BAB II TINJAUAN PUSTAKA

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Bahan Ajar Modul Berbasis Inkuiri 1. Pengertian Bahan Ajar

Banyak sumber belajar dilingkungan sekitar sekolah atau dilingkungan luar sekolah yang belum dimanfaatkan keberadaanya sebagai bahan ajar untuk menunjang dalam kegiatan proses pembelajaran disekolah. Bahan ajar tersebut diharapkan akan memberikan hasil belajar yang diinginkan. Bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan sisa untuk belajar. Bahan ajar adalah informasi, alat dan teks yang diperlukan guru atau instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran (Prastowo, 2013: 298).

Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/ instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh atau terpadu. Bahan Ajar Adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis (Amri & Ahmadi, 2010: 159).

Bahan ajar menurut Majid (2005:173) adalah segala bentuk bahan ajar yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar merupakan informasi, alat atau teks yang diperlukan guru/ instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.

Pemaparan di atas mengenai pengertian bahan ajar maka dapat dipahami bahwa bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang digunakan dalam proses pembelajaran dan bisa apa saja yang ada dilingkungan sekitar atau yang ada di alam sekitar sebagai sumber belajar yang fungsinya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran dan berpengaruh terhadap proses pendidikan. Bahan ajar dapat mempengaruhi kualitas

(2)

pembelajaran termasuk kualitas hasil belajar. Oleh karena itu, bahan ajar memiliki fungsi dalam pembelajaran dan memegang peranan yang sangat strategis dan turut menentukan tercapainya tujuan pendidikan.

Prastowo (2013: 306) dari segi bentuknya, bahan ajar dibedakan menjadi empat macam, yaitu :

a. Bahan ajar cetak (printed), yakni sejumlah bahan ajar yang disiapkan dalam kertas, yang dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau penyampaian informasi. Contohnya, handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto atau gambar, dan model atau maket.

b. Bahan ajar dengar (audio), yakni bahan ajar yang menggunakan sinyal radio secara langsung, yang dapat dimainkan atau didengar oleh seseorang atau sekelompok orang. Contohnya, kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.

c. Bahan ajar pandang dengar (audiovisual), yakni segala sesuatu yang memungkinkan sinyal audio yang dapat dikombinasi dengan gambar bergerak secara sekuensial. Contohnya, video compact disk dan film.

d. Bahan ajar interaktif (interactive teaching materials), yakni kombinasi dari dua atau lebih media (audio, teks, grafik, gambar, animasi, dan video) yang oleh penggunanya dimanipulasi atau diberi perlakuan untuk mengendalikan suatu perintah dan perilaku alami dari suatu presentasi. Contohnya, compact disk interactif.

Bahan ajar memiliki fungsi dalam pembelajaran dan berpengaruh terhadap proses pendidikan. Bahan ajar dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran termasuk kualitas hasil belajar. Oleh karena itu, bahan ajar memiliki fungsi dalam pembelajaran dan memegang peranan yang sangat strategis dan turut menentukan tercapainya tujuan pendidikan.

Prastowo (2013: 299) keberadaan bahan ajar memiliki sejumlah fungsi dalam proses pembelajaran. Ada dua klasifikasi utama pembagian fungsi bahan ajar, yaitu menurut pihak yang memanfaatkan bahan ajar dan menurut strategi pembelajaran yang digunakan.

a. Pihak yang memanfaatkan bahan ajar

Pihak-pihak yang menggunakan, fungsi bahan ajar dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu fungsi bagi guru dan fungsi bagi siswa.

(3)

1) Fungsi bahan ajar bagi guru adalah mengubah peran guru dari seorang pengajar menjadi fasilitator, meningkatkan proses pembelajaran menjadi efektif interaktif, pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan sebagai saat evaluasi.

2) Fungsi bahan ajar bagi siswa, adalah siswa belajar tanpa harus ada guru atau teman yang lain, membantu potensi siswa untuk menjadi pelajar, sebagai pedoman siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi kompetensi.

b. Strategi pembelajaran yang digunakan

Fungsi bahan ajar dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu pembelajaran klasikal, individual atau kelompok.

1) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran klasikal, sebagai satu-satunya sumber informasi dan pengawas serta pengendali proses pembelajaran dan sebagai bahan pendukung proses pembelajaran.

2) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran individual, adalah sebagai media utama dalam proses pembelajaran, alat yang digunakan untuk menyusun dan mengawasi proses siswa memperoleh informasi dan penunjang media pembeljaran.

3) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran kelompok, adalah bersifat sebagai bahan yang terintegrasi dengan proses belajar kelompok dan sebagai pendukung bahan belajar utama yang jika dirancang sedemikian rupa dapat meningkatkan motivasi siswa.

Berdasarkan pemaparan fungsi bahan ajar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada intinya bahan ajar ini memiliki fungsi sebagai pedoman bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi, dan sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.

2. Modul Sebagai bahan ajar

Pengertian modul dikamus besar bahasa Indonesia adalah kegiatan program belajar mengajar yang dapat dipelajari oleh peserta didik dengan bantuan yang minimal dari guru atau dosen pembimbing, meliputi perencanaan tujuan yang akan dicapai secara jelas, penyediaan materi pelajaran, alat yang dibutuhkan dan alat untuk penilai serta pengukuran keberhasilan peserta didik dalam penyelesaian pelajaran (Prastowo, 2012: 104).

(4)

Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang segala komponen dasar bahan ajar yang telah disebutkan sebelumnya. Sebuah modul akan bermakna kalau peserta didik dapat dengan mudah menggunakannya (Majid, 2005: 176).

Modul diartikan sebagai sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru. Sementara dalam pandangan lainnya modul dimaknai sebagai seperangkat bahan ajar yang disajikan secara sistematis, sehingga penggunaannya dapat belajar atau tanpa seorang fasilitator atau guru. Sebuah modul harus dapat disajikan bahan ajar sebagai pengganti fungsi pendidik. Jika pendidik mempunyai fungsi menjelaskan sesuatu maka modul harus mampu menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah diterima peserta didik sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya (Prastowo, 2012: 104).

Munadi (2013:99) menyatakan modul merupakan bahan belajar yang dapat digunakan oleh siswa untuk belajar secara mandiri dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain. Dikatakan demikian, karena modul dibuat berdasarkan program pembelajaran yang utuh dan sistematis serta dirangcang untuk sistem pembelajaran yang mandiri. Modul mengandung tujuan, bahan dan kegiatan belajar serta evaluasi. Oleh karena itu, cakupan bahasan materi dalam modul lebih fokus dan terukur, serta lebih mementingkan aktivitas belajar pembacanya, semua sajiannya disampaikan melalui bahasa yang komunikatif.

Karakteristik modul yaitu: 1) dirancang untuk sistem pembelajaran mandiri, 2) program pembelajaran yang utuh dan sistematis, 3) mengandung tujuan, bahan/ kegiatan dan evaluasi, 4) disajikan secara komunikatif, 5) diupayakan agar dapat mengganti beberapa peran pengajar, 6) cakupan bahasa terfokus dan terukur, 7) mementingkan aktivitas belajar pemakai (Rohman, 2013: 93).

Modul adalah sarana pembelajaran dalam bentuk tertulis atau cetak yang disusun secara sistematis, memuat materi pembelajaran, metode, tujuan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar atau indicator pencapaian kompetensi dasar atau indikator pencapaian kompetensi, potensi kegiatan belajar mandiri (self instructional), dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguji diri sendiri melalui latihan yang disajikan dalam modul tersebut. Modul memiliki sifat

(5)

self contained, artinya dikemas dalam satu kesatuan yang utuh untuk mencapai kompetensi tertentu (Hamdani, 2011:221-222).

Modul merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Sebuah modul adalah pernyataan satuan pembelajaran dengan tujuan-tujuan dan aktivitas belajar yang memungkinkan peserta didik memperoleh kompetensi-kompetensiyang dikuasi dari hasil pretes, dan mengevaluasi kompetensinya untuk mengukur keberhasilan belajar (Mulyasa, 2004: 148).

Trianto (2010:227) mengemukakan bahwa buku siswa atau modul juga sebagai panduan belajar baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun pembelajaran mandiri. Materi ajar berisikan garis besar bab, kata-kata sains yang dapat dibaca pada uraian materi pembelajaran, tujuan yang memuat tujuan yang hendak dicapai setelah mempelajari materi ajar, materi pelajaran berisi uraian materi yang harus dipelajari, bagan atau gambar yang mendukung ilustrasi pada uraian materi, kegiatan percobaan menggunakan alat dan bahan sederhana yang dapat dikerjakan oleh siswa, uji diri setiap submateri pokok, dan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari yang perlu didiskusikan.

Modul mengisyaratkan bahwa penyusunan modul memiliki arti penting bagi kegiatan pembelajaran, fungsi dari modul adalah sebagai bahan ajar mandiri yang dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk belajar sendiri tanpa bergantung pada pendidik, sebagai alat evaluasi yaitu untuk mengukur dan menilai sendiri tingkat penguasaannya terhadap materi yang telah dipelajari, dan sebagai bahan rujukan bagi peserta didik (Prastowo, 2012: 108).

Amri dan Ahmadi (2010 : 197-198) pembelajaran dengan modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai satu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik. Selain itu, Prastowo (2012:112-113) untuk membuat sebuah modul yang baik, maka satu hal yang penting yang harus dilakukan adalah mengenali unsur-unsurnya. Modul paling tidak harus berisikan tujuh unsur, yakni : judul modul, petunjuk belajar (petunjuk peserta didik atau pendidik), kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja atau lembar kerja, dan evaluasi. Langkah-langkah pembuatan modul dan kerangka modul menurut Diknas (2008) secara ringkas adalah: 1) analisis kurikulum, 2) desain modul, 3)

(6)

Kata Pengantar Daftar Isi

Peta Kedudukan Modul

I. PENDAHULUAN

A. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar B. Deskripsi

C. Waktu

D. Prasyarat Pengguna Modul E. Petunjuk Pengguna Modul F. Tujuan Akhir

G. Cek Penguasaan Standar Kompetensi

II.PEMBELAJARAN A. Pembelajaran 1 1. Tujuan 2. Uraian Materi 3. Rangkuman 4. Tugas 5. Tes

6. Lembar Kerja Praktik

B. Pembelajaran 2-n (seterusnya mengikuti jumlah pembelajaran yang dirancang)

1. Tujuan 2. Uraian Materi 3. Tugas

4. Tes

5. Lembar Kerja Praktik

III. EVALUASI A.Tes Kognitif B.Tes Psikomotorik C.Penilaian Sikap KUNCI JAWABAN DAFTAR PUSTAKA

implementasi modul, 4) penilaian modul, 5) evaluasi dan validasi modul, 6) jaminan kualitas modul. Berikut ini adalah kerangka modul menurut Diknas.

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Modul

Diknas mengatakan bahwa sebagaimana umumnya keberadaan rambu-rambu, maka pedoman di atas tidak harus diikuti secara kaku, tetapi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan, kekhususan, karakteristik unit kompetensi yang dikembangkan. Alasan tersebut membuat penulis tertarik untuk mengikuti kerangka modul yang dikembangkan oleh Diknas karena modul yang dikembangkan oleh penulis disesuaikan dengan kebutuhan, kekhasan dan sesuai karakteristik siswa.

(7)

Hamdani (2011: 220-221), mengemumakan tujuan pembuatan modul adalah :1) siswa memiliki kesempatan melatih diri belajar secara mandiri, 2) belajar lebih menarik karena dapat dipelajari di luar kelas dan di luar jam pembelajaran, 3) berkesempatan mengekspresikan cara-cara belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya, 4) berkesempatan menguji kemampuan diri sendiri dengan mengerjakan latihan yang disajikan dengan modul, 5) mampu membelajarkan diri sendiri, 6) mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya.

Modul memiliki banyak fungsi diantaranya sebagai berikut: 1) bahan ajar mandiri, 2) pengganti fungsi pendidik, 3) sebagai alat evaluasi dan 4) sebagai bahan rujukan bagi siswa. Russel (1974) dalam (Wena, 2013: 230) mengemukakan bahwa sistem pembelajaran modul akan menjadikan pembelajaran lebih efisien, efektif dan relevan. Dibandingkan pembelajaran yang konvensional yang cenderung dilaksanakan klasikal dan dilaksanakan dengan tatap muka.

Modul dalam proses pembelajaran memiliki kegunaan sebagai penyedia informasi dasar karena dalam modul disajikan sebagai materi pokok yang masih bisa dikembangkan lebih lanjut. Sebagai bahan intruksi atau petunjuk bagi peserta didik serta sebagai bahan pelengkap dengan ilustrasi dan komunikatif, kegunaan lainnya adalah menjadi petnujuk mengajar yang efektif (Prastowo, 2012:119).

Dari pengertian dan pemaparan diatas tentang modul, penulis dapat menyimpulkan bahwa modul adalah seperangkat alat pembelajaran yang lengkap sebagai bahan ajar yang dapat digunakan dan bisa dibuat oleh siapa saja sesuai keperluan untuk mendapatkan hasil belajar yang ingin dicapai yang dibuat secara istematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik sesuai tingkat pengetahuan dan usia mereka, agar mereka dapat belajar sendiri (mandiri) dengan bantuan atau bimbingan yang minimal dari pendidik. Peserta didik dapat mengukur tingkat penguasaan mereka terhadap materi yang dibahas pada setiap satu satuan modul, sehingga apabila telah menguasainya, maka mereka dapat melanjutkan pada satu satuan tingkatan modul berikutnya.

3. Pembelajaran Berbasis Inkuiri

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran yaitu menggunakan pendekatan inkuiri. Pendekatan inkuiri melibatkan siswa secara aktif berpikir dan menemukan sesuatu yang ingin diketahuinya. Dalam pembelajaran

(8)

pendekatan inkuiri siswa dilibatkan dalam proses penemuan melalui pengumpulan data dan tes hipotesis. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat dari fakta-fakta tetapi hasil dari penemuannya sendiri jadi pembelajaran berbasis inkuiri yaitu pembelajaran yang akan mengarahkan siswa dalam kegiatan yang akan mengembangkan pemahaman dan pengetahuan konsep Biologi.

Proses belajar IPA ditandai dengan adanya perubahan induvidu yang belajar, baik berupa sikap dan perilaku, pengetahuan, pola pikir, dan konsep nilai yang dianutnya. Seorang guru dalam merencanakan suatu proses pembelajaran harus memperhatikan konsep belajar karena akan berpengaruh pada pencacapaian hasil belajar. Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk tahu dan terlibat secara aktif dalam menemukan konsep dari fakta-fakta yang dilihat dari lingkungan dengan bimbingan guru. Trianto (2010:114) menyatakan bahwa inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis konstektual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Menurut Rohman(2013:72) Siklus inkuiri yaitu observasi dimulai dengan bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data dan menarik simpulan. Adapun langkah-langkahnya dengan merumuskan masalah, melakukan observasi, analisis data dan menarik simpulan.

Hamalik (2009:64) Proses inkuiri menuntut guru untuk berperan sebagai fasilitator, narasumber, dan konselor kelompok. Guru menyajikan beberapa pengetahuan seraya mendorong mereka untuk mencari pengetahuan sendiri. Beberapa kriteria ini hendaknya diperhatikan oleh guru agar siswa berhasil melakukan proses pembelajaran yaitu:

1. Merumuskan topik inkuiri dengan jelas dan bermanfaat bagi siswa. 2. Membentuk kelompok yang seimbang, baik akademis maupun sosial.

3. Menjelaskan tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok-kelompok dengan cara yang responsife dan tepat waktunya.

4. Sekali-kali perlu intervensi oleh guru agar terjadi interaksi antar pribadi yang sehat dan demi kemajuan tugas.

(9)

Sanjaya (2008:306-307) Mengemumakan secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut):

1. Orientasi, langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap mengikuti proses pembelajaran.

2. Merumuskan masalah, merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu.

3. Merumuskan hipotesis, hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang dapat mendorong untuk berpikir lebih lanjut.

4. Mengumpulkan data, mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. 5. Menguji hipotesis, menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang

dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.

6. Merumuskan kesimpulan, merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

Kegiatan proses belajar mengajar selama ini masih berpusat pada guru yang membuat siswa menjadi pasif karena siswa hanya mampu mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru. Kegiatan pembelajaran seperti ini perlu mendapat perhatian khusus karena siswa tidak hanya menghafal tetapi siswa juga terlibat dalam proses pembelajaran secara aktif. Amri dan lif (2010:200) Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran memiliki intensitas keaktifan yang lebih tinggi. Siswa tidak hanya sekedar aktif mendengar, mengamati dan mengikuti, akan tetapi terlibat langsung dalam melaksanakan keterlibatan

(10)

langsung dalam melaksanakan suatu percobaan, peragaan atau mendemonstrasikan langsung. Keterlibatan langsung ini berarti siswa aktif mengalami dan melakukan proses belajar sendiri. Keterlibatan langsung siswa memberi banyak sekali manfaat baik manfaat yang langsung dirasakan pada saat terjadinya proses pembelajaran tersebut, maupun manfaat jangka panjang setelah proses pembelajaran berlangsung (Aunurrahman, 2009: 121).

Proses pembelajaran pada pendekatan inkuiri dipandang sebagai stimulus yang dapat menantang siswa untuk belajar. Peranan guru lebih banyak menetapkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan fasilitator belajar. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru, mengembangkan disiplin intelektual, dan dapat menambah ketrampilan berpikir peserta didik. Pendekatan inkuiri peran guru lebih banyak menetapkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan fasilitator belajar sehingga siswa termotivasi untuk belajar.

4. Karakteristik Bahan Ajar Modul Berbasis Inkuiri

Bahan ajar modul akan bermakna kalau peserta didik dapat dengan mudah menggunakannya. Bahan ajar modul berbasis inkuiri merupakan perpaduan pengembangan bahan ajar yang inovatif. Modul berbasis inkuiri berisi materi yang disusun dengan menggunakan prinsip pembuatan modul sebagai bahan ajar yang dipadukan dengan pendekatan inkuiri sebagai informasi pendukung, yaitu informasi tambahan yang melengkapi isi materi dalam modul sebagai bahan ajar, sehingga akan memudahkan pengetahuan yang akan diperoleh oleh peserta didik dan akan lebih menarik dengan perpaduan antara isi materi dan pendekatan inkuiri sebagai informasi tambahannya didalam modul.

Modul berbasis inkuiri yang dibuat oleh peneliti adalah modul yang didalamnya terdapat karakteristik inkuiri, modul tersebut memiliki isi yang terdiri dari: 1) halaman judul, 2) kata pengantar, 3) daftar isi, 4) pendahuluan, 5) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, 6) panduan untuk pembaca, 7) peta konsep, 8) Uraian materi yang terdiri dari 2 kegiatan, pada bagian ini disajikan dalam bentuk uraian materi yang ditampilkan secara langsung dan disajikan pula kegiatan-kegiatan yang memiliki karakteristik inkuiri seperti kegiatan-kegiatan apersepsi, tes kompetensi awal, kata kunci, coba tebak, eksperimen, fakta biologi, sekilas biologi, tugas kelompok, tugas mandiri, evaluasi dan refleksi, Diknas (2008).

(11)

Modul berbasis inkuiri ini adalah suatu bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana berupa pembelajaran mandiri dengan menggunakan sebuah modul yang di dalamnya memuat karakteristik inkuiri terbimbing dan materi ajar yang di dalamnya terdapat penugasan yang dapat memfasilitasi siswa untuk menemukan konsep dan permasalahan sehingga siswa dapat menarik kesimpulan dari permasalahan tersebut. Kemampuan siswa untuk memecahkan masalah tersebut adalah sebagai indikator bahwa siswa mampu menggali pengetahuannya sehingga dengan modul berbasis inkuiri ini didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan dan hasil belajar siswa tercapai.

Penggunaan modul berbasis inkuiri ini diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami materi yang diperolehnya melalui isi materi yang ada dalam modul dengan kegiatan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari yang secara langsung dialami siswa. Modul berbasis inkuiri dirancang dengan memuat karakteristik inkuri dalam setiap kegiatan sehingga siswa akan terlibat aktif dalam proses pembelajarannya, berikut ini adalah karakteristik inkuiri yang terdapat dalam modul berbasis inkuiri.

Karakteristik pertama, peserta didik pada proses pembelajarannya diharapkan terlibat dengan pertanyaan-pertanyaan ilmiah. Banyak kasus, peserta didik memfokuskan pertanyaan atau masalah yang dirumuskan oleh guru, ini bermaksud untuk menumbuhkan agar mereka fokus pada rasa ingin tahu untuk kegiatan berikutnya. Kegiatan dalam modul pada karakteristik tersebut adalah:

a. Apersepsi yaitu berupa pertanyaan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa pada materi yang akan dipelajari dan untuk lebih fokus terhadap isi materi. b. Tes kompetensi awal yaitu berupa pertanyaan ilmiah untuk mengetahui

pemahaman awal siswa.

c. Coba tebak yaitu berupa pertanyaan ilmiah untuk melatih kemampuan dasar siswa seperti berkomunikasi, interpretasi data, melakukan hipotesis untuk menjawab pertanyaan ilmiah.

d. Kata Kunci yaitu berupa kata ilmiah sebagai panduan dalam mempelajari konsep materi.

Karakteristik kedua, peserta didik mengutamakan bukti mereka merencanakan dan melakukan penyelidikan. Pendekatan penyelidika menuntut siswa untuk menemukan cara-cara untuk mengumpulkan bukti untuk menjawab

(12)

pertanyaan mereka. Siswa menentukan data yang mungkin relevan dan cara mengumpulkan data. Kegiatan dalam modul yang pada karakteristik tersebut adalah eksperimen. Kegiatan yang terdapat pada tahap ini adalah berupa analisis masalah atau kegiatan praktikum sehingga dapat menumbuhkan semangat inovasi, kreatifitas dan proses berpikir siswa pada materi..

Karakteristik ketiga, peserta didik menghubungkan bukti dan pengetahuan ilmiah dalam menghasilkan penjelasan. Penyelidikan menuntut siswa menjelaskan, mengklasifikasikan dan menjelaskan pengamatan mereka, mengklarifikasi pekerjaan mereka untuk diri mereka sendiri dan satu sama lain. Anak-anak secara bertahap belajar penjelasan yang harus melibatkan pengetahuan ilmiah dan selalu didasarkan pada bukti pengamatan yang dikumpulkan melalui penyelidikan. Kegiatan dalam modul yang berkaitan dengan karakteristik tersebut adalah:

a. Telusuri kesimpulan yaitu berisi kegiatan untuk menyimpulkan hasil pembelajaran, Peserta didik dilatih untuk menyimpulkan suatu permasalahan. b. Evaluasi yaitu berupa pertanyaan yang menekankan kepada pemahaman konsep

materi.

Karakteristik keempat, peserta didik menerapkan pengetahuan mereka untuk masalah ilmiah baru. Mengembangkan dan memperluas pemahaman peserta didik harus memiliki kesempatan untuk menerapkan ilmu pengetahuan baru mereka dengan keadaan baru. Kegiatan dalam modul yang berkaitan dengan karakteristik tersebut adalah:

a. Sekilas biologi berisi tokoh biologi informasi menarik dan aplikatif berdasarkan materi bab yang dipelajari sehingga dapat menumbuhkan semangat siswa.

b. Fakta biologi Berisi fakta-fakta yang menarik seputar materi yang dipelajari. c. Tugas mandiri yaitu berupa tugas untuk mengeksplor pengetahuan peserta didik. d. Tugas kelompok yaitu berupa tugas bersama untuk melatih peserta didik bekerja

sama menemukan pengetahuan ilmiah baru.

e. Tes kompetensi yaitu berisi pertanyaan tiap kegiatan di akhir.

Karakteristik kelima, peserta didik terlibat dalam wacana dengan orang lain tentang prosedur, bukti dan penjelasan. Anak-anak senang berbicara tentang pengalaman mereka, ilmu penyelidikan menyediakan konteks yang kaya bagi semua siswa untuk mengembangkan bahasa dan pikiran. peserta didik membenarkan prosedur ilmiah, mengumpulkan, merekam, pelaporan dan merefleksikan dan menghasilkan interpretasi memfokuskan siswa pada apa yang

(13)

mereka ketahui. Kegiatan dalam modul yang berkaitan dengan karakteristik tersebut adalah:

a. Mari berdiskusi yaitu berisi kegiatan yang bertujuan melatih bekerja sama, komunikasi yang baik dan memecahkan masalah.

b. Refleksi berupa pertanyaan untuk menilai pemahaman diri terhadap materi. Lima karakteristik diatas yang digunakan dalam modul berbasis inkuiri ini mengacu pada Boss Joel E. Bass.etc, 2009 (88-89). Dengan dibuatnya modul yang menerapkan karakteristik inkuiri di dalamya, diharapkan mampu menjadi bahan ajar yang menarik dan dapat memotivasi peserta didik untuk belajar dan terus belajar sehingga peserta didik dapat dengan mudah menggunakannya dan menimbulkan dampak yang positif terhadap hasil belajar. Modul ini menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik dan menarik (Majid, 2005:176). Modul berbasis inkuiri ini didesain khusus dengan semenarik mungkin dari segi bahasa yang komunikatif, ilustrasi gambar dan jenis kegiatan agar pembaca tidak merasa jenuh dan bosan. Penulis memodifikasi modul ini dengan karakteristik inkuiri yang dapat membantu siswa dalam memahami materi ekosistem dan meningkatkan hasil belajar siswa.

B. Hasil Belajar

Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan ketrampilan, memperbaiki prilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Berdasarkan definisi belajar di atas dapat dikatakan bahwa apabila adanya perubahan sikap, perilaku, ketrampilan dari diri siswa menandakan berhasilnya suatu pembelajaran, karena dalam proses belajar diperoleh suatu pengatahuan sehingga dari pengetahuan tersebut siswa memahami konsep yang diajarkan yang berdampak pada perubahan-perubahan yang positif dan lebih baik. Proses belajar merupakan proses yang unik dan kompleks. Keunikan itu disebabkan karena hasil belajar hanya terjadi pada individu yang belajar, tidak pada orang lain, dan setiap individu menampilkan prilaku belajar yang berbeda. (Purwanto,2013 : 43).

Dimyati dan Mudjiono (2010:295) belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah

(14)

bahan belajar. Belajar tersebut individu menggunakan ranah- ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Akibat belajar tersebut maka kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Lebih lanjut beliau mengatakan siswa yang belajar berarti menggunakan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik terhadap lingkungannya. Uno (2012: 210) menyatakan bahwa hasil belajar yaitu sebuah hasil yang diacukan pada tercapainya tujuan belajar. Suprijono (2014: 5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Pengertian yang dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yaitu segala sesuatu yang ditunjukkan untuk keberhasilan suatu pembelajaran, baik berupa nilai, sikap, apresiasi, atau keterampilan. Hasil belajar dapat juga diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat diukur dengan menggunakan tes dan diwujudkan dalam bentuk nilai.

Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti, tingkah laku memiliki unsur subjektif dan unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsur motoris adalah unsur jasmaniah. Bahwa seseorang sedang berpikir dapat dilihat dari raut mukanya, sikapnya dalam rohaniahnya tidak bisa kita lihat.

Tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah aspek, hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah : Pengetahuan, Pengertian, Kebiasaan, Keterampilan, Apresiasi, Emosional, Hubungan Sosial, Jasmani, Etis atau budi pekerti dan Sikap. Kalau sesorang telah melakukan perbuatan belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan dalam salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut (Hamalik, 2011 : 30).

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004: 22). Hasil belajar juga merupakan gambaran tingkat penguasaan terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang diujikan, berdasarkan alat ukur yang disusun sesuai dengan sasaran belajar. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa ditunjukkan oleh perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/ pemahaman, keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi, serta nilai dan sikap.

Hasil belajar yang diugkapkan Sudjana bahwa pada hakekatnya “hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor”. Aspek kognitif berkenaan dengan masalah pengetahuan dan kecakapan

(15)

intelektual. Aspek afektif berkenaan dengan sikap, nilai-nilai serta apresiasi. Dan aspek psikomotor berkenaan dengan ketrampilan-ketrampilan terutama kelincahan tubuh dan koordinasinya. Proses pengajaran disekolah diarahkan untuk mencapai tiga aspek tersebut. Namun lebih ditekankan pada aspek kognitif berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran.

Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:

a. Ranah Kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.

b. Ranah Afektif

Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.

c. Ranah Psikomotor

Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati).

Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah. Hasil belajar merupakan proses kedewasaan manusia yang hidup dan berkembang sehingga mengakibatkan manusia selalu berubah. Belajar membuat manusia mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan dalam proses kedewasaan yang mungkin terjadi.

Berdasarkan teori di atas tentang hasil belajar maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat internal dalam arti sesuatu yang terjadi di diri seseorang. Peristiwa tersebut dimulai dari adanya perubahan kognitif yang kemudian berpengaruh pada perilaku.

C. Analisis materi Ekosistem

Ekosistem adalah sistem ekologi, ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar

(16)

makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya, makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Ekosistem juga menunjukkan adanya interaksi bolak-balik antara makhluk hidup (biotik) dengan alam (abiotik). Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme.

Ekosistem terbentuk dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik disebut sebagai sesuatu yang hidup, komponen biotik merupakan faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Tumbuhan dalam ekosistem berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Komponen abiotik atau sering disebut komponen tak hidup adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia, diantaranya yaitu suhu, sinar matahari, air, tanah, kelembapan, derajat keasaman (pH), ketinggian dan angin.

Interaksi terjadi pada suatu ekosistem, ada yang diuntungkan, dirugikan dan tidak merasa diuntungkan maupun dirugikan, serta adanya persaingan antar komponen penyusun ekosistem. Interaksi-interaksi yang terjadi antar komponen ekosistem yaitu 1) simbiosis mutualisme, merupakan interaksi antar organisme yang saling menguntungkan, contohnya adalah kupu-kupu dengan tanaman berbunga; 2) simbiosis komensalisme, merupakan interaksi antar organisme dimana yang satu diuntungkan dan yang lain tidak dirugikan, contohnya tanaman anggrek yang menempel pada pohon mangga; 3) simbiosis parasitisme, merupakan interaksi antar organisme dimana yang satu diuntungkan dan yang lain dirugikan, ontohnya kutu rambut dengan rambut manusia; 4) kompetisi merupakan hubungan persaingan antar organisme untuk melangsungkan kehidupan, contohnya tanaman padi dengan gulma; 5) predatorisme: interaksi antar organisme, dimana yang satu memakan yang lain, contohnya harimau memangsa rusa; 6) netralisme: interaksi antarorgannisme yang saling lepas/tidak saling memengaruhi, contohnya kambing dan kucing di halaman.

Aliran energi terjadi pada suatu ekosistem. Aliaran energi merupakan rangkaian urutan pemindahan bentuk energi satu ke bentuk energi lain dimulai dari sinar matahari lalu ke produsen, konsumen sampai ke pengurai di dalam tanah. Rantai

(17)

makananadalah pengalihan energi dari sumbernya melalui sederetan organisme yang makan dan dimakan. Rantai makanan terbagi menjadi rantai makanan pemangsa, rantai makanan saprofit, dan rantai makanan parasit. Kumpulan beberapa rantai makanan yang kompleks disebut jaring-jaring makanan. Struktur trofik pada ekosistem dapat disajikan dalam bentuk piramida ekologi yang memiliki empat tingkatan trofi, tingkat taraf trofi satu yaitu organisme dari golongan produsen, tingkat taraf trofi dua yaitu organisme dari golongan herbivora, tingkat taraf trofi tiga yaitu organisme dari golongan karnivora, dan tingkat taraf trofi empat yaitu organisme dari golongan karnivora.

Ekosistem juga mengalami siklus biogeokimia secara terus menerus. Biogeokimia adalah pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup. Materi pada setiap tingkat trofik pada suatu ekosistem tidak hilang. Materi berupa unsur-unsur penyusun bahan organik tersebut didaur-ulang. Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam komponen biotik melalui udara, tanah, dan air. Daur ulang materi tersebut melibatkan makhluk hidup dan batuan (geofisik).

Daur biogeokimia terjadi secara terus menerus, baik daur air, daur karbon, daur nitrogen, dan daur posfor. Daur air merupakan proses peredaran air dari atmosfer ke laut dan organisme dengan lingkungannya. Air di atmosfer berada dalam bentuk uap air. Uap air berasal dari air di daratan dan laut yang menguap karena panas cahaya matahari. Uap air di atmosfer terkondensasi menjadi awan yang turun ke daratan dan laut dalam bentuk hujan. Air hujan di daratan masuk ke dalam tanah membentuk air permukaan tanah dan air tanah. Tumbuhan darat menyerap air yang ada di dalam tanah. Melalui tranpirasi uap air dilepaskan oleh tumbuhan ke atmosfer. Transpirasi oleh tumbuhan mencakup 90% penguapan pada ekosistem darat. Hewan dan manusia memperoleh air langsung dari air permukaan. Sebagian air keluar dari tubuh hewan dan manusia sebagai urin dan keringat.

Daur karbon mencerminkan proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung jawab atas perubahan dan pergerakan utama karbon. Naik turunnya CO2 dan O2 atsmosfer secara musiman disebabkan oleh penurunan aktivitas Fotosintetik. Dalam skala global kembalinya CO2 dan O2 ke atmosfer melalui respirasi hampir menyeimbangkan pengeluarannya melalui fotosintesis. Pembakaran kayu dan bahan bakar fosil menambahkan lebih banyak lagi CO2 ke atmosfir. Sebagai akibatnya jumlah CO2 di atmosfer meningkat. CO2 dan O2 atmosfer juga berpindah masuk ke

(18)

dalam dan ke luar sistem akuatik, dimana CO2 dan O2 terlibat dalam suatu keseimbangan dinamis dengan bentuk bahan anorganik lainnya.

Daur nitrogen adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam tanah. Gas nitrogen ikatannya stabil dan sulit bereaksi sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh makhluk hidup. penambahan nitrogen ke dalam tanah terjadi melalui proses fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen secara biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan polong-polongan, bakteri Azotobacter dan Clostridium serta ganggang hjau biru.

Nitrat yang di hasilkan oleh fiksasi biologis digunakan oleh produsen (tumbuhan) diubah menjadi molekul protein. Selanjutnya jika tumbuhan atau hewan mati, akan diuraikan oleh dekomposer menjadi gas amoniak (NH3) dan garam ammonium yang larut dalam air (NH4+). Proses ini disebut dengan amonifikasi atau nitrifikasi. Oleh bakteri nitrit (Nitrosomonas), amoniak diubah menjadi nitrit yang disebut proses nitritasi. Nitrit dengan bantuan bakteri nitrat (Nitrobacter) diubah menjadi nitrat melalui proses nitratasi. Adapula bakteri yang mampu mengubah nitrit atau nitrat menjadi nitrogen bebas diudara, disebut dengan denitrifikasi.

Daur fosfor, ion Fosfat terdapat dalam bebatuan dan endapan dari sisa makhluk hidup yang mengalami pelapukan dan erosi. Peristiwa erosi dan pelapukan menyebabkan fosfat terbawa menuju sungai hingga laut membentuk sedimen. Adanya pergerakan dasar bumi menyebabkan sedimen yang mengandung fosfat muncul ke permukaan. Tumbuhan di darat mengambil fosfat yang terlarut dalam air tanah. Herbivora mendapatkan fosfat dari tumbuhan yang dimakannya dan karnivora mendapatkan fosfat dari herbivora yang dimakannya. Hewan mengeluarkan fosfat melalui urin dan feses. Bakteri dan jamur mengurai bahan-bahan anorganik di dalam tanah lalu melepaskannya ke lingkungan, kemudian posfor diambil kembali oleh tumbuhan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :