• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PROFESSIONAL SKILL DAN PENGALAMAN AUDITOR INTERNAL TERHADAP EFEKTIVITAS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERNAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PROFESSIONAL SKILL DAN PENGALAMAN AUDITOR INTERNAL TERHADAP EFEKTIVITAS STRUKTUR PENGENDALIAN INTERNAL"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PROFESSIONAL SKILL DAN PENGALAMAN AUDITOR INTERNAL TERHADAP EFEKTIVITAS STRUKTUR PENGENDALIAN

INTERNAL

(Studi Kasus pada Hotel Berbintang di Surakarta) Dian Karlena

Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana [email protected]

PENDAHULUAN

Menurut Surat Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No.

SK. 241/H/70 Tahun 1970, hotel adalah perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan (akomodasi) serta menyajikan hidangan dan fasilitas lainnya dalam hotel untuk umum, yang memenuhi syarat-syarat comfort dan bertujuan komersial. Setiap hotel memiliki struktur pengendalian internal yang ditetapkan pihak perusahaan. Menurut Standar Profesi Akuntansi Publik pada SA 319 paragraf 06 yang dikutip oleh Halim (2001), struktur pengendalian internal adalah kebijakan dan prosedur yang diterapkan untuk memberikan keyakinan (assurance) yang memadai bahwa tujuan tertentu satuan usaha akan dicapai (Desyanti dan Ratnadi 2008).

Struktur pengendalian internal sangat penting bagi kelangsungan hidup perusahaan. Keberhasilan perusahaan dapat dilihat dari seberapa efektif struktur pengendalian internal diterapkan. Efektivitas struktur pengendalian internal adalah penerapan yang memadai dari suatu kebijakan dan prosedur yang ditetapkan terkait dengan: a) Keefektifan dan efisiensi operasional perusahaan, b) Pelaporan keuangan yang handal dan c) Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang ditetapkan (Saputri 2012). Struktur pengendalian internal diukur dengan adanya komponen penerapan lingkungan pengendalian, penafsiran risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan (Maharani dan Ramantha 2014). Salah satu faktor yang berpengaruh dalam lingkungan pengendalian adalah komitmen terhadap kompetensi (Elder et al., 2009). Dalam melakukan tugasnya, audit internal dituntut untuk memiliki kompetensi berupa keahlian dan pengalaman (KESA 2008).

(2)

Suatu unit organisasi memiliki manajer sebagai pusat pertanggungjawaban sehingga memudahkan dalam pencapaian tujuan organisaasi. Aktivitas hotel yang kompleks menyebabkan pimpinan hotel membutuhkan pengawas yang independen yaitu auditor internal. Meskipun manajer juga melakukan pengawasan terhadap operasional perusahaan, akan tetapi auditor internal mempunyai tanggung jawab dalam melaksanakan tugas pemeriksaan internal dimana auditor internal akan menilai apakah semua kebijakan yang telah ditetapkan terlaksana dengan tepat (Dianawati dan Ramantha 2013). Dengan demikian tugas auditor sebagai pengawas internal yang mendalam, menilai dan memberikan rekomendasi atas temuan. Dalam menjalankan fungsinya sebagai auditor internal seperti mengidentifikasi masalah dan mengetahui gejala kecurangan dalam perusahaan, sangat diperlukan untuk diimbangi dengan pengalaman dan professional skill auditor internal (Chairunisa 2013). Menurut Suantara et al., (2014) professional skill adalah tingkat kemahiran profesional auditor internal dalam melakukan pemeriksaan yang dilaksanakan dengan keterampilan dan kecermatan profesionalnya terhadap penerapan struktur pengendalian. Begitu juga dengan pengalaman menurut Widyasari (2010) yang dikutip oleh Iskandar dan Indarto (2015) yaitu banyaknya auditor melakukan tugas pemeriksaan yang dilakukan.

Penelitian yang dilakukan oleh Desyanti dan Ratnadi (2008) menunjukkan keahlian profesional dan pengalaman kerja pengawas intern terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern berpengaruh secara signifikan pada BPR di Kabupaten Badung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dianawati dan Ramantha (2013) yang menjelaskan hasil penelitian adanya pengaruh positif variabel keahlian profesional dan pengalaman kerja Auditor (badan pengawas) Intern terhadap Efektivitas Struktur Pengendalian Intern pada BPR di Kabupaten Gianyar. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Herawaty (2013) yang menyatakan hasil penelitiannya, bahwa secara simultan dan parsial, variabel keahlian profesional dan pengalaman auditor tidak memiliki pengaruh terhadap efektivitas struktur pengendalian intern pada hotel kelas melati di Jambi. Delaila dan Suzan (2015) menyatakan pengalaman kerja auditor internal tidak berpengaruh signifikan terhadap pengendalian internal studi kasus BUMN yang

(3)

berkantor pusat di wilayah Bandung. Hasil penelitian terdahulu tidak konsisten.

Penelitian terdahulu lebih berfokus pada BPR dimana BPR memiliki standar dan aturan yang jelas, kebijakan dan prosedur sesuai Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/2/PBI/2011 tanggal 12 Januari 2011 tentang Pelaksanaan Fungsi Kepatuhan Bank Umun.

Hal ini sangat berbeda dengan hotel yang tidak memiliki standar secara umum yang mengatur penetapan struktur pengendalian internal sedangkan audit internal hotel harus menilai prosedur dan kebijakan yang ditetapkan. Jika dilihat dari pengalaman serta keahlian setiap auditor internal yang mungkin berbeda, maka hal ini bisa menimbulkan penilaian yang berbeda terhadap efektivitas struktur pengendalian internal. Oleh karena itu harus ada konsistensi antara struktur pengendalian internal dengan auditor internal sehingga dalam menilai efektivitas struktur pengendalian internal dilakukan secara tepat dan tidak bias.

Hotel berbintang cenderung memiliki auditor internal Herawaty (2013). Dari perbedaan pengalaman dan professional skill, seorang auditor internal memiliki fungsi menilai dan mengevaluasi seberapa efektif struktur pengendalian internal yang dibuat. Apakah sudah sesuai dengan tujuan perusahaan ataukah belum sesuai dengan tujuan perusahaan. Apabila terjadi penyimpangan, maka auditor internal harus segera melakukan koreksi atas kebijakan dan prosedur yang ditetapkan.

Apabila struktur pengendalian internal dinilai kurang efektif, maka yang menjadi pertanyaan apakah auditor internal yang kurang mampu memberikan penilaian ataukah memang ada penyimpangan terhadap struktur pengendalian internal sehingga perlu adanya perbaikan. Oleh karena itu ada keterkaitan antara professional skill dan pengalaman auditor internal dengan efektivitas struktur pengendalian internal di hotel.

Objek penelitian ini adalah hotel berbintang di Surakarta dengan menggunakan pendekatan professional skill dan pengalaman auditor internal untuk melihat dan membuktikan bagaimana pengaruh professional skill dan pengalaman kerja auditor internal terhadap efektivitas struktur pengendalian internalnya. Tidak adanya standar umum yang mengatur perhotelan dan perbedaan latar belakang dari auditor internal yaitu professional skill dan

(4)

pengalaman yang dimiliki maka penelitian ini perlu dilakukan. Hasil penelitian ini memberikan manfaat bagi auditor internal untuk meningkatkan kesadaran auditor internal bahwa professional skill dan pengalaman auditor internal memberikan pengaruh yang tinggi terhadap efektivitas struktur pengendalian internal demi kelangsungan operasi perusahaan. Bagi kalangan akademisi, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi tambahan tentang faktor - faktor penentu penilaian efektivitas struktur pengendalian internal.

KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Efektivitas Struktur Pengendalian Internal

Menurut Maharani dan Ramantha (2014), efektivitas adalah ukuran untuk mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan atau aktivitas organisasi dalam pencapaian tujuan. Berdasarkan Standar Profesi Akuntansi Publik pada SA 319 paragraf 06 yang dikutip oleh Abdul Halim (2001: 189), struktur pengendalian internal adalah kebijakan dan prosedur yang diterapkan untuk memberikan keyakinan (assurance) yang memadai bahwa tujuan tertentu satuan usaha akan dicapai (Desyanti dan Ratnadi 2008). Struktur pengendalian internal dikatakan efektif bila tujuan dalam tiga golongan terpenuhi, yaitu: a) Keefektifan dan efisiensi operasional perusahaan, b) Pelaporan keuangan yang handal dan c) Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang ditetapkan (Maharani dan Ramantha 2014). Keberhasilan perusahaan dapat dilihat dari seberapa efektif struktur pengendalian internal diterapkan. Efektivitas struktur pengendalian internal adalah penerapan yang memadai dari suatu kebijakan dan prosedur yang ditetapkan terkait dengan a) Keefektifan dan efisiensi operasional perusahaan, b) Pelaporan keuangan yang handal dan c) Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang ditetapkan (Saputri 2012). Struktur pengendalian internal diukur dengan adanya komponen penerapan lingkungan pengendalian, penafsiran risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan dimana salah satu faktor yang berpengaruh dalam lingkungan pengendalian adalah komitmen terhadap kompetensi (Elder et al., 2009). Dalam melakukan tugasnya auditor

(5)

internal dituntut untuk memiliki kompetensi berupa pengetahuan dan pengalaman (KESA 2008). Auditor internal harus memiliki keahlian seperti pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti, dan menguji adanya indikasi kecurangan (SPAI 2004). Dalam menjalankan fungsinya sebagai auditor internal seperti mengidentifikasi masalah dan mengetahui gejala kecurangan dalam perusahaan, sangat diperlukan untuk diimbangi dengan professional skill dan pengalaman auditor internal (Chairunisa 2013).

Professional Skill

Suantara et al., (2014) professional skill adalah tingkat kemahiran profesional auditor internal dalam melakukan pemeriksaan yang dilaksanakan dengan keterampilan dan kecermatan profesionalnya terhadap penerapan struktur pengendalian. Auditor internal harus memiliki keahlian seperti pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti, dan menguji adanya indikasi kecurangan (SPAI 2004). Keahlian auditor dibutuhkan dalam mengindentifikasi masalah. Semakin auditor internal memiliki keahlian yang tinggi, maka dalam menguji risiko dan menilai efektivitas semakin tidak bias. Simanjuntak (1983) dalam Herawaty (2013) menyatakan bahwa dalam menilai kemampuan seseorang perlu juga melihat latar belakang pendidikan. Pendidikan membentuk dan menambah pengetahuan seseorang untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik dan tepat. Latihan membentuk dan meningkatkan keterampilan kerja. Semakin tinggi tingkat pendidikan serta latihan seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan kerjanya (Herawati 2013).

Pengalaman

Pengalaman menurut Widyasari (2010) yang dikutip oleh Iskandar dan Indarto (2015) yaitu banyaknya auditor melakukan tugas pemeriksaan yang dilakukan. Semakin auditor internal berpengalaman semakin berkompeten dalam menilai dan mendeteksi risiko yang terkait. Lingkup penugasan audit internal adalah menguji dan mengevaluasi efektivitas kebijakan dan prosedur yang ditetapkan terkait seluruh aspek operasi perusahaan. Semakin berpengalaman

(6)

dalam mengerjakan hal yang sama, maka semkain terbiasa dengan masalah dan bagaimana menyelesaikan masalah. Auditor internal perlu mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi dan menilai masalah. Banyaknya tugas audit menjadi salah satu sarana pelatihan dan pengalaman dalam memeriksa.

Professional Skill dan Efektivitas Struktur Pengendalian Internal

Auditor internal harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawab perorangan dan auditor internal juga harus meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensinya melalui pengembangan profesional yang berkelanjutan (Herawaty 2013). Seorang auditor internal harus memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Dengan adanya keahlian yang profesional, diharapkan seorang auditor internal lebih mampu dalam menilai dan mengevaluasi efektivitas struktur pengendalian internal dengan lebih baik. Professional Skill memungkinkan auditor untuk dapat mengumpulkan bukti yang akan memberinya dasar yang layak untuk membentuk suatu rekomendasi (Kasdiarto 2015). Auditor internal dalam melaksanakan tugas haruslah mempunyai kemampuan untuk memahami kriteria yang digunakan serta mampu menentukan jumlah bahan bukti yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan yang dibuat serta rekomendasi yang akan diambilnya. Dalam menjalankan tugasnya, diharapkan telah sesuai dengan standar yang dibuat setiap perusahaan. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) SA seksi 150, standar umum pertama mengatakan “Audit harus dilaksanakan oleh seseorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor” (Herawaty 2013). Berdasarkan uraian tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H1: Professional Skill berpengaruh positif terhadap Efektivitas Struktur Pengendalian Internal

(7)

Pengalaman dan Efektivitas Struktur Pengendalian Internal

Pengalaman auditor internal didapat dari pekerjaan yang dilakukan sebelumnya dalam melakukan fungsinya sebagai pengawas internal. Dalam penugasan audit, auditor internal memerlukan pengalaman yang sesuai dengan yang sedang dijalani. Menurut Suantara et al., (2014) selain pendidikan dan pengetahuan, fungsi pemeriksaan internal juga dituntut berpengalaman.

Pengalaman yang berbeda akan memberikan dampak berbeda saat menilai risiko dan efektivitas setiap kebijakan dan prosedur yang ditetapkan. Menilai efektivitas struktur pengendalian internal akan lebih baik jika auditor internal memiliki pengalaman yang sama di bidangnya. Apabila auditor memiliki pengalaman yang sama dalam melakukan tugasnya, auditor internal akan terlatih untuk lebih memahami dalam menilai baik risiko maupun efektivitas struktur pengendalian internal demi kelangsungan operasi perusahaan. Selain itu, pengalaman menghasilkan banyak simpanan informasi dalam memori jangka panjang auditor dimana apabila auditor menghadapi tugas yang sama selain mereka dapat dengan mudah mengakses informasi yang tersimpan dalam memori, mereka juga dapat mengakses lebih banyak informasi (Desyanti dan Ratandi 2008). Ketika informasi yang tersimpan dalam memori semakin banyak, maka dalam menghadapi pemeriksaan sampai memberikan penilaian akan semakin lebih andal. Variabel pengalaman akan diukur dengan menggunakan indikator lamanya bekerja dan frekuensi pekerjaan pemeriksaan yang telah dilakukan Elisha dan Icuk (2010) dalam Dianawati dan Ramantha (2013). Apabila kedua hal tersebut dimiliki auditor internal, maka akan mempermudah dalam memberian penilaian maupun evaluasi terhadap struktur pengendalian internal perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H2: Pengalaman auditor internal berpengaruh positif terhadap efektivitas struktur pengendalian internal

(8)

METODA PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah auditor internal pada hotel berbintang di kota Surakarta, dimana untuk populasi belum diketahui. Ada kriteria yang harus dimiliki hotel dalam proses pengambilan sampel yaitu auditor internal pada hotel yang memiliki a) Sistem pencatatan akuntansi (b) Satuan pengawas intern dalam perusahaan.

Data dan Sumber Data a. Data Primer

Data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau pihak pertama (Ikhsan 2008). Data primer penelitian ini adalah Data Subyek yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner terhadap para auditor internal hotel berbintang di Surakarta.

Teknik Pengambilan Data

Untuk mendapatkan data-data yang valid sesuai dengan rencana penelitian ini bahwa kriteria dalam penarikan sampel adalah memiliki (a) sistem pencatatan akuntansi dan (b) memiliki satuan pengawas intern dalam perusahaan. Untuk memastikan, maka sebelumnya menghubungi hotel lewat telepon, setelah mendapat kepastian mengenai informasi kriteria sampel, kemudian disebarkan kuesioner.

Kuesioner

Penyebaran kuesioner kepada internal audit di hotel berbintang dilakukan dengan desain kuesioner skala lima. Dalam skala ini disediakan dalam lima kategori jawaban yang dapat dirumuskan dengan pernyataan yang favorable dan pernyataan yang unfavorable. Kuesioner disebar pada setiap hotel yang memiliki internal audit sebanyak lima kuesioner. Hal ini dikarenakan

(9)

terbatasnya informasi awal mengenai jumlah anggota staf auditor internal.

Kuesioner yang disebar akan diisi oleh para internal audit dan dikembalikan kepada peneliti. Kuesioner yang sudah terkumpul dengan jumlah yang memadai akan diolah untuk menjawab hipotesis dan penarikan kesimpulan.

Teknik analisis

Teknik analisis data yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan analisis statistik deskriptif dari hasil kuesioner. Setelah dilakukan analisis statistik deskriptif, dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Apabila item – item kuesioner sudah valid dan reliabel dilakukan uji asumsi klasik diantaranya :

 Uji normalitas untuk melihat residual model regresi dalam penelitian berdistribusi normal.

Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji statistik Kolmogorov- Smirnov Test. Peneliti menggunakan taraf signifikansi 5%, maka variabel penelitian dikatakan berdistribusi normal jika nilai analisis Kolmogorov- Smirnov memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05.

 Uji heteroskedastisitas untuk melihat ada atau tidaknya masalah heteroskedastisitas dalam model regresi. Uji yang dipakai adalah uji Glejser.

 Uji multikolinieritas yang dilakukan dengan menggunakan nilai VIF untuk melihat variabel-variabel yang digunakan tidak mengandung masalah multikolinieritas.

Setelah dilakukan uji asumsi klasik, selanjutnya dilakukan uji hipotesis dengan regresi linear berganda untuk membuktikan secara empiris pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

Definisi Operasional, Pengukuran Variabel dan Indikator Empirik

Variabel – variabel dalam penelitian ini berdasarkan teori – teori dan definisi pada penelitian terdahulu yang dioperasionalisasikan. Seluruh variabel diukur dengan skala Likert dengan rentang satu sampai lima.

(10)

Tabel 1

Definisi Operasional Variabel dan Indikator Empirik

Variabel Definisi Operasional Indikator Empirik Pertanyaan

Efektivitas Struktur Pengendalian

Internal

Efektivitas struktur pengendalian internal adalah penerapan yang memadai dari suatu kebijakan dan prosedur yang ditetapkan terkait dengan a) Keefektifan dan efisiensi operasional perusahaan, b) Pelaporan keuangan yang handal dan c) Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang ditetapkan (Saputri 2012)

 Lingkungan

pengendalian yang mendukung

 Pengendalian terhadap risiko secara tepat

 Pelaporan keuangan yang handal

Kepatuhan terhadap prosedur dan

1. Manajemen menggunakan perencanaan sebagai alat manajemen sehingga perusahaan siap menghadapi perubahan – perubahan yang harus terjadi 2. Job Description menjelaskan wewenang dan tanggung jawab seluruh

karyawan secara jelas

3. Terdapat pembagian wewenang dan tanggungjawab yang jelas dan dapat diimplementasikan secara nyata

4. Dapat mengidentifikasi risiko yang dihadapi dan dinyatakan secara eksplisit 5. Terdapat mekanisme dan prosedur jelas untuk mengatasi risiko

6. Auditor internal memonitori sistem informasi akuntansi yang ada dalam perusahaan

7. Setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan dikelompokkan dalam rekening – rekening riil dan nominal

8. Semua aktiva yang dimiliki perusahaandinilai menggunakan metode akuntansi secara konsisten

9. Setiap tahun perusahaan membuat laporan keuangan sesuai standar pelaporan keuangan secara khusus dilakukan oleh bagian akuntansi

10. Operasional perusahaan berjalan sesuai SOP (standar operating procedure)

(11)

Variabel Definisi Operasional Indikator Empirik Pertanyaan

peraturan yang ditetapkan

11. Dalam melakukan evaluasi terhadap operasional perusahaan, auditor bekerja sesuai kebijakan dan etika yang sudah ditetapkan

Proffesional Skill Tingkat kemahiran auditor internal dalam melakukan pemeriksaan (Suantara et al., 2014)

 Keterampilan teknis

 Kemandirian

 Pengetahuan yang memadai

 Hubungan dengan rekan

12. Auditor internal dapat mengoperasikan sistem aplikasi auditnya

13. Kesalahan audit dalam mengoperasikan sistem aplikasi auditnya sangat rendah

14. Auditor internal mampu berinisiatif dalam melakukan pekerjaan sebagai auditor

15. Dalam bekerja, auditor internal tidak bergantung pada rekan auditor 16. Auditor internal memahami sistem pengendalian internal perusahaan 17. Tidak terdapat masalah dalam koordinasi dengan rekan

18. Memiliki kepekaan yang baik dengan lingkungan kerja terutama saat dibutuhkan

19. Tidak ada kesulitan berkomunikasi dengan rekan kerja

20. Tidak meragukan kemampuan yang dimiliki rekan kerja sehingga dapat saling mengandalkan

Pengalaman Banyaknya auditor melakukan tugas pemeriksaan yang dilakukan Iskandar dan Indarto (2015)

 Frekuensi pekerjaan pemeriksaan

21. Auditor internal sering melakukan audit terhadap struktur pengendalian internal perusahaan sesuai penugasan dan prosedur audit

22. Dalam mengisi kertas kerja dilakukan secara lancar tanpa kesulitan

23. Dalam satu tahun, auditor internal melaksanakan penugasan audit lebih dari tiga kali

24. Auditor internal tidak pernah mendapat masalah dengan beberapa divisi

(12)

Variabel Definisi Operasional Indikator Empirik Pertanyaan

 Lamanya bekerja

perusahaan pada saat melakukan pemeriksaan operasional perusahaan 25. Auditor internal tidak pernah melakukan kesalahan dalam penarikan

kesimpulan

26. Auditor internal sudah bekerja sebagai auditor internal lebih dari lima tahun 27. Semakin terbiasa dengan alur kerja yang secara waktu, auditor internal dapat

lebih cepat menyelesaikan laporan audit

(13)

HASIL PENELITIAN Statistik Deskriptif

Responden dalam penelitian ini berjumlah 43 responden yang diperoleh dari penyebaran kuesioner terhadap auditor internal di hotel Grand Hap, Sahid Jaya, Amarelo, Indah Palace dan Agas Internasional. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan November 2016 sampai Februari 2017

Tabel 2

Data Hotel dan Auditor Internal

Jumlah

A. Hotel Berbintang

Memiliki sistem pencatatan akuntansi 42

Memiliki SPI termasuk di pusat 11

Memiliki SPI di Surakarta 5

B. Auditor Internal (SPI)

Kuesioner yang diberikan 50

Kuesioner kembali 45

Kuesioner tidak diisi 5

Kuesioner tidak bisa diolah 2

Kuesioner bisa diolah 43

Sumber: Data primer yang diolah, 2017

Gambaran dari responden penelitian ini dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 3

Karakteristik Auditor Internal

Usia (Tahun) Pendidikan

Jenis Kelamin

Jumlah Usia

Presentase Usia

SMA % D3 % S1 %

Jumlah

L % P %

< 25 0% 6 14% 3 7% 3 7% 6 14% 9 21%

25-35 0% 5 12% 5 12% 4 9% 6 14% 10 23%

36-45 4 9% 6 14% 5 12% 10 23% 5 12% 15 35%

> 45 5 12% 2 5% 2 5% 4 9% 5 12% 9 21%

Total

presentase 21% 44% 35% 100% 49% 51% 100%

Total

Responden 9 19 15 43 21 22 43

Sumber: Data primer yang diolah, 2017

Dalam Tabel 3, usia responden terbanyak adalah 36 sampai 45 tahun sebanyak 15 responden (35%) dan usia responden paling sedikit adalah diatas 45 tahun dan usia kuramg dari 25 tahun sebanyak 9 responden (21%). Responden

(14)

dalam penelitian ini sebanyak 21 responden berjenis kelamin laki – laki (49%) dan 22 responden berjenis kelamin perempuan (51%). Pendidikan terakhir dari responden paling banyak pada jenjang D3 sebanyak 19 responden (44%), untuk jenjang S1 hanya 15 responden (35%) dan responden yang lulusan SMA ada 9 responden (21%) dan sudah dikonfirmasi dengan pihak hotel.

Untuk memberikan gambaran data yang dieperoleh maka dilakukan uji statistik deskriptif. Dengan adanya deskripsi data maka akan memudahkan dalam mengetahui paparan data dalam penelitian ini. Jawaban responden dalam bentuk deskriptif berikut ini:

Tabel 4 Deskripsi Variabel

No Variabel Rata-Rata St Dev

1 Professional skill 3,504 0,905

2 Pengalaman 3,288 0,958

3

Efektivitas Struktur

Pengendalian Internal 3,915 0,860

Sumber: Lampiran 2

Berdasarkan Tabel 4 diatas dapat dilihat dari rata-rata indikator jawaban responden menurut variabel professional skill terhadap efektivitas struktur pengendalian internal adalah 3,504. Hal ini menunjukan bahwa responden memiliki tingkat Professional skill yang positif, yang artinya para responden meyakini bahwa memiliki professional skill dalam menilai efektivitas struktur pengendalian internal cukup penting. Kemudian rata – rata jawaban responden terhadap indikator pengalaman terhadap efektivitas struktur pengendalian internal adalah 3,288. Rata – rata indikator pengalaman tersebut memiliki arti bahwa responden memiliki tingkat pengalaman yang positif, dimana dalam menilai efektivitas struktur pengendalian internal diperlukan pengalaman yang memadai adalah hal yang penting. Rata – rata indikator efektivitas struktur pengendalian internal 3,915 dimana responden meyakini efektivitas struktur pengendalian internal sangat penting bagi perusahaan.

(15)

Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Untuk melihat apakah indikator empirik variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini valid dan reliabel maka dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Jika r hitung minimal 0,3 maka dianggap valid dan nilai Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,6 maka indikator empirik dinyatakan reliabel (Malhotra 2010). Setiap variabel ada indikator yang tidak valid sehingga dilakukan eliminasi. Variabel efektivitas struktur pengendalian internal ada satu yang tidak valid yaitu item nomor 9. Variabel professional skil ada dua item yang tidak valid yaitu item nomor 15 dan item nomor 16. Variabel pengalaman ada tiga item yang tidak valid yaitu item nomor 23, 25 dan 26. Setalah dilakukan eliminasi terhadap enam item yang tidak valid, selanjutnya dilakukan pengujian validitas kembali dan semuanya valid. Item – item yang valid yang digunakan untuk proses selanjutnya.

Pengujian Asumsi Klasik

Setelah item – item variabel penelitian sudah dikatakan valid dan reliabel maka selanjutnya dilakukan uji asumsi klasik. Didalam uji asumsi klasik terdapat uji normalitas, uji heteroskedastisitas, dan uji multikolinieritas (Lampiran 5). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov Test. Peneliti menggunakan taraf signifikansi 5%, maka variabel penelitian dikatakan berdistribusi normal jika nilai analisis Kolmogorov-Smirnov memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05. Hasil dari uji statistik Kolmogorov- Smirnov Test menunjukkan nilai 0,833 dan signifikansi pada nilai 0,492 yang menunjukkan nilai signifikansi di atas 0,05, berarti bahwa residual model regresi dalam penelitian ini berdistribusi normal.

Setelah uji normalitas maka dilakuakan uji heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji Glejser. Variabel Professional skill memiliki signifikansi nilai 0,490 dan variabel pengalaman memiliki signifikansi nilai 0,069. Kedua variabel memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka kesimpulannya tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model regresi.

(16)

Uji asumsi klasik selanjutnya adalah uji multikolinieritas yang dilakukan dengan menggunakan nilai VIF dan nilai tolerance. Nilai tolerance untuk kedua variabel menunjukkan nilai sebesar 0,194 dan melihat dengan nilai VIF hasilnya sebesar 5,145. Hasil dengan nilai tolerance melebihi 0,1 dan hasil dengan melihat nilai VIF menunjukkan kurang dari 10, sehingga dapat dikatakan semua konsep pengukur variabel-variabel yang digunakan tidak mengandung masalah multikolinieritas.

Pengujian Hipotesis

Setelah dilakukan uji deskriptif dan uji asumsi klasik, maka selanjutnya dilakukan pengujian terhadap dua hipotesis dengan uji regresi linier berganda.

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kedua variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil uji regresi linier berganda sebagai berikut:

Tabel 5 Uji Hipotesis

Variabel Koef. Standar T Sig.

(Constant) 6,470 1,854 0,071

Professional skill 1,065 5,390 0,000

Pengalaman -0,266 -1,345 0,186

R Square 0,697

Adjusted R-Square 0,681

F 45,912

Sig

0,000 Sumber : (Lampiran 4 ), 2017

*signifikan level 5%

Secara statistik, hasil pengujian menunjukkan nilai signifikansi F adalah 0,071 dimana nilai ini lebih besar dari 0,05. Koefisien determinasi sebesar 0,681 hal ini bearti variabel professional skill dan pengalaman mampu menjelaskan variabel efektivitas struktur pengendalian internal sebesar 68,1% sedangkan sisanya 31,9% dijelaskan variabel lain di luar model.

Dari hasil statistik uji hipotesis diatas, variabel yang memiliki nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 memiliki pengaruh positif terhadap variabel dependen. Signifikansi variabel professional skil adalah 0,000 dan nilai

(17)

signifikansi variabel pengalaman sebesar 0,186. Dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa variabel professional skil memiliki pengaruh positif terhadap variabel efektivitas struktur pengendalian internal. Sedangkan variabel pengalaman tidak berpengaruh.

Hasil Pengujian Hipotesis 1

Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa variabel professional skill memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas struktur pengendalian internal. Hal ini dapat ditunjukan oleh taraf signifikansi (Sig) variabel professional skil sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 yang bearti hipotesis pertama pada penelitian ini diterima.

Hasil Pengujian Hipotesis 2

Variabel pengalaman tidak berpengaruh terhadap efektivitas struktur pengendalian internal dilihat dari nilai signifikansi (Sig) 0,186 dimana nilai ini masih lebih besar dari 0,05 yang berarti variabel pengalaman tidak memiliki pengaruh dengan arah negatif terhadap variabel dependen. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis kedua ditolak.

PEMBAHASAN

Professional Skill Berpengaruh Positif terhadap Efektivitas Struktur Pengendalian Internal

Dalam penelitian ini membuktikan bahwa efektivitas struktur pengendalian internal dipengaruhi oleh professional skill auditor internal yang mencakup: indikator keterampilan teknis, kemandirian, pengetahuan yang memadai dan hubungan dengan rekan. Hasil pengujian tersebut memiliki arti apabila professional skill bergerak kearah positif maka efektivitas struktur pengendalian internal bergerak ke arah positif juga. Hal ini mendukung teori Suantara et al., (2014) bahwa dalam melakukan pemeriksaan dilaksanakan dengan keterampilan dan kecermatan profesionalnya terhadap penerapan struktur pengendalian internal. Begitu juga menurut SPAI (2014) dimana Auditor internal

(18)

harus memiliki keahlian seperti pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti, dan menguji adanya indikasi kecurangan. Dalam menjalankan fungsinya auditor sangat memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawab perorangan dan auditor internal juga harus meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensinya (Herawati 2013).

Jika dilihat dari data responden, mayoritas memiliki latar belakang pendidikan D3 dan S1 pada usia 25 sampai 45 tahun. Ketika mendapatkan pendidikan lanjutan, maka fungsi dan fokus sebagai auditor internal bisa mengikuti. Pendidikan lanjutan yang didapatkan juga akan membuat auditor internal mampu lebih berkembang dan mendapatkan pengetahuan terbaru terkait dengan perkembangan audit internal dari luar perusahaan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Desyanti dan Ratnadi (2008) dan Dianawati dan Ramantha (2013) yang mengatakan professional skill berpengaruh positif terhadap efektivitas struktur pengendalian internal.

Pengalaman Tidak Berpengaruh terhadap Efektivitas Struktur Pengendalian Internal

Setelah dilakukan uji hipotesis, hasilnya memberikan bukti dimana efektivitas struktur pengendalian internal tidak dipengaruhi oleh pengalaman auditor internal yang mencakup dua indikator penting yaitu frekuensi pekerjaan pemeriksaan dan lamanya bekerja. Ditolaknya hipotesis ini menunjukkan bahwa auditor internal yang memiliki pengalaman tidak berpengaruh terhadap efektivitas struktur pengendalian internal. Pengalaman yang dimiliki auditor internal tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas struktur pengendalian internal, dimana efektivitas struktur pengendalian internal akan tetap efektif dengan ataupun tanpa pengalaman kerja yang dimiliki. Ada beberapa hal yang kemungkinan membuat hipotesa kedua tidak didukung. Besar persentase responden yang menjawab pernyataan auditor internal melakukan audit sesuai penugasan dan prosedur audit sebanyak 15 responden tidak berpendapat (35%). Dilihat dari data, rata – rata jawaban reponden terhadap variabel pengalaman yang memiliki rata – rata paling

(19)

rendah yaitu 3,288 dibandingkan variabel lainnya. Dengan 15 responden tidak berpendapat (35%) dan rata – rata variabel pengalaman 3,288, kemungkinan hal ini bisa membuat hipotesa tidak didukung.

Dalam pengambilan data, kuesioner diisi oleh pihak yang bersangkutan secara langsung yaitu auditor internal sehingga cenderung menganggap diri lebih professional (self administered) dan kemungkinan bisa menyebabkan bias. Selain itu, skala pengambilan data yang dipakai masih bias dengan penggunaan skala sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, sangat setuju, sehingga belum bisa mengukur secara andal. Item – item indikator pernyataan kuesioner yang dipakai tidak ada penggunaan skala rasio sehingga bisa menimbulkan kebiasan pengisian.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Herawati (2013), Delaila dan Suzan (2015) yang melakukan penelitian dimana variabel pengalaman tidak berpengaruh terhadap efektivitas struktur pengendalian internal.

SIMPULAN, IMPLIKASI, KETERBATASAN, DAN REKOMENDASI Simpulan

Professional skill secara langsung berpengaruh positif terhadap efektivitas struktur pengendalian internal dimana apabila professional skil bergerak ke arah positif maka efektivitas struktur pengendalian internal bergerak ke arah positif juga. Berbeda dengan professional skill, variabel pengalaman secara langsung tidak berpengaruh terhadap efektivitas struktur pengendalian internal. Pengalaman yang dimiliki auditor internal tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas pengendalian internal, dimana efektivitas pengendalian internal akan tetap efektif dengan ataupun tanpa pengalaman kerja yang dimiliki.

Implikasi, Keterbatasan dan Rekomendasi

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa seorang auditor internal harus memiliki kesadaran dalam melakukan audit pada situasi dan kondisi. Setiap organisasi memiliki ciri tersendiri sehingga pengalaman tidak menentukan. Oleh karena itu professional skill yang dimiliki harus menyesuaikan situasi dan kondisi dari setiap organisasi. Bagi kalangan akademisi, hasil penelitian ini dapat

(20)

digunakan sebagai informasi tambahan tentang faktor - faktor penentu penilaian efektivitas struktur pengendalian internal.

Adapun keterbatasan dalam penelitian ini yang pertama, kesulitan memastikan secara sebenar – benarnya mengenai auditor internal di setiap hotel.

Beberapa hanya diketahui lewat receptionist. Kesulitan kedua, dalam pengambilan data dimana kuesioner hanya boleh dititipkan kepada HRD, PR ataupun manajer operasional sehingga tidak dapat dipastikan secara langsung kuesioner benar – benar diisi oleh auditor internal. Kuesioner diisi oleh pihak yang bersangkutan yaitu auditor innternal, sehingga cenderung menganggap diri lebih tinggi (self-administered). Oleh sebab itu, penelitian selanjutnya dapat melakukan penilaian yang melibatkan rekan sekerja sehingga penilaian terhadap auditor tidak bias. Skala pengisian kuesioner yang dipakai dapat menggunakan skala seperti “kadang – kadang” dan “jarang” sehingga pengisian kuesioner dapat lebih jelas dan andal. Pada item pernyataan kuesioner bisa menggunakan rasio sehingga lebih jelas dan tidak menimbulkan bias pengisian kuesioner. Selain itu kemungkinan adanya hubungan positif antara professional skill dan pengalaman, maka penelitian selanjutnya bisa menggunakan model penelitian dimana pengalaman mempengaruhi professional skill dan professional skill berdampak pada efektivitas struktur pengendalian internal.

Referensi

Dokumen terkait

Ieu panalungtikan ngajéntrékeun yén hasil kamampuh awal nulis guguritan siswa saméméh maké multimédia pangajaran guguritan peunteun rata-ratana nya éta 67.17, sedengkeun

Berdasarkan masalah rendahnya minat belajar dan hasil belajar siswa kelas VIIIb SMP Negeri 2 Geyer, mendorong peneliti untuk melakukan perbaikan pembelajaran dalam mata

Hipotesis kedua yang diajukan pada penelitian diterima, karena waktu inkubasi paling optimum dalam mendekolorisasi beberapa macam limbah cair batik adalah 72 jam pada

Penelitian yang berjudul “ Analisis Perbedaan Tingkat Akurasi Prediksi Kebangkrutan Perusahaan dengan Menggunakan Metode Analisis Diskriminan dan Regresi Logit

Hasil penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Jenis kesalahan siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent dalam menyelesaikan soal model PISA

Menurut Miller, kepedulian adalah cara manusia untuk melestarikan alam agar tidak terganggu oleh manusia lain yang tidak bertanggung jawab Secara lengkap ditambahkan bahwa

Implementasi Strategi Dinas Kebudayaan dalam Pelestarian Bangunan Cagar Budaya di Kota Surakarta, Skripsi, Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu

2) Kami tidak mempunyal data yang cukup untuk menganalisis pola supra- segmental. Anggapan sernentara peneliti mengenai mi ialah bahwa fonern suprasegmental tidak fonemik