• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI INFUSA BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) PADA MENCIT JANTAN TERINDUKSI KARAGENIN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI INFUSA BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) PADA MENCIT JANTAN TERINDUKSI KARAGENIN SKRIPSI"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI INFUSA BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) PADA MENCIT JANTAN TERINDUKSI KARAGENIN

SKRIPSI

Dijalankan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Progam Studi Farmasi

Oleh :

Caecilia Desi Kristanti NIM : 138114059

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI INFUSA BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) PADA MENCIT JANTAN TERINDUKSI KARAGENIN

SKRIPSI

Dijalankan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Progam Studi Farmasi

Oleh :

Caecilia Desi Kristanti NIM : 138114059

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

“Non scholae sed vitae discimus”

Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup -Seneca-

Karya ini kupersembahkan untuk Tuhan Yesus dan Bunda Maria,

sumber harapan dan kekuatanku

Bapak dan ibu tercinta atas curahan kasih sayang yang tak ada habismya

Kakak-kakakku tersayang dan para sahabat terkasih atas doa dan dukungannya

Almamaterku tercinta Uiversitas Sanata Dharma

(6)
(7)

vi

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat, rahmat, cinta kasih dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan naskah skripsi yang berjudul “ Uji Aktivitas Antiinflamasi Infusa Biji Alpukat (Persea americana Mill.) pada Mencit Jantan Terinduksi Karagenin”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) program studi Farmasi Univeritas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis pergunakan untuk mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Aris Widayati, M.Sc., Ph.D., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

2. Ibu Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah membimbing dan mendampingi dengan sangat baik selama proses pembuatan skripsi ini.

3. Ibu Damiana Sapta Candrasari, M.Sc., selaku Dosen Penguji yang telah memberi kritik dan saran yang sangat membangun untuk penelitian ini.

4. Bapak Christianus Heru Setiawan, M.Sc., Apt., selaku Dosen Penguji yang telah memberi kritik dan saran yang sangat membangun untuk penelitian ini.

5. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku Dosen yang telah membimbing selama melakukan proses determinasi tanaman.

6. Bapak Florentinus Dika Octa Riswanto, M.Sc., selaku Dosen Pembimbing Akademik atas bimbingannya selama ini.

7. Ibu Agustina Setiawati, M.Sc., Apt., selaku Kepala Penanggung Jawab Laboratorium Fakultas Farmasi yang telah memberikan izin dalam penggunaan semua fasilitas laboratorium untuk kepentingan penelitian. 8. Pak Heru, Pak Kayat, Pak Parjiman, Pak Wagiran, Pak Sigit, Pak

(8)

vii

9. Keluarga tercinta Bapak Yakobus Ponijo Suwitowiyono dan Ibu Theresia Parjinem, mbak Rini, mbak Darmi dan mas Yustinus yang selalu memberikan doa, kasih sayang dan semangat pada penulis. 10. Sahabat-sahabat “Princess Avocado”, Fransisca Puspa Jelita, Ni Kadek

Pramita A.D., dan Skolastika Venita T. Kalian adalah sahabat perjuangan yang luar biasa, terimakasih atas semangat dan kerjasama selama ini.

11. Sahabat-sahabat terkasih Clara Agwelmirda Sciffiyandari, Dian Pratiwi, Priscil, Noni, Aven, Priska, Sari, Yoke, Milla, Lia dan Eta yang selalu mengasihi, mendukung dan membantu dalam berbagai situasi.

12. Teman-teman FSM B 2013, FKK B 2013 dan Keluarga Besar Farmasi 2013, terimakasih atas kebahagiaan dan kebersamaan selama ini. 13. Teman-teman “Kost Gita” Giovanni, Inge, Natalia dan penghuni

lainnya terimakasih atas dukungan yang diberikan dalam penyusunan skripsi, canda tawa dan kebersamaannya.

14. Serta semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan naskah skripsi ini, namun tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kelemahan dan kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama di bidang ilmu Farmasi.

Yogyakarta, 1 Desember 2016

(9)
(10)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... ...i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v

PRAKATA ... vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT ... iv

PENDAHULUAN ... 1

METODE PENELITIAN ... 2

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 4

KESIMPULAN ... 10

DAFTAR PUSTAKA ... 11

LAMPIRAN ... 13

(11)

x

DAFTAR TABEL

Tabel I. Rata rata AUC total (mm.menit) pada uji pendahuluan dosis efektif diklofenak dan selang pemberian karagenin 1% ... 5 Tabel II. Hasil uji LSD AUC total (mm.menit) pada uji pendahuluan

dosis efektif diklofenak dan selang waktu pemberian karagenin 1%... 6 Tabel III. Rata-rata AUC total(mm.menit) dan PI pada kelompok uji

antiinflamasi ... 8 Tabel VI. Hasil uji LSD AUC total (mm.menit) dan persen PI pada

(12)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Buah alpukat ... 14

Gambar 2. Biji alpukat ... 14

Gambar 3. Biji alpukat kering ... 14

Gambar 4. Serbuk biji alpukat ... 14

Gambar 5. Infusa biji alpukat ... 14

Gambar 6. Pemberian secara peroral ... 15

Gambar 7. Injeksi karagenin secara subplantar... 15

Gambar 8. Injeksi dengan spuit kosong ... 15

(13)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Biji alpukat dan infusa biji alpukat ... 14

Lampiran 2. Cara pembuatan dan pengukuran udema pada kaki mencit ... 15

Lampiran 3. Surat pengesahan determinasi Persea americana Mill. ... 16

Lampiran 4. Surat Ethical Clearance (EC) ... 17

Lampiran 5. Surat kalibrasi jangka sorong (Digital Caliper). ... 18

Lampiran 6. Surat legalitas penggunaan aplikasi SPSS untuk pengujian data secara statistik ... 19

Lampiran 7. Perhitungan dosis... 20

Lampiran 8. Hasil analisis statistika data orientasi penentuan dosis dan selang waktu pemberian kalium diklofenak ... 22

Lampiran 9. Rata-rata AUC total udema dengan standard error (SE) pada uji pendahuluan ... 23

Lampiran 10. Hasil analisis dengan uji ANOVA satu arah dan uji LSD nilai AUC total pada uji pendahuluan ... 25

Lampiran 11. Hasil analisis uji statistik nilai AUC total pada uji antiinflamasi infusa biji alpukat ... 27

Lampiran 12. Rata-rata AUC total dan standard error (SE) pada uji antiinflamasi ... 28

Lampiran 13. Hasil analisis dengan uji ANOVA satu arah dan uji LSD nilai AUC total pada uji antiinflamasi infusa biji alpukat ... 30

Lampiran 14. Hasil uji statistik nilai persen penghambatan inflamasi pada kelompok uji antiinflamasi ... 31

Lampiran 15. Rata-rata persen penghambatan inflamasi dan standard error (SE) pada kelompok uji antiinflamasi ... 32

Lampiran 16. Hasil analisis dengan uji ANOVA satu arah dan uji LSD nilai persen penghambatan inflamasi pada uji antiinflamasi infusa biji alpukat ... 34

(14)

xiii ABSTRACT

Inflammation is a complex reaction to the harm agents/ materials e.g microbes and damaged cells. Avocado is one of the plants that can be used as antiinflammatory agents. This research aimed to prove the inflammatory effect of avocado seeds infusion. This research was purely experimental research with randomized complete direct sampling design. Twenty five Swiss mice were devided randomly into five treatment groups. Group I was given aquadest, group II was given diclofenac, and group III-V were given avocado seeds infusion dosed of 667.5; 1335; and 2670 mg/kg BW orally. Hind paw udema in mice was measured using a digital caliper for six hour after mice were induced by carrageenan 1%. The results of this research showed that avocado seeds infusion had an antiinflammatory activity. The precentage of inflammation inhibition by avocado seeds infusion from the smallest dose to the largest dose 667.5; 1335; and 2670 mg/kg BW were 54.76; 33.24; dan 21.90%.

Keywords : antiinflammatory, avocado seeds infusion (Persea americana Mill.), carrageenan.

(15)

xiv ABSTRAK

Inflamasi merupakan suatu reaksi kompleks terhadap agen/bahan yang merugikan misalnya mikroba dan sel yang rusak. Alpukat merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ada tidaknya aktivitas antiinflamasi pada infusa biji alpukat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan sederhana acak lengkap pola searah. 25 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok secara acak. Kelompok I sebagai kontrol negatif diberikan aquades, kelompok II sebagai kontrol positif diberikan kalium diklofenak, kelompok III, IV, dan V diberikan infusa biji alpukat dengan dosis 667,5; 1335; serta 2670 mg/kg BB secara oral. Semua hewan uji diinjeksi dengan suspensi karagenin 1% secara subplantar pada kaki kiri belakang, kemudian dilakukan pengukuran udema menggunakan jangka sorong selama 6 jam. Data penurunan ketebalan udema digunakan untuk menentukan persen aktivitas antiinflamasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa biji alpukat memiliki aktivitas antiinflamasi. Persen penghambatan inflamasi oleh infusa biji alpukat pada dosis 667,5; 1335; serta 2670 mg/kg BB berturut-turut adalah 54,76; 33,24; dan 21,90%.

Kata kunci : antiinflamasi, infusa biji alpukat (Persea americana Mill.), karagenin.

(16)

1 PENDAHULUAN

Inflamasi pada dasarnya adalah suatu respon protektif dengan tujuan utama menyingkirkan organisme penyebab awal cedera (misalnya mikroba dan toksin) dan konsekuensi cedera tersebut (misalnya kerusakan sel dan jaringan). Tanpa peradangan infeksi akan terus berkembang, luka tidak akan pernah sembuh, dan organ yang cedera dapat menjadi luka yang terus bernanah (Kumar dkk., 2010). Dalam proses terjadinya inflamasi terdapat proses dimana dihasilkannya senyawa-senyawa radikal bebas (Ardhie, 2011). Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan jaringan sehingga memicu biosintesis asam arakhidonat menjadi prostaglandin sebagai mediator inflamasi (Kumar dkk., 2005). Respon inflamasi yang berlebihan atau kerusakan jaringan yang hebat tidak boleh dibiarkan, oleh sebab itu reaksi inflamasi perlu diatasi agar keluhan dan gejala berkurang (Meliala dan Pinzon, 2007). Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai antiinflamasi adalah tanaman alpukat ( Damayanti, 2008).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Arukwe dkk. (2012) biji alpukat memiliki kandungan kimia yaitu alkaloid, glikosida, fenol, steroid, tanin, flavonoid dan saponin. Malangngi dkk. (2012) membuktikan adanya aktivitas antioksidan ekstrak etanol biji alpukat mentega dan alpukat biasa dengan metode DPPH. Senyawa antioksidan berperan dalam menghambat inflamasi dengan mekanisme penangkapan radikal bebas dan penghambatan enzim siklooksigenase sehingga pembentukan prostaglandin menjadi terhambat.

Metode yang digunakan untuk menentukan aktivitas antiinflamasi dalam penelitian ini adalah metode induksi udema dengan karagenin 1%. Metode induksi udema dipilih karena metode ini cukup sederhana, mudah dalam pelaksanaannya, pengukuran udema lebih akurat dan objektif. Karagenin dipilih karena karagenin mampu menginduksi reaksi inflamasi yang bersifat akut, non imunologis, dapat diamati dengan baik dan memiliki reprodubilitas yang tinggi (Morris, 2003). Pengukuran udema dilakukan dengan menggunakan alat jangka sorong. Jangka sorong dipilih karena cara pengukuran mudah, obyektif dan dapat dilakukan secara berulang, sehingga data yang didapatkan akan lebih akurat.

Pada penelitian ini digunakan metode ekstraksi infusa, karena infusa merupakan sediaan sederhana yang biasa digunakan dalam pembuatan obat tradisional dan mudah diterapkan masyarakat. Metode infusa dipilih karena senyawa-senyawa antiinflamasi

(17)

2

berupa flavonoid yang terkandung pada biji alpukat cenderung bersifat polar sehingga akan lebih larut air (Arukwe dkk., 2012).

Menurut penelitian Hendra dkk. (2014) infusa dan dekokta biji alpukat memiliki efek protektif pada hati dan ginjal tikus terinduksi karbon tetraklorida. Adanya efek hepatoprotektif yang ditimbulkan oleh infusa dan dekokta biji alpukat memunculkan dugaan adanya aktivitas antiinflamasi pada infusa biji alpukat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antiinflamasi infusa biji alpukat, besar persen aktivitas antiinflamasi dan dosis efektif infusa biji alpukat sebagai antiinflamasi.

METODE PENELITIAN Bahan dan alat

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit jantan galur Swiss, biji alpukat, aquades, karagenin 1%, kalium diklofenak, dan NaCl 0,9%. Alat yang digunakan adalah timbangan analitik, oven, ayakan no. 40 dan 50, moisture balance, stopwatch, alat gelas, spuit injeksi, spuit oral, panci infusa, kain flannel dan jangka sorong Hardened®. Penyiapan biji alpukat

Biji alpukat dikumpulkan dari depot es teler 77 Galeria Mall pada bulan Juni 2016. Biji alpukat yang telah dikumpulkan kemudian disortasi basah, dicuci dengan air mengalir dan dilakukan perajangan dengan ketebalan ± 2mm. Biji tersebut dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 50 ˚C selama 3 hari. Biji alpukat yang telah kering diserbuk menggunakan mesin penyerbuk dan diayak dengan ayakan nomor mesh 40/50. Serbuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk yang berada diantara ayakan nomor mesh 40 dan 50.

Pembuatan infusa biji alpukat

Serbuk kering biji alpukat ditimbang sebanyak ± 8 g, kemudian dimasukkan ke dalam panci infusa dan dibasahi dengan aquades sebanyak dua kali bobot bahan yang ditimbang yaitu 16 mL. Campuran serbuk dan aquades di dalam panci ditambah dengan 100 mL pelarut aquades, kemudian dipanaskan menggunakan penangas air dengan suhu 90˚ C selama 15 menit. Campuran diambil lalu diperas menggunakan kain flannel dengan ditambah aquades panas hingga didapatkan perasan 100 mL infusa biji alpukat (Hendra dkk., 2014).

(18)

3 Penentuan peringkat dosis perlakuan

Pemberian infusa biji alpukat menggunakan volume maksimal pemberian secara peroral pada mencit yaitu 1 mL (Harmita dan Radji., 2008). Penetapan dosis tertinggi infusa biji alpukat berdasarkan volume maksimal pemberian dan konsentrasi maksimal infusa biji alpukat. Sehingga didapatkan peringkat dosis 667,5; 1335; 2670 mg/kg BB. Perlakuan hewan uji

Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari The Medical and Health Research

Ethics Committee (MHREC) Fac. of Medicine Gadjah Mada University. Pada penelitian

ini dilakukan uji pendahuluan dan pengujian aktivitas antiinflamasi infusa biji alpukat. Pada uji pendahuluan digunakan 15 ekor mecit yang dibagi menjadi 5 kelompok, masing- masing kelompok terdiri dari 3 ekor mencit. Pada pengujian aktivitas antiinflamasi digunakan 5 kelompok perlakuan sebanyak 25 ekor mencit. Pembagian dilakukan secara acak. Kelompok I sebagai kontrol negatif diberikan aquades, kelompok II sebagai kontrol positif diberikan kalium diklofenak, dan kelompok III – V diberikan infusa biji alpukat dengan tiga peringkat dosis yaitu 667,5; 1335; dan 2670 mg/kg BB. Tahap selanjutnya semua kaki kiri hewan uji diinjeksi dengan larutan karagenin 1% secara subplantar, dan kaki kanan diinjeksi tanpa suspensi karagenin 1%. Selang waktu antara pemberian senyawa uji dengan pemberian karagenin adalah 15 menit.

Pengujian aktivitas antiinflamasi

Pengukuran aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan mengukur udema telapak kaki belakang mencit galur Swiss dengan menggunakan jangka sorong selama enam jam mulai dari menit ke-0, 15, 30, 45, 60, 90, 120, 150, 180, 210, 240, 270, 300, 330, 360 setelah terinduksi karagenin 1%. Sebelum digunakan untuk penelitian, jangka sorong dikalibrasi terlebih dahulu untuk memastikan kelayakan, akurasi dan presisi dari alat tersebut dalam melakukan pengukuran. Kalibrasi alat dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi. Nilai selisih udema dihitung menggunakan luas AUC dari ketebalan udema telapak kaki mencit terinduksi karagenin pada masing-masing perlakuan di setiap rentang waktu pengukuran dengan metode trapezoid. Rumus perhitungan sebagai berikut :

AUC0-x = ( 𝐶1−𝐶0 2 × t1-t0) + ( 𝐶2−𝐶1 2 × t2-t1) +...+ ( 𝐶𝑛−𝐶𝑛−1 2 × tn-tn-1) Keterangan :

AUC0-x = Area Under Curve dari ketebalan udema telapak kaki mencit padamenit ke-0 sampai menit ke-360.

(19)

4

Cn – Cn-1 = Besarnya tebal udema dari menit ke-0 sampai menit ke-360. tn – tn-1 = Lamanya waktu pengukuran mulai dari menit ke-0 sampai menit

ke-360.

Adanya aktivitas antiinflamasi dapat dilihat dari persen penghambatan inflamasi dan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Penghambatan inflamasi (%) = 𝐴𝑈𝐶0−𝑥 0− 𝐴𝑈𝐶0−𝑥 𝑛

𝐴𝑈𝐶0−𝑥 0 × 100% Keterangan :

(AUC0-x)0 = AUC0-x rata-rata dari AUC ketebalan udema telapak kaki mencit pada kelompok kontrol negatif (mm.menit).

(AUC0-x)n = AUC0-x total dari AUC ketebalan udema telapak kaki mencit yang diberi senyawa uji dengan dosis sebesar n (mm.menit).

Analisis statistik

Hasil dianalisis dengan menggunakan uji Shapiro Wilk untuk mengetahui distribusi data. Berdasarkan uji tersebut didapatkan hasil bahwa semua kelompok memiliki distribusi normal (p>0,05) (Tabel I). Selanjutnya dilakukan uji varian dan menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,405 (p>0,05) yang menunjukkan bahwa varian data yang diuji adalah sama. Dilanjutkan uji ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95% dan diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa paling tidak terdapat perbedaan rerata AUC total yang bermakna pada dua kelompok. Kemudian dilakukan analisis Post Hoc mengggunakan uji LSD.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil determinasi tanaman alpukat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk biji alpukat dengan sediaan berupa infusa. Biji alpukat dikumpulkan dari depot es teler 77 Galeria Mall pada bulan Juni 2016. Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Universitas Sanata Dharma menggunakan web Agriculture & Natural Resources

University of California. Berdasarkan hasil determinasi terbukti bahwa tanaman yag diuji

adalah benar merupakan tanaman Persea americana Mill. Penetapan kadar air serbuk biji alpukat

Penetapan kadar air dilakukan menggunakan alat moisture balance di Laboratorium Kimia Analisis Universitas Sanata Dharma. Penetapan kadar air dilakukan untuk mengetahui kandungan air yang terdapat dalam serbuk. Syarat serbuk yang baik adalah memiliki kadar air kurang dari 10% (Agoes, 2009). Pada penetapan kadar air

(20)

5

diperoleh kadar air 8,17 ± 0,27 % b/b. Hal tersebut membuktikan bahwa serbuk biji alpukat memenuhi persyaratan serbuk yang baik.

Uji pendahuluan

Uji pendahuluan dilakukan untuk menentukan dosis diklofenak sebagai kontrol positif dan menentukan selang waktu pemberian karagenin 1% yang paling efektif. Hasil rata- rata AUC total dapat dilihat pada tabel I.

Tabel I. Rata rata AUC total (mm.menit) pada uji pendahuluan dosis efektif diklofenak dan selang pemberian karagenin 1% (n=5)

Kelompok Rata-rata AUC total

(mm.menit) (x̄±SE)

Nilai p

Kontrol negatif aquades waktu pemberian 15 menit 448,30± 17,88 0,470(N) Diklofenak dosis 4,48 mg/kg BB waktu pemberian

15 menit

200,51± 8,16 0,391(N)

Diklofenak dosis 9,1 mg/ kg BB waktu pemberian 15 menit

276,85± 8,30 0,705(N)

Diklofenak dosis 4,48 mg/ kg BB waktu pemberian 30 menit

358,32± 10,93 0,561(N)

Diklofenak dosis 9,1 mg/ kg BB waktu pemberian 30 menit

293,20± 9,67 0,965(N)

Keterangan:

x̄ = Rata-rata

SE = Standard Error (SD/√n)

N = Distribusi data normal (p >0,05)

Rata-rata AUC total menggambarkan seberapa besar udema yang dihasilkan karagenin 1% pada kaki hewan uji. Semakin kecil nilai rata-rata AUC total maka semakin besar aktivitas antiinflamasi yang dihasilkan oleh senyawa uji. Berdasarkan hasil nilai rata-rata AUC total, aquades memiliki nilai rata-rata-rata-rata AUC total paling besar yaitu 448,30± 17,88 mm.menit. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian aquades tidak memberikan penurunan udema pada telapak kaki mencit terinduksi karagenin 1% jika dibandingkan dengan kelompok yang diberikan diklofenak. sehingga dapat disimpulkan bahwa aquades tidak memiliki aktivitas antiinflamasi.

Dosis diklofenak dan selang waktu pemberian karagenin 1% yang paling efektif ditentukan dengan cara melihat perbandingan hasil nilai rata-rata AUC total antar kelompok. Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok maka dilakukan analisi Post Hoc menggunakan uji LSD. Hasil uji LSD dapat dilihat pada tabel II.

(21)

6

Tabel II. Hasil uji LSD AUC total (mm.menit) pada uji pendahuluan dosis efektif diklofenak dan selang waktu pemberian karagenin 1 %

Kelompok Diklofenak dosis I: 15 menit Diklofenak dosis II; 15 menit Diklofenak dosis I; 30 menit Diklofenak dosis II; 30 menit Kontrol(-); 15 menit Diklofenak dosis I: 15 menit - BB BB BB BB Diklofenak dosis II; 15 menit BB - BB BTB BB Diklofenak dosis I; 30 menit BB BB - BB BB Diklofenak dosis II; 30 menit BB BTB BB - BB Kontrol(-); 15 menit BB BB BB BB - Keterangan : BB = Berbeda Bermakna (p<0,05) BTB = Berbeda Tidak Bermakna (p>0,05)

Berdasarkan hasil uji LSD masing-masing kelompok diklofenak dosis 4,48 dan 9,1 mg/kg BB dengan selang waktu 15 menit berbeda bermakna dengan kelompok kontrol negatif aquades. Hal ini membuktikan bahwa pemberian diklofenak dengan selang waktu pemberian 15 menit sudah mampu menurunkan tebal udema pada telapak kaki mencit yang terinduksi karagenin 1%. Kelompok diklofenak dosis 4,48 mg/kg BB selang waktu 15 menit memiliki perbedaaan bermakna dan rata-rata AUC total lebih kecil jika dibandingkan dengan kelompok diklofenak dosis 9,1 mg/kg BB selang waktu pemberian 15 menit. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pemberian diklofenak dosis 4,48 mg/kg BB dapat memberikan penurunan tebal udema lebih besar daripada dosis 9,1 mg/kg BB. Pada penelitian ini digunakan diklofenak dosis 4,48 mg/kg BB dan selang watu pemberian 15 menit karena dengan pemberian diklofenak dosis rendah dan selang waktu pemberian yang singkat sudah dapat memberikan penurunan tebal udema yang signifikan (p<0,05) terhadap kontrol negatif aquades.

Uji aktivitas antiinflamasi infusa biji alpukat

Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi sediaan infusa biji alpukat, mengetahui persen penghambatan inflamasi dan dosis efektif infusa biji alpukat yang dapat menimbulkan aktivitas antiinflamasi. Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit jantan galur Swiss. Mencit jantan dipilih karena mudah didapatkan dan tidak mengalami siklus estrus. Adanya siklus estrus perlu

(22)

7

dipertimbangkan karena pada siklus estrus terdapat peran dari prostaglandin yaitu PG-F2α yang menyebabkan lisisnya korpus luteum (Romich, 2005). Hewan uji yang digunakan juga mempunyai keseragaman pada berat badan yaitu 20-30 g dan umur 2-3 bulan. Hal ini bertujuan untuk memperkecil variasi biologis antar hewan uji sehingga dapat memberikan respon yang relatif seragam. Sebelum mendapat perlakuan hewan uji dipuasakan ± 15 jam dan hanya diberi minum berupa air untuk menghindari kemungkinan adanya pengaruh makanan terhadap absorbsi senyawa uji dan dapat mempengaruhi efek antiinflamasi yang dihasilkan.

Pada kelompok kontrol negatif hewan uji diberikan aquades dengan dosis 33,3 g/kg BB secara peroral kemudian diberikan injeksi karagenin 1% secara subplantar. Aquades digunakan sebagai kontrol negatif karena aquades merupakan pelarut dari infusa biji alpukat dan pelarut kalium diklofenak. Kontrol negatif digunakan untuk mengetahui apakah pelarut yang digunakan memiliki aktivitas antiinflamasi atau tidak.

Pada kelompok kontrol positif hewan uji diberikan Cataflam Fast® yang mengandung kalium diklofenak dengan dosis 4,48 mg/kg BB secara peroral, kemudian diberikan injeksi karagenin 1% secara subplantar. Kontrol positif digunakan untuk membandingkan seberapa besar aktivitas antiinflamasi yang dimiliki oleh infusa biji alpukat terhadap kalium diklofenak yang telah terbukti memiliki aktivitas antiinflamasi. Selain itu kontrol positif juga digunakan untuk mengetahui bahwa metode yang digunakan benar. Pada penelitian ini digunakan kalium diklofenak serbuk karena akan lebih mudah larut dalam air dan memberikan pelepasan dan penyerapan yang lebih cepat daripada natrium diklofenak. Kalium diklofenak serbuk lebih cepat mencapai sirkulasi sistemik dan konsentrasi plasma puncak akan dicapai dalam waktu 10-15 menit setelah pemberian (Altman dkk., 2015).

Hasil Pengujian Aktivitas Antiinflamasi Infusa Biji Alpukat

Aktivitas antiinflamasi dilihat dari penurunan tebal udema kaki pada kaki hewan uji tiap satuan waktu setelah pemberian karagenin 1 % yang digambarkan dari penurunan nilai AUC total (mm.menit) dan dilihat dari besarnya persen penghambatan inflamasi dari masing-masing kelompok perlakuan terhadap kontrol negatif. Senyawa yang diduga memiliki aktivitas antiinflamasi diharapkan memiliki nilai rata-rata nilai AUC total yang kecil dan berbeda signifikan dengan kontrol negatif.

Hasil perhitungan AUC dari masing-masing kelompok kemudian digunakan untuk menentukan persen penghambatan inflamasi (PI) untuk masing-masing kelompok. Persen

(23)

8

PI dihitung dengan membandingkan selisih rata-rata AUC total kelompok perlakuan dan kontrol positif dengan kelompok kontrol negatif. Persen PI digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan senyawa uji dalam menurunkan udema kaki hewan uji akibat injeksi karagenin 1% dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Hasil nilai rata-rata AUC total dan rata-rata persen PI dapat dilihat pada tabel III dan hasil uji LSD dapat dilihat pada tabel IV.

Tabel III. Rata-rata AUC total(mm.menit) dan PI pada kelompok uji antiinflamasi (n=5)

Kelompok Rata-rata AUC

total (mm.menit) ( x̄±SE)

Nilai p Rata-rata PI (x̄±SE)

Nilai p

Kontrol negatif aquades 422,22 ± 18,75 0,608(N) 0,00 ± 4,45 0,608(N) Kontrol positif diklofenak

4,48 mg/kg BB 206,90 ± 14,59 0,512(N) 51,00 ± 3,46 0,512(N) Infusa dosis 667,5 mg/kg BB 191,03 ± 14,02 0,854(N) 54,76 ± 3,32 0,854(N) Infusa dosis 1335 mg/kg BB 281,86 ± 9,52 0,423(N) 33,24 ± 2,25 0,423(N) Infusa dosis 2670 mg/kg BB 329,77 ± 6,86 0,201(N) 21,90 ± 1,62 0,201(N) Keterangan: x̄ = Rata-rata SE = Standard Error (SD/√n)

N = Distribusi data normal (p >0,05)

Tabel IV. Hasil uji LSD AUC total (mm.menit) dan persen PI pada kelompok uji antiinflamasi (n=5)

Kelompok Kontrol(-) Kontrol(+) Infusa dosis 1 Infusa dosis 2 Infusa dosis 3

Kontrol (-) - BB BB BB BB Kontrol (+) BB - BTB BB BB Infusa dosis 1 BB BTB - BB BB Infusa dosis 2 BB BB BB - BB Infusa dosis 3 BB BB BB BB - Keterangan : BB = Berbeda Bermakna (p<0,05) BTB = Berbeda Tidak Bermakna (p>0,05)

Berdasarkan hasil uji LSD kelompok kontrol negatif memiliki rata-rata AUC total berbeda bermakna (p<0,05) terhadap kelompok kontrol positif yang diberikan kalium diklofenak dosis 4,48 mg/kg BB. Hal ini menunjukkan bahwa aquades sebagai pelarut tidak memiliki aktivitas antiinflamasi. Kemampuan infusa biji alpukat dalam memberikan aktivitas antiinflamasi dapat dilihat dari adanya penurunan tebal udema telapak kaki mencit yang ditunjukkan dengan adanya penurunan rata-rata nilai AUC total. Kelompok perlakuan infusa biji alpukat dosis 667,5; 1335; 2670 mg/kg BB memiliki nilai rata-rata

(24)

9

AUC total yang berbeda signifikan (p<0,05) jika dibandingkan dengan kontrol negatif aquades. Hal ini membuktikan bahwa pemberian infusa biji alpukat pada tiga peringkat dosis memberikan aktivitas antiinflamasi.

Jika dibandingkan dengan kontrol positif kalium diklofenak dosis 4,48 mg/kg BB yang memiliki nilai AUC total sebesar 206,90 ± 14,59 dan persen PI sebesar 51,00 ± 3,46 kelompok perlakuan infusa biji alpukat dosis 667,5 mg/kg BB memiliki nilai AUC total dan persen PI yang relatif sama (berbeda tidak bermakna). Hal ini membuktikan bahwa kelompok perlakuan infusa biji alpukat dosis 667,5 mg/kg BB memiliki aktivitas antiinflamasi dan kemampuan PI yang setara dengan kelompok yang diberikan diklofenak. Sedangkan kelompok perlakuan infusa biji alpukat dosis 1335 dan 2670 mg/kg BB memiliki nilai AUC total yang lebih besar dan persen PI yang lebih kecil dibandingkan dengan kelompok diklofenak. Hal ini membuktikan bahwa kelompok perlakuan infusa biji alpukat dosis 1335 dan 2670 mg/kg BB memiliki aktivitas antiinflamasi dan kemampuan PI yang lebih rendah daripada kelompok yang diberikan diklofenak.

Berdasarkan hasil tersebut semua kelompok perlakuan infusa biji alpukat memiliki aktivitas antiinflamasi, namun kemampuan yang dihasilkan berbeda-beda. Persen penghambatan inflamasi oleh infusa biji alpukat pada dosis 667,5; 1335; serta 2670 mg/kg BB berturut-turut adalah 54,76; 33,24; dan 21,90%. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok perlakuan infusa biji alpukat dosis 667,5 mg/kg BB memiliki aktivitas penghambatan inflamasi yang paling besar dibandingkan dosis 1335 dan 2670 mg/kg BB. Seiring meningkatnya dosis justru aktivitas antiinflamasinya semakin menurun. Hal ini mungkin disebabkan oleh berubahnya senyawa pada infusa biji alpukat dari yang bersifat antioksidan menjadi bersifat prooksidan. Prooksidan adalah sifat senyawa yang dapat mendorong oksidasi pada komponen sel yang melibatkan radikal bebas dan menghambat aktivitas antioksidan (Rahal dkk., 2014). Banyak penelitian menunjukkan bahwa tipe, dosis dan matriks dari antioksidan eksogen menentukan keseimbangan antara efek merugikan dan menguntungkan dari senyawa alami(Bouayed dan Bohn,2010). Prooksidan justru akan menimbulkan efek merugikan. Senyawa bioaktif seperti flavonoid yang terdapat pada sediaan infusa biji alpukat kemungkinan dapat bertindak sebagai prooksidan dalam kondisi tertentu seperti dosis tinggi dan adanya ion logam.

Berdasarkan hasil tersebut dosis efektif infusa biji alpukat sebagai antiinflamasi adalah 667,5 mg/kg BB, bila dikonversikan ke manusia sebesar 5,548 g/ 50 kg BB. Dosis efektif merupakan dosis terkecil dari infusa biji alpukat yang dapat menimbulkan aktivitas

(25)

10

antiinflamasi. Dosis 667,5 mg/kg BB dipilih sebagai dosis efektif karena dosis tersebut merupakan dosis terkecil yang memiliki aktivitas antiinflamasi, selain itu dosis 667,5 mg/kg BB memiliki persen penghambatan inflamasi yang paling besar jika dibandingkan dengan dosis 1335 dan 2670 mg/kg BB.

KESIMPULAN

Infusa biji alpukat memiliki aktivitas antiinflamasi. Persen penghambatan inflamasi oleh infusa biji alpukat pada dosis 667,5; 1335; serta 2670 mg/kg BB berturut-turut adalah 54,76; 33,24; dan 21,90%. Dosis efektif infusa biji alpukat sebagai antiinflamasi adalah 667,5 mg/kg BB.

(26)

11 DAFTAR PUSTAKA

Agoes, G., 2009, Teknologi Bahan Alam (Serial Farmasi Industri-2), Edisi revisi dan perluasan, Penerbit ITB, Bandung, 17.

Agriculture & Natural Resources University of California, 2016, Avocado Varieties,

http://ucavo.ucr.edu/avocadovarieties/varietyframe.html, diakses pada tanggal 25 Mei 2016.

Ardhie, A. M., 2011, Radikal Bebas dan Peran Antioksidan dalam Mencegah Penuaan, Medicinus, 24(1), 4-9.

Arukwe, U., Amadi, B., Duru, M., Agommo, E.N., Adindu, E.A., Odika, P.C., Lele, K.C., Egejuru, L., dan Anudike, J., 2012, Chemical Composition of Persea americana Leaf, Fruit and Seed, URRAS,11(2), 346-349.

Bouayed, J., dan Bohn, T., 2010, Exogenous Antioxidants-Double Edged Swords in Cellular Redox State, Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 3(4), 228-237. Damayanti, D.(ed.), 2008, Buku Pintar Tanaman Obat 431 Jenis Tanaman Penggempur

Aneka Penyakit, PT Agromedia Pustaka, Jakarta, 16-17.

Djunarko, I., Donatus, I.A., dan Noni, 2003, Pengaruh Perasan Buah Mengkudu (Morinda

citrifolia L.) terhadap Daya Antiradang Diklofenak pada Mencit Jantan, Jurnal

Farmasi Sains dan Komunitas, 1, 10-17.

Harmita, dan Radji, M., 2008, Buku Ajar Analisis Hayati, Ed. 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 66-67.

Hendra, P., Krisnadi, G., Perwita, N.L.P.D., Kumalasari, I., Quraisyin, Y.A., 2014, Efek Hepatoprotektif dan Nefroprotektif Biji Alpukat pada Tikus Terinduksi Karbon Tetraklorida, Tradisional Medicine Journal, 19(3), 133-137.

Kumar, V., Abbas, A.K., dan Fausto, N., 2005, Robbins and Cotran Pathologic Basic of Diseases, 7th Ed., Elsevier Saunders, Philadelphia. 49-87.

Kumar, V., Abbas, A.K., Fausto, N., dan Aster, J.C., 2010, Robbins and Cotran Pathologic Basic of Diseases, 8th E., Elsevier Saunders, Philadelphia. 43-45.

Malangngi, L.P., Sangi, M.S., dan Paendong, J.J.E., 2012, Penentuan Kandungan Tanin dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Buah Alpukat (Persea americana Mill.), Jurnal Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi Online, 1 (1), 5-10. Manurung, D.Y.S., 2013, Efek Antiinflamasi Infusa Bunga Telang (Clitoria ternatea L.)

pada Udema Telapak Kaki Mencit Betina Terinduksi Karagenin dengan Pengukuran Jangka Sorong, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

(27)

12

Meliala, L., dan Pinzon, R., 2007, Breakthrough in Management of Acute Pain, Dexa Media Jurnal Kedokteran dan Farmasi, 4(20), 151-155.

Morris, C.J., 2003, Carragenan Induced Paw Edema in The Rat an Mouse Inflamation Protocols, Method in Molecular Biology, 2, 115-122.

Rahal, A., Kumar, A., Singh, V., Yadav, B., Tiwari, R., Chakraborty, S., dan Dhama, K., 2014, Oxidative Stress, Prooxidants, and Antioxidants: The Interplay, Biomed Research International.

Romich, J.A., 2005, Fundamentals of Pharmacology for Veterinary Technicians, Thomson Delmar Learning, New York, 165.

Williamson, S.M., Okpako, D.T., dan Evans, F.J., 1996, Pharmacological Method in Phytotherapy Research Volume 1 : Selection, Preparation, and Phamacologycal Evaluaton of Plant Material, John Willey and Sons Ltd, England, 131-136.

(28)

13

(29)

14

Lampiran 1. Biji alpukat dan infusa biji alpukat

Gambar 1. Buah alpukat

Gambar 2. Biji alpukat

Gambar 3. Biji alpukat kering

Gambar 4. Serbuk biji alpukat

(30)

15

Lampiran 2. Cara pembuatan dan pengukuran udema pada kaki mencit

Gambar 6. Pemberian secara peroral Gambar 8. Injeksi dengan spuit kosong

Gambar 9. Pengukuran udema dengan jangka sorong Gambar 7. Injeksi karagenin secara

(31)

16

(32)

17

(33)

18

(34)

19

Lampiran 6. Surat legalitas penggunaan aplikasi SPSS untuk pengujian data secara statistik

(35)

20

Lampiran 7. Perhitungan dosis a. Dosis aquades

Penetapan dosis aquades sebagai kontrol negatif menggunakan berat badan tertinggi dari hewan uji. Digunakan volume maksimum yang dapat diberikan pada mencit secara per oral yaitu 1 mL(Harmita dan Radji., 2008).

Konsentrasi aquades = 1g/ml = 1000 mg/ml D × BB = C × V D × 30 g = 1000 mg/mL × 1 mL D = 1000 mg mL×1mL 30 𝑔 D = 33,3 mg /g BB b. Dosis karagenin

Dosis karagenin ditetapkan berdasarkan penelitian Williamson, dkk.(1996), yaitu menggunakan konsentrasi 1% yang dilarutkan dalam NaCl fisiologis 0,9% kemudian disuntikkan secara subplantar pada telapak kaki mencit sebesar 0,05 mL untuk mencit dengan berat badan 20 gram. Dosis yang diperoleh adalah 25 mg/kg BB. D × BB = C × V D × 20 g = 10 mg/mL × 0,05 mL D = 10 mg mL×1mL 20 𝑔 D = 25 mg /kg BB c. Dosis kalium diklofenak

Penentuan dosis yang akan digunakan sebagai obat antiinflamasi didasarkan pada orientasi yang akan dilakukan. Dosis diklofenak dipilih berdasarkan penelitian yang dilakukan Djunarko dkk. (2003) yaitu dosis untuk tikus dengan berat badan 200 g adalah 32 mg/kgBB, lalu dikonversikan ke mencit dengan berat badan 20 g sehingga didapatkan dosis sebesar 4,48 mg/kg BB. Digunakan pula dosis lain menurut penelitian Manurung (2013) yaitu dosis pemakaian diklofenak pada manusia 50 kg adalah 50 mg, sehingga dosis diklofenak untuk manusia 70 kg adalah 70 mg. Dosis tersebut dikonversikan ke mencit dengan berat badan 20 g adalah 9,1 mg/kgBB. Dosis diklofenak yang digunakan sebagai dosis orientasi adalah 4,48 dan 9,1 mg/kgBB.

d. Dosis infusa biji alpukat

Pemberian infusa biji alpukat menggunakan volume maksimal pemberian secara peroral pada mencit yaitu 1 mL (Harmita dan Radji., 2008). Penetapan dosis tertinggi infusa biji alpukat berdasarkan rumus: D = 𝑐 ×𝑣

𝐵𝐵 dimana C merupakan konsentrasi infusa biji alpukat.

Konsentrasi infusa biji alpukat = 8% = 80 mg/ml D × BB = C × V

(36)

21 D × 30 g = 80 mg/ml × 1ml D = 80 mg m l×1ml 30 𝑔 D = 2, 67 mg /g BB = 2670 mg/ kg BB

Dosis 2 ditentukan dengan cara membagi 2 dosis 1 dan dosis 3 dihitung dengan cara membagi 2 dosis ke 2, sehingga didapatkan peringkat dosis 667,5; 1335; 2670 mg/kg BB.

e. Perhitungan konversi dosis infusa biji alpukat dari mencit ke manusia:

Faktor konversi dari mencit 20-30 g ke manusia 70 kg adalah 387,9 (Harmita dan Radji, 2008). Rata-rata berat badan manusia Indonesia adalah 50 kg. Rumus :

Dosis manusia = dosis mencit 30 gBB × faktor konversi i. Dosis I (667,5 mg/kg BB) Dosis mencit = 667,5 mg/ kg BB = 20,025 mg / 30gBB mencit Dosis manusia = 20,025 mg/ 30gBB ×387,9 = 7.767,70 mg / 70kgBB manusia = 5.548,35 mg / 50kgBB = 5,548 g / 50kgBB manusia ii. Dosis II Dosis mencit = 1.330 mg/ kg BB = 39,9 mg / 30gBB mencit Dosis manusia = 39,9 mg/ 30gBB ×387,9 = 15.477,21 mg / 70kgBB manusia = 11.055,15 mg / 50kgBB = 11,055g / 50kgBB manusia iii. Dosis III

Dosis mencit = 2.670 mg/ kg BB = 80,1 mg / 30gBB mencit Dosis manusia = 80,1mg/ 30gBB ×387,9 = 31.070 mg / 70kgBB manusia = 22.193,421 mg / 50kgBB = 22,193 g / 50kgBB manusia

(37)

22

Lampiran 8. Hasil analisis statistika data orientasi penentuan dosis dan selang waktu pemberian kalium diklofenak

(38)

23

Lampiran 9. Rata-rata AUC total udema dengan standard error (SE) pada uji pendahuluan

(39)

24

(40)

25

Lampiran 10. Hasil analisis dengan uji ANOVA satu arah dan uji LSD nilai AUC total pada uji pendahuluan

(41)

26

(42)

27

Lampiran 11. Hasil analisis uji statistik nilai AUC total pada uji antiinflamasi infusa biji alpukat

(43)

28

Lampiran 12. Rata-rata AUC total dan standard error (SE) pada uji antiinflamasi infusa biji alpukat

(44)

29

(45)

30

Lampiran 13. Hasil analisis dengan uji ANOVA satu arah dan uji LSD nilai AUC total pada uji antiinflamasi infusa biji alpukat

(46)

31

Lampiran 14. Hasil uji statistik nilai persen penghambatan inflamasi pada kelompok uji antiinflamasi

(47)

32

Lampiran 15. Rata-rata persen penghambatan inflamasi dan standard error (SE) pada kelompok uji antiinflamasi

(48)

33

(49)

34

Lampiran 16. Hasil analisis dengan uji ANOVA satu arah dan uji LSD nilai persen penghambatan inflamasi pada uji antiinflamasi infusa biji alpukat

(50)

35

BIOGRAFI PENULIS

Penulis skripsi dengan judul “Uji Antiinflamasi Infusa Biji Alpukat (Persea americana Mill.) pada Mencit Jantan Terinduksi Karagenin” yang memiliki nama lengkap Caecilia Desi Kristanti, lahir di Kulonprogo 14 Desember 1995. Penulis merupakan putri keempat dari empat bersaudara pasangan Bapak Yakobus Ponijo Suwitowiyono dan Ibu Theresia Parjinem. Pendidikan formal yang ditempuh penulis yaitu pendidikan tingkat Sekolah Dasar di SD Pangudi Luhur 1 Boro (2001-2007), pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang (2007-2010) dan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA N 1Kalibawang (2010-2013). Penulis melanjutkan pendidikan sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (2013). Semasa menempuh pendidikan sarjana penulis mendapat beasiswa Bidikmisi dari Dikti. Penulis aktif dalam berbagai kepanitiaan antara lain menjadi anggota divisi Liturgi pada acara Paskah Universitas (2014), dan sebagai koordinator dana dan usaha pada Desa Mitra I (2015). Semasa kuliah penulis aktif sebagai anggota student club “Herbal Garden Team” dan aktif mengikuti berbagai acara bakti sosial. Penulis pernah mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa tingkat Nasional dengan judul “Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Mp-Gliw (Makanan Pendamping-Gizi Lansia Instan Waluh) Sehatkan Jantung, Cegah Kanker dan Stroke Kepada Kader Posyandu Dero, Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta” (2015). Selain itu penulis juga pernah menjadi asisten praktikum Kimia Analisis (2015 dan 2016).

Gambar

Tabel I.  Rata  rata  AUC  total  (mm.menit)  pada  uji  pendahuluan  dosis  efektif diklofenak dan selang pemberian karagenin 1% ..............
Tabel I. Rata rata AUC total (mm.menit) pada uji pendahuluan dosis efektif diklofenak  dan selang pemberian karagenin 1% (n=5)
Tabel II. Hasil uji LSD AUC total (mm.menit) pada uji pendahuluan dosis efektif  diklofenak dan selang waktu pemberian karagenin 1 %
Tabel III. Rata-rata AUC total(mm.menit) dan PI pada kelompok uji antiinflamasi (n=5)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Conditional Probability, dengan sumber data kejadian gempa pada masa lalu di sekitar sesar Sumatra,

Kedua, Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: &#34;Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam

Eksistensi Prodi Akidah Filsafat sangat tergantung pada adanya mahasiswa, lembaga penyelenggara yang berkompeten dan kebijakan yang integral dari Kementerian Agama

1) Mengakhiri sistem tuan tanah dan menghapuskan pemilikan tanah yang luas. 2) Mengadakan pembagian yang adil atas sumber-sumber penghidupan rakyat tani berupa tanah dengan

[r]

• Untuk mengerjakan boneka memerlukan waktu 1jam pekerjaan tukang kayu dan 2 jam tukang poles sedang untuk kereta api diperlukan 1jam pekerjaan tukang kayu dan 1 jam

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN/ NOTES TO THE CONSOLIDATED FINANCIAL STATEMENTS TAHUN BERAKHIR 31 DESEMBER 2016 DAN 2015 /YEARS ENDED 31 DECEMBER 2016 AND 2015..