• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK DAN KENDALA PETERNAKAN ITIK GEMBALA DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSPEK DAN KENDALA PETERNAKAN ITIK GEMBALA DI INDONESIA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Peternakan don Veteriner 1997

PROSPEK DAN KENDALA PETERNAKAN ITIK GEMBALA

DI INDONESIA

A. R. SETIOKO

Balai Penelitian Tentak, P.O. Box 221, Bogor 16002 RINGKASAN

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi itik terbesar di dunia. Pemeliharaan itik sebagian besar masih dilakukan secara tradisionil atau digembala di sawah dan/atau di rawa-rawa . Sistem gembala merupakan cara pemeliharaan itik dengan biaya rendah yang sangat menguntungkan walaupun produktiftasnya rendah . Cara pemeliharaan ini cukup penting sebagai lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan yang mempunyai skill/kemampuan dan modal yang terbatas . Beberapa studi tentang itik gembala telah dilakukan dengan tujuan untuk melihat secara mendalam mengenai cara-cara pemiliharaan ini, masalah clan potensi dan upaya untuk meningkatkan pendapatan petani di pedesaan . Fluktuasi produksi umumnya terkait dengan perpindahan itik untuk mencari areal persawahan banl. Pemberian pakan tambahan pada masa tidak ada panen ("Boro") juga telah direkomendasikan pada pemeliharaan itik secara gembala. Pengembangan teknologi untuk menunjang program intensirikasi itik diarahkan untuk merubah sistem pemeliharaan tradisionil menjadi lebih intensif secara bertahap dan berkesinambungan. . Kata kunci : Prospek, kendala, peternakan itik

PENDAHULUAN

Berdasarkan data FAO (1995) populasi itik di dunia saat ini diperkirakan sebesar 681 juta ekor, clan dari populasi tersebut sebanyak 575 juta ekor atau 84% berada di Asia. Diantara negara-negara Asia, Cina memiliki populasi itik tertinggi yaitu sekitar 443 juta ekor, diikuti oleh Vietnam clan Indonesia masing-masing 30 clan 27 juta ekor. Oleh sebab itu Indonesia menlpakan negara nomor tiga tertinggi populasi itik di dunia. Di negara-negara Asia Selatan, itik telah lama digunakan sebagai sumber telur utama untuk konsumsi manusia . Dari China Selatan sampai Indonesia, clan dari India sampai ke Filipina merupakan daerah penghasil padi. Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell clan itik Pateros dari Filipina secara tradisional mengikuti panen padi, memakan serangga, keong, clan padi yang rontok waktu panen.

Itik di Indonesia memiliki potensi sebagai sumber pendapatan bagi peternak kecil di pedesaan, baik sebagai usaha pokok maupun sambilan. Sebagian besar itik yang ada masih dipelihara secara tradisional yaitu dengan sistim gembala di sawah-sawah lepas panen. Produksi telur itik gembala bervariasi tergantung ketersediaan pakan di sawah, dengan rata-rata produksi sekitar 22,5% (SETIOKo et aL, 1985). Rendahnya produksi ini disebabkan semakin intensipnya sistem persawahan kita yang dibarengi dengan penggunaan pestisida dan bahan-bahan kimia lain yang sangat menlgikan itik gembala.

Beberapa peternak telah mencoba menlbah sistem pemeliharaan itik dari gembala menjadi dikandangkan . Nannin tidak sedikit yang gagal karena kurangnya pengetalwan tentang cara-cara beternak itik clan tidak tersedianya bibit itik yang baik. Selain itu pembuatan ransum itik yang secara ekonomis tidak seimbang dengan harga jual telur dapat menyebabkan gagalnya usaha peternakan itik terkunmg.

(2)

SeminarNasional Peternakan don Peteriner 1997

Bibit itik lokal yang diperoleh dari peternak tradisional ternyata tingkat produktifitasnya masih sangat rendah clan tidak seragam. Dari hasil monitoring, hanya sekitar 20% dari itik Tegal yang ada mampu berproduksi diatas 65%, bahkan separuh dari seluruh itik yang ada hanya bertelur kurang dari 20% (SETIOKO et al. 1994). Hal ini membuktikan bahwa pemeliharaan secara tradisionil perlu menclapat perhatian yang lebih baik guna meningkatkan produksi maupun efisiensi.

Tujuan dari review ini adalah untuk mengevaluasi potensi clan kendala-kendala pada sistem pemeliharaan itik gembala, menginventarisir informasi tentang sistem pemeliharaan itik gembala, clan menjabarkan prospek dan kendala pengembangan itik gembala di Indonesia.

1. Populasi clan produktifitas itik petclur

RANGKUMAN HASIL

Kebutuhan akan lelur itik di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan kemajuan ekonomi masyarakat dan pertumbuhan pencluduk. Kenaikan rata-rata produksi telur itik nasional selama Pelita V (1989 - 1993) hanya sebesar 9,5%, sedangkan pada telur ayam buras clan ayam ras masing-masing 16,4 clan 35,4%. Menurut data dari DIREKTORATIENDERALPETERNAKAN (1995) populasi itik selama Pelita V meningkat sebesar 10,3 % dibanding ayam buras dan ayam ras masing-masing 16,4 % dan 35,3%. Apabila difllat kedua data tersebut, maka kenaikan populasi itik selama Pelita V ticlak sejalan dengan kenaikan produksinya, sedangkan pada ayam buras clan ayam ras petclur, produksi telur menunjukkan konsistensi yang sama dengan kenaikan populasi. Dari uraian diatas jelas baliwa telah terjadi penurunan produktifitas itik petelur. Oleh karena itu perlu dicari akar pemasalahannya mengingat peternakan itik selalu terkait dengan kehidupan petani kecil di pedesaan. Sebagian besar populasi itik petelur masih dipelihara dengan digembala di sawah, sedangkan telur untuk bibit itik belum dibedakan dengan telur konsumsi. Untuk itu, maka dua aspek tersebut, yaitu rnanajemen itik gembala dan bibit, merupakan faktor penting penyebab rendahnya produktifitas telur itik di Indonesia.

Dimodiliikasi duri : Buku Statistik Petemakan, 1995

Tabel 1. Populasi

1993) dan produksi telur ayam buras, ayam ras dan itik selama Pelita V (1989 -Tahun Populasi (x1000 ekor) Produksi ( x 1000 ton)

Ayam Ayam Itik Aygm Ayam Itik

Buras Ras Buras Ras

1989 191 .433 40.452 24 .135 80,4 262,0 113,8 1990 201 .366 43 .185 25 .553 84,6 279,8 119,6 1991 208.966 46.885 25 .369 87,8 303,8 118,8 1992 222 .530 54.146 27.342 93,5 350,8 128,0 1993 222 .893 54.736 26.618 93,6 354,7 124,6 Rata-rata kenaikan 16,4% 35,3% 10,3% 16,4% 61,4% 9,5 selama Pelita V

(3)

Seminar NasionalPeternakan don Veteriner 1997

Sebagian besar telur itik yang dipasarkan di kota-kota besar termasuk Jakarta, telah diproses terlebih daliulu menjadi telur asin oleh pengrajin lokal (ABUBAKARet al., 1993). Harga pasaran

telur itik di Jakarta sangat bervariasi dari waktu ke waktu tergantung suplai telur dari Jawa-Tengah dan Jawa-Barat yang merupakan sumber telur itik terbesar untuk DKI. Pada saat musim panen, produksi telur itik dari Jawa Tengah meningkat, sehingga harga akan turun, sebaliknya harga akan naik bila suplai telur berkurang. Faktor lain yang juga mempengaruhi harga telur adalah faktor musim. Pada musim penghujan umumnya produksi telur itik gembala meningkat, karena adanya genangan air disawah-sawah tadah hujan atau sungai-sungai yang banyak tersedia pakan itik gembala. Musim kemarau umumnya kekurangan air sehingga prodtiksi telur itik menurun. Berdasarkan pengamatan di lapang, kontribusi telur itik yang berasal dari itik yang dikandangkan untuk pasaran di DKI Jakarta relatif sangat kecil, walaupun data statistik masih belum ada.

Selain telur itik, hasil ikutan lainnya, seperti pupuk kandang, bulu itik, dan daging anak itik jantan clan itik aikir juga merupakan sumber pendapatan tambahan. Bulu itik banyak diekspor untuk keperluan pembuatan perkakas tidur (bedding materials) . Baik nilai maupun volumenya cenderung naik dari tahun ke tahun. Permintaan akan pupuk kandang di Jakarta cukup tinggi untuk digunakan dalam mentiurang program penghijauan wilayah kota.

2. Potensi itik gembala

Itik di Indonesia mempunyai potensi yang cukup tinggi dan sangat berperan dalam menyumbang perekonomian di pedesaan, sehingga merupakan komoditas yang penting bagi sumber pendapatan petani kecil. Namun demikian bila ditinjau dari segi populasi itik, produksi clan pemasaran telur itik, ternyata bahwa perkembangan peternakan itik di Indonesia secara umum sangat lambat dibanding jenis unggas lainnya. Hal ini mungkin disebabkan karena sebagian besar sistem pemelihaaan yang ada masih bersifat tradisional dan sangat erat kaitannya dengan persawahan, sedangkan kondisi sawah kita semakin intensip baik dari segi penanganannya maupun dari segi penggunaan bahan kimia (SETIOKO, 1997). Kendala tersebut perlu segera ditanggulangi agar potensi yang ada dapat dikembangkan menjadi usaha yang bersifat komersial dan benvawasan agribisnis.

Menurut PETHERAM dan THAHAR (1983) pemeliharaan itik gembala di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi empat, yaituju//y mobile, semi mobile, home baseddanopportunist. Fully mobile adalah cara pemeliharaan itik yang selalu berpindah-pindah mengikuti panen padi, clan peternak tidak memiliki rumah tinggal yang tetap. Pada malam hari mereka tinggal di tenda-tenda didekat kandang itik yang dikelilingi dengan pagar bambu di desa pinggiran areal persawahan. Biasanya mereka pindah cukup jauh dengan menggunakan alat transportasi, secara bersama-sama untuk mengurangi biaya. Namun pada saat sekarang, cara ini sudah semakin sulit untuk dijumpai. Kelompok kedua yaitu semi mobile, yaitu sama dengan diatas, tetapi peternak memiliki rumah tinggal untuk hidup dengan keluarganya. Pada saat itik mengalami rontok bulu (molting) peternak akan pulang ke rumah clan tinggal bersama keluarga sampai itik mulai bertelur kembali. Cara pemeliharaan home basedadalah cara penggembalaan itik yang hanya mengikuti panen di sekitar kampungnya saja, sehingga tidak memindahkan itiknya ke daerah lain. Bila tidak ada panen, biasanya itik dibiarkan berkeliaran di saluran irigasi, kolam, atau genangan air disekitar sawah. Pakan tambahan diberikan berupa jagung, menir, dedak atau gaplek. Pemeliharaan itik secara

opportunistadalah peternak membeli itik pada saat menjelang musim panen di kamptingnya, clan

menjual lagi bila panen usai. Untuk daerah yang memiliki panen padi dua kali per tahun, biasanya peternak memelihara sampai dua periode panen sebelum itiknya dijual.

(4)

Itik gembala mendapatkan pakan dari sawah selain dari pakan tambahan yang diberikan peternak. Pada saat panen, pakan yang dikonsumsi itik umumnya berupa padi, keong, serangga, daun-daunan dan bahan lain yang tidak dapat dikenal, terutama lumpur (Tabel 2.). Bahan tersebut jumlahnya sangat bervariasi antara individual itik, waktu dan tempat atau kondisi sawah. Kandungan nutrisinya juga bervariasi, tetapi rata-rata kandungan protein kasarnya hanya 9,3% dibawah standard kebutuhan untuk itik petelur menurut NRC, dan kalsium (Ca) 5,4%,' di atas standard kebutuhan untuk itik petelur. Walaupun rata-rata kandungan kalsium cukup tinggi, namun bila dilihat variasi sepanjang tahun yang tinggi, maka pada waktu tertentu, terutama pada saat ridak ada keong, maka kandungan kalsiumnya akan rendah. Oleh sebab itu, pada itik gembalaa

disarankan untuk diberikan pakan tambahan untuk meningkatkan kandungan nutrisi.

Sumber : £VANS dan SETIOKO, 1985

SeminarNasional Peternakan dan Veteriner 1997

Pemberian pakan tambahan untuk itik gembala terutama pada masa tidak ada panen (masa "Boro") menjadi penting untuk meningkatkan produktifitas. S£TtOKO(1992) menunjukkan bahwa pemberian pakan tambahan dengan bahan dasar tepung ikan dan premix dapat meningkatkan produksi telur dari 38,2 % menjadi 48,9 % dan rata-tara berat telur meningkat dari 67,3 g menjadi 71,5%, sedangkan berat bagian-bagian telur meningkat sejalan dengan meningkatnya berat telur. Namun perhitungan pengamatan atas biaya pakan (income over feed cost) menunjukkan bahwa kelompok perlakuan tersebut tidak ekonomis karena harga pakan tambahan, terutama tepung ikan,

relatif mahal sedangkan hargajual telur ukuran besar dan kecil tidak.berbeda.

Studi tentang pemberian pakan tambahan dengan menggunakan tepung limbah kepala udang telah dilakukan(S£TIOKOet al., 1994). Pakan tambahan yang diberikan terdiri dari tepung kepala

udang 85,7%, tepung kapur 10,3%, Lysine 1,2%, Methionin 0,35% dan Premix B 2,45%. Pakan diberikan 24 g/ekor/hari selama periode 4 bulan pengamatan di Kabupaten Subang Jawa Barat. Rata-rata produksi telur selama empat bulan pengamatan menunjukkan bahwa kelompok perlakuan (46,59%) secara nyata lebih tinggi dibanding dengan kontrol (35,97%) seperti terlihat pada Tabel 3 . Berat telur secara nyata lebih tinggi pada kelompok perlakuan dibanding kontrol, dan berat bagian-bagian telur cenderung mengikuti pola pertambahan berat telur tersebut.

Tabel 2. Komposisi isi tembolok dari itik

diambil dari hasil pemotongan itikgembala diselama satutahun)Kab. Cianjur dan Karawang (data

Bahan Komposisi Kisaran Protein

Kasar M.E. P Ca (%) (°/u) (K.Cal/kg) (%) (%) Padi 77,2 59,2-91,1 7,10 2084,4 0,300 0,05 Keong 17,4 1,5-33,6 1,92 230,28 0,220 5,23 Serangga 1,0 0,3 -14,7 0,64 40,71 0,005 0,02 Daun-daunan 0,5 0,1-4,5 0,11 14,53 0,002 0,01

Bahan tak dikenal 3,6 2,4-10,1 0,17 - 0,008 0,05

Jumlah 100,0 - 9,94 2370 0,535 5,36

(5)

SeminarNasional Peternakan dan Vetenner 1997

Tabel 3. Rata-rata produksi telur itik gembala yang diberi perlakuan pakan tambahan dan tanpa perlakuan selama 4 bulan pengamatan di Kabupaten Subang, Jawa Barat

Sumber :SE"n11K0et al., 1994

Ternak itik mempunyai beberapa kelebilian dibanding unggas lain antara lain, (a) itik mampu mempertahankan produksinya lebih lama dibanding ayam, sehingga dapat mengurangi biaya penggantian itik (replacement cost) setiap tahunnya; (b) dengan sistem pengelolaan yang sederhana itik mampu berproduksi dengan baik. Sebagai contoh itik gembala yang dipelillara di sawah dengan sistem perkandangan yang terbuat dari anyaman bambu dan sebagian ditutup dengan atap jerami untuk bertelur masih mampu berproduksi dengan baik; ( c) mortalitas atau angka kematian itik pada umumnya kecil, sehingga itik dikenal sebagai unggas yang tahan penyakit; (d) itik bertelur pada pagi hari sehingga pengumpulan telur hanya dilakukan satu kali, waktu kosong pada siang hari dapat digunakan peternak untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain (e); itik dapat memanfaatkan pakan berkwalitas rendah dimana bila pakan tersebut diberikan ke unggas lain maka unggas tersebut tidak mampu berproduksi ; (f) produksi telur asin yang hanya dapat dibuat dari telur itik serta daging itik yang sangat populer dibeberapa tempat seperti Bali dan Kalimantan-Selatan dapat merangsang peternak untuk memelihara itik.

3. Masa depan peternakan itik gembala di Indonesia

Pada taluln 1970-an, intensifikasi produksi padi, tenltama di Jawa, meningkatkan indek pertanaman, sehingga populasi itik gembala meningkat. Akhir-akhir ini dengan semakin intensifnya sistem persawallan, dan dibarengi dengan penggunaan pestisida dan bahan-balian kimia lain di sawah menyebabkan semakin terdesaknya itik gembala. SETIOKO et al. (1989)

melaporkan bahwa paling sedikit ada tiga kenigian. Pertama, penggunaan pestisida yang semakin meningkat baik secara langsung maupun tidak langsung dapat menlgikan itik gembla. Kedua, jarak antara panen dan tanam sangat singkat, sehingga kesempatan itik digembala menjadi sangat pendek. Ketiga, dengan semakin majunya sistem irigasi, pengeringan sawah seminggu menjelang panen untuk mempercepat proses pemasakan padi menyebabkan semakin sulitnya itik digembala. Dengan semakin rendallnya tingkat produktifitas itik gembala akibat semakin intensifnya sistem

No. Kelompok 1 Kelompok Rata-rata 43,76 Perlakuan SD 16,33 Kelompok Rata-rata 40,13 Kontrol SD 26,80 11 52,67 20,20 40,18 24,35 111 47,32 13,69 29,02 27,78 IV 47,60 13,26 36,94 22,26 V 46,78 14,11 37,91 26,35 VI 41,42 20,21 31,67 21,65 Rata-rata 46,59 16,92 35,97 25,32

(6)

SeminarNasional Peternakan dan Veteriner 1997

persawahan, maka pada tahun 1980, telah dicanangkan program intensifikasi peternakan itik yng realisasinya tersendat-sendat. Dengan kondisi yang demikian, maka masa depan peternakan itik gembala di Indonesia akan tidak mengutungkan bagi peternak, sehingga perlu dicari jalan keluarnya. Adanya anjuran bagi petani untuk memelihara ikan sawah, akan membatasi itik gembala memanfaatkan sumber pakan di sawah setelah panen. Tidak jelas keuntungan yang diperoleh petani yang mengijinkan sawahnya dimasuki itik, selain mendapatkan uang sewa yang jumlahnya relatif kecil. Pembayaran sewa ini menjadi begitu penting agar ada jaminan dimasa

yang akan datang dapat dipelihara lagi di sawah tersebut .

Kinerja produksi ternak dipengaruhi oleh faktor genetik, maupun non-genetik atau lingkungan dengan/tanpa interaksinya . Oleh karena itu perbaikan terhadap faktor genetik untuk mengasilkan bibit itik yang baik perlu juga didukung oleh perbaikan terhadap faktor-faktor non genetik seperti manajemen dan pakan. Ternak itik di Indonesia memiliki potensi yang cukup tinggi sebagai penghasil telur. Hal ini tercermin dari hasil penelitianCHAvEzdanLASMINI(1978) bahwa itik Tegal, bila dipelihara secara intensif, mampu mengasilkan telur rata-rata kelompok sebesar 212 butir/ekor/talrtiiV. Dari angka tersebut, 4% bertelur diatas 300 butir/ekor/tahun, clan 8% bertelur < 100 butir/ekor/tahun . Data tersebut diatas menunjukkan bahwa itik lokal memiliki

potensi untuk dikembangkan lagi melalui program seleksi yang cermat .

Masa depan itik gembala dipenganihi oleh beberapa faktor, namun secara umum ada tendensi bahwa peternak itik gembala cendenmg untuk tidak memindalikan kelompok itiknya ke lokasi yang jauh asalkan keuntungan yang diperoleh lebih besar atau minimal sama. Perubahan sistem gembala menjadi terkuning dibutuhkan modal kerja yang cukup tinggi . Tanpa adanya bantuan kredit Bank, bcbcrapa peternak tidak akan mampu menibah pola pemeliliaraan yang ada . Hanya peternak yang memiliki itik banyak yang secara finansial mampu untuk melakukan perubahan.

Rekomendasi penelitian itik gembala di masa yang akan datang

Itik gembala menipakan kegiatan yang penting bagi peternak yang memiliki kemampuan/ skill terbatas untuk mendapatkan pekerjaan usalia tani yang layak. Keuntungan dari itik gembala ialah bahwa sistem gembala praktis tidak membutuhkan bahan pakan itik yang bersaing dengan manusia dan modal yang digunakan relatif kecil. Mengingat aktifitas itik gembala sangat erat terkait dengan sawah, maka masa depan sistem ini sangat tergantung pada sistem persawahan yang dapat menigikan itik gembala . Beberapa keuntungan itik gembala yang tampaknya dapat membantu petani ialah bahwa dengan adanya itik di sawah mereka, kotorannya dapat digunakan sebagai pupuk kandang dan keberadaan itik juga dapat mengurangi serangga pengganggu tanaman padi .

Dengan semakin kompleksnya masalah yang dapat mempengaruhi produktifitas itik gembala, maka kesempatan untuk meningkatkan manajemen pemeliharaan itik semakin terbuka. Namun, perlu dilakukan evaluasi yang mendalam sebelum program intensifikasi itik betul-betul dilaksanakan . Beberapa rekomendasi topik penelitian yang dapat menurunkan biaya produksi clan peningkatan produktifitas antara lain sebagai berikut

1 . Pemberian pakan tambahan yang tepat untuk itik gembala pada masa tidak ada panen yang sifatnya spesifik lokasi .

2. Teknologi untuk mengurangi penunman produksi itik gembala pada waktu pemindahan itik ke areal penggembalaan yang bani.

(7)

3 . Jumlah itik optimal untuk satu kelompok yang dapat dikelola oleh seorang penggembala. 4. Pembatasan areal penggembalaan dengan teknik kombinasi gembala dan terkurung. 5. Teknik rontok bulu paksa (molting) untuk itik petelur tua yang digembalakan .

6. Pengembangan sistem pemeliharaan itik kombinasi gembala dan terkurung yang efisien. 7. Program breeding melalui seleksi untuk menghasilkan bibit itik yang cocok untuk kedua

sistem yaitu gembala dan terkuning.

8. Srudi tentang pemeliharaan itik grower dengan sistem gembala sebagai penghasil bakalan dan pejantan untuk pedaging .

Seminar NasionalPeternakan dan Veteriner 1997

KESIMPULAN

Pemeliharaan itik gembala sudah lama dilaksanakan petani, masih dan akan terus berlangsung di daerah-daerah persawahan yang luas.

Itik gembala menlpakan sistem pemeliharaan itik dengan biaya rendah, dan sebagai mata pencaharian petani yang memiliki kemampuan/skill rendah dan modal lemah.

Pemberian pakan tambahan sebanyak 24 g/ekor/hari berupa premix dengan baltan dasar tepung kepala udang, selain dapat meningkatkan kualitas telur, juga meningkatkan pendapatan petani Dengan semakin intensifnya sistem persawahan, maka keberadaan itik gembala menjadi terdesak

Pcrlu studi yang lebill mendalam tentang perbaikan manajemen pemeliharaan itik gembala untuk menurunkan biaya produksi dan peningkatan produktifitas.

DAFTAR PUSTAKA

ABUKAKAR, A.R.SETIOKO,danA.P. SINURAT . 1993. Pengaruh Sistem Pemeliharaan Itik Intensif dan Ekstensif dan Lama Penggaraman Terhadap Sifat Organoleptik Telur Itik Asin. Majalah Ilmu dan Peternakan . Vol 6 No. 1 Pp 42-05

CHAvEz, E.R. and A. LASMINI. 1978. Comparative Performance of Native Indonesian Egg Laying Ducks. Centre Report No. 6. Centre for Anunal Research and Development, Bogor, Indonesia.

Dir

. JEN PETERNAKAN .1995. Statistik Peternakan . Direktorat Bina Produksi, Dit. Jen. Peternakan Jl. Salema Raya 16, Jakarta .

EvANs, A.J. and A.R.SETIOKO . 1985. Traditional System of Layer Flock Management in Indonesia. Duck Production in Indonesia. In Duck Production and World Practice, Farrell, D.J. and Stapleton, P. (Ed). University ofNew England, Pp 306-322

FAo PRODUCTION YEARBOOK . 1995 . Statistic Series No. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome, 1995

PETHERAM, R.J. and A. THAHAR .1983. Duck Egg Production System in West Java. Agricultural System 10 1993. Pp. 75-86.

SETIOKO, A.R. 1997. Recent Study on Traditional System of Duck Layer Flock Management in Indonesia. Proceeding of 11 th European Symposium on Waterfowl. Nantes, September 8 10, 1997. Pp 491 -498 .

(8)

SeminarNasional Peternakan dan Veteriner J997

SETIOKO, A.R. 1989. Budidaya Itik. Paper Disajikan Pada Lokakarya dengan Petugas PPL dan Staf Dinas Petemakan Propinsi Jawa-Barat. Bandung 30 Maret, 1989.

SETIOKo, A.R ., D.J.S. HETZEL and A.J. EvANs. 1985. Duck Production in Indonesia. In Duck Production and World Practice, Farrell, D.J. and Stapleton, P. (Ed). University ofNew England, Pp 418 - 427 SETIOKO, A.R., A. SYAM SUDIN, M. RANGKUTI, H. BuDDAAN dan A. GUNAwAN .1994. Budidaya Ternak Itik.

Pusat Perpustakaan Pertanian aan Komunikasi Penelitian Badan Litbang Pertanian.

SETIOKO, A.R., A.P. SINURAT, P. SETIADI and A. LAsMINI .1994. Pemberian Pakan Tambahan Untuk Pemeliharaan Itik Gembala di Subang, Jawa Barat. Majalah IIrnu dan Peternakan. Vol 8 No. 1, Agustus, 1994. Pp. 27-33.

SETIoKo, A.R., A.P. SINURAT, P. SETIADI, A. LASMINI, dan P. KETAREN .1992. Pengaruh Perbaikan Nutrisi

Terhadap Produktifitas Itik Gembala Pada Masa Boro. Prosiding Agro-Industri Peternakan di Pedesaan. Balai Penelitian Ternak. Pp. 428 - 437.

Gambar

Tabel 1. Populasi
Tabel 2. Komposisi isi tembolok dari itik
Tabel 3. Rata-rata produksi telur itik gembala yang diberi perlakuan pakan tambahan dan tanpa perlakuan selama 4 bulan pengamatan di Kabupaten Subang, Jawa Barat

Referensi

Dokumen terkait

Bukti pergerakan abu hasil pembakaran ini terlihat dengan meningkatnya BD pada kedalaman 10-20 cm (Gambar 3) Selain itu penurunan kemampuan gambut untuk mengikat

diperoleh p- value (0,00) &lt;α (0.05) yang artinya ada hubungan antara kebisingan dengan penurunan pendengaran telinga kanan pada tenaga kerja di area produksi

Selama 12 periode Pasar Lelang Komoditi Agro dilaksanakan dapat dilihat bahwa komoditi Jagung Hibrida cukup konsisten ada dan menghasilkan kontrak di Pasar

Kepemilikan manajemen dalam perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi konflik kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen (Isnanta, 2008).

1) Dengan gambaran yang komprehensif, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengetahui kearifan lokal

Bagian yang membentuk butiran cairan halus (atomizing devices). Bagian dari sprayer yang berfungsi untuk memecah cairan menjadi butiran-butiran halus, biasa disebut

Nilai R Square atau nilai koefisien determinasi adalah sebesar 0,682 yang artinya perilaku atau variasi dari variabel independen mampu menjelaskan perilaku atau variasi dari

Karyawan bagi Hotel Phoenix Yogyakarta merupakan salah satu unsur penting, namun sesuai dengan pengamatan serta observasi yang dilakukan peneliti pada akhir tahun 2010 sampai