• Tidak ada hasil yang ditemukan

KADAR TOTAL FENOLIK EKSTRAK ETANOL 40% KULIT BUAH MANGGIS SEBELUM DAN SESUDAH PROSES PENGERINGAN OVEN 60ºC

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KADAR TOTAL FENOLIK EKSTRAK ETANOL 40% KULIT BUAH MANGGIS SEBELUM DAN SESUDAH PROSES PENGERINGAN OVEN 60ºC"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Repository FMIPA 1 KADAR TOTAL FENOLIK EKSTRAK ETANOL 40% KULIT BUAH MANGGIS SEBELUM DAN SESUDAH PROSES PENGERINGAN OVEN 60ºC

Nikmattul Maula1, Titania Tjandrawati Nugroho2, Hilwan Yuda Teruna2

1Mahasiswa Program S1 Kimia FMIPA-Universitas Riau

2 Jurusan Kimia FMIPA-Universitas Riau

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya, Pekanbaru, 28293, Indonesia

[email protected]

ABSTRACT

The total phenolic content of mangosteen fruit rind 40% ethanol extract before and after drying process was analyzed using the Folin-Ciocalteau method. For the extraction process, powdered mangosteen fruit rind was incubated with 40% ethanol for 8 days at 40ºC in a 100 rpm shaking incubator. The extract was separated from the remaining solids by paper filtration, and the filtrate was evaporated using a vacuum rotary evaporator at 50oC. The partially dried extract obtained after rotary evaporation, was oven dried at 60ºC until constant weight. The results showed that total phenolic content from extract ethanol 40% of mangosteen fruit rind before and after drying process was (13.51±4.96) mg GAE/g extract and (24.88±7) mg GAE/g extract respectively. Student t analysis to compare the average total phenolic content of the two treatments showed that there was no significant difference of total phenolic content before and after the drying process (p≥0.05). From this study, it can be concluded that there is no detectable loss of total phenolic compounds caused by the drying process at maximum temperatures of 60oC.

Keywords : Garcinia mangostana fruit rind,total phenolic content, Folin-Cioclateau method.

ABSTRAK

Kadar total fenolik dari ekstrak etanol 40% kulit buah manggis sebelum dan sesudah pengeringan dianalisis dengan metode Folin-Ciocalteau. Proses ekstraksi dilakukan dengan menginkubasi bubuk kulit manggis dengan pelarut etanol 40% selama 8 hari pada suhu 40ºC dengan kecepatan 100 rpm dalam inkubator berpengocok. Setelah inkubasi ekstrak etanol dipisahkan dari sisa padatan dengan filtrasi menggunakan kertas saring. Filtrat kemudian dievaporasi menggunakan vacuum rotary evaporator pada suhu 50ºC. Ekstrak yang masih sebagian kering dilanjutkan pengeringannya dengan oven pada suhu 60ºC, hingga beratnya konstan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar total fenolik dari ekstrak etanol 40% kulit buah manggis sebelum dan sesudah pengeringan secara berturut adalah (13,51±4,96) mg AGE/g ekstrak dan (24,88±7) mg AGE/g ekstrak. Uji student t untuk membandingkan nilai rata-rata kedua perlakuan menunjukkan tidak ada perbedaan nyata (p≥0,05) antara rerata kandungan fenolik total sebelum dan sesudah pengeringan ekstrak. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa

(2)

Repository FMIPA 2 proses pengeringan pada suhu maksimum 60oC tidak menyebabkan kehilangan kandungan senyawa fenolik total yang dapat terdeteksi..

Kata kunci : Kulit buah manggis, kadarfenolik total, metode Folin-Ciocalteau.

PENDAHULUAN

Manggis (Garcinia mangostana Linn) adalah tumbuhan tropis dalam family Guttiferae. Kulit buah manggis mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik dan senyawa turunannya yaitu flavonoid. Golongan fenolik, flavonoid, beta-karoten, katekin, vitamin C dan E merupakan senyawa kimia yang tergolong dalam kelompok antioksidan (Hernani & Rahardjo, 2005).

Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat oksigen reaktif dan radikal bebas, sehingga mampu mencegah kerusakan pada sel normal, protein, lemak dan mencegah penyakit degeneratif. Antioksidan memiliki struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang kehilangan satu elektron sehingga menjadi tidak stabil dan distabilkan oleh antioksidan tersebut tanpa mengganggu fungsi dari antioksidan. Penentuan kadar total fenolik dapat mengetahui potensi aktivitas antioksidan dari suatu tanaman. Oleh karena itu, tahapan penentuan kadar senyawa-senyawa dalam tumbuhan yang memiliki aktivitas antioksidan perlu dikaji untuk meningkatkan kandungan senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan tersebut (Halliwell & Gutteridge, 2000).

Pada umumnya senyawa fenolik dapat diperoleh dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut sehingga memisahkan senyawa dari matriks selularnya. Pelarut etanol merupakan pelarut organik yang baik dalam mengekstraksi komponen senyawa

bioaktif yang memiliki aktivitas antioksidan. Pothitirat, et al. (2010), melakukan ekstraksi kulit buah manggis menggunakan etanol 50% hingga 95%.

Dalam penelitian ini digunakan pelarut etanol 40%, karena belum diteliti kemampuan antioksidan pada pelarut etanol yang konsentrasinya lebih kecil, sehingga kepolaran ekstrak lebih tinggi.

Penentuan kadar total fenolik dari suatu senyawa dalam tanaman dipengaruhi oleh proses pengeringan ekstrak. Bila masih terdapat sejumlah pelarut dalam ekstrak maka, penentuan kadar total fenoliknya tidak optimal.

Proses pengeringan merupakan metode yang dapat menguapkan pelarut pada ekstrak, salah satunya dengan menggunakan oven pada suhu yang sesuai. Di lain pihak pengeringan pada suhu yang terlalu tinggi, dan waktu yang terlalu lama, dapat menyebabkan menguapnya senyawa fenolik volatil, sehingga mengurangi kadar ekstrak.

Pengeringan ekstrak menggunakan oven dengan suhu yang sesuai dapat menjaga komposisi dari senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan sehingga, kandungan senyawanya tidak mudah rusak (Sharp et al., 1989). Pengukuran kadar total fenolik dapat dilakukan dengan metode Folin-Ciocalteau.

Perhitungan kadar total fenolik menggunakan rumus berikut (Mongkolsilp et al., 2004) :

TPC = Ket. :

TPC = Total phenolic compound C = Konsetrasi fenolik (nilai x) V = Volume ekstrak (mL)

(3)

Repository FMIPA 3 fp = Faktor pengenceran

g = Berat sampel yang digunakan (g)

METODE PENELITIAN a. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan adalah shaking incubator Daihan Lab Tech LSI-3016R, spektrofotometer UV/Vis Thermo Scientific Genesys 10S UV-Vis, vortex mixer H-VM-300, vacuumrotary evaporator, blender (National) kertas saring GF/C Whatman (Whatman No. Katalog 1882055), ayakan 100 mesh dan peralatan standar laboratorium umum yang digunakan sesuai cara kerja.

Bahan yang digunakan adalah kulit buah manggis (Garcinia mangoostana Linn) yang didapat secara acak dikawasan kota Pekanbaru, reagen Folin-Ciocalteu (Merck,Cat.No.1.0054 6.0100), etanol (Merck, Cat.No.1.0098 3.1000), asam galat (Sigma-Aldrich, St.

Louis, gallic acid Cat.No.G7384- 100G), dan bahan kimia lain yang digunakan sesuai cara kerja.

b. Persiapan Sampel

Kulit manggis dipotong kecil- kecil dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50°C selama 72 jam lalu dihaluskan hingga menjadi bubuk.

Bubuk yang diperoleh diayak menggunakan ayakan 100 mesh. Bubuk sampel disimpan dalam ruangan yang kedap udara dan terlindung dari cahaya sampai digunakan.

c. Ekstraksi Senyawa Fenolik dari Kulit Buah Manggis

Sebanyak 2,5 gram bubuk kulit buah manggis dimasukkan ke dalam 25

mL pelarut etanol 40%. Kemudian, campuran diinkubasi selama 8 hari pada suhu 400C menggunakan shaking incubator dengan kecepatan 100 rpm.

Setelah 8 hari, campuran disaring dengan kertas saring dan supernatan dikumpul. Supernatan dievaporasi menggunakan vacuum rotary evaporator pada 500C hingga didapat ekstrak kulit manggis. Sebagian ekstrak yang didapat disimpan pada ruang yang kedap udara dan terlindung dari cahaya dan sebagian lain dilanjutkan pengeringannya dalam oven 600C dan ditimbang setiap 30 menit hingga konstan. Semua perlakuan diulang 3 kali.

d. Analisis Kadar Total Fenolik Total fenolik diukur dengan metode Folin-Ciocalteu dari Mustafa et al., (2010). Sebanyak 0,9 mL aquades dan 0,5 mL reagen Folin-Ciocalteu 1 N ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi masing-masing 0,1 mL ekstrak sebelum dan sesudah pengeringan. Ekstrak sebelumnya dilarutkan dengan menggunakan pelarut etanol 40%. Campuran divortex dan ditempatkan di tempat gelap pada suhu ruang selama 5 menit. Setelah itu, sebanyak 2,5 mL Na2CO3 7%

ditambahkan ke dalam campuran dan divortex. Campuran diinkubasi terlebih dahulu selama 20 menit di tempat gelap pada suhu ruang sebelum absorbansi diukur pada panjang gelombang 755 nm. Standar yang digunakan adalah asam galat (50, 100, 150, 200, 250, 300, 350, dan 400 ppm).

e. Analisis Data

Data dianalisis secara statistik dan rerata dua perlakuan diuji signifikansi menggunakan uji student t.

(4)

Repository FMIPA 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini digunakan variasi perlakuan untuk menentukan kadar total fenolik pada ekstrak etanol 40% kulit buah manggis. Pengaruh proses pengeringan pada ekstrak dapat mempengaruhi hasil ekstrak karena dapat mempengaruhi mutu ekstrak tumbuhan yang diekstraksi (Rivai et al., 2013). Hasil ekstrak kulit buah manggis ditunjukkan pada (Tabel 1).

Tabel 1: Berat kering ekstrak kulit manggis

Perlakuan Berat ekstrak (g)

Rerata berat ekstrak (g) 0,239

RN1 0,401 0,357±0,103

0,432 0,230

RN2 0,363 0,338±0,097

0,421

Ket: RN1= Ekstrak etanol 40% sebelum hhhhhhhii pengeringan oven 60oC

RN2= Ekstrak etanol 40% sesudah ggggg jjipengeringan oven 60oC

Pada (Tabel 1) menunjukkan terjadi penyusutan berat ekstrak setelah dilakukan proses pengeringan. Hal ini menjelaskan bahwa terdapat senyawa yang menguap saat dilakukannya proses pengeringan menggunakan oven.

Senyawa yang menguap ini, dapat berasal dari pelarut (air dan etanol) yang digunakan atau senyawa lain yang cepat menguap yang terdapat pada ekstrak (Sharp et al., 1989). Bila masih terdapat pelarut/air yang tinggi pada ekstrak dapat menyebabkan penurunan mutu ekstrak karena menjadi media tumbuh bagi mikroba. Pengeringan ini dapat meningkatkan mutu ekstrak, selain itu penentuan kandungan total fenoliknya dapat optimal sehingga, kemampuan

aktivitas antioksidanpun semakin meningkat.

Analisis kadar total fenolik menggunakan standar asam galat yang dibuat dengan variasi konsentrasi dan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil uji penentuan kadar total fenolik pada ekstrak etanol 40% kulit buah manggis pada penelitian ini ditunjukkan pada (Tabel 2) dan (Gambar 1).

Tabel 2: Kadar total fenolik ekstrak etanol 40% kulit buah manggis

Perlakuan Total fenolik (mg AGE/g

ekstrak

Rerata Total fenolik (mg AGE/g

ekstrak 19,183

RN1 11,365 13,509±4,962

9,980 32,726

RN2 22,623 24,880±6,996

19,291

Ket: RN1= Ekstrak etanol 40% sebelum hhhhhhhii pengeringan oven 60oC

RN2= Ekstrak etanol 40% sesudah ggggg jjipengeringan oven 60oC

Gambar 1.Diagram Kadar Total Fenolik Ekstrak Kulit Buah Manggis Analisis statistik uji student t menunjukkan bahwa kadar total fenolik ekstrak etanol 40% tidak mengalami

0 5 10 15 20 25 30 35

1 2 3

19,1826

11,3647 9,9800 32,7264

22,6229

19,2908

Kadar total fenolik (mg AGE/g ekstrak)

Replika

RN1 (sebelum pengeringan) RN2 (sesudah pengeringan)

(5)

Repository FMIPA 5 perubahan nyata (p≥0,05) setelah

dilakukan proses pengeringan dengan oven dengan suhu 60oC pada setiap pengulangan. Penggunaan suhu 60oC dipilih karena sampel merupakan bahan organik yang kandungan senyawanya mudah rusak, sehingga untuk meminimalisir hal tersebut digunakan suhu 60oC. Analisis statistik menggunakan uji t menunjukkan bahwa dengan proses pengeringan menggunakan oven pada suhu maksimum 60oC tidak akan menyebabkan kehilangan senyawa total fenolik secara berarti.

Reagen Folin Ciocalteau digunakan sebagai pereaksi pada penentuan kadar total fenolik karena senyawa fenolik dapat bereaksi dengan Folin membentuk larutan berwarna yang dapat diukur absorbansinya.

Prinsip dari metode Folin Ciocalteau adalah terbentuknya senyawa kompleks berwarna biru yang dapat diukur pada panjang gelombang 765 nm. Pereaksi ini mengoksidasi fenolat (garam alkali) atau gugus fenolik-hidroksi mereduksi asamheteropoli \(fosfomolibdat- fosfotungstat) yang terdapat dalam pereaksi Folin Ciocalteau menjadi suatu kompleks molibdenum-tungsten (Alfian& Susanti, 2012).

Senyawa fenolik bereaksi dengan reagen Folin Ciocalteau hanya dalam suasana basa agar terjadi disosiasi proton pada senyawa fenolik menjadi ion fenolat. Untuk membuat kondisi basa digunakan Na2CO3 7%.

Peningkatan kadar total fenolik pada ekstrak sesudah pengeringan terjadi karena banyaknya gugus hidroksil pada senyawa fenolik yangbereaksi dengan reagen Folin Ciocalteau sehingga, semakin banyak membentuk kompleks molibdenumtungsten berwarna biru.

Semakin banyak kompleks

molibdenumtungsten yang terbentuk maka konsentrasi senyawa fenolik meningkat karena semakin banyak ion fenolat yang akan mereduksi asam heteropoli (fosfomolibdat-fosfotungstat) menjadi kompleks molibdenum- tungsten sehingga warna biru yang dihasilkan semakin intensif (Alfian &Susanti, 2012).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kadar total fenolik dari ekstrak etanol 40% kulit buah manggis sebelum dan sesudah pengeringan 60oC secara berturut adalah (13,51±4,96) mg AGE/g ekstrak dan (24,88±7) mg AGE/g ekstrak. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses pengeringan pada suhu maksimum 60oC tidak menyebabkan kehilangan kandungan senyawa fenolik total yang dapat terdeteksi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini didanai Direktorat Penelitian & Pengabdian Masyarakat Kementrian Riset, Teknologi &

Pendidikan Tinggi, melalui Dana Desentralisasi DIPA Universitas Riau a.n Prof. Dr. Titania T. Nugroho, M.Si dengan nomor kontrak 615/UN.195.1.3/

LT/2015, DIPA Universitas Riau No.

DIPA-023.04.1.673453/2015.

DAFTAR PUSTAKA

Alfian, R., and Susanti, H. 2012.

Determination of Total Phenolic Content of Methanolic Extracts Red Rosell (Hibiscus Sabdariffa Linn) Calyxs in Variation of

Growing Area by

Spectrophotometry. Jurnal

(6)

Repository FMIPA 6 Ilmiah Kefarmasian. 2(1):

73–80.

Halliwell, B and Gutteridge, J.M.C.

2000. Free Radical in Biology and Medicine. Oxford University Press. New York.

Hernani and Rahardjo M. 2005.

Tanaman Berkhasiat

Antioksidan. Penebar Swadaya.

Jakarta.

Mongkolsilp, S., Pongbupakit, I., Sae- lee, N., Sitthithaworn, W. 2004.

Radical Scavenging activity and total phenolic content of medical plants used in primary health care. Jurnal ofPharmacy and Science. 9(1):32-35.

Mustafa, R.A., Hamid, A.A., Mohamed, S. and Abu Bakar, F. 2010.

Total Phenolic Compounds, Flavonoids, and Radical Scavenging Activity of 21 Selected Tropical Plants.

Journal of Food Science.75 (1):

C28-C35.

Pothitirat, W., Chomnawang, M. T., Supabphol, R. 2010.Free Radical Scavenging and Anti- acne Activities of Mangosteen Fruit Rind Extracts Prepared by Different Extraction Methods.

Pharmaceutical Biology. 48(2):

182-186.

Rivai, H., Widiya E.S., and Rusdi.

2013. Pengaruh Perbandingan Pelarut Etanol-Air terhadap Kadar Senyawa Fenolat Total dan Daya Antioksidan Dari Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.). Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi. 18(1):

35-42.

Sharp J. T., Goesney, I., Bowley, A.G., 1989. Practical Organic Chemistry: A Student Handbook of Techniques. Chapmann and Hall, London. Journal Planta Medica.45: 31-34.

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa kondisi yang permasalahan keuangan yang ditemui di UMKM, menarik dilakukan penelitian lebih lanjut agar hasilnya dapat memberikan kontribusi dalam membantu

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi yang nyata antara macam varietas dan dosis aplikasi pupuk urin terhadap tinggi tanaman

Penelitian ini difokuskan untuk mempelajari pengaruh pemberian bioaditif (campuran ekstrak tepung cacing tanah Lumbricus rubellus , ekstrak daun mengkudu Morinda citrifolia,

Berdasarkan pelaksanaan dan Hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan ini, dapat disimpulkan langkah-langkah pembelajaran PKn dengan menggunakan model cooperative

Hasil perhitungan uji normalitas terhadap data hasil belajar geografi siswa dengan menggunakan media fotografi dan media konvensional berdasarkan perhitungan spss

Teori yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan atau pembuatan hipotesis, mendukung hasil penelitian ini, dimana gaya kepemimpinan transformasional, kompensasi,

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

Tanpa teori revolusioner, kesadaran revolusioner yang secara potensial ada dalam diri proletariat sebagai kelas yang tertindas tidak akan menjadi kekuatan yang dapat