• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERDAGANGAN INTERNASIONAL DISTR ID

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PERDAGANGAN INTERNASIONAL DISTR ID"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

TERHADAP PERTUMBUHAN NILAI EKSPOR KOPI INDONESIA 1992 - 2011

Arus Reka Prasetia

Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama Jalan Cikutra 204A, Bandung [email protected]

ABSTRACT

Indonesia, as one of country of coffee exporting in the world, has given influence and contribution that reality in world trade. Now, Indonesia becomes one of biggest country of coffee exporting in the world. Coffee, as one of important commodity in the world, gives also significant influence to Indonesia economics. Influence is referring especially for trade sector and agriculture. Target in this research is to know that international trade, market distribution, and competitive ability has an effect on in simultaneous and partial to the growth of Indonesia’s coffee export value during in 1992-2011. Method as used in this research is the method of regression analysis. Constant Ma rket Share Analysis (CMSA) is a method of analysis to know performance of exporting commodity from a country, where this analysis can see performance of exporting commodity a country to performance of exporting for commodity in common from the other country it’s that conduct exporting activity to countries of exporting target around the world. This analysis will select because from the growth of export commodity value or increase of exporting commodity become four parts, that is increase of world exporting commodity or world trade (international trade), composition of exporting commodity from pertinent country, market distribution of exporting commodity, and competitive ability from exporting commodity referred.

Keywords: CMSA, international trade, composition commodity, competitiveness.

PENDAHULUAN

Aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh suatu negara, termasuk perdagangan internasional, merupakan salah satu bentuk kegiatan ekonomi yang cukup penting dan signifikan dalam menentukan tingkat kemajuan ekonomi dari negara tersebut. Perdagangan, dengan pelbagai aktivitasnya, akan menjadi salah satu kesempatan dalam meningkatkan pendapatan serta memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat dan menanggulangi kesulitan ekonomi.

Indonesia, sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki pelbagai sumber daya, saat ini sedang melaksanakan dan melanjutkan pembangunan secara berkala, dimana dalam

(2)

Aktivitas untuk melakukan kegiatan impor dari pelbagai barang dan jasa dari negara-negara pengimpor ini diperlukan alat pembayaran yang berupa mata uang asing dalam setiap transaksinya. Ragam upaya untuk memperoleh mata uang asing ini sangat banyak, salah satunya adalah dengan melakukan aktivitas ekspor, sehingga pembangunan di Indonesia selayaknya tetap berjalan dengan lancar dan baik, dimana segala aktivitas ekspor dengan negara-negara tujuan ekspor harus lebih ditingkatkan, baik volume maupun nilai ekspornya.

Ekspor merupakan berbagai komoditi yang terdiri dari beragam jenis produk, baik berupa barang ataupun jasa, dimana beragam jenis produk tersebut bergerak ataupun

berpindah meninggalkan suatu negara, yang menjadi asal-muasal produk tersebut, menuju negara lain yang menjadi tujuannya ataupun berupa hasil transaksi yang diperdagangkan antar negara (Kuntjoro, 1996:37). Ekspor merupakan suatu aktivitas ekonomi berupa transaksi berbagai produk, baik berupa barang ataupun jasa, yang diproduksi ataupun dihasilkan di dalam negeri dan kemudian dijual ke luar negeri (Mankiw, 2000:67).

Struktur ataupun karakter ekspor di negara Indonesia terdiri dari dua macam karakter,

yakni ekspor minyak dan gas bumi (biasa dikenal dengan istilah ‘migas’) dan ekspor yang bukan dari minyak dan gas bumi (biasa disingkat dan dikenal dengan istilah ‘non-migas’). Karakter migas dan non-migas ini mewarnai seluruh aktivitas ekspor Indonesia dari dekade tujuh puluhan hingga dekade pada saat ini.

Ekspor migas, pada dekade tujuh-puluhan, menjadi bagian terbesar dalam struktur ekspor Indonesia hingga tahun 1984 sehingga sektor migas ini masih menjadi primadona dalam aktivitas ekspor, dimana hal ini dibuktikan pada tahun 1984, ketika ekspor migas masih memberikan kontribusi perdagangan lebih dari 75 prosen komoditas ekspor Indonesia. Ekspor melalui sektor migas ini akhirnya mengalami penurunan setelah tahun 1984, dan puncak penurunan ini terjadi ketika pada tahun 1987 ekspor migas mengalami penurunan yang sangat signifikan dan akhirnya lebih rendah dari ekspor komoditas non migas, yakni hanya sebesar 49 prosen dari seluruh transaksi ekspor Indonesia (Djiwandono, 1992:211).

Transaksi ekspor dari hasil pertanian merupakan salah satu bagian ekspor yang berasal dari sektor non-migas. Produk yang berasal dari hasil pertanian penting bagi negara Indonesia

(3)

karena sektor pertanian menjadi sektor utama yang akan menjamin kehidupan manusia. Hasil dari berbagai produk pertanian yang menjadi sumber daya makanan atau pangan utama, juga memberikan dan menyumbangkan potensinya yang lain, baik sebagai salah satu objek perdagangan maupun sebagai salah satu bahan industri pendukung perdagangan.

Hasil dari sektor pertanian ini perlu diperhatikan dengan seksama karena sektor pertanian banyak menyerap tenaga kerja dan mayoritas dari penduduk di Indonesia masih banyak yang tinggal di pedesaan atau berkonsentrasi pada industri pertanian, sehingga saat ini masih banyak yang menitikberatkan mata pencahariannya pada sektor pertanian, sehingga

akhirnya Indonesia seringkali disebut sebagai negara agraris (Dumairy, 1997:204).

Sektor pertanian, pada prinsipnya memiliki berbagai sub-sektor didalamnya, dimana salah satu sub-sektornya adalah sub-sektor perkebunan, yang mana sub-sektor ini telah dikembangkan secara besar-besaran dan berkesinambungan di nusantara, dimulai sejak zaman penjajahan dan tetap dipertahankan pengembangannya hingga saat ini.

Kopi, sebagai salah satu hasil dari sektor perkebunan, merupakan sub-sektor dari pertanian, adalah hasil komoditi terpenting kedua di dunia setelah petroleum, dimana lebih dari 400 milyar cangkir kopi dikonsumsi setiap tahunnya. FAO (Food and Agriculture Organization), salah satu lembaga dunia dalam naungan PBB yang berkonsentrasi pada pangan dan industri pertanian memaparkan data, bahwasannya 25 juta produsen kopi skala kecil di dunia hidup dari usaha kopi. Contoh nyata dari salah satu produsen kopi dunia adalah Brasil yang memproduksi hampir sepertiga kebutuhan kopi dunia, lebih dari 5 juta orang diperkerjakan dalam penanaman dan pemanenan dari 3 milyar tanaman kopi. Fakta ini melebihi jumlah buruh yang berkerja dalam penanaman hingga pemanenan kedelai, tebu, gandum, dan peternakan.

Kopi merupakan salah satu komoditas perdagangan strategis dan memegang peranan penting bagi perekonomian nasional hingga akhir tahun 1990-an, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Fakta sebagai penyedia lapangan kerja, perkebunan kopi mampu menyediakan lapangan kerja hingga lebih dari 2 juta kepala keluarga petani dan memberikan pendapatan yang layak bagi mereka.

Fakta lain dari sektor kopi yang berhubungan dengan penyediaan lapangan kerja yakni terciptanya lapangan kerja bagi pedagang pengumpul hingga eksportir, buruh perkebunan besar dan buruh industri pengolahan kopi. Sisi lain dari ekspor komoditas kopi mampu menghasilkan devisa lebih dari US $ 500 juta/tahun pada periode 1994-1998.

(4)

dunia terus merosot hingga mencapai titik terendah selama 37 tahun terakhir pada awal tahun 2002 dan belum menunjukkan perbaikan ataupun perubahan yang cukup berarti. Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga kopi di tingkat petani karena biji kopi Indonesia sangat tergantung pada pasar internasional. Harga kopi di tingkat petani sangat rendah, sehingga berdampak negatif bagi perekonomian nasional terutama di sentra-sentra produksi kopi seperti Lampung dan Sumatera Selatan.

Ragam upaya telah dilakukan secara optimal untuk memperbaiki harga kopi, baik ditingkat nasional, regional maupun internasional, tetapi belum membuahkan hasil

sebagaimana yang diharapkan. Harga kopi di tingkat petani belum mampu untuk menutupi biaya produksinya dan petani terpaksa membiarkan kebun kopi tidak terpelihara, bahkan sebagian tanaman kopi ada yang ditebang dan diganti dengan tanaman lain. Kondisi yang seperti ini, mengakibatkan kopi Indonesia semakin kehilangan daya saing dan peranannya makin berkurang di kancah perdagangan kopi internasional.

Metode untuk mengukur pertumbuhan atau perubahan nilai komoditas ekspor dari suatu negara dapat menggunakan model Constant Market Share Analysis (CMSA), dimana menurut model ini, ada empat faktor atupun komponen yang berpengaruh terhadap pertumbuhan nilai ekspor, yakni: kenaikan dalam ekspor dunia (perdagangan internasional), komposisi komoditas ekspor dunia, distribusi negara tujuan ekspor (distribusi pasar), dan daya saing (Santosa, 1999:21).

TINJAUAN PUSTAKA

Aktivitas berbagai bentuk perdagangan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saat ini. Aktivitas ini diakibatkan oleh karena manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan demikian juga halnya dengan suatu negara. Awal dari kreativitas perdagangan dilakukan hanya antar individu secara sederhana dengan sistem barter, namun sejalan dengan semakin beragamnya kebutuhan yang diperlukan, mengakibatkan terjadinya aktivitas perdagangan tidak hanya dilakukan antar individu lagi melainkan juga antar negara. Perdagangan internasional itu sendiri merupakan suatu proses tukar menukar berbagai barang

(5)

pada pendapat akan adanya gains from trade jika melakukan pertukaran, sehingga dengan kata lain dapat diuraikan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi karena salah satu atau kedua negara yang melakukan pertukaran melihat adanya manfaat atau keuntungan dari pertukaran itu.

Perdagangan internasional diperlukan pula untuk mendapatkan manfaat yang dimungkinkan oleh spesialisasi produksi. Spesialisasi berarti setiap negara memproduksi barang tertentu lebih banyak daripada yang akan dikonsumsi warganya dan barang lain lebih sedikit daripada yang dapat dikonsumsi warganya.

Studi mengenai perdagangan muncul pada abad keenam belas, dimana penganut aliran tersebut disebut sebagai kaum merkantilisme. Kaum merkantilisme tersebut menyatakan bahwa suatu negara ingin menjadi kaya dan berkuasa maka negara itu harus mengekspor lebih banyak dibandingkan dengan impornya. Selisih dari aktivitas ekspor impor tersebut akan diselesaikan dengan pemasukan logam mulia.

Negara yang semakin banyak memiliki emas, maka semakin kaya dan berkuasa negara tersebut, oleh karena itu kaum merkantilisme mendukung pemerintah untuk merangsang ekspor dan menghambat aktivitas impor. Teori kaum merkantilis ini mendapat banyak sanggahan, salah satunya adalah dari Adam Smith yang mengemukakan suatu teori, yaitu teori keunggulan absolut.

Teori keunggulan absolut mengutarakan bahwa suatu negara akan memproduksi dan mengekspor suatu barang jika negara tersebut memiliki keunggulan absolut (keunggulan mutlak) atas negara lain, kemudian David Ricardo menyempurnakan teori keunggulan absolut dari Adam Smith. David Ricardo mengutarakan bahwa perdagangan masih dapat dilakukan selama masing-masing negara masih mempunyai keunggulan relatif dalam menghasilkan suatu barang, bahkan untuk negara yang memiliki kerugian absolut pun masih dapat melakukan perdagangan, yaitu dengan melakukan spesialisasi pada komoditas yang memiliki kerugian absolut terkecil dan mengimpor komoditas yang memiliki kerugian absolut yang lebih besar. Teori David Ricardo ini kemudian dikenal dengan nama teori keunggulan komparatif.

(6)

Kaidah pokok atau teori cukup banyak dalam analisis ekonomi modern yang muncul dari abad keenam belas tersebut dengan topik memperdebatkan kebijakan-kebijakan perdagangan dan moneter internasional, namun sekarang ini, belum pernah terjadi sebelumnya, bidang studi ekonomi internasional menjadi begitu penting. Benefit dari terselenggaranya perdagangan internasional, baik dalam barang-barang maupun jasa, serta terus berkembangnya lalu lintas keuangan internasional, perekonomian setiap negara kini menjadi semakin terkait secara erat satu sama lain dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Kini, dalam waktu yang bersamaan, perekonomian dunia semakin sering

bergejolak, suatu fenomena yang belum pernah terjadi pada dekade-dekade yang lalu. Fakta baru ini masih ditambah lagi dengan adanya berbagai perubahan di lingkungan internasional (international environment), sehingga ilmu ekonomi internasional semakin menjadi perhatian utama, baik itu dalam perumusan strategi perusahaan maupun dalam penyusunan kebijakan ekonomi nasional dari berbagai negara.

Pengaruh dari karakteristik setiap negara yang berbeda satu sama lain, mengakibatkan negara-negara tersebut melakukan perdagangan karena mereka berbeda satu sama lain, dimana setiap negara dapat memperoleh keuntungan dengan melakukan sesuatu yang relatif lebih baik. Alasan dari tujuan setiap negara yang ingin mencapai skala ekonomi lebih baik, sehingga negara-negara tersebut melakukan perdagangan dengan tujuan mencapai skala ekonomi dalam produksi.

Probabilitas dari perdagangan internasional tersebut yang menguntungkan kedua belah pihak itu ternyata lebih luas dari yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, namun model pertama tentang perdagangan dapat menunjukkan secara jelas bahwa dua negara tetap dapat berdagang dengan saling menguntungkan meskipun salah satu negara lebih efisien dalam memproduksi segala jenis barang dan bahwa produsen di negara yang kalah efisien dapat bersaing hanya dengan membayar upah lebih rendah.

Perdagangan menciptakan keuntungan dengan memberikan peluang kepada setiap negara untuk mengekspor berbagai macam barang yang produksinya menggunakan sebagian besar sumber daya yang melimpah di negara bersangkutan serta mengimpor berbagai barang

(7)

'..

..

..

laju pertumbuhan ekspor rata-rata dunia (pertumbuhan standar). Faisal Basri (1995) mengemukakan, bahwa pada intinya pendekatan Constant Market Share Analysis, atau biasa disingkat dengan CMSA, akan memecah pertumbuhan ekspor ke dalam beberapa faktor penyebab selain karena pertumbuhan ekspor dunia. Laju perubahan ekspor dapat disebabkan oleh adanya perubahan pada 3 hal, yakni:

1. Komposisi komoditas (masalah komposisi ekspor),

2. Komposisi negara tujuan (masalah distribusi pasar dunia dari negara eksportir), dan 3. Daya saing atau memiliki daya saing (masalah daya saing dalam harga atau kualitas).

Hubungan atau kaitannya dalam perumusan Constant Market Share Analysis (CMSA) ini, maka terdapat beberapa konsep perumusan sebagai berikut:

Dimana, Xi. merupakan nilai ekspor komoditi i dari negara Z ke negara j pada periode

pertama dan X’i.merupakan nilai ekspor komoditi i dari negara Z ke negara i pada periode

kedua. Rumus selanjutnya, nilai ekspor total dari negara Z pada periode pertama dirumuskan sebagai berikut:

Langkah untuk memudahkan pemahaman, anggaplah hanya ada satu jenis barang atau komoditi dan satu negara tujuan ekspor. Dengan demikian, jika negara Z ingin mempertahankan pangsa pasar ekspor komoditinya, maka ekspor komoditi dari negara Z harus meningkat sebesar rX; dimana r adalah persentase perubahan total ekspor dunia.

Rumus untuk menggambarkan peningkatan ekspor komoditi dari negara-negara dapat

dituliskan sebagai berikut:

(8)

Dengan demikian, proses agregasi terhadap persamaan rumus tersebut, maka dihasilkan persamaan-persamaan rumus sebagai berikut:

Dari model persamaan rumus tersebut dapat diketahui bahwa peningkatan ekspor komoditas i ke negara j dari negara Z disebabkan oleh empat faktor, yaitu:

1. Kenaikan ekspor dunia,

2. Komposisi komoditas ekspor dunia, 3. Distribusi negara tujuan ekspor, dan

4. Residual yang mencerminkan perbedaan antara pertumbuhan ekspor aktual dan pertumbuhan ekspor yang akan terjadi jika negara Z mempertahankan pangsa ekspornya di pasar dunia/internasional untuk setiap komoditas.

Dari keempat faktor penyebab kenaikan ekspor tersebut, maka penyebab yang keempat mencerminkan daya saing setiap komoditas ekspor di pasar dunia/internasional.

Tyszynski (1951) adalah ahli ekonomi pertama yang menggunakan metode Constant

Market Share Analysis (CMSA) ini untuk meneliti pertumbuhan komoditas manufaktur pada perdagangan dunia. Tujuan dari penelitian tersebut untuk memberikan gambaran yang jelas tentang perubahan permintaan dunia terhadap ekspor negara-negara industri utama serta

perubahan posisi persaingan.

(9)

Komoditas yang mengalami penurunan adalah non-ferous metal, non-metalliferous, bahan-bahan kimia dan hasil-hasilnya, tekstil, dan pakaian jadi. Tyszynski memaparkan bahwa penurunan pada perdagangan dunia disebabkan karena banyaknya negara industri baru yang mulai beralih dari penggunaan kekayaan alam negaranya sendiri untuk bahan-bahan bangunan.

Fakta sebaliknya terjadi, dimana peningkatan pada penggunaan alat-alat besi, baja, dan mesin-mesin seperti kapal laut dan rel kereta api mungkin disebabkan oleh terjadinya kerusakan transportasi laut dan kereta api di Eropa yang diakibatkan oleh terjadinya perang

pada saat itu serta makin intensifnya proses industrialisasi di Eropa. Negara yang mengalami stagnasi dalam penelitian Tyszynski adalah India. Tyszynski melihat bahwa perubahan ekspor dalam suatu perdagangan dunia disebabkan oleh perubahan di dalam perdagangan dunia dan perubahan daya saing negara tersebut.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif. Metode ini dalam menarik kesimpulan didasarkan pada perhitungan statistik dan matematis.

Operasionalisasi Variabel

Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini menggunakan dua buah variabel utama, yaitu variabel independen atau variabel bebas dan variabel dependen atau variabel terikat. Variabel pertumbuhan nilai komoditas ekspor Indonesia, dalam hal ini komoditas kopi, dinyatakan sebagai variabel dependen atau terikat (Y). Variabel perdagangan dunia (perdagangan internasional), variabel distribusi pasar, dan variabel daya saing merupakan variabel independen atau variabel bebas (X). Uraian variabel independen atau variabel bebas dalam penelitian ini dibagi menjadi 3 variabel X, dimana X1 adalah perdagangan dunia

(perdagangan internasional), X2 adalah distribusi pasar, dan X3 adalah daya saing.

Learner dan Stern (1970) dalam Juswanto dan Mulyanti (2003) mengembangkan dan menjelaskan metode constant market share secara jelas, berikut ini notasi yang digunakan

dalam mengembangkan metode ini:

Vi. : Nilai ekspor komoditas i dari negara A dalam periode pertama.

Vi.’ : Nilai ekspor komoditas i dari negara A dalam periode kedua.

V.j : Nilai ekspor dari negara A menuju negara j dalam periode pertama.

(10)

j

ri : Persentase pertumbuhan dalam total nilai ekspor dunia untuk komoditas i

dari periode pertama menuju periode kedua.

rij : Persentase pertumbuhan dalam total nilai ekspor dunia untuk komoditas i

ke negara j dari periode pertama menuju periode kedua.

Nilai ekspor dari negara A dalam periode pertama, diwujudkan dalam persamaan (3.1) adalah:

dan selanjutnya dapat digambarkan pula nilai ekspor dari negara A dalam periode pertama, melalui persamaan (3.2) berikut:

Pada tingkat pertama dari analisis ini, maka dapat digambarkan nilai ekspor hanya dari satu komoditas kepada satu pasar saja. Pada tingkatan ini argumentasi dari metode tersebut mensyaratkan jika negara A memelihara atau menjaga nilai pangsa ekspornya dalam pasar dunia maka nilai ekspor tersebut akan mengalami pertumbuhan yang diwujudkan oleh rV.., dan formulasi dari pertumbuhan tersebut dapat dilihat dalam persamaan (3.3) berikut:

Persamaan (3.3) di atas, menggambarkan tingkat pertama dari analisis ini, artinya pertumbuhan nilai ekspor dari periode pertama menuju periode kedua (V’.. – V..) merupakan

bagian yang dihubungkan dengan pertumbuhan secara umum dari nilai ekspor dunia (rV..) dan tanpa menjelaskan residu (sisa), tetapi pada sisi daya saing ekspor dari negara tersebut

(V’.. – V.. – rV..).

(11)

..

Dan semua persamaan di atas diaggregasikan dalam persamaan (3.5):

(1) (2) (3)

Persamaan (3.5) merepresentasikan analisis tingkat kedua dimana laju pertumbuhan nilai ekspor dari negara A (V’.. – V..), merupakan variabel dependen atau variabel terikat Y,

yang mana dipengaruhi oleh 3 atribut atau faktor, yakni:

(1) Pertumbuhan atau kenaikan nilai ekspor dunia (perdagangan dunia/perdagangan internasional); menjadi variabel independen atau variabel bebas X1.

(2) Komposisi komoditas dari negara A pada periode pertama (distribusi pasar ke negara tujuan ekspor); menjadi variabel independen atau variabel bebas X2.

(3) Daya saing ekspor dari negara A menuju negara tujuan ekspor; menjadi variabel independen atau variabel bebas X3.

Operasionalisasi dan formulasi variabel berdasarkan pemaparan dari persamaan-persamaan di atas dalam analisis constan market share, ditabulasikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.1 Operasionalisasi dan Formulasi Variabel

VARIABEL KONSEP FORMULA SKALA

(12)

i

i i i i

V

r

V

V

. . .

Daya Saing (Independen: X3)

Kemampuan bersaing ekspor suatu negara yang disebabkan oleh pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi

Ratio

Sumber: Juswanto., Wawan; Mulyanti., Puji. 2003. Indonesia’s Manufactured Exports: A Constant Market Shares Analysis. Jurnal Keuangan dan Moneter, Volume 6 Nomor 2: 97-106.

HASIL

Constant Market Share Analysis (CMSA) adalah suatu metode analisis untuk mengetahui kinerja komoditas ekspor dari suatu negara, dimana analisis ini mampu melihat kinerja komoditas ekspor suatu negara. Analisis ini akan memilah penyebab pertumbuhan nilai komoditas ekspor atau kenaikan komoditas ekspor menjadi empat bagian, yaitu:

1. Kenaikan komoditas ekspor dunia atau perdagangan dunia (perdagangan internasional), 2. Komposisi komoditas ekspor dari negara yang bersangkutan,

3. Distribusi negara tujuan komoditas ekspor, dan terakhir adalah 4. Daya saing dari komoditas ekspor tersebut.

Penelitian ini, yang membahas tentang pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia dalam perdagangan dunia, dimana variabel komposisi komoditas akan diabaikan, karena dalam penelitian yang dilakukan ini hanya terdiri dari satu jenis komoditas ekspor saja, yaitu komoditas kopi.

Uji hipotesis akan menggunakan model regresi linier berganda dengan menggunakan persamaan matematika yang pernah digunakan dalam penelitian Mohammad Haji Alias, Fatimah Mohd. Ashad, dan Abdul Aziz Abdul Rahman (1992), dimana persamaan matematika tersebut telah dimodifikasi untuk kebutuhan dan kepentingan penelitian penulis.

Kemudian, akan dilakukan uji statistik terhadap hasil dari persamaan matematika

(13)

 

 

i

i i i i i

i

i

r

V

V

V

r

V

r

rV

V

V

..

..

..

. . . .

PEMBAHASAN

Persamaan matematika dari model pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia yang digunakan dalam penelitian ini tersaji sebagai berikut:

(1) (2) (3) (4)

(1) Persamaan untuk pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia; merupakan variabel dependen atau variabel terikat Y.

(2) Persamaan untuk pertumbuhan atau kenaikan nilai komoditas ekspor kopi dunia (perdagangan dunia/perdagangan internasional); merupakan variabel independen atau variabel bebas X1.

(3) Persamaan untuk komposisi komoditas ekspor kopi Indonesia (distribusi pasar ke negara tujuan ekspor); merupakan variabel independen atau variabel bebas X2.

(4) Persamaan untuk daya saing komoditas ekspor kopi Indonesia menuju negara tujuan ekspor; merupakan variabel independen atau variabel bebas X3.

dimana:

V : Total nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

Vi. : Nilai komoditas ekspor kopi Indonesia kepada 10 negara tujuan utama ekspor.

(Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Perancis, Belanda, Aljazair, Denmark,

Maroko, dan Singapura)

r : Angka pertumbuhan dalam total nilai komoditas ekspor kopi dunia.

ri : Angka pertumbuhan dalam total nilai komoditas ekspor kopi dunia kepada 10 negara

tujuan utama ekspor. (Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Perancis, Belanda,

Aljazair, Denmark, Maroko, dan Singapura), sedangkan notasi ‘ menunjukkan inisial

dari periode kedua.

(14)

Tabel 4.11 Hasil Perhitungan

Analisis dengan Regresi Linear Berganda

n Periode Y X1 X2 X3

1 1992 – 1993 1,1 -1,4 7,0 -4,5

2 1994 – 1995 4,0 -1,0 30,2 -25,2

3 1996 – 1997 23,9 10,6 22,7 -9,4

4 1998 – 1999 -2,0 9,7 -18,6 6,7

5 2000 – 2001 14,6 -7,4 5,3 16,7

6 2002 – 2003 29,2 -12,4 149,7 -108,1

7 2004 – 2005 8,6 -8,6 71,9 -63,3

8 2006 – 2007 47,4 13,2 244,9 -210,7

9 2008 – 2009 38,4 76,4 -86,1 48,1

10 2010 – 2011 86,0 45,6 -177,3 217,7

Total 251,2 124,7 249,7 -132

Berdasarkan tabel perhitungan di atas, maka dapat dibuat persamaan sebagai berikut:

Y = 4,326 + 0,893X1 + 0,926X2 + 0,934X3

Dimana, Y adalah pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia yang merupakan variabel dependen (variabel terikat) yang dipengaruhi oleh 3 (tiga) variabel independen (variabel bebas), yakni variabel X1 atau variabel perdagangan dunia/perdagangan

internasional, variabel X2 atau variabel distribusi pasar, dan variabel X3 atau variabel daya

saing. Uji hipotesis akan dilakukan selanjutnya setelah menghitung analisis regresi linear

berganda, untuk menguji F-statistik (F-test) dan t-statistik (t-test). Uji ini akan dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer (software) yakni Program SPSS 17.0 for Windows.

Uji Hipotesis Pertama

Uji hipotesis pertama akan menguji apakah perdagangan komoditas kopi dunia, distribusi pasar komoditas kopi Indonesia, dan daya saing komoditas kopi Indonesia memiliki

pengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun, sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 2011.

H0 = Perdagangan dunia (perdagangan internasional), distribusi pasar, dan daya saing

(15)

Hi = Perdagangan dunia (perdagangan internasional), distribusi pasar, dan daya saing

memiliki pengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

Hasil dari uji F-statistik dengan menggunakan Program SPSS 17.0 for Windows

diperoleh data bahwa Fhitung adalah 101,626 dengan tingkat signifikansi

 

 sebesar 0,001.

Tingkat signifikansi

 

 yang bernilai 0,001 menjadikan nilai probabilitas jauh lebih kecil dari 0,005, maka perdagangan dunia (perdagangan internasional), distribusi pasar, dan daya saing memiliki pengaruh secara bersamaan terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia dengan tingkat kepercayaan 99%. Perbandingan antara statistik hitung dengan statistik tabel memiliki syarat:

1. Jika statistik Fhitung < statistik ttabel, maka H0 diterima.

2. Jika statistik Fhitung > statistik ttabel, maka H0 ditolak.

Hasil dari uji F-statistik diperoleh nilai Ftabel sebesar 4,760. Nilai sebesar 4,760

menjadikan Fhitung lebih besar dibandingkan dengan Ftabel (101,626 > 4,760), maka H0

ditolak. Arti dari hasil perhitungan ini bahwa perdagangan dunia (perdagangan

internasional), distribusi pasar, dan daya saing memiliki pengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

Uji Hipotesis Kedua

Uji hipotesis kedua akan menguji apakah perdagangan komoditas kopi dunia, distribusi pasar komoditas kopi Indonesia, dan daya saing komoditas kopi Indonesia memiliki pengaruh secara parsial terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun, sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 2011.

H0 = Perdagangan dunia (perdagangan internasional), distribusi pasar, dan daya saing

tidak memiliki pengaruh secara parsial terhadap pertumbuhan nilai komoditas

ekspor kopi Indonesia.

Hi = Perdagangan dunia (perdagangan internasional), distribusi pasar, dan daya saing

memiliki pengaruh secara parsial terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

Hasil dari uji t-statistik dengan menggunakan Program SPSS 17.0 for Windows

(16)

13,559; dan nilai statistik hitung dari daya saing adalah sebesar 13,535, dengan tingkat

signifikansi

 

 sebesar 5%, derajat kebebasan (df) = 8 yang diperoleh dari jumlah data dikurangi dengan dua (n – 2), serta uji yang dilakukan dua sisi. Nilai untuk ttabel dua sisi

diperoleh angka 2,306. Perbandingan antara statistik hitung dengan statistik tabel memiliki syarat:

1. Jika statistik thitung < statistik ttabel, maka H0 diterima.

2. Jika statistik thitung > statistik ttabel, maka H0 ditolak.

Uraian dari hasil uji t-statistik di atas, secara lebih rinci untuk mengetahui apakah perdagangan komoditas kopi dunia, distribusi pasar komoditas kopi Indonesia, dan daya saing komoditas kopi Indonesia memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan nilai komoditas

ekspor kopi Indonesia akan dipaparkan sebagai berikut:

A. Perdagangan Dunia (Perdagangan Internasional)

Nilai statistik thitung (13,455) > statistik ttabel (2,306), maka H0 ditolak, berarti koefisien

regresi signifikan, dengan kata lain bahwa perdagangan dunia (perdagangan internasional) memiliki pengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

B. Distribusi Pasar

Nilai statistik thitung (13,559) > statistik ttabel (2,306), maka H0 ditolak, berarti koefisien

regresi signifikan, dengan kata lain distribusi pasar memiliki pengaruh secara signifikan

terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

C. Daya Saing

Nilai statistik thitung (l3,535) > statistik ttabel (2,306), maka H0 ditolak, berarti koefisien

regresi signifikan, dengan kata lain daya saing memiliki pengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

KESIMPULAN & SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil perhitungan dan analisis penelitian yang telah diuraikan pada bagian di atas, akan diuraikan sebagai berikut:

1. Hasil dari uji statistik menunjukkan bahwa nilai statistik Fhitung dari perdagangan

dunia/perdagangan inernasional (101,626) lebih besar dari nilai statistik Ftabel (4,760).

(17)

a. Jika statistik Fhitung < statistik ttabel, maka H0 diterima.

b. Jika statistik Fhitung > statistik ttabel, maka H0 ditolak.

Nilai yang lebih besar dari statistik Fhitung (101,626) dibandingkan dengan statistik Ftabel

(4,760), maka H0 ditolak. Arti dari nilai-nilai ini bahwa perdagangan dunia (perdagangan

internasional), distribusi pasar, dan daya saing memiliki pengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

2. Hasil dari uji statistik menunjukkan bahwa nilai statistik thitung dari perdagangan

dunia/perdagangan internasional (13,455) lebih besar dari nilai statistik ttabel (2,306), nilai

statistik thitung dari distribusi pasar (13,559) lebih besar dari nilai statistik ttabel (2,306),

dan nilai statistik thitung dari daya saing (13,535) lebih besar dari nilai statistik ttabel

(2,306). Perbandingan antara statistik hitung dengan statistik tabel memiliki syarat: a. Jika statistik thitung < statistik ttabel, maka H0 diterima.

b. Jika statistik thitung > statistik ttabel, maka H0 ditolak.

Nilai yang lebih besar dari statistik thitung dari perdagangan dunia/perdagangan

internasional (13,455) dibandingkan dengan statistik ttabel (2,306), statistik thitung dari

distribusi pasar (13,559) dibandingkan dengan statistik ttabel (2,306), dan statistik thitung

dari daya saing (13,535) dibandingkan dengan statistik ttabel (2,306), maka H0 ditolak.

Arti dari nilai-nilai ini bahwa perdagangan dunia (perdagangan internasional), distribusi pasar, dan daya saing memiliki pengaruh secara parsial terhadap pertumbuhan nilai komoditas ekspor kopi Indonesia.

Saran

Saran dari penelitian ini adalah perlunya diadakan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan alat-alat ukur kineria ekspor yang lainnya selain Constant Market Share

Analysis (CMSA), sehingga diharapkan hasil dari penelitian lanjutan tersebut dapat melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya, sehingga diperoleh hasil yang komprehensif.

REFERENSI

Alias., Mohammad Haji; Arshad., Fatimah Mohd.; Rahman., Abdul Aziz Abdul. 1992. Market Share Analysis of Malaysia’s Palm Oil Exports: Implication on It’s Competitiveness. Jurnal Ekonomi Malaysia 26: 3-20. Ampang Press Sdn. BHD.. Kuala Lumpur. Malaysia.

(18)

Arifin., Sjamsul; Rae., Dian Ediana; Joseph., Charles P.R.. (ed.). 2007. Kerjasama Perdagangan Internasional: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia. Cetakan Pertama. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Arshad., Fatimah Mohd.; Ghaffar., Roslan A.. 1989. Malaysia’s Primary Commodities: Constant Market Shares Analysis. Malaysian Agricultural Policy: Issues and Directions. Serdang: Centre for Agricultural Policy Studies. Universiti Pertanian Malaysia.

Arshad., Fatimah Mohd.; Shamsudin., Mad Nasir; Mohayidin., Mohd. Ghazali. 1995. Palm Oil Industry: Some Measures of Competitiveness. Business and Economic Globalisation: It’s Implications on Malaysian Economy. Serdang: Faculty of Economics and Management. Universiti Pertanian Malaysia. Djiwandono., Sudradjad. 1992. Perdagangan dan Pembangunan. Cetakan Pertama. Penerbit Gramedia.

Jakarta.

Dumairy.. 1997. Perekonomian Indonesia . Cetakan Pertama. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Fagerberg., J.; Sollie., G.. 1987. The Method of Constant Market Shares Analysis Reconsidered. Applied Economics. Volume 19: 1571-1583.

FAO.. 1990-2009. Annual Trade Statistics. FAO.

Griffin., Ricky; Pustay., Michael. 1996. International Business: A Managerial Perspectives. First Edition. Addison-Wesley Publishing Company. New Orleans. USA.

Hadi., Prajogo U.; Mardianto., Sudi. 2004. Analisis Komparasi Daya Saing Produk Ekspor Pertanian Antar Negara ASEAN dalam Era Perdagangan Bebas AFTA. Jurnal Agro Ekonomi. Volume 22 No. 1. Mei 2004: 46-73. Bogor.

Halwani., R. Hendra; Tjiptoherijanto., Prijono. 1993. Perdagangan Internasional: Pendekatan Ekonomi Mikro & Makro. Cetakan Pertama. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Hill., Charles W. L.. 1994. International Business: Competing in The Global Marketplace. First Edition. McGraw-Hill. New York. USA.

ICO.. 1990-2009. Annual Coffee Trade Statistics. ICO. London. England.

Jepma., Catrinus; Rhoen., Andre. (eds.). 1996. International Trade: a Business Perspective. First Published. Addison Wesley Longman Limited. Harlow. Essex. London. England.

Juswanto., Wawan; Mulyanti., Puji. 2003. Indonesia’s Manufactured Exports: a Constant Market Share Analysis. Jurnal Keuangan dan Moneter. Volume 6 Nomor 2. Desember 2003: 97-106. Jakarta.

Krugman., Paul R.; Obstfeld., Maurice; Basri., Faisal H. (Penerjemah). 2005. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan. Edisi Kelima. Cetakan Pertama. PT. Indeks. Jakarta.

Kuntjoro., Mudradjad. 1996. Manajemen Keuangan Internasional. Cetakan Kedua. BPFE. Yogyakarta. Levin., Richard I.; Rubin., David S.. 1991. Statistics for Management. Fifth Edition. Prentice-Hall

International, Inc.. London. England.

M. S.., Amir. 1996. Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri – Suatu Penuntun Impor & Ekspor. Cetakan Kedelapan. PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

M. S.., Amir. 1999. Ekspor Impor: Teori & Penerapannya . Cetakan Keenam. PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

M. S.., Amir. 2000. Strategi Pemasaran Ekspor. Cetakan Pertama. PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta. Mankiw., Gregory; Munandar., Haris (Penerjemah). 2003. Pengantar Ekonomi. Edisi Kedua. Cetakan

Pertama. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Markusen., James R.; Melvin., James R.; Kaempfer., William H.; Maskus., Keith E.. 1995. International Trade: Theory and Evidence. International Editions. McGraw-Hill Book Co.. Singapore.

Milana., C.. 1988. Constant Market Shares Analysis and Index Number Theory. European Journal of Political Economy. Volume 4 Number 4: 453-478.

Nazir., Moh.. 1988. Metode Penelitian. Cetakan Ketiga. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Nelson., Carl A.. 1995. Import/Export: How to Get Started in International Trade. 2nd Edition. McGraw-Hill,

(19)

Nicholson., Robert H.. 1986. Mathematics for Business and Economics. International Edition. McGraw-Hill Book Co.. Singapore.

Noh., Kusairi Mohd.; Arshad., Fatimah Mohd.. 1998. Analisis Syer Pasaran Malar Eksport Komoditi Pertanian: Penganggaran Semula. The Malaysian Journal of Agricultural Economics. Volume 12: 59-74.

Nopirin.. 1996. Ekonomi Internasional. BPFE. Yogyakarta.

Ramdhani., Arifin. 1998. Analisis Keunggulan Komparatif Teh Indonesia ke Amerika Serikat Periode 1983 1994. Skripsi. Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran. Bandung.

Richardson., J. D.. 1971. Constant Market Shares Analysis of Export Growth. Journal of International Economics. Volume 1: 227-239.

Richardson., J. D.. 1971. Some Sensitivity Test for a Constant Market Shares Analysis of Export Growth. Review of Economics and Statistics. Volume 53: 300-304.

Rosenberg., Jerry M.. 1994. Dictionary of International Trade. Business Dictionary Series. John Wiley & Sons, Inc.. Toronto. Canada.

Rugman., Alan M.; Lecraw., Donald J.; Booth., Laurence D.; Reksodijoyo., Sedyana (Penerjemah). 1993. Bisnis Internasional. Cetakan Pertama. PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

Salvatore., Dominick; Sitompul., Rudy (Penerjemah). 1990. Ekonomi Internasional. Cetakan Kedua. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Salvatore., Dominick. 2004. Managerial Economics in a Global Economy. Fifth Edition. Thomson South-Western. Mason. Ohio. USA.

Salvatore., Dominick; Munandar., Haris (Penerjemah). 1997. Ekonomi Internasional. Edisi Kelima. Cetakan Pertama. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Samuelson., Paul A.; Nordhaus., William D., Khalid., A. Q. (Penerjemah). 1986. Ekonomi. Jilid Dua. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Santosa., Siswoyo Hadi. 1999. Analisis Keunggulan Komparatif Ekspor Komoditi Tembakau. Tesis. Pasca Sarjana. Universitas Padjadjaran. Bandung.

Shamsudin., Mad Nasir; Mohayidin., Mohd. Ghazali; Arshad., Fatimah Mohd.. 1995. Competitiveness of Cocoa Export. Business and Economic Globalisation: It’s Implication on Malaysian Economy. Serdang: Faculty of Economics and Management. Universiti Pertanian Malaysia.

Sicat., Geraldo; Arndt., P.; Nirwomo. (Penerjemah). 1991. Ilmu Ekonomi untuk Konteks Indonesia . Cetakan Pertama. LP3ES. Jakarta.

Simonis., Dominique. 2000. Export Performance in Eastern Europe. Proceedings of 40th Congress of the

European Regional Science Association & 26th Meetings of Regional Studies of the Spanish

Association of Regional Science European Monetary Union and Regional Policy. 26th August-1st

September 2000. Barcelona. Spain.

Simonis., Dominique. 2000. Belgium’s Export Performance: a Constant Market Shares Analysis. Working Paper Number 2. Federal Planning Bureau. Brussels. Belgium.

Siswoputranto., P. S.. 1993. Kopi Internasional dan Domestik. Penerbit Kanisius. Jakarta.

Sjahminan., Muchlis. 2006. Market Brief Produk Kopi di Pasar Hongaria . Indonesian Trade Promotion Center. Budapest. Hongaria.

Soekartawi.. 1993. Agribisnis: Teori dan Aplikasinya . Edisi Satu. Cetakan Kedua, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sudjana.. 1996. Metoda Statistika. Edisi Keenam. Penerbit Tarsito. Bandung.

Sulistyo.. 1989. Ekonomi Internasional. Buku Satu (Teori Perdagangan Internasional). Edisi Kedua. Penerbit Liberty. Yogyakarta.

Sumaatmadja., Nursid. 1988. Studi Geografi, Suatu Pendekatan dan Analisa Keuangan. Cetakan Kedua. PT. Alumni. Bandung.

(20)

Trihendradi., Cornelius. 2005. SPSS 13: Step by Step Analisis Data Statistik. Edisi Pertama. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Tyres., R.; Phillips., P.; In Lim, D.. 1985. ASEAN-Australia Trade in Manufactures: a Constant Market Share Analysis, 1970-1979. In Lim, D.. (ed.). ASEAN-Australia Trade in Manufactures. Longman Chesire, Melborne. Australia.

Walpole., Ronald E.; Sumantri., Bambang (Penerjemah). 1990. Pengantar Statistika Edisi Ketiga . Cetakan Kedua. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Widodo., Hg. Suseno Triyanto. 1995. Ekonomi Indonesia Fakta dan Tantangan dalam Era Globalisasi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Gambar

Tabel 3.1 Operasionalisasi dan Formulasi Variabel
Tabel 4.11

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasannya yang telah dijelaskan maka kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut, 1) Perputaran kas berpengaruh positif

Pemicu konflik Poso, bahwa dari gambaran tersebut dapat diketahui, salah satu penyebab utama terjadi konflik Poso, karena persaingan antara elite politik lokal, dipicu

dimaksud pada ayat (6) dilakukan dengan mengaudit secara acak terhadap bukti dokumen pengajuan perpanjangan masa berlaku SKA yang diajukan oleh Asosiasi Profesi

Volume asupan untuk minuman kunyit asam perlu ditentukan disebabkan menurut Tiganis (2009) konsumsi suplemen antioksidan yang berlebihan justru memperparah risiko

Berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan dengan network planning dengan metode lintasan kritis (CPM) dan dipercepat dengan menggunakan metode penambahan tenaga

Toko XYZ adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, yang memperdagangkan barang-barang seperti seragam/uniform, tinta, sarung tangan, dan

Alkoh kohol ol dalam ilmu kimia dikenal dengan sebu!an e!anol adalah minuman dalam ilmu kimia dikenal dengan sebu!an e!anol adalah minuman keras yang mempunyai