• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Pembelajaran IPA SD (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perencanaan Pembelajaran IPA SD (1)"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

Perencanaan Pembelajaran IPA SD Halaman i

MAKALAH

PERENCANAAN PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM SEKOLAH DASAR

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran

Dosen Pengampu: Hermawan Wahyu Setiadi, M.Pd

Disusun oleh Kelompok 9/A3-13:

1. Fradila Ratna Puspinaningrum (13144600092)

2. Asti Ramadhani (13144600110)

3. Sulistiyani (13144600117)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(2)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman ii KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, inayah, serta nikmat-Nya yang tak terhingga sehingga

kita dapat menyelesaikan makalah Perencanaan Pembelajaran dengan judul

“Perencanaan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam”. Tidak lupa kami mengucapkan

terimakasih kepada pihak-pihak yang telah bersedia membantu kami, diantaranya:

1. Allah SWT yang telah memberikan segalanya kepada penulis,

2. Bapak Hermawan Wahyu Setiadi, M.Pd selaku pengampu Mata Kuliah

Perencanan Pembelajaran yang membimbing dan mengarahkan kami

sehingga tugas ini dapat diselesaikan,

3. Orang tua kami maupun orang-orang yang ikut serta membantu dan

mendukung kami dalam menyelesaikan tugas ini, baik dalam dukungan

moril maupun materil yang telah diberikan kepada kami.

Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata

sempurna dan masih banyak kekurangan. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik

dan saran dari semua pihak atas hasil makalah ini. Dan semoga hasil makalah ini

dapat bermanfaat bagi pembaca dan kita semua, Aamiin.

Yogyakarta, 10 November 2015

(3)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... iv

A. Latar Belakang ... iv

B. Rumusan Pembelajaran... v

C. Tujuan Penulisan ... vi

BAB II PEMBAHASAN ... 1

A. Hakikat IPA ... 1

B. Konsep dan Prinsip IPA ... 2

C. Hakikat Pembelajaran IPA ... 4

D. Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA ... 6

E. Model-Model Pembelajaran IPA... 10

F. Lingkungan sebagai Sumber Belajar IPA ... 14

G. Perangkat Pembelajaran IPA SD ... 16

H. Pengembangan Silabus IPA ... 17

I. Pengembangan RPP IPA ... 18

J. Media Pembelajaran IPA ... 21

K. Pengembangan Bahan Ajar IPA ... 24

L. Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam Pembelajaran IPA ... 33

M. Penilaian dalam Pembelajaran IPA ... 35

N. Remediasi dalam Pembelajaran IPA ... 47

O. Contoh Silabus dan RPP ... 57

BAB III PENUTUP ... 69

A. Kesimpulan ... 69

B. Saran ... 69

(4)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman iv BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains dalam arti sempit sebagai disiplin

ilmu dari psysical sciences dan life sciencies. Yang termasuk psysical sciences

adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika;

sedangkan life science meliputi biologi (anatomi, fisiologi, zoologi, citologi dan

seterusnya). James Conant (1997:14) mendefinisikan sains sebagai "suatu deretan

konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang

tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati

dan dieksperimentasikan lebh lanjut. Kemudian A.N Whitehead (1999:15)

menyatakan bahwa sains dibentuk karena pertemuan dua orde pengalaman. Orde

pertama didasarkan pada hasil observasi terhadap gejala/fakta (orde observasi),

dan kedua didasarkan pada konsep-konsep manusia mengenai alam (orde

konsepsional).

IPA (sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau

meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh

dengan rahasia yang tak ada habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia

alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan

sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi adalah lebar.

Namun demikian dari segi waktu, jarak semakin lama semakin sempit, sehingga

semboyan "sains hari ini adalah teknologi hari esok merupakan semboyan yang

berkali-kali dibuktikan oleh sejarah". Bahkan kini sains dan teknologi yang saling

mengisi (komplementer), ibarat mata uang, disatu sisinya mengandung hakikat

sains (the nature of science) dan sisi lainnya mengandung makna teknologi (the

meaning of technology).

Tingkat sains dan teknologi yang ingin dicapai oleh uatu bangsa biasanya

(5)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman v akan datang (abad 22), kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh

kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh suatu bangsa dalam

menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

IPA di Sekolah Dasar hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk

rasa ingin tahu anak didik secara alamiah. Hal ini akan membantu mereka

mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas berdasarkan

bukti serta mengembangkan cara berfikir ilmiah. Fokus program pengajaran IPA

di SD hendaknya ditujukan untuk memupuk minat dan pengembangan anak didik

terhadap dunia mereka dimana mereka hidup.

B. Rumusan Pembelajaran

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah

sebagai berikut:

1. Apa hakikat IPA?

2. Bagaimana konsep dan prinsip IPA?

3. Mengapa IPA perlu diajarkan di Sekolah Dasar?

4. Apa hakikat pembelajaran IPA?

5. Apa saja teori belajar dalam pembelajaran IPA?

6. Apa saja model pembelajaran dalam pembelajaran IPA?

7. Bagaimana media pembelajaran IPA?

8. Bagaimana lingkungan sebagai sumber belajar IPA?

9. Bagaimana perangkat pembelajaran IPA?

10.Bagaimana pengembangan silabus IPA?

11.Bagaimana pengembangan RPP IPA?

12.Bagaimana pengembangan bahan ajar IPA?

13.Bagaimana pengembangan Lembar kerja siswa (LKS) dalam pembelajaran

IPA?

14.Bagaimana penilaian dalam pembelajaran IPA?

(6)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman vi 16.Bagaimana contoh silabus Mata Pelajaran IPA SD?

17.Bagaimana contoh RPP Mata Pelajaran IPA SD?

C. Tujuan Penulisan

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah

sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui hakikat IPA.

2. Untuk mengetahui konsep dan prinsip IPA.

3. Untuk mengetahui mengapa IPA perlu diajarkan di Sekolah Dasar.

4. Untuk mengetahui hakikat pembelajaran IPA.

5. Untuk mengetahui apa saja teori belajar dalam pembelajaran IPA.

6. Untuk mengetahui apa saja model pembelajaran dalam pembelajaran IPA.

7. Untuk mengetahui media pembelajaran IPA.

8. Untuk mengetahui lingkungan sebagai sumber belajar IPA.

9. Untuk mengetahui perangkat pembelajaran IPA.

10.Untuk mengetahui pengembangan silabus IPA.

11.Untuk mengetahui pengembangan RPP IPA.

12.Untuk mengetahui pengembangan bahan ajar IPA.

13.Untuk mengetahui pengembangan Lembar kerja siswa (LKS) dalam

pembelajaran IPA.

14.Untuk mengetahui penilaian dalam pembelajaran IPA.

15.Untuk mengetahui remediasi dalam pembelajaran IPA.

16.Untuk mengetahui contoh silabus Mata Pelajaran IPA SD.

(7)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 1 BAB II

PEMBAHASAN

A. HAKIKAT IPA

Sains berasal dari kata science istilah yg mengacu pada masalah-masalah ke

alaman (nature). Secara sederhana sains didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan

yang mempelajari tentang gejala-gejala alam. Sains juga merupakan bagian dari

ilmu pengetahuan yang terdiri dari fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip,

dan teori-teori yang merupakan produk dari proses ilmiah.

Pengetahuan alam sudah jelas artinya adalah pengetahuan tentang alam

semesta dengan pengetahuan tentang alam semesta dengan segala isinya. Adapun

pengetahuan itu sendiri artinya segala sesuatu yang diketahui oleh manusia. Jadi

secara singkat IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam

semesta dengan segala isinya (Hendro Darmojo, 1992:3).

Selain itu, Nash 1993 (Hendro Darmojo, 1992:3) dalam bukunya The

Nature of Science, menyatakan bahwa IPA itu adalah suatu cara atau metode

untuk mengamati alam. Nash juga menjelaskan bahwa cara IPA mengamati dunia

ini bersifat analisis, lengkap, cermat, serta menghubungkan antara suatu

fenomena dengan fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu

perspektif yang baru tentang obyek yang diamatinya.

Ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa

inggris yaitu natural science, artinya ilmu pengetahuan alam (IPA). Berhubungan

dengan alam atau bersangkutan paut dengan alam, science artinya ilmu

pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science itu pengertiannya

dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari

peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini.

IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis

yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh

(8)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 2 1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala alam dan

kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang

berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen/sistematis (teratur) artinya

pengetahuan itu tersusun dalam suatu system, tidak berdiri sendiri, satu dengan

lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya merupakan satu

kesatuan yang utuh, sedangkan berlaku umum artinya pengetahuan itu tidak

hanya berlaku atau oleh seseorang atau beberapa orang dengan cara

eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.

Selanjunya Winaputra (1992:123) mengemukakan bahwa tidak hanya merupakan

kmpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi memerlukan

kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah.

Kesimpulan:

Dari uraian di atas sains adalah ilmu pengetahuan yang:

1. Mempunyai objek.

2. Menggunakan metode ilmiah.

B. KONSEP DAN PRINSIP IPA

Sebenarnya sains bukan hanya sebuah produk, melainkan juga sebagai

proses yang menghubungkan system, metode atau proses pengamatan,

pemahaman dan penjelasan tentang alam, seperti yang ditulis dalam salah satu

situs internet yang menyatakan bahwa sains merupakan suatu system yang saling

berhubungan dari metode-metode atau proes-proses yang digunakan untuk

menyelidiki, memahami, dan menjelaskan alam semesta.

(Science is also an articulated system of menthods or processes used to

investigate, understand and explain the natural wordl) (http:www2.edafac.usyd.

edu. Au/ methods/ science/ scienceprocesses.htm1).

Lebih jelas Carin dn Sund (1989) menyebutkan bahwa unsur-unsur sains

(9)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 3  Proses, atau metode yang meliputi pengamatan, membuat hipotesis, merancang dan melakukan percobaan, mengukur dan proses-proses

pemahaman kealaman lainnya.

 Produk, meliputi prinsip-prinsip, hukum-hukum, teori-teori, kaidah-kaidah, postulat-postulat dan sebagainya.

 Sikap, misalnya mempercayai, menghargai, menanggapi, menerima, dan sebagainya.

Setiap Pembelajaran IPA dimulai dengan judul yang mengacu pada masalah

utama yang diajarkan dalam unit. Dalam kurikulum, konsep telah diberikan

langsung pada setiap pembelajaran; misalnya satu unit pembelajaran biasanya

berlangsung kurang lebih 80 menit, tetapi mungki dua kali lIPAt drinya yang

dalam hal ini sudah termasuk pratikumnya.

Pada pembelajaran IPA sekolah dasar diperlukan pengetahuan dasar

mengenai konsep yang terkandung dalam setiap unit pelajaran. Sebelum

pembelajaran dimulai sudah barang tentu, guru IPA memberitahu kepada peserta

didik tujuan-tujuan yang diharapkannya, yang kemudian akan menjadi capaian

setelah pelajaan selesai.

Bila topik yang akan dibahas itu berhubungan dengan praktik IPA, maka

guru IPA perlu lebih awal mengkondisikan persiapan-persiapan dalam

menyediakan peralatan/bahan apa saja yang diperlukannya. Berikutnya guru

hendaknya menentukan langkah-langkah pembelajarannya seperti: (1) bagaimana

memulai pembelajaran yakni pengenalan masalah/topik pembelajaran, (2)

bagaimana membuat siswa mengerti tentang konsep yang dipelajarinya, (3)

bagaimana mengaplikasikan konsep sesuai kehidupan sehari-hari, (4)

menyimpulkan pelajaran/memberikan rangkuman ataupun ringkasan dan (5)

(10)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 4 C. HAKIKAT PEMBELAJARAN IPA

1. Belajar Mengajar IPA

Model belajar yang cocok untuk anak Indonesia adalah belajar melalui

pengalaman berlangsung (Lea rning by doing). Model belajar ini memperkuat

daya ingat anak dan biayanya sangat murah sebab menggunakan alat-alat dan

media belajar yang ada di lingkungan anak sendiri.

Dikutip oleh Tisno Hadisubroto dalam bukunya Pembajaran IPA

sekolah Dasar (1996:28), Piaget mengatakan bahwa pengalaman langsung

yang memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan

kognitif anak. Pengalaman langsung anak yang terjadi secara spontan dari

kecil (sejak lahir) sampai berumur 12 tahun. Efesiensi pengelaman langsung

pada anak tergantung pada konsistensi antara hubungan metode dan objek

yang dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Anak akan siap untuk

mengembangkan konsep tertentu hanya bila ia telah memiliki struktur kognitif

(skemata) yang menjadi prasyaratnya yakni perkembangan kognitif yang

bersifat hirarkhis dan integratif.

2. IPA untuk Sekolah Dasar

IPA sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat

pendidikan IPA menjadi penting, tetapi IPA yang bagaimanakah yang paling

tepat untuk anak-anak? Oleh karena struktur kognitif anak-anak tidak dapat

disbanding dengan struktur kognitif ilmuwan, pada hal mereka perlu diberikan

kesempatan untuk berlatih keterampilan-keterampilan proses IPA dan yang

perlu dimodifikasikan sesuai dengan tahap perkembang kognitifnya.

Keterampilan proses sains didefinisikan oleh Paolo dan Marten (dalam

Carin, 1993:5) adalah: (1) mengamati, (2) mencoba memahami apa yang di

amati, (3) mempergunakan pengetahuan baru untuk meramalkan apa yang

terjdi, (4) menguji ramalan-ramalan di bawah kondisi-kondisi untuk melihat

apakah ramalan tersebut benar. Selanjutnya Paolo dan Marten juga

(11)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 5 kesalahan, gagal dan mencoba lagi. Ilmu pengetahuan Alam tidak

menyediakan semua jawaban untuk semua masalah yang kita ajukan. Dalam

IPA anak-anak dan kita harus tetap bersikap skeptis sehingga kita selalu siap

memodifikasi model-model yang kita punyai tentang alam ini sejalan dengan

penemuan-penemuan baru yang kita dapatkan.

Setiap guru harus memahami akan alasan mengapa suatu mata pelajaran

yang diajarkan perlu diajarkan di sekolahnya. Demikian pula halnya dengan

guru IPA, baik sebagai guru mata pelajaran maupun sebagai guru kelas,

seperti halnya di Sekolah Dasar. Ia harus tahu benar kegunaan-kegunaan apa

saja yang dapat diperoleh dari pelajaran IPA.

3. Tujuan Kurikuler Pembelajaran IPA

Berbagai alasan yang menyebabkan mata pelajaran IPA dimasukkan di

dalam suatu kurikulum sekolah yaitu: (1) Bahwa IPA berfaedah bagi suatu

bangsa, kiranya hal itu tidak perlu dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan

materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu

dalam bidang IPA, sebab IPA merupakan dasar teknologi, dan disebut-sebut

sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi

ialah IPA. Orang tidak menjadi insinyur elektronika yang baik, atau dokter

yang baik, tanpa dasar yang cukup luas mengenai imu pengetahuan alam, (2)

Bila diajarkan IPA menurut cara yang tepat, maka IPA merupakan suatu mata

pelajaran yang melatih/mengembangkan kemampuan berpikir kritis; misalnya

IPA diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”. Sebagai

contoh hal berikut ini: “Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?” anak diminta untuk mencari dan menyelidiki hal ini, (3) Bila IPA diajarkan melalui

percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak, maka IPA tidaklah

merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belakang, (4) Mata pelajaran

IPA mempunyai nilai-nilai pendidikan yaita dapat membentuk kepribadian

(12)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 6 Aplikasi teori perkembangan kognitif pada pendidikan IPA adalah

sebagai berikut:

1. Konsep IPA dapat berkembang baik, hanya bila pengalaman langsung

mendahului pengenalan generalisasi-generalisasi abstrak. Metode seperti

ini berlawanan dengan metode tradisional, dimana konsep IPA

diperkenalkan secara verbal saja.

2. Daur belajar yang mendorong perkembangan konsep IPA sebagai berikut:

a. Eksplorasi, yaitu kegiatan dimana anak mengalami atau mengindar

objek secara langsung. Pada langkah ini anak memperoleh informasi

baru yang adakalanya bertentangan dengan konsep yang telah

dimilikinya.

b. Generalisasi, yaitu menarik kesimpulan dari beberapa informasi

(pengalaman) yang tampaknya bertentanga dengan yang telah dimiliki

anak.

c. Deduksi, yaitu mengaplikasikan konsep baru (generalisasi) itu pada

situasi kondisi baru.

Proses berpikir berkembang melalui tahap-tahap daur blajar ini

mendorong perkembngan berpikir sietiko-dedukatif, yakni anak dapat

menganalisis objek IPA dari pemahaman umum hingga pemahaman khusus.

(Usman, 2010: 4)

D. TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA

Teori belajar yang menonjol di dalam pembelajaran IPA adalah teori

kognitivisme dan teori konstruktivisme. Teori kognitivisme menguraikan

perkembangan kognitif dari bayi sampai dewasa. Sedangkan teori

konstruktivisme menekankan bahwa individu tidak menerima begitu saja ide-ide

dari orang lain. Mereka membangun sendiri dalam pikiran mereka ide-ide tentang

(13)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 7 sekolah. Ide-ide yang mereka bentuk dan pengajaran IPA yang mereka dapatkan

di sekolah disimpan didalam struktur kognitif mereka.

Gagasan teori kognitif, dengan tokoh utama Jean Piaget telah

menyumbangkan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk

memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang perkembangan

individu. Menurut Piaget, perkembangan kognitif individu meliputi empat tahab,

yaitu:

1. Tahab sensorimotor : 0-2 tahun

2. Tahab pra operasional : 2 - 7 tahun

3. Tahab operasi kongkret : 7 - 11 tahun

4. Tahab operasi formal : setelah 11 tahun

Masih menurut Piaget bahwa seorang anak dalam belajarnya akan lebih

berhasil apabila disesuaikan dengan tahab perkembangan kognitifnya. Dalam

pembelajaran IPA, peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan

eksperimen dengan objek fisik yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya

dan dibantu oleh pertanyaan pancingan dari guru. Guru hendaknya banyak

memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan

lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dalam lingkungan.

Implikasi teori kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah:

1. Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu

guru dalam mengajar harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara

berpikir anak.

2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan

dengan baik. Untuk itu guru harus membantu agar anak dapat berinteraksi

dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahab perkembangannya.

5. Di dalam kelas, anakanak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara

(14)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 8 Teori Konstruktivisme Richartson (Hidayati: 2011) memandang bahwa

pembentukan pengetahuan sepenuhnya persoalan individu. Lebih lanjut Mattew

(Hidayati; 2011) menyatakan bahwa peranan individu sangat penting dalam

proses pembentukan ilmu pengetahuan. Dari dua pendapat tersebut jelas bahwa

belajar adalah kegiatan aktif peserta didik untuk membangun pengetahuannya.

Peserta didik sendiri yang bertanggung jawab atas peristiwa belajar dan hasil

belajarnya. Peserta didik sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan

organisasi pengalaman serta mengintegraikannya dengan apa yang diketahui.

Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang

dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi

konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan,

yang semuanya ditunjuk untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu

sehingga menjadi semakin sempurna.

Hal yang penting, bagaimana guru mendorong dan menerima otonomi

peserta didik, investigasi bertolak dari data mentah dan sumber-sumber primer

(bukan hanya buku teks), menghargai pemikiran peserta didik, dialog, pencarian,

dan teka-teki sebagai pengarah pembelajaran. Secara tradisional, pembelajaran

telah dianggap sebagai bagian "menirukan" suatu proses yang melibatkan

pengulangan peserta didik, atau meniru-niru informasi yang baru disajikan dalam

laporan atau kuis dan tes. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran

lebih diutamakan untuk membantu peserta didik dalam menginternalisasi,

membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru. Untuk

menginternalisasi serta dapat menerapkan pembelajaran menurut paradigma

konstruktivistik, terlebih dahulu guru diharapkan dapat merubah pikiran sesuai

dengan pandangan konstruktivistik. Melalui pendekatan ini, peserta didik secara

aktif membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan apa yang diketahui peserta

didik berdasarkan "apa yang diketahui peserta didik". Serta guru berperan sebagai

narasumber yang bijak dan berpengetahuan serta berfungsi sebagai sutradara yang

(15)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 9 apabila ada kemacetan proses pembelajaran atau melantur tanpa arah. Proses

pembelajaran IPA yang kontekstual dapat menerjemahkan konsep-konsep abstrak

ke dalam bentuk konkret, mengapresiasikan permasalahan sehari-hari dalam

masyarakat, teknologi dan lingkungan sekitar serta memecahkannya secara

berpikir sistematis, analitis, dan alternatif.

Implikasi model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran

meliputi empat tahapan, yaitu:

1. Apersepsi

Dalam tahap ini, peserta didik didorong untuk mengungkapkan

pengetahuan awal tentang konsep yang akan dibahas. Disini guru dapat

memberikan pertanyaan-pertanyaan problematik tentang fenomena yang

sering ditemui sehari-hari dengan mengaitkan konsep yang akan dibahas dan

peserta didik diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan mengilustrasikan

pemahamannya tentang konsep itu.

2. Eksplorasi

Di tahap ini peserta didik diberi kesempatan untuk menyelidiki dan

menemukan konsep melalui pengumpulan, pengoganisasian, dan

pengintepretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang pendidik

serta secara berkelompok didiskusikan dengan kelompok lain.

3. Diskusi dan Penjelasan Konsep

Saat peserta didik memberi penjelasan dan solusi yang didasarkan pada

hasil observasinya ditambah dengan penguatan pendidik, maka peserta didik

membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari.

4. Pengembangan dan Aplikasi

Guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan

peserta didik dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui

kegiatan atau pemunculan dan pemecahan masalah-masalah yang berkaitan

(16)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 10 Menurut Widodo (Tri Sumi Hapsari; 2011) menyimpulkan bahwa ada lima

unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:

1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal peserta didik

Kegiatan belajar ditujukan untuk membantu peserta didik dalam

mengkonstruksi pengetahuan. Peserta didik didorong untuk mengkonstruksi

pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengatahuan awal yang dimilikinya.

2. Pengalaman belajar yang otentik dan bermakna

Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang

sedemikian rupa sehingga bermakna bagi peserta didik. Oleh karena itu dalam

melakukan pembelajaran hendaklah yang dapat menimbulkan minat, sikap,

dan kebutuhan belajar peserta didik.

3. Adanya lingkungan sosial yang kondusif

Peserta didik diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif

dengan sesama peserta didik maupun dengan guru. Selain itu juga ada

kesempatan bagi peserta didik untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.

4. Adanya dorongan agar peserta didik bisa mandiri

Peserta didik didorong untuk bertanggung jawab terhadap proses

belajarnya. Oleh karena itu, peserta didik dilatih dan diberi kesempatan untuk

melakukan refleksi dan mengatur kesempatan belajarnya.

5. Adanya usaha untuk mengenalkan peserta didik tentang dunia ilmiah

IPA bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga

mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran IPA harus bisa

melatih dan memperkenalkan peserta didik tentang "kehidupan" ilmuwan.

(Haryono, 2013: 49)

E. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN IPA

1. Kontruktivisme dalam Pembelajaran IPA

Apakah yang menjadi tujuan pembelajaran IPA di SD? Samakah cara

(17)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 11 harus sesuai dengan sifat atau karakteristik dari materi pelajaran serta

perkembangannya.

Mengajarkan tidak sama dengan membelajarkan. Hal itu terdeteksi dari

hasil mengajar seorang guru yang tidak selalu dapat membelajarkan siswanya.

Hasil belajar siswanya bervariasi. Apalagi jika kegiatan mengajar seorang

guru tidak mempunyai tujuan atau tidak mengacu pada tujuan.

a. Pandangan tentang Belajar Mengajar

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa mengajar tidak

secara otomatis menjadikan siswa belajar. Tugas guru dalam mengajar

antara lain membantu transfer belajar. Tujuan transfer belajar ialah

menerapkan hal-hal yang telah dipelajari pada situasi baru, artinya apa

yang telah dipelajari itu dibuat umum sifatnya. Melalui penugasan dan

diskusi kelompok misalnya seorang guru dapat membantu transfer belajar.

Oleh karena itu fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip yang diperlukan

untuk terjadinya transfer belajar sudah dikuasai oleh para siswa yang

sedang belajar.

Bigge (dalam Dahar, 1989) merangkum perbedaan penting antara

belajar perilaku dan teori belajar kognitif. Seorang guru penganut teori

perilaku berkeinginan mengubah perilaku siswanya, sedangkan guru

penganut teori perilaku berkeinginan untuk menubah pemahaman

siswanya. Sesungguhnya ada dua kutub belajar dalam pendidikan, yaitu

tabula rasa dan kontruktivisme. Menurut rujukan tabula rasa siswa

diibaratkan sebagai kertas putih yang dapat ditulis apa saja oleh gurunya

atau ibarat wadah yang kosong yang bisa diisi apa saja oleh gurunya.

Dengan pendapat ini seakan-akan siswa pasif dan memiliki keterbatasan

dalam belajar. Menurut rujukan kontrukstivisme setiap orang yang belajar

sesungguhnya membangun pengetahuannya sendiri. Jadi siswanya aktif

(18)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 12 b. Struktur Kognitif

Struktur kognitif seseorang pada suatu saat meliputi segala sesuatu

yang telah dipelajari oleh seseorang (Ausubel dalam Klausemeier, 1994:

22). Hasil belajar dapat dikategorikan menjadi informasi verbal (i);

keterampilan (ii); konsep, prinsip, dan struktur pengetahuan (iii);

taksonomi dan keterampilan memecahkan masalah (iv); strategi belajar

dan strategi mengingat (v). Seluruh hal itu dipelajari “initialy”, dan

dipresentasikan secara internal, diatur, dan disimpan dalam bentuk “image”, simbol, dan makna. Struktur kogntif mengalami perubahan sejak lahir dan maju berkelanjutan sebagai hasil proses belajar dan

pendewasaan/kematangan. Konsep, prinsip dan struktur pengetahuan

(termasuk taksonomi dan hierarkinya) dan pemecahan masalah merupakan

hasil belajar yang penting dalam ramah kognitif.

c. Konsep dan konsepsi

Konsep dan konsepsi merupakan dua istilah yang sering

dipertukarkan penggunaannya, padahal keduanya berbeda baik dalam

pengertian maupun penggunaanya. Kosep bersifat lebih umum dan

dikenal dan diumumkan berdasarkan kesepakatan, sedangkan konsepsi

bersifat khusus atau spesifik dan individual.

Dalam kamus konsep diartikan sebagai sesuatu yang diterima dalam

pikiran, atau sesuatu gagasan yang umum atau abstrak. Menurut Rosser

(dalam Dahar, 1989: 80) konsep adalah suatu abstrak yang mewakili satu

kelas, kejadian, kegiatan; atau hubungan, yang memiliki atribut sama.

Konsep merupakan abstraksi yang berdasarkan pangalaman. Karena

pengalaman dua orang tidak sama, maka konsep yang dibentuk juga

mungkin berbeda. Walaupun konsep-konsepnya berbeda, konsep-konsep

itu cukup serupa bagi kita untuk dapat berkomunikasi satu sama lain

dengan menggunakan nama atau label konsep. Nama atau label konsep itu

(19)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 13 abstrak internal. Nama atau label itu sendiri bukanlah konsep. Dengan

kata lain konsep merupakan suatu abstrak mental yang mewakili

sekelompok stimulus. Contohnya konsep tumbuhan, sel, hidup.

Bell (1995) memberikan batasan konsep dalam dua dimensi.

Dimensi pertama menyatakan konsep sebagai konstruk mental dari

seseorang yang ditandai satu atau lebih kata yang menyatakan konsep

khusus. Dimensi kedua menytakan konsep sebagai pengertian yang

diterima secara sosial. Konsep sebagai konstruk mental merupakan

komponen-komponen kritis dari perubahan kematangan seseorang secara

terus menerus, perluasan struktur kognitif. Konsep juga merupakan batu

batu pengembangan berfikir. Pendidikan formal diarahkan unruk belajar

konsep dan struktur pengetahuan yang saling berhubungan menjadi

konsep-konsep dn prinsip-prinsip yang terorganisir.

Prinsip terbentuk dari konsep. Pembentukan prinsip dan konsep

melibatkan hubungan antar konsep. Terdapat empat (4) tipe dasar

hubungan yang dinyatakan dalam prinsip, yaitu (1) sebab-akibat (

cause-and effect), (2) korelasi (correlational), (3) peluang (axiomatic). Tipe

dasar hubungannya sebab-akibat paling banyak terdapat dalam IPA, tetapi

dalam tipe lainnya banyak ditemukan. Contoh:

 Penyakit TBC disebabkan oleh organisme yang disebut Mycobacterium tuberculosis. (Hubungan sebab-akibat).

 Perkembangan teori sel berlangsung sejalan dengan perkembangan temuan alat dan prosedur dalam mempelajari sel. (Korelasional).  Logam (pada umumnya) mengembang bila dIPAnaskan.

(Peluang).

(20)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 14 Pengalaman seseorang tentang sesuatu (stimulus) menghasilkan

konsepsi. konsepsi seseorang berbeda dengan konsepsi orang lain.

Konsepsi berasal dari kata to conceive yang artinya cara menerima.

Contohnya konsepsi awam tentang “konsep” berarti draft, seperti pada

konsep surat. Melalui contoh tersebut tampak jelas bagaimana

subjektifnya konsepsi seseorang tentang sesuatu (dalam hal ini konsep).

untuk belajar di kelas/sekolah yang lebih lanjut atau hidup di masyarakat.

Dengan cara ini diharapkan kualitas kemampuan siswa dapat dijaga

dengan baik. (Usman: 2010: 51)

F. LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPA

Pembelajaran IPA dapat dialami dalam kehidupan sehari-hari. Kapanpun

dan dimanapun seseorang dapat menjumpai fenomena IPA termasuk dalam

lingkungan dimana kita tinggal.

Salah satu masalah dalam pembelajaran IPA dewasa ini adalah kurangnya

kurangnya sumber belajar untuk mendukung suatu kegiatan belajar mengajar.

Biasanya sumber belajar selalu dikaitkan dengan alat dan bahan yang harus dibeli

di tempat tertentu, sehingga alat dan bahan menjadi bahan sandungan bagi guru

untuk menciptakan iklim belajar yang ideal. Akibatnya peserta didik hanya

dijejali dengan hafalan yang membuat mereka menjadi jenuh dan tidak tertarik

terhadap mata pelajaran IPA.

Sebenarnya sumber belajar dapat juga diperoleh dari sekitar kita, misalnya

dengan menugaskan peserta didik untuk membawa benda-benda tertentu (dapat

berupa barang bekas ke sekolah). Selain itu, lingkungan juga dapat digunakan

dalam kegiatan belajar mengajar. Banyak benda, makhluk hidup atau

fenomena-fenomena alam yang menarik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar, hanya

masalahnya guru belum terbiasa menggunakan lingkungan sebagai sumber

(21)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 15 Banyak keuntungan yang akan diperoleh ketika kita menggunakan

lingkungan sebagai sumber belajar, yaitu:

1. Peserta didik mendapat informasi berdasarkan pengalaman langsung,

karena itu pengajaran akan lebih bermakna dan menarik.

2. Pengajaran menjadi lebih kongkrit.

3. Penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah dan

sesuai dengan permasalahan yang dihadapi peserta didik.

4. Sesuai dengan prinsip pengajaran, yaitu belajar harus dimulai dari yang;

kongkrit ke abstrak, mudah/sederhana ke yang sukar/kompleks, sudah

diketahui ke yang belum diketahui.

5. Mengembangkan motivasi dan prinsip "belajar bagaimana belajar

(learning how to learn)" berdasarkan pada metode ilmiah dan

pengembangan keterampilan proses IPA sehingga akan tertanam sikap

ilmiah.

6. Peserta didik dapat mengenal dan mencintai lingkungannya, sehingga

akan timbul rasa syukur, mengagumi dan mengagungkan kebesaran Tuhan

Yang Maha Esa sebagai Penciptanya.

Untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, ada beberapa

tahapan yang harus dilakukan guru yaitu sebagai berikut:

1. Tahab Persiapan

Pada tahab persiapan, terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan

yang ingin dicapai dari penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dan

menentukan konsep yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Setelah itu

dilakukan survey ke tempat yang ingin dituju. Lakukan penjelajahan di tempa

tersebut dengan teliti. Catat benda-benda, makhluk hidup, makhluk hidup atau

fenomena-fenomena alam yang diperkirakan akan menarik minat peserta

didik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar. Kemudian dari hasil

survey itu dibuatlah Lembar Kerja (LK) yang sesuai dengan tujuan dan

(22)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 16 itu peserta didik tidak melakukan kegiatan eksperimen namun hanya menggali

pengetahuan dan mencatat data-data yang ada, buat instrument yang sesuai

misalnya berupa lembar pengamatan, pedoman wawancara atau kuisioner.

Setelah LK atau instrument yang diperlukan selesai, siapkan alat dan bahan

atau fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk studi lapangan tersebut.

2. Tahab Pelaksanaan

Pada tahab ini, guru hendaknya membimbing peserta didik untuk

melakukan kegiatan sesuai dengan LK atau instrument lain yang dibuat.

Ciptakan suasana yang mendukung agar peserta didik tertarik dan tertantang

untuk melakukan kegiatan sebaik-baiknya.

3. Tahab Pasca Kegiatan Lapangan

Sekembalinya peserta didik dari lapangan, mereka harus membuat

laporan tentang apa yang telah mereka lakukan dan bagaimana hasilnya.

Sistematika laporan sebaiknya diberikan guru untuk memudahkan peserta

didik dalam menyusun laporannya. Laporan yang dibuat peserta didik

hendaknya memuat data yang dapat digunakan guru untuk membimbing

peserta didik agar dapat memahami suatu konsep. Mintalah peserta didik

utnuk mempresentasikan hasil kegiatannya. Ajukan pertanyaan-pertanyan

yang membimbing peserta didik untuk memahami suatu konsep sesuai dengan

kegiatan yang telah mereka lakukan. Setelah pembelajaran selesai, mintalah

kepada peserta didik untuk menempelkan hasil laporannya sebagai pajangan

di kelas masing-masing.

G. PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA SD

Sebagai guru/calon guru salah satu tugas pokok dalam menjalankan

tugasnya sehari-hari adalah menyusun perangkat pembelajaran, diantaranya

adalah sebagai berikut:

1. Silabus

(23)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 17 3. Media

4. Bahan ajar

5. Lembar kerja siswa

6. Evaluasi/Penilaian

Perencanaan proses pembelajaran disusun guna memfasilitasi terjadinya

proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menantang, menyenangkan, dan

diharapkan. Dalam hal ini perencanaan proses pembelajaran merupakan pedoman

yang konsisten dalam melaksanakan, menilai, dan mengawasi proses

pembelajaran.

Perencanaan proses pembelajaran adalah proses perancangan pengalaman

belajar yang bermakna bagi peserta didik. Perencanaan proses pembelajaran yang

bertitik tolak dari standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), yang

tercantum dalam kurikulum kemudian dikembangkan dalam materi pembelajaran,

kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian hasil belajjar,

dan sumber belajar, sampai pada evaluasi.

H. PENGEMBANGAN SILABUS IPA

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata

pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,

materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi

waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar

kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan

pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian (BSNP,

2006).

Langkah-langkah Pengembangan Silabus meliputi:

a. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

b. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

c. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

(24)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 18 e. Penentuan Jenis Penilaian

f. Menentukan Alokasi Waktu

g. Menentukan Sumber Belajar

Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi

(SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta Panduan Penyusunan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengembangan silabus disusun di

bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang

pendidikan untuk SD atau SMP, dan dinas provinsi yang bertanggung jawab di

bidang pendidikan untuk SMA dan SMK, serta Kementrian Agama untuk MI,

MTs, MA dan MAK.

I. PENGEMBANGAN RPP IPA

1. Pengertian dan Unsur-unsur Rencana Pembelajaran

Rencana pembelajaran merupakan persiapan mengajar yang berisi

hal-hal yang perlu atau harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan

kegiatan pembelajaran yang antara lain meliputi: pemilihan materi, metode,

media, dan alat evaluasi. Rencana pembelajaran merupakan realisasi dari

pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus.

Rencana pembelajaran merupakan rencana atau program yang disusun

oleh guru untuk satu atau dua pertemuan, untuk mencapai target satu

kompetensi dasar. Rencana pembelajaran berisi gambaran tentang kompetensi

dasar yang akan dicapai, indikator, materi pokok, skenario pembelajaran tahap

demi tahap dan penilaiannya. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam

penyusunan rencana pembelajaran berdasarkan kompetensi dan kemampuan

dasar yang harus dikuasai siswa, serta materi dan submateri pembelajaran,

pengalaman belajar, yang telah dikembangkan di dalam silabus dengan

menggunakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran yang sesuai

dengan kompetensi yang diharapkan dan materi yang memberikan kecakapan

(25)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 19 strategi, metode dan media yang relevan, yang mendekatkan siswa dengan

pengalaman langsung. Penilaian dengan sistem pengujian menyeluruh dan

berkelanjutan didasarkan pada sistem asessmen yang dikembangkan selaras

dengan pengembangan silabus.

2. Manfaat Rencana Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran memiliki manfaat diantaranya:

a) guru akan terhindar dari keberhasilan secara tidak sengaja, karena

perencanaan disusun untuk mencapai hasil yang optimal,

b) dapat menentukan langkah dan strategi yang tepat dalam pembelajaran;

c) dapat menentukan dan mempersiapkan berbagai alat dan fasilitas yang

diperlukan dalam pembelajaran.

Dengan perkataan lain perencanaan pelaksanaan pembelajaran

bermanfaat sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan

pembelajaran agar lebih terarah dan berjalan efisien dan efektif dalam

mencapai tujuan.

3. Prosedur Pengembangan Rencana Pembelajaran

Dasar utama untuk mengembangkan perencanaan pembelajaran adalah

silabus. Berdasarkan silabus yang ada seorang guru kemudian menentukan

strategi atau model pembelajaran meliputi: pemilihan pendekatan dan metode

pembelajaran serta menentukan media yang digunakan untuk kegiatan

pembelajaran.

Rencana Pembelajaran minimal memiliki komponen–komponen sebagai

berikut:

a. Identitas Rencana Pembelajaran

b. Kompetensi dasar

c. Indikator hasil belajar

d. Media Pembelajaran

e. Skenario Pembelajaran

(26)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 20 Berikut adalah langkah-langkah menyusun Rencana Pembelajaran IPA MI:

a. Tulislah Identitas Rencana Pembelajaran

Identitas rencana pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berisi:

Judul, mata pelajaran, kelas, semester, konsep IPA, dan alokasi waktu.

b. Menuliskan Kompetensi dasar

Kompetensi Dasar adalah kemampuan minimal yang harus dapat

dilakukan atau ditampilkan siswa yang meliputi: pengetahuan,

keterampilan, dan sikap dan nilai nilai setelah mengikuti pembelajaran.

Kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya

yang dapat diukur dan diamati.

c. Perumusan Indikator hasil belajar

Indikator merupakan sasaran yang akan dicapai setelah proses

pembelajaran dilaksanakan. Indikator hasil belajar dijabarkan dari standar

kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum. Dalam

mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:  Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan

kebutuhan belajar siswa

 Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik Ilmu Pengetahuan Alam yakni IPA sebagai proses, IPA sebagai

prosedur dan IPA sebagai produk.

 Dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan atau dapat diamati

d. Daftarlah Kebutuhan Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya dalam perencanaan pembelajaran

harus dicantumkan daftar kebutuhan media, yang berisi daftar alat, benda,

dan media lain yang akan digunakan disertai dengan keterangan jumlah

(27)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 21 e. Rancanglah Skenario Pembelajaran

Skenario pembelajaran berisi langkah tahap demi tahap bagaimana

pembelajaran akan dilaksanakan. Tahapan pembelajaran tertuang dalam

kegiatan awal kegiatan inti dan kegiatan akhir / pemantapan.

f. Penilaian dan Tindak Lanjut

Dalam Penilaian dan tindak lanjut ini dicantumkan prosedur dan

instrument yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar siswa

serta tindak lanjut hasil penilaian. Bila langkah-langkah tersebut

digambarkan dalam bentuk flowchar/diagram maka akan diperoleh

model pengembangan sebagai berikut:

Diagram

Langkah Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

J. MEDIA PEMBELAJARAN IPA

1. Makna dan Peran Media Pembelajaran

Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar,

pengajar, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan

sarana penyampai pesan atau media. Pesan yang akan dikomunikasikan

adalah isi pembelajaran yang ada dalam kurikulum yang dituangkan oleh

pengajar atau fasilitator atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi,

(28)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 22 Untuk menyampaikan pesan pembelajaran dari guru untuk peserta didik,

biasanya guru menggunakan alat bantu mengajar (teaching aids) berupa

gambar, model, atau alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman

kongkret, motivasi belajar, serta mempertinggi daya serap atau yang kita

kenal sebagai alat bantu visual. Dengan berkembangnya teknologi pada

pertengahan abad ke-20 guru juga menggunakan alat bantu audio visual dalam

proses pembelajarannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari verbalisme

yang mungkin terjadi jika hanya menggunakan alat bantu visual saja.

Penggunaan media dalam pembelajaran dapat membantu anak dalam

memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Penggunaan

media dalam pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam

memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret. Hal ini sesuai dengan

pendapat Jerome S Bruner bahwa peserta didik belajar melalui tiga tahapan

yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Tahab enaktif yaitu tahab dimana peserta

didik belajar dengan memanipulasi benda-benda konkrit. Tahab ikonik yaitu

tahab dimana peserta didik belajar dengan menggunakan gambar atau

videotapes. Sementara tahab simbolik yaitu tahab dimana peserta didik belajar

menggunakan simbol-simbol.

2. Manfaat Media Pembelajaran

Media membantu mempertinggi proses belajar yang pada gilirannya

dapat mempertinggi hasil belajar yang sangat diharapkan. Ada beberapa

alasan mengapa media dapat mempertinggi mutu proses belajar, diantaranya

adalah:

a. Makin memperjelas bahan pengajaran yang disampaikan guru.

b. Memberi pengalaman nyata kepada peserta didik.

c. Merangsang peserta didik berdialog dengan dirinya.

d. Merangsang cara berpkir peserta didik.

(29)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 23 Kaitannya dengan pembelajaran IPA, media adalah segala sesuatu yang

dapat menyalurkan pesan dari pengirim ke penerimadan merngsang pikiran,

perasaan, perhatian dan minat peserta didik sehingga terjadi proses belajar IPA.

Secara sederhana kehadiran media dalam pembelajaran IPA memiliki nilai-nilai

praktis sebagai berikut:

a. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang

dimiliki peserta didik.

b. Media yang disajkan dapat melampaui batasan ruang kelas.

c. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi antara peserta didik

dengan lingkungannya.

d. Media yang disajikan dapat menghasilkan keseragaman pengamatan peserta

didik.

e. Secara potensial, media yang disajikan secara tepat dapat menanamkan

konsep dasar IPA yang kongkrit, benar, dan berpijak pada realitas.

f. Media dapat membangkitkan kinginan dan minat baru.

g. Media mampu membangkitkan motivasi dan merangsang peserta didik

untuk belajar IPA.

h. Media mampu memberikan belajar secara integral dan menyeluruh dari

yang kongkrit ke yang abstrak, dari sederhana ke yang rumit.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran

dapat meningkatkan dan mempertinggi proses belajar peseta didik yang pada

akhirnya meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal ini disebabkan karena

media pembelajaran mempunyai fungsi:

a. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik sehingga dapat

menumbuhkan motivasi belajar peserta didik.

b. Pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dIPAhami

peserta didik, dan memungkinkan peserta didik untuk dapat menguasai

(30)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 24 c. Metode belajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata berkomunikasi

verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. Dengan variasi metode

mengajar maka peserta didik tidak merasa bosan dan guru tidak kehabisan

tenaga, apalagi kalau guru mengajar untuk tiap jam pelajaran.

d. Peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar karena tidak hanya

mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,

melakukan , mendemonstrasikan, dan lain-lain.

Berkenaan dengan taraf berpikir peserta didik, taraf berpikir manusia

mengikuti perkembangan dimulai dari berpikir kongkrit menuju berpikir

abstrak, dari berpikir sederhana menuju berpikir kompleks. Dalam hal ini,

penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir

tersebut sebab melalui media hal yang abstrak dapat dikongkritkan dan

hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan. Contohnya penggunaan media berupa

tiruan. (Haryono, 2013: 55)

K. PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA 1. Pengertian Bahan Ajar

Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara

garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus

dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah

ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari

pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau

nilai. Pengetahuan yang termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek,

peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, dan nama orang. Misal, penemu

benua Amerika adalah Copernicus Columbus.

Pengetahuan yang termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi,

ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek. Misal, massa adalah besaran

kuantitas suatu benda. Pengetahuan yang termasuk materi prinsip adalah dalil,

(31)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 25 "jika.. maka….", misalnya Jika logam dIPAnasi maka akan memuai, rumus menghitung massa jenis (�) adalah massa dibagi volume. Pengetahuan yang

termasuk materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan dengan

langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas.

Misal, langkah mengoperasikan peralatan mikroskop atau

langkah-langkah percobaan pengaruh kalor pada benda. Untuk mempermudah

pemahaman klasifikasi materi pembelajaran, perhatikan dan pelajari Tabel

4.1.

2. Penentuan Cakupan Bahan Ajar

Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan

penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Ketepatan dalam

menentukan cakupan, ruang lingkup, dan kedalaman materi pembelajaran

akan menghindarkan guru dari mengajarkan terlalu sedikit atau terlalu

banyak, terlalu dangkal atau terlalu mendalam. Ketepatan urutan penyajian

(sequencing) akan memudahkan bagi siswa mempelajari materi pembelajaran.

Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus

diperhatikan apakah materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip,

prosedur), aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik, sebab nantinya jika

sudah dibawa ke kelas maka masing-masing jenis materi tersebut memerlukan

strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.

Tabel 4.1 Klasifikasi Materi Pembelajaran Menjadi Fakta, Konsep, Prinsip

dan Prosedur

No Jenis Materi Pengertian dan Contoh 1. Fakta Menyebutkan kapan, berapa, nama, dan dimana.

Contoh:

Penemu Benua Amerika adalah Copernicus Colombus, ayam berkembangbik dengan cara bertelur, sapi adalah hewan menyusui berkaki empat.

2. Konsep Definisi, identifikasi, klasifikasi, cirri-ciri khusus. Contoh:

(32)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 26 Identifikasi: larva beraal dari telur hewan yang menetas pada metamorphosis;

Klasifikasi: berdasarkan jenis makanannya paruh burung dikelompokkan menjadi paruh yang lancip - melengkung dan kuat, paruh yang lebar-tumpul, paruh yang lancip-panjang

Cirri Khusus: alat pernapasan pada ikan adalah insang. 3. Prinsip Penerapan dalil, atau hukum yang dapat dinyatakan dengan

pernyataan jika… maka…. Contoh:

Hukum Archimedes: Jika benda padat dimasukka n ke dalam zat cair/fluida maka akan mengalami gaya ke atas sebesar berat zat cair yang dipindahkan zat cair tersebut. 4. Prosedur Bagan arus atau bagan alur (flowchart), algoritma,

langkah-langkah pengerjaan sesuatu secara urut. Contoh:

Langkah percobaan pengaruh kalor pada benda (perubahan wujud):

1. Meletakkan balok es batu ke dalam kantong susu bekas 2. Memanaskan kaleng yang berisi balok es di atas

kompor spiritus/nyala lilin

3. Mencatat perubahan wujud yang terjadi pada es dan mencatat waktu yang diperlukan es untuk mencair.

Selain memperhatikan jenis materi pembelajaran, kita juga harus

memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan

cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman

materinya. Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak

materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi ajar, sedangkan

kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang

terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai oleh siswa. Sebagai contoh,

materi gerak dapat diajarkan di SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi, namun

keluasan dan kedalaman pada setiap jenjang pendidikan tersebut akan

berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin luas cakupan

materi yang dipelajari dan semakin detail pula setiap aspek yang dipelajari.

Di SD materi gerak dipelajari berdasarkan pengalaman siswa yang dikaitkan

(33)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 27 geraknya, di SMA materi gerak dipelajari dengan menggunakan vektor, di

perguruan tinggi materi gerak dipelajari dengan menggunakan matematika

tingkat tinggi.

Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan (adequacy). Kecukupan

(adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan dalam

pengertian. Cukup tidaknya aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan

sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah

ditentukan. Misalnya, jika tujuan pembelajaran IPA dimaksudkan untuk

membelajarkan siswa tentang macam-macam bentuk tulang daun, maka

uraian materinya mencakup: (1) tulang daun bentuk menyirip, misal pada

daun rambutan, lombok,nangka; (2) tulang daun bentuk melengkung, misal

pada daun sirih, lada, gadung; (3) tulang daun bentuk pita/sejajar, misal pada

daun jagung, padi, alang-alang, tebu; dan tulang daun bentuk menjari misal

pada daun pepaya, singkong/ketela pohon.

Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui

apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit,

atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin

dicapai. Misalnya pada mata pelajaran IPA kelas V, salah satu kompetensi

dasar yang diharapkan dimiliki oleh siswa adalah: "Menyimpulkan hasil

penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap".

Setelah diidentifikasi, ternyata materi pembelajaran untuk mencapai

kemampuan menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda,

baik sementara maupun tetap tersebut termasuk jenis prosedur. Jika dianalisis,

secara garis besar cakupan materi yang harus dipelajari siswa agar mampu

menyimpulkan hasil penyelidikan perubahan sifat benda yang bersifat

sementara maupun tetapmeliputi: 1) perubahan sifat benda; 2) perubahan

benda yang bersifat sementara; 2) perubahan benda yang bersifat tetap; 3)

(34)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 28 maupun tetap. Setiap jenis dari keempat materi tersebut masih dapat diperinci

lebih lanjut sesuai tujuan pembelajaran yang ditentukan.

3. Penentuan Urutan Bahan Ajar

Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting untuk

menentukan urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang

tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang

bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan siswa dalam

mempelajarinya. Misalnya materi proses pencernaan makanan pada manusia.

Siswa akan mengalami kesulitan mempelajari proses pencernaan makanan

pada manusia jika materi tentang organ-organ penyusun sistem organ

pencernaan belum dipelajari lebih dulu mengenai urutan dan fungsi

masing-masing organ.

Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta

kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu

pendekatan prosedural dan pendekatan hierarkis. Urutan materi pembelajaran

secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan

langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misal, langkah-langkah

menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh manusia, dan

termometer untuk mengukur suhu benda. Kedua kegiatan tersebut

sama-sama menggunakan termometer tetapi tentunya jenis termometer yang

digunakan berbeda dan cara menggunakannya juga berbeda sesuai

karakteristik jenis termometernya. Jika urutan cara mengoperasikan kedua

jenis termometer tersebut tidak diikuti maka hasil pengukurannya tidak tepat

dan akan merusak fungsi termometer yang digunakan.

Urutan materi pembelajaran secara hierarkis (berjenjang)

menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari

(35)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 29 untuk mempelajari materi berikutnya. Uraian berikut adalah contoh urutan

materi pembelajaran secara hierarkis. Uraian tentang deskripsi hubungan

anatara sifat bahan dengan bahan penyusunnya.

Agar siswa mampu mendeskripsikan hubungan sifat bahan dengan

bahan penyusunnya, siswa terlebih dulu harus melakukan percobaan. Misal,

percobaan untuk menemukan konsep sifat benang plastik (bahan tali plastik)

dan sifat tali plastik, dibandingkan dengan benang katun (bahan) yang terbuat

dari serat katun (bahan penyusun benang katun). Setelah melakukan

percobaan, diharapkan siswa dapat mendeskripsikan hubungan antara sifat

bahan dengan bahan penyusunnya (jika sifat bahan penyusun semakin kuat

maka bahan tersebut juga semakin kuat). Sewlanjutnya, siswa menerapkan

konsep yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang terkait dengan

hubungan pemilihan bahan dengan kekuatan bahan dalam kehidupan

sehari-hari.

Contoh lain tentang urutan tentang hubungan struktur mata dengan

fungsinya yang disajikan pada berikut.

Kompetensi dasar Urutan Materi

1.3 Mendeskripsikan hubungan struktur panca indera, misal mata dan fungsi mata

1. struktur mata

2. fungsi setiap bagian mata 3. fungsi mata

4. hubungan kornea dengan fungsi mata 5. cara kerja mata

4. Prinsip-prinsip Pemilihan Bahan Ajar

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan

ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi

pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Prinsip

relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau

ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan

(36)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 30 siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan

harus berupa fakta atau gubahan hafalan.

Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus

dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga

harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai

siswa adalah mendeskripsikan hubungan struktur panca indera dengan

fungsinya yang meliputi struktur mata (yaitu selaput bening, iris mata,

pupil, lensa mata, otot pemegang lensa, badan bening, retina, bintik kuning,

syaraf mata), fungsi setiap bagian mata, fungsi mata sebagai indera penglihat,

dan hubungan antara bagian mata dengan fungsi mata, maka materi yang

diajarkan juga harus meliput susunan bagian-bagian mata secara berurutan

dari luar ke dalam, fungsi setiap bagian mata, fungsi mata, dan hubungan

antara bagian mata dengan fungsi mata.

Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup

memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.

Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu

sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi

dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan

tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

5. Langkah-langkah Pemilihan Bahan Ajar

Secara lengkap, langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan

sebagai berikut.

a. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi

dan kompetensi dasar

Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu

diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang

harus dipelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan,

karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan

(37)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 31 aspek standar kompetensi tersebut memerlukan materi pembelajaran atau

bahan ajar yang berbeda-beda untuk membantu pencapaiannya.

b. Mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran

Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi

pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif,

afektif, dan psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara

terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip

dan prosedur. Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek,

nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau

komponen suatu benda, dan lain sebagainya. Materi konsep berupa

pengertian, definisi, hakekat, inti isi. Materi jenis prinsip berupa dalil,

rumus, postulat adagium, paradigma, teorema. Materi jenis prosedur

berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut, misalnya

langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin atau cara-cara

pembuatan bel listrik. Materi pembelajaran aspek afektif meliputi:

pemberian respon, penerimaan (apresiasi), internalisasi, dan penilaian.

Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin,

dan rutin.

c. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan

kompetensi dasar

Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah

ditentukan. Langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang sesuai

dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan

kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi

apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau

gabungan lebih darIPAda satu jenis materi.

Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya

adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar

(38)

Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 32 paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan

diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi

dasar yang harus dikuasai siswa. Dengan mengacu pada kompetensi

dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa

fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau psikomotorik. Berikut

adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi jenis

materi pembelajaran:

(1) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa

mengingat nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau

jawabannya "ya" maka materi pembelajaran yang harus diajarkan

adalah "fakta".

(2) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa

kemampuan untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas

sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh

objek sesuai dengan suatu definisi? Kalau jawabannya "ya" berarti

materi yang harus diajarkan adalah "konsep".

(3) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa

menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara

urut atau membuat sesuatu? Bila "ya" maka materi yang harus

diajarkan adalah "prosedur".

(4) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa

menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan

hubungan antara berbagai macam konsep? Bila jawabannya "ya",

berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam

kategori "prinsip".

(5) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa memilih

berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka

Gambar

Tabel 4.1 Klasifikasi Materi Pembelajaran Menjadi Fakta, Konsep, Prinsip
TABEL HASIL PENGAMATAN
Gambar Siswa
Gambar peraga LKS

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa dapat dijaring melalui berbagai

Namun agar penilaian tetap bersifat objektif, maka guru hendaknya menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian diri ini, menentukan kompetensi yang akan dinilai,

Untuk melaksanakan penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu memperhatikan hal-halseperti: menentukan terlebih dahulu kompetensi atau aspek apa yang akan dinilai;

Namun agar penilaian tetap bersifat objektif, maka guru hendaknya menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian diri ini, menentukan kompetensi yang akan dinilai,

Namun agar penilaian tetap bersifat objektif, maka guru hendaknya menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian diri ini, menentukan kompetensi yang akan

Namun agar penilaian tetap bersifat objektif, maka guru hendaknya menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian diri ini, menentukan kompetensi yang akan dinilai,

Namun agar penilaian tetap bersifat objektif, maka guru hendaknya menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian diri ini, menentukan kompetensi yang akan dinilai, kemudian

Rubrik/Kriteria Penilaian Monitoring dan Review Tugas AkhirTerdapat beberapa aspek yang dinilai dari Monitoring dan Review, antara lain: 1.Kemampuan untuk menjelaskan langkah untuk