Prof. Dr. H.M. Amien Rais M.A.
JANGAN MENYALAHKAN RAKYAT
[Pasca Pemilu Presiden RI tahap I pada 5 Juli 2004, keluarga besar Muhammadiyah di Yogyakarta dan sekitarnya bertemu (untuk pertama kalinya) dengan Prof. Dr. H.M. Amien Rais. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Majelis Pengembangan Kader dan Sumber Daya Insani PP Muhammadiyah, di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro 23 Yogyakarta, pada 25 Juli 2004 dengan tajuk Silaturrahmi (Agak) Terbatas untuk mendengar cerita Pak Amien, kata Dr. H. Khoiruddin Bashori, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, ketika memandu acara. Seperti diberitakan media, saat itu Pak Amien baru beberapa hari pulang dari Umrah beserta seluruh anggota keluarga. Berikut laporan pertemuan dengan Pak Amien, seputar pilpres yang lalu.]
Saya melihat sesungguhnya pada zaman reformasi ini ada fursoh dzahabiyah, golden chance, ada kesempatan emas, kalau kita tangkap dan betul-betul kita dukung dengan perjuangan sungguh-sungguh, hasilnya mungkin juga lebih memuaskan.
Saya akan memulai dengan ketika Mas Dien Syamsuddin mengumpulkan sekitar 40 pimpinan ormas Islam di rumah saya, waktu itu Saudara Husein Umar (dari DDII) memberikan statemen yang sesungguhnya sangat pas. Dia mengatakan: Sesungguhnya pergulatan pilpres 5 Juli itu hakekatnya sebuah perjuangan ideologis, dalam arti kata yang sebenar-benarnya. Artinya, perjuangan ideologi itu menyangkut eksistensi kita di masa mendatang. Dengan kata lain, sesungguhnya perjuangan pilpres kemarin itu adalah sebuah existension struggle, sebuah perjuangan yang menyangkut eksistensi kita; apakah akan lebih bagus di masa depan atau lebih buruk.
Sayang seribu sayang, orang yang berpikiran seperti Husein Umar itu di kalangan umat Islam tidak begitu merata. Di Muhammadiyah pun, terus terang, sudah agak terlambat. Saya tidak akan meratapi, tetapi saya akan menyadarkan bahwa setelah ini kita punya tugas yang semakin berat.
Berulangkali saya menyatakan bahwa hikmah reformasi adalah menjebol pintu gerbang yang selama ini tertutup, tiba-tiba terbuka bagi umat Islam Indonesia, untuk menentukan nasibnya, dengan usaha, perjuangan dan kreativitas umat sendiri.
Sekarang saya lebih berani mengungkapkan, karena sudah selesai, bahwa di kalangan kita umat Islam dan sebagian warga Muhammadiyah sepertinya kurang faham, bahwa kepemimpinan nasional di negeri ini memang amat sangat menentukan buat Muhammadiyah sendiri maupun bangsa dan umat pada umumnya.
Saya tersodok ketika ada tokoh Muhammadiyah yang mengatakan bahwa Muhammadiyah netral-netral saja. Menurut saya, itu tidak mudeng (faham) masalahnya. Malah, saya agak malu dengan Saudara Anwar Fuadi (seorang tokoh bintang sinetron) ketika dia mengumpulkan bintang-bintang sinetron dan dia menyatakan mengapa dia mendukung Amien Rais. “Karena saya ingat Dante Aligeri (filosof Italia) yang mengatakan: The worst spot in the hell is reserve for those people who took neutral position in a social and political crisis”. Tempat yang paling buruk di neraka disediakan untuk orang-orang yang tetap saja mengambil sikap netral dalam keadaan krisis sosial politik.
Berbicara dalam konteks umat Islam, saya ingat ketika di Kairo, keluarga pelajar Indonesia biasanya terbagi dalam dua kelompok: kelompok Bintang Sembilan (BS – Nahdhiyyin) dan kelompok Bulan Bintang (BB – Masyumi, Al-Irsyad, Muhammadiyah, dan lain-lain). Sesungguhnya kepaduan antara kelomnpok BS dan BB dari zaman ke zaman bukannya makin kukuh, melainkan malah semakin cair, semakin tidak jelas posisi masing-masing.
Ketika hari pertama dan hari kedua di Mekkah, terus terang, saya agak gundah. Ya Allah, apa gerangan salah saya? Saya pikir saya sudah melewati a long political journey, sebuah perjalanan politik yang lumayan panjang, sejak 1993 (dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah menembakkan isu suksesi), kemudian ikut reformasi dan sebagainya, dan tidak pernah surut, dan segala macam upaya juga telah saya dan teman-teman kerjakan. Mengapa kalah? Jawaban yang paling tidak terbantahkan adalah: karena Allah tidak menghendaki! Tapi, itu kan perlu kita urai mengapa?
Pada hari ketiga, saya mendapat jawaban yang cukup melegakan. Pertama, saya ingat di tahun 1999 ketika reformasi masih begitu hangat, begitu membuncah. Amien Rais dikenal sebagai Bapak Reformasi, PAN cuma mendapat tujuh persen. Jadi, kalau sekarang mendapat 15 persen (dalam pilpres 5 Juli) sudah alhamdulillah, al kulli hal. Kedua, saya lantas ingat Al-Qur’an; jadi, anak cucu Adam itu memang berat untuk diajak hijrah, pindah ke suasana yang baru. Wa-idza qila lahumut-tabi’u ma anzalallah, qolu hal nattabi’u ma wajadna. Awalau kana
aba’uhum yad’una ila azabis-sa’ir. Mengapa kamu tidak mengikuti jalan Tuhan, jalan kebenaran? Jawabnya: kami sudah punya warisan nenek moyang kami sendiri. Sekalipun syaitan itu menggiring mereka kepada azabis-sa’ir.
Kemudian ada juga ayat yang berbunyi: Wala’in sa’altahum man kholaqos- samawati wal-ardhi layaqulunnallah, qulilhamdulillah, bal aktsaruhum la ya’lamun. Kalau kamu tanya kepada kebanyakan manusia, siapa yang membuat langit dan bumi, mereka pasti menjawab: Allah. Tetapi kalau ditanya, mengapa kamu tidak menyembah Allah? Jawabnya, ya suka-suka!
Dalam qiyas yang lebih rendah (bukan qiyas al-Qur’an maupun Hadis), dengan tingkat perbandingan seperseribu sekian di bawahnya, kalau kita masuk ke pasar kemudian bertanya: Pak, Bu, Sampeyan tahu Amien Rais? “Tahu, ketua MPR”. Dia korupsi tidak? “Tidak”. Dengan rakyat dekat, tidak? “Dekat”. Nah, besok waktu pilpres, milih Pak Amien, tidak? “oh, tidak!” Jadi memang seperti itu.
Melihat itu saya lantas berfikir, kalau demikian, bukan kesalahan saya dan teman-teman yang mencoba membuat frase baru, tetapi karena memang tidak terpilih oleh rakyat. Setelah itu saya sudah enteng. Ya sudahlah, karena memang itu yang kita hadapi. Tidak usah kita menyalahkan diri sendiri. Memang itulah rakyat kita, tapi juga mereka tidak usah disalah-salahkan. Karena ini namanya memang permainan demokrasi, harus kita terima dan kita hormati seperti apa adanya.
Namun, di samping itu, ibarat orang yang bertarung, kita ini serba kecingkrangan
(kekurangan), sementara lawan kita serba kecukupan. Disamping itu, yang kita hadapi memang
amlak, Jalut yang luar biasa. Ada Singapura connection, ada Washington connection, ada
Council of Churches connection, ada military operation, dan segala macam. Sehingga, kalau mendapat 15 persen itu sudah harus berterima kasih kepada Allah, melihat bahwa yang kita hadapi memang networking yang dahsyat.
Sekarang sudah usai. Lalu, apa refleksi kita? Di Mekkah kemarin itu saya merenungkan bahwa kesimpulan saya sekarang adalah, bahwa di awal abad 21 ini umat Islam Indonesia mengalami krisis political leadership (kepemimpinan politik). Sebagai political leader, ketika saya dijual, lakunya hanya 15 persen. Itu artinya, setelah ini kita perlu rekonsolidasi.
Ketika saya mengumpulkan pimpinan partai-partai yang mendukung Amien-Siswono, saya mengatakan insya Allah saya akan mengumumkan sebuah consesion speech, pidato konsesi, dimana saya akan menyampaikan: pertama, berterima kasih kepada partai-partai yang telah
mendukung dan memilih pasangan Amien-Siswono. Kedua, berterima kasih kepada belasan juta rakyat yang telah mempercayakan kepada kami sekaligus mohon maaf karena perjuangan kita tidak berhasil. Ketiga, kami menyampaikan mabruk, selamat, congratulation, kepada dua pasangan yang akan melaju ke pilpres 20 September, dengan iringan doa mudah-mudahan pemilunya tetap sejuk dan menghasilkan pimpinan nasional yang dapat melanjutkan agenda reformasi.Terakhir, kami memiliki data yang solid bahwa telah terjadi banyak sekali penyimpangan, penggelembungan suara, pengurangan suara, tinta yang luntur, dan segala macam yang telah mengurangi kredibilitas pemilu presiden 5 Juli 2004. Namun, dengan jiwa besar kami menerima hasilnya. Selanjutnya kami kembalikan kepada partai-partai yang mendukung kami untuk, sesuai dengan kedaulatan masing-masing, menentukan sikap pada pemilu presiden 20 September 2004. Sementara PAN tidak berminat untuk ikut koalisi eksekutif, tetapi sepenuhnya akan memainkan peran oposisi yang bertanggung jawab, yang cerdas, yang jujur, berani dalam rangka mengembangkan demokrasi yang matang berdasarkan check and balance.
Kalau kita, Muhammadiyah, masih berminat memimpin negeri ini, kita punya tanggung jawab kolektif ke depan. Lima tahun ke depan perlu kita pikirkan permainan yang cantik, jangan sampai menjadi rebutan kekuatan politik. Syukur-syukur kita bisa main lagi dengan bekal pengalaman kemarin yang memang tidak begitu menggembirakan, tentu bisa kita perbaiki caranya.
Demikian yang ingin saya sampaikan, mudah-mudahan yang sudah kita kerjakan tetap menjadi amal shaleh, dicatat oleh malaikat, tidak ada yang hilang, dan ini semua kita jadikan bekal menghadapi hari-hari mendatang.
[Bahan dan tulisan: Arief Budiman Ch] 26 Juli 2004. Judul dibuat oleh transkriptor]
Sumber:
Suara Muhammadiyah Edisi 16 2004