• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN. terancam punah dengan kategori kritis (critically endangered) ada 69 spesies,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I. PENDAHULUAN. terancam punah dengan kategori kritis (critically endangered) ada 69 spesies,"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN 1.1. L a ta r Belakang

Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi namun memiliki daftar panjang tentang satwa liar yang terancam punah (Haryanto, 1994). Paling tidak tercatat 185 jenis mamalia, 121 jenis burung, 32 jenis reptil, dan 32 jenis ampibi yang merupakan satwa liar di Indonesia yang terancam punah menurut IUCN (2013). Jumlah total spesies satwa Indonesia yang terancam punah dengan kategori kritis (critically endangered) ada 69 spesies, kategori endangered 197 spesies, dan kategori rentan (vulnerable) ada 539 jenis (IUCN, 2013).

Kepunahan spesies dapat terjadi melalui proses alami namun sebagian besar merupakan akibat manusia. Kegiatan manusia yang mengancam kelestarian satwa liar yaitu : berkurang dan rusaknya habitat, fragmentasi habitat,serta perburuan dan perdagangan satwa liar (Primack et al., 1998). Berkurangnya luas hutan menjadi faktor penting penyebab berkurang dan rusaknya habitat satwa liar di Indonesia. Selama periode 1950-an hingga tahun 2012 luasan hutan di Indonesia menurun dari sekitar 162 juta ha menjadi 133 juta hektar (Kementerian Kehutanan, 2012). Perburuan dan perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar Indonesia karena hampir 60% mamalia yang diperdagangkan adalah jenis yang langka dan dilindungi undang-undang (Profauna, 2014).

Salah satu mamalia yang status konservasinya mengalami kelangkaan dan dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia adalah rusa timor (Rusa timorensis

(2)

Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Demikian juga Hedges et al. (2008) dalam IUCN (2014) mengkategorikan Rusa timorensis sebagai

Vulnerable (rentan). Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan populasi rusa timor adalah penurunan kuantitas dan kualitas habitat dan adanya perburuan liar (Sumadi et al., 2008).

Perburuan yang berpengaruh terhadap penurunan populasi rusa timor umumnya dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan hutan. Pengetahuan perburuan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat lokal sudah ada di beberapa daerah seperti Papua (Pattiselanno, 2007; Pattiselanno dan Mentansan, 2010) (Freddy Pattiselanno, Manusawai, Arobaya, & Manusawai, 2015) dan Kalimantan (Harrison et al., 2011; Wadley dan Colfer, 2004). Namun informasi kegiatan perburuan tradisional di wilayah Nusa Tenggara Timur masih sangat terbatas. Padahal realitasnya banyak kegiatan perburuan adat yang dilakukan oleh masyarakat di Nusa Tenggara Timur, yang salah satunya dilakukan oleh masyarakat Suku Baar. M otif perburuan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan Tanjung Torong Padang ini adalah perburuan tradisional untuk kepentingan adat. Masyarakat Suku Baar menganggap perburuan yang mereka lakukan merupakan suatu bentuk pengelolaan yang bisa melestarikan rusa timor. Namun menurut Primack et al. (1998), jika perburuan dan pemanenan tidak diatur, baik oleh hukum maupun aturan adat, spesies tersebut akan didorong untuk punah.

Secara alami, dinamika rusa timor yang ada di kawasan Tanjung Torong Padang dipengaruhi adalah adanya komodo (Varanus komodoensis Ouwens). Rusa timor menjadi salah satu satwa mangsa komodo selain babi hutan (Sus scrofa

(3)

Linnaeus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles), kerbau liar

(Bubalus bubalis) dan kuda liar (Equus caballus Linnaeus) (Auffenberg, 1981). Perubahan habitat melalui mekanisme penggembalaan ternak dan pembakaran savana diindikasi memengaruhi habitat rusa timor. Pola penggembalaan ternak di dalam hutan memengaruhi kondisi hutan melalui mekanisme kerusakan tanah akibat injakan kaki ternak dan menurunkan kemampuan inflitrasi tanah (Savadogo et al., 2007; Sawadogo et al., 2005), kerusakan tumbuhan, persaingan, dan potensi terjadinya penularan penyakit dari ternak kepada satwa liar dan sebaliknya (Kukielka et al., 2013; Dohna et al., 2014; Alikodra 2010). Di Taman Nasional Baluran sebanyak 3.852 ekor sapi dan 1.156 ekor kambing memasuki kawasan tersebut (Pudyatmoko, 2017). Masyarakat pedesaan yang tinggal di sekitar hutan khususnya di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai kebiasaan menggembalakan ternaknya di hutan-hutan, bahkan di dalam kawasan konservasi (Kayat et al., 2011; Saragih et al., 2010).

Pola penggembalaan ternak di dalam hutan memiliki potensi untuk memengaruhi kondisi hutan sebagai habitat satwa liar melalui mekanisme kerusakan tanah akibat injakan kaki ternak dan menurunkan kemampuan inflitrasi tanah (Savadogo et al., 2007; Sawadogo et al., 2005), kerusakan tumbuhan, persaingan, dan potensi terjadinya penularan penyakit dari ternak kepada satwa liar dan sebaliknya (Kukielka et al., 2013; Dohna et al., 2014). Terkait relasi spasial antar spesies pernah diteliti oleh Imron dan Sinaga (2007). Keberadaan ternak kuda di kawasan Tanjung Torong Padang memiliki potensi sebagai penyebab penurunan kuantitas dan kualitas habitat rusa timor melalui mekanisme kompetisi. Kompetisi

(4)

antara satwa liar dan ternak dapat dibuktikan dengan adanya tumpang tindih antara keduanya dalam penggunaan sumberdaya bersama (Riginos et al., 2012), perolehan pakan (Prins, 2000) dan penggunaan habitat yang sama (Butt dan Turner, 2012).

Keberadaan ternak kuda di kawasan Tanjung Torong Padang memiliki potensi sebagai penyebab penurunan kuantitas dan kualitas habitat rusa timor melalui mekanisme kompetisi. Adanya kompetisi antara satwa liar dan hewan ternak dapat dibuktikan dengan adanya tumpang tindih antara keduanya dalam penggunaan sumberdaya bersama (Riginos et al., 2012), perolehan pakan (Prins, 2000) dan penggunaan habitat yang sama (Butt dan Turner, 2012).

Selain penggembalaan ternak, perilaku masyarakat yang biasa membakar lahan akan menyebabkan perubahan terhadap kondisi habitat satwa liar (Alikodra, 2010). Dampak ekologis dari kebakaran dapat mengakibatkan terjadinya kematian tumbuhan, serta memengaruhi kehidupan berbagai organisme yang hidup didalamnya (Alikodra, 1990). Namun pembakaran lahan yang dilakukan tidak selamanya berdampak negatif, karena di beberapa wilayah, api merupakan salah satu faktor ekologi yang penting dalam ekosistem savana. Api berperan penting dalam menjaga ekosistem savana (Bond dan Parr, 2010; Uys et al., 2004; Loiola et al., 2010; Beckage et al., 2011; Imron dan Kohi, 2005). Pembakaran savana akan memusnahkan tanaman rumput yang tidak palatable dan kering serta merangsang pertumbuhan tanaman muda yang lebih disukai hewan herbivora (Reksohadiprodjo, 1985).

Pembakaran lahan untuk mengelola savana saat ini masih menimbulkan banyak pertentangan di Indonesia. Dampak ekologis dari kebakaran lahan dapat

(5)

mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan (Rasyid, 2014), kematian tumbuhan (Liedloff dan Cook 2007), serta memengaruhi kehidupan berbagai jenis fauna yang hidup didalamnya (Alikodra, 2010; Doamba et al., 2014). Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan beberapa peraturan perundangan terkait dengan larangan pembakaran hutan dan atau lahan, seperti Undang-Undang (UU) Nomor 32 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; UU Nomor 41 tentang Kehutanan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan; dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.12/Menhut-II/2009 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan.

Selain pengelolaan populasi dan habitat rusa timor, beberapa upaya lain telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam rangka pelestarian populasi satwa langka. Upaya tersebut diantaranya pada zaman Pemerintahan Belanda telah dikeluarkan Undang-Undang (UU) Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad

1931 Nummer 133), UU Cagar Alam dan Suaka Margasatwa tahun 1932, yang dikeluarkan karena telah terjadi penurunan populasi yang dianggap kritis. Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang menyatakan bahwa rusa merupakan satwa langka yang perlu dilindungi.

Walaupun sudah banyak produk hukum yang terlahir untuk tujuan konservasi satwa liar seperti disebutkan di atas, namun azas-azas hukum tersebut semuanya berdasarkan hukum tertulis yang meniru pola negara-negara Barat.

(6)

Padahal masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, bila dikaji secara mendalam telah mempunyai budaya cukup tinggi dalam mengelola lingkungan. Meskipun berbagai upaya itu tidak tertulis, sangat perlu dikaji sebagai bahan dasar perumusan untuk menentukan azas pengelolaan sumberdaya satwaliar secara komprehensif. Dengan memerhatikan berbagai hukum tertulis dan juga hukum adat atau pranata-pranata tradisional, mungkin dapat dirumuskan azas-azas pengelolaan sumberdaya satwaliar yang mempunyai cakrawala luas (Djuwantoko, 2005).

Selain produk hukum, sudah banyak kawasan perlindungan yang diciptakan untuk melindungi satwa liar. Namun terbentuknya kawasan perlindungan seringkali belum menjamin kelestarian spesies satwa liar (Primack et al., 1998). Begitu pula halnya pada pelestarian spesies rusa timor, walaupun beberapa kawasan konservasi sudah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan, dan rusa timor telah ditetapkan sebagai satwa liar yang dilindungi pemerintah, namun demikian belum menjamin kelestarian populasi rusa timor tersebut (Iqbal, 2004). Oleh karena itu perlu suatu bentuk pengelolaan yang mengakomodir kepentingan sosial budaya masyarakat namun tidak mengesampingkan aspek kelestarian spesies satwa liar.

Dalam rangka pengelolaan hutan beserta isinya, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan adalah sebuah keharusan demi tercapainya masyarakat sejahtera di sekitar hutan yang lestari. Suatu kawasan ekologis dan sosio-budaya masyarakat harus diperhatikan (Sutaryono, 2008). Salah satu bentuk sosio-budaya masyarakat berupa potensi pengetahuan ekologi tradisional dan lokal untuk berkontribusi terhadap konservasi keanekaragaman hayati telah diakui secara luas. Dengan mengintegrasikan pengetahuan ekologi tradisional dan lokal ke dalam konservasi

(7)

keanekaragaman hayati, diharapkan usaha ini akan berhasil (Charnley et al., 2007). Hak-hak masyarakat adat dan kebijakan konservasi harus menerima bahwa masyarakat adat dapat memiliki dan mengelola kawasan lindung, sehingga masyarakat adat dapat berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan lindung (Colchester, 2004). Upaya konservasi rusa timor bisa melibatkan masyarakat sekitar sehingga jika masyarakat sekitar sudah merasakan manfaat, mereka akan ikut berpartisipasi mengkonservasinya.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka beberapa masalah yang muncul antara lain: bagaimana strategi konservasi rusa timor dengan menyikapi fenomena yang ada, sejauhmana aktivitas masyarakat berupa penggembalaan ternak, pembakaran savana, dan perburuan adat memengaruhi dinamika habitat ekosistem savana dan populasi rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang. Berbagai pertanyaan tersebut kemudian melandasi penelitian ini yang diformulasikan dalam pertanyaan yaitu bagaimana merumuskan model konservasi rusa timor yang mengakomodir berbagai aspek yang memengaruhi dinamika populasi rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang, sehingga mampu memenuhi aspek konservasi dan aspek sosial-budaya masyarakat.

1.2. Rumusan Perm asalahan

Kawasan Tanjung Torong Padang merupakan kawasan savana yang ada di Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi satwa liar yang dilindungi Pemerintah seperti rusa timor dan komodo. Namun demikian, di sekitar kawasan Tanjung Torong Padang terdapat dua desa yang masyarakatnya sebagian besar hidup dari sektor pertanian, yaitu Desa Sambinasi dan Sambinasi Barat yang

(8)

masuk ke dalam wilayah di Kecamatan Riung Kabupaten Ngada Propinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Suku Baar merupakan salah satu suku kecil yang ada di wilayah Pulau Flores bagian utara, yang mendiami kedua wilayah desa tersebut. Permasalahan inti adalah adanya kebiasaan masyarakat Suku Baar melakukan penggembalaan ternak, pembakaran savana dan perburuan adat terhadap rusa timor untuk memenuhi kebutuhan hidup ekonomi dan adatnya.

Penggembalaan ternak kuda yang dilepas oleh masyarakat Suku Baar di kawasan Tanjung Torong Padang, diduga akan menjadi pesaing bagi rusa timor dalam perolehan pakan (Prins, 2000) dan penggunaan habitat yang sama (Butt dan Turner, 2012). Pada sisi lain, kebiasaan masyarakat Suku Baar membakar savana dikhawatirkan akan menyebabkan perubahan terhadap kondisi habitat rusa timor (Alikodra, 2010). Namun pada sisi lain, Bowles et al. (2011) menyatakan pembakaran yang berulang akan menurunkan tutupan kanopi dan akan meningkatkan kekayaan spesies dan kelimpahan rumput. Aspek penggembalaan ternak dan pembakaran savana tersebut diduga akan memengaruhi daya dukung kawasan savana Tanjung Torong Padang sebagai habitat rusa timor.

Kebiasaan masyarakat Suku Baar lainnya yang diduga memengaruhi rusa timor adalah perburuan adat. Perburuan adat yang dilakukan oleh masyarakat Suku Baar setiap tahun sekali dikhawatirkan akan menyebabkan spesies rusa timor akan punah, jika perburuan adat tersebut tidak diatur, baik oleh hukum maupun aturan adat (Primack et al., 1998). Namun, masyarakat Suku Baar menganggap perburuan yang mereka lakukan merupakan suatu bentuk pengelolaan yang bisa melestarikan rusa timor. Constantino (2015) mengatakan bahwa perburuan adat selain

(9)

berusaha mempertahankan adat, juga tidak menyebabkan spesies punah dan sekaligus melakukan manajemen satwa liar dan habitatnya. Untuk melihat implikasi perburuan adat oleh masyarakat Suku Baar terhadap kelestarian rusa timor maka perlu kajian yang mengungkap jenis perburuan tersebut.

Kajian yang komprehensif untuk membahas aspek-aspek tersebut menjadi permasalahan yang akan dicari jawabannya melalui penelitian ini yakni bagaimana pengaruh aktivitas masyarakat Suku Baar berupa penggembalaan ternak, pembakaran savana, dan perburuan adat terhadap dinamika populasi rusa timor dan daya dukung ekosistem savana sebagai habitat rusa timor.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dapat disusun perumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kondisi populasi rusa timor dan faktor-faktor yang memengaruhinya di kawasan Tanjung Torong Padang?

2. Bagaimana pengaruh pem bakaran savana dan penggem balaan ternak terhadap daya dukung pakan rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang?

3. Bagaimana konsekuensi praktek perburuan adat oleh masyarakat Suku Baar terhadap populasi rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang?

4. Bagaimana skenario terbaik untuk pengelolaan populasi rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang dengan pendekatan analisis sistem?

(10)

1.3. T ujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini merumuskan model konservasi rusa timor yang mengakomodir berbagai aspek yang memengaruhi dinamika populasi rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang.

Adapun tujuan spesifiknya adalah

1. Mengestimasi ukuran populasi rusa timor dan faktor-faktor yang memengaruhinya di kawasan Tanjung Torong Padang.

2. M engetahui pengaruh pem bakaran savana dan penggem balaan ternak terhadap daya dukung pakan rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang.

3. Mengetahui praktek perburuan adat oleh masyarakat di kawasan Tanjung Torong Padang.

4. Mengetahui skenario terbaik untuk pengelolaan populasi rusa timor di kawasan Tanjung Torong Padang dengan pendekatan analisis sistem.

1.4. Keaslian Penelitian

Penelitian populasi dan daya dukung habitat rusa timor telah banyak dilakukan (Santosa et al., 2008; Masy’ud, et al., 2008; 2007; Ratag eta. al., 2006; Saragih dan Kayat, 2010; Mukhtar, 1996). Namun demikian, penelitian populasi dan habitat rusa timor yang dipengaruhi perburuan adat, pembakaran savana dan penggembalaan ternak belum banyak dibuktikan. Penelitian terdahulu masih terbatas pada pengaruh perburuan liar (Sumadi, 2008; Iqbal, 2004) dan predator ajag (Sumadi, 2008) terhadap populasi rusa, dan pengaruh pengambilan rumput pakan ternak terhadap ketersediaan pakan rusa (Iqbal, 2004). Dengan demikian

(11)

belum ada informasi utuh mengenai pengaruh perburuan adat, pembakaran savana, dan penggembalaan ternak terhadap populasi dan habitat rusa timor. Hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan populasi dan habitat rusa timor dan beberapa faktor yang memengaruhinya tersaji pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Hasil-Hasil Penelitian yang Berkaitan Dengan Dinamika Populasi Rusa Timor

No Judul Penelitian Peneliti Tahun Ringkasan Hasil Penelitian 1. Pendugaan Model Yanto Santosa, 2008 Ukuran populasi rusa timor di TN Alas

Pertumbuhan dan Diah Auliyani, Purwo sebesar 8.157 ± 1.224 ekor Penyebaran Spasial dan Agus Priyono dengan kepadatan populasi sebesar Populasi Rusa Timor Kartono 0,20 ± 0,03 ekor/ha. Struktur umur

(Rusa timorensisde adalah progressive populationdengan

Blainville, 1822) sex ratioreproduktif 1:2,3. Laju di Taman Nasional pertumbuhan populasi sebesar 0,22 Alas Purwo Jawa dengan nilai daya dukung habitat

Timur sebesar 38.844 ekor/tahun.

2. Potensi Vegetasi Pakan Burhanuddin 2008 Produktivitas hijauan pakan rusa di dan Efektivitas Masy’ud, Indra Tanjung Pasir TN Bali Barat 40,17 Perbaikan Habitat Rusa Hadi Kusuma dan kg/ha/hari dan daya dukungnya Timor (Rusa Yandhi sebesar 324 ekor. Hasil identifikasi

timorensis,De Rachmandani pakan rusa dan tingkat Blainville 1822) Di palatabilitasnya. Tanjung Pasir Taman

Nasional Bali Barat

3. Pola Distribusi, Burhanuddin 2007 Pola persebaran rusa timor di Tanjung Populasi dan Aktivitas M asy’ud, Ricky Sari Taman Nasional Bali Barat tidak Harian Rusa Timor Wijaya, dan merata dan cenderung berkelompok. (Rusa timorensis, de Irawan Budi Terdapat sekitar 23 kelompok populasi Blainville 1822) di Santoso rusa timor. Jumlah total populasi rusa Taman Nasional Bali timor di Tanjung Sari TNBB

Barat diperkirakan mencapai 713 ekor

sampai 1320 ekor dengan komposisi umur anak 28 % dan dewasa 72 %., sex rasio antara jantan dan betina adalah 9:4.

4. Kajian Ekologi Elano Ratag, 2006 Produktivitas hijauan pakan rusa Populasi Rusa Sambar Yanto Santosa, sambar di kawasan TB Masigit (Rusa unicolor) dalam Agus Priyono K, Kareumbi rata-rata 2.956 kg/ha/hari. Pengusahaan Taman dan Tubagus Unu Total produktivitas biomassa hijauan Buru Nitibaskara pakan rusa sambar diduga sebanyak Gunung Masigit 20.790,6 kg/ha/th. Luas kawasan

Kareumbi TBMK yang dapat digunakan sebagai

blok pemanfaatan efektif adalah 6.900,1 ha sehingga daya dukung bagi rusa sambar seluruhnya mencapai 22.780 individu. Kuota buru

berdasarkan daya dukung habitat dan laju pertumbuhan populasi sebanyak 624 individu per tahun.

(12)

Lanjutan Tabel 1.

No Judul Penelitian Peneliti Tahun Ringkasan Hasil Penelitian 5. Eksplorasi Habitat dan

Populasi Rusa timor (Rusa timorensis timorensis

Blainville) di TWA P. Menipo dan Taman Buru Dataran Bena, Provinsi NTT

6. Studi Dinamika Populasi Rusa (Rusa timorensisde Blainville) dalam Menunjang Manajemen Taman Buru Pulau Moyo, Propinsi Nusa Tenggara Barat

7. Analisis Daya Dukung Habitat dan Model Dinamika Populasi Rusa Bawean (Axis kuhlu) di Suaka Margasatwa Pulau Bawean

8. Pendekatan Model Sistem Dalam Kebijakan

Pengelolaan Populasi Rusa (Rusa timorensisMul. & Schl.

1844) di Taman Nasional Baluran Grace S. Saragih dan Kayat Abdullah Syarief Mukhtar Achmad Iqbal

Agus Sumadi, Sri Utami, dan Efendi Agus Waluyo

2010 Hasil inventarisasi populasi Rusa timor di TWA P. Menipo diperoleh 313 ekor dengan komposisi: 103 ekor rusa jantan, 164 ekor rusa betina dan 64 ekor rusa anak.

Sedangkan di TB Dataran Bena sama sekali tidak ada perjumpaan langsung maupun temuan jejak kaki dan faeces. Hasil penghitungan

produktivitas pakan diperoleh, daya dukung TWA P. Menipo sebesar 7 ekor/Ha dan daya dukung TB Dataran Bena adalah 3 ekor/Ha.

1996 Kerapatan populasi di Pulau Moyo dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian, struktur umur, nisbah kelamin, migrasi, dan daya dukung habitat pada musim kemarau dan musim hujan. Daya dukung habitat dipengaruhi oleh faktor jenis hijauan pakan rusa, produktivitas hijauan, proper use, dan kebutuhan makan rusa per ekor per musim. Kerapatan populasi, struktur umur, waktu, unsur peluang hidup, laju pertumbuhan berpengaruh terhadap dinamika rusa. 2004 Dinamika populasi rusa bawean dipengaruhi oleh aktivitas perburuan dan pengambilan rumput untuk makanan ternak

2008 Perkembangan populasi rusa dipengaruhi oleh perburuan liar, serangan predator ajag (Cuon alphinus

Pallas 1811), dan daya dukung savana Bekol. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tingkat perburuan liar dan serangan predator ajag di atas 7% menyebabkan penurunan ________ populasi rusa._______________

(13)

1.5. M anfaat Penelitian

1. Pada aspek pengelolaan satwa liar, akan berperan dalam perbaikan peraturan yang ada dan bentuk pengelolaan yang melibatkan partisipasi masyarakat sebagai suatu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan.

2. Pada aspek ilmu pengetahuan, berperan sebagai sumber informasi dalam pengembangan ilmu bahwa pendekatan baru berupa pengetahuan sosial yang berpengaruh terhadap pengelolaan sumber daya alam.

3. Model yang diperoleh nantinya bisa dipertimbangkan sebagai acuan baru dalam regulasi perburuan adat yang lestari, sehingga ada keharmonisan antara sistem konservasi yang ada selama ini dengan konservasi tradisional masyarakat.

Gambar

Tabel  1. Hasil-Hasil Penelitian yang Berkaitan Dengan Dinamika Populasi Rusa  Timor

Referensi

Dokumen terkait

Agar produk mainan Indonesia bisa diterima di Perancis dan nilai perdagangannya bisa semakin meningkat, maka perlu sekali untuk mempromosikan secara intensif

merupakan letak pembuluh darah besar merupakan upaya memberikan rangsangan pada area preoptik hipotalamus agar menurunkan suhu tubuh akan tetapi dari hasil

Persoalan cabai merah sebagai komoditas sayuran yang mudah rusak, dicirikan oleh produksinya yang fluktuatif, sementara konsumsinya relatif stabil. Kondisi ini menyebabkan

Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi, singkatan atau akronim lebih dari satu, maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab

Nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,111 juga menunjukkan nilai yang lebih besar dari nilai pada tingkat signifikansi yang telah ditentukan yaitu sebesar

Sosialisasi didalam Kantor Pelayanan Pajak Mataram Barat itu sebagai bentuk jangka panjang, jadi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Mataram Barat tidak bisa mengukur

pertumbuhan bakteri dengan spektrum yang luas, yaitu dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif yang telah diwakilkan oleh kedua bakteri uji

Dengan melalui pleno dua kali yakni pada 17 Mei 2019 dan 20 Mei 2019 maka diper- oleh 25 (dua puluh lima) Unit Kerja yang memenuhi syarat untuk diajukan sebagai predikat WBK dan