• Tidak ada hasil yang ditemukan

proposal penelitian adel

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "proposal penelitian adel"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

DESAIN PENELITIAN STRATEGI ADAPTASI SOSIAL MAHASISWA ASAL PAPUA DI

LINGKUNGAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Universitas Sriwijaya merupakan salah satu Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia, Universitas Sriwijaya menduduki peringkat ke-24 sebagai unversitas terbaik di Indonesia versi Menristekdikti ( http://pemeringkatan.ristekdikti.go.id ) diakses pada tanggal 21 oktober 2017. Prestasi yang dimiliki oleh Universitas Sriwijaya ini membuat Universitas Sriwijaya tak luput menjadi Perguruan Tinggi terfavorit pilihan mahasiswa yang tidak hanya berasal dari Sumatera Selatan yang pada dasarnya merupakan daerah tempat didirikannya Universitas Sriwijaya itu sendiri melainkan juga menjadi pilihan bagi mahasiswa yang berasal dari luar provinsi Sumatera Selatan secara khusus dan secara umum dari luar pulau sumatera. Mahasiswa Universitas Sriwijaya yang berasal dari luar pulau sumatera sendiri paling jauh berasal dari Indonesia bagian paling timur yaitu Papua.

(2)

keamanan dan ketertiban; serta (3) pengembangan kapasitas kelembagaan. (https://www.bappenas.go.id) yang di akses pada tanggal 24 oktober 2017. Lingkungan Universitas Sriwijaya sendiri merupakan lingkungan sosial baru bagi mahasiswa asal Papua. Selayaknya lingkungan sosial baru lingkungan Universitas Sriwijaya tentu akan berbeda dari lingkungan sosial mereka yang sebelumnya yaitu daerah asalnya Papua. Lingkungan sosial yang berbeda tersebut dapat dilihat dari kebudayaannya. kebudayaan bersifat universal kebudayaan mempunyai ciri khusus yang sejalan dengan situasi dan tempatnya (Herskovits dalam Soekanto, 2004:183).

Menurut Tylor (dalam Wiranata, 2011:95) Kebudayaan ialah keseluruhan yang memuat ilmu pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang diperoleh manusia ketika berada dalam masyarakat. Adanya perbedaan kebudayaan yang begitu menojol antara Papua dan Sumatera Selatan juga bisa dilihat dari unsur-unsur kebudayaannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Kluckhohn (dalam Usman, 2009:64) unsur kebudayaan meliputi alat dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, seni, serta sistem kepercayaan.

Perbedaan kebudayaan yang ada tidak seharusnya menjadikan mahasiswa asal Papua menjadi merasa asing ketika berada di lingkungan Universitas Sriwijaya sebagaimana yang dikatakan oleh Haviland (dalam Usman, 2009:62) kebudayaan harus mempunyai kemampuan untuk berubah agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru atau mengubah sudut pandangnya tentang keadaan yang ada. artinya meskipun mahasiswa asal Papua telah memiliki kebudayaan yang mereka bawa dari daerah asalnya, tidak serta merta membuat mereka harus terkungkung pada kebudayaan yang sudah ada melainkan mereka juga harus menyesuaikan kebudayaannya dengan kebudayaan yang berasal dari tempat barunya yaitu Universitas Sriwijaya.

(3)

untuk memenuhi kebutuhan hidupnya masing-masing sebagaimana yang dikatakan oleh Hartomo dan Aziz (2004:94) dalam diri setiap manusia ada keinginan untuk saling membutuhkan karena kecenderungan yang seperti itu akan selalu muncul pada diri setiap manusia itu sendiri.

Sebagai mahkluk sosial yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan untuk keberlangsungan hidupnya selama menempuh pendidikan dibangku kuliah sangat penting bagi mahasiswa asal Papua untuk melakukan adaptasi sosial di lingkungan Universitas Sriwijaya. Adaptasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu adaptasi perilaku (adaptive behavior), adaptasi siasat (adaptive strategy), dan adaptasi proses (adaptive processes) (Bennett, 1976). Adaptasi mengharuskan sistem-sistem sosial untuk menghadapi lingkungannya yang bersifat berubah-ubah (Supardan, 2009:154). Sistem harus beradaptasi dengan mengatasi kondisi eksternal yang kompleks, menyesuaikan diri dengan lingkungan serta menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhannya (Parsons dalam Martono, 2012:51).

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Novirianto pada tahun 2013 (dalam http://eprints.ums.ac.id) diakses pada 8 September 2017 yang berjudul Keterkejutan Budaya Pada Mahasiswa Asal Papua Kabupaten Fakfak yang dalam kesimpulan skripsinya ia mengatakan bahwasanya mahasiswa asal fakfak mengalami keterkejutan budaya. Gejala-gejala yang dialami oleh mahasiswa antara lain mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, merasa kurang percaya diri, merasa jauh dari orang tua, merasa takut dan sulit untuk melakukan hal-hal baru, serta perbedaan metode belajar dengan daerah asal. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterkejutan budaya antara lain belum mempunyai pengalaman tinggal di Surakarta, belum mengerti dengan bahasa jawa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan sekitar menyebabkan kebingungan dalam berkomunikasi.

(4)

menyesuaikan diri. Hambatan tersebut adalah adanya perbedaan bahasa, karakteristik fisik, dan kebiasaan budaya dengan masyarakat lokal. Adanya hambatan membuat mereka melakukan strategi penyesuaian diri. Strategi penyesuaian diri yang diambil adalah menjahui dari persoalan interaksi, meningkatkan kontrol diri, dan menghadapi masalah secara langsung.

Berkaitan dengan penelitian terdahulu tersebut, peneliti juga telah melakukan studi pendahuluan melalui wawancara dengan salah satu mahasiswa asal Papua di Universitas Sriwijaya. Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwasanya selama tinggal di lingkungan Universitas Sriwijaya narasumber dan teman-teman asal Papua lainnya mengalami kendala bahasa karena dosen, teman- teman kuliah serta masyarakat di lingkungan Universitas Sriwijaya kerap menggunakan bahasa daerah Palembang yang sulit sekali untuk mereka pahami. Kondisi lingkungan tempat tinggal di Papua berbeda dengan kondisi lingkungan Universitas Sriwijaya, jalan di lingkungan tempat tinggal narasumber di Papua masih digenangi oleh lumpur sedangkan jalan-jalan yang ada di lingkungan Universitas Sriwijaya yang sudah di aspal. Mahasiswa asal Papua yang sedang mengenyam pendidikan di Universitas Sriwijaya memperkuat hubungan sesamanya dengan melakukan aktivitas olahraga bersama di setiap sore. Mengenai hubungan dengan mahasiswa lainnya yang bukan berasal dari papua narasumber sering mencoba mengakrabkan diri dengan cara ikut serta apabila ada perkumpulan dan aktivitas belajar bersama.

(5)

1.2 Fokus Penelitian

Adapun fokus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kendala yang dirasakan oleh mahasiswa asal Papua ketika berada di lingkungan Universitas Sriwijaya.

2. Strategi yang digunakan oleh mahasiswa asal Papua dalam beradaptasi di lingkungan Universitas Sriwijaya.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimana strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya?”.

1.4 Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan diadakannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui strategi adaptasi sosial yang digunakan oleh mahasiswa asal Papua di Universitas Sriwijaya.

1.5 Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

1.5.1 Manfaat Secara Teoritis

Secara teoritis, Penelitian ini diharapkan dapat mendukung dan memperkat teori-teori yang terkait tentang strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya.

1.5.2 Manfaat Secara Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi: 1.5.2.1 Bagi Mahasiswa Universitas Sriwijaya

Dengan adanya penelitian ini diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami tentang strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya.

1.5.2.2 Bagi Universitas Sriwijaya

(6)

1.5.2.3 Bagi Peneliti

(7)

2. TINJAUAN PUSTAKA

Adapun yang akan dibahas dalam Tinjauan Pustaka ini adalah landasan Teori yang memuat penjabaran mengenai strategi, adaptasi, dan papua.

2.1 Strategi

2.1.2 Definisi Strategi

Brick (dalam Tjiptono, 2015:4) mengemukakan dalam definisi strategi tidak terdapat konsistensi karena ada dua faktor yang mempengaruhi yaitu faktor strategi yang bersifat multi-dimensional dan strategi bersifat situasional.

Menurut Tjiptono (2015:4)

“Ditinjau dari segi bahasa istilah strategi berasal dari kata strategia atau strategies (bahasa Yunani), yang mengacu pada jenderal militer dan menggabungkan dua kata stratos (tentara) dan ago (memimpin). Konteksnya adalah perencanaan untuk mengalokasikan sumber daya (tentara, senjata, bahan pangan, dan seterusnya) untuk mencapai tujuan (memenangkan perang)”.

Mintzberg (dalam Tjiptono, 2015:5) mengemukakan lima definisi strategi yaitu plan, ploy, pattern position, dan perspective dengan penjabaran sebagai berikut:

1. Sebagai rencana (plan), strategi di definisikan sebagai “consciously intended course of action, a guideline (or set of guidelines) to deal with a situation”. Terdapat dua karakterisitik utama pada definisi ini: (1) strategi diambil sebelum tindakan dilakukan ; dan (2) strategi dipersiapkan secara terencana.

2. sebagai play, strategi dimaksudkan sebagai spesifikikasi yang digunakan untuk mengecoh atau mengelabui musuh/pesaing .

3. sebagai pola (pattern), strategi adalah “a pattern in a stream of actions”. Pada definisi ini strategi lebih mengarah kepada konsistensi dalam perilaku, baik itu disengaja/terencana maupun tidak.

4. Sebagai posisi, strategi dirumuskan sebagai “a means of locating an organization in what organization theorists like to call an environiment”. Dalam konteks ini , strategi merupakan mediating force atau media yang digunakan untuk menyeimbangkan lingkungan internal dan eksternal suatu organisasi.

(8)

Oliver (dalam Tjiptono, 2015:5) mengklasifikasikan strategi

3. Strategi sebagai jejaring (network), yang menekankan kepada proses perencanaan global, carporate reengineering, organisasi berbasis informasi, dan pengakuan atas peran sumber daya manusia sebagai sumber daya kunci.

4. Strategi sebagai biologi, dimana yang menjadi fokus utamanya adalah peran penting pelanggan dan relasinya dengan ekologi perusahaan.

Berdasarkan definisi strategi yang dikemukakan tersebut, strategi dapat diartikan sebagai cara-cara atau langkah-langkah yang disusun secara terencana oleh seseorang yang dalam hal ini cara atau langkah tersebut dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

2.2 Adaptasi

2.2.1 Definisi Adaptasi

Berkaitan dengan judul penelitian yang peneliti ambil, adaptasi merupakan salah satu kata kunci dari penelitian ini, adaptasi merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitar atau pada saat berada di lingkungan baru dan penyesuaian ini dilakukan oleh manusia ataupun makhluk hidup lainnya. adapun definisi adaptasi menurut beberapa ahli, yaitu:

Menurut Hartomo dan Aziz (2004:73) Adaptasi adalah peniruan pada orang lain. Adaptasi atau adaptation dipergunakan oleh para ahli untuk menunjuk pada suatu hal yang memperlihatkan dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya (Soekanto, 2000:83).

Menurut Johnson (dalam Supardan, 2009:154) Talcott Parsons dan rekan-rekannya mengembangkan kerangka A-G-I-L (Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latent Pattern Maintenance.

Supardan (2009:154) menerangkan mengenai teori sistem sosial yang digambarkan melalui kerangka A-G-I-L , yaitu:

(9)

2. Goal Attainment berasumsi bahwa suatu tindakan itu selalu dilakukan ataupun penerimaan terhadap kenyataan yang ada.

Menurut Sahlins (dalam Bennet, 1976:246) Adaptasi menyiratkan untuk memaksimalkan kemungkinan yang terjadi di kehidupan sosial yang tidak terlepas dari adanya kompromi, struktur internal budaya, serta tekanan dari eksternal.

2.2.2 Bentuk-Bentuk Adaptasi

Menurut Bennett dalam Helmi dan Satria tahun 2012 (www.hubsasia.ui.ac.id) diakses pada 2 januari 2018:

sebagai bagian dari proses perubahan, adaptasi dapat berakhir dengan sesuatu yang memang diinginkan atau bahkan sesuatu yang tidak diinginkan sama sekali. Untuk itu, adaptasi ialah suatu sistem interaksi yang berlangsung terus menerus antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan ekosistemnya. tingkah laku manusia dapat mempengaruhi bahkan merubah suatu lingkungan atau sebaliknya, lingkungan yang berubah memerlukan suatu adaptasi yang selalu dapat diperbaharuhi agar manusia dapat bertahan dan melangsungkan kehidupan di lingkungan tempat tinggalnya.

Penelitian ini menggunakan teori adaptasi yang dikembangkan oleh Bannet, Menurut (Bennett, 1976) Adaptasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

1. Adaptasi perilaku : merupakan perilaku yang dianggap sebagai sesuatu yang dinamis dan terus menerus berubah, seiring dengan berjalanya waktu. Perilaku yang muncul biasanya digunakan sebagai suatu alat oleh individu maupun kelompok untuk mempertahankan diri terhadap lingkungan dan kelompok.

2. Adaptasi siasat : merupakan perilaku yang dilakukan oleh individu digunakan sebagai cara-cara untuk menyiasati suatu perubahan yang terdapat di lingkungan sekitar. Hal ini dilakukan karena melalui perubahan yang terjadi dalam lingkungan maupun keadaan sekitar membutuhkan suatu solusi untuk mengatasi hambatan tersebut.

(10)

Menurut Sunarto dan Hartono (2008:225-226) Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, seseorang dapat melakukannya dengan beberapa bentuk, yaitu:

1. Melakukan penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung 2. Melakukan penyesuaian dengan ekspolari

3. Melakukan penyesuaian dengan coba-coba

4. Melakukan penyesuaian dengan mencari pengganti

5. Melakukan penyesuaian dengan menggali kemampuan dalam diri 6. Melakukan penyesuaian dengan proses pembelajaran

7. Melakukan penyesuaian dengan mengendalikan diri

8. Melakukan perencanaan dengan menyusun rencana yang tepat

Menurut Sunarto dan Hartono (2008:229) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian diri yaitu kondisi fisik, perkembangan dan kematangan, kondisi psikologis, kondisi lingkungan serta keadaan kulturalnya.

Sistem harus beradaptasi dengan mengatasi kondisi eksternal yang kompleks, menyelaraskan dirinya dengan lingkungan dan juga menyelaraskan lingkungan dengan kebutuhannya (Parsons dalam Martono, 2012:51).

Menurut Soekanto (2002:386) teori-teori fungsional mencakup konsep-konsep, sebagai berikut:

1.Sebagai suatu sistem yang bersifat terikat dan terbatas masyarakat dapat mengelola dirinya sendiri dan cenderung menjadi suatu sistem yang tetap serta selaras.

2.Sebagai suatu sistem yang mengatur dirinya sendiri masyarakat memiliki berbagai kebutuhan dasar yang harus dicukupi.

3.Kajian sosiologis mengenai sistem yang mengatur dirinya sendiri dengan segala kebutuhannya harus dipusatkan pada fungsi bagian-bagian sistem dalam mewujudkan kebutuhan dan menjaga keserasiannya.

4.Dalam sistem-sistem dengan berbagai kebutuhan, mungkin tipe-tipe struktur tertentu harus ada untuk menjamin ketahanannya.

(11)

Membahas mengenai adaptasi tentu tidak akan terlepas dari manusia sebagai bagian dari masyarakat, lingkungan sosial masyarakat serta gejala-gejala sosial yang terjadi didalamnya. Berikut ini adalah penjabarannya:

Menurut Soekanto (2002:385-386) konsep masyarakat sebagai organisme memperkenalkan tiga asumsi yang menjadi ciri aliran fungsionalisme dalam sosiologi, yakni:

1. Realitas sosial dipandang atau divisualisasikan sebagai suatu sistem. 2. Proses suatu sistem hanya dapat dipahami dalam kerangka hubungan

timbal balik antara bagian-bagiannya.

3. Sebagaimana halnya dengan suatu organisme, suatu sistem terikat pada proses- proses tertentu yang bertujuan untuk mempertahankan integtitas dan batasan-batasannya.

Menurut Hartomo dan Aziz (2004:61) manusia sebagai makhluk individu tidak bisa hidup sendiri diperlukan keberadaannya dalam suatu kelompok (masyarakat) sehingga individu tadi menjadi makhluk sosial yang berarti antara individu dan kelompok terdapat hubungan yang timbal balik dan sangat erat yang merupakan hubungan fungsional.

Didalam kehidupan sehari-hari, sering ditemukan kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk sosial ada kecenderungan untuk melakukan kesalahan sesama manusia. Kecenderungan yang bersifat sosial ini selalu timbul karena pada diri setiap manusia ada rasa saling membutuhkan (Hartomo dan Aziz, 2004:94).

Menurut Hartomo dan Aziz (2004:93-94) faktor- faktor yang mendorong manusia untuk hidup bermasyarakat, ialah:

1. Adanya dorongan seksual, ialah dorongan manusia untuk mengembangkan keturunan atau jenisnya.

2. Adanya kenyataan bahwa manusia itu adalah serba tidak bisa atau sebagai makhluk yang lemah.

3. Karena manusia yang bermasyarakat terbiasa untuk meminta pertolongan yang bermanfaat pada lingkungan sekitarnya hal ini juga bisa dikatakan “habit”

4. Terdapat beberapa kesamaan seperti kesmamaan keturunan, kesamaan territorial, kesamaan nasib, kesamaan keyakinan/ cita-cita, kesamaan kebudayaan dan lain-lain.

(12)

melakukan hubungan dengan sesamanya guna memenuhi kebutuhan hidup dan dapat bertahan di lingkungan sosialnya.

Masing-masing lingkungan sosial tempat masyarakat tinggal tentu memiliki ciri khusus yang membedakannya satu sama lain, hal ini dapat dilihat dari kebudayaannya. Adapun definisi kebudayaan menurut beberapa ahli, yaitu :

Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat (Soemardjan dan Soemardi dalam Soekanto, 2004:173). Kebudayaan ialah sesuatu yang kompleks mencakup ilmu pengetahuan, keyakinan, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh oleh manusia sebagai anggota dalam masyarakat (Taylor dalam Soekanto, 2004:172). Menurut Soekanto (2004:173) kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola prilaku normatif. Kebudayaan mencakup segala cara-cara atau pola-pola berfikir, merasakan dan bertindak.

Pengertian kebudayaan juga dapat ditinjau melalui segi bahasa, berikut adalah penjabarannya:

Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta buddbayab yang merupakan bentuk jamak dari kata “buddhi” yang berarti akal. Kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang beekaitan dengan budi atau akal (Soekanto, 2004:172).

Culture merupakan istilah asing yang mempunyai arti yang sama dengan kebudayaan, culture berasal dari kata latin colere yang mempunyai arti mengolah atau mengerjakan, yang dalam hal ini diartikan sebagai mengolah tanah atau bertani dan dapat diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Koentjaraningrat dalam Soekanto, 2004:172).

Soekanto (2000:193) Terdapat tujuh unsur kebudayaan yang dikenal sebagai cultural universals, yaitu:

1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat-alat-alat produksi, transpot dan sebagainya). 2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, sistem distribusi dan sebagainya).

3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).

4. Bahasa (lisan maupun tertulis)

5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya). 6. Sistem pengetahuan.

(13)

Dalam melakukan adaptasi atau penyesuaian diri terhadap perbedaan-perbedaan yang ditinjau dari kebudyaan serta unsur-unsur kebudayaan, masyarakat perlu melakukan interaksi sosial terlebih dahulu karena seseorang akan dapat melakukan aktivitas sosial seperti beradaptasi apabila ia telah membuka ruang dengan melakukan interasksi sosial.

Menurut Supardan (2009:140) interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial. Menurut Soekanto (2000:67) bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (yang juga dapat dinamakan proses sosial), oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya astivitas-aktivitas sosial.

Menurut Young dan Raymond (dalam Soekanto, 2000:67) Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, atau individu dengan kelompok (Subandiroso, 1987:1)

Menurut Popenoe (dalam Supardan, 2009:140) interasksi sosial adalah proses sosial yang menyangkut hubungan timbal baliak antar individu, kelompok maupun individu dengan kelompok . Menurut Gillin (dalam Soekanto, 2000:67) interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang orang perorangan dengan kelompok manusia.

Menurut Ibid (dalam Soekanto, 2000:71) suatu interaksi sosial akan terjadi apabila telah memenuhi dua syarat, yaitu :

1. Adanya kontak sosial (social-contact) 2. Adanya komunikasi.

2.3 Papua

(14)

memiliki tubuh yang kecil tetapi tidak semua penduduk pegunungan memiliki tubuh yang kecil, ada pula yang bertubuh normal misalnya suku Wahgi (Subandiroso, 1987:120). Penduduk asli Papua yang mendiami pantai barat Papua terbagi atas anim-anim, yakni marindanim, tarimaanim, ahussianim, pancaanim, makianim, dan bajamanim (Subandiroso, 1987:120). Kebanyakan rumah penduduk asli Papua berdiri diatas tiang, dibuat, sedangkan atap dan dindingnya dibuat dari anyaman daun sagu atau rumput (Subandiroso, 1987:120).

Senjata-senjata penduduk Papua berupa panah, lembing, gada, boomerang, kapak-kapak yang terbuat dari batu bertangkai kayu atau enimis yang diberi rotan, dan belanga (Subandiroso, 1987:121). Penduduk asli papua sebagaian besar masih menganut animisme dan dinamisme (Subandiroso, 1987:122).

2.4 Kerangka Berfikir

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas dan untuk lebih memahami alur penelitian ini, berikut adalah kerangka berfikir dari strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Univesrsitas Sriwijaya:

Gambar I Kerangka Berfikir Mahasiswa Asal

Papua

Teori Adaptasi Jhon Bennet

Adaptasi Proses Adapasi

Perilaku

Adaptasi Siasat

Di Lingkungan Universitas

(15)
(16)

3. METODOLOGI PENELITIAN

Dengan mempertimbangkan keperluan Penelitian, Metodologi sangat diperlkukan untuk mendapatkan data dengan cara-cara ilmiah dan Metodologi ini ialah analisis teoritis mengenai cara atau metode yang digunakan dalam Penelitian.

Adapun Metodologi Penelitian dalam Penelitian ini memuat Metode Penelitian, Variabel, lokasi dan subjek penelitian, sumber data, populasi dan teknik sampling, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, serta uji keabsahan data.

3.1 Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian ada berbagai metode penelitian yang bisa digunakan oleh peneliti, terkait judul penelitian yang peneliti pilih dimana penelitian ini lebih mengarah kepada penelitian yang melihat kondisi objek secara alamiah maka peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif karena metode ini merupakan metode yang paling sesuai diantara metode penelitian lainnya.

Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah sesuai fakta yang ada, metode penelitian ini berlandaskan pada filsafat postpositivisme (Sugiyono, 2015:5) . 3.2 Variabel Penelitian

Didalam melakukan sebuah penelitian seseorang peneliti haruslah mengetahui bahwasanya penelitiannya telah memiliki kandungan variabel yang jelas sehingga dapat memberikan bayangan informasi dan data yang diperlukan untuk memecahkan masalah dalam penelitian itu sendiri. Menurut Arikunto (2002:96) Didalam sebuah penelitian variabel menjadi objek utama ataupun titik perhatian. Kaitannya dengan penelitian ini hanya terdapat satu variabel atau variabel tunggal yaitu strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya.

3.3 Definisi Operasional Variabel

(17)
(18)

No. Variabel Indikator Deskriptor kebutuhan dan alur yang ada dalam

lingkungan Universitas Sriwijaya itu sendiri. Adapun perilaku

mahasiswa asal Papua yang dapat terus menerus berubah seiring berjalannya waktu misalnya perilaku

mahasiswa asal Papua yang semula hanya bergaul dengan teman sesama Papua saja lalu berubah bergaul dengan semua mahasiswa tanpa memandang asal daerah,dan perilaku

(19)

No. Variabel Indikator Deskriptor

 Adaptasi Siasat

menunjukkan rasa tidak percaya diri karena perbedaan-perbadaan yang ada lalu

berubah dengan menunjukkan rasa percaya diri yang kuat.

 Dalam menjalani kehidupan di lingkungan Universitas Sriwijaya yang pada dasarnya adalah

lingkungan sosial baru bagi mahasiswa asal Papua itu sendiri,

mahasiswa asal Papua

(20)
(21)

No. Variabel Indikator Deskriptor

 Adaptasi Proses

anggapan terhadap mahasiswa asal Papua yang dianggap menutup diri dan hanya ingin bergaul dengan sesama Papua saja membuat mereka

kesulitan untuk berbaur dengan orang-orang diluar kelompok Papua dan mereka mensiasatinya dengan bersikap ramah serta memulai obrolan terlebih dahulu.

(22)

No. Variabel Indikator Deskriptor berbagai daerah lainnya.

(23)

No. Variabel Indikator Deskriptor Papua

membutuhkan orang yang mahir berbahasa Palembang untuk

mengajarkanny a berbahasa Palembang. Sumber : Bennett 1976, diolah tahun 2018 3.4 Sumber Data

Sumber data merupakan bagian yang terpenting dalam sebuah penelitian, Peneliti harus tepat dalam memilih jenis sumber data karena sumber data inilah yang akan menentukan ketepatan dan luas atau tidaknya informasi yang didapat. Menurut Arikunto (2002:107) Didalam sebuah penelitian sumber data merupakan asal dari diperolehnya sebuah data. Manusia (informan), peristiwa, tempat, benda, beragam gambar, rekaman, dokumen dan arsip merupakan bagian dari Sumber data yang terdapat dalam penelitan (Sutopo, 2002:49-54) .

Dari berbagai sumber data penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Sutopo diatas dan berdasarkan judul penelitian maka peneliti menggunakan sumber data primer dan sekunder yang berupa Manusia selaku informan, peristiwa, rekaman, serta dokumen dan arsip. Adapun penjabaran mengenai sumber data yang akan peneliti gunakan adalah sebagai berikut:

1. Data primer, yaitu berupa Peristiwa merupakan sumber data yang diperoleh oleh peneliti sendiri dengan cara mengamati kejadian / aktivitas tampak nyata yang berkaitan dengan penelitian dan rekaman juga diperoleh oleh peneliti sendiri dengan merekam proses kegiatan wawancara yang berisi kegiatan tanya jawab antara informan dan peneliti.

(24)

bentuk dokumen dan arsip yang berkaitan dengan penelitian misalnya data mahasiswa asal Papua, absensi kehadiran mahasiswa asal Papua dalam kegiatan kampus dll.

3.5 Populasi dan Sampel

Agar lebih terarah dan sistematis dalam melakukan sebuah penelitian, peneliti perlu mengetahui populasi dan Sampel yang akan menjadi objek dan subjek penelitiannya terlebih dahulu.

Berikut ini merupakan populasi dan Sampel yang akan menjadi objek dari penelitian yang akan peneliti lakukan:

3.5.1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan objek dan subjek yang dapat diukur dan diamati melalui karakteristik tertentu lalu dapat dipelajari oleh peneliti dan mencari kesimpulannya (Sugiyono, 2009:80)

Mengingat penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, maka yang disebut dengan populasi disini adalah situasi sosial. Activity (Aktivitas), Actor (Pelaku), dan Place (tempat) merupakan tiga elemen yang terdapat didalam situasi sosial yang berhubungan secara sinergis (Sugiyono, 2012:297-298).

Situasi sosial ini dapat dijadkan sebagai objek penelitian dimana situasi sosial ini akan dipahami lebih mendalam oleh peneliti dari berbagai aspek yang ada dalam situasi sosial tersebut. maka dari itu situasi sosial yang akan peneliti amati atau yang menjadi objek penelitian ini yaitu tentang strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya dimana mahasiswa asal Papua yang berkuliah di Universitas Sriwijaya sebagai Actor (Pelaku), strategi adaptasi sebagai Activity (Aktivitas), dan lingkungan Universitas Sriwijaya adalah Place (Tempat).

3.5.2 Sampel

(25)

menggunakan penelitian kualitatif yang pada dasarnya sampel dikenal dengan istilah informan maka yang menjadi informan dalam penelitian ini yaitu mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya.

Tabel 3.5 Subjek Penelitian No

.

Nama Jenis Kelamin Keterangan

1. V L Mahasiswa Universitas

Sriwijaya asal Papua

2. P L Mahasiswa Universitas

Sriwijaya asal Papua

3. N P Mahasiswa Universitas

Sriwijaya asal Papua

4. A P Mahasiswa Universitas

Sriwijaya asal Papua

5. K L Mahasiswa Universitas

Sriwijaya asal Papua

6. M P Mahasiswa Universitas

Sriwijaya asal Papua

7. S P Mahasiswa Universitas

Sriwijaya asal Papua Jumlah 7 Orang

(Sumber: Data Primer, tahun 2018)

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Didalam melakukan penelitian, peneliti perlu didukung oleh berbagai teknik atau cara-cara yang digunakan dalam mengumpulkan data sebagai sumber yang paling riskan dalam penelitian dan teknik atau cara-cara yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh untu mencari tahu hasil dan menarik kesimpulan dari penelitian yang dilkukan.

(26)

dan menganalisis data tertentu (Afrizal, 2016:133). Didalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun penjabarannya akan peneliti jelaskan dibawah ini: 3.6.1 Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2009:240):

Teknik dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan segala bentuk dokumen yang berkaitan dengan penelitian baik berupa gambar, karya-karya monumental, catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, rengger, agenda dan lain sebagainya.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan Teknik dokumntasi untuk mendapatkan data-data berupa arsip, rekaman, video, foto, catatan, dan lain sebagainya terkait penelitian yang berupa Dokumen tentang strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas untuk lebih memperkuat data yang dimiliki oleh peneliti.

3.6.2 Wawancara

Dalam penelitian ini, peneliti memilih teknik pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam. Karena dengan melakukan wawancara mendalam peneliti dapat memperoleh data dari informan secara lebih luas.

Wawancara merupakan suatu proses bertemunya dua orang secara langsung atau bertatap muka dalam proses Tanya jawab untuk memperoleh sebuah informasi (Esterberg dalam Sugiyono, 2009:231) Adapun narasumber yang akan peneliti wawancarai dalam penelitian ini yaitu mahasiswa asal papua di lingkungan Universitas Sriwijaya.

3.6.3 Teknik Observasi

(27)

melihat gambaran mengenai strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya dengan melihat prilaku yang ditunjukkan oleh mahasiswa Universitas Sriwijaya asal Papua.

Berdasarkan teknik pengumpulan data diatas dan untuk lebih rincinya berikut ini merupakan tabel teknik pengumpulan data, ialah:

Tabel 3.6 Teknik Pengumpulan Data

Sumber : Data Primer Diolah, Tahun 2018 3.7 Teknik Analis Data

(28)

menganalisa, diperlukan teknik yang tepat dan setiap data yang berasal dari sumber yang berbeda-beda maka akan berbeda pula teknik yang digunakan. Teknik analisis data ialah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menganalisis data dari berbagai sumber yang di dapat oleh peneliti (Sugiyono, 2012:199). Dilakukannya analisis data bertujuan untuk untuk mengetahui valid atau tidaknya data yang diperoleh oleh peneliti. Berhubungan dengan penelitian ini adapun penjabaran dari teknik analisis data statistik Deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:

Analisis data adalah aktivitas yang dilakukan secara terus menerus selama penelitian tersebut masih berlangsung. Dalam menganalisis data ini dilakukan mulai dari pengumpulan data sampai tahap penulisan laporan (Afrizal, 2016:176). Dalam melakukan analisis data terdapat tiga jenis teknik analissis data yang bisa digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman dalam Afrizal, 2016:174). Berdasarkan analisis data, data dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

3.7.1 Reduksi Data

Reduksi data dalam penelitian ini dilakukan pada awal kegiatan menganalisis data. Menurut Sugiyono (2009:247) mereduksi data sama halnya dengan merangkum, menentukan hal-hal penting dan utama. Berdasarkan yang telah dikemukakan oleh Sugiyono tersebut maka reduksi data sangat perlu dilakukan untuk membantu peneliti memahami lebih jelas terkait penelitiannya dan memudahkan peneliti dalam malakukan pengumpulan data selanjutnya. Adapun hal-hal yang terdapat di reduksi data dalam penelitian ini adalah strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya.

3.7.2 Penyajian Data

(29)

3.7.3 Penarikan Kesimpulan

Setelah reduksi data dan penyajian data telah dilakukan maka yang dilakukan selanjutnya yaitu mengambil kesimpulan atau verifikasi data. Tahap ketiga pada analisis data kualitatif yaitu penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman dalam Sugiyono, 2009:253). Penarikan kesimpulan ini dilakukan untuk memberikan pemaknaan terhadap data yang telah terkumpul dan kesimpulan awal ini hanya bersifat sementara yang sewaktu-waktu akan berubah apabila ditemukan bukti atau fakta yang dapat memperkuat data pada proses pengumpulan data selanjutnya. Pada penelitian kualitatif kesimpulan ialah hal-hal yang belum pernah ada sebelumnya. Peneliti bisa menemukan sesuatu yang pada awalnya masih belum jelas namun setelah diteliti menjadi lebih jelas.

3.8 Uji Keabsahan Data

Dalam melakukan sebuah penelitian, seorang peneliti harus mengetahui terlebih dahulu apa saja yang terdapat dalam uji ekabsahan data. Seperti yang kita ketahui uji keabsahan data merupakan hal-hal yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kebenaran atau tingkat keakuratan dari hasil penelitian yang dilakukan. Didalam uji keabsahan data terdapat: uji kredibilitas data, uji transferability, uji dependability, dan uji confirmability. Pada penelitan ini hanya digunakan uji kredibilitas dan uji transferability. Penjabarannya sebagai berikut:

3.8.1 Uji Kredibilitas

Uji kredibilitas data adalah suatu hasil penelitian kualitatif yang kredibel atau dapat dipercaya yang belandaskan pada partisipan dalam penelitian tersebut. Karena dengan adanya uji kredibilitas data ini bertujuan untuk memahami hal-hal yang dapat dinilai secara ilmiah dan bisa menarik perhatian dari sudut pandang seseorang. Menutut Sugiyono (2009:270-276) Strategi dalam meningkatkan uji kredibilitas terdapat 6 bentuk yaitu sebagai berikut:

1. Perpanjangan pengamatan, dengan adanya pengamatan ini dapat menguji kredibilitas data, kemudian si peneliti kembali lagi kelapangan untuk memastikan apakah data tersebut sudah benar yang peneliti amati, wawancara dan sumber data informan yang sudah pernah peneliti temui.

(30)

3. Triangulasi, peneliti diharapkan untuk melakukan pengecekan data dari berbagai sumber, berbagai cara, dan berbagai waktu yang ia dapatkan. 4. Analisis kasus negative, yaitu peneliti mencari data yang masih

bertentangan dengan data yang telah ada.

5. Menggunakan bahan refernsi, artinya peneliti perlu memiliki pendukung agar dapat membuktikan kebenaran data yang ada.

6. Melakukan membercheck, peneliti diharapkan untuk lebih mengetahui orang yang dekat dengan informan atau teman akrab. Hal ini agar peneliti mendapatkan data yang akurat.

Pada penelitian ini peneliti akan melakukan perpanjangan pengamatan dengan memastikan kembali data yang ada di lapangan, melakukan pengamatan secara lebih cermat, mengecek data yang ada, mencari berbagai refernsi untuk mendukung data yang ada, serta melakukan pengecekkan data yang ada sehingga hasil penelitian mengenai strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya yang peneliti miliki dapat dipercaya atau dianggab kredibel.

3.8.2 Uji Transferabilitas

Uji transferabilitas merupakan tingkat kemampuan hasil penelitian kualitatif yang di generalisasikan atau diterapkan dalam situasi lain (Sugiyono, 2009:276). Dalam penelitian kualitatif ini laporan yang dibuat oleh peneliti harus meyakinkan dan dalam memberikan suatu pernyataan haruslah lebih rinci, jelas dan sistematis agar dapat dipercaya sehingga si peneliti dapat memperoleh data yang akurat mengenai strategi adaptasi mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya.

3.8.3 Uji Dependabilitas

Dalam penelitian kualitatif dependabilitas dilakukan dengan cara melakukan audit pada keseluruhan proses penelitian. Sugiyono (2009:277) mengemukakan bahwa:

(31)

Maka dari itu, uji dependabilitas sangat diperlukan dalam penelitian kualitatif untuk menguji proses penelitian yang telah peneliti lakukan mengenai strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya. 3.8.4 Uji Konfirmabilitas

Uji Konfirmabilitas bisa dikatan mirip dengan uji dependabilitas sehingga keduanya dapat diuji secara bersamaan (Sugiyono, 2009:277). Dalam uji konfirmabilitas yang di uji adalah hasil penelitian itu sendiri dengan mengaitkannya pada proses penelitian yang telah dilakukan. Menurut Sugiyono (2009:277) hasil penelitian dapat dikatakan memenuhi standar konfirmabilitas apabila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan uji konfirmabilitas dengan cara menggunakan prosedur penelitian yang menjadi standar penelitian kualitatif mengenai strategi adaptasi sosial mahasiswa asal Papua di lingkungan Universitas Sriwijaya yang pada akhirnya akan ditemukan keseimbangan antara proses penelitian dengan hasil penelitian sehingga dapat diterima dan dapat dikatakan memenuhi standar konfirmabilitas.

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal. (2016). Metode Penelitian Kualitatif ( Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif Dalam Berbagai disiplin Ilmu). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

(32)

Bennett. (1976). The Ecological Transition Cultural Anthropology and Human Adaptation. Canada: University of British Columbia.

Bungin, (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

David. (2009). Manajemen Strategis. Jakarta: Salemba Empat.

Emzir. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Helmi, Alfian & Satria, Arif. (2012). Strategi Adaptasi Nelayan Terhadap Perubahan Ekologis. Bogor: Institut Pertanian Bogor. www.hubsasia.ui.ac.id diakses pada 2 januari 2018.

Martono. (2012) . Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Novirianto, Eko Wahyu. (2013). Keterkejutan Budaya Pada Mahasiswa Asal Kabupaten Fakfak. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.. http://eprints.ums.ac.id Diakses pada 8 September 2017

Perpres Nomor 65 Tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (P4B). https://www.bappenas.go.id diakses pada 24 oktober 2017.

Perpres Nomor 66 Tahun 2011 tentang Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B). https://www.bappenas.go.id diakses pada 24 oktober 2017.

Ristekdikti. (2017). Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia. http://pemeringkatan.ristekdikti.go.id. diakses pada 21 0ktober 2017

Ritzer. (2014). Teori Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soekanto. (2004). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sugiyono, (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sunarto, (2008). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Supardan. (2009). Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Bumi Aksara. Tjiptomo. (2015). Strategi Pemasaran. Jakarta: Rineka Cipta.

(33)

Gambar

Gambar 2 Alur Penelitian
Tabel 3.1 Variabel Penelitian
Tabel 3.5 Subjek Penelitian
Tabel 3.6 Teknik Pengumpulan Data

Referensi

Dokumen terkait

Model latihan penelitian dalam sistem sosial dapat dirancang dengan baik, guru yang mengontrol interaksi dan meresapkan prosedur-prosedur penelitian. Meski demikian, standar penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif mengenai Pola Adaptasi Sosial Fresh Graduate dalam Memilih Pekerjaan (studi pada Fresh

Teori kritik sosial adalah filosofi lain dari sebuah metodologi kualitatif yang unik.Dipandu oleh filsafat dari teori kritik sosial,peneliti menemukan pemahaman menganai

bersifat kualitatif, yaitu jenis penelitian yang menghasilkan penemuan- penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan

Deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan sebab peneliti menjabarkan mengenai kondisi kongkrit tentang proses adaptasi budaya mahasiswa perantau

Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif adalah suatu cara agar data dapat dikatakan kredibel, yang mana hasil laporan peneliti telah sesuai dengan yang terjadi pada

Manual Standar Sarana dan Prasarana Penelitian adalah dokumen berisi petunjuk mengenai cara, langkah, atau prosedur tentang penetapan, pelaksanaan, evaluasi

Kriteria standar peneliti skema penelitian hibah internal Universitas Pembangunan Jaya, ditampilkan pada tabel berikut: No Skema Penelitian Kriteria Standar Peneliti 1 Penelitian