengukuran frekuensi pertemuan yang memiliki pilihan jawaban dalam kategori sering, cukup dan jarang sehingga tidak memiliki data objektif dari partisipan tentang jumlah pasti pertemuan dengan pasangan. Demikian halnya dengan data jarak tempat tinggal dengan pasangan yang juga belum menunjukkan data objektif. Kedua data tersebut menjadi kurang dapat dieksplorasi hubungannya dengan keyakinan romantis maupun kepuasan hubungan. Selain itu, peneliti juga belum menambahkan data terkait budaya, latar belakang pendidikan maupun data lainnya yang akan mengungkap identitas sosial yang dimiliki partisipan. Hal tersebut karena konstruk sosial yang ada dalam masyarakat dapat mewarnai pandangan individu tentang cinta. Dalam proses analisis data, peneliti juga masih membatasi pada uji korelasi serta uji perbedaan sehingga masih minim melakukan pengujian untuk melihat peranan data demografis dalam hubungan keyakinan romantis dengan kepuasan hubungan.
Beberapa penelitian (Hefner & Wilson, 2013; Driesmans dkk., 2016; Hefner dkk., 2017; Kertz, 2019) menemukan bahwa seberapa sering individu terpapar media masa yang merepresentasikan keyakinan romantis juga sedikit banyak memengaruhi tingkat keyakinan romantis dan kepuasan hubungan romantis. Sejauh ini, belum banyak penelitian terkait peranan media massa pada keyakinan romantis pada konteks Indonesia. Oleh sebab itu, peneliti menyarankan penelitian selanjutnya dapat menelaah kaitan media massa dengan keyakinan romantis, terutama dalam konteks hubungan parasosial anak muda dengan idola. Demikian juga dengan temuan penelitian yang menunjukkan keterkaitan antara keyakinan romantis dengan tingkat kekerasan dalam hubungan (Papp dkk., 2017; Ruiz-Palomino dkk., 2021). Penelitian ini dapat ditindaklanjuti mengingat angka kekerasan seksual, kekerasan dalam pacaran serta kekerasan dalam rumah tangga menunjukkan angka yang cukup tinggi.
18
DAFTAR PUSTAKA
Arnett, J. J. (2000). Emerging Adulthood: A Theory of Development from the Late Teens Through the Twenties. American Psychological Association, 55 (5), 469–480. Diunduh dari
http://jeffreyarnett.com/articles/ARNETT_Emerging_Adulthood_theory.pdf Barber, B. & Eccles, J. (2003). The Joy of Romance: Healthy Adolescent
Relationships as an Educational Agenda. Adolescent Romantic Relations and Sexual Behavior: Theory, Research, and Practical Implications, 355-370.
NJ: Lawrence Erlbaum Associates.
Breines, J. (2015). 3 Ways Your Beliefs Can Shape Your Reality. Psychology Today.
Diunduh dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/in-love-and- war/201508/3-ways-your-beliefs-can-shape-your-reality.
Casad, B. J., Salazar, M. M. & Macina, V. (2014). The Real Versus the Ideal: Predicting Relationship Satisfaction and Well-Being from Endorsement of Marriage Mythsand Benevolent Sexism. Psychology of Women Quarterly, 39 (1), 1-11.
DOI: 10.1177/0361684314528304.
Dewi, T. A. T. (2019). Hubungan antara Marital Expectation dengan Kepuasan Pernikahan pada Pasangan yang Menikah di Usia Remaja Akhir di Keluarahan Bulak Banteng Kecamatan Kenjeran Surabaya. Skripsi (tidak diterbitkan). Surabaya: Universitas Negeri Sunan Ampel.
Dost, M. T. & Aras, S. (2021). Close relationship belief and self-change as predictors of romantic relationship quality in university students. Pegem Eğitim ve Öğretim Dergisi, 11(1), 135-162. DOI: 10.14527/pegegog.2021.004.
Driesmans, K., Vandenbosch L. & Eggermont, S. (2016): True love lasts forever: the influence of a popular teenage movie on Belgian girls’ romantic beliefs. Journal of Children and Media. Vol 10 (3), 304-320. DOI:
10.1080/17482798.2016.1157501.
Fachri, N., Buchori, S., Nur, H. & Fakhri, R. A. (2020). Romantic Belief and Quality of Marital Relationship Among Married People in Makassar. Proceeding of The International Conference on Science and Advanced Technology (ICSAT).
Universitas Negeri Makassar. ISBN: 978-623-7496-62-5
19
Gala, J. & Kapadia, S. (2013). Romantic Relationships in Emerging Adulthood: A Developmental Perspective. National Academy of Psychology (NAOP) India, 58(4), 406–418.
Galloway, L., Engstrom, E. & Emmers-Sommer, T. M. (2015). Does Movie Viewing Cultivate Young People's Unrealistic Expectations About Love and Marriage?
Marriage & Familiy Review, 51 (8), 687-712. DOI:
10.1080/014949929.2015.1061629.
Hefner, V. & Wilson, B.J. (2013). From Love at First Sight to Soul Mate: The Influence of Romantic Ideals in Popular Films on Young People's Beliefs about Relationships. Communication Monographs, 80(2), 150-175, DOI:
10.1080/03637751.2013.776697
Hefner, V., Firchau, R-J., Norton, K. & Shevel, G. (2017). Happily Ever After? A Content Analysis of Romantic Ideals in Disney Princess Films. Communication Studies, 68(5), 511-532, DOI: 10.1080/10510974.2017.1365092
Hendrick, S. S. (1988). A Generic Measure of Relationship Satisfaction. Journal of Marriage and the Family, 50, 93-98.
Kretz, V. E. (2019). Television and Movie Viewing Predict Adults’ Romantic Ideals and Relationship Satisfaction. Communication Studies, Vol 70 (2), 208-234, DOI:10.1080/10510974.2019.1595692.
Kumar, M. (2018). The Relationship Between Beliefs, Values, Attitudes and Behaviour.
Owlcation. Diunduh dari https://owlcation.com/social-sciences/Teaching-and- Assessing-Attitudes.
Knee, C. R., & Bush, A. L. (2008) Relationship beliefs and their role in romantic relationship initation. Handbook of Relationship Initation, 471-485. New York, NY: Psychology Press.
Lippman, J. R., Ward, L. M., & Seabrook, R. C. (2014). Isn’t It Romantic?
Differential Associations Between Romantic Screen Media Genres and Romantic Beliefs. Psychology of Popular Media Culture, 3(3), 128-140.
Lopez, G. M., Viejo, C., & Ruiz, R. O. (2019). Well-being and Romantic Relationships:
A systematic review in adolescence and emerging adulthood. Environmental Health and Public Health, 16 (3), 24-15.
20
Maroufizadeh, S., Omani-Samani, R., Almasi-Hashiani, A., Navid, B., Sobati, B. &
Amini, P. (2018). The Relationship Assessment Scale (RAS) in infertile patients: A reliability and validity study. Middle East Fertility Society Journal, Vol 23 (4), p. 471-475, ISSN 1110-5690. Diunduh dari:
https://doi.org/10.1016/j.mefs.2018.04.001.
Murray, S. L., Holmes, J. G., & Griffin, D. W., (1996). The Benefits of Positive Illusions:
Idealization and the Construction of Satisfaction in Close Relationships.
Journal of Personality and Social Psychology, 70 (1), 79-98.
Nelson, L. J. & Barry, C. M. (2005). Distinguishing Features of Emerging Adulthood:
The Role of Self-Classification as an Adult. Journal of Adolescent Research, 20 (20), 242-262.
Papazova, E. & Garvanova, M. (2019). Parenting Styles, Gender-Role Orientations and Romantic Beliefs and Experience in Emerging Adulthood. European Proceedings of Social and Behavioural Sciences EpSBS. 9th ICEEPSY 2018 The International Conference on Education & Educational Psychology. Future Academy, vol. LIII, 188-197, ISSN 2357-1330.
Papp, L. J., Liss, M., Erchull, M. J., Godfrey, H. & Waaland-Kreutzer, L. (2017). The Dark Side of Heterosexual Romance: Endorsement of Romantic Beliefs Relates to Intimate Partner Violence. Sex Roles, 76, 99–109. DOI 10.1007/s11199-016-0668-0
Pomerantz, E. & Coven, D. (2002). Implicit theories of relationships: Implications for relationship satisfaction and longevity. Journal of Personal Relationships, 9, 345–367.
Pradhana, G. D. & Wisnuwardhani, D. (2014). Prediksi Relationship Contingency of Self-Worth dan Romantic Beliefs Terhadap Desakan Menikah pada Dewasa Muda di Jakarta dan Sekitarnya. Jurnal Psikologi Universitas Indonesia.
Prager, K. J. (1995). The Psychology of Intimacy. New York: Guilford Press.
Rohmann, E. Führer, A. & H. W. Bierhoff. (2016). Relationship Satisfaction Across European Cultures: The Role of Love Styles. Cross-Cultural Research, 50 (2).
Diunduh dari: https://doi.org/10.1177/1069397116630950.
Rowland, A. (2006). The Effect of Parental Divorce on Romantic Beliefs and Relationship Characteristics. Austin: University of North Texas.
21
Ruiz-Palomino, E., Ballester-Arnal, R., Gimenez-Garcia, C. & Gil-Llario, M. D. (2021).
Influence of beliefs about romantic love on the justification of abusive behaviors among early adolescents. Journal of Adolescence, 92, 126–136 Sacher, J. A., & Fine, M. A. (1996). Predicting Relationship Status and Satisfaction
After Six Months Among Dating Couples. Journal of Marriage and The Family, 58, 21-32.
Sprecher, S. & Metts, S. (1989). Development of the `Romantic Beliefs Scale’ and Examination of the Effects of Gender and Gender-Role Orientation. Journal of
Social and Personal Relationships, 6 (4), 387-411.
Sprecher, S. & Metts, S. (1999). Romantic Beliefs: Their Influence on Relationships and Patterns of Change Over Time. Journal of Social and Personal Relationships, 16 (6), 834–851.
Shimkoski, J. R., Punyanut-Carter, N., Colwell, M. J. & Norman, M. S. (2017).
Perceptions of Divorce, Closeness, Marital Attitudes, Romantic Beliefs, and Religiosity Among Emergent Adults from Divorced and Non-divorced Families.
Journal of Divorce and Remarriage, 59 (3),1-15.
Stephanou, G. (2012). Romantic Relationships in Emerging Adulthood: Perception Partner Ideal Discrepancies, Attributions, and Expectations. Article in Psychology, 3 (2), 150-160.
Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. O. (2006). Social Psychology 12th Edition. New Jersey: Pearson Education Group.
Ursila, F. M. (2012). Hubungan Antara Kepuasan Hubungan Romantis dan Psychological Well Being Pada Mahasiswa yang Berpacaran. Skripsi (tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Indonesia.
Vannier, S. A. & O’ Sullivan, L. F. (2016). Passion, connection, and destiny: How romantic expectations help predict satisfaction and commitment in young adults’ dating relationships. Journal of Social and Personal Relationships, Vol 34 (2), 235-257. DOI: 10.1177/0265407516631156.
Watkins, N. K. & Beckmeyer, J. J. (2019). Assessing Young Adults’ Beliefs Regarding the Importance of Romantic Relationships. Journal of Family Issues, Vol 41 (2), 158-182. DOI: 10.1177/0192513X19871080.
22
William, B. K., Sawyer, B. C., & Wahlstorm, C. M. (2006). Marriages, Families, &
Intimate Relationships: A Practical Introduction. Boston: Pearson Education.
Zagefka, H. & Bahul, K. (2020). Beliefs That Contribute to Dissatisfaction in Romantic Relationships. The Family Journal: Counseling and Therapy for Couples and Families, Vol 29 (2), 1-8. DOI: 10.1177/1066480720956638.
Zagefka, H., Clarke, Z., Kabeli, G., Lundy, C., Plumtree, A. & Smith, G. (2021). Lay Beliefs about Romantic Relationships: A Mediator of the Effect of Family Dysfunction on Romantic Relationship Satisfaction. Journal of Adult Development. Diunduh dari: https://doi.org/10.1007/s10804-021-09374-4.