5 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.2,No.4 Mei 2002
terdapat dibeberapa negara Eropa khususnya di Jerman. Buku-buku tersebut kebanyakan berupa naskah-naskah keagamaan yang dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi cetak grafts yang memukau, merupakan karya yang memiliki nilai seni tinggi. Yang
mengagumkan adalah teknik
pewarnaan yang dipakai luar biasa indah dan masih (tidak luntur) bertahan hingga sekarang. Selain itu didukung pula oleh sistim perawatan yang luar biasa apik.
Karya grails pada buku seni yang dianggap tertua di Eropa ditemukan antara tahun 1460-1465 di Jerman, lalu tahun 1471 menyusul Italia, di Belanda tahun 1475, di Perancis tahun 1478 lalu di Inggris tahun 1481. Pembuatan buku seni semakin berkembang dengan ditemukannya huruf cetak oleh Gutenberg pada sekitar abad itu juga .
Pada masa selanjutnya pembuatan buku seni menjadi tradisi dan berkembang terns menjadi kegiatan berkesenian sebagai salah satu alternatif berekspresi bagi seniman. Jerman tercatat sebagai salah satu negara pelopor dalam pembuatan dan
pengkoleksian buku seni. Ilustrasi pada buku-buku seni yang tua dibuat dengan menggunakan teknik Cetak Tinggi/cukil kayu, dan teknik pewarnaan serta pengembangan teknik cetak yang sistematis. Ketika teknik Cetak Dalam (Intaglio) dan Cetak Datar
(Lithografi) ditemukan, teknik tersebut dipergunakan juga dalam pembuatan ilustrasi buku.
Jerman memiliki beberapa museum
dibeberapa kota yang khusus
mengkoleksi buku seni dart yang tertua hingga yang paling modern. Salah satunya yang dianggap paling lengkap ada di kota Wolfenboettel. Di kota itu didirikan museum bernama Herzog August Bibliotheke sesuai dengan nama pemrakarsa berdirinya gedung tersebut. Museum ini menjadi penyimpanan ribuan koleksi buku-buku langka dart abad 14 hingga sekarang. Dikenal nama pengelola museum pencinta buku seni yang dianggap sebagai tokoh yang sangat berjasa dalam mengumpulkan buku-buku yang berharga yaitu Erhart Kaestner dan Paul Raabe karena mereka berjuang hampir 40 tahun lamanya mengumpulkan buku-buku berharga dan buku seni modern ciptaan
6 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.2,No.4 Mei 2002
seniman-seniman kaliber dunia. Sehingga pada tahun 1996 bisa menambah koleksi lebih dart 900 buku seni. 300 diantaranya ciptaan para seniman dunia yang dikenal dengan kelompok "Ecole de Paris", 400 buku seni lainnya ciptaan seniman Jerman dan selebihnya adalah koleksi bukuciptaan seniman dari berbagai negara di luar Eropa.
Dibeberapa negara lainnya seperti Itali di museum Vatikan dikoleksi pula buku-buku tua yang langka dengan ukuran yang terkecil hingga yang kolosal. Di Belanda, Inggris, Perancis dan beberapa museum di negara Timur Tengah pun banyak mengkoleksi buku-buku seni yang sangat berharga dan langka. Buku-buku khususnya di Timur Tengah konon dibuat pada masa kejayaan Islam dengan teknik dan sistem pembuatan yang sangat rinci. Pada akhir abad 18 dan awal abad 19 Seniman-seniman era modern yang sudah cukup punya nama mulai tertarik untuk membuat ilustrasi Buku Seni, diantaranya yaitu William Blake, Delacroic, Monet, Toulouse-Lautrec . Di tahun 1920 dibuka pameran Livre de peintre yang dipelopori oleh Pierre
Bonnard. Ia berhasil menghimpun seniman Ecole de Paris untuk ikut ambil bagian dalam pameran ini. Diantaranya adalah Georges Braque, Marc Chagall, Giorgio de Chirico, Salvador Dali, Hans Arp, Max Ernst, Fernand Leger, Henry Matisse, Joan Miro, Pablo Picasso . Buku-buku karya Picasso, Miro, dan Chagall dianggap sebagai tonggak sejarah penciptaan buku seni modern di Eropa. Picasso dan Chagall merupakan penghasil buku seni yang paling produktif dan sangat inovatif. Teknik cetak grafis terutama Intaglio (cetak dalam) dan Litografi (cetak datar) mengalami perkembangan yang luar biasa dalampemanfaatannya. Picasso menghasilkan 142 buah buku seni selama hidupnya sehingga is dijuluki Pencipta buku seni terbesar abad modern. Ciptaannya yang sangat dikenal adalah bukunya yang berjudul
Tauromaquia, tentang pertarungan
Matador dan Banteng. Chagal menciptakan buku seni yang juga terkenal yaitu Mein Leben ( 1922 ) terjual dengan harga 40.000 DM, buku pertama yang paling mahal di dunia saat itu. Diikuti oleh Joan Miro,
7 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.2,No.4 Mei 2002 Anthoni Tapies, Piero Dorazio dan
Victor Pasmore.
Perkembangan yang cukup revolusioner dalam penciptaan buku seni di Eropa adalah akibat besarnya pengaruh arus gerakan Dada dan Surealismus dengan tokoh-tokohnya Max Ernst, de Chirico, Jean Dubuffet, Piere Alenhinsky, Salvador Dali, Rene Magritt, Giacometti, Delvaux . Tipografi, Literatur dan Ilustrasi serta tata letak perancangan buku seni mengalami perubahan yang luar biasa bebas.
Perkembangan itu berbarengan dengan munculnya gerakan Hapenning, Fluxus, Nouveau Realisme/Neu Realisme dan tokoh-tokohnya yaitu Maciunas, George Brecht, Filliou, Spoerri. Hingga awal tahun 60 an semakin banyak seniman-seniman terkenal menghasilkan buku seni. Hingga generasi muda saat itu yaitu Diter Rot yang tergila-gila dalam menulis catatan hariannya berupa buku seni, juga Joseph Beuys membuat ilustrasi karya sastrawan Richard Schaukal pada beludru yang sangat mewah.
Pada pertengahan tahun 60-70 an kejayaan buku seni mulai tergeser terutama di Perancis dimana kelompok
"Ecole de Paris" yang merupakan pelopor penciptaan buku seni betul betul hampir kehilangan gairah dengan munculnya gerakan Pop Art yang melanda hampir disetiap aspek kehidupan. Gerakan Pop Art dimulai
di Inggris dan Amerika yang
melambungkan nama-nama seniman sbb. Richard Hamilton, Peter Blake, Jim Dine, David Hockney, Allen Jones, R.B.
Kitaj, Jasper Johns, Robert
Rauschenberg, Andy Warhol,
Motherwell, Mark Bead, Tom
Wesselman, Roy Lichtenstein . Mereka
muncul dengan gerakan anti
kemapanan dan berhasil mencapai puncak ketenaran sebagai seniman garda depan Pop Art.
Bersamaan dengan itu muncul orang-orang yang sangat perhatian dan khawatir pada keadaan perkembangan buku seni. Dengan daya kreatifitas, kemauan keras serta kerjasama antara pihak percetakan dan pencinta buku
seni di Perancis, berusaha
membangkitkan kembali eksistensi buku seni. Berkat bantuan para pionir Inggris yang memiliki perusahaan percetakan pribadi yang cukup kuat yaitu William Moris, Cobden-Sanderson,
8 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.2,No.4 Mei 2002
Emery Walker, penciptaan dan
pemasyarakatan buku seni dapat tetap berkembang bahkan semakin produktif. Mereka mengajak para seniman untuk tetap meciptakan buku seni. Pionir-pionir tersebut menyediakan dana dan kesempatan bagi seniman-seniman untuk bereksperimen dan bereksplorasi dalam menciptakan buku seni. Hingga saat ini banyak seniman seniman muda yang menghasilkan buku seni yang luar biasa unik dan semakin berkembang
baik dalam cara penjilidan,
pengemasan, pemakaian bahan . Bahkan secara visual buku seni tidak lagi berupa buku secara konvensional yang terdiri dari lembaran-lembaran halaman kertas melainkan buku menjadi obyek seni berupa karya seni, yang mempunyai unsur bentuk buku, sehingga bentuk, bahan dan teknik bisa bermacam-macam, misalnya dibuat dari bahan batu, keramik, kayu .
Masa kini buku seni tidak cuma tampil sebagai sesuatu keindahan, ekspresi atau catatan pribadi dari senimannya saja akan tetapi berkembang sesuai dengan paradigma berkesenian yang
cenderung menuju kepemikiran
pluralistik. Buku seni bisa juga
diciptakan untuk menyampaikan
pemikiran atau menyatakan sikap tentang masalah kehidupan. Lebih jauh lagi dapat saja sebagai sarana pemecahan masalah yang sedang dihadapi oleh senimannya atau mewakili masyarakat tentang masalah sosial budaya yang kontekstual.
Perkembangan Buku Beni Modern di Indonesia
Kegiatan pembuatan buku seni di Indonesia ternyata cukup banyak dilakukan oleh seniman khususnya seniman yang berkarya dengan teknik cetak gratis. Buku seni dan istilah Bibliofil diperkenalkan oleh seorang seniman Grafis, Mochtar Apin (1923-1994) beliau dikenal sebagai salah satu pelopor Seni Grafis Indonesia. Perkembangan buku seni "modern" di Indonesia dimulai setelah tahun 1945 ketika Mochtar Apin menciptakan buku seni yang berjudul "Pantjangan Pertama" yang dibuat dengan teknik
Linolium.
Pada buku kedua Mochtar Apin kembali mempelopori suatu aksi sensasional, kali ini beliau bersama seniman grafis lain yaitu Baharoedin Marasutan atas
9 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.2,No.4 Mei 2002
sponsor negara menerbitkan album karya seni grafis untuk memperingati
setahun kemerdekaan bangsa
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1946. Kemudian dikirimkan ke negara-negara yang telah mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Album karya Grafis itu berisikan sembilan belas karya Grafis yang bertemakan potret kehidupan rakyat Indonesia dengan mempergunakan teknik Linolium, 10 karya Baharoedin dan 9 karya M. Apin. Disertai teks dengan tipografisederhana yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Perancis. Karya Grafis tersebut dapat dikatakan menyerupai buku seni, tidak dijilid tapi disusun dalam satu wadah dicetak sebanyak 36 edisi. Tokoh-tokoh seniman Indonesia tidak tinggal diam, pada peringatan kemerdekaan Republik Indonesia beberapa tahun kemudian mereka bergabung membuat karya buku seni
bersama, yang diberi judul „Liberte
Merdeka" yaitu Mochtar Apin, Popo Iskandar, But Muchtar, Saini, AD Pirous, Srihadi, Sidharta, Kaboel Suadi, Jusuf Affendy dan Angkama
Setjadipradja. Buku seni ini dibuat dalam dua bahasa yaitu bahasa
Indonesia dan Perancis disusun oleh Paul Eluard dan F. Sumargono. Buku seni generasi 1945-1963 mempunyai ciri yang selalu bertemakan kepahlawanan dan semangat kemerdekaan yang sangat tinggi.
Pada tahun 1971 yang menarnakan diri Grup 18 membuat buku seni yang terdiri dari seniman-seniman dari ITB yaitu Sanento Yuliman dan kawan-kawan. Teknik yang dipakai adalah teknik Serigrafi, masing-masing seniman menampilkan satu karya. Dikemas dalam bentuk map tidak dijilid seperti buku.
Awal tahun 70-an adalah tahun dimana seniman Indonesia cukup produktif dalam menghasilkan buku seni. Diantaranya adalah Rai Kalam, yang mengambil prosa sastra dan daerah Bali untuk Buku Seninya. Haryadi Suadi dengan ke Cirebonannya hingga saat ini masih produktif membuat buku seni, lalu menyusul Usnadibrata, Teddy Sam. N, Priyanto. S.. Buku seni pada saat itu berbeda dengan pada awal kemerdekaan Indonesia, terlihat kecenderungan yang menonjolkan kedaerahan atau dari latar belakang senimannya.
10 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.2,No.4 Mei 2002
Pada akhir tahun 70-an hingga akhir tahun 80-an terjadi kemandegan dalam penciptaan buku seni, hal ini mungkin saja dampak yang disebabkan oleh kondisi ketidak bebasan berkesenian di tanah air. Hal-hal yang yang dianggap
membahayakan stabilitas
negaraseringkali diredam dan tidak diizinkan oleh pemerintahan pada saat itu. Hal ini terjadi pula dalam bidang seni lainnya seni musik, teater, sastra. Akhir tahun 80-an dan menjelang awal tahun 90-an kegiatan berkesenian
mulai tampak semarak kembali.
Diperkirakan perekonomian di tanah air mulai meningkat, sistem informasi mulai
lebih terbuka dan pemerintah
tampaknya mulai mapan dengan sistem
politiknya sehingga mulai mau
bekerjasama dengan seniman-seniman yang dapat diajak kompromi. Pada saat pembangunan merebak terlihat banyak
seniman yang dirangkul oleh
pemerintah untuk dilibatkan dalam
pembangunan di tanah air.
Berbarengan pula saat itu
terjadi„Booming Lukisan", yang
menyebabkan seniman berlomba
membuat lukisan. Hal ini berdampak cukup positif pada kegiatan seni rupa
khususnya seni gratis. Penciptaan buku seni mulai tampak menggeliat seniman seniman muda mulai muncul dan beberapa diantaranya tergerak untuk membuat buku seni. Diantaranya adalah, Tisna Sanjaya berkolaborasi dengan karya Gunawan Muhamad, Yoga Sayoga,Anne Nurfarina, Devi Ferdianto,Kumara Lili, Dina Riyanti,
AgusSuwage. Meskipun hal-hal
konvensional masih tampak dalam perupaan, akan tetapi terasa jelas perubahan terjadi apabila dilihat dari tema, teknik, cara pengemasan dan perupaannya, lebih bebas dan cukup beragam.
Pendidikan Tinggi Seni Rupa pun
mempunyai andil dalam
perkembanganbuku seni, khususnya Seni Rupa ITB, karena pada tahun 90-an awal mulai ditawark90-an dalam kurikulum sebagai pilihan dalam karya tugas akhir kesarjanaan. Hal ini memungkinkan semakin banyaknya buku Seni di ciptakan. Perkembangan yang cukup baik terlihat dan keragaman perupaan dan kreasi pengemasan. Diharapkan dengan andil institusi pendidikan dikemudian hari kegiatan penciptaan buku seni dapat tetap