JurnaI
Kedokteran
Hewan
JURNAL KEDOKTERAN HEWAN
Terbit
setiap Maret dan Septemberl.
DAFTAR ISI
Studi Mikroanatomi Pankreas Babinsa (Babyrousa Babyrus sa) Menggunakan Metode Peu,amaan Baku dan Immunohistokimia
I
Ketut Mudite Adnyane, AlastairA.
Macdonald,Adi
Winarto, dan Srihadi AgungpriyonoEfektivitas Pemberian Ekstrak Vesikula Seminalis terhadap Persentase Berahi dan Kebuntingan pada Kambing Lokal
Syafruddin, Tongku Nizl.an Siregar, Henialfian, T. Armansyah, Arman Saltrti, dan Roslizawaty
3.
Pengaruh KonsentrasiEtilen Glikol
dan Lama Paparan terhadap Tingkat Fertilitas/r
,4tro Oosit Sapi9.
Sri Wahjuningsih, Suhartojo Hardjopranjoto, dan Sutiman Bambang Sumitro
Pengaruh Sulfaquinoxalin pada Ayam
Broiler:
GejalaKlinis
dan Patologi AnatomiM. NurSalim dan Dian Masyitha
Jumlah Eritrosit,
Nilai
Hematokrit, dan Kadar Hemoglobin Ayam Pedaging Umur 6 Minggu dengan Pakan TambahanAryani Sismin Satyaningtijas, SusDheni Widhyari, dan Ratna DelimaNatalia
Pengaruh Kecepalan Sentrifugasi terha&p Kualitas Semen Kambing Peranakan Ettawah (PE) Posl Thawing
Indiah dan Sri Wahjuningsih
Penganrh Lama Penyimpanan Epididimis pada Suhu 5 'C terhadap Kualitas Spermatozoa Kambing Lokal Aceh
Hamdan, Budianto, Amalia Sutrian4 Dwinna Aliza, Erdiansyah Rahmi, dan Abdul Rasyid Dalimunthe
Studi Infeksi Toksoplasmosis pada Manusia dan Hubungannya dengan Hewan diBandaAcell
Muhammad Hanafiah, Mufti Kamaruddin, MsnuNurcahyo, dan Winaruddin
The Invasiveness and Persistence of Pasteurella Multocida After lntratracheal Inoculation intoTurk€ys
Mahdi Abrar dan Fakhrunazi 4.
5.
ISSN:
1978-225XHalaman 49-52
61-64
65-68
69-73
74-80
8l-86
':".'
93-98 7.
IKn
Vol. 4 No.2Hd49-%
Banda AcefL S€ptember 2010 ISSN: 197&225XJumal Kedokteran Hewan
ISSN : 1978-225X Syaiiuddin. dkk
EFEKTIVITAS PEMBERIAN EKSTRAK VESIKULA SEMINALIS TERHADAP PERSENTASE BERAHI DAN KEBUNTINGAN PADA
KAMBINGLOKAL
The
Efficacy
ofseminal
vesicles ExtractAdministration
on percentdge ofEstrus
and Pregnancy onLocal
GoatSyafruddin',
TongkuNizwan Siregar', Herrialfianr,
T.Armansyah.,
'r-aroratorium
rcfJffif,,:#:io:-13l1:;ll1il*1,,-,
s,iur, r,,uru rlaboratoriumReproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah fuala rlaboratorium
Biokimia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Sviah Kuala 'Laboratorium Fannakologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas'Sviah Kuala
E -mqi I : tongkl ns(Ayahoo.com
ABSTRAK
-
. . Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pe$entase berahi, performansi berahi, dan persentase kebuntingan kambing lokal yang mengalami' sin-kronisasi dengan ekstrak veiikula seminalis. i,enelitian inl -"nlgunat-
vesikula seminalis sapi lokal yang diperoleh dari limbah Rumah Potong Hewan Kota BandaAceh. OatamiJnetitian ini digunakan l0 ekor kambing betina dengan_status tidak bunting, irinimal 2 bulan pasca patus, suditr pematr beranak, dan sehat secara klinis. Temak coba dikelompokkan clalari 2 kelompok. retompot ioiinletsi
o"rf-
o,s ml PGF"a secara intramuskular sedangkan kelompok II diberi 5 ml ekstrak vesikula seminalis secara intrautenn.Penyuntikan dilakukan 2 kali dengan interval 1l hari. Kambingyang memperlihatkan gej al a berahi akan dikawinkan secara alami. Perkawinan dilak-ukan l.kali pada
_setiap penga-ut"tr- Iiiagnosis ke6untingan dilakukan dengan menggunakan metode pemeriksaan kimia urin 2 bulan seleiah perkawinan . iata persentase berahi dan kebuntingan akan dianalisis dengan chi-square sedang performansi berahi yang meliputi onsei dan durasi berahi akan dianalisis menggunakan uji student T- onset berahi kelompok I dan II masing-masing adala h 29,33!4,62 dan 240010,00 jam (P>0,05). Durasi berahi kelompok I,dan_II masing-masing adalah 26,{7!4,62 aan ZO,OOltO,el
ia.lfrO,bS;
Persentase berahi kelompok
I
danII
tidak berbeda (P'0,05) yakni masing-masing uautatr-oo,o aan +o,oy".sedangkanpersentase kebuntingan padakedua kelompok adalah sama yakni 100,0%.
ABSTRACT
The aim.'fthis research was t.J detemine the percentage afestrus, performance cf estrus, and percentage
af
pregnancy in krcal Stat which synchrr'nizedwith seninalvesicles extract. Thi seminal visicles usetl
ii
this research were c"llectedfrom the wasle cf Banda Aceh slaughter house. The goats v,ere allotted intt 2 grtles. Gcats in g,:up$'ete injected wilh 0.5 ml PjF,rx inh'amusctlarly, and goats in grtup
II
were injected with 5 ml seminal vesicles e.xtract intrauterine. The injection was dcne firice with the interval cf 11 day. The goats which perform esh-us sign are mqted^naturally once in every oLservatitn. Pregnanqt diognoiing",i,
rlcne-using chemicai urine uethod 2 manths after mating. Th9 estrus percentage and pregnancy dita wele analyzed with"chi-square and rhe estrus Petf'"rmance ('rnset dnd esh"us durqtion) were anaiyzed using student T test.'The estrus ,,nsei .,f gr,:up Iori
ti*"r"
29.33+4.62 and 24.00+0.00 hcurs (p> 0.05). Estnis duratr,i y' grcup I and
II
were 26.67!4.'6iani
20.00!l l.g7 h"urs rcspectively (P>0.05). The estrus percentaged sr*i iori IIdid,ot "h.,.
any signif"ont aiftiences (P>0 05), those are 60.0 and 40.00'4 respectively, wheieas- the percentagetf
estrus .fron" bothgriup".","
r00.0%.
Keyt.'rds : tesic I es extract, synchrtnizati._)n, goat
PENDAHULUAN
Populasi temak kambing di wilayahAsia dan
Pasifik
Selatan sampaitahun
1990-an mencapai294,4
jt;J'aekor
dengan angka peftumbuhan hanya sekitar 0,2%. Jumlah inimerupakan 52,9% dan total populasi kambhg dunia.
Di
pulau Jawa, jumlah rumah tanggapetani yang
memeliharaternak
kambing mencapai 30olo. Dengan kenyataan tersebut kambing memi
Iiki potensi untuk
dikembangkan sebagai sumber produk asal
Jumal Kedoktera[ Hewatr
temak
di
Indonesia (Suyadi, 2003). Populasikambing sampai tahun 2005
mencapai 13.182.064 ekor dengan angka pertumbuhanhanya sekitar 3,14% (Anonimus,
2006).Rendahnya angka pertumbuhan
ini
karenakambing tropis
mempedihatkan efisiensi reproduksi yang rendah dibandingkan dengan kambing pada daerah subtropis(Gall
dan Phillipen, 1981).Upaya
untuk
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kambing dilakukan melalui penerapan teknologi inseminasi buatan (IB).Salah satu kendala dalam penerapan teknologi
IB
adalah masalah waktu perkawinan yang belum terjadwal.Hal ini
disebabkan siklus berahi kambing tersebut tersebar secara acak dan tidak menentu. Kondisiini
akan menjadi masalah karenajumlah dan waktu
dariinseminator sangat terbatas,
sehinggaseringkali inseminator tidak dapat
atauterlambat mengawinkan kambing
yang sedang berahi meskipun telah diminta oleh peternak. Ketidaktepatan waktu perkawinan akan menurunkan angka keberhasilan pada program inseminasi buatan (Haenlein et a/., 2004).Upaya
untuk
mengatasi kendala iniadalah melalui penerapan metode sinkronisasi (penyerentakan) berahi.
Melalui
metodeini
berahi kambing akan dapatdiinduksi
dandikawinkan secara serentak
sehingga inseminator tidak perlu datang berulang-u1ang pada tempat yang sama. Meskipun teknologi penyerentakanberahi telah
diperkenalkan sebelumrya kepada petemakyakni
denganCIDR-G
(Riadyet al.,
1999), dan PGF,cr (Siregarel al.,
2002), tetapi kenyataannyametode tersebut sulit diaplikasikan
berhubung prepamt tersebut
relatif
mahal untuk tingkat peternak serta sukar diperoleh dipasar lokal.
Salah satu alternatif yang
dapat digunakan untuk mengatasi masalahdi
atasadalah penggunaan cairan vesikula seminalis.
Vesikula seminalis pada umumnya merupakan sumber produksi prostaglandin. Pemberian ekstrak vesikula seminalis
sapi bali
telah dilakukan pada kuda betina pada fase lutealterhadap daya luteolitiknya. Dari
hasil penelitian diketahui bahwa ekstrak cairan vesikula seminalis dapat meregresi korpus luteum yang diindikasikan oleh penurunan hingga 7 4'r/o kadar progesteron darah dalam kurun waktu24
jam.Hal ini
membuktikan bahwa kadar PGF"cr dalam cairan vesikula54
voi. 4 No. 2, September
seminalis tergolong cukup tinggi 2005). Prostaglandin yang terdapat pada vesikula seminalis
ini
akan bekerja melisis korpus luteum pada ovarium dandiikuti
dengan kejadian berahi (Hafez Hafez,2000) .Hormon PGF.o berperan untuk atau meregresi korpus luteum pada
(Arosh el al.,
2006). Pada kambing dibuktikan bahwa pemberian PGF,u sistemik menyebabkan regresi korpusyang ditandai
dengan menurumya homon progesteron sampai 60% dalam 8 jam setelah pemberian PGF,o (Towle et2002). Penurunan kadar progest
mengindikasikan akan dimulainya siklus yang baru sehingga PGF,a dapat di unfuk induksi atau sinkronisasi berahi.
Sejalan dengan permasalahan di maka
perlu
dilakukan penelilian menefektivitas pemberian esktrak
ve seminalis pada kambing lokal Aceh. Daripenelitian
diharapkandapat
mem rekomendasi penggunaan ekstrak seminalisuntuk
sinkronisasi berahi pelaksanaan inseminasi buatan pada lokal dengan biaya murah.MATERIDAN
METODE ProsedurEkstraksi?enelitian
ini
menggunakan seminalis sapi lokal Aceh yang diambil Rumah Potong HewanKota
Banda Organ vesikula seminalis diiris (slicing) direndam dengan metanol selama 24 Supernatannyadiambil
sertamenggunakan
rotari
evaporator yang sudah dikeringkan, kemudian sebanyak 2,5 g dan ditambahkan denganCMC dan
dilarutkan dalam25
ml fisiologis selama 5 menit pada suhu 37sehingga konsentrasi
ekstrak seminalis menjadi 10olo.Prosedur Penelitian
Dalam penelitian
ini
digunakanl0
kambing betina dengan status tidak minimal
2
bulan pasca partus, sudah beranak, dan sehat secara klinls.dikelompokkan dalam
2
kelompok, masing 5 kambing untuk kelompokI
dan 5 kambing untuk kelompok Kambing pada kelompok I diinjeksi
ml
PGF.a (ProstavetC,
Virbac S.A)Jumal Kedokteran Hewan Syaftuddin, dkk
intramuskular sedang kambing pada kelompok
II
diberikan ekstrak vesikula seminalis dengandosis 5 ml
secara intrauterin. Pemberian dilal-ukan 2 kali dengan interual I t hari.Pengamatan berahi dilakukan
2
kalisehari setelah injeksi Prostavet
atau pemberian ekstrak vesikula seminalis terakhir denganlama
pengamatansekitar 2
jam.Pengamatan dilakukan pada pukul 08.00 dan 16.00
WIB
dengan menggunakan bantuan pejantan.Kambing yang memperlihatkan gejala berahi akan dikawinkan secara alami dengan pejantan. Perkawinan dilakukan
I kali
padasetiap pengamatan. Awal berahi dihitung saat kambing dinaiki pertama
kali
oleh pejantan sedangakhir
berahi dihitung saat kambing betina menolak dinaiki pertama kali.Deteksi kebuntingan dilatukan 2 bulan setelah perkawinan menggunakan metode
pemeriksaan kimia urin.
Pemeriksaandilakukan mengikuti prosedur
Cuboni- Lunaas. Sebanyak15 ml urin
dicampurdengan 3 ml HCI pekat dan dipanaskan dalam waterbath pada
titik
didih selama 10 menit.Campuran tersebut kemudian didinginkan, dan dituang ke dalam labu pisah, ditambahkan 18 ml benzil alkohol (benzol), dan dikocok.
Lapisan benzol dikoleksi, dituang ke dalam
l0
ml H,SO. pekat dan
dipanaskan dalam waterbath padasuhu
80 "C selama 5 menit.Campuran tersebut kemudian didinginkan kembali. Hasil positif (+) akan memperlihatkan
adanya
zal
JTuorescentwarna hijau
di permukaan cairan sedang hasilnegatif()
tidak memperlihatkan zat\ tamaflu.,res cenl.Parameter yang diamati
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :l.
Onset berahiyaitu waktu
pertama kalikambing betina mulai dinaiki
atau dikawinkan setelah diinjeksi PGF.cr atau pemberianekstrak vesikula
seminalis terakhir dan dinyatakan dalam jam.2.
Durasi berahi yaitu interval waktu antara pertama kali kambing betina mulai dinaiki atau dikawinkan sampaitidak
mau lagidinaiki
atau dikawinkan dan dinyatakan dalam jam.3. Persentase berahi yaitu
jumlah
kambingberahi dibagi
denganjumlah
kambing perlakuan dan dinyatakan dalam persen.4.
Persentasekebuntingan yaitu
jumlahkambing yang positif bunting
pada pemeriksaankimia urin dibagi
denganjumlah
kambingyang
dikawinkan dan dinyatakan dalam persen.Analisis Data
Data pementase berahi dan kebuntingan
dianalisis
denganchi-square
sedangkan performansi berahi yang meliputi onset dan durasi berahi akan dianalisis menggunakanuji
T.
HASIL DAN PEMBAHASAN Onset dan Durasi Berahi
Dari seluruh kambing, 3 ekor karnbing pada kelompok
I
dan2
ekor kambing pada kelompokII
memperlihatkan gejala berahi.Timbulnya berahi adalah akibat prostaglandin dan kandungan prostaglandin yang terdapat
pada ekstrak vesikula. Injeksi
tunggalprostaglandin akan menghasilkan
80%kambing berahi sedang
injeksi
kedua yangdilakukan l0 hari kemudian
akanmenghasilkan 100% estrus (Siregar
et
al., 200i).Nuti
er a/. (1992) juga melaporkan hal yang sama, semua kambing memperlihatkan gejala berahi setelah pemberian PGF.c padahari
ke-12 setelah berahi akibat pemberianPGF,a
pertama.Timbulnya berahi
akibat pemberian PGF,o disebabkan lisisnya korpusluteum oleh kerja
vasokonstriksi PGFrcr sehingga aliran darah menuju korpus luteum menurun secaradrastis
(Toelihere,l98l).
Akibatnya, kadar progesteron yang dihasilkan
korpus luteum dalam darah
menurun.Penurunan kadar progesteron ini
akan merangsanghipofisa anterior
melepaskan FSH dan LH. Kedua hormonini
bertanggungjawab dalam proses folikulogenesis
danolrrlasi,
sehinggaterjadi
pertumbuhan dan pematanganfolikel. Folikel-folikel
tersebut akhimya menghasilkan hormon estrogen yangmampu
memanifestasikangejala
berahi(H af ez and Haf ez, 2000).
Kerja
hormon estrogen adalah untuk meningkatkansensitivitas organ
kelamin betina yang ditandai perubahan pada r.ulva dan keluamya lendir transparan (Lammogliaet al., 1998).
Tanda-tandaberahi
padapenelitian ini hampir
sama dengan yang dilaporkan Siregar eral.
(2004) yakni vulvamerah dan bengkak, keluar lendir,
maudinaiki, dan perubahan tingkah
laku.Sumoprastowo
(1980)
menyatakan tanda-tanda berahi pada kambing
ada.lah gelisah, ekor diangkat dan digerakkan kekiri
dan ke kanan, berusaha mendekati kambing
jantan, mengembik, vulva bengkak
dan 55Jumal Kedokteran Hewan !b1. 4 No. 2, September 2010
Tabel
l.
Performansi (onset dan durasi) berahi kambing setelah sinkronisasi dengan PGF.cr dan ekstrak vesikulaBerahi Kelompok
Onset (iam) Durasi (iam)
I
II
(PGF,a)
(ekstrak vesikula seminalis)
29,33 + 4,62"
24,00 + 0,00"
26,67 + 4,62b 20,00 + 0,00n Superskrip yang sama pada kolom yang sama memperlihatkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05)
berwarna kemerahan, pada saat diraba terasa
hangat. dan
mengeluarkancairan
yang jernih.Onset berahi pada seluruh kelompok perlakuan terlihat pada Tabel 1. Onset berahi dari
5
ekor kambing bervariasi m;Jai 24-32jam.
Onset berahi dihitung mulai pada saatkambing
betina
bersediadinaiki
pejantan pertamakali,
meskipun sebelurnnya telah muncul gejala-gejala berahi yang lain. Hasil analisis statistik menunjulikan tidak terdapatpengaruh
perlakuan terhadap onset berahi kambing (P>0,05).Onset
berahi perlu diketahui
untukkeberhasilan inseminasi setelah
induksi terutama apabila dilakukan induksi pada temak dalamjumlah besar
Siregaret al.
(1999)melaporkan onset
berahi
setelah diinduksi dengan PMSG yang diikuti injeksi PGF,a pada kambing prepuber. Onset berahi kambing pada kelompok umur4-5
dan 6-7 bulan masing-masing
adalah 36,50+9,94 dan 28,17+3,48 jam.Data onset berahi
lain
pada kambing adalah 37+2,56jam
(Sumandia, 1988) dan 37,75+9,30jam (Purwanti, 1989). Onset berahi pada penelitianini
bila dibandingkan dengan penelitian lain terlihat lebih singkat meskipun menggunakan kambing lokal yang sama yang diinduksi dengan anti-inhibinyakni
sekitar2442 jam
(Siregar dan Armansyah, 2010).Perbedaan onset
berahi dapat
disebabkan perbedaan individu ternak. Selain itu, Siregar etal. (1999) membuktikan
kecenderungan perbedaan umur temak akan mempengaruhi onsetberahi.Meskipun secara statistik tidak terlihat pengamh pemberian ekstrak vesikula seminalis terhadap onset berahi, namun bila dilihat secara terperinci terdapat kecenderungan pemberian
esktrak vesikula seminalis
cenderungmempercepat timbulnya onset
berahi.Perbedaan waktu onset berahi kemungkinan disebabkan perbedaan pola pemberian. Siregar el a/. (2001) membuktikan bahwa onset berahi
56
cenderung
lebih
cepat pada kambing yang diinduksi dengan pemberian PGFrct secara intravulvasubmukosal.Pemberian secara intrauterin
kemungkinan akan
memperpendek jalan menuju ovarium, sehingga korpus luteum lebih cepat lisis.Hal ini
sejalan dengan pendapat Mellado et al,, (1994) yang menyatakan bahwapemberian secara intramuskular
akan menyebabkanjalur yang
diternpuh PGF,ct sebelum mencapaiovarium lebih
panjangkarena harus melewati peredaran darah umum yang kemudian akan dibawa
ke hati
untuk dimetabolisme. Secara fisiologis, cara kerja PGF,cr melalui intrauterin sama dengan cara kerja PGFra secara alami yaitu PGFrcr yang dihasilkan di daiam uterus mengalir ke dalamvena uterina mediana dan
kemudianmenembus dinding vena dan arteri ovarica
yang keduanya terletak
berdampingan.Mekanisme ini'lah yang disebut pembebasan
lintas vena-arteri (counter-current
me c hanis m) (Ginther, 1 9 8 1 ).
Durasi berahi dalam penelitian ini
dihitungmulai
saat kambingdiam
waktu dinaiki oleh pejantan pendeteksi. Durasi berahi bervariasimulai 8-32 jam. Hasil
analisis statistik menunjukkan tidak terdapat pengaruh perlakuan terhadap durasiberahi
kambing (P>0,05).Durasi berahi yang
diperoleh padapenelitian ini tergolong lebih
singkatdibanding durasi berahi pada penelitian lain.
Mngongo (1987) melaporkan durasi berahi pad
a
kambing Afrika Timur yang disinkronisasi dengan PGF2c
adalah 32,40+3,60: Purwanti(1989)
43,7 5+12,27;Manu
(1991) 35,18+6,80; Sunaryo (1994) 32,50+2,50; dan Uly (1997) 39,20+5,66 jam.Adanya sedikit perbedaan mungkin
disebabkan oleh variasi bangsa dan umur.
Toelihere ( 1981) menambahkan bahwa variasi durasi berahi dapat disebabkan oleh variasi sewaktu observasi berahi.
Junal Kedokteran Hel!an Syafixddin. dkk
Hasil
analisisstatistik
menunjukkan bahwatidak
terdapat pengaruh perlakuan terhadap durasi berahi kambing (P<0.05). Halini berarti bahwa durasi berahi tidak dipengaruhi oleh sumber PGF,cr
yang digunakan untuk induksi berahi.Britt
(1993) menerangkanbahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi durasi berahi meliputi bangsa, umur, dan musim.Persentase Berahi dan Kebuntingan
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa persentaseberahi kambing pada
kedua kelompok I danII
tidak berbedanyata (D0,05) yakni masing-masing 60,0 dan 40,0% seperti yang terlihat pada Tabel2.
Respon kambinglokal
terhadap metode pemberian estrakvesikula dan PGF,c dapat
menyebabkan regresinyakorpus luteum
fungsional dan memungkinkan dimulainya siklus yang baru.yang
dinyatakandalam bentuk
timbulnya berahi.Persentase
berahi kambing
yang diperoleh pada penelitianini
hampir sama dengan hasil yang diperoleh oleh Heinonen el a/. (1996). Heinonenet al. (1996) mendapatkan persentase berahi pada sapi yang mendapatkan perlakuan prostaglandin secara intrauterin dan intramuskulus masing-masing sebesat 62,5 dan 60,6%. Halini
menunjukkan bahwa kambing yang digunakan pada penelitian ini mempunyai respon yang baik terhadap pemberian ekstrakvesikula seminalis
secaraganda
dengan interval I I hari.Hasil ini juga menunjukkan efektivitas metode pemberian ekstrak vesikula seminalis sama denganPGF"o. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian
Nuti
er a/. (1992), semua kambing (100%) menunjukkan berahi setelah pemberian PGF.o pada hari ke-12 setelah berahi akibat pemberian PGF,o yang pertama. Demikian juga dengan penelilianPereraet al. yang disitasi oleh Devendra dan Bums (1994)di
Srilangka rnendapatkan hasil 5 dari 6 ekor kambing yang diinjeksi dengan cloprostenol (analog PGF.cr sintesis) secara ganda dengan dosis 125 trrg dengan intewal waktu 10 hari. Injeksi awal prostaglandinakan
menyebabkan kambing mencapai fase pertengahan luteal dari siklusberahi. Injeksi kedua akan efektif
mempersingkat masa
hidup
korpus luteumdengan cara melisisnya (Hunter,
1995).Hormon PGF,o eiektifdalam meregresi korpus luteum fungsionai ti<iak pada korpus luteum yang sedang tumbuh (Partodihardjo, 1992).
Timbulnya berahi akibat
pemberianekstrak vesikula diduga sama
dengan mekanisme kerja homon PGF,o. Hal ini telah dibuktikan Pemayun (2007) yang melaporkan konsentrasi PGF,cr yang tinggi pada ekstrak vesikula sapi bali yakni 1750, 63 pglml. Induksi berahi oleh PGF.cr disebabkan karena lisisnya korpus luteum oleh kerja vasokontriksi PGF,cr sehingga aliran darah menuju korpus luteum menurun secara drastis (Toelihere, l98l ). Selainitu, PGF,o juga
berfungsi menginaktifl<an enzim adenilat siklase sehingga menyebabkan lisisnya korpus luteum(Austin dan
Short,1990).
Akibatnya, kadar
progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum akan menurun di dalam darah. Penurunan kadar progesteronakan merangsang hipofisa anlerior menghasilkan dan
melepaskan fo llicle
stimulating horm.'ne (FSH) dan luteinizingh,rm:ne (LH). Kedua hormon ini bertanggung jawab dalam proses
follikulogenesis dan or''ulasi, sehingga terjadi
pertumbuhan dan pematangan folikel.
Folikel-folikel
terscbut
akh irny
a menghasilkan hormon estrogen yang mampu memanifestasikan gejala berahi (Hafez dan Hafez, 2000). Penurunan kadar progesteronoleh ekstrak vesikula seminalis
yang menginduksiterjadinya berahi
dilaporkanoleh
Pemayunet al. (2008).
Penurunanprogesteron pada kuda oleh ekstrak vesikula seminalis dalam waktu 24 dan waktu 48 jani masing-masing mencapai rataan 73,03 dan 92,79%.
Dari
data Tabel2
terlihat persentase kebuntingan pada kedua kelompok lebih tinggijika
dibanding dengan persentase kebuntinganpada kambing lokal yang sama (Siregar el a/., 2010). Shegar et
a/.
(2010) melaporkan angka kebuntingan masing-masing sebesar 75,00 dan 83,33% pada kambing yang diinduksi denganpemberian
PGF.crdengan
menggunakanprotokol
standar secara intramuskular dan dengan sistem sinkronisasi singkat.Heinonen
et al. (1996)
melaporkanpercentase kebuntingan
pada sapi
sebesar66,70/o dan Atmamihardj a ( 1982) pada kambing
kacang sebesar 9\u/o. Perbedaan ini
kemungkinan disebabkan
oleh
perbedaanmetode perkawinan-
Padapenelitian ini
perkawinan dilak-ukan secara alami yang diatur
sedang penelitian lain
menggunakanperkawinan
meialui inseminasi
buatan.Perkawinan
aiami
cenderung menghasilkanJurnal KedokteraD Hewan Vol. 4 No. 2, September 2010
Tabel 2' Pengaruh perlakuan eksnak vesikula seminalis terhadap pementanse berahi dan kebuntingan pada kambing lokal
Kelompok Jumlah Kambing
(ekor)
Status kambing betina (ekor)
Berahi
(%)
Bunting (%)5 5
I II
(PGF(I)
(ekstrak vesik-ula)
3 (60,0)' 2 (40,0)^
3 (100,0)"
2 (100,0)'
Superskrip yang sama pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (p>0,05)
angka kebuntingan yang lebih tinggi dibanding dengan perkawinan melalui
inseminasi buatan (P azzani, 2004).Budiarsana dan Sutama (2001)
menyatakan salah satu penyebab rendahnya persentase kebuntingan pada kambing adalah karena sebaranwaktu
ovulasiyang
sangat panjang sedang waktu kapasitasi spernarozoa relatif lebihcepat.
Perkawinan secara alami yang berulang seperti yang dilakukan pada penelitianini
kemungkinan dapat mengatasi kelemahan tersebut.KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh selama
penelitian maka dapat
diambil
kesimpulan bahwa eksrak vesikula seminalis mempunyai efektivitas yang sama dengan PGF,d, terhadap persentaseberahi dan
kebuntingan pada kambing lokal.DA.FTARPUSTAKA
Anonimus. 2006.
Laporan
Tahunan Dinas Peternakan Propinsi Nanggroe Aceh.Darussalam, BandaAceh.
Arosh, J.A., S.K.
Banu, P. Chaplaine, E.Madore, J. Sirois, M.A. Fortier.2006.
Prostaglandin biosyntesis, transport,
and signaling in corpus luteum:
abasis for autoregulation of
lutealfun
cti
on.
E n d o crin
olo gy.
145(5):25s1-2560.
Atmamihardja, S. 1982. Derajat Kebuntingan
Kambing Kacang yang
Berahinya Diseragamkan denganPGF2o
serta Dikawinkan secaraAlami,
Inseminasi Buatan denganMani Cair
dan Beku Butiran. Tesis. FPs-Institut Pertanian Bogor, Bogor..Austin, C.R. and R.V. Short. 1990. The Ovary.
In Reproduction
in
Mammals. 2'u ed.Cambridge University Press,
New York.58
Britt,
J.H. 1993. Inducti on and
Synchronization of Ovulation. In Reproduction in Farm Animals.
E.S.E. Hafez (ed.). 6'" ed. Lea &
Febiger, Philadelphia.
Budiarsana,
I.G.M.
danI.K.
Sutama.2001.Fertilisasi kambing peranakan Ettawah pada perkawinan alami dan inseminasi buatan. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Bogor.
Davendra,
C.
andM. Bums.
1994. GoatProduction in the Tropic.
Common Weaith. Agriculture Bureaux. Famham Royal, England.Gall, C.W.P. and H. Phillipen.
198 I .Perspective on utilization goats.
Anim.
Res, and Developmt. 19 :7 -1 6.
Ginther,
O.J.
1981.Local
versus systemicutero-ovari on relationship
farmanimals. Act, Vet. Scand.
Suppl.77: 103- I 15.
Ginther.
O.J.
1981.Local
versus systemicutero-ovari on relationship
farmanimals. Act. Vet. Scand.
Suppl.77:103-115.
Haenlein, G.F.W.,
R.
Caccese,and
M.C.Smith. 2004.
Artificial
Insemination.http ://*"ww. goatworld.com/articles/i ndex.shtml.
Hafez, B. and E.S.E. Hafez.
2000.Reproduction in Farm Animals. 7'n ed.
Lea & Febiger. Philadelphia.
Heinonen, K., T. Shieferans, and
M.Heinonen. 1996. Oestrus
synchronization
in
Ethiopian highland Zebu cattleby
meansof
intravaginalcloprostenol administration.
Trop.Anim. Helth. Pro d.28:121-125.
Hunter,
R.H.F.
1995.Fisiologi
Teknologi Reproduksi Hewan Betina Domestik.(Diterjemahkan
oleh D. K.
HaryaPutra). ITB, Bandung.
Lammoglia, M.A., R.E. Short, S.E. Bellows,
M.D.
Macneil, andH.D. Hafs.
1998.Induced
and
synchronized estrusin
cattle. J.Anim. S ci.7 6:1662-1670.
Jurnal Kedokteran Hewan Svafruddin. dkk
Manu, A.E. 1991. Pengar-uh Pemberian PGF-cr Alpha terhadap Sinkronisasi Berahi pada
Ternak Kambing Kacang.
SkriPsi.Fapet, Undana, KuPang
Mellado,
M.,
P. Aleman, F.J. Orazco, and G.Uribe.
1994.Effect of
prostaglandin dosageand route
adminislation on oestrus lesponse in Creolla goats underrange condition. Small Rum.
Res.14:205-208.
Mngongo, F.O.K. 1987. Doses ofprostaglandin an a
lo gu e "
c 1o Pro
s t a n o I"
intravulvasubmucosal (IVSM)
injection effective for the
induction estrousin
goats.Anim'
Reprod. Sci.14; 13 9- I 46.
Nuti, L.J., K.N. Bretzlaff, R.G. Elmore, S A.
Meyers, J.N, Regsla, S.P Brinslev, T.L.
Blahohard,
and PG. t'eston.
1992.Synchronization
of
estrus in dairy goat treated with PGF,cr various stages ofthe oestrus cycle. Am. J. Vet. Res. 52:934- 931.Partodihardjo,
S.
1992.Ilnu
ReproduksiHewan. Penerbit Mutiara, Jakarta.
Pazzan|
M.
2004. Goat Breeding:Aftificial
Inseminationvs. Natural
Breeding.http ://rvww.ics,u ci.e du I -p azztnil
4Hl
AI-goats.gif.Pemayun, T.G.O. 2005. Analisis Prostaglandin F2a Dari Cairan Vesikula Seminalis Dan
Produk Sel MonolaYer Vesikula
S
eminalis Sapi Bali. LaPoran Pengabdian.
L PM -Un ive rs ita sUdayana, Bali.
Pema1.un, T.G.O. 2007. Kadar prostaglandin F2 alpha pada cairan vesikula seminalis dan
produksi sel monolayer
vesikulaseminalis sapi bali.
Jurnal
Veteriner' 8(4):167 -r72.Pema)'un, T.G.O.,
L.
Mahaputra, Ismudiono.dan Soetjipto. 2008, Penurunan kadar progesteron
kuda fase luteal
setelah pemberian prostaglandin F2 alpha hasil ekstraksi vesikel seminalissapi
bali.Jurnal Veteriner .9(4):163-I61 .
Purwanti,
M.
1989. Superovulasi dan Panen Embrio pada Kambing Kacang. Tesis.PPS-Universitas Gajah Mada,
Yogyakafia.Riady,G., C.N. Thasmi, dan
l. Lubis.
1999.Pelatihan Penerapan
Sinkronisasi
Berahi dengan Penyuntikan Hormondalam CIDR dan Deteksi
Berahi dengan Tail-paints pada Kambing di Desa Tanjung Selamat Darussalam.L apo
ran
Pengabdia n. LPM-
Universitas Syiah Kuala, BandaAceh.
Siregal T,N. dan T. Annansyah. 2010. Kinerja
Berahi Kambing yang
MengalamiInduksi
Superovulasi denganAnti- inhibin. Jurnal Animal
Production.11( I ):34-39.
Siregar, T.N. Hamdan, E. Rahmi, dan A. Say.rti.
2002. Sosialisasi dan
PenerapanBioteknologi Inseminasi Buatan pada
Kambing di
Desa Tanjung Selamat Darussalam.Laporan
Pengabdian.LPM-Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh,
Silegar, T.N., G. Riady, Al Azhar, H. Budirnan,
dan T.
Armansyah.2001.
Pengaruhpemberian prostaglandin F. alfa terhadap tampilan reproduksi kambing lokal. J.
Medika
Vet
I (2):61-65.Siregar,
T.N., N. Areuby, G. Riady,
danAmiruddin. 2004. Efek
PemberianPMSG terhadap respon ovarium dan kualitas embrio kambing lokal prcpuber' Media Kedokteran Hervan. 20(3): I 08-
112.
Siregar,
T.N., S.
Hafiantyo, dan Sugijanto.1999. lnduksi orulasi kambing kacang prepuber dengan
PMSG dan
hCGAgrosains. l2( I ):35-48.
Siregar, T.N., T. Armansyah,
A.
Sa1'uti, dan Syafruddin. 2010. Tampilan reproduksi kambing lokal yang mengalami induksiberahi dengan sistem
sinkronisasi singkat.Jurnal Veteriner.
11( I ):3 0- 35.Sumandia,
I.N.
1988. Transfer Embrio padaKambing
Kacang. Tesis. PPS-UGM, Yogyakarla.Sumoprastowo, M. 1980. Beternak Kambing
yang Berhasil. Bharatara
KarYaAksara. Jakarta.
Sunaryo,
B.
1994. Pengaruh PenggunaanPGF,cr Alpha dan GnRH Sintetik untuk Optirnalisasi Hasil Inseminasi Buatan
pada Kambing PE. SkriPsi.
FKH, UGM, Yogyakarta.Suyadi.2003. Potensi
ReP roduksi Ternak Kambing dan Domba.
Makalah disampaikan pada Seminar
Regional "Prospek
PengembanganTernak Kambing/Domba di
Indonesia" dr Fakultas
PeternakanUniversitas
Brawijaya, Malang,
25 Oktober 2003.Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung.
59
Jumal Kedokteran Hewao Vol. 4 No. 2, September 2010
Towle T.A., P.C. Tsang, R.A. Milvae, M.K.
Newbury
and J.A. Mccracken. 2002.Dynamic in vivo
changesin
tissue inhibitorsof
metalloproteinasesI
and2, and matrix metalloproteinase 2 and 9,
during prostaglandin
F(2a1pha)-induced luteolysis in
sheep.Biol.
Reprod. 66(5): 1515-1521.
Uly, K.
1997.
Respon Berahi dan AngkaKebuntingan Kambing PE
denganPemberian PGF,cr Alpha
sec araIntramuskular dan
Intravulvasubmukosal. Tesis,
PPS- UGM, Yogyakarta.60