1
NASKAH PUBLIKASI
ANALISIS USAHA INDUSTRI KARAK DI KOTA SURAKARTA
Program Studi Agribisnis
Oleh :
Erlina Kartika Dewi H 0808095
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2012
PERNYATAAN
Dengan ini kami selaku Tim Pembimbing Skripsi Mahasiswa Program Sarjana:
Nama : Erlina Kartika Dewi
NIM : H 0808095
Program Studi : Agribisnis
Menyetujui Naskah Publikasi Ilmiah yang disusun oleh yang bersangkutan, dengan / tanpa*) mencantumkan Tim Pembimbing sebagai Co Author.
Pembimbing Utama,
Erlyna Wida Riptanti, SP.MP NIP. 19780708 200312 2 002
Pembimbing Pendamping
Mei Tri Sundari, SP.M.Si NIP. 19780503200501 2 002
ANALISIS USAHA INDUSTRI KARAK DI KOTA SURAKARTA
Erlina Kartika Dewi(1) Erlyna Wida Riptanti, S.P.,M.P.(2)
Mei Tri Sundari, S.P,M.Si..(3)
ABSTRAK
Naskah publikasi ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang bertujuan menganalisis keuntungan, efisiensi, dan risiko usaha industri karak di Kota Surakarta. Metode dasar yang digunakan adalah metode deskriptif. Penentuan daerah sampel dilakukan secara sengaja (purposive) di Kota Surakarta, yaitu di Kecamatan Laweyan dan Kecamatan Jebres. Kedua kecamatan tersebut dipilih karena usaha industri karak terdapat di dua kecamatan tersebut. Pengambilan jumlah sampel responden dilakukan dengan cara sensus yakni mengambil seluruh obyek penelitian yang ada di wilayah penelitian. Jumlah responden sebanyak 10, yang terdiri dari 3 responden industri karak mentah dan 7 responden industri karak matang. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, pencatatan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama bulan Maret 2012 rata-rata biaya total yang dikeluarkan setiap industri karak mentah di Kota Surakarta sebesar Rp.23.050.075,00, penerimaan Rp.30.240.00,00 dan keuntungan rata-rata sebesar Rp.7.189.925,00. Sementara untuk industri karak matang mempunyai rata-rata total biaya sebesar Rp.25.671.859,00,penerimaan Rp.34.020.000,00 sehingga keuntungan yang diperoleh Rp.8.348.141,00. Industri karak termasuk usaha yang menguntungkan terbukti dari nilai profitabilitas industri karak mentah sebesar 31,19% dan industri karak matang sebesar 32,53%. Industri karak di Kota Surakarta telah efisien ditunjukkan dengan R/C rasio lebih dari satu yaitu 1,31 untuk industri karak mentah dan 1,33 untuk industri karak matang. Besarnya nilai koefisien variasi (CV) 0,18 dan nilai batas bawah keuntungan (L) adalah Rp.4.538.643,62, dapat diartikan bahwa industri karak mentah yang dijalankan memiliki risiko kecil. Industri karak matang dengan nilai koefisien variasi 0,77 dan batas bawah keuntungan sebesar -Rp.4.684.069,58 (L<0) berarti industri tersebut berpeluang mengalami risiko kerugian tinggi, karena nilai CV > 0,5. Kata kunci : Usaha industri karak, Analisis keuntungan, Efisiensi, Risiko,
Surakarta
Keterangan :
1. Mahasiswa S1 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan NIM H 0808095
2. Dosen Pembimbing Utama 3. Dosen Pembimbing Pendamping
BUSINESS ANALYSIS OF KARAK INDUSTRY IN SURAKARTA
Erlina Kartika Dewi(1) Erlyna Wida Riptanti, S.P.,M.P.(2)
Mei Tri Sundari, S.P,M.Si..(3)
ABSTRACT
This paper is based on the research whose aims are to analyse the profit, the efficiency and the risk of industrial business “karak” in Surakarta. Basic method of the research is descriptive method. The sample area decision was by using purposive sampling in two subdistrict in Surakarta;Laweyan dan Jebres. The two subdistricts were chosen because of the existing industrial business “karak” in both of subdistricts. Total sample of respondent were taken by census. They took all of research area. There are 3 respondents of raw “karak” industry and 7 ripe “karak” industry respondents. The data collected were primary and secondary data, while the technique of data collection was done by interview, observation, registration and documentation. The result of this research shown that the total cost average iccured by each of raw industrial business Karak in Surakarta was Rp.23.050.075,00 during March 2012. The revenues was Rp.30.240.000,00 and profit obtained was Rp.7.189.925,00. Meanwhile, the ripe industrial business “karak” spent total cost average for amount karak Rp.25.671.859,00,00 with revenues Rp.34.020.000,00 so the average profit obtained was Rp.8.348.141,00. From that analysis, it is proven that industrial bussniness “karak” in Surakarta is profitable, due to the profitability values of raw “karak” industry in the amount of 31,19% and ripe “karak” industry in the amount of 32,53%. “Karak” industry that had been run allthis time was efficient as indicated by the R/C ratio of more than one but 1,31 for raw “karak” industry and 1,33 for ripe karak industry. The value of coefficient of variation was 0,18 and the value of minimum profit for amount Rp.4.538.643,62 can be meant that raw “karak” industry in Surakarta has little risk. While, ripe karak industry with variation coeffition value 0,77 (CV>0,5) and minimum profit for amount -Rp.4.684.049,58 (L <0) means that it there is a chance of having high risk for the industry.
Keywords : Bussiness of ‘Karak’ Industry, Profit Analyse, Efficiency, Risk, Surakarta
Description :
1. Student S1 of Agribussiness Faculty of Agriculture Sebelas Maret University Surakarta with NIM H 0808095
2. Main Lecturer 3. Assistant Lecturer
I. PENDAHULUAN
Pembangunan pertanian merupakan salah satu tulang punggung pembangunan nasional. Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja dan mendorong pemerataan kesempatan berusaha.
Pembangunan pertanian dapat diupayakan melalui pengembangan agribisnis. Menurut Arsyad, dkk dalam Soekartawi (2003) agribisnis adalah suatu kegiatan yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada kaitannya dengan pertanian dalam arti luas. Pengolahan hasil pertanian menjadi salah satu sub sistem agribisnis. Pentingnya kegiatan pengolah hasil pertanian didasari oleh beberapa alasan diantaranya adalah dapat meningkatkan nilai tambah, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan ketrampilan produsen dan meningkatkan pendapatan produsen.
Industri kecil merupakan salah satu komponen dari sektor industri pengolahan hasil yang mempunyai andil sangat besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia. Salah satu usaha industri kecil yang berkembang di Indonesia adalah di bidang pangan, salah satunya adalah usaha industri karak. Karak yang juga dikenal dengan nama kerupuk gendar atau kerupuk nasi ini terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta masyarakat kota pada umumnya, termasuk di Kota Surakarta.
Usaha pembuatan karak di Kota Surakarta berupa industri skala kecil yang masih berproduksi sampai sekarang menunjukkan kemampuan bersaing dengan industri lainnya. Kenyataan inilah yang mendorong peneliti untuk mengetahui dan menganalisis usaha industri karak lebih lanjut.
II. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif, yaitu penelitian yang didasarkan pada pemecahan masalah-masalah aktual yang ada pada masa sekarang. Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis (metode ini sering disebut dengan metode analitik) (Surakhmad, 1998. Teknik pelaksanaan penelitian menggunakan teknik survey, yaitu pengumpulan data dari sejumlah unit atau individu dalam waktu yang bersamaan dengan menggunakan kuisioner.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja atau purposive (Singarimbun, 1995) yaitu di Kota Surakarta, dimana dipilih dua kecamatan karena hanya di kedua kecamatan tersebut yang terdapat industri karak, yaitu Kecamatan Laweyan di Kelurahan Pajang dan Kelurahan Jajar, serta Kecamatan Jebres di Kelurahan Purwodiningratan dan Kelurahan Tegalharjo. Sampel responden yang digunakan berjumlah 10 orang dan teknik pengambilan sampel responden dengan metode sensus, yaitu mengambil secara keseluruhan obyek penelitian yang ada di wilayah penelitian, yang terdiri dari responden industri karak mentah dan responden industri karak matang. .
Metode analisis data yang digunakan antara lain:
1. Besarnya biaya, penerimaan, dan keuntungan usaha industri karak di Kota Surakarta dengan rumus:
Biaya :
TC = TFC + TVC Dimana :
TC = Total Cost (biaya total) usaha industri karak (rupiah) TFC = Total Fix Cost (biaya tetap) usaha industri karak (rupiah)
TVC = Total Variable Cost (biaya) variabel usaha industri karak (rupiah) Penerimaan :
TR = Q x P Dimana :
TR = Total Revenue (penerimaan total) usaha industri karak (rupiah)
Q = Quantity ( jumlah) karak yang dihasilkan (kg) P = Price (harga) karak per kg (rupiah)
Dari hubungan antara biaya dan penerimaan, dapat dihitung keuntungan dengan rumus :
π = TR – TC atau π = Q x P – (TFC + TVC) Dimana :
π = keuntungan usaha industri karak (rupiah)
TR = Total Revenue (penerimaan total) usaha industri karak (rupiah) TC = Total Cost (biaya total) usaha industri karak (rupiah)
Q = Quantity (jumlah) produksi karak (kg) P = Price (harga) karak (rupiah)
TFC = Total Fix Cost (total biaya tetap) usaha industri karak (rupiah)
TVC = Total Variable Cost (total biaya variabel) usaha industri karak (rupiah)
Dengan diketahuinya nilai keuntungan, maka kita dapat menghitung profitabilitasnya, yaitu dengan rumus :
Profitabilitas = x 100% TC
π
keterangan :
π = keuntungan usaha industri karak (rupiah)
TC = Total Cost (biaya total) usaha industri karak (rupiah) 2. Analisis efisiensi usaha industri karak di Kota Surakarta.
Efisiensi = R/C rasio keterangan :
R = Revenue (penerimaan) usaha karak (rupiah)
C = Cost (biaya) yang dikeluarkan dari usaha karak (rupiah) Kriteria yang digunakan dalam penilaian efisiensi usaha adalah : R/C > 1 berarti usaha industri karak yang dijalankan efisien.
R/C = 1 berarti usaha industri karak belum efisien atau usaha mencapai titik impas.
3. Analisis Risiko Usaha Industri Karak di Kota Surakarta. Untuk menghitung risiko usaha, digunakan rumus : CV = V
E Dimana :
CV = Coefficient of Variation (koefisien variasi) karak V = simpangan baku keuntungan usaha industri karak
E = keuntungan rata–rata (mean) dari usaha industri karak (rupiah) Keuntungan rata-rata dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut:
n Ei E n i
∑
= = 1 Dimana:E = keuntungan rata–rata (mean) usaha karak (rupiah)
Ei = keuntungan usaha karak yang diterima oleh produsen (rupiah) n = jumlah produsen karak (orang)
Selanjutnya mencari simpangan baku dengan menggunakan metode analisis ragam, karena simpangan baku merupakan akar dari ragam, yaitu : V= V 2
Adapun dalam perhitungan analisis ragam dirumuskan sebagai berikut: V2 = ) 1 ( ) ( 1 2 1 − −
∑
= n E E n i keterangan : V2 = ragamn = jumlah produsen karak (orang)
E = keuntungan rata-rata usaha karak (rupiah)
Ei = keuntungan usaha industri karak yang diterima produsen (rupiah)
Untuk mengetahui batas bawah keuntungan usaha industri karak digunakan rumus :
L = E – 2V Dimana :
L = batas bawah keuntungan usaha karak
E = keuntungan rata–rata yang diperoleh usaha karak (rupiah) V = simpangan baku usaha karak
Semakin besar nilai CV menunjukkan bahwa resiko yang harus ditanggung semakin besar. Nilai CV ≤ 0,5 atau L ≥ 0 menyatakan bahwa produsen akan selalu terhindar dari kerugian. Nilai CV ≥ 0,5 atau L ≤ 0 berarti ada peluang akan menderita kerugian.
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Identitas responden
Identitas rata-rata sepuluh responden usaha karak dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Identitas Rata-rata Responden Usaha Industri Karak di Kota Surakarta No Uraian Jumlah 1. 2. 3. 4. 5 Umur reponden (th) Lama pendidikan (th)
Jumlah anggota keluarga (org)
Jumlah anggota keluarga yang aktif dalam kegiatan produksi (org)
Lama mengusahakan (th) 46 12 4 2 12 Sumber : Analisis Data Primer
Tabel 1. menunjukkan bahwa umur rata-rata responden karak adalah 46 tahun, dengan rentang umur antara 38-60 tahun.Seluruh produsen karak di Kota Surakarta pernah mengenyam pendidikan, walaupun pada tingkatan yang berbeda–beda. Rata-rata lama pendidikan yang telah ditempuh oleh produsen adalah 12 tahun atau setara dengan SMA (Sekolah Menengah Atas), sehingga wawasan ataupun pengetahuan yang dimiliki responden sudah cukup memadai. Jumlah rata-rata anggota keluarga pengusaha karak adalah 4 orang, dengan rata-rata jumlah anggota keluarga yang terlibat
dalam kegiatan produksi sebanyak 2 orang. Kegiatan usaha industri karak di Kota Surakarta telah dijalankan selama 12 tahun, merupakan waktu yang cukup lama sehingga pengalaman yang dimiliki responden pun juga cukup banyak. Semakin banyak pengalaman yang dimiliki, maka responden akan semakin mampu dalam menghadapi kendala-kendala selama kegiatan industri ini berlangsung.
2. Usaha Industri Karak
Tabel 2. Status Usaha Industri Karak di Kota Surakarta
No Uraian Jumlah (orang) Persentase (%)
1. 2. Utama Sampingan 9 1 90 10 Jumlah 10 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan Tabel 2. diketahui bahwa 90% usaha industri karak berstatus sebagai usaha utama atau 9 industri karak, sedangkan 10% berstatus usaha sampingan atau hanya 1 responden.
Tabel 3. Alasan Mengusahakan Usaha Industri Karak di Kota Surakarta
No Uraian Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. Usaha warisan
Lebih menguntungkan dari usaha lain
Pengalaman sebagai buruh Tidak punya pekerjaan lain Lainnya 10 10 - - - 100 100 - - - Jumlah 10 100
Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 2)
Seluruh responden karak di Kota Surakarta memiliki alasan yang sama dalam mengusahakan industri ini yaitu karena merupakan usaha warisan yang diperoleh secara turun-temurun dari keluarga dan juga dapat menghasilkan keuntungan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka sehari-hari dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Tabel 4. Sumber Modal Usaha Industri Karak di Kota Surakarta No Uraian Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. Modal sendiri Modal pinjaman Bantuan orang lain
Lainnya 10 - - - 100 - - - Jumlah 10 100
Sumber : Analisis Data Primer
Mengenai hal permodalan, seluruh responden karak mengusahakan usaha industri karaknya dengan menggunakan modal sendiri, karena jika meminjam di bank memerlukan proses yang cukup lama dengan adanya syarat-syarat tertentu.
Tabel 5. Tempat Untuk Melakukan Usaha Industi karak
No Uraian Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 2. 3.
Khusus tempat industri
Rumah sekaligus tempat industri Lainnya 1 9 - 10 90 - Jumlah 10 100
Sumber : Analisis Data Primer
Tempat untuk melakukan kegiatan produksi karak sebagian besar responden atau 90% responden dilakukan di rumah, dimana rumah dijadikan sekaligus sebagai tempat usaha industri. Sementara 1 responden atau 10% nya memiliki tempat usaha yang terpisah, tetapi hanya berjarak 500 m dari rumahnya.
Tabel 6. Frekuensi Produksi Karak di Kota Surakarta
No Uraian Jumlah (orang) Persenta se (%) 1. 2. 3.
Tiap hari (kecuali hari Minggu) 2 hari sekali Lainnya 10 - - 100 - - Jumlah 10 100
Sumber : Analisis Data Primer
Seluruh produsen karak memproduksi karaknya selama 6 hari kerja, terkecuali hari Minggu. Hal ini dimaksudkan agar para tenaga kerjanya memiliki waktu untuk beristirahat meskipun hanya satu hari.
3. Bahan Baku Karak
Tabel 7. Pengadaan Bahan Baku Industri Karak di Kota Surakarta
No Uraian Jumlah
(responden)
Persentase (%) 1. Pengadaan bahan baku
a. Hasil sendiri b. Pedagang c. Lainnya Jumlah - 10 - 10 - 100 - 100 2. Tempat pembelian a. Pasar
b. Toko pusat grosir (Selepan) c. Lainnya Jumlah 9 1 10 90 10 100 3. Sistem pengadaan a. 1 kali produksi
b. Lebih dari 1 kali produksi Jumlah 1 9 10 10 90 100 4. Cara pembayaran a. Kontan b. Bayar di belakang c. Lainnya Jumlah 10 - - 10 100 - - 100 Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 3)
Bahan baku yang digunakan dalam industri karak adalah beras C4. Alasan penggunaan beras C4, karena beras ini memiliki sifat lebih mudah mekar dibandingkan dengan beras lain, sehingga saat proses penggorengan karak bisa mengembang karena hal tersebut.
Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa dalam pengadaan bahan baku 10 responden atau 100% mengandalkan pedagang. Pumumnya produsen memperoleh bahan baku dari pasar dan toko pusat grosir. Sebanyak 90% responden atau 9 responden lebih memilih membeli untuk lebih dari satu kali produksi, biasanya untuk persediaan dua minggu hingga satu bulan ke depan. Hal ini dikarenakan agar tetap memiliki stok bahan baku dan menghindari kemungkinan kenaikan harga beras di waktu mendatang karena industri karak ini berproduksi hampir setiap hari. Sementara 1 responden lainnya memilih membeli untuk 1 kali produksi karena modal yang terbatas sehingga modal diputar setiap harinya. Seluruh atau 100% responden
menggunakan sistem kontan dalam pembayaran bahan baku yang digunakan dalam menjalan usaha industri karaknya.
4. Peralatan Industri Karak
Usaha industri karak di Kota Surakarta selain membutuhkan bahan baku dan bahan penolong, juga membutuhkan peralatan dalam menjalankan proses produksinya. Peralatan yang digunakan usaha industri karak matang sebagian besar masih bersifat sederhana dan tradisional, seperti pawonan/tungku, panci, dandang, alu dan lumpang, pisau, anjang, wajan dan serok. Sementara industri karak mentah yang telah menggunakan mesin pencetak dan mesin penggiling.
5. Proses Produksi Pembuatan Karak
Karak yang diproduksi di Kota Surakarta dibagi dalam 2 jenis, yaitu produksi karak mentah dan produksi karak matang. Industri yang menjual karaknya secara mentah memproduksi karak dengan ukuran 8cm x 4cm, sementara untuk karak matang berukuran 6cm x 4 cm. Proses pembuatan karak dimulai dengan persiapan bahan-bahan, seperti beras C4, tepung tapioka, bleng, bawang putih, serta terasi dan ikan tengiri sebagai penambah/penyedap rasanya. Industri karak mentah menggunakan 60 kg beras setiap harinya, dan setiap 10 kg beras dicampur dengan 3 kg tepung tapioka. Pencampuran beras dengan tepung tapioka ini bertujuan agar karak memiliki tektur yang lebih lembut, sementara untuk industri karak matang tanpa campuran bahan lain.
Mula-mula dilakukan pencucian beras kemudian beras dimasukkan ke dalam dandang yang telah diisi air. Setelah beras setengah masak sekitar 15 menit kemudian dikeluarkan untuk dicampur dengan bumbu-bumbu yang tadi telah disiapkan (dikaru). Proses pencampuran ini dilakukan di panci yang telah diisi air yang telah mendidih. Kemudian dilakukan pengadukan terus menerus selama kira-kira 20-30 menit agar bumbu bercampur dan meresap merata ke dalam beras sampai beras agak masak. Setelah diperkirakan cukup, kemudian beras tersebut dilakukan pengukusan kembali di dalam dandang hingga menjadi nasi dengan estimasi waktu
15-20 menit. Adonan yang telah matang kemudian dihaluskan dengan mesin penggiling. Proses ini membutuhkan waktu antara 3-5 menit. Setelah selesai, kemudian dimasukkan ke dalam mesin pencetak karak untuk dilakukan pencetakan, hasil cetakan yang panjang kemudian dipotong menggunakan pisau dengan panjang 8 cm setiap karaknya. Hasil dari adonan yang telah selesai dicetak dan diiris tersebut kemudian ditata rapi dan dijemur di atas anjang. Penjemuran biasanya dilakukan di halaman rumah,karena industri karak mentah melakukan kegiatan produksinya di rumah. Setelah karak selesai dijemur dan benar-benar kering, industri karak mentah dapat langsung dilakukan pengemasan dengan plastik. Produk karak mentah dikemas dalam ukuran 1,5 ons dan dijual dengan harga Rp.3.000,00 per bungkus atau Rp.20.000,00 per kg. sementara industri karak matang diteruskan dengan kegiatan penggorengan karak. Penggorengan karak dilakukan 2 kali, agar karak dapat mengembang dengan sempurna dan mendapatkan warna yang bagus yaitu kuning kecoklatan. Setelah dilakukan penggorengan ± 1 hingga 2 menit, kemudian karak ditiriskan, lalu dikemas dengan kemasan per 1 kg. harga karak matang per kg antara Rp.22.000,00 hingga Rp.23.000,00.
6. Pemasaran
Daerah pemasaran karak di Kota Surakarta meliputi pasar-pasar tradisional, warung-warung makan, serta toko oleh-oleh. Ada juga yang daerah pemasarannya sudah merambah ke daerah-daerah luar kota seperti Boyolali, Jakarta, Surabaya, Magelang, Temanggung dan lain sebagainya.
Sistem pemasaran produk karak untuk dalam kota menggunakan sistem pemasaran dengan saluran vertikal dimana pada sistem ini produsen, grosir, dan pengecer bertindak dalam satu keterpaduan. Grosir dan pengecer merupakan pedagang perantara dimana merupakan pembeli/konsumen karak yang datang langsung ke tempat usaha industri untuk membeli. Sistem ini dilakukan secara langsung, artinya pedagang perantara yang akan menjual kembali karaknya membeli langsung karak yang dibutuhkan secara kontan, sehingga produsen tidak menanggung risiko selanjutnya apabila karak yang
dibeli pedagang perantara dari produsen tidak habis dalam satu hari. Sementara apabila ada pesanan untuk luar kota dilakukan dengan perantara agen pemasaran, seperti JNE, Tiki dan lain sebagainya. Karak dikirim dengan paket melalui jasa agen-agen pengiriman barang yang terpercaya, sehingga barang dapat sampat tanpa rusak dan tepat waktu, sehingga konsumen luar kota pun merasa puas.
Usaha industri karak khususnya di Kota Surakarta tidak terlalu bermasalah dengan persaingan, karena menurut mereka, setiap usaha industri karak telah memiliki pangsa atau target pasar masing-masing, sehingga tidak perlu was-was akan adanya ‘perebutan’ daerah pemasaran, karena masing-masing telah memiliki pembeli atau konsumen tetap..
7. Analisis Usaha a. Analisis Biaya
1) Biaya Tetap
Tabel 8. Rata-rata Biaya Tetap Industri Karak di Kota Surakarta Bulan Maret 2012.
No Uraian Karak mentah Karak matang
Rata-rata per responden (Rp) Persentase (%) Rata-rata per responden (Rp) Persentase (%) 1. 2. Penyusutan peralatan Bunga modal investasi 145.762 283.892 33,92 66,08 67.807 61.506 52,44 47,56 Jumlah 429.654 100 129.313 100
Sumber : Analisis Data Primer
Tabel 8. menunjukkan bahwa pada Bulan Maret 2012 biaya bunga modal investasi merupakan biaya tetap terbesar pada industri karak mentah dengan rata-rata per industri Rp.283.892,00. Sementara untuk industri karak matang, biaya ini menempati posisi kedua sebesar Rp.61.506,00. Biaya ini merupakan nilai bunga atas modal yang dimiliki oleh produsen. Suku bunga riil yang digunakan dalam perhitungan pada Bulan Maret 2012 ada sebesar 1,1% karena
penelitian menggunakan data bulan tersebut. Proporsi biaya kedua industri karak mentah adalah biaya penyusutan peralatan yakni Rp.145.762,00 atau 33,92%. Sementara untuk industri karak matang biaya ini merupakan biaya tetap terbesar yaitu Rp.67.807,00 atau 52,44%. Biaya penyusutan alat dan biaya bunga modal investasi sebenarnya tidak benar-benar dikeluarkan oleh pengusaha industri karak, tetapi karena dalam penelitian ini menggunakan konsep keuntungan, maka biaya ini harus diperhitungkan.
2) Biaya Variabel
Tabel 9. Rata-rata Biaya Variabel Usaha Industri Karak di Kota Surakarta Bulan Maret 2012
No Uraian Karak Mentah Karak Matang Fisik Rata-rata per
responden (Rp)
Persentase (%)
Fisik Rata-rata per responden (Rp) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bahan baku a. Beras C4 b. Tepung tapioka Bahan penolong a. STTP/Bleng b. Bawang putih c. Penyedap rasa 1) Terasi 2) Tengiri d.Minyak goreng Bahan bakar a. Kayu bakar b. Gas elpiji Transportasi (bensin) Kemasan Tenaga kerja 1.620 kg 486 kg 47,7 kg 26,1 kg 15 kg 9 kg - - - 27 liter 21.600lb 12.150.000 3.159.000 66.780 243.600 292.500 315.000 - - 2.220.300 121.500 1.058.400 2.993.333 53,71 13,96 0,3 1,08 1,29 1,39 - - 9,81 0,54 4,68 13,24 1658,57k g - 49,05 kg 6,75 kg 20,82 kg - - 662,24kg 95 ikat - 19,3 liter 1.635 lbr 12.439.286 - 68.680 94.500 93.729 - - 6.489.980 1.420.714 385.714 86.786 221.014 4.242.143 48,70 - 0,27 0,37 0,36 - - 25,41 5,56 1,51 0,34 0,87 16,61 Jumlah 22.620.413 100 25.542.546 100
Sumber : Analisis Data Primer
Besarnya biaya variabel selama Bulan Maret 2012 dalam industri karak baik mentah maupun matang berkisar antara Rp.11.639.625,00-Rp.35.446.200,00. Perbedaan ini terutama dikarenakan adanya variasi dalam hal kapasitas penggunaan bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja dan variabel lain yang digunakan.
Kisaran biaya penggunaan biaya bahan baku untuk 10 reponden yaitu antara Rp.6.075.000,00-Rp.16.200.000,00. Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa rata-rata biaya variabel per responden industri karak mentah di Kota Surakarta pada Bulan Maret 2012 sebesar Rp.22.620.421,00 dan untuk industri karak matang sebesar Rp.25.542.546,00. Besarnya biaya variabel dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan.
3) Biaya Total
Tabel 10. Rata-rata Biaya Total Industri Karak di Kota Surakarta Bulan Maret 2012
No Uraian Karak mentah Karak matang
Rata-rata per responden (Rp) Persentase (%) Rata-rata per responden (Rp) Persentase (%) 1. 2.
Total biaya tetap Total biaya variabel
429.654 22.620.421 1,86 98,14 129.313 25.542.546 0,5 99,5 Biaya Total 23.050.075 100 25.671.859 100
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan Tabel 10. diketahui bahwa rata-rata biaya total per industri karak mentah di Kota Surakarta pada bulan Maret 2012 sebesar Rp.23.050.075,00 untuk industri karak mentah dan sebesar Rp.25.671.859,00 untuk industri karak matang. Biaya terbesar yang dikeluarkan responden adalah biaya variabel, hal ini karena besarnya biaya variabel yang dikeluarkan dipengaruhi oleh banyaknya produk yang dihasilkan. Artinya semakin banyak produk yang dihasilkan maka biaya variabel juga semakin meningkat.
b. Penerimaan dan Keuntungan
Tabel 11. Rata-rata Penerimaan Usaha Industri Karak di Kota Surakarta Bulan Maret 2012
No Uraian Karak mentah Karak matang
1. 2. Rata-rata produksi (kg) Rata-rata harga (Rp) 1.512 20.000 1524 22.286 Rata-rata penerimaan (Rp) 30.240.000 34.020.000 Sumber : Analisis Data Primer
Penerimaan dalam industri karak di Kota Surakarta berasal dari penerimaan karak mentah oleh tiga responden dan tujuh responden lainnya mendapatkan penerimaan dari karak matang yaitu karak yang telah digoreng. Produksi karak baik matang maupun mentah yang dihasilkan dalam bulan penelitian berkisar antara 780 kg-2.080 kg per bulannya, dengan rata-rata produksi karak mentah 1.512 kg dan karak matang 1.524 kg.
Harga yang ditentukan masing-masing produsen bervariasi, karak mentah dijual Rp.20.000,00 per kg sedangkan karak matang antara Rp.22.000,00 hingga Rp.23.000,00 per kg. Selisih harga karak mentah dan matang tidak terlalu besar, hanya berkisar antara Rp.2.000,00 hingga Rp.3.000,00. Hal ini karena karak mentah sudah menggunakan kemasan dan labeling yang rapi dalam pemasarannya sehingga biaya kemasan untuk karak mentah cukup diperhatikan, selain itu karak mentah memiliki tiga rasa yaitu rasa bawang, terasi dan juga tengiri. sementara karak matang hanya memproduksi rasa original yaitu rasa bawang dan pengemasannya hanya menggunakan plastik tipis dan tanpa label/merk produk.
Penerimaan yang diperoleh produsen berkisar antara Rp.16.038.000,00-Rp.47.196.000,00. Hasil penerimaan rata-rata tiga industri karak mentah yang didapat dalam setiap bulannya adalah Rp.30.240.000,00, sementara penerimaan tujuh industri yang menjual karaknya secara matang yaitu sebesar Rp.34.020.000,00.
Tabel 12. Rata-rata Keuntungan Usaha Industri Karak di Kota Surakarta Bulan Maret 2012
No Uraian Karak mentah Karak matang
1. 2. Penerimaan total (Rp) Biaya total (Rp) 30.240.000 23.050.075 34.020.000 25.671.859 Keuntungan 7.189.925 8.348.141 Sumber : Analisis Data Primer
Biaya total yang dikeluarkan industri karak mentah sebesar Rp.23.050.075,00 dan penerimaan rata-rata yang dihasilkan sebesar
Rp.30.240.000,00. Dengan demikian, keuntungan rata-rata per responden sebesar Rp.7.189.925,00. Sementara untuk karak matang menghasilkan penerimaan sebesar Rp.34.020.000,00 dengan biaya total Rp.25.671.859,00 sehingga dihasilkan keuntungan rata-rata sebesar Rp.8.348.141. Berdasarkan keuntungan yang diperoleh, maka dapat dihitung besarnya profitabilitas industri karak di Kota Surakarta. c. Profitabilitas
Tabel 13. Rata-rata Profitabilitas Usaha Industri Karak di Kota Surakarta Bulan Maret 2012
No Uraian Karak mentah Karak matang
1. 2. Keuntungan Biaya total 7.189.925 23.050.075 8.348.141 25.671.859 Profitabilitas 31,19 % 32,53 %
Sumber : Analisis Data Primer
Keuntungan yang diperoleh produsen karak per bulan dalam penelitian ini berkisar antara Rp.4.066.744,00-Rp.11.642.219,00. Kegiatan usaha industri karak di Kota Surakarta memiliki nilai profitabilitas atau tingkat keuntungan sebesar 31,19% untuk karak mentah yang berarti setiap modal sebesar Rp.100,00 yang diinvestasikan akan diperoleh keuntungan Rp.31,19. Sementara profitabilitas untuk industri karak matang sebesar 32,53%. Berdasarkan kriteria yang digunakan, usaha industri karak sudah menguntungkan karena nilai profitabilitasnya lebih dari 0. Hal ini sesuai dengan pendugaan yang dilakukan pada saat awal penelitian, yaitu usaha industri karak di Kota Surakarta menguntungkan.
c. Efisiensi Usaha
Tabel 14. Efisiensi Usaha Industri Karak di Kota Surakarta Bulan Maret 2012
No Uraian Karak mentah Karak matang
1. 2. Penerimaan Biaya total 30.240.000 23.050.075 34.020.000 25.671.859 Efisiensi 1,31 1,33
Tabel 14. menunjukkan bahwa efisiensi usaha industri karak mentah di Kota Surakarta selama bulan Maret 2012 adalah sebesar 1,31 dan untuk usaha industri karak matang menunjukkan efisiensi sebesar 1,33. Nilai 1,31 bahwa setiap Rp.1,00 biaya yang dikeluarkan dalam suatu kegiatan usaha akan memberikan penerimaan sebesar 1,31 kali dari biaya yang telah dikeluarkan, begitupun dengan nilai efisiensi 1,33.
Berdasarkan kriteria yang digunakan, dapat diketahui bahwa usaha industri karak yang telah dijalankan di Kota Surakarta sudah efisien yang ditunjukkan dengan nilai R/C rasio lebih dari satu. Semakin besar R/C rasio maka akan semakin besar pula penerimaan yang akan diperoleh pengusaha. Hal ini sesuai dengan pendugaan yang dilakukan pada saat awal penelitian, yaitu usaha industri karak di Kota Surakarta efisien. Risiko Usaha serta Hubungan Antara Besarnya Risiko dengan Keuntungan
f. Risiko Usaha
Tabel 15. Risiko Usaha dan Batas Bawah Keuntungan Usaha Industri Karak di Kota Surakarta Bulan Maret 2012
No Uraian Karak mentah Karak matang
1. 2. 3. 4. Keuntungan Simpangan baku Koefisien variasi Batas bawah keuntungan 7.189.925 1.325.640,69 0,18 4.538.643,62 8.383.141 6.533.605,29 0,77 -4.684.069,68 Sumber : Analisis Data Primer
Tabel 15. menunjukkan bahwa keuntungan rata-rata yang diterima pengusaha industri karak mentah di Kota Surakarta selama bulan Maret 2012 adalah sebesar Rp.7.189.925,00. Menurut perhitungan keuntungan tersebut, maka dapat diketahui besarnya simpangan baku yaitu sebesar Rp.1.325.640,69. Koefisien variasi dari usaha industri karak mentah sebesar 0,18. Hal ini menunjukkan bahwa usaha industri karak mentah tersebut memiliki risiko kecil karena nilai koefisien variasi (CV) yang diperoleh lebih kecil dari
standar koefisien variasi yaitu 0,5. Hal ini sesuai dengan pendugaan yang dilakukan pada saat awal penelitian, yaitu usaha industri karak di Kota Surakarta memiliki risiko kecil.
Hasil lain didapatkan dari industri karak matang. Industri ini memperoleh keuntungan rata-rata sebesar Rp.8.383.141,00, dengan simpangan baku Rp. 6.533.605,29. Nilai koefisien variasi (CV) yang dihasulkan sebesar 0,77. Hal ini menunjukkan bahwa usaha industri karak matang tersebut berisiko tinggi, karena nilai koefisien variasi yang diperoleh lebih besar dari standar koefisien variasi yaitu 0,5. Menurut Hernanto (1993), semakin tinggi nilai CV, maka risiko yang ditanggung juga semakin besar. Batas bawah keuntungan industri ini sebesar -Rp 4.684.069,68. Angka ini menunjukkan bahwa pengusaha industri karak matang di Kota Surakarta harus berani menanggung kerugian sebesar Rp.4.684.069,68. Hal ini tidak sesuai dengan pendugaan yang dilakukan pada saat awal penelitian, yaitu usaha industri karak di Kota Surakarta memiliki risiko kecil.
Besarnya nilai risiko yang harus ditanggung oleh pengusaha industri karak matang di Kota Surakarta tersebut juga dikarenakan adanya berbagai risiko yang ada, antara lain :
a. Risiko Harga
Risiko usaha yang terkadang dihadapi oleh usaha industri karak matang yaitu harga bahan baku yaitu beras C4 yang terkadang naik. Harga bahan baku khususnya beras terkadang mengalami kenaikan sekitar Rp.300-Rp.1500. Saat bulan penelitian yaitu Maret 2012, harga beras C4 cukup stabil yaitu Rp.7.500,00 per kg. pada beberapa bulan lalu tepatnya awal tahun 2012, harga beras C4 sempat mengalami kenaikan menjadi Rp.8.500,00 per kg, kemudian beberapa saat selanjutnya turun menjadi Rp.8.000,00 per kg nya. Dengan adanya kenaikan harga tersebut, pengusaha karak terpaksa harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak sehingga menyebabkan
kenaikan biaya bahan baku (biaya variabel) yang nantinya menyebabkan penuruan keuntungan yang diperoleh pengusaha karak.
b. Risiko Produksi
Risiko produksi biasanya terjadi saat penjemuran, karena dalam pengeringannya, karak dilakukan dengan cara tradisional yaitu dengan panas dari cahaya matahari. Jika cuaca mendung atau musim penghujan, proses pengeringan atau penjemuran karak membutuhkan waktu yang lebih lama sekitar 1 hingga 2 hari.
c. Risiko lain
Para pengusaha karak terkadang tidak melakukan pembukuan secara lebih rinci tentang biaya dan penerimaan yang diperoleh tiap periode produksi, sehingga tidak dapat mengetahui secara pasti biaya-biaya manakah yang masih dapat ditekan lebih kecil lagi.
B. Kendala-Kendala Usaha Industri Karak di Kota Surakarta dan Solusi Pemecahan Masalahnya
Salah satu kendala yang dihadapi oleh responden industri karak di Kota Surakarta adalah harga bahan baku dan bahan penolong yang terkadang tidak stabil, terkadang naik dan terkadang turun.Sejauh ini, langkah yang dilakukan responden adalah memproduksi dalam kapasitas yang tetap, tetapi dengan mengurangi volume, yaitu dengan mempertipis karak tetapi tetap mempertahankan mutu dan rasa karaknya.
Kendala lainnya adalah industri karak matang masih menggunakan peralatan sederhana dan tradisional, sehingga waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan/produksi karak juga lebih lama dibandingkan dengan menggunakan mesin, misalnya mesin penggiling seperti pada industri karak mentah. Sejauh ini hal yang dapat dilakukan pengusaha industri karak matang dalam mengatasinya adalah dengan peningkatan kemampuan fisik dan ketrampilan tenaga kerjanya dengan efektif.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis usaha industri karak di Kota Surakarta yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Rata-rata biaya total industri karak mentah di Kota Surakarta yang dikeluarkan selama Bulan Maret 2012 sebesar Rp.23.050.075,00. Rata-rata penerimaan yang diperoleh sebesar dengan Rp.30.240.000,00 sehingga rata-rata keuntungan yang diperoleh sebesar Rp.7.189.925,00. Sedangkan rata-rata biaya total industri karak matang sebesar Rp.25.671.859,00 dengan rata-rata penerimaan Rp.34.020.000,00 sehingga rata-rata keuntungan yang diperoleh sebesar Rp.8.348.141,00. Profitabilitas usaha industri karak mentah di Kota Surakarta sebesar 31,19% dan industri karak matang sebesar 32,53%, sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha industri karak di Kota Surakarta menguntungkan.
2. Usaha industri karak di Kota Surakarta memiliki nilai R/C >1 yaitu sebesar 1,31 untuk industri karak mentah dan 1,33 untuk industri karak matang. Hal ini menunjukkan bahwa usaha industri karak yang dijalankan sudah efisien.
3. Usaha industri karak mentah di Kota Surakarta mempunyai nilai koefisien variasi (CV) < 0,5 yaitu 0,18 dan nilai batas bawah keuntungan (L) yang positif (>0) yaitu sebesar Rp.4.538.643,62 yang berarti bahwa usaha industri karak mentah memiliki risiko kecil. Sementara untuk industri karak matang dengan nilai koefisien variasi 0,77 dan batas bawah keuntungan sebesar -Rp.4.684.069,58 (L < 0) berarti bahwa industri tersebut berpeluang mengalami risiko kerugian yang tinggi, karena nilai CV lebih besar dari standar yang telah ditentukan yaitu 0,5.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saran yang dapat diberikan antara lain:
1. Ada baiknya industri karak matang melakukan pengemasan yang lebih baik seperti pada industri karak mentah, seingga akan menghasilkan tampilan yang lebih bagus dan harga jual dapat ditingkatkan, dengan begitu keuntungan juga dapat meningkat.
2. Ada baiknya industri karak matang juga menggunakan mesin penggiling seperti yang dilakukan industri karak mentah, sehingga waktu yang dilakukan dalam kegiatan produksi menjadi lebih efisien, dan biaya tenaga kerja tidak terlalu besar, karena telah tergantikan oleh mesin
3. Meskipun usaha industri kecil karak yang dijalankan di Kota Surakarta sudah efisien, sebaiknya pengusaha melakukan manajemen keuangan yang lebih baik lagi sehingga efisiensi yang lebih tinggi masih memungkinkan untuk diperoleh, misalnya dengan cara menekan biaya produksi, sehingga akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.
V. DAFTAR PUSTAKA Hernanto. 1993. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta
Singarimbun, M. Dan Efendi.1995. Metode Penelitian Survey. LP3S. Jakarta. Soekartawi. 2003. Prinsip Ekonomi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.