• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION MATERI ARITMETIKA SOAIAL UNTUK SISWA KELAS VII SMP.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION MATERI ARITMETIKA SOAIAL UNTUK SISWA KELAS VII SMP."

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan

hidup bangsa dan negara. Pendidikan merupakan wahana untuk

meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.

Pembaharuan-pembaharuan terus dilakukan agar kualitas pendidikan semakin

baik. Demikian juga halnya di Indonesia. Visi pendidikan nasional di

Indonesia adalah “mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang

kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia

agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehinggga mampu dan

proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah (Peraturan

pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007). Dari visi tersebut,

penyempurnaan dan perbaikan pendidikan harus terus dilakukan sesuai

dengan perkembangan zaman di setiap tingkat satuan pendidikan.

Salah satu upaya untuk mewujudkan pendidikan nasional adalah

dengan adanya pendidikan matematika. Matematika merupakan bidang studi

yang dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga SMA bahkan juga di

perguruan tinggi karena matematika merupakan salah satu penguasaan yang

mendasar yang dapat menumbuhkan kemampuan penalaran siswa.

Tujuan pembelajaran matematika di Indonesia termuat dalam

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. Dalam Permendiknas tersebut, tertulis

(2)

peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Memahami konsep

matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan

konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam

pemecahan masalah. (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat,

melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun

bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. (3)

Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,

merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi

yang diperoleh. (4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel,

diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. (5)

Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu

memiliki keingintahuan, perhatian, dan minat dalam mempelajari

matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa pembelajaran

matematika di SMP tidak hanya bertujuan agar siswa mampu memahami

konsep, namun mereka juga harus mampu melakukan penalaran, pemecahan

masalah serta mengkomunikasikan gagasannya untuk menyelesaikan

permasalahan matematika.

Sementara itu berdasarkan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007

tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah, standar proses

meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran,

penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk

(3)

pembelajaran meliputi silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP).

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan

pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dijabarkan

dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran dalam upaya

mencapai Kompetensi Dasar (KD). Salah satu komponen yang harus ada di

dalam RPP adalah sumber belajar. Penentuan sumber belajar didasarkan pada

standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi ajar, kegiatan

pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Untuk memperoleh

sumber belajar yang relevan, guru diharapkan mampu mengembangkan bahan

ajar sebagai salah satu sumber belajar

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di

SMP N 1 Tawangmangu, diperoleh informasi bahwa kegiatan pembelajaran

di SMP N 1 Tawangmangu berlangsung cukup baik. Akan tetapi, penggunaan

sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran masih belum optimal. Di

sekolah tersebut, guru belum mengembangkan perangkat pembelajaran secara

mandiri karena kesibukan dan kesulitan guru dalam mengembangkan

perangkat. Oleh karena itu, pembelajaran hanya menggunakan satu buku

cetak Matematika. Dalam proses pembelajaran, guru menerangkan materi

sesuai dengan buku cetak yang tersedia, sehingga peserta didik tidak

berkesempatan membangun pengetahuan mereka sendiri. Padahal

berdasarkan Permendiknas nomor 41 tahun 2007, guru dianjurkan untuk

mengembangkan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik

(4)

Peran guru dalam proses pembelajaran tidak hanya sebagai pemberi

informasi, namun juga sebagai fasilitator bagi peserta didik serta

membimbing peserta didik untuk terlibat aktif dalam membangun konsep

pengetahuannya sendiri. Pembelajaran matematika juga akan lebih bermakna

jika materi yang dipelajari bersifat kontekstual dan realistik sehingga dapat

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut yang melatarbelakangi peneliti untuk mengembangkan

perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS yang dapat memfasilitasi siswa

untuk dapat mengkonstruksikan pengetahuannya melalui kegiatan memahami

konsep, memecahkan permasalahan serta mengkomunikasikan gagasannya.

Berdasarkan wawancara dengan guru matematika di SMP N 1

Tawangmangu, peserta didik masih mengalami kesulitan mempelajari materi

aritmetika sosial dikarenakan kemampuan peserta didik menerjemahkan soal

cerita masih kurang. Padahal kemampuan untuk menerjemahkan soal adalah

kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa dalam penyelesaian masalah

matematika. Selain itu, materi aritmetika sosial sering diterapkan dalam

kehidupan sehari-hari. Pada penelitian ini, peneliti memilih model

pembelajaran Group Investigation karena model pembelajaran ini adalah

salah satu tipe pembelajaran kooperatif, dimana pembelajaran dibagi dalam

kelompok-kelompok kecil sehingga pembelajaran terpusat pada siswa.

Pembelajaran yang terpusat pada siswa dapat mendorong siswa untuk terlibat

aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Selain itu, model

(5)

penyelesaian masalah nyata sehingga pembelajaran bersifat kontekstual dan

realistik agar peserta didik memiliki gambaran manfaat dari mempelajari

materi matematika serta dapat menerapkan konsepnya dalam kehidupan

sehari-hari.

Penelitian tentang pengembangan perangkat pembelajaran ini akan

dilakukan melalui penelitian Research and Design berupa Pengembangan

Perangkat Pembelajaran Berbasis Model Pembelajaran Group Investigation

Materi Aritmetika Sosial untuk Siswa Kelas VII SMP.

B. Identifikasi masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi

masalah-masalah sebagai berikut:

1. Guru belum mengembangkan perangkat pembelajaran (RPP dan LKS)

secara mandiri. Hal ini dikarenakan guru masih mengalami kesulitan

dalam mengembangkan perangkat pembelajaran dan kesibukan guru

dalam mengajar.

2. Belum tersedianya LKS yang dapat membantu peserta didik untuk dapat

mengkonstruksi pengetahuannya serta mengaitkan materi matematika

dengan permasalahan kehidupan sehari-hari.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan permasalahan terkait belum adanya perangkat pembelajaran

matematika dan kurangnya bahan ajar yang dapat memfasilitasi peserta didik

(6)

peneliti membatasi pada pengembangan perangkat pembelajaran berupa RPP

dan LKS berbasis model pembelajaran Group Investigation pada materi

aritmetika sosial untuk peserta didik SMP kelas VII berdasarkan KTSP

dengan memperhatikan aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan.

Pengembangan perangkat pembelajaran ini menggunakan metode R&D

(Research and Development) tipe ADDIE yang terdiri dari tahap analysis,

design, development, implementation, dan evaluation.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah: Bagaimanakah kelayakan bahan ajar yang

dikembangkan berdasarkan aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan

pada materi Aritmetika Sosial berbasis model pembelajaran Group

Investigation untuk siswa SMP Kelas VII?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran

berbasis model pembelajaran Group Investigation dan menguji kevalidan,

kepraktisan serta keefektifannya untuk siswa kelas VII SMP N 1

Tawangmangu.

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti: Menambah pengetahuan peneliti tentang cara

mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis model pembelajaran

(7)

2. Bagi guru: Penelitian ini diharapkan dapat mendukung tugas guru

sebagai fasilitator dan mediator agar lebih optimal. LKS juga membantu

guru dalam menyampaikan materi pelajaran aritmetika sosial.

3. Bagi siswa: Siswa dapat mengkonstruksikan pengetahuannya serta

pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna karena siswa

mengetahui manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari

4. Bagi pembaca: memberikan informasi tentang kelayakan perangkat

pembelajaran berbasis Group Investigation pada materi aritmetika

(8)

BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori

1. Belajar dan Pembelajaran a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan oleh manusia untuk

memperoleh pengetahuan baru. Reber dalam Agus Suprijono(2010: 3)

mengemukakan bahwa belajar adalah “the process of acquiring

knowledge”, yang berarti bahwa belajar adalah proses mendapatkan

pengetahuan. Pengertian belajar juga dikemukakan oleh Sugihartono, dkk.

(2007:74) belajar adalah suatu proses memperoleh pengetahuan dan

pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan

bereaksi yang relatif permanen atau menetap karena adanya interaksi

individu dengan lingkungannya.

b. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan guru untuk

membuat siswa melakukan kegiatan belajar. Menurut Sugihartono, dkk.

(2007: 81) pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan dengan

sengaja oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan,

mengorganisasi, dan menciptakan sistem lingkungan dengan berbagai

metode, sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif

dan efisien serta dengan hasil yang optimal. Sedangkan menurut Hamzah

(9)

melibatkan dan menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki

guru untuk mencapai tujuan kurikulum.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar bersifat

internal dan unik dalam diri individu siswa. Belajar dapat terjadi tanpa

guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain.

Sedangkan proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja dirancang

dan dipertimbangkan oleh guru. Dalam proses pembelajaran terdapat

interaksi antara guru dan siswa, dan antar sesama siswa untuk mencapai

suatu tujuan pembelajaran. Pembelajaran diperlukan agar kemampuan

siswa dapat dikontrol dan berkembang semaksimal mungkin dengan

adanya desain pembelajaran yang telah dirancang guru dengan

memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran yang telah diuji

keunggulannya.

2. Hakikat Pembelajaran Matematika

Pembelajaran matematika pada hakikatnya adalah proses yang sengaja

dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana memungkinkan untuk

sesorang melaksanakan kegiatan belajar matematika dan proses tersebut

berpusat pada siswa untuk belajar dan berpusat pada guru untuk mengajar (Siti

Hawa, 2014: 4).

Dalam batasan pengertian pembelajaran yang dilakukan di sekolah,

pembelajaran matematika dimaksudkan sebagai proses yang sengaja dirancang

dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan (kelas/sekolah) yang

(10)

tersebut jelas kiranya bahwa unsur pokok dalam pembelajaran matematika

adalah guru sebagai salah satu perancang proses, proses yang sengaja

dirancang selanjutnya disebut proses pembelajaran, siswa sebagai pelaksana

kegiatan belajar, dan matematika sekolah sebagai objek yang dipelajari dalam

hal ini sebagai salah satu bidang studi atau pelajaran.

Sejauh mana konsepsi pelajaran matematika berdasarkan falsafahnya

dapat dibeda-bedakan tetapi dalam pelaksanaan dapat dikombinasikan antara

satu dengan yang lain. Menurut Demunth (Ismail dkk, 2003: 114) konsepsi

yang dimaksud adalah:

Konsepsi pertama, pembelajaran matematika berorientasi pada matematika formal. Pengertian-pengertian seperti hubungan, fungsi, kelompok, vektor, diperkenalkan dan dimasukkan dengan definisi dan dihubungkan satu sama lain dalam suatu sistem yang susun secara deduktif. Konsepsi kedua, pembelajaran matematika berorientasi pada dunia sekeliling. Titik tolaknya adalah tema yang diambil dari jangkauan pengalaman belajarnya. Pelajaran mempunyai tugas mematematiskan keadaan sekeliling. Konsep ketiga, konsep heuristik yaitu pembelajaran matematika sebagai sitem dimana pelajarnya dilatih untuk menemukan sesuatu secara mandiri. Konsep keempat, pembelajaran matematika berorientasi pada matematika sebagai alat. Dalam konsep ini kesiapan menjadi menonjol, dan hanya digunakan sebagai kesiapan teknis.

3. Materi Aritmetika Sosial

Materi aritmetika sosial merupakan salah satu materi pada mata pelajaran

matematika yang diajarkan pada peserta didik SMP kelas VII. Sesuai dengan

Standar Kompetensi(SK) dan Kompetensi Dasar(KD) pada standar isi SMP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, materi aritmetika sosial terdiri dari nilai

(11)

Standar Kompetensi : 3.Menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan

pertidaksamaan linier satu variabel, dan perbandingan dalam pemecahan

masalah.

Kompetensi Dasar : 3.3 Mengunakan konsep aljabar dalam pemecahan

masalah aritmetika sosial yang sederhana

4. Perangkat pembelajaran

Perangkat yang digunakan dalam proses pembelajaran disebut perangkat

pembelajaran. Menurut Ibrahim dkk (2000:3), perangkat pembelajaran yang

diperlukan dalam mengelola proses belajar mengajar dapat berupa: silabus,

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS),

Instrumen Evaluasi atau Tes Hasil Belajar (THB), media pembelajaran serta

buku ajar siswa.

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang

menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai

satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi yang dijabarkan

dalam silabus. RPP memiliki dua fungsi, yaitu pertama, fungsi

perencanaan, yaitu mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan

pembelajaran; kedua, fungsi pelaksanaan, dimana pelaksanaannya harus

benar-benar sesuai dengan kebutuhan lingkungan, sekolah dan daerah.

Menurut Permendiknas nomor 41 tahun 2007 mengenai Standar

Proses telah diatur komponen RPP sebagai berikut:

(12)

Identitas mata pelajaran terdiri dari satuan pendidikan, kelas,

semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema

pelajaran, serta jumlah pertemuan.

2) Standar Kompetensi

Standar kompetensi berisi kemampuan minimal siswa yang

menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap serta keterampilan

yang diharapkan dapat dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada

suatu mata pelajaran.

3) Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar digunakan sebagai rujukan dalam penyusunan

indikator pencapaian kompetensi dalam suatu pelajaran karena

kompetensi dasar berisi sejumlah kemampuan yang harus dikuasai

siswa dalam mata pelajaran tertentu.

4) Indikator pencapaian kompetensi

Indikator pencapaian kompetensi merupakan perilaku yang

dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan

ketercapaian kompetensi dasar, yang kemudian digunakan sebagai

acuan penilaian. Indikator ini dirumuskan dengan menggunakan

kata kerja operasional sehingga dapat diamati dan diukur.

5) Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran merupakan gambaran proses serta hasil

belajar yang diharapkan dicapai siswa.

(13)

Materi ajar berisi fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang

relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan

rumusan indikator pencapaian kompetensi.

7) Alokasi waktu

Perumusan alokasi waktu ditentukan sesuai dengan tujuan

serta beban belajar.

8) Metode pembelajaran

Pemilihan metode pembelajaran ditujukan untuk

mewujudkan suasana dan proses pembelajaran yang dirumuskan.

Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan

kondisi siswa, serta karakteristik indikator dan kompetensi yang

akan dicapai.

9) Kegiatan pembelajaran

a) Pendahuluan

Kegiatan ini merupakan kegiatan awal dalam pembelajaran

yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi serta

memfokuskan perhatian siswa untuk berpartisipasi aktif dalam

proses pembelajaran.

b) Inti

Kegiatan inti dalam pembelajaran dilakukan secara

sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan

konfirmasi agar menciptakan pembelajaran yang kondusif

(14)

c) Penutup

Kegiatan penutup dalam pembelajaran, meliputi rangkuman

atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, serta tindak

lanjut.

10) Penilaian hasil belajar

Penilaian hasil belajar dilakukan untuk melihat apakah tujuan

belajar siswa tercapai atau tidak sehingga prosedur dan instrumen

penilaian disesuaikan dengan indikator dan mengacu pada Standar

Penilaian.

11) Sumber belajar

Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK, KD, serta materi

ajar, kegiatan pembelajaran dan indikator.

Selain komponen-komponen RPP, terdapat prinsip-prinsip

penyusunan RPP yaitu sebagai berikut:

1) Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal,

tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar,

kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus,

kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau

lingkungan peserta didik.

2) Partisipasi aktif peserta didik.

(15)

Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran

membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam

berbagai bentuk tulisan.

4) Pemberian umpan balik dan tindak lanjut

RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif,

penguatan, pengayaan, dan remedi.

5) Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi

pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian

kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan

pengalaman belajar.

8) Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi,

sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

b. Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan

oleh guru sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. Lembar Kerja

Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan

penyelidikan atau pemecahan masalah. Lembar Kerja Siswa dapat berupa

panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan

untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan

eksperimen atau demonstrasi. Menurut Trianto (2010: 223), Lembar Kerja

Siswa memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh

(16)

kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus

ditempuh.

Sedangkan menurut Depdiknas (2004:18), LKS adalah

lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan peserta didik. Lembar

kegiatan biasanya berupa petunjuk atau langkah-langkah untuk

menyelesaikan suatu tugas dan tugas tersebut haruslah jelas kompetensi

dasar yang akan dicapai.

Sementara menurut pandangan Belawati dkk dalam Andi Prastowo

(2011: 204), LKS memuat materi ajar yang dikemas sedemikian rupa,

sehingga peserta didik diharapkan dapat mempelajari materi ajar tersebut

secara mandiri. Dalam LKS, peserta didik akan mendapatkan materi,

ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi. Selain itu, peserta

didik juga dapat menemukan arahan yang terstruktur untuk memahami

materi yang diberikan. Pada saat yang bersamaan, peserta didik diberi

materi serta tugas yang berkaitan dengan materi tersebut.

LKS setidaknya memiliki empat fungsi sebagai berikut (Andi

Prastowo, 2011:205-206):

1) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik,

namun lebih mengaktifan peserta didik.

2) Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk

memahami materi yang diberikan.

3) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih;

(17)

4) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik.

Langkah-langkah penyusunan Lembar Kerja Siswa menurut Diknas

(2004) yaitu:

1) Melakukan Analisis Kurikulum

Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan materi-materi mana

yang memerlukan bahan ajar LKS. Pada umumnya, dalam

menentukan materi, langkah analisisnya dilakukan dengan cara

melihat materi pokok, pengalaman belajar, serta materi yang akan

diajarkan.

2) Menyusun Peta Kebutuhan LKS

3) Menentukan Judul-judul LKS

4) Penulisan LKS.

Untuk menulis LKS, langkah yang dilakukan adalah sebagai

berikut.

a) Merumuskan kompetensi dasar.

b) Menentukan alat penilaian.

c) Menyusun materi.

d) Memperhatikan struktur LKS

LKS terdiri atas enam komponen, yaitu judul, petunjuk belajar

(petunjuk siswa), kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung,

tugas-tugas dan langkah-langkah kerja, serta penilaian.

Menurut Hendro Darmodjo, Jenny R.E. Kaligis (1992 : 41-46),

(18)

memberikan pengaruh yang besar dalam proses pembelajaran, sehingga

LKS tersebut harus memenuhi persyaratan didaktik, konstruksi, dan teknis.

1) Syarat Didaktik

Syarat didaktik mengatur tentang penggunaan LKS yang bersifat

universal dapat digunakan dengan baik untuk siswa yang lamban atau

yang pandai. LKS lebih menekankan pada proses untuk menemukan

konsep, yang terpenting dalam LKS ada variasi stimulus melalui

berbagai media dan kegiatan siswa. LKS diharapkan mengutamakan

pada pengembangan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral,

dan estetika. Pengalaman belajar yang dialami siswa ditentukan oleh

tujuan pengembangan pribadi siswa.

2) Syarat Konstruksi

Syarat konstruksi berhubungan dengan penggunaan bahasa,

susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan dalam

LKS.

3) Syarat Teknis

Syarat teknis menekankan penyajian LKS, yaitu berupa tulisan,

gambar dan penampilannya dalam LKS.

Tiga syarat diatas dijelaskan kembali oleh Endang Widjajanti dalam

makalahnya yang berjudul Kualitas Lembar Kerja Siswa (2008: 3-5),

bahwa LKS yang berkualitas harus memenuhi syarat-syarat didaktik yang

dapat dijabarkan sebagai berikut:

(19)

2) Memberi penekanan pada proses pembelajaran.

3) Memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan

siswa sesuai dengan ciri kurikulum.

4) Dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional,

moral, dan estetika pada diri siswa.

5) Pengalaman belajar ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi.

Syarat-syarat konstruksi ialah syarat-syarat yang berkenaan dengan

penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosakata, tingkat kesukaran, dan

kejelasan, yang pada hakekatnya harus tepat guna dalam arti dapat

dimengerti oleh pihak pengguna, yaitu anak didik. Syarat-syarat konstruksi

tersebut yaitu:

1) Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anak.

2) Menggunakan struktur kalimat yang jelas.

Hal-hal yang perlu diperhatikan agar kalimat menjadi jelas

maksudnya, yaitu:

a) Hindarkan kalimat kompleks.

b) Hindarkan “kata-kata tak jelas” misalnya “mungkin, “kira-kira”.

c) Hindarkan kalimat negatif, apalagi kalimat negatif ganda.

d) Menggunakan kalimat positif lebih jelas daripada kalimat negatif.

3) Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat

kemampuan anak. Apalagi konsep yang hendak dituju merupakan

sesuatu yang kompleks, dapat dicegah menjadi bagian-bagian yang

(20)

4) Hindarkan pertanyaan yang terlalu terbuka. Pertanyaan dianjurkan

merupakan isian atau jawaban yang didapat dari hasil pengolahan

informasi, bukan mengambil dari perbendaharaan pengetahuan yang

tak terbatas.

5) Tidak mengacu pada buku sumber yang di luar kemampuan

keterbacaan siswa.

6) Menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi keleluasaan pada

siswa untuk menulis maupun menggambarkan pada LKS.

Memberikan bingkai dimana anak harus menuliskan jawaban atau

menggambar sesuai dengan yang diperintahkan. Hal ini dapat juga

memudahkan guru untuk memeriksa hasil kerja siswa.

7) Menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek. Kalimat yang

panjang tidak menjamin kejelasan intruksi atau isi. Namun kalimat

yang terlalu pendek juga dapat mengandung pertanyaan.

8) Gunakan lebih banyak ilustrasi daripada kata-kata. Gambar lebih

dekat pada sifat konkrit sedangkat kata-kata lebih dekat pada sifat

“formal” atau abstrak sehingga lebih sukar ditangkap oleh anak.

9) Dapat digunakan oleh anak-anak, baik yang lamban maupun yang

cepat.

10) Memiliki tujuan yang jelas serta bermanfaat sebagai sumber

(21)

11) Mempunyai identitas untuk memudahkan administrasinya.

Misalnya, kelas, mata pelajaran, topik, nama atau nama-nama

anggota kelompok, tanggal dan sebagainya.

Syarat teknis penyusunan LKS sebagai berikut:

1) Tulisan

a) Gunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau

romawi.

b) Gunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik, bukan huruf

biasa yang diberi garis bawah.

c) Gunakan kalimat pendek, tidak boleh lebih dari 10 kata dalam

satu baris.

d) Gunakan bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan

jawaban siswa.

e) Usahakan agar perbandingan besarnya huruf dengan besarnya

gambar serasi.

2) Gambar

Gambar yang baik untuk LKS adalah gambar yang dapat

menyampaikan pesan/isi dari gambar tersebut secara efektif kepada

pengguna LKS.

3) Penampilan

Penampilan sangat penting dalam LKS. Anak pertama-tama akan

(22)

LKS (student worksheet) yang dapat dikatakan baik adalah harus

memenuhi berbagai persyaratan sebagai berikut:

1) Aspek kelayakan isi

Pada aspek kualitas isi/materi, terdapat beberapa hal yang perlu

dilakukan yaitu:

a) Bahasa yang digunakan harus bersifat mengarahkan dan mudah

dimengerti.

b) Penggunaan tanda baca yang tidak menyulitkan.

c) Perintah-perintah yang digunakan dapat dijangkau oleh siswa.

d) Memilih jenis, warna, dan ukuran huruf yang sesuai dengan

penggunaanya.

e) Konsep yang diajarkan harus benar dan tepat.

f) Cakupan materi sudah sesuai KI dan KD.

g) Materi yang dipaparkan sudah sesuai dengan KI dan KD, serta

sesuai dengan tujuan pengembangan.

h) Materi yang disajikan sudah sesuai dengan urutan materi dalam

silabus.

i) Pembelajaran materi mudah dimengeri, jelas, mengaktifkan siswa,

dan memotivasi siswa.

j) Latihan soal yang disajikan dapat membantu pemahaman siswa dan

dapat menggambarkan aplikasi dari apa yang telah siswa pelajari.

k) Soal-soal evaluasi benar-benar mampu mengukur tingkat

(23)

l) Teknik penskoran yang ada harus tepat.

2) Aspek kelayakan bahasa

Yang dimaksud dengan kelayakan bahasa ialah syarat-syarat yang

berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat

kesukaran, dan kejelasan yang pada hakikatnya haruslah tepat guna dalam

arti dapat dimengerti oleh pihak pengguna yaitu siswa.

a) Menggunakan bahasan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan

anak.

b) Menggunakan struktur kalimat yang jelas.

c) Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat

kemampuan siswa.

d) Hindarkan pertanyaan yang terlalu terbuka.

e) Tidak mengacu pada buku sumber yang diluar kemampuan

keterbacaan siswa.

f) Menyediakan ruang yang cukup untuk memberi keleluasaan pada

siswa untuk menulis maupun mengambar pada LKS.

g) Menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek.

h) Gunakan lebih banyak ilustrasi daripada kata-kata.

i) Memiliki tujuan belajar yang jelas serta manfaat dari itu sebagai

sumber motivasi.

j) Mempunyai identitas untuk memudahkan asministrasinya.

3) Aspek kelayakan kegrafikan

(24)

Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau

romawi.

Gunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik, bukan huruf

biasa yang diberi garis bawah.

Gunakan tidak lebih dari 10 kata dalam satu baris.

Gunakan bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan

jawaban siswa.

Usahakan agar perbandingan besarnya huruf dengan besarnya

gambar sesuai.

b) Gambar

Gambar yang baik untuk LKS adalah yang dapat menyampaikan

pesan/isi dari gambar tersebut secara efektif kepada pengguna LKS.

c) Penampilan

Penampilan adalah sangat penting dalam LKS. Kombinasi antara

gambar dan kata akan membuat LKS menjadi lebih baik.

4) Aspek kelayakan penyajian

a) Memperhatikan adanya perbedaan individual.

b) Tekanan pada proses untuk menemukan konsep-konsep sehingga

LKS disini berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi siswa untuk

mencari tahu.

c) Memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan

(25)

d) Dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional,

moral, dan estetika pada diri siswa.

e) Pengalaman belajarnya ditentukan oleh tujuan pengembangan

pribadi siswa (intelektual, emosional dan sebagainya), dan bukan

ditentukan oleh pokok bahasan bahan pelajaran.

5. Model Pembelajaran

Model pembelajaran menurut Joyce dalam Trianto (2010: 22) adalah

suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam

merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan

untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya

buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Setiap model

pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk

membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran

tercapai.

Sedangkan menurut pandangan Paul Eggen dan Don Kauchak(2012: 7),

model pembelajaran adalah pendekatan spesifik dalam mengajar yang

memiliki tiga ciri yaitu:

a. Model mengajar dirancang untuk membantu siswa

mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memperoleh

pemahaman mendalam tentang bentuk spesifik materi.

b. Model mengajar mencakup serangkaian langkah-langkah disebut

“fase” yang bertujuan membantu siswa mencapai tujuan

(26)

c. Model mengajar didukung teori dan penelitian tentang

pembelajaran dan motivasi.

Pemilihan model sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan

diajarkan, juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran

tersebut dan tingkat kemampuan peserta didik. Dalam hal ini, tujuan yang ingin

dicapai peneliti adalah meningkatkan keefektifan pembelajaran. Salah satu

model pembelajaran yang dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran

adalah model pembelajaran Group Investigation (Johnson dan Johnson dalam

Joyce dkk, 2009:321).

6. Group Investigation

Group Investigation merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran

kooperatif. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Herbert Thelan

kemudian diperbaharui dan diteliti oleh Shlomo dan Yael Sharan di Universitas

Tel Aviv. Menurut Seyed Mohammad Hassan Hosseini dalam jurnal

internasionalnya tahun 2014 mengatakan:

Group Investigation method is one of the rare CL methods that gives considerable freedom to participants. Students, in this method, have the latitude to decide on the composition of their teams, assign their roles and responssibilities, establish and clear the norms and their desired behaviours, and set their goals.

Group Investigation adalah salah satu pembelajaran kooperatif yang memberikan kebebasan bagi pesertanya. Siswa, dalam metode ini, mempunyai kebebasan untuk menentukan komposisi timnya, menugaskan kemampuan dan tanggung jawab mereka, menghapuskan norma dan kebiasaan yang diinginkan, dan mengatur tujuan mereka.

(27)

dilakukan secara verbal, atau mungkin merupakan pengalaman yang nyata

ataupun pengalaman yang direkayasa oleh guru. Jika siswa bereaksi, guru akan

menggiring perhatian mereka terhadap reaksi mereka masing-masing. Saat

siswa mulai tertarik pada perbedaan reaksi tersebut, guru menggiring siswa

untuk merumuskan serta menyusun masalah bagi diri mereka sendiri.

Kemudian siswa menganalisis beberapa peran yang dibutuhkan, mengatur diri

mereka sendiri, bertindak dan melaporkan hasil yang mereka dapatkan.

Akhirnya masing-masing kelompok mengevaluasi solusi permasalahan yang

dicocokan dengan maksud dan tujuan utama (Joyce dkk, 2009: 318).

Peran guru dalam investigasi kelompok adalah sebagai narasumber dan

fasilitator. Guru tersebut berkeliling di antara kelompok-kelompok yang ada

dan untuk melihat bahwa mereka bisa mengelola tugasnya, dan membantu tiap

kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah

dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan proyek

pembelajaran. (Slavin, 2010: 217)

Sedangkan menurut Setiawan (2006:12), peranan guru dalam

pembelajaran Group Investigation sebagai berikut:

a. Memberikan informasi dan instruksi yang jelas

b. Memberikan bimbingan seperlunya dengan menggali pengetahuan

siswa yang menunjang pada pemecahan masalah (bukan menunjukan

cara penyelesaianya).

c. Memberikan dorongan sehingga siswa lebih termotivasi.

(28)

e. Memimpin diskusi pada pengambilan kesimpulan akhir.

Sistem pendukung dalam investigasi kelompok haruslah ekstensif dan

responsif terhadap semua kebutuhan siswa. Sekolah harus dilengkapi dengan

sebuah ruang perpustakaan yang menyediakan informasi dan opini dari

berbagai macam media. Sekolah juga harus memberikan akses terhadap

referensi-referensi luar. Siswa harus didorong untuk melacak dan menghubungi

orang-orang yang bisa dijadikan referensi di luar sekolah.

Penerapan dari model pembelajaran investigasi kelompok tidaklah rumit.

Dengan kelompok yang terdiri dari beberapa siswa yang baru mengenal

metode ini, investigasi dalam skala kecil sangatlah dimungkinkan. Penyajian

masalah dimulai dari penyajian isu, topik, informasi, dan aktivitas alternatif

dalam lingkup lokal. Menurut Johnson dkk dalam Joyce dkk (2009: 321),

review dan penelitian dapat menimbulkan anggapan bahwa bekerja sama dapat

meningkatkan energi belajar dan penghargaan terhadap performa kelompok

sangat efektif serta dapat menimbulkan peningkatan yang signifikan terhadap

energi kelompok. Selain itu praktik mengajar antar kawan sebaya juga

menimbulkan efek positif karena memunculkan sebuah tim yang heterogen dan

saling melengkapi.

Menurut pandangan Slavin dalam Joyce dkk (2009: 321), pembelajaran

dengan investigasi kelompok dapat dilakukan dengan membagi tugas yang

berbeda saat kelompok tengah mengerjakan suatu tugas proyek. Cara tersebut

dapat meningkatkan energi dari masing-masing siswa. Masing-masing individu

(29)

pada siswa lain. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin beragam bahan

yang dipelajari dalam suatu kelompok, maka perilaku atau tanggung jawab

terhadap tugas akan semakin positif.

Sedangkan menurut penelitian Sharan dalam Joyce dkk (2009: 321),

semakin tinggi daya kooperatif suatu kelompok maka akan semakin positif

energi yang dimiliki siswa dalam mengerjakan tugas maupun bergaul dengan

temannya. Kompleksitas sosial yang semakin bagus akan meningkatkan

prestasi dan capaian dari beberapa tujuan pembelajaran yang lebih kompleks,

baik secara konsep maupun teori. Menurut penelitian ini, peningkatan

informasi dalam pembelajaran juga dapat meningkatkan skill yang dimiliki

siswa.

Langkah-langkah dalam pembelajaran Group Investigation menurut

Joyce dkk (2009: 319) adalah sebagai berikut:

a. Fase pertama: Siswa dihadapkan pada keadaan yang penuh teka-teki

dan membingungkan (direncanakan atau tidak)

b. Fase kedua: Siswa mengeksplorasi reaksi terhadap situasi.

c. Fase ketiga: Siswa merumuskan tugas dan mengatur pelajaran

(masalah definisi, peran, tugas, dll)

d. Fase keempat: Kemandirian dalam kelompok belajar

e. Fase kelima: Siswa menganalisis kemajuan dan proses

f. Fase keenam: Mendaur ulang aktivitas.

Sedangkan menurut Slavin (2010: 218), pembelajaran model Group

(30)

1) Mengidentifikasikan topik dan mengatur murid ke dalam kelompok.

a) Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik

dan mengkategorikan saran-saran.

b) Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari

topik yang telah mereka pilih.

c) Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus

bersifat heterogen.

d) Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi

pengaturan.

2) Merencanakan tugas yang akan dipelajari

a) Para siswa merencanakan bersama mengenai:

Apa yang kita pelajari?

Bagaimana kita mempelajarinya? Siapa melakukan

apa?(pembagian tugas)

Untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini?

3) Melaksanakan investigasi

a) Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan

membuat kesimpulan.

b) Tiap anggota kelompok berkontribusinuntuk usaha-usaha yang

dilakukan kelompoknya.

c) Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan

mensintesis semua gagasan.

(31)

a) Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari proyek

mereka.

b) Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan,

dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka.

c) Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk

mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi

5) Mempresentasikan laporan akhir

a) Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam

bentuk.

b) Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya

secara aktif.

c) Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan

presentasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya

oleh seluruh anggota kelas.

6) Evaluasi

a) Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik

tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai

eefektifan pengalaman-pengalaman mereka.

b) Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran

siswa.

c) Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling

(32)

Setiawan (2006: 9) mendeskripsikan beberapa kelebihan dari pembelajaran

Group Investigation, yaitu sebagai berikut:

1) Secara Pribadi

a) dalam proses belajarnya dapat bekerja secara bebas

b) memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif

c) rasa percaya diri dapat lebih meningkat

d) dapat belajar untuk memecahkan, menangani suatu masalah

2) Secara Sosial / Kelompok

a) meningkatkan belajar bekerja sama

b) belajar berkomunikasi baik dengan teman sendiri maupun guru

c) belajar berkomunikasi yang baik secara sistematis

d) belajar menghargai pendapat orang lain

e) meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan

Ufuk Simsek dalam Jurnal Internasionalnya tahun 2012 menyatakan

bahwa, “Some factors that contribute to the success of the cooperative learning

methods (Group Investigation) are that students help each other during group

work and the students actively participate in reaching course goals.” Hal ini

berarti bahwa beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kesuksesan dari

kooperatif learning dalam hal ini adalah Group Investigation adalah bahwa

siswa saling membantu selama pekerjaan grup berlangsung dan siswa secara

aktif berpartisipasi dalam mencapai tujuan pembelajaran.” Ini menunjukkan

bahwa salah satu kelebihan dari Group Investigation adalah bahwa siswa saling

(33)

Berdasarkan pemaparan mengenai model pembelajaran Group

Investigation tersebut, jelas bahwa model pembelajaran Group Investigation

mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan lebih bermakna. Artinya siswa

dituntut selalu berfikir tentang suatu persoalan dan mereka mencari sendiri cara

penyelesaiannya. Dengan demikian mereka akan lebih terlatih untuk selalu

menggunakan keterampilan pengetahuannya, sehingga pengetahuan dan

pengalaman belajar mereka akan tertanam untuk jangka waktu yang cukup lama

(Setiawan, 2006: 9).

7. Kriteria Kualitas Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran memiliki peran penting dalam kegiatan

pembelajaran di kelas. Kegiatan pembelajaran yang diharapkan adalah kegiatan

pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta

memotivasi siswa untuk dapat berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang

cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat,

dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Oleh karena itu, perangkat

pembelajaran yang dikembangkan harus memiliki kualitas yang baik. Untuk

mencapai kualitas perangkat pembelajaran yang baik, maka diperlukan beberapa

kriteria yang dapat dijadikan acuan konsep berkualitas yang diharapkan.

Menurut Nieveen (1999:127), kualitas produk dalam pendidikan, dalam

penelitian ini adalah perangkat pembelajaran yang dikembangkan, dapat dilihat

dari tiga aspek, yaitu kevalidan, kepraktisan dan keefektifan. Berikut penjelasan

dari ketiga aspek tersebut.

(34)

Aspek kevalidan merupakan suatu kriteria kualitas perangkat

pembelajaran dilihat dari materi yang terdapat di dalam perangkat

pembelajaran. Perangkat pembelajaran termasuk dalam kategori valid jika

materi yang terdapat dalam perangkat pembelajaran sesuai dengan

pengetahuan state-of-the-art dan semua komponen dalam perangkat

pembelajaran terhubung secara konsisten (Nieveen, 1999:127).

Tingkat kevalidan pada perangkat pembelajaran yang dikembangkan

ditentukan dari pendapat para ahli. Para ahli dalam hal ini adala dosen

FMIPA UNY dan guru matematika yang akan memberikan saran dan

penilaian terkait dengan aspek kevalidan perangkat pembelajaran yang

dikembangkan.

b. Kepraktisan

Aspek kepraktisan merupakan kriteria kualitas perangkat pembelajaran

ditinjau dari tingkat kemudahan siswa dalam menggunakan perangkat

pembelajaran yang dikembangkan (Nieveen, 1999:127). Oleh karena itu,

dalam mengembangkan perangkat pembelajaran sebaiknya dapat

disesuaikan dengan harapan dan kebutuhan di lapangan.

Tingkat kepraktisan pada perangkat pembelajaran yang dikembangkan

dapat ditentukan melalui angket respons siswa. Angket respons ini

digunakan untuk mengetahui tanggapan pengguna perangkat pembelajaran

yang dikembangkan. Perangkat pembelajaran dikatakan praktis jika hasil

dari pengisian angket respons siswa berada pada kriteria minimal baik.

(35)

Hamzah B. Uno (2008:138) menyatakan bahwa keefektifan proses

pembelajaran diukur dengan tingkat pencapaian siswa pada tujuan

pembelajaran yang telah ditetapkan. Perangkat pembelajaran dikatakan

efektif jika tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan suatu kriteria

tertentu. Pada penelitian ini, keefektifan perangkat pembelajaran diukur

dengan tes hasil belajar. Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk

menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah diberikan guru kepada peserta

didiknya dalam jangka waktu tertentu (Harjanto, 2008:278). Perangkat

pembelajaran dikatakan efektif jika dapat mempengaruhi ketuntasan

belajar siswa sesuai dengan harapan atau lebih dari sama dengan KKM

yang ditetapkan.

8. Perangkat Pembelajaran berbasis Model Pembelajaran Group Investigation

Perangkat pembelajaran berbasis model pembelajaran Group

Investigation yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari RPP dan

LKS. Langkah-langkah pembelajaran dalam RPP yang dikembangkan ini

berbasis model pembelajaran Group Investigation, yaitu sebagai berikut.

1) Pengelompokkan

Dalam tahap ini, guru menjelaskan kepada siswa secara garis besar

apa yang akan dipelajari dan permasalahan yang akan diselesaikan,

kemudian membagi siswa kedalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4

siswa per kelompok.

(36)

Pada tahap ini, masing-masing kelompok merencanakan kegiatan

belajar dalam kelompok untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

3) Penyelidikan

Pada tahap ini masing-masing kelompok melakukan rencana yang

telah mereka susun untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah yang

dihadapi dengan memanfaatkan sumber belajar maupun lingkungan

sosialnya untuk mempelajari topik tersebut.

4) Pengorganisasian

Pada tahap ini, siswa mempersiapkan dan merencanakan apa yang akan

mereka sampaikan di depan kelas dengan membuat sajian untuk

dipresentasikan.

5) Presentasi

Pada tahap ini setiap kelompok menampilkan hasil diskusi

masing-masing kelompok di depan kelas agar semua siswa di dalam kelas

memahami materi yang sedang dipelajari.

6) Evaluasi

Pada tahap ini, guru melakukan evaluasi terhadap hasil diskusi

kelompok yang telah dipresentasikan, serta melakukan evaluasi secara

individu.

Pada tahap perencanaan dan penyelidikan, kegiatan pembelajaran

difasilitasi dengan menggunakan LKS yang telah dikembangkan. Masalah

yang akan diselesaikan dicantumkan dalam LKS. Siswa menuliskan

(37)

siswa melakukan tahap penyelidikkan dengan cara mengumpulkan informasi

baik dari keterangan yang tersedia di LKS maupun dari lingkungan sekitar

peserta didik. LKS yang dikembangkan dalam penelitian ini bersifat

kontekstual realistik agar proses pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran

kontekstual menurut Trianto (2010: 107) adalah konsep belajar yang

membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi

dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka

sehari-hari. Sedangkan realistik adalah bersifat nyata, artinya isi perangkat

pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan realita yang ada dalam

kehidupan sehari-hari.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

1. Skripsi yang berjudul “Pengaruh Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe

Group Investigation dan Jigsaw pada Materi Pokok Garis Singgung

Lingkaran Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Kelas VII”

2. Skripsi yang berjudul “Penggunaan Pendekatan Group Investigation Sebagai Upaya Meningkatkan Kemandirian Dan Prestasi Belajar Siswa

Pada Pembelajaran Matematika di SMP N 1 Seyegan”.

3. Jurnal yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation dengan Metode Co-op Co-op terhadap Pemahaman Konsep Matematika

Siswa SMP”

Dalam penelitian ini akan diuji keefektifan perangkat pembelajaran ini

(38)

dilakukan sebelumnya, model pembelajaran Group Investigation berpengaruh

baik dan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain itu, model

pembelajaran Group Investigation juga mempunyai pengaruh terhadap

pemahaman konsep matematika siswa SMP. Oleh karena itu, diharapkan

perangkat pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini memenuhi

kriteria efektif.

C. Kerangka Berpikir

Pembelajaran yang terjadi di sekolah saat ini masih terbiasa dengan

pembelajaran konvensional dimana fokus utama yang peserta didik tangkap dari

pengajaran ini adalah mendapatkan jawaban. Guru menerangkan materi di depan

kelas sementara siswa mendengarkan. Pemberian materi biasanya diawali

dengan pengenalan definisi suatu topik kemudian dilanjutkan dengan pemberian

rumus dan pemberian soal dimana soal tersebut cara mengerjakannya hanya

menerapkan rumus yang telah tersedia.

Suasana belajar seperti yang diuraikan di atas menyebabkan siswa

menjadi pasif karena siswa hanya menerima ilmu yang disampaikan oleh guru

tanpa membangun sendiri pengetahuaanya. Selain itu, pembelajaran juga tidak

kontekstual sehingga siswa tidak mengetahui manfaat dari mempelajari

matematika serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengubah pembelajaran model konvensional kepada

pembelajaran yang inovatif, yaitu pembelajaran yang menuntut agar peserta

didik memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang

(39)

kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia, maka

dilakukan berbagai macam upaya, salah satunya yang dilakukan oleh peneliti

adalah pembuatan perangkat pembelajaran berbasis pendekatan Group

Investigation.

Penggunaan perangkat pembelajaran matematika berbasis model

pembelajaran Group Investigation bertujuan untuk memberikan inovasi

pembelajaran matematika agar siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri

dan tertarik untuk mempelajari matematika karena materi yang diajarkan bersifat

kontekstual dan realistik. Peserta didik diharapkan mempunyai kemampuan

untuk dapat menerapkan pengetahuan yang telah ditemukan atau dibangun itu

serta mengetahui makna dari pembelajaran matematika.

D. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimanakah kelayakan bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan

aspek kevalidan pada materi aritmetika sosial berbasis model

pembelajaran Group Investigation untuk siswa SMP Kelas VII?

2. Bagaimanakah kelayakan bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan

aspek kepraktisan pada materi aritmetika sosial berbasis model

pembelajaran Group Investigation untuk siswa SMP Kelas VII?

3. Bagaimanakah kelayakan bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan

aspek keefektifan pada materi aritmetika sosial berbasis model

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Prosedur Pengembangan

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk

mengembangkan perangkat pembelajaran matematika berupa RPP dan LKS pada

materi aritmetika sosial untuk SMP kelas VII dengan model pembelajaran Group

Investigation sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development)

yang bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS

pada materi aritmetika sosial. Menurut Wina Sanjaya (2013:129), research and

development merupakan proses pengembangan dan validasi produk pendidikan.

Dalam research and development setidaknya ada tiga hal yang harus dipahami yakni;

1) tujuan akhir research and development adalah suatu produk yang andal karena

melewati pengkajian terus menerus; 2) produk yang dihasilkan sesuai dengan

kebutuhan lapangan; 3) proses pengembangan produk dari mulai pengembangan

produk awal sampai produk jadi yang sudah divalidasi.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengembangan

ADDIE. ADDIE dikembangkan oleh Dick dan Carry (Endang Mulyatiningsih,

2012:200) untuk merancang sistem pembelajaran. Metode pengembangan ADDIE

terdiri dari tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation,

(41)

1. Analysis

Pada tahap ini dilakukan analisis masalah perlunya suatu pengembangan.

Tahap analisis memuat analisis kebutuhan, analisis kurikulum, dan analisis

karakteristik siswa.

Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan menganalisis bahan ajar yang

tersedia. Pada tahap ini akan diketahui bahan ajar apa yang perlu dikembangkan

untuk memfasilitasi peserta didik. Analisis selanjutnya adalah analisis kurikulum

yang dilakukan dengan memperhatikan karakteristik kurikulum yang digunakan.

Hal ini dilakukan agar bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan

kurikulum yang berlaku. Langkah selanjutnya adalah mengkaji KD untuk

merumuskan indikator-indikator pencapaian pembelajaran. Analisis yang terakhir

adalah analisis karakter peserta didik yang dilakukan dengan observasi saat

pembelajaran matematika.

2. Design

Setelah tahap analisis selesai, tahap selanjutnya yaitu tahap design. Pada

tahap ini dilakukan penentuan komponen-komponen penyusun perangkat

pembelajaran baik berupa RPP maupun LKS. Penyusunan rancangan awal RPP

dan LKS dilakukan dengan langkah-langkah yang telah diuraikan pada

pembahasan sebelumnya. Pada tahap ini juga dilakukan penyusunan instrumen

penilaian perangkat pembelajaran dan angket respons. Instrumen disusun dengan

memperhatikan aspek penilaian LKS yaitu aspek kesesuaian dengan syarat

(42)

digunakan. Selanjutnya instrumen tersebut divalidasi oleh ahli materi, ahli media,

dan guru matematika.

3. Development

Setelah selesai tahap design, tahap selanjutnya yaitu tahap development.

Tahap ini merupakan tahap pengembangan RPP dan LKS. Kemudian RPP dan

LKS tersebut divalidasi oleh ahli materi, ahli media, dan guru matematika.

Validasi dilakukan hingga pada akhirnya RPP dan LKS dinyatakan valid.

4. Implementation

Setelah RPP dan LKS dinyatakan valid, perangkat tersebut diuji cobakan

secara terbatas pada sekolah yang telah ditentukan sebagai tempat penelitian. Pada

tahap ini dilakukan pengujian tes hasil belajar peserta didik untuk mengetahui

keefektifan dari LKS yang dikembangkan. Kemudian pada tahap ini juga

dilakukan pengisian angket respons yang diisi oleh peserta didik. Angket respons

ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepraktisan LKS yang dikembangkan.

Setelah didapatkan data dari tes hasil belajar dan angket respons maka data

tersebut diolah kemudian dianalisis.

5. Evaluation

Pada tahap ini peneliti melakukan revisi terhadap LKS berdasarkan masukan

yang didapat dari angket respons. Hal tersebut bertujuan agar LKS yang

dikembangkan benar-benar sesuai dan dapat digunakan oleh sekolah yang lebih

(43)

B. Waktu, Tempat, dan Subjek Penelitian 1. Waktu penelitian

Penelitian ini dalam pelaksanaannya dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:

a. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan meliputi: pengajuan judul, penyususnan

proposal penelitian, seminar judul proposal, penyusunan instrumen

penelitian dan pengajuan ijin penelitian. Tahap ini akan dilaksanakan

mulai bulan September 2014 sampai dengan bulan Maret 2015.

b. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan meliputi uji coba instrumen penelitian dan

pengumpulan data. Tahap ini dilaksanakan pada bulan Februari 2015

sampai dengan bulan April 2015.

c. Tahap Penyelesaian

Tahap ini meliputi proses analisis data dan penyusunan laporan

penelitian. Tahap ini dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan

bulan Mei 2015.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP N 1 Tawangmangu

3. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah kelas VII SMP N 1 Tawangmangu tahun

(44)

C. Uji Coba Produk 1. Desain Uji Coba

Uji coba terdiri dari beberapa langkah:

a. Validasi produk oleh ahli

Dilaksanakan oleh 3 ahli yang terdiri dari 1 dosen ahli materi, 1 dosen

ahli media dan 1 guru matematika.

b. Revisi produk berdasarkan saran dari ahli materi

c. Uji coba

d. Revisi produk berdasarkan saran hasil uji coba

2. Subjek Uji Coba

Subjek dari uji coba ni adalah siswa kelas VII SMP N 1 Tawangmangu

sebanyak 64 siswa dan ahli materi terdiri dari 2 dosen ahli dan 1 guru

matematika.

3. Jenis Data

a. Data kualitatif

Data kualitatif berupa masukan, kritikan, tanggapan, dan saran yang

berkaitan dengan perangkat pembelajaran yang dikembangkan.

b. Data kuantitatif

Data kuantitatif yaitu data yang berwujud angka-angka sebagai hasil

observasi atau pengukuran. Data ini diperoleh dari hasil penelitian ahli

materi LKS dan ahli media LKS, penilaian kualitas RPP, hasil angket

respons siswa serta hasil tes belajar siswa yang digunakan untuk menilai

(45)

D. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket penilaian

produk untuk menilai aspek kevalidan, angket respons siswa untuk menilai

aspek kepraktisan, dan soal hasil tes belajar siswa untuk menilai aspek

keefektifan.

1. Angket Penilaian

Angket merupakan salah satu bentuk instrumen penilaian yang dilakukan

dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk

diberikan respons.(S. Eko Putro Widoyoko, 2014: 155). Angket digunakan

untuk menilai perangkat pembelajaran, terdiri dari:

a. Angket untuk ahli materi LKS

b. Angket untuk ahli media LKS

c. Angket penilaian kualitas RPP

2. Angket Respons Siswa

Angket bertujuan untuk mendapatkan data mengenai pendapat siswa

tentang proses pembelajaran yang mereka alami menggunakan lembar kerja

siswa berbasis Group Investigation yang telah disusun peneliti. Angket

berbentuk Likert dengan 4 kategori penilaian: sangat setuju (skor 4), setuju

(skor 3), kurang setuju (skor 2), tidak setuju (skor 1).

3. Tes Hasil Belajar Siswa

Tes berbentuk uraian bebas artinya peserta tes, dalam hal ini siswa,

bebas untuk mengorganisasikan dan mengekspresikan pikiran dan

(46)

Tes hasil belajar bertujuan untuk memperoleh data tentang penguasaan

materi yang diberikan setelah siswa mengikuti pembelajaran dengan

menggunakan perangkat berbasis Group Investigation yang dilaksanakan di

akhir uji coba.

E. Teknik Analisis Data 1. Analisis Kevalidan

Instrumen yang digunakan untuk menganalisis kevalidan ialah angket

penilaian. Data angket penilaian terhadap perangkat pembelajaran pada

materi aritmetika sosial dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Melakukan tabulasi data oleh validator yang diperoleh dari dosen

ahli dan guru matematika. Tabulasi data dilakukan dengan

memberikan penilaian pada aspek penilaian dengan memberikan

skor 5, 4, 3, 2, 1 berdasarkan skala pengukuran rating scale (skala

lanjutan). Skor 5 untuk kategori sangat baik, skor 4 untuk kategori

baik, skor 3 untuk kategori cukup, skor 2 untuk kategori kurang

baik dan skor 1 untuk kategori tidak baik.

b. Perhitungan rata-rata skor tiap aspek

Tahap ini merupakan tahap yang dilakukan setelah data skor

penilaian kevalidan produk ditabulasi. Pada tahap ini, data skor

penilaian kevalidan RPP dan LKS yang telah ditabulasi kemudian

dihitung rata-ratanya untuk setiap aspek. Rata-rata skor tiap aspek

penilaian kevalidan RPP dan LKS dihitung menggunakan rumus

(47)

�̅ =∑�= ��

Keterangan:

�̅ = rata-rata tiap aspek penilaian kevalidan produk ∑�= �� = jumlah skor tiap aspek penilaian kevalidan produk

� = jumlah butir penilaian tiap aspek penilaian kevalidan produk

c. Pembandingan rata-rata skor tiap aspek dengan kriteria yang

ditentukan.

Pada tahap ini, rata-rata skor tiap aspek yang telah didapat pada

tahap sebelumnya dinyatakan dalam nilai kualitatif. Cara yang digunakan

untuk menyatakan rata-rata skor tiap aspek dalam nilai kualitatif adalah

dengan membandingkannya dengan kriteria penilaian kualitas tertentu.

Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 1

[image:47.595.176.510.458.687.2]

(Eko Putro Widoyoko, 2009: 238).

Tabel 1. Kriteria Penilaian Kualitas RPP dan LKS Interval Rata-rata Skor Klasifikasi

� > �̅�+ ,8 × ��� Sangat baik �̅�+ ,6 × ��� < � ≤ �̅� + ,8 × ��� Baik

�̅�− ,6 × ��� < � ≤ �̅� + ,6 × ��� Cukup �̅�− ,8 × ��� < � ≤ �̅� − ,6 × ��� Kurang

� > �̅�− ,8 × ��� Sangat Kurang

Keterangan:

�̅� = rata-rata ideal

= (skor maksimum ideal + skor minimum ideal) ��� = simpangan baku ideal

=

(48)

Dalam penelitian ini, skor maksimal ideal adalah 5 dan skor

minimal ideal adalah 1. Berdasarkan Tabel 1, dapat diperoleh pedoman

dalam menyatakan rata-rata skor tiap aspek menjadi data kualitatif.

[image:48.595.154.518.576.730.2]

Pedoman pengubahan dapat dilihat dalam Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Pedoman Pengubahan Rata-rata Skor Tiap Aspek Menjadi Data Kualitatif

Interval Rata-rata Skor Klasifikasi

� > , Sangat baik

, < � ≤ , Baik

,6 < � ≤ , Cukup

,8 < � ≤ ,6 Kurang

� ≤ ,8 Sangat Kurang

d. Penghitungan rata-rata skor total penilaian produk.

e. Pembandingan rata-rata skor total dengan kriteria penilaian kualitas

RPP dan LKS pada tabel 2. Produk dikatakan valid jika memenuhi

klasifikasi minimum baik.

2. Analisis Kepraktisan

Analisis kepraktisan dinilai berdasarkan respons peserta didik terhadap

penerapan model pembelajaran Group Investigation dengan menggunakan

perangkat yang telah dikembangkan.

a. Analisis data ini menggunakan skala Likert yaitu pemberian skor 1-4 terhadap pernyataan.

Tabel 3. Pedoman Penskoran Angket Respons Siswa

Pilihan Jawaban Pernyataan

Positif Negatif

Sangat setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak setuju 2 3

(49)

b. Setelah dilakukan penskoran maka selanjutnya adalah menghitung

rata-rata skor untuk masing-masing aspek yang diamati menggunakan

rumus:

�̅ = ∑ ���

Keterangan:

� = banyaknya responden

�̅ = rata-rata perolehan skor tiap aspek ∑ �� = jumlah perolehan skor tiap aspek � = banyaknya butir pernyataan tiap aspek

c. Mengkonversikan skor rata-rata yang diperoleh menjadi nilai

kualitatif sesuai kriteria skala 5 seperti pada tabel 2 sehingga diperoleh

kualifikasi penilaian seperti tabel 4. Perangkat pembelajaran dikatakan

praktis jika minimal kualifikasi tingkat kepraktisan yang diperoleh

[image:49.595.176.516.482.587.2]

adalah baik.

Tabel 4. Pedoman Pengubahan Rata-rata Skor Tiap Aspek Menjadi Data Kualitatif

Interval Rata-rata Skor Klasifikasi

� > , Sangat baik

,8 < � ≤ , Baik

, < � ≤ ,8 Cukup

,6 < � ≤ , Kurang

� ≤ ,6 Sangat Kurang

3. Analisis Keefektifan

Analisis keefektifan dinilai dari tes hasil belajar siswa. Untuk menentukan

klasifikasi intrepretasi data digunakan pedoman sebagai berikut:

Persentase ketuntasan (p) = � �ℎ � �� �� � �

(50)

Berikut ini adalah pedoman yang akan digunakan untuk menentukan

interpretasi data ketuntasan belajar siswa menurut S. Eko Putro Widyoko

[image:50.595.203.499.195.299.2]

(2009:242) yang disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kriteria Penilaian Keefektifan RPP dan LKS Presentase Ketuntasan Klasifikasi

> 8 Sangat Baik

> 6 − 8 Baik

> − 6 Cukup

> − Kurang

≤ Sangat Kurang

Perangkat pembelajaran berbasis model pembelajaran Group

Investigation pada materi aritmetika Sosial dianggap efektif apabila

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono. 2010. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Andi Prastowo. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.

Asep Jihad dan Abdul Haris. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Presindo.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar. Jakarta: Depdiknas.

Eggen, Paul dan Don Kauchak. 2012. Strategie and Models for Teacher: Teaching Content and Thinking Skills, Sixth Edition. Penerjemah: Satrio Wahono. Jakarta: PT. Indeks.

Endang Mulyatiningsih. 2012. Riset Terapan. Yogyakarta: UNY Press.

Endang Widjajanti. 2008. Kualitas Lembar Kerja Siswa. Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat dengan Judul Pelatihan Penyusunan LKS Mata Pelajaran Kimia Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan bagi Guru SMK/MAK: FMIPA UNY. Diakses dari http://staff.uny.ac.id/system/files/pengabdian/endang-widjajanti-lfx-ms-dr/kualitas-lks.pdf. pada tanggal 15 Mei 2014.

Faticha Rizky. 2015. Pengaruh Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dan Jigsaw pada Materi Pokok Garis Singgung Lingkaran Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Kelas VII. Skripsi. FMIPA UNY

Hamzah B. Uno. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad. 2013. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara.

Harjanto. 2008. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Hendro Darmodjo dan Jenny R. E. Kaligis. 1992. Pendidikan IPA II. Jakarta: Depdikbud.

Gambar

Tabel 1. Kriteria Penilaian Kualitas RPP dan LKS Interval Rata-rata Skor Klasifikasi
Tabel 2. Pedoman Pengubahan Rata-rata Skor Tiap Aspek Menjadi Data Kualitatif
Tabel 4. Pedoman Pengubahan Rata-rata Skor Tiap Aspek Menjadi Data Kualitatif
Tabel 5. Kriteria Penilaian Keefektifan RPP dan LKS Presentase Ketuntasan  Klasifikasi

Referensi

Dokumen terkait

good corporate governance dan karakteristik perusahaan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan. Dalam penelitian ini kualitas GCG dinilai dengan skor

Tahap Aplikasi Adsorben dalam Pemurnian Minyak Goreng Bekas Pakai terdiri dari proses filtrasi minyak goreng bekas pakai yang digunakan pada tahap kajian pengaruh

PP ini diha- an pemerintah maupun pemerintah rapkan menjadi dasar untuk melaku- i daerah yang ironinya, di satu sisi, ma- kan tata hutan nasional, perencanaan : sih

[r]

Dari data nilai viskositas instrinsik pada minggu ke-0 dari empat komposisi film poliblen PCL dengan PGA, komposisi 50%:50% merupakan poliblen PCL dengan PGA dengan bobot

Pengamatan Keragaman Kupu-kupu Pengamatan kupu-kupu dilakukan pada empat lokasi di kawasan Telaga Warna yaitu sekitar telaga, kebun teh, tepi hutan, dan sekitar rumah (Lampiran

[r]

Pertama penulis panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis diberikan kemudahan dalam menyelesaikan