Perencanaan Pembelajaran IPA SD Halaman i
MAKALAH
PERENCANAAN PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM SEKOLAH DASAR
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran
Dosen Pengampu: Hermawan Wahyu Setiadi, M.Pd
Disusun oleh Kelompok 9/A3-13:
1. Fradila Ratna Puspinaningrum (13144600092)
2. Asti Ramadhani (13144600110)
3. Sulistiyani (13144600117)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman ii KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kita haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, inayah, serta nikmat-Nya yang tak terhingga sehingga
kita dapat menyelesaikan makalah Perencanaan Pembelajaran dengan judul
“Perencanaan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam”. Tidak lupa kami mengucapkan
terimakasih kepada pihak-pihak yang telah bersedia membantu kami, diantaranya:
1. Allah SWT yang telah memberikan segalanya kepada penulis,
2. Bapak Hermawan Wahyu Setiadi, M.Pd selaku pengampu Mata Kuliah
Perencanan Pembelajaran yang membimbing dan mengarahkan kami
sehingga tugas ini dapat diselesaikan,
3. Orang tua kami maupun orang-orang yang ikut serta membantu dan
mendukung kami dalam menyelesaikan tugas ini, baik dalam dukungan
moril maupun materil yang telah diberikan kepada kami.
Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak kekurangan. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik
dan saran dari semua pihak atas hasil makalah ini. Dan semoga hasil makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca dan kita semua, Aamiin.
Yogyakarta, 10 November 2015
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... iv
A. Latar Belakang ... iv
B. Rumusan Pembelajaran... v
C. Tujuan Penulisan ... vi
BAB II PEMBAHASAN ... 1
A. Hakikat IPA ... 1
B. Konsep dan Prinsip IPA ... 2
C. Hakikat Pembelajaran IPA ... 4
D. Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA ... 6
E. Model-Model Pembelajaran IPA... 10
F. Lingkungan sebagai Sumber Belajar IPA ... 14
G. Perangkat Pembelajaran IPA SD ... 16
H. Pengembangan Silabus IPA ... 17
I. Pengembangan RPP IPA ... 18
J. Media Pembelajaran IPA ... 21
K. Pengembangan Bahan Ajar IPA ... 24
L. Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam Pembelajaran IPA ... 33
M. Penilaian dalam Pembelajaran IPA ... 35
N. Remediasi dalam Pembelajaran IPA ... 47
O. Contoh Silabus dan RPP ... 57
BAB III PENUTUP ... 69
A. Kesimpulan ... 69
B. Saran ... 69
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman iv BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains dalam arti sempit sebagai disiplin
ilmu dari psysical sciences dan life sciencies. Yang termasuk psysical sciences
adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika;
sedangkan life science meliputi biologi (anatomi, fisiologi, zoologi, citologi dan
seterusnya). James Conant (1997:14) mendefinisikan sains sebagai "suatu deretan
konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang
tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati
dan dieksperimentasikan lebh lanjut. Kemudian A.N Whitehead (1999:15)
menyatakan bahwa sains dibentuk karena pertemuan dua orde pengalaman. Orde
pertama didasarkan pada hasil observasi terhadap gejala/fakta (orde observasi),
dan kedua didasarkan pada konsep-konsep manusia mengenai alam (orde
konsepsional).
IPA (sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau
meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh
dengan rahasia yang tak ada habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia
alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan
sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi adalah lebar.
Namun demikian dari segi waktu, jarak semakin lama semakin sempit, sehingga
semboyan "sains hari ini adalah teknologi hari esok merupakan semboyan yang
berkali-kali dibuktikan oleh sejarah". Bahkan kini sains dan teknologi yang saling
mengisi (komplementer), ibarat mata uang, disatu sisinya mengandung hakikat
sains (the nature of science) dan sisi lainnya mengandung makna teknologi (the
meaning of technology).
Tingkat sains dan teknologi yang ingin dicapai oleh uatu bangsa biasanya
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman v akan datang (abad 22), kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh
kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh suatu bangsa dalam
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
IPA di Sekolah Dasar hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk
rasa ingin tahu anak didik secara alamiah. Hal ini akan membantu mereka
mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas berdasarkan
bukti serta mengembangkan cara berfikir ilmiah. Fokus program pengajaran IPA
di SD hendaknya ditujukan untuk memupuk minat dan pengembangan anak didik
terhadap dunia mereka dimana mereka hidup.
B. Rumusan Pembelajaran
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Apa hakikat IPA?
2. Bagaimana konsep dan prinsip IPA?
3. Mengapa IPA perlu diajarkan di Sekolah Dasar?
4. Apa hakikat pembelajaran IPA?
5. Apa saja teori belajar dalam pembelajaran IPA?
6. Apa saja model pembelajaran dalam pembelajaran IPA?
7. Bagaimana media pembelajaran IPA?
8. Bagaimana lingkungan sebagai sumber belajar IPA?
9. Bagaimana perangkat pembelajaran IPA?
10.Bagaimana pengembangan silabus IPA?
11.Bagaimana pengembangan RPP IPA?
12.Bagaimana pengembangan bahan ajar IPA?
13.Bagaimana pengembangan Lembar kerja siswa (LKS) dalam pembelajaran
IPA?
14.Bagaimana penilaian dalam pembelajaran IPA?
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman vi 16.Bagaimana contoh silabus Mata Pelajaran IPA SD?
17.Bagaimana contoh RPP Mata Pelajaran IPA SD?
C. Tujuan Penulisan
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui hakikat IPA.
2. Untuk mengetahui konsep dan prinsip IPA.
3. Untuk mengetahui mengapa IPA perlu diajarkan di Sekolah Dasar.
4. Untuk mengetahui hakikat pembelajaran IPA.
5. Untuk mengetahui apa saja teori belajar dalam pembelajaran IPA.
6. Untuk mengetahui apa saja model pembelajaran dalam pembelajaran IPA.
7. Untuk mengetahui media pembelajaran IPA.
8. Untuk mengetahui lingkungan sebagai sumber belajar IPA.
9. Untuk mengetahui perangkat pembelajaran IPA.
10.Untuk mengetahui pengembangan silabus IPA.
11.Untuk mengetahui pengembangan RPP IPA.
12.Untuk mengetahui pengembangan bahan ajar IPA.
13.Untuk mengetahui pengembangan Lembar kerja siswa (LKS) dalam
pembelajaran IPA.
14.Untuk mengetahui penilaian dalam pembelajaran IPA.
15.Untuk mengetahui remediasi dalam pembelajaran IPA.
16.Untuk mengetahui contoh silabus Mata Pelajaran IPA SD.
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 1 BAB II
PEMBAHASAN
A. HAKIKAT IPA
Sains berasal dari kata science istilah yg mengacu pada masalah-masalah ke
alaman (nature). Secara sederhana sains didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang gejala-gejala alam. Sains juga merupakan bagian dari
ilmu pengetahuan yang terdiri dari fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip,
dan teori-teori yang merupakan produk dari proses ilmiah.
Pengetahuan alam sudah jelas artinya adalah pengetahuan tentang alam
semesta dengan pengetahuan tentang alam semesta dengan segala isinya. Adapun
pengetahuan itu sendiri artinya segala sesuatu yang diketahui oleh manusia. Jadi
secara singkat IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam
semesta dengan segala isinya (Hendro Darmojo, 1992:3).
Selain itu, Nash 1993 (Hendro Darmojo, 1992:3) dalam bukunya The
Nature of Science, menyatakan bahwa IPA itu adalah suatu cara atau metode
untuk mengamati alam. Nash juga menjelaskan bahwa cara IPA mengamati dunia
ini bersifat analisis, lengkap, cermat, serta menghubungkan antara suatu
fenomena dengan fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu
perspektif yang baru tentang obyek yang diamatinya.
Ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa
inggris yaitu natural science, artinya ilmu pengetahuan alam (IPA). Berhubungan
dengan alam atau bersangkutan paut dengan alam, science artinya ilmu
pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science itu pengertiannya
dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari
peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini.
IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis
yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 2 1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala alam dan
kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang
berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen/sistematis (teratur) artinya
pengetahuan itu tersusun dalam suatu system, tidak berdiri sendiri, satu dengan
lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya merupakan satu
kesatuan yang utuh, sedangkan berlaku umum artinya pengetahuan itu tidak
hanya berlaku atau oleh seseorang atau beberapa orang dengan cara
eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.
Selanjunya Winaputra (1992:123) mengemukakan bahwa tidak hanya merupakan
kmpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi memerlukan
kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah.
Kesimpulan:
Dari uraian di atas sains adalah ilmu pengetahuan yang:
1. Mempunyai objek.
2. Menggunakan metode ilmiah.
B. KONSEP DAN PRINSIP IPA
Sebenarnya sains bukan hanya sebuah produk, melainkan juga sebagai
proses yang menghubungkan system, metode atau proses pengamatan,
pemahaman dan penjelasan tentang alam, seperti yang ditulis dalam salah satu
situs internet yang menyatakan bahwa sains merupakan suatu system yang saling
berhubungan dari metode-metode atau proes-proses yang digunakan untuk
menyelidiki, memahami, dan menjelaskan alam semesta.
(Science is also an articulated system of menthods or processes used to
investigate, understand and explain the natural wordl) (http:www2.edafac.usyd.
edu. Au/ methods/ science/ scienceprocesses.htm1).
Lebih jelas Carin dn Sund (1989) menyebutkan bahwa unsur-unsur sains
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 3 Proses, atau metode yang meliputi pengamatan, membuat hipotesis, merancang dan melakukan percobaan, mengukur dan proses-proses
pemahaman kealaman lainnya.
Produk, meliputi prinsip-prinsip, hukum-hukum, teori-teori, kaidah-kaidah, postulat-postulat dan sebagainya.
Sikap, misalnya mempercayai, menghargai, menanggapi, menerima, dan sebagainya.
Setiap Pembelajaran IPA dimulai dengan judul yang mengacu pada masalah
utama yang diajarkan dalam unit. Dalam kurikulum, konsep telah diberikan
langsung pada setiap pembelajaran; misalnya satu unit pembelajaran biasanya
berlangsung kurang lebih 80 menit, tetapi mungki dua kali lIPAt drinya yang
dalam hal ini sudah termasuk pratikumnya.
Pada pembelajaran IPA sekolah dasar diperlukan pengetahuan dasar
mengenai konsep yang terkandung dalam setiap unit pelajaran. Sebelum
pembelajaran dimulai sudah barang tentu, guru IPA memberitahu kepada peserta
didik tujuan-tujuan yang diharapkannya, yang kemudian akan menjadi capaian
setelah pelajaan selesai.
Bila topik yang akan dibahas itu berhubungan dengan praktik IPA, maka
guru IPA perlu lebih awal mengkondisikan persiapan-persiapan dalam
menyediakan peralatan/bahan apa saja yang diperlukannya. Berikutnya guru
hendaknya menentukan langkah-langkah pembelajarannya seperti: (1) bagaimana
memulai pembelajaran yakni pengenalan masalah/topik pembelajaran, (2)
bagaimana membuat siswa mengerti tentang konsep yang dipelajarinya, (3)
bagaimana mengaplikasikan konsep sesuai kehidupan sehari-hari, (4)
menyimpulkan pelajaran/memberikan rangkuman ataupun ringkasan dan (5)
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 4 C. HAKIKAT PEMBELAJARAN IPA
1. Belajar Mengajar IPA
Model belajar yang cocok untuk anak Indonesia adalah belajar melalui
pengalaman berlangsung (Lea rning by doing). Model belajar ini memperkuat
daya ingat anak dan biayanya sangat murah sebab menggunakan alat-alat dan
media belajar yang ada di lingkungan anak sendiri.
Dikutip oleh Tisno Hadisubroto dalam bukunya Pembajaran IPA
sekolah Dasar (1996:28), Piaget mengatakan bahwa pengalaman langsung
yang memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan
kognitif anak. Pengalaman langsung anak yang terjadi secara spontan dari
kecil (sejak lahir) sampai berumur 12 tahun. Efesiensi pengelaman langsung
pada anak tergantung pada konsistensi antara hubungan metode dan objek
yang dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Anak akan siap untuk
mengembangkan konsep tertentu hanya bila ia telah memiliki struktur kognitif
(skemata) yang menjadi prasyaratnya yakni perkembangan kognitif yang
bersifat hirarkhis dan integratif.
2. IPA untuk Sekolah Dasar
IPA sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat
pendidikan IPA menjadi penting, tetapi IPA yang bagaimanakah yang paling
tepat untuk anak-anak? Oleh karena struktur kognitif anak-anak tidak dapat
disbanding dengan struktur kognitif ilmuwan, pada hal mereka perlu diberikan
kesempatan untuk berlatih keterampilan-keterampilan proses IPA dan yang
perlu dimodifikasikan sesuai dengan tahap perkembang kognitifnya.
Keterampilan proses sains didefinisikan oleh Paolo dan Marten (dalam
Carin, 1993:5) adalah: (1) mengamati, (2) mencoba memahami apa yang di
amati, (3) mempergunakan pengetahuan baru untuk meramalkan apa yang
terjdi, (4) menguji ramalan-ramalan di bawah kondisi-kondisi untuk melihat
apakah ramalan tersebut benar. Selanjutnya Paolo dan Marten juga
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 5 kesalahan, gagal dan mencoba lagi. Ilmu pengetahuan Alam tidak
menyediakan semua jawaban untuk semua masalah yang kita ajukan. Dalam
IPA anak-anak dan kita harus tetap bersikap skeptis sehingga kita selalu siap
memodifikasi model-model yang kita punyai tentang alam ini sejalan dengan
penemuan-penemuan baru yang kita dapatkan.
Setiap guru harus memahami akan alasan mengapa suatu mata pelajaran
yang diajarkan perlu diajarkan di sekolahnya. Demikian pula halnya dengan
guru IPA, baik sebagai guru mata pelajaran maupun sebagai guru kelas,
seperti halnya di Sekolah Dasar. Ia harus tahu benar kegunaan-kegunaan apa
saja yang dapat diperoleh dari pelajaran IPA.
3. Tujuan Kurikuler Pembelajaran IPA
Berbagai alasan yang menyebabkan mata pelajaran IPA dimasukkan di
dalam suatu kurikulum sekolah yaitu: (1) Bahwa IPA berfaedah bagi suatu
bangsa, kiranya hal itu tidak perlu dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan
materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu
dalam bidang IPA, sebab IPA merupakan dasar teknologi, dan disebut-sebut
sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi
ialah IPA. Orang tidak menjadi insinyur elektronika yang baik, atau dokter
yang baik, tanpa dasar yang cukup luas mengenai imu pengetahuan alam, (2)
Bila diajarkan IPA menurut cara yang tepat, maka IPA merupakan suatu mata
pelajaran yang melatih/mengembangkan kemampuan berpikir kritis; misalnya
IPA diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”. Sebagai
contoh hal berikut ini: “Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?” anak diminta untuk mencari dan menyelidiki hal ini, (3) Bila IPA diajarkan melalui
percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak, maka IPA tidaklah
merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belakang, (4) Mata pelajaran
IPA mempunyai nilai-nilai pendidikan yaita dapat membentuk kepribadian
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 6 Aplikasi teori perkembangan kognitif pada pendidikan IPA adalah
sebagai berikut:
1. Konsep IPA dapat berkembang baik, hanya bila pengalaman langsung
mendahului pengenalan generalisasi-generalisasi abstrak. Metode seperti
ini berlawanan dengan metode tradisional, dimana konsep IPA
diperkenalkan secara verbal saja.
2. Daur belajar yang mendorong perkembangan konsep IPA sebagai berikut:
a. Eksplorasi, yaitu kegiatan dimana anak mengalami atau mengindar
objek secara langsung. Pada langkah ini anak memperoleh informasi
baru yang adakalanya bertentangan dengan konsep yang telah
dimilikinya.
b. Generalisasi, yaitu menarik kesimpulan dari beberapa informasi
(pengalaman) yang tampaknya bertentanga dengan yang telah dimiliki
anak.
c. Deduksi, yaitu mengaplikasikan konsep baru (generalisasi) itu pada
situasi kondisi baru.
Proses berpikir berkembang melalui tahap-tahap daur blajar ini
mendorong perkembngan berpikir sietiko-dedukatif, yakni anak dapat
menganalisis objek IPA dari pemahaman umum hingga pemahaman khusus.
(Usman, 2010: 4)
D. TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA
Teori belajar yang menonjol di dalam pembelajaran IPA adalah teori
kognitivisme dan teori konstruktivisme. Teori kognitivisme menguraikan
perkembangan kognitif dari bayi sampai dewasa. Sedangkan teori
konstruktivisme menekankan bahwa individu tidak menerima begitu saja ide-ide
dari orang lain. Mereka membangun sendiri dalam pikiran mereka ide-ide tentang
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 7 sekolah. Ide-ide yang mereka bentuk dan pengajaran IPA yang mereka dapatkan
di sekolah disimpan didalam struktur kognitif mereka.
Gagasan teori kognitif, dengan tokoh utama Jean Piaget telah
menyumbangkan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk
memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang perkembangan
individu. Menurut Piaget, perkembangan kognitif individu meliputi empat tahab,
yaitu:
1. Tahab sensorimotor : 0-2 tahun
2. Tahab pra operasional : 2 - 7 tahun
3. Tahab operasi kongkret : 7 - 11 tahun
4. Tahab operasi formal : setelah 11 tahun
Masih menurut Piaget bahwa seorang anak dalam belajarnya akan lebih
berhasil apabila disesuaikan dengan tahab perkembangan kognitifnya. Dalam
pembelajaran IPA, peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan
eksperimen dengan objek fisik yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya
dan dibantu oleh pertanyaan pancingan dari guru. Guru hendaknya banyak
memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan
lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dalam lingkungan.
Implikasi teori kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah:
1. Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu
guru dalam mengajar harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara
berpikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan
dengan baik. Untuk itu guru harus membantu agar anak dapat berinteraksi
dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahab perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anakanak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 8 Teori Konstruktivisme Richartson (Hidayati: 2011) memandang bahwa
pembentukan pengetahuan sepenuhnya persoalan individu. Lebih lanjut Mattew
(Hidayati; 2011) menyatakan bahwa peranan individu sangat penting dalam
proses pembentukan ilmu pengetahuan. Dari dua pendapat tersebut jelas bahwa
belajar adalah kegiatan aktif peserta didik untuk membangun pengetahuannya.
Peserta didik sendiri yang bertanggung jawab atas peristiwa belajar dan hasil
belajarnya. Peserta didik sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan
organisasi pengalaman serta mengintegraikannya dengan apa yang diketahui.
Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang
dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi
konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan,
yang semuanya ditunjuk untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu
sehingga menjadi semakin sempurna.
Hal yang penting, bagaimana guru mendorong dan menerima otonomi
peserta didik, investigasi bertolak dari data mentah dan sumber-sumber primer
(bukan hanya buku teks), menghargai pemikiran peserta didik, dialog, pencarian,
dan teka-teki sebagai pengarah pembelajaran. Secara tradisional, pembelajaran
telah dianggap sebagai bagian "menirukan" suatu proses yang melibatkan
pengulangan peserta didik, atau meniru-niru informasi yang baru disajikan dalam
laporan atau kuis dan tes. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran
lebih diutamakan untuk membantu peserta didik dalam menginternalisasi,
membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru. Untuk
menginternalisasi serta dapat menerapkan pembelajaran menurut paradigma
konstruktivistik, terlebih dahulu guru diharapkan dapat merubah pikiran sesuai
dengan pandangan konstruktivistik. Melalui pendekatan ini, peserta didik secara
aktif membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan apa yang diketahui peserta
didik berdasarkan "apa yang diketahui peserta didik". Serta guru berperan sebagai
narasumber yang bijak dan berpengetahuan serta berfungsi sebagai sutradara yang
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 9 apabila ada kemacetan proses pembelajaran atau melantur tanpa arah. Proses
pembelajaran IPA yang kontekstual dapat menerjemahkan konsep-konsep abstrak
ke dalam bentuk konkret, mengapresiasikan permasalahan sehari-hari dalam
masyarakat, teknologi dan lingkungan sekitar serta memecahkannya secara
berpikir sistematis, analitis, dan alternatif.
Implikasi model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran
meliputi empat tahapan, yaitu:
1. Apersepsi
Dalam tahap ini, peserta didik didorong untuk mengungkapkan
pengetahuan awal tentang konsep yang akan dibahas. Disini guru dapat
memberikan pertanyaan-pertanyaan problematik tentang fenomena yang
sering ditemui sehari-hari dengan mengaitkan konsep yang akan dibahas dan
peserta didik diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan mengilustrasikan
pemahamannya tentang konsep itu.
2. Eksplorasi
Di tahap ini peserta didik diberi kesempatan untuk menyelidiki dan
menemukan konsep melalui pengumpulan, pengoganisasian, dan
pengintepretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang pendidik
serta secara berkelompok didiskusikan dengan kelompok lain.
3. Diskusi dan Penjelasan Konsep
Saat peserta didik memberi penjelasan dan solusi yang didasarkan pada
hasil observasinya ditambah dengan penguatan pendidik, maka peserta didik
membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari.
4. Pengembangan dan Aplikasi
Guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan
peserta didik dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui
kegiatan atau pemunculan dan pemecahan masalah-masalah yang berkaitan
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 10 Menurut Widodo (Tri Sumi Hapsari; 2011) menyimpulkan bahwa ada lima
unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:
1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal peserta didik
Kegiatan belajar ditujukan untuk membantu peserta didik dalam
mengkonstruksi pengetahuan. Peserta didik didorong untuk mengkonstruksi
pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengatahuan awal yang dimilikinya.
2. Pengalaman belajar yang otentik dan bermakna
Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang
sedemikian rupa sehingga bermakna bagi peserta didik. Oleh karena itu dalam
melakukan pembelajaran hendaklah yang dapat menimbulkan minat, sikap,
dan kebutuhan belajar peserta didik.
3. Adanya lingkungan sosial yang kondusif
Peserta didik diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif
dengan sesama peserta didik maupun dengan guru. Selain itu juga ada
kesempatan bagi peserta didik untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.
4. Adanya dorongan agar peserta didik bisa mandiri
Peserta didik didorong untuk bertanggung jawab terhadap proses
belajarnya. Oleh karena itu, peserta didik dilatih dan diberi kesempatan untuk
melakukan refleksi dan mengatur kesempatan belajarnya.
5. Adanya usaha untuk mengenalkan peserta didik tentang dunia ilmiah
IPA bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga
mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran IPA harus bisa
melatih dan memperkenalkan peserta didik tentang "kehidupan" ilmuwan.
(Haryono, 2013: 49)
E. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN IPA
1. Kontruktivisme dalam Pembelajaran IPA
Apakah yang menjadi tujuan pembelajaran IPA di SD? Samakah cara
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 11 harus sesuai dengan sifat atau karakteristik dari materi pelajaran serta
perkembangannya.
Mengajarkan tidak sama dengan membelajarkan. Hal itu terdeteksi dari
hasil mengajar seorang guru yang tidak selalu dapat membelajarkan siswanya.
Hasil belajar siswanya bervariasi. Apalagi jika kegiatan mengajar seorang
guru tidak mempunyai tujuan atau tidak mengacu pada tujuan.
a. Pandangan tentang Belajar Mengajar
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa mengajar tidak
secara otomatis menjadikan siswa belajar. Tugas guru dalam mengajar
antara lain membantu transfer belajar. Tujuan transfer belajar ialah
menerapkan hal-hal yang telah dipelajari pada situasi baru, artinya apa
yang telah dipelajari itu dibuat umum sifatnya. Melalui penugasan dan
diskusi kelompok misalnya seorang guru dapat membantu transfer belajar.
Oleh karena itu fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip yang diperlukan
untuk terjadinya transfer belajar sudah dikuasai oleh para siswa yang
sedang belajar.
Bigge (dalam Dahar, 1989) merangkum perbedaan penting antara
belajar perilaku dan teori belajar kognitif. Seorang guru penganut teori
perilaku berkeinginan mengubah perilaku siswanya, sedangkan guru
penganut teori perilaku berkeinginan untuk menubah pemahaman
siswanya. Sesungguhnya ada dua kutub belajar dalam pendidikan, yaitu
tabula rasa dan kontruktivisme. Menurut rujukan tabula rasa siswa
diibaratkan sebagai kertas putih yang dapat ditulis apa saja oleh gurunya
atau ibarat wadah yang kosong yang bisa diisi apa saja oleh gurunya.
Dengan pendapat ini seakan-akan siswa pasif dan memiliki keterbatasan
dalam belajar. Menurut rujukan kontrukstivisme setiap orang yang belajar
sesungguhnya membangun pengetahuannya sendiri. Jadi siswanya aktif
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 12 b. Struktur Kognitif
Struktur kognitif seseorang pada suatu saat meliputi segala sesuatu
yang telah dipelajari oleh seseorang (Ausubel dalam Klausemeier, 1994:
22). Hasil belajar dapat dikategorikan menjadi informasi verbal (i);
keterampilan (ii); konsep, prinsip, dan struktur pengetahuan (iii);
taksonomi dan keterampilan memecahkan masalah (iv); strategi belajar
dan strategi mengingat (v). Seluruh hal itu dipelajari “initialy”, dan
dipresentasikan secara internal, diatur, dan disimpan dalam bentuk “image”, simbol, dan makna. Struktur kogntif mengalami perubahan sejak lahir dan maju berkelanjutan sebagai hasil proses belajar dan
pendewasaan/kematangan. Konsep, prinsip dan struktur pengetahuan
(termasuk taksonomi dan hierarkinya) dan pemecahan masalah merupakan
hasil belajar yang penting dalam ramah kognitif.
c. Konsep dan konsepsi
Konsep dan konsepsi merupakan dua istilah yang sering
dipertukarkan penggunaannya, padahal keduanya berbeda baik dalam
pengertian maupun penggunaanya. Kosep bersifat lebih umum dan
dikenal dan diumumkan berdasarkan kesepakatan, sedangkan konsepsi
bersifat khusus atau spesifik dan individual.
Dalam kamus konsep diartikan sebagai sesuatu yang diterima dalam
pikiran, atau sesuatu gagasan yang umum atau abstrak. Menurut Rosser
(dalam Dahar, 1989: 80) konsep adalah suatu abstrak yang mewakili satu
kelas, kejadian, kegiatan; atau hubungan, yang memiliki atribut sama.
Konsep merupakan abstraksi yang berdasarkan pangalaman. Karena
pengalaman dua orang tidak sama, maka konsep yang dibentuk juga
mungkin berbeda. Walaupun konsep-konsepnya berbeda, konsep-konsep
itu cukup serupa bagi kita untuk dapat berkomunikasi satu sama lain
dengan menggunakan nama atau label konsep. Nama atau label konsep itu
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 13 abstrak internal. Nama atau label itu sendiri bukanlah konsep. Dengan
kata lain konsep merupakan suatu abstrak mental yang mewakili
sekelompok stimulus. Contohnya konsep tumbuhan, sel, hidup.
Bell (1995) memberikan batasan konsep dalam dua dimensi.
Dimensi pertama menyatakan konsep sebagai konstruk mental dari
seseorang yang ditandai satu atau lebih kata yang menyatakan konsep
khusus. Dimensi kedua menytakan konsep sebagai pengertian yang
diterima secara sosial. Konsep sebagai konstruk mental merupakan
komponen-komponen kritis dari perubahan kematangan seseorang secara
terus menerus, perluasan struktur kognitif. Konsep juga merupakan batu
batu pengembangan berfikir. Pendidikan formal diarahkan unruk belajar
konsep dan struktur pengetahuan yang saling berhubungan menjadi
konsep-konsep dn prinsip-prinsip yang terorganisir.
Prinsip terbentuk dari konsep. Pembentukan prinsip dan konsep
melibatkan hubungan antar konsep. Terdapat empat (4) tipe dasar
hubungan yang dinyatakan dalam prinsip, yaitu (1) sebab-akibat (
cause-and effect), (2) korelasi (correlational), (3) peluang (axiomatic). Tipe
dasar hubungannya sebab-akibat paling banyak terdapat dalam IPA, tetapi
dalam tipe lainnya banyak ditemukan. Contoh:
Penyakit TBC disebabkan oleh organisme yang disebut Mycobacterium tuberculosis. (Hubungan sebab-akibat).
Perkembangan teori sel berlangsung sejalan dengan perkembangan temuan alat dan prosedur dalam mempelajari sel. (Korelasional). Logam (pada umumnya) mengembang bila dIPAnaskan.
(Peluang).
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 14 Pengalaman seseorang tentang sesuatu (stimulus) menghasilkan
konsepsi. konsepsi seseorang berbeda dengan konsepsi orang lain.
Konsepsi berasal dari kata to conceive yang artinya cara menerima.
Contohnya konsepsi awam tentang “konsep” berarti draft, seperti pada
konsep surat. Melalui contoh tersebut tampak jelas bagaimana
subjektifnya konsepsi seseorang tentang sesuatu (dalam hal ini konsep).
untuk belajar di kelas/sekolah yang lebih lanjut atau hidup di masyarakat.
Dengan cara ini diharapkan kualitas kemampuan siswa dapat dijaga
dengan baik. (Usman: 2010: 51)
F. LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPA
Pembelajaran IPA dapat dialami dalam kehidupan sehari-hari. Kapanpun
dan dimanapun seseorang dapat menjumpai fenomena IPA termasuk dalam
lingkungan dimana kita tinggal.
Salah satu masalah dalam pembelajaran IPA dewasa ini adalah kurangnya
kurangnya sumber belajar untuk mendukung suatu kegiatan belajar mengajar.
Biasanya sumber belajar selalu dikaitkan dengan alat dan bahan yang harus dibeli
di tempat tertentu, sehingga alat dan bahan menjadi bahan sandungan bagi guru
untuk menciptakan iklim belajar yang ideal. Akibatnya peserta didik hanya
dijejali dengan hafalan yang membuat mereka menjadi jenuh dan tidak tertarik
terhadap mata pelajaran IPA.
Sebenarnya sumber belajar dapat juga diperoleh dari sekitar kita, misalnya
dengan menugaskan peserta didik untuk membawa benda-benda tertentu (dapat
berupa barang bekas ke sekolah). Selain itu, lingkungan juga dapat digunakan
dalam kegiatan belajar mengajar. Banyak benda, makhluk hidup atau
fenomena-fenomena alam yang menarik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar, hanya
masalahnya guru belum terbiasa menggunakan lingkungan sebagai sumber
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 15 Banyak keuntungan yang akan diperoleh ketika kita menggunakan
lingkungan sebagai sumber belajar, yaitu:
1. Peserta didik mendapat informasi berdasarkan pengalaman langsung,
karena itu pengajaran akan lebih bermakna dan menarik.
2. Pengajaran menjadi lebih kongkrit.
3. Penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah dan
sesuai dengan permasalahan yang dihadapi peserta didik.
4. Sesuai dengan prinsip pengajaran, yaitu belajar harus dimulai dari yang;
kongkrit ke abstrak, mudah/sederhana ke yang sukar/kompleks, sudah
diketahui ke yang belum diketahui.
5. Mengembangkan motivasi dan prinsip "belajar bagaimana belajar
(learning how to learn)" berdasarkan pada metode ilmiah dan
pengembangan keterampilan proses IPA sehingga akan tertanam sikap
ilmiah.
6. Peserta didik dapat mengenal dan mencintai lingkungannya, sehingga
akan timbul rasa syukur, mengagumi dan mengagungkan kebesaran Tuhan
Yang Maha Esa sebagai Penciptanya.
Untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, ada beberapa
tahapan yang harus dilakukan guru yaitu sebagai berikut:
1. Tahab Persiapan
Pada tahab persiapan, terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan
yang ingin dicapai dari penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dan
menentukan konsep yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Setelah itu
dilakukan survey ke tempat yang ingin dituju. Lakukan penjelajahan di tempa
tersebut dengan teliti. Catat benda-benda, makhluk hidup, makhluk hidup atau
fenomena-fenomena alam yang diperkirakan akan menarik minat peserta
didik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar. Kemudian dari hasil
survey itu dibuatlah Lembar Kerja (LK) yang sesuai dengan tujuan dan
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 16 itu peserta didik tidak melakukan kegiatan eksperimen namun hanya menggali
pengetahuan dan mencatat data-data yang ada, buat instrument yang sesuai
misalnya berupa lembar pengamatan, pedoman wawancara atau kuisioner.
Setelah LK atau instrument yang diperlukan selesai, siapkan alat dan bahan
atau fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk studi lapangan tersebut.
2. Tahab Pelaksanaan
Pada tahab ini, guru hendaknya membimbing peserta didik untuk
melakukan kegiatan sesuai dengan LK atau instrument lain yang dibuat.
Ciptakan suasana yang mendukung agar peserta didik tertarik dan tertantang
untuk melakukan kegiatan sebaik-baiknya.
3. Tahab Pasca Kegiatan Lapangan
Sekembalinya peserta didik dari lapangan, mereka harus membuat
laporan tentang apa yang telah mereka lakukan dan bagaimana hasilnya.
Sistematika laporan sebaiknya diberikan guru untuk memudahkan peserta
didik dalam menyusun laporannya. Laporan yang dibuat peserta didik
hendaknya memuat data yang dapat digunakan guru untuk membimbing
peserta didik agar dapat memahami suatu konsep. Mintalah peserta didik
utnuk mempresentasikan hasil kegiatannya. Ajukan pertanyaan-pertanyan
yang membimbing peserta didik untuk memahami suatu konsep sesuai dengan
kegiatan yang telah mereka lakukan. Setelah pembelajaran selesai, mintalah
kepada peserta didik untuk menempelkan hasil laporannya sebagai pajangan
di kelas masing-masing.
G. PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA SD
Sebagai guru/calon guru salah satu tugas pokok dalam menjalankan
tugasnya sehari-hari adalah menyusun perangkat pembelajaran, diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Silabus
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 17 3. Media
4. Bahan ajar
5. Lembar kerja siswa
6. Evaluasi/Penilaian
Perencanaan proses pembelajaran disusun guna memfasilitasi terjadinya
proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menantang, menyenangkan, dan
diharapkan. Dalam hal ini perencanaan proses pembelajaran merupakan pedoman
yang konsisten dalam melaksanakan, menilai, dan mengawasi proses
pembelajaran.
Perencanaan proses pembelajaran adalah proses perancangan pengalaman
belajar yang bermakna bagi peserta didik. Perencanaan proses pembelajaran yang
bertitik tolak dari standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), yang
tercantum dalam kurikulum kemudian dikembangkan dalam materi pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian hasil belajjar,
dan sumber belajar, sampai pada evaluasi.
H. PENGEMBANGAN SILABUS IPA
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,
materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi
waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar
kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian (BSNP,
2006).
Langkah-langkah Pengembangan Silabus meliputi:
a. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
b. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
c. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 18 e. Penentuan Jenis Penilaian
f. Menentukan Alokasi Waktu
g. Menentukan Sumber Belajar
Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi
(SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta Panduan Penyusunan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengembangan silabus disusun di
bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang
pendidikan untuk SD atau SMP, dan dinas provinsi yang bertanggung jawab di
bidang pendidikan untuk SMA dan SMK, serta Kementrian Agama untuk MI,
MTs, MA dan MAK.
I. PENGEMBANGAN RPP IPA
1. Pengertian dan Unsur-unsur Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran merupakan persiapan mengajar yang berisi
hal-hal yang perlu atau harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran yang antara lain meliputi: pemilihan materi, metode,
media, dan alat evaluasi. Rencana pembelajaran merupakan realisasi dari
pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus.
Rencana pembelajaran merupakan rencana atau program yang disusun
oleh guru untuk satu atau dua pertemuan, untuk mencapai target satu
kompetensi dasar. Rencana pembelajaran berisi gambaran tentang kompetensi
dasar yang akan dicapai, indikator, materi pokok, skenario pembelajaran tahap
demi tahap dan penilaiannya. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam
penyusunan rencana pembelajaran berdasarkan kompetensi dan kemampuan
dasar yang harus dikuasai siswa, serta materi dan submateri pembelajaran,
pengalaman belajar, yang telah dikembangkan di dalam silabus dengan
menggunakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran yang sesuai
dengan kompetensi yang diharapkan dan materi yang memberikan kecakapan
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 19 strategi, metode dan media yang relevan, yang mendekatkan siswa dengan
pengalaman langsung. Penilaian dengan sistem pengujian menyeluruh dan
berkelanjutan didasarkan pada sistem asessmen yang dikembangkan selaras
dengan pengembangan silabus.
2. Manfaat Rencana Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran memiliki manfaat diantaranya:
a) guru akan terhindar dari keberhasilan secara tidak sengaja, karena
perencanaan disusun untuk mencapai hasil yang optimal,
b) dapat menentukan langkah dan strategi yang tepat dalam pembelajaran;
c) dapat menentukan dan mempersiapkan berbagai alat dan fasilitas yang
diperlukan dalam pembelajaran.
Dengan perkataan lain perencanaan pelaksanaan pembelajaran
bermanfaat sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan
pembelajaran agar lebih terarah dan berjalan efisien dan efektif dalam
mencapai tujuan.
3. Prosedur Pengembangan Rencana Pembelajaran
Dasar utama untuk mengembangkan perencanaan pembelajaran adalah
silabus. Berdasarkan silabus yang ada seorang guru kemudian menentukan
strategi atau model pembelajaran meliputi: pemilihan pendekatan dan metode
pembelajaran serta menentukan media yang digunakan untuk kegiatan
pembelajaran.
Rencana Pembelajaran minimal memiliki komponen–komponen sebagai
berikut:
a. Identitas Rencana Pembelajaran
b. Kompetensi dasar
c. Indikator hasil belajar
d. Media Pembelajaran
e. Skenario Pembelajaran
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 20 Berikut adalah langkah-langkah menyusun Rencana Pembelajaran IPA MI:
a. Tulislah Identitas Rencana Pembelajaran
Identitas rencana pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berisi:
Judul, mata pelajaran, kelas, semester, konsep IPA, dan alokasi waktu.
b. Menuliskan Kompetensi dasar
Kompetensi Dasar adalah kemampuan minimal yang harus dapat
dilakukan atau ditampilkan siswa yang meliputi: pengetahuan,
keterampilan, dan sikap dan nilai nilai setelah mengikuti pembelajaran.
Kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya
yang dapat diukur dan diamati.
c. Perumusan Indikator hasil belajar
Indikator merupakan sasaran yang akan dicapai setelah proses
pembelajaran dilaksanakan. Indikator hasil belajar dijabarkan dari standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum. Dalam
mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhan belajar siswa
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik Ilmu Pengetahuan Alam yakni IPA sebagai proses, IPA sebagai
prosedur dan IPA sebagai produk.
Dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan atau dapat diamati
d. Daftarlah Kebutuhan Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya dalam perencanaan pembelajaran
harus dicantumkan daftar kebutuhan media, yang berisi daftar alat, benda,
dan media lain yang akan digunakan disertai dengan keterangan jumlah
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 21 e. Rancanglah Skenario Pembelajaran
Skenario pembelajaran berisi langkah tahap demi tahap bagaimana
pembelajaran akan dilaksanakan. Tahapan pembelajaran tertuang dalam
kegiatan awal kegiatan inti dan kegiatan akhir / pemantapan.
f. Penilaian dan Tindak Lanjut
Dalam Penilaian dan tindak lanjut ini dicantumkan prosedur dan
instrument yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar siswa
serta tindak lanjut hasil penilaian. Bila langkah-langkah tersebut
digambarkan dalam bentuk flowchar/diagram maka akan diperoleh
model pengembangan sebagai berikut:
Diagram
Langkah Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
J. MEDIA PEMBELAJARAN IPA
1. Makna dan Peran Media Pembelajaran
Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar,
pengajar, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan
sarana penyampai pesan atau media. Pesan yang akan dikomunikasikan
adalah isi pembelajaran yang ada dalam kurikulum yang dituangkan oleh
pengajar atau fasilitator atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi,
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 22 Untuk menyampaikan pesan pembelajaran dari guru untuk peserta didik,
biasanya guru menggunakan alat bantu mengajar (teaching aids) berupa
gambar, model, atau alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman
kongkret, motivasi belajar, serta mempertinggi daya serap atau yang kita
kenal sebagai alat bantu visual. Dengan berkembangnya teknologi pada
pertengahan abad ke-20 guru juga menggunakan alat bantu audio visual dalam
proses pembelajarannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari verbalisme
yang mungkin terjadi jika hanya menggunakan alat bantu visual saja.
Penggunaan media dalam pembelajaran dapat membantu anak dalam
memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Penggunaan
media dalam pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam
memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret. Hal ini sesuai dengan
pendapat Jerome S Bruner bahwa peserta didik belajar melalui tiga tahapan
yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Tahab enaktif yaitu tahab dimana peserta
didik belajar dengan memanipulasi benda-benda konkrit. Tahab ikonik yaitu
tahab dimana peserta didik belajar dengan menggunakan gambar atau
videotapes. Sementara tahab simbolik yaitu tahab dimana peserta didik belajar
menggunakan simbol-simbol.
2. Manfaat Media Pembelajaran
Media membantu mempertinggi proses belajar yang pada gilirannya
dapat mempertinggi hasil belajar yang sangat diharapkan. Ada beberapa
alasan mengapa media dapat mempertinggi mutu proses belajar, diantaranya
adalah:
a. Makin memperjelas bahan pengajaran yang disampaikan guru.
b. Memberi pengalaman nyata kepada peserta didik.
c. Merangsang peserta didik berdialog dengan dirinya.
d. Merangsang cara berpkir peserta didik.
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 23 Kaitannya dengan pembelajaran IPA, media adalah segala sesuatu yang
dapat menyalurkan pesan dari pengirim ke penerimadan merngsang pikiran,
perasaan, perhatian dan minat peserta didik sehingga terjadi proses belajar IPA.
Secara sederhana kehadiran media dalam pembelajaran IPA memiliki nilai-nilai
praktis sebagai berikut:
a. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang
dimiliki peserta didik.
b. Media yang disajkan dapat melampaui batasan ruang kelas.
c. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi antara peserta didik
dengan lingkungannya.
d. Media yang disajikan dapat menghasilkan keseragaman pengamatan peserta
didik.
e. Secara potensial, media yang disajikan secara tepat dapat menanamkan
konsep dasar IPA yang kongkrit, benar, dan berpijak pada realitas.
f. Media dapat membangkitkan kinginan dan minat baru.
g. Media mampu membangkitkan motivasi dan merangsang peserta didik
untuk belajar IPA.
h. Media mampu memberikan belajar secara integral dan menyeluruh dari
yang kongkrit ke yang abstrak, dari sederhana ke yang rumit.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
dapat meningkatkan dan mempertinggi proses belajar peseta didik yang pada
akhirnya meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal ini disebabkan karena
media pembelajaran mempunyai fungsi:
a. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar peserta didik.
b. Pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dIPAhami
peserta didik, dan memungkinkan peserta didik untuk dapat menguasai
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 24 c. Metode belajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata berkomunikasi
verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. Dengan variasi metode
mengajar maka peserta didik tidak merasa bosan dan guru tidak kehabisan
tenaga, apalagi kalau guru mengajar untuk tiap jam pelajaran.
d. Peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar karena tidak hanya
mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan , mendemonstrasikan, dan lain-lain.
Berkenaan dengan taraf berpikir peserta didik, taraf berpikir manusia
mengikuti perkembangan dimulai dari berpikir kongkrit menuju berpikir
abstrak, dari berpikir sederhana menuju berpikir kompleks. Dalam hal ini,
penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir
tersebut sebab melalui media hal yang abstrak dapat dikongkritkan dan
hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan. Contohnya penggunaan media berupa
tiruan. (Haryono, 2013: 55)
K. PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA 1. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara
garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah
ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari
pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau
nilai. Pengetahuan yang termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek,
peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, dan nama orang. Misal, penemu
benua Amerika adalah Copernicus Columbus.
Pengetahuan yang termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi,
ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek. Misal, massa adalah besaran
kuantitas suatu benda. Pengetahuan yang termasuk materi prinsip adalah dalil,
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 25 "jika.. maka….", misalnya Jika logam dIPAnasi maka akan memuai, rumus menghitung massa jenis (�) adalah massa dibagi volume. Pengetahuan yang
termasuk materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan dengan
langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas.
Misal, langkah mengoperasikan peralatan mikroskop atau
langkah-langkah percobaan pengaruh kalor pada benda. Untuk mempermudah
pemahaman klasifikasi materi pembelajaran, perhatikan dan pelajari Tabel
4.1.
2. Penentuan Cakupan Bahan Ajar
Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan
penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Ketepatan dalam
menentukan cakupan, ruang lingkup, dan kedalaman materi pembelajaran
akan menghindarkan guru dari mengajarkan terlalu sedikit atau terlalu
banyak, terlalu dangkal atau terlalu mendalam. Ketepatan urutan penyajian
(sequencing) akan memudahkan bagi siswa mempelajari materi pembelajaran.
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus
diperhatikan apakah materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip,
prosedur), aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik, sebab nantinya jika
sudah dibawa ke kelas maka masing-masing jenis materi tersebut memerlukan
strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.
Tabel 4.1 Klasifikasi Materi Pembelajaran Menjadi Fakta, Konsep, Prinsip
dan Prosedur
No Jenis Materi Pengertian dan Contoh 1. Fakta Menyebutkan kapan, berapa, nama, dan dimana.
Contoh:
Penemu Benua Amerika adalah Copernicus Colombus, ayam berkembangbik dengan cara bertelur, sapi adalah hewan menyusui berkaki empat.
2. Konsep Definisi, identifikasi, klasifikasi, cirri-ciri khusus. Contoh:
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 26 Identifikasi: larva beraal dari telur hewan yang menetas pada metamorphosis;
Klasifikasi: berdasarkan jenis makanannya paruh burung dikelompokkan menjadi paruh yang lancip - melengkung dan kuat, paruh yang lebar-tumpul, paruh yang lancip-panjang
Cirri Khusus: alat pernapasan pada ikan adalah insang. 3. Prinsip Penerapan dalil, atau hukum yang dapat dinyatakan dengan
pernyataan jika… maka…. Contoh:
Hukum Archimedes: Jika benda padat dimasukka n ke dalam zat cair/fluida maka akan mengalami gaya ke atas sebesar berat zat cair yang dipindahkan zat cair tersebut. 4. Prosedur Bagan arus atau bagan alur (flowchart), algoritma,
langkah-langkah pengerjaan sesuatu secara urut. Contoh:
Langkah percobaan pengaruh kalor pada benda (perubahan wujud):
1. Meletakkan balok es batu ke dalam kantong susu bekas 2. Memanaskan kaleng yang berisi balok es di atas
kompor spiritus/nyala lilin
3. Mencatat perubahan wujud yang terjadi pada es dan mencatat waktu yang diperlukan es untuk mencair.
Selain memperhatikan jenis materi pembelajaran, kita juga harus
memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan
cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman
materinya. Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak
materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi ajar, sedangkan
kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang
terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai oleh siswa. Sebagai contoh,
materi gerak dapat diajarkan di SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi, namun
keluasan dan kedalaman pada setiap jenjang pendidikan tersebut akan
berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin luas cakupan
materi yang dipelajari dan semakin detail pula setiap aspek yang dipelajari.
Di SD materi gerak dipelajari berdasarkan pengalaman siswa yang dikaitkan
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 27 geraknya, di SMA materi gerak dipelajari dengan menggunakan vektor, di
perguruan tinggi materi gerak dipelajari dengan menggunakan matematika
tingkat tinggi.
Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan (adequacy). Kecukupan
(adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan dalam
pengertian. Cukup tidaknya aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan
sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah
ditentukan. Misalnya, jika tujuan pembelajaran IPA dimaksudkan untuk
membelajarkan siswa tentang macam-macam bentuk tulang daun, maka
uraian materinya mencakup: (1) tulang daun bentuk menyirip, misal pada
daun rambutan, lombok,nangka; (2) tulang daun bentuk melengkung, misal
pada daun sirih, lada, gadung; (3) tulang daun bentuk pita/sejajar, misal pada
daun jagung, padi, alang-alang, tebu; dan tulang daun bentuk menjari misal
pada daun pepaya, singkong/ketela pohon.
Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui
apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit,
atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin
dicapai. Misalnya pada mata pelajaran IPA kelas V, salah satu kompetensi
dasar yang diharapkan dimiliki oleh siswa adalah: "Menyimpulkan hasil
penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap".
Setelah diidentifikasi, ternyata materi pembelajaran untuk mencapai
kemampuan menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda,
baik sementara maupun tetap tersebut termasuk jenis prosedur. Jika dianalisis,
secara garis besar cakupan materi yang harus dipelajari siswa agar mampu
menyimpulkan hasil penyelidikan perubahan sifat benda yang bersifat
sementara maupun tetapmeliputi: 1) perubahan sifat benda; 2) perubahan
benda yang bersifat sementara; 2) perubahan benda yang bersifat tetap; 3)
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 28 maupun tetap. Setiap jenis dari keempat materi tersebut masih dapat diperinci
lebih lanjut sesuai tujuan pembelajaran yang ditentukan.
3. Penentuan Urutan Bahan Ajar
Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting untuk
menentukan urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang
tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang
bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan siswa dalam
mempelajarinya. Misalnya materi proses pencernaan makanan pada manusia.
Siswa akan mengalami kesulitan mempelajari proses pencernaan makanan
pada manusia jika materi tentang organ-organ penyusun sistem organ
pencernaan belum dipelajari lebih dulu mengenai urutan dan fungsi
masing-masing organ.
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta
kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu
pendekatan prosedural dan pendekatan hierarkis. Urutan materi pembelajaran
secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan
langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misal, langkah-langkah
menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh manusia, dan
termometer untuk mengukur suhu benda. Kedua kegiatan tersebut
sama-sama menggunakan termometer tetapi tentunya jenis termometer yang
digunakan berbeda dan cara menggunakannya juga berbeda sesuai
karakteristik jenis termometernya. Jika urutan cara mengoperasikan kedua
jenis termometer tersebut tidak diikuti maka hasil pengukurannya tidak tepat
dan akan merusak fungsi termometer yang digunakan.
Urutan materi pembelajaran secara hierarkis (berjenjang)
menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 29 untuk mempelajari materi berikutnya. Uraian berikut adalah contoh urutan
materi pembelajaran secara hierarkis. Uraian tentang deskripsi hubungan
anatara sifat bahan dengan bahan penyusunnya.
Agar siswa mampu mendeskripsikan hubungan sifat bahan dengan
bahan penyusunnya, siswa terlebih dulu harus melakukan percobaan. Misal,
percobaan untuk menemukan konsep sifat benang plastik (bahan tali plastik)
dan sifat tali plastik, dibandingkan dengan benang katun (bahan) yang terbuat
dari serat katun (bahan penyusun benang katun). Setelah melakukan
percobaan, diharapkan siswa dapat mendeskripsikan hubungan antara sifat
bahan dengan bahan penyusunnya (jika sifat bahan penyusun semakin kuat
maka bahan tersebut juga semakin kuat). Sewlanjutnya, siswa menerapkan
konsep yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang terkait dengan
hubungan pemilihan bahan dengan kekuatan bahan dalam kehidupan
sehari-hari.
Contoh lain tentang urutan tentang hubungan struktur mata dengan
fungsinya yang disajikan pada berikut.
Kompetensi dasar Urutan Materi
1.3 Mendeskripsikan hubungan struktur panca indera, misal mata dan fungsi mata
1. struktur mata
2. fungsi setiap bagian mata 3. fungsi mata
4. hubungan kornea dengan fungsi mata 5. cara kerja mata
4. Prinsip-prinsip Pemilihan Bahan Ajar
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan
ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi
pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Prinsip
relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau
ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 30 siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan
harus berupa fakta atau gubahan hafalan.
Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus
dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga
harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai
siswa adalah mendeskripsikan hubungan struktur panca indera dengan
fungsinya yang meliputi struktur mata (yaitu selaput bening, iris mata,
pupil, lensa mata, otot pemegang lensa, badan bening, retina, bintik kuning,
syaraf mata), fungsi setiap bagian mata, fungsi mata sebagai indera penglihat,
dan hubungan antara bagian mata dengan fungsi mata, maka materi yang
diajarkan juga harus meliput susunan bagian-bagian mata secara berurutan
dari luar ke dalam, fungsi setiap bagian mata, fungsi mata, dan hubungan
antara bagian mata dengan fungsi mata.
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup
memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.
Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu
sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi
dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan
tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
5. Langkah-langkah Pemilihan Bahan Ajar
Secara lengkap, langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan
sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi
dan kompetensi dasar
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu
diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
harus dipelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan,
karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 31 aspek standar kompetensi tersebut memerlukan materi pembelajaran atau
bahan ajar yang berbeda-beda untuk membantu pencapaiannya.
b. Mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran
Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi
pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara
terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip
dan prosedur. Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek,
nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau
komponen suatu benda, dan lain sebagainya. Materi konsep berupa
pengertian, definisi, hakekat, inti isi. Materi jenis prinsip berupa dalil,
rumus, postulat adagium, paradigma, teorema. Materi jenis prosedur
berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut, misalnya
langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin atau cara-cara
pembuatan bel listrik. Materi pembelajaran aspek afektif meliputi:
pemberian respon, penerimaan (apresiasi), internalisasi, dan penilaian.
Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin,
dan rutin.
c. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar
Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah
ditentukan. Langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang sesuai
dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan
kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi
apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau
gabungan lebih darIPAda satu jenis materi.
Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya
adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar
Perencanaan Pembelajaran IPA Halaman 32 paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan
diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi
dasar yang harus dikuasai siswa. Dengan mengacu pada kompetensi
dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa
fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau psikomotorik. Berikut
adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi jenis
materi pembelajaran:
(1) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa
mengingat nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau
jawabannya "ya" maka materi pembelajaran yang harus diajarkan
adalah "fakta".
(2) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa
kemampuan untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas
sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh
objek sesuai dengan suatu definisi? Kalau jawabannya "ya" berarti
materi yang harus diajarkan adalah "konsep".
(3) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa
menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara
urut atau membuat sesuatu? Bila "ya" maka materi yang harus
diajarkan adalah "prosedur".
(4) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa
menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan
hubungan antara berbagai macam konsep? Bila jawabannya "ya",
berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam
kategori "prinsip".
(5) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa memilih
berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka