Pertumbuhan dan perkembangan pada remaja

15 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Tinjauan Pustaka

Pola Pertumbuhan dan Perkembangan pada Remaja

Agnes Christie 10-2011-396 / A5

16 Oktober 2013 Alamat Korespendensi:

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510 Telp 021-56942061 Fax. 021-5631731

Email: aggnnneeeesssss@yahoo.com

Pendahuluan

Setiap manusia pasti akan mengalami siklus kehidupannya. Dimulai dari saat terbentuknya janin dalam rahim, lalu menjadi bayi, anak, remaja, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Dalam siklusnya, manusia akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan, baik yang dapat dilihat secara kuantitatif, maupun secara kualitatif. Pertumbuhan perubahan tubuh yang bersifat kuantitatif dan perkembangan adalah perubahan yang bersifat kualitatif. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan ini, banyak hal yang mempengaruhinya, seperti faktor herediter, lingkungan, dan internal.1 Faktor ini yang nantinya akan menentukan akan menjadi seperti apa seseorang. Tahap perkembangan dan pertumbuhan anak juga akan berubah sesuai dengan tahapan usianya, akan tetapi tidak semua anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sama. Namun, adapula manusia mengalami perkembangan yang sempurna. Ada juga beberapa manusia yang mengalami gangguan dalam perkembangannya, baik perkembangan fisik, maupun perkembangan mental dan emosinya. Gangguan yang terdapat pada diri individu dapat dipengaruhi karena berbagai macam faktor baik eksternal, maupun internal.1

(2)

Anamnesis

Anamnesis adalah tahap awal dari rangkaian pemeriksaan pasien dapat dilakukan baik secara langsung pada pasien (auto-anamnesis), maupun secara tidak langsung melalui keluarga atau relasi terdekat (allo-anamnesis). Tujuan anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan.

Hal-hal yang bersangkutan dengan anamnesis yaitu :

1. Identitas pasien seperti nama, tempat / tanggal lahir, status perkawinan, pekerjaan, jenis kelamin, suku bangsa, agama, pendidikan terakhir, dan alamat.

2. Pernyataan dalam bahasa pasien tentang keluhan yang dialami: malu bergaul dengan teman seusianya sejak masuk SMA

3. Riwayat penyakit sekarang (RPS):

-4. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD): kapan pasien mengalami haid, bagaimana hubungan pasien dengan orang tua, bagaimana hubungan pasien dengan teman sebaya, bagaimana hubungan pasien dengan lingkungan sekitar, apakah pasien mengalami masalah moral maupun masalah seksual.

5. Riwayat sosial: stressor (lingkungan rumah, sekolah, dan sekitar), faktor resiko gaya hidup (narkotika, merokok, peminum, dll).2

Pemeriksaan Fisik

- Tanda-tanda vital :  Tekanan darah

 Frekuensi denyut nadi  Frekuensi pernapasan  Suhu

Perkembangan Psikoseksual

(3)

dibuat berdasarkan teori Freud,teori ini dikenal sebagai teori perkembangan psikososial dan menekankan pada kepribadian yan sehat, bertentangan dengan pendekatan patologik. Erikson juga menggunakan konsep-konsep biologis tentang periode kritis dan epigenesis, menjelaskan konflik atau masalah inti yang harus dikuasai individu selama periodekritis dalam perkembangan kepribadian. Pendekatan tentang kehidupan Erikson terhadap perkembangan kepribadian terdiri atas delapan tahap; namun, hanya lima yang berkaitan dengan masa anak sampai remaja, yaitu:

Percaya vs tidak percaya (lahir-1 tahun)

Hal pertama yang paling penting bagi perkembangan kepribadian yang sehatadalah rasa percaya dasar. Pembentukan rasa percaya dasar ini mendominasi tahun pertama kehidupan dan menggambarkan semua pengalaman kepuasananak pada usia ini. Berkaitan dengan tahap oral Freud, saat ini merupakan saatuntuk mendapatkan dan mengambil apapun melaui semua indera. Hal ini hanyaterjadi dalam kaitannya dengan sesuatu atau seseorang; oleh karena itu asuhanyang konsisten dan penuh kasih oleh orang yang berperan sebagai ibumerupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan rasa percaya. Rasa tidak percaya terjadi jika pengalaman yang meningkatkan tidak terpenuhnya rasa percaya atau jika kebutuhan dasar tidak dipenuhi secara konsisten atau adekuat.Meskipun pecahan-pecahan rasa tidak percaya terjadi di seluruh kepribadian,namun rasa percaya dasar terhadap orang tua membentuk rasa pecaya terhadapdunia, orang lain, dan diri sendiri. Hasilnya adalah kepercayaan dan optimisme.

Autonomi vs malu-malu dan ragu-ragu

(4)

membahayakan, atau ketika merek dipaksa untuk bergantung dalam beberapahal yang sebenarnya mereka mampu melakukannya. Hasil yang diharapkan adalah kontrol diri dan ketekunan.

Inisiatif vs rasa bersalah (3-6 tahun)

Tahap inisiatif berkaitan dengan tahap falik Freud dan dicirikan dengan perilaku yang isntrisif dan penuh semangat, berani berupaya dan imajinasi yang kuat. Anak-anak mengeksplorasi dunia fisik dengan semua indera dan kekuatan mereka. Mereka membentuk suara hati. Tidak lagi hanya dibimbing oleh pihak luar, terdapat suara dari dalam yang memperingatkan dan mengancam. Anak-anak terkadang memiliki tujuan atau melakukan aktivitas yang bertentangan dengan yang dimiliki orang tua atau orang lain, dan dibuat merasa bahwa aktivitas atau imajinasi mereka merupakan hal yang buruk sehingga menimbulkan rasa bersalah. Anak-anak harus belajar mempertahankan rasa inisiatif tanpa mengenai hak dan hak istimewa orang lain. Hasil akhirnya adalah arahan dan tujuan.

Industri vs inferioritas (6-12 tahun)

Tahap industri adalah epriode laten dari Freud. Setelah mencapai tahap yanglebih penting dalam perkembangan kepribadian, anak-anak siap untuk bekerjadan berproduksi.Mereka mau terlibat dalam tugas dan aktivitas yang dapat mereka lakukansampai selesai; mereka memerlukan dan menginginkan pencapaian yang nyata. Anak-anak belajar berkompetisi dan bekerja sama dengan orang lain, danmereka juga mempelajari aturan-aturan. Periode ini merupakan periode pemantapan dalam hubungan sosial mereka dengan orang lain. Rasa ketidakadekuatan atau inferioritas dapat terjadi jika terlalu banyak yangdiharapka dari mereka atau jika mereka percaya bahwa mereka tidak dapatmemenuhi standar yang ditetapkan orang lain untuk mereka. Kualitas ego yang berkembang dari rasa industri adalah kompetensi.

Identitas vs kebingungan (12-18 tahun)

(5)

terpaku dengan penampilan mereka di mata orang laindibandingkan dengan kosnep diri mereka. Remaja berusaha menyesuaikan diridengan peran yang mereka mainkan dan mereka berharap dapat bermain dalam peran dan gaya terbaru yang dilakukan oleh teman-teman sebaya mereka, untuk mengintegrasikan konsep dan nilai-nilai mereka terhadap lingkungan, dan pembuatan keputusan tentang okupasi. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan konflik ini menyebabkan terjadinya kebingungan peran. Hasil dari penguasaanyang sukses adalah kesetiaan dan ketaatan terhadap orang lain serta terhadapnilai-nilai dan ideologi.3

Perkembangan Psikososial

Perkembangan psikososial adalah perkembangan mental emosianal seseorang dalamusahanya menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pengalamannya. Perkembangan psikososial menurut freud di bagi menjadi 5 tahap:

1. Tahap oral (0-1 tahun)

Selama masa bayi sumber utama mencari kesenangan berpusat pada aktivitas oralseperti mengisap, menggigit, mengunyah dan berbicara. Anak boleh memilih darisalah satu yang disebutkan ini, dan metode pemuasan kebutuhan oral yang dipilihdapat memeberikan beberapa indikasi kepribadian yang sedang mereka bentuk. 2. Tahap anal (1-3 tahun)

Ketertarikan selama tahun kedua kehidupan berpusat pada bagian anal saat otot-otot sfingter berkembang dan anak-anak mampu menahan atau mengeluarkanfeses sesuai keinginan. Pada tahap ini suasana di sekitar toilet training dapatmenimbulkan efek seumur hidup pada kepribadian anak.

3. Tahap falik (3-6 tahun)

Selama tahap falik, genital menjadi alat tubuh yang menarik dan sensitif. Anak mengetahui perbedaan jenis kelamin dan menjadi ingin tahu tentang perbedaan tersebut. Pada periode ini terjadi masalah yang kontroversi tentang Cedipus dan Electra kompleks, pelvis envy, dan ansietas terhadap kastrasi.

(6)

Selama periode laten anak-anak melakukan sifat dan keterampilan yang telahdiperoleh. Energi fisik dan psikis diarahkan pada mendapatkan pengetahuan dan bermain.

5. Tahap genital (12 tahun keatas)

Tahap signifikan yang terakhir dimulai pada saat pubertas dengan maturasi sistemreproduksi dan produksi hormon-hormon seks. Organ genital menjadi sumber utama ketegangan dan kesenangan seksual, tetapi energi juga digunakan untuk membentuk persahabatan dan persiapan pernikahan.3

Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif berpusat pada perkembangan cara penerimaan dan mental anak. Menurut Piaget, anak-anak mencoba berusaha memahami hal-hal baru untuk mengembangkan pola pikir anak dan jika pemahaman anak tidak tercapai, maka anak akan berusaha untuk menyesuaikannya dengan cara membatasinya. Piaget mengidentifikasi 4(empat) tahapan utama perkembangan kognitif yaitu sensorimotor, pra-operasional, operasional konkrit dan operasional formal:4

1. Tahap Sensorimotor (lahir - 2 tahun)

Perkembangan kognitif bayi sampai kira-kira berusia 2 tahun pada umumnya mengandalkan observasi dari panca indera dan gerakan tubuh mereka. Satu tanda dari perkembangan ini adalah memahami objek tetap / permanen. Bayi berkembang dengan cara merespon kejadian dengan gerak refleks atau ’pola kesiapan’. Mereka belajar melihat diri mereka sebagai bagian dari objek yang ada di lingkungan.

2. Tahap Pra-operasional (2 - 7 tahun)

(7)

dunia difisik, kebingungan antara simbol dan objek yang mereka wakili, kemampuan untuk fokus pada satu dimensi pada satu waktu dan kebingungan tentang identitas orang dan objek.

3. Tahap Concrete Operational (6 atau 7 tahun - 12 tahun)

Pada tahap konkrit operasional, penambahan dan pengurangan dalam hitung-hitungan bukan merupakan aktivitas yang mudah. Konkrit operasional anak mengenal bahwa ada hubungan antara angka-angka dan bahwa operasi dapat dilaksanakan menurut aturan tertentu. Pada tahap ini anak menunjukkan permulaan dari kapasitas logika orang-orang dewasa. Mereka mengerti aturan dasar dari logika. Bagaimanapun juga, proses berfikir, atau operasi, pada umumnya melibatkan objek yang kelihatan(konkrit) daripada ide yang abstrak. Egosentrisme pada tahap ini sudah mulai berkurang. Kemampuan mereka untuk menggunakan peran dari orang lain danmelihat dunia, dan mereka sendiri, dari perspektif orang-orang lain sudah berkembangdengan pesat. Mereka mengenal bahwa orang melihat sesuatu dengan cara yang berbeda, karena perbedaan situasi dan perbedaan nilai. Mereka dapat fokus pada lebihdari satu dimensi pada beberapa waktu. Pada tahap ini juga sudah menunjukkan pemahaman akan hukum kekekalan (konservasi).

4. Tahap Formal Operational (12 tahun ke atas)

Tingkat operasi formal merupakan tahapan terakhir dari skema Piaget, yang merupakan tingkatan dari kedewasaan kognitif. Formal operational biasanya dimulai pada masa pubertas, sekitar umur 11 atau 12 tahun. Akan tetapi tidak semua anak memasuki tingkatan ini pada saat pubertas, dan beberapa orang tidak pernah mencapainya. Tugas utama pada tahap ini meliputi kemampuan klasifikasi, berpikir logis, dan kemampuan hipotetis.4 Ada beberapa feature yang memberi remaja kapasitas lebih besar untuk memanipulasidan menghargai lingkungan luar dan dunia imajinasi yang mencakup pemikiranhipotetis, penyelesaian masalah yang sistematis, kemampuan untuk menggunakansimbol dan pemikiran deduksi. Remaja dapat memproyeksikan dirinya pada situasiyang melebihi pengalaman mereka saat itu, dan untuk alasan itu, mereka terbungkusdalam fantasi yang panjang.4

Perkembangan Moral

(8)

sesederhana itu, karena konsep tersebut mencakup tiga aspek kemampuan seseorang, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek perilaku. Seseoang dikatakan memiliki norma moralyang tinggi, bila ia mempunyai kesadaran dan pengertian mengenai kebutuhan atau perasaanorang lain, memiliki kepedulian dan mampu merasakan (affection, empathy) perasaan orang lain, dan mampu mengungkapkan pengrtia dan empati itu dalam perilakunya terhadap orang lain. Menurut Kohlberg, perkembangan moral itu terjadi secara gradual melalui 6 fase,menurut orientasi moralitas yang dominan digunakan :

a. Level penalaran pra-konvensional (0 - 9 tahun)

Pada tahap ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nila-nilai moral- penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Aturan dikontrololeh orang lain (eksternal) dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dantingkah laku yang buruk akan mendapatkan hukuman5

Fase 1: Orientasi hukuman dan ketaatan (Punishment and Obedienceorientation) Fase ini penalaran moral didasarkan atas hukuman dan anak taat karena orangdewasa menuntut mereka untuk taat.

Fase 2 : Orientasi Individualisme dan tujuan (Satisfaction of own needsorientation) Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.5

b. Level penalaran Konvensional ( 9 - 13 tahun )

Penalaran konvensional menaati standar-standar internal tertentu, tetapi tidak menaatistandar-standar orang lain (eksternal) seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat.

 Fase 3 : Norma-norma Interpersonal (Good boy, good girl orientation)Seseorang menghargai kebenaran/kepedulian/kesetiaan kepada orang lainsebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Seorang anak mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai yang terbaik.

 Fase 4 : Orientasi Moralitas Sistem Sosial (Law and Order Orientation)Mulai ada pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.

c. Level Penalaran Pasca-konvensional (13 tahun - meninggal)

(9)

 Fase 5 : Orientasi Hak-hak Masyarakat versus hak-hak individual (SocialContract Orientation) Nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relative dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain.

 Fase 6 : Orientasi Prinsip-prinsip etis universal (Universal Good Orientation) Seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan padahak-hak manusia universal. Bila seseorang menghadapi konflik antara hokum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati.5

Faktor Sosial Lain

1. Pola Asuh

Pola asuh adalah pola pengasuhan anak yang berlaku dalam keluarga, yaitu bagaimana keluarga membentuk perilaku generasi berikut sesuai dengan norma dan nilai yang baik dan sesuai dengan kehidupan masyarakat. Secara garis besar pola pengasuhan orang tua terhadap anak dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu otoriter/otoritarian(authoritarian), autoritatif (authoritative), dan permisif (permissive).

a. Otoriter

Orang tua yang memiliki pola asuh jenis ini berusaha membentuk, mengendalikan, dan mengevaluasi perilaku serta sifat anak berdasarkan serangkaian standar mutlak, nilai-nilai kepatuhan, menghormati kepatuhan, menghormati otoritas, kerja, tradisi, serta tidak saling memberi dan menerima dalam komunikasi verbal. Orang tua kadang-kadang menolak anak dan menerapkan hukuman.

b. Autoritatif

(10)

Orang tua tidak mengambil posisi mutlak, tetapi juga tidak mendasarkan pada kebutuhan anak semata.2

c. Permisif

Orang tua yang memiliki pola asuh jenis ini berusaha berperilaku menerima dan bersikap positif terhadap impuls (dorongan emosi), keinginan-keinginan dan perilaku. anaknya, hanya sedikit menggunakan hukuman, berkonsultasi kepada anak, hanyasedikit memberi tanggung jawab rumah tangga, membiarkan anak untuk mengatur aktivitas sendiri dan tidak mengontrol, berusaha mencapai sasaran tertentu denganmemberikan alasan, tetapi tanpa menunjukkan kekuasaan.2

Pada dasarnya hubungan antara orang tua dan anak merupakan hubungan yang timbal balik. Sehingga dengan demikian dalam usaha untuk dapat menciptakan hubungan yang memuaskan kedua belah pihak, maka peranan orang tua dan anak sangatlah besar. Adapun yang dimaksud dengan hubungan yang dapat memuaskan orang tua maupun anak adalah hubungan yang ditandai dengan adanya saling percaya, salingmengerti, dan saling menerima. Dalam mengasuh dan mendidik anak, sikap orang tuaini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah.

o Pengalaman masa lalu yang berhubungan erat dengan pola asuh ataupun sikap orang tua mereka. Biasanya dalam mendidik anaknya, orang tua cenderung untuk mengulangi sikap atau pola asuh orang tua mereka dahulu apabila hal tersebut dirasakan manfaatnya. Sebaliknya, mereka cenderung pula untuk tidak mengulangi sikap atau pola asuh orang tua mereka bila tidak dirasakan manfaatnya.

o Nilai-nilai yang dianut oleh orang tua. Misalnya orang tua yang mengutamakan segi intelektual dalam kehidupan mereka, atau segi rohani, dan lain-lain. Hal initentunya akan berpengaruh pula dalam usaha mendidik anak-anaknya.

o Tipe kepribadian dari orang tua. Misalnya orang tua yang selalu cemas dapat mengakibatkan sikap yang terlalu melindungi anak.

o Kehidupan perkawinan orang tua dan alasan memiliki anak.2

(11)

Perilaku remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, disatu pihak remaja mempunyai keinginan kuat untuk mengadakan interaksi sosial dalam upaya mendapatkan kepercayaan dari lingkungan, di lain pihak ia mulai memikirkan kehidupan secara mandiri, terlepas dari pengawasan orang tua dan sekolah. Salah satu bagian perkembangan masaremaja yang tersulit adalah penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan interpersonal yang awalnya belum pernah ada, juga harus menyesuaikan diri dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah.6

Untuk mencapai tujuan pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Ia harus mempertimbangkan pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, membentuk kelompok sosial baru dan nilai-nilai baru memilih teman.

Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Umur 4 – 6 tahun dianggap sebagai titik awal proses identifikasi diri menurut jenis kelamin, peranan ibu dan ayah atau orang tua pengganti ( nenek, kakek dan orang dewasalainnya ) sangat besar. Peran sebagai “ wanita “ dan “ Prias” harus jelas. Dalam mendidik, ibu dan ayah harus bersikap konsisten , terbuka, bijaksana, bersahabat, ramah, tegas, dan dapat lancar, maka dapat timbul proses identifikasi yang salah. Masa remaja merupakan pengembangan identitas diri, dimana remaja berusaha mengenal diri sendiri, ingin mengetahui bagaimana orang lain menilainya, dan mencoba menyesuaikan diri dengan harapan orang lain.6

Lingkungan Sekolah

Pengaruh yang juga cukup kuat dalam perkembangan remaja adalah lingkungansekolah. Umumnya orang-tua menaruh harapan yang besar pada pendidikan disekolah, oleh karena itu dalam memilih sekolah orangtua perlu mempertimbangkanhal sebagai berikut :

Susunan Sekolah

Prasyarat terciptanya lingkungan kondusif bagi kegiatan belajar mengajar adalah suasana sekolah, Baik buruknya suasana sekolah sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, komitmen guru, sarana pendidikan dan disiplin sekolah Suasana sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa remaja yaitu dalam hal :

a. Kedisiplinan

(12)

berisiko, bahwa siswa dapat berbuat semaunya dan terbiasadengan hidup tidak tertib, tidak memiliki sikap saling menghormati,cenderung brutal dan agresif.

b. Kebiasaan belajar

Suasana sekolah yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar akan berpengaruh terhadap menurunnya minat dan kebiasaan belajar. Akibatnya, prestasi belajar menurun dan selanjutnya diikuti dengan perilaku yang sesuaidengan norma masyarakat, misalnya sebagai kompensasi kekurangannya di bidang akademik,siswa menjadi nakal dan brutal.

c. Pengendalian diri

Suasana bebas di sekolah dapat mendorong siswa berbuat sesukanya tanparasa segan terhadap guru. Hal ini akan berakibat siswa sulit untuk dikendalikan , baik selama berada di sekolah maupun di rumah. Suasanasekolah yang kacau akan menimbulkan hal-hal yang kurang sehat bagi remaja, misalnya penyalahgunaan Napza, perkelahian, kebebasan seksual, dan tindak kriminal lainnya.6

Bimbingan Guru

Di sekolah remaja menghadapi beratnya tuntutan guru, Orang tua dan saratnya kurikulum sehingga dapat menimbulkan beban mental. Dalam hal ini peran wali kelas dan guru pembimbing sangat berarti Apabila guru pembimbing sebagai konselor sekolah tidak berperan, maka siswa tidak memperoleh bimbingan yang sewajarnya.Untuk menyalurkan minat, bakat dan hobi siswa, perlu dikembangkan kegiatan ekstrakurikuler dengan bimbingan guru. Dalam proses belajar mengajar, guru tidak sekedar mengalihkan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam kurilukum tertulis(Written Curriculum), melainkan juga memberikan nilai yang terkandung didalamnya (hidden curriculum), misalnya kersama, sikap empati, mau mendengarkan orang lain,menghargai dan sikap lain yang dapat membuahkan kecerdasan emosional. Apabila guru tidak peduli terhadap hal tersebut, sulit diharapkan perkembangan jiwa siswasecara optimal. Oleh sebab itu dalam upaya mengoptimalkan perkembangan jiwaremaja di sekolah guru diharapkan :

 Memperhatikan ,pendekatan yang berbeda.

 Bersedia mendengarkan dan memperhatikan keluhan siswa individual,

karena setiap siswa memiliki sifat, bakat,minat dan kemampuan.  Memiliki kepekaan “ membaca “ kondisi batin ( mood ) siswa  Perilaku guru dapat dijadikan teladan bagi siswa.

 Memperhatikan dan menciptakan rasa aman bagi seluruh siswa di sekolah.  Menanamkan nilai-nilai budi pekerti melalui proses pembiasaan misalnya

sopan santun , menghargai orang lain ,bekerja sama,mengendalikan emosi, kejujuran dansebagainya.

 Berpikir positif ( positive thinking ) terhadap siswa.  Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa.

(13)

 Memahami prinsip dasar perkembangan jiwa remaja agar dapat memahami

danmenghargai siswa

 Menghindari sikap mengancam terhadap siswa.

 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasi kan diri  Mengendalikan emosi dan menyusuaikan diri dengan cara siswa

berkomunikasi.6

Lingkungan Teman Sebaya

Remaja lebih banyak berada diluar rumah dengan teman sebaya, Jadi dapat dimengerti bahwa sikap, Pembicaraan, minat, Penampilan dan perilaku teman sebaya lebih besar pengaruhnya daripada keluarga misalnya, jika remaja mengenakan model pakaian yang sama dengan pakaian anggota kelompok yang populer, makakesempatan baginya untuk dapat diterima oleh kelompok menjadi lebih besar Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum alkohol. rokok atau zat adiktif lainnya, maka remaja cenderung mengikuti tanpa mempedulikan akibatnya. Didalamkelompok sebaya, remaja berusaha menemukan dirinya. Disini ia dinilai oleh teman sebayanya tanpa mempedulikan sanksi-sanksi dunia dewasa. Kelompok sebaya memberikan lingkungan yaitu dunia tempat remaja dapat melakukan sosialisasi dimana nilai yang berlaku bukanlah nilai yang ditetapkan oleh orang dewasamelainkan oleh teman seusianya, Disinilah letak berbahayanya bagi perkembangan jiwa remaja, apabila nilai yang dikembangkan dalam kelompok sebaya adalah nilaiyang negatif, akan lebih berbahaya apabila kelompok sebaya ini cenderung tertutup (closed group), dimana setiap anggota tidak dapat terlepas dari kelompok nya dan harus mengikuti nilai yang dikembangkan oleh pimpinan kelompok, sikap, pikiran, perilaku, dan gaya hidupnya merupakan perilaku dan gaya hidup kelompoknya.6

Lingkungan Masyarakat

(14)

budaya nasional akan tertembus oleh budaya universal, dengan demikian akan terjadi pergeseran nilai kehidupan, kemajuan ilmuPengetahuan dan teknologi sangat berpengaruh terhadap pesatnya informasi. Segalasesuatu yang terjadi di muka bumi dengan sekejap diketahui oleh seluruh penghuni bumi. Di rumah dan di sekolah, Orang tua dan guru, lebih banyak mengharapkan nilai spiritual menjadi pegangan remaja. Namun, kenyataan membuktikan sebaiknyaini karena yang diajarkan berbeda dengan yang dilihat di luar rumah dan di luar sekolah. Remaja menjadi bingung, mana yang harus dilakukan. Situasi inimenimbulkan konflik nilai yang dapat berakibat terjadinya penyimpangan perilaku, seperti yang terlihat di masyarakat, misalnya waria, pergaulan bebas, mabuk, danhomoseksualitas. Dalam era globalisasi pengakuan akan hak asasi manusia mulaimemesyarakat. Bagi Indonesia yang kini sedang dalam era reformasi, pelaksanaanhak asasi manusia merupakan masalah tersendiri. Nilai sosial yang selama inidiutamakan bergeser pada nilai individual. Bagi remaja yang sedang dalam masamencari identitas diri dan penyesuaian sosial, situasi Ini merupakan titik kritis, Bukantidak mungkin hal ini akan berakibat terjadinya konflik kejiwaan pada sebagian remaja, Remaja akan merasakan adanya nilai “ kekolotan “ pada orang dewasadannilai “ inovatif “ atau “ Pembaharuan “ pada orang dewasa dan nilai “ inovatif “ atau “ pembaharuan “ pada generasinya.6

(15)

Kesimpulan

Remaja ini mengalami masalah dalam perkembangan psikososialnya yang didasarkan pada teori Erikson. Pada tahap autonomi vs malu dan ragu-ragu (1-3 tahun) anak ini kurang untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk mengendalikan diri, tubuh dan lingkungan mereka. Rasa ragu dan malu dari diri mereka muncul karen mereka merasa diremehkan atau mereka tidak diberikan kesempatan untuk mencobanya. Pada tahap industri vs inferioritas (6-12 tahun) remaja ini kurang mau terlibat dalam tugas dan aktivitas kelompok. Ketidakadekuatan atau inferioritas dapat terjadi jika terlalu banyak yang diharapkan dari mereka. Selain itu juga bisa karena mereka tidak percaya diri mereka bisa melakukan itu. Selain itu faktor dari keluarga yang tidak harmonis dan kurangnya interaksi antara anak dan orangtua juga menjadi salah satu penyebab anak ini bisa mengalami gangguan perkembangan pada karakter dan tingkah lakunya.

Daftar Pustaka

1. Supartini Y, Ester M (editor). Buku ajar konsep dasar keperawatan anak. Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2004.2.

2. Widyarini N. Relasi orang tua dan anak. Jakarta: Elex Media Komputindo; 2009.h.11.3. 3. Elvira D, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Cetakan ke-1. Jakarta : FKUI;

2010.P.393-7.

4. Suparno P.Teori perkembangan kognitif.Yogyakarta:Kanisius;2001.h.26-88 5. Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson ilmu kesehatan anak, Volume 3. 2002.

Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. h. 2319-21.6.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...