Ikhtisar
Perkembangan beberapa indikator makroekonomi Indonesia sampai dengan
Februari 2004 terus membaik. Pengamatan ini didukung oleh inflasi dan suku
bunga yang terus turun, nilai tukar yang relatif stabil, serta uang primer yang cukup terkendali. Dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian sampai saat ini, prospek ekonomi Indonesia pada 2004 masih sesuai dengan prakiraan awal, yaitu pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 4% - 5%, inflasi akan bergerak turun mencapai kisaran 5,5% plus minus 1%, sedangkan nilai tukar rata-rata akan berada pada kisaran Rp8.200 – Rp8.700 per dolar AS. Dengan memperhatikan kondisi dan prospek perekonomian dalam negeri, kebijakan moneter yang akomodatif dan berhati-hati akan tetap diarahkan untuk menjaga kestabilan kondisi makroekonomi. Penurunan suku bunga lebih lanjut akan dilakukan secara berhati-hati dengan laju penurunan yang melambat, serta memperhatikan sasaran inflasi jangka menengah. Selanjutnya, di sisi nilai tukar, Bank Indonesia akan berupaya menjaga stabilitas nilai tukar dengan meningkatkan pemantauan dan pengawasan di bidang transaksi devisa.
Perkembangan harga-harga masih mencatat penurunan. Pada Februari 2004,
perkembangan harga menunjukkan deflasi 0,02% (m-t-m), lebih rendah dibandingkan inflasi sebesar 0,57% (m-t-m) pada Januari. Secara tahunan, inflasi pada Februari mencapai 4,60%, turun dibandingkan 4,82% pada Januari. Deflasi pada Februari terutama disebabkan oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan (-1,44%, m-t-m) dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga (-0,02%, m-t-m), sedangkan kelompok barang yang lain mencatat inflasi. Beberapa faktor yang ditengarai telah menyebabkan deflasi antara lain relatif stabilnya nilai tukar rupiah, berimbangnya sisi penawaran dan permintaan, serta membaiknya ekspektasi masyarakat terhadap inflasi sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia.
Nilai tukar rupiah pada Februari 2004 relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara rata-rata, nilai tukar rupiah pada Februari masih dalam kisaran Rp8.300 – Rp8.500, yaitu ditutup pada Rp8.425 per dolar AS dibandingkan Rp8.386 per dolar AS pada bulan sebelumnya. Sedangkan secara point to point, nilai tukar rupiah sedikit melemah (0,07%) mencapai Rp8.447 per dolar AS dibandingkan posisi Januari. Pergerakan rupiah ini terutama dipengaruhi oleh pergerakan mata uang dunia terhadap AS, masih masuknya aliran devisa jangka pendek ke pasar keuangan dalam negeri, dan adanya sentimen positif atas perekonomian Indonesia sejalan dengan membaiknya perekonomian dalam negeri serta membaiknya peringkat surat berharga Indonesia sehingga mampu menahan laju pelemahan rupiah lebih lanjut.
Pada Februari, perkembangan harga mencatat deflasi...
..., nilai tukar yang relatif stabil...
Sampai Februari 2004, penurunan suku bunga instrumen moneter masih berlanjut dan diikuti oleh suku bunga perbankan dengan laju yang berbeda.
Suku bunga SBI 1 bulan pada Februari mencapai 7,48% dibandingkan 7,86% pada Januari. Sedangkan suku bunga SBI 3 bulan turun 45 bps dari 8,15% pada Januari menjadi 7,70% pada Februari. Pengumuman target volume lelang yang sama dengan volume SBI yang jatuh tempo ditambah dengan kondisi perbankan yang masih mengalami ekses likuiditas tampaknya telah mendorong penurunan suku bunga lebih lanjut. Selanjutnya, penurunan suku bunga simpanan – sejalan dengan turunnya suku bunga instrumen moneter – yang lebih cepat dibandingkan penurunan suku bunga kredit telah menyebabkan selisih suku bunga simpanan dan kredit semakin besar.
Posisi uang primer pada Februari 2004 kembali turun. Sampai dengan akhir
Februari, uang primer mencapai Rp142,52 triliun atau lebih rendah dibandingkan posisi Januari sebesar Rp147,04 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pola musiman, yaitu menurunnya uang kartal karena berakhirnya perayaan keagamaan dan akhir tahun. Sementara itu, berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, penurunan uang primer didorong oleh kontraksi neto pada rekening rupiah pemerintah. Berdasarkan perkembangan di atas, posisi test date sementara uang primer pada Februari mencapai Rp139,8 triliun, lebih rendah dibandingkan target indikatifnya sebesar Rp144,9 triliun.
Pada Januari 2004, likuiditas perekonomian menunjukkan penurunan, baik
untuk M1 maupun M2 dibandingkan posisi Desember 2003. Pada Januari 2004,
M1 tercatat sebesar Rp216,3 triliun, lebih rendah dibandingkan Desember 2003 sebesar Rp223,8 triliun. Sementara itu, M2 juga menunjukkan penurunan sebesar Rp8,4 triliun menjadi Rp947,3 triliun pada Januari 2004 dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan M2 tersebut disebabkan oleh simpanan berjangka dalam rupiah yang menurun, sementara tabungan mencatat peningkatan. Ditinjau dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, menurunnya aktiva luar negeri bersih, ekspansi rekening pemerintah dan lebih rendahnya posisi kredit rupiah mengakibatkan M2 yang lebih rendah.
Sektor perbankan pada 2003 menunjukkan perkembangan yang terus
membaik. Beberapa kondisi yang mencerminkan membaiknya kegiatan perbankan
antara lain meningkatnya posisi dana pihak ketiga (DPK) dan permodalan bank. Perkembangan ini juga diiringi oleh meningkatnya posisi kredit dan persetujuan kredit baru. Di lain pihak, sepanjang 2003, NIM menunjukkan perkembangan yang terus membaik, namun pada akhir tahun, NIM tercatat menurun. Sementara itu, NPLs tercatat sedikit lebih tinggi, tetapi masih lebih rendah dibandingkan dengan NPLs di beberapa negara ASEAN.
Uang primer kembali turun...
Secara umum, indikator perbankan terus membaik. ... , dan suku bunga yang masih terus turun.
Sumber : Bloomberg
Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Rp/USD
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb MarApr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb 2004
2002 2003
% (y-o-y)
-0,02
-1,50 -0,50 0,50
Bahan Makanan -1,44
Sumber : BPS Sumbangan Inflasi
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi & Olahraga Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau Perumahan Transportasi & Komunikasi
Sandang
Sumber : BPS
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt NovDes Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt NovDes Jan Feb
% y-o-y % m-t-m
2002 2003 2004
Perkembangan Ekonomi, Moneter, Dan Perbankan
Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Pasar Uang, dan Pasar Modal
Setelah mencatat inflasi IHK 0,57% (m-t-m) pada Januari, perkembangan harga pada Februari 2004 mengalami deflasi sebesar 0,02% (m-t-m). Secara tahunan, inflasi masih menunjukkan tren yang terus menurun dari 4,82% pada Januari menjadi 4,60% pada Februari.
...karena deflasi pada kelompok bahan makanan dan pendidikan, rekreasi dan olah raga.
Perkembangan harga-harga secara umum mencatat deflasi...
Grafik 1. Tingkat Inflasi Grafik 2. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang
Grafik 3. Inflasi Inti Tahunan Grafik 4. Rata-rata Nilai Tukar Rupiah
Jan Feb MarApr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb MarApr Mei Jun Jul Ags Sep Okt NovDes Jan Feb Persen
Sumber : Bloomberg dan Reuter diolah
1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan
5,0 7,0 9,0 11,0 13,0 15,0 17,0
2002 2003 2004
0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0
Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb 2003
2002 2004
Persen
Volatilitas Kurs Rp
Rata-rata Volatilitas
Grafik 5. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Grafik 6. Premi SWAP
Rupiah relatif stabil... Inflasi inti cenderung stabil.
...namun mampu ditahan oleh sentimen positif dari dalam negeri...
Pada Februari 2004, inflasi inti relatif tidak berubah yaitu mencapai 5,99% (y-o-y) dibandingkan 6,02% pada bulan sebelumnya. Penurunan harga yang lebih banyak terjadi pada kelompok bahan makanan menyebabkan inflasi inti tidak banyak mengalami penurunan.
Secara umum, perkembangan nilai tukar Rupiah pada Februari relatif stabil, walaupun sedikit melemah pada akhir bulan. Secara rata-rata, nilai tukar pada Februari mencapai Rp8.425/USD, sedikit melemah (0,47%) dibandingkan Januari. Secara point-to-point, nilai tukar Rupiah juga sedikit melemah dari Rp8.441/USD pada Januari menjadi Rp8.447/USD pada Februari. Melemahnya nilai tukar Ru-piah diiringi oleh menurunnya volatilitas nilai tukar dari 0,76% menjadi 0,32% (Grafik 5).
Pergerakan rupiah pada Februari terutama dipengaruhi oleh pergerakan mata uang dunia – terutama Euro – terhadap dolar AS berkaitan dengan pertemuan G7 yang membicarakan perkembangan ekonomi global dan kebijakan nilai tukar terhadap dolar AS. Selain itu, sentimen positif dari dalam negeri seperti stabilnya kondisi perekonomian Indonesia serta membaiknya peringkat surat berharga Indonesia dipercaya mampu menahan pelemahan rupiah yang lebih tajam.
...sedangkan indikator risiko menunjukkan mixed signal.
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Feb FASBI O/N
SBI 1 BULAN
JIBOR 1 Bulan Persen
Sumber : Bloomber, diolah 50
Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb
2002 2003 2004
Korea Selatan
Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb
Sumber :Bloomberg dan CEIC diolah
2002 2003 2004
8 Nilai Tukar Rp/USD
Premi Risiko (bps)
8.000
Apr Mei Mei Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb
Perkembangan deflasi di luar negeri yang lebih besar dibandingkan deflasi di dalam negeri ditambah nilai tukar rupiah yang relatif stabil telah menyebabkan indeks
Real Effective Exchange Rate (REER) pada Februari meningkat menjadi 89,1 (Grafik 8). Di lain pihak, indeks Bilateral Real Exchange Rate (BRER) relatif tidak berubah. Walaupun demikian, indeks BRER ini masih menunjukkan bahwa produk ekspor Indonesia relatif masih kompetitif dilihat dari sisi harga/nilai tukar dibandingkan beberapa negara partner dagang (Grafik 9).
Grafik 7. Premi Resiko dan Kurs Rupiah Grafik 8. Real Effective Exchange Rate
Suku bunga
Grafik 9. Bilateral Real Exchange Rate Grafik 10. Suku Bunga Instrumen
Moneter dan Pasar Uang
Persen
Jan Feb MarAprMei Jun Jul Ags Sep OktNov Des Jan Feb MarAprMei Jun Jul Ags Sep OktNovDes Jan Kredit Investasi Kredit Konsumsi
Kredit Modal Kerja
2002 2003 2004
Covered Interest Rate Parity Trend (Covered Interest Rate Parity) 2,19
Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb
2002 2003 2004
-1,5
Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb SBI 1 WA Dep. 1 CR
Jam Dep. 1 Dep 1 WA
2002 2003 2004
5
Volume PUAB (Triliun Rp) Suku Bunga (%)
0,0
Volume PUAB Pagi Volume PUAB Sore Sk. Bunga PUAB Pagi Sk. Bunga PUAB Sore
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb
2003 2004
Grafik 13. Perkembangan Suku Bunga Kredit Grafik 14. Covered Interest Rate Parity
Pada Februari, rata-rata suku bunga PUAB pagi dan sore menunjukkan penurunan masing-masing 48 bps dan 26 bps menjadi 7,61% dan 5,85%. (Grafik 11). Rata-rata volume transaksi perdagangan PUAB pagi tercatat meningkat dari Rp1,9 triliun menjadi Rp2,3 triliun, sedangkan rata-rata volume transaksi perdagangan PUAB sore menunjukkan penurunan dari Rp2,5 triliun menjadi Rp2,1 triliun.
Tren penurunan suku bunga juga terlihat pada suku bunga simpanan perbankan. Pada Januari 2004, suku bunga deposito 1 bulan turun dari 6,62% menjadi 6,27%, yang juga diiringi oleh penurunan suku bunga tabungan dari 5,14% menjadi 4,91% (Grafik 12). Suku bunga kredit baik untuk Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI), dan Kredit Konsumsi (KK) juga menunjukkan penurunan masing-masing sebesar 8 bps, 24 bps, dan 20 bps menjadi 14,99%, 15,44%, dan 18,49% (Grafik 13). Penurunan suku bunga kredit yang lebih lambat dibandingkan penurunan suku bunga simpanan semakin memperlebar spread di antara kedua suku bunga tersebut.
...diiringi oleh penurunan suku bunga PUAB...
..., dan suku bunga simpanan serta suku bunga kredit perbankan dalam skala yang lebih rendah.
Grafik 11. Rata-rata Suku Bunga PUAB Pagi dan Sore
330 380 430 480 530 580 630 680 730 780 830
Kapitalisasi
IHSG
Kapitalisasi (Rp miliar) IHSG
200.000 250.000 300.000 350.000 400.000 450.000 500.000 550.000
Jan Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb
2003 2004
Penurunan suku bunga domestik yang diiringi oleh penurunan indikator resiko mengakibatkan covered interest parity (CIP) meningkat, 0,30% menjadi 1,25% pada Februari (Grafik 14)1.
Covered interest rate parity naik.
Grafik 15. IHSG dan Kapitalisasi
...diikuti volume transaksi dan nilai
perdagangan yang meningkat. IHSG mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah BEJ ...
Penurunan uang primer masih berlanjut...
Perkembangan beberapa variabel makroekonomi yang membaik, ternyata juga diikuti oleh meningkatnya kinerja bursa saham Jakarta yang tercermin dari kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG). Selama Februari 2004, IHSG sempat mencatat titik tertinggi sepanjang sejarah BEJ yaitu mencapai 794,467 sebelum ditutup pada akhir bulan pada level 761,081. Membaiknya kinerja bursa saham juga diindikasikan oleh meningkatnya kapitalisasi pasar dari Rp501,2 triliun pada Januari menjadi Rp509,3 triliun pada Februari.
Dilihat dari sisi transaksi, pada Februari 2004, rata-rata volume transaksi harian meningkat dari 2,47 miliar lembar saham menjadi 3,05 miliar lembar saham. Perkembangan ini diiringi oleh peningkatan nilai rata-rata perdagangan harian menjadi Rp1,2 triliun pada Februari 2004 dari Rp1,1 triliun pada bulan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi net beli asing juga meningkat dari Rp91,37 miliar pada Januari menjadi Rp136,59 miliar pada Februari 2004. Aksi beli di pasar saham masih terjadi – walaupun terbatas – terutama untuk saham-saham pertambangan dan saham-saham lapis kedua.
Uang Primer
Sampai dengan akhir Februari 2004, uang primer tercatat sebesar Rp142,52 triliun (13,17%, y-o-y), atau turun Rp4,52 triliun dari posisi akhir Januari. Berdasarkan perkembangan ini, posisi test date sementara uang beredar rata-rata sementara mencapai Rp139,8 triliun, lebih rendah dibandingkan target indikatifnya sebesar Rp144,9 triliun (Grafik 16). Dilihat dari sisi komponennya, menurunnya uang
65.000
estimasi (1) = trend+seasonal
estimasi (2) = estimasi (1) + error
Aktual Triliun Rp
2002 2003 2004
Jan
Aktual Test Date
Triliun Rp
Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Dec Jan Feb 115,0
2002 2003 2004
...yang
dipengaruhi oleh kontraksi neto rekening rupiah pemerintah.
Sementara itu, dilihat dari sisi faktor yang mempengaruhinya, menurunnya uang primer pada Februari terutama disebabkan oleh kontraksi neto rekening rupiah pemerintah sebesar Rp7,52 triliun, yaitu berupa penerimaan pajak, penerbitan obligasi dalam rupiah, dan masuknya setoran BPPN yang lebih besar dibandingkan
Grafik 16. Uang primer Grafik 17. Pergerakan Harian Uang Kartal
primer terutama dipengaruhi oleh menurunnya uang kartal sebesar Rp4,53 triliun dibandingkan bulan sebelumnya. Menurunnya uang kartal sesuai dengan pola musimannya dimana uang kartal cenderung masuk kembali ke sektor perbankan setelah berakhirnya perayaan keagamaan dan akhir tahun.
Januari Februari
Mg I Mg II Mg III Mg IV
Perubahan Bulanan
147,039 146,889 143,099 139,249 142,518 -4,521
147,039 146,889 143,099 139,249 142,518 -4,521 105,801 105,886 101,190 98,450 101,723 -4,078 90,619 92,599 88,199 85,369 85,840 -4,779 15,182 13,287 12,991 13,081 15,883 701 39,744 39,519 40,410 39,414 39,334 -410
185 185 185 185 185 0
1,494 1,484 1,499 1,385 1,461 -33
167,906 168,316 168,730 168,480 168,856 950
-20,867 -21,427 -25,631 -29,231 -26,338 -5,471
-3,734 -6,607 -10,417 -3,613 -11,257 -7,523 208,029 208,038 208,036 208,033 207,962 -67 200,562 200,571 200,569 200,566 200,495 -67
7,467 7,467 7,467 7,467 7,467 0
13,650 13,681 13,652 13,659 13,645 -5
2,597 2,575 2,595 2,596 2,605 8
-166,764 -165,001 -164,611 -174,535 -164,425 2,339 -133,876 -136,496 -142,007 -142,016 -143,691 -9,815 -32,888 -28,505 -22,604 -32,519 -20,734 12,154 -74,645 -74,113 -74,886 -75,371 -74,868 -223
Tabel 1. Uang Primer dan Faktor yang Mempengaruhinya
(Miliar Rp)
Base Money
Statutory reserves shortfall Reserve Money Currency
- Currency outside banks - Cash in vaults
Comercial Banks Positive Balance at BI of which frozen banks & banks without TPL Private sector Demand Deposits
Net International reserves (USD=Rp7000) Net Domestic Assets
1. Net Claims on Central Government 2. Liquidity Support
a. IBRA and IBRA Banks b. Non IBRA Banks 3. Liquidity Credit 4. Other Claims 5. Open Market Operations
18,0 19,0 20,0 21,0 22,0 23,0 24,0 25,0 (Miliar USD)
NIR (aktual)
NIR (adjusted target)
Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Des Jan Feb
2002 2003 2004
NDA (adjusted target)
NDA (aktual)
2002 2003 2004
Triliun Rp
-50,0 -40,0 -30,0 -20,0 -10,0 0,0 10,0 20,0 30,0
Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Des Jan Feb
pembayaran gaji dan kupon obligasi. Di sisi OPT terjadi ekspansi neto sebesar Rp2,34 triliun, yang disebabkan oleh lebih besarnya ekspansi FASBI yaitu sebesar Rp12,15 triliun dibandingkan kontraksi SBI sebesar Rp9,81 triliun (Tabel 1).
Perkembangan NIR pada Februari 2004 menunjukkan ekspansi dari USD24,0 miliar pada Januari menjadi USD24,1 miliar. Sementara itu, realisasi NDA juga menunjukkan kontraksi dari negatif Rp20,9 triliun pada Januari menjadi negatif Rp26,3 triliun pada Februari 2004 (Grafik 18 dan 19).
NIR menunjukkan ekspansi,
sedangkan NDA kontraksi.
Likuiditas Perekonomian
Posisi M1 dan M2 pada Januari 2004 sedikit menurun (Tabel 2). M1 mengalami penurunan dari Rp223,8 triliun pada Desember 2003 menjadi Rp216,3 triliun pada Januari 2004 (turun -3,33%, m-t-m), yang disebabkan oleh lebih rendahnya posisi uang kartal dan uang giral. Pada Januari 2004, uang kartal tumbuh 17,66% (y-o-y), sedangkan uang giral tumbuh 20,65% (y-o-y). M2 juga menunjukkan penurunan dari Rp955,7 triliun pada Desember 2003 menjadi Rp947,3 triliun pada Januari 2004 (turun -0,88%, m-t-m), dipengaruhi oleh menurunnya simpanan berjangka dalam rupiah yang tumbuh –4,47% (y-o-y) serta penurunan M1. Selanjutnya, seiring dengan perkembangan inflasi yang terus turun, M1 dan M2 riil masing-masing mencatat pertumbuhan tahunan yang positif sebesar 14,60% dan 3,44% (Grafik 20).
Grafik 18. Posisi NDA Grafik 19. Posisi NIR
(10) (5) 0 5 10 15 20
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep OktNov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep OktNov Des Jan % y-o-y
M1 Riil M2 Riil
Sumber : Bank Indonesia
2002 2003 2004
1,0 1,2 1,4 1,6 1,8 2,0
4,0 5,0 6,0 7,0 8,0 9,0 10,0 11,0 12,0 13,0
Sumber : Bank Indonesia
C/DPK (%) APU2 (M2/M0) APU1 (M1/M0) Skala Kanan
Persen Persen
Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan 2004
2 0 0 1 2 0 0 2 2 0 0 3
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Persen
2 0 0 1 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4
Pertumbuhan M2 Pertumbuhan Money Divisia M2
Trend Pertumbuhan Divisia Divisia
-5 0 5 10 15 20 25
Ditinjau dari faktor-faktor yang mempengaruhi likuiditas perekonomian, aktiva luar negeri bersih menunjukkan penurunan dari Rp271,8 triliun pada Desember 2003 menjadi Rp269,7 triliun pada Januari 2004. Selanjutnya, rekening pemerintah kembali mencatat ekspansi sebesar Rp6,3 triliun menjadi Rp486,2 triliun pada Januari 2004. Sementara itu, posisi kredit rupiah per Januari 2004 mengalami sedikit penurunan menjadi Rp432,7 triliun pada Januari 2004 dari Rp437,9 triliun pada Desember 2003. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan kredit modal kerja sebesar Rp8,5 triliun, sedangkan kredit investasi dan kredit konsumsi menunjukkan peningkatan.
... dipengaruhi oleh penurunan aktiva luar negeri bersih, ekspansi rekening
pemerintah, serta lebih rendahnya kredit.
Grafik 20.Pertumbuhan M1 & M2 Riil Grafik 21. Pertumbuhan Divisia M2 dan M2
Belum optimalnya proses penciptaan uang oleh sistem perbankan.
Grafik 22. APU 1, APU 2, dan rasio C/DPK
menyimpan dananya dalam bentuk simpanan yang lebih likuid dan jangka pendek masih tinggi, yang juga mencerminkan potensi rencana konsumsi ke depan (Grafik 21).
Sektor Eksternal
Mengawali tahun 2004, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD5,03 miliar, turun 3,66% dibandingkan Desember 2003. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya kinerja ekspor nonmigas yang mencatat nilai USD3,84 miliar pada Januari 2004 dari USD4,06 miliar pada Desember 2003 atau tumbuh negatif 5,44%. Kelompok barang yang menunjukkan penurunan terbesar antara lain kelompok mesin/peralatan mesin dan mesin/pesawat mekanik. Di lain pihak, ekspor migas mencatat peningkatan 2,54% dari USD1,17 miliar menjadi USD1,20 miliar yang terutama disebabkan oleh tingginya pertumbuhan ekspor hasil minyak (15,26%, m-t-m) dan gas (8,29%, m-t-m). Sementara itu, ekspor minyak mentah pada Januari 2004 tercatat sebesar USD0,47 miliar, turun 6,30% (m-t-m) yang disebabkan oleh menurunnya volume ekspor walaupun harga minyak pada Januari 2004 (USD30,97 per barel) tercatat lebih tinggi dibandingkan Desember 2003 (USD30,50 per barel).
KOMPONEN
M2 M2 Rupiah M1 - Uang Kartal - Uang Giral Uang Kuasi
- Uang Kuasi Rupiah = Deposito Rupiah = Tabungan Rupiah - Simpanan Valas (dalam miliar USD)
FAKTOR
NFA NCG
Claims on Business Sector Kredit
- Kredit Rupiah - Kredit Valas Lainnya NOI
Memorandum Items
Nilai Tukar (posisi neraca)
Tabel 2. Perkembangan Uang Beredar Dalam Arti Luas
2002
Desember Maret Juni September Desember Posisi % y-o-y
(dalam miliar Rp, posisi)
2003 INDIKATOR
BESARAN MONETER
Sumber : Bank Indonesia
883.908 877.776 894.213 911.224 955.692 947.277 8,42
743.443 740.216 759.191 773.712 816.514 805.289 10,24
191.939 181.239 194.878 207.587 223.799 216.343 20,12
80.686 72.323 77.091 81.118 94.542 90.619 19,38
111.253 108.916 117.787 126.469 129.257 125.724 20,65
691.969 696.537 699.335 703.637 731.893 730.934 5,39
551.504 558.977 564.313 566.125 592.715 588.946 7,01
359.847 370.692 363.460 354.362 350.885 346.347 -4,47
191.657 188.285 200.853 211.763 241.830 242.599 29,18
140.465 137.560 135.022 137.512 139.178 141.988 -0,86
15,71 15,44 16,30 16,39 16,44 16,82 4,25
250.696 249.736 236.660 240.781 271.820 269.714 6,86
510.351 510.307 506.218 481.552 479.885 486.229 -7,04
389.296 400.353 417.875 441.205 466.826 461.827 20,73
365.410 376.141 390.563 411.696 437.942 432.738 20,85
271.851 280.774 299.665 318.820 342.027 335.129 26,14
93.559 95.367 90.899 92.877 95.917 97.610 5,62
23.886 24.212 27.312 29.509 28.884 29.089 18,96
-266.434 -282.621 -266.199 -252.483 -262.839 -270.493 -4,87
8.940 8.908 8.285 8.389 8.465 8.441
Ekspor mengalami penurunan...
Impor pada Januari 2004 juga tercatat lebih rendah mencapai USD2,75 miliar atau turun –2,76% dibandingkan kinerja bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh kinerja impor nonmigas yang mencatat pertumbuhan negatif 9,00% atau mencapai USD2,05 miliar. Ditinjau berdasarkan penggunaannya, penurunan impor nonmigas tersebut disebabkan oleh penurunan pada semua kelompok, terutama pada kelompok impor barang modal yang mencatat penurunan sebesar 12,04% (m-t-m) atau mencapai USD3,79 miliar. Sementara itu, impor migas mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 21,84% yang disumbang oleh meningkatnya impor minyak mentah dan hasil minyak.
...demikian juga impor.
Keterangan
Nilai FOB % Perubahan % Perubahan % Peran Thd
Jan 2003 thd Jan 2004 total Jan
Des 2003 Thd Jan 2003 2004
Total Ekspor
Migas
Minyak Mentah Hasil Minyak Gas
Non Migas
Tabel 3. Ekspor Indonesia
(Juta USD)
Januari Desember Januari Jan - Des
2003 2003 2004 2003
Sumber : BPS
4.997,4 5.225,6 5.034,5 61.034,5 -3,66 0,74 100,00
1.197,5 1.167,5 1.197,1 13.643,6 2,54 -0,03 23,78
438,7 501,2 469,6 5.621,0 -6,30 7,04 9,33
135,5 85,2 98,2 1.548,6 15,26 -27,53 1,95
623,3 581,1 629,3 6.474,0 8,29 0,96 12,50
3.799,9 4.058,1 3.837,4 47.390,9 -5,44 0,99 76,22
Keterangan
Nilai CIF % Perubahan % Perubahan % Peran Thd
Jan 2004 thd Jan 2004 total Jan
Des 2003 Thd Jan 2003 2004
2.739,2 2.823,6 2.745,8 32.390,3 -2,76 0,24 100,00
702,4 571,8 696,7 7.531,9 21,84 -0,81 25,37
388,1 303,8 382,3 3.927,5 25,84 -1,49 13,92
314,3 268,0 314,4 3.582,9 17,31 0,03 11,45
- - - 21,5 - -
-2.036,8 2.251,8 2.049,1 24.858,4 -9,00 0,60 74,63
Tabel 4. Impor Indonesia
(Juta USD)
Januari Desember Januari Jan - Des
2003 2003 2004 2003
Sumber : BPS Total Impor
Migas
Minyak Mentah Hasil Minyak Gas
Non Migas
Posisi pinjaman luar negeri meningkat USD435 juta...
Pembayaran pinjaman luar negeri Indonesia pada Januari 2004 menunjukkan penurunan dibandingkan Desember 2003. Total pembayaran pinjaman luar negeri mencapai USD1,24 miliar, turun 31,29% dibandingkan bulan sebelumnya. Pembayaran cicilan pokok mencapai USD973 juta, yang terdiri dari USD456 juta untuk cicilan pokok pemerintah dan USD224 juta untuk cicilan pokok swasta. Sedangkan pembayaran bunga mencapai USD272 juta, yang terdiri dari pembayaran bunga pemerintah sebesar USD224 juta dan bunga swasta sebesar USD48 juta (Tabel 6).
...,sedangkan pembayaran bunga dan pokok tercatat lebih
Bukan Lembaga Keuangan Surat-Surat Berharga Total
Tabel 5. Posisi Pinjaman Luar Negeri
(Juta USD)
* Angka Sementara
Jan Sep Okt Nov Des Jan Sep Okt Nov Des
69.288 72.994 72.162 72.354 74.497 74.496 77.163 78.324 78.467 80.099 81.091
59.529 56.390 55.836 55.650 55.212 54.867 52.991 52.706 52.282 52.204 52.435
7.723 8.021 7.864 7.572 7.642 7.784 7.571 7.559 7.478 7.464 7.647
6.634 5.164 5.066 4.879 4.870 4.802 4.414 4.388 4.298 4.300 4.308
1.089 2.857 2.799 2.693 2.772 2.982 3.157 3.171 3.180 3.164 3.339
51.805 48.369 47.972 48.078 47.570 47.083 45.420 45.147 44.804 44.740 44.788
3.616 1.436 1.405 1.441 1.470 1.466 1.253 1.388 1.684 1.794 1.759
132.432 131.290 130.416 130.005 131.343 130.829 131.952 133.065 133.076 134.851 135.286
2 0 0 2
Tabel 6. Realisasi Pembayaran Pinjaman Luar Negeri Indonesia
Total Pembayaran Pinjaman Luar Negeri / Total External Debt Servicing
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
A. Pemerintah / Government
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
B. Swasta / Private
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
B.1. Lembaga Keuangan
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
1. Bank
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
2. Bukan Bank / Non Bank Institutions
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
B.2. Bukan Lembaga Keuangan
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
(Juta USD)
* Angka Sementara Sumber : Bank Indonesia
Mar Jun Sep*) Des*)
20.983 1.293 2.305 1.500 1.812 18.430 1.245
16.950 1.135 1.926 1.301 1.320 15.186 973
4.033 158 378 199 492 3.244 272
7.374 358 826 498 781 6.450 680
5.009 248 562 355 398 4.000 456
2.365 110 264 143 383 2.450 224
13.609 935 1.478 1.002 1.031 11.980 565
11.941 886 1.364 946 922 11.186 517
1.668 48 114 56 109 731 48
5.808 398 941 427 233 5.437 376
5.323 391 909 423 210 5.306 348
485 7 32 4 23 131 28
4.825 308 908 382 45 4.742 347
4.372 307 878 380 32 4.644 320
453 1 31 1 13 99 27
983 90 33 46 188 694 29
951 84 31 43 178 663 28
32 6 1 3 10 32 1
7.801 537 537 575 798 6.543 189
6.617 496 455 523 712 5.880 169
-50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40
Inventory Harga jual
Permintaan:ekspor Permintaan: domestik
Jan Jan Mar Mei Jul Sep Nov
Jul Sep Nov Mar Mei Jul Sep Nov Jan Feb-Apr Difussion Index
Sumber : JETRO
2003
2001 2002 2004
Sumber : Bank Indonesia 40
60 80 100 120 140
Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Indeks
Ekspektasi Konsumen Kondisi Ekonomi Saat Ini Indeks Keyakinan Konsumen
pesimis optimis
2001 2002 2003 2004
... didukung oleh membaiknya konsumsi.
Sektor Riil
Sampai dengan Februari 2004, perekonomian Indonesia terus mengalami perkembangan yang positif. Kegiatan konsumsi menunjukkan perkembangan yang meningkat seperti yang tercermin pada meningkatnya angka indeks dari berbagai hasil survei yang diambil. Perkembangan yang sama juga terlihat pada kegiatan investasi. Sementara itu, dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi terutama bersumber dari sektor industri, pertanian, dan perdagangan.
Kegiatan konsumsi yang terus tumbuh tercermin pada meningkatnya indeks keyakinan konsumen berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indone-sia. Begitu pula indeks ekspektasi konsumen yang menunjukkan indikasi kegiatan ekonomi yang terus meningkat (Grafik 23). Selanjutnya, survei JETRO yang merupakan survei terhadap sejumlah perusahaan industri Jepang di Indonesia juga menunjukkan perkiraan membaiknya ekspektasi permintaan di Indonesia maupun untuk tujuan ekspor sampai dengan April (Grafik 24).
Aktivitas perekonomian terus meningkat...
Grafik 23. Survei Konsumen Grafik 24. Survei JETRO
Kegiatan produksi sedikit meningkat...
70 90 110 130 150 170 190 210 Indeks
Total Makanan
Tekstil Kimia
2002 2003 2004
Jan**) Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov 10
20 30 40 50 60 70 80 90 100 Persen
Total Makanan
Tekstil Kimia
Jan**) Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov
2002 2003 2004
Grafik 25. Utilisasi Kapasitas Produksi Grafik 26. Indeks Produksi
Kondisi Perbankan
Perkembangan sektor perbankan selama 2003 secara umum mencatat perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Posisi kredit yang terus meningkat disertai dengan peningkatan persetujuan kredit baru diharapkan dapat menjadi indikasi bahwa fungsi intermediasi perbankan akan terus pulih. Posisi dana pihak ketiga (DPK) dan permodalan bank juga mencatat kenaikan. Di lain pihak, non performing loan (NPL) relatif tidak berubah sedangkan net interest margin (NIM) menunjukkan penurunan.
Kinerja perbankan secara umum membaik...
Sampai dengan akhir tahun 2003, posisi DPK tercatat sebesar Rp888,6 triliun atau tumbuh 1,5% dibandingkan bulan sebelumnya (Tabel 7). Peningkatan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya penghimpunan dana dalam bentuk giro dan tabungan yang masing-masing meningkat sebesar Rp7,5 triliun dan Rp13,9 triliun (Grafik 27). Selanjutnya, pada Desember 2003, persetujuan kredit baru naik 36,1% menjadi Rp25,8 triliun dibandingkan bulan sebelumnya. Namun demikian, realisasi penarikan kredit baru hanya mencapai Rp1,9 triliun yang nampaknya dipengaruhi oleh sikap para debitur yang masih menunggu penurunan suku bunga kredit lebih lanjut (Grafik 28).
...tercermin pada peningkatan dana pihak ketiga...
Keterangan
1.112,2 1.117,8 1.105,1 1.100,0 1.106,9 1.102,9 1.111,7 1.113,6 1.119,1 1.130,4 1.147,9 1.141,0 1.068,4
835,8 824,6 832,0 833,4 837,8 838,1 846,8 852,2 858,0 863,5 879,4 875,4 888,6
410,3 402,6 411,2 420,5 426,2 428,0 434,1 441,1 447,2 454,2 463,7 475,7 477,19
76,9 96,1 108,8 116,7 111,0 112,7 123,4 125,8 127,8 128,2 131,2 100,8 100,5
8,1 8,4 8,2 8,2 8,2 8,3 8,0 8,3 7,8 7,9 7,8 8,1 8,2
2,1 2,1 1,2 0,6 0,4 1,0 1,2 1,3 1,1 1,3 1,2 1,8 3,0
4,0 3,8 3,6 4,0 4,0 3,9 4,1 4,4 4,5 4,7 4,5 4,9 3,2
93,0 95,5 99,5 98,1 99,5 98,4 99,6 100,0 104,2 106,3 107,8 110,5 110,8
(Triliun Rp)
Total Asset DPK Kredit* SBI
NPLs : - Gross (%) - Net (%) NIM
Modal
Jan-03 Feb-03 Mar-03 Apr-03 Mei-03 Jun-03 Jul-03 Ags-03 Sep-03 Okt-03 Nov-03 Jan-04 Feb-04
Tabel 7. Kondisi Umum Perbankan
Banks
Mar Jun Sep Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Kredit Per jenis (Triliun Rp) Total Kredit (Triliun Rp)
0,0
Channeling Total Kredit Total Adjst
2 0 0 2 2 0 0 3
Miliar Rp Proporsi (%)
Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov
2002 2003
Persetujuan Realisasi Proporsi
0
Jan Feb MarApr Mei Jun Jul Ags Sep Okt NovDes JanFeb MarApr Mei Jun Jul Ags Sep Okt NovDes
Triliun Rp Total DPK (Triliun Rp)
Giro Deposito Tabungan Total
2003 2002
..., serta peningkatan posisi kredit.
Sementara itu, apabila ditinjau dari jenis kredit yang disalurkan, kredit konsumsi masih memberikan kontribusi yang cukup besar, diikuti oleh kredit investasi dan kredit modal kerja (Grafik 29). Peningkatan kredit konsumsi ini diperkirakan akan terus berlangsung seiring dengan terus tumbuhnya kegiatan konsumsi dan meningkatnya persetujuan kredit baru untuk konsumsi.
Perkembangan NPLs-gross pada Desember 2003 sedikit meningkat mencapai 8,2% dibandingkan 8,1% pada November, sedangkan NPL-net menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dari 1,8% pada November menjadi 3,0% pada Desember (Grafik 30). Walaupun demikian, apabila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina, perkembangan NPL di Indonesia masih lebih baik. Selanjutnya, NIM - yang menunjukkan pendapatan perbankan dari selisih perolehan bunga - tercatat sebesar Rp3,2 triliun, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp4,9 triliun (Grafik 31).
Namun NPL
Grafik 27. Dana Pihak Ketiga Grafik 28. Persetujuan dan Realisasi Kredit Baru
2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0
Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des
3,20 3,30
3,21 3,42
3,383,35 3,553,66
3,82 3,713,653,85
4,01 3,78
3,63 3,95
3,96 3,93
4,12 4,394,48
4,69 4,47 4,90 Triliun Rp
2002 2003
0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0
Jan Feb MarApr Mei Jun Jul Ags Sep Okt NovDes Jan Feb MarApr Mei Jun Jul Ags Sep OktNov Des
Persen Triliun Rp
kredit (kanan) NPLs (%) (kiri) NPLs Net (%) (kiri)
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
2002 2003
Perkembangan indikator perbankan yang lain, yaitu kondisi permodalan, sampai dengan akhir tahun 2003 terus menunjukkan peningkatan, mencapai Rp110,8 triliun, naik 0,3% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, total asset pada Desember 2003 tercatat menurun mencapai Rp1.068,4 triliun dibandingkan November yang mencapai Rp1.141 triliun.
...di lain pihak, permodalan tercatat lebih tinggi.
Prospek
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2004 diprakirakan akan berkisar pada 4,2% - 4,7%. Pertumbuhan ini masih akan didominasi oleh konsumsi, dengan peran ekspor dan investasi yang terus meningkat. Membaiknya konsumsi tercermin pada recana konsumsi untuk 6 – 12 bulan mendatang dan indeks ekspektasi konsumen yang meningkat. Sementara itu, indikasi peningkatan investasi terlihat dari peningkatan permintaan baik untuk domestik maupun ekspor untuk 3 bulan ke depan. Selanjutnya, untuk keseluruhan tahun 2004, perekonomian diprakirakan akan tumbuh pada kisaran 4,0% - 5,0%.
Sejalan dengan prakiraan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2004 sebesar 4,2% - 4,7%, inflasi diprakirakan akan tetap rendah dan berada pada batas bawah prakiraan awal triwulan sebesar 5% - 6% (y-o-y). Kecenderungan penurunan inflasi ini dipengaruhi oleh nilai tukar yang relatif stabil serta ekspektasi inflasi yang terus membaik. Selain itu, kemampuan sisi penawaran untuk mengimbangi peningkatan sisi permintaan diharapkan dapat mengurangi tekanan inflasi. Untuk keseluruhan tahun 2004, inflasi diprakirakan akan berada pada kisaran 5,5% plus minus 1%.
Rata-rata nilai tukar rupiah pada triwulan I-2004 diperkirakan akan bergerak pada kisaran Rp8.300/USD – Rp8.500/USD. Prakiraan ini telah mempertimbangkan balance of risk yang bisa mempengaruhi pergerakan nilai tukar. Beberapa faktor tersebut antara lain faktor fundamental perekonomian yang terus membaik serta adanya potensi masuknya arus masuk modal asing yang berasal dari penerbitan surat berharga oleh korporasi dan pemerintah.
Perekonomian Indonesia pada triwulan I-2004 diprakirakan tumbuh 4,2% -4,7%…
...,inflasi diprakirakan akan tetap rendah sebesar 5% -6%...
* angka sementara ** angka sangat sementara
*** terdapat penyesuaian data karena adanya pemindahan kredit BBO, BTO dan kredit bermasalah ke AMU-BPPN r) revisi
1) minggu terakhir 2) rata2 tertimbang
3) penutupan pada akhir periode 4) closed file
Sumber : Bank Indonesia, kecuali data pasar modal (BAPEPAM), IHK, ekspor/impor open file dan PDB (BPS)
Jan Feb Mar Jun JulAgs Sep Okt Nov Des Jan Feb
SEKTOR KEUANGAN
Indikator Terkini
SUKU BUNGA & SAHAM Suku bunga SBI 1 bln 1) Suku bunga SBI 3 bln 1) Suku bunga deposito 1 bln 2) Suku bunga deposito 3 bln 2) JIBOR satu minggu 2) BEJ Indeks 3)
BESARAN MONETER (miliar Rp) Base Money
M1(C+D) Uang Kartal (C) Uang giral (D)
Broad Money (M2 = C+D+T) Uang kuasi (T)
Uang kuasi (Rupiah) Deposito Tabungan Deposito (Valas) M2 - Rupiah
Tagihan pada Dunia Usaha Kredit-Bank Umum
H A R G A
IHK bulanan (%) y-y %
IHK-makanan bulanan (%) y-y%
IHK-Non makanan bulanan (%) y-y%
SEKTOR EKSTERNAL
Rp/USD (akhir periode, nilai tengah) Ekspor Barang Non migas (f.o.b, juta USD)4) Impor Barang Non migas (c & f, juta USD)4) Net International Reserve (juta USD)
INDIKATOR KUARTALAN
Pertumbuhan PDB (% yoy) Konsumsi
Investasi
Perubahan Stok Ekspor Impor
12,69 12,24 11,40 9,53 9,10 8,91 8,66 8,48 8,49 8,31 7,86 7,48
12,94 12,68 11,97 10,18 9,18 9,06 8,75 8,43 8,38 8,34 8,15 7,7
12,64 12,35 11,90 10,31 8,95 8,17 7,67 7,47 6,98 6,62 6,27 N,a
13,49 13,15 12,90 11,55 10,65 9,58 8,58 7,96 7,58 7,14 6,68 N,a
12,71 12,30 11,72 9,81 9,25 8,99 8,69 8,56 8,63 8,35 8,16 8,31
425 399 398 505 508 530 598 626 617 692 753 761
127.407 125.936 125.211 132.403 131.084 135.148 136.471 140.085 175.498 166.474 147.039 142.518 180.111 181.530 181.239 195.219 196.589 201.859 207.587 212.614 224.318 223.799 216.343 N.a 75.908 74.555 72.323 77.091 77.053 80.283 81.118 84.238 103.788 94.542 90.619 85.840 104.203 106.975 108.916 118.128 119.536 121.576 126.469 128.376 120.530 129.257 125.724 N.a 873.683 881.215 877.776 894.554 901.713 905.499 911.223 926.324 944.647 955.692 947.277 N.a 693.572 699.685 696.537 699.335 705.124 703.640 703.636 713.710 720.329 731.893 730.934 N.a 550.357 557.107 558.977 564.313 567.703 569.503 566.125 576.072 580.116 592.715 588.946 N.a 362.553 368.970 370.692 363.460 364.615 361.120 354.362 358.541 355.902 350.885 346.347 N.a 187.804 188.137 188.285 200.853 203.088 208.383 211.763 217.531 224.214 241.830 242.599 N.a 143.215 142.578 137.560 135.022 137.421 134.137 137.511 137.638 140.213 139.178 141.988 N.a 730.468 738.637 740.216 759.532 764.292 771.362 773.712 788.686 804.434 816.514 805.289 N.a 382.536 390.750 400.353 417.875 425.448 432.499 441.205 451.147 461.788 466.826 461.827 N.a 358.084 366.467 376.141 390.563 397.187 403.544 411.696 421.295 432.230 437.942 432.770 N.a
0,80 0,20 -0,23 0,09 0,03 0,84 0,36 0,55 1,01 0,94 0,57 -0,02
8,74 7,34 7,12 6,62 5,79 6,38 6,20 6,21 5,33 5,06 4,82 4,60
-0,06 -0,09 -1,11 -0,39 -0,49 0,03 -0,19 0,99 1,39 1,71 0,36
6,14 3,90 4,43 4,66 3,97 4,25 3,70 3,98 1,75 1,60 2,04
1,51 0,42 0,49 0,48 0,42 1,44 0,82 0,22 0,72 0,36 0,68
10,99 10,25 9,34 8,20 7,28 8,04 8,20 7,99 8,26 7,91 7,03
8.940 8.905 8.908 8.285 8.505 8.535 8.389 8.495 8.537 8.465 8.441 8.447
3.936 3.723 4.008 4.197 4.085 3.998 3.857 4.044 3.079 3.607 N.a N.a
2.322 2.632 2.267 1.862 2.192 1.705 1.713 1.877 1.828 2.204 N.a N.a
21.81 22.26 22.68 23.66 23.40 23.53 23.63 23.85 24.05 24.20 24.00 24.10
4,45 3,65 3,97 4,35
4,12 4,64 4,75 5,01
4,26 1,09 -0,41 0,68
19,95 -46,84 -6,14 -16,14
2,90 4,04 2,76 6,48
5,45 0,01 0,76 1,78
2 0 0 3 2 0 0 3 2 0 0 4
2 0 0 3 2 0 0 3 2003