• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan hukum Islam terhadap jual beli telur puyuh : studi kasus di desa Gedangan Sidayu Gresik.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tinjauan hukum Islam terhadap jual beli telur puyuh : studi kasus di desa Gedangan Sidayu Gresik."

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP

JUAL BELI TELUR PUYUH

(Studi Kasus di Desa Gedangan Sidayu Gresik)

SKRIPSI Oleh

Ziyadatur Robihah NIM.C02213080

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Syariah dan Hukum Jurusan Hukum Perdata Islam Prodi Hukum Ekonomi Syariah

Surabaya

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Telur Puyuh (Studi Kasus Di Desa Gedangan Sidayu Gresik)”. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana praktik jual beli telur puyuh di Desa Gedangan Sidayu Gresik dan bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik jual beli telur puyuh di Desa Gedangan Sidayu Gresik.

Skripsi ini merupakan hasil penelitiam lapangan (field research) di desa Gedangan Sidayu Gresik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya data yang dikumpulkan disusun dan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yakni mendekskripskan data-data mengenai praktek jual beli telur puyuh, kemudian dianalisis dengan pola pikir induktif yang mana berpijak pada fakta-fakta yang ada di lapangan, yaitu menganalisis menggunakan teori jual beli hukum Islam, sehingga pada akhirnya didapatkan suatu kesimpulan.

Di dalam praktek jual beli telur puyuh di desa Gedangan Sidayu Gresik bahwasanya tengkulak berbuat curang terhadap peternak dengan berbohong mengenai kenaikan harga di pasar. Ketika harga telur puyuh mengalami kenaikan, tengkulak hanya membayar setengahnya saja, dan membayar sisanya saat penyerahan telur berikutnya. Pada hari berikutnya tengkulak tidak melunasi sisa pembayaran dan malah membayar telur setengah lagi dan hal ini berkelanjutan sampai harga turun. Pada saat harga turun tengkulak melunasi semua sisa pembayarannya kepada peternak akan tetapi sangat disayangkan tengkulak membayar sisa pembayaran telur dengan menyamakan harga saat turun. Padahal seharusnya membayar sesuai dengan harga saat naik. Sehingga jual beli yang demikian ini terdapat unsur ghara>r sehingga jual belinya menjadi batal.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TRANSLITERASI ... xii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1

B.Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah ... 7

C.Rumusan Masalah ... 8

D.Kajian Pustaka ... 8

E. Tujuan Penelitian ... 13

F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 13

G.Definisi Operasional ... 14

H.Metode Penelitian ... 14

(8)

BAB II JUAL BELI DALAM ISLAM

A.Pengertian Jual Beli ... 21

B.Dasar Hukum Jual Beli ... 23

C.Rukun Dan Syarat Jual Beli ... 25

D. Prinsip Jual Beli Dalam Islam ... 37

E. Jual Beli Yang Dilarang Dalam Islam ... 40

BAB III PRAKTIK JUAL BELI TELUR PUYUH DI DESA GEDANGAN SIDAYU GRESIK A.Gambaran Singkat Desa Gedangan Sidayu Gresik ... 46

1. Sejarah Desa Gedangan ... 46

2. Kondisi Sosial Masyarakat ... 47

B.Praktik Jual Beli Telur Puyuh ... 50

1. Subjek dan Objek Jual Beli ... 50

2. Akad Jual Beli ... 53

3. Praktik Jual Beli Telur Puyuh Di Desa Gedangan Sidayu Gresik ... 53

BAB IV JUAL BELI TELUR PUYUH DI DESA GEDANGAN SIDAYU GRESIK PRRPEKTF HUKUM ISLAM A.Praktik Jual Beli Telur Puyuh di Desa Gedangan Sidayu Gresik ... 57

(9)

BAB V PENUTUP

A.Kesimpulan ... 66

B.Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA

(10)

BAB I

PEDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia pada hakekatnya adalah makhuk ciptaan Allah SWT. Manusia

mempunyai kedudukan yang paling tinggi daripada makhuk lainnya. Tentu saja

hal ini menunjukkan bahwasannya manusia diciptakan untuk suatu tujuan yang

mulia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-dzariyat ayat 56.













‚Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku‛1

Dari ayat diatas menjelaskan bahwasanya Allah menciptakan manusia

dengan kekuasaan-Nya membuat manusia tidak ada pilihan lain selain dari

mengabdi dan melaksanakan yang Allah perintahkan.

Manusia di muka bumi memiliki hubungan yang harus dijalankan, yaitu

hubungan vertikal dan hubungan horizontal. Hubungan vertikal merupakan

hubungan manusia dengan Allah, yang mana hubungan ini bersifat pribadi yang

berhubungan dengan ibadah. Sedangkan hubungan horizontal merupakan

hubungan manusia dengan manusia. Hubungan ini menunjukkan bahwa manusia

(11)

2

adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari manusia lainnya. Hubungan

antara kedua ini harus seimbang.

Dalam hukum Islam hubungan antara manusia dengan manusia dikenal

dengan fiqih muamalah. Fiqih muamalah merupakan salah satu dari bagian

persoalan hukum Islam seperti lainnya yaitu tentang hukum ibadah, hukum

pidana, hukum peradilan, hukum perdata, hukum jihad, hukum damai, hukum

politik, hukum penggunaan harta, dan hukum pemerintahan. Semua bentuk

persoalan yang dicantumkan dalam kitab fiqih adalah pertanyaan yang

dipertanyakan masyarakat atau persoalan yang muncul di tengah-tengah

masyarakat. Kemudian para ulama memberikan pendapatnya yang sesuai

kaidah-kaidah yang berlaku dan kemudian pendapat tersebut dibukukan

berdasarkan hasil fatwa-fatwanya.2

Ruang lingkup muamalah adalah hubungan-hubungan antar manusia

dalam masalah harta, hak, dan transaksi. Hal ini berarti fiqih muamalah terbatas

pada hukum kebendaan dan hukum perikatan. Atas dasar itu, yang menjadi

fokus kajian fiqih muamalah adalah masalah harta, hak dan transaksi.

Sedangkan tujuan dari muamalah yang terungkap adalah saling menukar

manfaat di antara manusia dan upaya untuk mendapatkan sarana-sarana yang

diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup.3

2 Saiful Jazil, Fiqh Muamalah (Surabaya: UIN SA Press, 2014), 1.

(12)

3

Prinsip dasar dalam persoalan muamalah adalah untuk mewujudkan

kemaslahatan umat manusia, dengan memperhatikan dan mempertimbangkan

berbagai situasi dan kondisi yang mengitari manusia itu sendiri. Bahwasanya

saat ini terdapat banyak jenis-jenis muamalah yang dilakukan oleh manusia

sehingga syariat Islam hanya memberikan prinsip dan kriteria dasar yang harus

dipenuhi oleh setiap jenis muamalah, seperti halnya mengandung unsur

kemaslahatan, menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan, jujur, saling tolong

menolong, tidak mempersulit, dan suka sama suka.4

Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari, pastinya setiap manusia

melakukan suatu transaksi yang biasa dikenal dengan jual beli. Sebelum

manusia mengenal jual beli untuk memenuhi kebutuhannya, manusia

menggunakan cara bertukar barang dengan orang lain yang memiliki barang apa

yang ia butuhkan atau lebih dikenal dengan barter. Seiring berkembangnya

zaman akhirnya didapat satuan pengukur nilai suatu barang yaitu uang. Setelah

orang-orang mengenal uang maka sistem barter lambat laun semakin jarang

ditemui, sehingga orang-orang lebih memilih bertransaksi dengan jual beli.

Jual beli adalah tukar menukar harta dengan tujuan kepemilikan secara

suka sama suka, menurut cara yang dibenarkan oleh syara’.5 Hal ini ditegaskan

dalam al-Qur’an surat al-Nisa’ ayat 29.

4 Nasrun Harun, Fiqh Muamalah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007)

(13)

4                                     

‚Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu‛6

Dalam pelaksanaan jual beli, tidak boleh bertentangan dengan syariat

agama Islam. Prinsip jual beli dalam Islam, tidak boleh merugikan salah satu

pihak, baik penjual ataupun pembeli. Jual beli harus dilakukan atas dasar suka

sama suka, bukan karena paksaan.

Adapun untuk rukun jual beli dinyatakan sah apabila telah memenuhi

rukun dan syarat jual beli. Rukun jual beli berarti sesuatu yang harus ada dalam

jual beli. Apabila salah satu rukun jual beli tidak terpenuhi, maka jual beli tidak

boleh dilakukan. Begitu pula dengan syarat-syarat jual beli. Persyaratan dalam

jual beli adalah untuk menghindari timbulnya perselisihan antara penjual dan

pembeli akibat adanya kecurangan dalam jual beli.

Aktivitas jual beli tidak akan pernah berhenti sepanjang masa selama ada

kehidupan di dunia ini. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, dari pagi hingga

malam praktik jual beli ini dilakukan dari segala penjuru dunia. Seperti halnya

yang terjadi di desa Gedangan kecamatan Sidayu. Mayoritas penduduknya

bekerja sebagai peternak dan petani. Sangat disayangkan peternak dan petani

(14)

5

hanyalah buruh sehingga kesejahteraan mereka masih dikatakan kurang. kondisi

semacam ini berbanding terbalik dengan mayarakat disana yang bekerja sebagai

tengkulak.

Pada awalnya jual beli yang dilakukan antara peternak dengan tengkulak

berjalan secara normal. Dalam jual beli ini terjadi perjanjian antara peternak

dengan tengkulak, bahwasannya penyetoran telur puyuh sebanyak 20 kg selama

3 (tiga) hari sekaigus pembayarannya. Peternak menjual barang kepada

tengkulak dengan harga yang telah disepakati antara keduanya seharhga Rp.

22.000,- per kg. Pada waktu itu juga tengkulak membayar kepada peternak

sekaligus penyerahan barang sehingga barang tersebut sudah menjadi milik

tengkulak.

Jual beli yang diperbolehkan dalam Islam adalah telah memenuhi rukun

dan syarat jual beli; jenis barang yang dijual halal dan suci; baarang yang

diperjualbelikan memiiki manfaat, atas dasar suka sama suka tidak ada paksaan

antara keduanya. Hal ini telah sesuai dengan apa yang dilakukan antara

peternak dengan tengkulak.

Di lain hari, harga telur puyuh naik menjadi Rp. 24.000,- per kg. Dari

sinilah awal muncul suatu masalah antara peternak dengan tengkulak. Pada saat

pengambilan telur puyuh, si tengkulak hanya bisa membayar setengahnya saja.

(15)

6

peternak memberikan kelonggoran kepada tengkulak sesuai dengan perjanjian

awal tadi.

Pada saat hari pengambilan telur berikutnya, tengkulak hanya bisa

membayar setengah lagi. Akan tetapi peternak masih memberikan waktu

kepada tengkulak untuk melunasi hutang-hutangnya. Waktu terus berjalan dan

harga telur masih belum juga kembali ke harga normal. Tengkulak masih

terus-terusan berhutang dan para peternak masih memberikan waktu kepada

tengkulak, karena penghasilan satu-satunya mereka adalah peternak telur

puyuh.

Selang beberapa minggu, harga telur puyuh mengalami penurunan. Harga

telur puyuh menjadi Rp. 21.400,- per kg. Pada hari itu juga tengkulak melunasi

hutang-hutangnya kepada peternak. Akan tetapi tengkulak melunasi dengan

harga Rp. 21.400,- per kg, yang seharusnya melunasi dengan harga Rp. 24.000,-

per kg. Dengan demikian peternak mengalami begitu banyak kerugian.7

Kecurangan yang dilakukan tengkulak tidak terjadi sekali saja. Pernah

suatu ketika harga pasar naik, tengkulak tidak memberitahu kepada peternak

sehingga peternak memberikan harga normal. Dalam hal ini yang mengalami

kerugian adalah para peternak.

Berdasarkan latar belakang yang ada, maka penulis tertarik untuk

menelusuri dan meneliti permasalahan jual beli menjadi sebuah topik penelitian

(16)

7

ilmiah dengan judul ‚ Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Telur Puyuh

(Studi Kasus di Desa Gedangan Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik)‛.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Identifikasi dan batasan masalah menjelaskan

kemungkinan-kemungkinan yang dapat muncul dalam penelitian dengan melakukan

identifikasi dan inventarisasi sebanyak-banyaknya kemungkinan yang dapat

diduga sebagai masalah.8 Dari uraian paada latar belakang di atas, maka

identifikasi daan baasan masalahnya adalah sebagai berikut:

1. Konsep jual beli dalam Islam.

2. Rukun dan syarat jual beli.

3. Adanya pihak yang dirugikan.

4. Adanya pengurangan jumlah dalam pelunasan hutang.

5. Menyembunyikan harga pasar oleh tengkulak.

6. Praktik jual beli telur puyuh.

7. Tinjauan hukum Islam terhadap praktik jual beli telur puyuh.

Dari beberapa identifikasi masalah tersebut, untuk menghasilkan

penelitian yang lebih fokus pada judul di atas, penulis membatasi penelitian

yang meliputi:

1. Praktik jual beli telur puyuh di Desa Gedangan Sidayu Gresik.

8 Tim Penyusun Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Amel Surabaya, Petunjuk Penulisan Skripsi

(17)

8

2. Tinjauan hukum Islam terhadap praktik jual beli telur puyuh di Desa

Gedangan Sidayu Gresik.

C. Rumusan Masalah

Rumusan massalah memuat pertanyaan yang akan dijawab melalui

penelitian.9 Dalam hal ini peneliti merumuskan masalah dalam penelitiannya

sebagi berikut:

1. Bagaimana praktik jual beli telur puyuh di Desa Gedangan Sidayu Gresik?

2. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik jual beli telur puyuh di

Desa Gedangan Sidayu Gresik?

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka adalah deskripsi ringkas tentang kajian / penelitian yang

sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang akan diteliti sehingga terlihat

jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan pengulngan atau

duplikasi dari kajian / penelitian yang telah ada.10

Sejauh penelitian penulis terhadap karya-karya ilmiah berupa buku

maupun laporan penelitian, pembukuan mengenai jual beli sudah pernah ditulis

sebelumnya yaitu :

9 Ibid.

(18)

9

1. Skripsi saudara Faujan Habibie, prodi muamalah UIN Sunan Ampel Surabaya

(2013), ‚Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tambahan Harga Dari Harga

Normal Yang Diminta Tukang Bangunan Dalam Praktek Jual Beli Bahan

Bangunan Di Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo‛. Praktek

Tambahan Harga dari Harga Normal yang Diminta Tukang Bangunan dalam

Jual Beli Bahan Bangunan di Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo,

dilaksanakan oleh penjual (toko bangunan), pembeli (tukang bangunan) dan

pemilik rumah. Dalam prakteknya, jual beli bahan bangunan tersebut ada

kerjasama atau kompromi oleh tukang bangunan sebagai pembeli dengan

toko bangunan sebagai penjual untuk menambah harga dari harga normal

atau yang diminta. Yang dilakukan pembeli (tukang bangunan) ialah

meminta kelebihan dari harga barang tadi untuk ditambahkan atau merubah

nilai uang pada harga yang sebenarnya pada nota penjualan untuk

mengelabui pemilik rumah. Dan yang dilakukan penjual ialah menyetujui

untuk menambah harga barang dari harga normal atau semestinya. Sehingga

disini terjadi penipuan oleh tukang bangunan dan toko bangunan untuk

mengelabui pemilik rumah. Ditinjau menurut hukum Islam, jual beli tersebut

fasid disebabkan adanya tambahan harga pada barang dari harga normal atau

yang semestinya yang diminta tukang bangunan.11

11 Faujan Habibie, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tambahan Harga Dari Harga Normal Yang Diminta Tukang Bangunan Dalam Praktek Jual Beli Bahan Bangunan Di Kecamatan Tanggulangin

(19)

10

2. Skripsi saudari Siti Nur Asia, Prodi Muamalah UIN Sunan Ampel Surabaya

(2014). ‚Tinjauan Sadd az-Zari‘ah Terhadap perubahan Harga Secara

Sepihak dalam Jual Beli Rak antara Produsen dan Pedagang Pengecer di

Jalan Dupak No. 91 Surabaya‛. Dari hasil penelitian, penulis menyimpulkan

bahwa perubahan harga secara sepihak yang dilakukan oleh pedagang

pengecer itu tidak sesuai aturan syar’i. Menurut fuqaha>’ Syafi’iyah dan

Hanabilah, jual beli yang dilakukan secara terpaksa adalah batal demi hukum.

Sedangkan menurut Hanafiyah akad yang disertai unsur paksaan hukumnya

maukuf pada adanya kerelaan setelah unsur paksaan tersebut berakhir, jika

pihak yang dipaksa rela, maka akadnya sah dan jika tidak rela maka akadnya

batal. Dari fakta yang terjadi di lapangan, tentang perubahan harga secara

sepihak dalam jual beli rak antara produsen dan pedagang pengecer di jalan

dupak no.91 surabaya, tidak boleh diteruskan, sebab dalam pemotongan

harga sepihak tersebut menimbulkan mafsadah atau kerusakan, maka perlu

ditinjau dengan Sadd az-Zari‘ah, agar tidak menimbulkan mafsadah atau

kerusakan yang lebih besar lagi.12

3. Skripsi saudara Faruk Amrullah, Prodi Muamalah UIN Sunan Ampel

Surabaya (2009). ‚Perspektif Hukum Islam Terhadap Bisnis Pulsa Dengan

Harga Dibawah Standar Oleh Toko Surya Baru Cellular Di Desa Ngoro

12Siti Nur Asia, ‚Tinjauan Sadd az-Zari‘ah Terhadap perubahan Harga Secara Sepihak dalam Jual

Beli Rak antara Produsen dan Pedagang Pengecer di Jalan Dupak No. 91 Surabaya‛ (Skripsi- -UIN

(20)

11

Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang‛. Hasil penelitian menyimpulkan

bahwa sistem yang dijalankan toko surya baru cellular sehingga dapat

menjual dengan harga dibawah standar yaitu dengan cara pertama mencari

bahan baku dengan harga murah, kedua memperbayak jumlah transaksi

dengan begitu akan mendapatkan bonus dengan begitu akan mengurangi

harga dasar yang akan diperoleh, ketiga meminimalkan keuntungan pada

setiap transaksi karena sebagian besar keuntungan diperoleh dari penjualan

handphone dan jasa servise. Ditinjau dari hukum Islam kegiatan jual beli

yang dilakukan oleh toko Surya Baru Cellular telah memenuhi rukun dan

syarat jual beli. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa jual beli tersebut sah

secara syara, akan tetapi hal tersebut menimbulkan mafsadat bagi usaha

sejenis di sekitarnya.13

4. Skripsi saudara Ayub Mustakim Kabaudinini, Prodi Muamalah UIN Sunan

Ampel Surabaya (2015). ‚Analisis Hukum Islam Terhadap Jual Beli

Rempah-Rempah Yang Ditangguhkan Di Desa Sombro Kecamatan Sooko Kabupaten

Ponorogo‛. Hasil penelitian menyimpulkan bahwasanya dalam pelaksanaan

jual beli dengan sistem penangguhan harga nyatanya sudah menjadi

kebiasaan masyarakat Desa Sombro Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo.

Penangguhan waktu pembayaran sebenarnya diperbolehkan dalam hukum

13 Faruk Amrullah, ‚Perspektif Hukum Islam Terhadap Bisnis Pulsa Dengan Harga Dibawah Standar

Oleh Toko Surya Baru Cellular Di Desa Ngoro Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang‛ (Skripsi

(21)

12

Islam, Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm jilid IV menjelaskan

diperbolehkan penangguhan waktu akan tetapi waktu dalam batasan yang

jelas. Sedang dalam perjanjian jual beli Rempah-rempah yang dilakukan

antara penjual dengan pembeli terdapat rukun yang tidak terpenuhi, yaitu

batalnya akad karena ketidak ridhaan dari pembeli. Kemudian dalam hal

pembayaran yang harus ditangguhkan pada tingkat harga tertinggi, yang

belum diketahui besarannya. Jual beli semacam itu menimbulkan kerugian

pada pihak pembeli, yaitu tidak adanya kepastian dan berakibat pada resiko

penipuan.14

Dari penelitian-penelitian yang sudah dibahas sebelumnya, dapat

dikatakan bahwa fokus penelitian yang dibahas tidak sama dengan yang akan

diteliti oleh penulis. Disini penulis mefokuskan penelitian tentang praktik jual

beli dengan pengurangan pembayaran. Bagaimana Islam memandang kegiatan

transaksi tersebut. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian

tentang ‚ Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Telur Puyuh (Studi Kasus

di Desa Gedangan Sidayu Gresik)‛.

14Ayub Mustakim Kabaudinini, ‚Analisis Hukum Islam Terhadap Jual Beli Rempah-Rempah Yang

Ditangguhkan Di Desa Sombro Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo‛ (Skripsi- -UIN Sunan

(22)

13

E. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah

sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan praktik jual beli telur puyuh di Desa Gedangan

Sidayu Gresik.

2. Untuk menjelaskan bagaimana hukum Islam terhadap praktik jual beli telur

puyuh di Desa Gedangan Sidayu Gresik.

F. Kegunan Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat untuk hal-hal sebagai

berikut:

1. Aspek Teoritis

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memperkaya

khazanah keilmuan dibidang fiqh mu’amalat terutama masalah jual beli

serta dapat dijadikan acuan lagi bagi peneliti-peneliti atau kalangan yang

ingin mengkaji masalah ini pada suatu saat nanti.

2. Aspek Praktis

Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan

acuan yang jelas terutama bagi masyarakat Desa Gedangan Sidayu

(23)

14

G. Definisi Operasional

Definisi Operasional memuat penjelasan tentang pengertian yang bersifat

operasional dari konsep atau variable penelitian, sehingga, bisa lebih untuk

memudahkan dan menyederhanakan serta bisa dijadikan acuan dalam

menelusuri menguji ataupun mengukur variable tersebut melalui penelitian.15

Dalam skripsi yang berrjudul ‚Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli

Telur Puyuh (Studi Kasus di Desa Gedangan Sidayu Gresik)‛, maka perlu

diberikan definisi yang jelas mengenai pokok kajian yang penulis bahas, yaittu:

Hukum Islam :Peraturan-peraturan dan ketentuan yang bersumber

dari al-Quran, hadist, ijma’, qiyas dan pendapat para

ulama. Dalam hal ini membahas tentang peraturan

yang terkait dengan jual beli.

Jual beli telur puyuh :Jual beli antara peternak dengan tengkulak.

H. Metode Penelitian

Untuk dapat memberikan hasil yang baik maka dibutuhkan serangkaian

serangkaian sistematis yang terdiri atas:

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), yaitu

suatu penelitian yang meneliti objek di lapangan untuk mendapatkan data

15 Tim Penyusun Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Amel Surabaya, Petunjuk Penulisan

(24)

15

dan gambaran yang jelas dan konkrit tentang hal-hal yang berhubungan

dengan permasahan yang diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan

kualitatif denggan tujuan peneltian ini, didapat pencandran secara sistematis,

faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah

tertentu.16 Yaitu peternak dan tengkulak yang terlibat langsung dalam

praktik jual beli telur puyuh di Desa Gedangan Kecamatan Sidayu

Kabupaten Gresik.

2. Data yang dikumpulkan

Data yang diperlukan diperoleh untuk menjawab pertanyaan dalam

rumusan masalah, diantaranya adalah:

a. Praktik jual beli telur puyuh di Desa Gedangan Sidayu Gresik.

b. Hukum Islam terhadap jual beli telur puyuh di Desa Gedangan Sidayu

Gresik.

3. Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam pnelitian yaitu sumber primer dan

sumber sekunder.

a. Sumber primer

Sumber primer adalah sumber yang langsung berkaitan dengan

obyek penelitian.17 Sumber primer dalam penelitian ini yaitu pihak

peternak sebanyak 4 orang dan pihak tengkulak hanya satu orang, serta

16 Sumadi Suryabrata, Metodelogi Penelitian (Cet. VII) (Jakarta: Rajawwali Press, 1992), 18.

(25)

16

dokumen yang berhubungan dengan praktik jual beli di Desa Gedangan

Sidayu Gresik.

b. Sumber sekunder

Sumber sekunder adalah sumber yang medukung melengkapi dari

sumber pertma.18 Sumber sekunder yang digunakan dalam penelitian ini

adalah buku-buku yang ada hubungannya dengan penelitian.

Adapun sumber sekundernnya adalah sebagai berikut:

1) Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemaahannya (Bandung:

Diponegoro, 2010).

2) Nasrun Harun, Fiqh Muamalah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007).

3) Saiful Yazid, Fiqih Mu’amalah (Suyrabaya: UIN SA Press, 2014).

4) Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqih Al-Isla>mi> Wa Adilatuhu, Juz 4 (Beiru>t:

Da>r Al-Fikr, 1998)

5) Sayyid Sa>biq, Fiqih Sunnah, Juz 3 (Beiru>t: Da>r Al-Fikr, 1971)

4. Teknik pengumpulan data

Untuk menjawab masalah penelitian, diperlukan data yang akurat di

lapangan. Metode yang digunakan harus sesuai dengan objek yang diteliti.

Dalam penelitian lapangan ini, peneliti menggunakan beberapa metode.

(26)

17

a. Wawancara

Teknik wawancara adalah cara yang digunakan untuk memperoleh

keterangan secara lisan guna mencapai tujuan tertentu.19 Adapun

wawancara yang dilakukan terkait dengan penelitian ini adalah:

1) Peternak telur puyuh.

2) Tengkulak.

b. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang tidak langung

ditujukan pada subjek penelitian, namun melalui dokumen.20 Studi

dokumenter merupakan suatu tehnik pengumpulan data dengan

menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen

tertulis, gambar mmaupun elektronik.21 Metode ini dilakukan untuk

memperoleh dari data di desa Gedangan yang meliputi keadaan

pendidikan, mata pencaharian penduduk dan keadaan sosial masyarakat.

5. Teknik pengolahan data

a. Editing

Editing adalah kegiatan pengeditan akan kebenaran dan

ketetapan data terssebut.22 Adapun teknik editing yang dilakukan oleh

19 Burhan Ashofa, Metode Peneitian Hukum (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 95.

20 Nana Syodih Sukma Dinata, Metode Penelitian Pendidikan. Cet III (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), 221.

(27)

18

peneliti adalah memeriksa kembali data yang diperoleh dari proses jual

beli telur puyuh di Desa Gedangan Sidayu Gresik dari segi kelengkapan

dan kesesuaian antara data yang satu dengan yang lainnya.

b. Organizing

Organizing yaitu mengatur dan menyusun data sumber

dokumentasi sedemikian rupa. Sehingga, dapat memperoleh gambaran

yang sesuai dengan rumusan masalah, serta mengelompokkan data yang

diperoleh.23 Adapun teknik organizing yang dilakukan oleh peneliti adalah

memperoleh bukti dan gambaran secara jelas tentang jual beli telur puyuh

di Desa Gedangan Sidayu Gresik.

c. Analizing

Analizing yaitu menusun kembali data yang telah didapat daam

penelitian yang diperlukan dalam kerangka paparan yang sudah

direncanakan dengan rumusan masalah secara sistematis.24 Peneliti

menganalisis data-data mengenai praktik jual beli telur puyuh di Desa

Gedangan Sidayu Gresik untuk memperoleh hasil kesimpulan yang sesuai

dengan rumusan masalah.

23 Chalid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian(Jakarta: Bumi Aksara, 1997), 153.

(28)

19

6. Teknik analisis data

Analisis data, yaitu proses penyederhanaan data kebentuk yang lebih

mudah dibaca dan interpretasikan.25 Hasil penghimpunan data yang diperoleh

dalam penelitian ini menggunakan teknik-teknik seperti yang telah diuraikan

di atas, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif

kualitatif yaitu mendekskripsikan data-data mengenai praktik jual beli telur

puyuh, kemudian dianalisis dengan pola pikir induktif yang mana berpijak

pada fakta-fakta yang ada di lapangan, yaitu menganalisis menggunakan

teori jual beli hukum Islam. sehingga pada akhirnya didapatkan suatu

kesimpulan.

I. Sistematika Pembahasan

Untuk lebih mempermudah dan mengarah pada tercapaiya pemahaman

pembaca pada penulisan skripsi ini, maka peulisan skripsi ini disusun secara

sistematika agar lebih mempermudah dalam penelitian. Penulisan skripsi ini

tersusun atas lima bab yang masing-masing bab berisi tentang sistematika

sebagai berikut.

Bab pertama yaitu pendahuluan meliputi latar belakang permasalahan,

identifikasi dan batasan masalah, perumusan masalah, kajian pustaka, tujuan

(29)

20

penelitian, kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, metode penelitian

serta sistematika pembahasan.

Bab kedua membahas mengenai kajian pustaka yang menguraikan

tentang teori-teori yang berkaitan dengan praktik jual beli, dalam hal ini

mencakup pembahasan tentang konsep jual beli dalam Islam yang diantaranya

adalah yang di antaranya mengenai pengertian, landasan hukum, rukun dan

syarat, prinsip jual beli, serta larangan jual beli dalam Islam.

Bab ketiga yaitu membahas keadaan umum Desa Gedangan Kecamatan

Sidayu Kabupaten Gresik, yang terdiri dari sejarah desa, kondisi sosial budaya,

kondisi pendidikan, dan kondisi ekonomi, kemudian pembahasan mengenai

yang berkaitan dengan praktik jual beli yakni mengenai subyek, objek dan akad.

Bab keempat merupakan analisis dan intrepretasi data, yakni tinjauan

hukum Islam terhadap jual beli beli telur puyuh di Desa Gedangan Sidayu

Gresik yang bertujuan untuk memberikan penjelasan praktik jual beli telur

puyuh dengan hukum Islam.

Bab kelima yakni penutup terdiri dari kesimpulan dan saran mengenai

(30)

BAB II

JUAL BELI DALAM ISLAM

A. Pengertian Jual Beli

Pada umumnya, orang memerlukan benda yang ada pada orang lain

(pemiliknya) dapat dimiliiki dengan mudah, tetapi pemiliknya kadang-kadang

tidak mau memberikannya. Adanya syariat jual beli menjadi wasilah (jalan)

untuk mendapatkan keinginan tersebut, tanpa berbuat salah.1

Jual beli dalam hukum Islam dikenal dengan istilah al-bay’. Definisi jual

beli dapat dilihat dari dua segi, yaitu:

1. Secara etimologi

a. Kamus bahasa Indonesia

Jual beli dari dua kata yaitu jual dan beli, yang dimaksud jual beli adalah

berdagang, berniaga, menjual, dan membeli barang.2

b. Wahbah Zuhaili

ُ مُ ق

ُ باُ ل

ُ ةُ

ُ ش

ُ يُ ء

ُُ ب

ُ ش

ُ يُ ء

3

Tukar-menukar sesuatu dengan yang lain.

c. Sayyid Sabiq

1Sohari Sahrani, Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), 65.

2

Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka: 1993), 32. 3

(31)

22

ُ اُ لُ بُ ي

ُ عُ

ُ مُ عُ

ُ اُ

ُ لُ غ

ُ ةُ

ُ مُ ط

ُ لُ ق

ُُ لا

ُ مُ ب

ُ داُ ل

ة

4

Pengertian jual beli menurut bahasa adalah tukar-menukar secara mutlak.

2. Secara terminologi

Secara terminologi jual beli dapat didefinisikan sebagai berikut:

a. Hanafiyah

Jual beli adalah tukar menukar sesuatu yang diingini dengan yang

seepadan melalui cara tertentuyang bermanfaat.5

b. Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah

Jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk

pemindahan milik dan pemilikan.6

c. Ibnu Qudamah

Jual beli adalah tukar menukar harta dengan harta yang bertujuan

memberi kepemilikan dan menerim hak milik.7

d. Sayyid Sabiq

Jual beli adalah pertukaran harta dengan harta dengan dilandasi saling

rela, atau pemindahan kepemilikan dengan penukaran dalam bentuk yang

diizinkan.8

4

Sayyid Sa>biq, Fiqih Sunnah, Juz 3 (Beiru>t: Da>r Al-Fikr, 1971), 126. 5

Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 111.

6

Ibid, 112.

7

Wahbah Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adilatuhu, Jilid 5, Terj. Abdul Hayyie Al Kattani (Jakarta: Gema Insani Press, 2011), 25.

8

(32)

23

e. Hasbi Al-Shiddiqie

Jual beli adalah akad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan

harta, maka jadilah penukaran hak milik secara tetap.9

Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian

jual beli adalah suatu kegiatan transaksi antara penjual dengan pembeli atas

dasar suka sama suka dengan cara tukar menukar barang dengan barang atau

barang dengan uang dalam bentuk pemindahan milik.

B. Dasar Hukum Jual Beli

Jual beli disyariatkan berdasarkan al-Qur’an, sunnah, dan ijma’.10 Dilihat

dari aspek hukum, jual beli hukumnya adalah mubah kecuali jual beli yang

diilarang oleh syara’.

1. Al-Qur’an   ُ  ُ  ُ   ُ  ُ

‚Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba‛. (QS. Al-Baqarah: 275).11

 ُ   ُ  ُ  ُ  ُ   ُ  ُ   ُ  ُ ُ

‚Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan)

dari Tuhanmu.‛ (QS. Al-Baqarah: 198).12

9Hasbi Ash-Shiddiqie, Pengantar Fiqh Muamalah (Semarang: Pustaka Rizqi Putra, 2001), 94.

10 Rachmat Syafe’i,

Fiqih Muamalah Untuk UIN, STAIM, PTANIS, dan Umum (Bandung: Pustaka

Setia, 2006), 74.

11 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemaahannya (Bandung: Diponegoro, 2010), 47.

(33)

24  ُ   ُ  ُ  ُ  ُ   ُ   ُ   ُ  ُ   ُ  ُ  ُ   ُ  ُ   ُ ُ

‚Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu

menuliskannya‛. (QS. Al-Baqarah: 282).13

 ُ   ُ  ُ   ُ  ُ  ُ  ُ   ُ   ُ  ُ   ُ   ُ  ُ  ُ   ُ  

‚Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu‛. (QS. Al- Nisa>: 29).14

2. Sunnah

ُ ن ع

ُ

ُ ة عا ف ر

ُ

ُ ن ب

ُ

ُ ع فا ر

ُ

ُ ن أ

ُ

ُ ب لا

ُ

ى ل ص

ُ

ُ للا

ُ

ُ ي ل ع

ُ

ُ م ل س و

ُ

ُ ل ئ س

ُ

ُ ي أ

ُ

ُ ب س ك لا

ُ

؟ ب ي ط أ

ُ

ُ لا ق

ُ

ُ:

ُ ل م ع

ُ

ُ ل ج رلا

ُ

ُ د ي ب

ُ

ُ ل ك و

ُ

ُ ع ي ب

ُ

ُ ر و ر ب م

ُ

‚Dari Rifa’ah ibn Rafi bahwa Nabi SAW ditanya usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab usaha seseorng dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur‛.15

ُ ن ع

ُ

ُ ب أ

ُ

ُ د ي ع س

ُ

ُ ن ع

ُ

ُي ب لا

ُ

ى ل ص

ُ

ُ للا

ُ

ُ ي ل ع

ُ

ُ م ل س و

ُ

ُ لا ق

ُ:

ُ ق و د صلا ر جا تل ا

ُ

ُ ي م ْا

ُ

ُ ع م

ُ

ُ ي ي ب لا

ُ

ُ ي قيديصلا و

ُ

ُ ءآد ه شلا و

.

‚Dari Abi Said dari Nabi saw, beliau bersabda: pedagang yang jujur (benar) dan dapat dipercaya nanti bersama-sama dengan Nabi, shiddiqin, syuhada‛.16

13 Ibid, 48. 14 Ibid, 83.

(34)

25

3. Ijma’

Ijma’ ulama mengatakan bahwa jual beli itu hukumnya boleh dan

terdapat hikmah di dalamnya karena asal manusia adalah makhluk sosial

yang tidak bisa hidup tanpa adanya kerja sama dengan yang lain. Oleh karena

itu, dengan diperbolehkannya jual beli maka dapat membantu terpenuhinya

kebutuhan setiap orang dann membayar atas kebutuhan itu.17

C. Rukun dan Syarat Jual Beli

Sebagai suatu akad, jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus

dipenuhi sehingga jual beli itu dapat dikatakan sah oleh syara’. Dalam

menentukan rukun jual beli ini terdapat perbedaan pendapat ulama madzab

Hanafi dengan jumhur ulama.

Rukun jual beli menurut ulama Hanafiyah hanya satu yaitu ijab dan

kabul. Menurut mereka yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan

kedua belah pihak untuk melakukan transaksi jual beli. Akan tetapi, karena unsur

kerelaan itu merupakan unsur hati yang sulit untuk diindera sehingga tidak

kelihatan, maka diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan kedua belak

16 At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi Juz 3. Nomor hadits 1209, CD Room. Maktabah Kutub al-Mutun,

Silsilah al-,Ilm an-Nafi’, Seri 4, al-Isdhar al-Awwal, 1426 H, 515. 17

(35)

26

pihak yang melakukan transaksi jual, menurut mereka, boleh tergambar dalam

ijab dan kabul atau melalui cara saling memberikan barang dan harga barang.18

Akan tetapi, jumhur ulama menyatakan bahwa rukun jual beli itu ada

empat yaitu:19

1. Ada orang yang berakad (a>qidayn).

2. Ada shighat (s}i>ghat).

3. Ada barang yang dibeli (ma’qu>d ‘alai>h).

4. Ada nilai tukar pengganti barang.

Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang

dikemukakan jumhur ulama di atas adaalah sebagai berikut:

1. Syarat orang yang berakad (a>qidayn)

Para ulama fiqih sepakat menyatakan bahwa orang yang melakukan

akad jual beli itu harus memenuhi syarat:20

a. Berakal. Jumhur ulama berpendirian bahwa orang yang melakukan akad

jual beli itu harus telah baligh dan berakal. Apabila orang yang berakad

itu masih mumayiz, maka jual belinya tidak sah, seklipun mendapat izin

dari walinya.

18

Nasrun Harun, Fiqh Muamalah..., 115.

19

Ibid.

20

(36)

27

b. Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Artinya, seseorang

tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual,

sekaligus pembeli.

2. Syarat yang tekait dengan ijab kabul (s}i>ghat).

Akad adalah suatu perikatan antara ijab dan kabul dengan cara yang

dibenarkan syara’ yang menetapkan adanya akibat-akibat hukum pada

objeknya. Ijab adalah pernyataan pihak pertama mengenai isi perikatan yang

diinginkan, sedangkan kabul adalah pernyataan pihak kedua untuk

menerimanya. Ijab kabul diadakan dengan maksud untuk menunjukkan

adanya sukarela timbal-balik terhadap perikatan yang dilakukan oleh dua

pihak yang bersangkutan.21

Apabila ijab dan kabul telah diucapkan dalam akad jual beli, maka

pemilikan barang atau uang telah berpindah tangan dari pemilik semula.

Barang yang dibeli berpindahtangan menjadi milik pembeli, dan nilai

tukar/uang berpindahtangan menjadi milik penjual.22

Untuk itu, para ulama fiqh mengemukakan bahwa syarat ijab dan kabul

itu adalah sebagai berikut:23

a. Orang yang mengucapkannya telah baligh dan berakal, menurut jumhur

ulama, atau telah berakal menurut ulama Hanafiyah.

21

Ahmad Azhar Basyir, Asas-Asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam) (Yogyakarta: UII Press, 2000), 65-66.

22

Nasrun Harun, Fiqh Muamalah..., 116.

23

(37)

28

b. kabul sesuai dengan ijab. Apabila antara ijab dengan kabul idak sesuai,

maka jual beli tidak sah.

c. Ijab dan kabul itu dilakukan dalam satu majelis. Artinya, kedua belah

pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama.

Dalam kaitan ini ulama Hanafiyah dan Malikiyah mengatakan bahwa

antara ijab dan kabul boleh saja diantarai oleh waktu, yang diperkirakan

bahwa pihak pembeli sempat utuk berfikir. Namun, ulama Syafi’iyah dan

Hanabilah berpendapat bahwa jarak antara ijab dan kabul tidak terlalu

lama, yang dapat menimbulkan dugaan bahwa obyek pembicaraan telah

berubah.

Penyampaian akad jual beli melalui utusan, putusan, tulisan, surat

menyurat sama halnya dengan ijab kabul dengan ucapan, misalnya via pos

dan giro. Jual beli ini dilakukan antara penjual dan pembeli tidak

berhadapan dalam satu majlis akad, tetapi melalui pos dan giro, jual beli ini

dibolehkan dalam syara’. Dalam pemahaman sebaian ulama’, bentuk jual

beli ini hampir sama dengan jual beli salam (pesanan), hanya saja dalam jual

beli salam antara penjual dan pembeli saling berhadapan dalam majlis akad,

sedangkan dalam jual beli via pos dan giro antara penjual dan pembeli tidak

berada dalam satu majlis akad.24

24

(38)

29

Di zaman sekarang perwujudan ijab dan kabul tidak lagi diucapkan,

tetapi dilakukan dengan tindakan pembeli mengambil barang dan membayar

uang, serta tindakan penjual menerima uang dan menyerahkan barang tanpa

ucapan apapun. Misalnya, jual beli di pasar swlayan. Dalam fikih islam, jual

beli seperti ini disebut dengan bay’ al-mu’a>ta>h.25

3. Syarat barang yang diperjulbelikan (ma’qu>d ‘alai>h).

Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang dierjulblelikan adalah:

a. Barang itu ada, atau tidak ada ditempat, tetapi pihak penjual

menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang itu. Misalnya

disebuah toko, karena tidak mungkin memajang barang itu. Misalnya, di

sebuah toko, maka sebagaiannya diletakkan pedagang di gudang atau

masih di pabrik, tetapi secara meyakinkan barang itu boeh dihadirkan

sesuai dengan persetujuan pembeli dengan penjual.

b. Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia. Bangkai, khamar dan

darah, tidak sah menjadi obyek jual beli, karena dalam pandangan syara’

tidak bermanfaat bagi muslim.

c. Milik seseorang. Barang yang sifatnya belum dimiliki seseorang tidak

boleh diperjualbelikan, seperti memperjualbeikan ikan dilaut atau emas

dalam tanah.

25

(39)

30

d. Boleh diserahkan saat akad berangsung, atau pada waktu yang

disepakati bersama ketika transaksi berlangsung.26

e. Barangnya itu harus suci, jual beli anjing meskipun terlatih hukumnya

tidak sah. Begitu juga jual beli minuman keras, berasarkan hadis

al-Bukhari dan Muslim, ‚Rasulullah melarang hadis jual beli ajing‛.

‚Beliau bersabda, Allah mengharamkan jual beli minuman keras,

bangkai dan babi.‛27

4. Syarat nilai tukar

Termasuk unsur terpenting dalam jual beli adalah nila tukar dari barang

yang dijual (untuk zaman sekarang adalah uang). Terkait dengan masalah

nilai tukar ini, para ulama fiqh membedakan ats-thaman dengan as-si’ir.

Meurut mereka ats-thaman adalah harga pasar yang berlaku di

tengah-tengah masyarakat secara aktual, sedangkan as-si’ir adalah modal yang

seharusnya diterima para pedagang sebelum dijual ke konsumen. Dengan

demikian, harga barang itu ada dua, yaitu harga pedagang dan harga antara

pedagang dengan konsumen (harga jual di pasar).

Oleh sebab itu, harga yang dapat dipermainkan pedagang adalah

ats-thaman. Para ulama fiqh mengemukakan syarat-syarat ats-thaman sebagai

berikut:

a. Harga yang disepakati kedua belah pihak, harus jelas jumlahnya.

26

Muhammad Yazid, Hukum Ekonomi Islam..., 24.

27

(40)

31

b. Boleh diserahkan saat waktu akad, sekalipun secara hukum, seperti

pembayaran dengan cek atau kartu kredit. Apabila harga barang itu

dibayar kemudian, maka waktu pembayaraannya harus jelas.

c. Apabila jual beli ini dilakukan dengan saling mempertukarkan barang,

maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan

syara’, seperti babi dan khamar, karena kedua jenis benda ini tidak

berniai dengan syara’.28

Di samping syarat-syarat yang berkaitan dengan rukun jual beli di atas,

para ulama fiqh mengemukakan beberapa syarat lain, yaitu:

1. Syarat sah jual beli

Syarat sah ini terbagi kepada dua bagian, yaitu syarat umum dan

syarat khusus. Syarat umum adalah syarat yang harus ada pada setiap jenis

jual beli agar jual beli tersebut dianggap sah menurut syara', secara global

jual beli harus terhindar dari enam macam ‘aib:

a. Ketidakjelasan (jaha>lah)

Yang dimaksud di sini adalah ketidakjelasan yang serius yang

mendatangkan perselisihan yang sulit untuk diselesaikan. Ketidakjelasan

ini ada empat, yaitu:29

1) Ketidakjelasan dalam barang yang dijual, baik jenisnya, macamnya,

atau kadarnya menurut kadarnya menurut pandangan pembeli.

28

Nasrun Harun, Fiqh Muamalah..., 118-11 `9.

(41)

32

2) Ketidakjelasan harga.

3) Ketidakjelasan masa (tempo), seperti dalam harga yang diansur, atau

dalam khiyar syarat. Dalam hal ini waktu harus jelas, apabila tidak

jelas maka akad menjadi batal.

4) Ketidakjelasan dalam langkah-langkah penjaminan. Misalnya penjual

mensyaratkan diajukannya seorang kafil (penjamin). Dalam hal ini

penjamin tersebut harus jelas. Apabila tidak jelas maka akad jual beli

menjadi batal.

b. Pemaksaan (al-ikrah)

Yakni jika seseorang dipaksa untuk melakukan jual beli, maka

jual beli tidak sah. Hanya saja jika ada kerelaan setelah terjadinya

paksaan, maka jual beli tersebut sah. Jual beli kategori ini tidak mengikat

penjual dan pembeli sehingga keduanya memiliki kebebasan memilih

untuk menuruskan jual beli atau membatalkannya setelah paksaan

terjadi.30

c. Pembatasan dengan waktu (al-tauqi>t)

Yaitu jual beli edengan dibatasi waktunya. Seperti: ‚saya jual

baju ini kepadamu untuk selama satu bulan atau satu tahun‛. Jual beli

semacam ini hukumnya fasid, karena kepemilikan atas suatu barang,

tidak dibatasi waktunya.

(42)

33

d. Penipuan (ghara>r)

Orang muslim tidak boleh menjual sesuatu yang di dalamnya

terdapat ghara>r (ketidakpastian). Jadi ia tidak boleh mejualkan air, atau

menjual bulu di puggung kambing yang masih hidup, atau anak hewan

yang masih berada di perut indunya, atau susu di ambing hewan, atau

buah-buahan belum masak, atau biji-bijian yang belum mengeras, atau

barang tanpa melihat, membalikkan atau memeriksanya jika barang

tersebut tidak ada di tempat jual beli, atau menjual barang tanpa

penjelasan sifatnya, jenisnya atau beratnya jika barang tersebut tidak ada

di tempat.31

e. Kemudharatan (al-d}ara>r)

Kemudaratan ini terjadi apabila penyerahan barang yang dijual

tidak mungkin dilakukan kecuali dengan memasukkan kemudharatan

kepada penjual, dalam barang selain objek akad. Seperti seseorang

menjual baju (kain) satu meter, yang tidak bisa dibagi dua. Dalam

pelaksanannya terpaksa baju (kain) tersebut dipotong, walaupun hal itu

merugikan penjual.

Dikarenakan kerusakan ini untuk menjaga hak perorangan,

bukan hak syara’ maka para fuqaha menetapkan, apabila penjual

melakasanakan kemudaratan atas dirinya, dengan cara memtong baju

(43)

34

(kain) dan menyerahkannya kepada pembeli maka akad berubah menjadi

shahih.32

f. Syarat-syarat yang merusak

Yaitu setiap syarat yang ada manfaatnya bagi salah satu pihak

yang bertransaksi, tetapi syarat tersebut tidak ada dalam syara’ dan adat

kebiasaan, atau tidak dikehendaki oleh akad, atau tidak selaras dengan

tujuan akad. Seperti seeorang menjul mobil dengan syarat ia (penjual)

akan menggunakannya selama satu bulan setelah terjadinya akad jual

beli, atau seeorang menjual rumah dengan syarat ia (penjual) boleh

tinggal di rumah itu selama masa tertentu setelah terjadinya akad jual

beli.

Syarat yang fasid apabila tedapat dalam akad mu’awwadhah

maliyah seperti jual beli atau ijarah, akan menyebabkana akadnya fasid,

tetapi tidak dalam akad-akad yang lain, seperti akad tabarru’ (hibah dan

wasiat) dan akad nikah. Dalam akad-akad ini syarat yang fasid tersebut

tidak berpengaruh sehingga akadnya tetap sah.

Adapun syarat-syarat khusus yang berlaku untuk beberapa jenis jual

beli adalah sebagai berikut:33

a. Barang harus dierima. Dalam jual beli benda bergerak, untuk

keabsahannya disyaratkan barang harus diterma dari penjual yang

32 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalah ..., 192. 33

(44)

35

pertama, karena sering terjadi barang bergerak sebelum diterima sudah

rusak terlebih dahulu, sehingga oleh karenanya dalam penjualan yang

kedua terjadi ghara>r sebelum barang diterima. Untuk benda-benda tetap

menurut Abu Hanaiyah dan Abu Yusuf boleh dijual sebelum barang

diterima.

b. Mengetahui harga pertama apabila jual belinya berbentuk muraba>h}ah,

tauliya>h, wad}i>’ah, atau isyra>k.

c. Saling menerima penukaran, sebelum berpisah, apabila jual belinya juaal

beli sharf.

d. Dipenuhinya syarat-syarat sala>m, apabila jual belinya jual beli sala>m

(pesanan).

e. Harus sama dalam penukaran, apabila barangnya barang ribawi.

f. Harus diterima dalam utang-piutang yang ada dalam perjanjian, seperti

muslam fi>h dan modal sala>m, dan menjual sesuatu dengan utang kepada

selain penjual.

2. Syarat yang terkait dengan pelaksanaan jual beli

Jual beli boleh dilakukan apabila yang berakad mempunyai kekuasaan

untuk melakukan jual beli. Akad jual beli tidak boleh dilaksanakan apabila

orang yang melakukan akad tidak memiliki kekuasaan untuk melaksanakan

akad. Misalnya, seseorang bertindak mewakili orang lain dalam jual beli.

(45)

36

yang diwakilinya. Apabila orang yang diwakilinya setuju, maka barulah jual

beli itu dianggap sah. Jual beli seperti ini, dalm fiqh Islam, disebut ba’i

al-fud}uli.34

Dalam masalah jual beli al-fud}uli terdapat perbedaan pendapat ulama

fiqh. Ulama Hanafiyah membedakan antara wakil dalam menjual barang

dengan wakil dalam membeli barang. Menurut mereka, apabia wakil itu

ditunjuk untuk membeli barang, maka tidak perlu mendapatkam justifikasi

dari orang yang diwakilinya. Akan tetapi, apabila wakil itu ditunjuk untuk

membeli barang, maka jual beli itu dianggap sah apabila telah disetujui oleh

orang yang diwakiinya. Ulama Malikyah menyatakan bahwa ba’i al-fud}uli

adalah sah, baik dalam menjual maupun membeli dengan syarat diizinkan

oleh orang yang diwakilinya. Sedangkan menurut ulama Hanabilah, ba’i

al-fud}uli, tidak sah, baik wakil itu ditunjuk hanya untuk membeli suatu barang

maupun ditunjuk untuk menjual suatu barang, maka jual beli itu dianggap sah

apabila mendapat izin dari orang yang diwakiliya. Demikian juga menurut

Syafi’iyah dan Zahiriyah, ba’i al-fud}uli, tidak sah, sekalipun diizinkan oleh

orang yang mewakilkan itu.

3. Syarat yang terkait dengan kekuatan hukum akad jual beli

Para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa suatu jual beli baru

bersifat mengikat apabila jual beli itu terbebas dari segala macam khiyar.

34

(46)

37

Apabila jual beli itu masih mempunyai hak khiyar, maka jual beli itu belum

mengikat dan masih boleh dibatalkan.

Apabila semua syarat jual beli di atas terpenuhi, barulah secara hukum

transaksi jual beli itu dianggap sah dan mengikat, dan karenanya, pihak penjual

dan pembeli tdak boleh lagi membatalkan jual beli itu.

D. Prinsip Jual Beli Dalam Islam

Prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam jual beli, antara

lain:

1. Prinsip keadilan

Manusia dalam melakukan transaksi dalam bidang bisnis harus

membeikan haknya sesuai dengan hak masing-masing atau berlaku secara

adil dan berlandasan pada syariah Islam. Dalam hal ini, pihak yang

melakukan perikatan dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan

kehendak dan keadaan, memenuhi perjanjian yang telah mereka buat, dan

memenuhi semua kewajibannya.35 Dalam surat al-H}adid ayat 25 disebutkan

Allah berfirman.

(47)

38

 ُ  ُ  ُ  ُ  ُ   ُ  ُ   ُ   ُ  ُ  ُ  ُ  ُ  ُ   ُ  ُ  ُ  ُ  ُ   ُ  ُ  ُ  ُ  ُ  ُ  ُ   ُ  ُ   ُ  ُُُ ُ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa”.36

2. Prinsip jujur

Jual beli merupakan perbuatan yang mulia dan pelakunya mendapatkan

keridhaan dari Allah swt. Bahkan Rasulullah saw. Menegaskan bahwa

penjual yang jujur dan benar kelak di akhiat akan ditempatkan bersama para

Nabi, syuhada, dan orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan tingginya derajat

penjual yang jujur dan benar.37

3. Prinsip saling tolong menolong

Jual beli merupakan bagian dari ta’awun (tolong menolong). Bagi

pembeli menolong penjual yang membutuhkan uang (keuntungan),

sedangkan bagi penjual juga berarti menolong bagi pembeli yang sedang

36Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terj...,

(48)

39

membutuhkan barang.38 Islam memerintahkan kepada manusia untuk saling

tolong menolong dalam segala hal, sebagaimana firman Allah dalam QS.

Al-Ma>’idah ayat 2.

 ُ   ُ  ُ  ُ   ُ   ُ  ُ  ُ  ُ  ُ   ُ  ُ  ُ  ُُ ُ

‚Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya‛.39

4. Prinsip suka sama suka

Dalam melakukan perjanjian jual beli harus dilakukan dengan cara

saling suka sama suka atas dasar kerelaan antara kedua belah pihak, sehingga

tidak ada yang merasa terpaksa.40 Hal ini di sebutkan dalam surat An-Nisa>’

ayat 29.  ُ   ُ  ُ   ُ  ُ  ُ  ُ   ُ   ُ  ُ   ُ   ُ  ُ  ُ   ُ  ُ   ُ  ُ   ُ  ُ   ُ  ُ   ُ   ُ  ُُُ ُ

‚Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu‛.41

Ayat di atas menunjukkan bahwasanya dalam melakukan suatu

perdagangan hendaklah atas dasar suka sama suka atau sukarela. Tidak

38Ibid.

39Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terj..., 106.

40

Ismail Nawwawi, Fikih Muamalah Klasiki..., 16.

(49)

40

dibenarkan bahwa suatu perbuatan muamalah, perdagangan misalnya,

dilakukan dengan pemaksaan atau penipuan. Jika hal ini terjadi, dapat

membatalkan perbuatan tersebut. Unsur sukarela ini menunjukkan keikhlasan

dan itikad baik dari para pihak.

E. Jual Beli yang Dilarang Dalam Islam

Jual beli yang dilarang dan diharamkan ada 4, yaitu:

1. Jual beli yang dilarang dengan sebab yang berakad (a>qidayn).

a) Jual beli orang gila dan sedang mabuk.

b) Jual beli anak kecil baik yang sudah tamyîz maupun tidak, sampai balîgh.

c) Jual beli terpaksa.

Menurut ulama Hanafiyah, hukum jual beli orang terpaksa seperi jual eli

fudhul (jual beli tanpa seizin pemiliknya) yakni ditangguhkan. Oleh

karena itu, keabsahannya ditangguhkan sampai rela. Menurut ulama

Malikiyah, tidk lazim barangnya ada khiya>r. Adapun menurut ulama

Syafi’iyah dan Hanabilah, jual beli tersebut tidak sah sebab tiak ada

keridhaan ketika akad.42

d) Jual beli yang di-tahji>r (orang yang ditahan hartanya).

(50)

41

e) Jual beli malja’, yaitu jual beli orang yang sedang dalam bahaya, yakni

untuk mengidar dari perbuatan zalim. Jual beli tersebut fasid, menurut

ulama Hanafiyah dan batal menurut ulama Hanabilah.43

2. Jual beli yang terlarang dengan sebab sighat akad/kontrak.

a) Tidak ada kesepakatan ijab dan kabul.

b) Jual beli dengan korespondensi atau utusan. Jual beli ini sah selama masih

berada dalam majlis. Jika telah berpisah dari majelis maka tidak sah

akadnya.

c) Jual beli dengan orang yang tidak ada pada majlis akadnya.

d) Jual beli yang belum selesai.

e) Jual beli munjiz, yaitu jual beli yang dikaitkan dengan suatu syarat atau

ditangguhkan pada waktu akan datang. Jual beli ini dipandang fasid

menurut uulama Hanafiyah dan batal menurut jumhur ulama.44

3. Jual beli yang terlarang dengan sebab ma’qūd ‘alaih.

a) Yang dilarang dengan sebab ghara>r (penipuan) dan jaha>lah (ketidak

tahuan).

1) Jual beli mula>masah, yaitu jual beli yang berlaku antara dua pihak,

yang satu diantaraya menyentuh pakaian pihak ain yang diperjual

(51)

42

belikan waktu malam atau siang, dengan ketentuan mana yan

tersentuh, itulah yang dijual.45

2) Jual beli muna>badzah, yaitu jual beli secara lempar melempaar, seperti

seseorang berkata, ‚lemparkan kepadamu apa yang ada padamu, nanti

kulemparkan pula kepadamu apa yang ada padaku‛. Setelah terjadi

lempar melempar, terjadilah jual beli ini. Hal ini dilarang karena

mengandung tipuan dan tidak ada ijab dan kabul.46

3) Jual beli al-Husha>h, yaitu jual beli sesuatu barang yang terkena oleh

lemparan batu yang disediakan dengan harga tertentu.47

4) Jual beli Habl al-Haba>lah, yaitu menjual janin yang ada di perut unta

yang sedang hamil. Atau menjual suatu barang dengan tidak tunai

dengan jangka waktu hingga janin dari yang ada di perut unta yang

hamil itu lahir.48

5) Jual beli al-Madha>min (yang dikandung), yaitu transaksi jual beli yang

objeknya adalah hewan yang masih berada dalam perut induknya.

Meskipun tampak wujudya, namun tidak dapat diserahkan di waktu

akad dan belum pasti pula apakah dia lahir dalam keadaan hidup atau

mati.49

45 Amir Syarofudin, Garis-Garis Besar Fiqh (Jakarta: Kncana, 2003), 205. 46 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah..., 79.

47Amir Syarofudin, Garis-Garis Besar..., 202.

(52)

43

6) Jual beli al-Mula>qih, yaitu jual beli yang barang yang menjadi

objeknya hewan yang masih berada dalam bibit jantan sebelum

bersetubuh dengan yang betina.50

7) Jual beli ‘Asb al-Fahl, yaitu memperjual belikan bibit pejantan hewan

betina untuk mendapatkan anak. Kadang-kadang disebut juga sewa

pejantan.51

8) Jual beli buah-buahan yang belum matang/belum layak dipanen.

9) Jual beli yang Majhu>l (yang tidak diketahui), yaitu benda atau

barangnya secara global tidak diketahui, dengan syarat

ke-majhul-annya itu bersifat menyeluruh.52

10)Jual beli tsunayya>, yaitu transaksi jua beli dengan harga tertentu,

sedangkan barang yang jadi objek dalam jual beli adalah sejumlah

barang dengan pengecualian yang tidak jelas.53

11)Jual beli yang tidak ada pada penjual.

b) Yang dilarang sebab riba.

1) Jual beli ‘Ina>h, yaitu menjual suatu barang kepada orang lain dengan

kredit, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli dengan harga yang

murah.54

50 Ibid, 201. 51 Ibid, 204. 52

Muhammad Yazid, Hukum Ekonomi Islam..., 31.

(53)

44

2) Jual beli muza>banah, yaitu menjual buah yang basah dengan buah yang

kering,, seperti menjual padi kering dengn bayaran padi basah,

sedngkan ukurannya dengan dikilosehingga akan merugian pemilik

padi kering.55

3) Jual beli Muha>qalah, yaitu menjual tanam-tanaman yang masih di

ladang atau sawah. Hal ini dilarang agama sebab ada prasangka riba di

dalamnya.56

4) Jual beli daging dengan hewan, hutang dengan hutang, dua jual beli

dalam satu pembelian.

c) Yang dilarang sebab merugikan dan pemipuan.

1) Jual beli najasyi, yaitu seseorang menambah atau melebihi harga

temannya dengan maksud memancing-mancing orang agar orang itu

mau membeli barang bawaannya.57

2) Jual beli seseorang atas jual beli saudaranya, jual beli dengan cara

shafqah (borongan), jual beli ihtika>r (menimbun).

3) Jual beli talaqqi> al-jalab atau rukba>n atau al-sil’a>. Yaitu Yakni

mencegat pedagang dalam perjalanannya menuju temat yang dituju

(pasar) sehingga orang yang mecegatnya akan mendapatkan

keuntungan. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hal itu makruh

55 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah..., 80. 56 Ibid, 79.

(54)

45

tahrim. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat, pembeli boleh

khiyar. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa jual beli seperti ini

fasi>d.58

4) Jual beli al-ha>dhir li ba>d. Yaitu calo keluar menemui pembawa barang

dan berkata kepadanya simpanlah ini padaku suapaya aku bisa

menjualnya secara bertahap dengan harga yang lebih tinggi.

5) Jual beli kelebihan air, jual beli penipuan, memperdaya dan bohong.

6) Jual beli dengan berbohong dan menyembunyikan hakikat barang.

7) Jual beli dengan pemaksaan.

d) Yang dilarang dengan sebab zatnya haram

1) Jual beli khamr, babi, dan berhala.

2) Jual beli darah, kucing, dan anjing.

e) Yang dilarang dengan sebab lainnya.

4. Jual beli yang dilarang dengan sebab sifat atau syarat atau ada larangan

syara’.

Yakni jual beli ‘arbun, jual beli ‘ina>h, jual beli riba, jual beli orang kampung

dari orang pedalaman, jual beli dengan alat tukar yang haram, jual beli

menemui orang yang membawa dagangan, jual beli najasy, jual beli ketika

azan shalat jumat, jual beli anggur dengan pembuat khamar.

58

(55)

BAB III

PRAKTIK JUAL BELI TELUR PUYUH DI DESA GEDANGAN SIDAYU

GRESIK

A. Gambaran Singkat Desa Gedangan Sidayu Gresik

1. Sejarah desa Gedangan

Dahulu kala, ada seorang putri yang sangat cantik, namanya Putri

Kabonan. Singkat cerita, sang Putri tersebut akan dipersunting oleh seorang

Raja, yang bernama Joko Slining. Tetapi, sang Putri meminta syarat-syarat

tertentu kepada raja tersebut. Menurut cerita, Sang Putri sebetulnya tidak

berkenan dipersunting oleh raja. Sehingga sebelum semua persyaratan itu

terpenuhi, sang putri melarikan diri. Sang raja menyadari bahwa persyaratan

semua itu hanya untuk menghalanginya mempe

Referensi

Dokumen terkait

Yang menjadi permasalahan dalam penulisan Skripsi ini yaitu dalam penetapan harga sepihak yang dilakukan oleh tengkulak sehingga menimbulkan unsur keterpaksaan pada

Praktik jual beli minyak labi-labi dalam tinjauan hukum Islam di Desa Punggul Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo, yaitu minyak dari hewan labi-labi, yang

Sedangkan dalam jual beli telur tanpa cangkang yang dilakukan di pasar Tempel Kecamatan Sukarame orang yang membeli ataupun menjual telur tersebut sudah dewasa dalam

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik zakat ikan bandeng yang dilakukan oleh pemilik tambak di Desa Randuboto Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik tidak memenuhi syarat

Lafal ijab qabul antara penjual dan tengkulak dalam jual beli padi di Desa Ketuwan Kecamatan Kedungtuban Blora dinyatakan secara lisan dengan menggunakan

Menurut hukum Islam, barang yang diperjualbelikan harus mempunyai manfaat menurut syara’. Pelaksanaan jual beli barter antara UD. Azizah dengan peternak ayam telur adalah

Didalam praktik jual beli sayuran rusak, cacat dan busuk di Pasar Soponyono Surabaya bahwasanya pedagang berbuat curang terhadap para pembeli dengan menawarkan dengan harga

Hasil wawancara dengan pihak tengkulak beras yang membeli beras ditempat penggilingan, tengkulak beras miskin, pembeli beras ditempat penggilingan, penjual beras di