• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV.KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV.KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Letak dan Posisi Geografis

Salah satu site tambang yang dimiliki PT Arutmin Indonesia terdapat di Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Tambang ini berada pada 4 wilayah administratif kecamatan yakni Kecamatan Kusan Hulu, Mantewe, Simpang Empat, dan Tanah Bumbu. Site ini merupakan site tambang termuda yang baru beroperasi pada tahun 2003. Secara geografis wilayah PKP2B PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin ini berada pada koordinat 115035’29.80’’– 116005’10.00’’BT dan 03010’38.10’’–03021’21.50”LS (PT AI BTL 2003). Daerah Batulicin dapat dicapai dengan menempuh jalan beraspal dengan letak ± 270 km di sebelah timur kota Banjarmasin. Selanjutnya dari Batulicin ke konsesi Ata dapat ditempuh melalui Jalan Kodeko sampai KM 52 ke arah Barat Laut. Kondisi jalan ini berupa jalan tanah yang diperkeras dengan batu.

Lokasi kegitan penambangan beserta segala kegiatan pendukungnya tersebar dalam 6 Daerah Usaha (DU) yakni Setangga, Ata, Mereh, Mangkalapi, Saring, dan Serongga. Namun, saat ini kegitan produksi baru dilakukan padat 3 lokasi yakni Pit Mangkalapi, Mereh, dan Ata. Daerah deposit Ata memanjang dari utara ke selatan ± 14 km. Wilayah tersebut merupakan bekas areal HPH PT Kodeko.

Di site Batulicin terdapat 3 kontraktor yang beroperasi yaitu Pit Mangkalapi, Sungkai, dan Ata Selatan (PT AI BTL 2003), Pit Ata Utara dan kontraktor pelabuhan. Pit Mangkalapi, Sungkai, dan Ata Selatan dikelola oleh PT Cipta Kridatama, Pit Ata Utara dikelola oleh PT Bokormas Wahana Makmur, sedangkan untuk kontraktor pelabuhan dipercayakan kepada PT Bangun Arta.

4.2 Iklim

Iklim di Batulicin termasuk kedalam iklim tropis basah. Menurut tipe iklim Schmit dan Fergeson, Batulicin memiliki tipe iklim B dengan jumlah bulan kering (curah hujan < 60 mm) sebanyak 1 sampai 2 bulan dalam satu tahun. Karakteristik iklim ini yakni suhu udara selalu tinggi dan hampir seragam sepanjang tahun. Suhu bulanan terendah lebih dari 18oC dengan curah hujan

(2)

selalu tinggi sepanjang tahun dengan total curah hujan tahunan > 1500 mm. Iklim ini dipengaruhi oleh angin munson yang menyebabkan terjadinya pertukaran musim secara periodik antara musim hujan dan musim kemarau (PT AI BTL 2003).

4.2.1 Curah Hujan

Berdasarkan data curah hujan tahun 1983 sampai 2002, perbedaan antara curah hujan rata-rata bulanan tertinggi dan terendah cukup besar, berkisar antara 128 – 275,4 mm. Curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus dan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari (PT AI BTL 2003).

4.2.2 Suhu dan Kelembaban

Pada daerah Batulicin, suhu maksimum rata-rata bulanan mencapai 31,8 o

C yang biasanya terjadi pada bulan Oktober dan November. Sedangkan suhu minimum rata-rata bulanannya terjadi pada bulan Juni dengan suhu 22,7oC. Fluktuasi suhu udara rata-rata bulanan cukup besar yakni berkisar 7,8–9,2oC. Fluktuasi suhu udara rata-rata bulanan tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan September. Sedangkan fluktuasi suhu udara rata-rata bulanan terendah terjadi pada bulan Januari (PT AI BTL 2003).

Relative humidity (RH) atau kelembaban relatif udara berkisar antara

82,00% sampai 87,63%. Rata-rata kelembaban relatif bulanan yakni 85,83%. Kelembaban relatif tertinggi terjadi pada bulan Mei sedangkan yang terendah terjadi pada bulan Agustus (PT AI BTL 2003).

4.2.3 Lama Penyinaran Matahari

Rata-rata lama penyinaran matahari di daerah ini yakni 47,93%. Lama penyinaran matahari terendah terjadi pada bulan Januari (41,62%) dan tertinggi pada bulan September (57,80%). Pada bulan Agustus dan September, lama penyinaran matahari rata-rata lebih besar dari 50%, sedangkan pada bulan-bulan lainnya lama penyinaran matahari rata-rata kurang dari 50% (PT AI BTL 2003).

(3)

4.3 Topografi dan Geomorfologi 4.3.1 Keadaan Topografi

Pada wilayah pertambangan di Batulicin, topografinya berombak hingga bergelombang. Ketinggian maksimum mendapai 500 mdpl. Ketinggian terus berubah pada daerah yang mengarah ke Selat Laut (10 mdpl). Pada Selat Laut ini bermuara sungai-sungai kecil dari sekitar tambang. Sungai-sungai yang dimaksudkan yakni Sungai Ata, Sungai Sela, Sungai Batulicin, Sungai Serongga, dan Sungai Dua (PT AI BTL 2003).

4.3.2 Geomorfologi

Di Batulicin, terdapat tiga satuan geomorfologi yakni perbukitan terjal, bergelombang dan pedataran. Di wilayah Ata bagian Barat dan Mereh bagian Timur, geomorfologinya perbukitan terjal dengan ketinggian maksimum 500 mdpl. Kelerengannya cukup terjal dengan kemiringan berkisar antara 50% sampai 60%. Faktor keterjalan geomorfologi ini diantaranya adalah faktor litologi akibat kerasnya batuan dasar. Kondisi geomorfologis yang bergelombang dan relatif datar dijumpai di hampir semua wilayah (PT AI BTL 2003).

Pada wilayah Ata, semakin ke Timur, geomorfologisnya menjadi bergelombang dan relatif datar dengan ketinggian maksimal 110 mdpl. sebaliknya, di wilayah Mereh, semakin ke Barat, geomorfologinya semakin bergelombang dan datar dengan ketinggian relative sama dengan wilayah Ata. Pada wilayah Saring dan Mangkalapi, geomorfologi umumnya bergelombang dan relatif datar dengan ketinggian maksimum 95 mdpl. Wilayah Serongga memiliki geomorfogi dataran rendah dengan ketinggian maksimum 50 mdpl.

Lokasi penambangan pada wilayah Ata bagian Barat memanjang dari Barat Laut ke Tenggara dengan ketinggian antara 40–170 mdpl dengan kemiringan berkisar 50–60%. Sedangkan di Ata bagian Timur, kondisi kemiringannya lebih landai (25–35%).

Di Mereh, lokasi penambangan di bagian Barat lebih landai (20–30%) dan bagian Barat cukup terjal (40–50%). Ketinggian di bagian Utara yakni 0–9 meter dan bagian Selatan 30–110 mdpl. Di sebelah Timur Pegunungan Meratus, terdapat wilayah penamabangan Mangkalapi yang memanjang dari Barat ke Timur dengan

(4)

geomorfologi yang relatif bergelombang dan datar. Ketinggiannya dari permukaan laut berkisar 35 sampai 70 meter dengan persen kemiringan 10–20.

Geomorfologi yang relatif datar dan bergelombang juga terdapat pada wilayah penambangan Saring yang memilki ketinggain 45–80 mdpl. Kemiringan di wilayah ini berkisar antara 15 sampai 25%.

Serongga merupakan wilayah penambangan yang paling dekat dengan pantai. Ketinggainnya 5–50 mdpl dengan kemiringan 4–10%. Di sisi paling Timur, terdapat geomorfologi dataran pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Laut. Dalam geomorfologi ini terdapat endapan alluvial dan pasir pantai yang lembar geomorfologisnya mencapai lebih dari 1 km. Geomorfologi ini umumnya berbentuk rawa dengan tumbuhan khas yakni Nipah dan Bakau.

4.4 Jenis dan Karakteristik Tanah

Tanah yang ada pada wilayah Batulicin yakni tanah ultisol dan inceptisol yang menyebar merata. Tanah ini menyebar dari landform teras sungai, daerah lipatan, angkatan, sampai pengunungan entrusi dengan proporsi minor sampai dominan. Morfologi tanah umumnya sudah memperlihatkan perkembangan horizon tanah. Warna tanah pada horizon A berwarna cokelat sampai kekuningan, sedangkan pada lapisan tanah bawah (horizon B) umumnya berwarna abu-abu (PT AI BTL 2003).

4.4.1 Kesuburan Tanah

Berat jenis tanahnya pada umumnya relatif lebih kecil pada lapisan atas dibandingkan tanah lapisan bawah. Sedangkan parameter total pori, air tersedia, dan permeabilitas cenderung berkuran dengan bertambahnya kedalaman tanah. Berikut rata-rata pengukuran parameter fisik tanah pada berbagai kedalaman.

Tabel 1 Parameter fisik tanah rata-rata (PT AI BTL 2003)

Kedalaman BD (g/cc) TPR (%) AWC (%) Permeabilitas (cm/jam)

0-15 1,19 54,4 18,3 3,43

15-30 1,31 48,9 14,5 2,96

(5)

Kandungan bahan organik, N total, dan P tersedia termasuk rendah. Ca (kalsium), K (kalium), Mg (magnesium), Na (natrium), KTK (kapasitas tukar kation), dan kejenuhan basa rendah. Sedangkan kejenuhan Al (almunium) tinggi. Pada semua kedalaman, tingkat kesuburan tanah sama, yakni rendah. Rendahnya kesuburan tanah ini diduga disebabkan oleh keadaan tanah yang berkembang pada daerah ini mempunyai bahan induk yang miskin unsur hara dan kaya akan kuarsa dan besi (PT AI BTL 2003).

4.4.2 Erosi Tanah

Pendugaan erosi dihitung dengan menggunakan metode USLE (Universal

Soil Loss Equation). Besarnya erosi rata-rata adalah 17,8 ton/ha/tahun atau 1,4

mm/ha/tahun (PT AI BTL 2003).

4.5 Rona Awal 4.5.1 Vegetasi

Pada daerah usaha Mereh, terdapat hutan tropika dataran rendah dengan komposisi jenis cukup bervariasi. Spesies yang mendominasi yakni binuang (Octomeles sumatrana), tarap (Arthocarpus communis), mahang (Macaranga

hypoleuca), dan laban (Viteks pubescens).

Hutan tropika dataran rendah dengan komposisi bervariasi juga terdapat di wilayah Saring. Spesies yang mendominasi antara lain: malahiyaan (Roton spp.), paning-paning (Quercus benneti), dan kujajing (Garcinia dioica).

Di daerah Ata, terdapat hutan tropika dataran rendah dengan vegetasi tidak bervariasi. Jenis pohon yang ada antara lain meranti merah (Shorea pinanga) dan simpur (Dillenia auvea).

Serangga merupakan hutan dataran rendah dengan komposisi bervariasi. Hutan ini berdampingan dengan komunitas mangrove yang menutupi dataran pantai Selat Laut. Jenis pohon yang mendominasi antara lain mahang (Macaranga

hypoleuca), dan tapung-tapung (Viteks pinnata). Daerah Mangkalapi merupakan

hutan daratan rendah dengan jenih pohon yang mendominasi yakni meranti putih (Shorea accuminatisima) dan meranti merah (Shorea pinanga).

Di sekitar daerah pertambangan Batulicin juga terdapat hutan tanaman, antara lain akasia (Acacia mangium), sengon (Paraserianthes falcataria), karet

(6)

(Hevea brasiliensis), dan sungkai (Peronema canescens). Menurut keputusan Menteri Pertanian No.54/Kpts/Um/II/1972, terdapat juga vegetasi yang dilindungi di daerah ini yaitu ulin (Eusyderoxylon zwageri), durian (Durio zibethinus), gaharu (Aquilaria beccasiana), damar putih (Shorea lepidota), dan kayu bawang

(Scorodocarpus bornensis).

4.5.2 Satwa Liar

Di daerah ini terdapat berbagai jenis satwa, seperti jenis burung yaitu kuau

(Argusianus argus), alap-alap kelelawar (Machaeramphus alinus), raja udang

(Halcyon sancia), bebek (Erostomus orientalis), Enggang hitam (Anthracoceros

malayanus), enggang (Annohinus galeritus), Elang bondol (Haliastus Indus).

Jenis mamalia meliputi kijang, kucing hitam, sekek, landak, trenggiling, babi, musang, berang-berang, hirangan, warik, beruang madu, macan dahan, tikus, dan kukang. Jenis reptil meliputit biawak, bingkarungan/kadal, angmi/bunglon, ular kobra, ular ambalarang, ular sawa, ular pucuk, ular hidi, ular tadung, dan ular mangkaliutan.

Gambar

Tabel 1  Parameter fisik tanah rata-rata (PT AI BTL 2003)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan penagihan pajak dengan surat paksa yang dilakukan oleh jurusita pajak negara yang berada di Kantor Pelayanan

• Berdasarkan faktor-faktor pengaruh yang telah disebutkan sebelumnya, kombinasi yang terbaik dalam melakukan estimasi parameter model kebutuhan transportasi adalah

Kekuatan maksimal otot terjadi pada saat usia antara 20 - 29 tahun, dan pada usia mencapai 60 tahun rata-rata kekuatan otot akan menurun sampai 20% dari faktor lain karena

Management review harus melihat kemungkinan kebutuhan untuk perubahan pada kebijakan, objective dan elemen lain dari sistem manajemen OH&amp;S, dengan melihat hasil audit

Peneliti memilih jenis penelitian kuantitatif karena pendekatan ini dianggap tepat untuk menggambarkan “Hubungan antara Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Komitmen

B. Pengaturan Peruntukan dan Pemanfaatan Lahan Masyarakat “Dayak Undau Mau” Berbasis Pertanian

(2) Pimpinan dan karyawan tersebut dalam ayat (1) diatas adalah pegawaii BKPD dengan mendapat gaji/penghasilan yang ditetapkan oleh Badan Pembina

Telah dilakukan penelitian untuk menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak umbi bawang merah (Allium cepa L.) untuk dibandingkan dengan vitamin C (asam askorbat)