• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. sasaran. Pasca kran demokrasi dibuka lebar-lebar pasca Reformasi 98, banyak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. sasaran. Pasca kran demokrasi dibuka lebar-lebar pasca Reformasi 98, banyak"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Media massa di masa kini bisa diumpamakan sebagai jembatan untuk meraih „sasaran‟. Pasca kran demokrasi dibuka lebar-lebar pasca Reformasi 98, banyak bermunculan konglomerat media massa. Tak ayal, media massa pun mulai bermetamorfosis sebagai bisnis yang berorientasi profit. Hal ini menjadikan penguasa secara de facto (melalui penguasaan media massa). Tidak heran, jika seringkali media massa yang mereka kuasai hanya sebagai jembatan untuk memenuhi hasrat kekuasaan semata. Akibatnya, pemberitaan di media massa tidak berada diposisi netral dan cenderung berat sebelah. Peristiwa yang sangat dekat dengan kita (sebagai khalayak media) ini sering disebut Kapitalis Media Massa.

Membicarakan persoalan kapitalis media massa pasti berbicara tentang hegemoni dan ideologi media massa tersebut. Dampaknya, mulai terjadi penggiringan opini terhadap masyarakat yang sebagai konsumen media. Media massa dianggap sebagai pilar demokrasi ke enam, yang tidak kalah dengan senjata manapun. Maka, tidak mengherankan jika penguasaan media massa sudah menjadi elemen penting untuk mengembangkan hegemoni sebuah kekuasaan. (AJIP, 2010)

Permasalahan seperti ini akan semakin kompleks seiring dengan berkembangnya media massa. Terutama perkembangan media cetak yang kini banyak beralih ke dunia digital dan elektronik. Salah satunya adalah media online. Sepertinya

(2)

2 realitas saat ini masyarakat modern tidak bisa lepas dari pengaruh media online. Seiring banyaknya portal berita di Indonesia, semakin banyak ruang informasi yang tersedia untuk khalayak. Tetapi, hal ini justru menjadi sebuah kompetisi atau persaingan diantara media-media itu sendiri. Hal ini memudahkan para konglomerat media untuk bisa melakukan hegemoni dalam kekuasaan media mereka, khususnya media online yang dekat dengan para netizen.

Realitas media di Indonesia menunjukkan adanya bias gender dalam representasi perempuan dalam media. Berbagai macam bentuk dalam ketidakadilan gender seperti marjinalisasi, subordinasi, stereotipe atau label negatif, beban kerja, kekerasan dan sosialisasi keyakinan gender terlihat. Tanpa disadari, sesungguhnya perempuan cenderung dijadikan obyek dalam pemberitaan di sejumlah media di Indonesia. Terbitnya majalah, tabloid, berbagai macam produk media telah membawa perempuan menjadi sasaran kaum kapitalis dan politis. Karena, ideologi besar yang bersumber dari budaya patriakhi tentang kesetaraan gender yang masih memasung sikap dan pemikiran pada pekerja pers (media). Adanya kemungkinan belum dipahaminya konsep dan isu gender oleh para pekerja pers, ini menyangkut perspektif dari wartawan atau editor media.

Tidak hanya dalam sosial masyarakat, terjadinya ketidakadilan gender ini juga bisa terjadi dalam ranah politik dan pemerintahan. Salah satunya adalah stereotipe dan label negatif yang diberikan kepada salah satu menteri perempuan di jajaran kabinet kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) pada periode 2014-2019, yaitu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

(3)

3 Dikutip dari buku terbaru milik Kompas Media Nusantara (2015) yang berjudul Untold Story Susi Pudjiastuti menceritakan bahwa :

Sejak awal Oktober 2014, beberapa pekan sebelum pengumuman awak Kabinet Kerja, Susi Pudjiastuti sebetulnya sudah menjadi trending topic di berbagai media sosial. Sebuah survei membuktikan, dalam percakapan terkait menteri di Twitter anatara tanggal 6 – 3 November 2014, Susi Pudjiastuti adalah nama yang paling sering dikicaukan para tweeps.

Memang sejak kemunculannya di jajaran kabinet kerja Jokowi – JK, pemilihan Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan banyak memunculkan pro-kontra dari berbagai pihak, termasuk masyarakat. Banyak pihak yang mempertanyakan seberapa kuat kapabilitas Susi Pudjiastuti sebagai menteri. Melihat memang latar belakang pendidikan Susi Pudjiastuti yang hanya tamatan SMP dan pernampilannya yang eksentrik yaitu merokok dan bertato. Banyak stereotipe dan pelabelan yang dilakukan oleh banyak pihak. Tidak hanya kelompok-kelompok yang kontra dengan pemilihan Susi Pudjiastuti, sejumlah media juga melakukan hal yang sama. Beberapa media online di Indonesia juga cenderung menjadikan Susi Pudjiastuti sebagai objek pemberitaan mereka. Dalam kutipan berita di Republika.co.id yang berjudul, “Aa Gym : Semoga Bu Susi Berhenti Merokok dan Berjilbab” yang menjadikan Susi Pudjiastuti sebagai objek pemberitaan dengan label yang negatif. Berikut kutipan berita tersebut :

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sikap Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang merokok di depan umum menjadi pembicaraan masyarakat luas. Aa Gym pun ikut angkat bicara soal menteri asal Pangandaran tersebut.

(4)

4 "Guru-guru akan susah. Nanti kalau guru nanya ke muridnya, 'Kenapa kalian merokok?' 'Kan Bu Menteri Merokok, Bu'," kata Aa Gym, Senin (27/10).

...bahkan, dia tidak segan langsung merokok di kompleks Istana Kepresidenan, ketika baru saja usai pengenalan nama 34 menteri oleh Jokowi. “Setop dong, biar aku bisa selesaikan rokok ini sampai habis,” ujar presiden direktur PT ASI Pudjiastuti Marine Product tersebut kepada wartawan, Ahad (26/10).

Dikutip juga dalam berita di Okezone.com yang juga menjadikan Susi Pudjiastuti sebagai objek pemberitaan dengan label negatif tentang kebiasaannya merokok. Berita yang berjudul, “Merokok di Istana, Menteri Susi Contoh Revolusi Mental Tidak Baik” menjadikan Susi Pudjiastuti sebagai seorang perempuan dengan label negatif karena merokok di Istana Negara sesaat seusai pelantikannya sebagai menteri. Berikut kutipannya :

JAKARTA - Anggota Fraksi PPP DPR, Okky Asokawati, menyayangkan sikap Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang merokok usai pengumuman kabinet di halaman Istana Merdeka Jakarta.

"Sangat menyayangkan sikap menteri Susi Pujiastuti serta menteri-menteri lainnya yang merokok secara vulgar di ruang publik seperti area Istana Kepresidenan," ujar Okky dalam keterangan yang diterima redaksi Okezone, Selasa (28/10/2014).

Menurut dia, merokok bukanlah contoh revolusi mental yang baik. Revolusi mental yaitu dari sikap yang tidak baik menjadi baik.

"Aksi Menteri Puji dan sejumlah menteri lainnya menjadi catatan awal yang tidak bagus," tuturnya.

Dari kutipan beberapa media online tersebut, nampaknya memang sosok Susi Pudjiastuti direpresentasikan menjadi sosok perempuan yang berlabel negatif sebagai seorang menteri yang justru menjadi panutan masyarakat. Mereka sengaja mengkonstruksi Susi Pudjiastuti dari sisi gender dengan stereotip atau label negatif. Namun lain halnya dengan salah satu media online di Indonesia, yaitu Kompas.com.

(5)

5 Melihat berita-berita yang ada dalam Kompas.com, sosok Susi Pudjiastuti justru mendapat label positif atau stereotipe positif dalam berita-berita Kompas.com. Ketika media online lain mengkonstruksi pemberitaan Susi Pudjiastuti secara buruk yang menunjukkan Susi seorang perempuan yang bertato dan merokok dan akan lebih besinggungan dengan isu gender, justru Kompas.com lebih mengkonstruksi pemberitaan-pemberitaan Susi Pudjiastuti dengan citra yang positif.

Seperti pada kutipan berita yang dimuat oleh Kompas.com pada tanggal Minggu, 2 November 2014 dengan judul “Susi Ingin Berhenti Merokok”, berikut ini :

Ia terlihat mulai menyadari bahwa sekarang dia adalah seorang figur publik. Tentunya, setiap gerak-geriknya bisa menjadi sorotan publik yang nantinya bisa tersebar luas di masyarakat umum.

"Saya ingin berhenti merokok, sedang berusaha, tapi tidak akan bisa langsung sekaligus," kata Susi di hadapan ratusan warga Pangandaran saat acara temu warga dan nelayan Pangandaran, Sabtu (1/11/2014) kemarin.

Dalam berita tersebut memang terlihat bahwa Kompas.com memang mengarahkan citra Susi Pudjiastuti kearah yang positif. Sisi gender Susi yang dalam media online lainnya dikonstruksi dengan label yang negatif, yakni seorang perempuan yang merokok dan bertato justru berbanding terbalik dengan berita yang dikonstruksi oleh Kompas.com. Konstruksi pemberitaan yang timpang ketika dikemas oleh para pelaku media satu dengan media online lain ini menjadi alasan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian.

Tidak hanya itu, pertimbangan lainnya memilih media online Kompas.com karena Kompas.com ini diterbitkan oleh PT. Kompas Cyber Media (Kompas

(6)

6

Gramedia Digital Group) pada tahun 1995 dengan nama Kompas Online. Dikutip dalam website resmi kompasgramedia.com yang menjelaskan bahwa :

Kompas.com merupakan situs berita terpercaya di Indonesia. Di-update secara terus menerus selama 24 jam sehari, dengan total readership lebih dari 10 juta orang. Sedangkan tingkat kunjungan atau lebih dikenal dengan sebutan page view, mencapai 40 juta setiap bulan.Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda. Kompas.com mencoba memahami kebutuhan pembaca yang beragam dengan menghadirkan fitur Personalisasi. Jadi, pembaca dapat dengan mudah memilih sendiri berita apa yang ingin mereka baca sesuai rubrik yang telah disediakan.

Menurut beberapa media online, antara lain okezone.com yang dalam salah satu pemberitaannya mengenai 10 situs lokal yang sering dikunjungi para netizen, menjelaskan bahwa :

Pengguna internet di Indonesia kian hari kian berkembang secara signifikan, yang mendorong semakin maraknya konten lokal. Menurut survei yang dilakukan Masyarakat Internet Indonesia (Master), ada 10 situs lokal yang sering dikunjungi netters tanah air.

Lembaga yang baru didirikan pada Februari 2010 itu menyebutkan 10 situs lokal yang paling sering diakses oleh 1.000 responden yang ditanyai, adalah Detikcom, Kompas.com, Kaskus, KlikBCA, Okezone, Vivanews, Kapanlagi, Bankmandiri,Games.co.id, dan Inilah.com.

Peneliti juga mengutip juga berita dari bingkaiberita.com mengenai beberapa website berita terpopuler yang ada di Indonesia, antara lain:

Adapun Beberapa website berita terpopuler di Indonesia menurut bingkaiberita.com adalah sebagai berikut:

1. Detik.com , siapa yang tidak mengenal situs portal berita detik.com, detik.com merupakan salah satu website berita terpopuler di Indonesia saat ini image detik menjadi baik apalagi kalau seorang mau cari berita tentu orang langsung ingat dengan detik.com, sesuai dengan namanya “Detik” atau informasi yang di update secara cepat dan akurat ada salah satu

(7)

7 pristiwa terjadi di Indonesia maka detik akan mengupdate melalui situsnya setelah kejadian itu juga contohnya seperti hasil pertandingan bola dan sebagainya.

2. Kompas.com, kompas merupakan sebuah portal berita yang mungkin lebih dahulu memiliki nama dan banyak dikenal dan lebih populer dibandingkan website berita lainnya, karena kompas sendiri merupakan media berita yang bersifat offline dengan menggunakan sebuah koran terlebih dahulu sehingga seorang pembaca tertarik lebih awal untuk membacanya dan kini kompas berhasil menduduki peringkat kedua setelah website portal berita detik.com Dari beberapa kutipan berita tersebut, menjadikan peneliti untuk memilih pemberitaan-pemberitaan yang di-update oleh Kompas.com sebagai media yang akan dianalisis dengan analisis wacana kritis. Kompas.com bukan merupakan media online baru di dunia media online. Tidak asing dimata netizen selama ini, berbagai macam rubrikasi ada dalam portal berita Kompas.com. Terutama berita politik dalam rubrik News, dengan sub rubrik Nasional dan Regional.

Penelitian ini memilih rubrik Nasional, Regional, dan Ekonomi, karena sebagian besar berita yang berkaitan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ada di dalam rubrik tersebut. Terhitung dari bulan Oktober 2014 hingga Februari 2015, ada kurang lebih hampir 19 berita yang memuat tentang label positif Menteri Susi Pudjiastuti. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini mengangkat judul „Konstruksi Pemberitaan Pada Menteri Perempuan di Media Online (Analisis Wacana Kritis Pada Pemberitaan Menteri Susi Pudjiastuti di Kompas.com Pada Bulan Oktober 2014 – Februari 2015).

(8)

8 1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang ditetapkan oleh peneliti, antara lain :

1. Bagaimana Konstruksi Pemberitaan Pada Menteri Perempuan di Media Online terkait dengan Pemberitaan Mengenai Menteri Susi Pudjiastuti di Kompas.com pada bulan Oktober 2014 – Februari 2015?

2. Bagaimana Kompas.com dalam menampilkan aktor beserta objek pemberitaan dan memposisikan pembaca dalam keseluruhan teks berita terkait pemberitaan Menteri Susi Pudjiastuti di Kompas.com pada bulan Oktober 2014 – Februari 2015?

1.3 Tujuan Penelitian

Melihat tujuan penelitian dalam Analisis Wacana Kritis sendiri, maka tujuan penelitian ini, antara lain :

1. Untuk membongkar Konstruksi Pemberitaan Pada Menteri Perempuan di Media Online terkait dengan Pemberitaan Mengenai Menteri Susi Pudjiastuti di Kompas.com pada bulan Oktober 2014 – Februari 2015. 2. Untuk mengetahui Kompas.com dalam menampilkan aktor beserta objek

pemberitaan dan memposisikan pembaca dalam keseluruhan teks berita terkait pemberitaan Menteri Susi Pudjiastuti di Kompas.com pada bulan Oktober 2014 – Februari 2015.

(9)

9 1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1.4.1 Manfaat Akademis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wacana dan konsep tentang pengembangan kajian analisis media, khususnya analisis wacana kritis dalam pemberitaan di media online.

b. Penelitian ini juga diharapkan mampu dijadikan referensi oleh peneliti lain khususnya pada konsentrasi Jurnalistik dalam melakukan penelitian analisis wacana kritis yang mengungkap tujuan dan ideologi media dalam mengkonstruksi pemberitaan tentang isu tertentu.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi para pelaku media dalam memahami hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan, agar sensitif atau netral gender khususnya pada ranah politik dan pemerintahan.

Referensi

Dokumen terkait

Pendamping adalah pihak yang melakukan interaksi dengan klien sebagai bentuk tanggung jawab sosial untuk ikut membantu mempermudah interaksi, proses pemberdayaan serta

1. Djoko Suwarno, M.Si. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan praktik kerja.

Title Sub Title Author Publisher Publication year Jtitle Abstract Notes Genre URL.. Powered by

bahwa berdasarkan ketentuan dalam Article 11 para 11.3 Agreement on Implementation of Article VI of The General Agreement on Tariffs and Trade 1994 sebagaimana disahkan

Kemudian penggunaan beberapa satelit inderaja, seperti satelit HIMAWARI untuk EWS, NOAA, MODIS, SPOT dan LANDSAT beserta orbitnya yang dapat digunakan pada

Untuk itu, apabila kepala desa dan perangkat desa Tirta Kencana tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, maka kemungkinan besar aparatur desa di Kantor

Penelitian ini bertujuan untuk mencari persamaan indeks kompresi (Cc) dengan parameter spesific gravity (Gs) dan indeks plastisitas (IP) dengan menggunakan tanah yang

Sebagai bahan rujukan, Tannenbaum and Schmidt (1958) dalam Sofiati (1995) menyatakan bahwa suatu studi telah dilakukan terhadap 161orang manajer yang merupakan