• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambaran Umum Lokasi Penelitian"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Keadaan Geografis dan Sosial Budaya

Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak di tengah Provinsi Jawa Barat, dengan jarak sekitar 65 Km dari Ibu Kota Provinsi Jawa Barat (Bandung) dan 120 Km dari Ibu Kota Negara (Jakarta), terletak di antara 6 derajat 21 detik Lintang Selatan – 7 derajat 25 detik Lintang Selatan dan 106 derajat 42 detik Bujur Timur – 107 derajat 25 detik Bujur Timur. Kabupaten Cianjur yang luasnya 350.147 hektar dengan luas tanah sawah 58.585 hektar dan luas lahan darat 291.562 hektar dengan batas-batasnya adalah sebagai berikut :

Sebelah utara : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.

Sebelah barat : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi Sebelah selatan : Berbatasan dengan Samudra Indonesia.

Sebelah timur : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Keadaan alam daerah Kabupaten Cianjur terletak di kaki Gunung Gede dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut dan terendah 7 meter di atas permukaan laut. Secara geografis wilayah ini terbagi dalam 3 bagian yaitu : 1. Cianjur Bagian Utara : merupakan dataran tinggi tereletak di kaki Gunung

Gede, sebagian besar merupakan daerah dataran tinggi pegunungan dan sebagian lagi merupakan dataran yang dipergunakan untuk areal perkebunan dan persawahan.

2. Cianjur Bagian Tengah : merupakan daerah yang berbukit-bukit kecil dikelilingi dengan keadaan struktur tanahnya labil sehingga sering terjadi tanah longsor dan daerah ini pun merupakan daerah gempa bumi, dataran lainnya terdiri dari areal perkebunan dan daerah persawahan.

3. Cianjur Bagian Selatan : merupakan dataran rendah akan tetapi terdapat banyak bukit-bukit kecil yang diselingi oleh pegunungan yang melebar sampai ke daerah pantai Samudera Indonesia, seperti halnya daerah Cianjur Bagian Tengah bagian selatan pun tanahnya labil dan sering terjadi longsor dan daerah gempa.

(2)

Kabupaten Cianjur terdiri atas 30 kecamatan, 342 Desa dan 6 Kelurahan (data pada saat Pilkada pada bulan Januari 2006), 2.483 RW dan 9473 RT, yang terbagi dalam 3 (tiga) wilayah pembangunan, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Banyaknya Desa/Kelurahan, RW dan RT setiap kecamatan berdasarkan Wilayah Pembangunan tahun 2004

Wilayah Kecamatan Desa/Kelurahan RW RT

Selatan 01. Agrabinta 10 47 193 02. Leles 11 39 143 03. Sindangbarang 9 43 196 04. Cidaun 13 69 347 05. Naringgul 10 100 342 06. Cibinong 13 72 273 07. Cikadu 9 55 215 Tengah 08. Tanggeung 16 76 267 19. Kadupandak 13 65 229 10. Cijati 9 45 137 11. Pagelaran 17 67 266 12. Sukanagara 10 60 261 13. Takokak 9 109 355 14. Campaka 11 89 355 15. Campakamulya 5 23 113 Utara 16. Cibeber 18 164 566 17. Warungkondang 11 82 299 18. Gekbrong 8 67 217 19. Cilaku 10 91 363 20. Sukaluyu 10 70 280 21. Bojongpicung 16 115 480 22. Ciranjang 12 125 416 23. Mande 12 60 273 24. Karangtengah 16 118 521 25. Cianjur 11 173 536 26. Cugenang 16 106 397 27. Pacet 7 79 289 28. Cipanas 7 81 317 29. Sukaresmi 11 90 345 30. Cikalongkulon 18 103 413 Jumlah 348 2.483 9.473

Sumber : BPS Kabupaten Cianjur, 2005.

Penduduk Kabupaten Cianjur tahun 2004 menurut hasil Susenas (Sensus Penduduk Nasional) adalah 2.058.134 jiwa yang terdiri dari 1.048.005 jiwa laki-laki dan 1.010.129 jiwa perempuan dengan sex ratio 103,75. (BPS Kabupaten

(3)

Cianjur, 2005). Kepadatan rata-rata penduduk Kabupaten Cianjur tahun 2004 adalah 587 jiwa per km persegi dan kepadatan terbesar ada di Kecamatan Cianjur, yaitu 6.276 jiwa per km persegi dan kepadatan terendah ada di Kecamatan Naringgul, yaitu 181 jiwa per km persegi.

Tabel 5. Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur menurut kelompok umur dan jenis kelamin tahun 2004.

Kelompok Umur Laki-lakiJenis Kelamin Perempuan Jumlah

00 – 04 97.330 98.487 195.817 05 – 09 125.623 139.354 264.977 10 – 14 136.129 125.703 261.832 15 – 19 105.005 80.460 185.465 20 – 24 77.992 71.745 149.737 25 – 29 67.492 76.521 144.013 30 – 34 78.749 92.400 171.149 35 – 39 77.075 80.497 157.572 40 – 44 81.894 66.729 148.623 45 – 49 56.580 52.327 108.907 50 - 54 50.776 45.883 96.659 55 – 59 21.012 23.437 44.449 60 - 64 29.130 20.932 50.062 65 – 69 11.700 16.076 27.776 70 – 74 19.301 13.171 32.472 75 + 12.217 6.407 18.624 Jumlah 1.048.005 1.010.129 2.058.134

Sumber : BPS Kabupaten Cianjur, 2005.

Sedangkan apabila dilihat dari sebaran penduduk berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan untuk penduduk yang berusia 10 tahun ke atas dapat dilihat pada Tabel 6 berikut :

Tabel 6. Jumlah penduduk 10 tahun ke atas menurut status pendidikan dan jenis kelamin tahun 2004.

Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan

Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki Perempuan

1. Tidk/Belum pernah sekolah 12.457 26.902 39.359

2. Tdk/Belum tamat SD 214.767 224.233 439.000 3. SD/MI 445.167 419.502 864.669 4. SLTP/MTs. 85.064 68.988 154.052 5. SLTA/SMK/Aliyah 62.901 29.241 92.142 6. D1 s.d S1 4.696 3.422 8.118 Jumlah 825.052 772.288 1.597.340

(4)

Selanjutnya apabila penduduk Kabupaten Cianjur dikelompokkan berdasarkan penduduk usia 10 tahun ke atas yang bekerja dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7. Jumlah penduduk 10 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha dan jenis kelamin tahun 2004.

Lapangan Usaha/Utama Laki-laki Perempuan Jenis Kelamin Jumlah

1. Pertanian 312.798 143.588 456.386

2. Pertambangan/Galian 2.985 - 2985

3. Industri 28.170 10.426 38.596

4. Listrik, Gas dan Air 1.034 - 1.034

5. Konstruksi 32.429 597 33.026

6. Perdagangan 75.555 48.099 123.654

7. Angkutan dan Komunikasi 55.269 - 55.269

8. Keuangan 3.182 1.551 4.733

9. Jasa 44.320 11.220 155.540

Jumlah 555.742 215.481 771.223

Sumber : BPS Kabupaten Cianjur, 2005.

Lapangan atau pekerjaan penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian yaitu sekitar 62.99 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu sekitar 42,80%. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan dan jasa yaitu sekitar 14,60% Beras Pandan Wangi yaitu beras asli Cianjur merupakan satu-satunya beras terbaik yang tidak ditemukan di daerah lain dan menjadi trade mark Cianjur dari masa ke masa.

Masyarakat Kabupaten Cianjur adalah masyarakat yang religius dan mayoritas penduduknya 99,23 % beragama Islam (Ananta et al. 2004). Suasana kehidupan Islami dalam pembangunan masyarakat Cianjur tercermin dalam Gerakan Pembangunan Masyarakat Berakhlaqul Karimah, disingkat ”GERBANG MARHAMAH”, yang merupakan respons terhadap aspirasi umat Islam Cianjur dalam mewujudkan cita-cita untuk membumikan secara bertahap ajaran luhur Islam. Intinya, bagaimana ajaran Islam yang begitu sempurna itu tidak berhenti hanya pada tataran nilai, tetapi secara bertahap mampu diaktualisasikan pada tataran amaliah, Islam tidak saja berhenti pada tataran teologis dogmatis, tetapi mampu diaplikasikan dalam keseharian hidup umatnya. Islam tidak saja berhenti pada tataran aqidah, tetapi mampu ditransformasikan ke dalam tataran amaliah.

(5)

Sosial Politik

Kabupaten Cianjur dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2004 memilih 45 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk periode 2004 -2009 dan diikuti oleh 24 Partai Politik peserta Pemilu. Dalam Pemilu Tahun 2004 kabupaten Cianjur dibagi ke dalam 5 Daerah Pemilihan (DP), yang terdiri atas DP Cianjur 1 dengan 10 Kursi (Kecamatan Cianjur, Warungkondang, Cibeber dan Cilaku), DP Cianjur 2 dengan 9 kursi (meliputi Kecamatan Ciranjang, Karangtengah, Bojongpicung, Mande dan Sukaluyu), DP Cianjur 3 dengan 10 kursi (meliputi Kecamatan Pacet, Cugenang, Cikalongkulon, Sukaresmi) , DP Cianjur 4 dengan 6 kursi (meliputi Kecamatan Sukanagara, Pagelaran, Campaka, Campaka Mulya dan Takokak), dan DP Cianjur 5 dengan 10 kursi (meliputi Kecamatan Tanggeung, Cibinong, Cikadu, Kadupandak, Agrabinta, Cidaun, Sindangbarang dan Naringgul).

Dari 24 partai politik peserta Pemilu tahun 2004 hanya 7 (tujuh) partai politik saja yang mendapatkan kursi di DPRD Kabupaten Cianjur, yaitu Partai Golongan Karya 17 kursi (38%), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 8 kursi (18%), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 8 kursi (18%), Partai Demokrat (PD) 4 kursi (9%), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 3 kursi (7%), Partai Bulan Bintang 2 kursi (4%) dan Partai Kebangkitan Bangsa 2 kursi (4%). Berdasarkan data perolehan kursi DPRD Kabupaten Cianjur tersebut dapat dijelaskan bahwa partai-patai politik lama, Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang sudah eksis sejak masa Pemerintahan Orde Baru masih mendominasi perolehan kursi. Sementara partai politik lainnya, Patai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang sudah menjadi peserta pemilu sejak Pemilu 1999, perolehan kursinya dapat dilampaui oleh partai politik baru, yaitu Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS sebenarnya bukan partai politik yang sama sekali baru, dalam Pemilu 1999 menggunakan nama Partai Keadilan (PK), namun karena tidak lolos electoral threshold (batas minimum untuk dapat menjadi peserta pemilu berikutnya) mendaftarkan diri sebagai partai politik baru dengan mengganti namanya menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Perolehan suara partai politik beserta perolehan kursi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cianjur dalam Pemilu Tahun 2004 dapat dilihat pada Tabel 8.

(6)

Tabel 8. Perolehan Suara Parpol dan Kursi Anggota DPRD Kabupaten Cianjur pada Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2004.

No. Nama Partai politik suara sah Jumlah Jumlah kursi

1 Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNIM) 2.564 2 Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) 1.479

3 Partai Bulan Bintang (PBB) 48.778 2

4 Partai Merdeka 4.613

5 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 168.873 8 6 Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK) 1.691 7 Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) 2.946 8 Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) 4.457

9 Partai Demokrat (PD) 69.942 4

10 Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 6.835 11 Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) 8.982 12 Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI) 12.908 13 Partai Amanat Nasional (PAN) 27.971 14 Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) 19.870 15 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 45.579 3 16 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 63.882 3 17 Partai Bintang Reformasi (PBR) 24.506 18 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 180.642 8 19 Partai Damai Sejahtera (PDS) 3.356 20 Partai Golongan Karya (Golkar) 378.273 17

21 Partai Patriot Pancasila 6.824

22 Partai Sarikat Indonesia (PSI) 1.402

23 Partai Persatuan Daerah (PPD) 894

24 Partai Pelopor 8.462

Jumlah suara sah 1.095.729 45

Sumber: KPU Kabupaten Cianjur, 2004. (setelah diolah).

Pilkada Kabupaten Cianjur

Pada tanggal 30 Januari 2006 untuk pertama kalinya Kabupaten Cianjur melaksanakan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung oleh rakyat. Di wilayah Provinsi Jawa Barat, Pilkada langsung Kabupaten Cianjur merupakan Pilkada yang ketujuh setelah Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Tasikmalaya. Pemilihan Kepala Daerah secara langsung ini merupakan implementasi dari Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mulai diterapkan secara serempak mulai bulan Juni tahun 2005.

(7)

Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Bupati dan Wakil Bupati) Kabupaten Cianjur tahun 2006 diikuti oleh 4 (empat) pasangan calon yang sebagian besar calonnya berasal dari lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Cianjur. Salah satu calon di antaranya adalah Bupati Cianjur (incumbent) yang berpasangan dengan Ketua DPRD Kabupaten Cianjur dan secara resmi diusung oleh 10 (sepuluh) partai politik yang terdiri dari Partai Golongan Karya, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) dan Partai Pelopor. Sementara pasangan calon lainnya hanya diusung oleh paling banyak 2 (dua) partai politik, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Nama pasangan calon, nama parpol, jumlah gabungan perolehan suara dan gabungan kursi parpol pengusung pasangan calon dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006.

No.

Urut Nama Pasangan Calon Parpol Pengusung

jumlah perolehan suara gabungan parpol Jumlah perolehan kursi gabungan parpol 1. Ir.H.Wasidi Swastomo, M.Si

dan

Drs.H.Ade Barkah Surahman,M.Si

Partai Golkar, PAN, PKB, PBB, PPNUI, PKPB, PBR, PNBK, PPDI dan Partai Pelopor

579.786 22 2. H. Dadang Rachmat dan Drs. H. Kusandi Sundjaya, M.M. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 180.642 8

3. Drs.H.Tjetjep Muchtar Soleh, MM dan Drs. H. Dadang Sufianto, M.M. Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 133.824 7

4. Ir. Yayat Rustandi, M.STr. dan Hj. Titin Suastini, SH. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 168.873 8 Jumlah 1.063.125 45

(8)

Biografi Pasangan Calon

Pasangan calon peserta Pilkada Cianjur tahun 2006 pada umumnya memilki latar belakang yang hampir sama apabila dilihat dari tingkat pendidikan dan pengalaman dalam lingkungan birokrasi pemerintahan. Secara ringkas biografi pasangan calon dapat di lihat pada Tabel 10 berikut ini.

Tabel 10. Biografi calon peserta Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006. No

Urut Nama Calon Pendidikan

Latar belakang pekerjaan

Alamat/asal daerah 1 Ir. H. Wasidi Swastomo, M.Si S-2 Bupati Kab. Cianjur

2001-2006.

Cianjur Drs. Ade Barkah Surahman,

M.Si.

S-2 Ketua DPRD Kab Cianjur 2004 -2009.

Cianjur 2 H. Dadang Rahmat SMA Wakil Bupati Cianjur

2001-2006.

Cianjur Drs. H. Kusnadi Sundjaya, MM S-2 Kepala Dinas

Kehutanan dan Konservasi Tanah Kab. Cianjur 2001-2005.

Cianjur

3 Drs.H.Tjetjep Muchtar Soleh, MM S-2 Kapala Bappeda Kab.

Cianjur 2001-2005. Cianjur Drs. H. Dadang Sufianto, MM. S-2 Kepala Dinas

Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Cianjur 2001-2005.

Cianjur

4 Ir. Yayat Rustandi, M.STr. S-2 Ketua Umum PS Locomotif PT Kereta Api (Persero) Bandung.

Cianjur

H. Titin Suastini, SH. S-1 Anggota Komisi II DPRD Kab. Cianjur 2004-2009.

Cianjur Sumber : Awaludin, U dkk., 2006. (setelah diolah).

Kampanye

Penyelenggaraan Kampanye Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Cianjur Tahun 2006 dilaksanakan berdasarkan regulasi dan kesepakatan sebagai berikut :

a. Peraturan KPU Kabupaten Cianjur No. 01/2005 tentang Tahapan Program dan Jadual Waktu Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Cianjur Tahun 2006.

b. Peraturan KPU Kabupaten Cianjur No. 05/2005 tentang Tata cara Pencalonan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Cianjur Tahun 2006.

(9)

c. Peraturan KPU Kabupaten Cianjur No.06/2005 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kampanye Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Cianjur Tahun 2006.

d. Peraturan KPU No.07/2006 tentang Penerapan Prosedur yang disepakati atas laporan dana kampanye pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Cianjur tahun 2006.

e. Kesepakatan bersama antara KPU Provinsi Jawa Barat dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat tentang Pedoman Siaran Kampanye Pemilihan Kepala Derah dan Wakil Kepala Daerah di Jawa Barat melalui media penyiaran No. 123/KPU-JB/2005 dan No.004/SK/KPID-Jabar/III/2005.

(Awaludin dkk, 2006).

Pelaksanaan kampanye dibagi dalam empat wilayah kampanye, dan setiap pasangan calon secara bergiliran mendepatkan kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan kampanye di keempat wilayah kampanye tersebut sesuai jadual yang telah disusun bersama antara KPUD Kabupaten Cianjur dengan Tim Kampanye setiap pasangan calon. Pembagian wilayah kampanye dalam Pilkada Cianjur Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Wilayah kampanye pasangan calon bupati dan wakil bupati dalam Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Cianjur Tahun 2006 dari tanggal 13 s/d 26 Januari 2006.

I II III IV 1. Cianjur 1. Karangtengah 1. Campaka 1. Cibinong

2. Cilaku 2. Ciranjang 2. Campakamulya 2. Cikadu 3. Cibeber 3. Sukaluyu 3. Sukanagara 3. Agrabinta 4. Warungkondang 4. Mande 4. Pagelaran 4. Leles 5. Gekbrong 5. Bojongpicung 5. Tanggeung 5.

Sindangbarang 6. Cugenang 6. Cikalongkulon 6. Kadupandak 6. Cidaun

7. Pacet 7. Cijati 7. Naringgul

8. Cipanas 8. Takokak

9. Sukaresmi

Sumber : KPU Kabupaten Cianjur, 2006.

Kampanye pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam Pilkada Cianjur Tahun 2006 dilaksanakan mulai tanggal 13 Januari sampai dengan 26 Januari 2006, dan satu hari sebelum masa kampanye, tanggal 12

(10)

Januari 2006, dilakukan sosialisasi pasangan calon peseta Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006 dalam bentuk pawai keliling Kota Cianjur yang diikuti oleh semua pasangan calon beserta tim kampanyenya.

Jadual kampanye pasangan calon diatur oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah kabupaten Cianjur sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 12 berikut ini. Tabel 12. Jadual kampanye pasangan calon bupati dan wakil bupati dalam

Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Cianjur Tahun 2006 dari tanggal 13 s/d 26 Januari 2006.

No. Urut Pasangan

Calon

Tanggal dan Wilayah Kampanye

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 No.Urut 1 * I IV III II I IV III II I IV III II I

No.Urut 2 * II III IV I II III IV I II III IV I II

No.Urut 3 * III II I IV III II I IV III II I IV III No.Urut 4 * IV I II III IV I II III IV I II III IV Keterangan : tanda * tidak ada kampanye terbuka

Sumber : KPU Kabupaten Cianjur, 2006.

Pada hari pertama kampanye, tanggal 13 Januari 2006, tidak dilaksanakan kampanye di wilayah kampanye yang telah ditetapkan, namun kegiatan kampanye dilaksanakan dalam bentuk penyampaian visi, misi setiap pasangan di hadapan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cianjur yang dimulai pada jam 08.00 sampai dengan jam 11.00. Kemudian pada malam harinya, jam 19.30 sampai dengan jam 23.00 dilaksanakan kampanye dalam bentuk “debat publik”. Baru pada hari berikutnya, mulai tanggal 14 sampai dengan 26 Januari 2006, kampanye pasangan calon dilaksanakan menurut jadual dan wilayah-wilayah kampanye yang telah ditetapkan.

Berbagai Jenis media komunikasi digunakan oleh setiap pasangan calon dalam upaya menarik perhatian dan mengajak pemilih untuk memilihnya. Bentuk-bentuk media yang paling banyak digunakan oleh pasangan calon dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006 di antaranya adalah Jenis media cetak yang dapat dikelompokan ke dalam media luar ruang (post material) dan surat kabar/tabloid. Media luar ruang (post material) terdiri atas poster, selebaran atau pamplet, spanduk, bendera, baliho (billboard), sticker dan pin. Kampanye tatap muka, dalam bentuk rapat umum, pawai, tatap muka dengan kelompok masyarakat, panggung hiburan dan istiqosah. Kampanye di media massa cetak,

(11)

seperti surat kabar terbitan lokal, regional dan nasional, tabloid lokal dan tabloid pasangan calon.

Surat kabar dan Tabloid yang memuat berita-berita seputar kampanye dan isu-isu tentang Pilkada Kabupaten Cianjur di antaranya adalah koran/tabloid lokal Fajar Indonesia, Tabloid Pasundan, Suara Puncak, Koran regional wilayah Bogor, seperti Pakuan Raya, Radar Bogor, SK Pakuan, dan koran regional Jawa Barat di antaranya, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar dan Gala Media, serta koran nasional seperti, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Warta Kota dan sebagainya. Pasangan calon juga ada yang membuat tabloid sendiri (tabloid pasangan calon) yang disebarkan pada saat kampanye.

Penggunaan media massa radio sebagai sarana kampanye dan sosialisasi Pilkada Cianjur dilaksanakan dalam bentuk penyiaran dialog interaktif (talkshow), penyiaran lagu-lagu Pilkada, spot iklan kampanye. Siaran Radio yang sering meliput isu-sisu Pilkada dan kampanye pasangan calon di antaranya adalah Tjandra FM, RRI Cianjur (RSPD FM), Pasundan FM, Nurani FM, Khatalina FM, Qi FM, Mora FM dan sebagainya (Awaludin dkk, 2006). Media audio-visual yang sering memberitakan tentang isu-isu dan iklan kampanye Pilkada Kabupaten Cianjur adalah TVRI Jabar-Banten (Bandung). Stasiun televisi lainnya (swasta) hanya sesekali saja menyiarkan reportase pilkada berdasarkan isu yang dianggap paling menarik.

Kampanye tatap muka dilaksanakan di ruang terbuka maupun tertutup. Kampanye tatap muka di ruang terbuka, meliputi kegiatan rapat umum, istiqosah, panggung hiburan dan pawai kendaraan bermotor. Kampanye tatap muka yang dilaksanakan di ruang tertutup, meliputi debat publik dan dialog tatap muka pasangan calon dan tim kampanye dengan kader dan tokoh-tokoh masyarakat. Selain itu kampanye tatap muka juga dilaksanakan dalam bentuk-bentuk lainnya, seperti menutup kejuaran Motorcross, salat Jum’at bersama, silaturahmi kepada pedagang pasar dan sebagainya.

Dalam kampanye tatap muka yang diselenggarakan di suatu lapangan terbuka dan dihadiri oleh massa pendukung yang berjumlah banyak. Pasangan calon atau tim kampanye biasanya hanya menggunakan sedikit waktu untuk menyampaikan orasi tentang visi dan misinya, selebihnya banyak diisi dengan hiburan dan upaya membangkitkan emosi masa dengan meneriakan yel-yel kampanyenya. Oleh karena itu setiap pasangan calon memiliki yel-yelnya sendiri yang sekaligus digunakan sebagai simbol-simbol dari pasangan calon tersebut.

(12)

Masing-masing pasangan calon dalam upaya mempengaruhi pemilih mereka menciptakan slogan atau yel-yel yang merupakan akronim dari nama-nama pasangan calon. Pasangan calon nomor satu, Ir. Wasidi Swastomo, M.Si – Drs. Ade Barkah Surahman. M.Si. menggunakan slogan “Mawadah” yang merupakan akronim dari “Masyarakat Wasidi dan Ade Barkah”. Sementara pasangan nomor urut dua H. Dadang Rachmat, SE – H. Kusnadi Sundjaya yang didukung oleh PDIP menggunakan slogan “Darahku” yang merupakan akronim dari “Dadang Rachmat dan Kusnadi Sunjaya”. Pasangan nomor urut tiga Drs. Tjetjep Muchtar Soleh, MM – Drs. Dadang Sufianto, MM. Menggunakan slogan ”Cerdas” merupakan akronim dari ”Tjetjep Muchtar Soleh dan Dadang Sufianto”. Sedangkan pasangan nomor urut empat yaitu Ir. Yayat Rustandi, M.STr. – Titin Suastini, SH menggunakan slogan ”Yatin” yang merupakan akronim dari ”Yayat Rustandi dan Titin Suastini” Slogan ini selalu dijadikan simbol-simbol dalam meneriakan yel-yel pasangan calon pada setaip kesempatan kampanye.

Berdasarkan uraian sebelumnya dapat dikemukakan bahwa dalam kegiatan kampanye Pilkada di Kabupaten Cianjur Tahun 2006, semua pasangan calon berusaha semaksimal mungkin menggunakan berbagai jenis dan bentuk media yang tidak dilarang menurut aturan untuk digunakan dalam upaya mempengaruhi khalayak pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya. Penggunaan berbagai jenis dan bentuk media dalam kampanye politik kemungkinan disebabkan karena secara umum visi dan misi antara pasangan calon tidak memiliki perbedaan yang menyolok baik dalam program maupun sasarannya, sementara khalayak pemilihnya bersifat heterogen sehingga tidak mudah untuk disegmentasikan.

Pemilih Terdaftar

Dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006, jumlah penduduk terdaftar yang memiliki hak pilih adalah sebanyak 1.404.777 orang, dengan jumlah pemilih laki-laki 715.866 orang (51%) dan pemilih perempuan 688.911 orang (49%), yang tersebar di 3.413 buah Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 13. Karakteristik pemilih dilihat dari kriteria jenis kelamin, antara pemilih laki-laki dan pemilih perempuan, dari segi jumlah tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.

(13)

Tabel 13. Rekapitulasi jumlah pemilih tetap dalam Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh KPUD Kabupaten Cianjur

Kecamatan Laki-laki Perempuan Hak pilih Jumlah Jumlah PPS Jumlah TPS

Cianjur 52.400 52.525 103.925 11 238 Warungkondang 21.252 20.444 41.696 18 104 Gekbrong 15.787 15.272 31.059 11 75 Cibeber 38.126 36.275 74.401 10 153 Cilaku 31.354 29.484 60.838 8 129 Karangtengah 42.074 41.409 83.483 12 183 Ciranjang 30.069 29.505 59.574 16 119 Bojongpicung 36.949 35.716 73.665 16 149 Mande 21.673 20.681 42.354 12 88 Sukaluyu 23.320 21.484 44.804 10 147 Pacet 29.686 27.890 57.576 7 122 Cipanas 32.765 30.715 63.480 16 159 Cugenang 31.001 29.194 60.195 18 142 Cikalongkulon 29.892 .29431 59.323 11 130 Sukaresmi 24.887 24.286 49.173 7 110 Sukanagara 15.769 15.317 31.086 11 81 Campaka 21.154 20.319 41.473 11 90 Campakamulya 8.888 8.521 17.409 17 36 Takokak 17.126 16.833 33.959 9 82 Pagelaran 29.780 28.578 58.358 5 209 Tanggeung 21.821 21.123 42.944 16 98 Kadupandak 16.182 15.746 31.928 13 114 Cijati 11.047 11.390 22.437 13 80 Cibinong 19.946 18.084 38.030 9 105 Sindangbarang 17.102 16.570 33.672 9 87 Agrabinta 14.659 14.412 29.071 9 65 Leles 11.965 11.023 22.988 13 57 Cidaun 21.739 21.758 43.497 10 103 Naringgul 14.915 14.321 29.236 11 99 Cikadu 12.538 11.605 24.143 10 59 Jumlah 715.866 688.911 1.404.777 349 3.413

Sumber : KPU Kabupaten Cianjur, 2005.

Pemilih terdaftar yang menggunakan hak pilihnya pada Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006 adalah sebanyak 991.727 pemilih (71%), dari jumlah keseluruhan pemilih terdaftar, 1.404.777 pemilih. Kemudian dari 991.727 pemilih yang menggunakan hak pilihnya, sebanyak 907.310 (91,49%) suaranya dinyatakan sah dan 84.417 (8,51%) dinyatakan tidak sah.

Perolehan Suara Pasangan Calon

Berdasarkan hasil penghitungan suara pasangan calon kepala daerah yang dilakukan oleh KPUD Kabupaten Cianjur; pasangan calon nomor urut tiga (Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM. dan Drs. H. Dadang Sufianto, MM.)

(14)

memperoleh suara sah sebanyak 311.802 (34,37%) dan menjadi pemenang dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006. Pasangan calon nomor urut satu, (Ir. H. Wasidi Swastomo, M.Si dan Drs. H. Ade Barkah Surahman, M.Si) memperoleh suara sebanyak 309.181 (34,08%). Perolehan suara kedua pasangan calon ini menempatkan kedua pasangan calon ini pada posisi pertama dan kedua dengan selisih perolehan suara sebanyak 2.621 suara atau 0,028 %. Pasangan calon dengan nomor urut dua (H. Dadang Rachmat dan Drs. H. Kusandi Sundjaya, MM.) memperoleh 218.391 (24,07%) suara dan nomor urut empat (Ir. Yayat Rustandi, M.STr. dan Hj. Titin Suastini, SH.) memperoleh 67.936 (7,49%) suara.

Tabel 14. Perolehan Suara Pasangan Calon dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006

No.

Urut Nama Pasangan Calon

Atribut Pasangan

Calon

jumlah

suara sah % 1. Ir. H. Wasidi Swastomo, M.Si

Drs. H. Ade Barkah Surahman, M.Si

Mawadah 309.181 34,08 2. H. Dadang Rachmat

Drs. H. Kusandi Sundjaya, M.M. Darahku 218.391 24,07 3. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh,

MM.

Drs. H. Dadang Sufianto, M.M.

Cerdas 311.802 34,36

4. Ir. Yayat Rustandi, M.STr.

Hj. Titin Suastini, SH. Yatin 67.936 7,49

Jumlah 907.310 100,00

Sumber : Awaludin, U dkk, 2006. (setelah diolah)

Hasil Pilkada Kabupaten Cianjur menunjukkan adanya pergeseran suara pemilih antara Pemilu Legislatif Tahun 2004 dengan Pilkada Kabupaten Cainjur Tahun 2006 sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 15. Pasangan calon nomor urut satu yang diusung oleh gabungan banyak partai politik (10 partai politik) dan sekaligus merupakan calon incumbent (Bupati yang sedang menjabat), dengan jumlah kumulatif suara dalam Pemilu Legislatif Tahun 2004 yang mencapai 579.786 (53%) suara, dalam Pilkada hanya memperoleh 309.181 (34,0767%) suara, turun sebanyak 18,92%. Pasangan calon nomor urut tiga yang diusung oleh dua partai politik dengan jumlah kumulatif suara dalam Pemilu Legislatif Tahun 2004 sebanyak 133.824 (12%) memperoleh 311.802 (34,3655%) suara,

(15)

meningkat sebanyak 22,37%. Pasangan calon dengan nomor urut dua yang diusung oleh satu partai politik dengan perolehan suara dalam Pemilu Lagislatif Tahun 2004 sebanyak 180.642 (16%) suara, memperoleh 218.391 (24,0702%) suara, menunjukkan adanya peningkatan sebanyak 8,07%. Pasangan calon nomor urut empat, yang diusung oleh satu partai politik dengan perolehan suara dalam Pemilu Lagislatif Tahun 2004 sebanyak 168.873 (15%), memperoleh suara sebanyak 67.936 (7,4876%), turun sebanyak 7,51%.

Tabel.15. Perbandingan Perolehan Suara Pasangan Calon dalam Pilkada Kabuapten Cianjur Tahun 2006 dengan Kumulatif Perolehan Suara Partai Politik Pengusung Pasangan Calon dalam Pemilu Legislatif Tahun 2004. Nomor urut pasangan calon Partai politik pengusung pasangan calon Perolehan suara Pemilu 2004 % Perolehan suara Pilkada % 1 Partai Golkar, PAN,

PKB, PBB, PPNUI, PKPB, PBR, PNBK, PPDI dan Partai Pelopor 579.786 53 309.181 34,0767 2 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 180.642 16 218.391 24,0702 3 Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

133.824 12 311.802 34,3655

4 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 168.873 15 67.936 7,4876 Sumber : Awaludin, U dkk. 2006. (setelah diolah)

Berdasarkan uraian sebelumnya dapat dijelaskan bahwa terdapat sejumlah pemilih yang dalam Pemilu Legislatif Tahun 2004 memberikan pilihannya kepada suatu partai politik tertentu dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006 memilih pasangan calon yang diusung oleh partai politik lain. Hal ini berarti terdapat sejumlah pemilih yang mengalihkan pilihannya (swing voter, switcher) dari partai politik yang satu ke partai politik lainnya dalam pemilihan yang berbeda. Gejala ini menandakan bahwa pilihan seseorang dapat berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu dan peristwa-pristiwa politik yang dialaminya. Tidak ada jaminan seorang pemilih yang memberikan suara kepada salah satu partai politik dalam suatu pemilihan akan memberikan suaranya kepada partai politik yang sama pada pemilihan lainnya.

(16)

Fenomena tersebut dapat mengubah pandangan terhadap teori perilaku pemilih (voting behavior) yang selama ini banyak dijadikan referensi dalam studi perilaku pemilih, yaitu Mazhab Columbia (Columbia School for Electoral Behavior), yang menyatakan bahwa pengelompokan-pengelompokan sosial mempunyai peranan besar dalam membentuk sikap, persepsi dan orientasi pemilih, maupun Mazhab Michigan (The Michigan Survey Research Center), yang berpandangan bahwa ikatan psikologis pemilih dengan partai politik atau calon merupakan faktor yang menentukan dalam membentuk perilaku pemilih. Tetapi fenomena ini mendukung pendekatan rasional dalam studi perilaku pemilih, yang beranggapan bahwa selain faktor sosiologis dan psikologis ada peubah lain yang ikut menentukan dalam mempengaruhi perilaku politik seseorang (Ridwan, 2004). Pemilih tidak bersifat pasif, terbelenggu oleh karakterisitik sosiologis dan psikologis, melainkan bebas bertindak (aktif) dimana faktor-faktor situasional, baik itu berupa isu-isu politik maupun kandidat yang dicalonkan, mempunyai peranan yang penting dalam menentukan pilihan politik seseorang. Oleh karena itu, dalam pendekatan rasional penilaian terhadap isu-isu politik dan kandidat merupakan faktor yang sangat penting dalam menjelaskan pilihan politik seseorang.

Dalam pendekatan rasional terdapat dua orientasi yang menjadi daya tarik pemilih, yaitu orientasi isu dan orientasi kandidat. Orientasi isu berhubungan dengan isu-isu publik yang sedang menjadi sorotan masyarakat pada saat itu serta program-program apa yang ditawarkan kandidat sebagai upaya memecahakan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Sedangkan orientasi kandidat mengacu pada sikap seseorang terhadap pribadi kandidat tanpa memperdulikan label partainya. Meskipun demikian, ketertarikan pemilih terhadap isu-isu yang ditawarkan oleh kandidat bersifat situasional. Sehingga ketertarikan pemilih kepada keduanya tidak bersifat permanen melainkan berubah-ubah.

(17)

Distribusi Peubah Penelitian

Sebelum menguji hipotesis, maka data primer yang telah terkumpul dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap pemilih (responden) dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006, selanjutnya dideskripsikan dengan menggunakan metode distribusi frekuensi terhadap semua peubah penelitian dikelompokkan sebagai berikut :

Distribusi Peubah Karakteristik Demografi dan Sosial-Psikologis Pemilih Karakteristik pemilih yang diamati dan diduga berhubungan dengan banyaknya menerima terpaan informasi kampanye, perilaku dalam mengolah pesan kampanye dan perilaku memilih dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006, meliputi (1) umur, (2) jenis kelamin, (3) pendidikan, (4) pekerjaan, (5) penghasilan/ pengeluaran keluarga, (6) afiliasi dengan partai politik, (7) orientasi terhadap partai politik dan (8) motivasi pemilih. Tabel 16 mendeskripsikan sebaran karakteristik demografi dan sosial - psikologis pemilih.

Karakteristik demografi dalam teori perilaku pemilih Mazhab Columbia disebut karakteristik sosial, yang meliputi umur (tua-muda), jenis kelamin (pria-wanita), agama, status sosial, pendidikan, pekerjaan dan kekayaan (penghasilan). Sedangkan karakterisitik sosial-psikologis (Mazhab Michigan) meliputi konsep sikap dan sosialisasi. Sikap sebagai peubah sentral dalam menjelaskan perilaku pemilih menurut Greenstein (dalam Ridwan 2004) mengandung tiga fungsi, (1) fungsi kepentingan, (2) fungsi penyesuaian diri, dan (3) fungsi eksternalisasi dan pertahanan diri. Sedangkan sikap yang terbentuk melalui proses sosialisasi yang berkembang menjadi ikatan psikologis yang kuat antara seseorang dengan partai politik atau kandidat tertentu, dikenal dengan sebutan identifikasi partai (party identification).

Peubah sosial-psikologis dalam penelitian ini diukur dengan peubah afiliasi parpol, orientasi parpol dan motivasi memilih. Afiliasi parpol adalah tingkat kedekatan hubungan antara pemilh dengan salah satu partai politik, yang meliputi kategori pengurus partai, aktivis atau anggota partai, pendukung setia, simpatisan atau tidak memiliki kedekatan hubungan. Orientasi parpol adalah ketertarikan secara psikologis pemilih terhadap salah satu partai politik tertentu, yang meliputi kategori karena alasan ideologis (agama atau aliran politik), ketokohan pimpinan partai, pewarisan dari orang tua, karena teman/tetangga

(18)

atau lingkungan sosial. Sedangkan motivasi adalah stimulus yang mendorong pemilih untuk ikut menggunakan hak pilih dalam Pilkada Kabupaten Cianjur tahun 2006, yang dikategorikan ke dalam ingin pemimpin yang lebih baik, melaksanakan hak, menjalankan kewajiban, ikut karena ajakan orang lain atau tidak tahu/tidak mengerti.

Tabel 16. Distribusi peubah karakteristik demografi dan sosial-psikologis pemilih No. Karakteristik Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Umur Distribusi : ≤ 19 tahun 20-29 tahun 30-39 tahun 40-49 tahun ≥ 50 tahun 5 34 26 28 7 5 34 26 28 7 2. Jenis kelamin Laki-laki

Perempuan 57 43 57 43 3. Pendidikan Formal SD/Tdk Sekolah SLTP SLTA Diploma Sarjana atau diatasnya

10 12 47 8 23 10 12 47 8 23 4. Pekerjaan Pelajar/tidak bekerja/IRT

Buruh/petani Pegawai swasta Pengusaha/wiraswasta Pegawai Negeri Sipil

16 12 26 22 24 16 12 26 22 24 5. Penghasilan/ Pengeluaran Keluaraga < Rp 500.000 Rp 500.000 - Rp.1000.000 Rp 1.000.001 - Rp.1.500.000 Rp.1.500.001 - Rp.2.000.000 > Rp.2.000.000 10 15 52 17 6 10 15 52 17 6 6. Afiliasi (hubungan) dengan Parpol Pengurus partai Aktivis partai/anggota Pendukung setia partai Simpatisan Tidak ada hubungan

5 9 26 33 27 5 9 26 33 27 7. Orientasi terhadap Partai Politik Kesamaan ideologi

Tokoh/figur pribadi pemimpin Parpol yg dipilih keluarga Parpol teman/tetangga Tidak tertarik/tidak tahu

25 38 24 9 4 25 38 24 9 4 8. Motivasi Pemimpin yang lebih baik

Melaksanakan hak Melaksanakan kewajiban Ikut karena ajakan orang lain Tidak tahu 30 23 31 9 7 30 23 31 9 7

Berdasarkan Tabel 16 dapat dijelaskan bahwa karakteristik pemilih dilihat dari peubah usia, terdistribusi hampir merata pada usia antara 20 sampai dengan 49 tahun (88%). Tingkat usia 20-39 tahun 34%, usia 30-39 tahun 26% dan usia

(19)

40-49 tahun 28%, sementara usia di bawah 20 tahun hanya sebanyak 5% dan usia 50 tahun ke atas sebanyak 7%. Peubah jenis kelamin terdistribusi hampir seimbang antara laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan tidak terlampau jauh berbeda antara komposisi responden dengan keadaan populasi pemilih yang sebenarnya dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006, yaitu responden pemilih laki-laki 57 % (populasi 51%) dan perempuan 43 %. (populasi 49%).

Pengelompokan agama yang dianggap sebagai faktor yang menentukan dalam mempengaruhi perilaku pemilih (Mazhab Clolumbia) dan umumnya dijadikan peubah utama dalam penelitian-penelitian perilaku pemilih di Indonesia, namun dalam penelitian ini tidak dijadikan peubah yang dianalisis dengan alasan, pertama, cukup sulit untuk mendapatkan responden yang bukan beragama Islam dan bersedia untuk diwawancarai atau menjawab kuesioner. Kedua, 99,23 % penduduk Kabupaten Cianjur adalah beragama Islam (Ananta et al. 2004) sehingga kurang relevan untuk dianalisis dalam kasus ini. Berdasarkan pertimbangan tersebut peubah agama yang dianut oleh pemilih tidak dijadikan peubah yang dianalisis.

Karakteristik pemilih apabila dilihat berdasarkan peubah pendidikan, pekerjaan dan pengeluaran keluarga, dapat dijelaskan, bahwa tingkat pendidikan responden sebagian besar berpendidikan setingkat SLTA (47%) dan di atas SLTA (Diploma dan Sarjana) 31 %, sedangkan yang berpendidikan di bawah SLTA (SLTP dan SD atau tidak sekolah) 22 %. Pekerjaan responden dominan yang memiliki status pekerjaan yang tetap (mapan), yaitu pegawai negeri sipil, pengusaha/wiraswasta dan pegawai swasta (72%). Pegawai swasta (26%), pegawai PNS (24%) dan pengusaha atau berwirausaha (22%), sedangkan buruh/petani 12% dan ibu rumah tangga, pelajar atau tidak/belum bekerja sebanyak 16%. Pengeluaran keluarga per-bulan sebagian besar terdistribusi antara Rp 1.000.001,- sampai dengan Rp. 1.5 juta (52 %), di bawah Rp 1.000.000,- sebanyak 25% dan di atas Rp. 1,5 juta,- sebanyak 23 %.

Sebaran responden berdasarkan peubah pendidikan dan pekerjaan memang tidak mencerminkan karakteristik penduduk Kabupaten Cianjur. Hal ini disebabkan karena tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui intensitas terpaan dari beragam saluran komunikasi dan media kampanye, sehingga pengambilan contoh didasarkan pada responden yang memiliki aksesibilitas terhadap berbagai bentuk media kampanye. Karena pemilih yang dijadikan responden diambil dari sejumlah lokasi penelitian yang merupakan wilayah yang

(20)

berdekatan dengan tempat-tempat yang menjadi pusat kegiatan kampanye, sementara sebagian besar responden yang terpilih secara kebetulan adalah pemilih yang berpendidikan setingkat SLTA dan di atas SLTA. Demikian halnya dengan jenis pekerjaan, karena dalam penelitian ini peubah pekerjaan didasarkan pada peringkat kemapanan dalam pekerjaan (memiliki pekerjaan tetap) dan tingkat ancaman peluang kehilangan pekerjaan, sehingga responden yang terpilih kebanyakan berstatus pegawai tetap.

Dominannya responden yang berstatus pegawai negeri sipil, pegawai swasta serta pengusaha atau wiraswasta, disebabkan karena lokasi kampanye yang digunakan oleh pasangan calon pada umumnya menggunakan lokasi yang berdekatan dengan lingkungan perumahan atau penduduk yang relatif padat. Sementara penduduk yang berstatus pekerjaannya petani, yang berdasarkan data demografi merupakan penduduk Cianjur terbanyak, tersebar di berbagai pelosok dan hanya sedikit terjangkau oleh media komunikasi, surat kabar/tabloid, televisi dan radio sehingga relatif kecil kemungkinannya untuk mendapat terpaan kampanye dari media yang beragam, maka penelitian ini tidak didasarkan pada pertimbangan keadaan populasi yang sebenarnya.

Selanjutnya berdasarkan karakteristik sosial-psikologis pemilih yang menjadi responden sebagian besar menyatakan tidak memiliki hubungan atau ikatan (afiliasi) dengan partai politik secara langsung. Kebanyakan di antara responden hanya sebatas simpatisan saja (33%), sebagai pendukung setia partai (26%), dan tidak mempunyai hubungan (27%). Responden yang menyatakan berasal dari pengurus partai politik dan anggota atau aktivis partai politik hanya sebanyak 14% saja. Hal ini menandakan bahwa tidak banyak masyarakat yang berafiliasi dengan parpol terlibat langsung dalam kehidupan partai, seperti menjadi anggota atau pengurus partai. Kecenderngan ini merupakan fenomena pemilih di Indonesia yang sering disebut masa mengambang (floating mass). Selain itu juga karena kondisi setelah reformasi berbeda jauh dengan kondisi pada masa Orde Baru dimana pada saat itu semua pegawai negeri sipil harus menjadi anggota salah satu partai politik (Golkar).

Dilihat dari orientasi parpol, kebanyakan responden menyatakan lebih tertarik pada figur atau ketokohan pimpinan partai (38%), sedangkan yang berdasarkan alasan kesamaan ideologi, yang secara psikologis biasanya lebih kuat dan permanen, hanya 25% hampir sama dengan responden yang memiliki alasan karena parpol yang dipilih oleh keluarga (24%). Reponden yang

(21)

menyatakan ketertarikannya terhadap partai karena alasan pengaruh teman atau tetangga hanya 9% dan menyatakan tidak tahu sebanyak 4%. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar pemilih sudah mengidentifikasikan dirinya dengan salah satu partai politik tertentu, sebagai akibat dari proses sosialisasi yang dilalui pemilih dan kemudian berkembang menjadi ikatan psikologis yang kuat antara seseorang dengan partai politiknya. Sikap seperti ini dalam teori perilaku memilih (voting behavior) dikenal dengan istilah identifikasi partai (party identification). Pada umumnya pemilih yang mempunyai kedekatan dengan suatu partai politik seperti itu sudah menentukan pilihan politiknya jauh sebelum pelaksanaan pemungutan suara dan tidak mudah untuk berpindah ke partai politik lain.

Distribusi peubah motivasi pemilih menunjukkan bahwa 31% responden menyatakan motivasinya didasarkan karena menjalankan kewajiban. Hal ini menandakan bahwa masih banyaknya pemilih (sebagian besar) yang alasan keikutsertaannya dalam pemilihan didasarkan karena faktor kewajiban daripada hak maupun alasan menginginkan kepemimpinan yang lebih baik. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar pemilih masih memandang kegiatan pemilu sebagai kegiatan ritual yang wajib diikuti. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh masih kuatnya pengaruh suasana pemilihan umum di masa Orde Baru, dimana penduduk yang sudah memiliki hak pilih diwajibkan untuk menggunakan hak pilihnya di dalam setiap pemilhan umum dan pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya sering mendapatkan intimidasi dari aparat pemerintah. Namun demikian masih cukup banyak pemilih yang alasan memilihnya didasarkan karena menghendaki pemimpin yang lebih baik (30%) dan melaksanakan hak (23%), tetapi relatif sedikit pemilih yang alasan memilihnya karena karena ikut-ikutan (9%), dan tidak tahu atau tidak menjawab (7%).

Dengan demikian karakteristik pemilih menggambarkan kondisi sosial-psikologis yang mencerminkan masih cukup kuatnya ikatan sosial-psikologis pemilih dengan suatu partai politik, mulai simpatisan sampai pendukung setia. Ikatan psikologis ini juga cenderung dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan partai politik yang kharismatis daripada karena faktor kesamaan ideologi. Pengaruh psikologis pemilu-pemilu di masa Orde Baru nampaknya masih melekat di sebagian pemlih, sehingga pemilu dianggap sebagai kegiatan ritual yang wajib dilakukan. Sikap ini menandakan sikap apatis pemilih yang kurang merasa yakin atau bahkan tidak

(22)

perduli apakah dengan adanya pergantian kepemimpinan akan dapat merubah nasibnya kelak

Distribusi Peubah Terpaan Informasi Kampanye

Dalam kegiatan kampanye pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah secara langsung, partai politik atau pasangan calon pada umumnya menggunakan berbagai cara untuk meraih dukungan pemilih. Sebagaimana dikemukakan oleh Venus (2004) dalam kampanye politik hampir seluruh bentuk media dan sarana komunikasi dapat digunakan, dan khalayak pemilihnya juga tidak memiliki segmentasi yang khusus karena sangat heterogen. Bentuk media kampanye yang paling umum dan banyak digunakan adalah rapat umum (kampanye terbuka) dan penyebaran media luar ruang dan post material, seperti spanduk, poster, bendera, baliho (billboard), pamplet, sticker dan sebagainya. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, calon-calon yang memiliki dukungan finansial yang cukup biasanya juga menggunakan media masa surat kabar/tabloid, radio dan televisi sebagai media kampanye untuk menjangkau calon pemilih yang tersebar diberbagai pelosok dalam waktu yang singkat. Saluran komunikasi lainnya yang biasanya digunakan adalah melaui komunikasi antarpribadi melalui tokoh-tokoh masyarakat yang menjadi tim kampanyenya. Terpaan (exposure) informasi kampanye pada masa-masa kampanye biasanya begitu gencar dan menyebar luas ke berbagai pelosok daerah dan yang paling intensif biasanya dilakukan di wilayah yang menjadi obyek sasaran kampanye. Terpaan media massa (media exposure) adalah penggunaan media, baik jenis media cetak, audio maupun audio visual, frekuensi penggunaan maupun durasi penggunaan (longevity). Penggunaan jenis media meliputi, media audio, audiovisual, media cetak, maupun kombinasi antar media. Dalam suatu kegiatan kampanye politik penyebaran informasi kampanye tidak hanya dilakukan melalui media masa, tetapi juga komunikasi tatap muka, seperti kampanye terbuka (rapat umum) dan komunikasi antarpribadi.

Untuk mengetahui berbagai bentuk komunikasi dan frekuensi serta jenis media yang menerpa pemilih selama masa kampanye, maka peubah terpaan informasi kampanye dalam penelitian ini mencakup terpaan (1) media surat kabar/tabloid, (2) radio, (3) televisi, (4) media luar ruang (baliho, spanduk, poster, pemplet/selebaran, stiker), (5) kampanye tatap muka (kampanye terbuka,

(23)

kampanye tertutup, debat/dialog, pawai atau arak-arakan), dan 6) komunikasi interpersonal.

Kuesioner yang digunakan untuk menjaring informasi terpaan kampanye digunakan pertanyaan semi tertutup, untuk memberikan kesempatan kepada responden menambahkan bentuk saluran komunikasi yang sejenis dengan saluran informasi yang ditanyakan. Untuk mengukur perbedaan besarnya terpaan informasi kampanye menggunakan skala ordinal dengan kategori, (1) 0 (tidak sama sekali), (2) 1 – 3 kali, (3) 4 – 6 kali, (4) 7 – 9 kali, dan (5) lebih dari 9 kali. Rentang interval yang digunakan untuk pengelompokan ordinal ini karena masa kampanye hanya 14 hari. Untuk mengukur besarnya terpaan informasi kampanye dilakukan dengan cara mengakumulasikan semua jawaban responden untuk setiap bentuk dan jenis saluran komunikasi.

Terpaan Media Surat Kabar/Tabloid

Media cetak surat kabar dan tabloid adalah termasuk media komunikasi massa yang prosesnya satu arah, pesannya bersifat umum, medianya menimbulkan keserempakan dan khalayaknya heterogen (Effendi 1997). Media cetak surat kabar dan tabloid adalah media yang berbentuk tulisan, dilihat/dibaca, membaca dapat ditunda, tidak butuh tempat khusus, terbatas ruang dan waktunya, mudah didokumentasikan, dan distribusinya terbatas (Muda 2003). Untuk menyerap informasi surat kabar dan tabloid, pembaca dituntut untuk bisa membaca serta memiliki intelektualitas tertentu (Ardianto dan Ardinaya 2004).

Terpaan media cetak surat kabar/tabloid diukur dengan frekuensi pemilih dalam membaca informasi kampanye melalui surat kabar/tabloid selama periode masa kampanye (13 – 26 Januari 2006). Media cetak surat kabar dan tabloid digunakan untuk mengukur terpaan informasi kampanye atas pertimbangan; pertama, karena akses khalayak pemilih terhadap surat kabar dan tabloid relatif lebih mudah dibandingkan dengan media cetak lainnya, seperti majalah atau lainnya. Kedua, surat kabar dan tabloid adalah media cetak yang paling sering memuat informasi yang beragam tentang isu-isu pilkada dan kampanye. Ketiga, terbitnya teratur/berkala, seperti harian, tiga harian, atau mingguan. Selain itu pada masa kampanye juga beredar tabloid pasangan calon yang diterbitkan secara temporer oleh partai politik/timkampanye.

(24)

Tabel 17. Distribusi peubah terpaan informasi kampanye melalui surat kabar/tabloid

No. Indikator Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Frekuensi membaca koran

frekuensi : lebih dari 9 kali 7-9 kali 4-6 kali 1-3 kali

tidak sama sekali

21 25 27 19 8 21 25 27 19 8 2. Banyaknya jenis surat kabar/tabloid yang dibaca

lebih dari 3 surat kabar/tabloid 3 surat kabar/tabloid

2 surat kabar/tabloid 1 surat kabar/tabloid tidak sama sekali

20 22 30 20 8 20 22 30 20 8 3. Jenis surat kabar/tabloid yang paling banyak dibaca Pikiran Rakyat Pakuan Raya Radar Bogor

Tabloid pasangan calon SK Pakuan

Tribun Jabar Gala Media Tabloid Pasundan Warta Kota

Koran Seputar Indonesia Kompas Puncak Pos Media Indonesia Tabloid Lentera 62 44 41 29 18 12 11 9 3 2 2 1 1 1 26.27 18.64 17.37 12.29 7.63 5.08 4.66 3.81 1.27 0.85 0.85 0.42 0.42 0.42

Berdasarkan Tabel 17 dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden (92%) menyatakan membaca surat kabar/tabloid pada 14 hari masa kampanye, dan 8% tidak membaca surat kabar/tabloid. Sebagian besar membaca lebih dari tiga kali (73%) dan 19% membaca hanya satu sampai tiga kali.

Sebanyak 27% membaca empat sampai enam kali, 25% membaca tujuh sampai sembilan kali, 21% lebih dari sembilan kali, dan 19% membaca hanya sekali selama periode tersebut. Dilihat berdasarkan banyaknya jenis surat kabar/tabloid yang dibaca, 20% membaca lebih dari 3 jenis, 22% membaca 3 jenis, 30% membaca dua jenis, 20% membaca satu jenis, 8% tidak membaca surat kabar/tabloid. Hal ini menandakan bahwa media cetak surat kabar dan tabloid merupakan media kampanye yang banyak menerpa khalayak pemilih, bahkan sebagian besar pemilih (72%) membaca lebih dari satu surat kabar/tabloid.

Tingginya terpaan informasi kampanye melalui media cetak surat kabar/tabloid, diduga karena media ini relatif murah dan mudah didapat.

(25)

Sedangkan apabila dihubungkan dengan karakteristiknya (1) dapat diakses masyarakat luas (publicity) dan menyebar ke berbagai tempat, (2) terbit secara teratur (periodesitas), (3) memuat informasi yang beraneka ragam (universalitas), (4) menginformasikan isu-isu yang aktual (aktualitas), dan (5) dapat didokumentasikan.

Surat kabar yang paling banyak dibaca adalah Harian Pikiran Rakyat (26,27%), merupakan surat kabar regional Jawa Barat (terbitan Bandung) yang rutin memuat berita dan informasi seputar kampanye Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006. Surat kabar lainnya yang banyak dibaca adalah Harian Pakuan Raya (18,64%), Harian Radar Bogor (17,37%), dan Surat Kabar Pakuan (7,63%). Ketiga surat kabar tersebut semuanya terbit di Bogor dan banyak memuat berita dan informasi tentang Pilkada Cianjur. Surat kabar terbitan Bandung yang juga beredar di Cianjur di antaranya Tribun Jabar (5,08%) dan Gala Media (4,66%). Sedangkan Harian Warta Kota (terbitan Jakarta) juga beredar di Cianjur, tetapi hanya sesekali memberitakan Pilkada Cianjur dibaca oleh 3 responden (1,27%).

Surat Kabar terbitan lokal, yang banyak dibaca adalah Tabloid Pasundan, 9 responden (3,81%), Tabloid Lentera dan Puncak Pos masing-masing hanya dibaca oleh seorang responden (0,42%). Hal ini disebabkan media tersebut tidak terbit secara teratur dan jangkauan penyebarannya terbatas, hanya beredar di lingkungan komunitas tertentu. Surat kabar nasional, seperti Kompas, Seputar Indonesia dan Media Indonesia, paling banyak dibaca oleh dua responden karena jarang memuat berita kampanye dan Pilkada Cianjur.

Tabloid Pasangan calon yang diterbitkan khusus oleh tim kampanye untuk menginformasikan program-program kampanye pasangan calon dibaca oleh 29 reponden (12,29%). Hal ini menandakan semakin pentingnya media cetak untuk dijadikan saluran informasi kampanye dalam usaha mempersuasi khalayak memilih. Media ini ternyata cukup efektif menerpa pemilih selain surat kabar umum yang terbit secara berkala.

Terpaan Media Radio

Media massa radio adalah media elektronik yang penyeberannya luas (tergantung daya jangkau siarannya), memerlukan alat penangkap siaran, bersifat sesaat (tidak dapat ditunda/sekilas) tidak dapat diulang, membutuhkan kemampuan mendengar dan dapat didengar sambil melakukan aktivitas lain

(26)

(Masduki 2001; Muda 2003). Siaran radio, pada saat ini, lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan.

Informasi seperti spot iklan, jingle umumnya disiarkan pada saat jeda acara atau siaran iklan. Sedangkan reportase, disampaikan dalam bentuk siaran berita, lintasan berita (breaking news), atau siaran langsung. Siaran radio sesekali mengadakan wawancara atau talk show membahas isu-isu publik. Karena sifatnya sekilas maka hanya yang memiliki kebiasaan mendengarkan radio saja yang berpeluang mendapatkan informasi kampanye dari siaran radio.

Pertimbangan media radio dijadikan sebagai salah satu media yang digunakan untuk mengukur terpaan informasi kampanye karena, pertama, radio merupakan sarana media massa yang murah dan mudah diakses oleh khalayak; kedua, media massa radio, terutama radio lokal, merupakan media yang sering memberitakan informasi seputar isu-isu Pilkada dan kampanye. Terpaan media radio diukur dengan banyaknya frekuensi responden mendengarkan radio selama periode masa kampanye. Bentuk informasi Pilkada Kabupaten Cianjur yang banyak disiarkan melaui radio di antaranya, siaran berita dan lintasan berita, spot iklan Pilkada dan kampanye pasangan calon, talk show dan siaran langsung dari lokasi kampanye atau aktivitas-aktivitas yang langsung berhubungan dengan proses pelaksanaan Pilkada.

Berdasarkan Tabel 18 dapat dijelaskan sebagian besar reponden (92%) mendengarkan informasi kampanye dan isu Pilkada melalui siaran radio, selama masa kampanye, dan 8% tidak mendengarkan kampanye melalui siaran radio. Sebagian besar responden mendengarkan siaran radio sebanyak 1 sampai 6 kali (63%), lebih dari 6 kali (29%), dan tidak sama sekali (8%). Sedangkan dilihat berdasarkan jumlah siaran radio yang didengarkan oleh responden, kebanyakan hanya mendengar dari satu siaran radio saja (63%), 2 siaran radio (26%), dan lebih dari dua siaran radio (3%).

Siaran radio yang paling banyak didengarkan responden selama periode masa kampanye, secara berturut-turut, Pasundan FM, didenganrkan oleh 61 responden (48,80%), Radio Siaran Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur (RRI Cianjur) 27 reponden (21,60 %), Tjandra FM 20 reponden (16%), Mora FM 7 reponden (5,60%), Qi FM 4 reponden (3,20%), El Shinta 3 reponden (2,40%), Antasalam 2 responden (1,60%) dan Trisara FM 1 responden (0,80%).

(27)

Tabel 18. Distribusi peubah terpaan informasi kampanye melalui radio

No. Indikator Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Frekuensi mendengarkan radio

Frekuensi : lebih dari 9 kali 7-9 kali 4-6 kali 1-3 kali

tidak sama sekali

10 19 37 26 8 10 19 37 26 8 2. Banyaknya siaran radio yang didengarkan

lebih dari 3 siaran radio 3 siaran radio

2 siaran radio 1 siaran radio tidak sama sekali

1 2 26 63 8 1 2 26 63 8

3. Siaran radio yang paling banyak didengarkan Pasundan FM RSPD Kabupaten Cianjur Tjandra FM Mora FM Qi FM El Shinta Antasalam Trisara FM 61 27 20 7 4 3 2 1 48.80 21.60 16.00 5.60 3.20 2.40 1.60 0.80

Selain Pasundan FM, beberapa siaran radio yang digunakan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Cianjur sebagai mitra dalam penyiaran spot dan informasi Pilkada, seperti Radio Suara Samudera FM, Radio SKN AM, Radio Bintang FM, Radio Nurani FM, Radio Kathalina FM, dan Radio Pas AM tidak ada satu responden pun yang menyatakan mendengarkan informasi kampanye dari radio-radio tersebut. Sementara Radio Pasundan FM, Radio Siaran Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur (RRI Cianjur), Radio Tjandra FM merupakan radio yang paling banyak didengarkan oleh responden dalam menerima informasi kampanye.

Uraian di atas menjelaskan bahwa sebagian dari responden memiliki siaran radio favorit, dan sebagian besar menerima informasi dari satu siaran radio saja. Adapun responden yang menerima informasi kampanye lebih dari satu siaran radio, diduga ia memiliki siaran favorit di lebih dari satu siaran radio atau secara sengaja maupun tidak sengaja menerima informasi dari siaran radio lain.

Siaran radio yang paling banyak dipilih oleh responden adalah siaran radio lokal Cianjur. Stasiun radio lainnya, seperti Antasalam, Qi FM, Mora FM adalah siaran radio Bandung yang dapat ditangkap di beberapa wilayah Cianjur.

(28)

Sedangkan Radio El-Shinta adalah merupakan radio nasional yang secara khusus menyiarkan berita-berita aktual dari berbagai pelosok Indonesia.

Terpaan Media Televisi

Media massa televisi adalah media elektronik audio-visual yang dapat dilihat dan didengar, memerlukan berbagai perangkat penerima/penangkap siaran yang tergantung pada lokasi atau tempat. Walaupun media siaran memiliki daya jangkau yang luas, tetapi tidak semua tempat dapat menerima siaran dengan baik. Informasi yang ditangkap melalui siaran televisi bersifat selintas, tidak dapat diulang, tetapi informasi yang diperoleh dapat mengendap dalam daya ingatan manusia lebih lama jika dibandingkan perolehan informasi yang sama tetapi melalui membaca. Hal ini disebabkan karena gambar/visualisasi bergerak yang berfungsi sebagai tambahan dan dukungan informasi penulisan narasi penyiar atau reporter memiliki kemampuan untuk memperkuat daya ingat manusia dan memanggilnya (recall) kembali (Muda 2003).

Pertimbangan media televisi dijadikan salah satu media yang digunakan untuk mengukur terpaan informasi kampanye karena, pertama, pada saat ini televisi bukan lagi termasuk barang mewah dan sebagian penduduk menggunakan media ini sebagai sarana informasi dan hiburan; kedua, siaran televisi, khususnya TVRI Jabar-Banten (Bandung) dalam Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006, digunakan sebagai sarana sosialisasi dan informasi Pilkada serta menyiarkan berita seputar kampanye Pilkada Kabupaten Cianjur tahun 2006.

Terpaan media televisi diukur dengan banyaknya frekuensi responden menonton siaran televisi selama periode masa kampanye. Wilayah Cianjur Utara, Timur dan Barat dapat menangkap siaran televisi cukup baik siaran nasional maupun regional (TVRI Jabar-Banten).

Berdasarkan Tabel 19 dapat dijelaskan, sebagian besar reponden (91%) menyatakan menerima informasi kampanye dan informasi Pilkada Kabupaten Cianjur tahun 2006 melalui siaran televisi selama periode 14 hari masa kampanye. Hanya 9% responden saja yang menyatakan sama sekali tidak pernah menyaksikan informasi kampanye melalui siaran televisi. Namun sebagian besar responden hanya satu sampai tiga kali saja (46%) menerima informasi kampanye melalui siaran televisi, yang lainnya empat sampai enam kali

(29)

sebanyak 26%, tujuh sampai sembilan kali 11% dan yang lebih dari sembilan kali 8%.

Tabel 19 Distribusi peubah terpaan informasi kampanye melalui televisi No. Indikator Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Frekuensi

nonton televisi Frekuensi : lebih dari 9 kali 7-9 kali 4-6 kali

1-3 kali

tidak sama sekali

8 11 26 46 9 8 11 26 46 9 2. Jumlah siaran televisi yang ditonton

lebih dari 3 siaran TV 3 siaran TV

2 siaran TV 1 siaran TV tidak satu pun

2 6 25 58 9 2 6 25 58 9 3. Siaran TV yang paling banyak ditonton TVRI Jabar-Banten SCTV RCTI Trans TV Metro TV Indosiar Bandung TV STV TPI Lativi QTV 83 15 13 7 3 2 2 1 1 1 1 64.34 11.63 10.08 5.43 2.33 1.55 1.55 0.78 0.78 0.78 0.78

Berdasarkan banyaknya siaran televisi yang ditonton, sebagian besar responden menyatakan hanya menerima informasi kampanye dari satu siaran televisi saja (58%), selebihnya 25% menyatakan dari dua siaran televisi, 6% dari tiga siaran televisi dan yang menonton di lebih dari tiga siaran televisi hanya 2% saja. Siaran televisi yang paling banyak ditonton responden adalah siaran TVRI Jabar-Banten (Bandung), dinyatakan oleh 83 responden (64,34%). Hal ini menandakan bahwa pemilih masih memiliki perhatian yang besar terhadap informasi kampanye di tengah gencarnya terpaan siaran hiburan (musik, sinetron, film dan sebagainya) dari berbagai stasiun televisi swasta. Sedangkan responden yang menerima informasi kampanye dari stasiun TV swasta nasional, hanya sekitar 27% saja, yang paling banyak ditonton adalah SCTV (11,63%), RCTI (10,08%) dan Trans TV (5,43%). Siaran televisi lainnya di bawah 5%.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa media televisi juga merupakan media komunikasi yang banyak menerpa pemilih di masa-masa kampanye di

(30)

samping surat kabar dan radio. Media televisi memberikan informasi visual yang bergerak dan lebih menarik perhatian dibandingkan dengan media lainnya. Tetapi siaran televisi memiliki keterbatasan dalam menyampaikan informasi karena sifatnya selintas dan memiliki aturan durasi yang ketat. Siaran TVRI Jabar-Banten (Bandung) banyak ditonton oleh masyarakat Kabupaten Cianjur, diduga karena memiliki jadual siaran yang tetap, terutama siaran “Berita Daerah” yang ditayangkan sore hari, dan secara rutin menginformasikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jawa Barat.

Terpaan Media Luar Ruang dan Post Material

Media luar ruang (poster, spanduk), dan post material (sticker, direct mail), yang juga disebut media lini bawah, termasuk dalam kategori komunikasi medio, yang berada di antara komunikasi antarpersona dan komunikasi massa. Media ini sering digunakan dalam dunia periklanan. Bentuk komunikasi ini tidak termasuk dalam kategori komunikasi massa tetapi memiliki situasi pada komunikasi massa (Ardianto dan Erdinaya, 2004). Media luar ruang yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah media kampanye yang berbentuk cetakan yang secara sengaja disebarkan atau di pasang di tempat-tempat strategis yang mudah dilihat dan diakses oleh umum. Pada umumnya pesan dalam media ini hanya berupa gambar/tulisan yang berisi slogan atau pesan-pesan singkat.

Terpaan media luar ruang dan post material diukur dengan banyaknya frekuensi responden melihat atrubut-atribut kampanye dalam bentuk media luar ruang, seperti baliho (billboard), spanduk dan poster, yang pada umumnya berukuran besar dan dipasang di tempat-tempat terbuka yang dapat dilihat dengan mudah oleh masyarakat. Sedangkan atribut-atribut kampanye dalam bentuk post material, meliputi sticker dan pamplet atau selebaran, yang pada umumnya disebarkan atau dipasang di tempat-tempat terbuka, namun ukurannya relatif kecil dibandingkan dengan poster.

Pertimbangan disatukannya jenis media luar ruang dengan post material, karena kedua jenis media ini merupakan bentuk media yang memiliki karakteristik yang hampir sama, umumnya dipasang atau ditempel ditempat-tempat terbuka yang mudah dilihat orang. Karakteristik kedua jenis media ini mempunyai kesamaan dalam penyebarannya maupun bentuk informasi yang disampaikannya, seperti dalam bentuk gambar calon dan/atau nama pasangan

(31)

calon maupun slogan-slogan yang merupakan ciri khas identitas pasangan calon. Oleh karena itu untuk mengukur terpaan informasi kampanye melalui media luar ruang dan post material didasarkan pada frekuensi melihat atau menyaksikan bentuk-bentuk media luar ruang dan post material yang paling banyak ditemukan selama masa kampanye berlangsung.

Tabel 20. Distribusi peubah terpaan informasi kampanye melalui media luar ruang/pos material

No. Indikator Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Frekuensi menyaksikan media luar ruang/post material

frekuensi : lebih dari 9 kali 7-9 kali 4-6 kali 1-3 kali

tidak sama sekali

73 4 14 6 3 73 4 14 6 3 2. Banyaknya bentuk media luar ruang dan/atau post material yang

disaksiskan

lebih dari 3 media 3 media

2 media 1 media

tidak sama sekali

59 16 10 12 3 59 16 10 12 3

3, Bentuk media luar ruang/post material

yang banyak disaksikan Spanduk Pamplet/selebaran Poster Sticker Baliho Bentuk lainnya 80 79 75 68 47 11 22,22 21,94 20,83 18,89 13,06 3,06

Berdasarkan Tabel 20 dapat dijelaskan bahwa sebagian besar reponden (97%) menyatakan melihat atau memperhatikan pesan-pesan kampanye dalam bentuk media luar ruang/post material, dan hanya 3% saja responden yang menyatakan sama sekali tidak pernah melihat media informasi kampanye tersebut. Sebagian besar responden melihat atau menyaksikan media luar ruang dan/atau post material lebih dari 9 kali (73%), yang lainnya, sebanyak 7 sampai 9 kali (4%), 4 sampai 6 kali (14%), dan 1 sampai 3 (6%).

Banyaknya responden yang menyatakan melihat atau menyaksikan media kampanye dalam bentuk media luar ruang dan/atau post material , dapat dijelaskan bahwa media tersebut dipasang dan ditempel di tempat-tempat strategis dan dinding-dinding rumah penduduk mulai sejak hari pertama masa kampanye hingga akhir masa kampanye. Karakteristik media ini pada umumnya bersifat tahan lama dan tidak mudah dilepas, sehingga tidak heran kalau setiap

(32)

orang bisa berkali-kali melihat media tersebut, walaupun belum tentu memperhatikan secara seksama (hanya melihat sepintas saja) pesan-pesan kampanye tersebut karena pada umumnya hanya memuat gambar dan informasi singkat saja.

Sedangkan dilihat dari banyaknya bentuk media yang dibaca atau disaksikan oleh responden, nampak bahwa 59% dari responden mengaku melihat lebih dari 3 bentuk media luar ruang/post material, sebanyak 3 media 16%, 2 media 10%, dan 1 media 12%. Sementara responden yang tidak melihat satu media pun hanya 3% saja. Banyaknya responden yang menyatakan melihat lebih dari 3 bentuk media luar ruang dan/atau post material, dapat dijelaskan bahwa bentuk-bentuk media luar ruang dan post material merupakan bentuk-bentuk media kampanye yang paling banyak digunakan dalam setiap kampanye politik, baik dari segi bentuk maupun jumlahnya. Bentuk-bentuk media luar ruang dan post material nampaknya masih dipandang sebagai sarana yang paling efektif untuk menyampaikan informasi kampanye dibandingkan dengan jenis media lainnya.

Bentuk media luar ruang dan post material yang paling banyak dilihat oleh responden, teridiri atas, spanduk (22,22%), pamplet/selebaran (21,94%), poster (20,83%), sticker (18,89%), Baliho (13,06%), dan bentuk lainnya (3,06%). Baliho (billboard), walaupun dilihat dari bentuknya memiliki ukuran yang sangat besar dibandingkan dengan spanduk, dan dapat cepat menarik perhatian orang, namun karena jumlah media kampanye delam bantuk ini jumlahnya tidak banyak, hanya di sejumlah tempat tertentu saja, maka tidak heran kalau tidak banyak responden yang menyatakan melihat bentuk media ini

Bentuk lain dari media luar ruang dan post material yang disebarkan pada masa kampanye, tetapi jumlahnya relatif terbatas adalah dalam bentuk pin yang bentuknya bulat dan bergambar pasangan calon (umumnya hanya dipakai oleh anggota Tim Kampanye), syal (ikat kepala) yang bertuliskan nama pasangan calon, serta lambang partai politik yang dipasang pada label air minum (aqua gelas) yang biasanya dibagikan kepada kader-kader partai politiknya pada saat kampanye dan berbagai bentuk medai lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa media luar ruang dan post material merupakan media yang paling banyak variasinya yang digunakan oleh kandidat dalam menyampaikan pesan-pesan kampanye.

(33)

Bedasarkan uraian tersebut dapat disimpilkan bahwa media luar ruang dan post material merupakan media yang mampu menerpa khalayak pemilih secara luas di banding jenis-jenis media lainnya. Dilihat dari karakteristk bentuk medianya, spanduk paling banyak dilihat responden karena ukurannya besar, dipasang di tempat yang tinggi dan mudah dilihat serta tersebar hampir di seluruh pelosok daerah. Sementara pamplet/selebaran, poster dan sticker merupakan bentuk media yang ditempel di tempat-tempat strategis, seperti dinding-dinding rumah, toko, tembok, kaca mobil, angkutan kota dan sebagainya. Selain itu bentuk media ini juga disebarkan kepada penduduk dan orang-orang yang melintas di tempat-tempat kampanye.

. Hal ini menandakan bahwa media luar ruang, yang selama ini paling banyak digunakan sebagai media kampanye, masih efektif menerpa khalayak pemilih. Namun demikian karena informasi yang disampaikannya relatif terbatas dan bersifat propaganda, bentuk media informasi ini akan efektif mempengaruhi pemilih yang kurang kritis terhadap pesan kampanye, yang dalam teori Elaboration Likelihood Model, termasuk kategori yang mengambil jalur pheriperal dalam mengolah informasi.

Kampanye Tatap Muka

Kampanye tatap muka adalah bentuk kampanye yang mengerahkan massa atau kelompok pendukung salah satu kandidat, baik dilaksanakan pada ruang terbuka (rapat umum), kampanye ruang tertutup, debat pasangan calon maupun pawai keliling. Bentuk kampanye ini paling disukai oleh kandidat dan sering dianggap suatu keharusan ritual dalam setiap pemilihan umum. Kampanye seperti ini juga lebih sering diisi dengan panggung hiburan dan arak-arakan sambil meneriakan yel-yel dan propaganda daripada diisi dengan penyampaian program kerja (visi dan misi) yang ditawarkan oleh kandidat.

Terpaan media kampanye tatap muka diukur dengan banyaknya frekuensi responden menghadiri kampanye tatap muka, seperti kampanye terbuka (atau rapat umum), kampanye tertutup, dialog atau debat pasangan calon dan arak-arakan/pawai. Kampanye terbuka (rapat umum), adalah bentuk kampanye yang dilaksanakan di lapangan terbuka, menghadirkan massa pendukungnya dan umumnya bertujuan untuk unjuk kekuatan (show of force). Dalam kegiatan kampanye seperti ini biasanya diselingi dengan hiburan dan dilanjutkan dengan arak-arakan/pawai di jalan.

(34)

Kampanye tertutup umumnya dilaksanakan di suatu ruangan/gedung yang dihadiri oleh kader-kader partai politik pendukungnya dan tokoh-tokoh masyarakat dengan tujuan untuk memperkuat/memperteguh (reinforcment effect) dukungan dari kader-kadernya. Bentuk kampanye dialog/debat pasangan calon dilaksanakan secara interaktif, menghadirkan tokoh atau pengamat sebagai panelis yang mengajukan sejumlah pertanyaan kepada setiap pasangan calon, dan terbuka untuk umum. Debat/dialog pasangan calon dalam kampanye Pilkada Kabupaten Cianjur Tahun 2006 dilaksanakan pada hari pertama masa kampanye. Kegiatan tersebut direkam dan kemudian disiarkan ulang di TVRI Jabar-Banten (Bandung). Sedangkan kampanye dalam bentuk arak-arakan/pawai dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor melintasi jalan-jalan yang ada di wilayah kampanye sambil meneriakan yel-yel kampanye.

Tabel 21. Distribusi peubah terpaan informasi kampanye melalui bentuk kampanye tatap muka

No. Indikator Kategori (orang) Jumlah Persentase (%)

1. Frekuensi menghadiri

kampanye tatap muka frekuensi : lebih dari 9 kali 7-9 kali 4-6 kali 1-3 kali

tidak sama sekali

13 13 29 25 20 13 13 29 25 20 2. Banyaknya bentuk kampanye tatap muka yang diikuti

lebih dari 3 bentuk kampanye 3 bentuk kampanye

2 bentuk kampanye 1 bentuk kampanye tidak sama sekali

7 14 33 26 20 7 14 33 26 20 3, Bentuk kampanye tatap muka yang paling banyak diikuti

arak-arakan/pawai kampanye terbuka dialog/debat kampanye tertutup bentuk kampanye lainnya

56 44 20 8 10 40,58 31,88 14,49 5,80 7,25

Berdasarkan Tabel 21 dapat dijelaskan, responden yang menyatakan pernah menghadiri atau menyaksikan kampanye tatap muka adalah sebanyak 80%, dan 20% menyatakan tidak pernah sama sekali. Sebaran frekuensi responden dalam menghadiri atau menyaksikan kampanye, paling banyak 4 sampai 6 kali (29%), dan satu sampai tiga kali (25%). Sedangkan yang menyatakan menghadiri kampanye 7 sampai 9 kali dan lebih dari 9 kali, masing-masing adalah 13%.

Gambar

Tabel 4. Banyaknya Desa/Kelurahan, RW dan RT setiap kecamatan berdasarkan  Wilayah Pembangunan tahun 2004
Tabel 5.  Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur menurut kelompok umur dan jenis      kelamin tahun 2004
Tabel 7. Jumlah penduduk 10 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan  usaha  dan jenis kelamin tahun 2004
Tabel 8. Perolehan Suara Parpol dan Kursi Anggota DPRD Kabupaten Cianjur  pada  Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2004
+7

Referensi

Dokumen terkait

pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 5 Kubu. Pembahasan berkaitan dengan proses pembelajaran berdiskusi menggunakan model pembelajaran TAI yang meliputi perencanaan,

Alasan memilih lokasi dan objek penelitian di atas antara lain; seni beluk grup Pusaka Jaya Sri Modern yang berlokasi di Kampung Cikaramas Desa Sukawangi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan karakteristik tiga responden yaitu key informans, masyarakat pengguna jalan, dan masyarakat sekitar memilih

Sodium nitrat merupakan bahan kimia intermediet (bahan antara) yang selanjutnya dapat diolah dalam pembuatan pupuk yang mengandung senyawa nitrogen, pembuatan kaca,

Ancaman bencana (hazard) tentu saja tidak akan serta merta menjadi bencana jika tidak bertemu dengan kerentanan. Namun, ketika kerentanan masyarakat terhadap sebuah ancaman

Pada penelitian ini dilakukan perhitungan mengenai pengaruh rain fading terhadap kualitas layanan HSDPA pada penggunaan video conference , berdasarkan parameter

Penelitian uji tanah penting dilakukan dengan tujuan: (a) membuat status hara K tanah yang berbeda pada tanah Andisol, (b) menguji beberapa metode ekstraksi K

Informan Irene, yang berada pada posisi pembacaan dominan hegemonik, melihat bahwa Liga Italia Serie A di TVRI sudah sesuai dengan kebutuhan publik, karena