• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Kunci : Kejadian ISPA, Kawasan Industri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata Kunci : Kejadian ISPA, Kawasan Industri"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI SALURAN

PERNAPASAN AKUT DI KAWASAN INDUSTRI DI KELURAHAN MADIDIR

UNET KECAMATAN MADIDIR KOTA BITUNG SULAWESI UTARA

1

Nurul Hidayah Eka Setiawaty,

2

Rama P. Hiola,

3

Ekawaty Prasetya

1 1Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Dan Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo, Nurul Hidayah

Eka Setiawaty [email protected]

2Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Dan Keolahragaan,Universitas Negeri Gorontalo, Rama P. Hiola

[email protected]

3 Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Dan Keolahragaan,Universitas Negeri Gorontalo, Ekawaty Prasetya

[email protected]

ABSTRAK

Bitung merupakan Kota industri dari Provinsi Sulawesi Utara, seperti

yang kita ketahui industri merupakan salah satu sumber pencemaran udara,

berdasarkan data dari BLH kadar NO

2

di Kota Bitung dalam kategori sedang,

pencemaran NO

2

dapat berdampak di saluran pernapasan, data dari Puskesmas

Paceda Menunjukan tingginya Kejadian ISPA dari tahun-ketahun. Rumusan

masalah yaitu Apa faktor risiko kejadian ISPA di kawasan industri Kelurahan

Madidir unet. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko kejadian

ISPA. Dengan mengetahui hubungan Faktor Resiko Seperti Kebiasaan Merokok,

kepadatan Hunian,Jenis Bahan Bakar dan Konsentrasi Kadar NO

2.

Penelitian ini

adalah Survei Analitik dengan metode penelitian Cross sectional. Objek pada

penelitian ini yaitu udara ambien NO

2

di 2 Titik lokasi dan 200 responden

masyarakat yang tinggal di Kelurahan Madidir unet. Teknik analisis data yang

digunakan adalah analisis Griess Satzman untuk pengukuran NO

2

sedangkan

untuk Hubungannya dengan ISPA menggunakan uji Chi Square.Variabel yang

berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA berdasarkan hasil analisis Chi

Square adalah kebiasaan merokok(p value = 0,042), kepadatan hunian (p value =

0,006), Jenis bahan BakarMemasak(p value = 0.002) Dimana p value <α =

0.05sehingga Ho di tolak. Sedangkan untuk hasil Konsentrasi Kadar NO

2

di 2

titik Sampling masing-masing belum melewati Ambang batas sehingga NO

2

belum

mengganggu kesehatan.

(2)

ABSTRACT

Nurul Hidayah Eka Setiawaty, student 811410031.

A Study On Risk

Facktor For The Occurece Of Acute Respiratory Tract Infection In Industrial

Area Of Madidir Unet Village, Subdistrict Of Madidir, Bitung City, North

Sulawesi Province Universitas Negeri Gorontalo. The principle supervisor was

Dr. Hj. Rama P Hiola, Dra., M.Kes and co supervisor was Ekawaty Prasetya

S.Si., M.Kes.

Bitung is categorized to industrial city of North Sulawesi Province

which is considered to become one of air polutan seurces due to industrial area.

Environmental agency record NO

2

content in Bitung city was classified into

medium, polutan caused by NO

2

can respiratory tract considering data from

health center (Puskesmas) of Paceda revealed high level of the occurrence on

ISPA for many years. The problem was to identify risk factors on the occurance of

ISPA in Madidir Unet village. The research aimed understanding the relationship

of risk factors such smoking habit, residential density, type of fuel, level

concentration of NO

2.

The research was categorized to analytic survey trough

cross sectional research. The object was ambient air of NO

2

in two locations and

200 respondents who live in Madidir unet Village. Data analysis applied Griess

salztman in determining NO

2

while ISPA applied chi square test.

Research

variable which is significantly related in ISPA by chi square test is smoking habit

is p value = 0.042, residential density for p value = 0.006, type of cooking fuel for

p value = 0.002 and level of significant was p value < α= 0.05, so H

0

was reject,

meanwhile, result on level concentration of NO

2

in two location has not exceeded

the threshold that NO

2

is still classified into fair. Promoting healthy behavior is

required and led to pay attention on home sanitation while special interest of

government is needed toward waste generated by the industry in order to prevent

and mitigate the effects of environmental pollution.

(3)

1. PENDAHULUAN

Pembangunan Fisik Kota dan

berdirinya pusat-pusat industri disertai dengan melonjaknya produksi kendaraan

bermotor, meningkatkan kepadatan

lalulintas dan hasil produksi sampingan yang merupakan salah satu sumber

pencemaran udara, konsentrasi

pencemaran udara dibeberapa kota besar

dan daerah industri di Indonesia

menyebabkan adanya gangguan

pernapasan, iritasi pada mata dan telinga, serta timbulnya penyakit tertentu.

Bitung merupakan salah satu

kawasan pengembangani perikanan di Provinsi Sulawesi utara. Infrastruktur Kota

Bitung sangat mendukung kawasan

Industri perikanan. Bitung sebagai

penghasil produk perikanan untuk pasar domestik dan pasar mancanegara.

Bitung merupakan kota Industri yang terdapat beberapa Perusahaan industri Besar sehingga memungkinkan terjadinya pencemaran udara dari sumber yang tidak bergerak. Berdasarkan data hasil pemantau kualitas udara Ambient dari Badan Lingkungan Hidup tahun 2012 kadar Nitrogen dioksida (NO2) adalah 51

µg/Nm3meski konsentrasi NO2belum

melewati ambang batas baku mutu

pencemaran udara NO2 yaitu 400 µg/Nm3

menurut PP No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian udara akan tetapi Bitung termasuk dalam kategori Sedang dalam Indeks Standar Pecemaran Udara (ISPU).

Selain masalah pencemaran Udara, masalah keseahatan di kawasan industri

Kelurahan Madidir Unet Kecamatan

Madidir Kota Bitung Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) termasuk dalam 10 penyakit tertinggi di kawasan tersebut sehingga dapat dirumuskan suatu

permasalahan bahwa apa sajakah Faktor risiko kejadian ISPA di Kelurahan Madidir unet.

Berdasarkan uraian pada latar

belakang, maka mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang “Analisis Faktor Resiko kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut di Kawasan

Industri Kelurahan Madidir unet

Kecamatan Madidir Kota Bitung”

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Hubungan faktor resiko seperti Kebiasaan merokok, kepadatan hunian,

jenis bahan bakar memasak dan

konsentrasi kadar NO2 dengan kejadian penyakit ISPA di kawasan Industri.

2. METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian yang digunakan

adalah rancangan penelitian Cross

Sectional. Penelitian ini menggunakan metode penelitan Survei Analitik.Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh Masyarakat Kelurahan Madidir Unet, untuk objek pengukuran udara NO2 yaitu lingkungan kawasan industridi kelurahan Madidir unet kecamatan Madidir Kota Bitung.Sampel dari penelitian ini adalah 200 responden yang bermukim disekitar kawasan industri kelurahan Madidir unet , Untuk Sampling Udara NO2 dilakukan di 2 Lokasi yaitu titik 1 berada di sekitar kawasan pemukiman penduduk Kelurahan Madidir Unet sedangakan titik 2 dilakukan di sekitar Pabrik yang berada di perbatasan kelurahan Madidir unet dan paceda. Sampling NO2 dilakukan sesuai dengan

kriterian Pengambilan Sampli Udara

(4)

3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

1. Hasil pengukuran udara ambient NO2

Tabel 1. Hasil Pengukuran Udara Ambien NO2, Parameter Kimia dan Fisika dikawasan Industri Kelurahan Madidir Unet Kota Bitung Tahun 2014

Sumber : Data Primer 2014

Grafik 4.1 Hasil Pengukuran Kadar NO2 di 2 Titik Pantau Kelurahan Madidir Unet

Kecamatan Madidir Kota Bitung Tahun 2014

Berdasarkan Hasil pengukuran Kadar NO2 pada Tabel 4.1 dapat disimpulkan

bahwa konsentrasi kadar NO2 tertinggi terdapat di titik 2 yaitu 67 μg/Nm3

dimana lokasi pengukuran dilakukan disekitar PT. Internasional Aliance Food Indonesia dan PT. Sinar

Pure Food dengan suhu pada saat penelitian 30.70 C, kelembaban 65.3%, dengan

kecepatan angin pada saat itu 0,4 m/s dari arah selatan ke utara,

Analisis bivariat dilakukan untuk mencari hubungan variabel bebas terhadap

variabel terikat yang dijadikan variabel yang diteliti. Peneltian ini menggunakan uji Chi

Square. Di katakan ada hubungan yang bermakna secara statistik jika diperoleh nilai p 0.000 < 0,05.

2. Hubungan Kebiasaan Merokok dengan kejadian penyakit ISPA

Tabel 2. Distribusi Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian penyakit ISPA di Kelurahan Madidir Unet Kecamatan Madidir Kota Bitung

Sumber : Data Primer 2014 55 60 65 70 Titik 1 Titik 2

60

67

Titik 1 Titik 2 Standar Baku Mutu NO2 400 μg/Nm3 Lokasi Suhu (0 C) Kelembaban (%) Kec. Angin (m/s) Arah Angin Kadar NO2 (µg/Nm3) Titik 1 (Kel. Madidir Unet)

29,2 64,5 0,4 S-U 60 Titik 2 (Kel. Paceda) 30.7 65,3 1,2 S-U 67 Kebiasaa n Merokok Kejadian ISPA Total X2 P value

ISPA Tidak ISPA

n (%) n (%) n (%) Perokok 66 61.7 44 47.3 110 55.0 4.151 0.042 Bukan Perokok 41 38.3 49 52.7 90 45.0 Jumlah 107 100.0 93 100.0 200 200.0

(5)

Dari hasil analisis Chi Square diperoleh nilai pvalue 0.042 < 0,05 atau 4.151 > 3.841 (x2 hitung >x2tabel), maka dengan demikian H0 ditolak sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut di kawasan industri Kelurahan Madidir unet.

3. Hubungan jenis bahan bakar dengan kejadian penyakit ISPA

Tabel 3. Distribusi Hubungan Jenis Bahan Bakar yang digunakan untuk Memasak dengan Kejadian ISPA di Kelurahan Madidir Unet Kec. Madidir Kota Bitung Jenis Bahan Bakar yang dugunakan Kejadian ISPA Total X2 P value

ISPA Tidak ISPA

n % n % n % Kayu Bakar 13 12.1 1 1.1 14 7.0 9.373 0.002 Gas/ minyak tanah 94 87.9 92 98.9 186 93.0 Jumlah 107 100.0 93 100.0 200 200.0

Sumber : Data Primer 2014

Dari hasil analisis Chi Square diperoleh nilai pvalue 0.002 < 0,05 atau 9.373 > 3.841 (x2 hitung >x2tabel),maka dengan demikian H0 ditolak sehingga disimpulkan terdapat hubungan antara Jenis Bahan Bakar Memasak dengan kejadian Penyakit ISPA di Kelurahan Madidir unet

4. Hubungan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit ISPA

Tabel 4.Distribusi Hubungan Kepadatan Hunian dengan Kejadian ISPA di Kelurahan Madidir Unet Kec. Madidir Kota Bitung

Kepadatan Hunian

Kejadian ISPA

Total X2 P value

ISPA Tidak ISPA

n % n % n %

TMS 70 65.4 43 34.6 107 100.0

7.450 0.006

MS 37 34.6 50 53.8 93 100.0

Jumlah 107 100.0 87 43.5 200 200.0

Sumber : Data Primer 2014 *MS : Memenuhi Syarat *TMS : Tidak Memenuhi Syarat

Dari hasil analisis Chi Square diperoleh nilai p value 0.006< 0,05 atau 7.450> 3.841 (x2 hitung >x2tabel),maka dengan demikian H0 ditolak sehingga disimpulkan terdapat hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian penyakit ISPA di Kelurahan Madidir unet

Pembahasan

1. Hubungan Kadar NO2 dengan

Kejadian Infeksi Saluran

Pernapasan akut

Secara garis besar konsentrasi kadar NO2 setelah dilakukan pengukuran di 2

lokasi diperoleh hasil di titik 1 yaitu 60 μg/Nm3 dan titik 2 yaitu 67 μg/Nm3

bila dibandingkan dengan PP. No. 41 Tahun 1999 tentang pengendalian udara dimana

nilai baku mutu NO2 400 μg/Nm3 dari

(6)

ambang batas, rendahnya kadar NO2 dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat mempengaruhi konsentrasi kadar NO2 seperti Suhu, Kelembaban, dan kecepatan angin. Pada saat sampling udara

NOcuaca dalam keadaan mendung

sehingga Suhu, kelembaban, dan kecepatan angin dapat mempengaruhi konsentrasi NO2.

Hal ini sejalan dengan penelitian Subaid (2002), dimana suhu udara yang tinggi dapat menyebabkan naiknya massa udara, yang menyebabkan ikut naiknya

gas-gas yang dipermukaan sehingga

konsentrasi gas yang ada di permukaan berkurang. Dengan demikian semakin

tinggi suhu udara maka dapat

menyebabkan konsentrasi gas–gas di permukaan berkurang.

Dari hasil tersebut dapat

disimpulkan bahwa konsentrasi kadar NO2 dikawasan industri setelah dibandingkan dengan PP No. 41 tahun 1999 dimana kadar NO2 belum melewati ambang batas yang ditentukan sehingga kadar NO2 tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA di kawasan industri kelurahan Madidir unet. NO2 memang bukan penyebab utama

terjadinya ISPA.Namun berdasarkan

penelitian-penelitian terdahulu, diketahui

bahwa NO2 dapat mengiritasi saluran

pernapasan dan menurunkan fungsi paru-paru.Hal inilah yang dapat meningkatkan resiko seseorang untuk menderita ISPA.

Hasil penelitian di Hongkong juga

menyebutkan bahwa NO2 merupakan

polutan yang paling beresiko untuk meningkatkan jumlah kasus penyakit saluran pernapasan bagian atas ( Wong, et.al. dalam Eka satriani sakti, 2012).

2. Hubungan kebiasaan merokok

dengan kejadian ISPA

Dari hasil analisis Chi Square

diperoleh nilai pvalue 0.042 < 0,05, maka

dengan demikian H0 ditolak sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut

di Kelurahan Madidir unet. Hasil

wawancara dengan responden sebagian besar responden laki-laki adalah perokok aktif, dan memiliki kebiasaan merokok di dalam ruangan sehingga penghuni lain yang tinggal bersama menjadi prokok pasif memiliki resiko terkena ISPA dari asap rokok yang dihirup oleh perokok pasif.

Hasil Penelitian ini sesuai dengan penelitian Nurhidayah dalam Gesti (2013) yang menyatakan bahwa perilaku merokok

dapat menyebabkan Infeksi Saluran

Pernapasan Akut bertambah , karena merokok dapat menghasilkan asap rokok yang dapat membuat sillia dalam sistem pernapasan rusak sedikit demi sedikit, karena dalam 1 batang rokok yang

dinyalakan akan menghasilkan asap

sampingan selama sekitar 10 menit,

sedangkan asap utamanya akan

dikeluarkan pada waktu rokok itu dihisap dan biasanya hanya kurang dari 1 menit

3. Hubungan jenis bahan bakar

memasak dengan kejadian ISPA

Dari hasil analisis Chi Square

diperoleh nilai pvalue 0.002 < 0,05,maka

dengan demikian H0 ditolak sehingga

disimpulkan terdapat hubungan antara jenis bahan bakar memasak dengan kejadian penyakit ISPA di Kelurahan Madidir unet. dari 200 responden yang menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak ada 14 responden meski sebagian besar telah menggunakan gas sebagai bahan bakar memasak, responden yang menggunakan kayu bakar untuk

memasak dikarenakan kemampuan

ekonomi keluarga yang rendah, keluarga kurang mampu membeli bahan bakar dari gas yang harganya relatif tinggi sehingga

(7)

lebih banyak memanfaatkan kayu sebagai bahan bakar memasak karena harga yang bisa dijangkau oleh keluarga yang kurang mampu. Penggunaan bahan bakar dari kayu akan mengeluarkan asap, Asap ini dapat menjadi media bagi bakteri dan virus jika terhirup penghuni rumah, selain itu

asap dapat mengganggu saluran

pernapasan.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Salmiati dalam Ribka layuk (2013) yang menunjukan bahwa ada hubungan antara penggunaan bahan bakar dengan kejadian ISPA.Pertikel-partikel dari hasil pembakaran kayu bakar tersebut

bila masuk kedalam tubuh akan

menyebabkan sel epitel dan silianya mudah rusak sehingga benda yang masuk kedalam saluran pernapasan tidak dapat dikeluarkan. Dengan demikian, saluran

pernapasan akan mengerut yang

disebabkan oleh syaraf-syaraf yang

terdapat dalam saluran pernapasan

terganggu. Respon yang diberikan tubuh bila mengalami keadaan tersebut adalah mengeluarkan sekret atau benda asing secara aktif melalui batuk (Kassamsi dal Ribka Layuk, 2013).

4. Hubungan Kepadatan Hunian

dengan Kejadian Penyakit ISPA

Dari hasil analisis Chi Square

diperoleh nilai p value 0.006< 0,05,maka

dengan demikian H0 ditolak sehingga

disimpulkan terdapat hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian penyakit ISPA di Kelurahan Madidir unet. hasil observasi di kelurahan Madidir unet, masalah kepadatan hunian di kawasan industri kelurahan madidir unet disebabkan karena sebagian besar masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut menempati kost-kostan yang luas rumah dengan

jumlah/orang yang melebihi batas

ketentuan yang telah ditetapkan. Selain itu

penyebab terjadinya kepadatan hunian diakibatkan oleh jumlah anak yang terlalu banyak yang tidak sesuai dengan ekonomi keluarga.Tingkat kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat disebabkan karena luas rumah yang tidak sebanding dengan

jumlah keluarga yang menempati

rumah.Kepadatan hunian ini

memungkinkan bakteri maupun virus dapat menular melalui pernapasan dari penghuni rumah yang satu kepenghuni rumah yang lainnya.

Menurut beberapa penelitian yang dilakukan terdapat hubungan kepadatan hunian dengan kejadian ISPA hal ini sejalan dengan penelitian Siska Djafar (2013) tentang Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Sosial Ekonomi Keluarga dengan Kejadian ISPA pada Balita. Kepadatan hunian dapat menyebabkan kondisi ruangan pengap dan kesulitan bernapas anggota keluarga karena udara segar dalam ruangan untuk kebutuhan bernapas tidak mencukupi. Akibat udara yang pengap, suhu didalam ruangan menjadi meningkat dan terasa lebih panas dan lembab uap air yang dihasilkan dari metabolisme tubuh. Kepadatan hunian

yang tidak memenuhi syarat dapat

mengakibatkan terganggunya aktifitas

manusia, terjadinya polusi udara karena aktifitas manusia dan bangunan rumah, ketidakteraturan dalam ruangan membuka kesempatan serangga dan tikus bersarang, tidak terpeliharanya sanitasi perumahan,

memudahkan terjadinya penularan

penyakit serta mengganggu kenyamanan tinggal dirumah ( Sinaga, dalam Halim Fitria, 2012).

4. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta membuktikan bahwa antara

(8)

kedua variabel yang diteilti maka dapat disimpulkan yaitu ada hubungan antara

kejadian ISPA dengan kebiasaan

merokok(p value = 0,042), kepadatan

hunian (p value = 0,042), Jenis bahan

Bakar Memasak(p value = 0.002) Dimana

p ≤ value 0.05. Sedangkan untuk hasil Konsentrasi Kadar NO2 di 2 titik Sampling masing-masing belum melewati Ambang batas sehingga NO2 belum mengganggu kesehatan dan tidak ada hubungan dengan kejadian penyakit ISPA.

Saran

Diharapkan pemerintah lebih

memperhatikan dan mengambil tindakan terhadap limbah yang di hasilkan dari industri-industri besar yang berada di kota

bitung agar dapat mengurangi dan

mencegah pencemaran lingkungan yang berada di kota bitung, dan Diharapkan agar masyrakat di sekitar kawasan industri agar lebih memperhatikan sanitasi rumah dan lingkungan tempat tinggal.

5. DAFTAR PUSTAKA

Arya, Wardhana. 2001. Dampak

Pencemaran Lingkungan.

Yogyakarta : Andi.

Halim, fitria . 2012. Hubungan Faktor

Lingkkungan Fisik dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Pekerja Di industri Mebel Dukuh Tukrejo, Desa Bondo Kecamatan Bangsari, Kabupaten

Jepara. Provinsi Jawa

Tengah.Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

(http://www.lib.ui.ac.id/file?file=digi

tal/20318892-S-PDF-Fitria%20Halim.pdf diakses 10 februari 2014)

Layuk, Ribka.2013. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Balita di Lembang Batu Sura. Jurnal. FKM UNHAS

Mukono. H.J. 2003. Pencemaran Udara

dan Pengaruhnya terhadap

Gangguan Saluran Pernapasan. Surabaya : Airlangga University Press. 2003.

Nurhidayati,Istiana. 2009. Lingkungan

Fisik Rumah dengan Kejadian Penyakit ISPA pada Balita di

Wilayah Kerja Puseksmas

Karangnongko Kabupaten Klaten

2009. Jurnal. FKUB.

(http://.www.jurnal.stikesmukla.ac.i d/index.php/motorik/article/downloa d/45/41. diakses 11 Februari 2014) Peraturan Pemerintah RI Nomor 41

tentang Pengendalian Pencemaran

Udara. 1999.

(http.//.www.bpkp.go.id/uu/filedownl oad/4/67/1265.bpkp. Diakses 5 Febrauri 2014)

Sakti, E. 2012. Tinjauan tentang Kualitas Udara Ambient (NO2, SO2, Total

Suspended Particulate) terhadap Kejadian ISPA.Skripsi. FKM UI.

Tulus, A. 2008. Faktor-Faktor Lingkungan

Fisik yang Berhubungan

denganKejadian Pneumonia pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kawungan Kabupaten Cilacap. Skripsi. UNDIP

(9)
(10)

Gambar

Grafik 4.1 Hasil Pengukuran Kadar NO 2  di 2 Titik Pantau Kelurahan Madidir Unet
Tabel  3.  Distribusi  Hubungan    Jenis  Bahan  Bakar  yang  digunakan  untuk  Memasak  dengan  Kejadian  ISPA  di  Kelurahan  Madidir  Unet  Kec

Referensi

Dokumen terkait

A. Lokasi Penelitian ... Metode Penelitian ... Pendekatan Geografi ... Populasi dan Sampel ... Variabel Penelitian ... Definisi Operasional ... Teknik Pengumpulan Data ... Alat

Populasi dalam penelitian ini adalah pengendara sepeda motor di Kota Manado ada 82 yaitu besar sampel 41 pengendara motor yang mengalami kecelakaan lalu lintas di BLU RSUP

Peneliti menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif sehingga dari hasil penelitian dapat memperoleh jawaban responden pada instansi Bapan Pemberdayaan Masyarakat Dan

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Vovi Noviyanti (2012), yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kepemilikan lubang

Hasil penelitian menunjukan bahwa masih banyak masyarakat kelurahan sungai dama yang tidak mengetahui dan memahami keberadaan perda tersebut.Sebagian besar masyarakat yang

1) Karakteristik Sosial Ekonomi Masyarakat sekitar Kawasan Pelabuhan Pada penelitian ini, responden yang daimbil sebanyak 100 orang di dua kelurahan, yaitu Kelurahan Panjang

Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan metode analitik observasional yaitu survei atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu

Kiki Rismadi, dkk 2021 Analitik Observasional dengan studi kasus 30 Pada Masyarakat di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Gaya Hidup Hasil penelitian menunjukkan bahwa