• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perjudian Online Di Indonesia (Studi Putusan Pn Binjai No.268 PID.B 2015 PN BNJ)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perjudian Online Di Indonesia (Studi Putusan Pn Binjai No.268 PID.B 2015 PN BNJ)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PENGATURAN TINDAK PIDANA JUDI ONLINE DI INDONESIA A. Pengaturan Tindak Pidana Judi

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang -Undang Hukum Pidana ( KUHP )

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana (KUHP) dalam Bab XIV tentang kejahatan terhadap kesopanan

pada Pasal 303 dan Pasal 303 bis menetapkan perjudian sebagai perbuatan yang

dilarang. Kejahatan mengenai perjudian yang pertama dirumuskan dalam Pasal

303 KUHP yang rumusannya yaitu:

a. Pasal 303 KUHP

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda

paling banyak dua puluh lima juta rupiah, barang siapa tanpa mendapat izin:

a) dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan untuk

permainan judi dan menjadikannya sebagai pencaharian, atau dengan

sengaja turut serta dalam suatu perusahaan untuk itu.

b) dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak

umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam

perusahaan untuk itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan

kesempatan adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu tata cara;

c) menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai pencarian.

(2) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan

(2)

(3) Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana pada

umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntungan

belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk

segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya

yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain,

demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Rumusan kejahatan dalam Pasal 303 KUHP tersebut diatas, ada lima macam

kejahatan mengenai hal perjudian (hazardspel), dimuat dalam ayat (1) :

a) butir 1 ada dua macam kejahatan;

b) butir 2 ada dua macam kejahatan;

c) butir 3 ada satu macam kejahatan.

Pasal 303 ayat (2) KUHP memuat tentang dasar pemberatan pidana, dan Pasal

303 ayat (3) KUHP menerangkan tentang pengertian permainan judi yang

dimaksudkan oleh ayat (1). KUHP sendiri tidak memuat tentang bentuk-bentuk

permainan judi tersebut secara rinci.

Menurut R.Soesilo42

42

R. Soesilo, Op.Cit., hal. 222

dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

(KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal memberikan

komentar terhadap Pasal ini mengenai yang biasa disebut sebagai hazardspel ialah

seperti permainan dadu, selikuran, jemeh, roulette, bakarat, kemping keles,

keplek, tombola.Juga termasuk totalisator pada pacuan kuda, pertandingan

sepakbola dan sebagainya. Namun tidak termasuk hazardspel seperti domino,

(3)

mengenai perjudian tersebut diatas, dalam Pasal 303 KUHP mengandung unsur

tanpa izin. Pada unsur tanpa izin inilah melekat sifat melawan hukum dari semua

perbuatan dalam lima macam kejahatan mengenai perjudian itu. Artinya tidak

adanya unsur tanpa izin, atau jika telah ada izin dari pejabat atau instansi yang

berhak memberikan izin, semua perbuatan dalam rumusan tersebut hapus sifat

melawan hukumnya, sehingga tidak dipidana. Untuk itu dimaksudkan agar

pemerintah atau pejabat pemerintah tetap melakukan pengawasan dan pengaturan

tentang perjudian.

b. Pasal 303 bis KUHP

Semula rumusan kejahatan Pasal 303 bis KUHP berupa pelanggaran dan

dirumuskan dalam Pasal 542 KUHP tentang judi di jalanan umum.Namun melalui

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian.Diubah

menjadi kejahatan dan diletakkan pada Pasal 303 bis KUHP. Dengan adanya

perubahan tersebut, ancaman pidana yang semula yang berupa kurungan

maksimum satu bulan atau denda maksimum Rp. 4.500,00 dinaikkan menjadi

pidana penjara maksimum empat tahun atau denda maksimum Rp. 10.000.000,00

(sepuluh juta rupiah). Kejahatan mengenai perjudian yang kedua dirumuskan

dalam Pasal 303 bis KUHP yang rumusannya yaitu:

1. Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau

pidanadenda paling banyak sepuluh juta rupiah:

2. Barang siapa menggunakan kesempatan main judi, yang diadakan

(4)

3. Barang siapa ikut serta main judi di jalan umum atau di pinggir jalan

umum atau di tempat yang dapat dikunjungi umum, kecuali kalau

adaizin dari penguasa yang berwenang yang telah memberi izin untuk

mengadakan perjudian itu.

Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat dua tahun sejak

adapemidanaan yang menjadi tetap karena salah satu dari pelanggaran ini, dapat

dikenakan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling

banyak lima belas juta rupiah.Mengenai kejahatan perjudian yang dimuat dalam

ayat (1), ada dua bentuk kejahatan sebagaimana yang dirumuskan pada butir 1 dan

2, yaitu:

1. Kejahatan Pertama

Kejahatan pertama yang dimuat dalam Pasal 303 bis ayat (1) butir 1

KUHP, terdapat unsur-unsur sebagai berikut:

a. Perbuatannya: bermain judi;

b. Dengan menggunakan kesempatan yang diadakan dengan

melanggar Pasal 303 KUHP.

Diantara lima bentuk kejahatan mengenai perjudian dalam Pasal 303 ayat (1),

ada dua bentuk kejahatan yang perbuatan materilnya berupa menawarkan

kesempatan dan memberikan kesempatan, yakni:

1. Perbuatan menawarkan kesempatan dan memberikan kesempatan untuk

bermain judi sebagai mata pencaharian.

2. Perbuatan menawarkan kesempatan dan memberikan kesempatan kepada

(5)

Dengan telah dilakukannya dua kejahatan diatas, terbukalah kesempatan untuk

bermain judi untuk siapa saja. Oleh sebab itu, barang siapa yang menggunakan

kesempatan itu untuk bermain judi, dia telah melakukan kejahatan Pasal 303 bis

KUHP yang pertama ini. Kejahatan Pasal 303 bis KUHP tidak berdiri sendiri,

melainkan bergantung pada terwujudnya kejahatan Pasal 303 KUHP. Tanpa

terjadinya kejahatan Pasal 303 KUHP, kejahatan Pasal 303 bis KUHP tidak

mungkin terjadi. Kejahatan memberi kesempatan seperti Pasal 303 KUHP diatas,

bisa saja dilakukan oleh satu orang, karena si pelaku bukanlah orang yang

bermain judi. Akan tetapi, padakejahatan Pasal 303 bis KUHP, tidaklah dapat

dilakukan oleh satu orang, karena perbuatan bermain judi tidak mungkin terwujud

tanpa hadirnyaminimal dua orang. Kejahatan ini termasuk penyertaan mutlak.

Penyertaan mutlak adalah suatu tindak pidana yang karena sifatnya untuk terjadi

mutlak diperlukan dua orang. Dalam kejahatan permainan judi ini, kedua-duanya

dipertanggungjawabkan dan dapat dipidana.

2. Kejahatan Kedua

Kejahatan kedua yang dimuat dalam Pasal 303 bis ayat (1) butir 2 KUHP,

terdapat unsur-unsur sebagai berikut:

a) Perbuatannya: ikut serta bermain judi;

b) Tempatnya:

1. di jalan umum;

2. di pinggir jalan umum;

3. di tempat yang dapat dikunjungi umum.

(6)

Apabila pada bentuk kejahatan kedua dan keempat pada Pasal 303 KUHP,

perbuatan turut serta dalam menjalankan usaha menawarkan kesempatan atau

memberikan perjudian, yang artinya si pelaku tidak ikut bermain judi. Akan tetapi

dalam Pasal 303 bis KUHP yang melakukan turut serta bermain judi adalah si

pelaku sendiri. Ikut serta bermain judi disini adalah ikut serta yang lain dari Pasal

303 KUHP. Maksudnya dalam Pasal 303 bis KUHP ini, pelaku harus terdapat dua

orang yang bersama-sama bermain judi ditempat yang disebutkan dalam bentuk

kejahatan kedua ini seperti di jalan umum, dipinggir jalan umum atau ditempat

yang dapat dikunjungi umum, yang telah memenuhi semua unsur tindak pidana

maka dapatlah disebut dua orang itu sama yakni turut serta bermain judi. Turut

serta yang dimaksud Pasal 303 bis KUHP tidak sama pengertiannya dengan orang

yang turut serta (medepleger) menurut Pasal 55 ayat (1) butir 1 KUHP dalam

pengertian luas, melainkan turut serta dalam arti sempit. Menurut Pasal 55 ayat

(1) butir 1 KUHP terdapat pembuat peserta (medepleger) dan pembuat pelaksana

(pleger), sedangkan menurut Pasal 303 bis KUHP ini ukurannya ialah tanpa

adanya dua orang yang perbuatannya memenuhi semua rumusan tindak pidana itu

tidaklah mungkin tindak pidana itu terwujud secara sempurna atau dengan kata

lain kedua orang itu kualitasnya sama sebagai turut serta bermain judi.43

43

Adami Chazawi,Tindak Pidana Mengenai Kesopanan,(PT Raja Grafindo Persada, Jakarta),2005,hal. 171

Pengertian di pinggir jalan umum adalah di tepi jalan, misalnya di trotoar atau

beberapa meter dari jalan. Di tempat lain yang dapat dikunjungi oleh umum,

misalnya di lapangan bola, atau di warung dan lain sebagainya. Dapat dikunjungi

(7)

dilakukan oleh setiap orang tanpa ada kesukaran atau hambatan.Dalam kejahatan

pertama tidak disebutkan adanya unsur tanpa mendapatkan izin, karena menurut

Pasal 303 KUHP perbuatan menawarkan kesempatan atau memberikan

kesempatan bermain judi itu sendiri memang harus tanpa izin, sudah tentu orang

yang menggunakan kesempatan yang diadakan menurut Pasal 303 KUHP, juga

dengan sendirinya sudah tanpa izin. Lain halnya dengan kejahatan kedua menurut

Pasal 303 bis KUHP ini, harus disebutkan tanpa izin, walaupun rumusannya

dengan kalimat yang lain yakni kecuali ada izin. Sebab jika tidak ditambahkan

unsur demikian, setiap bentuk pemainan judi maka dijatuhi pidana, dan ini tidak

sesuai dengan konsep perjudian menurut KUHP, karena permainan judi hanya

menjadi larangan apabila tanpa izin. Pasal 303 ayat (2) bis KUHP adalah

mengenai residive perjudian, maka setiap orang yang menjadi residivis tindak

pidana perjudian dikenakan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana

denda paling banyak lima belas juta rupiah.Pemberian izin oleh Pemerintah di

masa lalu inilah yang membuat praktik perjudian itu semakin lama semakin

berkembang dan sulit untuk dikordinir, sehingga membuat keresahan dan

ketidaktertiban di masyarakat selain daripada akses-akses negatif lainnya. Konsep

mengenai perjudian menurut KUHP aslinya adalah konsep orang Belanda yang

berbeda dengan konsep mengenai perjudian menurut nilai-nilai yang hidup dalam

masyarakat Indonesia yang kuat dipengaruhi oleh norma-norma agama dan norma

lain yang hidup menurut masyarakat Indonesia. Setelah Pemerintah mengeluarkan

Undang-Undang No 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian, sesuai dengan

(8)

peraturan yang baru mengenyampingkan Undang-Undang atau peraturan yang

lama, maka ketentuan yang ada dalam KUHP itu dapat dikesampingkan demi

tercapainya keamanan dan ketertiban masyarakat.

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian

Pengaturan mengenai tindak pidana perjudian yang kedua dalam hukum

positif di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang

Penertiban Perjudian. Undang-undang ini menyatakan semua tindak pidana

perjudian adalah sebagai kejahatan. Pemerintah mengeluarkan undang-undang ini

dimaksudkan menggunakan kebijaksanaan-kebijaksanaan untuk menertibkan

perjudian, hingga akhirnya menuju kepenghapusan perjudian sama sekali dari

seluruh wilayah Indonesia. Dalam KUHP tidak ada menjelaskan secara rinci apa

yang dimaksud sebagai kejahatan, tetapi dimuat dalam Buku II KUHP Pasal 104

sampai dengan Pasal 488 KUHP. Semua jenis kejahatan diatur dalam Buku ke- II

KUHP. Meski demikian, masih ada jenis kejahatan yang diatur di luar KUHP,

yang dikenal dengan tindak pidana khusus misalnya tindak pidana korupsi,

narkotika, terorisme, tindak pidana ekonomi. Bonger menayatakan bahwa

kejahatan adalah merupakan perbuatan anti sosial yang secara sadar mendapat

reaksi dari negara berupa berupa pemberian derita dan kemudian sebagai reaksi

terhadap rumusan-rumusan hukum (legal definitions) mengenai kejahatan.44

Dengan undang-undang ini diatur beberapa perubahan beberapa Pasal dalam

KUHP yang berkaitan dengan tindak pidana perjudian yaitu :

44

(9)

a. Semua tindak pidana perjudian dianggap sebagai kejahatan.Dengan

ketentuan ini, maka Pasal 542 KUHP tentang tindak pidana

pelanggaran perjudian yang diatur dalam Buku III tentang Pelanggaran

dimasukkan dalam Buku II tentang Kejahatan dan ditempatkan dalam

Buku II setelah Pasal 303 KUHP dengan sebutan Pasal 303 bis KUHP.

b. Memperberat ancaman pidana bagi pelaku bandar perjudian dalam Pasal

303 ayat (1) KUHP dari pidana penjara maksimal 2 tahun 8 bulan atau

denda maksimal Rp. 90.000,- menjadi pidana penjara maksimal 10 tahun

dan denda maksimal Rp. 25.000.000,-. Di samping pidana dipertinggi

jumlahnya (2 tahun 8 bulan menjadi 10 tahun dan Rp. 90.000,- menjadi

Rp. 25.000.000,-) sanksi pidana juga diubah dari bersifat alternatif

(penjara atau denda) menjadi bersifat kumulatif (penjara dan denda).

c. Memperberat ancaman pidana dalam Pasal 542 ayat (1) tentang

perjudian dalam KUHP dari pidana kurungan maksimal 1 bulan atau

denda maksimal Rp. 4.500,- menjadi pidana penjara maksimal 4 tahun

atau denda maksimal Rp. 10.000.000,-. Pasal ini kemudian menjadi Pasal

303 bis ayat (1) KUHP.

d. Memperberat ancaman pidana dalam Pasal 542 ayat (2) KUHP tentang

residive perjudian dalam KUHP dari pidana kurungan maksimal 3 bulan

atau denda maksimal Rp. 7.500,- menjadi pidana penjara maksimal 6

tahun atau denda maksimal Rp. 15.000.000,-. Pasal ini kemudian menjadi

(10)

Maksud diberlakukannya undang-undang tersebut ialah dikarenakan

pengaturan yang ada di dalam KUHP lama sudah tidak relevan lagi diberlakukan

dikarenakan hukuman yang diberikan tidak dapat membuat efek jera seiring

berkembangnya jaman.

3. Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1981 tentang pelaksanaan Undang – undang no. 7 tahun 1974 tentang penertiban perjudian

Di dalam peraturan pemerintah ini bahwasanya penertiban perjudian

sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang

Penertiban Perjudian (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 54, Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3040) di maksudkan untuk membatasi perjudian sampai

lingkungan sekecil-kecilnya untuk akhirnya menuju ke penghapusan sama sekali

dari seluruh Wilayah Indonesia, dan berdasarkan perkembangan keadaan pada

saat sekarang ini dipandang sudah tiba waktunya untuk mengupayakan

penghapusan segala bentuk dan jenis perjudian di seluruh Wilayah Indonesia,

untuk maksud tersebut dan dalam rangka mengatur tentang 75 pelaksanaan

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian dipandang

perlu untuk melarang pemberian izin penyelenggaraan perjudian dalam suatu

Peraturan Pemerintah.

Sesuai dengan peraturan pemerintah ini di dalam Pasal 1 ayat (1) dan (2)

dijelaskan bahwa :

(1) Pemberian izin penyelenggaraan segala bentuk dan jenis perjudian dilarang,

baik perjudian yang diselenggarakan di kasino, di tempat-tempat keramaian,

(11)

(2) lzin penyelenggaraan perjudian yang sudah diberikan, dinyatakan dicabut dan

tidak berlaku lagi sejak tanggal 31 Maret 1981.45

Dengan diberlakukannya peraturan pemerintah ini segala peraturan

pemerintah yang bertentangan dengan peraturan ini dianggap sudah tidak berlaku

lagi, dan diharapkan dapat menekan angka perjudian yang ada di Indonesia.

Menurut penjelasan yang ada pada peraturan pemerintah tersebut yakni pada Pasal

1 ayat (1) Bentuk dan jenis perjudian yang dimaksud dalam Pasal ini, meliput i :

a. Perjudian di Kasino, antara lain terdiri dari :

1) Roulette;

2) Blackjack;

3) Baccarat;

4) Creps;

5) Keno;

6) Tombola;

7) Super Ping-pong;

8) Lotto Fair;

9) S a t a n;

10) Paykyu;

11) Slot machine (Jackpot);

12) Ji Si Kie;

13) Big Six Wheel;

14) Chuc a Luck

45

(12)

15) Lempar paser/bulu ayam pada sasaran atau papan yang berputar (Paseran);

16) Pachinko;

17) Poker;

18) Twenty One;

19) Hwa-Hwe;

20) Kiu-kiu.

b. Perjudian di tempat-tempat keramaian, antara lain terdiri dari perjudian

dengan:

1) Lempar paser atau bulu ayam pada papan atau sasaran yang tidak bergerak;

2) Lempar Gelang;

3) Lempar Uang (Coin);

4) Kim;

5) Pancingan;

6) Menembak sasaran yang tidak berputar;

7) Lempar bola;

8) Adu ayam;

9) Adu sapi;

10) Adu kerbau;

11) Adu domba/kambing;

12) Pacu kuda;

13) Karapan sapi;

14) Pacu anjing;

(13)

16) Mayong/Macak;

17) Erek-erek.

c. Perjudian yang dikaitkan dengan alasan-alasan lain, antara lain perjudian yang

dikaitkan dengan kebiasaan;

1) Adu ayam;

2) Adu sapi;

3) Adu kerbau;

4) Pacu kuda;

5) Karapan sapi;

6) Adu domba/kambing.

d. Tidak termasuk dalam perngertian penjelasan Pasal 1 huruf c termaksud

diatas, apabila kebiasaan yang bersangkutan berkaitan dengan upacara

keagamaan, dan sepanjang hal itu tidak merupakan perjudian.

Pasal 1 ayat (2):

Izin penyelenggaraan perjudian yang dimaksud dalam ayat ini baik yang

diberikan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah sesuai dengan

kewenangan masing-masing. Termasuk dalam ketentuan pasal ini segala

bentuk judi buntut sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Nomor

133 Tahun 1965 yang menetapkan permainan judi buntut sebagai kegiatan

subversi. Ketentuan pasal ini mencakup pula bentuk dan jenis perjudian yang

mungkin akan timbul di masa yang akan datang sepanjang termasuk katagori

perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 303 ayat (3) Kitab

(14)

B. Pengaturan Tindak Pidana Judi Online.

Undang – Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

Pengaturan tindak pidana judi online di atur dalam Undang-undang No. 11

Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Perkembangan dunia

teknologi informasi dengan adanya internet menimbulkan banyak bentuk

kejahatan baru yang merubah kejahatan konvensional menjadi lebih modern,

termasuk dalam perjudian yakni perjudian melalui internet (internet gambling).

Dalam Undang-undang ini diatur pada Pasal 27 yang terdiri dari empat ayat

dan masing- masing ayat mengatur tindak pidana yang berbeda. Pasal 27 ayat (1)

mengatur perbuatan “dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau

menstransmisikan dan/atau membuat dapat di aksesnya informasi elektronik

dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan”.

Pasal 27 ayat (2) mengatur perbuatan “dengan sengaja dan tanpa hak

mendistribusikan dan/atau menstransmisikan dan/atau membuat dapat di aksesnya

informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan

perjudian”. Pasal 27 ayat (3) mengatur perbuatan “dengan sengaja dan tanpa hak

mendistribusikan dan/atau menstransmisikan dan/atau membuat dapat di aksesnya

informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan

penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”. Pasal 27 ayat (4) mengatur

perbuatan” dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau

(15)

dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau

pengancaman”.46

Berdasarkan rumusan tersebut, ketentuan Pasal 27 merupakan ketentuan yang

mengatur content-related offences yaitu tindak pidana yang memiliki muatan

beberapa tindak pidana kesusilaan (Pasal 282 dan Pasal 283 KUHP), perjudian

(Pasal 303 KUHP), penghinaan atau pencemaran nama baik (Pasal 310 dan Pasal

311 KUHP), dan pemerasan atau pengancaman (Pasal 368 dan Pasal 369

KUHP).47

a. Ada taruhan;

Perumusan perbuatan dalam Pasal 27 pada dasarnya merupakan

revormulasi tindak pidana yang terdapat dalam pasal-pasal KUHP tersebut.

Perjudian dalam KUHP diartikan sebagai tiap-tiap permainan, diamana pada

umumnya kemungkinan mendapat untung tergantung pada peruntungan belaka,

juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Dengan mengacu pada

pengertian tersebut , kriteria suatu permainan termasuk perjudian adalah :

b. Ada hadiah;

c. Kesempatan ada menang karena peruntungan;

d. Berdasarkan pada keahlian pemain.48

Pada Pasal 45 dalam Undang-undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi

dan Transaksi Elektronik ini dijelaskan bahwa pengaturan tindak pidana perjudian

online ini dapat diberikan sanksi berupa kurungan maksimal selama 6 (enam)

46

Sigid Suseno ,Yurisdiksi Tindak Pidana Siber, (Bandung : Rafika Aditama), 2012,hal.166

47

(16)

tahun penjara dan denda maksimal sebesar Rp.1.000.000.000,- (satu miliar

rupiah).

C. Korelasi Antara KUHP dan UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik Dalam Pengaturan Tindak Pidana Judi Online

Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan

Transaksi Elektronik tidak dapat lepas dari pelaksanaan undang-undang atau

peraturannya lainnya. Karena Undang-undang ini hanya mengkualifikasikan

tindak pidana dan melakukan ancaman terhadap pelaku tindak pidana, dan

beberapa pengertian khusus (misalnya pengertian dokumen elektronik,

telekomunikasi). Sedangkan pengertian-pengertian umum harus mengacu pada

ketentuan KUHP sebagai pengaturan umum.49

Hukum pidana material yang berlaku di Indonesia saat ini terdiri atas

keseluruhan sistem peraturan perundang-undangan (statutory rules) yang ada

dalam KUHP (sebagai induk aturan umum), dan undang-undang di luar KUHP.

Dalam KUHP terdiri atas aturan umum (general rules), yaitu dalam Buku I, dan

aturan khusus (special rules), yaitu dalam Buku II dan Buku III. Selain itu,

aturan khusus juga ada dalam undang-undang pidana yang tersebar di luar

KUHP.50

49

Miftahul Farida Ruslan, Op.Cit, 2013 ,hal.62

50

Barda Nawawi Arief, Beberapa Masalah Perbandingan Hukum Pidana , (Jakarta : Raja Grafindo Persada), 2003 hal. 260

Dalam menerapkan Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik ini banyak ketentuan hukum yang terkait,

karena undang-undang tersebut merupakan undang-undang khusus di luar KUHP

(17)

ketentuan-ketentuan umum untuk menerapkan Undang-undang No. 11 Tahun

2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ini harus merujuk pada

undang-undang yang bersifat umum yaitu KUHP dan undang-undang-undang-undang lainnya. Lebih

jelasnya dapat diuraikan mengenai penjabaran tentang unsur “setiap orang” dan

“tanpa hak” pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik. Pengertian tentang “setiap orang” dan

“tanpa hak” merujuk pada Buku I KUHP. Sedangkan pengertian unsur

“muatan perjudian” merujuk pada Buku II KUHP (Pasal 303 dan Pasal 303 bis).

Selanjutnya pengaturan tentang pidana dan penjatuhannya sebagaimana diatur

dalam Pasal 45 ayat (1) Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi

dan Transaksi Elektronik merujuk pada Buku I KUHP.51

1. Pasal 303

Selanjutnya, untuk memahami tentang “unsur-unsur perjudian dan ancaman

pidananya perlu dipahami sebagai perbandingan bukan dikaitkan (juncto), karena

dalam Undang-undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik sudah ada ancaman pidana sendiri.

Unsur-unsur tindak pidana perjudian itu sendiri tidak diatur didalam

Undang-undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, melainkan

diatur didalam KUHP, untuk mengetahui tentang unsur “muatan perjudian,” harus

dirujuk Pasal 303 dan 303 bis didalam KUHP diatur sebagai berikut :

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda

(18)

a) Dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan untuk

permainan judi dan menjadikannya sebagai pencaharian, atau dengan

sengaja turut serta dalam suatu perusahaan untuk itu;

b) Dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan

c) kepada khalayak umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta

dalam perusahaan untuk itu, dengan tidak peduli apakah untuk

menggunakan kesempatan adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu

tata cara menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai mata

pencaharian.

(2) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam melakukan

pencahariannya, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencaharian itu.

(3) Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana pada

umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntungan

belaka, juga karena permainannya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ

termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan

lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain,

demikian juga segala pertaruhan lainnya.

2. Pasal 303 bis

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda

paling banyak sepuluh juta rupiah :

a) Barang siapa menggunakan kesempatan main judi, yang diadakan dengan

(19)

b) Barang siapa ikut serta main judi di jalan umum atau di pinggir jalan

umum atau di tempat yang dapat dikunjungi umum, kecuali kalau ada

izin dari penguasa yang berwenang yang telah memberi izin untuk

mengadakan perjudian itu.

(2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat dua tahun sejak ada

pemidanaan yang menjadi tetap karena salah satu dari pelanggaran ini, dapat

dikenakan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling

banyak lima belas juta rupiah.

Kemudian ketentuan yang ada pada Undang-undang No. 7 Tahun 1974

tentang Penertiban Perjudian. Menitikberatkan mengenai pencabutan segala

perizinan terhadap tindak pidana perjudian yang mulanya diperbolehkan apabila

telah mendapatkan izin, sesuai dengan Pasal 1 Undang-undang No. 7 Tahun 1974

tentang Penertiban Perjudian yang memiliki isi sebagai berikut, menyatakan

semua tindak pidana perjudian sebagai kejahatan. Kemudian didalam Pasal 2

Undang-undang No 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian tersebut

dijelaskan berbagai perubahan terhadap peraturan yang ada didalam KUHP yakni:

1) Mengubah ancaman hukuman dalam Pasal 303 ayat (1) Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana, dari hukuman penjara selama-lamanya dua (2)

tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya sembilan puluh

ribu rupiah menjadi hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau

denda sebanyak-banyaknya dua puluh lima juta rupiah;

2) Mengubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat (1) Kitab Undang-

(20)

bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah,

menajadi hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda

sebanyak-banyaknya sepuluh juta rupiah;

3) Mengubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat (2) Kitab Undang-

Undang Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya tiga

bulan atau denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah menjadi

hukuman penjara selama-lamanya enam tahun atau denda sebanyak-

banyaknya lima belas juta rupiah;

4) Mengubah sebutan Pasal 542 menjadi Pasal 303 bis.

Untuk mengetahui jenis-jenis perjudian, wajib dikaitkan dengan isi Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia No. 9 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan Penertiban

Perjudian, yaitu pada Penjelasan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 9

Tahun 1981 tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian tersebut, sehingga dapat

disimpulkan, meskipun Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi

dan Transaksi Elektronik sudah diberlakukan, namun undang-undang ini masih

bergantung dengan peraturan hukum lainnya.52

52

Referensi

Dokumen terkait

Emulsifier fase minyak merupakan bahan tambahan yang dapat larut dalam minyak yang berguna untuk menghindari terpisahnya air dari emulsi air

Dengan menekan DISC BURN (hlm. 17) pada Handycam Station, anda dapat menyimpan gambar yang direkam pada camcorder anda ke disk pada komputer anda.. x Meng-import gambar yang

Analisa Faktor Riwayat Kontrasepsi pada Wanita Peserta Program Penapisan Kanker Leher Rahim Dengan Pendekatan "See & Treat" : Untuk Deteksi Lesi Prakanker dan

Beberapa keuntungan penggunaan enzim dalam pengolahan pangan adalah aman terhadap kesehatan karena bahan alami, mengkatalisis reaksi yang sangat spesifik tanpa efek

Hasil yang diharapkan dari simulasi perhitungan aliran daya ini adalah besar tegangan, daya aktif, daya reaktif, pada setiap bus pada jaringan distribusi 20 KV

Aplikasi pendeteksi kerusakan pada Air Conditioner ruangan berbasis Android dengan menggunakan teorema bayes memiliki fitur untuk melakukan konsultasi dimana sistem memberikan

(2006).”Voltage Control and Voltage Stability of Power Distribution Systems in the Presence of Distributed Generation ”, Goteborg: Thesis for The Degree of Licentiate

[r]