• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Fix Skenario B Blok 27

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Fix Skenario B Blok 27"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

KAT

KATA PENGA PENGANTAR ANTAR 

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan seg

segalala a rahrahmamat t dadan n karkaruniunia-Na-Nya ya sehsehingingga ga lalaporporan an tututortoriaial l B B BlBlok ok 27 27 beberharhasil sil kamkamii selesaikan !aporan ini kami susun untuk memenuhi tugas laporan tutorial

selesaikan !aporan ini kami susun untuk memenuhi tugas laporan tutorial

"alam penyusunan laporan ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi, namun "alam penyusunan laporan ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi, namun kami menyadari bah#a kelan$aran dalam penyusunan laporan ini tidak lain berkat bantuan kami menyadari bah#a kelan$aran dalam penyusunan laporan ini tidak lain berkat bantuan dari dr %ulkarnain Musa,

dari dr %ulkarnain Musa, &pP&pP' sela' selaku ku tutor kami tutor kami yang telah yang telah meluangkmeluangkan an #aktu, tenaga,#aktu, tenaga, dan

dan pikipikiran ran daladalam m memmemberiberikan kan bimbimbingbingan, an, pengpengaraharahan, an, dan dan dorodorongan ngan daldalam am rangrangkaka  penyelesaian

 penyelesaian penyusunan penyusunan laporan laporan ini ini (ntuk (ntuk itu itu kami kami u$apkan u$apkan terima terima kasih kasih yang yang sebesar- sebesar- besarnya

 besarnya

)ami sadar laporan yang kami buat ini masih banyak kekurangan, baik pada teknik  )ami sadar laporan yang kami buat ini masih banyak kekurangan, baik pada teknik   penyusunan

 penyusunan maupun maupun materi, materi, mengingat mengingat akan akan kemampuan kemampuan yang yang kami kami miliki miliki sangatlahsangatlah terbatas (ntuk itu, kritik dan saran yang bersi*at membangun dari semua pihak sangat terbatas (ntuk itu, kritik dan saran yang bersi*at membangun dari semua pihak sangat kami harapkan untuk memperbaiki laporan ini 'khir kata, semoga laporan ini dapat kami harapkan untuk memperbaiki laporan ini 'khir kata, semoga laporan ini dapat  berman*aat bagi pemba$a

 berman*aat bagi pemba$a

Palembang, 2+ 'gustus2. Palembang, 2+ 'gustus2. Penyusun, Penyusun, )elompok Tutorial  )elompok Tutorial 

(2)
(3)

DAFTAR ISI DAFTAR ISI )' )'TT' ' PEN/'NTPEN/'NT'0'0 "'1T' "'1T'0 0 && 22 BAB I: PENDAHULUAN BAB I: PENDAHULUAN !atar

!atar BelakangBelakang33 '

' Maksud Maksud dan dan TuTujuanjuan33

BAB II: PEMBAHASAN BAB II: PEMBAHASAN '

' &kenari&kenario o ' ' Blok Blok 272744 B

B )lari*)lari*ikasi ikasi stilahstilah++ 5

5 denti*identi*ikasi kasi MasalahMasalah.. "

" 'nalis'nalisis is MasalahMasalah77 E

E 6ipotesis6ipotesis  2222 1

1 !earni!earning ng ssuessue  3737 /

/ )erangka )erangka )onsep )onsep .... 6

6 )esim)esimpulan pulan .7.7

"'1T'

(4)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

A.

A. LLatatar ar BeBelalakakangng

Blok Penyakit Tropis 8

Blok Penyakit Tropis 8Tropical DiseasesTropical Diseases9 adalah blok ke dua puluh tujuh semester enam9 adalah blok ke dua puluh tujuh semester enam dari

dari )ur)urikulikulum um BerBerbasibasis s )om)ompetepetensi nsi 8)B8)B)9 )9 PenPendidididikan kan "ok"okter ter 1ak1akultaultas s )ed)edokteokteranran (ni:ersitas &ri#ijaya Palembang

(5)

Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran untuk  menghadapi kasus yang sebenarnya pada #aktu yang akan datang

B. Maksud dan Tuuan

'dapun maksud dan tujuan dari tutorial ini, yaitu;

• &ebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem

 pembelajaran )B) di 1akultas )edokteran (ni:ersitas &ri#ijaya Palembang

• "apat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan

 pembelajaran diskusi kelompok

• Ter$apainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial dan memahami konsep dari

skenario ini

BAB II PEMBAHASAN

A. Skenar!" A Bl"k #$ Ta%un #&'( Kasus:

"ina, seorang anak perempuan berusia  tahun, bertempat tinggal di Palembang, diba#a ke bagian ga#at darurat dengan keluhan utama demam selama . hari "emam tinggi, intermiten, hilang timbul tiap 2 hari "emam dia#ali dengan menggigil, diikuti oleh

(6)

demam tinggi dan kemudian demam mereda setelah berkeringat banyak "ina juga mengalami sakit kepala, mual dan muntah "ina pernah pergi ke Bangka  bulan yang lalu dan tinggal di sana selama  minggu Tidak ditemukan mani*estasi perdarahan dan ruam kulit Tidak terdapat batuk<pilek, sesak, men$ret, dan nyeri saat berkemih Buang air besar  dan buang air ke$il tidak ada keluhan Tidak ditemukan anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama 0i#ayat imunisasi dasar lengkap

Pemeriksaan *isik;

&tatus antropometri; Berat badan 3 kg, tinggi badan 4+ $m

)eadaan umum; kesadaran $ompos mentis, konjungti:a pu$at, tidak terdapat sesak, tidak  terdapat $yanosis Tekanan darah <7 mm6g, nadi  kali<menit 8isi dan tegangan $ukup9, laju pernapasan 2 kali<menit, temperatur 3=o5 Tidak ditemukan tanda dehidrasi

ataupun gangguan sirkulasi Tidak terdapat ruam kulit 8eksantem9 Pemeriksaan dinding dada dalam batas normal Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal Pada  pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali )/B tidak teraba membesar

Pemeriksaan neurologis dalam batas normal Pemeriksaan lain dalam batas normal Pemeriksaan laboratorium;

6b , g>, 6ematokrit 27>, leukosit dan trombosit dalam batas normal /ambaran darah tepi menunjukkan gambaran hemolitik, tidak terdapat kelainan mor*ologi sel darah putih dan trombosit (rinalisis dalam batas normal Pada pemeriksaan apusan darah tipis 8thin blood smear 9 ditemukan gambaran sebagai berikut;

(7)

B. Klar!)!kas! Ist!la%

N*. ISTILAH DEFINISI

 ntermitten 8"emam naik turun9

"emam yang ditandai dengan penurunan suhu badan ke tingkat normal selama beberapa jam dalam satu hari Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali disebut tertiana, dan bila terjadi dua haru bebas demam di antara dua serangan demam disebut kuartana

2 "emam tinggi &uhu tubuh melebihi 3=o5

3 munisasi dasar munisasi yang diberikan pada bayi dan anak sejak lahir   untuk melindungi tubuhnya dari penyakit yang  berbahaya

4 5yanosis Mani*estasi, tanda kondisi, atau penyakit dan ditandai dengan #arna biru di kulit atau selaput lendir karena kekurangan oksigen dalam darah atau jaringan seseorang

+ 0uam kulit e?antem Erupsi kulit yang terjadi sebagai gejala dari suatu  penyakit :irus akut seperti demam berdarah atau

$ampak

. 6epatosplenomegali Pembengkakan atau pembesaran pada hati dan limpa 7 'pusan darah tipis &ediaan darah tipis yang mengetahui spesies parasit

(8)

+. Iden)!t!kas! Masala%

N*. MASALAH K*NSEN

 "ina, seorang anak perempuan berusia  tahun, bertempat tinggal di Palembang, diba#a ke bagian ga#at darurat dengan keluhan utama demam selama . hari a menderita demam tinggi, intermiten, hilang timbul tiap 2 hari "emam dia#ali dengan menggigil, diikuti oleh demam tinggi dan kemudian demam mereda setelah berkeringat  banyak

,,,,,,

2 "ina mengalami sakit kepala, mual dan muntah ,,,,, 3 "ina pernah pergi ke Bangka  bulan yang lalu dan tinggal di sana

selama  minggu

,,,,

4 Tidak ditemukan mani*estasi perdarahan dan ruam kulit, tidak  terdapat batuk<pilek, sesak, men$ret, dan nyeri saat berkemih Tidak  ada keluhan mengenai gangguan buang air besar dan buang air ke$il Tidak ditemukan adanya anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama 0i#ayat imunisasi dasar lengkap

,,,

+ Pemeriksaan *isik;

&tatus antropometri; Berat badan 3 kg, tinggi badan 4+ $m

)eadaan umum; kesadaran $ompos mentis, konjungti:a pu$at, tidak  terdapat sesak, tidak terdapat $yanosis Tekanan darah <7 mm6g, nadi  kali<menit 8isi dan tegangan $ukup9, laju  pernapasan 2 kali<menit, temperatur 3=o5 Tidak ditemukan tanda

dehidrasi ataupun gangguan sirkulasi Tidak terdapat ruam kulit 8eksantem9 Pemeriksaan dinding dada dalam batas normal Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal Pada  pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali )/B tidak 

teraba membesar Pemeriksaan neurologis dalam batas normal Pemeriksaan lain dalam batas normal

(9)

. Pemeriksaan laboratorium;

6b , g>, 6ematokrit 27>, leukosit dan trombosit dalam batas normal /ambaran darah tepi menunjukkan gambaran hemolitik, tidak terdapat kelainan mor*ologi sel darah putih dan trombosit (rinalisis dalam batas normal Pada pemeriksaan apusan darah tipis 8thin blood smear 9 ditemukan gambaran sebagai berikut;

,

(10)

'. D!na- se"rang anak ere/uan 0erus!a '& ta%un- 0erte/at t!nggal d! Pale/0ang- d!0a1a ke 0ag!an ga1at darurat dengan kelu%an uta/a de/a/ sela/a ( %ar!. Ia /ender!ta de/a/ t!ngg!- !nter/!ten- %!lang t!/0ul t!a # %ar!. De/a/ d!a1al! dengan /engg!g!l- d!!kut! "le% de/a/ t!ngg! dan ke/ud!an de/a/ /ereda setela% 0erker!ngat 0an2ak.

a 'pa hubungan, umur, jenis kelamin, dan tempat tinggal pada kasus@ Aa#ab;

• (mur ; kelompok usia =-4 tahun

• Aenis )elamin; !aki-laki lebih sering karena menurut penelitian perempuan

mempunyai respon imun yang lebih baik 

• Tempat tinggal; Melalui pengamatan terhadap angka kesakitan dari tahun ke

tahun dapat diketahui bah#a sepuluh penyakit terbanyak pada kunjungan ra#at  jalan puskesmas )ota Palembang masih didominasi penyakit in*eksi dan  penyakit menular, yaitu "B" dengan 43 kasus pada tahun 23, TB paru dengan 474 kasus pada tahun 23, diare, &P' 8pneumonia9, kusta, dan  penyakit menular yang dapat di$egah dengan imunisasi 8$ampak9 8Pro*il )esehatan )ota Palembang tahun 23 Pro:insi &umatera &elatan adalah daerah endemis malaria, dimana tahun 2= terdapat 7 kabupaten endemis malaria sedang dan  kabupaten<kota lainnya digolongkan pada daerah endemis rendah &atu kota diantara daerah endemis rendah yaitu )ota Palembang adalah daerah bebas malaria dalam arti kasus yang ada adalah kasus impor dari kabupaten lain 8)abupaten Banyuasin9 )abupaten yang merupakan daerah endemis di Pro:insi &umatera &elatan adalah )abupaten gan )omering (lu, )abupaten !ahat, )ota !ubuk !inggau, )abupaten gan lir

(11)

i "emam Aa#ab;

"emam mulai timbul bersamaan dengan pe$ahnya skiCon darah yang mengeluarkan berma$am-ma$am antigen 'ntigen ini akan merangsang sel-sel makro*ag, monosit atau lim*osit yang mengeluarkan berbagai ma$am sitokin, antara lain TN1 8Tumor Nekrosis 1aktor9 TN1 akan diba#a aliran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh dan terjadi demam Proses skiCogoni pada keempat plasmodium memerlukan #aktu yang berbeda- beda  P.falciparum memerlukan #aktu 3.-4 jam  P.vivax/ovale 4 jam, dan  P.malariae 72 jam "emam pada  P.falciparum dapat terjadi setiap hari,  P.vivax/ovale selang #aktu satu hari, dan  P.malariae  demam timbul selang

#aktu 2 hari

ii Menggigil dan berkeringat Aa#ab;

Pe$ahnya sel darah merah yang terin*eksi  Plasmodium dapat menyebabkan timbulnya gejala demam disertai menggigil Periodisitas demam  pada malaria berhubungan dengan #aktu pe$ahnya sejumlah skiCon matang dan keluarnya meroCoit yang masuk aliran darah 8sporulasi90espon yang terjadi bila organism pengin*eksi telah menyebar di dalam darah, yaitu  pengeluaran suatu bahan kimia oleh makro*ag yang disebut pirogen endogen

8TN1 D dan !-9

Pirogen endogen ini menyebabkan pengeluaran prostaglandin, suatu  perantara kimia lokal yang dapat menaikkan thermostat hipotalamus yang mengatur suhu tubuh &etelah terjadi peningkatan titik patokan hipotalamus, terjadi inisiasi respon dingin, dimana hipotalamus mendeteksi suhu tubuh di  ba#ah normal, sehingga memi$u mekanisme respon dingin untuk 

meningkatkan suhu0espon dingin tersebut berupa menggigil dengan tujuan agar produksi panas meningkat dan :asokonstriksi kulit untuk segera mengurangi pengeluaran panas dan terjadilah berkeringat

(12)

$ 'pa saja jenis-jenis demam@ Aa#ab;

Berdasarkan pola demam;

P*LA DEMAM PEN3AKIT

)ontinyu "emam ti*oid, malaria *al$iparum malignan 0emitten &ebagian besar penyakit :irus dan bakteri ntermiten Malaria, lim*oma, endokarditis

6ektik atau septik Penyakit )a#asaki, in*eksi pyogenik  uotidian Malaria karena P:i:a?

"ouble Fuotidian )ala aCar, arthritis gonococcal ,  juvenile rheumathoid  arthritis, beberapa drug fever  8$ontoh karbamaCepin9 0elapsing atau periodik Malaria tertiana atau kuartana, bru$ellosis

"emam rekuren  Familial Mediterranean fever 

Penilaian pola demam meliputi tipe a#itan 8perlahan-lahan atau tiba-tiba9, :ariasi derajat suhu selama periode 24 jam dan selama episode kesakitan, siklus demam, dan respons terapi /ambaran pola demam klasik meliputi;

• De/a/ k"nt!n2u  atau sustained fever ; ditandai oleh peningkatan suhu tubuh

yang menetap dengan *luktuasi maksimal ,4o5 selama periode 24 jam

1luktuasi diurnal suhu normal biasanya tidak terjadi atau tidak signi*ikan

• De/a/ re/!ten; ditandai oleh penurunan suhu tiap hari tetapi tidak men$apai

normal dengan *luktuasi melebihi ,+o5 per 24 jam Pola ini merupakan tipe

demam yang paling sering ditemukan dalam praktek pediatri dan tidak spesi*ik  untuk penyakit tertentu Gariasi diurnal biasanya terjadi, khususnya bila demam disebabkan oleh proses in*eksi

• De/a/ !nter/!ten; suhu kembali normal setiap hari, umumnya pada pagi hari,

dan pun$aknya pada siang hariPola ini merupakan jenis demam terbanyak kedua yang ditemukan di praktek klinis

(13)

• De/a/ set!k atau %ekt!k ; terjadi saat demam remiten atau intermiten

menunjukkan perbedaan antara pun$ak dan titik terendah suhu yang sangat  besar

• De/a/ 4u"t!d!an; disebabkan oleh P Gi:a?, ditandai dengan paroksisme

demam yang terjadi setiap hari

• De/a/ 4u"t!d!an ganda; memiliki dua pun$ak dalam 2 jam 8siklus 2 jam9 • Undulant fever ; menggambarkan peningkatan suhu se$ara perlahan dan

menetap tinggi selama beberapa hari, kemudian se$ara perlahan turun menjadi normal

• De/a/ la/a 5 prolonged fever 6; menggambarkan satu penyakit dengan lama

demam melebihi yang diharapkan untuk penyakitnya, $ontohnya H  hari untuk  in*eksi saluran na*as atas

• De/a/ rekuren; adalah demam yang timbul kembali dengan inter:al irregular 

 pada satu penyakit yang melibatkan organ yang sama 8$ontohnya traktus urinarius9 atau sistem organ multipel

• De/a/ 0!)as!k ; menunjukkan satu penyakit dengan 2 episode demam yang

 berbeda 8camelback fever pattern, atau  saddleback fever 9 Poliomielitis merupakan $ontoh klasik dari pola demam ini /ambaran bi*asik juga khas untuk leptospirosis, demam dengue, demam kuning, olorado tick fever ,  spirillar! rat"bite fever  8&pirillum minus9, dan  #frican hemorrhagic fever 

8Marburg, Ebola, dan demam !assa9

/ambaran pola demam relapsing fever dan de/a/ er!"d!k , yaitu;

• De/a/ er!"d!k ; ditandai oleh episode demam berulang dengan inter:al

regular atau irregular Tiap episode diikuti satu sampai beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan suhu normal 5ontoh yang dapat dilihat adalah malaria 8istilah tertiana digunakan bila demam terjadi setiap hari ke-3, kuartana  bila demam terjadi setiap hari ke-49 dan bru$ellosis

(14)

•  Relapsing fever ; adalah istilah yang biasa dipakai untuk demam rekuren yang

disebabkan oleh sejumlah spesies Borrelia dan ditularkan oleh kutu 8louse-borne 019 atau tick  8ti$k-borne 019

&uhu normal pada tempat yang berbeda

TEMPAT PENGUKURAN 7ENIS TERM*METER  RENTANG8 RERATA SUHU N*RMAL 5*+6 DEMAM 5*+6

'ksila 'ir raksa, elektronik 34,7 I 37,3J 3.,4 37,4 &ublingual 'ir raksa, elektronik 3+,+ I 37,+J 3.,. 37,. 0ektal 'ir raksa, elektronik 3.,. I 37,=J 37 3 Telinga Emisi in*ra merah 3+,7 I 37,+J 3.,. 37,.

Aenis demam malaria;

&esudah serangan panas pertama, terjadi inter:al bebas panas selama antara 4-72 jam, lalu diikuti dengan serangan panas berikutnya seperti yang pertamaJ

(15)

dan demikian selanjutnya /ejala-gejala malaria Kklasik$  seperti yang telah diuraikan tidak selalu ditemukan pada setiap penderita, dan ini tergantung pada spesies parasit, umur dan tingkat imunitas penderita

Aadi, pada malaria :i:a? termasuk demam intermitten dengan pola tertiana yaitu demam terjadi setiap dua hari sekali

d 'pa makna klinis dari demam selama . hari@ Aa#ab;

"emam selama . hari menandakan demam yang terjadi merupakan demam akut, dan pada kasus terdapat periode a*ebril sehingga menandakan demam akut  periodi$

e 'pa makna klinis dari demam tinggi, intermitten, dan hilang timbul tiap 2 hari@ Aa#ab;

"emam intermiten merupakan demam dimana suhu kembali normal setiap hari, umumnya pada pagi hari dan pun$aknya pada siang hari "emam intermiten dapat terjadi pada penyakit malaria "emam hilang timbul setiap 2 hari menandakan bah#a "ina terserang malaria tertiana yang biasanya disebabkan oleh Plasmodium Gi:a?

#. D!na /engala/! sak!t keala- /ual dan /unta%.

(16)

a 'pa penyebab dan bagaimana mekanisme; i &akit kepala

Aa#ab;

Gasodilatasi pembuluh darah di otak yang disebabkan oleh in:asi  parasit mengakibatkan pasokan darah ke otak berkurang Tubuh melakukan :asokontriksi pembuluh darah agar pasokan darah ter$ukupi !alu parasit yang masih ada akan mengin:asi kembali sehingga kembali terjasi :asodilatasi dan kembali dikompensasi dengan :asokontriksi &iklus ini terjadi berulang-ulang sehingga dapat menyebabkan "ina merasakan sakit kepala

ii Mual dan muntah Aa#ab;

 Nyamuk yang didalam tubuhnya terdapat parasit malaria  menggigit manusia  sporoCoit sporoCoit ke sel hati dan di parenkim hati melakukan  perkembangan se$ara aseksual 8skiConi eksoerirosit9 selama +,+ hari skiCoit

 skiCoit pe$ah menjadi mengeluarkan meraCoid-meraCoid   meraCoid ke sirkulasi darah dan menyerang 0B5 terbentuk eritrosit parasit  bereplikasi se$ara aseksual 8skiCogoni eritrosit9  parasit dalam eritrosit mengalami 2 stadium yaitu stadium $in$in 8tropoCoid9 dan matur 8skiCon9   permukaan membran eritrosit parasit stadium matur menonjol dan membentuk knob dengan 60P 8komponen umum knob9  eritrosit parasit mengalami merogoni<skiCogoni 8pembelahan se$ara berulang9  melepaskan toksin malaria berupa /P  /P merangsang pelepasan TN1 D, ! .,! 3 dengan mengakti:asi makro*ag !3 mengakti:asi sel mast  pelepasan histamin

 peningkatan asam lambung nausea 8mual9 dan muntah

(17)

Aa#ab;

&e$ara pato*isiologinya, pada *ase skiCon er!throc!tic c!cle  plasmodium tersebut akan masuk ke dalam eritrosit dan menghan$urkan eritrosit tersebut, sehingga tubuh akan kekurangan sel darah merah dan tingkat plasmodium yang  beredar di seluruh pembuluh darah semakin meningkat &akit kepala disebabkan

karena in:asi plasmodium di pembuluh darah sekitar otak yang mengakibatkan terjadi :asodilatasi di pembuluh darah sekitar otak hal ini menyebabkan otak  kekurangan pasokan darah yang dikompensasi dengan mem:asokontriksikan  pembuluh darah tersebut &etelah itu, Plasmodium akan mengin:asi kembali, sehingga keadaan :asodilatasi dan :asokontriksi akan terjadi berulang-ulang 6al ini yang menimbulkan keadaan sakit kepala dan mual dan muntah disebabkan oleh !3 yang mengakti:asi sel mast dan melepaskan histamine sehingga meningkatkan sekresi asam lambung

9. D!na erna% erg! ke Bangka ' 0ulan 2ang lalu dan t!nggal d! sana sela/a ' /!nggu.

a 'pa hubungan ri#ayat pernah ke Bangka selama  minggu dengan demam pada kasus@

Aa#ab;

"aerah Bangka merupakan daerah endemik malaria 6al ini dikarenakan daerah Bangka merupakan daerah penghasil timah Para masyarakat yang men$ari timah biasanya tidak menutup kembali lobang galian timah sehingga lobang bekas galian timah itu menjadi ra#a-ra#a saat terisi air dan merupakan tempat  perkembangbiakan nyamuk anopheles betina Mungkin pada saat "ina tinggal di Bangka, ia terkena gigitan nyamuk anopheles betina sehingga timbullah keluhan yang dialami "ina sekarang Aika dihubungkan dengan sistem imun yang dimiliki oleh "ina, "ina termasuk orang yang rentan 8sebagai orang datangan9 dimana nyamuk yang menggigit akan sangat mudah menimbulkan penyakit

. T!dak d!te/ukan /an!)estas! erdara%an dan rua/ kul!t- t!dak terdaat 0atuk;!lek- sesak- /en<ret- dan n2er! saat 0erke/!%. T!dak ada kelu%an /engena! gangguan 0uang a!r 0esar dan 0uang a!r ke<!l. T!dak d!te/ukan

(18)

adan2a angg"ta keluarga 2ang /engala/! kelu%an 2ang sa/a. R!1a2at !/un!sas! dasar lengka.

a Bagaimana makna klinis tidak adanya mani*estasi klinis@ Aa#ab;

Tidak ditemukan mani*estasi perdarahan dan ruam kulit L tidak ada  pendarahan spontan, Tidak terdapat batuk<pilek, sesak, men$ret, dan nyeri saat  berkemih Buang air besar dan buang air ke$il tidak ada keluhan Tidak ditemukan

anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama

 b 'pa saja imunisasi dasar lengkap untuk anak berusia  tahun@ Aa#ab;

Menurut "' untuk anak  tahun;

• 6epatitis B 3? • Polio +?

• B5/ ?

(19)

• "TP +?, dan Td untuk anak diatas umur 7 tahun dan dibooster setiap  tahun • 6ib 4? • P5G 4? • 0ota:irus 3? • 5ampak 3? • MM0 2? • Garisela ?

• 6PG diberikan mulai umur  tahun, diberikan 3 kali dengan inter:al , , .

 bulan

=. Pe/er!ksaan )!s!k:

Status antr""/etr!: Berat 0adan 9& kg- t!ngg! 0adan '= </.

Keadaan u/u/: kesadaran <"/"s /ent!s- k"nungt!>a u<at- t!dak terdaat sesak- t!dak terdaat <2an"s!s. Tekanan dara% '&&;$& //Hg- nad! '&? kal!;/en!t 5!s! dan tegangan <uku6- lau ernaasan #? kal!;/en!t- te/eratur 9@"+. T!dak 

d!te/ukan tanda de%!dras! atauun gangguan s!rkulas!. T!dak terdaat rua/ kul!t 5eksante/6. Pe/er!ksaan d!nd!ng dada dala/ 0atas n"r/al. Pe/er!ksaan  antung dan aru dala/ 0atas n"r/al. Pada e/er!ksaan a0d"/en d!te/ukan

%eat"slen"/egal!. KGB t!dak tera0a /e/0esar. Pe/er!ksaan neur"l"g!s dala/ 0atas n"r/al. Pe/er!ksaan la!n dala/ 0atas n"r/al.

a Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari; i. 'ntropometri

Aa#ab;

PEMERIKSAAN HASIL N*RMAL INTERPRETASI

Berat; 3 kg 82? usia9 82?9 L 2

 Normal

Tinggi; 4+$m 0ata-rata 3,. Normal

(20)

ii. )eadaan umum dan vital sign Aa#ab;

PEMERIKSAAN HASIL N*RMAL INTERPRETASI

)esadaran ; 5ompos Mentis 5ompos Mentis Normal

)onjungti:a pu$at )onjungti:a tidak pu$at 'bnormal<anemia

Tidak terdapat sesak - Normal

Tidak terdapat $yanosis - Normal

Tekanan "arah ; <7 mm6g

sistolik 4-27, dan diastolik 77-3

6ipotensi

 Nadi ;  kali<menit Pada usia .‐2 tahun 

2

 Normal

00 ; 2 kali<menit Pada usia .- tahun 2‐2.

kali<menit

'bnormal<Takipneu

Temperatur ; 3=5 3.,+-37,25 "emam

Mekanisme 'bnormal;

• )onjungti:a pu$at

)onjungti:a pu$at disebabkan oleh anemia 'nemia terjadi karena pe$ahnya sel darah merah yang terin*eksi maupun yang tidak terin*eksi Plasmodium vivax  dan  P. ovale hanya mengin*eksi sel darah merah muda yang  jumlahnya hanya 2> dari seluruh jumlah sel darah merah, sedangkan P.

malariae mengin*eksi sel darah merah tua yang jumlahnya hanya > dari  jumlah sel darah merah &ehingga anemia yang disebabkan oleh P. vivax , P.

ovale dan P. malariae umumnya terjadi pada keadaan kronis

• Takipneu

Perubahan set point hypothalamus peningkatan metabolism

 peningkatan perna*asan

Tabel  nterpretasi pemeriksaan *isik 

(21)

• "emam

"emam mulai timbul bersamaan dengan pe$ahnya skiCon darah yang mengeluarkan berma$am-ma$am antigen 'ntigen ini akan merangsang sel-sel makro*ag, monosit atau lim*osit yang mengeluarkan berbagai ma$am sitokin, antara lain TN1 8Tumor Nekrosis 1aktor9 TN1 akan diba#a aliran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh dan terjadi demam Proses skiCogoni pada keempat plasmodium memerlukan #aktu yang berbeda-beda  P.falciparum memerlukan #aktu 3.-4 jam  P.vivax/ovale 4 jam, dan  P.malariae 72 jam "emam pada  P.falciparum dapat terjadi setiap hari,  P.vivax/ovale selang #aktu satu hari, dan  P.malariae demam timbul selang #aktu 2 hari

iii. Pemeriksaan spesi*ik  Aa#ab;

Tidak ditemukan tanda dehidrasi ataupun gangguan sirkulasi Tidak  terdapat ruam kulit 8eksantem9 Pemeriksaan dinding dada dalam batas normal Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal Pada pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali )/B tidak teraba membesar Pemeriksaan neurologis dalam batas normal Pemeriksaan lain dalam batas normal

PEMERIKSAAN INTERPRETASI

Tidak ditemukan tanda dehidrasi ataupun gangguan sirkulasi

 Normal

Tidak terdapat ruam kulit 8eksantem9 Normal Pemeriksaan dinding dada dalam batas

normal

 Normal

Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal

 Normal

Pada pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali

'bnormal

(22)

Pemeriksaan neurologis dalam batas normal

 Normal

Pemeriksaan lain dalam batas normal Normal

Slen"/egal!. !impa merupakan organ retikuloendothelial, dimana  Plasmodium dihan$urkan oleh sel makro*ag dan lim*osit Penambahan

sel-sel radang ini akan menyebabkan limpa membesar

Heat"/egal! atau pembesaran pada hepar disebabkan karena  parasitemia &ebagai organ yang ber*ungsi sebagai penyaring dan penyimpan darah, hati dapat berisiko tinggi terjadi gangguan 6al ini dikarenakan dalam darah banyak mengandung parasit atau parasitemia

(. Pemeriksaan laboratorium;

6b , g>, 6ematokrit 27>, leukosit dan trombosit dalam batas normal /ambaran darah tepi menunjukkan gambaran hemolitik, tidak terdapat kelainan mor*ologi sel darah putih dan trombosit (rinalisis dalam batas normal Pada pemeriksaan apusan darah tipis 8thin blood smear 9 ditemukan gambaran sebagai berikut;

a Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan laboratorium@ Aa#ab;

PEMERIKSAAN HASIL N*RMAL INTERPRETASI

6b; , g> 'nemia

8 I . g>9

'nemia terjadi karena  pe$ahnya sel darah merah

yang terin*eksi maupunyang tidak terin*eksi

 Plasmodium vivax dan P.

(23)

ovale hanya mengin*eksi sel darah merah muda yang jumlahnya hanya 2> dari seluruh jumlah sel darah merah,

sehingga anemia yang disebabkan oleh P. vivax,  P. ovale dan P. malariae

umumnya terjadi pada keadaan kronis ni menandakan bah#a  pasien ini sudah

menderita malaria kronis, sejak ia pulang dari

Bangka

6ematokrit; 27 0endah

833 I 3>9 !eukosit dan trombosit;

dalam batas normal

 Normal

-/ambaran darah tepi; /ambaran hemolitik 

'bnormal Terjadi peme$ahan sel

darah merah 8hemolisis9 Mor*ologi OB5 dan

trombosit; tidak terdapat kelainan

 Normal

-(rinalisis; dalam batas normal

 Normal

- b Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari apusan darah tipis@ Aa#ab;

"engan pulasan /iemsa pada tahap tro*oCoit muda sitoplasma ber#arna  biru, inti merah, mempunyai :akuola yang besar Eritrosit muda atau retikulosit

(24)

yang dihinggapi parasit  P. vivax ukurannya lebih besar dari eritrosit lainnya,  ber#arna pu$at, tampak titik halus ber#arna merah, yang bentuk dan besarnya

sama disebut titik &$h**ner Pada tahap tro*oCoit tua sitoplasmanya berbentuk  ameboid Pigmen parasite menjadi makin nyata dan ber#arna kuning tengguli

E. H!"tes!s

D!na- se"rang anak ere/uan 0erus!a '& ta%un /engala/! de/a/ t!ngg!-!nter/!tten- dan ane/!a ak!0at /alar!a.

 Bagaimana $ara mendiagnosis kasus ini@ Aa#ab;

' 'namnesis

)eluhan utama; "emam, menggigil, berkeringat "apat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot atau pegal-pegal

• 0i#ayat berkunjung ke daerah endemik malaria • 0i#ayat tinggal di daerah endemik malaria • 0i#ayat pernah sakit malaria

• 0i#ayat minum obat malaria  bulan terakhir • 0i#ayat mendapat trans*usi darah

B Pemeriksaan 1isik 

• &uhu aksila H 37,+Q5

• )onjungti:a atau telapak tangan pu$at • &plenomegali

(25)

• 6epatomegali

• Mani*estasi malaria berat seperti; penurunan kesadaran, demam tinggi,

konjungti:a pu$at, telapak tangan pu$at, ikterik, oliguria, urin hitam, kejang, sangat lemah

5 Pemeriksaan !aboratorium

%. Pemeriksaan mikroskop gold standard 

"iagnosis pasti bila ditemukan parasit malaria dalam darah &. 0apid Test "iagnostik 80"T9  deteksi antigen malaria

6anya mendeteksi P *al$iparum atau non-P *al$iparum '. P50

• "apat membedakan rein*eksi dan rekrudensi pada in*eksi P. falciparum. • Aika jumlah parasit yang sangat sedikit

(. Aika malaria berat; 6b, 6t, lekosit, trombosit, /ula darah, bilirubin, &/T<&/PT, alkali *os*atase, albumin<globulin, ureu, kreatinin, Na, ), '/", urinalisis

2 'pa saja diagnosis banding kasus ini@ Aa#ab; ""< Malaria; • "emam ti*oid • "emam dengue • !eptospirosis ""< Malaria Tertiana; • Malaria Gi:a? • Malaria :ale

+!r!<!r! M. )al<!)aru/ M. tert!ana M. kuartana M. ">ale nkubasi =I4 hari 2I7 hari I 4 hari .I hari

Panas nter:al

24,3.,4jam

4jam 72 jam 4jam

0elaps - GG GG G

0e$rudensi :: - - G

(26)

klinis menggigil

&plenomegali &plenomegali Aarang

splenomegali

Aarang

splenomegali

'nemiahemolys is

'nemia kronik Aarang anemia 'nemia kronik 

&yok Aarang terjadi syok  Aarang terjadi syok  Aarang terjadi syok  "emam  berlangsung $epat "emam lama sampai + minggu /ejala serebralJ edema paruJ hipoglikemi

3 'pakah diagnosis kerja pada kasus ini@ Aa#ab;

"ina menderita malaria tertiana et causa P. vivax.

4 'pakah de*inisi dari diagnosis kerja@ Aa#ab;

Malaria adalah penyakit in*eksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah

+ Bagaimana epidemiologi dari diagnosis kerja@ Aa#ab;

(27)

Epidemiologi malaria seringkali dilaporkan dari berbagai #ilayah dengan angka kematian yang lebih tinggi pada anak-anak di ba#ah + tahun dibanding orang de#asa

Penelitian Yulius 8279 dengan desain case series di )abupaten Bintan )epulauan 0iau tahun 2+-2. terdapat 34 penderita malaria, 243 orang 8.3,3>9 laki-laki dan 4 orang 83.,7>9 perempuan, kelompok umur +-4 tahun 23 orang 8.>9, +-44 tahun 32. orang 84,=>9, dan H4+ tahun 3+ orang 8=,>92 Penelitian Yoga dalam &arumpaet dan Tarigan 82.9 tahun === di )abupaten Aepara Aa#a Tengah, diperoleh bah#a dari 4+ kasus malaria yang diteliti, 44> berasal dari  pekerjaan petani serta tidak ditemukan pada PN&<TN<P!0

Penelitian &unarsih, dkk tahun 24-27 dengan desain kasus kontrol, kasus malaria di #ilayah Puskesmas Pangkalbalam )ota Pangkalpinang banyak diderita responden berumur 2-2+ tahun 87,.>9, umur 3.-4 tahun 84,7>9 Namun se$ara keseluruhan *enomena tersebut menunjukkan bah#a penyakit malaria menyerang hampir seluruh kelompok umur,  orang mempunyai jenis kelamin laki-laki 8+,>9,  perempuan 4,2> 8+. orang9

. Bagaimana etiologinya dari diagnosis kerja@ Aa#ab;

Penyakit malaria disebabkan oleh  sporo)oa dari  genus Plasmodium, famil!  Plasmodidae dan ordo occididae n*eksi malaria sangat ditentukan oleh 4 jenis

spesies Plasmodium;

a  Plasmodium falciparum 8malaria tertian maligna9 penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan malaria berat<malaria otak dan kematian

 b  Plasmodium vivax 8malaria tertian benigna9 penyebab malaria tertiana yang ringan

$  Plasmodium malaria penyebab malaria kuartana

d  Plasmodium ovale  8malaria tertian o:ale9, jenis ini jarang sekali dijumpai dan umumnya banyak terdapat di '*rika dan Pasi*ik Barat

(28)

7 'pa saja *aktor resiko dari kasus ini@ Aa#ab;

1aktor-*aktor yang meningkatkan risiko terkena malaria antara lain;

a Tinggal atau melakukan perjalanan ke negara atau daerah dimana terdapat penyakit malaria

 b Berpergian ke daerah dimana ada penyakit malaria dan;

• Tidak minum obat untuk men$egah malaria sebelum, selama, dan setelah

 perjalanan, atau tidak minum obat dengan benar

• Berada di luar, terutama di daerah pedesaan, pada #aktu senja dan *ajar 8malam

hari9, yaitu #aktu akti* dari nyamuk yang menularkan malaria

• Tidak mengambil langkah pen$egahan untuk melindungi diri dari gigitan

nyamuk

Pada kasus ini, *aktor risiko "ina terkena malaria adalah karena dia pergi ke Bangka  bulan yang lalu dan tinggal disana selama  minggu, yang merupakan daerah endemis malaria

 Bagaimana patogenesis pada kasus ini@ Aa#ab;

ln*eksi parasit malaria pada manusia mulai saat nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan nyamuk akan melepaskan sporoCoit ke dalam pembuluh darah dimana sebagian besar dalam #aktu 4+ menit akan menuju ke hati dan sebagian ke$il sisanya akan mati di darah "i dalam sel parenkim hati mulailah perkembangan bentuk  aseksual skiCon intrahepatik atau skiCon pre eritrosil Perkembangan ini memerlukan #aktu +,+ hari untuk Plasmodium falciparum dan + hari untuk Plasmodium malariae &etelah sel parenkim hati terin*eksi, terbentuk skiCon hati yang apabila pe$ah akan dapat mengeluarkan -3 meroCoit ke sirkulasi darah Pada P vivax dan ovale sebagian parasit di dalam sel hati membentuk hipnoCoit yang dapat bertahan sampai bertahun-tahun, dan bentuk ini yang akan menyebabkan terjadinya relaps pada malaria

(29)

&etelah berada dalam sirkulasi darah meroCoit akan menyerang eritrosit dan masuk melalui reseptor permukaan eritrosit Pada P. vivax reseptor ini berhubungan dengan *aktor antigen  Duff! F!a  atau  F!b 6al ini menyebabkan indi:idu dengan golongan darah Duff! negati* tidak dapat terin*eksi malaria :i:a? 0eseptor untuk P.  falciparum diduga suatu gl!cophorins, sedangkan pada P malariae dan P. ovale belum diketahui "alam #aktu kurang dari 2 jam parasit berubah menjadi bentuk ring, pada  P. falciparum  menjadi bentuk stereo headphones, yang mengandung kromatin dalam intinya dikelilingi sitoplasma Parasit tumbuh setelah memakan hemoglobin dan dalam metabolismenya membentuk pigmen yang disebut hemoCoin yang dapat dilihat se$ara mikroskopik Eritrosit yang berparasit menjadi lebih elastik dan dinding berubah lonjong, pada P. falciparum dinding eritrosit membentuk tonjolan yang disebut knob yang nantinya penting dalam proses sitoaderens dan rosetting  &etelah 3. jam in:asi ke dalam eritrosit, parasit berubah menjadi skiCon, dan bila skiCon pe$ah akan mengeluarkan .-3. meroCoit dan slap mengin*eksi eritroslt yang lain &iklus aseksual ini pada P. falciparum, P. vivax, dan P. ovale ialah 4 jam dan pada P. malariae adalah 72 jam

"i dalam darah sebagian parasit akan membentuk gamet jantan dan betina, dan  bila nyamuk menghisap darah manusia yang sakit akan terjadi siklus seksual dalam

tubuh nyamuk &etelah terjadi perka#inan akan terbentuk Cigot dan menjadi lebih  bergerak menjadi ookinet yang menembus dinding perut nyamuk dan akhirnya menjadi bentuk oo$yst yang akan menjadi masak dan mengeluarkan sporoCoit yang akan bermigrasi ke kelenjar ludah nyamuk dan siap mengin*eksi manusia

Pada sur:eilens malaria di masyarakat, tingginya  slide positive rate  8&P09 menentukan endemisitas suatu daerah dan pola kiinis penyakit malaria akan berbeda

&e$ara tradisi endemisitas daerah dibagi menjadi;

• 6PEN"EM); bila parasit rate atau spleen rate  > • ME&EN"EM); bila paraslt rate atau spleen rate  +> • 6PE0EN"EM); bila parasit rate atau spleen rate + 7+> • 6!EN"EM); bila paraslt rate atau spleen rate H 7+>

 Parasit rate dan spleen rate ditentukan pada pemeriksaan anak-anak usia 2-= tahun Pada daerah holoendemik banyak penderita anak-anak dengan anemia berat,

(30)

 pada daerah hiperendemik dan mesoendemik mulai banyak malaria serebral pada usia kanak-kanak 82- tahun9, sedangkan pada daerah hipoendemik<daerah tidak stabil  banyak dijumpai malaria serebral, malaria dengan gangguan *ungsi hati atau gangguan

*ungsi ginjal pada usia de#asa

&etelah melalui jaringan hati  P. falciparum melepaskan -24 meroCoit ke dalam slrkulasl MeroCoit yang dilepaskan akan masuk dalam sel 0E& di limpa dan mengalami *agositosis serta *iltrasi MeroCoit yang lolos dari *iltrasi dan *agositosis di limpa akan mengin:asi entrosit &elanjutnya parasit berkembang biak se$ara aseksual dalam eritrosit Bentuk aseksual parasit dalam entrosit yang berpotens; 8EP9 inilah yang bertanggungja#ab dalam patogenesis terjadinya malaria pada manusia Patogenesis malaria yang banyak diteliti adalah patogenesis malaria yang disebabkan oleh P. falclparum.

Patogenesis malaria *alsiparum dipengaruhi oleh *aktor parasit dan *aktor   pejamu 8host9 Termasuk dalam *aktor parasit adalah intensitas transmisi "ensitas  parasit dan :irulensi parasit &edangkan yang masuk dalam *aktor penjamu adalah tingkat endemisitas daerah tempat tinggal, genetik, usia, status nutrisi dan status imunologi EP se$ara garis besar mengalami 2 stadium yaitu stadium $in$in pada 24  jam l dan stadium matur pada 24 jam ke ll Permukaan EP stadium $in$in akan menampilkan antigen 0E&' 8ring"er!throc!te surface antigen9 yang menghilang setelah parasit masuk stadium matur Permukaan membran EP stadium matur akan mengalami penonjolan dan membentuk knob dengan *istidin +ich"protein"  860P-l9 sebagai komponen utamanya &elanjutnya bila EP tersebut berubah menjadi meroCoid, akan dilepaskan toksin malana berupa /P atau glikosil*os*atidilinositol yang merangsang peiepasan TN1-D dan interleukinR 8!-9 dari makro*ag

 Sitoaderensi  &itoaderensi ialah perlekatan antara EP stadium matur pada  permukaan endotel :askular Perlekatan terjadi molekul adhesi* yang terletak di  permukaan knob EP melekat dengan molekul-molekul adhesi* yang terletak di  permukaan endotel :askular Molekul adhesi* di permukaan knob EP se$ara kolekti* 

disebut P*EMP-l, 8 P.falciparum er!throc!te membrane protein"%9 Molekul adhesi* di  permukaan sel endotel :askular adalah 53., trombospondin, intercellular adhesion

molecule"% 8l5'M-l9, vascular cell adhesion molecule % 8G5'M9, endothel leucac!te adhesion molecule"% 8E!'M9 dan gl!cosaminogl!can chondroitin sulfate # P*EMP-l merupakan protein-protein hasiP*EMP-l ekspresi genetik oP*EMP-leh sekeP*EMP-lompok gen yang berada

(31)

di permukaan knob )elompok gen ini disebut gen G'0 /en G'0 mempunyai kapasitas :ariasi antigenik yang sangat besar

 Sekuestrasl  &itoaderen menyebabkan EP matur tidak beredar kembali dalam sirkulasi Parasit dalam eritrosit matur yang tinggal dalam jaringan mikro:askular  disebut EP matur yang mengalami sekuestrasi 6anya P falciparum yang mengalami sekuestrasi, karena pada plasmodium lainnya seluruh siklus terjadi pada pembuluh darah peri*er &ekuestrasi terjadi pada organ-organ :ital dan mampu semua janngan dalam tubuh &ekuestrasi tertinggi terdapat di otak diikuti dengan hepar dan ginjal,  paru jantung, usus dan kulit &ekuestrasi ini diduga memegang peranan utama dalam  pato*isiologi malaria berat

 Rosetting ialah berkelompoknya EP matur yang diselubungi  atau lebih eritrosit yang tidak mengandung parasit Plasmodium yang dapat melakukan sitoaderensi juga yang dapat melakukan rosetting 0osetting menyebabkan obstruksi aliran darah lokal<dalam jaringan sehingga mempermudah terjadinya sitoadheren

 Sitokin &itokin terbentuk dari sel endotel, monosit dan makro*ag setelah mendapat stimulasi dari malaria toksin 8!P&, /P 9 &itokin ini antara lain TN1-a 8tumor ne$rosis *a$tor-alpha9, interleukin- 8!-9, interleukin-. 8!-.9, intedeukin-3 8ll-39, !T 8lymphoto?in9 don inter*erongamma 8N1-g9 "ari beberapa penelitian dibuktikan bah#a penderita malaria serebral yang meninggal atau dengan komplikasi  berat seperti hipoglikemia mempunyai kadar TN1-D yang tinggi "emikian juga malaria tanpa komplikasi kadar TN1-D !-, !-. lebih rendah dari malaria serebral Oalaupun demikian hasil ini tidak konsisten karena juga dijumpai penderita malaria yang mati dengan TN1 normal< rendah atau pada malaria serebral yang hidup dengan sitokin yang tinggi leh karenanya diduga adanya peran dari neurotransmitter yang lain sebagai *ree-radi$al dalam kaskade ini seperti nitrit-oksida sebagai *aktor yang  panting dalam patogenesis malaria berat

 Nitrit Oksida 'khir-akhir ini banyak diteliti peran mediator nitrit oksid 8N9  baik dalam menimbulkan malaria berat terutama malaria serebral, maupun sebaliknya  N justru memberikan e*ek protekti* karena membatasi perkembangan parasit dan menurunkan ekspresi molekuladesi "iduga produksi N lokal di organ terutama otak  yang berlebihan dapat mengganggu *ungsi organ tersebut &ebaliknya pendapat lain menyatakan kadar N tertentu, memberikan perlindungan terhadap malaria berat Austru kadar N yang rendah mungkin menimbulkan malaria berat, ditunjukkan dari rendahnya kadar nitrat dan nitrit total pada $airan serebrospiral 'nak-anak penderita

(32)

malaria serebral di '*rika, mempunyai kadar arginine yang rendah Masalah peran sitokin proin*lamasi dan N pada patogenesis malaria berat mash kontro:ersial,  banyak hipotesis yang belum dapat dibuktikan dengan jelas dan hasil berbagai  penelitian suing saling bartentangan

= Bagaimana pato*isiologi pada kasus ini@ Aa#ab;

 'pa saja mani*estasi klinis kasus ini@ Aa#ab;

&uatu serangan biasa dimulai se$ara samara-samar dengan menggigil, di ikuti  berkeringat dan demam yang hilang timbul "alam  minggu, akan terbentuk pola yang khas dari serangan yang hilang timbul &uatu periode sakit kepala atau rasa tidak  enak badan, diikuti oleh menggigil "emam berlangsung selama - jam &etelah

(33)

demam reda, penderita merasakan sehat sampai terjadi menggigil berikutnya Pada malaria :i:a?, serangan berikutnya $enderung terjadi setiap 4 jam

 Bagaimana tatalaksana yang harus diberikan pada kasus ini@ Aa#ab;

2 'pa saja komplikasi dari kasus ini@ Aa#ab;

Malaria $erebral, radang otak, anemia berat 86b S+9, urin menjadi hitam 8black  -ater fever 9, gangguan ginjal, hipoglikemi, dan syok .

3 Bagaimana prognosis pada kasus ini@

Tabel + Pengobatan lini pertama malaria :i:a? menurut berat badan dengan "6P dan P rimakuin

(34)

Aa#ab;

Prognosis malaria tergantung dari;

• &pesies penyebab

• )e$epatan dan ketepatan diagnosis dan pengobatan

• )egagalan *ungsi organ kegagalan *ungsi organ dapat terjadi pada malaria berat

terutama organ-organ :ital &emakin sedikit organ :ital yang terganggu dan mengalami kegagalan dalam *ungsinya, semakin baik prognosisnya

• )epadatan parasit pada pemeriksaan hitung parasit, semakin padat atau banyak 

 jumlah parasit yang didapatkan, semakin buruk prognosisnya, terlebih lagi bila didapatkan bentuk skiCon dalam pemeriksaan darah tepi

Aadi, pada kasus ini mempunyai prognosis dubia ad bonam

4 Bagaimana pen$egahan dari kasus ini@ Aa#ab;

• Memakai kelambu berinsektisida untuk menutupi ranjang

• Menggunakan pakaian atau selimut yang bisa menutupi kulit tubuh

• Membersihkan bak mandi dan menabur serbuk abate untuk membasmi jentik-jentik 

nyamuk

• Menyingkirkan atau menutup genangan air yang berpotensi menjadi sarang

jentik- jentik nyamuk

• Memakai losion anti serangga !osion yang paling e*ekti* adalah yang

mengandung "EET atau dieth!ltoluamide

• Memakai obat nyamuk bakar atau semprot se$ara teratur • Melakukan fogging  atau pengasapan se$ara teratur

Pro*ilaksis;

• "oksisiklin  kapsul<hari "iminum 2 hari sebelum pergi, selama tinggal, sampai

4 minggu setelah keluar daerah endemik

+ Bagaimana &)" pada kasus ini@ Aa#ab;

(35)

&)" pada kasus adalah 4' !ulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik  dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut se$ara mandiri dan tuntas )ompetensi yang di$apai pada saat lulus dokter

F. Learn!ng Issues

I. MALARIA

De)!n!s!

Malaria Tertiana adalah jenis malaria paling ringan dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi 8dapat terjadi selama 2 minggu in*eksi9

E!de/!"l"g!

Malaria adalah penyakit yang mengan$am kehidupan yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terin*eksi Pada tahun 2=, diperkirakan malaria menyebabkan 7  kematian, sebagian besar terjadi pada anak-anak di '*rika Menurut !aporan Badan )esehatan "unia tahun 2, terdapat 22+ juta kasus malaria dan diperkirakan 7  meninggal pada tahun 2= "ata ini mengalami  penurunan dari 233 juta kasus dan =+  kematian pada tahun 2 &ebagian besar 

kematian terjadi di antara anak yang tinggal di '*rika di mana seorang anak meninggal setiap 4+ detik akibat malaria dan penyakit ini menyumbang sekitar 2> dari semua kematian anak di dunia

"i ndonesia, hingga akhir 2 kasus malaria menunjukkan ke$enderungan menurun, namun masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Berdasarkan data "epartemen )esehatan ndonesia baik 'P 8'nnual Parasite n$iden$e9 maupun 'M 8'nnual Malaria n$iden$e9 menunjukan penurunan selama periode 2-2 'P pada tahun 2 berada pada angka , per  penduduk terus turun hingga ,+ per   penduduk pada tahun 24 'ngka ini meningkat menjadi ,= pada tahun 2., untuk 

kemudian kembali turun pada angka ,. per  penduduk pada tahun 27-2 6al yang sama terjadi pada 'M Pada periode 2-24 'M $enderung menurun dari 3,= menjadi 2,2 per  penduduk kemudian hingga tahun 2 turun menjadi ,2 per   penduduk )emudian berdasarkan data dari Pusat "ata dan &ur:eilans Epidemiologi

(36)

)ementerian )esehatan 0 Tahun 2, angka 'M turun hingga 2,27 per   penduduk

Pro:insi &umatera &elatan adalah daerah endemis malaria, dimana tahun 2= terdapat 7 kabupaten endemis malaria sedang dan  kabupaten<kota lainnya digolongkan  pada daerah endemis rendah &atu kota diantara daerah endemis rendah yaitu )ota

Palembang adalah daerah bebas malaria dalam arti kasus yang ada adalah kasus impor dari kabupaten lain 8)abupaten Banyuasin9 'ngka kesakitan malaria dari tahun 23 ke tahun 24 menurun se$ara drastis 6al ini disebabkan )abupaten Bangka dan Belitung berpisah dari Po:insi &umatera &elatan )edua )abupaten tersebut adalah penyumbang kasus malaria paling tinggi 'ngka kesakitan 8malaria klinis9 per  penduduk di Pro:insi &umatera &elatan tahun 2= 8'M9 adalah ,4+> dengan kematian 8510 ,27>9, dengan  jumlah sediaan darah yang diperiksa < 'BE0 8 'nnual Blood E?amination rate 9 ,42> dan  persentase dari sediaan darah yang positi* dari seluruh sediaan darah yang diperiksa 8&P09

2,=> 

'ngka kesakitan 8malaria klinis9 per  penduduk di kabupaten<kota Pro:insi &umatera &elatan dalam tahun 2= tertinggi adalah di )abupaten gan )omering (lu 27,7> 8727 kasus9, )abupaten !ahat 22,> 87+3 kasus9, )ota !ubuk !inggau 7,> 8332. kasus9, sedangkan terendah di )abupaten gan lir ,34>

Et!"l"g!

Penyakit malaria disebabkan oleh ProtoCoa genus PlasmodiumTerdapat empat spesies yang menyerang manusia yaitu;

• Plasmodium *al$iparum 8Oel$h, =79 menyebabkan malaria *al$iparum atau malaria

tertiana maligna<malaria tropika<malaria pernisiosa

• Plasmodium :i:a? 8!abbe, ==9 menyebabkan malaria :i:a? atau malaria tertiana

 benigna

• Plasmodium o:ale 8&tephens, =229 menyebabkan malaria o:ale atau malaria tertiana

 benigna o:ale

• Plasmodium malariae 8/rassi dan 1eletti, =9 menyebabkan malaria malariae atau

malaria kuartana

&elain empat spesies Plasmodium diatas, manusia juga bisa terin*eksi oleh Plasmodium kno#lesi, yang merupakan plasmodium Coonosis yang sumber in*eksinya adalah kera

(37)

Penyebab terbanyak di ndonesia adalah Plasmodium *al$iparum dan Plasmodium :i:a? (ntuk Plasmodium *al$iparum menyebabkan suatu komplikasi yang berbahaya, sehingga disebut juga dengan malaria berat

Fakt"r R!s!k"

'. Fakt"r Manus!a 5H"st6 a. Karakter!st!k /anus!a

- (mur 

'nak-anak lebih rentan terhadap in*eksi malaria Beberapa studi menunjukkan  bah#a anak yang bergiCi baik justru lebih sering mendapat kejang dan malaria serebral dibanding dengan anak yang bergiCi buruk 'kan tetapi anak yang  bergiCi baik dapat mengatasi malaria berat dengan lebih $epat dibandingkan

anak bergiCi buruk

- Aenis )elamin

n*eksi malaria tidak membedakan jenis kelamin, tetapi apabila mengin*eksi ibu yang sedang hamil akan menyebabkan anemia yang berat Beberapa  penelitian menunjukkan bah#a perempuan mempunyai respon yang kuat

dibandingkan laki-laki, namun kehamilan menambah risiko malaria

- munitas

rang yang pernah terin*eksi malaria sebelumnya biasanya terbentuk imunitas dalam tubuhnya, demikian juga yang tinggal di daerah endemis biasanya mempunyai imunitas alami terhadap malaria

- 0as

Beberapa ras di '*rika mempunyai kekebalan terhadap malaria, misalnya si$kle $ell anemia dan o:alositas Plasmodium *al$iparum dapat gagal matang  pada anak dengan dengan sel sabit serta tidak mampu men$apai densitas tinggi  pada anak dengan de*isiensi glukose-.-*os*at dehidrogenase

- &tatus giCi

Masyarakat dengan giCi kurang baik dan tinggal di daerah endemis malaria lebih rentan terhadap in*eksi malaria 6ubungan antara penyakit malaria dan

(38)

kejadian )urang Energi Protein 8)EP9 merupakan masalah yang hingga saat ini masih kontro:esial 'da kelompok peneliti yang berpendapat bah#a  penyakit malaria menyebabkan kejadian )EP, tetapi sebagian peneliti  berpendapat bah#a keadaan )EP yang menyebabkan anak mudah terserang  penyakit malaria 0i$e et al mengatakan terdapat hubungan yang kuat antara malnutrisi dalam hal meningkatkan risiko kematian pada penyakit in*eksi termasuk malaria pada anak-anak di negara berkembang Penelitian &hankar  yang menguji hubungan antara malaria dan status giCi menunjukkan bah#a malnutrisi protein dan energi mempunyai hubungan dengan morbiditas dan mortalitas pada berbagai malaria 8Oanti,29 Penelitian yang dilakukan oleh &u#adera menunjukkan bah#a balita dengan status giCi kurang berisiko menderita malaria ,. kali dibandingkan dengan yang berstatus giCi baik

0. Per!laku /anus!a

Manusia dalam keseharian mempuyai akti*itas yang beresiko untuk terkena  penyakit malaria, diantaranya;

- )ebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam, dimana :ektornya  bersi*at ekso*ilik dan ekso*agik akan memudahkan kontak dengan nyamuk 6asil penelitian yang dilakukan oleh &u#ito 82+9 menunjukkan bah#a responden yang mempunyai kebiasaan keluar rumah pada malam hari mempunyai risiko menderita malaria 4 kali lebih besar di banding dengan yang tidak mempunyai kebiasaan keluar pada malam hari

- Tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria dengan menyehatkan lingkungan, menggunakan kelambu Menurut penelitian yang dilakukan oleh Babba 82=9 diperoleh bah#a orang yang tidur malam tidak menggunakan kelambu, mempunyai risiko terjangkit malaria sebesar 2,2 kali lebih besar  dibandingkan yang menggunakan kelambu

- Memasang ka#at kasa pada rumah dapat mengurangi masuknya nyamuk ke dalam rumah untuk menggigit manusia 6asil penelitian &u#adera 8239  bah#a ada hubungan :entilasi yang di lengkapi kasa dengan kejadian malaria  pada balita Balita yang tinggal dalam rumah tidak di lengkapi dengan ka#at

(39)

kasa akan berisiko terkena malaria sebesar 3,4 kali dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan :entilasi memakai ka#at kasa

- Menggunakan obat nyamuk maupun repelen dapat menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, baik hanya bersi*at menolak ataupun membunuh nyamuk Mereka yang mempunyai kebiasaan tidak menggunakan obat nyamuk  mempunyai risiko terkena malaria sebesar , kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menggunakan obat anti nyamuk 8&u#ito,2+9

&elain perilaku-perilaku tersebut, berbagai kegiatan manusia seperti  pembendungan, pembuatan jalan, pertambangan dan pembangunan  pemukiman<transmigrasi sering mengakibatkan perubahan lingkungan yang

menguntungkan penularan malaria &elain hal tersebut diatas, terdapat juga  beberapa karakteristik dari manusia yang dapat menyebabkan terjadinya malaria

seperti pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan pendapatan

Pendidikan yang semakin tinggi diharapkan berbanding lurus dengan tingkat  pengetahuan, terutama untuk pen$egahan malaria 6asil penelitian yang dilakukan oleh Yahya, dkk 82+9 makin tinggi tingkat pendidikan ibu $enderung makin tinggi tingkat pengetahuannya tentang malaria pada anak 6al ini sesuai dengan hasil penelitian Babba 829 bah#a ada hubungan antara pendidikan yang rendah dengan kejadian malaria dengan risiko terkena malaria sebesar 2,23 kali dibanding dengan orang yang berpendidikan tinggi

Pekerjaan yang dilakukan seseorang mempunyai peranan dalam kejadian malaria 6asil penelitian oleh Balai Penelitian Gektor dan 0eser:oar Penyakit 8BPG0P9  juga menunjukkan hasil bah#a pekerjaaan yang berkaitan dengan pertanian mempunyai risiko untuk menderita malaria sebesar 4, kali lebih besar daripada yang bekerja selain dibidang pertanian

Pendapatan berkaitan dengan kemampuan responden untuk mengupayakan  pen$egahan atau meminimalkan kontak dengan nyamuk misalnya dengan  penggunaan ka#at kasa atau membeli obat anti nyamuk 6asil penelitian yang dilakukan oleh Babba 829 menunjukkan bah#a orang yang mempunyai  penghasilan yang kurang mempunyai risiko sebesar 4, 32 kali untuk menderita

(40)

#. Fakt"r N2a/uk 

 Nyamuk anopheles terutama hidup didaerah tropik dan sub tropik, namun dapat juga hidup di daerah beriklim sedang bahkan dapat hidup di daerah 'rktika Aarang ditemukan pada ketinggian lebih dari 2-2+ m E*ekti*itas :ektor untuk  menularkan dipengaruhi hal-hal berikut;

a )epadatan :ektor dekat pemukiman manusia  b )esukaan menghisap darah manusia

$ 1rekuensi menghisap darah 8tergantung pada suhu9

d !amanya sporogoni 8berkembangnya parasit dalam nyamuk sehingga menjadi in*ekti*9

e !amanya hidup nyamuk harus $ukup untuk sporogoni dan kemudian mengin*eksi

&elain itu, perilaku nyamuk sangat menentukan dalam proses penularan malaria Beberapa yang penting meliputi;

a Tempat istirahat di dalam rumah atau luar rumah 8endo*ilik dan ekso*ilik9  b Tempat menggigit di dalam rumah atau luar rumah 8endo*agik dan ekso*agik9

$ byek yang di gigit, suka menggigit manusia atau he#an 8antro*o*ilik dan Coo*ilik9

9. Fakt"r L!ngkungan a. L!ngkungan F!s!k 

- &uhu (dara

&uhu udara berpengaruh terhadap lamanya masa inkubasi ekstrinsik 8panjang  pendeknya siklus sprorogoni9 6al ini berperan dalam transmisi malaria &emakin tinggi suhu antara 2-3 5 akan berakibat pada makin pendeknyaᵒ

masa inkubasi ekstrinsik, begitu juga sebaliknya Pengaruh suhu terhadap masing-masing spesies tidak sama Pada suhu 2.,7 5 masa inkubasi ekstrinsik ᵒ

 pada spesies plasmodium berbeda yaitu ; Plasmodium falciparum 8-2 hari9,  P. ivax 8-hari9, P. Malariae 84 hari9 dan P. vale 8 + hari9

(41)

)elembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk, dengan tingkat kelembaban .> merupakan batas paling rendah untuk hidupnya nyamuk Pada kelembaban yang lebih tinggi nyamuk menjadi lebih akti* dan lebih sering menggigit

- )etinggian

&e$ara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah, ini  berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata Pada ketinggian diatas 2 m  jarang ada transmisi malaria, namun ini bisa berubah dengan adanya  pemanasan bumi dan pengaruh dari El-Nino ni menyebabkan terjadinya  perubahan pola musim di ndonesia yang berpengaruh terhadap perilaku

nyamuk - 'ngin

)e$epatan dan arah angin berpengaruh terhadap kemampuan jarak terbang 8*light range9 nyamuk )e$epatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam  berpengaruh terhadap nyamuk yang keluar masuk rumah Aarak terbang nyamuk dapat diperpendek atau diperpanjang sebagai akibat pengaruh adanya ke$epatan angin

- 6ujan

&iklus hidup dan perkembangan nyamuk dapat dipengaruhi oleh *luktuasi $urah hujan 6ujan yang di selingi panas akan memperbesar kemungkinan  perkembang biakan nyamuk anopheles berlangsung sempurna Tetapi tidak 

semua spesies mempunyai ke$enderungan yang sama - &inar matahari

&inar matahari memberikan pengaruh berbeda pada spesies nyamuk Nyamuk   #n. #conitus lebih menyukai tempat untuk berkembang biak dalam badan air  yang ada sinar mataharinya dan ada peneduh &pesies yang lain lebih menyukai tempat yang rindang Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan lar:a nyamuk berbeda-beda #nopheles sundaicus lebih suka di tempat yang teduh,  #nopheles h!rcarnus spp !ebih suka di tempat yang terbuka sedangkan  #nopheles balabacensis  dapat hidup beradaptasi baik di tempat yang teduh

(42)

8Yunianto,dkk,229 banyak ditemukan di antara batuan atau di ba#ah tanaman air yang terlindung dari sinar matahari langsung

- 'rus air  

 #n. 0alabacensis lebih menyukai tempat perindukan yang airnya tergenang atau mengalir sedikit, 'n minimus menyukai tempat perindukan yang aliran airnya $ukup deras dan 'n leti*er menyukai tempat yang airnya tergenang Menurut laporan penelitian 8Yunianto,229 menyatakan bah#a 'n ma$ulatus  berkembangbiak pada genangan air di pinggir sungai dengan aliran lambat atau  berhenti

&elain hal tersebut diatas, beberapa lingkungan *isik yang terdapat disekitar  manusia dan dalam kondisi yang sesuai dapat meningkatkan resiko kontak dengan nyamuk in*eksius, diantaranya seperti keberadaan tempat perindukan nyamuk, tempat pemeliharaan ternak besar serta konstruksi dinding rumah "epkes 0 8===9, adanya ternak besar seperti sapi dan kerbau dapat mengurangi gigitan nyamuk pada manusia apabila kandang tersebut diletakan di luar rumah pada  jarak tertentu 8$attle barrier9 "emikian juga lokasi rumah dekat tempat  perindukan :ektor serta desain, konstruksi rumah dapat mengurangi kontak antara manusia dengan :ektor 0umah dengan dinding yang terbuka karena konstruksi yang tidak lengkap ataupun karena bahan baku yang membuatnya ber$elah, meningkatkan resiko kontak dengan nyamuk

0. L!ngkungan k!/!a

"ari lingkungan ini yang baru di ketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan &ebagai $ontoh 'n sundai$us tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya berkisar antara 2- > dan tidak dapat berkembang biak   pada kadar garam 4> keatas Meskipun di beberapa tempat di sumatra (tara 'n

sundai$us ditemukan pula dalam air ta#ar dan 'n leti*er dapat hidup di tempat yang asam< p6 rendah

Gambar

Tabel . Pengobatan lini kedua malaria :i:a?

Referensi

Dokumen terkait

Pada fraksi ini dihasilkan gasolin (bensin). Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil dari 175 oC , masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 90 oC – 175

PADANG 2017.. Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang 2017. Kabupaten Agam ini memiliki 16 Kecamatan dimana memiliki fungsi kawasan hutan

- bahwa, Pemohon telah berpisah rumah dengan Termohon sejak tanggal 18 November 2009 dan pada awalnya Pemohon yang pergi dari kediaman bersama (rumah orang tua. Pemohon) kemudian

Matrik EFAS aspek penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu dapat dilihat dari hasil analisis faktor

Hasil studi di Afrika misalnya mengungkapkan bahwa sistem pertanian semi organik ternyata mampu meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan,

Menurut Azhar Arsyad (2011:87-90) modul pembelajaran memiliki beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat merancang, misalnya konsistensi dalam penggunaan format

Karena pemuaian panas minyak isolasi lebih tinggi dibandingkan dengan pemuaian volume dari kabel, tidak akan cukup tempat didalam selubung logam untuk mengakomodasi jumlah

Sesuai dengan rumusan yang penulis kemukakan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang proses pembelajarannya menggunakan model