UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS XII IPA BERBICARA MENGGUNAKAN BAHASA JERMAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN
ROLLENSPIEL DENGAN TEMA CERITA TRADISIONAL DI SMA NEGERI 2 BREBES TAHUN AJARAN 2013/2014
Reni Hartati
email: [email protected]
ABSTRAK
Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah model pembelajaran rollenspiel dapat meningkatkan minat belajar siswa untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman pada siswa kelas XII IPA-4 SMA Negeri 2 Brebes? Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus. Hasil yang diperoleh adanya peningkatan minat berbicara menggunakan bahasa Jerman. Hasil siklus 1, yaitu rata-rata skor 83,57 dan pada hasil siklus 2 adalah 94,64
Kata kunci: Model pembelajaran rollenspiel, cerita tradisional, minat berbicara
ABSTRACT
This research was aimed at increasing the student’s interest in speaking German for the students in the XI IPA-4 of SMA 2 Brebes. This research used 2 cycles. There was an increasing the students’ ability in speaking skill. The average test score was 83,57 in cycle 1 and increased into 94,64 in cycle 2
Key words: rollenspiel teaching model, falklore, interest in speaking
PENDAHULUAN
Salah satu faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah tidak terlepas dari bagaimana guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Tugas guru adalah merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaan, mengevalusi, dan menilai. Dalam menjalankan tugasnya, guru harus menguasai seperangkat kompetensi yang telah ditetapkan agar dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan baik.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para siswa SMA Negeri 2 Brebes tidak memiliki minat dan motivasi belajar bahasa Jerman yang diharapkan. Mereka beranggapan bahwa mata pelajaran bahasa Jerman adalah sangat sulit apalagi tidak diujinasionalkan. Mereka beranggapan bahwa jika mata pelajaran yang diujinasionalkan lulus, pasti mata pelajaran yang di ujian sekolah lulus juga.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, maka guru mengadakan upaya meningkatkan minat belajar berbicara dengan menggunakan Bahasa Jerman melalui model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) dengan tema cerita tradisional.
Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana cara meningkatkan minat para siswa SMA Negeri 2 Brebes untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman. Apakah model pembelajaran Rollenspiel dengan tema cerita tradisional dapat meningkatkan minat belajar berbicara dengan mengguna kan Bahasa Jerman bagi siswa SMA Negeri 2 Brebes?
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam Penelitian ini adalah agar siswa meningkatkan minat dalam belajar berbicara dengan Bahasa Jerman sehingga siswa memperoleh keterampilan dan perubahan sikap yang positif.
Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari penelitian (1) Siswa termotivasi belajar berbicara dengan menggunakan Bahasa Jerman dan dapat memperoleh pengalaman keterampilan berbicara dengan bahasa Jerman; (2) guru dapat menambah wawasan tentang strategi pembelajaran; (3) sekolah dapat meningkat mutu pendidikan di sekolah
KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN
Minat
Minat ialah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto Agus : 1981 ). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami; Sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu perubahan kelakuan.
Belajar
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. ( Hamalik Pemar : 2001 ). Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses yakni suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Yang menjadi hasil dari belajar bukan penguasaan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Karena belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku, maka diperlukan pembelajaran yang bermutu yang langsung menyenangkan dan mencerdaskan siswa.
Suasana kondisi pembelajaran yang menyenangkan dan mencerdaskan siswa itu salah satunya dapat tercipta melalui model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran). Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model
Model Pembelajaran Rollenspiel (bermain peran)
Model adalah representasi realitas yang disajikan dengan suatu derajat struktur dan urutan ( Richey, 1986 ). Rollenspiel dalam bahasa Inggris dikenal dengan role playing kemudian diindonesiakan menjadi bermain peran. Model pembelajaran dengan nama model pembelajaran Bermain Peran ini siswa belajar memerankan pelaku/orang lain dalam cerita. Para siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok memperagakan/ menampil kan skenario yang telah disiapkan guru atau siswa mempersiapkan sendiri. Siswa diberi kebebasan berimprovisasi namun masih dalam batas-batas skenario dari guru.
Langkah-langkah pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) : (1) guru menyusun/ menyiapkan skenario yang akan ditampilkan; (2) guru menunjuk para peserta didik untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM; (3) guru membentuk kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4 orang anggota; (4) guru memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai; (5) guru memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan; (6) masing-masing peserta didik berada di kelompoknya sambil
mengamati skenario yang sedang diperagakan; (7) setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok; (8) masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya; (9) guru memberikan kesimpulan secara umum; (10) evaluasi; (11) penutup
Model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) dengan tema cerita tradisional ini membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa tidak hanya membuat hubungan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka tetapi juga mendorong siswa untuk mengungkapkan cerita tersebut dengan lisan dengan menggunakan bahasa Jerman.
Dengan model pembelajaran ini minat belajar siswa meningkat dan hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
Cerita Tradisional
Cerita tradisional adalah cerita yang disampaikan secara turun-temurun. Suatu cerita tradisional dapat disebarkan secara luas ke berbagai tempat. Selanjutnya, cerita itu Reni Hartati
disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Oleh karena itu, kadang-kadang, dongeng di suatu wilayah mirip atau sama dengan dongeng wilayah lain. Hal itu disebabkan cerita tradisional mudah diterima karena bersifat umum. Cerita tersebut ada hampir di seluruh penjuru dunia.
Oleh karena itu, jika cerita tradisional digunakan untuk media pembelajaran khususnya pembelajar an Sprechen adalah sangat membantu.
Kerangka Berfikir
Proses pembelajaran yang berhasil, memerlukan teknik, metode, dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik, materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif.
Model pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, menarik, dan menantang bagi para siswa adalah merupakan model pembelajaran yang menghidupkan kelas. Sehingga para siswa memiliki semangat dan menumbuhkan minat yang kuat terhadap mata pelajaran atau materi yang diberikan. Di antara model pembelajaran yang menghidup kan kelas adalah bermain peran
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para siswa SMA Negeri 2 Brebes tidak memiliki minat dan motivasi belajar untuk bisa
berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, maka guru mengadakan upaya meningkatkan minat belajar berbicara dengan menggunakan Bahasa Jerman melalui model pembelajaran Rollenspiel dengan tema cerita tradisional.
METODE PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini dilaksanakan di kelas XII IPA-3 SMA Negeri 2 Brebes yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 77 Brebes. Jumlah siswa 32 orang.
Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah: (1) hasil tes kognitif (pemahaman tentang isi cerita); (2) hasil tes berbicara (rubrik penilaian terlampir); (3) kuesioner yang diberikan siswa untuk mengetahui respon mereka terhadap pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan kompetensi berbicara; (4) wawancara oleh kolaborator untuk mengetahui kesan dan pendapat mereka selama tindakan; serta hasil observasi kolaborator untuk mengetahui sikap dan tingkah laku kelompok dan efektifitas model pembelajaran Rollenspiel Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah (1) pemberian tes kognitif ( pemahaman tentang isi cerita); (2) pemberian tes berbicara (praktik langsung bermain peran); (3) pemberian kuesioner sebelum dan sesudah Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model
diberikan tindakan; (4) wawancara; (5) observasi
Data yang dianalisis adalah (1) hasil tes kognitif dibuat rerata dan dianalisis secara deskriptif; (2) dialog siswa dalam melakukan peran dinilai menyangkut A ussprache, Betonung, Gramatik, dan Gelaufigkeit. Hasilnya dianalisis secara deskriptif dibandingkan dengan indikator kinerja; (3) kuesioner sebelum dan sesudah tindakan siklus. Hasilnya dianalisis secara deskriptif; (4) hasil wawancara juga dianalisis secara deskriptif; (5) hasil pengamatan kolaborator dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui aktifitas selama proses pembelajaran.
Indikator keberhasilan dari penerapan model pembelajran Rollenspiel (bermain peran) pada pembelajaran Sprechen (berbicara) adalah (1) nilai berbicara siswa meningkat dari rata-rata 55 menjadi ≥ 65; (2) siswa mempunyai pikiran, perasaan, atau pendapat yang positif terhadap pembelajaran model bermain peran dengan rerata hasil kuesioner ≥75%; (3) hasil wawancara menunjukkan ≥ 75% siswa antusias dan aktif; (4) hasil pengamatan ≥ 75% siswa antusias dan aktif dalam mengikuti kegiatan pembelejaran dengan model Rollenspiel (bermain peran).
Tahapan penelitian tindakan kelas ini terdiri atas dua tahap yaitu, perencanaan
tindakan dan pelaksanaan tindakan. Pada tahap pelaksanaan tindakan terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan secara daur ulang mulai dari tahap orientasi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi, dan revisi (Mc. Niff, 1992; Kemmis, 1982; Hopkins, 1993).
Pada tahap perencanaan guru melakukan beberapa kegiatan seperti mencari referensi yang berkaitan dengan model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran), cerita tradisional, siklus pembelajaran serta kurikulum Berbasis Kompetensi tentang pembelajaran bahasa Jerman khususnya. Dalam tahap perencanaan ini guru juga melakukan kegiatan-kegiatan seperti (1) pembuatan jadwal penelitian; (2) pembuatan butir soal kognitif; (3) membentuk kelompok; (4) pemilihan cerita tradisional yang akan digunakan sebagai bahan dalam bermain peran; (5) pembuatan lembar kerja siswa; (6) pembuatan scoring rubric untuk penilaian hasil percakapan siswa dalam bermain peran; (7) pembuatan pertanyaan untuk kuesioner dan wawancara; dan (8) pembuatan lembar pengamatan.
Pada tahap implementasi guru membahas tentang cerita-cerita tradisional secara umum di beberapa tempat di Indonesia. Kemudian guru menanyakan cerita tradisonal yang Reni Hartati
menyangkut masalah tempat kejadian, isi cerita, alur cerita dan pelaku dalam cerita tersebut.
Langkah selanjutnya guru menanyakan cerita tradisional yang ada di Indonesia. Guru memancing dengan serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan cerita tradisional tersebut. Antara lain guru menanyakan tempat kejadian, isi cerita, alur cerita dan pelaku dalam cerita tersebut. Kemudian guru meminta siswa mengambil cerita tradisional yang terkenal di Indonesia sebagai bahan ajar kompetensi berbicara dengan model pembelajaran Rollenspiel. Guru dan siswa menetapkan cerita tradisional yang terkenal, yaitu Danau Toba, Malin Kundang , dan Sangkuriang.
Masih pada siklus pertama, guru meminta siswa memahami cerita tradisional Danau Toba, Malin Kundang, dan Sangkuriang secara berkelompok kemudian menuliskan isi cerita, alur cerita, dan pelaku dalam cerita. Kemudian kelompok tersebut menyusun dialog untuk memerankan pelaku dalam cerita berdasarkan isi cerita dan alur yang telah dipahami.
Tindakan pada siklus kedua adalah guru meminta siswa memerankan pelaku dalam cerita tradisional Danau Toba, Malin Kundang, dan Sangkuriang sesuai dengan kelompok
masing-masing.
Tindakan pada siklus ketiga adalah guru meminta semua lagi untuk bermain peran setelah diadakan perbaikan.
Pada tahap pengamatan, guru mengamati perkembangan kemampuan siswa pada setiap fase treatment, siklus pertama, kedua, dan ketiga. Data-data yang ada dianalisis secara deskriptif.
Pada tahap refleksi, guru mendapatkan gambaran secara rinci tentang keberhasilan dan kendala yang dialami dalam pelaksanaan model pembelajaran Rollenspiel ini, jika hasil yang diperoleh pada siklus pertama belum memuaskan, maka penulis melanjutkan penelitian siklus berikutnya dengan mengulang dari tahap perencanaan.
HASIL PENELITIAN
Kondisi awal sebelum diterapkan model pembelajaran Rollenspiel ini adalah rendahnya kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa Jerman secara lisan. Siswa tidak menunjukkan sikap, perasaan, dan pikiran yang positif terhadap penggunaan bahasa Jerman secara lisan. Banyak siswa tidak memiliki minat untuk mampu berbicara bahasa Jerman.
Menurut pengamatan guru, siswa yang mau menggunakan bahasa Jerman pada saat pembelajaran kurang dari 10% dari jumlah Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model
siswa per kelas.
Model pembelajaran Rollenspiel ini masih asing bagi siswa kelas XII SMA Negeri 2 Brebes, karena belum pernah. Tahap awal praktik penulis banyak menjelaskan pada siswa tentang cara memperoleh isi cerita; bagaimana menemukan alur cerita, membuat kesimpulan, berdiskusi menyusun dialog dan bagaimana memainkan peran.
Deskripsi siklus I
Dalam tahap perencanaan ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) pembuatan jadwal peneliti an; (2) pembentukan kelompok; (3) pembuatan butir soal kognitif; (4) pemilihan cerita tradisional yang akan digunakan sebagai bahan dalam bermain peran; (5) pembuatan lembar kerja siswa; (6) pembuatan pertanyaan untuk kuesioner dan wawancara; dan (7) pembuatan lembar pengamatan
Dalam tahap implementasi tindakan ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) guru bersama para siswa membahas tentang cerita-cerita tradisional secara umum di beberapa tempat di Indonesia; (2) guru menanyakan tempat kejadian, isi cerita, alur cerita dan pelaku dalam cerita tersebut; (3) guru meminta siswa mengambil cerita tradisional yang terkenal di Indonesia sebagai
bahan ajar kompetensi berbicara dengan model pembelajaran Rollenspiel; (4) guru dan siswa menetapkan cerita tradisional yang terkenal, yaitu Danau Toba, Malin Kundang , dan Sangkuriang: (5) guru membentuk kelompok peserta didik menjadi 8 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 4 orang; (6) guru meminta 3 kelompok mendiskusikan cerita tradisional Danau Toba, 3 kelompok mendiskusikan Malin Kundang, dan 2 kelompok yang lain mendiskusikan Sangkuriang, kemudian menuliskan isi cerita, alur cerita, dan pelaku dalam cerita; (7) guru meminta tiap kelompok menyusun dialog untuk memerankan pelaku dalam cerita berdasarkan isi cerita dan alur yang telah dipahami dengan improvisasi.
Dalam tahap observasi ini dilakukan pengamatan dan penilaian. Aspek-aspek dan diamati dan dinilai, antara lain tes kognitif dengan aspek penilaian, antara lain; (2) isi cerita; (3) alur cerita; (4) pelaku dalam cerita; (5) hasil pembuatan dialog dalam cerita. Dari tes kognitif ini diperoleh hasil yang cukup memuaskan. Hasil rata rata dari 8 kelompok, yakni rata-rata skor isi cerita 89,38, rata-rata skor menuliskan alur cerita sebesar 89,38, rata-rata skor menuliskan para pelaku 95,62, dan skor rata-rata penyusunan dialog adalah 77,88. Dari 8 kelompok hanya satu kelompok yang Reni Hartati
kurang lengkap dalam menuliskan isi cerita, satu kelompok yang kurang lengkap dalam menuliskan alur cerita, satu kelompok yang
kurang improvisasi dalam menuliskan dialog, dan satu kelompok yang berlebihan dalam improvisasi dialog. Hal ini dapat penulis
Tabel 1. Hasil Penilaian Tes Kognitif Siswa Kelas XII IPA-3 SMA N 2
No Komponen
Kelompok Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII
1 Isi cerita 90 95 90 90 90 90 90 80 89,38
2 Menuliskan alur
Cerita 90 90 95 95 90 85 90 80 89,38
3 Menyebutkanpara pelaku 95 95 100 100 90 95 100 90
95,62 Rata (1) 91,46 4 Membuat dialog 0 a. Tata bahasa 65 65 75 75 65 60 65 65 66,88 b. Diksi 75 75 85 85 75 65 70 65 74,38 c. Improvisasi 85 90 95 95 75 85 85 75 85,62 d. Panjang Dialog 80 80 85 80 80 80 80 80 80,62 e. Koherensi 80 80 85 85 80 80 85 80 81,88
Rata-rata nilai menyusun dialog 77,88
Rata-rata Nilai Kognitif 84,67
Dalam tahap observasi ini dilakukan pengamatan dan penilaian untuk sikap dan pendapat siswa selama tindakan penelitian melalui: (1) wawancara dan kuesioner. Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa dari masing-masing kelompok ditemukan bahwa siswa mengalami hambatan dalam menyusun dialog baik berkaitan dengan kosakata, tatabahasa maupun improvisasi dialog.; (2)
pengamatan, dari pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator menunjukkan bahwa ada perubahan yang sangat signifikan minat siswa dalam belajar bahasa Jerman dalam pemahaman, kreativitas mereka dalam rangka memainkan peran cerita tradisional dengan bahasa Jerman.
Pada tahap refleksi, setelah penulis melakukan analisis data dari penilaian dan Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model
pengamatan, dalam tahap refleksi ini penulis melakukan tindakan perbaikan isi, alur, dan pelaku dalam cerita serta hasil dialog yang sudah diimprovisasi sehingga dalam tindakan memerankan peran nanti tidak menyimpang jauh dari cerita. Diharapkan pada siklus selanjutnya masing-masing kelompok dapat memainkan peran dengan mengucapkan ungkapan-ungkapan yang ditulis dalam dialog.
Deskripsi Siklus II
Dalam tahap perencanaan siklus II ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti, mempersiapkan feedback terhadap hasil pekerjaan tiap kelompok yang masih kurang lengkap menuliskan isi cerita, alur cerita, dan kurangnya improvisasi dalam menuangkannya dalam dialog. Termasuk yang berlebihan dalam berimprovisasi sehingga jauh menyimpang dari cerita yang sebenarnya.
Dalam tahap perencanaan siklus II ini penulis juga melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) menetapkan kompetensi yang akan dicapai dalan model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran); (2) pembuatan lembar kerja siswa; (3) pembuatan rubrik penilaian hasil percakapan siswa dalam bermain peran; (4) pembuatan pertanyaan untuk kuesioner dan wawancara; (5) pembuatan lembar pengamatan
Dalam tahap implementasi tindakan siklus
2 ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) memberikan feedback dari hasil tes kognitif; (2) memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai dalam memainkan peran nanti; (3) memanggil kelompok peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan; (4) masing-masing peserta didik berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan kelompok lain; (5) setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok; (6) masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
Pada tahap observasi dan evaluasi siklus II ini dilakukan pengamatan dan penilaian. Aspek-aspek yang diamati dan dinilai, antara lain sebagai berikut: (1) tes praktik dengan aspek penilaian, antara lain:aussprache (ucapan),betonung (intonasi), gramatik (tata bahasa), gelaufigkeit (kelancaran), worttschatz (kosakata), penampilan, improvisasi, kerja tim, motivasi
Dari tes praktik ini diperoleh hasil yang cukup baik. Dari 8 kelompok telah menampilkan yang terbaik walaupun terjadi banyak kekurangan. Masing-masing kelompok telah menunjukkan motivasi yang tinggi serta improvisasi yang baik. Dari hasil penilaian Reni Hartati
aspek Aussprache (ucapan)dengan rata-rata sebesar 66, Gelaufigkeit dengan rata-rata sebesar 60,88, Betonung (intonasi) dengan rata -rata sebesar 63,13, Gramatik (tata bahasa) dengan rata-rata sebesar 63,25. Dan penampilan dengan rata-rata sebesar 67,50,
kerja tim dengan rata-rata sebesar 78,75, dan kesesuaian dengan cerita dengan rata-rata sebesar 88,75. Dari hasil di atas Gelaufigkeit (kelancaran), Betonung (intonasi), Gramatik (tata bahasa), dan penampilan masih belum maksimal.
Tabel 2. Hasil Penilaian Tes Praktik Berbicara (Sprechen) Siklus II
No Komponen
Kelompok Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII
1 Aussprache 62 66 65 67 70 68 70 60 66,00 2 Gelaufigkeit 58 60 60 62 64 62 64 57 60,88 3 Betonung 60 64 60 64 65 65 67 60 63,13 4 Gramatik 60 65 60 65 65 65 67 59 63,25 Rata-rata (1) 60 63,8 61,3 64,5 66 65 67 59 63,35 5 Penampilan 65 65 65 65 65 65 75 75 67,50 6 Kerja Tim 75 75 75 80 80 75 85 85 78,75 7 Kesesuaian isi cerita 85 85 85 85 90 90 95 95 88,75 Rata-rata (2) 75 75 75 76,7 78,3 76,7 85 85 78,33 Rata-rata (1 dan 2) 67,5 69,4 68,2 70,6 72,2 70,9 76 72 70,83
Sikap dan pendapat siswa selama tindakan penelitian melalui: (1) wawancara dan kuesioner, dari hasil wawancara dengan beberapa siswa dari masing-masing kelompok ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam penampilan, melafazkan kata-kata, dan
intonasi. Hasil wawancara dan kuesioenr juga menunjukkan bahwa masing-masing kelompok sangat bersemangat memainkan peran walaupun masih kaku; (2) pengamatan, dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator menunjukkan bahwa masing-Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model
masing kelompok memainkan peran dengan semangat yang tinggi. Terdapat kekurangan dalam penampilan, pengucapan, dan intonasi.
Setelah penulis melakukan analisis data dari penilaian dan pengamatan dengan hasil yang cukup baik, dalam tahap refleksi siklus II ini penulis melakukan tindakan perbaikan aspek Betonung (intonasi), Gramatik (tata bahasa), Gelaufigkeit (kelancaran), dan penampilan. Diharapkan pada siklus selanjutnya masing-masing kelompok dapat memainkan peran dengan Betonung (intonasi), Gramatik (tata bahasa), Gelaufigkeit (kelancaran), dan penampilan dengan baik dan benar.
Deskripsi Siklus III
Dalam tahap perencanaan siklus III ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti, mempersiapkan feedback terhadap hasil penilaian dan pengamatan terhadap penampilan memainkan peran tiap kelompok tentang gramatiknya dan bagaimana intonasinya kata-kata. Serta mempersiapkan perbaikan terhadap penampilan dan peningkatan kelancaran berbicara.
Dalam tahap perencanaan siklus III ini penulis juga mempersiapkan lembar kerja siswa, rubrik penilaian hasil percakapan siswa dalam bermain peran, pertanyaan untuk
kuesioner dan wawancara, dan lembar pengamatan seperti pada siklus II
Dalam tahap implementasi tindakan siklus III ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) Memberikan feedback dari hasil penilaian praktik bermain peran; (2) memberikan penjelasan tentang gramatik dan bagaimana intonasi dari kata-kata yang digunakan dalam dialog masing-masing kelompok; (3) menjelaskan bagaimana penampilan yang harus dilakukan, misalnya saat terkejut, dan sebagainya agar nampak lebih hidup; (4) masing-masing peserta didik berada di kelompoknya sambil melakukan pengamatan lagi terhadap skenario yang sedang diperagakan oleh kelompok lain; (5) setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok; (6) masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya; (7)
Dalam tahap observasi dan evaluasi siklus III ini dilakukan pengamatan dan penilaian. Aspek-aspek yang diamati dan dinilai, seperti: (1) tes praktik dengan aspek penilaian seperti pada siklus II, antara lain: aussprache (ucapan), betonung (intonasi), gramatik (tata bahasa), gelaufigkeit (kelancaran), improvisasi, kerja tim, motivasi.
Dari tes praktik ini diperoleh hasil yang Reni Hartati
sangat baik. Dari sepuluh kelompok masing-masing kelompok telah menunjukkan motivasi yang tinggi serta improvisasi yang baik. Dari hasil penilaian aspek-aspek yang lain sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Aspek Aussprache (ucapan) mendapatkan penilaian rata-rata 72,88, Gelaufigkeit mendapatkan penilaian rata-rata 67,63, Betonung (intonasi) mendapatkan penilaian rata-rata 71,38, dan Gramatik mendapatkan penilaian rata-rata 70,75. Dengan demikian
rata-rata nilai berbicara bahasa Jerman kelas XII IPA-3 SMA Negeri 2 Brebes adalah sebesar 70,17. Hal ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sedangkan penampilan mendapat kan penilaian rata-rata 79,75, kerja tim mendapatkan penilaian rata-rata 83,13, dan kesesuaian dengan isis cerita mendapatkan penilaian rata-rata 89,38.
Tabel 3. Hasil Penilaian Tes Praktik Berbicara (Sprechen) Siklus III
No Komponen
Kelompok Rata-rata
I II III IV V VI VII VIII
1 Aussprache 70 74 76 70 73 70 75 75 72,88 2 Gelaufigkeit 65 68 71 68 66 65 70 68 67,63 3 Betonung 69 74 75 70 71 72 70 70 71,38 4 Gramatik 68 72 74 68 70 69 70 75 70,75 Rata-rata A 68 72 74 69 70 69 71,3 72 70,17 5 Penampilan 75 75 85 85 70 80 80 80 78,75 6 Kerja Tim 80 80 90 90 80 80 80 85 83,13
7 Kesesuaian dengan isi cerita 85 90 95 95 85 85 90 90 89,38
Rata-rata B 80 81, 7 90 90 78, 3 81, 7 83,3 85 84,33 Rata-rata A dan B 74 76, 9 82 79, 5 74, 2 75, 4 77,3 78,5 77,25 Rata-rata 77,59
Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model Pembelajaran Rollenspiel Dengan Tema Cerita Tradisional Di Sma Negeri 2 Brebes Tahun Ajaran 2013/2014
Untuk Sikap dan pendapat siswa selama tindakan penelitian melalui; (1) wawancara dan kuesioner, dari hasil wawancara dengan beberapa siswa bahwa mereka sangat tertarik dan merasa senang serta tidak bosan belajar bahasa jerman melalui bermain peran dengan tema cerita tradisional. Dari hasil kuesioner masing-masing kelompok ditemukan bahwa tiap-tiap kelompok sudah memainkan peran dengan kompak memainkan peran, melafazkan kata-kata dengan benar dann dengan intonasi yang benar juga walaupun masih ada beberapa anggota kelompok yang belum fasih, serta penampilan yang bagus. Hasil wawancara dan kuesioenr juga menunjukkan bahwa masing-masing kelompok sangat bersemangat memainkan peran; (2) pengamatan, dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator menunjukkan bahwa masing-masing kelompok memainkan peran dengan semangat yang tinggi. Tiap kelompok sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan baik dalam kerja tim, pengucapan, penampilan, dan intonasi.
Setelah penulis melakukan analisis data dari penilaian dan pengamatan dengan hasil yang sangat baik, maka dengan kesepakatan kolaborator penulis menghentikan penelitian pada siklus III karena hasil yang diperoleh sangat baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN TIAP SIKLUS DAN ANTARSIKLUS Siklus I
Dalam kondisi awal nilai rata-rata siswa dalam kompetensi berbicara dalam bahasa Jerman adalah 55. Siklus I dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan (2x90 menit). Pada pertemuan I siswa menerima penjelasan bagaimana menetapkan isi cerita, alur cerita dan pelaku dalam cerita. Pada pertemuan ini siswa dikelompokkan menjadi 10 kelompok yang terdiri dari 4 orang. Masing-masing kelompok diminta mendiskusikan cerita tradisional Danau Toba, Sangkuriang, dan Malin Kundang untuk mendapatkan isi cerita, alur cerita dan pelaku dalam cerita. Dalam kegiatan ini, hasil penilaian untuk kognitif siswa memperoleh nilai rata 84,67. Hasil ini sangat mengejutkan. Ini diyakini bahwa para siswa termotivasi untuk memainkan peran pelaku yang ada dalam cerita itu di samping sudah mengenal isi cerita sebelumnya sehingga memperoleh nilai yang sangat memuaskan.
Pertemuan selanjutnya adalah masing-masing kelompok diminta untuk mengembangkan isi cerita itu dalam bentuk dialog dengan improvisasi yang selanjutnya akan didemontrasikan dalam bentuk drama. Dari hasil pengembangan dialog diperoleh nilai cukup baik dengan skor rata-rata 77,88. Reni Hartati
Nilai tersebut dengan rincian sebagai berikut: Nilai panjang dialog rata-rata 80,62, Nilai improvisasi rata 85,62, Tatabahasa rata-rata 66,87. dan nilai diksi rata-rata-rata-rata 74,37, dan koherensi 81,87.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa merasa terbantu dalam menemukan isi cerita, alur cerita, dan pelaku dalam cerita. Berikut adalah contoh wawancara antara kolaborator (Agus Windarto) dengan seorang siswa yang rendah dalam pelajaran bahasa Jerman. Ia mengatakan bahwa pembelajaran bahasa Jerman sangat sulit baginya. Namun dia mengakui bahwa tindakan yang dilakukan guru bahasa Jerman ini memberikan pengaruh yang positif terhadap dia dan teman-temannya ketika memahami sebuah teks. Selanjutnya ia mengatakan bahwa teks yang dibahas adalah sangat menarik dan sudah dikenal oleh semua murid. Sehingga hampir semua siswa dapat memahami isi teks dengan baik.
Hasil kuesioner pasca siklus I menunjukkan bahwa sebanyak 49,64% siswa mempunyai pemikiran, perasaan, dan pendapat yang positif tentang pembelajaran Sprechen dalam bahasa Jerman dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik dengan menggunakan teks yang sudah dikenal oleh siswa. Mereka mulai mendapatkan jalan terang dalam memahami teks bahasa Jerman.
Berdasarkan hasil pengamatan lebih dari 85% masing-masing anggota kelompok mulai antusias dalam mendiskusikan isi cerita, alur cerita, dan pelaku dalam cerita yang akan mereka buat menjadi sebuah naskah dialog yang akan dipresentasikan pada pertemuan berikutnya. Masing-masing anggota kelompok menyumbangkan kalimat/ ide beserta improvisasinya yang akan ditulis dalam naskah dialog. Memang ada beberapa anggota kelompok yang masih terkesan takut membuat kesalahan dalam mengembangkan kalimat/ide.
Siklus II
Siklus II dilaksanakan sebanyak satu kali pertemuan (1x90 menit). Setelah mendapatkan penjelasan skenario termasuk rubrik peilaian dari guru, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi yang berupa naskah dialog secara bergantian. Ketika satu kelompok mempresentasikan permainan perannya, kelompok lain mengamati dan memerikan masukan. Tiap kelompok mempresentasikan 8-15 menit. Untuk penyampaian masukan, guru dan siswa menggunakan waktu di luar jam pelajaran setelah pulang sekolah.
Dari hasil penilaian penampilan dari semua kelompok diperoleh rata-rata nilai 70,43. Nilai ini meliputi nilai rata-rata Aussprache 66, Betonung 63,13, Gelaufigkeit Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model
60,88, dan tatabahasa 63,25. Sedangkan penampilan diperoleh rata-rata nilai 67,5, kerja tim diperoleh nilai rata-rata 78,75, dan kesesuaian isi, 88,75.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa para siswa merasa senang dalam model pembelajaran Rollenspiel. Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa 90 % siswa berpendapat bahwa mereka senang pembelajaran Sprechen (berbicara) menggunakan model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) dengan media teks cerita tradisional. Karena hampir semua siswa sudah memahami isi dan alur cerita termasuk pelaku dalam cerita itu. Berikut adalah contoh wawancara antara kolaborator (Agus Windarto) dengan beberapa siswa. mereka mengatakan bahwa mereka tertarik dan senang sekali belajar berbicara dengan bahasa Jerman melalui drama. Namun mereka juga mengalami kesulitan masalah pengucapan dan intonasi sehingga mereka tidak lancar dan mempengaruhi penampilan dan kerja tim. Namun mereka mengakui bahwa tindakan yang dilakukan guru bahasa Jerman ini memberikan pengaruh yang positif terhadap mereka ketika berbicara dalam bahasa Jerman.
Hasil kuesioner pasca siklus II menunjukkan bahwa sebanyak 77,78% siswa mempunyai pemikiran, perasaan, dan pendapat
yang positif tentang pembelajaran bahasa Jerman--khususnya belajar berbicara bahasa Jerman--dengan mengguna kan model pembelajaran Rollenspiel. Mereka mulai mendapatkan jalan terang bagaimana belajar berbicara dengan bahasa Jerman yang efektif. Hanya saja mereka mempermasalah kan kesulitan dalam mencari partner berbicara bahasa Jerman.
Berdasarkan hasil pengamatan, masing-masing anggota kelompok sangat antusias dalam memainkan peran cerita tradisional dengan menggunakan bahasa Jerman. Sebesar 85% mereka antusias. Masing-masing anggota kelompok nampak bersemangat dalam memainkan peran. Memang ada beberapa anggota kelompok yang masih terkesan kurang lepas dalam mengucapkan kata-kata, takut salah mengucapkan.
Siklus III
Siklus III dilaksanakan sebanyak satu kali pertemuan. Setelah mendapatkan penjelasan--bagaimana intonasi sebuah kata yang benar serta penjelasan gramatik dari guru, penampilan yang baik--masing-masing kelompok mempresentasikan lagi permainan perannya, kelompok lain mengamati dan memberikan masukan juga. Tiap kelompok mempresentasikan 8-15 menit.
Dari hasil penilaian penampilan dari semua Reni Hartati
kelompok pada siklus III ini diperoleh peningkatan rata-rata nilai 77,21 dari rata rata nilai 70,83 pada siklus II. Nilai aspek Aussprache meningkat dari rata-rata 66 pada siklus II menjadi rata-rata 72,88 pada siklus III, aspek Betonung meningkat dari rata-rata 63,13 pada siklus II menjadi rata-rata 71,38 pada siklus III, aspek Gelaufigkeit meningkat dari rata 60,88 pada siklus II menjadi rata-rata 67,63 pada siklus III, dan tatabahasa meningkat dari rata-rata 63,25 pada siklus II menjadi 70,75 pada siklus III. Hal ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.
Dari hasil penilaian aspek-aspek yang lain sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Penampilan meningkat dari rata-rata 67,5 pada siklus II menjadi rata-rata-rata-rata 78,75 pada siklus III, kesesuaian isi meningkat dari rata-rata 88,75 pada siklus II menjadi rata-rata 89,38 pada siklus III, dan kerja tim meningkat dari rata 78,75 pada siklus II menjadi rata-rata 83,13 pada siklus III.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa para siswa meningkat rasa percaya dirinya dalam berbicara bahasa Jerman yang disajikan dengan model pembelajaran Rollenspiel. Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa meningkat dari 85% menjadi 95% siswa berpendapat bahwa mereka senang
pembelajaran Sprechen mengguna kan model pembelajaran Rollenspiel dengan media teks cerita tradisional. Karena hampir semua siswa sudah memahami isi dan alur cerita termasuk pelaku dalam cerita itu. Wawancara antara kolaborator dengan beberapa siswa, hasilnya tidak jauh dari pernyataan mereka di siklus II mereka mengatakan bahwa mereka tertarik dan senang sekali belajar berbicara dengan bahasa Jerman melalui drama. Hanya dalam siklus III ini mereka lebih percaya diri dan tidak takut salah dalam mengucapkan sebuah kata dalam bahasa Jerman. Dan mereka meminta kepada guru agar melanjutkan menggunakan model pembelajaran ini, khususnya dalam pembelajaran Sprechen.
Hasil kuesioner pasca siklus III menunjukkan bahwa sebanyak 93,21% siswa mempunyai pemikiran, perasaan, dan pendapat yang positif tentang pembelajaran bahasa Jerman--khususnya belajar berbicara bahasa Jerman--dengan mengguna kan model pembelajaran Rollenspiel dengan mengguna kan tema cerita tradisional. Mereka mulai mendapat kan jalan terang bagaimana belajar berbicara dengan bahasa Jerman yang efektif.
Berdasarkan hasil pengamatan, masing-masing anggota kelompok sangat antusias dalam memainkan peran cerita tradisional dengan menggunakan bahasa Jerman. Mereka Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model
nampak bersemangat dalam memainkan peran. Mereka sudah menunjukkan sikap percaya diri dalam berbicara, sudah tidak merasa takut salah mengucapkan.
Antar Siklus
Berikut adalah Tabel 4 yang berisi nilai praktik berbicara bahasa Jerman dari pra
tindakan hingga akhir siklus III. Dalam tabel berikut penulis tidak mencantumkan siklus I karena siklus I merupakan langkah menuju fokus tindakan kompetensi berbicara.
Tabel 4 Nilai rata-rata Berbicara Bahasa Jerman
Kelompok Pra Siklus Siklus II Siklus III
1 50 67,5 74,0 2 60 69,4 76,9 3 60 68,2 82,2 4 55 70,6 79,5 5 50 72,2 74,2 6 53 70,9 75,4 7 56 76,0 77,3 8 55 72,0 78,5 Rata-Rata 55,20 70,34 77,25
Berdasarkan Tabel 4 di atas dapat dilihat peningkatan nilai berbicara bahasa Jerman yang sangat signifikan oleh masing-masing kelompok melalui model pembelajaran Rollenspiel. Refleksi yang diperoleh dari siklus II sangat penting untuk mengetahui respon serta permasalahan atau kesulitan yang dihadapi oleh siswa selama tindakan. Tindakan pada siklus III berdasarkan hasil refleksi siklus
II ternyata dapat meningkatkan nilai berbicara dalam mata pelajaran bahasa Jerman.
Sedangkan hasil analisis kuesioner, sikap positif siswa terhadap model pembelajaran Rollenspiel ini mengalami peningkat an yang signifikan. Grafik berikut menunjukkan perkembangan respon positif siswa terhadap pembelajaran berbicara dengan model Reni Hartati
pembelajaran Rollenspiel dari pra siklus hingga siklus III.
Prosentase kuesioner sikap positif siswa pada pra siklus diperoleh skor 59 atau 21,07% dari skor ideal 280. Hal ini berarti bahwa siswa kurang atau tidak menunjukkan respon positif terhadap pembelajaran Sprechen dalam bahasa Jerman. Mereka menganggap bahwa Sprechen tidak bermanfaat untuk siswa-siswa di luar kota-kota besar apalagi dengan ucapan yang berbeda dengan hurufnya. Namun setelah tindakan siklus I, II, dan III melalui model pembelajaran bermain peran (Rollenspiel) respon positif mereka meningkat menjadi 49,64%, yakni skor 139 dari skor ideal 280. Setelah diberikan penguatan pada siklus II, skor meningkat menjadi 215 atau 76,78 % dari 280. Setelah diberikan penguatan pada siklus
III dan rasa percaya diri mereka meningkat sehingga respon/skor mereka pun meningkat lagi menjadi 261 atau 93,21% dari skor ideal 280. Ini menunjukkan peningkatan sangat sangat signifikan.
Hasil pengamatan antar siklus juga menunjukkan bahwa siswa tidak lagi enggan untuk menggunakan bahasa Jerman dengan lisan. Para siswa semakin percaya diri dan tidak takut salah dalam mengucapkan kata-kata bahasa Jerman. Secara umum tiap kelompok sudah dapat bekerja sama secara aktif mulai awal hingga akhir. Kelancaran dalam berbicara meningkat dari siklus II hingga siklus III. Para siswa menunjukkan pengucapan yang jelas tidak ragu-ragu lagi.
KESIMPULAN
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan di kelas XII IPA-3 SMA Negeri 2 Brebes dengan menggunakan model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) ini dilaksanakan dalam 3 siklus. Setelah ada motivasi maka pada pelaksanaan siklus kedua ada perubahan yang sangat berarti ke arah yang sangat baik. Siswa sudah menunjukkan peningkatan minat dalam belajar berbicara dengan Bahasa Jerman.
Dari hasil pelaksanaan tindakan, analisis, dan refleksi atas penerapan model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) Grafik 1. Prosentase Hasil Kuesioner
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 49, 64 % 76,7 8% 93,2 1% 21, 07
Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III
Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas Xii Ipa Berbicara Menggunakan Bahasa Jerman Melalui Model Pembelajaran Rollenspiel Dengan Tema Cerita Tradisional Di Sma Negeri 2 Brebes Tahun Ajaran 2013/2014
dapat disimpulkan beberapa temuan adalah (1) model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) dengan menggunakan media cerita tradisional dapat membantu meningkatkan motivasi belajar siswa dalam kompetensi berbicara dalam mata pelajaran bahasa Jerman. Dari rangkaian tindakan pembelajaran yang telah dilaksanakan secara empirik tampak adanya perubahan yang berkelanjutan dalam aspek-aspek aktivitas guru. Misalnya kemampuan guru menjelaskan tujuan pembelajaran, memotivasi kelompok, memilih pemeran, menyiapkan pengamat, membimbing diskusi, dan membagi pengalaman belajar kepada siswa. Dengan demikian pembelajaran Sprechen tidak hanya mengarah kepada keterampilan anak dalam berbicara tetapi juga pengetahuan, sikap, moral, dan sosial; (2) model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) dapat meningkatkan kemampuan guru
dalam mengembangkan suasana belajar yang kondusif.
SARAN
Dalam rangka memperbaiki pelaksanaan tindakan berikutnya dan meningkatkan minat belajar bagi siswa sebaiknya menerapkan model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran). Model pembelajaran Rollenspiel (bermain peran) merupakann salah satu alternatif yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, khususnya pembelajaran Sprechen. Untuk keberhasilan pengembangan model ini perlu didukung oleh pandangan, kesanggupan dan kesediaan guru untuk melakukan perubahan-perubahan dalam pola dan model mengajar yang selama ini dipraktikkan dan dianggap sebagai suatu kerangka konseptual yang baku.
DAFTAR PUSTAKA
A.M. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, 1996
Brown, H. Douglas. 2000. Principles of language Learning and Teaching. New York: Logman, Inc.
Cleser, Marx, and Fox, Robert, 1966. Role Palying Methods in The Classroom. Chicago: Sciences research Association, Inc.
Depdiknas.Kurikulum 2006. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Jerman Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Hopkin, David. 1985. A Teacher Guide to Classroom Research. Philadelpia: Open University Press, Milton Keynes
I Nyoman S. Degeng. Teori Pembelajaran Dan pembelajaran, 2001. Reni Hartati