• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LATAR BELAKANG MUNCULNYA PAGOEJOEBAN MOELAT SARIRA DI PRAJA MANGKUNEGARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LATAR BELAKANG MUNCULNYA PAGOEJOEBAN MOELAT SARIRA DI PRAJA MANGKUNEGARAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LATAR BELAKANG MUNCULNYA PAGOEJOEBAN MOELAT

SARIRA DI PRAJA MANGKUNEGARAN

A. Sejarah dan Perkembangan Praja Mangkunegaran Hingga Masa Pemerintahan Mangkunegara VII

1. Sejarah Berdirinya Mangkunegaran

Sejarah berdirinya praja Mangkunegaran sebenarnya tidak lepas dari sejarah Kerajaan Mataram yang didirikan pada akhir abad 16 oleh Panembahan Senopati dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645). Wilayahnya hampir seluruh Jawa kecuali wilayah Kasultanan Cirebon dan Banten serta daerah Kompeni yang terletak diantara kedua Kasultanan itu.1 Kerajaan Mataram Islam ketika mendekati awal keruntuhan, pasca meninggalnya Sultan Agung, gejolak pemberontakan tidak lagi dapat diredam. Berbagai pertempuran terus terjadi terutama setelah perpindahan ibukota Mataram ke Kartasura.

Salah satu peristiwa yang paling besar adalah Geger Pacina yang merupakan imbas peristiwa serupa yang terjadi di Batavia. Pada bulan Oktober 1740, orang-orang Cina di Batavia memberontak kepada Belanda. Pemberontakan ini menjalar ke kota-kota lain, khususnya di tempat orang-orang Cina tinggal, di Semarang kedudukan Belanda semakin kritis. Peristiwa yang disebabkan oleh ketidakpuasan masyarakat Tionghoa terhadap kebijakan pihak kolonial tersebut juga menyebar

1

Th. M. Metz, Mangkunegaran Analisis Sebuah Kerajaan Jawa, terjemahan Moh. Husodo, (Surakarta: Reksa Pustaka Mangkunegaran, 1987), hlm. 1.

(2)

hingga ke Kartasura sehingga benteng Belanda di Kartasura diduduki oleh para pemberontak.2

Paku Buwono II selaku penguasa saat itu melihat sebuah kesempatan untuk melepaskan diri dari pengaruh Belanda jika pasukan pemberontak tersebut bisa memperluas wilayah pendudukannya. Fakta yang terjadi sebaliknya, pasukan pemberontak tidak dapat menduduki Semarang, Paku Buwono II memilih untuk kembali memihak kepada Belanda. Saat Kartasura akhirnya jatuh dalam kekuasaan pemberontak, Raden Mas Garendi salah satu cucu Amangkurat III dinobatkan sebagai raja dengan gelar Sunan Kuning sehingga memaksa Paku Buwono II serta anggota keluarganya menyingkir ke Ponorogo. Kartasura yang ditinggalkan oleh para penguasanya, kemudian diduduki oleh para pemberontak yang didukung oleh para bangsawan seperti Raden Suryakusuma (Raden Mas Said), Pangeran Haryo Buminata dan Pangeran Haryo Singosari. Pada tahun 1743, Kartasura dapat direbut kembali dari pemberontak, namun Paku Buwono II tidak lagi berminat menempati istana karena telah terjadi sejumlah kerusakan. Hal ini merupakan salah satu penyebab perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke wilayah yang saat ini dikenal dengan nama Sala.

Pasca perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke desa Sala, Paku Buwono II diributkan dengan permasalahan dengan pihak Kompeni karena keinginan untuk mengambil alih sebagian wilayah kekuasaannya, terutama Pasisiran. Melalui perjanjian tanggal 11 Nopember 1747, wilayah Pasisiran dan Bang Wetan Mataram

2

Radjiman, Sejarah Mataram Kartasura sampai Surakarta Hadiningrat, (Surakarta : Toko Buku Krida, 1984), hlm. 20.

(3)

mulai digerogoti oleh Kompeni. Daerah Madura, Sumenep, Surabaya, serta Panarukan adalah wilayah-wilayah strategis yang diambil alih oleh Kompeni. Selain itu Paku Buwono II memberikan monopoli dagang kepada pihak Kompeni.3 Hal ini semakin mengokohkan kedudukan Kompeni di Jawa. Bertambahnya kekuasaan Kompeni tersebut menjadi latar belakang pemberontakan sejumlah tokoh yang merasa dirugikan oleh tindakan Paku Buwuno II di atas. Salah satu keluarga istana yang melakukan pemberontakan adalah Pangeran Mangkubumi. Perlawanan ini dinamakan Perang Suksesi Jawa III. Selama masa tersebut Pangeran Mangkubumi membentuk struktur pemerintahan sendiri terutama setelah berhasil merebut beberapa tempat di Pasisiran Utara. Perang tersebut berlangsung hingga Paku Buwono II wafat dan digantikan puteranya sebagai Paku Buwono III.

Pada masa pemerintahan Paku Buwono III atas inisiatif Belanda untuk memecah belah Mataram, maka pada tanggal 13 Februari 1755 diadakan Perjanjian Giyanti. Pangeran Mangkubumi meminta separuh bagian Jawa yang selanjutnya akan berpusat di Yogyakarta dan pemberian gelar Sultan kepada Mangkubumi. Perjanjian Giyanti merupakan akhir dari sejarah kekuasaan Mataram yang secara langsung dikuasai oleh Belanda dan dua daerah yang dikuasai secara tidak langsung adalah Kasunanan dan Kasultanan.4

Rekan seperjuangan Pangeran Mangkubumi yang masih meneruskan perlawanan terhadap Paku Buwono III dan Kompeni adalah Raden Mas Said. Pasukan Paku Buwono III bersekutu dengan Kompeni serta memperoleh bantuan dari

3

Ibid., hlm. 31.

4

(4)

Sultan Hamengkubuwono I (Mangkubumi) kemudian menggempur daerah persembunyian Raden Mas Said dan melalui utusan khusus memintanya untuk menyerah. Pada tanggal 24 februari 1757 Raden Mas Said menyerah kepada Sunan Paku Buwono III, dan dengan perantaraan Hartingh (wakil Belanda) mengadakan perjanjian yang dikenal dengan sebutan Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757. Hasil dari perjanjian tersebut mengangkat Raden Mas Said menjadi Pangeran Miji dengan upacara istimewa dan diberi tanah lungguh (apanage) seluas 4000 karya (960 Jung). Pangeran Miji berarti Pangeran Panilih yang berarti langsung di bawah raja dan kedudukannya sama dengan Adipati Anom.5

Raden Mas Said kemudian menyandang gelar Pangeran Adipati Mangkunegara I dan memiliki otonomi sendiri. Kedudukannya bebas, namun statusnya lebih rendah daripada Sunan. Kekuasaan Mangkunegaran awalnya hanya berupa tanah seluas 4000 cacah (460 jung) yang diterima dari Sunan pada tahun 1757 (pasca perjanjian Salatiga). Adapun wilayah seluas 4000 karya tersebut meliputi: Keduwang 141 jung, Nglaroh 115,5 jung, Matesih 218 jung, Wiraka 60,5 jung, Haribaya 82,5 jung, Hanggabayan 25 jung, Sembuyan 133 jung, Gunung kidul 71,5 jung, Pajang 58,5 jung, Mataram 1 jung, dan Kedu 8,5 jung.6 Dengan demikian jumlah seluruhnya seluas 979.075 jung atau 4000 karya.7 Ditambah lagi dengan

5

A. K. Pringgodigdo, Sejarah Perusahaan-perusahaan Kerajaan

Mangkunegaran, (Surakarta: Reksa Pustaka Mangkunegaran, 1939), hlm. 16.

6

G.P. Rouffaer, Vorstenlanden dalam Encyclopedie Van Nederlandche-Indie, hlm. 240-241.

7

Perbandingan ukuran karya atau cacah adalah: 1 cacah = 4 bau, 1 bau = 0,7096 Ha = 7.096 m2, 1 jung = 4 karya = 16 bau, lihat Ibid., hlm. 302-307.

(5)

pemberian dari Raffles sebanyak 1000 cacah pada tahun 1813 dan pada tahun 1830 sebanyak 500 cacah, sehingga akhirnya berjumlah 5500 cacah.

Persetujuan pembagian kekuasaan dengan Paku Buwono III melalui Acte van

Verband yang secara khusus mengatur aktifitas Mangkunegara I, antara lain

kewajiban untuk menghadap Paku Buwono pada hari Senin, Kamis dan Sabtu.8 Perkembangan selanjutnya, berbagai hak istimewa dikenakan terhadap wilayah baru yang dinamakan Mangkunegaran. Mangkunegaran merupakan wilayah setingkat kadipaten yang penguasanya bergelar setingkat Pangeran Miji (Putra Mahkota Kerajaan) dan mendapatkan tanah lungguh (apanage). Seperti disebutkan di atas hingga sekitar masa pemerintahan Mangkunegara II (1830), luas wilayah Mangkunegaran semakin bertambah. Status tanah tersebut berubah dari apanage menjadi erf-grond atau tanah turun-temurun atau warisan.9 Dapat disebutkan di sini beberapa wilayah yang termasuk Mangkunegaran antara lain Karanganyar, Karangpandan, Matesih, Wonogiri, dan Tawangmangu.

2. Perkembangan Praja Mangkunegaran Hingga Masa Pemerintahan Mangkunegara VII

Pada awal berdirinya, Mangkunegaran diperintah oleh Pangeran Sambernyawa yang bergelar K. G. P. A. A. Mangkunegara I, yang memerintah mulai tahun 1757 hingga 1795. K. G. P. A. A. Mangkunegara I sebagai Pangeran Miji bagi

8

G.P. Rouffaer, Vorstenladen, disadur menjadi “Swapraja” oleh R. Tmg. Husodo Pringgokusumo, (Koleksi Reksa Pustaka Mangkunegaran), hlm. 6.

9

(6)

Sunan, maksudnya pangeran yang berada langsung di bawah Sunan. Menurut Acte

Van Verbond (surat penobatan) yang menjadi dasar pengangkatan dari K. G. P. A. A.

Mangkunegara I, disebutkan hak-hak yang diberikan oleh sunan Paku Buwono III kepada K.G.P.A.A. Mangkunegara I ini. Beliau mendapat gelar pembentuk kerajaan Mangkunegaran atau Stichter.10 Dalam hal ini, Mangkunegara I dianggap sebagai pencetus konsep dasar pemerintahan rakyat.

Masa pemerintahan Mangkunegara I diwarnai dengan berbagai macam peristiwa politik, ekonomi, dan budaya. Salah satu yang patut dicatat adalah adanya “Korps Pasukan Mangkunegaran” yang merupakan cikal bakal dari “Legiun Mangkunegaran” termasuk didalamnya korps prajurit wanita (estri).11

Sebagai budayawan peranan Mangkunegara I sebagai pengembang kebudayaan Jawa pada umumnya, sekaligus peletak dasar kebudayaan khas Mangkunegaran khususnya cukup besar. Ia menciptakan beberapa tarian bedhaya dan serimpi antara lain Bedhaya Anglir Mendhung, Bedhaya Dirodometo, dan Bedhaya Sukohetomo yang kesemuanya bertemakan perjuangan. 12 K.G.P.A.A. Mangkunegara I juga menghasilkan suatu karya yang tak ternilai yakni penulisan 8 surat Al Quran dalam aksara Jawa yang disalin sendiri dengan tulisan tangan dari Al Quran beraksara Arab-pegon. Karya besar yang usianya lebih dari 200 tahun ini, sampai saat ini masih tersimpan dengan baik di perpustakaan Reksopustaka Surakarta.

10

A. K. Pringgodigdo, Op. cit., hlm. 18.

11

Ann Kumar, Masyarakat Istana Jawa dan Politik Dalam Akhir Abad XVIII, (Surakarta: Reksa Pustaka Mangkunegaran, 1990), hlm. 8-9.

12

(7)

Pengganti K.G.P.A.A. Mangkunegara I adalah cucunya, yang bernama Raden Mas Sahdat lahir hari Senin Pon 14 Ruwah Jimawal 1693. Pada usia 14 tahun dianugerahi gelar Kanjeng Pangeran Haryo Suryamataram dan menikah dengan Putri Tumenggung Mangkuyudo di Kedu serta lulus dengan gelar Surya Prangwedana.13 Pada tanggal 25 Januari naik tahta dengan gelar Pangeran Ario Prabu Prangwedana. K.G.P.A.A. Mangkunegara II mulai menduduki tahta dari 25 Januari 1796 - 26 Januari 1835. Pergantian dari Mangkunegara I ke Mangkunegara II lebih banyak karena campur tangan dari pihak Belanda. Kerajaan Belanda yang kalah dari Prancis berusaha memperkuat kedudukan di wilayah jajahan, termasuk Jawa. Penempatan Daendels di Jawa dengan upayanya untuk melindungi Jawa dari serangan Inggris membutuhkan bantuan kekuatan militer dalam hal ini Legiun Mangkunegaran. Saat Mangkunegaran terbentuk, salah satu hak khusus yang dimiliki oleh wilayah ini adalah pembentukan pasukan sendiri yang bernama Legiun Mangkunegaran.

Kekuatan militer Legiun Mangkunegaran dibentuk pada tahun 1798. Sejak pembentukannya, pucuk komando dipegang oleh Prangwedana selaku calon pemegang tahta Mangkunegaran. Ketika kekuasaan Daendels berakhir di Jawa, pasukan Mangkunegaran ini mengalami imbas yang tidak mengenakkan. Dalam masa pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles, Legiun Mangkunegaran sempat dilucuti dan dibubarkan, namun tidak berlangsung lama. Persetujuan baru dibuat dengan berbagai fasilitas bagi pasukan ini. Raffles pada tahun 1812 memerintahkan Mangkunegara untuk menyediakan subsidi setiap bulan sebanyak 1200 ringgit kepada Legiun

13

R.M. Ng. Soemahatmaka, Riwayatipun Sri Mangkunegoro I-VII, (Surakarta: Reksa Pustaka Mangkunegaran, 1940), hlm. 58.

(8)

Mangkunegaran yang akan direorganisasi menjadi 900 orang infanteri, 200 orang kavaleri dan 50 orang artileri berkuda sebanyak 2 unit.14

Hubungan baiknya dengan Raffles dan bantuannya dalam menghadapi Sultan Hamengku Buwono II, menghadiahkan sebagian daerah Kasultanan Yogyakarta sebagai daerah milik Mangkunegaran, karena keberanian dan hubungan baik ini pulalah, Mangkunegoro II memperoleh penghargaan Ridder in de Militaire Willems

Orde. Beliau merupakan orang Jawa pertama yang menerima penghargaan militer

setinggi itu.15

Penguasa Mangkunegaran selanjutnya adalah cucu dari Mangkunegara II yang bernama Raden Mas Sarengat yang di wisuda dengan nama Pangeran Haryo Prabu Prangwedana serta menikah dengan Putri Paku Buwono V dari Kanjeng Ratu Emas.16 Mangkunegara III memerintah tanggal 25 Mei 1835 hingga 6 Januari 1853. Mangkunegara III diangkat dengan Acte van Verband (surat penobatan) yang menyebutkan bahwa pengangkatan ini atas sepengetahuan atau ijin Sunan. Beliau mewarisi kerajaan yang lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya. Namun kondisi Vorstenlanden khususnya dan Nusantara pada umumnya sedang mengalami perubahan besar saat Gubernur Jenderal Van Den Bosch datang pada tahun 1830 dan hingga tahun 1863 menerapkan Sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel).17 Hal ini berpengaruh pada sistem persewaan tanah milik Mangkunegaran.

14

G.P. Rouffaer, Op.cit, hlm., 30.

15

Th. M. Metz, Op. cit, hlm. 5.

16

R.M. Ng. Soemahatmaka, Op. cit., hlm. 30.

17

Cultuur Stelsel adalah sebuah kewajiban bagi penduduk pribumi untuk menanam tanaman untuk pasar Eropa seperti kopi, tebu, kapas dan sebagainya.

(9)

Keadaan ekonomi yang sedemikian buruk tersebut ternyata tidak menghalangi langkah-langkah reformasi tata praja sebagai keunggulan periode pemerintahan ini. Mangkunegara III mensederhanakan struktur pemerintahan. Dengan mengangkat

Patih Kerajaan, Wedana Gunung (kepala Kabupaten Anom, wilayah Onder Regentschap Mangkunegaran), yang dibantu oleh gunung atau panewu atau mantri

sebagai struktur pejabat kerajaan (pusat). Sementara di tingkat yang lebih rendah dipegang oleh bekel dengan perantaraan demang (kepala desa).18 Masa Pemerintahan Mangkunegoro III merupakan masa dimana keadaan sosial ekonomi sangat buruk. Hal itu disebabkan tanah yang diperuntukan bagi perkebunan kopi belum dimanfaatkan dengan baik.19

Pengganti Mangkunegoro III adalah kemenakannya, cucu dari Mangkunegoro II yang bernama Raden Mas Soedira yang lahir pada Ahad Legi, 8 Sapar Jumakir 1738 Windu Sancaya. Mangkunegoro IV naik tahta dan mendapat gelar Pangeran Adipati Aryo Prabu Prang Wedono serta memerintah mulai tanggal 25 Maret 1853 – 5 September 1881.20 Langkah awal yang dilakukan Mangkunegoro IV adalah melakukan pembangunan ekonomi onderneming, yaitu melalui perbaikan di bidang Rencana van den Bosch adalah bahwa setiap desa harus menyisihkan sebagian tanahnya guna ditanami komoditi ekspor (khususnya kopi, tebu, dan nila) untuk dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah pasti. Lihat M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991), hlm. 183.

18

W. E. Soetomo Siswokartono, Sri Mangkunagara IV sebagai Penguasa dan

Pujangga (1853-1881), (Semarang : Aneka Ilmu,2006), hlm. 71.

19

George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990), hlm. 354.

20

(10)

sosial ekonomi yang memburuk pada masa pemerintahan Mangkunegoro III. Mangkunegoro IV dikenal bukan saja sebagai raja yang bijaksana, tetapi juga dikenal sebagai ahli ekonomi, penuh inisiatif, dan daya cipta. Di bidang pemerintahan Ia meneliti kembali dan mempertegas batas-batas daerah kekuasaan Mangkunegaran dengan milik Kasunanan serta Kasultanan Yogyakarta. Dalam bidang kemiliteran ia mewajibkan setiap kerabat Mangkunegaran yang telah dewasa menjalani pendidikan militer (wajib militer). Syarat menjalani wajib militer ini diberlakukan pula pada mereka yang hendak menjadi pegawai praja.

Di bidang sosial ekonomi, Ia banyak menciptakan usaha komersil menjadi sumber penghasilan praja. Keberhasilannya di bidang ini diwujudkan dalam bentuk pendirian pabrik-pabrik antara lain pabrik gula di Tasikmadu, Colomadu, dan Gembongan, pabrik sisal di Mentotulakan, pabrik bungkil di Polokarto, pabrik bata dan genting di Kemiri. Memperluas usaha perkebunan dengan mengusahakan jenis tanaman selain kopi seperti palawija, padi, rempah-rempah, tebu, kina, di samping mencanangkan gerakan penanaman kopi sampai di pelosok-pelosok.21

Setelah Mangkunegara IV turun tahta digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Raden Mas Sunita. Memerintah mulai tahun 1881-1896 dan mendapat gelar seperti ayahnya. Masa pemerintahan Mangkunegara V yang tergolong singkat sempat mengalami krisis ekonomi (1875-1890) yang melanda berbagai negara termasuk Praja Mangkunegaran.22

21

A. K. Pringgodigdo, Op. cit., hlm. 20.

22

(11)

Pemerintah selanjutnya digantikan oleh saudaranya yang bernama Raden Mas Suyitno. Mangkunegoro VI memerintah tahun 1896-1916, pada masanya pengaruh kraton Kasunanan serta kewajiban untuk mengirimkan dua pangeran untuk mengabdi di kraton dihapuskan.23 Pada tahun 1896, praja Mangkunegaran sudah lepas sama sekali dari Kasunanan, Mangkunegara VI sudah menjadi Pangeran Amardiko (Pangeran Merdeka) terhadap Sunan dan menjadi Pangeran Miji terhadap pemerintah kolonial.24 Mangkunegoro VI merasa mempunyai kewajiban untuk memperbaiki perekonomian akibat krisis ekonomi yang terjadi pada masa Mangkunegoro V. Mangkunegoro VI merupakan raja yang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang, terbukti dengan adanya pemisah antara keuangan kerajaan dan keuangan pribadi raja dan tahun 1916 Pemerintah Mangkunegaran membentuk sebuah komisi yang bertugas sebagai pengawas hak milik Praja Mangkunegaran.25

Pada tahun 1916 Mangkunegoro VI turun tahta dan digantikan oleh Raden Mas Suryo Soeparto, putra dari Mangkunegoro V. Raden Mas Suryo Soeparto naik tahta tahun 1916-1944 dengan gelar Pangeran Prangwedana. Raden Mas Suryo Suparto sejak lama menjalin kedekatan dengan Pemerintah Hindia Belanda. Raden Mas Suryo Suparto bahkan diberi kesempatan untuk menjadi seorang penerjemah bangsa bumiputera untuk membantu tugas pemerintah setempat. Pemerintah Hindia Belanda bahkan memberikan kesempatan kepada Raden Mas Suryo Suparto untuk melanjutkan pendidikan di negeri Belanda. Dengan demikian pengaruh pemikiran

23

R.M. Ng. Soemahatmaka, Op. cit., hlm. 102.

24

A. K. Pringgodigdo, Op. cit., hlm. 19.

25

(12)

Barat cukup besar dalam kebijakan-kebijakan yang nantinya dikeluarkan oleh Mangkunegara VII.26

Masa pemerintahan Mangkunegara VII seringkali disebut sebagai masa keemasan Praja Mangkunegaran. Hal ini dilatar belakangi dengan sejumlah kebijakan baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan maupun pembangunan perkotaan yang mengubah wajah Praja Mangkunegaran menjadi lebih modern. Reformasi yang dilakukan oleh Mangkunegara VII sehubungan dengan tata keuangan dalam Praja Mangkunegaran dinilai cukup berhasil. Hal itu terbukti dengan adanya peningkatan produksi pada pabrik gula di Tasikmadu dan Colomadu. Selain faktor eksternal yaitu naiknya harga gula di pasaran, perbaikan dan modernisasi peralatan juga menjadi pendukung kemajuan kedua pabrik tersebut. Peningkatan-peningkatan lain juga terjadi pada pabrik-pabrik lain.

Legiun Mangkunegaran pada masa pemerintahan Mangkunegara VII ikut terlibat menangani beberapa peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tahun 1921 dan 1926. Mangkunegara VII juga merupakan seorang Panglima Legiun dengan pangkat

Colonel Comandant. Kondisi Surakarta pada awal abad 20 tersebut disebutkan penuh

gejolak. Kemerosotan dalam bidang ekonomi, dalam konteks Surakarta, menimbulkan kegusaran rakyat yang ditandai dengan adanya aksi pembakaran dan pemogokan massa. Dalam mengatasi kondisi ini, penguasa Hindia Belanda setempat membutuhkan tambahan personil untuk menghadapi massa. Legiun Mangkunegaran

26

R.M. Suryo Suparto melakukan perjalanan ke Belanda pada 14 Juni 1913 yang catatan-catatannya dibukukan dalam “Kekesahan dhateng Nagari Walandi / Perjalanan dari Tanah Jawa menuju Negeri Belanda”.

(13)

dianggap berjasa dalam keikutsertaannya melindungi pegawai-pegawai bumiputera serta aset ekonomi swapraja. Kedekatan hubungan Legiun Mangkunegaran dengan pihak kolonial saat itu juga dapat dilihat pada kegiatan latihan bersama yang sering diadakan.27

Pembangunan perkotaan juga menjadi aspek perhatian dari Mangkunegara VII. Pembangunan dan perbaikan rel serta lori yang ditujukan untuk pengangkutan hasil-hasil produksi juga memperlancar lalu lintas di wilayah Praja Mangkunegaran. Pembangunan rumah sakit pusat Ziekenzorg di Mangkubumen pada tahun 1921 dengan bantuan dana dari pihak Swapraja melengkapi proyek penataan kota yang dilakukan Mangkunegara VII. Penambahan tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan serta mantri merupakan usaha untuk mengatasi berbagai wabah penyakit yang muncul pada saat itu.28 Dalam hal saluran air, Mangkunegara VII memiliki kepekaan yang tinggi dalam permasalahan lingkungan untuk mencegah bencana yang tidak diinginkan. Hal ini sejalan dengan pemerintahan periode sebelumnya yang telah membangun tanggul dan pintu-pintu air agar aliran dari Bengawan Solo tidak meluap saat hujan.

Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII kegiatan olahraga dan rekreasi difasilitasi dengan baik oleh pihak Praja. Kemunculan berbagai tempat rekreasi baik di wilayah Kasunanan maupun Mangkunegaran menunjukkan bahwa pola kehidupan seperti bangsa Eropa. Jika awalnya hanya kelompok tertentu, khususnya priyayi, yang

27

Th. M. Metz., Op. cit., hlm. 73

28

(14)

mengenal kegiatan-kegiatan tersebut, maka pada awal abad 20 masyarakat umum mulai dibuatkan sejumlah fasilitas hiburan dan olahraga. Pada akhir tahun 1921 dibuka taman hiburan yang dinamakan Partini Tuin, yang artinya taman Partini. Partini adalah nama puteri Kangjeng Gusti Mangkunegoro VII, yang paling tua. Tetapi rakyat biasa menyebutnya Balekambang. Di taman tersebut diadakan hiburan pertunjukkan wayang orang.29 Taman Balekambang merupakan sarana rekreasi yang juga dilengkapi dengan lapangan olahraga dan pemandian.Mangkunegara VII juga membangun tempat pacuan kuda bernama Manahan yang dilengkapi dengan tribun penonton.

Pada bidang media komunikasi, Mangkunegara VII membuat siaran yang bisa diterima oleh masyarakat umum dengan menggunakan bahasa Jawa dan sesuai dengan budaya Jawa. Untuk mewujudkan ide tersebut maka ditunjuklah sebuah perkumpulan kesenian Mangkunegaran yang bernama Mardi Laras untuk melakukan siaran karawitan dan wayang wong dari Balekambang dengan dibekali sebuah transmittor radio.30

Mangkunegara VII turut berperan dalam pengembangan kebudayaan Jawa. Hal ini dapat dilihat dengan pendirian Java Instituut, yaitu sebuah lembaga kebudayaan yang memiliki fokus pada pengembangan budaya Jawa. Revitalisasi tari dan wayang purwa merupakan karya yang bisa dilacak dari tokoh ini. Meskipun

29

R.M. Sayid, Babad Sala, (Surakarta: Reksopustoko Mangkunegaran, 2001), hlm. 74.

30

(15)

demikian, proses dan latar belakang pengembangan budaya Jawa yang menjadi salah satu agenda pembangunan masyarakat dan Praja Mangkunegaran.

Pada awal abad 20, di Jawa banyak bermunculan para priyayi baru.31 dampak berkembangnya pendidikan. Mangkunegara VII sendiri merupakan contohnya. Oleh karena itu beliau juga memiliki kepedulian tinggi pada hal tersebut. Hal tersebut ditandai dengan dibukanya sejumlah sekolah dengan tujuan untuk memajukan rakyat. Salah satu jenis sekolah yang cukup menarik untuk dibahas adalah kemunculan sekolah-sekolah wanita di Praja Mangkunegaran. Beberapa sekolah yang cukup terkenal adalah Siswo Rini dan Van Deventer School.32

B. Birokrasi Praja Mangkunegaran

Birokrasi merupakan alat atau instrumen pemerintah untuk melaksanakan keputusan dan kebijaksanaan. Dengan kata lain birokrasi adalah suatu sistem untuk mengatur jalannya pemerintahan dengan salah satu cirinya ialah adanya hirarki jabatan-jabatan (atasan dengan bawahan) yang diatur menurut undang-undang.33

31

Bila di tahun 1900 kelompok priyayilah yang menjadi kaum bangsawan dan administrator, menjelang tahun 1914 kelompok ini bertambah dengan sejumlah pegawai pemerintah, teknisi-teknisi pemerintah dan cendekiawan yang sama-sama memerankan peran elit dan yang dimata rakyat biasa di desa-desa tercakup ke dalam yang umumnya disebut “priyayi”. Lihat Robert van Niel, Munculnya Elit Modern

Indonesia, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), hlm. 75.

32

Insiwi Febriary Setiasih, “Pemikiran K.G.P.A.A. Mangkunegara VII Tentang Pendidikan Wanita Dan Kebudayaan (1916-1944)”, Dalam Tesis, (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2009), hlm. 41.

33

Lance Castles, Nurhadiantomo, Suyatno, Birokrasi Kepemimpinan Dan

(16)

Sehubungan dengan birokrasi tersebut di praja Mangkunegaran pada garis besarnya terdiri atas dua golongan, yaitu birokrasi berdasarkan pangkat (kekuasaan) dan birokrasi berdasarkan jabatan (lembaga). Bentuk birokrasi tersebut merupakan unsur-unsur yang berdasar dari budaya dan politik kerajaan yang diwarnai dengan sifat-sifat yang masih tradisional. Pola hubungan antara atasan dengan bawahan bersifat paternalistik seperti hubungan antara patron dan klien. Hal yang sama juga terjadi pada hubungan antara para pejabat dengan rakyat yang dipimpinnya, dimana patron adalah gusti dan klien adalah kawula.34

1. Birokrasi Berdasarkan Pangkat (Kekuasaan)35

Yang dimaksud birokrasi menurut pangkat atau kekuasaan ialah susunan atau urutan kepangkatan dalam pemerintahan praja Mangkunegaran mulai pangkat teratas hingga pangkat yang terendah, yang sekaligus menunjukan kekuasaan yang dipegangnya. Secara hirarkis birokrasi menurut pangkat itu sebagai berikut:

a. Adipati (Kepala Trah Mangkunegaran)

Jabatan Adipati merupakan puncak hirarki dari birokrasi di Mangkunegaran. Gelar yang di pakai seorang Adipati ialah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro. Adipati bertugas menangani seluruh kekuasaan Praja Mangkunegaran. Dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh para pejabat dibawahnya.

34

Dorodjatun Koentjarajakti, “Birokrasi Di Dunia Ketiga: Alat Rakyat, Alat Penguasa Atau Panguasa”, dalam Prisma No. 10 Oktober 1980, hlm. 31.

35

Serat Wewatoning Para Abdi Dalem Ageng Alit Ing Nagari Jawi, (Surakarta: Reksa Pustaka Mangkunegaran).

(17)

b. Bupati Patih

Di Praja Mangkunegaran jabatan patih dipegang oleh Bupati sehingga disebut Bupati Patih. Kedudukan Bupati Patih ini langsung di bawah Adipati Mangkunegoro. Bupati Patih ini diangkat oleh Adipati Mangkunegoro dan bertugas sebagai pelaksana pertama perintah Adipati.

c. Bupati

Bupati adalah jabatan yang memimpin suatu kadipaten. Di Praja Mangkunegaran terdapat beberapa kabupaten dengan nama dan tugas yang berbeda-beda. Para Bupati ini di bawah koordinasi penguasa Bupati Patih Mangkunegaran.

d. Wedana

Seorang Wedana berkewajiban melaksanakan tugas secara operasional, dan secara hirarki kedudukannya di bawah Bupati. Wedana akan menerima perintah dari Bupati dan meneruskannya kepada pejabat dibawahnya.

e. Kaliwon

Pangkat Kaliwon kedudukannya di bawah wedana, namun ia diangkat langsung oleh Bupati. Tugas Kaliwon adalah meneruskan perintah dari Wedana kepada pejabat dibawahnya.

f. Panewu

Pangkat Panewu akan menerima perintah dari Kaliwon dan akan meneruskannya kepada pejabat dibawahnya. Selain itu Panewu harus melaporkan semua tugasnya kepada Kaliwon.

(18)

g. Mantri

Pangkat Mantri bertugas menyampaikan perintah dari Panewu kepada para pejabat dibawahnya.

h. Lurah

Pangkat Lurah ini bertugas menerima perintah dari kadipaten yang diterimanya lewat Mantri untuk diteruskan kepada pejabat dibawahnya. Di Praja Mangkunegaran pangkat Lurah ini dijabat oleh Demang dan Rangga. Demang bertugas mengurusi pekerjaan di tingkat desa yang menjadi bawahannya. Sedangkan Rangga bertanggung jawab atas baik buruknya wilayah bawahannya.

i. Bekel

Bekel bertugas meneruskan perintah dari Lurah kepada pejabat dibawahnnya. Dan Bekel juga bertanggung jawab atas baik buruknya pelaksanaan tugas-tugas di desa.

j. Jajar

Jajar merupakan pelaksana perintah yang datang dari Bekel. Dalam struktur birokrasi, jajar merupakan pangkat yang terendah.

2. Birokrasi Berdasarkan Jabatan (Lembaga)36:

Birokrasi menurut jabatan atau lembaga ialah susunan dari jabatan-jabatan dalam pemerintahan praja Mangkunegaran, sedangkan lembaga di sini merupakan

36

Honggopati Tjitrohoepojo, Serat Najakatama, (Surakarta: Reksa Pustaka Mangkunegaran, 1930), hlm. 58-62.

(19)

nama dari dinas-dinas perkantoran di praja Mangkunegaran. Adapun nama-nama jabatan (lembaga) tersebut ialah:

a. Kabupaten Hamong Praja (Pemerintahan Pusat)

Dinas ini langsung di bawah pejabat Bupati Patih. Kedudukannya sebagai pemerintahan pusat yang mengawasi semua kegiatan Praja. Dinas ini dibagi dalam tiga golongan yaitu:

1) Kawedanan / Kantor Nata Praja:

Tugasnya mengurusi surat-menyurat, membuat dan memeriksa undang-undang peraturan praja. Dibawahnya terdapat beberapa kapanewon yaitu:

a) Kapanewon / Kantor Hagnya Praja adalah tugasnya mengerjakan surat-menyurat dari kadipaten.

b) Kapanewon / Kantor Reksa Wilapa adalah tugasnya menerima, merawat, dan menyerahkan semua surat-menyurat pemerintahan praja.

c) Kapanewon / Kantor Reksa Pustaka adalah tugasnya merawat buku-buku dan surat-surat milik Praja Mangkunegaran.

2) Kawedanan / Kantor Niti Praja:

Tugasnya memeriksa harta kekayaan praja. Dinas ini membawahi beberapa kantor yakni:

a) Kapanewon / Kantor Niti Wara adalah tugasnya memeriksa peredaran keuangan praja.

(20)

b) Kapanewon / Kantor Marta Praja adalah tugasnya memeriksa kas praja.

c) Kapanewon / Kantor Karta Praja adalah tugasnya mengurusi bidang pertanahan.

3) Kawedanan Reksa Hartana:

Tugasnya menerima dan mengeluarkan keuangan praja. Juga mengurusi beasiswa dan dana pensiun para pegawai.

b. Kabupaten Pangreh Praja (Pemerintahan Dalam Negeri)

Dinas ini di bawah pejabat Bupati Pangreh Praja. Tugasnya menangani kepangreh-prajaan dan kepolisian.

c. Kabupaten Mandrapura (Dinas Istana)

Dinas ini di bawah pejabat Kaliwon (Bupati Anom). Tugasnya menangani urusan dalam istana (Pura Mangkunegaran)

d. Kabupaten Parimpuna (Kapasaran)

Kabupaten ini di bawah pejabat seorang Kaliwon. Tugasnya mengurusi bidang kapasaran.

e. Kabupaten Karti Praja (Pekerjaan Umum)

Kabupaten ini dikepalai seorang Belanda dengan pangkat direktur. Tugasnya mengurusi bidang pekerjaan umum di Praja Mangkunegaran.

f. Kabupaten Sindumarta (Bidang Irigasi)

Kabupaten ini dipimpin seorang inspektur yang berpangkat chef (sep). Tugasnya mengurusi bidang pengairan.

(21)

g. Kabupaten Wanamarta (Kehutanan Mangkunegaran)

Dinas ini dikepalai oleh seorang Belanda yang berpangkat

opperhoutvester (kepala kehutanan). Tugasnya mengurusi soal kehutanan.

h. Kabupaten Yogiswara (Keagamaan)

Kabupaten ini dikepalai seorang Wedana (Pengulu). Tugasnya mengurusi bidang keagamaan.

i. Kabupaten Kartahusada (Perusahaan Mangkunegaran)

Dinas ini dikepalai seorang Belanda berpangkat superintendent. Sedang tugasnya mengurusi perusahaan milik Praja Mangkunegaran.

j. Kabupaten Sinatriya

Dinas ini dikepalai oleh seorang Wedana, sedang tugasnya ialah mengurusi para putra sentana.

k. Pemerintahan Bidang Pertanahan

Dinas ini dikepalai oleh seorang Kaliwon. Tugasnya ialah mengatur soal tanah.

l. Pemerintahan Kedokteran

Dinas ini dikepalai oleh seoarang dokter dengan sebutan Arts. Tugasnya menjaga kesehatan bagi para putra dan nara praja.

m. Pemerintah Martanimpuna (Kantor Inspektur Pajak)

Dinas ini dikepalai oleh seorang Kaliwon. Tugasnya ialah memeriksa dan meningkatkan pemasukan uang dalam praja.

(22)

n. Pemerintah Legiun

Dinas ini dikepalai oleh seorang Letnan Kolonel dari bangsa Belanda. Sedangkan tugasnya mengurusi bidang keprajuritan.

o. Pasinaon Dhusun (Pendidikan Desa)

Dinas ini dikepalai seorang sinder sekolah rakyat. Tugasnya mengurusi dan memajukan pendidikan di desa.

C. Filsafat Tri Dharma Praja Mangkunegaran

Sejarah lahirnya Tri Dharma Mangkunegaran tidak jauh dari sejarah perjuangan pendirinya, yakni Raden Mas Said atau K. G. P. A. A. Mangkunegara I. Raden Mas Said sejak kecil telah mengalami hidup yang prihatin karena selain telah ditinggal sang ibu, sedangkan ayahnya juga telah di buang ke Ceylon kemudian ke Tanjung Harapan hingga wafat. R. M. Said ketika usia 16 keluar dari Kraton Kartasura, tepatnya tanggal 3 Rabi’ul awal tahun Jimakir, Windu Sangara, 1666 (1741 M). Sejak saat inilah R.M. Said memulai perjuangannya, keluar dari keraton diikuti oleh 18 pembantu utamanya yang dengan gigih telah membantu perjuangannya. 37 Perjuangannya R.M. Said bersama para pembantu utamanya mempunyai ikrar Tiji Tibeh yang berarti mati siji mati kabeh atau juga mukti siji

mukti kabeh. Ikrar bersama ini kemudian dikenal dengan Sumpah Kawula Gusti atau

37

Ng. Satyapranawa, Babad Mangkunegaran, (Surakarta: Reksa Pustaka Mangkunegaran, 1950), hlm. 29.

(23)

Pamoring Kawulo Gusti maksudnya yaitu berdiri sama tinggi, duduk sama rendah,

berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.38

Keberanian dan strategi pertempuran Raden Mas Said yang banyak berhasil tersebut, menyebabkan ia dikenal dengan sebutan Pangeran Sumbernyawa (Pangeran penyebar maut).39Pertempuran baru berhenti setelah Raden Mas Said mendapat perintah dari Sunan Paku Buwono III untuk kembali ke Surakarta guna mendampingi Sunan Paku Buwono III. Setelah berada di Surakarta, pada tanggal 27 Maret 1757 R. M. Said menerima piagam dari Sunan Paku Buwono III sebagai pengukuhan atas penyerahan tanah seluas 4000 karya. Pada tanggal 28 Desember 1757 R. M. Said dinobatkan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegaran I.

Sesaat setelah penobatan berlangsung, Mangkunegara I sebagai pendiri Praja Mangkunegaran bersama 18 punggawa (sebelumnya adalah 18 pengikut dalam perjuangan) menjalin satu janji bersama atau prasetya, Mangkunegara I menyatakan “Bumi Mangkunegaran iki padha melu handar beni lan padha dipangan ing anak

putu buri, yen turunku ora mikir nganti dadi rusaking turune punggawa ora dak pangestoni.”40 Hal tersebut mempunyai arti bumi atau praja Mangkunegaran ini kita (seluruh penghuni praja Mangkunegaran) ikut memiliki hendaknya dapat dimanfaatkan untuk hidup anak cucu di kemudian hari, apabila keturunanku tidak

38

RIW Dwidjosunana, R. Ng. Sastradihardjo, RMF Dwidjosaputra, Sejarah

Perjuangan Raden Mas Said, (Surakarta: Reksa Pustaka, 1972), hlm. 11.

39

Yayasan Mangadeg, Pangeran Sumbernyawa Ringkasan Sejarah

Perjuangannya, (Surakarta: Yayasan Mangadeg, 1988) hlm. 17.

40

HKMN Suryasumirat, Peringatan 30 Tahun Mulat Sarira (Suatu Uraian

Singkat sebagai Pengiring Lahirnya Tri Darma Dalam Kalangan Kerabat Besar Mangkunegaran), (Surakarta: Reksa Pustaka, 1999), hlm. 7.

(24)

memperhatikannya sampai menimbulkan rusaknya keturunan para punggawa, hal itu tidak kami restui.

Pada bagian bawah dari janji bersama tersebut ditutup dengan prasetya dari para punggawa, yang berbunyi “Menawi tedhak turunipun punggawa niyat ngendhih

ingkang jumeneng, utawi boten rumeksa praja badhe manggih papa lan cures.”41

Artinya “Barang siapa di antara keturunan punggawa berniat menjongkeng kedudukan yang bertahta dan tidak menjaga Praja niscaya akan menemui sengsara dan habis punah daya”.

Janji bersama atau prasetya antara Mangkunegara I dengan 18 punggawa praja merupakan tonggak sejarah yang tidak dapat diabaikan, khususnya di kalangan Mangkunegaran. Janji bersama tersebut merupakan jalinan penyaturagaan antara pimpinan dengan yang dipimpin, antara pembina dengan yang dibina, antara raja dengan rakyat. Jiwa yang tertanam di dalam prasetya antara pimpinan praja dan punggawa Mangkunegaran terus menerus dirasakan, dicamkan, dihayati, diolah dalam batin, sikap, pakarti yang akhirnya menjadi Tri Dharma, yaitu Mulat Sarira

Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Hanggondheli, Wajib Melu Hanggondheli.

1. Mulat Sarira Hangrasa Wani

Serangkaian kata-kata tersebut terbabar saat R. M. Said bersama pengikutnya turun dari kancah peperangan. Kata-kata sederhana tersebut digoreskan sebagai suatu kenang-kenangan yang kemudian dapat menjiwai kehidupan Praja Mangkunegaran.

41

(25)

Mulat Sarira dapat diartikan mawas diri dalam arti luas. Kesanggupan untuk mawas

diri merupakan modal yang sangat berharga bagi setiap pribadi, karena dengan adanya kesadaran untuk mawas diri berarti ada kesanggupan untuk menguakkan berbagai hambatan yang dapat menghalang langkah-langkah untuk maju. Dengan mawas diri memungkinkan seseorang untuk menengok dirinya, sanggup melihat kembali pengalaman dirinya, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, dan memungkinkan dapat belajar dari pengalamannya. Kesediaan dan ketajaman dalam pemahaman terhadap diri sendiri akan menimbulkan kesadaran tentang kemampuannya, kesadaran dalam kedudukannya dalam arti yang luas (hubungan dirinya sendiri, hubungan dengan masyarakatnya, hubungan dengan alam sekitar, hubungan dengan sesamanya, hubungan dengan Tuhan Pencipta Alam Semesta). Akhirnya akan menyadari bahwa manusia mempunyai berbagai sifat, antara lain salah atau khilaf. Atas dasar kesadaran tersebut akhirnya akan disadari pula bahwa kesemuanya itu merupakan akibat atau buah dari perbuatannya sendiri.

Mulat sarira hangrasa wani mengandung arti mawas diri masing-masing

akan mempunyai kesadaran terhadap kebenaran, kesediaan dan keberanian berbuat benar, berani membela kebenaran, berani menderita, berani berbuat dan bertanggungjawab, berani berwibawa serta berani hidup sejahtera yang ditopang oleh kebenaran.42 Perilaku yang disebut mulat sarira atau mawas diri dapat terjadi pada siapapun juga pada bangsa manapun juga. Kesanggupan untuk mawas diri tetapi tidak semudah mengucapkan atau mendengarkan kata-kata tersebut. Kesanggupan mawas

42

(26)

diri bertalian erat dengan tingkat kesadaran. Timbulnya kesadaran tersebut berkaitan erat dengan tingkat kematangan pribadi. Tingkat kematangan pribadi memerlukan berbagai macam dan tingkat pengolahan diri, baik bersifat batiniah maupun dalam rohaniah. Di kalangan Mangkunegaran, mulat sarira hangrasa wani banyak dikenal bukan hanya sebagai semboyan dan bukan sebagai kata-kata upacara, tetapi menjadi sumber aspirasi yang senantiasa dapat dikaji dan dihayati. Mengingat arti dan nilai

mulat sarira hangrasa wani begitu dalam dan tinggi, maka makna dan jiwa daripada

kata-kata tersebut menyalur di berbagai segi kehidupan.

2. Rumangsa Melu Handarbeni

Janji bersama atau prasetya antara Mangkunegara I dengan 18 punggawa praja merupakan suasana hidup kebersamaan. Hidup dalam kebersamaan yang dijiwai dengan pola manunggaling kawula lan Gusti adalah menjadi watak orang-orang Mangkunegaran. Orang-orang Mangkunegaran merasa tumbuh dan berkembang dari satu sumber dan satu induk, satu sama lain merasa senada dan sejiwa. Itulah yang sering disebut dengan istilah bahasa Jawa Tebu Sauyun atau Nebu Sauyun yang artinya serumpun tebu. Kekeluargaan di kalangan Mangkunegaran dapat diungkapkan: “Serumpun bagai serai, seliang bagai tebu”, artinya bersama dan bersatu hati di dalam segala hal.43

43

(27)

3. Wajib Melu Hanggondheli

Kalimat tersebut mempunyai arti “merasa wajib ikut menjaga dan mempertahankan”. Makna yang terkandung dalam kalimat tersebut bertalian erat dengan kalimat yang lain, yaitu mulat sarira hangrasa wani dan rumangsa melu

handarbeni. Kalau masing menyadari tentang berdirinya praja, dan

masing-masing menyadari hikmah apa yang dapat diterima atau diambil dengan adanya praja, dengan sendirinya akan mempunyai rasa tanggung jawab untuk menjaga dan mempertahankannya. Kesadaran sikap hanggondheli praja (menjaga dan mempertahankan negara) tersebut adalah sikap terhormat yang sejak awal mungkin telah diamanatkan oleh pendiri Praja Mangkunegaran, ialah Mangkunegoro I. Kata-kata hanggondheli praja ditanamkan di dalam piagam janji bersama yang dibuat sesaat sesudah penobatan R.M. Said sebagai K.G.P.A.A. Mangkunegoro I, yang bunyinya “Mbesuk yen ana rusaking praja sanadyan kari saeyubing payung janji isih

katon wujuding praja padha gondhelana”. Artinya “Kelak kalau sampai terjadi praja

mengalami kerusakan meskipun tinggal seluas daun payung asal masih tampak wujudnya hendaklah dipertahankan”. 44 Itulah sikap moral kenegaraan yang ditanamkan oleh pendiri praja Mangkunegaran. Bertumpu pada sikap rumangsa melu

handarbeni akan tumbuh sikap rukun (bersatu hati) dan rumeksa (menjaga) praja,

untuk mencapai raharja (aman, tentram, damai, dan sejahtera).

Tri Dharma adalah filsafat yang bisa memperbesar rasa pengabdian para kawula kepada praja Mangkunegaran. Kewajiban untuk menjaga praja bukan harus

44

(28)

timbul karena diminta, dipaksa atau disuruh, tetapi rasa wajib itu timbul dari kesadaran masing-masing secara hakiki. Atas dasar itulah maka masing-masing hendaklah mempunyai tanggung jawab moral sedalam-dalamnya sehingga mempunyai kesanggupan untuk mulat sarira, berpandangan luas, sanggup menyesuaikan diri dengan arus situasi dan zaman. Jelaslah bahwa tiga filsafat yang tersirat di dalam Tri Dharma merupakan satu kesatuan tunggal, satu dengan yang lain saling melengkapi dan saling menjiwai, satu dengan yang lain mempunyai sambung makna, sambung rasa, dan sambung guna.

Falsafah Tri Dharma ini jarang ditulis dan tidak pernah diucapkan, tetapi dimasukkan ke dalam hati sanubari kerabat dan rakyat Mangkunegaran melalui pendidikan mental, pelaksanaan tugas pekerjaan sehari-hari, dimanifestasikan dalam bentuk pikiran, tutur kata, tingkah laku, dan perbuatan. Tri Dharma secara tidak sadar menjadi darah daging pada setiap insan Mangkunegaran di dalam menunaikan tugasnya untuk landasan pengabdian untuk praja Mangkunegaran, raja, dan rakyat. Tri Dharma mempunyai arti penting dalam hubungan antara kawula dan raja. Semangat Tri Dharma inilah yang juga menjadi pilar tegak berdirinya praja Mangkunegaran hingga masa K. G. P. A. A. Mangkunegara VII.

Pada awal abad 20, kondisi politik praja Mangkunegaran terusik karena adanya campur tangan pemerintah kolonial Belanda. Intervensi pemerintah kolonial terdengar dari isu tentang akan dihapuskannya Vorstenlanden, Zelfbestuur, serta

(29)

kebijakan reorganisasi tanah dan pengadilan.45 Masalah politik yang lain juga muncul untuk menyudutkan posisi Mangkunegara VII, yaitu persaingan antara Mangkunegaran dengan Kasunanan. Kasunanan membuat sebuah organisasi yang mengancam posisi pemerintahan Mangkunegara VII.

Hal ini mendapat reaksi dari kaum elit tradisional. Reaksi ini dalam perkembangannya sangat didukung oleh Mangkunegara VII. Untuk reaksi atas kondisi-kondisi politik tersebut, pada masa pemerintahan Mangkunegara VII tumbuh subur organisasi-organisasi beranggotakan kawula yang loyal terhadap praja Mangkunegaran. Salah satu organisasi tersebut adalah Pagoejoeban Moelat Sarira yang memiliki asas sehaluan dengan Tri Dharma Mangkunegaran. Organisasi ini setia pada raja dan bertugas untuk mempertahankan tegak berdirinya praja Mangkunegaran. Hal ini menunjukkan pola hubungan antara raja Mangkunegara VII dengan Pagoejoeban Moelat Sarira bersifat patron dan klien, dimana patron adalah Gusti atau raja dan klien adalah kawula.

45

Susanto, “Gaya Hidup, Identitas, dan Eksistensi Masyarakat dan Kebudayaan Surakarta, 1871-1940”, dalam Ringkasan Disertasi, (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2015), hlm. 15.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian mengenai pengaruh piutang dan persediaan terhadap perubahan laba telah dilakukan sebelumnya oleh Setiawan (2010) menguji kemampuan informasi keuangan

Permasalahan-permasalahan yang sering timbul diantaranya: (1) masalah keuangan, yaitu mengenai kebutuhan PSK akan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk

Pada tahapan ini peneliti menganalisis proses yang terjadi secara khusus berupa aliran informasi dari pengguna ke dalam sistem informasi manajemen keuangan dan

Uji toksisitas subkronis 28 hari ekstrak etanol 50 % daun kumis kucing 1250; 2500; 5000 mg/kgBB tidak menimbulkan perubahan berat relatif organ jantung, hati, ginjal, paru,

penulisan skripsi penulis yang berjudul “PENGGUNAAN INSTRUMEN ANTI PENCUCIAN UANG DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI” sesuai dengan permasalahan yang diajukan antara

keluarga, pengetahuan keuangan, sikap terhadap uang dan tingkat pendapatan,. serta dibahas mengenai hipotesis

percaya diri, mengeluarkan pendapat seperti halnya Eramus Darwin, yang menyebutkan makhluk hidup berasal dari benda mati, membentuk senyawa yang sederhana dan yang paling

yang dilakukan Shalahuddin terhadap Baitul Maqdis pada tahun 583 H, ia telah memerintahkan kaum Muslim untuk memelihara gereja dan mendirikan tidak jauh darinya sebuah